Showing posts with label c. Kehidupan Sosial. Show all posts
Showing posts with label c. Kehidupan Sosial. Show all posts

Friday, June 04, 2021

Social Media: A Heart Check

Di zaman ini kita banyak sekali menggunakan social media seperti Instagram, Youtube, Facebook, dll.

Salah satu cara kita menggunakan social media adalah dengan membagikan banyak hal tentang kehidupan pribadi kita atau pendapat pribadi kita. Tetapi banyak orang tidak sadar bahwa jikalau kehidupan kita diumpamakan seperti sebuah film, maka apa yang kita post di social media sebetulnya hanya menampilkan satu potongan adegan saja di satu momen. Seperti ketika kita menonton film kemudian kita screenshot satu momen lalu kita tampilkan itu. Jelas apa yang akan terlihat hanyalah sebuah potongan momen kecil dari film itu dan tidak mewakili keseluruhan film itu! 

Masalahnya, orang yang melihatnya seringkali menganggap satu potongan momen itu mewakili seluruh film! Padahal jelas tidak.

Misalnya saja ketika kita pergi dengan keluarga, sebetulnya sambil pergi kita mengalami banyak masalah, orang tua yang membuat repot, pertengkaran dengan suami/istri, anak-anak yang bandel. Pokoknya suasana sangat bikin BT. Lalu kita sampai di depan air mancur. Dengan terpaksa untuk mencairkan suasana lalu kita bilang “ayo foto”. Waktu foto, semua langsung pasang muka senyum untuk foto… cheeerrsss… Ketika kita tampilkan itu di  social media, komentar yang bermunculan adalah: “wah seneng ya jalan-jalan!”, “lucu ya anaknya”, “keluarga bahagia nih”, dst. Padahal apa yang terjadi sangat jauh berbeda. Tapi itulah social media!

Social media hanya menampilkan potongan-potongan, momen-momen, dari hidup kita. Tetapi orang yang melihatnya mengira itu melukiskan keseluruhan, atau paling tidak sebagian besar, dari hidup kita.

Maka betapa pentingnya kita bijak dalam menggunakan social media. Saya kira prinsip yang disampaikan rasul Paulus di dalam 1 Korintus 10 bisa membantu kita.

Pertama, apakah ini diperbolehkan? Di dalam 1 Korintus 10, rasul Paulus sedang bicara soal makanan dan dia berkata semua diperbolehkan. Tetapi dalam hal kita posting sesuatu, kita perlu bertanya apakah diperbolehkan. Standar kita bukan hanya masalah hukum negara tetapi juga hukum Tuhan, standar moral Tuhan.

Kedua, apakah berguna? Ketiga, apakah membangun? Karena tidak segala sesuatu berguna dan membangun, dan untuk apa kita menghabiskan waktu kita dan juga waktu dari orang yang melihat apa yang kita post itu, untuk sesuatu yang tidak berguna dan membangun.

Maka saya mengusulkan sebelum kita posting sesuatu kita perlu bertanya dulu kepada diri kita:

Dalam hal apa postingan saya berguna dan membangun orang lain? Apakah postingan ini menolong orang misalnya untuk mengevaluasi diri, memikirkan hidup dengan lebih bijak, memberikan informasi yang dibutuhkan, atau mendorong mereka hidup lebih baik di dalam dunia ciptaan Tuhan ini? Apakah postingan itu bisa menolong orang yang sedang lemah, atau memberikan inspirasi untuk berbuat kebaikan, atau mendorong mereka untuk bertumbuh?

Pertanyaannya adalah bagaimana ini bisa berguna? Bagaimana ini bisa membangun?

Sebaliknya kita perlu bertanya juga apakah postingan saya berpotensi membuat orang lain menjadi semakin berantakan. Misalnya, kita post humor kotor, atau keluhan dan kemarahan kita yang mengajak orang lain ikut marah bersama kita, atau mungkin kegiatan kita yang terkesan “nakal”. Untuk apa kita post itu? 

Karena media sosial hanya menampilkan potongan-potongan momen-momen yang tidak mewakili keseluruhan, kita juga perlu berpikir dengan menampilkan potongan momen itu, dampak apa yang dihasilkan? Misalnya kita post foto selfie kita, atau ketika memakai pakaian sexy, atau foto jalan2 kita, pikirkan dampak apa yang dihasilkan. Apakah ada gunanya dan membangun? Kalau tidak, apalagi kalau itu memberi pengaruh negatif, lalu untuk apa kita post itu?

Pertanyaan yang penting bagi kita sebagai orang Kristen dalam menggunakan social media adalah "what message that I share through this?" Pesan apa yang kita bagikan melalui ini. Karena hidup kita harus membawa message dari Tuhan. Dan itu bukan berarti hanya share firman Tuhan, tapi pesan yang baik dan membangun untuk kehidupan di dalam dunia ciptaan Allah ini.

Maka pertanyaan yang juga penting adalah apa motivasi kita ketika posting sesuatu? Apakah untuk kemuliaan saya, supaya orang memuji saya, atau untuk kemuliaan Tuhan?

Salah satu yang juga ingin saya singgung adalah cara kita menuliskan caption atau comment. Saya merasa banyak orang Kristen ketika berkomentar menunjukkan apa yang disebut oleh seorang teolog sebagai the age of outrage, sebuah zaman kemarahan. Banyak orang yang menuliskan caption dan comment dengan nada marah, kasar, atau mungkin berupa sindiran dengan tujuan agar yang disindir marah, atau sinisme maupun sarkasme, yang jelas tidak berguna dan tidak membangun. Maka kita perlu betul-betul bertanya apa motivasi kita ketika menuliskan sesuatu? Sekali lagi, apakah membangun dan berguna?

Saya juga ingin mengingatkan dari sisi kita yang melihat berbagai postingan di social media. Kita perlu bijak dalam memilah nilai-nilai yang kita terima melalui social media, apa yang benar dan salah, nilai apa yang perlu kita pelajari atau yang perlu kita abaikan. Kita juga perlu mengevaluasi perasaan yang muncul dalam hati kita ketika melihat berbagai postingan itu. Misalnya apakah kita iri? Sangat mudah untuk kita kemudian membanding-bandingkan hidup kita dengan orang lain. Bukan saja itu salah, karena sekali lagi media sosial hanya menampilkan potongan momen dan bukan keseluruhan hidup orang itu, tetapi saya yakin itu juga tidak berkenan kepada Tuhan.

Tuhan mau kita bersyukur untuk apapun, termasuk kekuatan, penyertaan dan berkat Tuhan yang dialami di dalam keadaan apapun di hidup kita. Tuhan mau kita mengerjakan hidup kita menjadi lebih baik bersama Tuhan. Sekedar tidak puas karena membandingkan hidup kita dengan orang lain tidak akan membawa kita kemana2.

Terakhir, jebakan besar di media sosial, termasuk mereka yang menggunakannya untuk pelayanan, adalah membandingkan jumlah likes, viewers, followers, subscribers, dst. Bukan saja itu tidak ada gunanya, tetapi itu juga menghasilkan motivasi yang tidak baik, dan mungkin mendorong kita melakukan hal yang tidak baik. Hidup kita bukanlah untuk mencari popularitas dan kemuliaan diri tetapi kemuliaan Tuhan. 

Seharusnya kita hanyalah membagikan apa yang berguna dan membangun dan biarlah kepuasan kita didapatkan dari Tuhan yang bersuka melihat apa yang kita lakukan.

Wednesday, March 11, 2015

"Boros" dan "Pelit"

Beberapa hari lalu, saya membaca bagian ini dari kitab Ulangan versi parafrase dari The Message:

When you happen on someone who’s in trouble or needs help among your people with whom you live in this land that God, your God, is giving you, don’t look the other way pretending you don’t see him. Don’t keep a tight grip on your purse. No. Look at him, open your purse, lend whatever and as much as he needs. Don’t count the cost. Don’t listen to that selfish voice saying, “It’s almost the seventh year, the year of All-Debts-Are Canceled,” and turn aside and leave your needy neighbor in the lurch, refusing to help him. He’ll call God’s attention to you and your blatant sin. Give freely and spontaneously. Don’t have a stingy heart. The way you handle matters like this triggers God, your God’s, blessing in everything you do, all your work and ventures. There are always going to be poor and needy people among you. So I command you: Always be generous, open purse and hands, give to your neighbors in trouble, your poor and hurting neighbors. (Deuteronomy 15:7-11)

The Message memberi beberapa nuansa yang menarik (walaupun tidak mengubah arti) jika dibandingkan dengan terjemahan bahasa Indonesia:

Jika sekiranya ada di antaramu seorang miskin, salah seorang saudaramu di dalam salah satu tempatmu, di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau menegarkan hati ataupun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin itu, tetapi engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan. Hati-hatilah, supaya jangan timbul di dalam hatimu pikiran dursila, demikian: Sudah dekat tahun ketujuh, tahun penghapusan hutang, dan engkau menjadi kesal terhadap saudaramu yang miskin itu dan engkau tidak memberikan apa-apa kepadanya, maka ia berseru kepada TUHAN tentang engkau, dan hal itu menjadi dosa bagimu. Engkau harus memberi kepadanya dengan limpahnya dan janganlah hatimu berdukacita, apabila engkau memberi kepadanya, sebab oleh karena hal itulah TUHAN, Allahmu, akan memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu dan dalam segala usahamu. Sebab orang-orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu; itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, demikian: Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu." (Ulangan 15:7-11)

Banyak orang “boros” untuk dirinya sendiri. Boros untuk makan di tempat mahal, boros untuk membeli gadget, boros untuk membeli barang mewah, semua untuk dirinya sendiri. Tetapi sebaliknya “pelit” untuk orang lain.

Banyak juga orang yang “boros” untuk orang lain, tetapi untuk orang yang bisa memberi keuntungan kembali bagi dirinya – baik ekonomi atau penghormatan. Banyak juga orang yang “boros” untuk orang lain karena hobi. Aneh? Nggak! Misalnya dia hobi membeli baju, maka dia membeli banyak baju yang mahal hanya untuk dipakai satu atau beberapa kali lalu “disalurkan kepada yang membutuhkan”. Itu bahkan menjadi excuse untuk dia bisa terus beli baju karena tokh disalurkan dan “menjadi berkat”. Atau misalnya dia hobi belanja, maka dia akan belanja apa saja yang dia mau tanpa berpikir banyak tentang kegunaannya. Setelah sekian lama tidak dipakai… baru berpikir mau diberikan kepada siapa.

Ulangan 15:7-11 mengingatkan kita supaya “boros” untuk orang lain. Tetapi bukan karena semua motivasi yang salah tetapi karena “orang itu membutuhkan” dan “Tuhan memerintahkan”. That simple!

Lihat orang yang membutuhkan. Lihat sesamamu yang miskin dan terluka. Jangan pura-pura tidak melihat. Jangan tahan dompetmu. Jangan pelit. Beri apa yang dia butuhkan. Beri pinjaman sekalipun dia tidak mampu membayar. Bagi orang Israel waktu itu, setiap tahun ketujuh, semua hutang kepada sesama orang Israel harus dibebaskan. Perintah Tuhan adalah, sekalipun besok adalah tahun ketujuh dan hutang orang itu besok dihapus, TETAP berikan! That simple!

Orang yang miskin dan membutuhkan akan selalu ada di sekitar kita. Tidak akan pernah habis. Ulangan 15:7-11 tidak mengajarkan supaya kita tidak memakai harta yang Tuhan berikan untuk kepentingan diri sendiri. Tidak. Kita boleh memakainya. Tetapi, alangkah indahnya jika kita terbiasa untuk tidak “boros” bahkan cenderung “pelit” jika itu untuk diri sendiri, sebaliknya “boros” untuk orang yang miskin dan membutuhkan.

Mungkin istilah saya kurang baik. Bukan “boros” tapi “murah hati”. Bukan “pelit” tapi “sederhana”.

Maka saya parafrase lagi:
“Alangkah indahnya jika kita terbiasa hidup lebih “sederhana” supaya kita bisa lebih “murah hati” memberi kepada orang yang miskin dan membutuhkan.”

Di dalam konteks lain, Tuhan Yesus berkata: “Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. (Mat 25:40)

Saturday, August 09, 2014

Happy Friendship Day!

Tidak banyak yang tahu tepat 10 hari yang lalu adalah “International Friendship Day”. No problem, tokh kita juga nggak pernah ngerayain :-) Cuma ingin pakai kesempatan untuk menulis tentang “Friendship”!
 
Salah satu cara Allah menopang kehidupan kita adalah melalui kasih yang Dia nyatakan melalui orang-orang di sekitar kita. Kita bisa lahir dan bertumbuh besar karena ada orang yang mengasihi kita. Kita bisa menjadi seperti sekarang adalah karena ada orang yang mengasihi kita. Artinya selalu ada jejak-jejak kasih Allah yang bisa kita lihat melalui orang-orang di sekitar kita.

Tetapi, di dalam dunia yang rusak ini, sayangnya bukan cuma kasih yang kita terima tetapi juga kebencian dan permusuhan. Bahkan seringkali kebencian lebih banyak kita terima daripada kasih. Kita diejek, dihindari, diserang, dimaki, dikejar, dimanfaatkan, dijadikan doormat, atau dibenci. Itu realita dunia ini. Pertanyaannya: Bagaimana kita bisa bertahan hidup dalam dunia seperti ini?

Daud pernah mengalami dunia yang seperti itu dengan musuh utama yang bukan main-main: Raja Saul! Kebencian dan permusuhan Saul kepadanya seperti mengurung dia. Ironisnya, Daud dibenci bukan karena kesalahannya tapi justru karena kebaikannya! Saul iri, benci, dan enam kali bahkan dia berusaha membunuh Daud. Maka Daud hidup dalam pelarian, dia dikejar-kejar, dia tinggal di gua-gua, dia sangat menderita, bertahun-tahun lamanya. Apa yang membuat Daud bisa bertahan? Dia bisa memimpin orang Israel, memelihara imannya, mengarang lagu-lagu pujian bagi Tuhan, bahkan menjaga supaya tidak ada dendam dalam hatinya. Apa yang membuat Daud bisa seperti itu?

Salah satu jawabannya adalah karena di tengah kebencian yang dia hadapi, penderitaan yang dia tanggung, kepahitan hidup yang dia rasakan, Daud menemukan kasih di dalam persahabatan. Dia menemukan itu pada orang-orang di sekitarnya yang mengikuti dia. Tetapi, terutama, dia menemukan itu pada Yonatan.

Yonatan adalah anak raja Saul – musuh Daud. Persahabatannya dengan Daud membuat hidupnya sangat complicated. Dia seorang putra mahkota, tetapi bersahabat dengan Daud berarti merelakan untuk tidak menjadi raja dan menyerahkan hak itu kepada Daud. Dia bahkan harus dibenci oleh ayahnya sendiri! Tetapi, Yonatan mengasihi Daud. Dia percaya kepada Daud, dia tidak iri kepada Daud, dia mendukung Daud, dia menyelamatkan Daud dari kejaran ayahnya dengan meresikokan dirinya, dia hanya berharap Daud bisa menggenapi panggilan Tuhan menjadi raja Israel yang baik. Apa yang dia dapat? Tidak ada, kecuali kasih melalui persahabatan. Ironisnya, sejak dia menolong Daud melarikan diri, dia tidak pernah bertemu lagi dengan Daud karena kemudian dia mati.

Persahabatan adalah anugrah Tuhan bagi kita di dalam dunia yang rusak ini. Tetapi, persahabatan seringkali dianggap sesuatu yang sekuler - tidak ada sangkut pautnya dengan kerohanian kita. Paling banyak kita hanya menyebut ayat Alkitab yang mengatakan “pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik”. Maka biasanya kita hanya berpikir yang penting teman saya bukan orang jahat, sudah cukup! Padahal persahabatan bukan hanya itu. Ada aspek spiritualitas dalam persahabatan yang tidak bisa digantikan oleh apapun dalam membangun hidup kita.

Berkenalan dengan banyak orang adalah hal yang baik. Bisa akrab dengan banyak orang pergi bersama, tertawa bersama, menolong dan ditolong, adalah yang yang besar. Tetapi, hal terbesar yang hanya dilakukan seorang sahabat adalah ketika dia mengambil waktu untuk melihat apa yang ada di dalam diri kita. Dia melihat kelemahan dan luka kita, lalu membalutnya dengan kasih. Kemudian dia melihat apa yang Tuhan kerjakan di dalam kita, “the best in us”, lalu mendorong kita untuk menumbuhkannya. Walaupun kadang dengan resiko, walaupun kadang harus berkorban, semua dilakukan tanpa agenda, tanpa maksud tersembunyi, tetapi dilakukan karena kasih Tuhan. Itulah sahabat!

Daud mengalami itu dari Yonatan. Dalam 1 Sam 18-20 berulang kali dikatakan Yonatan mengasihi Daud seperti jiwanya sendiri. Dia tunjukkan kesetiaannya kepada Daud. Dia mengerti kesusahan Daud, menangis bersamanya dan berkorban untuknya. Dia melihat bahwa Tuhan memanggil Daud menjadi raja dan dia tahu bahwa Daud akan menjadi raja yang baik, maka dia meneguhkan panggilan Daud dan memberkatinya. Yonatan berkata, “Jika aku masih hidup, bukankah engkau akan menunjukkan kepadaku kasih setia Tuhan? Tetapi jika aku sudah mati, janganlah engkau memutuskan kasih setiamu terhadap keturunanku sampai selamanya.” Hanya itu yang dia minta: berkat bagi sahabatnya dan kasih setia Tuhan dari sahabatnya. Sangat indah!

Menarik sekali bahwa Yesus juga menggambarkan hubungan-Nya dengan kita seperti sahabat. Dia berkata, “kamu adalah sahabat-Ku”. Yesus melihat kelemahan kita, luka kita, dan dengan kasih Dia membalutnya. Yesus tahu kelemahan kita dan Dia mau kita menemukan kekuatan dari-Nya. Yesus memanggil kita untuk mengikut Dia dan menjadi yang terbaik yang kita bisa. Karena Yesus adalah sahabat kita.

Bersyukurlah untuk persahabatan dan kasih dari orang-orang di sekitar kita. Lalu, pikirkanlah bagaimana kita juga bisa menjadi sahabat bagi orang lain!

Afterword:
Saya diberkati Tuhan dengan banyak sahabat. Tentu tidak semua sama dekatnya dengan saya, secara jarak ataupun perasaan, karena kita semua terbatas. Tetapi, jauh atau dekat, sedikit atau banyak, persahabatan kalian sangat berarti bagi saya. To you all, to each one of you, wherever you are, yes you! I just wanna say, “I THANK MY GOD FOR YOU!” Happy belated friendship day!:-)

Pernah tahu lagu di bawah ini? Saya pertama kali mendengarnya dinyanyikan oleh Paduan Suara Sion 1 GKY Green Ville. Lagu yang sangat indah dari Joseph Martin yang diinspiraskan dari Fil 1:3-4: “Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu. Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita.”

I thank my God for you
Each time I think of you
Each time I pray for you,

I'm filled with thanks giving

For every word and deed
For helping those in need
I thank the Lord for you and give Him the glory


And even when we are apart
You are always in my heart
We are bonded by God's Holy Spirit


For we are one in God's embrace
One in love's unfailing grace
We give voice to one great “Alleluia”


Alleluia alleluia alleluia alleluia alleluia alleluia alleluia
I give thanks
I thank my God and give my praise


And when the day is done
And every race is run
God's perfect grace will bring us home
We will be together forever and ever more


(Bagi yang ingin tahu nadanya, ini linknya: http://www.jwpepper.com/sheet-music/media-player.jsp?&type=audio&productID=8067576)

Friday, February 21, 2014

Si “Sombong”

“Sombong” jelas adalah sesuatu yang tidak disukai baik oleh Tuhan maupun oleh manusia. Cari saja
kata “sombong” di dalam Alkitab, kita akan menemukan betapa dibencinya sifat ini. Tetapi manusia umumnya punya kesombongan ini di dalam hatinya.

Mungkin jarang dari kita yang sombong terang-terangan seperti di sinetron. Si sombong itu seringkali tersembunyi. Begitu baiknya dia bersembunyi di dalam hati kita sehingga kita merasa tidak sombong. Maka hati ini perlu dikorek, penutupnya dibuka, supaya si sombong itu bisa ditarik keluar dan diusir.

Caranya sederhana, coba lihat bagaimana perasaan kita ketika dipuji oleh orang lain. Sebelum melakukan sesuatu yang besar, kita berdoa, mohon Tuhan yang pimpin, kita berjanji “segala kemuliaan bagi Tuhan,” tetapi begitu selesai dan pujian berdatangan? Kalau ada sesuatu yang merayap dalam hati kita dan berkata: “Wow, hebat juga gua!” Gotcha! Kita menemukan si sombong itu ada di hati kita.

Cara kedua, coba lihat apakah kita sering bermain permainan “lihat aku”. Waktu kecil kita suka melakukan sesuatu yang dilihat oleh orang tua kita, “Pa..ma.. lihat nih..” Waktu dewasa kita memang tidak mengucapkan itu lagi, malu dong… Tapi mungkinkah sebetulnya kita masih memainkan permainan yang sama? Kita ingin orang tahu ketika kita berbuat baik. Kita ingin orang tahu ketika kita memberi dalam jumlah yang besar. Mungkin itulah sebabnya ada orang yang tidak mau memberi persembahan dalam jumlah yang kecil dan rutin, tetapi lebih suka memberi jumlah besar dalam proyek besar! Kita ingin orang tahu ketika kita berkorban. Demikian seterusnya. Gotcha! Kita menemukan lagi si sombong itu dalam hati kita.

Masih banyak cara lainnya. Tapi saya ingin memberi satu lagi saja. Ini jenis pengujian yang lain. Kalau dua yang di atas memeriksa adanya si sombong dengan melihat apakah saya sombong, maka yang satu ini memeriksa adanya si sombong dengan melihat reaksi saya ketika “disombongin”. “Disombongin” bukan dalam arti dibangga-banggain oleh orang lain tetapi ketika kita diperlakukan dengan sombong oleh orang lain. Orang itu membesarkan diri, congkak, angkuh, sombong di hadapan kita dan memperlakukan kita jauh di bawahnya. Dengan kata lain kita “disombongin”.
Ketika kita “disombongin” oleh orang lain, apa reaksi kita? apa perasaan kita? Apakah kita ingiiiinnn sekali berkata, “Astagaaa… ini orang nggak tahu diri banget! Baru gitu aja sombongnya minta ampun! Emangnya gua musti bilang wow gitu? Dia pikir dia hebat begitu? Huh.. amit-amit!” Dan sebenarnya ada satu kalimat yang mungkin tidak terucapkan, “Kalau aja dia tahu siapa gua…” atau “Dia pikir gua butuh dia? Dia pikir gua nggak bisa?” Gotcha! Kita menemukan lagi si sombong itu di dalam hati kita.

Maka jelas melatih diri untuk tidak sombong tidaklah mudah. Dia akan bersembunyi dan membuat kita merasa sudah bebas darinya padahal dia terus akan muncul lagi dan muncul lagi. Maka sama seperti terhadap semua dosa lainnya, ini bukan pembersihan satu kali tetapi terus menerus. Kita perlu terus mengingat siapa kita ini dan siapa Tuhan. Kita perlu terus mengingat segala anugrah Tuhan bagi kita. Kita perlu terus membuka hati untuk Roh Tuhan bekerja, membersihkan hati ini, membawanya sesuai dengan Firman, mengangkatnya untuk mengagumi Tuhan, dan menggerusnya dari kebiasaan dosa.

Sulit? Ya, pasti! Kita tidak akan bisa melakukannya sendirian. Kita perlu anugrah Tuhan untuk mengenali kesombongan di dalam hati kita dan mengusirnya keluar.

Monday, August 12, 2013

Masalah Sosial: Kelaparan

Banyak dari kita yang hidup berkecukupan secara materi dan bahan makanan. Jujur seringkali kita
mengambil dan menyimpan makanan secara berlebihan. Ujungnya adalah kita banyak membuang makanan yang tidak termakan. Lihat saja di restoran, berapa banyak makanan yang terbuang setiap harinya. Coba hitung berapa banyak sisa makanan yang kita buang setiap harinya baik dari piring kita maupun lemari kita. Sementara, sangat ironis, banyak orang yang kekurangan makanan dan kelaparan.

Situasi ini membuat “membuang makanan” seringkali dikaitkan dengan “masalah kelaparan”. Logikanya bukan saja kita harus bersyukur bahwa kita bisa makan padahal banyak orang yang kekurangan makanan, tapi juga karena kita membuang makanan MAKA ada orang lain yang jadi kekurangan makanan.

Saya setuju kita harus belajar tidak membuang-buang makanan. Saya setuju kita harus bersyukur bahwa kita bisa makan – dengan limpah. Tapi saya selalu merasa ada yang salah dengan cara kita berpikir dalam hal ini. Apakah dengan saya menghabiskan makanan di piring dan lemari saya maka itu akan menolong orang lain yang kelaparan? Atau dengan saya mengambil makanan tidak berlebihan maka itu akan membuat orang yang kelaparan mendapatkan makanan?

Point saya adalah betapa orang Kristen, termasuk saya, sangat dangkal memikirkan masalah ini.

Baru-baru ini saya mendengar sebuah khotbah di TTC tentang masalah kelaparan. Si pengkhotbah membandingkan betapa berlimpahnya kami yang di Singapore dibanding mereka yang kelaparan di negara lain. Karena seringkali mahasiswa yang single (yang berkeluarga masak sendiri) mengeluh dengan kualitas makanan di asrama, maka pengkhotbah itu menegur dengan berkata “kalian harus mengerti kami tidak bisa menyediakan makanan buffet dengan menu internasional, bukankah kita harus belajar bersyukur?”. Di akhir dari khotbahnya dia menampilkan sebuah video tentang orang-orang yang membeli makanan berlebih dan tidak menghabiskannya, lalu datanglah seorang bapa miskin yang mengambil sisa makanan itu lalu membawa pulang untuk keluarganya yang menyambutnya dengan gembira. Anak-anak yang kurang makan itu tertawa, gembira, bersyukur, untuk sisa bakmi, sisa ayam, dsb. Dan pertanyaan di video itu kira-kira begini: “Bagaimana mungkin tertawa mereka membuatku sedih?”

Saya sangat tersentuh dengan video itu. Tawa anak-anak itu membuat saya sedih. Tapi yang membuat saya tidak setuju adalah dia mengajak mahasiswa bersyukur bisa makan menu apapun yang disediakan sekolah. Padahal adalah tanggung jawab sekolah untuk memperbaiki itu. Tidak ada yang minta makanan buffet dengan menu internasional! Cukuplah dengan sedikit variasi menu. Tapi ok lah. Yang membuat saya lebih tidak setuju lagi karena dia menggunakan video itu untuk menyadarkan kita akan masalah kelaparan dannn…. mengajak kita tidak membuang makanan? Padahal logikanya –tanpa bermaksud kasar- anak-anak itu jadi bisa makan dan tertawa karena orang-orang membuang makanan bukan? Video itu sangat baik, tapi penggunaannya yang tidak tepat.
Seolah kita beranggapan kalau kita bersyukur untuk makanan kita, mencukupkan diri apa adanya, dan menghemat makanan maka entah dengan cara mukjizat apa, kita bisa menolong mereka yang kekurangan. Atau dengan kata lain, kalau kita tidak mengambil makanan secara berlebih, maka yang tidak kita ambil itu bisa sampai ke orang yang membutuhkan. Betulkah? Kita hanya berhenti di perasaan bersalah!

Udo Middelmann di dalam bukunya Christianity Versus Fatalistic Religions in the War Against Poverty mengajak kita berpikir lebih dalam. Pernahkah kita memikirkan masalah distribusi makanan? Kita tahu ada orang yang kelaparan di sana dan kita berlebihan secara materi dan bahan makanan di sini, seharusnya kita tidak berhenti dengan sekedar merasa bersalah karena makan kebanyakan, terlalu enak dan membuang sisa makanan. Kita harus memikirkan lebih jauh bagaimana mendistribusikan makanan kepada mereka yang memerlukannya. Distribusi!

Selangkah lebih jauh lagi adalah bagaimana orang yang kelaparan itu bukan hanya menerima pertolongan darurat – bahan makanan –, tetapi juga bisa hidup dengan tidak lagi dibantu. Distribusi makanan adalah pertolongan darurat, tapi perlu selangkah lebih jauh lagi. Ini bukan sekedar masalah “jangan kasih ikan tapi kasih pancingnya” tapi ini masalah membangkitkan keinginan untuk pergi memancing. Dan bagi Udo Middelmann, satu-satunya yang mengajarkan manusia pola pikir untuk berjuang dalam dunia ciptaan Tuhan yang sudah jatuh ke dalam dosa ini adalah Alkitab.

Alkitab mengajarkan kita untuk bekerja. Dunia memang “menghasilkan semak duri” sejak kejatuhan dalam dosa, tapi kita harus dan bisa berjuang. Alam tetap harus diusahakan. Dan Tuhan memberkati pekerjaan kita. Itu wawasan Kristen.

Saya berharap banyak orang Kristen, termasuk saya, bisa lebih sungguh lagi memikirkan masalah ini dan tidak hanya berhenti di perasaan bersalah.

Tuesday, June 12, 2012

Barang Mewah

Seorang dosen di TTC pernah menceritakan prinsipnya dalam membeli barang-barang ‘mewah’. Dia berkata ada tiga hal yang dia berjanji kepada diri sendiri bahwa dia tidak akan pernah beli: Mobil, Kamera DSLR, Audio System.

Kenapa mobil? Karena dia merasa tidak perlu mobil di Singapore. Harga mobil dan COE-nya (seperti STNK di Indo), belum lagi biaya perawatan dan bensin, sangatlah mahal. Kalau perlu untuk cepat dia memilih untuk naik taxi.

Kenapa kamera? Karena dia merasa kamera seperti racun yang tidak ada habisnya. Sekali dia ‘menyentuh’ hobi fotografi dan membeli kamera, maka dia akan selalu ingin yang lebih baik, lensa yang lebih baik, jenis lensa yang lain, dan berbagai perlengkapan lainnya. Maka dia memilih untuk membiasakan diri dengan kamera biasa.

Kenapa audio system? Dia melihat temannya yang terbiasa dengan audio system yang baik, tidak bisa lagi mendengar musik dengan kualitas suara yang biasa. Maka temannya itu membeli bukan saja CD Player, speaker, amplifier, yang makin lama harus makin bagus, tapi bahkan kabel pun harus yang makin mahal. Dan ironisnya, ketika temannya punya anak, seluruh audio system itu harus dibuatkan pagar untuk melindungi mereka dari penjelajah kecil di rumah itu. Ironis, ingin dengar musik, harus bagus, tapi rumah jadi tidak nyaman karena semua dipagari. Maka dia memilih membiasakan diri mendengar musik dari tape seharga $50 saja.

Saya langsung tidak setuju dengan dia!

Soal mobil jelas Singapore bukan Indonesia. Kita tahu mobil di Indonesia, apalagi di Jakarta, bukan lagi kebutuhan mewah tapi keharusan. Ok saya tahu tidak 100% harus (ada bajaj, mikrolet, busway, dll) tapi minimal err.. 95.7% harus. Maka kondisi saya dan dia berbeda. Walupun pertanyaannya boleh diteruskan: Mobil apa?

Tapi soal kamera saya juga tidak setuju. Saya suka fotografi dan saya juga membeli kamera DSLR. Tapi saya membatasi diri, bukan hanya berdasarkan kemampuan kantong, tapi juga berdasarkan kebutuhan. Saya bertanya dulu apakah saya butuh, seberapa bagus yang saya butuh, kapan saya butuh, baru saya putuskan untuk membeli perlengkapan fotografi saya.

Demikian pula soal audio system. Saya suka kualitas suara yang baik. Walaupun telinga saya tetap kelas rendahan yang bisa mendengar yang kurang baik juga, tapi saya tahu bedanya yang baik dan tidak. Walaupun begitu, saya mempertimbangkan berapa sering saya mendengar musik, berapa keras volume yang bisa saya dengar di rumah yang nempel dengan tetangga (kalau volume kecil, sebagus apapun audio system jadi tidak kerasa bagusnya), dan akhirnya dengan kondisi seperti itu berapa sih jumlah yang ‘wise’ saya pakai untuk itu? (Btw, sekarang saya hanya mendengar musik dengan CD player hadiah dari BCA lima tahun lalu dan speaker komputer).

Tapi setelah pikir-pikir, saya mengerti mengapa dia seperti itu. Dia takut dirinya suka dengan barang mewah, dia tidak ingin dirinya menjadi terbiasa dengan barang mewah (sebaliknya: tidak terbiasa dengan barang murah), dia kuatir makin mengapresiasi state-of-the-art teknologi, dan akhirnya membuat dia merasa membutuhkan semua itu.

Saya rasa dia ada benarnya. Coba saja kita yang biasa membeli baju bermerk mahal, pasti makin sulit untuk membeli baju murah. Kalau kita biasa memakai tas mahal, kita akan sulit memakai tas murah. Rasanya kurang PD, rasanya kurang pas di hati, dan seterusnya. Kalau kita biasa memakai laptop dengan kemampuan yang wah, makin sulit untuk ‘turun’ memakai laptop dengan kualitas biasa. Demikian pula mobil, kamera, audio system, sekali naik susah turun. Maka tanpa sadar standard of living kita terus naik.

Semboyan dia bagus juga: Jangan biasakan diri dengan barang mewah! Banyak orang suka ‘barang bagus’ tanpa punya rem yang juga bagus. Dan rasa suka itu memang membuat rem makin lama makin blong. Kita suka, kita mampu, beli, makin suka, makin terbiasa, makin mampu, beli lagi, dan seterusnya. Dan rem kita makin tidak berfungsi.

Saya yakin tidak semua orang harus seperti dia, dengan agak ekstrim menjauh dari kesukaan akan barang bagus. Tapi saya juga yakin tiap orang harus punya rem. Dan rem itu harusnya bukan hanya dari kemampuan kantong (karena nanti begitu mampu kita akan beli), atau ‘kebutuhan’ (karena suka dan terbiasa akhirnya membuat kita merasa butuh), tapi harusnya juga dari melatih dan mengasah diri untuk dengan sengaja memilih untuk lebih sederhana. Tidak ada patokannya berapa sederhana, barang apa yang perlu atau jangan dibeli, tiap orang pasti berbeda, tapi tiap orang harus memperkuat dan menjaga kualitas rem masing-masing. How good is your brake system?

Bagaimanapun, berhati-hatilah setiap kali menaikkan standard of living. Susah turun lagi karena rem akan makin blong. Tapi jangan berhati-hati waktu menaikkan standard of giving. Teruskan saja karena hati akan makin plong.

Tuesday, May 15, 2012

Brother Juniper

Banyak dari kita yang tidak pernah mendengar nama Brother Juniper. Dia adalah salah satu pengikut
awal dari Francis Assisi. Dia diterima di dalam ordo Fransiskan (Minor Friars) pada tahun 1210 dan meninggal tahun 1258.

Dengan cepat Francis Assisi mengagumi dia sebagai orang yang ‘keterlaluan’ dalam kemurahan hati, khususnya kepada orang miskin. Brother Juniper terkenal sangat mudah memberikan barang miliknya dan kemudian dengan kepolosannya dia menawan hati orang untuk memaafkannya.

Ada banyak kisah tentang dia yang menggambarkan betapa uniknya dia.

Satu kali, dia diperintahkan oleh seniornya untuk tidak lagi memberikan jubah luarnya kepada pengemis. Tapi tidak lama kemudian dia bertemu dengan seseorang yang meminta pakaian kepadanya. Dia berkata: “Seniorku memberi tahu aku untuk tidak memberikan pakaianku lagi kepada siapapun. Tapi jika engkau menariknya dari belakang, aku pasti tidak akan melarangmu.” Lama kelamaan para biarawan lain tidak berani meninggalkan apa-apa di sekitar Juniper karena takut akan diberikan oleh Juniper kepada orang miskin.

Ketika ia mengunjungi seorang yang sakit, Juniper bertanya apa yang bisa dia lakukan. Orang itu meminta kepada Juniper disediakan makanan kaki babi. Dengan gembira Juniper berlari untuk mencari kaki babi. Dia menangkap seekor babi di halaman tetangga, dia potong kakinya dan dia masak untuk saudara yang sakit itu. Ketika pemilik babi itu tahu, dia datang dengan marah kepada St. Francis dan pengikut-pengikutnya, menyebut mereka pencuri dan menolak ganti rugi.

St. Francis memarahi Juniper dan memerintahkan dia untuk meminta maaf kepada pemilik babi itu. Juniper tidak mengerti mengapa pemilik babi itu marah karena tindakan charity seperti itu. Dia pergi ke pemilik babi itu dan dengan riang menceritakan bagaimana orang sakit itu meminta masakan kaki babi dan dia menyediakannya. Dia menceritakannya seakan-akan dia menolong pemilik kaki babi itu berbuat baik. Waktu orang itu marah, Juniper berpikir dia tidak mengerti, maka dia ulangi lagi ceritanya dengan semangat, memeluk orang itu, dan memohon orang itu untuk memberikan sisa daging babi itu untuk charity. Melihat itu, hati pemilik babi itu berubah dan dia memberikan seluruh sisa daging babi itu untuk disembelih seperti yang diminta Juniper.

Satu kali Brother Juniper sedang bermeditasi di depan altar sebuah gereja yang sangat bagus dan penuh hiasan. Penjaga gereja itu meminta dia menjaganya sementara dia makan. Kemudian datanglah seorang wanita miskin meminta derma demi kasih kepada Allah. Juniper menjawab: “Tunggu sebentar, dan aku akan melihat apakah ada sesuatu yang bisa kutemukan di altar yang mewah ini”. Di sana ada kain emas yang sangat mahal dan ada bel perak yang mahal bergantungan. Juniper berkata: “Bel-bel ini berlebihan:, maka dia mengambil pisau dan memotong bel itu dan memberikannya kepada wanita itu karena belas kasihan. Waktu penjaga gereja itu tahu, dia sangat marah. Tapi Juniper berkata: “Jangan marah karena bel-bel itu, aku memberikannya kepada wanita miskin yang sangat memerlukannya dan disini bel-bel itu tidak ada gunanya selain untuk memamerkan kemewahan yang fana”. Penjaga itu melaporkan kepada pimpinannya di kota itu. Pimpinan itu menyalahkan si penjaga: “Engkau yang bodoh, engkau harusnya tahu seperti apa Juniper, aku malah kaget dia tidak memberikan sekalian semua kain emas itu”.

Pimpinan itu kemudian memanggil Juniper dan menegurnya dengan keras. Juniper tidak memperhatikan teguran itu, dia suka dimarahi, dipermalukan karena Kristus! Yang dia perhatikan adalah suara pimpinan itu serak. Maka ketika pulang, dia membuat puding untuknya. Dan tengah malam Juniper pergi ke rumah sang pimpinan membawa puding itu. Awalnya sang pimpinan marah karena tengah malam dibangunkan dan dipaksa makan puding. Tapi akhirnya dia melihat ketulusan Juniper, mereka makan bersama. 

Kisah-kisah di atas memberi gambaran kepada kita seperti apa Brother Juniper ini. Tidak heran dia dikenal sebagai ‘fool for Christ’ (orang bodoh bagi Kristus).

Betul, dia mungkin bodoh. Tapi dia hidup bagi Kristus. Sementara kita? Kepintaran kita mungkin membuat kita makin hitung-hitungan dalam memberi dan membuat kita bahkan kehilangan kepolosan dan ketulusan.

Francis Assisi pernah berkata bahwa betapa dia berharap ada satu hutan penuh orang-orang seperti Juniper! Dimana orang-orang seperti itu sekarang? Tidak perlu ikut ‘bodoh’nya, tapi mari ikut sedikit saja kepolosannya dan kemurahan hatinya! Ah… saya juga perlu belajar banyak.

Thursday, May 03, 2012

Ketulusan: Pelayanan dan Relasi

Saya pernah menulis tentang “Ketulusan” di blog ini dimana saya mengaitkan strategi pemasaran kuno MLM, asuransi, dan penginjilan di gereja (click untuk melihat). Saya baru membaca lagi tulisan itu dan melihat bahwa itu masih sangat relevan sekarang.

Ketulusan tidak berarti semua orang mengatakan segala hal yang ada di pikirannya kepada setiap orang. Itu bukan ketulusan tapi kebodohan! Di dalam hubungan kita sesama manusia berdosa, tidak bisa tidak, kita pasti menutupi sesuatu. Tiap orang punya cara berpikir yang berbeda, punya kepribadian, kelemahan, luka, dan dosa yang berbeda. Maka kapan mengatakan sesuatu, dengan cara bagaimana, kepada siapa, menjadi penting. Dan itu bukan ketidaktulusan tapi kebijaksanaan.

Saya kira ketulusan perlu dikaitkan dengan dua hal:

Pertama adalah motivasi. Ketulusan adalah ketika kita memikirkan kemauan Tuhan lebih daripada kemauan diri atau kelompok. Ketulusan adalah ketika kita memikirkan yang terbaik untuk semua dan bukan untuk diri atau kelompok. Dan terakhir, ketulusan adalah ketika kita memikirkan yang terbaik untuk lawan bicara kita. Kita tidak ingin memanfaatkan dia untuk kepentingan apapun. Kita tidak boleh membujuk orang untuk lakukan sesuatu tanpa memikirkan perasaan orang itu, kemauan orang itu dan kebaikan orang itu. Lalu kita beralasan, “kan bukan buat saya, tapi buat pekerjaan Tuhan”. Itu tidak tulus!

Kedua adalah perkataan. Kita memang tidak mungkin mengatakan segalanya kepada setiap orang. Tapi sampai batas tertentu kita bisa mengatakan hal-hal yang paling tidak membuat orang itu punya informasi yang cukup sehingga tidak membuat dia salah langkah. Informasi tidak harus ‘seluruhnya’ tapi harus ‘tidak menyesatkan’ dan ‘tidak misleading’. Kita boleh mengatakan “jangan lakukan itu, berbahaya!” tanpa menyebutkan siapa orang-orang yang menyebabkan bahaya. Tapi kita tidak boleh mengatakan “jangan lakukan itu, berbahaya!” padahal kita tidak terlalu yakin bahayanya dan kita hanya katakan itu karena kita mau dia lakukan yang lain.

Ketulusan adalah ketika kita mengatakan sesuatu, memutuskan sesuatu, dengan tanpa agenda pribadi. Ketulusan adalah, walaupun tidak membuka seluruhnya, tapi memikirkan perasaan lawan bicara kita, menempatkan diri di posisi mereka. Ketulusan adalah ketika kita menginginkan yang terbaik untuk lawan bicara kita. Dan semuanya adalah karena kita memikirkan Tuhan, takut akan Tuhan, dan kemuliaan Tuhan.

Sangat menyedihkan melihat banyak energi di dalam pelayanan habis karena mengurusi ketidaktulusan. Banyak orang dengan agendanya masing-masing, bermain ‘kungfu’, bersilat lidah, bermuka dua, atau apa pun istilahnya, untuk kepentingan dirinya, kelompoknya, atau yang dia pikir untuk Tuhan.

Saya sebut “dia pikir untuk Tuhan” karena mungkin ada orang-orang yang berpikir “ini baik untuk Tuhan”. Lalu dia fight untuk itu, dia lakukan macam-macam cara yang tidak tulus, semua atas nama ‘untuk Tuhan’. Orang seperti ini tidak pernah menguji apa betul untuk Tuhan, apa betul Tuhan mau begini, apakah saya memperjuangkan sesuatu yang benar, apakah saya tidak melukai banyak orang yang benar dengan cara begini, dan seterusnya. Jangan pikir dulu bagaimana kalau begini dan begitu, jangan berargumen dulu, diam dulu di hadapan Tuhan, coba tanya - dan saya percaya Tuhan akan bicara - apakah yang saya lakukan menyenangkan Tuhan?

Mari kita kembali kepada sesuatu yang sangat sederhana tapi indah: Ketulusan.

Demikian pula dalam relasi dengan orang lain. Ketika kita berbuat baik kepada orang lain karena kita menyukai dia (contoh klasik: ketika seorang pemuda sedang ‘naksir’), itu bukan ketidaktulusan. Demikian pula ketika kita tidak suka dengan seseorang, lalu berusaha untuk berbuat baik kepada dia, itu juga bukan ketidaktulusan. Tapi ketidaktulusan adalah ketika kita baik kepada seseorang karena ingin memanfaatkan dia, karena ada hal-hal yang bisa menguntungkan kita. Ketidaktulusan adalah ketika kita pura-pura baik supaya dilihat orang, supaya tidak dikatai orang, dsb. Tapi ketika kita berbuat sesuatu, mengatakan sesuatu, karena kasih yang benar, atau karena berusaha mengasihi seperti yang Tuhan perintahkan, itu adalah bagian dari ketulusan.

Siapa sih di antara kita yang sempurna tulus? Kita semua perlu terus mengoreksi diri, mengasah diri, menguji diri, dan minta kepada Tuhan karakter yang sangat indah ini: Ketulusan.

Thursday, March 08, 2012

Christian Internet Code of Ethics

Source: http://www.naznet.com/index.php?pageid=ethics

Introduction:
The impact of the Internet is nothing less than earthshaking. Communications are instantaneous and information is abundant. Christians are coming to the internet by the thousands each week.

In some ways, the Internet is a world of its own. Things are not always what they appear. Because of this there are some dangers that are not readily apparent, especially to the novice user.

The Christian Internet Code of Ethics is an effort by some Christians to declare boundaries they set for themselves on the Internet. It is not a set of rules, but a statement of values. In it we find believers saying, "We have found some dangers that may be hidden at first look and we want to point them out to those who join us on the Internet."

Suggestions for use:
There are at least four possible applications of the Christian Internet Code of Ethics:

* Simply read it, prayerfully consider it, and then decide in your heart that you will hold yourself to this standard -- it might be wise to print it off and post it near your computer

* Point it out to other Christians, especially those who are just coming onto the Internet, encourage them to make it their personal standard

* Parents might want to discuss with their children the importance of having an ethical code such as this operating in one's life, specifically, in this case, on the internet

* If you have a web page, incorporate the code on it (a handy copy and paste code fragment is included at the bottom of this page)


Christian Internet Code of Ethics

As a Christian who is active on the internet, I hold myself to certain standards of conduct. They are:

I guard my online relationships

I recognize that attachments develop as easily on the internet as anywhere else, and sometimes more easily because of the anonymity involved in initial exchanges. I particularly guard against relationships that encroach upon the level of trust and faithfulness that is to exist only within a husband/wife relationship.

I am careful to visit websites that do not compromise my life in Christ

I am aware that there are sites on the internet that Christians must avoid, including those that contain pornography. I do not visit such sites, even out of curiosity. When, by accident (and it happens to everyone), I find such a page loading, I leave it immediately.

I take care that my written communications reflect Christ in my life

Even on issues about which I feel passionate, I avoid saying things that I feel might be displeasing to the Lord. I represent myself, and my intentions in a truthful and upright manner in all my exchanges.

I guard my time to assure that my time online is kept in proper balance with the rest of my life

I realize that the internet can consume time that should be invested elsewhere: family, church, work responsibilities, and other activities that make for a well rounded life. I especially guard against spending time on the internet that should be spent with the Lord.

Tuesday, February 21, 2012

Orang 'Sulit'

Di dalam pelayanan, sebagian besar dari kita pernah berhadapan dengan orang yang kita tidak suka. Orang2 tidak tahan dengan sikapnya atau omongannya. Orang2 tidak suka dengan caranya melakukan sesuatu.

Mungkin karena pandangannya aneh, karena dia menekan, menyusahkan, atau karena dia gila hormat, gila kuasa, dsb. Istilahnya selalu ada ‘orang sulit’. Orang-orang seperti ini selalu menuai kebencian dari orang lain di sekitarnya. Orang-orang complain jika berhubungan dengan dia.

Penyebabnya bisa macam-macam. Mungkin orang itu kurang ‘dikasih tau’ (istilah kerennya: kurang di-training). Mungkin juga karena karakternya yang memang astaga buruknya. Dan mungkin juga karena kita yang salah (kita yang menyebalkan!). Tapi anggaplah kesalahannya ada pada orang itu.

Saya menemukan bahwa kalau saja kita mengamati lebih dalam kehidupan orang itu, ternyata hampir selalu orang ‘sulit’ itu adalah orang biasa. Maksud saya, dia punya keluarga, ada suami/istri yang sayang dengan dia, ada anak-anak yang kagum dengan dia, ada orang tua yang bersyukur punya anak dia. Artinya, dia adalah manusia biasa, manusia dengan segala kekurangannya tapi manusia yang juga menyayangi dan disayangi oleh keluarganya.

Maka seberapapun sebalnya kita kepada seseorang, begitu kita melihat lebih jauh ke dalam kehidupannya, kita akan lebih bisa menghargai orang itu sebagai manusia biasa. Pikiran kita yang sebal dan benci dengan dia, tiba-tiba menjadi terasa berlebihan. Ternyata dia tidak seburuk itu!

Maka saya mulai berpikir bahwa mungkin masalahnya adalah orang itu salah tempat. Dia berada pada posisi yang dia tidak cocok. Dia berada pada posisi yang menyebabkan kekurangannya terekspos. Dia berada pada posisi yang memungkinkan keburukannya menjadi makin buruk.

Ada orang yang tidak biasa mengutarakan sesuatu dengan sopan, tidak biasa untuk berempati dengan orang, jika orang seperti ini ditaruh di posisi yang berhubungan dengan orang lain banyak orang akan sebal dengan dia. Ada orang yang tidak tahu menangani kekuasaan, dia mudah terbuai jika kuasa ada di tangannya, jika orang seperti ini ditaruh di posisi untuk membawahi orang lain banyak orang akan ditindas oleh dia. Ada orang yang tidak/belum mampu menangani sesuatu, tapi karena diberikan posisi, maka dia jalankan menurut pemikirannya, dan akan ada banyak orang yang sebal dengan caranya. Ada orang yang insecure dan cenderung membuat semua orang fokus ke dia, jika orang seperti ini diberi posisi pemimpin, semua yang dianggap ‘mengancam’ bisa ditekan olehnya.

Coba bayangkan kalau orang yang anda sebal itu berada dalam posisi yang lain, masihkah anda sama sebalnya dengan dia? Jujur, seringkali perasaan kita pada dia akan sangat berbeda jika posisinya berbeda. Maka banyak orang bilang “dia berubah ya!? begitu jadi majelis/pengurus/ketua/dll dia berubah”. Mungkin karena dia memang tidak cocok di situ atau dia memang tidak mampu menangani kuasa dan prestige yang dia dapat melalui posisi itu.

Tidak berarti orang itu tidak perlu berubah. Tapi bagaimanapun harus kita akui ada karakter, sifat dan sikap tertentu yang membuat seseorang tidak cocok menduduki posisi tertentu. Dan… dengan tidak mengizinkan dia menduduki posisi tertentu, kita justru mengasihi dia. Dia mungkin tidak layak untuk disebali, dibenci, dicaci maki orang, tapi karena dia berada pada posisi yang tidak cocok lah, maka dia menjadi kebablasan, kekurangannya terekspos, dan akhirnya dia menuai segala kritik, kesebalan dan kebencian dari orang lain yang tidak seharusnya.

Paulus pernah memperingatkan hal yang serupa pada waktu ia bicara tentang penilik jemaat: Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis. (1 Tim 3:6). Pesannya adalah ada orang yang belum sanggup menduduki posisi tertentu. Concern Paulus adalah setan bisa hancurkan dia melalui kelemahannya.

Salahnya kita adalah sering mendorong atau membiarkan orang menduduki posisi yang salah (salahnya kadang orang itu juga memang menginginkan posisi yang salah). Kita berpikir “daripada nggak ada yang mau?”, atau “namanya juga pelayanan, masak dilarang?”, atau “bagus juga kok ada orang yang pendapatnya lain”, atau “ah, nanti juga bisa berubah”. Dan akhirnya… cerita lama terulang. Saya sudah banyak menyaksikannya.

Thursday, November 10, 2011

'Sharing' di Dunia Maya

Internet mempercepat informasi. Apa yang kita tulis dalam sekejap mata bisa dibaca oleh orang di belahan dunia lain. Tidak perlu susah2, ada banyak jaringan untuk mempublikasikan diri kita, lewat facebook, mailing list, twitter, blog, dll. Ketik, tekan tombol ‘publish’ (atau tombol apapun itu) dan voila… siapa saja bisa membacanya.

Kita merasa berkuasa karena semua terserah kita. Ingin menulis apa? Silakan! Ingin marah? Silakan! Ingin menyatakan frustasi? Silakan! Terserah kita tulis apa, karena ini facebook kita, twitter kita, blog kita. Tidak ada yang bisa menghalangi kita menulis apapun dan… kita berkuasa untuk menekan tombol ‘publish’ itu.

Kita lupa ada satu – yang sangat penting dan besar – yang tidak mampu kita kontrol: pembaca! Maksud saya apa yang kita tulis akan dibaca orang! Apa yang kita tulis, sedikit banyak, mempengaruhi orang! Apa yang kita tulis membuat orang berpikir sesuatu tentang kita!

Sama seperti tindakan dan perkataan, tulisan juga keluar dari diri kita dan menghasilkan dampaknya. Sekali keluar ia tidak bisa dihentikan lagi. Kita tidak berkuasa lagi atasnya. Ia bisa menolong, bisa merusak, bisa membangun, bisa menyakiti! Dan sama seperti tindakan dan perkataan, tulisan juga mempengaruhi penilaian orang kepada kita.

Saya tidak habis pikir banyak orang yang lupa bahwa menulis di dunia maya bukanlah menulis di ruang private tapi public! Ketika ‘sharing’ di dunia maya, banyak orang mengungkapkan kekesalannya kepada si ini, si itu, tanpa dia sadar si ini dan si itu (atau kenalannya) membaca tulisannya. Banyak (orang Kristen) yang mengeluh teruuusss… sehingga orang lain cape membaca tulisannya dan bertanya2 apakah dia punya iman? Banyak orang yang menulis apa saja yang ada di perasaannya tanpa berpikir benarkah dia mau orang lain tahu? Untuk apa orang lain tahu? Bagaimana ketika orang lain tahu? Banyak orang yang bercerita hal pribadi dan kemudian bingung atau marah ketika orang lain tahu! Aneh bukan? Tapi inilah fenomena baru, ‘sharing’ di dunia maya dengan ilusi ‘terserah saya’. Betulkah?

Bahkan sebetulnya ketika kita ingin ‘publish’ atau ‘posting’ sesuatu, kita harus berpikir dulu apakah yang kita tulis berguna? membangun? perlu? Buat apa kita menghabiskan waktu ratusan ‘friends’ kita membaca sesuatu yang tidak perlu!? (1 menit X 200 orang = 3 jam 20 menit waktu yang terbuang). Bukankah waktu-waktu itu lebih baik dipakai untuk hal yang lebih berguna? Tapi sekali lagi inilah juga fenomena baru, semua orang berilusi ‘saya adalah pusat perhatian’! Betulkah?

Seperti di dunia realita, tiap hal harus kita pikirkan baik2, demikian pula di dunia maya. Mungkinkah kita sudah terlalu banyak bersentuhan dengan dunia maya sehingga kita kurang mengerti dunia realita lagi?

Thursday, October 13, 2011

Perbedaan Pendapat

Perbedaan pendapat di dalam pelayanan adalah hal yang lumrah. Tidak mungkin kita selalu bisa sepakat dalam segala hal. Tapi saya jadi berpikir lebih jauh ketika menemukan banyak orang yang bahkan menyukai perbedaan pendapat! Alasannya perbedaan pendapat akan mempertajam keputusan kita, menolong kita berpikir lebih baik, dst.

Saya setuju! Kita perlu perbedaan pendapat. Orang yang maunya semua orang sama dengan dia bukanlah pemimpin yang baik. Tetapi saya merasa ada yang salah ketika orang sengaja membiarkan orang-orang yang akan berbeda pendapat masuk dalam satu tim tanpa berpikir apakah itu baik atau tidak. Biasanya alasannya: “Kita perlu orang yang kritis”, “Kita perlu orang yang berani bicara”, “Kita perlu orang yang bukan ‘Yes man’, “Justru bagus kalau ada orang-orang yang berani beda”.

Saya percaya perbedaan pendapat BISA baik, tapi tidak boleh ‘diagung-agungkan’ karena sebenarnya BELUM TENTU baik.

Ada perbedaan pendapat yang disebabkan oleh karakter yang buruk. Ada orang-orang tertentu, yang entah kenapa, memang suka dengan polemik. Selalu ada saja yang dia permasalahkan dan dia tidak ragu untuk mendamprat siapa saja. Ada orang yang berpikir dengan ‘aneh’, dan cara berpikirnya itu membuat dia melihat masalah dari sudut pandang yang salah. Celakanya biasanya orang seperti ini ngotot dengan pandangannya! Ada orang yang tidak pernah mau belajar melihat sudut pandang orang lain karena baginya selalu dirinya yang benar. Bagi saya perbedaan pendapat yang disebabkan oleh karakter yang buruk ini sama sekali tidak baik.

Ada perbedaan pendapat yang disebabkan oleh value atau konsep yang berbeda. Misalnya: Kalau yang satu berpikir “asal jemaat datang, ikut kegiatan, aktif pelayanan, that’s good, itulah pertumbuhan”, sementara yang satu lagi berpikir “that’s not good enough, pertumbuhan harus lebih dalam dari itu”. Maka keputusan dalam pelayanan pasti beda. Kalau perbedaan value-nya berkaitan dengan integritas, itu sangat.. sangat.. serius. Kalau perbedaannya dalam hal konsep, maka tergantung konsep apa yang menjadi perbedaan dan seberapa serius perbedaannya. Tapi percayalah, tidak gampang merubah value atau konsep seseorang, apalagi jika usia sudah lebih tua.

Ada perbedaan pendapat yang disebabkan oleh informasi dan pengalaman yang berbeda. Misalnya: Orang yang pernah mengalami kesulitan keuangan yang parah dengan orang yang tidak pernah mengalami kesulitan keuangan pasti akan mengambil keputusan yang berbeda ketika berhadapan dengan bagaimana melakukan pelayanan diakonia. Orang yang banyak terjun ke ladang misi dengan orang yang tidak pernah tahu ladang misi pasti akan mengambil keputusan yang berbeda dalam mendukung pelayanan misi.

Silakan berbeda pendapat, tapi menurut saya syarat mutlak yang harus ada pada tiap anggota tim/pengurus/panitia/apa saja, adalah mereka harus teachable, humble dan loving each other. 

Teachable – Betapa pentingnya ini. Kita tidak tahu segala hal. Apa yang menurut kita baik belum tentu selalu baik. Maka selalu mau belajar, mau mendengar, sangat penting.

Humble – Bagaimana mungkin kita bisa bekerja sama tanpa kerendahan hati? Kalau kita selalu punya agenda sendiri dan semua orang yang berbeda kita anggap menghalangi jalan kita, maka tidak ada kerja sama.

Loving each other – Bagi saya ini mungkin yang paling penting. Kita boleh berbeda pendapat tapi kalau kita tidak mengasihi satu sama lain, tidak menghargai, tidak berusaha menghindari pertengkaran, melihat orang lain sebagai ‘yang bisa dipakai’, maka semua bisa hancur. Seringkali orang sebut ini ‘spirit menjaga kesatuan’, tapi saya kira lebih dalam dari itu.

Saya simpulkan: Perbedaan pendapat BISA baik asalkan KARAKTER (teachable, humble, loving each other) orang-orang yang berbeda pendapat itu baik. Di luar itu, mencari orang-orang yang berbeda pendapat untuk dimasukkan dalam satu tim, akan menghancurkan tim itu.

Sebelum kita berkata perbedaan pendapat adalah hal yang baik, coba pikir dulu apa yang menyebabkan perbedaan pendapat itu? Sungguh, perbedaan pendapat BELUM TENTU baik! Adanya orang-orang yang ‘berani bicara’. ‘berani beda pendapat’, ‘kritis’, dalam tim BELUM TENTU baik! Lihat dulu apa yang menyebabkan dia berbeda.

Sunday, June 19, 2011

Menindas

Ketika pulang ke Jakarta beberapa minggu lalu, saya duduk di sebelah seorang perempuan. Sedikit percakapan dengan dia membuat saya tahu bahwa dia bekerja di Singapore sebagai domestic worker. Sudah 2 tahun dia di Singapore dan ini adalah kepulangannya yang pertama kali ke Indonesia.

Tidak heran dia bingung bagaimana mengisi kartu bea cukai yang dibagikan di pesawat. Saya kemudian membantunya. Ketika keluar dari pesawat dia juga bingung harus kemana dan saya menunjukkan dia jalan ke imigrasi. Selepas imigrasi, dia bingung lagi dimana mengambil bagasi. Setelah semua selesai, dia jalan duluan untuk keluar.

Tiba-tiba saya lihat dengan dia berjalan tergesa-gesa kembali ke arah saya dengan wajah ketakutan. Dia berkata: “Pak, tolong saya… saya nggak boleh keluar di situ… orangnya aneh banget.. saya takut…” Saya jadi bingung ada apa. Tapi instink saya sebagai orang Indonesia tahu bahwa ini pasti ada kaitannya dengan UUD (ujung-ujungnya duit). Maka saya panggil 1 orang porter dan bertanya “apa betul dia tidak boleh keluar dari sana?” Jawaban porter itu khas dalam sistem korupsi Indonesia: “wah musti ada yang bantu pak”. Saya tahu maksudnya. Lalu saya katakan “saya baru ketemu dengan dia, saya cuma mau nolong dia, sebetulnya harusnya keluar dimana?” Setelah sadar dia tidak akan mendapat uang dari saya, porter itu berkata bahwa memang secara peraturan tidak boleh, tiap TKW (sekarang nama kerennya “Penata Layan Rumah Tangga”) memang harus keluar dari pintu khusus.

Saya tahu dia pasti akan dimintai uang. Tapi saya tidak berdaya. Akhirnya saya hanya menenangkan dia dan berpesan supaya dia mengeluarkan sedikit uang di kantong dan jangan membuka dompetnya. Waktu dia pergi, perasaan saya seperti melepas dia masuk ke jalur ‘pembantaian’.

Sambil berjalan keluar, saya merasa muak dengan korupnya sistem di Indonesia. Orang itu naik pesawat yang sama dengan saya. Siapapun yang membayar pesawatnya, tapi dia adalah penumpang pesawat yang saya yakin tidak diberi diskon karena dia TKW. Tapi di pesawat, sikap sopan santun pramugari menjadi berbeda ketika melayani dia dan melayani saya. Mengapa? Sebagai warga negara Indonesia, dia boleh mendapatkan passport seperti saya, tapi dia mendapat passport yang berbeda dari saya. Mengapa? Dan kalau dia punya uang untuk jalan-jalan ke luar negeri, apakah tiap kali pulang dia akan selalu diperlakukan sebagai TKW, keluar lewat jalur TKW, padahal dia sedang jadi turis? Mengapa?

Dan yang juga membuat saya muak, saya pernah melihat bagaimana seorang petugas cleaning service di bandara memperlakukan TKW. Saya bertanya kepada dia dimana toilet, dan saya mendapat jawaban dengan sikap yang sangat sopan. Tapi ketika seorang TKW bertanya kepada petugas yang sama, dia mendapat jawaban dengan kasar!

Bukan cuma korupnya sistem di Indonesia, tapi betapa keterlaluannya orang-orang Indonesia itu!

Bagi kita orang Kristen, jangan sampai kita melakukan yang sama. Amsal berkata:

Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia. (Amsal 14:31)

Tuesday, April 06, 2010

Sombong Dan Disombongin

Kita tahu apa itu sombong dan melalui banyak hal kita selalu diingatkan untuk tidak sombong. Ternyata ada perwujudan lain dari kesombongan yang jarang kita perhatikan, dan itu muncul ketika kita - saya sebut itu sebagai - "disombongin". 

Belajar untuk tidak sombong adalah satu hal. Tapi belajar untuk menerima disombongin adalah hal lain lagi. Esensinya sama tapi nuansanya berbeda.

Belajar untuk tidak sombong sudah sangat sulit. Kita harus selalu mengingat kelemahan kita, mengingat bahwa apa yang kita miliki semuanya dari Tuhan dan bukan dari kita, mengingat bahwa di atas kita selalu masih ada orang lain. Kita tidak boleh membanggakan diri dan menunjukkan kehebatan atau superioritas kita dengan tujuan dipuji. Itulah belajar untuk tidak sombong.

Tapi ketika kita merasa sudah lumayan, cukup tidak sombong, tiba-tiba datanglah seseorang yang sangat sombong. Dia merendahkan kita, terang-terangan menganggap kita lebih rendah dari dia dan membanggakan dirinya di depan kita, padahal menurut penilaian kita, dia masih lebih buruk dari kita. Gayanya dan bualannya bahkan membuat sebagian orang percaya. Saat itu apa yang terjadi? Pertama, sebal. Kedua, marah. Ketiga, dalam hati muncul pikiran "gile ni orang, masih bagusan juga gua". Keempat, kalau orang lain percaya sama kesombongannya, kita gatal sekali untuk kasih tahu orang-orang kejelekan dia dan kebagusan kita.

Saya kira banyak dari kita pernah punya pengalaman seperti di atas. Pertanyaannya, kalau kita bereaksi seperti itu ketika disombongin, apakah betul kita sudah tidak sombong? Saya kira kita tahu jawabannya.

Maka belajar untuk tidak sombong memang adalah satu hal dan belajar untuk menerima disombongin adalah hal lain lagi. Tapi esensinya sama. Mungkin lebih baik kita katakan, pada waktu kita disombongin, itulah saatnya kita melihat lebih dalam lagi ke dalam hati kita dan bertanya "apa betul saya tidak sombong?"

Friday, August 21, 2009

Tindakan-tindakan 'Kecil' Dalam Kasih

(Posted in Dec 1, 2006)

Tindakan-tindakan 'kecil' yang dilakukan dalam kasih, sebenarnya sangat tidak kecil.

Waktu masih di sekolah teologi, kami memiliki seorang dosen yang kami tahu sangat sibuk. Suatu malam, dalam keadaan lelah, dia datang membawakan martabak untuk kami. Dia hanya datang sekitar 15 menit, memberikan martabak dan bercanda sebentar dengan kami. Tetapi entah kenapa, apa yang dia lakukan menyentuh saya, dan tidak pernah saya lupakan sampai saat ini.

Satu kali saya bersama istri ingin pergi melihat suatu pertunjukan. Dan beberapa hari sebelum kami pergi ke sana, istri saya mengajak teman lain untuk ikut. Secara keseluruhan acara kami hari itu sangat biasa: perjalanan yang sangat macet khas Jakarta, percakapan biasa dalam mobil, pertunjukan yang sama sekali tidak ‘wah’, makan bersama di restoran padang yang juga biasa. Tetapi waktu sampai di rumah, salah seorang teman yang ikut mengirim sms kepada saya (saya mengganti nama dan sedikit gaya tulisannya untuk privacy): “Ko, thx bgt ya bwt hr ni.Tlg sampaikan jg thx bwt c Yudith. Aku seneng bgt d’ajak jln2 :) asik, rasanya spt kluarga bnran aja lg jln2. Xie2”. Dia memberitahu saya bahwa dia jarang pergi jalan-jalan bersama keluarganya.

Saya tidak menyangka tindakan kecil yang kami lakukan (hanya mengajak ikut jalan-jalan ke tempat yang tidak istimewa!), ternyata menyentuh dia.

Waktu saya mengingat peristiwa itu, saya mencoba mengingat peristiwa-peristiwa lain dalam hidup saya. Ternyata saya menemukan, banyak peristiwa yang tidak bisa saya lupakan adalah tindakan-tindakan 'kecil' yang dilakukan orang-orang dengan kasih kepada saya. Saya tidak mungkin sebutkan semuanya di sini, dan saya juga tidak bisa katakan betapa indahnya apa yang mereka lakukan. Tetapi kalau saya mengingat lagi peristiwa-peristiwa itu, saya masih tersentuh.

Dan yang paling mengejutkan, tindakan-tindakan 'kecil' dalam kasih itu, juga menyentuh hati Yesus.

Saya jadi ingat beberapa perkataan Yesus, “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”, atau “barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang paling kecil ini, karena ia muridKu, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya”. Juga ketika seorang janda miskin memberikan persembahan 2 peser (jumlah yang mungkin kalau dikonversikan ke uang kita hanya bernilai beberapa ratus rupiah saja), Yesus mengatakan “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan”.

Apakah tindakan-tindakan kecil yang dilakukan dalam kasih itu kecil? Tidak!

Mulailah lakukan itu.

Wednesday, May 07, 2008

Bercanda

Bercanda menjadi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sosial kita. Ketika berkumpul bersama teman-teman, kita semua suka bercanda. Caranya macam-macam. Ada yang dengan menceritakan kisah lucu, menggoda dengan gerakan, mimik muka dan bahasa tubuh yang lucu, atau dengan menggunakan sindiran atau anekdot baik tentang orang lain maupun tentang diri sendiri. Semua itu kita sebut bercanda.

Jarang kita sadari bahwa bercanda sedikit banyak ada kaitannya dengan apa yang sesungguhnya kita pikirkan. Misalnya ketika kita berkata “wah perutmu kayak semar”, biasanya kita tidak katakan itu kepada orang yang super kurus tapi justru kepada orang yang memang dalam pikiran kita perutnya besar. Atau ketika kita bilang “rambutmu bagus ya kayak bihun”, biasanya kita tidak katakan itu kepada orang yang dalam pikiran kita rambutnya sangat halus, tetapi justru kepada yang menurut kita rambutnya kasar. Kalau tidak seperti demikian, maka candaan kita pasti tidak lucu karena orang tidak melihat kaitannya.

Walaupun ketika mengucapkan kata-kata canda itu kita jarang menyadari ada kaitan antara bercandanya kita dan apa yang kita pikirkan, tetapi lain ceritanya ketika kita yang dijadikan sasaran bercanda. Orang yang dijadikan sasaran bercanda akan lebih peka bahwa ada kesamaan antara dirinya (artinya kenyataan sesungguhnya) dengan kalimat candaan yang ditujukan kepada dirinya. Dampaknya? Bisa dia ikut tertawa karena memang lucu dan baru sadar bahwa dirinya bisa dianalogikan seperti itu atau bisa sangat tersinggung karena kalimat itu mencungkil sesuatu yang sensitif bagi dia.

Apa yang menyebabkan reaksi orang itu berbeda? Jawabannya juga bisa macam-macam. Tetapi salah satunya adalah relasi dia dengan orang yang mengucapkannya. Kalau dia kenal baik dengan orang yang mencandainya, kecil kemungkinan dia tersinggung. Biasanya dia akan tertawa dan mungkin balas mengucapkan candaan tentang orang itu. Tetapi kalau dia tidak terlalu mengenal orang itu, cerita menjadi berbeda.

Bukankah kita memang harus hati-hati dalam berkata-kata, termasuk kata-kata yang kita kategorikan bercanda? Jangan salah mengerti, saya tidak mengatakan kita tidak boleh bercanda. Betapa sepinya dan membosankannya dunia tanpa kalimat-kalimat candaan (termasuk yang bernada saling ‘menghina’, oops!). Tapi cobalah berhati-hati.

Jika candaan itu memang ada kaitannya dengan apa yang sesungguhnya kita pikirkan, mari ingat jangan sampai candaan itu keluar dari pikiran yang jahat. Kita boleh melihat kekurangan orang (baik karakter, kesalahan ataupun fisik) lalu mengucapkannya dalam bentuk candaan, asalkan di dalam kasih. Kalau itu kita lakukan di dalam kasih, tidak ada yang salah walaupun sekali lagi, hati-hati! Tetapi menjadi berbeda jika kita bukan saja melihat tetapi sungguh menghina orang itu dalam pikiran kita lalu mengeluarkannya dalam bentuk candaan. Orang itu mungkin tidak tersinggung karena dia tidak tahu bahwa kita sedang menghina. Tapi itu tetap berdosa. Pikiran yang jahat dikeluarkan dalam kalimat manis, kalimat candaan, yang palsu. Orang tertawa dan kita puas. Tetapi tidak ada yang menyangka bahwa kalimat itu sebetulnya keluar untuk memuaskan kejahatan hati kita.

Bayangkan betapa sakitnya orang itu jika dia bisa merasakan bahwa ‘candaan’ itu sebetulnya bukan masuk dalam kategori bercanda tetapi penghinaan.

Wednesday, April 23, 2008

Ketulusan

Ketulusan dari dulu adalah karakter yang sangat disukai. Kita tidak suka kepada orang yang ‘ada udang di balik batu’ (bahkan ungkapan ini pun sudah lama sekali muncul), orang yang berbelok-belok untuk menyembunyikan maksudnya, orang yang menjebak, pendek kata kita tidak suka orang yang tidak tulus. Walaupun demikian, kita seringkali memaafkan ketidaktulusan. Kita tidak terlalu merasa terganggu dengan ketidaktulusan yang dilakukan orang di sekitar kita.

Tetapi di zaman sekarang keadaan sudah berubah. Kepekaan akan ada tidaknya ketulusan ini menjadi lebih tajam. Bukan berarti orang-orang zaman sekarang lebih tulus (bagaimanapun orang tetap berdosa), tetapi mereka lebih peka, curiga dan tidak suka dengan ketidaktulusan.

Saya ambil contoh praktis saja dari dunia pemasaran. Dulu para agen asuransi diajarkan oleh perusahaan supaya ketika menawarkan asuransi, sebisa mungkin jangan katakan bahwa produk yang dijual adalah asuransi. Alasannya? Banyak orang yang belum mengerti asuransi tetapi langsung antipati ketika mendapat penawaran asuransi. Maka para agen asuransi akan ‘putar-putar’ dulu ketika bicara, baru ujungnya berkata “nah inilah yang saya jual”.

Demikian pula dalam sistem pemasaran multi level (MLM) yang sangat booming sejak hampir 20 tahun yang lalu. Ketika ingin mengajak orang untuk bergabung, mereka diajarkan untuk tidak ‘straight to the point’. Maka mereka mungkin akan mulai dengan mengajak orang itu berpikir apa yang diinginkannya (seringkali yang digali adalah ketamakan dan kemalasan orang itu, seperti ingin punya mobil mewah, penghasilan ratusan juta, tanpa bekerja pula). Bahkan ketika ingin mulai bicara pun, mereka tidak akan katakan ingin membicarakan hal itu. Mereka mungkin katakan ingin datang main ke rumah, ingin bicarakan bisnis, atau bahkan sekedar ‘membesuk’. Setelah ‘putar-putar’, baru mereka menjelaskan maksud sebenarnya.

Cara-cara pemasaran seperti ini terbukti sukses, tapi itu dulu. Sekarang ini, cara-cara yang saya sebutkan di atas masih dilakukan, tetapi saya makin banyak mendengar suara-suara miring dari orang-orang yang menjadi ‘korban’ pemasaran dengan cara tersebut. Mereka merasa ditipu, menjadi objek, diganggu, dan yang paling menyedihkan adalah itu dilakukan oleh orang-orang yang mereka kenal. Artinya ada relasi yang terluka di situ.

Saya pernah mengalaminya. Suatu kali ada teman lama yang tiba-tiba menelpon. Wah, saya sangat senang karena memang sudah lama tidak bertemu. Tetapi setelah basa-basi sejenak, kemudian dia mengatakan ingin menawarkan bisnis. Ketika saya tanya bisnis apa, dia mencoba menyembunyikannya dan mengatakan akan menjelaskannya ketika nanti bertemu saya. Di otak saya langsung muncul 3 huruf yang berkedip-kedip “M-L-M” (Multi Level Marketing). Akhirnya dia memang mengaku, dan dengan sopan saya menolak karena sayatidak tertarik. Setelah telpon ditutup, saya merasa sakit hati. Saya tahu teman saya itu pasti mencoba memikirkan setiap nama yang bisa di ‘prospek’ dan di situlah baru dia teringat nama saya. Sejak hari itu, dia juga tidak pernah menelpon saya lagi. Saya sangat merasa dimanfaatkan dan tidak suka dengan ketidaktulusannya.

Saya juga pernah terjebak, duduk dan harus mendengarkan presentasi yang ‘putar-putar’ dulu itu, yang padahal dari awal saya sudah tahu ujungnya akan seperti apa. Pertanyaan seperti “apa yang anda cita-citakan?” untuk menggali ketamakan saya, membuat saya muak.

Ada 1 cerita lagi, suatu kali seorang teman mengirim SMS menanyakan kapan saya ada waktu karena dia ingin mampir dan ngobrol. Pengalaman saya (bukan cuma sekali dalam peristiwa yang saya ceritakan di atas, tapi beberapa kali) langsung membuat alarm di atas kepala saya berbunyi. Teman ini bukan teman yang dekat, kami juga sudah tidak bertemu beberapa tahun, dan dia tidak pernah khusus ingin ngobrol dengan saya sebelumnya. Belakangan saya tahu, dia memang ingin menawarkan asuransi.

Saya perlu jelaskan dulu, saya tidak anti dengan produk asuransi atau produk yang ditawarkan melalui jaringan MLM. Produk asuransi dan MLM banyak yang bagus dan memang dibutuhkan. Saya juga mencari beberapa di antaranya dan senang membelinya. Tapi saya tidak suka dijebak. Saya lebih senang jika ada orang yang langsung katakan “saya jualan asuransi/produk A, kamu perlu nggak? Kalau mau, biar saya jelasin dulu nanti terserah putusin tertarik atau nggak”.

Saya yakin cara-cara pemasaran seperti di atas masih sukses, dan itu sebabnya masih dipakai. Tetapi saya juga yakin cara pemasaran seperti itu pasti akan makin tidak populer dalam tahun-tahun yang akan datang. Dan adalah kebodohan jika perusahaan-perusahaan masih melatih tenaga pemasarnya melakukan hal-hal seperti di atas, karena itu berarti mereka tidak peka menangkap perubahan.
Saya tidak ingin menulis panjang lebar seperti ini untuk mengkritik dunia pemasaran, tetapi yang ingin saya ajak kita lihat adalah ternyata banyak gereja juga melakukan hal yang sama. Gereja juga tidak membaca perubahan zaman.

Mungkin dulu orang Kristen merasa cara-cara pemasaran seperti di atas sukses untuk bisnis, maka mereka berpikir “wah, ini cocok juga di gereja”. Maka dibuatlah penginjilan dengan cara seperti demikian. Misalnya kita mengadakan pertemuan di rumah, kita undang tetangga dengan menyebutkan “ini acara makan-makan”, tetapi waktu mereka datang ada pengkhotbah yang menginjili mereka. Kita juga tiba-tiba menelpon kenalan lama kita, yang tidak pernah sama sekali kita hubungi dan sejujurnya tidak pernah kita ingat, hanya untuk mengajak mereka ke KKR (bayangkan perasaan mereka karena tahu nama mereka baru teringat waktu kita sedang mendaftarkan siapa yang bisa diajak untuk KKR). Atau kita tiba-tiba menyapa dengan sopan tetangga kita yang tadinya tidak pernah kita sapa (dan mungkin dia sebal dengan kita) hanya karena ingin mengajak mereka ke persekutuan di rumah kita.

Sekali lagi saya yakin cara-cara seperti di atas masih bisa dipakai dan sangat bagus kalau orang Kristen punya semangat untuk memberitakan Injil. Tetapi saya juga yakin cara-cara seperti itu akan makin membuat gereja dicela daripada dimuliakan. Mengapa? Sama seperti kasus dalam dunia pemasaran yang saya sebutkan di atas, itu sangat tidak tulus! Mengapa tidak langsung katakan “Minggu depan ada kebaktian di situ, khusus jelasin tentang kekristenan. Mau ikut nggak? Kalo mau, datang aja dengerin, nanti saya temenin”, atau “Minggu depan di rumah saya ada acara kumpul-kumpul. Yang datang beberapa teman gereja dan juga teman-teman mereka. Acaranya santai, pendeta dari gereja saya kasih khotbah singkat, setelah itu kita makan bareng dan ngobrol-ngobrol aja”. Dan akan lebih menyenangkan bagi orang yang diajak jika selama ini kita memang teman mereka, bukan tiba-tiba mau jadi teman hanya karena ingin mengajak mereka ke KKR!

Satu lagi analogi yang ingin saya tarik dari dunia pemasaran. Hal yang sangat menggelikan bagi saya adalah di dalam usaha memasarkan produknya, banyak para pemasar yang menyebut ‘keinginan menolong orang lain’ sebagai dasar motivasinya. Mereka berkata “kalau saya bisnis sendiri, saya hanya memperkaya diri sendiri, tapi saya ingin menolong orang lain dan anda juga bisa menolong orang lain dengan bergabung dengan bisnis ini”. Apakah sungguh itu motivasinya? Adakah di antara kita yang antusias “Wow, alangkah indahnya bisa menolong orang lain. Saya akan bergabung dengan bisnis ini!”? Jelas bukan itu motivasinya!

Mengajak orang untuk percaya kepada Yesus adalah hal yang sangat mulia, karena kita tahu itu adalah hal terbaik yang bisa terjadi kepada seseorang. Motivasi dasarnya? Kasih! Kasih dalam hal ini boleh saya definisikan sebagai keinginan untuk orang lain memperoleh yang terbaik untuk hidupnya. Melihat orang lain punya kebutuhan rohani dan ingin menawarkan pertolongan dari Tuhan yang mampu menolong, itulah kasih! Tanpa kasih, ajakan yang mulia itu menjadi sangat tercemar. Tanpa kasih, motivasi kita mungkin hanya karena disuruh hamba Tuhan, atau tidak enak kalau persekutuan di rumah sepi, atau mengusir perasaan bersalah karena tidak menginjili. Apapun juga, jikalau bukan kasih, ajakan kita itu menggelikan. Walaupun kita katakan motivasi kita adalah kasih, tapi coba tanya pada diri sendiri apakah betul motivasinya kasih? Kalau sebenarnya bukan kasih, bau ketidaktulusan itu akan tercium.

Di zaman ini banyak orang yang sedang mencari sesuatu yang bisa mengisi kekosongan hidupnya. Mereka merasa kering, lelah, bosan dengan hidupnya. Mereka membutuhkan Tuhan. Jika kita mengasihi mereka, pertama-tama kita tidak ingin mereka hidup seperti itu, kita ingin mereka menerima kehidupan yang sesungguhnya di dalam Yesus. Kedua, kalau memang kita punya hati seperti itu, pergilah kepada mereka, tanyakan apakah mereka mau mempertimbangkan bahwa Yesus bisa mengisi kosongnya jiwa mereka. Kita punya berita yang sangat berharga, mereka perlu itu, maka tawarkan kepada mereka! Tapi jangan lupa, lakukanlah dengan tulus dan penuh kasih!

Monday, February 05, 2007

Keluaran 23:3 - Memihak

Juga janganlah memihak kepada orang miskin dalam perkaranya” (Kel 23:3)

Di dalam dunia ini, yang kuat menindas yang lemah kita anggap hal biasa. Tetapi yang lemah menindas yang kuat, nah itu baru kita anggap luar biasa. Tetapi apa benar itu terjadi?

Ayat di atas menarik perhatian saya. Biasanya kita mengira Alkitab mengajarkan supaya kita memihak kepada yang lemah: orang miskin, janda, anak yatim, dsb. Tetapi mengapa dalam bagian ini Tuhan justru katakan jangan memihak kepada orang miskin?

Sebetulnya kalau kita teliti, Alkitab tidak pernah mengajarkan supaya kita memihak kepada mereka yang lemah. “Jangan menindas mereka”, “belalah hak mereka”, itulah yang diajarkan Alkitab. Artinya yang Tuhan mau adalah “jangan mentang-mentang mereka lemah, lalu mereka ditindas dan tidak dibela haknya”. Tetapi dengan kalimat yang sama, Tuhan juga bisa mengatakan “jangan mentang-mentang mereka lemah, lalu dibela dan dimenangkan”.

Sebetulnya prinsipnya sederhana: Keadilan! Tuhan benci kalau ada orang menindas yang lemah. Tuhan juga benci kalau ada orang menindas yang kuat.

Ada orang yang berjalan kaki menyeberang jalan secara sembarangan dan menyebabkan pengendara motor kehilangan keseimbangan dan menabraknya sampai mati. Siapa yang disalahkan? Biasanya pengendara motor! Ada pengendara sepeda motor yang ngebut, selap-selip kiri kanan semaunya, lalu menabrak mobil yang sedang berjalan perlahan sampai dia sendiri terpelanting dan luka parah. Siapa yang disalahkan? Biasanya pengendara mobil. Minimal dia akan diminta utk membayar semua biaya pengobatan. Ternyata dalam masyarakat kita juga berlaku ‘memihak si lemah’ ini, walaupun tentunya dengan berbagai latar belakang dan motivasi.

Saya jadi berpikir bagaimana yah di gereja? Apakah sama dengan dunia, bahwa ada hal-hal tertentu dimana yang 'kuat' menindas yang 'lemah', dan ada hal-hal tertentu dimana yang 'lemah' dibela secara tidak adil, walaupun kalau di gereja, mungkin in the name of love.

Ah, sulitnya untuk adil sekaligus kasih!