Monday, December 08, 2014

Renungan: Kisah Para Rasul 24

Tulisan ini adalah bagian dari seri renungan harian (Kisah Para Rasul 13-28) yang saya tulis untuk diterbitkan di dalam GEMA periode ini (sedikit saya edit).


Melalui seorang pengacara bernama Tertulus, orang Yahudi mendakwa Paulus di hadapan wali negeri Feliks. Dakwaan utamanya adalah bahwa Paulus menimbulkan kekacauan di antara orang Yahudi dan melanggar kekudusan Bait Allah (24:5-6). Karena kejahatan itu dilakukan di antara orang Yahudi dan karena dia melanggar kekudusan Bait Allah, sewajarnyalah jika dia diadili oleh Mahkamah Agama orang Yahudi. Dakwaan itu sangat cerdik! Tetapi Paulus membuktikan bahwa semua tuduhan itu tidak berdasar (24:11-20). Mereka tidak pernah menemukan dia bertengkar di Bait Allah ataupun di kota-kota lain. Dia datang ke Yerusalem untuk membawa persembahan bagi bangsanya. Bahkan, ketika ditangkap, dia baru selesai mentahirkan dirinya. Dengan tidak kalah cerdik, Paulus menunjukkan bahwa masalahnya adalah mengenai iman, yaitu kepercayaan pada kebangkitan orang mati!

Sekalipun masalahnya sudah sangat jelas, Feliks tidak membebaskan Paulus. Tiga hal negatif tentang Feliks diceritakan di sini: Pertama, sebagai wali negeri, dia memilih untuk menghindar dari menjalankan keadilan. Feliks tidak membebaskan Paulus karena takut kepada orang Yahudi. Dia takut dipecat Kaisar jika orang Yahudi berontak. Kedua, dia berharap Paulus akan menyuap dia dengan uang (24:26). Ketiga, ketika Paulus berbicara tentang iman kepada Tuhan Yesus, kebenaran, penguasaan diri, dan penghakiman, dia ketakutan tetapi tidak mau percaya (24:24-25). Tema itu membuat dia tidak nyaman dan mungkin tertegur, tetapi tetap tidak mau bertobat.

Feliks—penguasa yang kaya ini—berusaha melindungi kekuasaannya, serakah akan uang, dan tidak mau bertobat! Tiga hal inilah yang membuat dia jauh dari kebenaran! Marilah kita bertanya, “Apakah di dalam hati kita juga ada ketiga hal itu?” Jika ada, mohonlah pengampunan dari Tuhan.

No comments: