Monday, June 09, 2014

Pengkhotbah Keliling dan Gembala

 Salah satu “gambar” yang saya tangkap dengan kuat waktu sekolah teologi dulu adalah gambaran

pengkhotbah keliling. Menjadi hamba Tuhan yang berkhotbah kemana-mana, diundang kemana-mana, mengadakan KKR, seminar, dan berkhotbah dalam kebaktian di banyak gereja, kota dan negara. "Gambar" itu, jujur, membentuk saya.

Saya menikmati ketika diundang berkhotbah ke berbagai gereja, persekutuan, pergi ke berbagai kota di Indonesia dan luar negeri. Saya menikmati melihat berbagai hal yang berbeda di banyak gereja dan kota itu dan belajar banyak hal melaluinya. Saya menikmati berkenalan dengan banyak orang, pemuda, majelis, hamba Tuhan di berbagai tempat itu. Saya menikmati “the feeling”.

Terlepas dari dosa yang mungkin masuk (senang dengan popularitas, “celebrity-like” feeling, dan berbagai kenyamanan lainnya), tapi menjadi pengkhotbah keliling memang banyak nilai positif nya. Saya ingat seorang dosen saya berkata bahwa jika ingin memberikan pengaruh yang besar pada kekristenan di Indonesia, saya harus menjadi pengkhotbah keliling. Makin sering saya berkhotbah, makin banyak tempat yang saya kunjungi, maka saya akan makin terkenal (tentu dengan catatan kalau khotbahnya bagus). Dan keterkenalan itu bukan untuk diri saya sendiri tetapi supaya saya makin bisa memberikan pengaruh positif kepada kekristenan di Indonesia (tentu dengan catatan kalau memang pengaruh yang saya berikan positif). Kalau orang tidak mengenal saya, bagaimana orang akan mendengar ketika saya menyampaikan sesuatu? Kalau dipikir, benar juga!

Maka saya dibesarkan sebagai seorang hamba Tuhan dengan “gambar” seperti itu. Saya tidak pernah dibentuk dengan “gambar” seorang gembala. Seorang hamba Tuhan yang mengajar jemaatnya dengan Firman Tuhan, bukan hanya melalui khotbah tetapi juga melalui percakapan sehari-hari. Seorang hamba Tuhan yang seperti seorang tukang bangunan meletakkan fondasi dan membangun jemaatnya, seperti seorang tukang kebun yang menabur dan menyirami kebun hati jemaatnya. “Gambar” itu tidak pernah diajarkan dan dibicarakan kepada saya. Tapi entah darimana, perlahan-lahan, “gambar” gembala itu yang menjadi lebih kuat bagi saya daripada “gambar” pengkhotbah keliling. Itu berarti, ada yang harus saya tinggalkan.

Maka saya ingat waktu itu, setelah beberapa tahun saya berkhotbah keliling ke berbagai tempat, perlahan-lahan saya mulai menguranginya. Bukan hanya saya lelah, tapi saya merasa mengabaikan jemaat yang Tuhan percayakan kepada saya. Ada banyak hal, terlalu banyak hal, yang harus saya lakukan kepada dan bersama dengan mereka. Hati saya jauh lebih rindu melayani sekelompok jemaat dengan Firman Tuhan, dan itu artinya berkhotbah berulang-ulang kepada mereka (membawakan 1 khotbah di banyak tempat, sangat berbeda dengan membawakan khotbah yang terus berbeda di 1 tempat), memberi waktu lebih banyak untuk mereka, mendengar keluhan mereka, mempersiapkan hati mereka supaya Firman Tuhan bisa bertumbuh di dalamnya – daripada menabur terus menerus benih Firman Tuhan di banyak tempat.

Ketika bicara soal pelayanan “penggembalaan” banyak orang hanya berpikir tentang pergi membesuk dan mendoakan. Atau memberikan konseling, menghibur dan menguatkan. Tapi saya kira penggembalaan jauh lebih besar dari itu. Setiap manusia, dengan pengalaman yang berbeda, bentukan keluarga yang berbeda, karakter yang berbeda, punya benteng yang berbeda menghalangi pengenalan akan Tuhan. Penggembalaan adalah usaha mendobrak benteng itu supaya Firman Tuhan bisa menerobos masuk. Penggembalaan adalah menggemburkan tanah yang berbatu dan kering supaya Firman Tuhan bisa bertumbuh di situ. Itu artinya bukan hanya menghibur dan menguatkan, tapi menegur, menasihati, mengarahkan, menunjukkan kesalahan, memberikan pujian, mendoakan, melatih, bercerita tentang pekerjaan Tuhan, memberikan teladan, menyatakan kasih sayang, dst..dst.. Berapa banyaknya waktu, tenaga, usaha, harus dicurahkan untuk itu? Kadang semua dilakukan seperti tanpa hasil, tapi perlahan-lahan, tanah itu mulai gembur dan tanpa kita tahu benih Firman Tuhan itu sudah bertumbuh. Hati saya ada di situ.

Ada orang yang bingung kenapa saya sering menolak undangan khotbah, kenapa saya nggak mau diundang ke negara itu, kenapa saya kurang “terkenal” (padahal ya iya lah... hehehe…). Ada yang menasihati saya supaya berani bermimpi lebih besar dan bukan hanya jadi "jago kandang" - maksudnya hanya dikenal di kalangan terbatas. Saya melatih diri untuk terus bermimpi, and believe it or not, mimpi saya lumayan besar. Hanya saja caranya yang mungkin berbeda dari yang biasa dilakukan orang.

Tetapi saya rindu bisa berkata seperti Paulus, “bahwa aku,…siang malam, dengan tiada berhenti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata” (Kis 20:31). Siang malam, tiada hentinya, menjadikan diri sebagai lilin yang terus terbakar. Siang malam, tiada hentinya, menggembalakan domba Tuhan. Saya masih jauuuuhhhh…. dari Paulus, jauh dari apa yang dia lakukan itu, apalagi dari sempurna… Tapi saya rindu melalui pekerjaan kecil yang saya lakukan ada hal besar yang terjadi. Pernah dengar "Think globally, act locally"? :-)

Sekarang ini saya sedang dalam masa studi, jelas saya berhenti khotbah keliling karena panggilan utama saat ini adalah studi. Tapi saya tidak berhenti berusaha menggembalakan orang-orang di sekitar saya di GKY Singapore dan GKY Green Ville, walaupun pasti dengan sangat terbatas dan penuh kekurangan.

Disclaimer:
(1) Tidak ada yang salah dengan pelayanan pengkhotbah keliling - tiap minggu ke tempat yang berbeda. Betapa banyaknya berkat yang diterima oleh orang Kristen, khususnya di daerah-daerah tertentu, melalui pelayanan pengkhotbah keliling. Diberkatilah mereka yang melakukannya! Saya hanya merasa bukan itu panggilan saya untuk sementara ini. Entah nanti.
(2) Saya yakin saya masih harus terus berkhotbah keliling. Berkhotbah keliling, bukan saja menjadi berkat bagi kelompok orang-orang Kristen lain, tetapi juga akan terus membuka pikiran saya dalam belajar banyak hal. Maka ya, ini tetap pelayanan yang akan saya kerjakan, walaupun dengan frekuensi yang terbatas.

Satu hal yang ingin saya tekankan adalah: Panggilan Tuhan bagi kita sering menjadi tidak jelas karena berbagai tawaran menarik dan juga karena keinginan kita –yang disusupi dosa- untuk hidup semau kita. Kita tidak lagi bertanya apa panggilan Tuhan bagi saya saat ini. Sebaliknya, kita mendengar berbagai tawaran yang menarik, mungkin popularitas, uang, kenyamanan, gengsi, dan kita membiarkan hidup kita disetir dengan itu semua. Pernahkah kita bertanya mengapa saya ingin menjadi ini atau itu? Mengapa saya ingin mengerjakan ini atau itu? Betulkah karena panggilan Tuhan?

Mari gumulkan baik-baik panggilan Tuhan bagi kita masing-masing. Bagian setiap kita adalah mengerjakan panggilan Tuhan yang saat ini. Nanti mungkin lain, tapi saat ini apa panggilan Tuhan? Gumulkan, doakan, kerjakan dengan sungguh-sungguh. Kalau gagal, tidak apa.. siapa sih yang nggak pernah gagal… tapi kembali lagi, coba lagi, sungguh-sungguh lagi. Jangan biarkan hidup kita hanya diatur oleh apa yang “menarik” bagi kita.

NB: Saya juga pernah menulis mengenai pelayanan penggembalaan di sini dengan judul "Pastoring is Not for the Faint-Hearted."

6 comments:

caterin said...

Hmm mungkin kalau tuk zaman sekarang aplikasi "khotbah keliling" bisa juga lewat blog dan sosial media semacam ini ko. saya pertama kali tau ko jeff juga dari blog ini yang dishare sama teman saya. hehe thank you for being a blessing for all of us :D

Anonymous said...

Yup Caterin, ini salah satu caranya :-)
God bless you!

Ganda said...

Akhirnya tulisan ko Jeff muncul lagi setelah hampir 1 bulan tak kunjung ada. Terima kasih untuk tulisan2nya yang mengingatkan, menggugah & memberkati saya dan banyak orang lainnya. Tuhan memberkati pelayanan ko Jeff

Anonymous said...

Thank you Ganda.. iya saya habis liburan, lalu mulai sibuk lagi dan kehilanganmood menulis. God bless you too!

Johni Tjen said...

Hi Ko Hung Fu, yang menyedihkan adalah kalo khotbah keliling dilakukan seorang gembala utk "mengejar setoran", kasian jemaatnya yg sering ditinggalkan. Terus terang it happens..

Anonymous said...

Iya betul, sadly to say ada beberapa hamba Tuhan seperti itu.

Tetapi kadang masalahnya tidak sesederhana itu. Ada beberapa gereja yang memang memberi dengan standar yang sangat rendah.

Kalau gerejanya memang di daerah terpencil dan tidak punya uang, maka si gembala memang perlu mencari cara menghidupi dirinya sendiri. Tapi kadang gerejanya punya uang tapi begitu mungkin dgn alasan hamba Tuhan perlu belajar hidup miskin.

Saya tahu ada rekan hamba Tuhan yang bahkan tidak cukup uang untuk membeli susu buat anaknya. Ada yang untuk makan pun tidak cukup di rumah. Maka khotbah keliling adalah salah satu cara untuk dia menghidupi keluarganya.

Love gift yang diberikan waktu seorang berkhotbah konsepnya memang bukan bayaran, apalagi dia pasang tarif, tetapi memang "love gift" sebagai bantuan untuk kehidupan dia. Kalau dia sudah cukup secara ekonomi, sebetulnya dia tidak perlu "bantuan" itu, tapi biarkan itu jadi tanggung jawab masing2 memutuskan bgm memakai uang itu.

Maka kadang tidak sesederhana yang kelihatan sih. Bisa salah dia, bisa salah gerejanya. Bagaimanapun bagi tiap2 kita berlaku tanggung jawab untuk tidak mencintai uang.