Showing posts with label i. Pemahaman Alkitab. Show all posts
Showing posts with label i. Pemahaman Alkitab. Show all posts

Saturday, October 31, 2015

Berjuang Mengerjakan yang Tuhan Berikan - Yosua 17

Berkatalah bani Yusuf kepada Yosua, demikian: "Mengapa engkau memberikan kepadaku hanya satu bagian undian dan satu bidang tanah saja menjadi milik pusaka, padahal aku ini bangsa yang banyak jumlahnya, karena TUHAN sampai sekarang memberkati aku?" Jawab Yosua kepada mereka: "Kalau engkau bangsa yang banyak jumlahnya, pergilah ke hutan dan bukalah tanah bagimu di sana di negeri orang Feris dan orang Refaim, jika pegunungan Efraim terlalu sesak bagimu." Kemudian berkatalah bani Yusuf: "Pegunungan itu tidak cukup bagi kami, dan semua orang Kanaan yang diam di dataran itu mempunyai kereta besi, baik yang diam di Bet-Sean dengan segala anak kotanya maupun yang diam di lembah Yizreel." Lalu berkatalah Yosua kepada keturunan Yusuf, kepada suku Efraim dan suku Manasye: "Engkau ini bangsa yang banyak jumlahnya dan mempunyai kekuatan yang besar; tidak hanya satu bagian undian ditentukan bagimu, tetapi pegunungan itu akan ditentukan bagimu juga, dan karena tanah itu hutan, haruslah kamu membukanya; kamu akan memilikinya sampai kepada ujung-ujungnya, sebab kamu akan menghalau orang Kanaan itu, sekalipun mereka mempunyai kereta besi dan sekalipun mereka kuat."
(Yosua 17:14-18)

Yosua 14-19 berisi daftar pembagian tanah untuk suku-suku Israel. Bagian ini memang berisi daftar panjang tentang batas-batas wilayah dan nama kota-kota yang dibagi di antara mereka. Maka ketika membacanya, kita cenderung melewatinya, karena kita merasa tidak tahu apa yang dimaksudkan. Tetapi dengan demikian kita justru melewatkan salah satu bagian terpenting dari kitab Yosua.

Kitab Yosua, dari awal menceritakan bagaimana orang Israel bersiap-siap, menyeberangi sungai Yordan, mulai berperang, dan kemudian satu persatu kota dikalahkan oleh mereka. Bagian ini adalah happy ending-nya, yaitu ketika tanah itu dibagi, artinya mereka mulai mencicipi kemenangan mereka.

Tetapi ada satu hal yang penting, mereka masih harus berjuang! Ketika Yosua membagi tanah itu belum seluruhnya tanah itu sudah dikuasai oleh orang Israel. Tuhan sudah menentukan wilayah mana untuk siapa. Artinya Tuhan sendiri yang berjanji bahwa wilayah yang ditentukan itu akan menjadi milik mereka – itu pasti. Tetapi mereka harus berusaha dan taat kepada Tuhan. Sama seperti ketika mereka mulai memasuki tanah Kanaan, kalau mereka tidak mau berperang, Tuhan tidak akan berikan tanah itu kepada mereka. Kalaupun mereka berperang tapi berdosa kepada Tuhan, maka perang pun akan kalah. Mereka harus berjuang dan taat kepada Tuhan, maka janji itu akan menjadi milik mereka.

Di dalam bagian Alkitab di atas, bani Yusuf (suku Efraim dan Manasye) complain kepada Yosua: “Mengapa kami cuma diberikan satu bagian undian dan satu bidang tanah saja menjadi milik pusaka. Tidak cukup untuk kami!”

Tidak jelas apa maksud complain mereka karena jelas bahwa tanah itu sudah dibagi dan tiap suku sudah mendapat bagian. Mungkin maksudnya adalah sebagian tanah yang diberikan kepada mereka masih diduduki orang Kanaan. Yang mereka miliki baru separuh, sementara yang separuh lagi masih diduduki orang Kanaan, maka seolah-olah Yosua hanya memberikan mereka satu bagian. 

Itu sebabnya Yosua kemudian menjawab mereka: “Kalau tempatmu tidak cukup, silakan pergi ke hutan dan buka tanah di negeri orang Feris dan orang Refaim”. Kalau masalahnya adalah tanah yang sekarang dimiliki tidak cukup, maka pergilah rebut tanah lain yang memang adalah bagianmu! That’s yours! Go and fight for it!

Jawaban mereka memberi tahu kita alasan sebenarnya: “semua orang Kanaan yang diam di dataran itu mempunyai kereta besi”. Mereka tidak mau lagi berperang, merasa sudah achieving something dan sekarang tinggal menikmati hasil – cape, malas, dan tidak puya keberanian untuk berperang lagi.

Maka Yosua menjawab mereka: “Engkau ini punya kekuatan yang besar. Tanah bagianmu masih luas dan Tuhan sudah berikan itu untukmu. Tetapi engkau harus berperang dan berjuang. Musuhmu harus dikalahkan – pasti bisa! Tanah harus dibuka – perlu kerja keras! Tanpa itu kamu tidak akan menerima bagian yang seharusnya yang diberikan Tuhan kepadamu.”

Sangat menyedihkan, itulah yang akhirnya terjadi. Sebagian tanah yang diberikan Tuhan kepada Israel akhirnya tidak pernah menjadi milik mereka. Mereka tidak taat kepada Tuhan, mereka diminta berjuang mengklaim tanah yang Tuhan berikan dan mengusir penduduk Kanaan tapi mereka tidak lakukan. Mereka malas, hanya puas dengan apa yang sudah mereka miliki dan hanya complain kepada Tuhan. Mereka ketakutan dan tidak percaya Tuhan akan memimpin mereka.

Saya jadi berpikir berapa banyak sebetulnya “bagian” yang Tuhan berikan kepada kita masing-masing yang tidak pernah kita perjuangkan dan usahakan? Talenta dan kesempatan? Berapa banyak sebetulnya pekerjaan Tuhan yang seharusnya bisa kita lakukan untuk kemuliaan Tuhan tapi kita lewatkan karena cape, malas, dan tidak punya keberanian? Berapa sering sebetulnya kita menyia-nyiakan hidup dengan berputar-putar melakukan dosa dan akhirnya tidak melakukan yang Tuhan mau.

Maka ada banyak yang Tuhan sudah berikan menjadi “bagian” kita tetapi mungkin tidak pernah kita klaim. Tidak pernah kita usahakan. Ada potensi yang tidak kita kembangkan. Ada pekerjaan baik yang tidak kita lakukan. Ada buah yang tidak kita hasilkan. Maka hidup kita akhirnya tidak mencapai tujuan yang seharusnya.

Paulus pernah berkata: "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya" (Efesus 2:10). Ada pekerjaan baik yang Allah persiapkan untuk kita dan kita diciptakan untuk melakukannya. Are we doing them ALL faithfully?

Alangkah bahagianya mereka yang didapati Tuhan sebagai hamba yang baik dan setia melakukan tugasnya.

-Renungan Sabtu sore-

Thursday, October 25, 2012

Hakim-hakim 17-21

Saya baru selesai membaca Hakim-hakim 17-21. Apa yang saya baca disana membuat perasaan saya campur aduk.

Di dalam lima pasal itu, kita menemukan betapa besarnya kejahatan manusia dan betapa ngerinya kehidupan umat Tuhan yang sudah menyeleweng. Dan keadaan itu berkali-kali ditekankan oleh penulis Hakim-hakim sebagai: “In those days Israel had no king; everyone did as he saw fit”. 

Pasal 17 bercerita tentang seorang bernama Mikha yang membuat baginya berhala (bukan satu tapi banyak!). Seorang Lewi yang kebetulan lewat di situ diangkat menjadi imam untuk keluarganya. Bayangkan seorang Lewi! Dia mengembara mungkin karena tidak ada lagi pekerjaan dan uang karena Israel tidak mentaati perintah Tuhan. Dan dia mau menjadi imam dari berhala. Dan motivasinya jelas adalah uang, karena ketika ada tawaran lebih baik dia pindah.

Pasal 18 bercerita tentang suku Dan yang juga mengembara mencari tanah. Mereka sudah diberikan tanah oleh Tuhan tapi mereka tidak mampu (atau tidak mau, atau tidak bergantung pada Tuhan) untuk merebutnya. Maka mereka pergi mencari tanah lain, Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan kuil berhala dan orang Lewi yang menjadi imam keluarga Mikha ini. Mereka mengambil semua berhala di situ dan menawarkan pekerjaan kepada orang Lewi itu. Satu suku sepakat menyembah berhala! Dan Mikha sendiri frustasi karena allahnya, yang tidak bisa melindungi diri sendiri itu, diambil dan membuat dia kehilangan perlindungan. Ironis bukan!?

Pasal 19 bercerita tentang seorang Lewi yang menjemput gundiknya. Di tengah perjalanan dia menginap di Gibea, salah satu kota Israel. Malam itu penduduk kota itu menggedor rumah itu dan ingin memperkosa dia. Praktek homoseksual sangat luas dilakukan orang Kanaan dan orang Israel juga melakukannya. Orang ini, dengan sangat kejam, menyeret gundiknya keluar sebagai ganti dirinya untuk diperkosa. Dan semalaman wanita malang itu dipermainkan dan diperkosa oleh mereka. Pagi harinya dia menemukan gundiknya sudah mati. Dan dia memutilasi gundiknya, memotongnya menjadi 12 bagian dan dikirimkan ke daerah Israel sebagai panggilan membangkitkan kemarahan akan betapa jahatnya Gibea (ironis, karena dia sendiri sangat jahat!).

Pasal 20 menceritakan bagaimana seluruh Israel berkumpul untuk menghukum Gibea. Tapi karena Gibea adalah bagian dari suku Benyamin, maka suku Benyamin membelanya. Dan perang saudara terjadi. Puluhan ribu orang mati, dan dari suku Benyamin hanya tersisa 600 orang laki-laki saja. Semua wanita (dan anak-anak?) sudah dibunuh oleh Israel. Betapa kejamnya!

Pasal 21 menceritakan bahwa orang Israel menangis. Mereka menyesal bahwa orang Benyamin hanya sisa 600 orang pria. Dan mereka sudah bersumpah untuk tidak memberikan anak perempuan mereka kepada orang Benyamin. Maka bagaimana Benyamin bisa bertahan? Jalan keluarnya: (1) Orang-orang Yabesh-Gilead (bagian dari Israel) yang tidak ikut berperang dibunuh semuanya, laki-laki atau perempuan, hanya yang masih gadis yang tidak dibunuh. Mereka dibawa untuk dikawinkan dengan orang Benyamin. (2) Ketika ada perayaan di Silo (juga bagian dari Israel), orang-orang Benyamin atas restu suku Israel lain, menculik perempuan-perempuan Silo yang menari-nari dan memaksa mereka menjadi istri.

Saya tertegun membaca rentetan kisah-kisah itu. Betapa mengerikannya! Beginikah hidup umat Tuhan?

Dua hal yang membuat kisah-kisah ini lebih ironis lagi: Pertama, sepanjang lima pasal ini berkali-kali nama Yahweh (LAI: TUHAN) disebut. Mereka tahu TUHAN, mereka tahu Allah, mereka tahu mereka adalah orang Israel yang adalah umat Tuhan. Tapi betapa mereka sudah tidak mengenal Tuhan!

Kedua, orang Lewi yang menjadi imam berhala untuk keluarga Mikha dan kemudian menjadi imam berhala suku Dan, adalah: Yonatan bin Gersom bin Musa (18:30). Dia adalah cucu dari Musa!!! Beberapa ahli Taurat, penyalin Kitab Suci, belakangan mengubah nama Musa menjadi Manasye. Mungkin saking hormatnya kepada Musa, mereka tidak ingin nama Musa menjadi rusak. Tapi jelas salinan yang lebih lama menuliskan “Musa”. Dan sangat besar kemungkinan yang dimaksud adalah MUSA yang itu dan bukan Musa yang lain yang tidak dikenal. Baru sampai generasi cucunya Musa, mereka sudah begitu jauh dari Tuhan.

Tidak ada raja, tidak ada pemimpin, tidak ada gembala, berarti tidak ada aturan sosial, tidak ada yang mengajarkan kebenaran, tidak ada yang berotoritas untuk menegur. Dan hasilnya: “Everyone did as he saw fit”. Betapa mengerikannya hidup tanpa takut akan Tuhan.

Kita punya semuanya hari ini, ada raja, ada pemimpin, ada gembala, ada gereja, ada Alkitab, ada khotbah, dll, dll, tapi apakah kita jauh lebih baik dari mereka? Kita tahu kita orang Kristen, kita tahu Tuhan, kita punya Alkitab di rumah, tapi betulkah kita takut akan Tuhan? Ohh… mohon Tuhan mengasihani kita!

Wednesday, August 29, 2012

Bilangan 9 – Ketaatan Total

Kitab Bilangan menceritakan bagaimana Tuhan membentuk Israel menjadi tentara Allah. Pemuda yang mampu berperang dari setiap suku dihitung. Urutan lokasi perkemahan diatur. Urutan berbaris diatur. Cara meniup terompet untuk memanggil berkumpul dan bergerak ditetapkan. Teriakan perang juga diserukan setiap kali akan bergerak dan berkemah: “Apabila tabut itu berangkat, berkatalah Musa:

Bangkitlah, TUHAN, supaya musuh-Mu berserak dan orang-orang yang membenci Engkau melarikan diri dari hadapan-Mu." Dan apabila tabut itu berhenti, berkatalah ia: "Kembalilah, TUHAN, kepada umat Israel yang beribu-ribu laksa ini. (Bil 10:35-36).

Dan jelas sekali dari awal, pemimpin tertinggi mereka adalah: TUHAN.

Bilangan 9:17-23 sangat menarik:

Setiap kali awan itu naik dari atas Kemah, maka orang Israelpun berangkatlah, dan di tempat awan itu diam, di sanalah orang Israel berkemah. Atas titah TUHAN orang Israel berangkat dan atas titah TUHAN juga mereka berkemah; selama awan itu diam di atas Kemah Suci, mereka tetap berkemah.

Kelihatannya mudah? Coba lihat lagi kalimat berikutnya:

Apabila awan itu lama tinggal di atas Kemah Suci, maka orang Israel memelihara kewajibannya kepada TUHAN, dan tidaklah mereka berangkat.

Ada kalanya awan itu hanya tinggal beberapa hari di atas Kemah Suci; maka atas titah TUHAN mereka berkemah dan atas titah TUHAN juga mereka berangkat.

Ada kalanya awan itu tinggal dari petang sampai pagi; ketika awan itu naik pada waktu pagi, merekapun berangkatlah; baik pada waktu siang baik pada waktu malam, apabila awan itu naik, merekapun berangkatlah.

Berapa lamapun juga awan itu diam di atas Kemah Suci, baik dua hari, baik sebulan atau lebih lama, maka orang Israel tetap berkemah dan tidak berangkat; tetapi apabila awan itu naik, barulah mereka berangkat.

Atas titah TUHAN mereka berkemah dan atas titah TUHAN juga mereka berangkat; mereka memelihara kewajibannya kepada TUHAN, menurut titah TUHAN dengan perantaraan Musa.

Masih kelihatan mudah? Pasti karena kita tidak mengalaminya!

Bayangkan berapa repotnya memasang tenda. Ini bukan camping! Ini tinggal, lengkap dengan membawa keluarga, anak-anak, orang tua, bahkan ternak. Mereka harus unpacking, membongkar baju, peralatan masak, perlengkapan tidur, dan sebagainya. Dan… tanpa tahu kapan harus packing lagi! Kalau kita tinggal di hotel dan kita tahu hanya akan tinggal tiga hari, maka kita akan memilih apa yang dibawa dari rumah, apa yang dikeluarkan di hotel dan apa yang dibiarkan di koper. Tapi orang Israel tidak tahu itu.

Mereka sampai di suatu tempat, mereka harus unpacking. Dan kapan mereka packing lagi? Tidak tahu. Bisa lama sekali, bisa sebulan, bisa dua hari, bahkan bisa tidak sampai 24 jam!

Tapi Bilangan 9 menceritakan ketaatan yang luar biasa dari orang Israel. Mereka berangkat, mereka berkemah, sesuai titah Tuhan. Mereka berjalan ketika diperintahkan. Mereka tidak berjalan ketika tidak diperintahkan. Mereka tentara Tuhan!

Tuhan tidak bermaksud membuat mereka susah. Tuhan tidak bermaksud membuat hidup mereka tidak tenang. Tapi Tuhan bermaksud mengajar mereka ketaatan total. Mereka tentara Tuhan dan ketaatan mereka kepada Tuhan harus total.

Maukah kita diajar Tuhan seperti itu? Maukah kita ikut pimpinanNya, berjalan atau berkemah? Maukah kita taat total?

Saturday, August 27, 2011

Kisah Para Rasul 9:10-18

(Tulisan ini adalah bahan saat teduh untuk Retreat Young Adult Fellowship GKY Sg 7-9 Aug 2011. Sebagian bahan diambil dari artikel dalam www.intouch.org)

 

Anda sedang berjalan di tengah sebuah kota kecil di bawah terik matahari sore. Rasanya anda tidak ingin masuk ke rumah itu, rumah yang pernah anda lihat tapi belum pernah anda masuki. Lutut mulai terasa panas, tenggorokan tercekat, sambil anda memikirkan apa yang menanti anda dalam rumah itu.

Sambil pintu itu terbuka, anda makin tegang, sementara tuan rumah kemudian berkata, “Silakan masuk”. Pada mulanya, semua terlihat seperti bayangan sambil mata anda menyesuaikan diri dengan gelapnya ruangan itu. Perlahan-lahan, ketika mata anda mulai terbiasa, anda melihat seorang pria duduk di situ, seorang dengan pakaian yang bagus dan jenggot yang tipis, dia tidak melihat kepada anda, kepada siapapun atau kemanapun. Matanya tidak melihat apa-apa. Untuk orang inilah anda datang, orang yang telah membunuh teman-teman anda. Inilah orang yang telah datang untuk mengambil nyawa anda.

Cerita imajinasi di atas mungkin bukanlah gambaran yang sebenarnya dari apa yang terjadi dalam Kis 9. Tapi mungkin itu membantu kita mengerti apa yang dialami oleh Ananias. Dia diutus oleh Kristus untuk berdoa bagi seorang musuh gereja terbesar waktu itu: Saulus dari Tarsus, atau seperti yang sekarang kita kenal sebagai rasul Paulus.

Kis 8 memberitahu kita bahwa di Yerusalem, Saulus sudah berusaha membinasakan jemaat, masuk ke rumah demi rumah, menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara (8:3). Ketika penganiayaan itu meluas, banyak jemaat melarikan diri ke kota-kota lain untuk menyelamatkan diri. Tapi Saulus tidak puas dan ia mengejar mereka untuk membinasakan mereka. Di tengah perjalanan itulah, ia bertemu dengan Yesus, sang Terang itu membutakan mata orang yang hatinya buta ini. Tuhan kemudian menyuruh dia menunggu di kota itu untuk instruksi selanjutnya.

Siapa Ananias? Alkitab tidak bercerita banyak tentang dia. Tapi yang pasti Ananias tahu siapa Saulus dan untuk apa dia datang. Perintah Tuhan sederhana: “pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas, seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sekarang berdoa, dan dalam suatu penglihatan ia melihat, bahwa seorang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangan atasnya, supaya ia dapat melihat lagi” (9:11). Siapa yang bisa menyalahkan Ananias kalau dia ketakutan? Dia menjawab, “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya…” Tapi Yesus berkata: “Pergi” dan dia pergi.

Ananias taat kepada Yesus sekalipun sangat besar resikonya. Dan dia tidak hanya melakukan (dengan terpaksa), tapi dia melakukannya dari hati. Pada waktu masuk ke rumah itu, dia memanggil Saulus dengan “saudaraku”, sebutan yang biasa dia pakai untuk sesama orang Kristen. Betapa dia belajar mengasihi orang itu! Ananias kemudian menumpangkan tangan atas Saulus dan menyembuhkannya. Bahkan dia membaptis Saulus, orang itu yang beberapa hari lalu ingin membunuh dia!

Ananias dengan rendah hati membiarkan Tuhan bekerja melalui dia, dan hasilnya Saulus menjadi misionaris terbesar dalam sejarah Kristen. Cerita seperti ini bukan 1 kali terjadi. Coba lihat di Alkitab: Yusuf terus taat walaupun resikonya dipenjara, dan hasilnya adalah Tuhan memakai dia luar biasa. Ester mengambil resiko dengan datang kepada raja untuk bangsanya, dan hasilnya seluruh bangsa Israel selamat. Petrus dan kawan-kawan meninggalkan pekerjaan mereka mengikut Yesus dan hasilnya adalah kekristenan berkembang. Cerita seperti ini terus kita temukan sepanjang sejarah kekristenan.

Kita tidak pernah tahu ketaatan kita akan menghasilkan apa dalam kerajaan Tuhan. Tapi ketaatan walaupun besar resikonya, kemauan untuk ikut perintah Tuhan walaupun tidak mengerti apa yang akan terjadi, kegelisahan dengan hidup yang tidak melakukan apa-apa, dan kesetiaan mengerjakannya dengan rendah hati, akan dipakai Tuhan seperti gelombang yang terus bergulung sampai kekekalan. Pertanyaannya, ketika Yesus berkata “Pergi”, maukah kita pergi?

Fanny Crosby menciptakan sebuah lagu yang sangat indah. Renungkanlah kata-katanya:

Master, Thou callest, I gladly obey;
Only direct me, and I'll find Thy way.
Teach me the mission appointed for me,
What is my labor, and where it shall be?

Master, Thou callest, and this I reply,
"Ready and willing,
Lord, here am I."

Wednesday, August 24, 2011

Mazmur 103:13-18

(Tulisan ini adalah bahan saat teduh untuk Retreat Young Adult Fellowship GKY Sg 7-9 Aug 2011)
 
Membaca Mazmur 103:13-18 ini membuat kita merasa sangat diberkati. Begitu terkenalnya Mazmur ini di kalangan orang Kristen: Allah sayang kepada kita! Tapi tunggu dulu. Membaca Mazmur ini dengan lebih teliti membuat kita melihat ada 3 hal yang diungkapkan kepada kita:

1. Kasih Allah
Dengan sangat indah ia memang menggambarkan kasih Allah kepada kita “seperti bapa sayang kepada anak-anaknya”. Begitu sayangnya Allah kepada kita sehingga ayat-ayat sebelumnya mengatakan kasih itu “setinggi langit di atas bumi” (103:11).

2. Kita ini fana
Tuhan tahu bahwa kita ini fana, hanya hidup sementara dalam dunia. Dia “ingat bahwa kita ini debu” (103:14) dan “hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya maka tidak ada lagi ia” (103:15-16). Kita ini bukan apa-apa, kita ini hanya lewat saja dalam dunia ini, hari-hari kita bagi Allah sangatlah singkat. Bagi kita, hidup yang sementara seringkali berarti menikmati hidup ini sepuasnya. Tapi bagi Allah hidup kita yang sementara ini membuat Dia menaruh belas kasihan kepada kita.

3. Mereka yang takut akan Dia
Ini yang paling sering terlewatkan oleh kita, yaitu Tuhan sangat menyayangi “debu” ini, “rumput dan bunga di padang yang sebentar ditiup angin” ini, bukan sembarang orang. Tapi mereka “yang takut akan Dia” (103:14), mereka “yang berpegang pada perjanjian-Nya dan yang ingat untuk melakukan titah-Nya” (103:18).

Dunia yang kita tinggali ini bukanlah surga. Dunia ini juga bukan tempat tinggal kita untuk selamanya. Kita hanya mampir dalam dunia ini. Tapi apa yang kita lakukan selama kita mampir dalam dunia ini? Bersenang-senang? Mengejar maunya kita sendiri? Mencari keuntungan, kenyamanan, kepuasan sendiri? Kalau saya boleh pakai gambaran lain, mungkin seringkali Allah melihat kita dari atas dan geleng-geleng kepala. Waktu Dia lihat kita hidup untuk diri sendiri, waktu Dia lihat kita berbuat dosa, waktu Dia lihat kita tidak peduli akan orang lain, Dia geleng-geleng kepala, mengurut dada dan kasihan pada kita. Dia tahu kita hanya debu dalam dunia ini, sebentar lagi waktu kita akan lewat. Hanya karena kasihan Dia tidak timpakan kepada kita setimpal dengan dosa kita.

Suatu kali ada seseorang yang pernah bertanya kepada Max Lucado: “Ketika anak cucu anda tahu bahwa engkau hidup di dalam zaman dimana 1.75 milyar manusia hidup dalam kemiskinan dan 1 milyar manusia kelaparan, bagaimana mereka akan menilai respons anda?” Pertanyaan itu membuat dia tidak bisa tidur semalaman. Apa respons dia terhadap dunia yang seperti ini? Bagaimana nanti anak cucunya akan menilai respons dia? Apa jawab kita kalau kita juga ditanya pertanyaan yang sama?

Mungkin kita sudah mampir dalam dunia ini selama 20 tahun atau lebih, apa yang sudah kita lakukan selama ini? Apa yang sudah kita lakukan untuk teman kantor kita? Tetangga kita? Saudara kita di gereja? Apa yang sudah kita lakukan untuk kerajaan Tuhan?

Max Lucado menulis sebuah buku dengan judul: Outlive Your Life: You Were Made to Make a Difference. Kita memang sementara, tapi lakukanlah sesuatu melampaui hidupmu itu! Lakukanlah sesuatu yang bernilai. Lakukanlah sesuatu untuk membuat perbedaan selama engkau mampir dalam dunia ini.

Kita tidak harus melakukan yang besar. Small things can make a big difference. Kesulitan dan masalah memang banyak, ada orang kelaparan disana, ada orang tidak bisa sekolah disitu, ada orang dianiaya di tempat lain, ada bencana alam di tempat lain lagi, ada yang menangis di sini, dan seterusnya. I cannot do everything, but I can do my thing. I can do one thing that God has called me to do! Seperti sebuah orkestra, tiap orang memainkan bagiannya dan conductor yang mahir akan menghasilkan musik yang agung. Mainkan bagian kecil kita dan percayalah bahwa Allah akan menghasilkan sesuatu yang agung dari padanya.

Seperti bapa sayang kepada anak-Nya, demikianlah Tuhan menyayangi kita yang adalah debu ini, yang takut akan Dia dan ingat melakukan titah-Nya.

Monday, October 25, 2010

Hosana

Seruan "Hosana" di dalam Perjanjian Baru hanya muncul di dalam cerita Yesus memasuki kota Yerusalem. Orang banyak menyambut Yesus sambil berseru-seru: "Hosana! Hosana!"

Hosana berasal dari bahasa Ibrani - yang jika dituliskan menjadi - "hoshi'ah na". Di dalam bahasa Yunani dituliskan menjadi "hosanna".

Di dalam Perjanjian Lama, istilah ini muncul beberapa kali di dalam Mazmur (di dalam Alkitab bahasa Indonesia, di Perjanjian Lama tidak ada kata ini karena ia diterjemahkan dan tidak dituliskan langsung). "Hoshi'ah na" adalah seruan kepada Tuhan yang menyatakan doa supaya Tuhan menolong dan memberikan kemenangan. Maka di dalam Alkitab bahasa Indonesia, "hoshi'ah na" itu diterjemahkan menjadi "selamatkanlah", "berikanlah keselamatan", atau "berilah kiranya keselamatan". Lama kelamaan orang Yahudi mengubah seruan minta tolong ini menjadi seruan perayaan, seruan pembebasan. Dan orang Yahudi bahkan kemudian menafsirkan seruan ini sebagai seruan pengharapan mereka akan Mesias.

Itulah sebabnya pada waktu Yesus masuk ke Yerusalem dengan menunggangi keledai muda, orang banyak yang sedang berkobar-kobar mengharapkan Mesias, bersama-sama berseru "Hosana! Hosana!". Perhatikan perkataan mereka "diberkatilah kerajaan yang akan datang, kerajaan bapak kita Daud.." (Markus 11:9). Harapan mereka saat itu sedang sangat tinggi. Dan seruan mereka "Hosana!" adalah seruan "berikanlah keselamatan" atau mungkin seruan pembebasan "inilah pertolongan dari Tuhan, inilah keselamatan dari Tuhan, Tuhan menolong kita, Hosana!"

Hari ini, pada waktu kita juga berseru "Hosana!" atau "Hosiana!", biar kita ingat bahwa seruan kita "selamatkanlah kami" atau "Tuhan menolong kita" sudah digenapi di dalam Yesus. Jadikan ini seruan pembebasan. Tuhan sungguh sudah menolong kita! Hosana!

Tuesday, October 19, 2010

Haleluya

"Haleluya" adalah kata yang sangat akrab bagi orang Kristen. Begitu seringnya kata ini diucapkan

sehingga bahkan banyak orang bukan Kristen pun tahu bahwa yang menyebut "Haleluya" pasti adalah orang Kristen. Tapi apa arti "Haleluya"? Saya yakin banyak orang Kristen yang tidak tahu artinya.

"Haleluya" adalah kata dari bahasa Ibrani (yang jika ditransliterasi seharusnya menjadi "haleluyah", ada tambahan huruf 'h' di belakangnya). "Haleluyah" akar katanya adalah "halal" (he was praised) dan "yah" (singkatan dari Yahweh) ditambahkan pronoun "u" di tengah-tengah maka terjemahannya adalah "Praise (you) Yahweh", atau terjemahan bebasnya: Kamu semua pujilah TUHAN (Yahweh)!

Kata ini adalah ajakan bagi jemaat untuk memuji Tuhan dan mengharapkan respons. Pemimpin akan berseru: "Kamu semua pujilah TUHAN!" dan jemaat berespon dengan memuji Tuhan.

Lama kelamaan kata ini dipakai secara independen sebagai ungkapan pujian bagi Tuhan. Maka ketika orang ingin memuji Tuhan, dia bisa langsung mengatakan "Haleluya!" (bukan lagi sebagai ajakan). Maka mungkin terjemahannya menjadi: "Puji Tuhan!"

Di dalam Perjanjian Lama, kata "Haleluya" hanya muncul di Mazmur (23X). Tapi kata ini juga muncul di kitab-kitab lain di luar Alkitab yang ditulis sebelum Perjanjian Baru ditulis, menandakan bahwa orang Yahudi terus memakai kata ini dalam ibadah mereka. Di dalam Perjanjian Baru, kata "Haleluya" muncul di Wahyu (4X) dan ini menandakan bahwa kata ini juga biasa dipakai oleh orang Kristen dalam ibadah mereka.

Di kitab Wahyu, semua kata "Haleluya" munculnya adalah di Wahyu 19, berulang-ulang seperti refrain lagu. Dan Wahyu 19 adalah bagian penutup dari kitab Wahyu: nyanyian kemenangan bagi Anak Domba Allah, Yesus Kristus. Saat itu, seluruh dunia akan berseru bersama-sama "Haleluya! Pujilah Yahweh!"

Mari kita ingat, pada waktu kita mendengar kata ini diucapkan "Haleluya!", kita juga bisa berkata "Puji Tuhan! Puji Allah kita! Haleluya!"

Thursday, August 19, 2010

Filemon 5

Di dalam kuliah dengan Prof. Tan Kim Huat, muncul 1 ayat yang membuat saya kaget, Filemon 5. Di dalam bahasa Yunani, ayat itu bisa diterjemahkan begini (perhatikan urutannya):

"Because I hear about your love and your faith which you have toward the Lord Jesus and to all the saints"

Di dalam bahasa Inggris tidak ada masalah yang jelas terlihat (walaupun sebenarnya ada). Tetapi di dalam bahasa Yunani masalahnya segera terlihat. Kata yang diterjemahkan sebagai "which" di dalam bahasa Yunani berbentuk singular. Padahal Paulus mengatakan "your love" dan "your faith", ada dua. Artinya hanya satu yang ditujukan "toward the Lord Jesus and to all the saints" yaitu "faith". Paulus mendengar tentang kasih Filemon dan tentang iman Filemon kepada Tuhan Yesus dan semua orang kudus.

Ini sulit diterima oleh banyak orang karena bagaimana kita beriman kepada Yesus dan semua orang kudus? Beriman kepada Yesus ok, tapi kepada semua orang kudus? Ini mengganggu doktrin kita.
Menarik sekali bahwa kebingungan ini bukan hanya dialami oleh kita tapi bahkan oleh orang-orang Kristen di masa lalu. Di dalam Codex Bezae (dari abad V) dan beberapa naskah salinan Alkitab yang belakangan, urutan kalimatnya dibalik menjadi: "I hear about your faith and your love which you have toward the Lord Jesus and to all the saints" Perfect! Dengan urutan begini maka tidak ada masalah. Paulus mendengar tentang iman Filemon dan tentang kasihnya (bukan imannya) kepada Yesus dan kepada semua orang kudus. Tapi naskah-naskah yang lebih kuno, bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa itu salah.

Yang mengejutkan saya adalah NIV sebagai versi Alkitab yang paling banyak dipakai di kalangan Injili (termasuk di Indonesia) memberikan solusi yang lebih kreatif. Mereka menuliskannya begini: "I hear about your faith in the Lord Jesus and your love for all the saints". Brilian! Mereka pisahkan: "iman kepada Yesus" dan "kasih kepada semua orang kudus". Secara doktrin tepat, iman ya kepada Yesus, kepada orang kudus bukan iman tapi kasih.

Tapi yang menyedihkan saya adalah terjemahan itu tidak setia dengan Alkitab! Naskah Yunani mana yang mereka pakai sehingga mereka berani menterjemahkannya begitu?

Dan saya membuka Alkitab bahasa Indonesia (LAI), ternyata.... terjemahannya sama seperti NIV (hanya dibalik lagi): "aku mendengar tentang kasihmu kepada semua orang kudus dan tentang imanmu kepada Tuhan Yesus".

Mungkin sebagian ada yang merasa "ah, hal kecil begini kok diperdebatkan". Betul, ini hal kecil dalam arti tidak akan mengubah apapun tentang kebenaran Kristen. Tapi bagi saya ini hal besar dalam arti ada prinsip yang sangat penting di balik ini: kesetiaan kepada Firman Tuhan.

Argumen dari Douglas Moo dalam PNTC: The Letters to the Colossians and to Philemon bahwa karena Paulus biasanya bicara tentang "iman kepada Yesus" dan "kasih kepada orang kudus" (Kol 1:4, Ef 1:15) maka disini Paulus juga bermaksud seperti itu, tidak bisa diterima. Paulus bisa berbicara dengan maksud dan kalimat yang lain di setiap suratnya. Demikian pula dengan usaha Douglas Moo untuk membuat ayat ini berbentuk kiastik A-B-B'-A' terlalu dipaksakan. Pertanyaannya tetaplah: apa yang dikatakan oleh Alkitab?

Bagaimanapun sulitnya mengerti kalimat Paulus, tapi pertama, terima dulu apa yang dikatakan oleh Alkitab. Istilah "iman" (pistis) bisa berarti faithfulness, kesetiaan. Maka ayat ini bisa berarti Paulus mendengar tentang kasih Filemon dan tentang iman (pistis) Filemon kepada Yesus dan kesetiaan (pistis) Filemon kepada semua orang kudus (orang percaya). Mungkin ada tafsiran lain yang lebih baik. Tapi pada intinya, terima dulu kesaksian Alkitab baru kita renungkan maksudnya.

Kesedihan saya adalah mengapa orang Kristen, orang Injili yang seringkali menyatakan diri setia kepada Firman Tuhan, ternyata lebih setia pada doktrinnya daripada kesaksian Alkitab sendiri?

Friday, August 13, 2010

Imamat 26 - Persekutuan Dengan Sang Kudus

(Posted in 26 June 2008)

Tema yang mendasari kitab Imamat adalah fellowship with the Holy (persekutuan dengan Sang Kudus). Kitab Imamat dari depan sampai belakang berbicara soal imam, korban, peraturan kesucian ibadah dan peraturan kesucian hidup. Maka isi kitab Imamat adalah seputar bagaimana hidup dan bersekutu dengan Tuhan yang kudus.

Bersekutu dengan Sang Kudus adalah hal yang mudah karena kita bahkan diundang untuk itu. Tetapi itu juga bukan hal yang mudah karena kita cenderung melawan Dia. Dan ketika kita melawan Dia, kita menghancurkan persekutuan itu.

Imamat 26 dibagi menjadi 2 bagian: bagian berkat jikalau mereka mentaati Tuhan dan bagian kutuk jikalau mereka tidak mentaati Tuhan.

Bagian berkat dimulai dengan syarat (ay.3): kalau kamu “hidup menurut ketetapanKu” (walk in my laws), “berpegang pada perintahKu” (keep my Commandments) dan “melakukannya” (do them). Kalau mereka sungguh seperti demikian, maka Tuhan memberkati mereka.

Bagian kutuk dimulai dengan kalimat: “Tetapi jika kamu tidak mendengarkan Daku…" (ay.14-15). Jikalau mereka lakukan itu, Tuhan akan menghukum mereka.

Rentetan hukuman yang dituliskan terdengar sangat keras, dari mulai penyakit, tanah yang tidak menghasilkan, binatang buas, sampai yang paling mengerikan dikatakan mereka akan memakan anak mereka sendiri. Rentetan hukuman ini seperti: “Kalau tidak bertobat, ini hukumannya, kalau tidak bertobat lagi, ini tambahannya lagi, kalau masih kurang, ini tambahannya lagi…”. Sangat keras sekali!

Tetapi coba kita pikir dari sisi lain. Kalau hukumannya sederhana dan Tuhan hanya berkata “Jika kamu tidak mendengarkan Daku, Aku tinggalkan kamu”. Apa yang terjadi? Jauh lebih hancur, tidak akan ada yang tahan!

Bayangkan jika ada orang tua yang kesal dengan anaknya yang masih berusia dua tahun, lalu ia menghukum anaknya bukan dengan memarahi, bukan dengan memukul, tapi meninggalkannya di rumah sendirian! Anaknya pasti mati. Itu justru hukuman yang sangat kejam!

Maka dalam daftar hukuman bagi umat Tuhan ini, justru kita melihat keindahan kasih Tuhan. Tuhan tidak tinggalkan umatNya tetapi Tuhan pukul supaya mereka kembali taat. Dan yang sangat indah, kalau mereka kembali, Ia masih disana, Ia tidak pernah tinggalkan, Ia sambut mereka lagi.

Di bagian yang terakhir (ay.40-46), setelah kutukan yang begitu panjang, Tuhan sekali lagi mengungkapkan berita anugrah: “Tetapi bila mereka mengakui kesalahan mereka…Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan Yakub,…Ishak… dan Abraham”.

Pola ini terus terulang di dalam PL. Tuhan menyampaikan berkat yang diberikan kalau mereka taat dan Tuhan menyampaikan kutuk yang dijatuhkan kalau mereka tidak taat. Tetapi selalu diakhiri dengan berita anugrah “kalau kamu bertobat…”.

Bahkan Tuhan katakan: “Apabila mereka ada di negeri musuh mereka, Aku tidak akan menolak mereka dan tidak akan muak melihat mereka, sehingga Aku membinasakan mereka dan membatalkan perjanjian-Ku dengan mereka, sebab Akulah Tuhan, Allah mereka”.

Lihat! Tuhan tidak pernah tinggalkan dan buang umatNya. Hati Tuhan masih selalu menunggu. Tuhan hanya mau mereka kembali kepada Dia. Hanya mengakui kesalahan dan dosa mereka, merendahkan diri di hadapanNya dan mohon kemurahanNya, itu yang Tuhan mau. Dan persekutuan dengan Sang Kudus akan dipulihkan.

Saat ini dimana posisi kita? Apakah dalam persekutuan yang baik dengan Sang Kudus? Atau justru sedang melawan Dia? Kalau kita sedang melawan Tuhan, yang Tuhan inginkan adalah kembali mengaku dosa, merendahkan diri lagi dihadapan Tuhan, dan Tuhan akan memulihkan lagi.

Lihat! Tuhan tidak pernah tinggalkan dan buang kita, umatNya. Hati Tuhan masih selalu menunggu!

Sunday, July 25, 2010

Iblis Telah Mencegah Kami

Sebab kami telah berniat untuk datang kepada kamu-- aku, Paulus, malahan lebih dari sekali--, tetapi Iblis telah mencegah kami (1 Tes 2:18)

Paulus pernah datang ke Tesalonika, memberitakan Injil dan mendirikan gereja di sana. Tetapi karena kerusuhan disana (dikisahkan dalam Kis 17:1-10), maka mereka bergegas dipaksa oleh jemaat untuk meninggalkan kota itu. Peristiwa ini disebut oleh Paulus sebagai "we were torn away from you" (1 Tes 2:17 NIV - terj. LAI: terpisah dari kamu). Paulus tahu tugasnya di Tesalonika belum selesai, ada hal-hal yang belum dia ajarkan kepada mereka, maka ketika harus pergi dia merasa seperti dirampas dari jemaat Tesalonika.

Itu sebabnya dia berkata bahwa dia "sungguh-sungguh, dengan rindu yang besar, telah berusaha untuk datang menjenguk" jemaat Tesalonika lagi (1 Tes 2:17). Dan di dalam ay.18 sekali lagi dia katakan bahwa mereka ("kami" - mungkin Paulus dan Silas atau rekan-rekan lainnya) telah berniat untung datang kepada jemaat Tesalonika. Dan mereka tidak main-main, bukan sekedar ingin, tapi sungguh-sungguh berusaha.

Untuk menekankan maksudnya, Paulus berkata "aku" - paling tidak "aku sendiri" sudah berusaha dan bukan sekali tapi lebih dari sekali. Istilah Yunani yang dipakai adalah "satu kali dan dua kali" yang bisa diterjemahkan "lagi dan lagi, berkali-kali". NIV menterjemahkannya sebagai "I, Paul, did, again and again". Sangat besar usaha Paulus untuk kembali kepada mereka.

Tetapi -dia katakan- "Iblis telah mencegah kami". Istilah "mencegah" kurang kuat. Istilah Yunani yang dipakai adalah enekopsen yang berasal dari dunia militer yang dipakai ketika tentara menghancurkan jalan supaya tidak bisa dilalui oleh musuh. Ini istilah perang! Iblis menutup jalan, menutup kemungkinan, menghentikan usaha Paulus dan rekan-rekannya untuk maju terus ke Tesalonika. Untuk apa? Supaya Paulus tidak bisa memperlengkapi jemaat Tesalonika lebih jauh, supaya Paulus tidak bisa menjadi berkat di sana, supaya jemaat Tesalonika bisa lebih mudah dikacaukan, atau entah apa lagi tujuan Iblis. Bagaimana Iblis menutup jalan itu tidak dijelaskan kepada kita, tetapi Paulus sangat jelas bahwa pekerjaan pelayanannya terhambat karena pekerjaan Iblis.

Pernahkah kita berpikir seperti Paulus? Ketika pelayanan terhambat, mungkin karena penyakit, mungkin karena keributan di antara pelayan, atau karena halangan-halangan lain, adalah karena pekerjaan Iblis (tidak selalu memang tetapi paling tidak Iblis senang melihatnya). Pelayanan bukan sekedar sibuk-sibuk mengerjakan ini dan itu atau mengatur berbagai hal supaya rapi, tetapi ini adalah peperangan rohani!

Alangkah beratnya peperangan ini kalau seringkali kita mempermudah musuh untuk menyerang kita dengan kebodohan, kesombongan dan dosa di antara kita sendiri. Kita berebut posisi, kita saling curiga, kita marah kepada saudara-saudara kita karena alasan sederhana, kita malas berbagian, bagaimana kita bisa berperang dengan baik?

Dan alangkah tidak mungkinnya kita menangkan perang ini dengan kekuatan sendiri. Kita hanya dan hanya bekerja, ditempel dengan "a little prayer". Iblis terus giat bekerja, mencegah, menutup, menghancurkan, menghentikan. Dan kita ingin melawannya dengan kekuatan kita? No way! Kita harus berdoa dan berdoa dengan sungguh-sungguh meminta pertolongan Tuhan. Be aware! We are in spiritual warfare. Iblis adalah musuh yang sangat real, tapi ingat dia bukan musuh yang mahakuasa karena yang mahakuasa hanyalah Tuhan.

Sunday, May 16, 2010

Panggilan Makedonia

Kis 16:9 menceritakan penglihatan yang diterima oleh Paulus pada waktu ia berada di Troas. Malam hari itu dia melihat seorang Makedonia berdiri di situ dan berseru kepadanya, katanya: "Menyebranglah ke mari dan tolonglah kami". Setelah melihat itu, Paulus menyimpulkan bahwa Allah memanggil mereka untuk memberitakan Injil di sana.

Walaupun Alkitab tidak pernah bercerita tentang penampilan orang itu, tetapi bisa kita perkirakan bahwa orang itu memakai kostum tradisional khas Makedonia (kalau tidak bagaimana Paulus tahu itu orang Makedonia?). Walaupun orang Makedonia memiliki beberapa kostum, tetapi sangat mungkin yang dipakai adalah kostum pria (bukan wanita) biasa (bukan kostum perang atau pernikahan). Dan salah satu elemen yang terkenal dari kostum ini adalah topi lebar yang disebut Kausia. Topi khas Makedonia ini sudah ditemukan gambarnya dari abad ke-4 BC, dan disebut juga oleh penulis abad pertama.




Bahkan di zaman modern ini pun, topi dengan model ini masih bisa ditemukan di Makedonia, walaupun mungkin dengan sedikit perbedaan.



Bayangkanlah orang dengan topi seperti ini melambai-lambaikan tangan kepada Paulus dan berseru, "Menyebranglah ke mari dan tolonglah kami!". Paulus pun berespon. Dia pergi kesana, mengabarkan Injil, mendirikan jemaat di sana, dan kemudian menulis dua surat kepada mereka yang menjadi bagian dari Alkitab kita. Jemaat itu berada di ibukota dari Makedonia: Tesalonika!

Saturday, April 24, 2010

2 Raja-raja 6:24-7:16 Doa Dalam Kesukaran

(Ringkasan khotbah di Persekutuan Doa GKY Singapore 23 April 2010)

Bangsa Aram berperang dengan Israel dan mereka mengepung langsung ibukota Israel. Di zaman itu,
pengepungan berarti kelaparan di dalam kota. Dan penulis kitab Raja-raja ini memberi kita gambaran seperti apa dahsyatnya kelaparan itu: Sampai ada 2 orang ibu yang berjanji untuk bergantian menyembelih anaknya sendiri supaya bisa makan! (6:26-29)

Waktu raja Israel mendengar sampai ada rakyatnya yang makan anaknya sendiri, dia tidak tahan lagi. Dia pakai kain kabung, tanda berduka dan tertekan, dan dalam kemarahannya, yang terlintas dalam pikirannya adalah: bunuh Elisa! (6:31). Dia berkata “Sesungguhnya malapetaka ini adalah daripada TUHAN. Mengapakah aku berharap kepada TUHAN lagi?” Dia marah kepada Tuhan, dan dia ingin melampiaskan kemarahannya dengan membunuh nabi Tuhan. Balas dendam kepada Tuhan!

Tetapi luar biasa, terlepas dari kejahatan Israel, Tuhan masih mau menyampaikan firmanNya melalui Elisa, dan isinya adalah berita anugrah! Janji Tuhan adalah: "Besok kira-kira waktu ini...", dalam 24 jam seluruh ekonomi Israel akan total berubah (7:1). Harga-harga yang begitu mahal karena sangat langka akan menjadi begitu murah karena berkelimpahan.

Perwira yang menjadi ajudan raja langsung bereaksi, “Tidak mungkin! Sekalipun Tuhan membuat tingkap-tingkap di langit, masakan hal itu mungkin terjadi?” (7:2). Dengan kata lain dia berkata “Biarpun Tuhan lakukan mukjizat, tingkap langit sampai terbuka pun, tidak akan hal itu terjadi.

Dia tidak menyangka bahwa Tuhan akan melakukannya dalam cara yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan: Tuhan akan bawa makanan itu masuk berlimpah-limpah bukan lewat mana-mana, bukan lewat langit, tapi dari pintu gerbang. Tuhan akan berikan makanan berlimpah-limpah bukan dari suplai ladang atau sawah atau pedagang-pedagang, bukan dari semua yang mereka pikirkan, tetapi dari milik pasukan Aram. Dan yang sangat drastis adalah itu akan terjadi dalam 1 malam!

Ada beberapa hal saya ajak kita renungkan:

1. Mengapa perwira ajudan raja itu bisa berkata: "Sekalipun Tuhan membuat tingkap-tingkap di langit, masakan hal itu mungkin itu terjadi"? Padahal dia orang Israel, dia tahu bahwa Allah maha kuasa. Dia tahu kisah bagaimana Allah menghukum Mesir dengan 10 tulah, dia tahu cerita bagaimana tiap hari Allah turunkan manna bagi orang Israel selama puluhan tahun di padang gurun, dia tahu semua cerita-cerita perbuatan dahsyat Allah di masa lalu. Tetapi dia akan berkata, "Itu dulu. Sekarang, tidak mungkin!"

Mungkin ini juga menjadi masalah kita. Kita baca di Alkitab tentang kuasa Allah. Kita baca betapa Allah bisa melakukan perkara besar. Tetapi paling mentok kita hanya berkata, "Itu dulu. Sekarang, tidak mungkin!"

Kita juga bisa percaya ketika mendengar cerita tentang kuasa Tuhan bekerja kepada orang lain di tempat lain. Ketika kita dengar orang lain mengalami mukjizat ini dan itu, kita percaya itu dari Tuhan. Kita dengar cerita kebangunan rohani di negara ini dan itu, kita amini itu dari Tuhan.

Tapi ketika kita alami kesukaran, jalan buntu. berdoa dan tidak ada perubahan, kita sulit percaya bahwa Tuhan yang sama yang mengerjakan semua itu bisa melakukan sesuatu kepada saya sekarang dan di sini.

2. Dalam pikiran perwira itu, karena kota itu dikepung kiri kanan dan tak mungkin ada bahan makanan masuk maka kalau Tuhan mau tolong, satu-satunya cara adalah Tuhan musti jatuhkan dari langit. Tidak ada cara lain! Dan bagi dia, itu pun tidak akan cukup.

Sama, kita bisa berpikir dalam keadaan kita, kalau Tuhan mau tolong, musti begini atau begitu cara tolongnya, musti terjadi ini atau itu, ada perubahan ini dan itu, dst. Dan kita mengajari Tuhan.
Tapi kenapa Tuhan harus ikuti pikiran kita? Tuhan bisa lakukan dengan cara apa saja. Seperti dalam cerita ini, tanpa buka tingkap langit Tuhan bisa berikan makanan.

3. 7:5-7 menceritakan ketika orang-orang kusta itu sampai di perkemahan orang Aram, tidak ada 1 orang pun disana sebab "Tuhan telah membuat tentara Aram itu mendengar bunyi kereta, bunyi kuda, bunyi tentara yang besar”. Begitu mengerikannya bunyi itu dan mereka mengira Israel memanggil raja-raja daerah lain, pasukan yang sangat besar untuk menolong mereka. Dengan ketakutan, mereka langsung lari. Gampang sekali!

Kita bisa tanya, “Tuhan kenapa nggak dari dulu, kenapa tunggu begitu lama? Kenapa tunggu sampai begitu kelaparannya sampai ada ibu yang makan anaknya?

Kita tidak tahu kenapa, tetapi ibu makan anak itu bukan karena Tuhan tapi karena dosa. Dan Tuhan biarkan dosa terjadi, ada yang saling membunuh, ada yang mungkin mencuri, menjarah, merampok, ada yang memaki Tuhan, ada yang tidak percaya Tuhan. Tuhan biarkan semuanya. Sampai waktunya tiba, Tuhan menyatakan kuasaNya.

Setelah Tuhan menolong, bagaimana reaksi orang Israel? Saya kira sama dengan reaksi semua orang di manapun juga:

Orang yang tidak percaya kepada Tuhan, tetap tidak akan peduli kepada Tuhan.

Orang yang percaya Tuhan tapi selama kesukaran dan penantian marah, kecewa, ngomel sama Tuhan, atau bahkan 'mengancam' tinggalkan Tuhan, akan tertunduk malu.

Tetapi orang yang terus berharap, percaya dan berdoa, merekalah yang bersukacita luar biasa!

Kita yang mana?

Tuesday, April 20, 2010

Petrus 'Takut' Kepada Kalangan Yakobus?

Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah. Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat. Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka. (Galatia 2:11-13)

Kita tidak tahu berapa lama Petrus tinggal di Antiokhia, tetapi di dalam beberapa kesempatan dia, dan tentu dengan Paulus dan Barnabas, makan bersama dengan jemaat disana baik Yahudi maupun non Yahudi. Makan bersama (table-fellowship) adalah tanda persekutuan dan bagi jemaat mula-mula itu mungkin berarti makan bersama dalam perjamuan kudus dan perjamuan kasih. Kemauan Petrus untuk ikut makan bersama dengan mereka seperti memberikan pengesahan dari pimpinan gereja di Yerusalem bahwa orang non Yahudi diterima dalam gereja. Mereka adalah sama satu tubuh Kristus. Sangat indah!

Sangat disayangkan, keindahan itu terganggu ketika "beberapa orang dari kalangan Yakobus" datang. Siapa mereka? Kita hanya bisa menebak, mungkin mereka adalah utusan Yakobus, untuk menyampaikan sesuatu kepada jemaat di Antiokhia atau kepada Petrus. Atau mungkin mereka adalah murid-murid Yakobus. G. Walter Hansen (IVPNTC: Galatians) mengatakan pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang mereka katakan kepada Petrus? Apa yang mereka sampaikan kepada Petrus sehingga dia tidak lagi mau makan bersama jemaat non Yahudi "karena takut akan saudara-saudara yang bersunat"?

Siapa "saudara-saudara yang bersunat" itu? Hansen mengatakan mereka bukan "kalangan Yakobus". Petrus adalah salah seorang pilar jemaat di Yerusalem, mengapa dia harus takut kepada utusan atau murid Yakobus? Di dalam surat Galatia, "saudara-saudara yang bersunat" itu adalah orang Yahudi, bisa orang Yahudi Kristen atau non Kristen.

Banyak penafsir setuju bahwa untuk mengerti ini kita harus melihat konteks sejarah. Ronald Y.K. Fung (NICNT: The Epistle to the Galatians) memberikan 2 alasan:

Pertama, Petrus adalah pimpinan pekerjaan misi gereja Yerusalem kepada orang Yahudi, dan kalau berita ia makan bersama dengan orang non Yahudi dipakai sebagai berita bahwa ia murtad dari agama Yahudi, maka ia menjadi batu sandungan bagi orang-orang yang dia Injili.

Kedua, orang Kristen Yahudi di daerah Yerusalem dan Yudea sudah cukup terancam oleh saudara-saudara Yahudi mereka dan kalau berita bahwa orang Yahudi yang menjadi Kristen sekarang sudah tidak ada bedanya lagi dengan orang non Yahudi, maka keselamatan mereka akan makin terancam. Maka berita dari "kalangan Yakobus" itu mungkin adalah permohonan kepada Petrus untuk berhati-hati demi saudara-saudara yang lain.

Dengan latar belakang ini, kita sangat bisa mengerti alasan Petrus. Saudara-saudaranya sesama orang Yahudi Kristen akan marah kepadanya, "gara-gara kamu kami dianiaya! bukankah kamu bisa lebih bijaksana?" Dan orang Yahudi non Kristen yang dia Injili akan berkata "benar kata para pemimpin kami, Yesus bukan penggenap Taurat seperti yang kamu katakan, tapi pemurtad Taurat! buat apa kami jadi Kristen dan murtad kepada Allah?" Hansen mengatakan, apa salahnya kalau Petrus menjaga preference and sensitivity gerejanya? Kalau Paulus boleh menjadi seperti orang non Yahudi kepada orang non Yahudi, maka mengapa ia tidak boleh menjadi seperti orang Yahudi kepada orang Yahudi?

Kita sangat bisa mengerti apa yang dilakukan Petrus. Tetapi bagi Paulus, apapun alasannya, yang dilakukan oleh Petrus dan Barnabas adalah munafik. Mereka percaya bahwa di dalam Kristus tidak ada perbedaan, tetapi kelakuan mereka berbeda dengan apa yang mereka percaya. Dan dalam hal ini, bagi Paulus, Injil adalah taruhannya.

Scot McKnight (NIVAC: Galatians) menyimpulkan keadaan ini sebagai Peer Pressure. Kita biasa beranggapan peer pressure terbatas dialami oleh remaja, padahal itu dialami oleh setiap kita. Dalam kasus Petrus, ini bukan peer pressure biasa (sekedar mengikuti kelakuan atau gaya hidup tertentu) tetapi ada alasan lebih kuat di baliknya: kekhawatiran akan pemberitaan Injil atau keselamatan saudara-saudara seiman. Tetapi Petrus tetap salah. Merenungi kisah ini membuat saya bertanya, seberapa jauh saya juga dikendalikan oleh peer pressure? Saya tidak bebas dari itu. Sebagai penutup, saya mengutip kalimat dari McKnight:

"It doesn't seem to matter what decisions we make; someone will criticize our choices. If we are handcuffed by a fear of people's criticisms, we will never accomplish anything. Such fear is nothing more than peer pressure. Peter made a bad decision when he felt that pressure; we will too. But God calls us to a fearless obedience of his will as we live in the Spirit. What we need is courage, courage to live according to our faith and its implications rather than according to our emotions, fleeting passions, and fear of others".

Oh Lord, help us to live a free lives, free from all kinds of bondage that You have set us free!

Wednesday, March 24, 2010

John - The Apostle of Love

Rasul Yohanes seringkali disebut sebagai "the beloved disciple" (murid yang dikasihi) di dalam Alkitab. Tetapi gereja kemudian juga menyebutnya sebagai "the apostle of love" (rasul kasih).

Membaca tulisan Yohanes dalam Injil dan juga surat-suratnya, membuat saya mengerti mengapa ia disebut seperti itu. Di dalam Injil Yohanes, dia mencatat perintah Yesus untuk murid-muridNya, orang-orang yang percaya kepadaNya, supaya mereka saling mengasihi: "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-muridKu, yaitu jikalau kamu saling mengasihi" (Yoh 13:34-35). Bukan 1X dia tuliskan ini tetapi beberapa kali dengan kalimat yang mirip untuk menekankan maksudnya: Inilah perintahKu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu (Yoh 15:12); Inilah perintahKu kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain (Yoh 15:17).

Di dalam surat 1 Yohanes, dia mengulang perintah Yesus untuk saling mengasihi di antara sesama orang percaya (saudara) dengan berbagai cara. Ketika saya membaca surat 1 Yohanes, kadang saya merasa lelah dengan kalimat-kalimat yang seperti pengulangan terus menerus. Untuk mengutip beberapa saja:

Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan (1 Yoh 2:10)

Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut (1 Yoh 3:14)

Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah (1 Yoh 4:7)

Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasihNya sempurna di dalam kita (1 Yoh 4:12)

Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya (1 Yoh 4:21)

Dalam surat yang sangat pendek (105 ayat), entah berapa kali dia mengulang perintah-perintah seperti itu. Saya sangat tertarik ketika Rodney Whitacre (dalam IVPNTC: John) mengutip dua kisah dari gereja mula-mula tentang Yohanes:

Waktu Yohanes sudah sangat tua, setiap kali dia dibawa ke pertemuan jemaat dia akan selalu berkata, "Little children, love one another." Ketika murid-muridnya bosan dengan perkataannya, mereka bertanya, "Guru, mengapa engkau selalu mengatakan itu?" Dan Yohanes menjawab "Ini adalah perintah Tuhan. Jika ini saja dilakukan, sudah cukup" - Jerome (abad ke-4-5)

Ketika Yohanes bertemu dengan seorang penjahat yang bertobat tapi jatuh lagi ke dalam dosa, dia mendorong penjahat itu untuk bertobat dan berkata, "Jika harus, aku akan rela menderita kematian bagimu, sebagaimana Tuhan menderita bagi kita, bagi hidupmu, aku akan berikan hidupku" - Clement of Alexandria (abad ke-2-3)

Dia bukan saja mengulang-ulang perintah tentang kasih di dalam tulisannya, tetapi juga di dalam perkataannya dan tindakannya. Yohanes, sungguh tepat disebut "the apostle of love." We really have much to learn from him.

Thursday, March 04, 2010

Ia Sengaja Tinggal Dua Hari Lagi

"...Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: "Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit... Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus. Namun setelah didengarnya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, dimana Ia berada" (Yoh 11:3, 5-6)

Kita tahu kisah ini. Ketika Yesus mendengar berita tentang Lazarus dari Betania, Ia sengaja tinggal dua hari lagi dan baru berangkat Betania. Dan apa yang terjadi? Lazarus sudah mati. Biasanya orang melihat kisah ini sebagai kesengajaan Yesus, menunggu Lazarus mati, untuk kemudian membangkitkannya. Penundaan Yesus menyebabkan Lazarus mati dulu sebelum Yesus tiba. Tetapi bukan itu kisahnya.

Yesus tinggal dua hari lagi di tempat dimana Dia berada baru kemudian berangkat, tetapi pada waktu tiba di Betania, Lazarus sudah empat hari meninggal.

Ada beberapa kemungkinan:
1. Jarak antara Betania dan tempat Yesus berada adalah empat hari perjalanan. Setelah pembawa berita itu sampai kepada Yesus, Yesus tinggal dua hari lagi dan tepat ketika Yesus akan berangkat Lazarus pun meninggal. Maka setelah Yesus berjalan empat hari ke Betania, Lazarus sudah empat hari meninggal.

2. Jarak antara Betania dan tempat Yesus berada adalah dua hari perjalanan. Maka tepat saat pembawa berita itu sampai kepada Yesus, Lazarus pun meninggal. Maka Yesus tunggu dua hari lagi, lalu berjalan dua hari lagi, dan ketika sampai di Betania, Lazarus sudah empat hari meninggal.

3. Jarak antara Betania dan tempat Yesus berada adalah satu hari perjalanan. Maka tepat ketika pembawa berita itu baru berangkat, Lazarus meninggal. Ketika dia sampai kepada Yesus, Lazarus sudah satu hari meninggal. Yesus tinggal dua hari lagi dan berjalan 1 hari lagi, maka pada waktu sampai di Betania, Lazarus sudah empat hari meninggal.

Kemungkinan manapun, bukan penundaan Yesus yang menyebabkan Lazarus meninggal. Karena sekalipun Yesus langsung berangkat setelah menerima berita, Lazarus tetap sudah meninggal ketika Yesus sampai di Betania.

Lalu untuk apa Yesus tinggal dua hari lagi?

Biasanya orang yang meninggal dikubur pada hari yang sama. Empat hari sudah Lazarus berada di dalam kubur, tubuhnya pasti sudah mulai membusuk. Tidak akan ada keraguan bahwa dia sungguh-sungguh meninggal.

Rodney Whitacre mengutip sebuah teks Yahudi yang mengutip tulisan dari abad ke-3 yang mengatakan bahwa para peratap harus terus datang ke kubur selama tiga hari karena orang yang meninggal masih terus ada di situ. Jiwa akan terus ada disitu dan berpikir untuk kembali ke tubuh, tetapi ketika melihat tubuh yang mulai rusak, jiwa pergi dan mengabaikan tubuh. Itu kepercayaan orang Yahudi. Maka tangisan akan memuncak pada hari ketiga karena itu adalah hari terakhir orang yang meninggal itu hadir disana. Maka ketika Lazarus disebutkan sudah empat hari meninggal, ini menambah dramatis mukjizat yang akan dilakukan Yesus. Lazarus sungguh sudah mati, tubuhnya sudah membusuk dan bahkan tidak ada orang Yahudi yang bisa berkata bahwa jiwanya masih di situ! Di tengah segala ketidak-mungkinan, Yesus membangkitkan Lazarus!

Kita tidak tahu persis mengapa Yesus tinggal dua hari lagi sebelum berangkat, kita hanya bisa menduga. Tetapi satu hal yang kita tahu, seperti yang dikatakan Whitacre "His delay leads to a greater blessing." Penundaan Yesus, memimpin kepada berkat yang lebih besar, bagi Lazarus, bagi Maria dan Marta, dan bagi orang-orang Yahudi yang hadir di situ atau mendengar kisah itu.

Thursday, February 11, 2010

The "Doubting" Thomas

Tomas kita kenal sebagai "si peragu" karena sikapnya ketika mendengar tentang kebangkitan Yesus. Dari 11 murid Yesus (12 orang minus Yudas), Tomas adalah satu-satunya yang berkata "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya" (Yoh 20:25).

Nama Tomas di dalam Alkitab hanya muncul ketika Alkitab menyebutkan serentetan nama-nama murid Yesus, kecuali di dalam tiga kisah: Pertama, di dalam kisah ini. Kedua, di dalam Yoh 14:5 yaitu ketika Yesus berkata "...ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ" dan dia langsung menjawab "Tuhan, kami tidak tahu kemana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?" Tidak heran nama Tomas selalu dikaitkan dengan sikap keragu-raguannya.

Tetapi kita tidak adil terhadap Tomas jika kita tidak memperhitungkan kisah ketiga yaitu di dalam Yoh 11:16. Pada waktu itu keadaan sudah menjadi sangat berbahaya bagi Yesus. Permusuhan dengan para pemimpin Yahudi, sudah mencapai puncaknya dan mereka berusaha membunuh Dia. Beberapa waktu sebelumnya, orang-orang Yahudi hampir melempari Yesus dengan batu. Dan sekarang karena kematian Lazarus, Yesus ingin kembali ke daerah itu. Lalu Tomas berkata kepada murid-murid yang lain: "Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia" (Yoh 11:16).

Bagi mereka yang melihat Tomas hanya sebagai "si peragu", maka kalimat di atas terdengar seperti ungkapan sinis, "ya ayolah... mati ya mati deh" atau "ya udah lah nasib... punya guru yang ngajakin bunuh diri".

Tapi mungkinkah kalimat dia justru menunjukkan betapa berani dan setianya dia kepada Yesus? Dia mungkin tidak mengerti sepenuhnya mengapa Yesus mau dan berani pergi lagi ke daerah konflik, daerah yang berbahaya, tetapi ketika murid-murid lain ragu-ragu, dia langsung berkata "mari kita pergi dan ikut mati bersama Yesus".

Mana yang betul? Kita mungkin tidak akan pernah tahu.

Tuesday, April 08, 2008

1 Samuel 13 - Ketidaktaatan


Saul adalah raja pertama dari bangsa Israel. Kitab 1 Samuel pasal 9-12 mencatat hal-hal yang indah
tentang bagaimana Saul dipilih Tuhan menjadi raja, bagaimana namanya dibuat menjadi harum di antara orang Israel, sehingga Samuel pun bisa berlega hati minta diri dari bangsa Israel. Tetapi mulai 1 Samuel 13, yang diceritakan adalah kemerosotan Saul. Ketidaktaatan dan ketidak bijaksanaan Saul mulai diperlihatkan, sampai akhirnya 1 Samuel 15:35 menyimpulkan: “…Samuel berdukacita karena Saul. Dan Tuhan menyesal, karena Ia menjadikan Saul raja atas Israel”. Itulah kesimpulan akhir yang menyedihkan tentang Saul.

Selama Saul memerintah, bangsa Israel terus berada dalam kondisi peperangan dengan bangsa-bangsa lain. 1 Samuel 13-15 menceritakan kemenangan-kemenangan awal Saul atas Filistin dan juga Amalek. Maka dari sisi manusia, bisa dikatakan 1 Samuel 13 ini adalah permulaan yang baik dari pemerintahan Saul. Baru saja jadi raja, sudah menang perang terus. Dia mengawali pemerintahannya dengan menunjukkan kemampuannya melawan musuh. Tetapi justru di sini pointnya. Cerita kesuksesan Saul bercampur dengan komentar yang buruk dari Tuhan.

Dan akhirnya seluruh cerita ditutup di 1 Samuel 15 dengan kesimpulan yang menyedihkan itu tentang Saul. Sekalipun Saul bisa memenangkan peperangan dan banyak mengerjakan hal yang baik selama dia menjadi raja, tetapi dia tidak taat pada Tuhan. Kalau mau diukur dari keberhasilan, Saul sangat sukses. Tapi bukan itu yang Tuhan lihat. Tuhan tidak memuji kesuksesannya, tetapi Tuhan bersedih melihat hatinya.

Kesalahan Saul dalam 1 Samuel 13 ini adalah dalam hal mempersembahkan korban. Kesalahan Saul adalah karena ia tidak mentaati firman Tuhan yang disampaikan oleh Samuel (13:13-14).

Saul ingin segera membakar korban karena pada waktu itu rakyat mulai berserak meninggalkan dia. Tentara Israel punya sedikit sekali senjata yang layak karena mereka sama sekali tidak menguasai teknik untuk mengasah besi. Tidak ada seorang pun tukang besi di Israel, maka mereka tidak memiliki satu pun pedang atau tombak (13:19,22). Hanya Saul dan Yonatan yang punya. Yang lain pakai apa? Mungkin kapak, arit, atau alat-alat pertanian lainnya yang tidak layak dijadikan senjata berperang. Sementara itu, mempersembahkan korban sebelum berperang adalah kebiasaan bangsa-bangsa zaman itu sebagai cara mendapat perkenanan dewa mereka. Bangsa Israel juga punya konsep yang sama. Itu sebabnya dalam keadaan yang serba lemah, sementara korban belum dipersembahkan, mereka sangat takut dan mulai meninggalkan Saul. Maka Saul ingin membangkitkan semangat rakyat dengan membakar korban, seperti berkata “Lihat korban sudah dipersembahkan! Allah pasti tolong!”.

Samuel sudah memberikan perintah supaya Saul pergi dulu ke Gilgal dan menunggu dia selama 7 hari di sana sampai dia datang dan barulah mempersembahkan korban (10:8). Tetapi sesudah ditunggu 7 hari lamanya, Samuel belum datang juga sementara rakyat sudah tidak sabar. Keadaan memburuk karena musuh makin dekat mengepung dan semua sudah ketakutan, ada yang bersembunyi di gua dan ada yang melarikan diri. Maka Saul pun melanggar perintah Tuhan.

Ada 3 hal lagi yang menjadi kesalahan besar Saul:

Pertama, dia pintar beralasan. 
Kita bisa berkata bahwa tindakan Saul masuk akal. Persis seperti alasan Saul mengapa dia mempersembahkan korban tanpa menunggu Samuel: “Rakyat itu berserak-serak meninggalkan aku dan engkau tidak datang pada waktu yang telah ditentukan, padahal orang Filistin telah berkumpul di Mihkmas, maka pikirku: Sebentar lagi orang Filistin akan menyerang aku di Gilgal, padahal aku belum memohonkan belas kasihan TUHAN; sebab itu aku memberanikan diri, lalu mempersembahkan korban bakaran” (13:11-12).

Kata-kata Saul hebat, alasannya tepat, semuanya masuk akal. Tetapi Saul lupa 1 hal: Tuhan lebih senang orang yang taat! Alasan apapun, sekalipun masuk akal, menjadi tidak masuk akal karena melawan perintah Tuhan.

Kalau kita lihat nanti di 1 Samuel 15, kita menemukan kisah yang mirip terulang lagi. Saul tidak taat lagi, dan ketika ditegur, dia langsung memberikan lagi alasan-alasan yang masuk akal. Ini kelemahan Saul yang paling dasar: dia pintar bicara dan mencari alasan ketika ditegur.

Kedua, Saul dikuasai oleh keadaan dan bukan oleh iman.

John Bunyan mengatakan kalimat yang agung: “Aku lebih baik berjalan di dalam gelap bersama Tuhan daripada berjalan sendirian di dalam terang”. Lebih baik di dalam gelap, tidak tahu mengapa, tidak tahu harus bagaimana, tetapi tetap bersama Tuhan, daripada seakan-akan tahu jelas apa yang harus dilakukan, tahu jalan kemenangan, tetapi sendirian karena tidak bersama Tuhan.

Tetapi pikiran Saul lain. Dan seringkali begitu jugalah kita! Ketika kita melihat keadaan tidak beres, kita sering ingin segera melakukan sesuatu. Kita tidak suka ada sesuatu yang berjalan di luar kontrol kita, kita ingin pegang kendali. Tetapi ini salah! Ini seringkali sama dengan keinginan manusia menjadi sama seperti Allah. Kita ingin mengatur hidup kita, ingin semua berada dalam kontrol kita. Padahal lebih baik lemah, seperti tidak bisa berbuat apa-apa, berada dalam kegelapan, tapi jelas menantikan Tuhan.

Terakhir, Saul menganggap Tuhan hanya seperti mainan. Ketika dia mempersembahkan korban, dia juga hanya ingin memakai Tuhan untuk memberkati peperangan. Dia ingin memakai upacara persembahan korban kepada Tuhan itu sebagai alat untuk memompa semangat prajuritnya. Ia tidak menganggap serius Tuhan.

Belajar mentaati Tuhan, belajar tetap taat sekalipun keadaan tidak memungkinkan, belajar tetap menunggu Tuhan sekalipun seperti tidak bisa ditunggu, itu adalah pelajaran-pelajaran penting dalam kehidupan. Saul melakukan kewajiban agama, Saul bicara tentang Allah, Saul juga melakukan pekerjaan Allah. Semua itu dia lakukan, tetapi itu tidak cukup. Masalahnya adalah hati, 'The heart of the matter is a matter of the heart' (Inti dari masalahnya adalah masalah hati). Allah tidak ingin semua itu tanpa hati yang merindukan dan mentaati Dia.

Bagaimana hati anda?

Wednesday, June 27, 2007

Lukas 9:18-27

(Tulisan di bawah ini saya buat sebagai bahan saat teduh untuk Retreat GKY Green Ville "Invitation to A Journey" 21-23 Juni 2007)

Mengikut Yesus adalah sebuah pilihan hidup. Makin lama mengikut Yesus kita akan makin sadar hal itu.

Dalam percakapan dengan beberapa orang yang sedang bergumul untuk menjadi hamba Tuhan, saya sering mendengar bahwa masalah yang memberatkan mereka adalah "menjadi hamba Tuhan berarti tidak menjadi kaya dalam materi".

Ada dua hal yang sangat mengganjal bagi saya. Pertama, mengapa perlu bergumul berat untuk hal itu? Bukankah aneh mengikut Tuhan harus ditimbang dengan materi? Kedua, mengapa pergumulan ini sepertinya khas pergumulan ‘menjadi hamba Tuhan’? Bukankah Yesus memanggil SETIAP ORANG yang mau mengikut Dia untuk menyangkal diri dan memikul salib? Bukankah Yesus memanggil SETIAP ORANG yang mau mengikut Dia untuk membayar harga mengikut Dia sekalipun sampai kehilangan nyawa? Dan bukankah SETIAP ORANG itu berarti SEMUA!? Lalu mengapa hanya pergumulan menjadi hamba Tuhan yang identik dengan pergumulan untuk hidup sederhana, hidup kudus, menderita, taat kemanapun Tuhan suruh, sementara menjadi pengusaha, karyawan, profesional dan lain-lain tidak harus bergumul seperti demikian?

Tidak heran banyak orang Kristen yang merasa bisa sembarangan mengikut Yesus, kecuali menjadi hamba Tuhan. Dan banyak hamba Tuhan juga merasa bisa sembarangan mengikut Yesus karena sekedar sudah menjadi hamba Tuhan.

Mau tidak mau harus kita akui bahwa kita banyak dibesarkan dengan nilai-nilai dunia. Dan bahkan sampai saat ini, promosi nilai-nilai dunia itu terus membombardir kita:
“Hidup yang baik itu adalah kaya, mapan, terhormat”
“Bangga sekali kalau punya simbol-simbol kesuksesan seperti: mobil mewah, rumah mewah, gaya hidup glamour”

atau bahkan dalam pelayanan sekalipun:
“Dipuji orang, dibutuhkan, punya jabatan, itulah pelayanan yang diberkati”

Darimana kita belajar itu? Dari dunia! Maka sebenarnya bukan Firman Tuhan tetapi nilai-nilai dunia yang membentuk kita. Dan yang sangat menyedihkan, berapapun seringnya kita mendengar Firman Tuhan, nilai-nilai dunia itu terus kita simpan di tempat yang aman dalam hati kita. Kita lindungi itu. Kita tidak membiarkan bagian itu disentuh dan diubah oleh Tuhan. Kita mengatakan bahwa kita percaya kepada Tuhan, mengasihi Tuhan, ingin menyenangkan Tuhan, tapi dalam hati tetap mengatakan:
“Saya mau ini Tuhan”
“Aduh enaknya kalau begitu Tuhan”
“Jangan berikan itu Tuhan!”
“Jangan sampai saya kehilangan ini Tuhan”

Maka kapan sebetulnya kita sungguh mengikut Yesus? Itulah sebabnya banyak orang Kristen hidup tidak ada bedanya dengan orang yang bukan Kristen.

"Memiliki hidup dalam segala kelimpahannya" adalah janji Tuhan Yesus bagi mereka yang mengikuti Dia. Tetapi mengikut Yesus bukan hanya menjadi orang Kristen dan sekedar ‘lumayan’ dan ‘kadang-kadang’ taat. Mengikut Yesus adalah mengarahkan mata kepada Dia dan membutakan diri terhadap yang lain, mengarahkan telinga kepada suaraNya dan menulikan diri terhadap suara lain, dan itu kita lakukan setiap hari. Bukankah Dia adalah Tuhan, Mesias dari Allah, bagi kita?

Saya akan mengakhiri dengan sebuah doa yang saya cuplik dari doa Henry Nouwen:

Pilihan untuk mengikuti jalanMu harus kubuat setiap saat dalam hidupku. Aku harus memilih pikiran yang adalah pikiranMu, kata-kata yang adalah sabdaMu, tindakan-tindakan yang adalah karyaMu. Tidak ada tempat dan waktu tanpa pilihan.

Aku sungguh ingin mengikutiMu, tetapi juga mau mengikuti keinginan-keinginanku sendiri dan senang mendengarkan suara-suara yang berbicara mengenai kedudukan, keberhasilan, kehormatan, kesenangan, kekuasaan dan pengaruh. Bantulah aku, agar aku menjadi tuli terhadap suara-suara seperti itu dan semakin peka mendengarkan suaraMu yang memanggil aku…

Apakah itu juga adalah doa kita? Dengarlah kalimat Yesus: “Setiap orang yang mau mengikut AKu, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya”.

Saturday, June 16, 2007

Lukas 8:4-15


Tulisan di bawah ini saya buat sebagai bahan saat teduh untuk Retreat GKY Green Ville "Invitation to A Journey" 21-23 Juni 2007

Mungkin sudah bertahun-tahun kita menjadi orang Kristen. Entah sudah berapa banyak ayat Alkitab yang kita baca dan entah berapa ratus atau bahkan berapa ribu penjelasannya (khotbah) yang kita dengar. Tetapi seperti perumpamaan yang disampaikan Yesus, semua benih yang ditabur itu akan menjadi percuma kalau tidak jatuh pada tanah yang baik.

Kita sering mendengar orang mengatakan bahwa masalah paling utama bukanlah berapa banyak yang didengar tapi berapa banyak yang dilakukan. Saya setuju! Tetapi cara berpikir seperti ini juga seringkali membuat kita hanya menekankan ‘tindakan melakukan’ Firman Tuhan. Dan ini bisa berdampak serius.

Misalnya ketika kita membaca ‘kasih itu sabar, kasih itu murah hati…’. Kita akan berjuang untuk terlihat sabar sekalipun marah, dan berjuang untuk terlihat murah hati walaupun tidak rela. Lalu kita rasa kita sudah melakukan Firman Tuhan.

Demikian pula kita akan menghitung apakah kita sudah berdoa, ke gereja, pelayanan, memberikan persembahan, dll. Dan kalau kita sudah melakukannya, kita akan merasa puas, merasa sudah bertumbuh. Padahal kita tidak pernah bertumbuh.

Dalam hal ‘tindakan melakukan’, yang paling hebat mungkin adalah orang Farisi. Tetapi jangan lupa, mereka justru ditegur Yesus! Mereka tidak bertumbuh sekalipun melakukan semuanya. Mereka hanya memasang kuk yang tidak enak dan beban yang berat atas pundak mereka dan orang lain.

Seperti berbuah adalah keharusan, melakukan Firman adalah keharusan. Tetapi jangan lupa ada proses dari benih sampai menjadi buah: benih itu harus ‘masuk’ benar ke tanah, berakar perlahan ke bawah dan bertumbuh perlahan ke atas. Demikian pula ada proses dari ‘mendengar’ Firman ke ‘melakukan’ Firman.

Dengan menggunakan analogi yang sama, minimal ada 3 hal yang harus kita perhatikan:

Firman yang didengar itu harus ‘masuk’ benar ke dalam kita. Bagaimana caranya? Mungkin ilustrasi berikut dari Eugene Peterson bisa membantu. Seekor anjing yang mendapat tulang akan menggigitnya, mengunyahnya, menjilatnya dan kadang menggeram dengan puas. Dia menikmatinya dan tidak terburu-buru menghabiskannya. Yes 31:4 memakai gambaran yang sama: “Seperti seekor singa…menggeram untuk mempertahankan mangsanya”. Istilah menggeram di situ menggambarkan singa yang sedang menikmati mangsanya. Dan yang menarik adalah, istilah yang sama dipakai dalam Mzm 1 dan diterjemahkan ‘merenung’. “Berbahagialah orang" yang “kesukaannya ialah Taurat Tuhan dan merenungkannya siang dan malam”.

Bayangkan seperti seekor anjing yang begitu menikmati tulang, menggigit, mengunyah, menjilat, dan kadang menggeram dengan puas, atau seperti singa yang begitu menikmati mangsanya, demikianlah kita menikmati Firman Tuhan! Apakah itu yang kita alami waktu mendengar dan membaca Firman?
Kita harus membersihkan tanah itu dari batu dan semak duri. Ini sama sekali bukan pekerjaan yang gampang. Ada dosa, kekhawatiran, kekerasan hati, kepahitan, semua itu satu-persatu harus kita bawa kepada Tuhan untuk dibersihkan. Kita menyediakan tanah yang subur untuk benih itu bertumbuh.

Dan akhirnya, sabar membiarkan Tuhan bekerja. Tidak ada pertumbuhan yang bisa dipercepat. Satu-satunya yang bisa kita lakukan dengan lebih cepat adalah merusak pertumbuhan itu sendiri. Kita hanya membiarkan Tuhan bekerja dalam diri kita. Dan maksud saya adalah sungguh-sungguh MEMBIARKAN Tuhan bekerja. Jangan halangi dengan dosa, jangan halangi dengan ketidak taatan kita, jangan halangi dengan kemalasan kita!

Kita akan melihat buah itu keluar. Melakukan Firman Tuhan bukan lagi sebagai beban tetapi mengalir keluar dari hidup kita. Sebagaimana pohonnya sudah menjadi pohon yang baik, demikianlah buahnya akan baik.

Itu sebabnya Yesus mengatakan “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah kepadaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan”.

Wednesday, April 18, 2007

Yohanes 7

Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil” (Yoh 7:24).

Yohanes 7 mencatat beberapa penghakiman manusia kepada Yesus yang dilatarbelakangi berbagai asumsi yang salah:

1. Ay.3-5. Saudara-saudara Yesus meminta Dia pergi menunjukkan diri pada orang banyak “tampakkanlah diriMu kepada dunia”. Mereka mengatakan itu bukan karena mereka ingin Yesus menjadi terkenal, tetapi sebagai sindiran. Ay.5 mengatakan “Sebab saudara-saudaraNya sendiripun tidak percaya kepadaNya”.

Saya kira salah satu alasan mengapa mereka tidak percaya adalah: 'Mereka merasa kenal Yesus!' Dari kecil tinggal serumah, dibesarkan bersama, kok bisa tiba-tiba Dia menonjolkan diri? Penghakiman mereka kepada Yesus berdasarkan asumsi ‘kita ini sama’.

Tetapi mereka salah. Mereka tidak sama dengan Yesus. Mereka dilahirkan oleh Maria dari Yusuf, sementara Yesus dilahirkan oleh Maria yang dinaungi oleh Roh Kudus. Mungkin mereka tidak tahu itu. Atau mungkin Maria pernah ceritakan kepada mereka tetapi mereka tetap tidak percaya.

2. Ay.12. Di antara orang banyak, ada yang mengatakan “Ia orang baik”, ada yang mengatakan “Ia menyesatkan rakyat”. Darimana penghakiman seperti ini?

Mereka yang mengatakan “Ia orang baik”, mungkin terpesona melihat bagaimana Yesus membuat mukjizat. Mereka yang mengatakan “Ia menyesatkan rakyat”, mungkin melihat ajaran Yesus yang berbeda dengan ajaran para ahli Taurat. Dan asumsinya, kalau berbeda dengan ahli Taurat artinya sesat.

3. Ay.26-27. Sebagian orang semakin bingung apakah benar Yesus adalah Mesias (Kristus)? Tetapi ada ganjalan yang membuat mereka tidak bisa percaya. Bagi mereka ‘Kristus tidak mungkin diketahui darimana asalnya’, maka kalau ada orang yang diketahui asal-usulnya, orang itu pasti bukan Kristus.

Alkitab tidak pernah ajarkan ini, tetapi konsep yang salah itu dijadikan patokan untuk menghakimi Yesus.

4. Ay. 41-43. Di sini terjadi perdebatan. Ada yang mengatakan “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang”, bahkan ada yang mengatakan “Ia ini Mesias”, tetapi ada yang mengatakan “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea”.

Alkitab memang mengatakan Mesias akan datang dari Betlehem bukan dari Galilea. Maka tepat juga pengetahuan Alkitab mereka yang mengatakan “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea”. Tetapi ini sangat ironis. Mereka tahu apa yang diajarkan kitab suci bahwa Mesias berasal dari Betlehem, tapi mereka tidak tahu bahwa Yesus memang berasal dari Betlehem!

Orang-orang tersebut semua menghakimi Yesus dengan tidak adil. Yesus mengatakan “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil” (ay.24).

Bagaimana 'menghakimi dengan adil'? Mari kita lihat dua kelompok orang yang menghakimi Yesus dengan lebih adil:

1. Para penjaga bait Allah. Mereka diperintahkan untuk menangkap Yesus, tetapi mereka tidak berani. Maka ketika mereka kembali, para imam kepala dan orang Farisi bertanya: “Mengapa kamu tidak membawaNya?” (ay.45). Jawaban para penjaga itu luar biasa: “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” (ay.46).

Mereka bukan teolog, mereka hanya takjub mendengar kalimat-kalimat Yesus. Kalau menurut apa yang nampak, mereka pasti berani menangkap Yesus. Tetapi mereka melihat di balik apa yang nampak, ada kuasa yang begitu besar. Begitu menggetarkannya kalimat-kalimat Yesus sampai mereka melihat 'Yesus bukan manusia biasa', dan mereka tidak berani menangkap Yesus.

2. Nikodemus. Dia mencoba membela Yesus di hadapan orang-orang Farisi, “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum Ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuatNya?”. Dan dia dihina “Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea”.

Mengapa Nikodemus berbeda dengan orang Farisi lain? Nikodemus ingin mencari kebenaran dan kehendak Allah. Waktu semua pemimpin melawan Yesus, Nikodemus malah merenung. Itu sebabnya malam-malam dia pernah datang kepada Yesus. Walaupun sangat berbahaya untuk dia, tetapi dia lakukan karena ingin mencari kebenaran. Dan Nikodemus bisa mengenal Yesus.

Betapa seringnya manusia berani menghakimi Yesus dari hati yang tercemar dosa dan tidak peduli kebenaran!

Pada waktu kita menyatakan penilaian kita pada Yesus, bagaimana kita menilai Dia? Siapa Yesus menurut kita? Adilkah kita?