Tuesday, October 21, 2014

Berpakaian Dengan Sopan

Tulisan di bawah dari artikel berjudul The Lost Virtue of Modesty (silakan click untuk membaca dalam bahasa Inggris). Saya terjemahkan bebas, sedikit ringkaskan, dan edit dimana yang perlu untuk memperjelas. Saya kira apa yang dia tulis pantas untuk menjadi bahan pertimbangan dan diskusi di antara kita. Selamat membaca!


Saya tidak tahu apakah berpakaian dengan sopan (modesty) itu menarik secara seksual, tetapi saya tahu bahwa berpakaian dengan sopan itu Alkitabiah.

Salah satu tanda kekacauan zaman ini adalah banyak remaja dan pemuda yang lebih malu berpakaian dengan sopan tertutup daripada hampir tidak berpakaian. Sekalipun kita boleh menyatakan keberatan - cantik (atau tampan) bukanlah dosa, memperbaiki penampilan tidak berarti duniawi, batas antara sopan dan tidak sopan tidak selalu hitam putih - faktanya adalah Allah menganggap berpakaian dengan sopan itu kebajikan dan sebaliknya adalah kejahatan.

Di bawah ini ada lima alasan Alkitab mengapa orang Kristen seharusnya menerima berpakaian dengan sopan sebagai kebaikan yang dirancang dan diinginkan oleh Allah.

1. Berpakaian dengan sopan melindungi bagian tubuh yang pribadi. Ada paham feminisme yang berkata wanita harus bangga dengan daya tarik seksual mereka. Semua desakan untuk menutupi apa yang mereka tidak suka tutupi adalah karena paham patriarkhal (bahwa pria berhak menentukan apa yang wanita lakukan dengan tubuh mereka). Tetapi perintah dari Allah untuk menutupi tubuh bukanlah dimaksudkan untuk menghukum, tetapi untuk melindungi. Seperti yang dituliskan Wendy Shalit, “Tekanan pada para wanita untuk berfoto selfie seksi muncul dari kebudayaan yang terus menerus menganggap kesopanan itu memalukan (shame), dan tidak melihat kesopanan sebagaimana seharusnya yaitu: sebuah dorongan untuk melindungi apa yang berharga dan pribadi.” Syair yang berulang-ulang dari sang mempelai wanita – “jangan kamu membangkitkan dan menggerakkan cinta sebelum diingininya” (Kid 2:7) – adalah panggilan dari seorang wanita kepada sekelompok wanita single untuk menyimpan rangsangan seksual dan kegiatan seksual untuk waktu yang pantas, dengan orang yang pantas, di tempat yang pantas.

2. Berpakaian dengan sopan menerima bahwa tubuh kita ada di dalam komunitas. Apa artinya? Itu berarti, pikiran: “Ini adalah tubuhku. Jika aku ingin membiarkannya terbuka, itu urusanku,” walaupun kedengarannya bagus, ini melupakan bahwa tubuh kita berada di dalam jaringan relasi yang luas. Sama seperti perkataan kita, dan tindakan kita, kehendak kita, dan keinginan kita, selalu ada kaitannya dengan orang lain. Bagaimana kita berpakaian memang tidak perlu diatur oleh keinginan orang lain. Tetapi, bukanlah sikap Kristen untuk bertindak seakan kondisi kerohanian orang di sekitar kita tidak penting.

Sebelum lebih jauh lagi, saya ingin mengatakan ini sejelas mungkin: Pria bertanggung jawab untuk perzinahan mereka, untuk dosa percabulan mereka, untuk melihat pornografi, untuk nafsu, dan untuk (kiranya Tuhan mencegah) penyerangan seksual, tanpa peduli bagaimana wanita berpakaian. Alkitab tidak memerintahkan wanita untuk berpakaian dengan sopan karena pria tidak mampu menjaga celananya tetap terpasang dan menjaga pikirannya. Para pria, dengar: Jika istri Potifar terus maju dan menari dengan perut terbuka di meja dapurmu dan membuka bajumu sampai telanjang, engkau tetap tidak dibenarkan melakukan perzinahan dengan dia. Adanya pihak yang berpakaian tidak sopan tidak berarti pihak yang lain boleh tidak menahan diri.

Walaupun begitu, bukankah hukum kasih meminta supaya kita berusaha menghindari mencobai orang lain? Kalimat “memandang perempuan serta menginginkan (secara seksual)” di Mat 5:28 diterjemahkan oleh beberapa ahli (D.A. Carson salah satunya): “membuat perempuan itu menginginkan (secara seksual).” Maka, artinya, bukan tentang nafsu dalam hati pria tetapi tentang pria yang mau supaya wanita menginginkannya. Terlepas apakah kita menerima tafsiran ini atau tidak, aplikasi yang wajar adalah menganggap kalimat Yesus melarang kita memiliki sikap hati yang menginginkan (secara seksual) dan sikap hati yang mau diinginkan (secara seksual). Beberapa orang ingin melihat pornografi dan beberapa orang lain ingin menampilkan pornografi dirinya. Mungkin tidak dalam arti harfiah, tetapi ada pria dan wanita yang haus akan kuasa, perhatian, dan status yang datang karena diperhatikan dan dikejar-kejar. Sikap ini menggoda orang lain untuk berdosa dan pada dasarnya adalah dosa.

3. Berpakaian dengan sopan sesuai dengan penilaian negatif Alkitab tentang ketelanjangan di muka umum setelah kejatuhan manusia dalam dosa. Mulai dari Adam dan Hawa yang berusaha mencari daun ara untuk menutupi diri (Kej 3:10), sampai kepada ketelanjangan Nuh yang memalukan (Kej 9:21), sampai kepada orang-orang Daud yang dipermalukan dengan ditelanjangi pantatnya (2 Sam 10:4), Alkitab tahu bahwa kita mewarisi dunia yang sudah jatuh dalam dosa dimana bagian-bagian tertentu tubuh kita haruslah ditutupi. Bahkan, inilah yang dimaksud Paulus ketika dia berkata “our unpresentable parts” yang harus “treated with greater modesty” (1 Kor 12:23). (Terjemahan bahasa Indonesia sedikit berbeda).

4. Berpakaian dengan sopan sesuai dengan peringatan Alkitab untuk menghindari sensualitas. Sensualitas (Yunani: aselgeia) adalah karakteristik dari daging dan salah satu tanda dunia penyembahan berhala (Gal 5:19; Rom 13:13; 2 Kor 12:21; 2 Pet 2:2, 18). Apakah kata itu menjelaskan kapan good taste terperosok menjadi sensualitas – berapa panjang harusnya rok wanita, pakaian renang seperti apa yang boleh dipakai, atau apakah pria berotot boleh lari tanpa baju waktu udara dingin? Tidak. Tetapi pasti kita setuju bahwa tidak jarang pria dan wanita berpakaian dengan cara yang menambah corak dan perasaan sensualitas yang tersebar dalam kebudayaan kita. Jika kata aselgeia berarti kecanduan seksual, sebaiknya kita mempertimbangkan apakah di balik sikap kita, kita ingin membuat monster sensual ini kelaparan (dengan tidak memberinya makanan) atau justru ingin memuaskan dia.

5. Berpakaian dengan sopan menunjukkan kepada orang lain bahwa kita memiliki hal-hal yang lebih penting untuk ditawarkan daripada penampilan yang baik dan daya tarik seksual. Maksud dari 1 Tim 2:9 dan 1 Pet 3:3-4 bukanlah larangan untuk tampil menarik. Larangannya adalah supaya jangan berusaha keras untuk terlihat menarik dengan cara-cara yang relatif tidak penting. Pertanyaan yang ditanyakan kepada para wanita dalam ayat-ayat itu – dan ini juga berlaku bagi para pria – adalah ini: Apakah engkau akan menarik perhatian orang dengan riasan rambut, perhiasan dan pakaian seksi atau kehadiranmu di dalam ruangan akan dikenali karena karaktermu yang serupa Kristus? Pakaian yang tidak sopan memberitahu kepada dunia, “Aku tidak yakin aku punya sesuatu untuk ditawarkan yang lebih dari ini. Apa yang engkau lihat itulah yang engkau dapatkan.”

Saya ingin berkata dengan jelas: Alkitab tidak ada gambar. Tidak ada manual tentang bagaimana berpakaian pada pagi hari. Ada hal-hal berkaitan dengan kebudayaan, hati nurani, dan konteks yang pasti juga ikut menentukan. Saya tidak punya checklist untuk diperiksa sebelum engkau keluar rumah.

Tetapi jika kita percaya pada Alkitab, seluruh urusan berpakaian dengan sopan ini ada relevansinya
dengan pemuridan Kristen. Tubuh kita sudah dibeli dengan harganya. Maka muliakanlah Allah dengan tubuhmu (1Kor 6.20). Artinya kita tidak memperlihatkan kepada semua orang segala sesuatu yang kita pikir mungkin bagus untuk diperlihatkan. Dan itu juga berarti kita tidak akan malu untuk menjaga hal-hal yang paling berharga tetap sebagai yang paling pribadi.

1 comment:

Anonymous said...

I think that sometimes wearing minimal clothing is equated to confidence, and it is good that you raised up the point in number 5 that actually wearing modest attire shows that you have something else to offer rather than surface value. It should be pointed out though, that this does not mean we can dress sloppily. I think that we should be presentable in our appearance and our attitude in a way that we can glorify God.