Tuesday, December 02, 2014

Renungan: Kisah Para Rasul 17

Tulisan ini adalah bagian dari seri renungan harian (Kisah Para Rasul 13-28) yang saya tulis untuk diterbitkan di dalam GEMA periode ini (sedikit saya edit). 


Penolakan demi penolakan dari orang Yahudi akhirnya menuntun Paulus sampai ke Atena - daerah orang Yunani.

Ada beberapa hal yang bisa kita perhatikan dari cara Paulus mengabarkan Injil di sana:

Pertama, Paulus merindukan pertobatan mereka. Ketika Paulus berjalan-jalan dan melihat kota Atena penuh penyembahan berhala, hatinya sangat sedih (17:16). Sekarang ini, ketika melihat penyembahan berhala, kadang kita hanya menganggapnya sebagai kebudayaan lokal atau atraksi pariwisata atau sebagai bentuk kebebasan beragama. Mengapa kita tidak bersedih melihat manusia menyembah berhala?

Kedua, Paulus berusaha mengerti pemikiran dan kepercayaan orang Atena sebelum dia menyampaikan berita Injil kepada mereka (17:17-18). Tujuannya adalah supaya berita Injil bisa diterima dengan baik.

Ketiga, Paulus berusaha berbicara dengan “bahasa” yang dimengerti oleh mereka. Dia melihat mezbah dengan tulisan “Kepada Allah yang tidak dikenal” (17:23), maka dia menjadikan itu sebagai pintu masuk untuk memberitakan tentang Allah yang tidak mereka kenal, yaitu Allah yang menjadikan langit dan bumi dan memanggil manusia untuk bertobat. Paulus bahkan mengutip pujangga orang Yunani untuk menyampaikan khotbahnya (17:28). Sikap Paulus ini meniru sikap Tuhan Yesus. Yesus tidak bicara dari sorga dan memaksa manusia mengerti dan percaya. Yesus datang ke dunia, mengasihi kita, mengerti kita, dan berbicara dengan bahasa yang dimengerti oleh kita.

Apakah kita seperti Yesus dan Paulus? Mari kita mulai melihat orang-orang di sekitar kita. Maukah kita bersedih untuk mereka? Maukah kita mengerti mereka? Maukah kita berusaha berbicara dengan bahasa yang dimengerti oleh mereka supaya berita Injil diterima oleh mereka?

No comments: