Saturday, December 06, 2014

Renungan: Kisah Para Rasul 22

Tulisan ini adalah bagian dari seri renungan harian (Kisah Para Rasul 13-28) yang saya tulis untuk diterbitkan di dalam GEMA periode ini (sedikit saya edit).


Dalam keadaan sangat lemah setelah dipukuli (21:30-32), Paulus meminta kesempatan untuk berbicara kepada orang-orang sebangsanya (21:39). Tidak ada kebencian dalam dirinya kepada mereka. Sebaliknya dia selalu rindu supaya orang-orang sebangsanya percaya kepada Tuhan Yesus. Maka, walaupun dalam kondisi lemah, dia ingin bicara kepada mereka.

Paulus memulai dengan menceritakan kisah hidupnya: Pendidikannya di bawah Gamaliel, kegiatannya membunuhi pengikut Jalan Tuhan, dan tugas dari Imam Besar untuk pergi ke Damsyik. Semua orang Yahudi kagum mendengarnya. Kemudian dia bercerita tentang wahyu yang dia terima yang ternyata tentang Tuhan Yesus. Terakhir, dia bercerita tentang tugas baru yang dia terima untuk pergi kepada bangsa-bangsa lain... Sampai di situ, orang Yahudi murka dan ingin membunuh dia! (22:1-22).

Mengapa di saat yang sangat penting itu, Paulus perlu menyebut “bangsa-bangsa lain”? Bukankah isu ini membuat orang Yahudi murka kepadanya (21:27-30)? Tetapi, bagi Paulus, itulah yang sangat penting. Janji bahwa Abraham akan menjadi berkat bagi segala bangsa sudah tergenapi di dalam Tuhan Yesus. Paulus ingin agar orang-orang sebangsanya melihat hal yang sama dengan dia. Paulus ingin mereka cemburu kepada bangsa-bangsa lain dan mau percaya (Roma 11:14). Harapan inilah yang membuat Paulus terlihat “bodoh”.

Mungkin kita jarang berdoa untuk orang Yahudi. Maukah kita seperti Paulus merindukan supaya orang-orang Yahudi, bangsa yang pertama kali diberi janji oleh Tuhan, melihat bahwa semuanya sudah digenapi di dalam Yesus Kristus? Bersyukurlah untuk rencana keselamatan Tuhan yang begitu agung, yang sudah membawa kita—“bangsa lain” ini—menjadi percaya.

No comments: