Monday, December 28, 2015

Refleksi Akhir Tahun 2015

Beberapa hari lagi kita akan sampai di penghujung tahun 2015.

Setiap kita pasti mengalami hal yang berbeda di sepanjang tahun 2015. Suka dan duka, sehat dan sakit, keuntungan dan kerugian, mendapatkan dan kehilangan,… variasinya tidak terbatas. Peristiwa demi peristiwa sudah terjadi. Di satu sisi, semua itu sudah menjadi masa lalu. Sudah lewat. Tetapi, di sisi yang lain, kita perlu menyadari dan mengakui bahwa semua itu masih mempengaruhi kehidupan kita sampai sekarang.

Sakit yang kita alami, kerugian ekonomi yang kita terima, anugrah besar yang kita nikmati, pelajaran tentang kehidupan, sukacita yang kita rasakan, kepahitan hidup, luka hati, semuanya ikut andil membentuk kita. Pikiran dan emosi kita diubah oleh semua itu. Maka bagaimanapun juga, peristiwa di masa lalu itu meninggalkan jejak dalam hidup kita di saat ini dan juga masa depan. Pertanyaannya apa yang harus kita lakukan dengan semua itu?

Membawa semua yang kita terima ke hadapan Tuhan dan bersyukur adalah hal yang sulit. Kita cenderung lupa untuk bersyukur dan mudah untuk berkata “kekuasaanku dan kekuatan tangankulah” yang membuat aku memperoleh semuanya.  Tetapi, membawa ke hadapan Tuhan semua kelelahan, kepahitan, kesedihan, yang sudah kita alami dan mempengaruhi kita, seringkali lebih sulit.

Minggu lalu saya berkhotbah di GKY Jemaat Green Ville dari Yohanes 4:1-42. Saya pernah berkhotbah dari bagian itu di tempat lain walaupun tidak sama persis (lihat tulisan saya tentang Mengulang Khotbah di sini). Bukan saja saya mengurangi dan menambahkan di sana-sini, tetapi juga ada penekanan-penekanan yang berbeda. Maka khotbah itu, bagi saya pribadi, fresh. Bagian Alkitab itu berbicara lagi kepada saya sendiri – dengan cara yang berbeda.

Yesus menawarkan air hidup! Yesus berjanji barangsiapa yang meminum air hidup yang Dia berikan itu tidak akan haus lagi. Dia menggenapi janji itu tidak dengan meniadakan kemungkinan untuk kita haus. Tetapi Dia menggenapinya dengan menjadikan air hidup itu mata air dalam diri kita yang terus menerus memancar sampai ke hidup yang kekal.

Maka setiap kali haus, yang perlu kita lakukan adalah mengaku haus, datang kepada-Nya minta dipuaskan, dan membiarkan Dia memuaskan kita lagi dan lagi. Air hidup itu ada di dalam diri kita! Roh Kudus ada di dalam kita. Kuasa kehidupan yang selalu menopang kita ada di situ. Kekuatan tak terhingga untuk mengubah kita ada di situ. Penghiburan yang terindah ada di situ. Jaminan yang terkuat bahwa Dia akan menuntun kita ada di situ. Maka, lagi dan lagi, kita hanya perlu mengaku haus, datang kepada-Nya dan dipuaskan.

Berapa sulitnya itu? Sulit! Kita sulit untuk mengaku haus dan datang ke Tuhan. Mudah untuk kita menangis. Cepat untuk kita berteriak. Tetapi datang kepada Tuhan dan HANYA meminta dipuaskan oleh-Nya (bukan oleh yang lain), adalah hal yang sangat sulit. Membutuhkan kerendahan hati. Membutuhkan pertobatan.

Terakhir, meminjam judul buku John Piper (“Don’t Waste Your Cancer”), saya ingin mengingatkan “Don’t Waste What You’ve Been Through”. Jangan sia-siakan pengalaman pahitmu. Jangan sia-siakan sakit hatimu. Jangan sia-siakan tangisanmu.

Kita menyia-nyiakannya jika kita hanya berusaha melupakannya tanpa bertobat (walaupun ya, kita perlu meninggalkannya di belakang). Kita menyia-nyiakannya jika kita hanya menjadi orang yang sakit hati dan penuh amarah. Kita menyia-nyiakannya jika semua itu merusak hidup dan masa depan kita. Don’t waste them!

Ketika semua kepahitan, luka, dan tangisan, menjadi cambuk yang memacu kita hidup lebih baik, menjadi arang yang membakar kita berkobar bagi Tuhan, menjadi minyak yang mengobati luka orang lain, maka kita tidak menyia-nyiakannya.

Bagi saya, tahun 2015 adalah tahun dengan warna kelabu terbanyak dalam hidup saya. Pada waktu saya merenungkan kembali Yohanes 4:1-42 itu, saya menyadari bahwa saya sedang sering dan mudah haus. Saya memang pernah meminta dan menerima air hidup yang ditawarkan Yesus – ketika saya sepenuhnya mengakui Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat saya. Air hidup itu sudah memuaskan dahaga jiwa saya. Tetapi, saya pun haus lagi. Maka sebelum berkhotbah, berkali-kali saya menundukkan kepala, menadahkan tangan dan berdoa, “Tuhan, aku haus, puaskan aku lagi”.

Saya juga tidak ingin menyia-nyiakan semua warna kelabu itu. Saya mengingat lagi semua yang terjadi dan saya berdoa supaya semua tidak sia-sia. Ada janji yang saya ucapkan kepada Tuhan.

Dua hari lalu saya dan istri berjalan kaki cukup jauh, lebih dari 3 km, dan sambil berjalan kami banyak membicarakan apa yang kami alami di tahun 2015 ini. Lalu kami bernyanyi (tentunya dengan suara pelan :-) di jalanan)… “Ku tahu Bapa p’liharaku, Dia baik, Dia baik, ku yakin Dia s’lalu sertaku, Dia baik bagiku. Lewat badai cobaan, semuanya mendatangkan kebaikan. Ku tahu Bapa p’liharaku, Dia baik bagiku.”

Sambil menyanyi saya terharu… betul Tuhan baik. Kekuatan yang Dia berikan untuk kami berjalan dan terus berjalan selalu cukup. Ya, cukup. Dia juga memberikan sukacita, warna-warna cerah, di sepanjang perjalanan itu. Selalu ada bright moments yang mengingatkan bahwa hidup tidak selalu kelabu. Bahkan Dia memberikan banyak hal yang tidak sepantasnya kami terima. Ya, kami tidak ingin melupakan itu.

Kemurahan-Mu, ya Tuhan, sungguh lebih dari hidup. Maka syukur kami persembahkan lagi kepada Tuhan.

3 comments:

Goen Steady said...

Terimakasih utk refleksi yg insightful. Sedikit tanya judul buku John Piper yg dikutip. Kayaknya yg betul : Don't Waste Your Time. Bukan Don't Waste Your Cancer :-)

Jeffrey Siauw said...

Thank you untuk comment-nya :-)
Ada 2 judul buku yang seperti itu dari John Piper:
Don't Waste Your Life sama Don't Waste Your Cancer.

Goen Steady said...

oh ya betul Pak. Terimakasih.