Monday, December 08, 2014

Renungan: Kisah Para Rasul 23

Tulisan ini adalah bagian dari seri renungan harian (Kisah Para Rasul 13-28) yang saya tulis untuk diterbitkan di dalam GEMA periode ini (sedikit saya edit).


Di hadapan Mahkamah Agama, Paulus tiba-tiba mengucapkan kalimat yang mengejutkan: “Hai saudara-saudaraku, aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi; aku dihadapkan ke Mahkamah Agama ini, karena aku mengharap akan kebangkitan orang mati.” Karena sebagian dari anggota Mahkamah Agama adalah orang Farisi yang percaya akan kebangkitan orang mati dan sebagian lagi adalah orang Saduki yang tidak percaya, terjadilah keributan dan perpecahan di Mahkamah Agama.

Ketika Paulus menegaskan bahwa sampai hari itu dia hidup dengan hati nurani yang murni, Imam Besar menyuruh orang menampar dia (23:1-2). Jelas sekali Paulus melihat bahwa dirinya tidak akan diadili dengan benar oleh Mahkamah Agama. Maka dengan cerdik memanfaatkan suasana, dia timbulkan keributan di Mahkamah Agama dan memilih untuk diadili oleh orang Romawi. Betapa perlunya kita selalu memohon hikmat seperti ini kepada Tuhan. Kita tidak mau lari dari penderitaan bagi Tuhan tetapi juga tidak mau menderita dengan bodoh.

Tuhan melindungi Paulus melalui kemenakannya (23:16). Tuhan juga melindungi Paulus melalui kepala pasukan Romawi (23:10, 23). Tuhan bahkan memberi kekuatan dengan mendatangi Paulus (23:11). Satu hal yang tidak dilakukan Tuhan adalah membebaskan Paulus dari penjara. Tetapi di dalam keadaan terbelenggu itulah, penyertaan Tuhan justru dirasakan dengan luar biasa oleh Paulus.

Tuhan tidak menjanjikan kemudahan, tetapi Tuhan meyakinkan dia bahwa dia akan pergi ke Roma dan di sana dia harus melakukan yang sama seperti yang dia lakukan di Yerusalem: Bersaksi. Kata Yunani untuk “saksi” adalah marturia dan dari kata itulah kita memperoleh kata “martir”. Ketika kita menderita karena Tuhan, memang tidak selalu Tuhan bebaskan kita tetapi penyertaan Tuhan pasti selalu ada. Bukankah itu cara Tuhan? Pernahkah anda mengalaminya?

No comments: