Saturday, November 29, 2014

Renungan: Kisah Para Rasul 15

Tulisan ini adalah bagian dari seri renungan harian (Kisah Para Rasul 13-28) yang saya tulis untuk diterbitkan di dalam GEMA periode ini (sedikit saya edit).


Satu pertanyaan besar yang dihadapi gereja waktu itu adalah: “Bagaimanakah seseorang menjadi umat Allah?”

Mereka tahu bahwa baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi menjadi umat Allah melalui iman kepada Kristus. Tetapi Kitab Suci (Perjanjian Lama) mengajarkan orang Yahudi untuk disunat dan menaati Taurat. Tidak perlukah orang bukan Yahudi disunat dan tunduk kepada hukum Taurat? Terjadilah keributan di gereja karena masalah ini. Maka gereja Antiokhia akhirnya mengutus Rasul Paulus dan Barnabas kepada para rasul di Yerusalem untuk membicarakan hal ini.

Puji Tuhan! Sidang di Yerusalem mengakui bahwa Allah tidak membuat pembedaan antara orang Yahudi dengan bukan Yahudi. Maka orang bukan Yahudi tidak diminta untuk disunat dan menaati Taurat. Mereka hanya diminta untuk menjauhkan diri dari “makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan” (15:20, 29). Hal ini bukan karena ada makanan yang najis untuk orang Kristen, tetapi supaya ada keharmonisan antara orang bukan Yahudi dan orang Yahudi. Sejak dulu hukum Musa terus diberitakan di tiap kota dan dibacakan di rumah-rumah ibadat (15:21), maka orang Yahudi sangat berpegang pada hukum itu. Demi kesatuan gereja dan saling menghargai, maka sidang meminta orang bukan Yahudi menjauhkan diri dari makanan yang dilarang dalam Taurat dan tentunya juga dari percabulan.

Betapa beratnya usaha para rasul mengajar orang Kristen bahwa di dalam Kristus tidak ada lagi pembedaan. Betapa beratnya usaha mereka untuk mempersatukan orang Kristen, suku bangsa mana pun, di dalam iman kepada Kristus. Apakah sekarang kita masih berani membeda-bedakan orang Kristen berdasarkan suku dan ras? Kalau “ya”, kita sungguh harus bertobat. Kristus mengasihi semua yang percaya kepada-Nya!

No comments: