Saturday, September 24, 2016

Simple Church - Thom S. Rainer & Eric Geiger

Thom S. Rainer dan Eric Geiger mengklaim buku ini tidak memberikan model baru atau mengusulkan program baru untuk pertumbuhan gereja. Tetapi, buku ini menolong untuk merancang proses sederhana (“simple” – kata kuncinya) pemuridan di gereja. Maka bukannya menambah, sebaliknya, buku ini mengajak kita mengurangi banyak hal.

Ada empat kata kunci yang menjadi pembahasan dalam buku ini: Clarity. Movement. Alignment. Focus.

Clarity. Ini adalah tahap merancang proses pemuridan. Baca Alkitab, pikirkan, doakan, diskusikan, menggumuli proses pemuridan seperti apa yang Tuhan inginkan di gereja kita. Temukan beberapa aspek kunci untuk pemuridan di gereja kita. Kemudian diskusikan proses bagaimana orang bergerak maju di dalam aspek-aspek pemuridan yang kita pikirkan itu. Proses itu harus bergerak dari tingkat komitmen yang rendah ke yang lebih tinggi. Ada fase pertama ketika orang mengambil komitmen pertama, dan ada fase berikutnya dengan komitmen tambahan, demikian seterusnya. Tujuan tahap ini adalah kejelasan, maka segala sesuatu harus jelas dan sederhana.

Movement. Untuk setiap fase di dalam proses yang kita buat, pikirkan satu saja program di gereja kita yang paling tepat untuk fase itu. Program itu mungkin perlu dirubah fokus dan arahnya. Intinya, pastikan bahwa setiap program itu sungguh sesuai dengan fase dalam proses pemuridan yang kita buat. Kita ingin mendorong orang untuk masuk mulai dari fase pertama (dengan program pertama), lalu bergerak ke fase kedua (dengan program kedua) dan seterusnya.

Alignment. Setelah tahap pertama dan kedua maka kita sudah memiliki proses pemuridan sederhana dengan program masing-masing yang strategis. Sekarang kita harus membuat seluruh pelayanan di gereja mensejajarkan diri dengan proses itu. Artinya proses ini harus menjadi panduan semua pelayanan di gereja termasuk di dalam persekutuan sesuai usia (komisi). Setiap pelayanan harus dievaluasi: Program ini mendukung fase yang mana dari proses itu? Apakah betul diperlukan atau tidak? Tujuannya adalah supaya energi setiap orang dimaksimalkan untuk proses pemuridan itu saja dan tidak untuk yang lain.

Focus. Langkah ini adalah yang paling sulit karena tentangan akan sangat besar. Fokus artinya kita harus menghilangkan semua program yang tidak terlalu mendukung jalannya proses pemuridan yang kita inginkan. Ada sangat banyak program yang baik tetapi tidak perlu dan tidak boleh banyak program untuk tiap fase pemuridan. Semakin banyak program hanya membuat energi dan perhatian terbagi. Akibatnya proses inti dari pemuridan harus berkompetisi dengan banyak program yang lain. Maka yang harus dilakukan adalah mengeliminasi program-program yang tidak terlalu diperlukan. Langkah ini juga sulit karena seiring berjalannya waktu, pemimpin harus konsisten untuk selalu berkata “tidak” pada semua program/kegiatan yang tidak terlalu diperlukan atau yang akan berkompetisi dengan program inti gereja.

Buku ini dibuat berdasarkan survei dan analisa data statistik dari ratusan gereja di Amerika. Mereka mencoba menemukan perbedaan antara gereja yang bertumbuh dan tidak. Jawaban yang mereka temukan adalah gereja yang bertumbuh hampir selalu adalah “simple church.” Walaupun konteks kebudayaan Amerika dan Indonesia berbeda, saya kira hasil penelitian mereka dalam hal ini bisa diterapkan di Indonesia.

Setelah membaca buku ini, saya segera menyadari betapa tidak mudahnya untuk menjalankannya. Pertama, karena kesulitan-kesulitan yang sudah mereka sebutkan di dalam buku ini. Tetapi, kedua, karena tidak semua orang bisa melihat program mana yang paling dibutuhkan untuk setiap fase dalam proses pemuridan. Bisa muncul ketidaksepakatan apakah suatu program betul-betul diperlukan atau tidak. Seringkali yang terjadi adalah “dicocok-cocokkin”, “diperlu-perluin”, “dibuat-buat alasannya.” Juga tidak semua orang sadar bahwa program-program di gerejanya bertabrakan satu sama lain (apa kriterianya?). Kalau saja mereka memberi lebih banyak contoh (apalagi kalau contohnya dalam konteks gereja di Indonesia hehe..) akan lebih menolong. Tetapi, saya kira kesulitan kedua ini bisa diatasi kalau pemimpin gereja mau betul-betul serius memikirkan dan terbuka untuk berdiskusi dengan banyak orang dengan mendalam dan tidak terburu-buru.

7 comments:

Davy Edwin said...

Sudah diterjemahin sama SAAT ko

Lucy said...

Agree with the book.

Dulu saya pernah menjadi bagian dari satu gereja yang simple sekali. Mreka bahkan gak punya paduan suara (bukan karena gak ada orang untuk nyanyi). Seluruh waktu dan energi mreka curahkan untuk discipleship dan misi. Dan di gereja inilah saya betul-betul bertumbuh. Rindu sekali saya dibimbing dan 'dipaksa' untuk HANYA fokus ke Kristus dan hal-hal yang betul-betul penting saja.

Ko J akhir2 ini lagi banyak baca buku tentang pembinaan yah. Karena tesis koko?

Jeffrey Siauw said...

Sip Davy, thank you infonya! :-)

Jeffrey Siauw said...

Iya Lucy, simple is beautiful and powerful :-)

Bukan, thesis saya nggak ada hubungannya sama itu haha.. cuma pas di train atau pas hari minggu biasanya saya baca buku yang nggak ada hubungan sama thesis.

Anton Triyanto said...

Buku tahun berapa ko? Memang kesulitan buku2 yg menantang gereja untuk berubah kebanyakan contextnya luar negri. Dan harus dipikirkan bagaimana "mengubah" menjadi gereja yang sederhana dalam konteks Indonesia (atau lebih luasnya asia).

Saya lihat terlalu banyak gereja yg menjadi tidak simple–padahal sebenarnya cukup sederhana–preach the crucified Jesus. Itu yang esensi, jadi kalo yang gak esensi seharusnya pemimpin2 gereja berbesar hati untuk mengenyampingkannya.


Jeffrey Siauw said...

Anto.. Sorry kelupaan bales 😑
Ini buku tahun 2006.
Perlu ada yang coba lakukan dulu di Indonesia trus baru tulis buku share pengalaman :-D
Btw, ini jadinya gak ada rencana ke Sg lagi? Ujung2nya ketemu di sydney lagi deh haha..

Anton Triyanto said...

kapan ke sydney lagi ko? ayo nanti mampir ke gedung moore college yg baru hehe.