Monday, February 10, 2014

A Grief Observed - C.S. Lewis

Saya tidak punya harapan apapun ketika mulai membaca buku ini. Saya membacanya hanya karena
ini adalah tulisan C.S. Lewis. Titik. Tapi begitu membaca kata pengantar yang ditulis oleh anak tirinya, saya mulai terpikat. 
Buku ini ditulis Lewis setelah kematian istrinya, Helen, dan merupakan catatan pergumulannya untuk menerima dan mengatasi duka yang menghancurkan hidupnya. Seperti dikatakan anak tirinya, yang membuat buku ini lebih luar biasa adalah karena penulisnya adalah orang luar biasa, dan wanita yang diratapinya adalah wanita luar biasa.

Lewis adalah cendekiawan yang sangat luar biasa, kemampuannya berpikir, menghafal, dan berdebat, membuat dia terisolasi dari kebanyakan orang. Helen mungkin adalah satu-satunya wanita yang pernah dia temukan yang kemampuan intelektualnya menyaingi dia. Helen pernah menikah dengan seorang novelis dan memiliki dua orang putra sebelum bercerai. Ketika menulis sebuah buku, Helen berkenalan dengan Lewis dan mereka menjadi akrab. Awalnya Lewis tidak ingin memperdalam hubungan mereka. Tetapi kenyataan bahwa dia akan segera kehilangan Helen karena penyakit kanker memaksa Lewis mengakui perasaannya. Mereka pun menikah. Anak tirinya berkomentar, "hampir terlihat seperti kejam bahwa kematian [Helen] tertunda cukup lama untuk [Lewis] bertumbuh mencintai dia sepenuhnya sehingga dia memenuhi dunia [Lewis] sebagai karunia terbesar yang Tuhan berikan kepadanya, dan kemudian dia mati dan meninggalkan [Lewis] sendirian di tempat yang diciptakan oleh kehadirannya dalam hidup [Lewis."

Tidak heran, Lewis mengalami kehilangan dan duka yang sangat besar dan bahkan keraguan akan Tuhan. Menarik bagaimana dia melukiskan itu (saya terjemahkan):

Sementara itu, dimana Allah? Ini adalah salah satu kenyataan yang menggoncangkan. Ketika engkau bahagia, begitu bahagia sehingga engkau tidak merasa membutuhkan Dia, begitu bahagia sehingga engkau tergoda untuk merasa klaim-klaim-Nya atasmu sebagai interupsi, jika engkau ingat dirimu dan berbalik kepada-Nya dengan syukur dan pujian, engkau akan -atau rasanya seperti- disambut dengan tangan terbuka. Tetapi pergilah kepada-Nya ketika kebutuhanmu sangat mendesak, ketika semua pertolongan sia- sia, dan apa yang kau temukan? Pintu yang dibanting di hadapanmu, dan suara pintu dipalang dua kali dari dalam. Setelah itu, sunyi. Engkau boleh berbalik pergi. Makin lama engkau menunggu, makin tegas kesunyian itu. Tidak ada cahaya pada jendela-jendela. Mungkin itu rumah kosong. Pernahkah rumah itu dihuni? Kelihatannya pernah. Dan kelihatannya itu sama kuatnya seperti kenyataannya. Apa artinya? Mengapa Dia begitu hadir sebagai pemegang kendali pada saat kemakmuran dan begitu tidak hadir sebagai pertolongan pada saat kesesakan?

Buku ini membuka wawasan saya akan kedukaan, kesepian, cinta, dan keraguan. Ada banyak hal menarik yang diungkapkan oleh dia. Lewis tidak pernah punya jawaban untuk semua pertanyaannya, tetapi akhirnya dia mendapatkan kekuatan untuk mengatasi dukanya dan percaya kepada Tuhan.

Buku ini sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh penerbit Pionir Jaya dengan judul: Mengupas Duka. Saya belum pernah melihat versi terjemahannya walaupun ada beberapa teman yang berkomentar bahwa terjemahannya tidak enak dibaca. Saran saya baca dulu beberapa halaman sebelum membeli, atau jika bisa, bacalah yang versi bahasa Inggris.

No comments: