Showing posts with label e. Gereja dan Pelayanan. Show all posts
Showing posts with label e. Gereja dan Pelayanan. Show all posts

Monday, August 16, 2021

2 Penyebab Pandemi Tidak Mengubah Gereja

Pada bulan April tahun lalu saya menulis sebuah tulisan yang berjudul "Gereja Setelah Covid-19"
https://jeffreysiauw.blogspot.com/2020/04/gereja-setelah-covid-19.html

Di dalam tulisan itu saya mengutip sebuah bagian dari buku The Trellis and The Vine. Waktu itu buku itu mendadak mendapat perhatian khusus karena di bagian penutupnya, penulis buku itu membayangkan terjadinya pandemi. Sesuatu yang pasti tidak disangka oleh penulisnya akan betul2 terjadi karena buku itu terbit tahun 2009 dan pandemi terjadi di tahun 2020. 

Saya akan ulangi kutipan saya di dalam tulisan itu. Dia menulis kira2 begini:

Bayangkan terjadi pandemi di seluruh bagian dunia anda dan pemerintah melarang orang berkumpul lebih dari tiga orang, untuk alasan kesehatan dan keamanan. Dan kondisi itu terjadi selama 18 bulan. 

Kalau ada 120 jemaat di gereja anda, bayangkan bagaimana gereja tetap bisa berfungsi – tanpa ada pertemuan persekutuan rutin apapun, dan tidak ada persekutuan rumah tangga, kecuali hanya tiga orang yang berkumpul?

Kalau anda adalah pendetanya, apa yang akan anda lakukan? 

Mungkin anda bisa kirim email atau menelpon mereka, atau membuat rekaman audio. Tetapi bagaimana bisa tetap mengajar dan menggembalakan mereka? Bagaimana mendorong mereka untuk tetap mengasihi dan melakukan hal yang baik di tengah situasi ini? Dan bagaimana dengan penginjilan? Bagaimana menjangkau orang baru dan melakukan follow up? 

Anda perlu bantuan. Anda harus mulai dengan 10 orang jemaat yang dewasa, lalu bertemu secara intensif dengan mereka, bergantian dua orang demi dua orang selama dua bulan. Anda harus melatih mereka bagaimana membaca Alkitab, bagaimana berdoa dengan satu atau dua orang lain, dan dengan anak-anak mereka. Maka ada dua tugas mereka: Pertama, menggembalakan keluarga mereka dengan secara rutin membaca Alkitab dan berdoa. Kedua, mencari orang lain untuk dilatih dan didorong melakukan yang sama. Maka dalam waktu beberapa bulan gerakan ini akan meluas dengan cepat. Tugas anda sebagai pendeta adalah memberikan support kepada mereka sambil mencari orang lain lagi. 

Akan ada banyak sekali kontak pribadi dan pertemuan kelompok kecil yang harus dilakukan. Tetapi ingat bahwa tidak ada kebaktian yang harus dijalankan, tidak ada seminar, tidak ada kerja bakti, tidak ada persekutuan rumah tangga, tidak ada acara apapun untuk diorganisir. Semuanya hanyalah mengajar dan memuridkan secara pribadi dan melatih orang untuk menjadi pembuat murid. 

Pertanyaan dia yang menarik adalah: Setelah 18 bulan seperti itu, ketika larangan akhirnya dicabut dan kita bisa kembali berkumpul untuk ibadah, persekutuan, dan melakukan semua aktivitas lainnya, apa yang akan berubah? Bagaimana program, pelayanan, dll, akan berubah?

Pertanyaan terakhir itu sangat menggelitik. Kalau selama 18 bulan, kita memelihara kehidupan rohani jemaat melalui kelompok2 kecil dengan firman Tuhan dan doa. Perhatikan, bukan sekedar kelompok kecil, ngobrol sana sini, tapi kelompok kecil yang belajar firman Tuhan dan berdoa. Lalu selama 18 bulan itu juga kita menghasilkan orang-orang yang terjun menjadi pembuat murid – mereka mengajar orang lain membaca Alkitab dan berdoa untuk orang-orang itu. Kemudian selama 18 bulan itu juga kita melihat buahnya – bahwa orang-orang ternyata bertumbuh dengan firman Tuhan dan doa. Setelah 18 bulan berlalu dan kita terbiasa mencurahkan energi dan waktu pada pelayanan yang satu itu dan kita melihat bahwa pertumbuhan terjadi tanpa semua kegiatan dan acara yang rutin dilakukan gereja, apakah tidak ada yang akan berubah ketika keadaan normal?

Itu pertanyaan yang sangat baik! Karena kalau itu yang dilakukan gereja selama pandemi, maka setelah pandemi, pelayanan gereja pasti akan berubah!

Ketika saya menulis itu, saya juga tidak terpikir bahwa pandemi akan berlangsung sampai hari ini. Tetapi hari ini, setelah 17 bulan pandemi di Indonesia, saya harus berkata bahwa apa yang dia “nubuatkan” itu tidak terjadi. Betul pandemi berjalan lama, bahkan ini akan lebih dari 18 bulan - lebih dari contoh yang dia berikan. Tapi kondisi yang dia bayangkan akan terjadi, ternyata tidak terjadi.

Alasannya adalah karena ada 2 asumsi yang dia bayangkan di dalam skenario itu, yang kemudian juga tidak terjadi:

1. Asumsi pertama adalah dia membayangkan bahwa di dalam masa pandemi itu bahwa gereja tidak bisa berfungsi, tidak ada pertemuan persekutuan rutin, persekutuan rumah tangga, tidak ada apapun. Pemerintah hanya mengizinkan pertemuan 3 orang. Maka dia membayangkan bahwa gereja dan hamba Tuhan menganggur, tidak ada yang bisa dikerjakan. 

2. Asumsi kedua yang dia pikirkan adalah ketika para hamba Tuhan itu tidak tahu harus berbuat apa, karena semua aktivitas berhenti, maka para hamba Tuhan itu kemudian terpikir untuk melakukan pemuridan dengan cara yang sederhana saja. Hamba Tuhan memuridkan 2 orang bagaimana membaca Alkitab dan bagaimana mendoakan orang lain. Lalu mendorong mereka melakukannya di keluarga dan mencari 2 orang lain lagi untuk diajarkan hal yang sama.

Kedua asumsi di atas tidak terjadi. 

Mengapa? Ada 2 alasan: 

Pertama, teknologi ternyata bisa menjadi bumerang. 

Pada waktu dia menuliskan buku itu di tahun 2009 atau 2008, teknologi sama sekali belum seperti sekarang. 

Youtube baru didirikan tahun 2005, dan dibeli oleh Google tahun 2006. Maka di tahun 2008 atau 2009, Youtube belum seperti hari ini. Tidak ada orang yang bisa melakukan Youtube streaming ataupun premier waktu itu. Zoom bahkan belum ada. Instagram juga belum ada. Bahkan Whatsapp pun baru muncul Januari 2009. 

Hari ini semua teknologi itu sudah ada dan berkembang luar biasa. Maka gereja-gereja memanfaatkannya untuk tetap melakukan berbagai aktivitas. Kebaktian direkam atau live streaming lewat Youtube. Persekutuan rutin dilakukan lewat Zoom dan disiarkan di Youtube. Maka kegiatan tetap berjalan. Kita pindahkan semua kegiatan fisik itu ke platform digital. 

Maka para hamba Tuhan tetap sibuk. Ditambah lagi, karena platform digital tidak bisa banyak menyentuh unsur relasional, maka yang lebih menonjol adalah unsur performance. Maka setiap gereja dituntut untuk menampilkan sesuatu yang lebih baik dan lebih baik. Itu berarti lebih sibuk.  

Kedua, kebanyakan hamba Tuhan tidak berpikir untuk melakukan pemuridan. Ini adalah asumsi kedua yang tidak terjadi. Mereka berpikir bagaimana memperhatikan jemaat dengan telpon, tanya kabar, mungkin besuk. Mereka berpikir bagaimana mendoakan yang kesusahan. Mereka mungkin juga terpikir untuk membuat kelompok-kelompok pemerhati sebagai kelompok adminisrasi jemaat, jadi ada yang memperhatikan semua jemaat dan ada tempat kemana jemaat harus datang kalau membutuhkan. Tetapi, kebanyakan tidak berpikir untuk melakukan pemuridan: Mengajarkan orang membaca Alkitab dan mendoakan orang lain, dan mengajarkannya lagi kepada orang lain. 

Maka pandemi sudah berjalan 17 bulan di Indonesia, apa yang dibayangkan oleh penulis buku itu tidak terjadi. Bahkan sekalipun pandemi ini berjalan 1 tahun lagi, saya yakin apa yang dia bayangkan tetap tidak akan terjadi. 

Mengapa? Karena yang dipikirkan oleh banyak gereja adalah memindahkan kegiatan dari pertemuan fisik ke platform digital. Besuk sekarang lewat telpon. Kebaktian sekarang lewat Youtube. Persekutuan sekarang lewat zoom. Saya tidak bilang keberadaan teknologi seperti Youtube atau Zoom itu buruk. Bukan itu masalahnya. Tapi masalahnya ada di konsep. 

Pandemi memaksa kita berubah. Tapi kalau yang kita rubah hanyalah bungkusnya, sementara isinya sama, kesibukannya sama, cara berpikirnya sama, maka kita bukan saja menyia2kan penderitaan lewat pandemi ini tapi mungkin kita akan semakin hancur. 

Maka saya mengajak gereja, rekan-rekan hamba Tuhan, dan jemaat, mari berpikir dengan sungguh apa yang harus dilakukan di masa pandemi ini? Bagaimana orang dibimbing kenal Tuhan? Bagaimana menolong jemaat bertumbuh? 

Kuasa ada pada firman Tuhan dan doa. Tapi, sayangnya, banyak orang Kristen tidak bisa membaca dan mengajarkan firman, tidak bisa mendoakan dan mengajar orang lain berdoa.

Maka saran saya mulailah dari kecil. Cari beberapa orang, ajari mereka dulu, sampai kemudian mereka bisa mengajar orang lain. Jangan langsung membagi seluruh jemaat dalam kelompok-kelompok kecil karena tidak akan berhasil. Fokuslah pada 2-3 org dulu, beberapa bulan mengajar mereka, lalu utus mereka melakukan yang sama.

Bagi yang sudah lama jadi orang Kristen, mungkin ini saatnya mulai belajar lebih dan membagikannya kepada orang lain. Ajak orang-orang yang anda kenal untuk membaca Alkitab bersama. Atau buatlah kelompok untuk PA bersama. Bukan hanya untuk sharing, tapi untuk belajar firman Tuhan dan berdoa. Kemudian lakukan itu dengan batas waktu, mungkin 3 bulan atau 6 bulan. Ketika batas waktunya tiba, setiap orang harus mencari lagi orang lain, keluarga mereka atau teman mereka, untuk diajar yang sama. Demikian seterusnya. 

Waktu ini singkat. Hidup ini singkat. Mari prioritaskan yang betul-betul penting dan berguna untuk dilakukan, khususnya dalam masa pandemi ini. 

Monday, April 20, 2020

Gereja Setelah Covid-19


Buku The Trellis and The Vine baru-baru ini mendapat perhatian khusus karena di bagian penutupnya, penulis buku itu membayangkan terjadinya pandemi.

Saya meringkasnya di bawah ini:

Bayangkan terjadi pandemi di seluruh bagian dunia anda dan pemerintah melarang orang berkumpul lebih dari tiga orang, untuk alasan kesehatan dan keamanan. Dan kondisi itu terjadi selama 18 bulan. 

Kalau ada 120 jemaat di gereja anda, bayangkan bagaimana gereja tetap bisa berfungsi – tanpa ada pertemuan persekutuan rutin apapun, dan tidak ada persekutuan rumah tangga, kecuali hanya tiga orang yang berkumpul.

Kalau anda adalah pendetanya, apa yang akan anda lakukan? 

Mungkin anda bisa kirim email atau menelpon mereka, atau membuat rekaman audio. Tetapi bagaimana bisa tetap mengajar dan menggembalakan mereka? Bagaimana mendorong mereka untuk tetap mengasihi dan melakukan hal yang baik di tengah situasi ini? Dan bagaimana dengan penginjilan? Bagaimana menjangkau orang baru dan melakukan follow up? 

Anda perlu bantuan. Anda harus mulai dengan 10 orang jemaat pria yang dewasa secara iman, lalu bertemu secara intensif dengan mereka, bergantian dua orang demi dua orang selama dua bulan. Anda harus melatih mereka bagaimana membaca Alkitab, bagaimana berdoa dengan satu atau dua orang lain, dan dengan anak-anak mereka. Maka ada dua tugas mereka: Pertama, menggembalakan keluarga mereka dengan secara rutin membaca Alkitab dan berdoa. Kedua, mencari orang lain untuk dilatih dan didorong melakukan yang sama. Maka dalam waktu beberapa bulan gerakan ini akan meluas dengan cepat. Tugas anda adalah memberikan support kepada mereka sambil mencari orang lain lagi. 

Akan ada banyak sekali kontak pribadi dan pertemuan kelompok kecil yang harus dilakukan. Tetapi ingat bahwa tidak ada kebaktian yang harus dijalankan, tidak ada seminar, tidak ada kerja bakti, tidak ada persekutuan rumah tangga, tidak ada acara apapun untuk diorganisir. Semuanya hanyalah mengajar dan memuridkan secara pribadi dan melatih orang untuk menjadi pembuat murid. 

Ini pertanyaan yang menarik: Setelah 18 bulan seperti itu, ketika larangan akhirnya dicabut dan kita bisa kembali berkumpul untuk ibadah, persekutuan, dan melakukan semua aktivitas lainnya, apa yang akan berubah? Bagaimana program, pelayanan, dll, akan berubah?

Kita memang berharap bahwa pandemi Covid-19 ini tidak berlangsung sampai 18 bulan. Tetapi pertanyaan terakhir itu sangat menggelitik. Kalau selama 18 bulan, kita memelihara kehidupan rohani jemaat melalui kelompok kecil dengan Firman dan doa. Lalu selama 18 bulan itu juga kita menghasilkan orang-orang yang terjun menjadi pembuat murid – mereka mengajar orang membaca Alkitab dan berdoa untuk orang-orang itu. Kemudian selama 18 bulan itu juga kita melihat buahnya – bahwa orang-orang ternyata bertumbuh dengan Firman dan doa. Setelah 18 bulan berlalu dan kita terbiasa mencurahkan energi dan waktu pada pelayanan yang satu itu dan kita melihat bahwa pertumbuhan terjadi tanpa semua kegiatan dan acara yang rutin dilakukan gereja, apakah tidak ada yang akan berubah ketika keadaan normal?

Saya percaya bahwa salah satu tujuan Tuhan mengizinkan kita mengalami krisis adalah untuk menggoncangkan kita. Mungkinkah ada sesuatu yang harus berubah?

Buku The Trellis and The Vine menggunakan perumpamaan pohon anggur dan terali untuk menggambarkan pekerjaan sesungguhnya dari gereja dan terali pendukungnya. Buku itu mengkritisi gereja karena membangun terlalu banyak terali pendukung sehingga tidak fokus mengerjakan pekerjaan anggur. Pekerjaan anggur bisa dengan sederhana dijelaskan sebagai pekerjaan dalam empat tahapan dengan tujuan masing-masing:
- “mengajak orang”
- “memberitakan Injil”
- “mempertumbuhkan”
- “memperlengkapi”
Di setiap tahap, kita melakukannya dengan Firman dan doa untuk mencapai tujuannya. Itulah pekerjaan anggur.

Sementara itu, kalau program adalah terali, maka kita perlu mengevaluasi seluruh program yang dilakukan di gereja kita dengan dua cara:

Pertama, program apa yang menunjang untuk kita mengajak orang? Untuk kita memberitakan Injil? Untuk kita mempertumbuhkan? Untuk kita memperlengkapi? Tidak perlu banyak program untuk setiap tujuan itu. Program adalah terali penunjang yang jelas dibutuhkan tapi yang penting adalah pekerjaan anggurnya berjalan.

Kedua, seberapa efektif program itu untuk tujuan itu? Berikan skala 1-5. Kita sering berpikir program ini bagus, program itu ada gunanya, yang ini penting, kalau tidak ada yang itu nanti bagaimana, dst. Kita akan dengan cepat berargumen bahwa ini "program mengajak orang baru lho" atau ini "program doa kok.. pasti doa penting kan" atau yang lainnya. Tapi mari jujur mengevaluasi bahwa banyak program yang, walaupun bisa disebutkan gunanya, sebetulnya efetivitasnya rendah untuk tujuan itu. Kita hanya perlu mempertahankan program yang sangat efektif.

Tenaga, waktu, dan perhatian kita terbatas. Ada orang beranggapan bahwa  lebih banyak program lebih baik. Kalau kurang hamba Tuhan ya dicari lagi. Kalau kurang pelayan ya dicari lagi dari jemaat. Tapi sebagai organisasi, ini bukan masalah kurang orang tapi masalah fokus. Semakin banyak hal yang dilakukan oleh sebuah organisasi, semakin dia tidak bisa fokus mengerjakan yang terpenting yang seharusnya dilakukan. Yang celaka, jemaatpun tidak bisa digerakkan sepenuhnya menuju ke arah tertentu karena terlalu banyak arah.

Sekali lagi kita berharap pandemi Covid-19 ini berakhir sebelum 18 bulan. Kondisi kita juga tidak persis sama seperti pandemi yang dibayangkan oleh buku itu. Tapi saya yakin kita perlu menggumuli jawaban atas pertanyaan yang menggelitik ini: Setelah Covid-19 berakhir, apa yang akan kita ubah? Seperti apa gereja kita nanti? Kalau gereja kita tidak fokus mengerjakan pekerjaan anggur, lalu nanti setelah Covid-19 tetap tidak ada yang berubah dan semua berjalan kembali persis seperti dulu, pasti ada yang salah.

Mari kita gelisah. Mari coba berpikir dan mau berubah. Perubahan pastilah tidak nyaman dan banyak orang yang akan menentang. Tapi kalau kita betul mengerjakan yang terpenting yang harus dilakukan – dengan tenaga, waktu dan perhatian yang terfokus, kita berada pada jalur yang tepat.

Ketidaknyamanan perubahan mungkin akan membuat sebagian orang meninggalkan kita (mungkin jumlah jemaat akan berkurang?), tetapi yang paling penting adalah kita mengerjakan tugas sesungguhnya dari gereja dengan setia. Tuhan pasti memberkati.

Wednesday, December 20, 2017

Persiapan Melayani Dalam Natal

Ini adalah renungan singkat yang saya sampaikan kepada para pelayan kebaktian Natal tanggal 24 Desember 2017 di GKY Green Ville di dalam gladi kotor kemarin.

Natal sudah sangat dekat. Saya yakin kita yang akan melayani di dalam kebaktian tanggal 24 Desember sudah sekian lama melakukan persiapan. Banyak waktu yang sudah dipakai, tenaga dan pikiran dicurahkan, bahkan mungkin dana dikeluarkan. Semua jerih payah selama ini akan menemui puncaknya dalam beberapa hari lagi.

Sebagian dari kita mungkin mulai lelah dengan latihan. Sebagian mungkin mulai tegang (atau mungkin PD). Tetapi, satu hal yang paling penting adalah apa yang ada di pikiran dan hati kita tentang pelayanan ini? Apakah kita merasa “ah sudah biasa begini, tinggal tampil, ya sudah.” Atau kita merasa “aduh ini stress banget, cape banget, pengen cepet selesai semuanya. .. lalu liburan.” Apa sebetulnya kerinduan kita melalui pelayanan ini?

Kita berlatih. Itu pasti penting. Kita persiapan, curahkan waktu dan tenaga. Itu juga pasti penting. Tetapi, apa yang ada di pikiran dan hati kita mengenai pelayanan ini, itu jauh lebih penting. Karena apa yang akan kita lakukan bersama tanggal 24 Desember nanti bukanlah pertunjukan dan bukanlah hiburan. Apa sebenarnya yang kita lakukan? Kita berusaha supaya setiap orang yang belum percaya, pada waktu datang, mendengar orang Kristen memuji Tuhan melalui lagu, musik dan melihat drama, hatinya bergetar. Lalu pada waktu dia mendengar Firman, Roh Kudus bekerja membuka hatinya sehingga dia diterangi dan pindah dari kegelapan kepada terang. Kita juga berusaha supaya setiap orang yang sudah percaya, pada waktu datang, mendengar lagu pujian, melihat drama, mendengar khotbah, dia dikuatkan dan dikobarkan lagi imannya.

Ini pekerjaan yang wow. Pada dasarnya yang kita lakukan adalah berusaha mematahkan kuasa kegelapan yang berkuasa di dalam hati orang yang belum percaya dan yang sedang mengintai dan berusaha menjatuhkan orang percaya. Supaya pada akhirnya terang Tuhan bercahaya dan nama Tuhan ditinggikan.

Masalahnya waktu kita menginginkan itu, mengusahakan itu, mengerjakan itu, satu hal yang pasti adalah: Setan tidak akan tinggal diam. Maka jelas pelayanan kita adalah peperangan rohani. Tetapi siapa kita sehingga sanggup mengerjakan pelayanan seperti ini? Siapa kita sehingga sanggup mematahkan kuasa kegelapan dalam hati orang yang belum percaya dan menguatkan serta memulihkan orang yang percaya. Siapa kita?

Pada waktu memikirkan ini, saya kembali mengingat cara kerja Tuhan yang sangat mirip pada waktu Natal yang pertama.

Kalau kita mau anggap peristiwa itu sebagai pelayanan, maka Natal pertama adalah pelayanan yang sangat besar: Menghadirkan Anak Allah ke dalam dunia dan tinggal di tengah manusia.

Halangannya juga bukan main besarnya. Kalau dilihat dari kacamata manusia, maksud Tuhan hampir gagal waktu itu. Peperangannya sangat mengerikan: Setan melakukan apa saja untuk menghalangi hal itu terjadi, termasuk mendalangi pembunuhan semua bayi berusia 2 tahun ke bawah di Bethlehem. Maria sendiri waktu itu bisa menolak jadi “bintang utamanya.” Yusuf bahkan hampir menolak jadi “ketua panitia” karena mau memutuskan pertunangan dengan Maria. Ada resiko orang-orang setempat mengamuk dan seluruh “artis dan panitia” bisa dibunuh dengan ditimpuki batu. Belum lagi ejekan, gosip, caci maki yang terus diterima oleh Yusuf dan Maria. Tidak main-main.

Maka kalau bicara besarnya skala pelayanan, Natal pertama adalah pelayanan terbesar sepanjang sejarah manusia. Nasib seluruh dunia dan seluruh manusia bergantung pada event itu. Kalau bicara ngerinya dan dahsyatnya pelayanan, Natal pertama adalah pelayanan terngeri dan terdahsyat di seluruh sejarah manusia.

Tetapi, anehnya, panitia dan pelayan yang dipilih untuk event sebesar itu adalah Yusuf dan Maria. Dua orang super sederhana, bukan siapa-siapa, dari tempat super kecil, bukan tempat apa-apa. Tetapi di pundak merekalah diletakkan tanggung jawab untuk mengerjakan pelayanan terbesar, terngeri dan terdahsyat di seluruh sejarah manusia.

C. S. Lewis menulis tentang rencana Allah ini: Seluruh rencana besar Allah untuk menyelamatkan dunia, menyempit, dan menyempit, terus sampai akhirnya menjadi satu titik kecil, sangat kecil, yaitu seorang gadis Yahudi yang berdoa. Melalui dia, Allah menghadirkan Yesus ke dalam dunia. Philip Yancey berkata pada waktu dia membaca lagi cerita di Alkitab mengenai kelahiran Yesus, dia gemetar sambil memikirkan bahwa nasib seluruh dunia, nasib seluruh manusia, bergantung hanya pada dua orang anak muda desa tanpa pendidikan, bukan siapa-siapa, dari tempat yang bukan apa-apa.

Tapi tokh akhirnya ketika dua orang yang bukan siapa-siapa itu taat, rencana Tuhan tergenapi.
Saya mencoba membandingkan ini dengan pelayanan kita tanggal 24 Desember nanti. Walaupun pelayanan yang kita lakukan tidak sebesar, sengeri dan sedahsyat Natal yang pertama, tapi esensinya sama.

Pada waktu kita melayani dalam Natal, ingatlah bahwa kita bukan sedang menampilkan pertunjukan, bukan sedang menghibur, bahkan bukan sedang sekedar membuat ibadah indah dan wow. Tetapi, kita sedang melakukan yang sama seperti pelayan Natal yang pertama, Yusuf dan Maria, untuk berdoa, berharap, berusaha, membuka jalan untuk Sang Terang itu hadir di dalam hati manusia yang gelap. Kita berdoa, berharap, berusaha, supaya sang Terang itu menyalakan lagi terangNya yang mungkin hampir padam, di dalam hati anak2-anakNya.

Untuk hal sebesar itu, kita juga sama seperti pelayan Natal yang pertama: Kita bukan siapa-siapa. Tetapi ketika Tuhan memilih kita untuk melayani dan kita berespon dengan ketaatan dan penyerahan diri, Tuhan bisa memakai kita jauh melampaui apa yang mampu untuk kita lakukan.

Maka kembali kepada apa yang saya katakan di awal. Kita latihan, itu pasti penting. Kita persiapan, curahkan waktu dan tenaga, itu juga pasti penting. Tapi apa yang kita pikirkan tentang pelayanan ini? Apa kerinduan kita melalui pelayanan ini? Apakah kita berdoa dengan sungguh-sungguh supaya Tuhan bekerja dengan kuasaNya? Supaya melalui apa yang kita lakukan, yang sebetulnya tidak akan cukup untuk melakukan pekerjaan besar ini, maksud Tuhan tercapai? Apakah kita berharap supaya Terang Tuhan dinyatakan dan menerangi hati setiap orang yang datang? Apakah kita sadar bahwa kita harus bergantung sepenuhnya kepada Tuhan karena ini adalah peperangan rohani melawan kuasa kegelapan?

Apa yang ada di dalam pikiran dan hati kita mengenai pelayanan ini sangatlah penting. Berdoalah dan siapkanlah hati untuk dipakai oleh Tuhan.

Friday, November 10, 2017

NOT "One Bag At a Time"

Sudah cukup lama blog ini terabaikan. Saya sendiri geregetan tapi apa boleh buat. Sebelum pulang ke Jakarta, saya sudah tahu bahwa saya akan sibuk. Saya juga sudah terbiasa sibuk dari dulu. Tetapi selama beberapa bulan ini, saya betul-betul-betul-betul sibuk.

Di satu sisi, disertasi masih harus dikerjakan. Di sisi lain, berbagai pelayanan khotbah, rapat, pertemuan dengan banyak orang, mempersiapkan program tahun depan, dll, seperti tidak ada habisnya mengalir. Satu berhasil diselesaikan, maka tiga lagi yang datang #eh

Saya ingat sebuah cerita tentang Bill Hybels yang ditulis oleh Gary L. McIntosh dan Samuel D. Rima dalam buku mereka Overcoming the Dark Side of Leadership. Di bawah ini saya ceritakan dengan kata-kata saya sendiri.

Pada waktu kecil, Bill Hybels biasa membantu ayahnya menurunkan kentang busuk dari truk. Setelah berjam-jam bekerja, satu karung demi satu karung diturunkan, Bill mengeluh ke ayahnya berapa banyak lagi karung kentang yang masih harus diturunkan. Ayahnya akan menjawab: “Jangan kuatir Billy, kamu hanya perlu menurunkan karung itu satu persatu saja (one bag at a time).” Bertahun-tahun kemudian, itu menjadi etika kerja dia: “one bag at a time.” Tidak peduli berapa pun besarnya tugas yang dihadapi, dia tidak pernah mundur sampai tugas itu selesai. Tetapi, ketika dia memimpin gereja dengan jemaat 14.000 orang, tidak akan pernah mungkin dia bisa menyelesaikan tugasnya. Solusinya? Kerja lebih keras. Teruskan, one bag at a time, sampai tugas itu selesai. Tetapi, setiap kali dia berhasil menurunkan satu karung kentang busuk, maka ada tiga lagi yang menunggu. Kebutuhan psikologis dia untuk menyelesaikan tugas mengosongkan truk penuh kentang busuk itu membuat dia menjadi workaholic. Setiap menit hidupnya dikuasai oleh pekerjaan. Sampai suatu kali, beberapa menit sebelum dia harus memimpin pemberkatan nikah dan beberapa jam sebelum dia harus berkhotbah di kebaktian, dia menyandarkan kepalanya di meja dan menangis sejadi-jadinya. Dia betul-betul kehabisan kekuatan fisik, emosi, dan rohani.

Sejujurnya, saya mulai merasa seperti Bill Hybels yang sedang menurunkan kentang busuk dari truk penuh muatan itu. Tidak habis-habis. One bag at a time. Kerja lebih keras lagi. Bagaimanapun juga, tetap tidak pernah selesai! Hanya saja saya belum sampai breakdown seperti dia.

Beberapa bulan super sibuk ini mengajar saya banyak hal. Salah satunya adalah saya tidak mau menurunkan kentang busuk terus menerus. Dan saya tidak mau bekerja sekedar dengan konsep one bag at a time. Lalu solusinya? Jangan tanya saya sekarang hehe.. Saya belum bisa merumuskannya dengan baik. Saya hanya tahu bahwa something wrong dalam hidup seperti itu dan akan betul menjadi super wrong kalau diteruskan. Ada beberapa rencana yang terpikir oleh saya. Masih akan trial and error. Yang pasti, apa yang saya alami selama beberapa bulan ini, dan kisah Bill Hybels, menjadi rambu peringatan besar bagi saya.

Sedikit update tentang studi saya: Saya baru saja menyelesaikan revisi disertasi saya. Hanya tinggal dipercantik sedikiiittt lagi, lalu saya harus menyelesaikan introduksi (tinggal sedikit lagi) dan konklusi. Terakhir bibliografi. Menurut perhitungan, saya perlu sekitar 8 hari kerja lagi untuk menyelesaikannya. Masalahnya tidak mudah menemukan waktu 8 hari kerja itu di Jakarta :-( Setelah itu selesai? Belum juga. Kalau pembimbing saya meminta untuk revisi lagi, saya masih harus berkata “here I am.” Tapi paling tidak sekarang saya lebih optimis bisa selesai.

Setelah studi ini selesai, itulah saatnya rencana saya untuk tidak sekedar menurunkan kentang, NOT one bag at a time, bisa mulai dijalankan. Saat ini, apa boleh buat, bring it on… but have mercy on me, o God. 


Dapat karangan bunga lagi hehehe... #darianakgokil #virtual #lebay #hasileditan #penghiburan

Saturday, March 11, 2017

"Pelayanan" yang Kurang Pas Disebut Pelayanan

Kalau kita bertanya ke beberapa orang Kristen “apa sih pelayanan?” , saya yakin kita akan mendapat jawaban yang beragam.

Jawaban yang paling umum adalah “sesuatu yang dilakukan buat Tuhan.” Kalau kita gali jawaban itu lebih jauh, kita akan menemukan bahwa seringkali yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dalam nuansa Kristen dan tidak dibayar (bukan berarti ini benar lho..). Ini artinya super luas!

Tetapi, kadang saya bertanya betulkah semua yang disebut “pelayanan” itu benar-benar pelayanan?

Kita tahu bahwa pelayanan bisa dikritisi dari berbagai macam sisi. Kita bisa melihat motivasinya. Kita bisa melihat caranya. Apakah motivasi dan caranya memuliakan Tuhan? Tetapi, satu sisi dari pelayanan yang jarang kita perhatikan adalah efektivitasnya. Apakah betul yang dilakukan menghasilkan sesuatu yang baik untuk kerajaan Tuhan?

Saya berikan beberapa contoh.

Contoh 1:
Sebuah gereja membentuk suatu tim yang bertanggung jawab untuk mengawasi pelayanan di kota lain. Tim itu menerima laporan dari mereka yang melayani di kota itu, lalu memberi masukan, kritikan, bahkan mengambil keputusan. Tetapi, mereka tidak sepenuhnya mengerti pelayanan di kota itu. Mereka juga bukan orang yang memiliki konsep teologis dan strategis yang kuat untuk itu. Seluruh anggota tim merasa sedang "melayani". Tetapi, bagi orang-orang yang berada di garis depan pelayanan di kota itu, apa yang dilakukan tim itu sama sekali tidak menolong malah sebaliknya menghambat. Maka betulkah anggota tim itu sedang mengerjakan pelayanan?

Contoh 2:
Seorang ibu yang suaranya tidak enak didengar ingin "melayani" dengan menyanyi solo di dalam kebaktian. Orang-orang berkata “mau pelayanan kok dilarang?” Tetapi, kalau kebaktian adalah waktu dimana gereja mengajak semua yang hadir menyembah Tuhan dengan lebih baik, apakah dengan menyanyi solo dia membuat jemaat menyembah Tuhan dengan lebih sungguh? Maka betulkah dia sedang mengerjakan pelayanan?

Contoh 3:
Sebuah kelompok musik tanjidor ingin "melayani" dengan mengiringi pujian di dalam kebaktian. Tetapi ketika mereka mengiringi pujian di dalam kebaktian, jemaat sulit untuk menyanyi dengan baik. Jemaat sulit untuk berkonsentrasi menyembah Tuhan dengan diiringi orkestra Betawi itu. Tetapi, seluruh anggota kelompok musik tanjidor itu merasa mereka melayani Tuhan dengan talenta mereka. Betulkah mereka sedang mengerjakan pelayanan?

Saya bisa berikan banyak contoh lain. Tetapi saya kira contoh-contoh di atas cukup menjelaskan maksud saya.

Bisakah kegiatan-kegiatan di atas disebut pelayanan? Karena saya tidak ingin menghakimi, anggaplah kegiatan-kegiatan di atas sebagai "pelayanan" yang kurang pas disebut pelayanan.

Di mana sebetulnya kesalahan “pelayanan” dalam contoh-contoh yang saya sebutkan di atas? Pada contoh 1, kesalahannya mungkin adalah pengaturan struktur organisasi. Pada contoh 2, kesalahannya adalah talenta yang tidak cocok. Pada contoh 3, kesalahannya adalah tidak sesuai dengan kebutuhan.

Tetapi, kesamaannya adalah apa yang mereka lakukan tidak menghasilkan sesuatu yang baik untuk kerajaan Tuhan. Mereka mungkin tulus, betul-betul mengerjakannya untuk Tuhan. Mereka mungkin juga memberi yang terbaik yang mereka bisa. Tetapi, apa yang mereka lakukan tidak efektif.

Saya tidak bermaksud mengatakan pelayanan selalu harus menghasilkan sesuatu yang jelas, kelihatan, dan terukur. Tidak. Banyak hal yang kita lakukan dalam Kerajaan Tuhan sifatnya menanam dan tidak langsung terlihat hasilnya. Maka kalau kita menanam dan tidak melihat hasilnya sampai puluhan tahun sekalipun, tidak apa! (Asalkan motivasi dan caranya benar, benihnya benar, dan kita yakin Tuhan mau kita lakukan itu). Tetapi pertanyaannya betulkah kita menanam? Jangan-jangan yang kita lakukan justru sedang menghambat atau, lebih parah lagi, merusak. Pelayanan tidak harus efisien (tidak memboroskan waktu, usaha, dan uang) tetapi harus efektif (mencapai hasil yang diinginkan - sekalipun lama sekali)!

Maka jangan asalkan tidak dibayar dan dalam nuansa Kristen, lalu berkata "saya ini kan pelayanan". Coba tanyakan kepada diri sendiri: “Betulkah yang saya lakukan ini menghasilkan kebaikan bagi Kerajaan Tuhan? Dengan cara bagaimana?”

Pertanyaan lebih jauh adalah: “Apakah ini adalah yang terbaik yang bisa saya lakukan untuk Kerajaan Tuhan? Atau saya bisa melakukan yang lain, yang lebih efektif, yang lebih berguna untuk Kerajaan Tuhan, yang tidak saya lakukan karena ngotot dengan yang ini?”

NB: Saya tahu tulisan ini menyederhanakan banyak hal. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Saya hanya berharap tulisan ini mengajak kita lebih kritis dalam mengerjakan pelayanan.

Monday, October 31, 2016

Mimpi Untuk "Young, Restless, Reformed Movement"

Sepuluh tahun yang lalu, Collin Hansen, seorang jurnalis, menulis sebuah artikel di majalah Christianity Today dengan judul “Young, Restless, Reformed”.

Di akhir abad ke-20 muncul sebuah gerakan yang dikenal dengan nama “Emerging Church.” Gerakan itu adalah reaksi, di satu sisi terhadap tradisionalisme gereja yang sangat kaku, dan di sisi lain terhadap gerakan “Church Growth” yang menjadikan gereja seperti perusahaan yang produknya adalah pertambahan anggota dan caranya adalah marketing dan entertainment.

Gerakan “Emerging Church” ini sangat beragam dan sulit didefinisikan. Tetapi, pada dasarnya, mereka mencoba membangun bentuk gereja yang baru, ibadah yang tidak dibatasi oleh norma lama, meniadakan pembedaan clergy-laity (hamba Tuhan-awam), menekankan pengalaman sekaligus tradisi, cenderung meniadakan perbedaan teologi, dan berbagai karakteristik lainnya.

Tetapi, di saat yang bersamaan, muncul sebuah gerakan lain. Mereka juga bereaksi terhadap kondisi gereja yang sama tetapi tetapi ke arah yang berbeda. Gerakan ini tidak sebombastis “Emerging Church” yang banyak dibahas di dalam buku maupun penelitian. Gerakan ini luput dari perhatian tetapi, secara perlahan namun pasti, gerakan ini bahkan diduga lebih besar dari “Emerging Church”.

Fenomena inilah yang diamati oleh Hansen. Dia menemukan munculnya sebuah ketertarikan di antara orang Kristen di Amerika, khususnya anak muda, kepada teologi Reformed.

Hansen memutuskan untuk menyelidikinya dan hasilnya menegaskan bahwa ada kebangunan teologi Reformed khususnya di anak muda Kristen di Amerika. Anak-anak muda itu gelisah (restless) dan mereka mencari sesuatu yang tidak mereka temukan di gereja. Beberapa tokoh Kristen (khususnya John Piper) membuat mereka menemukan kembali doktrin yang agung dari iman Kristen. Mereka lelah dengan gereja yang hanya menghibur dan tidak mengajar. Mereka lelah dengan gereja yang memberikan khotbah dan pengajaran yang dangkal. Mereka mengejar pemahaman Alkitab dan teologi yang dalam dan mereka menemukan itu pada teologi Reformed, dengan penekanannya akan kedaulatan, anugrah dan kemuliaan Allah. Maka Collin Hansen menyebut gerakan ini sebagai “Young, Restless, Reformed Movement” (YRMM).

Pengamatan Collin Hansen sama sekali tidak salah. Tahun 2009, majalah Time menyebut gerakan itu sebagai New Calvinism dan menobatkannya sebagai salah satu dari “10 Pemikiran yang Merubah Dunia Saat Ini”.

Saya sempat membaca beberapa cerita tentang dampak gerakan ini: Persekutuan anak muda yang membahas buku Systematic Theology dari Wayne Grudem; mahasiswa-mahasiswa yang sering mengutip kalimat John Piper; Passion Conference yang diadakan oleh Louie Giglio (seringkali John Piper menjadi pembicaranya) menarik 50.000-60.000 mahasiswa setiap tahunnya (kalau belum tahu siapa Louie Giglio, pasti tahu salah satu worship leader di gerejanya: Chris Tomlin); berbagai konferensi serupa (yang isinya selalu sangat biblikal dan dalam) dibanjiri oleh anak-anak muda.

John Piper menyebutkan beberapa ciri dari New Calvinism ini yang membuatnya berbeda dengan older Calvinism. Beberapa di antaranya: gerakan ini menerima bentuk ibadah dan musik yang kontemporer, ada banyak gereja Baptis dan Kharismatik yang menjadi Reformed dalam teologinya, Jonathan Edwards menjadi tokoh yang sangat penting, dan penekanan yang kuat bahwa gereja harus multi-etnis dan adanya kerinduan akan keharmonisan rasial.

Mereka bukanlah orang-orang yang besar di kepala, penuh pengetahuan, tetapi kosong hidupnya. Sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang bersemangat hidup buat Tuhan. Tidak heran, tokoh-tokoh Puritan (gerakan Reformed di Inggris abad ke-16 dan 17) khususnya Jonathan Edwards, menjadi idola baru mereka. Pada tokoh-tokoh itu ada penekanan kuat dalam hidup kerohanian, mengasihi Kristus, kehidupan yang baik dalam keluarga dan pekerjaan, dan juga bersaksi serta menginjili.

Gerakan ini masih berlangsung saat ini, dan masih kuat, walaupun tidak seheboh waktu awal kemunculannya dengan besarnya gelombang anak muda yang mendadak tertarik kepada teologi Reformed.

Ketika membaca cerita di atas, hati saya menjadi gelisah. Saya menginginkan hal yang sama terjadi di Indonesia!

Sejauh yang saya amati, pikirkan, dan rasakan, anak muda di Indonesia seperti gandum yang siap dituai untuk menjadi "Young, Restless, Reformed". Tetapi sampai sekarang saya belum melihat adanya penuaian yang besar terjadi.

Gereja dan juga sekolah teologi di dalam tradisi Reformed, ketika bicara soal anak muda, sering terjebak hanya kepada program yang menarik, musik yang wah, kreatifitas yang berani, dan sebagainya. Tetapi belum mengarah pada pengajaran yang mendalam, doktrin yang mencerahkan, pengertian yang menantang intelektualitas, dan kecintaan mendalam pada Firman Tuhan. Di sisi lain, ada yang sudah menekankan pengajaran yang mendalam, tetapi gagal membentuk karakter dan menghasilkan orang yang sombong. Padahal kesombongan banyak orang Reformed (older Calvinism) itulah batu sandungan besar untuk banyak orang.

Hari ini adalah peringatan hari reformasi yang ke-499. Saya ingin bermimpi dan berdoa.

Saya bermimpi dan berdoa supaya di Indonesia muncul gerakan di antara jemaat kecintaan kepada Firman Tuhan, kesukaan belajar doktrin-doktrin yang agung dalam kekristenan, kehidupan rohani yang mendalam, dan kesaksian yang kuat akan berita anugrah Injil.

Saya bermimpi dan berdoa supaya gereja-gereja, sekolah-sekolah teologi, para pengkhotbah, yang berlatar belakang tradisi Reformed, ambil bagian dalam gerakan ini.

Saya bermimpi dan berdoa supaya Tuhan juga memakai saya, dalam segala kelemahan yang ada, ikut mengerjakan penuaian ini.

Sola Scriptura – hanya oleh (dasar) Alkitab
Sola Gratia – hanya oleh anugrah
Sola Fide – hanya oleh iman
Solus Christus – hanya oleh Kristus
Soli Deo Gloria – kemuliaan hanya bagi Tuhan

Thursday, December 17, 2015

John Maxwell’s 5 Levels of Leadership

Sekedar sharing.

John Maxwell, yang banyak berbicara tentang kepemimpinan Kristen, pernah mengajarkan dengan sederhana 5 tingkatan kepemimpinan dalam sebuah organisasi. Saya merasa tertolong dengan model sederhana dari Maxwell ini untuk mengevaluasi kepemimpinan saya dan juga mengingatkan saya akan apa yang masih kurang.

Maka sekedar untuk sharing, di bawah ini saya mencoba menjelaskan apa yang dimaksud oleh dia:

1. People follow because they have to
Ini adalah tingkat kepemimpinan yang paling rendah. “Pemimpin” ini ditunjuk menjadi pemimpin. Dia punya bawahan yang mengikuti dia semata-mata karena mereka harus. Maka orang yang berhenti di tingkatan ini hanyalah boss dan bukan pemimpin. Kata kunci untuk tingkatan pertama ini adalah “posisi”.

2. People follow because they want to
Disinilah seseorang mulai menjadi pemimpin. Leadership is influence. Pengaruh itu diberikan bukan melalui posisi tetapi melalui relasi. Dia membangun relasi yang baik dengan orang-orang dalam timnya. Dia disukai, dihargai, diakui sebagai pemimpin, karena pengaruh yang dia berikan. Sebaliknya ketika orang-orang di bawah dia merasa disukai, dihargai, dipercaya, diperhatikan, maka mereka mulai bekerjasama dengan dia. People go along with leaders they get along with. Maka mereka tidak lagi sekedar mengikuti perintah tetapi mereka mengikuti si pemimpin karena menginginkannya. Kata kunci untuk tingkatan kedua ini adalah “relasi”.

3. People follow because of what you have done for the organization
Pemimpin yang baik makes things happen. Dia harus punya prestasi atau “buah” yang jelas terlihat dan itu membuat orang percaya bahwa dia mampu. Untuk sampai ke tingkatan ini, seseorang harus punya kemampuan kerja yang baik dan juga mampu untuk mengatur dan mengarahkan seluruh organisasi. Dia harus memiliki pemikiran yang baik dan juga etika kerja yang baik. Dia bukan saja produktif secara pribadi tapi mampu mengarahkan tim kerja menjadi produktif.  Kata kunci untuk tingkatan ketiga ini adalah “prestasi”.

4. People follow because of what you have done for them personally
Pada tingkatan ini, seorang pemimpin menginvestasikan uang, energi, waktu, dan pemikirannya untuk mengembangkan orang lain menjadi pemimpin. Bagaimana caranya? Dia hanya 20% berfokus pada apa yang dihasilkan oleh tim kerjanya sementara 80% fokusnya adalah pada pengembangan potensi mereka. Kata kunci untuk tingkatan keempat ini adalah “coaching”.

5. People follow because of who you are and what you represent
Mereka yang berada di tingkatan ini sudah memimpin sangat baik dan sangat lama sehingga terbentuk budaya kepemimpinan yang baik di dalam organisasi yang dipimpinnya. Pengaruh dirinya bahkan melampaui organisasi yang dipimpinnya. Sangat jarang pemimpin yang mencapai tingkatan kelima ini. Biasanya seseorang mencapai tingkatan ini hanya di ujung masa karirnya.  Kata kunci untuk tingkatan kelima ini adalah “legacy”.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah tingkatan-tingkatan kepemimpinan ini harus ditempuh berurutan. Tidak ada yang bisa dilompati. Kita tidak bisa sampai ke tingkatan ketiga sebelum melalui tingkatan kedua, demikian seterusnya.

Untuk menjadi seorang pemimpin yang baik (good leader), menurut saya, paling tidak kita harus sampai di tingkatan ketiga.

Jika kita menempati posisi pemimpin maka tingkatan pertama pasti sudah dicapai. Pertanyaan  berikutnya adalah bagaimana relasi kita dengan orang-orang di bawah kita? Apakah ada relasi, yang bukan sekedar baik – hangat, akrab, saling percaya, tetapi memberikan pengaruh yang baik? Apakah mereka belajar banyak, termotivasi, berani bermimpi lebih besar, karena kita? Pikirkan jawaban pertanyaan ini dari sisi mereka. Kalau jawabannya “ya”, maka tingkatan kedua dicapai.

Lalu pertanyaan berikut adalah bagaimana hasil kerja kita? Ini bukan sekedar masalah apakah kita rajin, bekerja keras, berkorban, atau tidak. Tetapi, apakah orang-orang melihat kita mampu - berhasil dalam tugas pribadi dan dalam memimpin dan mengarahkan organisasi? Apakah orang-orang di bawah kita percaya dengan penilaian dan keputusan kita karena mereka melihat hasil kerja kita selama ini? Kalau jawabannya “ya”, maka tingkatan ketiga dicapai.

Tetapi, untuk menjadi pemimpin yang sungguh baik (great leader), saya kira minimal kita harus sampai di tingkatan keempat. Bukan saja kita mendorong orang untuk maju, tetapi kita menginvestasikan waktu, tenaga dan uang untuk melatih orang di bawah kita menjadi pemimpin. Ini tidak mungkin kita lakukan dengan baik kalau kita tidak mencapai tingkatan kedua dan ketiga dengan baik juga. Jika kita mencapai tingkatan ini, orang-orang di bawah kita akan mengaku bahwa mereka bisa menjadi pemimpin dan mampu mengembangkan potensi karena kita. This is tough!

Saya pikir model sederhana di atas akan sangat menolong jika kita jujur menilai diri kita. Kita akan melihat pemimpin seperti apa kita dan apa yang harus kita perbaiki.

So… where are you now? What is still lacking?

Tuesday, November 26, 2013

Ekstasi-Kesuksesan Dalam Pelayanan

Bayangkan ketika suatu kali kita melayani dalam sebuah acara yang besar.

Acara itu membutuhkan banyak persiapan. Tenaga, waktu, keringat, doa berulang-ulang dan mungkin juga uang, semua sudah dicurahkan. Berkorban? Sudah pasti! Banyak sekali yang sudah dialami selama persiapan. Kadang senang kadang sebal. Kadang semangat kadang cape. Emosi banyak dihabiskan. Sementara itu pekerjaan dan tugas sehari-hari terus menumpuk. Maka waktu untuk istirahat dan jalan-jalan berkurang, bahkan waktu untuk tidur pun menciut. Tidak bisa dipungkiri, sukacita dan semangat tetap terasa. Tiap kali berkumpul dengan rekan-rekan lain, persiapan, rapat, latihan, ada "aura" semangat. Itulah yang membuat kita tetap bertahan!

Lalu tibalah waktunya semua segera akan berlalu. Hari-hari terakhir itu bahkan lebih melelahkan dari sebelumnya. Sampai malam sebelumnya kita masih gladi resik, lalu esok paginya sudah persiapan, sore sudah datang lagi. Akhirnya...saat itu pun tiba! Waktunya, jamnya sudah tiba! Maka kita all out, sekuat tenaga, berusaha sebisanya.

Hasilnya? Luar biasa! Tepuk tangan terus menerus terdengar. Pujian demi pujian kita terima. Seluruh tim sangat bersukacita. Doa penutup dilakukan dengan bergandengan tangan, dan hati kita terharu penuh syukur kepada Tuhan! Malam itu luar biasa! Semua jerih lelah terbayar! Tuhan memberkati pelayanan kita!

Sounds familiar?

Pengalaman serupa-walau-tak-sama dengan itu dialami oleh banyak orang yang melayani dalam berbagai bidang. Baik oleh mereka yang melayani dalam bidang musik, perlengkapan, drama, panitia, bahkan oleh pengkhotbah! 

Satu sisi, tidak ada yang salah dengan pengalaman itu. Betul tuhan memberkati dan betul kita yang sudah menabur dengan air mata boleh menuai dengan sorak sorai. Tidak ada yang salah! Tetapi di sisi lain, sama seperti semua hal yang baik, selalu ada celah untuk dipelintir menjadi hal yang buruk.

Saya menyebutnya efek ekstasi-kesuksesan dalam pelayanan. Perasaan melambung karena kesuksesan itu membuat kita melihat dan memandang diri lebih dari yang sebenarnya. Kita tidak lagi melihat diri kita sebagaimana adanya - lemah dan berdosa - tetapi yang terbayang hanya penggalan kalimat-kalimat pujian, wajah-wajah kagum, tepuk tangan dan perasaan super ala selebriti! Rasanya kita diurapi oleh Tuhan, dipakai dengan luar biasa, menjadi berkat besar! Wow!

Semakin lama kita mengecap memori dan imajinasi kesuksesan itu semakin berbahaya karena perlahan-lahan:

1. Kita merasa lebih dari orang lain
Kita mulai merasa bahwa kita istimewa, bertalenta, dan dipakai oleh Tuhan. Ketika pelayanan kita tidak begitu dianggap oleh orang lain maka pasti orang itu yang salah! Dia sirik, tidak mendukung, bodoh, dsb! Ketika apa yang kita lakukan dihalangi, kita marah karena menghalangi kita “yang diurapi” ini berarti menghalangi Tuhan! Kalau pelayanan kita di dalam tim, maka kita mulai merasa tim kita super. Kita bangga berada di dalam tim itu yang jauh lebih baik dari tim yang lain. Maka saya atau tim saya lebih dari orang atau tim lain. Barangsiapa mengganggu kami, menghalangi kami, tidak mendukung kami, dia sungguh-amat-sangat-super-keterlaluan!

2. Kita tidak lagi memuliakan Tuhan
Sebelum pelayanan kita berdoa dengan sungguh memohon pertolongan Tuhan, tapi begitu selesai pelayanan dan menerima pujian, ekstasi itu mulai bekerja me-ninabobo-kan kita. Kita menikmati semua pujian itu dan Tuhan disingkirkan. Kita bahkan ingin mengulang lagi pelayanan yang seperti itu, bukan karena ingin melayani tapi karena kita kecanduan ekstasi-kesuksesan.

Masih layakkah kita menyebut diri kita “pelayan”? Artinya kita ini berada di tempat yang rendah, tidak apa ditolak, dicaci, apalagi sekedar tidak dianggap. Bukan dengan pikiran “biarin gua sekarang diginiin, nanti gua buktiin”, tapi dengan pikiran seperti Kristus yang memang datang untuk melayani dan bukan dilayani. Masih layakkah kita sebut apa yang kita kerjakan itu “pelayanan”? Artinya menjalankan yang Tuhan mau, karena Tuhan dan untuk Tuhan. Bukan dengan pikiran “ya kerja begini nggak dibayar kan namanya pelayanan”, tapi dengan pikiran penuh takut dan gentar dipakai oleh Tuhan.

Seringkali memang tidak jelas lagi kita hamba atau tuan!? Betapa pentingnya kita melawan efek "ekstasi-kesuksesan” itu setelah pelayanan yang sukses dengan memeriksa diri. Kita perlu bertanya lagi “siapa saya? apa yang saya rasakan? apa yang saya ingini?” Kemudian berdoa, memohon ampun, dan kembali merendahkan diri di hadapan Tuhan.

Sunday, November 17, 2013

Tuhan Akan Memelihara Gereja-Nya

Beberapa waktu lalu sekolah minggu GKY Jemaat Green Ville mengadakan lomba menceritakan kisah Alkitab yang diikuti oleh anak kelas 1-6. Ada seorang peserta yang sangat baik tapi harus di-diskualifikasi karena belum cukup umur - masih TK. Tapi panitia kemudian mengapresiasi dia sebagai peserta termuda dan berbakat.

Dalam kebaktian pertama di GKY Jemaat Green Ville minggu lalu, para pemenang lomba itu dipanggil maju ke depan dan diberikan apresiasi. Anak yang masih TK yang di-diskualifikasi itu diminta menyampaikan cerita "Daniel di gua singa" yang dia bawakan waktu lomba. Saya terkejut! Sepanjang dia bercerita, saya terkagum-kagum. Dia bercerita tanpa teks dan sangaaaatttt bagus! Bukan hanya kagum, tapi berkali-kali jemaat juga dibuat tertawa dengan kreativitasnya dalam bercerita. Tanpa disadari, saya menangis... saya terharu. Otak saya langsung berputar mempertanyakan diri sendiri, mengapa saya begitu terharu?

Saya teringat bahwa beberapa waktu ini saya merasa khawatir dengan kondisi gereja Injili di Indonesia. Saya melihat bahwa tidak banyak orang yang mau menjadi hamba Tuhan. Dari jumlah yang sedikit itu, lebih sedikit lagi yang punya kemampuan intelektual yang tinggi, berbakat, berdedikasi untuk belajar dan mengajar Firman Tuhan. Makin banyak orang pintar tapi makin sedikit yang mau menjadi hamba Tuhan. Bagaimana masa depan gereja? Situasi dalam gereja juga seringkali begitu tidak mendukung seorang hamba Tuhan untuk terus mengutamakan belajar dan mengajar Firman Tuhan. Kesibukan membunuh kerinduan untuk belajar. Segelintir hamba Tuhan yang punya kemampuan intelektual tinggi pergi untuk studi lanjut, sebagian menjadi 'ngaco', sebagian tidak mau kembali ke Indonesia, maka hanya super segelintir yang sisa. Saya sangat khawatir.

Sekarang di depan saya ada sekelompok anak-anak sekolah minggu yang pandai dan bebakat menceritakan kisah Alkitab. Ditambah melihat anak TK bercerita seperti itu - dengan kemampuan, kreatifitas, dan daya hafal yang bahkan tidak saya miliki, saya terharu.

Saya tahu belum tentu anak-anak itu akan menjadi hamba Tuhan. Tetapi di momen itu, Tuhan seperti menunjukkan kepada saya bahwa Dia pegang kendali gereja-Nya. Dia memelihara dan akan terus memelihara gereja-Nya dengan cara-Nya sendiri. Saya bersyukur untuk anak-anak sekolah minggu itu.

Friday, January 04, 2013

Ibadah dan Misi

Sebagian orang Kristen melebih-lebihkan hubungan gereja dengan misi. Mereka mengatakan “Gereja ada untuk misi” atau “Gereja kalau tidak bermisi bukan gereja”, dst. Kalimat-kalimat seperti itu salah! Gereja ada bukan untuk misi! Gereja ada untuk menyembah Allah!

Maka kalimat Piper di dalam bukunya sangat tepat: Mission begins and ends in worship. Orang-orang yang menyembah Allah akan bermisi di dalam dunia seperti Allah. Dan tujuan dari semua misi adalah supaya ada lebih banyak lagi penyembahan kepada Allah. Maka benar: Mission begins and ends in worship!

Ketika gereja tidak bermisi, mungkinkah kesalahannya adalah pada ibadah kita? Ibadah seperti apa yang selama ini kita lakukan, yang tidak menyebabkan jemaat rindu melakukan sesuatu di dunia untuk Tuhan? Ibadah seperti apa yang selama ini kita lakukan, yang hanya membuat orang Kristen nyaman?

Jangan cepat mengambil kesimpulan dulu. Tidak berarti gereja yang bermisi pasti dimulai dari ibadah yang baik. Banyak gereja dan orang Kristen menjalankan misi tanpa mengerti ibadah yang sesungguhnya dan tanpa penyembahan yang mendalam kepada Allah. Maka mereka melakukan misi mulai dari starting point yang salah dan juga untuk tujuan yang salah.

Banyak orang melakukan misi tanpa kedekatan dengan Allah, tidak dimulai dari ibadah tapi hanya dari kesukaan akan aktifitas misi atau dari kewajiban. Dan misi seperti inilah yang nantinya menghasilkan kedangkalan iman Kristen di ladang misi.

Mari bangun ibadah yang benar, yang akan mendorong orang bermisi sesuai kehendak Tuhan, dengan tujuan lebih banyak lagi orang beribadah kepada Allah yang hidup.

Wednesday, January 02, 2013

Pelayanan Apa?

We ought not to worry if after many years of service we still are asking how best we can serve God and fulfill our call; it is worrisome if we have stopped asking – Marva Dawn, The Sense of the Call, p.30.

Ini kalimat yang sangat bijak! Paling tidak ada tiga dasar yang membenarkan kalimat itu:

Pertama, dunia kita dinamis. Kondisi, tantangan, kebutuhan, terus berubah. Kalau kita sungguh ingin melayani Tuhan di dunia ini, maka tidak mungkin kita puas dengan apa yang kita lakukan di masa lalu. Apa yang dulu dibutuhkan dunia, atau apa yang dulu tepat menjawab tantangan dunia, belum tentu sama dengan hari ini atau hari depan.

Kedua, diri kita juga terus berubah: fisik berubah makin lemah, pengalaman bertambah, pemikiran dan kerohanian –harusnya- bertumbuh. Apa yang dulu bisa kita lakukan belum tentu bisa kita lakukan hari ini. Sebaliknya apa yang dulu tidak bisa kita lakukan mungkin bisa kita lakukan hari ini.

Ketiga, Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup! Pelayanan adalah mengikuti panggilan dari Tuhan yang hidup. Dia berjalan di depan, kita mengikut di belakang. Pelayanan adalah berjalan mengikut dengan ketaatan. Tapi dengan sangat mudah pelayanan berubah menjadi ‘rumah’. Kita nyaman di situ, kita membangun istana di situ, dan kita berhenti mengikut Dia

Maka kita memang harus terus bertanya dan terus bertanya… bagaimana hari ini saya memenuhi panggilan saya dan bagaimana hari ini saya memberikan yang terbaik untuk melayani Tuhan? Semua orang Kristen, apalagi para hamba Tuhan, harus terus mempertanyakan itu secara periodik.

Mungkin kita perlu bertanya lagi soal lokasi kita melayani? Atau bidang kita melayani, haruskah masih di situ? Atau kelompok orang yang kita layani? Atau mungkin caranya, adakah yang perlu diubah? Atau konsepnya, adakah yang lebih tepat? Atau kesempatan apa yang sekarang terbuka? Atau pelayanan apa yang membuat karunia rohani kita dipakai dengan lebih baik? Atau mungkinkah Tuhan sedang memberi arah yang baru? Atau…?

Ketika kita tidak lagi mempertanyakan semua itu, mungkin itu berarti kita tidak peduli lagi dengan kehendak Tuhan. Atau mungkin itu berarti kita tidak peka lagi dengan keadaan dunia. Atau mungkin itu berarti kita tidak bertumbuh sama sekali. Pelayanan kita mungkin sudah tanpa arah, tanpa maksud, dan tanpa makna, kita hanya melakukan Christian job. Maka betul kata Dawn: It is worrisome if we have stopped asking.

Silakan bergumul dan selamat tahun baru!

Monday, August 06, 2012

Kelas Katekisasi

Banyak gereja mengadakan kelas katekisasi sebagai kelas persiapan untuk dibaptis/sidi. Sayang
sekali kelas ini sering dianggap kelas ‘terpaksa’ yang harus diikuti karena mau dibaptis/sidi. Padahal kelas katekisasi, kelas pembinaan, atau kelas apapun untuk belajar kebenaran seharusnya bukanlah kelas membosankan yang terpaksa harus diikuti. Belajar kebenaran itu menyenangkan, menarik dan membebaskan. Mungkin apa yang pernah saya lakukan dengan kelas katekisasi bisa membantu memberikan ide, khususnya bagi anda yang majelis atau hamba Tuhan.

Di GKY Singapore saya mengajar kelas katekisasi dengan Pengakuan Iman Rasuli, dan kemudian ditambah dengan topik2 lain. Sangat disayangkan, banyak gereja yang walaupun mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli setiap minggu, banyak jemaatnya yang tidak mengerti maknanya dengan baik. Padahal Pengakuan Iman Rasuli adalah alat yang sangat berharga untuk mengajar jemaat. Apa yang kita percaya tentang Allah Tritunggal? Apa artinya 'dikandung dari Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria’? Apa artinya ‘gereja yang kudus dan am’? Apa yang kita percaya dengan ‘kebangkitan tubuh’? dst.

GKY sebetulnya memiliki buku panduan katekisasi yang terdiri dari 16 bagian. Tetapi karena di GKY Singapore saya pontang-panting mengajar sendirian kelas katekisasi, kelas pra nikah, dsb, maka saya memutuskan untuk memadatkan kelas katekisasi menjadi hanya 8X pertemuan. Tidak ada topik yang dikorbankan tapi saya memilih hal-hal yang penting dan menjadikan kelas katekisasi sangat padat. Berikut adalah urutannya:

Pertemuan 1: Aku percaya kepada Allah, Bapa yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi (Apa artinya percaya kepada Allah, siapa Allah, dan konsep Allah Tritunggal)

Pertemuan 2: Aku percaya kepada Yesus Kristus… (Nama Yesus Kristus, Dwi Natur Yesus dan maknanya bagi kita, Kesengsaraan, Kebangkitan, Kenaikan dan Kedatangan Yesus yang kedua kali)

Pertemuan 3: Aku percaya kepada Roh Kudus (Karya Roh Kudus, Karunia Roh Kudus dan berbagai kesalahmengertian tentang Roh Kudus)

Pertemuan 4: Aku percaya kepada Gereja yang kudus dan am, persekutuan orang kudus (Pengertian tentang gereja)

Pertemuan 5: Aku percaya kepada pengampunan dosa, kebangkitan tubuh dan hidup yang kekal (Manusia diciptakan Allah, jatuh dalam dosa, jalan keselamatan dan jaminan keselamatan)

Pertemuan 6: Alkitab (Alkitab adalah Firman Allah, Memberiklan ringkasan benang merah Alkitab, Saran praktis bagaimana bersaat teduh)

Pertemuan 7: Ibadah dan Sakramen (Konsep ibadah, Perjamuan Kudus dan Baptisan Kudus)

Pertemuan 8: Kisah Gereja, Kisahku (Sejarah gereja singkat, Sejarah GKY, Peranku sebagai anggota GKY: kebaktian, doa, persembahan, pelayanan)

Saya sedang berpikir bahwa seharusnya tambah Pertemuan 9 untuk membahas bagaimana hidup sebagai orang percaya, bagaimana bertumbuh, berdoa, dan membaca Alkitab. Menurut saya 9X pertemuan itu sudah mencakup hal-hal paling dasar dalam kekristenan.

Tema-tema di atas berguna bukan hanya untuk mereka yang baru akan dibaptis/sidi tapi bagi semua orang Kristen. Saya sangat concern dengan banyaknya orang Kristen yang tidak lagi mengerti hal-hal paling dasar dalam kekristenan, mengenai pokok-pokok iman yang seharusnya mereka pegang. Salah satu cara yang bisa tapi jarang kita ‘pergunakan’ adalah kelas katekisasi. Maka di GKY Singapore, kelas itu kami buka untuk umum. Tentunya ada kewajiban hadir bagi yang ingin dibaptis/sidi, tapi bagi yang sekedar ikut mereka bebas untuk datang/tidak datang, bebas memilih untuk datang di pertemuan yang mana. Maka kelas katekisasi itu kami sebut sebagai Basic Christianity Class.

Ada satu tambahan ide lagi. Sejak tahun 2004 saya mengajar kelas katekisasi untuk remaja di GKY Green Ville (di sana kelas katekisasi dibagi dua: untuk yang usia remaja dan dewasa). Setelah beberapa kali memimpin kelas itu, sekitar tahun 2005 atau 2006 saya menambahkan ‘pertemuan kelompok’ di dalam kelas katekisasi. Kalau tidak salah ide ini saya dapatkan dari membaca buku “Post Modern Youth Ministry”. Setiap selesai pertemuan, peserta akan masuk ke dalam kelompok dengan pembimbingnya untuk mendiskusikan lebih lanjut apa yang sudah dibahas dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan. Saya melihat pola ini sangat baik. Dan akhirnya pola ini juga dipakai juga oleh kelas katekisasi umum (dewasa) di GKY Green Ville sampai sekarang.

Banyak hal bisa kita lakukan dengan kelas katekisasi. Kita bisa mengadakan Retreat di akhir kelas katekisasi. Tidak perlu banyak khotbah, tapi minta mereka banyak berdoa dan bersekutu dengan Tuhan. Kita bisa, seperti gereja awal, mengingatkan betapa seriusnya baptisan dengan meminta mereka berpuasa sebelum menerima baptisan/sidi. Tentunya banyak ide lain yang tidak semuanya bisa diterapkan di semua tempat. Tapi sungguh, kelas katekisasi, tidak seharusnya menjadi kelas ‘terpaksa’ tapi kelas mengajarkan kebenaran yang menarik, menyenangkan, dan membebaskan.

Thursday, May 03, 2012

Ketulusan: Pelayanan dan Relasi

Saya pernah menulis tentang “Ketulusan” di blog ini dimana saya mengaitkan strategi pemasaran kuno MLM, asuransi, dan penginjilan di gereja (click untuk melihat). Saya baru membaca lagi tulisan itu dan melihat bahwa itu masih sangat relevan sekarang.

Ketulusan tidak berarti semua orang mengatakan segala hal yang ada di pikirannya kepada setiap orang. Itu bukan ketulusan tapi kebodohan! Di dalam hubungan kita sesama manusia berdosa, tidak bisa tidak, kita pasti menutupi sesuatu. Tiap orang punya cara berpikir yang berbeda, punya kepribadian, kelemahan, luka, dan dosa yang berbeda. Maka kapan mengatakan sesuatu, dengan cara bagaimana, kepada siapa, menjadi penting. Dan itu bukan ketidaktulusan tapi kebijaksanaan.

Saya kira ketulusan perlu dikaitkan dengan dua hal:

Pertama adalah motivasi. Ketulusan adalah ketika kita memikirkan kemauan Tuhan lebih daripada kemauan diri atau kelompok. Ketulusan adalah ketika kita memikirkan yang terbaik untuk semua dan bukan untuk diri atau kelompok. Dan terakhir, ketulusan adalah ketika kita memikirkan yang terbaik untuk lawan bicara kita. Kita tidak ingin memanfaatkan dia untuk kepentingan apapun. Kita tidak boleh membujuk orang untuk lakukan sesuatu tanpa memikirkan perasaan orang itu, kemauan orang itu dan kebaikan orang itu. Lalu kita beralasan, “kan bukan buat saya, tapi buat pekerjaan Tuhan”. Itu tidak tulus!

Kedua adalah perkataan. Kita memang tidak mungkin mengatakan segalanya kepada setiap orang. Tapi sampai batas tertentu kita bisa mengatakan hal-hal yang paling tidak membuat orang itu punya informasi yang cukup sehingga tidak membuat dia salah langkah. Informasi tidak harus ‘seluruhnya’ tapi harus ‘tidak menyesatkan’ dan ‘tidak misleading’. Kita boleh mengatakan “jangan lakukan itu, berbahaya!” tanpa menyebutkan siapa orang-orang yang menyebabkan bahaya. Tapi kita tidak boleh mengatakan “jangan lakukan itu, berbahaya!” padahal kita tidak terlalu yakin bahayanya dan kita hanya katakan itu karena kita mau dia lakukan yang lain.

Ketulusan adalah ketika kita mengatakan sesuatu, memutuskan sesuatu, dengan tanpa agenda pribadi. Ketulusan adalah, walaupun tidak membuka seluruhnya, tapi memikirkan perasaan lawan bicara kita, menempatkan diri di posisi mereka. Ketulusan adalah ketika kita menginginkan yang terbaik untuk lawan bicara kita. Dan semuanya adalah karena kita memikirkan Tuhan, takut akan Tuhan, dan kemuliaan Tuhan.

Sangat menyedihkan melihat banyak energi di dalam pelayanan habis karena mengurusi ketidaktulusan. Banyak orang dengan agendanya masing-masing, bermain ‘kungfu’, bersilat lidah, bermuka dua, atau apa pun istilahnya, untuk kepentingan dirinya, kelompoknya, atau yang dia pikir untuk Tuhan.

Saya sebut “dia pikir untuk Tuhan” karena mungkin ada orang-orang yang berpikir “ini baik untuk Tuhan”. Lalu dia fight untuk itu, dia lakukan macam-macam cara yang tidak tulus, semua atas nama ‘untuk Tuhan’. Orang seperti ini tidak pernah menguji apa betul untuk Tuhan, apa betul Tuhan mau begini, apakah saya memperjuangkan sesuatu yang benar, apakah saya tidak melukai banyak orang yang benar dengan cara begini, dan seterusnya. Jangan pikir dulu bagaimana kalau begini dan begitu, jangan berargumen dulu, diam dulu di hadapan Tuhan, coba tanya - dan saya percaya Tuhan akan bicara - apakah yang saya lakukan menyenangkan Tuhan?

Mari kita kembali kepada sesuatu yang sangat sederhana tapi indah: Ketulusan.

Demikian pula dalam relasi dengan orang lain. Ketika kita berbuat baik kepada orang lain karena kita menyukai dia (contoh klasik: ketika seorang pemuda sedang ‘naksir’), itu bukan ketidaktulusan. Demikian pula ketika kita tidak suka dengan seseorang, lalu berusaha untuk berbuat baik kepada dia, itu juga bukan ketidaktulusan. Tapi ketidaktulusan adalah ketika kita baik kepada seseorang karena ingin memanfaatkan dia, karena ada hal-hal yang bisa menguntungkan kita. Ketidaktulusan adalah ketika kita pura-pura baik supaya dilihat orang, supaya tidak dikatai orang, dsb. Tapi ketika kita berbuat sesuatu, mengatakan sesuatu, karena kasih yang benar, atau karena berusaha mengasihi seperti yang Tuhan perintahkan, itu adalah bagian dari ketulusan.

Siapa sih di antara kita yang sempurna tulus? Kita semua perlu terus mengoreksi diri, mengasah diri, menguji diri, dan minta kepada Tuhan karakter yang sangat indah ini: Ketulusan.

Tuesday, April 17, 2012

Posisi VS Fungsi

Posisi dan fungsi adalah dua hal yang sering terkait tapi bisa dibedakan. Dengan posisi tertentu pasti ada fungsi yang bisa dan harus kita jalankan. Dan sebaliknya untuk menjalankan fungsi tertentu seringkali harus ada posisi tertentu. Maka keduanya memang terkait.

Tapi keduanya juga bisa dibedakan dengan jelas. Orang bisa menduduki posisi tertentu dan tidak menjalankan fungsi dengan baik. Orang seperti itu akan menjadi perusak. Sebaliknya orang bisa tanpa posisi yang patut tapi menjalankan fungsi dengan sangat baik. Orang seperti itu disayangkan karena seandainya dia punya posisi yang tepat, dia bisa menjalankan fungsinya dengan lebih baik.

Paulus pernah mengatakan dalam 1 Tim 3:1 - Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat (ἐπισκοπῆς: bishop, uskup) menginginkan pekerjaan yang indah (noble task).

Kalimat ini menunjukkan bahwa tidak salah menginginkan posisi. Tapi motivasinya adalah untuk fungsi (noble task – tugas,pekerjaan yang mulia).

Banyak orang berebut posisi karena mereka berpikir bahwa posisi adalah prestise, posisi adalah kuasa, posisi adalah hak. Bagaimna dengan fungsi? “Ah, itu mah gampang, saya pasti bisa”. Maka yang berkuasa adalah kedagingan. Pokoknya posisi dulu – fungsi? saya pasti bisa!

Mengapa kita tidak membaliknya: Fungsi apa yang kita inginkan? Berdasarkan kasih karunia Tuhan yang diberikan kepada kita, berdasarkan pergumulan saya pribadi dengan Tuhan, berdasarkan peneguhan dari orang-orang di sekitar saya, fungsi apa yang seharusnya kita jalankan? Kalau untuk menjalankan fungsi itu diperlukan posisi, inginkanlah juga posisi itu karena Tuhan - dan bukan karena diri. Tapi kalaupun posisi tidak ada, karena alasan apapun, anggaplah bahwa Tuhan menganggap baik kita tanpa posisi itu. Dan tetaplah lakukan fungsi sebisa mungkin!

That simple! Betulkah? Ya dan Tidak. Seharusnya Ya, tapi menjadi Tidak karena kedagingan kita. Let’s make it simple again.

Monday, February 27, 2012

Gereja dan Misi

Orang Kristen umumnya setuju bahwa gereja harus bermisi. Bagi mereka yang tinggal di kota besar sekalipun, mereka tahu bahwa ada banyak sekali ladang misi di luar sana, orang-orang yang miskin, daerah-daerah yang tertinggal, tempat-tempat dimana Injil masih sangat sulit untuk masuk, mereka semua tahu - paling tidak pernah dengar-dengar sedikit.

Dan orang Kristen umumnya setuju bahwa gereja harus melakukan sesuatu, ambil bagian dalam pekerjaan misi. Tapi dalam prakteknya, pekerjaan misi seringkali tidak begitu lancar, agak seret, untuk dijalankan.

Sekalipun gereja-gereja kota itu tahu dan mau untuk bermisi, tapi begitu kesempatan itu tiba, mereka sulit sekali mengambil keputusan yang tepat. Ada banyak kekhawatiran – jangan-jangan nanti begini.. begitu.. dst. Ada banyak keraguan – lebih baik yang ini atau yang itu, dan akhirnya… tidak dua-duanya. Ada banyak faktor yang membuat salah mengambil keputusan karena tidak tahu pergumulan di ladang misi, masalah yang dihadapi, cara kerja lembaga misi, dst.

Ini sangat disayangkan karena ‘gereja2 kota’ punya potensi yang sangat besar untuk melakukan misi, baik dari sisi dana, tenaga, maupun pemikiran. Orang-orang yang mengerjakan pekerjaan di ladang misi membutuhkan dukungan tapi ‘gereja-gereja kota’ yang mampu mendukung tetap tidak tahu bagaimana mendukung.

Saya menemukan beberapa penyebab:

1. Kurangnya informasi tentang ladang misi yang diterima oleh orang Kristen di kota. Beberapa lembaga misi memang membuat buletin tentang kegiatan mereka, beberapa misionaris membuat buletin doa pribadi tentang pergumulan dan pelayanan mereka, tapi saya merasa buletin-buletin itu kurang dibuat informatif dan penyebarannya pun sangat sempit. Saya mengerti dalam konteks Indonesia berita-berita seperti ini seringkali sensitif, maka memang perlu berhati2 demi pekerjaan misi tersebut. Tapi kita harus pikirkan bersama masalah ini. Kurangnya informasi ini membuat banyak orang Kristen hanya dengar ‘kabar burung’ tentang ladang misi dan dengan kondisi ini, adalah loncatan besar untuk mengharapkan mereka terlibat dalam ladang misi.

2. Kurangnya exposure dengan pekerjaan misi. Kalau informasi saja kurang apalagi exposure. Beberapa gereja kadang mengundang misionaris atau lembaga misi untuk kesaksian. Itu bagus, tapi informasi sekali-kali itu tidak cukup. Hanya dengar2 saja tentang ladang misi tidak akan menimbulkan kesan yang mendalam seperti jika kita terlibat langsung. Kesempatan untuk exposure dengan pekerjaan misi ini harus dibuka dan dialami oleh sebanyak mungkin orang Kristen. Tentunya harus dengan koordinasi yang baik dan tidak merugikan pekerjaan misi yang berjalan. Berkenalan dengan misionaris, melihat apa yang mereka lakukan di ladang misi, mengerti kesulitan dan pergumulan mereka, akan membuka banyak hal bagi orang Kristen ‘kota’ yang jauh dari ladang misi. Kebanyakan lembaga misi tidak pernah membuka kesempatan untuk exposure ini selain hanya untuk short term mission trip.

3. Kurangnya seimbangnya pengertian akan misi. Pertama, antara long term dan short term mission. Short term mission trip dibutuhkan untuk exposure jemaat, tapi misi yang harus dilakukan adalah long term. Banyak gereja terjebak hanya melakukan short term mission trip, lalu puas. Tapi sejujurnya, mereka tidak tahu bagaimana harus melakukan long term mission! Kedua, antara misi di kota dan misi di desa. Sebagian orang hanya melihat desa, sebagian lagi hanya melihat kota. Sebagian lagi bilang, harus dua-duanya. Saya rasa semua tidak tepat. Pertanyaannya adalah apakah sudah dipikirkan, didoakan, kemana saat ini Tuhan memimpin gereja untuk melangkah? Pandangan harus luas bahwa ada banyak ladang misi, ada kota, ada desa, tapi seperti meletakkan semuanya di meja dan bertanya kemana Tuhan mau pimpin untuk waktu ini. Kesalahan konsep seperti ini membuat banyak gereja melakukan misi “asal tembak dan lari.”

4. Kurang lancarnya hubungan antara lembaga misi dan gereja. Orang-orang yang terlibat dalam pekerjaan misi hampir pasti adalah anggota sebuah gereja, Tapi entah mengapa, gereja tidak banyak mendukung mereka dan tidak bertanya tentang pelayanan mereka, sementara mereka juga tidak banyak berusaha menjalin hubungan dengan gerejanya. Ketidak lancaran hubungan ini membuat gereja mendukung ‘ala kadarnya’ dan lembaga misi berjalan sendirian. Dan sebenarnya yang lebih buruk adalah orang Kristen akhirnya tetap tidak didorong untuk melakukan pekerjaan misi. Bagi banyak orang Kristen pekerjaan misi seperti “hutan belantara yang gelap, jauh, mengerikan, dan tentunya bukan bagian saya”.

Kita perlu memikirkan ulang bagaimana memperbaiki semuanya. Ada pekerjaan lebih banyak dan lebih besar yang bisa kita lakukan bersama-sama. Dan bukankah Tuhan memang mau kita melakukannya bersama-sama?

Monday, February 13, 2012

Not Better Methods But Better People

E.M. Bounds, seorang pendeta yang hidup di abad 19 sampai permulaan abad 20, pernah mengatakan
kalimat:
People are God’s method. The church is looking for better methods; God is looking for better people.
Saya kira dia sangat benar. Gereja sering terjebak dalam mencari metode yang lebih baik. Walaupun apa itu yang ‘baik’ jarang kita rumuskan juga. Kita sering mencoba mencari, menyusun, memikirkan, berbagai metode yang menurut kita akan membuat lebih ‘baik’ dan kita berpikir bahwa dengan metode yang lebih baik maka pasti hasilnya akan lebih baik.

Jujur kita suka yang lebih banyak, lebih wah, lebih mengagumkan, atau dalam konteks gereja diterjemahkan sebagai: lebih banyak yang datang, lebih megah acaranya, lebih banyak hal yang kelihatan berhasil kita lakukan.

Sebagai gereja bukankah seharusnya kita berjuang supaya gereja kita menjadi better church - bukan dalam arti lebih bagus gedungnya, lebih variatif programnya, lebih banyak jemaatnya, tapi – dalam arti lebih menjalankan menjalankan hidupnya dan fungsinya seperti maunya Tuhan. Sebagai pengurus gereja concern kita adalah gereja harusnya seperti apa, idealnya gereja itu bagaimana, itu yang kita kejar. Bagaimana harusnya ibadahnya? Bagaimana harusnya persekutuan antar jemaatnya? Bagaimana harusnya pembinaan kepada jemaatnya? Bagaimana harusnya semangat pelayanan dan penginjilannya? Kejarlah itu, to be a better church!

Sebagai gereja bukankah seharusnya kita berjuang supaya tiap jemaat menjadi better people – dalam arti makin taat pada Tuhan, makin mengasihi Tuhan, makin menyembah Tuhan? Maka kita tidak puas dengan banyaknya orang yang datang, tetapi pertanyaan kita selalu adalah orang macam apa yang kita ‘hasilkan’? Sekian lama mereka ke gereja, apakah mereka menjadi better people? Kita sendiri jadi orang macam apa? Apakah jadi better people?

Maka saya kira banyak gereja punya tujuan yang salah: yang ‘wah’. Dan keyakinan yang juga salah: metode (atau program) yang baik pasti akan mencapai yang ‘wah’ itu.

Perjuangan kita akhirnya adalah mencari berbagai metode supaya kita berhasil. Bagaimana metode penginjilan yang sukses? Bagaimana program persekutuan yang berhasil? Bagaimana cara kerja gereja yang maju? Bagaimana lagu, alat musik, acara, dalam kebaktian yang menarik? Bagaimana… dan bagaimana… metode untuk ini dan itu…? Fokus kita adalah pada metode untuk tujuan yang ‘wah’.

Mengapa kita tidak berjuang untuk menjadi better church to produce better people?

Sunday, December 18, 2011

Melayani Tuhan: Sumber Kebebasan

William H. Willion di dalam bukunya: Pastor: TheTheology and Practice of Ordained Ministry mengatakan:

To believe that we are in ministry as God’s idea, rather than our own sense of occupational advancement; this is the submission, the yoking that is the source of true freedom (2 Cor. 3:17). Time and again, the main thing that keeps our ministry specifically Christian is to be able to assert with conviction, “We must obey God rather than any human authority” (Acts 5:29).

Saya menemukan bahwa itu sangat..sangat.. benar! Percaya bahwa kita berada dalam pelayanan sebagai idenya Tuhan dan bukan kemauan kita, bukan karir, bukan profesi, berarti tunduk kepada Tuhan, memikul kuk yang justru menjadi sumber kebebasan.

Sejak lulus sekolah teologi, saya ingin studi lanjut, tapi kesempatan sepertinya belum terbuka. Beberapa tahun lalu saya mengingatkan diri sendiri: Untuk apa sih saya studi? Untuk saya atau Tuhan? Kalau untuk Tuhan, dan untuk melayani di ladang Tuhan, maka bukankah terserah Tuhan? Kalau menurut Tuhan baik, maka jalan akan terbuka. Kalau menurut Tuhan tidak baik, maka tidak studi adalah yang terbaik. Sebagai manusia, menurut saya, studi adalah hal yang baik tapi belum tentu menurut Tuhan. Maka saya sangat tenang dan tidak ‘ngotot’, tidak panik, tidak kenapa-napa. Tapi begitu saya yakin Tuhan bilang “ya”, maka saya mulai ngotot. Dan kesadaran seperti itu sangat membebaskan!

Banyak orang juga ngotot, ingin ini dan itu. Dalam pelayanan, ingin jabatan, ingin hormat, ingin posisi, ingin lokasi, dst. Dengan cara itu kita justru memikul kuk yang sangat berat, yang tidak seharusnya kita pikul. Pelayanan adalah idenya Tuhan! Maka sangat menolong jika kita sering-sering mundur sedikit, lalu melihat semuanya dari sudut pandang yang lebih luas, sudut pandangnya Tuhan. Sangat membebaskan!

Willimon berkata, hal utama yang nenjaga pelayanan kita tetap menjadi pelayanan Kristen adalah untuk mampu menegaskan dengan yakin bahwa : Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Kadang sangat sulit untuk lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Kita punya keinginan, ada tekanan dan masalah dari orang di sekitar kita, ada suara-suara yang menuntun kita ke arah lain, ada pujian yang terus diberikan untuk kita jangan kesana, atau cemoohan yang menghalangi kita untuk tetap disini. Saat itu, dengan yakin kita harus berkata, saya ikut Tuhan dan bukan manusia.

Keyakinan bahwa pelayanan kita adalah dari Tuhan, untuk Tuhan dan bagi kemuliaan Tuhan (terbalik dengan dari kita, untuk kita dan bagi kemuliaan kita), membuat kita bebas melangkah. Dan kuk itu sungguh ringan. Tidak mudah, tidak asal-asalan, tidak senang-senang, tapi ringan dibanding kuk yang kita buat sendiri.

Willimon kemudian melanjutkan:

We fear loss of control. We have anxiety over what life is like to be accountable to someone rather than ourselves. It is somewhat frightening to construe our lives in such a theonomous cast, to have our lives lived in constant reference to the purposes of God. But it is also invigorating to receive the freedom and the dissonance of living the called life in a world where too many people are answerable to nothing more than their own ill-formed desires.

Kita selalu ingin pegang kendali. Kita takut berserah kepada Tuhan, takut selalu ikut maunya Tuhan. Cukup lah ikut 1X, tapi jangan terus2an! Tapi justru ketika semua orang hanya mengikuti keinginannya sendiri yang ngaco, mengikuti panggilan Tuhan memberikan kebebasan bagi kita. Kebebasan yang sejati - karena jiwa yang dijepit oleh nafsu dibebaskan dengan mengikut Penciptanya.

Tuesday, December 13, 2011

Hidupku Adalah Pelayanan BagiMu?

Kalau kita mau coba definisikan, apa sih pelayanan? Kalau kita definisikan pelayanan sebagai sibuk2 dekor, rapat, paduan suara, liturgis, maka kita salah. Semua itu hanyalah aktifitas dalam rangka pelayanan. Maka PELAYANAN itu sendiri pasti lebih besar dari semua itu. 

Ada memang yang mendefinisikan dengan sangat besar, bahwa pelayanan adalah hidup kita. Tema yang banyak dipakai: “Hidupku Adalah Pelayanan BagiMu”. Betul sekali, tapi makna pelayanan jadi buram. Apa artinya “hidupku adalah pelayanan bagiMu”? Semua orang punya hidup. Apakah kalau dalam hidup itu kita melayani dalam aktifitas gereja, hidup jujur dalam pekerjaan, mungkin kadang mengajak orang ke gereja, lalu pasti “hidupku adalah pelayanan bagi Tuhan”?

Mungkin lebih baik kita melihat ‘big picture’ nya dulu.

Allah punya kehendak, maksud, tujuan di dunia ini. Allah punya hati, apa yang Dia senang dan tidak senang. Allah harus ditinggikan, dimuliakan oleh ciptaanNya. Maka melayani Tuhan berarti menjalankan kehendak, maksud, tujuan Allah. Pelayanan berarti melakukan apa yang Allah senang. Pelayanan berarti meninggikan Allah, memuliakan Allah dan menjadikan dunia juga meninggikan Allah, memuliakan Allah.

Dengan cara apa? Allah tidak kenal yang namanya part time. Allah tidak kenal yang namanya ‘kalau sempat’. Allah mau seluruh hidup. Seperti yang Yesus ajarkan: Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, segenap jiwamu, akal budimu, kekuatanmu.

Mungkin gambaran prajurit akan menolong kita. Paulus bilang, seorang prajurit hanya berpikir bagaimana menyenangkan komandannya. Dunia dan hidup seorang prajurit adalah berperang. Dia hanya punya satu arah, satu tujuan, satu hati, melayani perintah komandannya dalam berperang. 

Bagi prajurit ‘big picture’ nya adalah: perang. Tapi prajurit hidupnya tidak cuma perang. Dia juga harus urus makan, dia harus bersihkan senjata, dia harus cuci baju, dll. Tapi dalam pikirannya harus tetap dia adalah prajurit. Dia masak, makan, cuci baju, bersihkan senjata, karena dia prajurit yang baik. Walaupun yang dia lakukan banyak macamnya, tapi pikirannya hanya satu: saya adalah prajurit. Ada big picture.

Dan apalagi waktu harus perang sungguhan, dia harus pergi perang. Itulah hidupnya. Walaupun dalam hidupnya dia tidak hanya perang, karena ada banyak yang terkait yang harus dia lakukan: makan, cuci baju, dll. Tapi sambil lakukan apapun juga, pikirannya tetap: saya adalah prajurit. Hidupnya adalah perang.

Sama. Bagi kita ada big picture: Maksud Tuhan, hati Tuhan. Ingin supaya dunia meninggikan Allah, memuliakan Allah. Ini perangnya.

Memang kita juga harus makan, harus urus ini dan itu, harus lakukan banyak hal. Kita punya macam2 tanggung jawab sosial di masyarakat, dengan keluarga, teman, dengan lingkungan kita, dsb. Tapi big picture itu tidak boleh hilang. Kita harus ingat bahwa kita lakukan itu semua dalam rangka hidup bagi Tuhan, menjalankan maksud Tuhan, kehendak Tuhan, menyenangkan Tuhan dan ingin orang meninggikan Allah.

Pada waktu ada panggilan untuk ikut perang yang lebih real, mungkin bersaksi kepada teman, mungkin lakukan aktifitas pelayanan di gereja, mungkin pergi ke ladang misi, atau apapun itu, kita harus ikut. Tapi kita ikut bukan karena kita sempet, “ya bantu dikit2”, “ya saya suka sih seru”. Ini perang! Kita sedang menjalankan maksud Tuhan, supaya orang meninggikan Tuhan, memuliakan Tuhan.

Maka kita perlu evaluasi hidup kita dengan cara ini.

Apakah kita sedang mengerjakan maksud Tuhan? Apakah kita sedang perang untuk Tuhan?

Hidupku adalah pelayanan bagiMu. Betul. Tapi bagaimana menjadikan hidup pelayanan bagi Tuhan? Semua pekerjaan asal kita lakukan baik2, berarti pelayanan? Punya waktu bantu2 dikit di gereja, berarti pelayanan? Tidak.

Kita harus tanya apa yang Tuhan mau? Kemana, atau pakai gambaran perang tadi, di front mana Tuhan mau kita berperang? Kita harus taat dan berperang di situ. Kalau ada hal-hal terkait lain yang kita perlu lakukan, bekerja, ikut ini itu, tanggung jawab ini itu, semua tetap kita lakukan dalam rangka berperang. Big picture tidak hilang!

Banyak orang bekerja, ikut kelompok hobby ini itu, ikut aktifitas sosial ini itu, tanpa pernah berpikir semua dalam rangka perang bagi Tuhan, semua dalam rangka melayani Tuhan. Maka dia memisahkan hidupnya menjadi dua: pelayanan dan bukan pelayanan.

Dan ironisnya banyak orang yang melakukan aktifitas pelayanan, sibuk ini dan itu, juga tanpa pernah berpikir bahwa itu adalah perang bagi Tuhan. Tidak pernah pikir apa yang Tuhan mau, suka, inginkan. Tidak pernah pikir bahwa dia harus sekuat tenaga, segenap jiwa, hati dan akal budi, mengasihi Allah. Maka mungkin dia melakukan aktifitas pelayanan yang bukan PELAYANAN.

Satu pemikiran terakhir. Kita perlu proporsi. Tidak mungkin kita prajurit tapi kerjanya hanya cuci baju terus. Apa betul Tuhan tidak panggil untuk perang lebih real? Berapa proporsi antara waktu yang kita pakai untuk bekerja, ikut kegiatan ini dan itu, dengan perang yang lebih real? Tanya Tuhan!

Kadang saya kecewa melihat orang yang mau habiskan waktu banyak sekali untuk pekerjaan. Tidak apa kalau itu bagian yang harus dia lakukan. Tapi di luar pekerjaan, dia ambil lagi kegiatan lain yang adalah hobby. Ok kalau memang harus. Lalu dia ambil lagi kegiatan lain, aktif disini dan disana karena suka. Dan akhirnya pelayanan yang langsung, perang yang lebih real, sedikit saja. Alasannya? Bukankah “Hidupku adalah pelayanan bagi Tuhan”? Benarkah? Coba pikir lagi!

Saya tidak mengatakan bahwa yang pelayanan full time pasti lebih baik karena dia berperang real terus. Hidup kita adalah mengikuti panggilan Tuhan, apapun itu. Maka apapun panggilan Tuhan, itu medan perang kita. Tapi saya mau kita bertanya, benarkah kita berpikir begitu? Benarkah yang sekarang saya lakukan adalah panggilan Tuhan? Benarkah hati saya terbakar untuk lebih lagi meninggikan Tuhan, memuliakan Tuhan dan mengajak orang lain juga meninggikan Tuhan dan memuliakan Tuhan?

Friday, November 25, 2011

Selling Jesus: What’s Wrong With Marketing the Church-Douglas Webster

Dua kata yang seringkali dipertentangkan orang ketika bicara pertumbuhan gereja adalah: “kualitas”
dan “kuantitas”. Mana duluan? Apa yang harus dipentingkan? Sebagian berkata “kualitas”, perhatikan iman jemaat, pembinaan yang mendalam, dst. Sebagian lagi berkata “kuantitas”, perhatikan bagaimana menginjili, bagaimana menarik orang datang, dst, Lalu ada yang mendamaikan dengan berkata kalau ada “kualitas” pasti ada “kuantitas”. Kalau tidak ada “kuantitas” itu tandanya tidak ada “kualitas”. Maka mana dulu? Dua2nya berjalan bersama! Saya tidak terlalu setuju.

Gerakan ‘Church Growth’ dimulai beberapa puluh tahun yang lalu dan entah kapan juga mulai populer di Indonesia. Gerakan ini dimulai dengan concern akan banyaknya gereja tradisional yang menua dan perlahan-lahan mati. Tidak ada lagi gairah di dalam gereja, tidak ada semangat untuk membawa orang percaya kepada Tuhan, semua dilakukan serba rutinitas dan kebiasaan. Gerakan ini mendorong gereja kembali menjadi gereja yang bermisi dan memperhatikan bagaimana membawa orang datang ke gereja dan percaya kepada Yesus. Mereka menganalisa berbagai faktor, dengan menempatkan diri sebagai orang yang belum percaya dan ‘orang baru’ dalam gereja, apa yang membuat mereka akhirnya mau datang dan bahkan stay di suatu gereja? Istilah yang kemudian menjadi populer adalah ‘seeker sensitive’.

Gerakan ini masih sangat populer, demikian pula di Indonesia. Tapi kelemahan utama gerakan ini adalah justru di fokusnya yang pada ‘seeker sensitive’, sudut pandang orang yang belum percaya atau baru datang. Tidak selalu salah. Tapi begitu fokusnya mereka pada hal itu sehingga tanpa sadar yang mereka lakukan tidak beda seperti sedang memasarkan gereja, ‘marketing the church’, menawarkan barang dagangan yaitu gereja dan Yesus. Itulah yang dikritik oleh Douglas Webster dalam buku ini.

Manusia punya kebutuhan, “the real need”. Tapi tidak semua sadar itu, sebagian hanya tahu “the felt need”. Alangkah bahayanya kalau kita menawarkan untuk memenuhi “the felt need”. Tidak heran banyak gereja yang dangkal.

Perhatian utama gereja adalah pada keteraturan manajemen, multimedia yang canggih, sound system yang sangat baik, hamba Tuhan yang hangat, humoris, energetik, segala macam pelayanan untuk segala macam kebutuhan, dan seterusnya. Sekali lagi, tidak sepenuhnya salah, tapi salahnya adalah fokusnya hanya di situ.

Saya sendiri tidak percaya bahwa “kualitas” selalu menghasilkan “kuantitas”. Tidak tentu! Ketika Yesus memberikan “the felt need”, mukjizat, makanan, kesembuhan, orang berbondong mengikut Dia. Ketika Dia mengajarkan bahwa Dialah roti yang turun dari sorga, Dia ditinggalkan orang! “Kualitas” mungkin menghasilkan “kuantitas” tapi tidak selalu.

Buku ini memberikan beberapa sorotan yang tajam untuk kecenderungan kita memasarkan gereja (dan mungkin juga memasarkan Yesus)!

Tuesday, October 25, 2011

Jemaat Milik Siapa?

Ada satu istilah yang saya tidak suka: CURI DOMBA. Istilah ini begitu populernya di antara orang Kristen. Pokoknya kalau ada anggota gerejanya yang pindah ke gereja lain, maka dia akan bilang itu curi domba. Sepintas saja kita tahu istilah ini tidak benar.

Pertama, domba bukan punya dia, tapi dombanya Tuhan. Sama seperti gereja bukan punya dia, tapi punyanya Tuhan. Maka domba punya Tuhan, ditempatkan di gereja punya Tuhan, siapa yang boleh protes? 

Kedua, kalau orang itu pindah, kita perlu tanya kenapa. Mungkin karena memang dia lebih baik dilayani di gereja itu. Mungkin karena kita tidak sanggup melayani semua orang dan kebutuhan orang ini terabaikan. Atau mungkin sederhana saja karena dia lebih bisa bertumbuh disitu. Tiap orang dan tiap gereja punya keunikannya karena isinya adalah orang-orang yang berbeda. Maka kondisi gereja yang satu mungkin lebih kondusif, lebih cocok, untuk dirinya daripada gereja yang lain.

Saya tahu istilah curi domba muncul cenderung dari keegoisan kita. Kita ingin jemaat kita banyak, kita ingin gereja kita paling hebat, dan banyak contoh gereja berbuat ‘curang’ dalam hal ini:

Satu kali saya diberitahu ada gereja yang kalau tahu di gereja lain ada pemain musik yang bagus, maka gereja itu kemudian mengimingi2 orang itu untuk main musik di gerejanya dengan diberikan uang.

Ada juga gereja yang sengaja mengunjungi jemaat gereja lain, mengajaknya datang ke berbagai acara di gereja itu dan membujuknya untuk pindah. Tidak apa mengajak orang datang ke acara gereja kita kalau dengan demikian orang itu mendapat berkat. Tapi anehnya seringkali kita mengadakan KKR tapi yang diajak datang adalah jemaat gereja lain. Tidak apa juga mengunjungi jemaat gereja lain, tapi coba tanya untuk apa?

Bagi saya hal-hal seperti di atas bukan curi domba. Itu adalah perpecahan gereja! Ketika sesama gereja Tuhan saling mementingkan diri sendiri, bersaing, memusuhi saudaranya, dan merusak saudaranya dengan uang, itulah perpecahan! Kita patut marah (dan berduka) dengan adanya perpecahan tapi bukan karena ‘curi domba’.

Sedikit menyimpang dulu. Jangan salah mengerti, saya tidak mengatakan semua gereja sama. Ada ‘gereja’ yang sangat ngaco sehingga sebenarnya dia bukan gereja, seperti ‘gereja’ saksi Yehova, ‘gereja’ Mormon, dst. Dalam kasus seperti itu, adalah tugas kita untuk merebut kembali domba Tuhan! Ada juga gereja yang sungguh percaya kepada Allah Tritunggal, keselamatan dalam Kristus, dan semua pengakuan iman orthodoks, tapi dalam beberapa bagian salah mengerti Alkitab, malas belajar, menekankan hal-hal yang salah, bagi saya mereka tetaplah gereja Tuhan. Kesalahan mereka perlu dikoreksi tapi mereka tetaplah saudara kita, jangan perlakukan mereka seperti musuh!

Kembali ke topik curi domba, jangan cepat mengatakan gereja ini atau itu mencuri domba. Tapi coba lihat apakah gereja kita melayani dengan baik? Apakah gereja kita mengajarkan Firman Tuhan dengan baik? Apakah gereja kita menjadi tempat persekutuan yang baik? Apakah orang itu bertumbuh di gereja kita? Dan akhirnya, apakah orang itu lebih bertumbuh di gereja lain?

Tuhan mau tiap orang Kristen bertumbuh, makin mengenal Dia, mengasihi Dia, hidup bagi Dia. Fokuslah pada itu! Asalkan orang itu bisa bertumbuh, mengenal Tuhan, mengasihi Tuhan, hidup bagi Tuhan, kemanapun dia pergi, bersukacitalah! Ikut bersukacitalah dengan Tuhan karena domba itu milik Tuhan.

Sebaliknya, berdukalah kalau jemaat gereja kita pindah ke gereja lain karena gereja kita tidak baik! Berdukalah kalau jemaat kita pindah ke gereja yang akan makin membuat mereka tidak bertumbuh! Ikut berdukalah dengan Tuhan karena sekali lagi, domba itu milik Tuhan.