Showing posts with label k. Personal. Show all posts
Showing posts with label k. Personal. Show all posts

Tuesday, November 21, 2017

Baptisan 191117

Salah satu sukacita besar yang saya alami dengan menjadi seorang pendeta adalah ketika melakukan baptisan. Hati saya selalu sangat bersyukur dan terharu melihat orang-orang yang memberi diri untuk dibaptis.

Saya tahu hidup Kristen tidak akan mudah. Mereka yang dibaptis tidak akan luput dari ujian dan pencobaan. Bahkan mereka pasti akan mengalami banyak jatuh bangun. Hidup sebagai anak Tuhan di tengah dunia yang membenci Tuhan pastilah tidak mudah. Hidup sebagai anak Tuhan di tengah dunia dimana kuasa kegelapan mengintai pastilah sulit. Memulai hidup baru setelah sekian lama berada di hidup yang lama pastilah berat.

Tetapi, baptisan adalah peristiwa sukacita. Bagi Martin Luther, itu seperti mengenakan “cincin kawin.” Baptisan adalah saat dimana kita menyatakan “sumpah setia” kita kepada Tuhan, di hadapan Tuhan dan semua orang. Itulah juga saat dimana kita dimeteraikan oleh Tuhan sebagai milik Kristus. Oh, how wonderful event it is!

Bulan Juli sampai November tahun ini saya ikut membimbing kelas katekisasi dewasa di GKY Green Ville. Hari minggu lalu, ada 58 orang yang menerima baptisan dewasa/sidi (27 di antaranya dari kelas katekisasi remaja) dan 8 orang yang atestasi (pindah keanggotaan gereja) ke GKY Green Ville.

Walaupun kali ini bukan saya yang melayani baptisan/sidi, tapi selama 4 bulan beberapa kali mengajar mereka, Retreat bersama mereka, sering chat dan rapat mengenai mereka, membuat saya merasa took a small part in their journey. I'm happy for them.

With some of them :-)

Saya juga bersukacita melihat keluarga iman yang terbentuk di gereja. Bukan hanya keluarga dari mereka yang menerima baptisan/sidi yang datang dan bersukacita. Para mentor kelompok di kelas katekisasi dewasa juga sengaja datang, ikut mendoakan, dan memberikan selamat. Para pembimbing remaja dan anak-anak remaja juga ikut datang menyambut teman-temannya yang menerima baptisan/sidi. I really thank God for that.

Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.  Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. (Kolose 2:6-7)

Monday, December 28, 2015

Refleksi Akhir Tahun 2015

Beberapa hari lagi kita akan sampai di penghujung tahun 2015.

Setiap kita pasti mengalami hal yang berbeda di sepanjang tahun 2015. Suka dan duka, sehat dan sakit, keuntungan dan kerugian, mendapatkan dan kehilangan,… variasinya tidak terbatas. Peristiwa demi peristiwa sudah terjadi. Di satu sisi, semua itu sudah menjadi masa lalu. Sudah lewat. Tetapi, di sisi yang lain, kita perlu menyadari dan mengakui bahwa semua itu masih mempengaruhi kehidupan kita sampai sekarang.

Sakit yang kita alami, kerugian ekonomi yang kita terima, anugrah besar yang kita nikmati, pelajaran tentang kehidupan, sukacita yang kita rasakan, kepahitan hidup, luka hati, semuanya ikut andil membentuk kita. Pikiran dan emosi kita diubah oleh semua itu. Maka bagaimanapun juga, peristiwa di masa lalu itu meninggalkan jejak dalam hidup kita di saat ini dan juga masa depan. Pertanyaannya apa yang harus kita lakukan dengan semua itu?

Membawa semua yang kita terima ke hadapan Tuhan dan bersyukur adalah hal yang sulit. Kita cenderung lupa untuk bersyukur dan mudah untuk berkata “kekuasaanku dan kekuatan tangankulah” yang membuat aku memperoleh semuanya.  Tetapi, membawa ke hadapan Tuhan semua kelelahan, kepahitan, kesedihan, yang sudah kita alami dan mempengaruhi kita, seringkali lebih sulit.

Minggu lalu saya berkhotbah di GKY Jemaat Green Ville dari Yohanes 4:1-42. Saya pernah berkhotbah dari bagian itu di tempat lain walaupun tidak sama persis (lihat tulisan saya tentang Mengulang Khotbah di sini). Bukan saja saya mengurangi dan menambahkan di sana-sini, tetapi juga ada penekanan-penekanan yang berbeda. Maka khotbah itu, bagi saya pribadi, fresh. Bagian Alkitab itu berbicara lagi kepada saya sendiri – dengan cara yang berbeda.

Yesus menawarkan air hidup! Yesus berjanji barangsiapa yang meminum air hidup yang Dia berikan itu tidak akan haus lagi. Dia menggenapi janji itu tidak dengan meniadakan kemungkinan untuk kita haus. Tetapi Dia menggenapinya dengan menjadikan air hidup itu mata air dalam diri kita yang terus menerus memancar sampai ke hidup yang kekal.

Maka setiap kali haus, yang perlu kita lakukan adalah mengaku haus, datang kepada-Nya minta dipuaskan, dan membiarkan Dia memuaskan kita lagi dan lagi. Air hidup itu ada di dalam diri kita! Roh Kudus ada di dalam kita. Kuasa kehidupan yang selalu menopang kita ada di situ. Kekuatan tak terhingga untuk mengubah kita ada di situ. Penghiburan yang terindah ada di situ. Jaminan yang terkuat bahwa Dia akan menuntun kita ada di situ. Maka, lagi dan lagi, kita hanya perlu mengaku haus, datang kepada-Nya dan dipuaskan.

Berapa sulitnya itu? Sulit! Kita sulit untuk mengaku haus dan datang ke Tuhan. Mudah untuk kita menangis. Cepat untuk kita berteriak. Tetapi datang kepada Tuhan dan HANYA meminta dipuaskan oleh-Nya (bukan oleh yang lain), adalah hal yang sangat sulit. Membutuhkan kerendahan hati. Membutuhkan pertobatan.

Terakhir, meminjam judul buku John Piper (“Don’t Waste Your Cancer”), saya ingin mengingatkan “Don’t Waste What You’ve Been Through”. Jangan sia-siakan pengalaman pahitmu. Jangan sia-siakan sakit hatimu. Jangan sia-siakan tangisanmu.

Kita menyia-nyiakannya jika kita hanya berusaha melupakannya tanpa bertobat (walaupun ya, kita perlu meninggalkannya di belakang). Kita menyia-nyiakannya jika kita hanya menjadi orang yang sakit hati dan penuh amarah. Kita menyia-nyiakannya jika semua itu merusak hidup dan masa depan kita. Don’t waste them!

Ketika semua kepahitan, luka, dan tangisan, menjadi cambuk yang memacu kita hidup lebih baik, menjadi arang yang membakar kita berkobar bagi Tuhan, menjadi minyak yang mengobati luka orang lain, maka kita tidak menyia-nyiakannya.

Bagi saya, tahun 2015 adalah tahun dengan warna kelabu terbanyak dalam hidup saya. Pada waktu saya merenungkan kembali Yohanes 4:1-42 itu, saya menyadari bahwa saya sedang sering dan mudah haus. Saya memang pernah meminta dan menerima air hidup yang ditawarkan Yesus – ketika saya sepenuhnya mengakui Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat saya. Air hidup itu sudah memuaskan dahaga jiwa saya. Tetapi, saya pun haus lagi. Maka sebelum berkhotbah, berkali-kali saya menundukkan kepala, menadahkan tangan dan berdoa, “Tuhan, aku haus, puaskan aku lagi”.

Saya juga tidak ingin menyia-nyiakan semua warna kelabu itu. Saya mengingat lagi semua yang terjadi dan saya berdoa supaya semua tidak sia-sia. Ada janji yang saya ucapkan kepada Tuhan.

Dua hari lalu saya dan istri berjalan kaki cukup jauh, lebih dari 3 km, dan sambil berjalan kami banyak membicarakan apa yang kami alami di tahun 2015 ini. Lalu kami bernyanyi (tentunya dengan suara pelan :-) di jalanan)… “Ku tahu Bapa p’liharaku, Dia baik, Dia baik, ku yakin Dia s’lalu sertaku, Dia baik bagiku. Lewat badai cobaan, semuanya mendatangkan kebaikan. Ku tahu Bapa p’liharaku, Dia baik bagiku.”

Sambil menyanyi saya terharu… betul Tuhan baik. Kekuatan yang Dia berikan untuk kami berjalan dan terus berjalan selalu cukup. Ya, cukup. Dia juga memberikan sukacita, warna-warna cerah, di sepanjang perjalanan itu. Selalu ada bright moments yang mengingatkan bahwa hidup tidak selalu kelabu. Bahkan Dia memberikan banyak hal yang tidak sepantasnya kami terima. Ya, kami tidak ingin melupakan itu.

Kemurahan-Mu, ya Tuhan, sungguh lebih dari hidup. Maka syukur kami persembahkan lagi kepada Tuhan.

Wednesday, November 18, 2015

What Kind of Life Do I Want to Live?

Saya baru saja kembali dari rumah doa di Lembang. Saya pergi kesana to iron out the wrinkles in my heart. Setibanya di sana saya langsung masuk ke kamar doa. Setelah sekitar satu setengah jam, saya memutuskan untuk berjalan-jalan di taman.

Seorang tukang kebun yang sudah lama bekerja di situ mengenali dan menyapa saya dengan ramah. Tiba-tiba dia bertanya, “Bapak tahu kalau Ibu sudah meninggal?”

Pikiran saya langsung teringat pada seorang ibu pengelola rumah doa ini. Saya mengenalnya karena dulu sering telpon untuk book tempat lalu beberapa kali bertemu dengannya di rumah doa. Walaupun tidak terlalu kenal, tapi dia selalu menyambut saya seperti sudah lama kenal. Belakangan melalui berbagai peristiwa saya jadi tahu sekelumit kisah hidupnya. Dia seorang wanita yang hidupnya penuh kesulitan tapi tegar, beriman, dan hidupnya sangat menjadi berkat bagi banyak orang. Rumah doa itu pun lahir dari kerinduan dan beban dia. Lalu akhirnya saya mendengar berita dia sakit dan akhirnya meninggal.

Maka saya menjawab “ya, saya tahu” kepada tukang kebun itu. Lalu dia menghampiri saya dan sambil berjongkok dia bercerita bahwa waktu itu si Ibu sempat bilang mau ke Singapore. Bagi dia, waktu itu, si Ibu tampaknya baik-baik saja. Tiba-tiba berita itu tiba dan dia sempat tidak percaya. Lalu dengan muka muram dia bilang, “Kita kehilangan pak… dia orang baek banget… susah cari orang baek begitu. Dia sangat sosial, dia pernah minta saya bikin daftar penduduk di kampung di atas yang perlu dibantu. Dan dia terus bantu”.

Lalu dia berkata bahwa dia senang waktu mendengar jenazah si Ibu akan dibawa pulang ke tanah air. “Dulu Ibu pernah bilang kalau dia meninggal, dia mau jenazahnya dipikul sama anak-anak rumah doa (karyawan). Saya pengen penuhin pesannya”. Kemudian dia bercerita bahwa waktu pemakaman, di kuburan sangatlah ramai. Dengan wajah berduka dan dengan lirih dia berkata, “saya nggak percaya… cepet banget… Ibu orang baek.”

Di tengah rumitnya dan berbelit-belitnya pikiran saya, percakapan singkat itu memberikan kesegaran tersendiri. Saya jadi diingatkan kembali what kind of life do I want to live?

James Dobson pernah mengumpamakan hidup seperti permainan monopoli. Waktu bermain, semua bisa serakah, berebut uang, berusaha mengalahkan lawan, bersaing membeli rumah dan tanah, sambil tertawa-tawa puas ketika menang. Tapi setelah permainan selesai, semua harus kembali masuk ke kotak. Semua yang tadinya begitu berharga, tidak ada lagi artinya. Kesenangan karena menang pun tidak ada lagi nilainya. Tapi bagaimana menjalani permainan tadi bersama orang-orang lain, itulah yang bernilai.

Sebelum berangkat ke rumah doa, saya secara acak membawa satu buku dari perpustakaan untuk dibaca di sana. Mau tahu judulnya? Our Greatest Gift: A Meditation on Dying and Caring (Henri J. M. Nouwen). Pas banget!

Nouwen melayani di komunitas penyandang cacat mental dan dia berkata ada banyak hal yang tidak bisa dilakukan mereka seperti orang di luar komunitas mereka. Ada yang tidak bisa mendengar, tidak bisa berhitung, tidak bisa membaca, ada yang tidak bisa makan atau mandi sendiri, dan ada yang sama sekali tidak bisa apa-apa. Mereka sadar bahwa hidup akan semakin berat seiring dengan bertambahnya usia. Tetapi bukankah semua itu juga dialami oleh orang-orang yang “sehat” ketika menjadi tua? Pada waktu muda kita mungkin berbeda, ada yang bisa ini dan itu, ada yang dapat ini dan itu, dan ada yang tidak bisa dan dapat apa-apa. Tetapi ketika tua, kita semua akan semakin mirip. Kita sama-sama akan bergantung kepada orang lain. Sama-sama tidak bisa ini dan itu. Hidup kita adalah dari dependence (masa kecil) ke dependence (masa tua). Sampai akhirnya kita akan persis sama: Meninggal! Maka bagaimana kita hidup, di dalam keterbatasan masing-masing, itulah yang bernilai.

Hidup memang penuh dengan kesulitan. Maka kita berjuang - kita berusaha dengan segala cara untuk mengatasi kesulitan. Ditambah lagi manusia lapar untuk menjadi signifikan (hunger for significance). Maka dalam usaha mengatasi kesulitan, kadang kita menyusun strategi untuk mengalahkan orang lain dan tertawa puas ketika menang. Sebaliknya kadang kita merasa terpukul ketika kalah. Akhirnya kita lupa apa yang bernilai di dalam hidup kita dan apa yang sebetulnya harus kita kejar. Kita hanya sibuk memuaskan kelaparan ego kita.

Saya teringat sebuah film seri televisi “Bu Bu Jing Xin” (步步惊心) yang saya tonton dulu di Singapore. Ceritanya adalah tentang perebutan kekuasaan di antara anak-anak kaisar Kangxi. Belasan pangeran itu sejak kecil bersama-sama, main kuda bersama, berbincang bersama, sampai akhirnya mereka makin dewasa dan berebut kekuasaan. Pangeran yang ke-4, dengan segala cara, akhirnya berhasil menjadi kaisar. Saudaranya yang setia kepadanya sudah meninggal. Saudara-saudaranya yang melawan dia sudah disingkirkan dan meninggal. Satu persatu saudaranya sudah tiada. Dia sudah “menang”.

Lalu ada satu adegan dimana dia berdiri sendirian di istana sambil memandang halaman yang luas. Kemudian dengan wajah yang datar dia berkata, “mereka semua sudah tidak ada, hanya tinggal aku sendirian”. Saya kira sutradara film itu sengaja menghadirkan adegan itu dengan setting seperti itu, istana yang kosong, tidak ada lagi keramaian masa lalu, dan dia sendirian. Seakan bertanya kepada kita: “Lalu apa?”

Suatu kali nanti kita akan memandang ke belakang dan melihat semua yang pernah kita dapatkan atau menangkan dan bertanya, “Lalu apa?” Bahkan pertanyaan itu pun sudah tidak relevan ketika kita meninggal.


Ada banyak doa yang saya panjatkan di sana. Tapi, somehow, perenungan akan kematian dan kehidupan itu menyegarkan hati saya kembali. What kind of life do I want to live?

Thursday, July 02, 2015

Memasuki "Second-Half" Tahun 2015

Saya ingat di akhir tahun 2014, saya berkhotbah di GKY Green Ville dari kisah Daud dan Goliat.
Waktu itu saya mengajak jemaat menatap ke depan, ke tahun 2015, bersama dengan seluruh Goliat-nya di sana. Menatapnya, menghadapinya dan memenangkannya bersama dengan Tuhan.

Sekarang setengah tahun 2015 sudah berlalu. Saya merenungkan apa yang saya pribadi alami dan saya sadar bahwa selama setengah tahun ini saya sendiri sudah bertemu dengan  Goliat, bukan 1, bukan 2, tetapi banyak. Saya pun ngos-ngosan dibuatnya. Maka saya merenungkan kembali kisah Daud dan Goliat dan Firman Tuhan kembali berbicara kepada saya.

Saya yakin selama setengah tahun ini, bukan hanya saya tetapi banyak dari kita yang sudah kelabakan menghadapi Goliat demi Goliat. Itu sebabnya, minggu ini di dalam kebaktian GKY Singapore, di minggu pertama di paruhan kedua tahun 2015, saya akan kembali berkhotbah dari kisah Daud dan Goliat. Saya berdoa supaya Tuhan sekali lagi mengajar saya dan juga jemaat.

Pagi ini di dalam saat teduh pribadi, saya begitu ingin mendapat kekuatan dari Tuhan, saya ingin merasakan Tuhan menopang saya, dan tiba-tiba saya ingin menyanyi. Saat itulah saya teringat akan lagu ini:

Tuhan, hanya kepadaMu,
ku dapat s’lalu berharap
Kau takkan pernah membiarkan
ku bergumul sendirian

Di dalam kelemahanku,
kuasaMu jadi sempurna
Kau takkan pernah tinggal diam
untuk memberi pertolongan

Reff:
Tuhanku berkuasa untuk melakukan perkara yang besar

Dia ajaib bagiku
Tuhanku berkuasa untuk memberikan kemenangan besar
di dalam hidupku

Maka saya pun berkata: "Amin!"

Tuesday, January 06, 2015

Starting 2015

It's been 6 days into 2015 now! Time flies real fast and the life of human being is like a vapor!

Setiap kali memasuki tahun yang baru, selalu muncul harapan yang juga baru. Pernah berpikir apa hubungannya? Aneh bukan? Perasaan manusia sangat dipengaruhi oleh "tonggak penanda waktu". Kita selalu ingin ada penanda dalam perjalanan hidup. Kita selalu ingin merasa ada sesuatu yang sudah selesai dan sekarang memulai lagi yang baru. "Tonggak penanda waktu" itulah yang dirayakan. Kalaupun kita tidak punya "pergantian tahun" atau "pergantian bulan" dan tanggalan terus berjalan mulai dari tanggal 1 terus sampai tanggal 735984 terussss begitu sampai dunia selesai, saya yakin manusia akan membuat "tonggak penanda waktu" sendiri! Mungkin tiap tanggal kelipatan 100 akan dirayakan, lalu kelipatan 500 dirayakan besar-besaran, dst :-) Manusia tidak mungkin bisa hidup tanpa "tonggak penanda waktu."

Itulah sebabnya pergantian tahun selalu dirayakan. Rasanya ada satu periode besar yang sudah dilewati dan sekarang memasuki periode yang baru, yang selalu identik dengan kesempatan baru, lembaran baru, harapan baru.

Selama tahun 2014, berulang kali di berbagai kesempatan, ketika ditanya apa yang ingin didoakan, saya selalu menjawab: "Supaya saya hidup dalam holiness dan humbleness." Sesederhana itu. Tapi juga sesulit itu. Tetapi, somehow, saya betul-betul menyadari anugrah Tuhan yang menopang hidup saya. Saya percaya doa demi doa yang dipanjatkan untuk saya tidaklah sia-sia. Maka saya masih akan minta didoakan hal yang sama di tahun 2015 :-) Saya berharap di akhir tahun 2015 nanti, saya bisa melihat lebih jelas lagi karya Tuhan dalam hidup saya. Itu harapan saya di periode yang baru ini.

Selama tahun 2014, studi saya berjalan tidak buruk-buruk amat walaupun juga tidak bagus-bagus amat. Kadang berharap supaya saya jauh lebih pintar dari sekarang ini. Kadang berandai-andai kalau saja saya memulai studi doktoral ini 10 tahun yang lalu waktu sel-sel otak masih jauh lebih lincah dan banyak. Tapi mungkin yang saya butuh - dan bisa - lakukan adalah lebih konsentrasi dan bekerja lebih keras. Itu juga harapan saya di periode yang baru ini.

Selama tahun 2014 juga ada banyak hal yang Tuhan ajarkan kepada saya. Kadang saya merasa Tuhan mengulang-ulang pelajaran yang sama kepada saya. Di satu sisi saya bersyukur untuk kesabaran Tuhan mengajari saya, di sisi lain sedih juga karena itu berarti saya tidak lulus-lulus dari pelajaran yang sama. Saya ingin naik kelas - dalam banyak hal. Itu juga harapan saya di periode yang baru ini.

Terakhir, selama tahun 2014, kita dikejutkan dengan beberapa peristiwa hilangnya atau jatuhnya pesawat penumpang. Di penghujung tahun 2014, giliran pesawat Air Asia. Doa saya bagi keluarga korban. Peristiwa-peristiwa seperti itu mengingatkan saya betapa fragile-nya manusia. Setiap saat, kapan pun, lewat cara bagaimana pun, nyawanya bisa melayang dan hidupnya di dunia berakhir. Life is like a vapor! Betapa pentingnya bagaimana kita hidup.

Tadi sore, Tuhan memunculkan pelangi-Nya di dekat TTC.


Sekali lagi Tuhan mengingatkan saya akan arti kesempatan baru, lembaran baru, harapan baru, seperti yang pernah diberikan-Nya kepada manusia pada zaman setelah air bah. Pelangi melambangkan relasi yang baru antara manusia dan Pencipta-nya. Pelangi menjadi simbol kemurahan dan damai Allah setelah badai dan air bah menerpa manusia. Pelangi menenangkan kita bahwa Allah baik dan akan melakukan kebaikan bagi kita. Thanks be to God!

Let's start this 2015!

Friday, November 07, 2014

Sharing: Membaca Kitab Kejadian

Di awal bulan Oktober saya menulis tentang membaca ulang Alkitab dengan menggunakan Parallel Bible NASB-The Message. Hari ini saya baru menyelesaikan kitab Kejadian. And I love this book so much – Genesis!!!

Kitab Kejadian selalu menarik dan menyenangkan untuk dibaca. Bukan hanya karena cerita-cerita di dalamnya memberitahu kita cara pandang Tuhan akan terjadinya dunia, masuknya dosa ke dalam hidup manusia, penyebaran dosa dan air bah, lalu kisah tentang para patriarkh Israel: Abraham-Ishak-Yakub dengan segala intrik-intrik di dalamnya, dan akhirnya kisah tentang Yusuf yang sangat panjang (14 pasal!). Tetapi, juga karena penulisnya sangat.. sangat.. mahir menceritakannya.

Ada satu pengalaman unik ketika membaca kitab ini. Waktu sampai pada kisah tentang Yusuf bertemu dengan saudara-saudaranya, tiba-tiba saya menangis terharu, padahal lagi di perpustakaan!!! (untung nggak ada yang lihat) :-)

Beberapa hal yang mungkin menolong saya membaca kitab Kejadian: Pertama, saya membaca kitab ini sambil kadang membayangkan secara visual. Mungkin beberapa film Alkitab yang pernah saya tonton menolong untuk itu :-) Kedua, kali ini saya membacanya dengan Parallel Bible NASB-The Message. NASB adalah versi terjemahan Alkitab yang cenderung literal (saya menyukai terjemahan ini) dan The Message adalah terjemahan dalam bentuk parafrase. Kombinasi ini membuat saya kadang memperhatikan hal-hal yang dulu tidak pernah saya perhatikan. Kalimat-kalimat dalam The Message kadang memberikan nuansa tersendiri.

Dua kesan terbesar yang saya dapat ketika membaca ulang kitab Kejadian: Betapa dahsyatnya dan betapa besar kasihnya Tuhan!

Kejadian 1-11 adalah bagian yang menceritakan primeval history. Di sana saya merenungkan lagi siapa manusia di hadapan Tuhan. Tuhan yang besar bukan hanya menciptakan kita tetapi juga menyediakan semua yang kita butuhkan dan mengasihi kita, tetapi kemudian kita khianati dan kita lawan. Dengan sangat mudah Dia bisa menghancurkan seluruh dunia atau meninggalkannya. Tetapi – we will never know why - Dia memilih untuk terus memelihara kelangsungan dunia dan manusia, dan karena itulah Dia harus terus menanggung beban melihat dosa manusia dan dilawan oleh manusia.

Kejadian 12-50 menceritakan bagaimana Allah mulai menenun keselamatan bagi manusia lewat satu orang: Abraham. Bagaimana kemudian Tuhan ikut campur dalam hidup manusia, di satu sisi membiarkan berbagai dinamika (termasuk dosa) terus terjadi, di sisi lain tangan-Nya tidak pernah lepas menopang dan mengarahkan. Tuhan, seperti orang yang sedang berjalan di atas tali, begitu beresiko, tetapi tak pernah jatuh! Allah mengambil resiko besar karena rencana-Nya ditaruh di atas pundak manusia yang lemah, tetapi Allah tak pernah dan tak akan gagal.

This is the story of the world and humanity. This is the story of God’s people. 
This is His story. How great Thou art!

Wednesday, October 01, 2014

Welcoming October: New Bible Reading Plan!

1 Oktober! 9 bulan sudah berlalu di tahun 2014. Tinggal 3 bulan lagi sebelum kita memasuki 2015. Time flies really fast!!! What have I done in the past 9 months?

Kemarin saya baru selesai membaca ulang Alkitab dari Kejadian-Wahyu. Rencana awalnya saya ingin menyelesaikannya dalam 2 tahun, tetapi akhirnya molor 3 bulan lebih :-)

Selama bertahun-tahun saya sudah berkali-kali mengganti metode saat teduh saya. Saya pernah menggunakan buku saat teduh: Renungan Harian, Santapan Harian, Encounter With God - yang terakhir ini sangat bagus!!! Saya pernah menggunakan Alkitab bahasa Indonesia saja tanpa buku renungan. Saya pernah menggunakan Alkitab bahasa Inggris saja (beberapa versi). Saya pernah menggunakan buku tafsiran, 1 buku untuk 1 kitab dalam PB, walaupun tidak selesai tapi lumayan hampir habis. Beberapa tahun belakangan ini saya hanya menggunakan Alkitab bahasa Inggris saja tanpa buku renungan ataupun tafsiran.

Tempat saya ber-saat teduh pun terus berganti-ganti. Saya pernah menikmati saat teduh dengan duduk di teras rumah (tentunya di Jakarta) dengan segelas kopi di tangan :-) Saya pernah menikmati saat teduh di pinggir kolam renang, di taman, di perpustakaan, di macam-macam tempat.

Tidak jarang saya mendengar orang Kristen mengatakan bosan dengan saat teduhnya. Pertanyaan saya selalu adalah, "Lalu kenapa tidak mengganti metodenya?" Metode yang paling umum dilakukan orang Kristen adalah menggunakan buku renungan dan caranya pun sangat buruk: (1) Doa super singkat, (2) Baca ayat Alkitab yang tertulis di situ cepat-cepat (kadang memang hanya satu atau beberapa ayat), (3) Baca renungan yang berupa cerita sederhana, (4) Doa super singkat lagi. Seringkali semuanya dilakukan di kendaraan umum atau di kantor dalam suasana yang sangat tidak teduh! Sounds familiar? Tidak heran kalau bosan! "Saat teduh" adalah saat untuk teduh - dengan Tuhan. Ada waktu mendengar suara-Nya lewat Alkitab, ada waktu untuk merenungkan hidup di hadapan-Nya, dan ada waktu untuk bicara dengan-Nya dalam doa. Bukan sambil lalu, bukan asal-asalan, tapi dengan nikmat dalam keteduhan. Metode apa saja boleh digunakan untuk menolong kita ber-saat teduh.

Hari ini, tepat 1 Oktober 2014, saya memulai kembali membaca ulang Alkitab. Kali ini saya menggunakan Parallel Bible: New American Standard Bible - The Message. New American Standard Bible adalah terjemahan modern yang cenderung literal tapi tidak kaku. Saya pernah menggunakannya dulu dan saya menyukainya. The Message, yang dikerjakan oleh Eugene Peterson selama 10 tahun, adalah terjemahan Alkitab dalam bentuk parafrase. The Message memang tidak bermaksud menjadi terjemahan Alkitab yang sangat akurat, tetapi berusaha mengkalimatkan ulang Alkitab untuk menekankan pesannya. Seperti berkhotbah langsung melalui pembacaan Alkitab!



Kali ini saya tidak ingin membaca terlalu banyak setiap harinya. Saya ingin lebih menikmati Alkitab sedikit demi sedikit. Maka saya tidak memasang target kapan harus selesai, walaupun perkiraan saya adalah 3 tahun atau kurang sedikit.

May God bless me, guide me, and strengthen me through His Holy Word!

Friday, September 05, 2014

Belajar dari Eugene Peterson dan Marva Dawn

Bagi mereka yang cukup teliti mendengarkan khotbah saya, pasti tahu akan kekaguman saya pada Eugene Peterson dan Marva Dawn. Saya seringkali mengutip kalimat mereka di dalam khotbah maupun di dalam pembicaraan informal.

Saya menyukai pola berpikir Eugene Peterson, kritis, mendalam, dan mengejutkan! Tulisannya kadang tidak mudah untuk dimengerti karena dia sangat ahli menggunakan bahasa untuk membangkitkan imajinasi. Maka waktu membaca, sering saya harus berhenti dan merenung dulu baru melanjutkan. Bahkan kadang setelah lewat beberapa waktu baru semua terlihat ‘nyambung’ bagi saya.

Saya juga menyukai analisa yang tajam sekaligus pastoral dari Marva Dawn. Marva tidak
menggembalakan gereja manapun tetapi selain pelayanan menulis, mengajar dan berkhotbah, dia terlibat pelayanan secara aktif dalam gereja. Dia pernah melatih paduan suara, mengajar sekolah minggu, dan membina anak-anak remaja dan pemuda. Maka apa yang dia bicarakan dan contoh yang dia berikan sangatlah ‘membumi’.

Beberapa tahun yang lalu saya mulai menyadari bahwa sangatlah banyak (atau bahkan hampir semua) konsep-konsep penting yang saya pegang tentang pelayanan, penggembalaan, bahkan spiritualitas, ternyata berasal dari mereka. Saya tidak pernah belajar semua itu secara formal di sekolah teologi. Saya juga tidak punya role model yang cukup kuat untuk saya bisa belajar mengenai semua itu. Saya bahkan kesulitan menemukan teman diskusi yang pas untuk bicara mengenai semua itu. Tetapi, saya belajar pertama-tama justru melalui membaca banyak buku, khususnya buku mereka berdua.

Saya tidak pernah studi formal di bawah mereka. Saya tidak pernah mengenal atau bahkan bertemu dengan mereka. Tetapi, tanpa mereka tahu dan tanpa saya sadari, mereka sudah menjadi "guru" dan "teman diskusi" bagi saya. Kalau bertemu dengan mereka, saya ingin berkata: “Terima kasih” (dengan bahasa Inggris kalau ketemu di dunia atau dengan bahasa sorgawi kalau ketemu di sorga).

Belum semua buku mereka saya baca. Di bawah ini adalah daftar buku mereka yang, seingat saya, sudah saya baca habis atau paling tidak sebagian besarnya:

Eugene Peterson dan Marva Dawn
The Unnecessary Pastor: Rediscovering the Call

Eugene Peterson
The Contemplative Pastor: Returning to the Art of Spiritual Direction
Reversed Thunder: The Revelation of John and the Praying Imagination
Subversive Spirituality
A Long Obedience in the Same Direction: Discipleship in an Instant Society
Eat This Book: A Conversation in the Art of Spiritual Reading
Leap Over the Wall: Earthy Spirituality for Everyday Christians
Run With the Horses: The Quest for Life at Its Best
Working the Angles: The Shape of Pastoral Integrity
Where Your Treasure Is: Psalms that Summon You from Self to Community
The Pastor: A Memoir

Marva Dawn
I’m Lonely Lord – How Long?: Meditations on the Psalms
Truly the Community: Romans 12 and How to be the Church
Sexual Character: Beyond Technique to Intimacy
The Sense of the Call: A Sabbath Way of Life for Those Who Serve God, the Church and the World
Keeping the Sabbath Wholly: Ceasing, Resting, Embracing, Feasting
Reaching Out Without Dumbing Down: A Theology of Worship for This Urgent Time
Powers, Weaknesses and the Tabernacling of God

Sebetulnya belajar hanya dari membaca buku tidaklah terlalu ideal karena buku berbeda dengan teman diskusi yang hidup. Tetapi, paling tidak, setelah kita membaca buku, merenungkannya, mencoba menjalankannya, kemudian ditambah dengan menemukan di sana-sini "guru" dan "teman diskusi" yang jauh dari sempurna, we will still learn a lot of things!

NB: Btw, saya baru sadar sangat sedikit dari daftar buku-buku di atas yang sudah saya review di blog ini.

Wednesday, October 09, 2013

Membaca Alkitab Bahasa Indonesia VS Bahasa Inggris

Ada banyak keuntungan membaca Alkitab dalam bahasa Inggris. Kita akan terbiasa dengan istilah grammar dalam bahasa Inggris yang jauh lebih kompleks dari bahasa Indonesia. Ketika terjemahan Alkitab bahasa Indonesia berbeda dengan bahasa Inggris, apalagi setelah dibandingkan dengan beberapa versi, kita bisa menebak bahwa ada masalah penterjemahan di situ (tidak tentu bahasa Indonesia yang salah!) dan itu memperluas wawasan kita.
dan struktur kalimat dalam bahasa Inggris yang nantinya juga mempermudah kita membaca buku teologi dalam bahasa Inggris. Kita juga seringkali akan tertolong untuk lebih tepat mengerti Firman Tuhan karena

Tetapi membaca Alkitab dalam bahasa Indonesia juga banyak keuntungannya. Alkitab bahasa Indonesia (di luar yang Bahasa Indonesia Sehari-hari) hanya ada satu versi. Dan inilah keuntungan kita (ok, saya tahu ada kerugiannya juga)! Kita semua membaca dan menghafal Alkitab yang sama persis kata-katanya. Dengan cepat kita bisa 'nyambung' begitu ada sepotong saja kalimat atau ayat dalam Alkitab disebutkan. Dan setiap kali ada kalimat atau ayat dibacakan ingatan kita akan kalimat atau ayat itu makin diperkuat.

Bandingkan misalnya dalam dunia bahasa Inggris yang memiliki banyak versi terjemahan Alkitab. Sebagai contoh, di bawah ini saya cantumkan Yohanes 3:16 dari dua terjemahan bahasa Inggris yang populer:

For God so loved the world, that he gave his only Son, that whoever believes in him should not perish but have eternal life. (ESV)
For this is the way God loved the world: He gave his one and only Son, so that everyone who believes in him will not perish but have eternal life.  (NET)

Bayangkan sulitnya menghafal! Dalam bahasa Indonesia, begitu ada yang mengatakan: "Karena begitu besar kasih Allah..." Kita sudah tahu itu pasti Yoh 3:16.

Dulu ketika membaca Alkitab secara berurutan dari Kejadian sampai Wahyu, saya selalu menggunakan Alkitab bahasa Indonesia (kecuali ketika Bible Study). Tapi sejak beberapa tahun lalu saya membacanya berganti-ganti, kadang bahasa Indonesia, kadang bahasa Inggris dan itupun dengan berbagai versi (NRSV, RSV, NIV, ESV, LEB, dll). Saya mulai sadar ada banyak ayat yang saya mulai lupa. Saya tahu ada ayat seperti itu, tapi kalimat persisnya bagaimana saya tidak tahu lagi. Bahkan saya menemukan bahwa saya juga mulai lupa posisi ayat A atau B ada dimana di Alkitab.

Mungkin ini karena saya membaca Alkitab bahasa Inggris dalam berbagai versi sehingga sulit untuk menghafal. Tapi saya pikir kalaupun saya setia membaca satu versi saja, rasanya tetap efeknya terhadap daya hafal saya tidak akan sebaik kalau saya membaca Alkitab dalam bahasa Indonesia. Bagaimanapun bahasa Indonesia saya jaauhhhh… lebih baik dari bahasa Inggris saya. Tentu beda bagi mereka yang mimpi pun sudah pakai bahasa Inggris :-)

Sekarang saya sedang membaca Alkitab berurutan lagi dari Kejadian dan sudah hampir menyelesaikan Yeremia. Saya membacanya dengan menggunakan versi LEB (Lexham English Bible) dan ESV. Tapi setelah Yeremia selesai, saya pikir sebaiknya saya menggunakan bahasa Indonesia saja untuk membaca Ratapan sampai Wahyu. Nanti ketika mulai mengulang lagi membaca Alkitab, baru saya akan coba menggunakan bahasa Inggris lagi, tapi satu versi saja.

How about you? Ada pengalaman lain?





Tuesday, September 10, 2013

Saat Teduh dan Batu

Saya suka bersaat teduh di tempat yang teduh dalam suasana yang teduh apalagi dengan udara yang teduh, eh.. sejuk. Maka tiap kali pindah rumah, saya mencoba menemukan tempat seperti itu.

Saya ingat waktu tinggal di Jakarta, tempat favorit saya adalah di teras lantai dua di pagi hari. Sangat tenang dan di daerah itu masih ada suara burung berkicau dan udara pun masih sejuk. Waktu pindah ke rumah pertama di Singapore, tempat favorit saya adalah di pinggir kolam renang di pagi hari. Di dua rumah berikutnya, saya suka bersaat teduh di taman tetapi kurang ideal karena sering berisik, banyak serangga atau tempat duduknya basah karena embun. Sekarang ini di TTC, saya menemukan tempat favorit lagi yaitu di prayer garden.


Tidak banyak yang memanfaatkan tempat ini di pagi hari - tenang sekali. Satu- satunya gangguan adalah kalau tiba-tiba ada bunyi mesin entah dari mana - mungkin karena pembangunan MRT di depan TTC. Maka tempat itulah - di kursi itu - saya menikmati saat teduh saya.

Biasanya selesai bersaat teduh, saya berjalan memutari taman itu sekali (jangan bayangkan tamannya besar, kecil sekali kok!) sebelum kemudian pulang. Suatu kali ketika saya berjalan setapak demi setapak di atas batu-batu itu, tiba-tiba ada sesuatu yang muncul di dalam pikiran saya. Saya terdiam...


Batu- batu yang membentuk jalan setapak  itu tidak beraturan posisinya. Ada kalanya saya hanya perlu sebuah langkah kecil untuk berpindah dari batu yang satu ke batu yang lain. Tapi ada kalanya saya perlu langkah yang lebih besar. Ada kalanya saya melangkah dengan lancar. Tapi ada kalanya saya kurang hati-hati dan tersandung batu-batu besar di antara batu- batu jalan setapak itu.
Tiba-tiba muncul di dalam pikiran saya, bukankah kehidupan juga seperti itu? Wow... Analogi itu tiba-tiba begitu kuat berbicara.

Saya pun meneruskan langkah dan kali ini sambil berjalan saya makin memperhatikan batu demi batu yang saya injak. Batu- batu itu tidak sama bentuknya, besarnya, maupun warnanya - bahkan juga tingkat kebersihannya (salah satunya ada yang kena cairan entah apa hiii..). Dan ternyata kadang saya bisa memilih batu mana yang ingin saya injak yang lebih kecil atau besar, warna apa, lebih kotor atau lebih bersih - dan kadang kelihatan kadang tidak kelihatan berapa kotornya!

Saya tidak bisa diam di atas satu batu, bagaimanapun saya harus membuat keputusan lalu melangkah, sekalipun ketika melangkah ada resiko tersandung. Selangkah demi selangkah... akhirnya saya tiba di ujung dan tibalah waktunya untuk pulang. No turning back. Apa yang di belakang sudah lewat, keputusan- keputusan, tersandung, kotor, rasa lelah, sukacita, kicauan burung yang menemani, semua selesai dan saya harus pulang.

Seperti itulah hidup bukan?

Betapa mengerikannya jika semua itu tanpa makna dan ketika selesai tidak ada apa-apa. Betapa sia-sia! Sebaliknya betapa menghiburkannya ketika kita menjalani langkah-langkah itu di dalam Tuhan - ada gagal, ada kotoran, ada tersandung, tapi anugrah Tuhan memampukan kita terus berjalan. Dan betapa indahnya ketika kita selesai kita menemukan Tuhan sudah menunggu di sana.

Thanks Lord for speaking to me through those stones!

Tuesday, December 18, 2012

Sabat Dulu Baru Kerja

Saya suka cara Marva Dawn menggambarkan Sabat (Lihat Marva Dawn, The Sense of the Call, p. 36):

(Dengan kalimat saya sendiri) Puncak dari penciptaan Allah adalah hari dimana Allah beristirahat. Manusia diciptakan di hari yang ke-enam. Bayangkan kalau manusia diciptakan di akhir hari ke-enam itu karena sebelumnya Allah menciptakan hewan terlebih dulu, begitu selesai diciptakan apa yang dilakukan manusia? Allah mengumumkan hari istirahat. Maka yang pertama dilakukan oleh manusia adalah istirahat! Semua tugas mengerjakan taman, mengelola kebun, harus menunggu keesokan harinya. Manusia hari ini terbalik. Konsep kita adalah kerja terus supaya akhirnya kita bisa istirahat. Kita kerja mati2an sambil membayangkan hari-hari liburan. Awalnya kerja, akhirnya istirahat. Tapi pada waktu penciptaan, yang diberikan Allah kepada manusia adalah istirahat dulu, lalu keluar dari sukacita karena istirahat itu, kita bekerja untuk enam hari berikutnya.

Saya tidak ingin menjadi dogmatik dalam hal ini – dan saya kira Dawn juga tidak bermaksud demikian. Tetapi saat menulis ini saya sedang melakukan hal yang serupa.

Ketika menulis ini, saya sedang berada di Rumah Doa Bethel di Lembang. Saya datang ke sini lebih untuk apa yang ada di depan dan bukan karena yang di belakang. Maksudnya, saya ke tempat ini bukan sekedar ingin istirahat, merasa terlalu cape dengan yang di belakang, dan sekarang waktunya santai menikmati ketenangan. Walaupun ada unsur itu, tapi saya ke tempat ini lebih karena ingin mempersiapkan yang di depan.

Saya merasa beberapa waktu terakhir di Singapore, hidup saya berantakan. Saya terlalu sibuk, hidup terasa penuh dengan tekanan, terlalu banyak agenda yang disodorkan kepada saya, ketidak beresan demi ketidak beresan muncul, ditambah lagi dengan berbagai masalah yang saya hadapi. Semua membuat hidup saya tidak lagi fokus tapi terpecah seperti ditarik kesana kemari. Sukacita dan semangat melayani Tuhan seperti disedot keluar dari saya. Alarm rohani saya berkali-kali berbunyi. Saya bersyukur Tuhan memelihara sehingga saya tidak berkeping-keping.

Tapi saya ke sini bukan sebagai reward untuk susah payah di masa lalu. Saya ke sini untuk mempersiapkan yang di depan. Saya tahu saya perlu waktu memulihkan ‘stamina’ rohani saya. Saya perlu anugrah Tuhan membungkus luka-luka saya. Saya perlu arah untuk maju ke depan. Saya perlu kekuatan untuk melangkah. Saya perlu menata hati saya. Dan karena itulah saya ke sini. Tanpa itu semua, bagaimana mungkin saya melangkah ke depan.

Maka ya dan amin, Sabat adalah anugrah Tuhan yang kita nikmati. Setelah itu, dengan sukacita, arahan, kekuatan dari Tuhan yang kita alami waktu Sabat, kita mulai bekerja lagi.

Saturday, June 30, 2012

Bahan Saat Teduh

Lebih dari dua tahun yang lalu saya memulai proyek membaca tafsiran Perjanjian Baru khususnya saya menulis tentang itu disini). Saya sudah membaca tafsiran untuk hampir seluruh kitab dalam Perjanjian Baru, hanya tinggal lima kitab yang tersisa: Roma, Kolose, Filemon, Ibrani, dan Yakobus. Tapi akhirnya saya memutuskan untuk berhenti dulu.

Sebetulnya saya membaca tafsiran di dalam rangka saat teduh. Awalnya saya menikmati saat teduh dengan cara itu, tapi lama kelamaan saat teduh saya menjadi kering. Mungkin karena mood? Mungkin juga karena pilihan buku tafsiran saya (buku tafsiran ada yang enak untuk dibaca, ada yang enak untuk dipelajari, ada yang sama sekali tidak enak!). Dan saya memutuskan bahwa saat teduh lebih berarti buat saya daripada sekedar membaca buku tafsiran. Saya masih akan membaca buku-buku tafsiran sebagai bagian dari studi, tapi sementara bukan lagi bagian dari saat teduh.

Seringkali saya mendengar orang berkata ‘saat teduh’nya kering, bosan, tidak dapat apa-apa. Ada beberapa kemungkinan untuk itu:
1. Mungkin waktu yang diberikan terlalu sedikit. Akhirnya saat teduh menjadi sekedarnya.
2. Mungkin saat teduh sama sekali tidak teduh, dilakukan di tempat ramai, di bis, di kantor, dengan iphone, ipad, dsb.
3. Mungkin saat teduhnya hanya informatif, membaca, mengerti, tapi tidak merenungkannya.
4. Mungkin saatnya untuk mengganti ‘bahan’ saat teduh. ‘Bahan’ saat teduh yang biasanya berupa buku renungan harian ditulis oleh manusia dan tidak tentu cocok dengan kita. Dalam kasus saya, buku tafsiran tertentu belum tentu cocok dengan saya untuk dipakai bersaat teduh.

Saya sendiri beberapa kali mengganti ‘bahan’ bersaat teduh. Saya pernah menggunakan buku Renungan Harian, Santapan Harian, Encounter With God. Saya pernah membaca hanya Alkitab saja berurutan dari Kejadian-Wahyu beberapa kali. Saya pernah menggunakan beberapa buku perenungan singkat seperti khotbah (satu artikel per hari). Saya pernah menggunakan buku liturgi harian (ada bacaan Alkitab, ada kisah singkat, ada doa, persis seperti liturgi). Dan saya pernah menggunakan buku-buku tafsiran. Saat ini saya sedang kembali membaca hanya Alkitab saja dengan bantuan NIV Study Bible. Rencananya saya ingin membaca ulang seluruh Alkitab dalam 80 minggu (sampai 31 Desember 2013), mudah-mudahan.

Jangan berhenti saat teduh, jangan biarkan saat teduh menjadi 'kering'. Apapun ‘bahan’nya, caranya, metodenya, yang paling penting adalah kita bersaat teduh dengan baik: membaca Firman Tuhan dan merenungkannya, mendoakannya, dan bersekutu dengan Tuhan. Dan itu lebih penting dari segalanya.

Thursday, November 03, 2011

Book Lover?

Suatu kali ada pemberitahuan dari TTC bahwa salah seorang alumni TTC ingin menjual sebagian bukunya dan membagikan sebagian lagi bukunya. Yang berminat, silakan langsung menghubungi dia.

Tadinya saya tidak tertarik kesana karena saya terlalu sibuk. Tapi akhirnya saya menghubungi dia dan kemudian pergi ke rumahnya. Saya datang agak ‘terlambat’ karena sudah banyak orang yang ke rumahnya dan mengambil buku2 yang baik. Tapi masih cukup banyak buku yang dia tumpuk begitu saja di ruang depan rumahnya. Dan saya dipersilakan untuk melihat, memilih dan mengambil berapa saja yang saya inginkan. Ada yang dia jual ada yang dia berikan gratis.

Saya sempat bertanya kepada dia apa alasannya. Dia berkata bahwa dia ingin pindah ke rumah yang lebih kecil dan rumahnya tidak akan mampu menampung buku2 yang dia miliki. Dia punya sekitar 8000 buku! Saya kaget, itu jumlah yang sangat besar! Dan dia berkata bahwa dia ingin kurangi sampai sekitar 1000 saja yang dia bawa. Usianya sudah hampir 60 tahun dan dia merasa sudah cukup untuk dia memiliki buku2 itu, tidak banyak lagi kesempatan membaca dan sudah waktunya untuk dia bagikan ke orang lain. Lalu dia berkata, “berpisah dengan buku2 ini, saya merasa sakit.”

Mendengar kalimat dia membuat saya berpikir bahwa suatu kali saya juga akan melakukan yang sama seperti dia. Saya juga pencinta buku – book lover – dan pasti juga sakit bagi saya berpisah dengan buku2 saya (sekarang saja saya kangen dengan buku2 yang saya tinggal di Jakarta). Tapi saya juga jadi berpikir, apakah perlu untuk memiliki buku sebanyak itu? Beberapa buku saya lihat masih baru, tidak ada tanda bekas dibaca. Bahkan ada yang masih dibungkus platik belum dibuka.

Peristiwa ini menjadi reminder bagi saya. Kita manusia selalu cenderung berlebihan. Kita selalu cenderung menginginkan dan membeli apa yang kita suka sampai jauh melebihi kebutuhan kita! Baik itu mobil, tas, baju, sepatu, perhiasan, barang koleksi, atau laptop, handphone yang kita ganti lebih sering dari yang kita perlu.

Kembali ke masalah buku, saya berjanji pada diri sendiri untuk membeli buku yang memang perlu dan akan dibaca. Selama di TTC saya juga mendapat banyak kesempatan mendapat buku gratis atau membeli buku dengan harga murah. Saya bisa serakah, ambil sebanyak2nya. Pertanyaannya adalah apakah saya perlu? Saya mencoba melatih diri dengan hanya membeli atau mengambil buku yang saya tahu memang perlu. Kalau setelah saya baca sedikit, ternyata saya salah dan tidak perlu buku itu, atau setelah membaca 1X rasanya saya tidak akan memerlukannya lagi, saya akan berikan kepada orang lain atau saya letakkan di ‘free books corner’ di perpustakaan. Saya juga mencoba menyortir buku2 saya di Jakarta yang tidak terlalu saya perlukan dan saya menemukan cukup banyak, lebih dari 60 yang tidak saya perlukan lagi. Sebagian kecil, buku2 yang mahal saya jual murah, sisanya langsung saya bagikan.

Dengan cara demikian saya melatih diri untuk terus decluttering hidup saya. Mari belajar prinsip ini: Beli seperlunya dan berikan secepatnya. Karena kita cenderung serakah, ada orang yang senang membeli terus (lebih dari yang dia perlu) tapi juga senang membagi, dan dia rasa tidak masalah. Saya yakin itu juga salah! Beli hanya seperlunya! Lalu apa yang tidak kita perlukan, berikan secepatnya kepada yang memerlukan.

Di bawah ini adalah buku2 yang saya ambil waktu itu. Saya akan nikmati dulu sambil berpikir mana yang perlu dan mana yang tidak :-)




Sunday, September 18, 2011

Life Begins at Forty?

Banyak orang bilang bahwa bagi pria, life begins at forty. Dulu saya tidak terlalu mengerti kalimat itu, sampai akhir-akhir ini.

Beberapa waktu yang lalu seorang teman bercerita tentang pergumulannya akan hidupnya. Apa sebetulnya yang ingin dia lakukan dalam hidup? Pekerjaan seperti apa yang dia inginkan? Kemana arah hidupnya? dst. Yang menarik adalah ketika dia bilang bahwa mungkin dia berpikir semua itu karena krisis yang dia alami menjelang usia 40 tahun.

Saya agak tersentak… karena hampir 1 tahun sebelumnya, saya punya pergumulan yang serupa. Rupanya… mungkinkah… itulah yang dimaksud krisis menjelang usia 40 tahun!

Sejak menjadi hamba Tuhan, saya tahu hidup saya untuk melayani Tuhan di ladang pelayanan. Saya menjalani hari demi hari, tahun demi tahun, dengan kesadaran itu. Bukannya saya tidak punya target atau tujuan yang lebih spesifik (saya pergi ke Singapore untuk studi adalah salah satu target yang akhirnya tercapai juga), tapi saya menjalani hidup saya dengan (mungkin istilah saya kurang tepat) ‘menerima apa adanya’.

Tapi beberapa waktu yang lalu, saya mulai berpikir, apa sebetulnya yang saya – atau tepatnya Tuhan - inginkan dengan hidup saya. Ketika usia lebih muda, waktu sepertinya masih sangat panjang dan kemungkinan sangat tidak terbatas. Tapi sekarang berbeda. Saya mulai menghitung, setelah selesai studi berapa tahun lagi yang saya punya sebelum pensiun? (kalau saya masih hidup tentunya!). Tidak terlalu banyak, mungkin hanya 22 atau 23 tahun! Sungguh itu tidak banyak. Lalu apa yang ingin saya lakukan dalam sekian tahun yang masih sisa itu?

Saya mencoba membuat beberapa alternatif pilihan hidup. Di usia sekarang, saya sudah bisa mengukur kemampuan saya, jalur hidup saya, peluang yang terbuka bagi saya, beban saya yang sesungguhnya, dan seterusnya. Bagi saya semua adalah tanda mengenali ke arah mana sebetulnya Tuhan mau bawa saya. Sempat ada hal-hal yang saya sesali karena dulu tidak saya lakukan, tapi cepat2 saya lupakan karena tidak ada gunanya menyesali yang sudah lewat. Pertanyaan saya selalu ke depan, apa sebenarnya yang ingin saya lakukan, apa yang Tuhan percayakan pada saya, yang harus saya lakukan supaya nanti saya tidak menyesal.

Maka mungkin betul bagi pria life begins at forty. Pada usia 40 tahun, kita sudah mengalami cukup banyak hal untuk berpikir dengan lebih matang akan hidup kita. Pada usia 40 tahun, saat belum tua tapi juga tidak terlalu muda lagi, kita mulai berpikir apa yang ingin kita lakukan dengan sisa hidup kita.

Banyak orang bilang ketika usia 40, kita tidak terlalu berani lagi untuk mengambil resiko. Terlalu banyak pertimbangan, terlalu banyak ketakutan, terlalu banyak pengalaman di masa lalu, dan akhirnya kita akan selalu memilih yang aman. Tapi saya tidak ingin begitu.

Saya ingin tetap berani mengambil resiko untuk mengikut Tuhan. Dan sekalipun saya sudah memikirkan beberapa alternatif yang ‘mungkin’, saya memberi celah untuk surprise dari Tuhan. Bagaimanapun saya tidak tahu sepenuhnya apa yang Tuhan sediakan bagi saya di masa depan, I’m ready for another surprise! Dan kalau Tuhan sudah pimpin sampai hari ini, saya percaya Tuhan akan pimpin lagi sampai akhirnya.

Friday, August 12, 2011

Life is Beautiful

Salah satu yang saya usahakan tiap kali pulang Indo adalah cari tukang pijat atau pergi ke tempat pijat. Sangat affordable dibanding dengan di Singapore! (ah.. sekarang aja udah kepengen lagi :-))

Beberapa minggu lalu ketika pulang ke Indo, saya dipijat oleh seorang tuna netra bernama pak W. Usianya kira2 sama dengan saya. Waktu yang cukup panjang, 2 jam (beneran 2 jam! hehe..) membuat kami bisa ngobrol lebih dari sekedar basa-basi.

Dulu dia bukan tuna netra. Dia punya penglihatan yang normal hanya ada masalah glaukoma. Suatu hari ketika dia pulang kerja dengan mengendarai motor, ia terjatuh. Tidak ada luka yang serius, jatuhnya tidak membentur tulang ekor, juga tidak membentur kepala. Setelah bangun, dia mengendarai motor lagi untuk pulang mengobati luka. Sampai di rumah kepalanya terasa pusing, maka dia pun pergi tidur. Ketika bangun tidur, dia sudah tidak bisa melihat lagi. Dia tidak tahu persis apa alasannya, tetapi yang pasti sejak saat itu dunianya menjadi gelap.

Dokter mengatakan kebutaannya tidak bisa disembuhkan. Tidak bisa menerima vonis dokter, dia mencari pengobatan alternatif. Waktu berlalu, uang makin habis, dia tidak kunjung sembuh. Selama beberapa tahun berikutnya dia menjadi orang yang pemarah. Dia tidak bisa menerima bahwa sekarang dia harus bergantung pada orang lain, untuk makan, beli rokok, mandi, untuk segala hal. Tiap kali ada orang bertanya, “bagaimana bisa jadi buta?” Jawabannya: “mau apa tanya2? emangnya bisa nyembuhin?” Kemarahannya lama-lama menjadi depresi. Sempat dia mencoba bunuh diri.

Akhirnya setelah 3 tahun berlalu, dengan bantuan keluarga, dia mulai bisa menerima kenyataan. Setelah diberitahu oleh beberapa orang, dia memilih untuk masuk sekolah menjadi tukang pijat untuk tuna netra. Ada 1 pengalaman lucu disana. Ketika dia baru masuk, dia berjalan sambil berpegangan pada tembok. Tiba2 dahinya terbentur dengan dahi orang lain. Orang itu langsung mengomel “dasar orang buta!” Dengan kesakitan dia pegang dahinya dan hatinya juga sakit. Lalu ada temannya yang dia kenal lewat disitu dan bertanya ada apa. Dia bilang baru aja berbenturan dengan orang lain. Lalu iseng2 dia tanya, “emang tadi itu siapa sih? orang awas (orang dengan mata normal) ya?” Temannya menjawab, “oh.. bukan itu si Rully, orang buta juga!” Dhueeennggg.. dia langsung kesal sambil geli sendiri, dikatain buta sama orang buta!?

Ketika saya tanya, “Pak, pernah kangen pengen ngelihat lagi?” Dia bilang “nggak”. Wah saya menjadi tertarik sekali. Lalu saya tanya kenapa. Dia bilang “kadang2 saya pikir lebih enak jadi orang buta”. Saya makin tertarik, “apanya yang enak?” Dia bilang, “hati saya lebih damai, lebih ada kebersamaan dengan teman2, lebih bisa tenang tahan emosi daripada dulu sebelum buta”. Lalu dia berkata bahwa kalau dia tidak buta dia tidak bisa bertemu dengan istrinya yang juga tuna netra. Dia bersyukur untuk keadaannya itu. Dan dia juga bersyukur bahwa dalam kondisi yang buta, dia bia bekerja, menabung, bahkan membantu keluarganya dan keluarga istrinya di kampung.

Lalu dengan nada bercanda dia berkata, “Saya sama istri juga lebih mesra. Coba aja pasti pak Jeffrey sama ibu kalah mesra”. (Dalam hati saya, enak aja, dia mana tau kami mesra apa nggak hehe..) Lalu dia bilang, “saya sama istri kalau jalan gandengan terus. (Saya langsung protes, saya juga gandengan!). Dia bilang, “ini bukan pegangan tangan tapi pegangan pundak. Kami pernah nabrak mobil sama2, nyemplung selokan juga sama2! Coba, mesra mana?”  (Wah, kalau kayak gitu sih menang dia deh hehe..). Lalu dia juga cerita, kalau pergi belanja ke supermarket, mereka selalu hanya beli yang memang dibutuhkan untuk dibeli. Dari rumah udah pikir mau beli apa, lalu minta diantar oleh teman ke supermarket, dan sampai sana mereka hanya beli sesuai rencana. Tidak pernah karena melirik-lirik, lalu jadi kepengen…. tentu aja mau lirik apa!!??

Saya kagum dengan bagaimana dia memandang keadaannya, bahkan bercanda tentang kebutaannya. Masih ingat film Life is Beautiful? Diceritakan tentang bagaimana seorang ayah mencoba membuat kehidupan di kamp konsentrasi seperti permainan bagi anaknya supaya anaknya terus melihat the beauty of the game. Dia lakukan itu supaya anaknya bertahan dengan melihat keindahan di balik kengerian. Hidup itu indah! Walaupun keadaan bisa menghancurkan keindahan itu dari luar tapi mereka yang tetap bisa melihat keindahannya, berpegang pada keindahan itu, mereka akan tetap bisa bertahan bahkan menikmati hidup.

Apalagi jika kita melalui hidup ini bersama Tuhan. Itulah hidup yang paling hidup! Saya berharap suatu kali pak W menemukan Tuhan dan mengalami hidup yang jauh lebih indah lagi.

Sunday, January 02, 2011

2011

Memasuki tahun 2011, saya sudah membuat perencanaan untuk berbagai hal: rencana pembagian waktu antara pelayanan dan studi, rencana topik khotbah di GKY Singapore, rencana mengembangkan pelayanan di GKY Singapore, rencana liburan, rencana membaca tafsiran Perjanjian Baru, rencana keuangan, bahkan rencana menghadapi berbagai masalah yang mungkin timbul dan sebagainya. Tapi sambil membuat semua perencanaan itu saya tahu realitanya nanti pasti akan tidak sesuai dengan rencana. Hidup tidak pernah terlalu rapi sehingga semua bisa diatur seperti itu. Pasti akan ada banyak penyesuaian dan perubahan sambil waktu berjalan.

Maka saya sadar justru perencanaan paling penting, yang belum terlalu saya pikirkan, adalah perencanaan kerohanian. Saya perlu merencanakan bagaimana bertumbuh, mengatur 'strategi' bagaimana saya menghadapi setan dan kuasanya, memikirkan bagaimana saya akan menjaga 'awareness' saya akan realita rohani, menjaga hati saya dari kepahitan dan tawar hati. Saya harus merencanakan bagaimana makin seperti Yesus. Semua boleh berjalan sesuai rencana tapi kalau saya tidak bertumbuh, kalau saya menjadi tawar hati, kalau saya lupa Tuhan, semua akan percuma.

Seperti tahun-tahun sebelumnya dalam hidup saya, tidak mungkin saya berjalan tanpa anugrah Tuhan. Kiranya di tengah badai apapun Tuhan mengingatkan saya akan satu hal yang sangat penting, bahwa saya adalah orang yang sudah dibaptis. Air baptisan yang pernah mengalir di atas kepala dan dahi saya adalah tanda meterai dari Tuhan bahwa saya adalah anak Tuhan dan kasih karunia Tuhan sudah dicurahkan kepada saya. Dan saya percaya Tuhan tidak pernah ingkar.

May the Lord lead me all the way throughout 2011!

Monday, April 07, 2008

Perubahan


Akhir-akhir ini di dalam beberapa kesempatan, saya bertemu beberapa orang teman lama, teman-teman semasa SMA dulu. Surprise memang, ada yang masih saya kenal, ada yang hanya saya ingat wajahnya tapi lupa namanya, ada juga yang setelah kenalan baru saya tahu ternyata itu teman SMA! Biasanya yang terakhir itu adalah mereka yang memang waktu masa SMA dulu hanya tahu-sama-tahu dengan saya.

Masing-masing sudah berubah, saya berubah dan mereka juga berubah. Perubahan kami bukan sekedar pada fisik, yang biasanya terlihat dengan tubuh yang makin ‘besar’, rambut yang makin jarang, dan wajah yang makin tua, tetapi juga pada kehidupan.

Dulu semua sama-sama ‘anak SMA’, seragam kami sama, putih abu-abu dan dan sepatu hitam, pergumulan hidup kami juga mirip yaitu PR, ulangan, ujian, les dan masalah dengan guru.

Sekarang semua punya kehidupan yang berbeda. Ada yang sudah berkeluarga dan ada juga yang belum. Ada yang bekerja sebagai karyawan, dosen atau guru, ada yang wirausaha dan ada juga yang menjadi profesional seperti dokter. Ada yang ekonominya maju dan serba berkecukupan dan ada juga yang biasa-biasa saja. Daftar ini masih bisa ditambah terus.

Yang menarik adalah tidak semua kondisi-kondisi di atas sudah bisa diprediksi sejak dulu. Banyak juga yang ‘dulunya sama sekali tidak terbayang dia bisa jadi begitu’. Saya kira teman-teman SMA saya juga dulu tidak ada yang menduga kalau akhirnya sekarang saya menjadi hamba Tuhan penuh waktu di gereja. Jangankan mereka, sayapun tidak menduga!

Dan saya juga menemukan beberapa hal yang menarik, walaupun kebanyakan perubahan-perubahan itu hanya sekedar status pernikahan, pekerjaan, kondisi ekonomi, atau segala 'embel-embel' lain di permukaan, tetapi ada juga perubahan yang terjadi pada ‘orang’nya. Ada yang dulunya seperti apa tetapi sekarang seperti apa. Ada yang dulunya sangat aktif pelayanan, sekarang sekedar ke gereja. Ada juga yang dulunya tidak percaya Tuhan sekarang jadi orang yang sangat bertumbuh. Ada yang dulu ‘agak aneh’, sekarang berubah walaupun ada juga yang berubahnya menjadi makin parah.
Saya jadi merenung lagi tentang kehidupan saya. Saya yang sekarang juga sudah berbeda dengan saya yang dulu. Mengenai 'embel-embel', pasti banyak perubahan. Tapi mengenai 'orang'nya, mungkin dalam beberapa hal saya tidak berubah (ini menyedihkan saya), dalam beberapa hal lain mungkin saya menjadi makin buruk (walaupun saya harap tidak seperti itu), dan dalam beberapa hal lain mungkin saya makin baik. Tetapi yang membuat saya bersyukur adalah, dengan segala kekurangan yang ada, saya bisa mengatakan saya bertumbuh. Ini membuat saya sangat bersyukur. Walaupun lambat dan cacat di sana-sini, saya bertumbuh!

Dan saya berpikir apa yang menyebabkan saya menjadi seperti sekarang ini? Jawaban saya bisa bermacam-macam: karena orang tua, karena lingkungan, karena teman-teman, atau karena keputusan-keputusan tertentu dalam hidup saya. Tetapi saya sadar di atas semua itu adalah: karena kasih karunia Tuhan dan respon saya atas kasih karunia itu. Tuhan, dengan terus menerus, tidak bosan-bosan, pantang menyerah, berusaha menggarap hidup saya untuk mengubah saya, dan saya berubah juga walaupun respon saya sering lamban dan bebal (Ah, andaikata saya tidak begini bebal dan lamban!).

Ada perubahan-perubahan dalam hidup saya yang waktu SMA dulu, atau bahkan waktu kuliah dulu, sama sekali tidak terpikir oleh saya. Saya tidak terbayang akan menjadi seperti apa adanya sekarang ini. Saya tahu saya masih sangat super jauh dari baik. Tapi saya bisa menyaksikan bagaimana kasih karunia Tuhan itu beroperasi dalam hidup saya dan bagaimana respon saya yang bebal dan lamban itu, walaupun seperti membuka pintu dengan pelit kepada Tuhan, ternyata sudah membuat anugrahNya menerobos masuk. Maka sekarang ini, kalau melihat ke belakang, saya bisa berkata “Oh, betapa manisnya perubahan itu, betapa manisnya karya Tuhan dalam hidup saya!”.

Lalu saya lihat lagi keadaan diri saya sekarang ini. Jujur saya tidak puas, bahkan sangat tidak puas, dengan diri saya yang sekarang. Bukan saya tidak puas dengan anugrah Tuhan. Saya tidak puas karena saya tahu Tuhan ingin saya lebih dari sekarang tapi saya masih terlalu pelit membuka pintu itu. Dan saya memandang ke depan untuk perubahan lagi.

Suatu kali, ketika saya sedang sangat kesal, saya berkata kepada teman saya “saya sudah tidak bisa berubah lagi, sudah mentok!”. Teman saya kemudian memberikan nasihat bijak yang terus saya ingat “jangan batasi perubahan yang ingin dikerjakan Tuhan!”.

Hidup saya hari ini belum tentu menunjukkan besok akan seperti apa. Sekali lagi maksud saya bukan sekedar kondisi ekonomi, jenis pekerjaan atau segala embel-embel lain tetapi diri saya sendiri. Dan sampai berapa jauh saya bisa berubah? Alkitab memberitahu: Sampai seperti Kristus! Sampai hidup dalam kemuliaan bersama Tuhan dan malaikat-malaikatNya di surga! (2 Kor 3:18, Kol 3:4).

Menanti saat itu membuat saya terharu dan tidak sabar. Saya ingin ada disana dan bisa menoleh ke belakang dan dengan lebih berani lagi berkata “Oh, betapa manisnya perubahan itu, betapa manisnya karya Tuhan dalam hidup saya”. Saat itu pasti akan tiba!

Tuesday, November 14, 2006

Sibuk Yang Pas

Tidak jarang ketika diminta untuk melayani pemberitaan Firman Tuhan, saya menjawab “tidak bisa”. Dan reaksi yang sering saya terima adalah “oh sudah penuh ya Pak?”.

Terus terang saya sulit menjawab reaksi seperti itu, karena saya tidak tahu apa yang dimaksud ‘penuh’. Kalau yang dimaksud adalah setiap hari saya sudah ada pelayanan khotbah, maka jawabannya adalah tidak. Kalau maksudnya tepat hari itu, jam itu, saya ada pelayanan khotbah lain, maka jawabannya juga tidak. Kalau yang dimaksud adalah saya sangat sibuk dan “tidak ada waktu”, ini agak mendekati walaupun juga tidak tepat. Karena kalau “tidak ada waktu” artinya saya sangat banyak pelayanan, sampai tidur pun kurang, tidak punya waktu makan dengan tenang, tidak punya waktu berenang atau jalan-jalan di mal, jawabannya juga tidak.

Saya akan menyebutkan apa yang saya maksudkan dengan “tidak bisa”:
1. Saya membutuhkan waktu lama untuk mempersiapkan khotbah. Sebagai contoh, untuk khotbah di kebaktian, saya membutuhkan 5-8 jam persiapan non stop. Artinya waktunya akan menjadi lebih panjang jika ditambah dengan istirahat, ke kamar mandi, makan, dsb. Lagipula, tidak setiap saat saya ‘in the mood’ untuk persiapan. Ada kalanya saya harus melakukan kegiatan-kegiatan lain terlebih dahulu dan baru bisa kembali pada persiapan saya. Maka total waktu real yang dibutuhkan sangat panjang.

2. Sebagai pembina komisi, pelayanan saya bukan hanya berkhotbah, tetapi juga memikirkan strategi pelayanan, mengerti kondisi yang terjadi, atau menguatkan teman-teman. Dan semua itu perlu waktu.

3. Selain melayani, saya harus memperhatikan hal-hal yang esensial bagi hidup saya seperti: doa, tenang dan berdiam diri, membaca buku, olah raga, rekreasi, menjalin relasi keintiman dengan keluarga dan teman-teman.

Dengan kondisi seperti di atas, sekalipun jadwal saya ‘kosong’, seringkali saya harus berkata “tidak bisa”.

Saya tidak bermaksud menulis artikel ini untuk berkeluh kesah. Tetapi apa yang saya alami, saya yakin banyak juga dialami oleh kita yang sibuk melayani. Orang-orang terus minta kita mengerjakan ini dan itu. Mereka mungkin hanya melihat apa yang kita kerjakan berdasarkan jumlah berapa bidang pelayanan yang kita ambil, tanpa mempedulikan ‘serba-serbi’ yang berkaitan dengan bidang pelayanan itu. Mereka mungkin juga tidak tahu ‘kemampuan’ kita. Mereka juga tidak tahu kondisi kita secara pasti, kondisi fisik kita, keluarga kita apalagi kerohanian kita.

Ada 2 hal yang mempengaruhi cara saya mengatur jadwal pelayanan saya:
1. Khotbah Pdt. Yohan Candawasa di dalam bukunya yang berjudul Ambillah Aku Melayani Engkau. (Teman-teman pengurus KP 1 GKY Green Ville 2005-2006 mungkin masih ingat saya pernah minta kalian membaca seluruh bab itu sebagai bahan saat teduh waktu pembinaan pengurus tahun 2005). Point yang sangat saya ingat adalah: Orang banyak mencari Yesus dan Yesus berkata “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota yang berdekatan supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itulah aku telah datang”. Orang banyak mencari Dia! Mereka sedang membutuhkan pelayananNya, mungkin ada yang sakit keras, mungkin ada yang hampir mati (dan jadi mati betulan karena tidak dilayani Yesus), mungkin ada yang kerasukan setan, mungkin ada yang ingin dengar khotbahNya, tapi YESUS PERGI! Pasti banyak yang kecewa dan memaki-maki Dia. Tapi Dia tahu untuk apa Dia datang ke dunia, bukan melayani semua kemauan orang, tapi ada misi khusus yang Dia terima dari Bapa. Kita masing-masing juga punya panggilan dari Bapa.

2. Saya sadar seringkali kesibukan hanyalah untuk memuaskan kedagingan, supaya kita terlihat penting, dipercaya banyak hal, disukai dan dibutuhkan orang. Mungkin kita bisa merasa bangga punya banyak pelayanan, apalagi sampai semuanya bergantung pada kita. Tetapi itu dosa!

Maka kesibukan kita seharusnya diatur sesuai karunia dan panggilan kita!

Dalam masa beberapa tahun pelayanan, saya menemukan bahwa kesibukan yang pas akan menghasilkan pertumbuhan. Tidak sibuk berarti kemalasan dan itu membuang karunia Tuhan. Tetapi kesibukan yang terlalu sibuk sampai panik akan menghancurkan kerohanian.

Tidak sibuk adalah banyak bermalas-malasan dan tidak menggunakan waktu dengan baik. Saya ingin tekankan ini, saya sama sekali tidak setuju dengan kemalasan yang menggunakan alasan kesibukan. Kita bisa terlihat seperti banyak kegiatan dan sibuk, padahal malas. Hanya kita dan Tuhan yang tahu itu.

Kesibukan yang pas artinya adalah sangat sibuk tetapi tetap mengerjakan semua hal yang esensial bagi kehidupan. Kerohanian pribadi dibangun, keluarga diperhatikan, kondisi fisik dijaga, teman-teman ditolong.

Kesibukan yang terlalu sibuk sebenarnya sama sibuknya dengan kesibukan yang pas tapi mengabaikan banyak hal yang esensial dalam kehidupan.

Kenapa bisa sama sibuknya? Karena waktu kita sama-sama 24 jam. Ini bukan tentang orang yang malas, tapi tentang orang yang rajin. Sama-sama 24 jam, kalau sama-sama rajin, maka pasti sama-sama ‘habis-habisan’. Tapi bagaimana cara pakainya? Sibuk yang pas atau terlalu sibuk?

Beberapa pertanyaan perenungan buat setiap kita:
1. Apakah engkau sudah pakai waktumu dengan baik? Jangan ukur dari jumlah kegiatanmu tapi tanya sungguh-sungguh apakah engkau sudah pakai waktumu dengan baik untuk Tuhan?

2. Kalau engkau sibuk, untuk apa engkau sibuk? Apakah engkau jelas kemana arah kesibukanmu?

3. Apakah hal-hal yang esensial dalam hidupmu engkau kerjakan? Apakah dalam kesibukanmu, ada ketenangan dan kedamaian dalam hati?