Friday, November 28, 2014

Renungan: Kisah Para Rasul 14

Tulisan ini adalah bagian dari seri renungan harian (Kisah Para Rasul 13-28) yang saya tulis untuk diterbitkan di dalam GEMA periode ini (sedikit saya edit). 


Perjalanan misi Paulus dan Barnabas sama sekali tidak mudah. Di satu sisi, mereka berhasil membawa banyak orang menjadi percaya. Di sisi lain, mereka membuat diri mereka dibenci, dianiaya, dan bahkan hampir mati dibunuh.

Dimana Injil diberitakan, selalu ada dua macam reaksi: “penerimaan” dan “penolakan”. Jikalau Paulus dan Barnabas fokus pada “penolakan”, mereka akan ketakutan dan berhenti memberitakan Injil. Jikalau mereka fokus pada “penerimaan”, mungkin mereka menjadi sombong dan merasa sukses. Maka Paulus dan Barnabas fokus hanya pada panggilan Tuhan! Mereka taat mengerjakannya supaya berita Injil disampaikan dan Tuhan dipermuliakan.

Bisa dibayangkan betapa terkejutnya mereka ketika orang-orang di Listra ingin menyembah mereka (14:8-18)! Panggilan untuk datang kepada Yesus malahan dianggap panggilan untuk mempersembahkan korban kepada dewa-dewa, yaitu Paulus dan Barnabas! Maka mati-matian mereka mencegah orang-orang itu. Apakah kita punya hati dan sikap seperti ini? Seumur hidup taat mengerjakan panggilan Tuhan dan mati-matian menolak ketika orang memuliakan kita dan bukan Tuhan?

Paulus dan Barnabas diutus oleh jemaat di Antiohia (13:1-3). Seluruh jemaat Antiokhia berpuasa dan berdoa ketika mengutus mereka untuk pekerjaan misi (13:3). Kita bisa yakin bahwa mereka juga mendukung dana yang dibutuhkan. Maka setelah perjalanan misi itu selesai, Paulus dan Barnabas kembali ke Antiokhia (14:26-28). Bayangkan betapa bersukacitanya jemaat di Antiokhia mendengar laporan dari mereka: “Allah telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman”. Mereka telah ikut menabur bersama dengan Paulus dan Barnabas. Sekarang mereka ikut menuai dengan sorak sorai! Apa yang sudah kita lakukan untuk ikut menabur dalam pekerjaan misi?

No comments: