Thursday, January 24, 2008

Event: Mission Trip KP 1 26-30 Des'07 (1)

Pada tanggal 26-30 Desember 2007 yang lalu, saya bersama teman-teman dari Komisi Pemuda 1 GKY Green Ville mengadakan Mission Trip ke daerah Banyumas, Purbalingga dan Nusakambangan.

Hari pertama, dari Jakarta kami langsung menuju desa Serang di Purbalingga dan melayani di perayaan Natal di sana. Dari sana kami masuk ke dalam hutan ke desa Katel Klawu dengan menggunakan mobil-mobil. Malam itu kami mengadakan kebersamaan dengan para pemuda di desa Katel Klawu dan bermalam di sana.

Hari kedua, kami mengunjungi rumah-rumah penduduk, berbicara dengan mereka, memberikan Alkitab dan berdoa bagi mereka. Sore harinya kami melayani di perayaan Natal di desa tersebut.

Dalam 2 hari di sana, kami melihat keadaan yang cukup memprihatinkan. Bukan sekedar karena kondisi ekonomi mereka, tetapi juga kondisi rohani mereka. Desa Katel Klawu tempat kami bermalam adalah ‘desa Kristen’ dengan hampir seluruh penduduknya beragama Kristen. Tetapi kami tidak melihat kekristenan yang sungguh di sana. Bagaimana dengan desa-desa lain?

Hari ketiga, kami pergi ke STT Diakonos, kami melihat kondisi yang sangat memprihatinkan dan seperti yang dikatakan sendiri oleh ketua STT Diakonos, “tempat ini tidak layak disebut sebagai STT”. Bukan hanya ruang kelas, tapi juga perpustakaan dengan buku yang sangat minim dan kondisi-kondisi lainnya. Padahal mereka akan menjadi pemimpin-pemimpin gereja!

Di sana kami juga mendengarkan sharing dari lembaga Kartidaya, yang bekerja sama dengan Paguyuban Sentir Banyumas, sedang berusaha menterjemahkan bagian-bagian Alkitab ke dalam bahasa Banyumas, salah satu suku yang boleh dikatakan terabaikan. Mereka hanya terdiri dari beberapa orang dan mereka tahu apa yang mereka kerjakan sangat kecil sekali, tetapi mereka hanya berusaha menjadi pelita kecil (sentir) untuk Banyumas. Such a moving presentation!

Dari sana kami pergi panti asuhan Siloam. Di sana kami membagi 2 kelompok, anak-anak dan remaja. Kami membagikan Firman Tuhan, bermain bersama mereka dan mendoakan mereka.

Hari keempat kami mengunjungi Nusakambangan. Ada tiga LP yang kami kunjungi. Selain mengadakan persekutuan, bernyanyi, memberitakan Firman, kami juga berdoa bagi para napi di sana. Dari sana kami langsung kembali ke Jakarta dan tiba di GKY Green Ville tgl 30 Des dini hari.

Berbagai hal yang kami lihat, dengar, dan rasakan, menimbulkan kesan yang dalam di hati kami.
Seperti beberapa kali saya sampaikan kepada teman-teman KP 1, saya berharap ucapan Yesus bergema terus di telinga dan hati kita “tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit”!









Keterangan foto: (1) Vocal Group di GKJ Pengalusan (2)-(3) Natal anak-anak di desa Katel Klawu (4) Kebersamaan bersama pemuda di desa Katel Klawu (5) Berdoa sebelum drama di desa Serang

Event: Mission Trip KP 1 26-30 Des'07 (2)

Event: Mission Trip KP 1 26-30 Des'07 (3)








Keterangan foto: (1) Foto bersama setelah Natal di GKJ Pengalusan di desa Katel Klawu (2)&(3) Kunjungan ke STT Diakonos di Banyumas, mendengarkan sharing tim penerjemahan Alkitab ke bahasa Banyumas dan berbincang-bincang dengan mahasiswa di sana (4)&(5) Mengunjungi panti asuhan Siloam di Banyumas

Event: Mission Trip KP 1 26-30 Des'07 (4)






Keterangan foto: (1) Mendoakan anak-anak panti asuhan Siloam di Banyumas (2) Mengadakan persekutuan dan sharing serta doa kelompok bersama para narapidana di tiga LP (3) Para napi menyanyikan lagu "Nusakambangan" yang menceritakan tentang pulau Nusakambangan yang indah tapi menyeramkan. Di sana mereka menyesali dosa, meminta ampun kepada Tuhan dan meminta Tuhan memakai mereka. Beautiful song! (4) "KP 1 GKY Green Ville Goes to Nusakambangan" di pantai Permisan - Nusakambangan, it's very beautiful, really!

Tuesday, January 22, 2008

Bercermin

Dalam suatu kebaktian, ada seorang jemaat yang memang terbelakang secara mental. Dia datang sangat terlambat, bahkan sudah separuh lebih kebaktian berjalan. Dengan tergesa-gesa dia berjalan, menyalami orang dengan gaya yang aneh, lalu duduk. Hal yang menarik perhatian saya adalah ada seorang jemaat lain yang melihat dengan tertawa sinis sambil menggelengkan kepala dan menoleh kepada orang lain sambil menunjuk-nunjuk jemaat tadi. Maksudnya jelas, “itu orang aneh sekali!”.

Tetapi yang membuat saya merasa lucu adalah, sebelum kebaktian dimulai saya bertemu dengan orang yang mentertawakan jemaat itu. Dan anda tahu apa yang sedang dia lakukan? Dia sedang menggetar-getarkan tubuhnya, lalu melompat-lompat seperti main lompat tali (tapi tanpa tali), sambil memejamkan mata dan mengucapkan kata-kata tidak jelas, tepat di depan pintu ruang kebaktian! Semua orang yang masuk ke ruang kebaktian sudah melihat kelakuannya yang aneh itu!

Yesus pernah berkata “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” Ayat ini mengajar kita untuk tidak memandang kesalahan orang lain dengan sangat tajam, sementara kesalahan sendiri tidak kita lihat. Kadang-kadang kita melihat kesalahan orang lain, lalu kita melihat diri kita dan merasa kita tidak ada kesalahan itu. Kita lihat orang bohong, kita teliti diri kita dan memang kita tidak berbohong. Kita lihat orang sombong, kita teliti diri kita dan kita lihat memang kita tidak sombong. Memang betul, kita tidak ada kesalahan jenis itu. Tetapi ayat ini tidak bilang bahwa kesalahannya harus yang jenisnya sama. Jemaat yang tadi saya ceritakan merasa dia tidak terlambat, dia tidak terbelakang secara mental (walaupun ini jelas bukan kesalahan), dia tidak berjalan dengan aneh, tetapi keanehan dia adalah di tempat yang lain.

Seringkali kita memberikan label kepada orang lain hanya karena ada kasus. Jadi ada kasus lalu kita tarik menjadi suatu label. Padahal kita mungkin melakukan kasus yang lain dan orang lain bisa tarik itu menjadi label yang sama dengan yang kita berikan kepada orang lain. Maka sebisa mungkin hati-hati atau bahkan hindari pemberian label, lebih baik ingat kasusnya dan bukan labelnya.
Peristiwa ini membuat saya berpikir, mungkinkah ini juga terjadi kepada saya?

Misalnya ketika saya mengkritik pemimpin ibadah. Saya bisa mengkritik caranya mengajak orang bernyanyi, kata-katanya yang tidak pas, pandangan matanya yang selalu tertunduk, dan sebagainya. Ketika saya memimpin, saya mungkin memang tidak lakukan semua itu. Tetapi saya mungkin melakukan kesalahan yang jenisnya lain. Misalnya cara saya memberi tanda kepada pemusik sangat tidak jelas, atau gerakan tangan saya tidak membuat jemaat enak menyanyi malah menjadi lucu, atau kesalahan-kesalahan lainnya.

Atau misalnya ketika saya tidak suka melihat seorang memimpin rapat. Saya tidak suka A, B, C nya. Tetapi kalau saya yang memimpin, mungkin banyak orang yang juga tidak suka X, Y, Z nya saya.
Saya percaya ketika Yesus mengatakan kalimat di atas, Dia tidak bermaksud mengatakan kita tidak boleh memberikan penilaian kita atas orang lain. Bagaimanapun Tuhan berikan kita hikmat dan kemampuan untuk membedakan dan menilai. Misalnya kita tahu si A orang yang sering menyombongkan diri, lalu suatu kali kita mendengar dia sedang menyombongkan diri. Apakah kita tidak boleh berpikir “aduh dia lagi sombong nih”? Apakah kita harus selalu berpikir “nggak dia nggak sombong!”. Saya kira sikap seperti itu malah mengingkari kemanusiaan kita. Bagaimana kita bisa berubah kalau tidak punya kemampuan menilai? Kita jelas boleh menilai, tapi sambil ingat bahwa kita juga tidak sempurna. Ini akan memberikan keseimbangan dalam diri kita.

Saya usul, kita perlu bercermin untuk lebih mengenal diri kita. Cermin itu bisa dari berbagai macam hal:

1. Cermin sungguhan untuk melihat diri (khususnya ini berguna untuk melihat fisik, mimik, dan bahasa tubuh kita). Bisa juga berupa rekaman suara atau video. Banyak orang yang mengkritik orang lain ketika bicara atau ketika bersikap, padahal dirinya juga punya banyak masalah dalam hal itu.

2. Orang lain. Mereka bisa menjadi cermin yang baik. Dengarkan kalimat mereka. Tidak semua komentar orang pasti benar, karena mereka juga cenderung memberikan label dan mereka juga bisa salah melihat, tetapi dengarkan dulu mereka.

3. Hati nurani dan bimbingan Roh Kudus. Itu cermin yang luar biasa bagi kita, khususnya masalah dosa dan kesalahan, asalkan kita mau jujur.

Selamat bercermin!

Tuesday, January 15, 2008

Ibadah

Akhir-akhir ini, hal yang sering mengganggu saya adalah melihat cara orang Kristen beribadah. Kesedihan saya bukan hanya karena banyak lagu-lagu pujian yang buruk, yang kata-katanya salah secara teologi atau terlihat jelas bukan lagu yang dipikirkan dengan baik. Kesedihan saya juga bukan hanya karena banyak permainan musik yang buruk dalam gereja, baik yang terlalu gaduh sampai tidak ada bedanya dengan konser musik rock (maaf kalau saya terlalu ekstrim), maupun karena pemain musik yang memang tidak mampu. Tetapi yang paling mengganggu dan menyedihkan saya adalah sikap orang Kristen dalam mempersiapkan ibadah dan dalam menyanyikan pujian.

Dalam pelayanan sebagai pengkhotbah, saya cukup sering berkeliling ke berbagai gereja. Ada beberapa gereja yang terlihat mempersiapkan dengan baik (saya cenderung mengabaikan kesalahan-kesalahan teknis yang tidak disengaja). Tetapi dengan prihatin, saya harus katakan, lebih banyak yang tidak. Ada beberapa gereja dimana jemaat memuji Tuhan dengan kesungguhan hati. Tetapi dengan sangat prihatin, saya harus katakan, lebih banyak yang tidak.

Apa yang terjadi dengan orang Kristen? Apa yang terjadi dengan gereja?

Bukankah ibadah bersama adalah penyembahan kita kepada Tuhan? Bukankah ibadah seharusnya dilakukan dengan sukacita dan sorak sorai? Bukankah ibadah seharusnya dilakukan dengan gentar di hadapan Tuhan yang kudus?

Saya tidak ingin menuding siapa-siapa yang bersalah, karena saya kira kita semua ada andil bersalahnya.

Sebagian dari kita menekankan ibadah yang musiknya enak dan menghanyutkan. Maka jemaat mungkin tidak belajar memuji Tuhan tetapi memuaskan diri dengan musik yang enak. Mungkin mereka bernyanyi sambil memejamkan mata, sambil mengangkat tangan, sambil menikmati lagu itu, tetapi sangat mungkin hanya sedang menikmati diri dan bukan menikmati kehadiran Tuhan.

Sebagian dari kita menekankan lagu pujian yang kata-katanya baik, seringkali maksudnya adalah lagu himne. Jemaat menjadi fanatik untuk menyanyikan lagu himne dan langsung memprotes jika lagu yang dinyanyikan bukan himne. Tetapi banyak jemaat hanya latihan menyanyikan lagu himne dan bukan memuji Tuhan. Banyak yang tidak mengerti isi lagunya (begitu sampai di bait 2, lupa apa yang dinyanyikan di bait 1). Lebih ekstrim lagi, ada yang menyanyi sambil menguap! Hurufiah!

Saya kira kita harus lebih banyak memperhatikan ibadah. Terus terang saya lelah dengan perdebatan seputar jenis musik dan lagu. Jangan salah mengerti, saya tidak katakan semua jenis musik dan lagu bisa dipakai dalam ibadah. Tetapi perdebatan seperti itu selalu hanya berputar pada masalah kenikmatan emosi atau kepuasan rasio. Mengapa kita tidak memperdebatkan apakah jemaat makin cinta Tuhan dan makin hormat pada Tuhan dalam ibadah?

Saya tahu topik ini cukup sensitif bagi kebanyakan dari kita. Biasanya begitu menghadapi kritik tentang ibadah, kita langsung siap dengan benteng kita. Maka untuk membuat kritik yang adil dan mengena, saya kira diperlukan banyak sekali pembahasan dan diskusi. Paling tidak, ingatlah kalimat ini: Kecintaan dan rasa hormat kita kepada Tuhan tercermin dalam ibadah dan dibangun dalam ibadah.