Saturday, April 29, 2017

Kembali ke Jakarta

We’re officially back in Jakarta.

Banyak yang bertanya apa itu berarti studi saya sudah selesai? Beluuuummmm…!! Studi saya belum selesai dan selama dua bulan ke depan saya masih akan sering pergi ke Singapore. Bahkan sekarang pun ada di Singapore :-) Tetapi sekarang saya “pergi” dan bukan “pulang” ke Singapore. Maka satu bab lagi dalam kehidupan sudah berlalu.

Waktu pindah ke Singapore tahun 2009, saya tidak pernah membayangkan akan tinggal di Singapore sampai hampir delapan tahun. Singapore sudah menjadi negara kedua terlama yang pernah kami tinggali – setelah Indonesia tentunya. Maka pasti ada banyak kenangan.

Sejak awal April saya dan istri sok sibuk farewell. Hampir setiap hari ada farewell lunch/dinner (yang paling cetar adalah hari Minggu setelah kebaktian Paskah). Bagi kami, setiap farewell yang kami lalui adalah tanda kasih dan kesempatan bagi kami untuk mengingat apa saja yang sudah kami alami bersama. Terlalu banyak.

Selama delapan tahun di Singapore, ada dua hal yang mengambil porsi terbesar dari hidup saya: kehidupan studi akademis di Trinity Theological College dan kehidupan keluarga iman di GKY Singapore. Yang pertama banyak menimbulkan kenangan yang kurang enak – (1) lelah, (2) bosan, (3) stress, ulang lagi dari (1). Tapi yang kedua banyak menimbulkan kenangan manis. Ah.. sudahlah jangan diteruskan yang ini, bikin mellow.

Tetapi, bukan hanya kenangan yang saya dapatkan di Singapore. Saya belajar banyak – sangat banyak, baik secara akademis, pelayanan, relasi, maupun kehidupan. Bertambahnya usia delapan tahun dan berkurangnya rambut memberi kesempatan saya bertumbuh secara emosi. Secara rohani, saya juga makin menyadari kelemahan, kegagalan, kebodohan, dan kelambanan saya, dan di atas semuanya, kesabaran Tuhan.

Sekarang saatnya bersyukur. Kami bersyukur untuk teman-teman dan anak-anak rohani yang kami dapatkan selama di Singapore. They are God’s good gift for us. Kami bersyukur untuk setiap pelayanan yang boleh kami lakukan di Singapore. Kami melayani tapi sebenarnya kami menerima jauh lebih banyak berkat melaluinya. Kami juga bersyukur untuk kesempatan saya studi di Singapore – yang hampir-tapi-belum selesai. Tuhan juga sudah mencukupkan segala keperluan selama di Singapore. Could never be grateful enough.

Sekarang saatnya menatap ke depan. Saya bergabung dengan GKY Green Ville tahun 2004, lima tahun melayani di sana dan delapan tahun meninggalkannya. Maka waktu sekarang kembali kesana, walaupun banyak hal dan orang yang familiar, saya dan istri perlu penyesuaian lagi. Delapan tahun sama sekali tidak sebentar di dunia yang terus berubah ini. Banyak hal sudah berubah di gereja. Cara pelayanan pun harus berubah. Beberapa jemaat yang kami kenal sudah meninggal dunia. Beberapa remaja yang dulu kami layani sudah menikah dan punya anak. Bahkan kami juga perlu penyesuaian lagi untuk tinggal di Jakarta. Tetapi, hati kami penuh kerinduan untuk mulai melakukan sesuatu.

Saya ingat pada waktu kami akan berangkat ke Singapore, ada seorang jemaat yang bertanya apakah saya akan kembali ke Jakarta. Dengan nada setengah ragu dan setengah yakin dia berkata bahwa saya mungkin tidak akan mau kembali setelah merasakan tinggal di Singapore. Saya menjawab dia: “Saya tidak tahu. Tetapi, yang pasti, saya tidak akan memilih sekedar mana yang lebih nyaman untuk saya.” Selama di Singapore, berkali-kali saya juga ditanya “lebih enak mana tinggal di Singapore atau Jakarta?” Saya selalu menjawab “sama aja, masing-masing ada enaknya.” Saya tidak berbohong. Masing-masing memang ada enaknya. Saya juga tidak berbohong kepada jemaat itu bahwa saya betul tidak memilih sekedar mana yang lebih nyaman untuk saya.

Saya pasti akan kangen Singapore dengan segala kelebihannya – praktis, cepat, aman, modern, bersih. Tetapi, saya melihat bahwa saya bisa lebih berguna untuk Kerajaan Tuhan jika saya melayani di Indonesia. So, Indonesia, here I am.

Tantangan pelayanan dan kehidupan di depan ditambah dengan kesadaran akan kelemahan kami membuat kami gentar. Kami lemah, sungguh! Kalau Tuhan tidak menguatkan, memperlengkapi dengan kuasa, berbelas kasihan, dan terus sabaaaarrr…. tak mungkin kami bisa melakukan apapun. Kami juga tidak bisa melihat jauh ke depan dan tidak tahu persis apa yang akan terjadi nanti, tapi kami memohon supaya Tuhan memimpin. So have mercy on us, o God! And be with us!

Ini sebagian foto farewell yang sempat terkumpul. Sorry nggak sempet edit, apalagi yang dari HP. Sayangnya kadang kami sibuk makan dan lupa foto! Juga nggak semua foto ada di kamera saya. Once again, thank you and thanks be to God!



















1 comment:

Antong Kwok said...

Welcome, back to Jakarta