Tuesday, September 10, 2013

Saat Teduh dan Batu

Saya suka bersaat teduh di tempat yang teduh dalam suasana yang teduh apalagi dengan udara yang teduh, eh.. sejuk. Maka tiap kali pindah rumah, saya mencoba menemukan tempat seperti itu.

Saya ingat waktu tinggal di Jakarta, tempat favorit saya adalah di teras lantai dua di pagi hari. Sangat tenang dan di daerah itu masih ada suara burung berkicau dan udara pun masih sejuk. Waktu pindah ke rumah pertama di Singapore, tempat favorit saya adalah di pinggir kolam renang di pagi hari. Di dua rumah berikutnya, saya suka bersaat teduh di taman tetapi kurang ideal karena sering berisik, banyak serangga atau tempat duduknya basah karena embun. Sekarang ini di TTC, saya menemukan tempat favorit lagi yaitu di prayer garden.


Tidak banyak yang memanfaatkan tempat ini di pagi hari - tenang sekali. Satu- satunya gangguan adalah kalau tiba-tiba ada bunyi mesin entah dari mana - mungkin karena pembangunan MRT di depan TTC. Maka tempat itulah - di kursi itu - saya menikmati saat teduh saya.

Biasanya selesai bersaat teduh, saya berjalan memutari taman itu sekali (jangan bayangkan tamannya besar, kecil sekali kok!) sebelum kemudian pulang. Suatu kali ketika saya berjalan setapak demi setapak di atas batu-batu itu, tiba-tiba ada sesuatu yang muncul di dalam pikiran saya. Saya terdiam...


Batu- batu yang membentuk jalan setapak  itu tidak beraturan posisinya. Ada kalanya saya hanya perlu sebuah langkah kecil untuk berpindah dari batu yang satu ke batu yang lain. Tapi ada kalanya saya perlu langkah yang lebih besar. Ada kalanya saya melangkah dengan lancar. Tapi ada kalanya saya kurang hati-hati dan tersandung batu-batu besar di antara batu- batu jalan setapak itu.
Tiba-tiba muncul di dalam pikiran saya, bukankah kehidupan juga seperti itu? Wow... Analogi itu tiba-tiba begitu kuat berbicara.

Saya pun meneruskan langkah dan kali ini sambil berjalan saya makin memperhatikan batu demi batu yang saya injak. Batu- batu itu tidak sama bentuknya, besarnya, maupun warnanya - bahkan juga tingkat kebersihannya (salah satunya ada yang kena cairan entah apa hiii..). Dan ternyata kadang saya bisa memilih batu mana yang ingin saya injak yang lebih kecil atau besar, warna apa, lebih kotor atau lebih bersih - dan kadang kelihatan kadang tidak kelihatan berapa kotornya!

Saya tidak bisa diam di atas satu batu, bagaimanapun saya harus membuat keputusan lalu melangkah, sekalipun ketika melangkah ada resiko tersandung. Selangkah demi selangkah... akhirnya saya tiba di ujung dan tibalah waktunya untuk pulang. No turning back. Apa yang di belakang sudah lewat, keputusan- keputusan, tersandung, kotor, rasa lelah, sukacita, kicauan burung yang menemani, semua selesai dan saya harus pulang.

Seperti itulah hidup bukan?

Betapa mengerikannya jika semua itu tanpa makna dan ketika selesai tidak ada apa-apa. Betapa sia-sia! Sebaliknya betapa menghiburkannya ketika kita menjalani langkah-langkah itu di dalam Tuhan - ada gagal, ada kotoran, ada tersandung, tapi anugrah Tuhan memampukan kita terus berjalan. Dan betapa indahnya ketika kita selesai kita menemukan Tuhan sudah menunggu di sana.

Thanks Lord for speaking to me through those stones!

2 comments:

Yunna said...

Great analogy, ko ;)
Tuhan bisa berbicara kepada kita lewat apapun ya =)
Kmrn temenku sharing ttg perenungannya lewat siput yang dia temukan di jalan...hehehe

Anonymous said...

Betul :)
Iya saya juga baca yang itu hehehe...