Wednesday, January 06, 2016

"Resolusi" Sederhana 2016


Eugene Peterson pernah menulis sebuah buku yang sangat menginspirasi saya, berjudul “Run With the Horses”.

Sejak membaca buku itu, beberapa kali saya pernah merenungkan dan berkhotbah tentang ayat di bawah ini:

"Jika engkau telah berlari dengan orang berjalan kaki, dan engkau telah dilelahkan, bagaimanakah engkau hendak berpacu melawan kuda? Dan jika di negeri yang damai engkau tidak merasa tenteram, apakah yang akan engkau perbuat di hutan belukar sungai Yordan?” (Yer 12:5)

Ayat ini bahkan menghiasi dinding ruang kerja saya di perpustakaan.

Pesannya sederhana. Hidupmu yang sekarang mungkin hanya seperti berlari dengan orang berjalan kaki. Kalau begini saja engkau telah lelah, bagaimana engkau hendak berpacu melawan kuda? Apa yang kau hadapi sekarang mungkin bisa dibandingkan seperti “hidup di negeri yang damai”. Kalau begini saja engkau sudah tidak merasa tenteram, lalu apa yang akan engkau perbuat jika hidup di hutan belukar?

Seolah-olah saya mendengar:  “baru segini kesulitan yang engkau hadapi”, “baru segini pencobaan yang kau alami”, “baru segini tantanganmu melawan dosa”, “baru segini sakit yang harus kau tanggung”, “baru segini….” Tapi nadanya mendorong dan bukan mengejek.

Hidup ini sulit. Betul. Hidup ini seperti berada di hutan belukar! Hidup ini seperti berpacu melawan kuda!

Tetapi, apakah kemudian kita mau menyerah? Kita punya beberapa pilihan:

Pertama, hidup dengan buruk. Artinya kita tidak lagi mau berjalan apalagi berlari melawan kehidupan. Kita menyerah. Kita ikut arus saja. Kita sia-siakan hidup kita dengan menyerah kepada berbagai macam hawa nafsu.

Kedua, hidup hanya “alakadar”nya. Artinya tidak usah terlalu susah-susah dan berjuang mati-matian. Nikmati saja hidup. Berjalan seperlunya tapi tidak usah berlari. Ke gereja, ya boleh. Hidup suci, ya sebisanya. Melayani, ya selama saya mau. Semua “alakadar”nya saja.

Ketiga, hidup sebaik-baiknya, terbaik yang kita bisa, sebagaimana yang diinginkan Tuhan. Berapapun harganya. Berapapun sulitnya. Tetapi, ini sama sekali tidak mudah, karena itu berarti kita siap hidup di hutan belukar dan berpacu melawan kuda.

Saya memilih yang ketiga. Walaupun seringkali saya juga sudah lelah dan merasa tidak tenteram… saya tetap mau memilih yang ketiga dan itu berarti juga mau untuk “run with the horses”.

If you want to live the best life, not an easy one... but the best one, then let’s keep going, let’s keep moving on, and let’s run with the horses!

3 comments:

Carmia Margaret said...

Run with The Horses! Saya pernah pakai untuk saat teduh. Kisah Yeremia. Terima kasih Ko Jeffrey telah berbagi. Tuhan berkati.

Jeffrey Siauw said...

You are welcome Carmia :-) God bless you too!

Anonymous said...

Better than any motivation quotes, realistic and origin.