Showing posts with label l. Book reviews. Show all posts
Showing posts with label l. Book reviews. Show all posts

Wednesday, July 11, 2018

The Conviction to Lead–Albert Mohler

Albert Mohler, The Conviction to Lead: 25 Principles for TheConvictionToLeadMohlerLeadership that Matters (Minneapolis: Bethany House, 2012), 220 pages.

Saya tertarik membaca buku ini karena dua hal.

Pertama, karena saya sadar bahwa menjadi gembala GKY Green Ville is no joke. Saya perlu mencari pertolongan dari orang lain untuk mengajari saya bagaimana memimpin. Tetapi, saya memilih untuk belajar dari orang yang saya percaya kualitas dan keyakinannya. Albert Mohler memenuhi kriteria itu.

Kedua, karena kisah dramatis di awal kepemimpinan Albert Mohler. Dia dipercaya untuk menjadi presiden dari Southern Baptist Theological Seminary pada usia 33 tahun di tahun 1993. Saat itu SBTS sudah berusia 144 tahun! Mohler sendiri baru empat tahun sebelumnya lulus dengan PhD dari sekolah itu. Dia diminta untuk membalikkan total arah dari seminari itu kembali kepada keyakinan iman semula dan dia harus menghadapi tentangan luar biasa dari mahasiswa dan hampir semua dosen yang ada. Sejak hari pertama dia memimpin, mahasiswa sudah berkumpul untuk demonstrasi dan setiap saat ada wartawan di depan kantornya. Hampir semua dosen kemudian mengundurkan diri. Tetapi, Mohler kemudian berhasil menjadikan SBTS kembali menjadi sekolah yang besar.

Buku ini berisi 25 bab pendek, masing-masing hanya sekitar 6-8 halaman. Setiap bab bisa dibaca dalam waktu singkat. Bahkan saya merasa buku ini sebaiknya dibaca sedikit demi sedikit daripada sekaligus. Tentu tidak semua bab itu bisa diterapkan di dalam semua konteks. Tetapi, banyak di antaranya yang memberikan inspirasi.

Hal paling penting yang menjadi dasar dari semua bab di dalam buku ini adalah seorang pemimpin harus memimpin berdasarkan keyakinan. Kepemipinan dimulai dengan tujuan dan bukan rencana. Keyakinan dan tujuan itulah yang harus terlihat dari seorang pemimpin dan menginspirasi orang yang dipimpinnya. Kemudian dia membahas banyak hal mengenai tantangan, kesempatan, dan sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

Berikut adalah beberapa judul bab dalam buku ini untuk memberikan gambaran:
Leaders Understand Worldviews
Leaders Are Thinkers
Leaders Are Teachers
The Leader and Power
Leaders Are Managers
The Leader as Writer
The Digital Leader

Sejujurnya dia meletakkan standar yang sangat tinggi – yang membuat saya ngeri. Tetapi, dia bukan menulis dari menara gading. Jelas bahwa apa yang dia tulis sudah dan sedang dia jalankan. He walks the talk.

Saya merasa perlu waktu lebih lama untuk membuat merenungkan apa yang dia tulis.

Recommended!

Monday, November 14, 2016

Glittering Vices - Rebecca Konyndyk DeYoung

Rebecca Konyndyk DeYoung, Glittering Vices: A New Look at the Seven Deadly Sins And Their Remedies (Grand Rapids: Brazos Press, 2009), 205 pages.


Secara tidak sengaja, saya melihat buku ini dijual sangat murah di sebuah perpustakaan sekolah teologi. Saya lihat topiknya, penulisnya, dan karena murahnya, saya putuskan untuk membelinya. Di luar dugaan, buku ini sangat bagus.

Buku ini membahas apa yang sering disebut sebagai “Tujuh Dosa Maut (Seven Deadly Sins)”. DeYoung sebetulnya lebih setuju dengan istilah capital vices daripada deadly sins. Ada dua alasan: Pertama, “vice”menunjukkan kebiasaan (habit) atau tipe karakter (character trait). Artinya bukan sekedar perbuatan dosa tetapi sebuah kebiasaan dosa di dalam diri kita yang sudah lama kita kembangkan dan sudah mengakar. Kedua, “capital” artinya adalah “kepala” atau “sumber”. Dari tujuh vices inilah muncul berbagai vices yang lain, dan itulah sebabnya mereka disebut “deadly”.

DeYoung memulai pembahasannya dengan menjelaskan asal usul pemahaman akan capital vices itu dalam tradisi Kristen mulai dari zaman “the desert fathers” (sekitar abad ke-3 dan ke-4). Banyak penjelasannya juga diambil dari Thomas Aquinas (abad ke-13). Lalu dia menjelaskan mengapa tujuh vices ini yang dimasukkan dan mengapa mereka begitu kuat mempengaruhi hidup manusia.

Dengan sangat baik, dia kemudian menjelaskan satu persatu “Seven Capital Vices” itu:

Envy: Feeling Bitter When Others Have It Better
Vainglory: Image Is Everything
Sloth: Resistance to the Demands of Love
Avarice: I Want It All
Anger: Holy Emotion or Hellish Passion
Gluttony: Feeding Your Face and Starving Your Heart
Lust: Smoke, Fire, and Ashes

Buku ini bukan hanya mengajak kita mengerti arti setiap vice, tetapi dengan tajam memperlihatkan bagaimana vice itu mungkin ada di dalam hati kita. Kemudian di setiap akhir pembahasan salah satu vice, dia akan mengusulkan sebuah disiplin rohani untuk mengubah kebiasaan dosa itu. Karena vice bersifat kebiasaan, maka kita perlu mematahkan kebiasaan itu dan menggantinya dengan kebiasaan lain, begitu rupa, sampai itu mengakar dalam diri kita. Maka dari vice berganti menjadi virtue.

Berikut adalah beberapa kutipan dari buku ini:

“If we think about the people we envy, and we envy them in particular, a pattern emerges. Enviers don’t usually envy those who are far removed from their lives and lifestyles, or who are vastly more talented or successful than they are. They tend to envy people to whom they might actually be compared unfavorably, that is, those who are just like them – only better.” (p.49).

“If we step back for a moment, it is disconcerting to think how much of our lives are spent keeping up appearances to impress lots of other people on the basis of qualities that we don’t have or that don’t really matter.” (p.65).

“Acedia’s (Sloth) greatest temptations are escapism and despair – when we don’t feel like being godly or loving anymore, to abandon ship and give up, to drift away inwardly or outwardly toward something more comfortable or immediately comforting… Thus, its greatest remedy is to resist the urge to get out or give up, and instead to stay the course, stick to one’s commitments, and persevere.” (p.97).

Buku ini bukanlah buku yang “berat” tetapi juga bukan buku yang “ringan”. Dia tidak menulis buku ini untuk kalangan akademis maka istilah-istilah yang dipergunakan juga sederhana dan bukan teknis teologis. Tetapi, buku ini bukan buku yang bisa dibaca dengan cepat dan sambil lalu. Perlu ketelitian dan ketenangan untuk membacanya. Kita perlu membacanya dengan cermat sambil memeriksa diri – satu kali. Lalu, sambil bergumul dengan kehidupan, kita perlu membacanya lagi dan memeriksa diri lagi.

Highly recommended!

Friday, September 02, 2016

The Trellis and The Vine & The Vine Project - Colin Marshall & Tony Payne

Saya baru saja menyelesaikan membaca dua buku ini yang ditulis oleh Colin Marshall dan TonyPayne.

Buku pertama, The Trellis and the Vine, terbit pada tahun 2009 dan menjadi populer. Mengambil perumpamaan dari pohon anggur, mereka mengajak kita melihat bahwa pelayanan kita seharusnya fokus pada vine (anggur) dan bukan pada trellis (terali). Terali perlu ada untuk menunjang pertumbuhan anggur tetapi seringkali kita menghabiskan waktu, tenaga, perhatian, hanya untuk membangun terali dan bukan menumbuhkan anggur.

Bab 1-2 buku itu adalah bab yang sangat penting karena disitulah mereka menguraikan “ministry mind-shift” yang mereka maksudkan. Dalam bab 3-5 mereka menguraikan dasar Alkitab dari konsep mereka. Tidak seluruhnya menarik, menurut saya, tetapi cukup bagus untuk bahan pemikiran lebih mendalam.

Dalam bab 6-8, mereka mulai menyodorkan konsep pelatihan di dalam gereja. Lalu empat bab terakhir buku itu (Bab 9-12) bersifat praktis: Bagaimana melatih co-workers, orang seperti apa yang dipilih, program magang pelayanan, dan bagaimana memulai semuanya.

Buku itu menggugah kesadaran banyak pemimpin gereja bahwa seharusnya mereka fokus mengerjakan vine dan bukan trellis. Tetapi, tidak semudah itu mengerjakan perubahan di dalam gereja. Maka banyak pembaca buku itu bertanya: "Apa yang harus kami lakukan? Jikalau pemuridan hanya dijalankan secara sporadis atau sebagai salah satu “program gereja” maka hasilnya tidak akan terlalu menjanjikan. Tetapi, bagaimana kami bisa membentuk seluruh kultur gereja menjadi disciple-making?"

Maka buku yang kedua, The Vine Project, terbit pada tahun 2016, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Mereka menyadari banyaknya kesulitan yang dihadapi ketika pemimpin gereja ingin menjalankan proyek itu. Maka, seperti yang ditulis oleh mereka di bagian pendahuluan, buku ini bukanlah sekedar untuk dibaca tetapi merupakan sebuah proyek. Mereka menyarankan (mendesak) setiap gereja untuk membentuk tim The Vine Project dan menggunakan buku ini sebagai panduan menjalankan proyek yang besar, sulit, tetapi sangat penting itu.

Mereka membagi proyek ini dalam lima tahap.

Tahap pertama adalah mempertajam keyakinan akan apa yang Tuhan mau kita lakukan. Kita mencoba memperjelas keyakinan kita akan tujuan dan nilai-nilai yang seharusnya ada di dalam pelayanan kita. Tahap ini penting supaya kita memikirkan dengan jelas kaitan antara praktek yang akan kita lakukan dengan teologi.

Tahap kedua adalah mereformasi kultur pribadi kita. Tahap ini sangat menarik dan penting. Banyak orang ingin cepat melakukan sesuatu, membuat program, menyusun kurikulum, menyebarkan brosur, lalu menggerakkan tim untuk mengerjakannya. Tetapi, dengan cara demikian, mereka akan terjebak lagi membangun trellis. Kelemahan utama pendekatan seperti itu adalah mereka (pemimpin gereja) belum pernah melakukan sendiri program yang akan mereka buat. Maka mereka sulit mengerti kesulitan dan halangan yang akan terjadi. Demikian pula, apa yang dikatakan dan dilakukan oleh pemimpin, keputusan-keputusan, prioritas-prioritas, atau kultur pribadinya, akan menjadi titik tolak yang sangat penting bagi sebuah gerakan seperti ini.

Tahap ketiga adalah mulai mengevaluasi gereja. Sama seperti tahap pertama dan kedua, mereka memberikan panduan apa saja yang harus dievaluasi dan bagaimana melakukannya.

Baru di tahap keempat kita masuk kepada tahap inovasi dan implementasi. Beberapa wilayah yang mereka ajak kita fokuskan adalah: Kebaktian Minggu (ini sangat penting), Merancang jalan untuk membawa orang (dari posisi manapun: belum bertobat, baru bertobat, ataupun sudah bertumbuh) makin bertumbuh, Merencanakan apa yang harus dilakukan ketika pertumbuhan terjadi (kualitas dan kuantitas), dan terakhir, Menciptakan bahasa baru yaitu mengkomunikasikan dengan jelas apa yang ingin dilakukan oleh gereja, sedemikian rupa, sehingga ditangkap oleh seluruh jemaat.

Tahap kelima adalah mempertahankan momentum. Proyek ini sama sekali tidak mudah dan tidak cepat. Di dalam prosesnya, bukan saja perhatian, tenaga, waktu, sumber daya, akan banyak terkuras, tekanan juga akan sangat besar dirasakan. Maka sangat penting memikirkan bagaimana menjaga konsistensi dalam menjalankannya.

Hampir untuk setiap bagian yang dibicarakan, buku ini memberikan referensi kepada resources yang bisa dipakai. Akan sangat menolong jika kita juga bisa melihat resources itu dan mempertimbangkan untuk menggunakannya. Buku ini juga didukung oleh situs http://thevineproject.com dimana bisa ditemukan banyak kisah nyata dan wawancara dengan para pemimpin gereja yang menjalankan ini dan juga berbagai resources lainnya.

Kelemahan buku ini adalah ketika dibaca akan terasa too wordy. Tetapi hal ini bisa dipahami karena mereka memang tidak memaksudkannya untuk “dibaca” tetapi “dipergunakan” sebagai panduan dan bahan diskusi.

Saran saya, bacalah dulu buku yang pertama. Hanya jika anda yakin ingin menjalankan perubahan di dalam gereja anda, baru bacalah (dan belilah) buku yang kedua. Saya yakin buku itu akan sangat menolong.

It's time to change, but do it carefully and prayerfully!

Sunday, June 19, 2016

The Reformed Pastor - Richard Baxter


Saya sedang membaca buku klasik “The Reformed Pastor” karya Richard Baxter. Malu juga sebenarnya baru baca sekarang. Bertahun-tahun buku ini nangkring di rak buku saya, sempat baca beberapa halaman, lalu dibiarin nangkring lagi tanpa disentuh, sampai sekarang.

Setelah membaca buku ini separuh, saya bisa mengamini apa yang pernah diucapkan seorang hamba Tuhan, “setiap hamba Tuhan wajib membaca buku ini, bukan hanya sekali, tapi berkali-kali.” Buku ini sangat-sangat-sangat diperlukan untuk setiap hamba Tuhan. 

Richard Baxter adalah salah seorang puritan (sekelompok orang Protestan Reformed di Inggris di abad 16-17, yang ingin memurnikan – purifying – gereja Inggris). Orang-orang Puritan terkenal sebagai raksasa-raksasa rohani yang kehidupannya, mind-heart-hand, sangat terintegrasi. Richard Baxter adalah seorang pendeta, penginjil dan juga penulis yang sangat luar biasa di era Puritanisme. Pelayanan dia di gereja Kidderminster (selama hampir 15 tahun) dikatakan mengubah orang-orang kota itu dari yang “bebal, kasar, mencari kesenangan” menjadi komunitas yang saleh dan menyembah Tuhan.

Buku ini adalah tulisan Richard Baxter mengenai bagaimana pelayanan seperti itu bisa dilakukan. Dengan kata lain, ini adalah buku from a pastor to pastors. Walaupun konteks pelayanan dia tentu berbeda jauh dengan hari ini, tetapi prinsip-prinsip yang dia tuliskan sangatlah relevan. Berkali-kali saya harus memeriksa diri dan merenung sambil membaca buku ini.

Bahasanya tidak terlalu mudah karena cenderung archaic, tapi masih bisa dimengerti. Berharap ada penerbit yang mau menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa Indonesia supaya lebih banyak hamba Tuhan di Indonesia yang bisa mendapat berkat melaluinya. Sebagai cicipan, saya mengutip beberapa pokok pembahasan di bagian 2 dari buku ini:

1. Take heed to yourselves, for you have a heaven to win or lose, and souls that must be happy or miserable for ever; and therefore it concerneth you to begin at home, and to take heed to yourselves as well as to others. 

2. Take heed to yourselves, for you have a depraved nature, and sinful inclinations, as well as others.

3. Take heed to yourselves, because the tempter will more ply you with temptations than other men.

4. Take heed to yourselves, because there are many eyes upon you, and there will be many to observe your falls.

5. Take heed to yourselves, for your sins have more heinous aggravations than other men’s.

6. Take heed to yourselves, because such great works as ours require greater grace than other men’s.

7. Take heed to yourselves, for the honour of your Lord and Master, and of his holy truth and ways, doth lie more on you than on other men.

8. Lastly, take heed to yourselves, for the success of all your labours doth very much depend on this.

Fellow pastors, please read this book!

Saturday, October 03, 2015

A Shepherd Looks at Psalm 23 – W. Phillip Keller

Belasan tahun yang lalu (lama banget!) saya membaca buku ini, sangat diberkati olehnya, bahkan beberapa kali menggunakannya untuk bahan khotbah.

Buku ini sangat unik karena latar belakang penulisnya yang unik. W. Phillip Keller pernah tinggal lama di Afrika Timur, di lingkungan para gembala yang kebudayaannya sangat mirip dengan mereka yang di Timur Tengah. Dia sendiri bahkan pernah menjadi gembala selama 8 tahun. Dia tahu seperti apa kesulitan, pergumulan, perasaan, berhubungan dengan domba sebagai gembala. Kemudian, dia juga menjadi “gembala” dari sebuah gereja dan dia mengalami arti menjadi “gembala” bagi umat Tuhan.

Buku ini ditulis dengan bahasa yang sederhana tetapi sangat menarik. Keller tidak mencoba merohanikan relasi gembala dan domba. Di satu sisi, dia mencoba menafsirkan Mazmur 23 dari sudut pandang gembala/domba sungguhan. Tapi, di sisi lain, dia tidak kebablasan dan membuat Mazmur 23 kehilangan maksud aslinya.

Susunan buku ini sederhana, dibagi dalam 12 bab, yang masing-masing menjelaskan arti 1 kalimat dari Mazmur 23. Ini bukan buku tafsiran – jauh dari itu. Ini juga bukan buku eksposisi. Ini buku devotional – mengajak kita merenung, menguatkan iman kita, dan membawa kita berlutut. Untuk tujuan itu, Keller sangat berhasil. Dia membawa kita melihat betapa terlibatnya Allah dalam hidup kita sebagai gembala dan betapa tidak berdayanya kita sebagai domba.

Saya mencoba mencari paragraf yang bisa saya cuplik dan cantumkan disini untuk memberi gambaran tentang bagaimana gaya tulisan Keller. Tidak berhasil - kecuali cuplikannya panjang. Dia menulis dengan sangat mengalir dan mencuplik sepotong tulisannya justru bisa membuat kita salah mengerti tentang dia. Di bawah adalah cuplikan penjelasannya tentang kalimat "I shall not want..." Mudah-mudahan cukup menggambarkan.

When all is said and done, the welfare of any flock is entirely dependent upon the management afforded them by their owner.

The tenant sheepman on the farm next to my first ranch was the most indifferent manager I had ever met. He was not concerned about the condition of his sheep. His land was neglected. He gave little or no time to his flock, letting them pretty well forage for themselves as best they could, both summer and winter. They fell prey to dogs, cougars, and rustlers.

Every year these poor creatures were forced to gnaw away at bare brown fields and impoverished pastures. Every winter there was a shortage of nourishing hay and wholesome grain to feed the hungry ewes. Shelter to safeguard and protect the suffering sheep from storms and blizzards was scanty and inadequate.

They had only polluted, muddy water to drink. There had been a lack of salt and other trace minerals needed to offset their sickly pastures. In their thin, weak, and diseased condition these poor sheep were a pathetic sight.

In my mind’s eye I can still see them standing at the fence, huddled sadly in little knots, staring wistfully through the wires at the rich pastures on the other side.

To all their distress, the heartless, selfish owner seemed utterly callous and indifferent. He simply did not care. What if his sheep did want green grass, fresh water, shade, safety, or shelter from the storms? What if they did want relief from wounds, bruises, disease, and parasites?

He ignored their needs — he couldn’t care less. Why should he — they were just sheep — fit only for the slaughterhouse.

I never looked at those poor sheep without an acute awareness that this was a precise picture of those wretched old taskmasters, Sin and Satan, on their derelict ranch — scoffing at the plight of those within their power.

As I have moved among men and women from all strata of society as both a lay pastor and as a scientist, I have become increasinglyaware of one thing. It is the boss — the manager — the
Master in people’s lives who makes the difference in their destiny.

I have known some of the wealthiest men on this continent intimately — also some of the leading scientists and professional people.

Despite their dazzling outward show of success, despite their affluence and their prestige, they remained poor in spirit, shriveled in soul, and unhappy in life. They were joyless people held in the iron grip and heartless ownership of the wrong master.

By way of contrast, I have numerous friends among relatively poor people — people who have known hardship, disaster, and the struggle to stay afloat financially. But because they belong to Christ and have recognized Him as Lord and Master of their lives, their owner and manager, they are permeated by a deep, quiet, settled peace that is beautiful to behold.

It is indeed a delight to visit some of these humble homes where men and women are rich in spirit, generous in heart, and large of soul. They radiate a serene confidence and quiet joy that surmounts all the tragedies of their time.

They are under God’s care and they know it. They have entrusted themselves to Christ’s control and found contentment. Contentment should be the hallmark of the man or woman who has put his or her affairs in the hands of God. This especially applies in our affluent age. But the outstanding paradox is the intense fever of discontent among people who are ever speaking of security.

Despite an unparalleled wealth in material assets, we are outstandingly insecure and unsure of ourselves and well nigh bankrupt in spiritual values.

Always men are searching for safety beyond themselves. They are restless, unsettled, covetous, greedy for more — wanting this and that, yet never really satisfied in spirit.

By contrast the simple Christian, the humble person, the Shepherd’s sheep, can stand up proudly and boast. “The Lord is my shepherd — I shall not be in want.”

Gambar sampul di atas berasal dari cetakan tahun 2007 dan waktu itu buku ini sudah terjual lebih dari 2 juta eksemplar. Seingat saya buku ini juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Highly recommended!

Monday, June 15, 2015

Chosen by God - R.C. Sproul


R.C. Sproul adalah salah satu teolog yang sangat membentuk pemikiran saya, khususnya mengenai Calvinisme, waktu saya masih mahasiswa di Trisakti. Dua buku teologi pertama yang saya baca habis, cover to cover, keduanya adalah tulisan dia. Buku ini adalah salah satunya. Waktu itu saya membaca versi terjemahan bahasa Indonesia-nya: Kaum Pilihan Allah (terbitan SAAT- Malang).
 
Saya menemukan review singkat tentang buku ini dari Tim Challies di sini, yang saya kira sangat tepat mewakili apa yang juga ingin saya katakan. Maka daripada menulis lagi, saya cuplik dan terjemahkan sebagian dari review yang dia tulis :-)
Sejak diterbitkan pada tahun 1986, Chosen by God (Kaum Pilihan Allah) sudah menjadi buku klasik pengantar kepada Calvinisme. Buku ini jelas adalah salah satu pengantar terbaik tentang Calvinisme yang tersedia saat ini. R.C. Sproul, adalah seorang teolog dengan karunia membuat hal yang kompleks menjadi sederhana. Dia memulai dengan introduksi kepada kedaulatan Allah dan kemudian menjelaskan kehendak bebas (free will) sebelum kemudian membahas mengenai 5 Pokok Calvinisme (5 points of Calvinism) yang sering disingkat sebagai TULIP. Dia mengubah beberapa istilahnya sehingga singkatannya menjadi RULEP, dan dia memberikan alasan yang baik untuk itu. Sproul juga membahas mengenai double predestination (Info: Tuhan menetapkan sebagian orang untuk diselamatkan dan juga menetapkan sebagian orang untuk binasa – double) dan jaminan keselamatan. Buku ini ditutup dengan bagian “Pertanyaan dan Keberatan” yang menjawab berbagai keberatan yang umum terhadap Calvinisme, seperti “Apakah predestinasi berarti fatalisme?” dan “Apa kaitan predestinasi dengan tugas penginjilan?”
Buku ini sangat enak dibaca, mudah dicerna, karena keahlian Sproul menyederhanakan topik yang sulit. Tetapi buku ini juga mendalam. Dia mengajak kita berpikir, bolak-balik, menantang kita dengan berbagai argumen yang sangat kuat dari sudut pandang Calvinisme. Seingat saya, waktu itu, paling sedikit 3X saya membaca buku ini!

Sebagai gambaran, berikut adalah daftar Bab dalam buku ini:

1. The Struggle
2. Predestination and the Sovereignty of God
3. Predestination and Free Will
4. Adam’s Fall and Mine
5. Spiritual Death and Spiritual Life: Rebirth and Faith
6. Foreknowledge and Predestination
7. Double, Double, Toil and Trouble: Is Predestination Double?
8. Can We Know That We Are Saved?
9. Questions and Objections Concerning Predestination

Kalau anda ingin mengerti tentang keselamatan, tentang pemilihan Allah (predestinasi), tentang kedaulatan Allah dan kehendak bebas manusia, saya sangat merekomendasikan buku ini.

Kalau anda tidak ingin mengerti semua itu, saya juga sangat merekomendasikan buku ini. Karena kalau anda tidak tertarik dengan semua itu, dengan sesuatu yang sangat penting bagi iman Kristen, justru anda lebih perlu lagi membaca buku ini.

Highly recommended!

Friday, April 24, 2015

Adoniram Judson - oleh John Piper

Di dalam pesawat di tengah perjalanan panjang setelah pelayanan, saya membaca biografi singkat

tentang Adoniram Judson yang ditulis oleh John Piper. Berikut beberapa hal berkesan yang saya baca.

Adoniram Judson memasuki Burma (sekarang Myanmar) pada bulan Juli 1813, negara yang waktu itu sangat mengerikan. Beberapa bulan sebelum tiba di sana, Adoniram bertemu dengan William Carey di India yang memperingatkan dia untuk tidak pergi ke Burma. Negara itu penuh dengan kekerasan, dalam keadaan perang, resiko penyerbuan, pemberontakan terus menerus, dan tidak ada toleransi agama sama sekali. Semua misionaris yang ke sana sudah pergi meninggalkan Burma atau mati di sana. Tetapi Adoniram yang berusia 24 tahun tetap pergi ke sana dengan istrinya yang berusia 23 tahun dan baru menikah denganya selama 17 bulan. Adoniram akhirnya melayani di Burma selama 38 tahun sampai dia meninggal di usia 61 tahun, dan hanya satu kali pulang ke rumahnya di Amerika.

Harga yang dia bayar sangatlah besar. Piper menggambarkan dia seperti “benih yang jatuh ke tanah dan mati”. Tetapi, buah yang Tuhan berikan sangatlah besar. Adoniram Judson adalah seorang Calvinis dari gereja Baptis. Hari ini diperkirakan ada 3.700 gereja Baptis di sana dengan 617.781 anggota dan 1.900.000 pengunjung – buah dari benih yang mati ini.

Adoniram Judson adalah seorang anak yang sangat cerdas. Ibunya mengajarinya membaca hanya dalam satu minggu pada waktu dia berusia tiga tahun. Pada usia 16 tahun dia masuk Brown University dan tiga tahun kemudian lulus sebagai lulusan terbaik. Selama di universitas dia berteman dengan Jacob Eames yang adalah seorang Deist (kepercayaan bahwa sekalipun ada Tuhan pencipta, Dia sudah meninggalkan dunia berjalan sendiri). Adoniram Judson sangat terpengaruh dengan temannya ini dan akhirnya dia pun meninggalkan iman Kristen. Dia pergi ke New York untuk menjadi penulis teater. Tetapi di sana kehidupannya berantakan. Suatu hari dia pergi mengunjungi pamannya, dan di sana dia bertemu dengan seorang pemuda Kristen yang sangat teguh imannya. Itu membuat dia tertegun. Keesokan harinya dia menginap di sebuah penginapan kecil di sebuah desa. Pemilik penginapan meminta maaf karena orang di sebelah kamarnya sedang sakit parah dan mungkin akan mengganggu tidurnya. Betul, sepanjang malam itu dia mendengar orang di sebelah kamarya merintih dan terengah-engah. Dia sangat terganggu dan dia berpikir bahwa orang itu pasti tidak siap untuk mati. Tetapi kemudian dia berpikir tentang dirinya sendiri dan dia juga takut memikirkan kematiannya. Dia merasa bodoh karena seorang Deist tidak seharusnya takut dengan kematian (sebagian Deist percaya pada kehidupan setelah kematian, sebagian lagi tidak). Keesokan paginya dia bertanya kepada pemilik penginapan tentang orang di sebelah kamarnya. Pemilik penginapan berkata, “Dia sudah mati”. Adoniram tersentak lalu bertanya, “Tahukah siapa dia?” Pemilik penginapan itu berkata nama orang itu adalah Jacob Eames! Shocking! Berjam-jam lamanya Adoniram merenung tentang kematian temannya. Perlahan-lahan Adoniram bertobat dan dia masuk ke sebuah seminari.

Pada tanggal 28 Juni 1810, Adoniram menyerahkan diri menjadi misionaris. Hari yang sama dia bertemu dengan Ann dan jatuh cinta. Mereka menikah dan berangkat ke India 12 hari setelah menikah. Dari India mereka menuju Rangoon dan tiba di sana tanggal 13 Juli 1813. Penderitaan dimulai sebelum tiba di sana, anak mereka yang pertama meninggal dalam perjalanan menuju Burma. Di sana kemudian mereka berjuang melawan kolera, malaria, disentri, dan berbagai penderitaan dan penyakit lainnya. 

Setelah enam tahun di ladang pelayanan, mereka membaptis orang Burma pertama yang bertobat melalui pelayanan mereka. Pada tahun ke delapan, Ann sakit parah dan harus kembali ke Amerika. Dia baru kembali setelah dua tahun empat bulan! Sebelum dia tiba, berita terakhir tentang Ann yang diterima oleh Adoniram adalah sepuluh bulan yang lalu! Anak mereka yang kedua hidup selama 17 bulan dan kemudian juga meninggal.

Dua tahun kemudian mereka pindah dari Rangoon ke Ava, ibukota Burma. Pada tahun itu tentara Inggris mulai menyerang Burma dan semua orang kulit putih dianggap mata-mata oleh pemerintah Burma. Adoniram masuk penjara. Kakinya dibelenggu dan pada malam hari, kaki yang terbelenggu itu digantung pada sebilah bambu panjang sehingga hanya kepala dan bahunya yang menyentuh lantai. Ann sedang mengandung anak mereka yang ketiga waktu itu, tetapi tiap hari dia berjalan 3km ke istana memohon supaya Adoniram dilepaskan. Hampir setahun kemudian, Adoniram dipindahkan ke penjara lain yang lebih jauh. Tubuhnya kurus kering, matanya kosong, pakaiannya compang-camping, timpang karena penyiksaan, dan di sana gigitan nyamuk dari sawah hampir membuat para tahanan menjadi gila. Anaknya sudah lahir waktu itu dan Ann hampir sama sakitnya dan kurusnya seperti Adoniram, tetapi dia masih berusaha merawat bayinya dan juga Adoniram semampunya. Air susunya menjadi kering dan dia harus memohon kepada wanita lain di desa untuk menyusui bayinya.

Pada tanggal 4 November 1825, Adoniram dibebaskan karena pemerintah membutuhkan penerjemah untuk bernegosiasi dengan Inggris. 17 bulan dalam penjara berakhir! Tetapi kesehatan Ann memburuk dan 11 bulan kemudian dia meninggal. Lalu 6 bulan kemudian anak ketiga mereka juga meninggal.

Selama kurang lebih 3 tahun, Adoniram hidup dalam keadaan depresi. Dia membuang gelar kehormatan Doctor of Divinity dari Brown University yang pernah diterimanya. Dia memberikan semua hartanya di Amerika kepada gereja. Dia meminta gajinya dikurangi menjadi seperempat. Dia pergi membangun pondok di hutan dan hidup sendirian. Dia menggali kubur di sebelah pondok dan merenungi tahapan tubuh membusuk ketika menjadi mayat. Dia merasa sangat hancur dan berkata: “Allah bagiku adalah the Great Unknown. Aku percaya kepada-Nya, tetapi aku tidak menemukan-Nya”.

Titik balik bagi Adoniram adalah ketika adiknya meninggal pada tanggal 8 May 1829. Karena adiknya yang dia tinggalkan 17 tahun sebelumnya, dulu tidak percaya Kristus, tetapi meninggal sebagai orang percaya. Adoniram keluar dari kegelapan.

Pada tahun 1831, Adoniram melaporkan kebangunan mulai terjadi. Dia melihat dimana-mana orang ingin tahu tentang kekristenan. Dia dan teman-temannya membagikan hampir 10.000 traktat kepada orang yang meminta. Sebagian orang bahkan berjalan dua atau tiga bulan hanya untuk bertemu dengan dia dan bertanya tentang Injil. Penuaian besar-besaran dimulai.

Tetapi, penderitaannya untuk Injil belum selesai. Adoniram menikah lagi dengan Sarah pada tahun 1834, delapan tahun setelah Ann meninggal. Mereka memperoleh delapan anak dan hanya lima yang hidup sampai dewasa. Sebelas tahun kemudian, Sarah sakit parah dan mereka kembali ke Amerika. Tetapi, di tengah perjalanan Sarah meninggal. Sampai di Amerika, Adoniram meninggalkan tiga orang anaknya yang besar di sana, lalu kembali ke Burma.

Adoniram kemudian menikah lagi pada usia 57 tahun dengan Emily yang berusia 29 tahun. Mereka punya satu orang anak. Dan Tuhan memberi mereka empat tahun yang sangat bahagia dalam hidup mereka. Ketika Adoniram sakit, sementara Emily mengandung anak yang kedua, seorang temannya menemani Adoniram pergi berobat ke Perancis. Tetapi di tengah perjalanan, Adoniram meninggal pada usia 61 tahun.

Sepuluh hari kemudian, Emily melahirkan anak mereka yang kedua yang langsung meninggal saat itu juga. Baru empat bulan kemudian Emily menerima berita bahwa Adoniram sudah meninggal. Dia pun kembali ke Amerika dan meninggal tiga tahun kemudian karena tuberculosis pada usia 37 tahun.

Kisah pelayanan mereka di Burma berakhir. Tetapi pada waktu Adoniram dan Emily meninggal, terjemahan Alkitab sudah selesai, kamus Inggris-Burma sudah selesai dan sudah ada ratusan orang Burma yang menjadi pemimpin gereja. Hari ini, ada sekitar 3700 gereja Baptis di Myanmar yang kalau ditelusuri jejaknya berasal dari pekerjaan kasih satu orang ini.

Saya tersentuh sekali membaca kisah Adoniram Judson, “benih yang jatuh ke tanah dan mati” ini. Beberapa waktu ini, dalam kelelahan, dalam kesulitan, saya mengingat lagi kisahnya dan saya tidak berani mengeluh. Bagaimana saya, di posisi saya, juga bisa menjadi “benih yang jatuh ke tanah dan mati” seperti dia?

Piper menutup buku pendek ini dengan berkata: “Pertanyaannya bagi kita bukanlah apakah kita akan mati, tetapi apakah kita akan mati dengan cara yang menghasilkan banyak buah”.

Buku singkat ini bisa di-download gratis di: http://www.desiringgod.org/books/adoniram-judson

Friday, February 13, 2015

Membaca: Martin Luther dan John Sung

Saya sering mencoba memanfaatkan waktu untuk membaca buku. Bulan lalu waktu pulang ke Indonesia selama empat hari, saya sempat membaca dua buku biografi. Sekedar sharing apa yang berkesan bagi saya.

Pertama adalah Martin Luther: Lessons From His Life and Labor yang ditulis oleh John Piper.
Buku ini bisa di-download di http://www.desiringgod.org/books/martin-luther

Luther adalah seorang pengkhotbah. Setiap minggu dia berkhotbah beberapa kali, bahkan sering dua atau tiga kali dalam sehari. Itu di luar jadwal dia mengajar, belajar, menulis dan konseling. Di dalam salah satu doanya dia berkata, “Tuhan Allah, aku ingin berkhotbah sehingga engkau dimuliakan. Aku ingin berbicara tentang-Mu, memuji-Mu, memuji nama-Mu. Sekalipun aku mungkin tidak bisa berkhotbah dengan baik, maukah Engkau menjadikannya baik?”

Luther juga adalah seorang family man, dia tahu beratnya masalah keluarga. Dia menikah dan memiliki enam orang anak. Salah satu anaknya meninggal waktu masih kecil. Tetapi di dalam masa dukacita yang besar itu pun, dia tetap berkhotbah. Pada hari minggu sore, seringkali setelah selesai berkhotbah dua kali hari itu (dengan khotbah yang berbeda), ia memimpin lagi ibadah keluarga sepanjang satu jam yang juga dihadiri para tamu.

Luther juga seorang churchman. Dia terlibat dalam hampir semua kontroversi dan pertemuan gereja di masanya. Selain itu dia menulis banyak sekali tulisan untuk gereja, hampir satu tulisan setiap dua hari! Selama bertahun-tahun!

Semua kesibukannya itu tidak menghalangi dia untuk tetap belajar Akitab. Dia sangat memandang tinggi pentingnya belajar dan mengajarkan seluruh Alkitab (bukan hanya sebagian) kepada gereja. Luther berkata sangat bahaya jika para hamba Tuhan berpikir tidak perlu lagi belajar, mereka harus terus belajar “sampai yakin bahwa mereka sudah mengajar sampai mematikan setan dan sudah lebih terpelajar daripada Allah sendiri dan semua orang-orang kudus” – yang artinya tidak akan pernah.

Terakhir, Luther sangat menekankan doa dan bergantung pada anugrah Allah. Pada tanggal 18 Februari 1546, Luther meninggal dan kalimat terakhirnya yang dicatat adalah: “Kita adalah pengemis-pengemis. Ini benar.”

Buku kedua yang saya baca adalah John Sung: My Testimony yang diterjemahkan oleh Ernest Tipson. John Sung boleh dikatakan adalah pengkhotbah yang paling berpengaruh di Asia Tenggara pada abad ke-20. Buku ini sudah lama terlupakan dan diedit kembali oleh Michael Poon dan diterbitkan oleh The Centre for the Study of Christianity in Asia – Trinity Theological College. Saya tidak tahu dimana buku ini bisa dibeli selain di toko buku online TTC. http://books.ttc.edu.sg/products-page-2/csca-publications/csca-historical-reprints-series/john-sung-my-testimony/

Berbeda dari buku biografi John Sung yang lain, buku ini ditulis oleh John Sung sendiri (autobiografi). Menarik karena saya jadi membaca tentang kehidupan John Sung dari sudut pandang dia sendiri – bagaimana masa kecilnya, bagaimana perjuangannya untuk sampai dan kuliah di USA dan menerima gelar doktor dalam bidang Kimia, bagaimana kesulitan demi kesulitan (yang super amat besar!) dia tanggung selama di sana, dan bagaimana akhirnya dia meninggalkan USA untuk kembali menjadi hamba Tuhan di China.

Dua kisah yang sangat menarik:

Pertama adalah bagaimana dia menerima pengalaman rohani yang dia sebut sebagai momen kelahiran baru baginya. Mengenai peristiwa itu, John Sung berkata:

Jiwaku seperti sedang mengikuti Yesus yang tersalib, aku seperti orang berdosa yang juga tersalib, menundukkan kepalaku dan membungkuk, mengikuti dengan perlahan di belakang Tuhan. Di satu sisi mengikuti Tuhan berjalan menuju Golgota, dan di sisi lain tahu bahwa beban yang aku pikul tidak sanggup aku tanggung, ia menghimpitku sampai mati. Yesus sudah tergantung tinggi di kayu salib, kepala-Nya di sisi yang satu, kedua tangan-Nya meneteskan darah, kesusahan-Nya menyebabkanku sangat sedih. Setelah itu aku berlutut di kaki salib dan rebah ke tanah. Aku terus menangis sampai tengah malam. Haleluya! Semua dosaku terlepas. Karena itu tubuhku menjadi segar dan ringan seperti burung yang sedang terbang. AKu menari dan beryanyi memuji Tuhan. Lalu aku mendengar bisikan, berkata: “Anakku, dosamu sudah diampuni.”

Pengalaman itu (walaupun saya tidak setuju itu disebut momen kelahiran barunya) merubah hidupnya menjadi penginjil yang sangat diurapi oleh Tuhan. Dari kecil John Sung sudah mengikut papanya yang adalah seorang pendeta di China. Dari remaja dia juga sering berkhotbah. Dia adalah orang yang sangat pandai – jenius bahkan – sehingga namanya terkenal di USA karena prestasinya di Universitas, padahal dia kuliah sambil bekerja sangat banyak dan sakit-sakitan karena kemiskinannya. Tetapi dia sempat kehilangan imannya dan dia mulai mempelajari berbagai kepercayaan lain. Momen itu mengubah dia menjadi sangat bersemangat hidup bagi Tuhan. Saking semangatnya, pimpinan sekolah teologi tempat dia belajar menuduh dia sudah gila.

Maka kisah kedua yang menarik adalah ketika dia harus dikurung di rumah sakit jiwa karena tuduhan menjadi gila. Di sana, sambil menunggu dibebaskan, dia membaca Alkitab sebanyak 40X bolak-balik. Awalnya dia hanya akan berada di situ 40 hari untuk di-observasi, tetapi akhirnya dia tidak dibebaskan. John Sung hampir putus asa karena tidak ada harapan untuk dibebaskan dari rumah sakit jiwa. Akhirnya melalui berbagai cara, Tuhan menolong dia keluar dari rumah sakit jiwa setelah 193 hari. Bagi John Sung, rumah sakit jiwa itu adalah tempat Tuhan mengajar dia Alkitab dan tempat Tuhan mendidik dia, mengubah temperamennya yang buruk, membuat dia berserah kepada Tuhan.

John Sung berkata: “Sampai hari ini aku menyebut rumah sakit jiwa itu sebagai sekolah teologiku. Di sana aku menerima pengajaran dari Roh Kudus dan mengerti kebenaran-kebenaran yang ajaib dan dalam”

Membaca tentang dua orang besar ini: Martin Luther dan John Sung, rasanya dosis yang cukup bagi saya dalam empat hari (agak kelebihan malah). Itu sebabnya saya menulis ini, sambil mengingat lagi apa yang saya baca. Dua orang ini diberikan karunia berlimpah oleh Tuhan dan mereka menyerahkan semuanya untuk dipakai oleh Tuhan. Dua orang ini mengalami penderitaan begitu banyak tetapi tak pernah mundur melayani Tuhan. Dua orang ini terus dikenang sampai sekarang, bukan karena hartanya, tetapi karena penyerahan dirinya kepada Tuhan.

Thursday, November 20, 2014

The Contemplative Pastor: Returning to the Art of Spiritual Direction - Eugene H. Peterson

Buku ini adalah salah satu buku pastoral terbaik yang pernah saya baca. Eugene Peterson seperti imaginative. Kata pengantar yang ditulis Rodney Clapp dimulai dengan kalimat: "If Eugene H. Peterson were not a Presbyterian, he might be a monk." Saya lumayan setuju :-) Bukan hanya itu, tetapi saya yakin buku ini betul-betul touch a nerve bagi banyak hamba Tuhan.
biasa menulis buku ini dengan gaya bahasa yang khas, menarik, mendalam,

Berikut ini saya terjemahkan dan ringkaskan beberapa paragraf tulisannya di halaman awal buku ini:

Kata benda yang sehat tidak membutuhkan kata sifat. Kata sifat membuat berantakan kata benda yang baik. Tetapi jika kata benda itu sudah dirusak atau dijangkiti oleh kebudayaan, maka kata sifat diperlukan.

"Pastor" dulu adalah kata benda yang seperti itu - penuh semangat dan kuat. Tetapi waktu saya melihat bagaimana panggilan "pastor" itu dihidupi di Amerika dan waktu saya mendengar nada dan juga konteks dimana orang membicarakan "pastor", saya sadar apa yang saya dengar di dalam kata itu berbeda dengan apa yang orang lain dengar. Dalam pemakaian umum, kata benda "pastor" sudah menjadi lemah, diejek, dan dicairkan dengan oportunisme. Maka kata itu sangat membutuhkan kata sifat yang memperkuatnya. 

Untuk itu, saya menawarkan tiga kata sifat untuk memperjelas kata benda "pastor": unbusy (tidak sibuk), subversive (merombak apa yang sudah mapan dengan tindakan yang tidak terang-terangan), dan apocalyptic (mengisi dan membentuk pikiran/imajinasi orang dengan realita kerajaan Allah).

Di bagian lain, dia menjelaskan tentang kata sifat "unbusy" itu dengan kalimat yang tidak pernah saya lupa:

Kata sifat "busy" (sibuk) jika dikenakan kepada "pastor" harusnya berbunyi di telinga kita seperti "berzinah" dikenakan kepada seorang istri atau "menggelapkan uang" dikenakan kepada bankir. Karena [busy pastor] adalah sebuah skandal memalukan, sebuah penghinaan menghujat.

Mulai mengerti mengapa saya menyukai buku ini? :-)

Setelah menjelaskan ketiga kata sifat yang dia usulkan untuk memperjelas kata benda "pastor," dia mulai membahas apa yang dilakukan seorang "pastor" between Sundays (di hari selain hari Minggu). Setiap bab memberikan insights yang sangat menarik. Dia tidak mengusulkan bagaimana kita mengisi waktu atau aktivitas apa yang harus dilakukan seorang pastor, tidak! Tetapi, dia selalu membongkar konsep kita yang lama dan mencoba menggantinya dengan yang baru. Saya kira dia sedang melakukan pelayanan "subversive" melalui tulisannya.

Membaca buku ini, saya yakin akan membuat kita terganggu dan merenung - dan memang itulah yang diinginkan oleh Eugene Peterson.

Selamat membaca!

Sunday, November 02, 2014

Pastor: The Theology and Practice of Ordained Ministry - William H. Willimon

William Henry Willimon pernah menjadi salah satu Bishop dari United Methodist Church, USA dan
sekarang menjadi Professor di Duke Divinity School. Dia dikenal sebagai salah seorang pengkhotbah paling terkenal di USA dan juga seorang penulis yang sangat produktif.

Beberapa tahun lalu saya membaca bukunya yang satu ini, sangat tertarik, tetapi kemudian entah mengapa hanya sempat membacanya sedikit. Belakangan ini saya tertarik untuk mempelajari lebih dalam mengenai apa itu “Pastor,” dan saya kembali ke buku ini. Kalau tidak karena kesibukan studi dan tebalnya buku ini (336 halaman), saya bisa tidak berhenti membaca buku ini terus menerus sampai habis dalam sekali duduk. Sangat menarik!

Berikut adalah judul-judul bab dalam buku ini:

1. Ordination: Why Pastors?
2. Ministry for the Twenty-first Century: Images of the Pastor
3. The Pastor as Priest: The Leadership of Worship
4. The Priest as Pastor: Worship as the Content and Context of Pastoral care
5. The Pastor as Interpreter of Scripture: A People Created by the Word
6. The Pastor as Preacher: Servant of the Word
7. The Pastor as Counselor: Care That Is Christian
8. The Pastor as Teacher: Christian Formation
9. The Pastor as Evangelist: Christ Means Change
10. The Pastor as Prophet: Truth Telling in the Name of Jesus
11. The Pastor as Leader: The Peculiarity of Christian Leadership
12. The Pastor a Character: Clergy Ethics
13. The Pastor as Disciplined Christian: Constancy in Ministry

Satu persatu topik di atas dia bahas dengan sangat baik. Kadang mungkin dia agak bertele-tele, tetapi selalu insightful. Berkali-kali di tengah membaca buku ini, saya harus berhenti dulu mencoba menanamkan apa yang dia tuliskan di hati dan pikiran saya.

Di dalam satu buku ini, dia sudah membahas semua, atau hampir semua, topik penting yang perlu dibahas dalam pelayanan seorang “Pastor.” Maka saya kira buku ini akan sangat tepat menjadi textbook kuliah Teologi Pastoral di seminari.

Tidak lama setelah buku ini terbit, Willimon juga menerbitkan satu buku lain yang berjudul: . Buku ini seperti companion untuk buku yang pertama tadi. Susunan bab dalam buku ini persis seperti buku yang pertama, tetapi isinya adalah kumpulan tulisan berbagai tokoh gereja.  Tujuannya memperkenalkan kita kepada tulisan-tulisan orang lain, yang menurut dia terbaik, dengan topik sesuai bab tertentu. Untuk tiap bab, Willimon memilih satu sampai empat tulisan. Misalnya, untuk Bab 1: Ordination, dia memilih tulisan Martin Luther (The Nobility of Ministry), Barbara Brown Taylor (Vocation) dan Faith and Order Paper no.111 dari World Council of Churches (Baptism, Eucharist and Ministry). Demikian seterusnya. Buku ini bisa dibaca sendiri atau dibaca bersamaan dengan buku yang pertama.
PASTOR: A READER FOR ORDAINED MINISTRY

Seseorang menjadi “pastor” adalah karena panggilan. Kemudian dia akan belajar bagaimana menjadi “pastor” yang baik melalui berbagai pengalaman jatuh bangun dalam pelayanan pastoral. Tetapi, alangkah baiknya, kalau dia memikirkan, mempelajari, merenungkan, tentang pelayanannya sebagai seorang “pastor” dengan sistematis dan teologis. Alangkah baiknya kalau dia juga duduk di bawah kaki para “mentors” yang bijak, yaitu para “pastors” di masa lalu, dan belajar dari mereka.

Maka saya merekomendasikan buku ini dan juga companion-nya, khususnya untuk para “pastors,” dan juga semua orang yang tertarik untuk mengerti apa dan bagaimana seharusnya pelayanan seorang pemimpin gereja yang disebut “pastor.”

Saturday, October 25, 2014

Keeping the Sabbath Wholly - Marva J. Dawn

Buku ini adalah buku pertama dan terpenting yang membuka pikiran saya tentang Sabat - sebuah
disiplin rohani yang banyak diketahui orang Kristen tetapi jarang dijalankan.

Sejak membaca buku ini tujuh atau delapan tahun yang lalu, sudah beberapa kali dan  di beberapa tempat saya berkhotbah tentang Sabat. Sejak waktu itu juga saya sudah mulai (walau sering gagal) komitmen menjalankan Sabat. Tetapi, bahkan di tengah sering gagal, disiplin rohani menjalankan Sabat sangatlah memberikan kekuatan dan kelegaan. Maka betapa saya ingin ‘menularkan’ disiplin rohani yang satu ini.

Marva Dawn menjelaskan Sabat dengan empat konsep besar, yang juga menjadi empat bagian besar dalam bukunya ini:

1. Ceasing – Berhenti
Berhenti bekerja, berhenti untuk produktif, berhenti khawatir, berhenti mencoba menjadi Allah, berhenti untuk posesif, dst. Dia membuka pikiran kita akan pentingnya - dan juga betapa sulitnya - untuk BERHENTI.

2. Resting – Beristirahat
Istirahat secara rohani, fisik, emosi dan juga intelektual. Dia memberikan ide-ide apa yang bisa kita lakukan untuk beristirahat.

3. Embracing – (sulit diterjemahkan, harfiah: memeluk)
Menerima dan menikmati berbagai hal yang baik, yang benar, yang seharusnya, yang selama ini jarang kita terima dan nikmati.

4. Feasting – Berpesta
Berpesta dengan makanan (ini yang paling kita suka), pesta dengan keindahan, musik, dst.

Tidak semua yang dia sebutkan bisa kita terapkan dalam hidup setiap kita. It’s ok. Tiap orang bisa punya cara melakukan Sabat masing-masing. Tetapi, konsep yang dia berikan sangat menolong kita mengerti apa itu Sabat. Penjelasan dia juga membuat kita begitu ingin untuk menikmati anugrah Tuhan yang sangat indah dan menguatkan ini.

A highly recommended book!

Wednesday, August 27, 2014

Silence - Shusaku Endo

“Silence” - Pertama kali saya berkenalan dengan novel ini adalah ketika GKY Green Ville
mementaskannya dalam sebuah drama pada tahun 2006. Beberapa waktu lalu saya menemukan novel ini di perpustakaan TTC dan begitu mulai membacanya, saya tidak bisa tidak membacanya sampai habis.

Shusaku Endo menulis novel ini dengan latar belakang periode sejarah di Jepang yang disebut sebagai ‘abad kekristenan’. Kekristenan dibawa masuk ke Jepang oleh Basque Francis Xavier pada tahun 1549. Pekerjaan misi itu berkembang sehingga pada tahun 1579 diperkirakan sudah ada 150.000 orang Kristen di sana. Tetapi pada tahun 1597, Hideyoshi, salah seorang tokoh pemersatu Jepang, memerintahkan eksekusi mati 26 orang misionaris Kristen. Walaupun begitu, pekerjaan misi masih bisa dilanjutkan. Tetapi, kemudian di bawah pemerintahan Ieyasu, penerus Hideyoshi, penganiayaan menjadi perintah resmi. Itulah pukulan mematikan bagi kekristenan di Jepang di saat sudah ada 300.000 orang Kristen dari 20 juta populasi orang Jepang. Akhirnya di bawah pemerintahan para penerus Ieyasu, perburuan atas orang Kristen dan khususnya para imam menjadi sangat sistematik dan kejam untuk menghapus habis kekristenan dari Jepang.

Pada mulanya, cara eksekusi yang paling lazim adalah dengan membakar orang Kristen hidup-hidup. Lama kelamaan, cara eksekusi dirancang sedemikian rupa supaya orang Kristen tidak tahan dan murtad. Salah satunya adalah dengan menggantung orang Kristen di dalam sumur. Seluruh tubuh orang itu akan diikat erat dengan tali sampai batas dada (satu tangan dibiarkan bebas untuk memberi tanda ingin murtad) dan dia digantung terbalik ke dalam sumur yang penuh berisi kotoran. Untuk memberikan jalan keluar bagi darah maka dahinya diberi sayatan tipis dengan pisau dan darah akan menetes perlahan dari luka itu. Mereka yang kuat bisa bertahan lebih dari seminggu sebelum mati, tetapi banyak yang tidak bisa bertahan lebih dari satu atau dua hari. Cara ini sangat efektif membuat orang Kristen menyangkal Yesus.

Sampai tahun 1632, bagaimanapun beratnya penganiayaan, belum ada satupun misionaris yang menyangkali Yesus. Tetapi, berita buruk pun kemudian tiba: Christovao Ferreira menyangkal Yesus di sumur penyiksaan itu. Sangat mengejutkan karena Ferreira adalah salah seorang pimpinan misionaris! Lebih mengejutkan lagi diberitakan bahwa kemudian Ferreira bekerja untuk pemerintah Jepang! Sekelompok misionaris kemudian datang untuk menebus kesalahan Ferreira tetapi mereka segera tertangkap dan satu persatu juga menyangkal Yesus karena tidak tahan dengan penyiksaan.

Kekristenan memang tidak menghilang dari Jepang, tetapi masa penyiksaan itu menjadi masa yang sangat kelam bagi banyak orang Kristen. Dengan latar belakang inilah, Shusaku Endo berulang kali di dalam novelnya melontarkan pertanyaan yang sangat tajam: Mengapa Allah terus berdiam diri? Why is God continually silent?

Tokoh utama dalam novel ini adalah seorang imam bernama Rodrigues. Diceritakan bahwa dia datang ke Jepang untuk menebus kesalahan Ferreira dan dia tidak percaya bahwa Ferreira sudah murtad. Rodrigues sudah bertekad kuat bahkan untuk mati martir di Jepang. Tetapi, satu hal yang terus menggoncangkan dia di sana adalah dia melihat kehadiran dirinya ternyata bukan menolong orang Jepang tetapi menyusahkan mereka. Dia ingin melayani mereka tetapi justru karena dialah maka banyak orang Kristen yang mati dibunuh. Sebagian mati dibunuh karena menyembunyikan dia dan sebagian lagi mati dibunuh karena ia, Rodrigues, tidak mau menyangkal Yesus.

Momen paling menentukan adalah ketika dia dibawa ke penjara yang sangat gelap dan di sana dia mendengar suara “dengkuran” yang kuat. Ferreira yang bekerja untuk Jepang mendatangi dia dan mengajak dia menyangkal Yesus. Dengan tekad yang masih kuat, dia terus menolak. Sampai akhirnya Ferreira memberitahu dia bahwa itu bukan suara “dengkuran” melainkan suara orang Kristen yang kesakitan di dalam sumur penyiksaan karena Rodrigues tidak mau menyangkal Yesus. Ferreira bercerita bahwa dulu dia berada di posisi yang sama seperti Rodrigues, lalu dia berkata (saya terjemahkan):

“Mendengar erangan itu sepanjang malam aku tidak mampu lagi memuji Tuhan. Aku tidak murtad karena aku digantung di dalam sumur. Selama tiga hari, aku yang berdiri di hadapanmu ini digantung di dalam sumur penuh kotoran, tetapi aku tidak mengucapkan satu kata pun yang mengkhianati Allahku. Alasan aku murtad… apakah engkau siap? Dengar! Aku ditempatkan di sini dan mendengarkan suara orang-orang yang untuknya Allah tidak berbuat apa-apa. Allah tidak melakukan apapun. Aku berdoa dengan seluruh kekuatanku; tetapi Allah tidak melakukan apa-apa.”

Malam itu juga, akhirnya Rodrigues mengikuti ajakan untuk murtad dengan menginjak lukisan wajah Yesus di depan para penyiksanya. Dan Shusaku Endo berkata, waktu itu “Fajar menyingsing. Dan jauh di sana ayam pun berkokok.”

Novel ini sangat menggugah hati dan pikiran saya. Dua hal yang terus terpikir oleh saya:

1. Penderitaan mereka. Apakah saya punya hati untuk melayani Tuhan seperti para misionaris itu? Atau apakah saya punya hati untuk setia kepada Tuhan seperti orang-orang Kristen di Jepang itu? Masalah keberanian, daya tahan untuk disiksa, dan sebagainya, jelas saya tidak punya! (Hanya berharap Tuhan akan memberikan kekuatan pada waktunya). Tetapi, apakah saya punya hati untuk setia seperti itu? Ah… hidup saya melayani Tuhan hari ini terlalu nyaman dibanding mereka. Dengan cara apa saya memikul salib hari ini?

2. Mungkinkah Tuhan berdiam diri seperti yang digambarkan Shusaku Endo dalam novelnya? Pertanyaan itu berulang kali dia tanyakan, “Why God remains silent?” Saya bertanya-tanya bagaimana jika saya berada dalam situasi seperti itu dan Tuhan diam…??? Pertanyaan ini menggelitik saya selama beberapa waktu. Tetapi, pertanyaan yang lebih penting kemudian muncul: Mungkinkah Tuhan diam? Sangat diam? Sampai saya dibiarkan dalam kesunyian yang sangat panjang? Saya kira tidak! Ketika membaca Perjanjian Baru, saya menemukan situasi yang berbeda. Tak pernah Tuhan begitu diamnya sampai tidak ada lagi kesadaran kita akan kehadiran Tuhan.

Mungkinkah itu juga yang dipikirkan oleh Shusaku Endo? Di satu sisi, dia mengajak kita berpikir dan merasakan pergumulan orang Kristen ketika Tuhan ‘diam’. Di sisi lain, dia mengajak kita melihat bahwa Tuhan tidak diam. Karena di akhir dari novelnya, dia menaruh sebuah ucapan di mulut Rodrigues - yang pernah melakukan tindakan murtad tetapi masih terus setia kepada Tuhan dalam hatinya:

“But our Lord was not silent. Even if he had been silent, my life until this day would have spoken of him.” (Tetapi Tuhan kita tidaklah diam. Bahkan sekalipun Dia diam selama ini, hidupku sampai hari ini sudah berbicara tentang Dia).

Monday, February 10, 2014

A Grief Observed - C.S. Lewis

Saya tidak punya harapan apapun ketika mulai membaca buku ini. Saya membacanya hanya karena
ini adalah tulisan C.S. Lewis. Titik. Tapi begitu membaca kata pengantar yang ditulis oleh anak tirinya, saya mulai terpikat. 
Buku ini ditulis Lewis setelah kematian istrinya, Helen, dan merupakan catatan pergumulannya untuk menerima dan mengatasi duka yang menghancurkan hidupnya. Seperti dikatakan anak tirinya, yang membuat buku ini lebih luar biasa adalah karena penulisnya adalah orang luar biasa, dan wanita yang diratapinya adalah wanita luar biasa.

Lewis adalah cendekiawan yang sangat luar biasa, kemampuannya berpikir, menghafal, dan berdebat, membuat dia terisolasi dari kebanyakan orang. Helen mungkin adalah satu-satunya wanita yang pernah dia temukan yang kemampuan intelektualnya menyaingi dia. Helen pernah menikah dengan seorang novelis dan memiliki dua orang putra sebelum bercerai. Ketika menulis sebuah buku, Helen berkenalan dengan Lewis dan mereka menjadi akrab. Awalnya Lewis tidak ingin memperdalam hubungan mereka. Tetapi kenyataan bahwa dia akan segera kehilangan Helen karena penyakit kanker memaksa Lewis mengakui perasaannya. Mereka pun menikah. Anak tirinya berkomentar, "hampir terlihat seperti kejam bahwa kematian [Helen] tertunda cukup lama untuk [Lewis] bertumbuh mencintai dia sepenuhnya sehingga dia memenuhi dunia [Lewis] sebagai karunia terbesar yang Tuhan berikan kepadanya, dan kemudian dia mati dan meninggalkan [Lewis] sendirian di tempat yang diciptakan oleh kehadirannya dalam hidup [Lewis."

Tidak heran, Lewis mengalami kehilangan dan duka yang sangat besar dan bahkan keraguan akan Tuhan. Menarik bagaimana dia melukiskan itu (saya terjemahkan):

Sementara itu, dimana Allah? Ini adalah salah satu kenyataan yang menggoncangkan. Ketika engkau bahagia, begitu bahagia sehingga engkau tidak merasa membutuhkan Dia, begitu bahagia sehingga engkau tergoda untuk merasa klaim-klaim-Nya atasmu sebagai interupsi, jika engkau ingat dirimu dan berbalik kepada-Nya dengan syukur dan pujian, engkau akan -atau rasanya seperti- disambut dengan tangan terbuka. Tetapi pergilah kepada-Nya ketika kebutuhanmu sangat mendesak, ketika semua pertolongan sia- sia, dan apa yang kau temukan? Pintu yang dibanting di hadapanmu, dan suara pintu dipalang dua kali dari dalam. Setelah itu, sunyi. Engkau boleh berbalik pergi. Makin lama engkau menunggu, makin tegas kesunyian itu. Tidak ada cahaya pada jendela-jendela. Mungkin itu rumah kosong. Pernahkah rumah itu dihuni? Kelihatannya pernah. Dan kelihatannya itu sama kuatnya seperti kenyataannya. Apa artinya? Mengapa Dia begitu hadir sebagai pemegang kendali pada saat kemakmuran dan begitu tidak hadir sebagai pertolongan pada saat kesesakan?

Buku ini membuka wawasan saya akan kedukaan, kesepian, cinta, dan keraguan. Ada banyak hal menarik yang diungkapkan oleh dia. Lewis tidak pernah punya jawaban untuk semua pertanyaannya, tetapi akhirnya dia mendapatkan kekuatan untuk mengatasi dukanya dan percaya kepada Tuhan.

Buku ini sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh penerbit Pionir Jaya dengan judul: Mengupas Duka. Saya belum pernah melihat versi terjemahannya walaupun ada beberapa teman yang berkomentar bahwa terjemahannya tidak enak dibaca. Saran saya baca dulu beberapa halaman sebelum membeli, atau jika bisa, bacalah yang versi bahasa Inggris.

Thursday, January 02, 2014

Penuntun Saat Teduh: For the Love of God

Di awal tahun 2014, banyak dari kita yang membuat resolusi. Saya usul, bagaimana kalau salah satunya adalah membaca Alkitab dengan lebih baik, teratur, dan mendalam?

Buku penuntun saat teduh ada yang berseri (bulanan, dua bulanan, atau tiga bulanan) dan ada yang langsung lengkap selama setahun. Dari sekian banyak buku penuntun saat teduh tahunan (tentunya yang saya tahu), saya kira buku "For the Love of God" adalah yang terbaik. Tidak seperti buku lain yang seringkali hanya mengajak kita membaca satu ayat setiap hari, buku ini mengajak kita membaca satu pasal dan bahkan lebih! Penulisnya adalah D.A. Carson, salah seorang ahli Perjanjian Baru yang terkemuka. Renungan yang diberikan sangat baik dan mendalam.

Buku ini dibuat berdasarkan daftar bacaan Alkitab yang disusun oleh seorang bernama Robert Murray M'Cheyne yang lahir tahun 1813. Dia menyusun jadwal bacaan Alkitab untuk satu tahun - dan itu berarti membaca seluruh Perjanjian Lama satu kali dan seluruh Perjanjian Baru + Mazmur dua kali! Dia membuat empat kolom seperti di bawah ini: dua kolom adalah untuk dibaca pribadi dan dua kolom lagi untuk dibaca bersama keluarga (tidak masalah jika semua dibaca pribadi).


D.A. Carson, penulis "For the Love of God", tahu bahwa ini terlalu banyak. Maka dia mengusulkan supaya di satu tahun pertama, setiap hari kita hanya membaca dua bagian Alkitab, yang di kolom pertama dan kedua saja. Renungan yang dia tulis untuk hari itu akan diambil dari salah satu bagian saja. Di tahun kedua, barulah kita membaca bagian Alkitab di kolom ketiga dan keempat. Dan dia juga akan membuat renungannya hanya dari salah satu bagian saja. Itu sebabnya dia membuat buku For the Love of God dalam dua volume, masing-masing untuk satu tahun.

Misalnya, seperti di bawah ini: Di bagian atas dia menuliskan empat bacaan Alkitab sesuai yang dibuat M'Cheyne. Maka bacaan yang perlu dibaca adalah dua kolom pertama: Genesis 1 dan Matthew 1. Dia sendiri membahas hari itu dari Genesis 1 (diberi italic).


Anda bisa membaca dua bagian Alkitab itu sekaligus, lalu merenungkan salah satunya (yang dibahas oleh D.A. Carson). Atau anda bisa membaca satu bagian Alkitab saja di pagi hari (yang dibahas oleh D.A. Carson) dan membaca satu bagian lagi di malam hari. Untuk 1 January berarti Genesis 1 di pagi hari dan membaca renungan dari D.A. Carson, lalu Matthew 1 di malam hari. Dengan cara demikian, dalam dua tahun, anda sudah membaca dua kali Perjanjian Baru dan Mazmur, dan satu kali seluruh kitab Perjanjian Lama lainnya. Kalau anda ingin membaca Perjanjian Baru dan Mazmur satu kali saja, maka tinggal diatur jadwal membacanya.

Berita baiknya adalah, D.A. Carson membagikan buku For the Love of God ini secara gratis dalam bentuk PDF. Di bawah ini adalah link-nya:

For the Love of God, Volume 1:
http://s3.amazonaws.com/tgc-documents/carson/1998_for_the_love_of_God.pdf

For the Love of God, Volume 2:
http://s3.amazonaws.com/tgc-documents/carson/1999_for_the_love_of_God.pdf


Selamat bersaat teduh!

Wednesday, August 21, 2013

The Marks of a Spiritual Leader

Saya baru selesai membaca tulisan John Piper: The Marks of a Spiritual Leader. Mungkin tulisan ini lebih cocok disebut booklet daripada buku karena isinya hanya 43 halaman. Saya kira Piper memang tidak bermaksud menulis buku yang berbobot dibarengi dengan riset yang memadai. Dia hanya menuliskan perenungannya, tentunya berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadinya, tentang kepemimpinan rohani. 

Apa yang dia tuliskan adalah sesuatu yang umum - seperti hal yang "semua-orang-sudah-tahu". Tetapi gaya tulisan Piper dan kaliber pelayanannya memberi bobot tersendiri pada nasehat-nasehatnya. 

Di bawah ini adalah sebagian dari nasehat Piper yang saya beri garis bawah: 

A spiritual leader must be a person who has strong confidence in the sovereign goodness of God to work everything together for his good. Otherwise, he will inevitably fall into the trap of manipulating circumstances and exploiting people in order to secure for himself a happy future which he is not certain God will provide. 

The spiritual leader must be a person who meditates on the Scriptures and prays for spiritual illumination. Otherwise, his faith will grow weak and his love will languish, and no one will be moved to glorify God because of him. 

There will be no successful spiritual leadership without extended seasons of prayer and meditation on the Scriptures. Spiritual leaders ought to rise early in order to meet God before they meet anybody else. 

It is unthinkable that we should be content with things the way they are in a fallen world and an imperfect church. Therefore, God has been pleased to put a holy restlessness into some of his people, and those people will very likely be the leaders. 

Criticism is one of Satan’s favorite weapons to try to get effective Christian leaders to throw in the towel. 

Lazy people cannot be leaders...He loves to be productive. And he copes with the pressure and prevents it from becoming worrisome with promises like Matthew 11:27–28 and Philippians 4:7–8 and Isaiah 64:4. 

If we are to lead people to see and reflect God’s glory, we must think theologically about everything. 

O how we need people who will devote just five minutes a week to dream of what might possibly be. 

My dad once told me that the reason he thought many pastors fail to see revival in their churches is that they leave just before it is about to happen. The long haul is hard, but it pays. The big tree is felled by many, many little chops.

Friday, June 07, 2013

Menyelidiki Kesejarahan Yesus (Investigating Jesus) - John Dickson

Pertama kali mengetahui tentang John Dickson adalah melalui membaca disertasinya ketika saya
sedang menulis thesis. Dia seorang sejarahwan Kristen, ahli Perjanjian Baru, dan menulis disertasi yang sangat bagus (walaupun saya tidak seluruhnya setuju dengan kesimpulan dia).

Belakangan saya baru tahu bahwa ternyata dia terkenal di antara komunitas Kristen di Australia. Dia bukan hanya scholar tapi juga ‘selebriti’ presenter televisi dan menulis buku yang juga populer. Buku ini adalah salah satunya.

Judul asli buku ini adalah Investigating Jesus. Di Indonesia diberi judul Menyelidiki Kesejarahan Yesus. Buku ini secara format bisa dikategorikan buku populer karena banyaknya foto dan lukisan di dalamnya.  Tetapi isi buku ini sebetulnya tidak terlalu sederhana. Dickson mencoba menjelaskan bagaimana menilai kesejarahan kehidupan Yesus. Apakah Yesus betul-betul pernah ada sebagai manusia? Bagaimana menilai bukti-bukti yang ada? Apakah dokumen Perjanjian Baru bisa dipercaya?

Dickson membahas sejarah pencarian terhadap Yesus dari masa awal sampai sekarang ini. Bagaimana Yesus dan kesejarahannya dipandang dari perspektif berbagai zaman? Lalu dia membahas mengenai berbagai sumber untuk mengetahui tentang Yesus dari Injil Gnostik, dokumen-dokumen non Kristen lainnya dan dari Perjanjian Baru. Apa yang dia bahas seperti meringkaskan banyak hal yang berkaitan dengan studi Perjanjian Baru.

Maka buku ini tidak terlalu 'enteng' walaupun juga tidak terlalu 'berat'. Tapi saya kira buku ini tidak akan terlalu menarik (kecuali gambar dan fotonya) bagi mereka yang tidak menyukai topik ini. Tapi bagi mereka yang menyukai masalah akademis, buku ini memberikan ringkasan yang menarik tentang kesejarahan Yesus dan juga sebagian studi Perjanjian Baru.

Sepanjang buku ini, Dickson mencoba memberikan argumennya bukan dari sisi iman
tapi dari sisi sejarah. Dia mengajak kita berpikir secara logis dengan didukung bukti dan pendapat para ahli. Dan dia berkesimpulan bahwa inilah elemen-elemen inti kehidupan Yesus yang telah diketahui:

seorang guru (dan menurut laporan) penyembuh dari Galilea yang bernama Yesus pernah memproklamasikan kedatangan Kerajaan Allah, minum anggur dan makan bersama “para pendosa”, memilih dua belas rasul, bersitegang dengan pemuka-pemuka agama, mencela bait Allah di Yerusalem, dan menderita sampai mati di kayu salib Romawi; yang sesaat setelah-Nya para pengikut-Nya menyatakan bahwa mereka telah melihat-Nya bangkit kembali, mengumumkan bahwa ialah Sang Mesias yang lama ditunggu itu, dan berusaha semampu mereka untuk memelihata dan menyebarkan (awalnya secara lisan, kemudian dalam tulisan) kisah kehidupan tuan mereka yang layak dikenang.