Showing posts with label d. Pacaran dan Pernikahan. Show all posts
Showing posts with label d. Pacaran dan Pernikahan. Show all posts

Thursday, February 11, 2016

Langkah-langkah Memulai Masa Pacaran

Valentine Day is just around the corner again. It seems to be an appropriate time to talk about dating :-)

Ok, saya tidak bermaksud menulis textbook cara “pendekatan”. Tapi setelah mendengar berbagai cerita “gosip-seputar-pdkt-dan-pacaran”, saya merasa ada yang kurang “pas”. Maka saya berharap paling tidak tulisan pendek ini bisa sedikit menolong mereka yang sedang bergumul - untuk bergumul dengan benar.

Apa itu “pacaran”? Sederhananya, pacaran adalah masa dimana seorang pria dan seorang wanita mengambil komitmen untuk lebih saling mengenal dan menjajaki menuju ke pernikahan.

Perhatikan definisi itu. Hanya seorang pria dan seorang wanita, tidak bisa “seorang” dengan “beberapa orang”. Lalu ada “komitmen”. Tetapi komitmennya bukan untuk “hidup bersama”. Komitmennya bukan “to stay together forever and ever”. Komitmennya bukan “you are mine and I am yours”.  Tidak ada hal seperti itu dalam pacarana! Komitmennya hanyalah “lebih saling mengenal dan menjajaki menuju ke pernikahan”. Maka di dalam pacaran, SAMA SEKALI tidak boleh ada relasi yang sifatnya seksual. Relasi yang dijalin bukan bersifat fisik tetapi komunikasi – pemikiran, perasaan, pengalaman, nilai hidup, iman, dst. Komitmennya hanyalah menjajaki apakah saya dan dia bisa hidup bersama seumur hidup nantinya. 

Walaupun pacaran memang tidak ada komitmen seperti pernikahan, bukan berarti boleh dimulai dengan sembarangan. Bagaimanapun pacaran melibatkan emosi, waktu dan tenaga dari dua pihak, yang sangat sayang untuk disia-siakan. Maka untuk mulai berpacaran harus ada “tingkat kepastian tertentu” – merasa suka, cocok, mau komitmen berelasi, barulah dimulai. Sehingga faktor “gambling” dan “sembarangan” diminimalisir. Di masa pacaran nanti, kedua belah pihak akan sama-sama lagi menilai dan berdoa apakah benar bisa dilanjutkan ke pernikahan. Artinya setelah ada “tingkat kepastian yang lebih tinggi” baru memberanikan diri masuk ke komitmen seumur hidup.

Untuk masuk ke masa pacaran, ada 2 pertanyaan yang perlu ditanyakan terlebih dulu oleh setiap orang:

Pertama, apakah benar ada ketertarikan, ada perasaan suka, dan melihat ada kecocokan? Tidak bisa tidak, perlu waktu untuk menjawab ini.

Kedua, apakah benar mau berkomitmen memasuki masa pacaran?  Memang bukan komitmen untuk menikah atau apapun yang serius, tapi hanya komitmen mengkhususkan waktu, tentunya juga emosi dan pikiran, untuk mengenal dan menguji kecocokan menuju ke pernikahan.

Pikirkan dan doakan untuk menjawab 2 pertanyaan itu. Libatkanlah Tuhan di dalam pergumulan yang sangat penting ini.

Mulai dari yang pria, kalau memang jawaban untuk yang pertama dan kedua adalah “ya”, BARU sesudah itu dia boleh menyatakan secara eksplisit ke yang wanita. Ini penting! Hanya setelah yang pria yakin, BARU dia boleh menyatakan. Lalu tunggu jawaban apakah yang wanita juga setuju untuk masuk ke masa pacaran. Maka giliran si wanita untuk bertanya kepada diri sendiri dua pertanyaan di atas itu dan mendoakannya.

Urutan di atas harus jelas.

Beberapa kesalahan yang biasa terjadi:

Pertama, terlalu cepat memasuki masa pacaran. Tanpa ada “tingkat kepastian tertentu” - hanya berdasarkan perasaan suka (yang mungkin sesaat) lalu berani masuk ke masa pacaran.

Emosi memang selalu melambung jauh lebih cepat dari akal sehat. Pada waktu emosi melambung, dengan cepat kita akan berkata “tertarik, suka, cocok, MAU!” Itu sebabnya perlu waktu untuk membuat emosi "turun" dan stabil dulu, baru bisa berpikir jernih apakah memang tertarik, suka, cocok dan mau pacaran. Jangan mengambil komitmen apapun dalam keadaan emosi yang sedang sangat melambung. Banyak orang yang nekat mengambil komitmen waktu lagi “melayang-layang” dan kecewa setelah “layangan”nya turun ke bumi.

Berikan waktu beberapa bulan untuk berteman saja (tanpa romantisme at all!) dan usahakan tidak pergi berduaan tapi selalu bersama dengan teman-teman lain. Jika relasi disertai banyak romantisme – kata-kata mesra, kontak terus menerus, sering pergi berduaan, apalagi ada kontak fisik, maka tidak pernah akan ada kematangan dalam pergumulan. Romantisme dan kontak fisik sudah berjalan mendahului komitmen dan akal sehat akan jauh tertinggal di belakang.

Kesalahan kedua, berlawanan dengan yang pertama, yaitu terlalu lama mengambil keputusan. Pria memang harus bertanya kepada diri sendiri dua pertanyaan di atas dan mendoakan. Tetapi jangan lupa, ini bukan mencari kepastian untuk “menikah” tapi untuk “memasuki masa penjajakan menuju ke pernikahan”. Jadi tidak bisa harus pasti dan yakin “she is the one” baru mau pacaran. Tidak akan pernah yakin! Keyakinan itu baru bisa didapat nanti waktu di masa pacaran. Maka masa memikirkan dan mendoakan ini tidak perlu terlalu lama (walaupun bukan berarti terlalu cepat dan sembarangan).

Alasannya adalah: Ketika seorang pria merasa suka, sadar atau tidak sadar dia akan banyak “mendekati” si wanita. Dia akan cukup sering kontak, memberi perhatian, dsb. Kalau si wanita tidak suka dengan dia, maka gampang, si wanita pasti akan menjauh. Tapi kalau si wanita suka, maka dia akan kasihan sekali karena perasaannya terus diaduk-aduk. Di satu sisi dia merasa si pria mendekati dia (membuat dia berharap), tapi di sisi lain si pria tidak maju-maju. Jadi seperti digantung – friendzoned.  Apalagi kalau kemudian setelah sekian lama, akhirnya si pria memutuskan untuk tidak mau memasuki masa pacaran. Sekian lama si wanita merasa didekati, diperhatikan, lalu si pria tiba-tiba menjauh! Itu sangat menyakitkan. Memang namanya juga lagi bergumul dan jawabannya bisa “tidak”, tapi justru itu sebabnya jangan terlalu lama. Kasarnya, mau ya mau, nggak ya nggak :-)

Dengan alasan yang sama, setelah pria menyatakan, jangan yang wanita kemudian giliran friendzoning dia. Memang pasti perlu waktu untuk berpikir dan berdoa. Tidak ada patokan juga berapa waktu yang diperlukan, tapi 6 bulan pasti terlalu lama.

Kesalahan ketiga, si pria yang sama sekali belum ada kepastian ini bilang ke si wanita, “saya lagi mendoakan kamu”. Woohooo…. Bagi wanita (yang cenderung lebih emosional), informasi itu tidak ada bedanya dengan “pernyataan langsung”. Bagi dia itu artinya si pria menyukai dia. Dia akan sangat berharap dan sangat sakit hati ketika akhirnya “hasil doa” si pria adalah “tidak”. Maka saya sangat tidak setuju dengan cara seperti itu.

Pria harus berpikir dan berdoa sendiri dulu, walaupun sambil mendekati – asal jangan lama-lama. Setelah ada keputusan bahwa dia mau, BARU menyatakan. Barulah saat itu “bola”nya dilempar ke si wanita untuk memutuskan. Jangan sampai setelah bola dilempar ke si wanita, dengan alasan “sama-sama mendoakan”, lalu si wanita memutuskan “mau” sementara si pria memutuskan “tidak”. Bukan begitu urutannya.

I hope that helps. Selamat bergumul – dengan benar :-) 

Tuesday, September 22, 2015

Sacred Dating - GKY Singapore 19 September 2015

Ini adalah rekaman seminar "Sacred Dating" di Youth Fellowship dan Young Adult Fellowship GKY Singapore, Sabtu 19 September 2015. 

Warning: Sangat panjang! :-) Apalagi ditambah Q&A di belakang.

Sesi 1: At least, dengarkan sampai 1.12.40. 
Sesi 2: At least, dengarkan sampai 1.15.10.


Sacred Dating Part 1 of 2




Sacred Dating Part 2 of 2


Wednesday, June 17, 2015

"Orang Dalam" - For My Wife



Salah satu sindrom yang sangat manusiawi di dalam relasi keluarga adalah sindrom “orang dalam”.

Kita bisa sungkan untuk marah kepada teman tetapi tidak sungkan marah kepada orang tua kita. Kita bisa sungkan untuk minta tolong kepada teman tetapi dengan seenaknya menyuruh suami atau istri kita. Kenapa bisa begitu? Karena mereka “orang dalam”! Kita bisa seenaknya, sebebas-bebasnya, boleh marah, boleh tidak senang, boleh nyuruh, tanpa merasa tidak enak, karena mereka “orang dalam”.

Di satu sisi, kita butuh perasaan adanya “orang dalam”. Itu menenangkan buat kita, nyaman, dan membuat kita diterima apa adanya. Di sisi lain, perasaan “orang dalam” ini kadang kebablasan dan itu membuat kita tidak lagi menghargai mereka sebagaimana seharusnya bahkan tidak lagi bersyukur untuk keberadaan mereka. Kebablasan seperti ini bukan saja merusak relasi tetapi juga kerohanian kita. Seriously!
 
Saya sudah menikah dengan Yudith lebih dari 14 tahun. Sejujurnya, saya pun mengalami sindrom “orang dalam” itu terhadap dia. Betapapun saya sering mengucapkan “terima kasih” kepadanya karena memasak, mencuci piring, menyeterika, menemani saya pergi, merawat saya ketika sakit, dan berbagai hal lainnya, tetap saja banyak hal sebetulnya saya “take it for granted” karena dia adalah “orang dalam” bagi saya. Padahal kalau saya menghitung apa yang dia lakukan untuk saya dan bagaimana Tuhan memakai dia untuk saya, sungguh terlalu banyak.

Saya menikah dengan Yudith tepat ketika akan memasuki masa praktek pelayanan. Artinya sepanjang usia pernikahan kami, dia sudah mendampingi saya menjadi hamba Tuhan penuh waktu.

Dia mendampingi saya melayani sebagai mahasiswa praktek di sebuah gereja di Jakarta. Waktu itu kami masih sama-sama polos dan bingung, hanya belajar setia saja melayani. Kemudian dia ikut dengan saya melayani di Beijing. Selama di sana kami bersama-sama menanggung banyak kesulitan, ketakutan, dan kesepian. Setelah itu dia ikut bersama saya kembali lagi melayani di Jakarta, kali ini menjadi pembimbing pemuda dan remaja. Kami bertumbuh dan mensyukuri begitu banyak berkat Tuhan di sana. Walaupun sebagai hamba Tuhan, kelihatannya saya yang “tampil”, tapi banyak pelayanan yang sebetulnya tidak mampu saya kerjakan tanpa dia. Lalu dia ikut saya lagi pergi ke Singapore mengerjakan an impossible task – studi M.Th sambil menjadi gembala. Maka kali itu dia harus mengerjakan begitu banyak tugas pelayanan (bahkan lebih banyak dari saya) sementara suaminya sibuk studi. Dan sekarang, di tengah begitu banyak tekanan yang saya hadapi, dia terus mendampingi saya.

Saya bahkan makin sadar bahwa saya dikenal sebagaimana adanya saya sekarang oleh orang-orang adalah karena dia. Kami bergaul dengan jemaat bersama. Kami mengundang orang makan di rumah bersama. Kami punya anak rohani bersama. Tanpa dia, orang akan mengenal saya sebagai orang yang berbeda dari hari ini. Maka Jeffrey yang sekarang adalah “Jeffrey-karena-Yudith” dan “Jeffrey-dan-Yudith”.

Saya juga mencoba mengingat ke belakang bagaimana Tuhan membentuk saya. Tuhan lah yang membentuk hidup saya, bukan siapapun, ya dan amin. Tapi Tuhan banyak mengerjakan itu melalui pernikahan kami. Gesekan demi gesekan mengasah kami. Di dalam melalui berbagai pergumulan dan kesulitan, kami saling menguatkan. Di dalam kelemahan, kami saling mengingatkan akan Tuhan. Kami juga saling berbagi apa yang Tuhan ajarkan kepada kami masing-masing. Waktu-waktu makan bersama sering menjadi waktu kami bersyukur kepada Tuhan dan berbagi beban dan berkat Tuhan. Kami berdoa dan menangis bersama juga tertawa dan sukacita bersama. Saya kehabisan kata-kata untuk menceritakan semuanya.

Maka apa yang bisa saya katakan sekarang?

Beberapa waktu lalu di internet beredar sebuah video, tentang pasangan muda (Travis dan Kristie) yang didandani oleh make-up artists dengan membayangkan seperti apa penampilan mereka ketika berusia 50an, 70an dan 90an. Pada waktu mereka saling memandang dengan wajah “usia 90an,” mereka menjadi emosional… wajah dan penampilan mereka sudah sangat tua. Lalu mereka ditanya, apa kira-kira kata terakhir yang akan kalian ucapkan kepada satu sama lain? Kristie menjawab: “I would want to make sure he knew how much I loved him and how important he has been to me.” Dan Travis kemudian berkata kepada Kristie, “You made me a better person. There are so many things I couldn’t be without you and will never be without you.” 
 
Video itu mendorong saya untuk memikirkan juga mengenai pernikahan saya dengan Yudith. Waktu video itu dibuat, Travis dan Kristie belum menikah dan mereka mengucapkan kalimat itu sambil membayangkan ketika mereka sudah berusia 90an dan sedang mengucapkan kata-kata terakhir mereka. Saya dan Yudith berbeda dengan mereka. Sekarang, kami sudah saling mengenal selama 23 tahun dan lebih dari 14 tahun di antaranya sebagai suami istri.

Maka setelah semua yang saya lalui bersama Yudith, setelah semua yang Tuhan kerjakan di dalam dan melalui pernikahan kami, saya tidak perlu tunggu “kata terakhir yang akan saya ucapkan,” saya in a far better position untuk bisa berkata kepada Yudith dengan tulus, “You made me a better person. There are so many things I couldn’t be without you and will never be without you.” I know that. Thank you!

Happy birthday my wife! :-)

Tuesday, June 02, 2015

Pemudi Kekasih Yesus

(Dipersembahkan bagi para pemudi Kristen)

Aku pernah mendengar sebuah khotbah yang terngiang-ngiang di telingaku sampai sekarang:
“Pemudi Kristen adalah pemudi kekasih Yesus!”

Sebagai seorang pemudi Kristen, aku pun tersentak. Betapa benarnya itu! Betapa bahagianya para pemudi Kristen karena dikasihi oleh Yesus! Tetapi, berkali-kali aku tertunduk sedih, sakit hati dan marah, ketika menyadari bahwa seringkali kami sendiri, para kekasih Yesus, yang membiarkan diri dirusak.

Aku dulu bertemu dengan dia di gereja. Seorang pemuda yang baik, rajin ke gereja dan terlibat pelayanan. Awalnya biasa saja bagiku, tetapi perhatiannya, kelembutannya, humornya, makin lama makin memikat hatiku. Akhirnya aku berkata "ya" menyambut cintanya. Awalnya pacaran kami sangat sehat. Kami bahkan banyak bicara tentang pelayanan. Tetapi kadang kami pergi berdua dan di saat sepi dia suka membelaiku. Jujur aku sangat menikmatinya. Lama kelamaan sentuhan, belaian, ciuman, menjadi semakin agresif. Hubungan kami makin lama makin jauh dan kami pun jatuh dalam dosa seksual yang paling dalam. Aku menangis dan dia pun meminta maaf. Kami berdoa dan meminta ampun ke Tuhan. Perasaanku tidak karuan setiap kali mengingat hal itu. Tapi entah mengapa, kami mengulanginya lagi.. dan lagi… Aku benar-benar ingin berhenti. Aku jijik dengan diriku. Aku marah dengan dia. Tapi aku tidak berani memutuskan hubungan itu. Hubungan kami dengan Tuhan pun semakin menjauh. Di hadapan banyak orang, kami adalah pasangan yang baik. Tetapi, itu justru membuatku semakin tertekan karena aku tahu, kami sangat munafik.

Sekian tahun aku bersama dengannya dan akhirnya… kami pun menikah. Tidak ada yang tahu kepedihan yang kurasakan pada waktu mengenakan cadar tanda kesucian, mendengar dia mengucapkan janji nikah yang sulit untuk kupercaya, dan menerima berkat dalam pernikahan kudus. Seperti apa hidupku nanti?

Itu sebabnya sangat sakit hatiku ketika baru-baru ini aku mendengar seorang pemudi kekasih Yesus bercerita:
“Dia diperkenalkan kepadaku oleh seorang teman. Dia terlihat dewasa dan bertanggung jawab. Dari perkenalan, lalu mulai sering chatting, pergi bersama teman, dan akhirnya kami pacaran. Sama seperti semua hubungan lainnya, setelah beberapa lama berpacaran, masalah di antara kami mulai muncul. Sebenarnya hampir semua hanyalah masalah kecil, kesalahpahaman, dan yah… seputar itu lah. Tapi yang membuatku terkejut adalah ketika marah, dia sering mengucapkan kata-kata kasar kepadaku. Waktu aku menegurnya, kadang dia meminta maaf, tetapi lebih sering dia membela diri. Aku tidak bisa mengerti emosinya yang meledak-ledak dan mudah marah. Belakangan ini, ternyata bukan saja mulut tapi tangan juga ikut berbicara. Sakit hatiku lebih sakit dari bekas tamparannya. Tetapi dia meminta maaf, dengan bersujud dia mohon ampun kepadaku dan berjanji tidak akan mengulanginya. Aku percaya kepadanya, apalagi kemudian dia berubah menjadi sangat baik kepadaku. Tapi ternyata peristiwa itu bukan yang pertama kali, bahkan bukan yang kedua kali… Tapi aku masih percaya dia akan berubah nanti walaupun entah kapan.”
Oh.. ingin aku berteriak kepadanya untuk memutuskan hubungan itu dan tidak membiarkan dirinya diperlakukan seperti itu.

Seakan masih belum cukup, aku mendengar juga seorang pemudi kekasih Yesus lainnya bercerita:
“Aku baru baru saja putus dengan pacarku. Sakit hati, kesedihan, membuat kesepian makin menjadi. Lalu datanglah seorang pemuda ke hidupku. Dia terlihat percaya diri, pandai bicara, dan menarik. Awalnya hanya chatting, lama kelamaan… dia makin terlihat menarik. Ah, perasaan ini melambung setiap kali dia memberi perhatian. Kesepianku tidak lagi terasa. Maka tanpa pikir panjang, dengan senang hati kuterima cintanya. Beberapa minggu berpacaran, aku terkejut ketika dia mencium bibirku. Rasanya aneh, terlalu cepat, dan ah… tidak benar. Tapi dia terlihat tenang dan yakin. Aku pun membiarkannya. Tetapi, aku lebih kaget lagi ketika tangannya semakin berani menggerayangi tubuhku. Aku tahu itu salah, tapi aku tidak berani menolak. Kami memang tidak meneruskannya lebih jauh tetapi hampir setiap kali berduaan dia akan melakukannya. Aku merasa direndahkan dan dilecehkan. Aku ingin dia berhenti melakukannya tapi aku juga menikmatinya dan itu makin membuatku merasa bersalah. Di sisi lain, aku takut dia marah lalu memutuskan hubungan ini dan aku akan merasa kesepian lagi. Apa yang harus aku lakukan?”
Cerita-cerita seperti ini yang dituturkan beberapa pemudi kekasih Yesus, dan juga dialami olehku, ya… cerita-cerita seperti inilah yang membuat aku Yesus sedih dan marah. Ingin rasanya aku berteriak kepada mereka “Jangan bodoh! Jangan hancurkan hidupmu!”

Aku ingat lagi kalimat-kalimat di dalam khotbah pendeta itu:
Wahai pemudi kekasih Yesus, tidakkah kamu mengerti betapa Yesus mengasihimu? Mengapa kamu biarkan seorang pria menghinamu, merusakmu, mengambil keuntungan darimu?
Tidak pernahkah kamu baca di Alkitab, perintah Tuhan kepada para suami adalah: “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.” (Efesus 5:25-27)
Yesus begitu mengasihimu, sehingga DIA MATI BAGIMU, demi untuk MENGUDUSKANMU dan menjadikanmu TIDAK BERCELA! Maka demikianlah Ia memerintahkan para suami untuk memperlakukanmu dan demikianlah juga kamu harus memilih dan menilai pria yang pantas untuk menjadi pasanganmu!
Wahai pemudi kekasih Yesus, tidak tahukah kamu bahwa dengan membiarkan dirimu menjadi tidak kudus dan bercela, itu mendukakan Yesus yang mengasihimu?
Wahai pemudi kekasih Yesus, tidak tahukah kamu bahwa tidak ada alasan untuk kamu mencari kasih yang palsu, bobrok dan bukan-kasih hanya karena kamu kesepian?
Yesus mengasihimu dan itu lebih dari cukup. Yesus menginginkan yang terbaik bagimu. Yesus menginginkan kamu hidup KUDUS dan TAK BERCELA, dengan atau tanpa pendamping seorang pria! DIA MATI BAGIMU untuk itu!
Izinkan aku memberikan nasihat kepadamu pemudi-pemudi kekasih Yesus. Waktu akan berlalu. Relasimu dengan dia mungkin tidak berlanjut ke jenjang pernikahan. Tetapi, luka yang ditimbulkannya kepadamu akan membekas.

Ya, waktu akan berlalu. Sekalipun relasimu dengan dia berlanjut ke pernikahan, seperti yang kualami, luka itu tetap akan membekas.  Luka itu akan terasa waktu kamu mengingat semuanya. Luka itu akan terasa waktu kamu bertemu dengan pemudi lain yang mengalami hal serupa sepertimu. Luka itu akan terasa waktu kamu sulit percaya kepada pasanganmu. Luka itu akan terasa waktu dia kasar dan tidak mempedulikan perasaanmu, apalagi waktu dia memukulimu. Luka itu akan terasa waktu dia meninggalkanmu mengejar wanita lain. Luka itu akan terasa waktu kamu menyadari bahwa dia terikat dengan pornografi, dan itulah yang membuat dia dulu begitu agresif kepadamu. Luka itu akan terasa waktu kamu harus mendidik anakmu sendiri untuk hidup dalam kekudusan.  Luka itu akan sangat terasa, waktu dia memperlakukanmu dengan tidak hormat karena kamu dulu begitu mudah dilecehkan.

Oh, aku bersyukur… Walaupun sekian lama aku juga harus menanggung bekas luka itu, Yesus sungguh mengampuni dan memulihkan aku dan suamiku. Anugrah-Nya begitu besar. Tetapi tidak semua pemudi mengalami itu.

Aku sangat mengerti bahwa kasih Tuhan tidaklah bisa dibandingkan dengan kasih manusia. Kasih Tuhan itu sempurna dan kasih manusia itu cacat. Maka tak mungkin kita menemukan kasih yang sempurna dari sesama manusia. Tetapi mengapa kita memilih kasih yang bukan sekedar cacat, tetapi rusak, bobrok, najis, bahkan sama sekali bukan-kasih!? Mengapa kita biarkan itu?

Oh, pemudi kekasih Yesus, aku berdoa supaya kamu hidup kudus dan tak bercela. Sekalipun kamu tidak menemukan pasangan di dunia ini, ingatlah bahwa kamu terikat dengan kekasihmu yang sejati di sorga. Dan jikalau kamu menemukan pasangan di dunia ini, dia haruslah orang yang MENGINGINKAN kamu hidup kudus dan tak bercela bahkan RELA MENGORBANKAN DIRI untuk menjagamu kudus dan tak bercela.

Seperti Yesus, ya… seperti Yesus.

Wahai pemudi kekasih Yesus, demi kebaikanmu sendiri, demi kasih Allah, janganlah kecewakan Yesus yang mengasihimu. Engkau adalah pemudi kekasih Yesus, carilah pasangan yang mengasihimu… seperti Yesus mengasihimu.

Monday, March 09, 2015

Redefining "Romantic" - Mr.Brown - Sweet Eighteen

Just bumped into this post from Mr.Brown http://www.mrbrown.com/blog/2015/03/18-years.html (for those who have never heard about him: Mr.Brown is known for his commentary of Singapore's socio-political scene and has been given the affectionate title of Singapore's "blogfather", and he is a Christian with a family with three kids). This post is about how he celebrated his 18th anniversary day with his wife.

I think he writes it so well and, in a way, compels us to redefine the meaning of "romantic". Enjoy the reading!

Mr. Brown: Sweet Eighteen



It was our 18th wedding anniversary. Or as we like to call it in our family, Sunday.

We had a most romantic day celebrating our 18 years of marital bliss.

Breakfast was a romantic affair of me grabbing a quick beehoon alone downstairs at the coffee shop while Joy was tasked with buying prata for my wife, as the wife got Faith and the rest of the kids ready for Sunday service.

Then lunch was another romantic meal at the Block 105 Market & Food Centre, the highlight of which was I managed to get my wife her favourite nasi lemak without too much queuing, while she fed Faith with chicken rice that Isaac queued up for (children after 10 years of age are excellent for food buying duties).

Then the wife had the romantic duty of doing the laundry plus keeping an eye on Faith, while I took Isaac with me to the office because I had work to complete. Joy had maths tuition so we had one less kid in the house, for an hour or so, which was a very welcome and romantic feeling.

At the office, I spent my Sunday working while Isaac did the English assessment book that the wife assigned him to do. Then he read a little from his book "The One and Only Ivan", that his younger sister had already completed reading some days ago. He also got to play with some of the toys in my office. This father and son briefly discussed the merits of the Suzuki Swift Bumblebee from the Takara Tomy Transformers: Alternity series of toys.

After two hours at the office with my son, I locked up the office and took him to Funan Mall, where I needed to buy some DDR3 1066 RAM for the used 2009 27-inch iMac I bought for the wife to replace her aging 2006 20-inch iMac.

That 2006 iMac was still working, but I thought she deserved something that could handle HD YouTube videos, that had a bigger screen, and a speaker that didn't go pffffft when there was just a whiff of bass.

Memory is really expensive these days, $75 for one piece of 4GB. I bought a pair (wincing at the $150 bill) so I could bump the memory in the "new" iMac from 4GB to 12GB. The wife would never know the difference but I would.

I picked up the RAM and the basic wired keyboard the wife asked for and as a treat, I let Isaac browse the toy stores at the fifth level of Funan Mall. "See only," I said to my son, "Not buy ah."

He complained a little about it but was content to look at the toys on display.

Then my Mom called and said she needed a ride home from her mahjong session, and I called my wife to let her know I would be picking Mom home then we could all have dinner together when I drove back. My wife romantically managed an "OK", the kind of distracted "OK" that came from having to deal with laundry, still-wet school shoes, and a bottle of ketchup broken by Faith. My autistic firstborn likes ketchup too much, and knows where we keep it in the kitchen.

We then took the kids and my Mom out for a romantic dinner at the kopitiam. We usually have dinner at my wife's parents' place on a Sunday but my in-laws were at some RC dinner so no 夜市人生 to watch and tweet about this time.

Halfway through the romantic family dinner, Faith spilled grape soda on herself, and we had to clean her up. The wife gave a loud "Tsk!"

And then Isaac complained a little about the lack of fries in his Fish and Chips (but ate all of it anyway). As usual, Joy could not finish her meal (it was spaghetti with Irish meatballs), and got a mild chiding from my mom about it.

"Look at you," Mom said, "So skinny and short! You are still wearing your school uniform from Primary One! In Primary Four! How are you going to grow taller without eating enough?"

"Hey, I am not a midget, ok?" Joy replied.

"Hahahahaha!" my Mom laughed heartily.

Mom went for her Sunday Qigong session and we went home after dinner. The wife started preparing the kids' school uniforms because the next day was Monday. Then I watched an older episode of local animated series, Heartland Hubby, with the kids because they are my biggest fans (I voice one of the characters, the arch enemy of the hero).

We tucked the kids into bed, then the wife said she can't seem to find her ezlink card, so I offered to change out of my pajamas, and go downstairs to look for it in the car.

While at the car, I decided to make a late night grocery run to Sheng Siong. I picked up the cereal that Joy likes, plus some toilet rolls, and a 2-litre bottle of Meiji fresh milk (because the one currently in the fridge was already past the due date. How did I know? My stomach told me a few days ago).

I know, very romantic things to buy, right? I also picked up a little something extra for the wife.

When I got home, the wife was already done with the remaining housework and was watching Luke kiss Lorelai at the gazebo in Gilmore Girls.

"I couldn't find your ezlink card in the car, dear. But I did buy some groceries. And your favourite ice-cream."

"Oooh, Magnum!" she said, and got one for herself and one for me, and we continued watch Gilmore Girls together.

Then, just as we finished our TV show and ice-creams, Faith came out of her bedroom.

"She wet herself and her bed, aiyoh," the wife said, with a tired sigh.

"You clean her up and change her pajamas, I will clean her bed and change the bedsheets, and soak the stained sheets in the kitchen toilet," I said.

It was almost midnight, a few minutes before the end of our wedding anniversary.

"That wasn't the most romantic wedding anniversary day hor?" she laughed.

"Who said?" I reply, and gave her a quick peck.

We lay in bed, staring at the ceiling lit by our bedside lamp, the room aglow with faint yellow light.

The wife turned to me and said, "There is a young lizard on the ceiling."

"It won't kachao you lah."

"But what if trips and falls on me? Like wahoohoohoooooo!"

"Don't be silly. Hanging upside down is what lizards do all day."

Then we both laughed.

Married for eighteen years, together for twenty six. This is what it comes down to. Juggling three kids, changing the adult diaper of our fourteen-year-old, and talking about a lizard on the ceiling at night.

Wouldn't trade it for anything in the world.

Tuesday, October 21, 2014

Berpakaian Dengan Sopan

Tulisan di bawah dari artikel berjudul The Lost Virtue of Modesty (silakan click untuk membaca dalam bahasa Inggris). Saya terjemahkan bebas, sedikit ringkaskan, dan edit dimana yang perlu untuk memperjelas. Saya kira apa yang dia tulis pantas untuk menjadi bahan pertimbangan dan diskusi di antara kita. Selamat membaca!


Saya tidak tahu apakah berpakaian dengan sopan (modesty) itu menarik secara seksual, tetapi saya tahu bahwa berpakaian dengan sopan itu Alkitabiah.

Salah satu tanda kekacauan zaman ini adalah banyak remaja dan pemuda yang lebih malu berpakaian dengan sopan tertutup daripada hampir tidak berpakaian. Sekalipun kita boleh menyatakan keberatan - cantik (atau tampan) bukanlah dosa, memperbaiki penampilan tidak berarti duniawi, batas antara sopan dan tidak sopan tidak selalu hitam putih - faktanya adalah Allah menganggap berpakaian dengan sopan itu kebajikan dan sebaliknya adalah kejahatan.

Di bawah ini ada lima alasan Alkitab mengapa orang Kristen seharusnya menerima berpakaian dengan sopan sebagai kebaikan yang dirancang dan diinginkan oleh Allah.

1. Berpakaian dengan sopan melindungi bagian tubuh yang pribadi. Ada paham feminisme yang berkata wanita harus bangga dengan daya tarik seksual mereka. Semua desakan untuk menutupi apa yang mereka tidak suka tutupi adalah karena paham patriarkhal (bahwa pria berhak menentukan apa yang wanita lakukan dengan tubuh mereka). Tetapi perintah dari Allah untuk menutupi tubuh bukanlah dimaksudkan untuk menghukum, tetapi untuk melindungi. Seperti yang dituliskan Wendy Shalit, “Tekanan pada para wanita untuk berfoto selfie seksi muncul dari kebudayaan yang terus menerus menganggap kesopanan itu memalukan (shame), dan tidak melihat kesopanan sebagaimana seharusnya yaitu: sebuah dorongan untuk melindungi apa yang berharga dan pribadi.” Syair yang berulang-ulang dari sang mempelai wanita – “jangan kamu membangkitkan dan menggerakkan cinta sebelum diingininya” (Kid 2:7) – adalah panggilan dari seorang wanita kepada sekelompok wanita single untuk menyimpan rangsangan seksual dan kegiatan seksual untuk waktu yang pantas, dengan orang yang pantas, di tempat yang pantas.

2. Berpakaian dengan sopan menerima bahwa tubuh kita ada di dalam komunitas. Apa artinya? Itu berarti, pikiran: “Ini adalah tubuhku. Jika aku ingin membiarkannya terbuka, itu urusanku,” walaupun kedengarannya bagus, ini melupakan bahwa tubuh kita berada di dalam jaringan relasi yang luas. Sama seperti perkataan kita, dan tindakan kita, kehendak kita, dan keinginan kita, selalu ada kaitannya dengan orang lain. Bagaimana kita berpakaian memang tidak perlu diatur oleh keinginan orang lain. Tetapi, bukanlah sikap Kristen untuk bertindak seakan kondisi kerohanian orang di sekitar kita tidak penting.

Sebelum lebih jauh lagi, saya ingin mengatakan ini sejelas mungkin: Pria bertanggung jawab untuk perzinahan mereka, untuk dosa percabulan mereka, untuk melihat pornografi, untuk nafsu, dan untuk (kiranya Tuhan mencegah) penyerangan seksual, tanpa peduli bagaimana wanita berpakaian. Alkitab tidak memerintahkan wanita untuk berpakaian dengan sopan karena pria tidak mampu menjaga celananya tetap terpasang dan menjaga pikirannya. Para pria, dengar: Jika istri Potifar terus maju dan menari dengan perut terbuka di meja dapurmu dan membuka bajumu sampai telanjang, engkau tetap tidak dibenarkan melakukan perzinahan dengan dia. Adanya pihak yang berpakaian tidak sopan tidak berarti pihak yang lain boleh tidak menahan diri.

Walaupun begitu, bukankah hukum kasih meminta supaya kita berusaha menghindari mencobai orang lain? Kalimat “memandang perempuan serta menginginkan (secara seksual)” di Mat 5:28 diterjemahkan oleh beberapa ahli (D.A. Carson salah satunya): “membuat perempuan itu menginginkan (secara seksual).” Maka, artinya, bukan tentang nafsu dalam hati pria tetapi tentang pria yang mau supaya wanita menginginkannya. Terlepas apakah kita menerima tafsiran ini atau tidak, aplikasi yang wajar adalah menganggap kalimat Yesus melarang kita memiliki sikap hati yang menginginkan (secara seksual) dan sikap hati yang mau diinginkan (secara seksual). Beberapa orang ingin melihat pornografi dan beberapa orang lain ingin menampilkan pornografi dirinya. Mungkin tidak dalam arti harfiah, tetapi ada pria dan wanita yang haus akan kuasa, perhatian, dan status yang datang karena diperhatikan dan dikejar-kejar. Sikap ini menggoda orang lain untuk berdosa dan pada dasarnya adalah dosa.

3. Berpakaian dengan sopan sesuai dengan penilaian negatif Alkitab tentang ketelanjangan di muka umum setelah kejatuhan manusia dalam dosa. Mulai dari Adam dan Hawa yang berusaha mencari daun ara untuk menutupi diri (Kej 3:10), sampai kepada ketelanjangan Nuh yang memalukan (Kej 9:21), sampai kepada orang-orang Daud yang dipermalukan dengan ditelanjangi pantatnya (2 Sam 10:4), Alkitab tahu bahwa kita mewarisi dunia yang sudah jatuh dalam dosa dimana bagian-bagian tertentu tubuh kita haruslah ditutupi. Bahkan, inilah yang dimaksud Paulus ketika dia berkata “our unpresentable parts” yang harus “treated with greater modesty” (1 Kor 12:23). (Terjemahan bahasa Indonesia sedikit berbeda).

4. Berpakaian dengan sopan sesuai dengan peringatan Alkitab untuk menghindari sensualitas. Sensualitas (Yunani: aselgeia) adalah karakteristik dari daging dan salah satu tanda dunia penyembahan berhala (Gal 5:19; Rom 13:13; 2 Kor 12:21; 2 Pet 2:2, 18). Apakah kata itu menjelaskan kapan good taste terperosok menjadi sensualitas – berapa panjang harusnya rok wanita, pakaian renang seperti apa yang boleh dipakai, atau apakah pria berotot boleh lari tanpa baju waktu udara dingin? Tidak. Tetapi pasti kita setuju bahwa tidak jarang pria dan wanita berpakaian dengan cara yang menambah corak dan perasaan sensualitas yang tersebar dalam kebudayaan kita. Jika kata aselgeia berarti kecanduan seksual, sebaiknya kita mempertimbangkan apakah di balik sikap kita, kita ingin membuat monster sensual ini kelaparan (dengan tidak memberinya makanan) atau justru ingin memuaskan dia.

5. Berpakaian dengan sopan menunjukkan kepada orang lain bahwa kita memiliki hal-hal yang lebih penting untuk ditawarkan daripada penampilan yang baik dan daya tarik seksual. Maksud dari 1 Tim 2:9 dan 1 Pet 3:3-4 bukanlah larangan untuk tampil menarik. Larangannya adalah supaya jangan berusaha keras untuk terlihat menarik dengan cara-cara yang relatif tidak penting. Pertanyaan yang ditanyakan kepada para wanita dalam ayat-ayat itu – dan ini juga berlaku bagi para pria – adalah ini: Apakah engkau akan menarik perhatian orang dengan riasan rambut, perhiasan dan pakaian seksi atau kehadiranmu di dalam ruangan akan dikenali karena karaktermu yang serupa Kristus? Pakaian yang tidak sopan memberitahu kepada dunia, “Aku tidak yakin aku punya sesuatu untuk ditawarkan yang lebih dari ini. Apa yang engkau lihat itulah yang engkau dapatkan.”

Saya ingin berkata dengan jelas: Alkitab tidak ada gambar. Tidak ada manual tentang bagaimana berpakaian pada pagi hari. Ada hal-hal berkaitan dengan kebudayaan, hati nurani, dan konteks yang pasti juga ikut menentukan. Saya tidak punya checklist untuk diperiksa sebelum engkau keluar rumah.

Tetapi jika kita percaya pada Alkitab, seluruh urusan berpakaian dengan sopan ini ada relevansinya dengan pemuridan Kristen. Tubuh kita sudah dibeli dengan harganya. Maka muliakanlah Allah dengan tubuhmu (1Kor 6.20). Artinya kita tidak memperlihatkan kepada semua orang segala sesuatu yang kita pikir mungkin bagus untuk diperlihatkan. Dan itu juga berarti kita tidak akan malu untuk menjaga hal-hal yang paling berharga tetap sebagai yang paling pribadi.

Tuesday, April 22, 2014

Biblical View of Relationship

Another talk di Young Adult Fellowship GKY Singapore dalam seri tema "Relationship".



Finding Your Right Half

Mau share talk yang saya sampaikan di Young
Adult Fellowship GKY Singapore. Saya banyak belajar dari Pdt. Paul
Gunadi untuk materi yang saya sampaikan disini.




Wednesday, August 08, 2012

Pemudi Kesayangan Allah

Tulisan ini saya temukan di blog ini (dalam versi yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diedit). Saya meminta versi bahasa Indonesianya yang ternyata dia temukan dalam sebuah milis. Dari ciri-ciri tulisannya, saya kira aslinya tulisan ini memang dibuat dalam bahasa Inggris. Entah darimana asalnya. Tapi saya menemukan bahwa tulisan ini menyampaikan pesan yang sangat kuat. Saya hanya mengedit secukupnya. Selamat membaca!

(Dipersembahkan bagi para lajang Kristen)


Pemudi kesayangan Allah, ketika aku memperhatikanmu malam ini, aku berharap dapat memperoleh kesempatan untuk bercakap-cakap denganmu. Aku memperhatikan wajahmu yang cantik sementara engkau menyanyi dan menyembah. Engkau mengingatkanku akan diriku sendiri tujuh tahun yang lalu.

Sehabis kebaktian, aku memperhatikan bagaimana engkau masuk ke dalam mobil dengan seorang pemuda yang tak mengenal Allah. Memang benar dia berada di gereja malam ini, dia bahkan maju ke depan dan menitikkan sedikit air mata.

Tujuh tahun silam aku berada di dalam keadaan seperti dirimu. Aku telah mengenal Allah sejak awal masa remajaku dan bertumbuh di bawah khotbah dan pengajaran yang diurapi Allah. Aku tak kekurangan teman-teman pemuda maupun mereka yang mengajakku pergi, seperti yang seringkali terjadi di dalam gereja dimana para pemudi jumlahnya lebih banyak dari para pemuda. Beberapa pemuda yang amat baik dan penuh pengabdian mencoba mendekatiku, namun iblis yang tak pernah lalai memperhatikanku, menunggu dengan sabar untuk menjerat jiwaku, dan ia melihatku ketika aku sedang suam-suam kuku. Aku memang masih pergi ke gereja dan memainkan accordionku dan menyanyi dan melakukan semua hal-hal yang tampak benar secara lahiriah. Namun aku tak pernah lagi punya waktu-waktu khusus dengan Allah dimana kehendakNya dan kehendakku menjadi satu.

Aku berjumpa dengan pemuda itu di tempat kerjaku. Dan tak lama kemudian, tanpa ada yang mengetahuinya, aku merasa seakan-akan aku tak dapat hidup tanpa dia. Dia tahu tentang gerejaku dan ketika ia hadir bersama denganku, ia maju ke depan, menangis, dan akhirnya aku menikahinya, padahal keluargaku dan mereka yang mengasihiku menangis dan merasakan kepedihan. Baru enam bulan kemudian aku menjadi sadar bahwa jiwaku berada di dalam bahaya dan bahwa aku membutuhkan jamahan Allah. Aku berdoa dan menemukan Allah. Lalu pertikaianpun dimulai. Dia tak mau ke gereja lagi. Aku dapat menghitung dengan jari-jariku saat-saat dimana ia pergi ke gereja selama tujuh tahun terakhir ini!

Sebelum menikahinya, pemikiran untuk hidup tanpa dia sungguh tak tertahankan. "Betapa sepinya!" pikirku. Namun sekarang ini aku baru tahu apa arti kesepian yang sesungguhnya, dan aku ingin menceritakannya kepadamu.

Kesepian itu adalah ketika aku menerima berkat Allah dan pulang ke rumah kepada seorang pria yang tak dapat berbagi rasa tentang hal itu denganku. Dia tak menaruh minat; dia sedang menonton televisi.

Kesepian itu adalah ketika aku pergi ke suatu kegiatan gereja seorang diri dan memperhatikan pasangan-pasangan muda lainnya menikmati berkat Allah bersama-sama. Aku boleh memilih, pergi sendiri atau tinggal di rumah sendiri; sebab dia punya minat yang lain.

Kesepian itu adalah merasakan adanya urgensi akan kedatangan Kristus yang sudah semakin dekat dan tahu bahwa orang yang paling engkau kasihi di bumi ini belum siap, bahkan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kepedulian.

Kesepian itu adalah melihat dua anak dilahirkan dan tahu bahwa untuk dapat memiliki pengaruh atas mereka yang bisa melebihi pengaruhnya merupakan suatu mujizat.

Kesepian itu adalah pergi menghadiri suatu Konferensi dan melihat pasangan-pasangan muda yang benar-benar bersatu dan mempunyai dedikasi terhadap pekerjaan Allah dan kemudian melihat... itu dia pemuda yang dulu mengasihimu dan berniat menikahimu! Ia sedang berkhotbah dan masih tetap belum menikah. Oh Tuhan! Tolonglah aku! Aku tak boleh memikirkannya!

Kesepian itu adalah berbaring di ranjang tanpa dapat memejamkan mata oleh karena dihantui perasaan bahwa dia telah mengkhianati kesetiaanmu. Dan kemudian datanglah kepedihan yang tak tertahankan karena mengetahuinya secara pasti. Ia tak peduli kalau aku mengetahuinya. Wanita itu bahkan meneleponku. Setelah beberapa lama, ia berusaha memutuskan hubungan dengan wanita itu. Aku bersumpah bahwa aku akan melakukan apa saja yang dapat dilakukan oleh seorang manusia untuk mempertahankan pernikahan ini. Aku akan lebih banyak mengasihi dia dan lebih banyak berdoa baginya.

Kemudian, tujuh tahun telah berlalu! Sekarang ada dua anak kecil: perempuan dan laki-laki!

Kesepian itu adalah sekarang. Anak-anakku dan aku akan pulang ke apartemen yang gelap, kosong, yang akan merupakan tempat tinggalku sampai tiba saatnya pengacara memutuskan bahwa segala sesuatu telah berlalu. Aku, yang dulunya paling takut hidup sendirian, sekarang ini menyongsong datangnya ketenangan dan kesunyian itu. Ketika aku bercermin, aku melihat bahwa tujuh tahun tidaklah terlalu mengubah wajahku namun di dalam diriku aku telah menjadi tua, dan sesuatu yang dulunya hidup dan indah sekarang sudah mati.

Tentu saja ini bukanlah kisah yang tak lazim. Namun yang istimewa adalah bahwa aku masih tetap hidup bagi Allah. Aku bersyukur bagi keluargaku dan doa-doa syafaat mereka bagiku. 

Oh, aku berdoa bagimu, pemudi kesayangan Allah! Percayalah kepadaku, sebaik apapun dia itu, betapapun dia penuh kasih dan kelembutan, engkau takkan dapat membangun suatu kehidupan yang berbahagia di atas ketidaktaatan kepada Firman Allah. Engkau lihat, apapun yang tersedia bagiku di masa mendatang, aku telah kehilangan kehendakNya yang sempurna bagi hidupku. Aku takkan pernah berhenti membayar harganya oleh karena melanggar perintah Allah! Jangan sampai hal itu terjadi padamu!

"Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?" (II Korintus 6:14)

(Diambil dari majalah Vanguard)

Sunday, June 17, 2012

Suami Istri: Bertengkar?

Tidak ada satu pasang suami istri pun yang tidak pernah bertengkar. Bahkan sejak pacaran, pertengkaran pasti sudah terjadi. Saya ingat seorang hamba Tuhan bicara dengan nada bercanda: “Kalau pacaran tidak pernah berantem, jangan kawin sama dia. Karena jangan-jangan kamu kawin sama orang bodoh.” Maksudnya dua orang dengan pikiran, kemauan, dan sifat yang berbeda, kalau normal pasti akan bertengkar.

Tapi bagaimana bertengkar? Di dalam percakapan dengan teman-teman yang akan menikah, kami sering menyampaikan bahwa harusnya kita makin ‘ahli’ dalam bertengkar. Bukan maksudnya lebih sering! Tapi makin tahu bagaimana menghadapi masalah penyebab pertengkaran, makin tahu bagaimana diri kita dan pasangan kita akan bereaksi, makin tahu bagaimana menyelesaikan masalah dengan baik, dan makin banyak hal yang akhirnya tidak menjadi pertengkaran lagi.

Waktu awal relasi kita mungkin ‘bodoh’, kita marah untuk sesuatu yang tidak sepantasnya, dan akhirnya menyesal. Kita juga ‘bodoh’ karena kita bereaksi dengan salah, dan akhirnya menyesal. Kita juga kaget menemukan pasangan kita bereaksi seperti itu (jangan lupa dia juga masih ‘bodoh’), dan akhirnya lebih menyesal lagi. Maka setelah sekian lama, apakah kita masih terus ‘bodoh’? Harusnya kita harus makin ‘ahli’ - bukan menghindari masalah tapi tahu bagaimana menghadapinya dan menyelesaikannya.

Bukan hanya itu, tapi bagaimana cara bertengkar juga sangat penting. Saya tidak tahu bagaimana dengan pasangan-pasangan lain, tapi saya dan istri, bahkan sejak pacaran, tidak pernah bertengkar dengan kasar. Kami tidak pernah memukul, mencakar, atau melakukan kekerasan fisik lain. Kami tidak pernah membanting barang, piring, gelas, handphone (mahal amat? :D). Kami juga tidak pernah pisah kamar ketika bertengkar, apalagi sampai kabur keluar rumah. Dan satu hal yang sangat penting, yang sering kami nasihatkan kepada pasangan lain, kami tidak pernah mengeluarkan kata-kata kasar waktu bertengkar. Bahkan saling membentak pun tidak pernah kami lakukan. Ada yang bilang kami terlalu lembut, “apa salahnya sih ‘nada keras’?” Tapi bukankah itu baik?

Ketika emosi, kita mungkin cenderung mengucapkan kata-kata kasar. Percayalah, sepuluh tahun yang akan datang, kita tidak akan ingat kita bertengkar karena apa, tapi kata-kata yang kasar itu masih kita ingat. Ketika emosi, kita mungkin cenderung ingin menyakiti – karena merasa kita disakiti – tapi bukankah kita harus selalu ingat bahwa orang yang di hadapan kita ini adalah suami/istri kita yang saya janji untuk kasihi seumur hidup?

Maka, bagaimana cara anda bertengkar? Bertengkarlah with love and in the love that comes from above. Dengan demikianlah, kita menunjukkan apa yang tertulis di pajangan yang tergantung di banyak rumah pasangan Kristen: CHRIST IS THE HEAD OF THIS HOUSE.

Happy birthday my dear wife! :-) It’s true, Christ was and is and will always be the Head of our family!

Tuesday, July 03, 2007

Keluarga

(Tulisan ini adalah revisi atas tulisan yang saya buat untuk kolom Dynatorial dalam buletin Komisi Pemuda 1 GKY Green Ville – Dynamagz edisi Juni 2007)

Ketika Tuhan menciptakan dunia dan segala isinya, Alkitab mencatat “Allah melihat bahwa semuanya itu baik”. Semuanya baik artinya: tidak ada kejahatan, tidak ada cacat, semua sesuai dengan kekudusan dan keindahan rancangan Tuhan. Itulah dunia yang dijadikan Tuhan.

Dunia hari ini sama sekali berbeda dengan dunia awal yang dijadikan Tuhan karena dosa sudah merusaknya. Dosa merusak segalanya dalam dunia. Dan yang saya maksud segalanya adalah, harfiah, SEGALANYA!

Itu sebabnya Allah menjanjikan langit dan bumi yang baru. Suatu dunia yang baru, suatu dunia yang kembali sesuai dengan kekudusan dan keindahan rancangan Tuhan. Atau boleh kita katakan, suatu dunia surgawi.

Tetapi sebelum sampai ke sana, Allah berulang kali menerobos kehidupan dunia dengan memberikan model kehidupan surgawi. Kemah suci dibangun dengan model yang diperlihatkan Tuhan kepada Musa. Pola ibadah orang Israel dan segala elemennya di perintahkan langsung oleh Allah dengan detil. Melalui kehidupanNya, Yesus datang ke dalam dunia menunjukkan seperti apa model kehidupan surgawi. Dan bahkan Yesus mengajar supaya kerinduan kita adalah “jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga”. Apa yang terjadi di surga kita rindukan, bukan nanti tetapi sekarang, terjadi juga di bumi.

Pola ini bisa diringkas sebagai: Creation (Penciptaan)-Fall (Kejatuhan)-Redemption (Penebusan)-Consummation (Penyempurnaan). Pada waktu Creation segalanya sempurna. Pada waktu Fall segalanya menjadi rusak. Pada waktu Consummation segalanya akan menjadi baru yaitu di surga. Tetapi hari ini kita bukan hanya berada di tengah kondisi Fall tetapi juga ada Redemption dari Tuhan. Maka ada terobosan kehidupan surgawi di tengah dunia yang jatuh ini dan ada pengharapan pembaruan, bukan nanti, tetapi sekarang.

Pola yang sama bisa kita kenakan pada keluarga.

Keluarga adalah bagian dari dunia yang dijadikan Tuhan. Di dalam keluarga, hubungan suami dan istri adalah bentuk hubungan antar manusia yang paling intim dan mencerminkan hubungan Allah Tritunggal. Hubungan antara orang tua dan anak mencerminkan hubungan antara Allah dengan anak-anakNya, yang dididik dan dikasihiNya.

Keluarga juga adalah bagian dari dunia yang dirusak kemudian oleh dosa. Dan itu sebabnya kita melihat banyak kerusakan terjadi dalam keluarga. Untuk menyebut beberapa saja: suami istri saling melukai yang menyebabkan anak juga terluka, orang tua tidak peduli bahkan menyiksa anaknya dengan kata-kata dan tindakannya, mama selalu menuntut dan membandingkan anaknya dengan orang lain, papa tidak memberikan teladan moral, dan seterusnya, dan seterusnya. Keluarga kita dan semua keluarga di dunia sudah dirusak oleh dosa. Kalau tidak ada perubahan, kerusakan itu akan terus berputar menjadi makin besar dari generasi ke generasi.

Tetapi sama seperti elemen dunia yang lain, relasi dalam keluarga juga akan dijadikan baru oleh Tuhan.

Maka hari ini, bukan saja sebagai dorongan, tetapi seharusnya sebagai perintah: “Rindukanlah pembaruan itu!” Dan rindukanlah itu mulai terjadi sekarang juga. Kita memang belum mencapai Consummation, tetapi kita juga bukan hidup dalam kondisi Fall saja. Kita memiliki Redemption!

Kita bisa memulai pembaruan surgawi itu hari ini juga. Paling tidak, kitalah yang mulai menghadirkan pola relasi surgawi itu dalam keluarga kita. Gumulkanlah apa yang Tuhan mau kita kerjakan dalam keluarga kita. Bagaimana harus berkata-kata dan bersikap pada orang tua, suami/istri, anak kita? Bagaimana mendoakan dan mengasihi mereka? Bagaimana terang Tuhan yang ada dalam hati kita bisa bercahaya dalam kegelapan dan kerusakan karena dosa?

Keadaan mungkin tidak akan berubah karena kita belum sampai ke Consummation. Masalah yang kita hadapi dalam keluarga mungkin akan tetap sama atau bahkan bertambah berat. Tetapi doa yang kita panjatkan, kasih dan kebenaran yang memancar dari hidup kita, kuasa Redemption yang kita alami dalam Kristus, tidak akan membuat segalanya persis sama karena mulai ada pola relasi surgawi dalam keluarga kita.

Tuhan memberkati keluargamu!