Showing posts with label f. Hamba Tuhan. Show all posts
Showing posts with label f. Hamba Tuhan. Show all posts

Monday, August 22, 2016

"Virus of the Mind" Mengenai Khotbah - 2

Menyambung tulisan sebelumnya di sini, ada meme atau virus of the mind lain mengenai khotbah yang juga populer sekaligus berbahaya. Meme itu berbunyi begini: “Apapun yang disampaikan pengkhotbah di mimbar dalam kebaktian, tentu ditambah dengan membacakan Alkitab, adalah ‘Firman Tuhan’.”

Beberapa waktu yang lalu saya sudah pernah menulis “What is a Sermon?” Apa yang saya tulis di sana tidak perlu saya ulangi lagi. Ada satu definisi yang saya pergunakan di sana yang saya yakin kebanyakan kita akan setuju: “Khotbah adalah penguraian Firman Tuhan (Alkitab).” 

Mari sekarang kita melihatnya dengan sedikit lebih luas.

Kebaktian itu selalu di dalam konteks penyembahan dialogis dan komunal. Komunal artinya umat Tuhan berkumpul bersama, menyembah Tuhan di dalam persekutuan – artinya bukan menyembah Tuhan sendiri-sendiri, tapi bersama-sama, sebagai kumpulan orang yang sudah ditebus Tuhan. Dialogis, artinya kebaktian bukanlah satu arah, seakan-akan di dalam kebaktian arahnya hanya dari kita ke Tuhan. Kebaktian itu dua arah karena Allah yang kita sembah adalah Allah yang hidup. Dia mendengar doa kita. Dia memberkati kita. Dan Dia berkata-kata kepada kita, khususnya dan terutama, melalui Firman yang tertulis. Maka kebaktian selalu dari kita (bukan saya) ke Tuhan dan dari Tuhan ke kita – komunal dan dialogis.

Kalau begitu, dimana posisi khotbah dalam skema dialogis ini? Tuhan ke kita! Lalu dimana posisi pengkhotbah? Di satu sisi dia adalah bagian dari jemaat yang menyembah Tuhan dan harus mendengar suara Tuhan. Di sisi yang lain dia dipakai Tuhan untuk menyampaikan suara Tuhan melalui penguraian Firman yang tertulis. 

Jikalau khotbah adalah menguraikan Firman Tuhan (Tuhan ke kita), maka khotbah harus betul-betul menjadi waktu dimana Firman Tuhan dibacakan dan dijelaskan, sedemikian rupa sehingga suara Tuhan itu diperdengarkan. Tugas pengkhotbah adalah memastikan bahwa itulah yang sedang dia lakukan. Lalu apa tugas jemaat? Mereka harus mendengar dengan aktif, berpikir dengan kritis, menguji kebenarannya, dan membuka hati untuk berubah.

Pengkhotbah tidak boleh berpikir bahwa khotbah adalah sekedar cari ayat Alkitab untuk dibacakan, lalu cari bahan pembicaraan yang isinya motivasi, nasihat kehidupan, konsep “menarik” yang dia baca di buku, dan diusahakan supaya lebih menarik dengan bumbu humor, klip video, atau cerita yang menyentuh. Pertanyaannya apakah dia menjelaskan bagian Alkitab yang dibacakan? Apakah dia memperdengarkan suara Tuhan sesuai dengan bagian Alkitab yang dibacakan?

Dan di dalam khotbah, jemaat seharusnya menuntut untuk mendengar, belajar, dan mengerti Firman Tuhan. Jangan sekedar mencari khotbah yang “kena” (walaupun itu penting), karena “kena” itu mungkin karena apa yang dibicarakan pas sesuai dengan pergumulan atau kelemahan kita, walaupun tidak menjelaskan bagian Alkitab yang dibacakan. Jangan sekedar mencari yang menarik dan tidak mengantuk (walaupun itu juga penting). Carilah, ini harus berulang kali diingatkan, yang setia menguraikan Firman Tuhan!

Virus of the mind yang satu ini merusak pertumbuhan gereja. Pengkhotbah berpikir, dengan berdiri di mimbar, bicara, mengkaitkannya dengan Firman Tuhan, apalagi kalau berhasil membuatnya menarik, pokoknya dia sudah menyampaikan “Firman Tuhan.” Jemaat berpikir, pokoknya yang disampaikan pengkhotbah adalah “Firman Tuhan”, maka mereka harus rendah hati dan menerima, apalagi kalau memang ada hal-hal yang “kena”.

Hasilnya? Pengkhotbah tidak merasa perlu berubah dan jemaat tidak bisa berubah. Virus pun mewabah.

Monday, July 25, 2016

"Virus of the Mind" Mengenai Khotbah - 1

Siapa yang tidak tahu meme? Foto/gambar yang dibubuhi kalimat random menjadi sangat populer beberapa tahun belakangan ini. Tetapi, awalnya meme bukanlah itu.

Istilah meme pertama kali saya dengar waktu membaca buku “Virus of the Mind” dari Richard Brodie lebih dari sepuluh tahun lalu (istilah meme sendiri dimunculkan oleh Richard Dawkins). Meme adalah ide atau pemikiran atau pola tingkah laku yang menyebar seperti virus dari orang yang satu ke orang yang lain. Lalu orang yang terjangkit virus of the mind itu, perlahan-lahan tidak lagi mempertanyakannya tetapi menerimanya sebagai kebenaran. Karena penyebarannya yang luar biasa, akhirnya seakan-akan dia adalah kebenaran umum yang semua-orang-juga-tahu.

Saya ingin bicara soal meme yang seperti itu mengenai khotbah. Meme ini populer sekali. Penyebarannya sangat luar biasa di antara orang Kristen di Indonesia. Kalau dia adalah virus, maka artinya sudah mewabah. Meme itu berbunyi: “Jemaat tidak suka khotbah yang dalam tetapi lebih suka yang ringan, praktis, dan lucu.

Mungkin ada yang protes, “Tapi itu betul kok... jemaat memang gitu… swear!” Bahkan banyak orang Kristen akan langsung berkata “Betul, saya nggak tahan dengar khotbah kayak gitu, bosen, nggak relevan.” Maka bukankah artinya confirmed!? Tunggu dulu. Jangan-jangan kita juga sudah terjangkiti virus of the mind yang sama :-)

Betulkah jemaat tidak suka khotbah yang dalam? Saya memang belum pernah melakukan survei formal. Tetapi dari percakapan dengan banyak jemaat dan dari apa yang saya amati sejauh ini, saya kira itu salah. Ada banyak, sangat banyak bahkan, orang Kristen yang suka belajar Firman Tuhan dengan mendalam. Mereka suka untuk mengerti apa yang mereka percayai. Mereka suka menemukan jawaban atas banyak pertanyaan iman mereka. Maka masalahnya bukan di jemaat, tetapi di pengkhotbah.

Sebagian pengkhotbah, yang dulu pernah sekolah teologi, tidak lagi belajar Alkitab dan teologi dengan baik (serius!). Maka ketika berkhotbah tematik atau doktrinal yang kesannya “dalam”, apa yang disampaikan? Sebagian akan mengutip buku sistematik teologi yang dulu pernah dipelajari waktu dia di sekolah teologi. Atau menggunakan kalimat-kalimat jargon yang semua-orang-sudah-sering-dengar. Atau menggunakan bahasa formal yang disisipi istilah-istilah teologis atau filsafat. Misalnya: “Manusia hari ini tidak percaya kepada Allah-yang-berada melalui argumen ontologis Kant, tetapi melalui pengalaman eksistensialis yang otentik.” Wuuuzzz… wajar kalau jemaat merasa kering ketika mendengar khotbah seperti itu.

Demikian pula waktu berkhotbah secara ekspositori. Sebagian pengkhotbah berkhotbah hanya seperti ekspositori, dengan menyebut kata-kata dalam bahasa Ibrani atau Yunani lengkap dengan artinya, seperti studi kata, yang dengan mudah bisa didapat dari berbagai buku atau secara online. Kalau khotbah diumpamakan seperti masakan jadi, maka yang disajikan bukanlah masakan tapi bahan mentah.

Ditambah lagi, khotbah yang kesannya “dalam” seringkali tidak relevan. Artinya pengkhotbah tidak memikirkan pertanyaan yang sangat penting di dalam khotbah: “What is the message?” Khotbah apapun, selalu harus berpikir, “what is the message” buat jemaat. Saya pernah mendengar khotbah, tentang natur kemanusiaan dan keilahian Yesus bahwa Yesus 100% manusia dan 100% Allah, yang sangat kering. Seorang teman bercerita di gerejanya diadakan seri khotbah doktrin Roh Kudus yang juga sangat kering. Dimana masalahnya? Bukan di topiknya. Kita boleh, bahkan kadang harus, berkhotbah doktrinal. Tetapi khotbah itu menjadi tidak relevan jika tidak memikirkan pertanyaan: “What is the message?” Apa berita dari kebenaran itu bagi pendengar hari ini?

Ada orang yang pernah berkata (saya tidak tahu siapa yang pertama kali): “Jesus is the answer! But what is the question?” Adalah tugas pengkhotbah, sebagai orang yang menguraikan Firman Tuhan, untuk memahami“what is the question” – apa yang ditanyakan jemaat, apa yang dihadapi jemaat, apa yang diperlukan jemaat. Karena hanya dengan demikian dia bisa menjawab dengan relevan (dan powerful): “Jesus is the answer!

Adalah tugas pengkhotbah untuk menguraikan Firman Tuhan yang kekal untuk memberi jawaban bagi pergumulan manusia yang terus berubah sepanjang zaman. Di dalam tulisan sebelumnya, saya meminjam format dari The NIV Application Commentary Series (NIVAC), untuk menjelaskan tugas pengkhotbah. Untuk setiap bagian Alkitab, NIVAC membagi menjadi tiga bagian: “Original Meaning” – arti bagian itu di dalam konteks aslinya; “Bridging Contexts” – menjembatani konteks asli dengan konteks zaman sekarang; dan terakhir “Contemporary Significance” – memberikan contoh bagaimana bagian itu berbicara dan diterapkan di zaman ini. Sederhananya: “Original Meaning” tidak berubah tetapi “Bridging Contexts” dan “Contemporary Significance” akan selalu berganti.

Maka, saya ringkaskan, ada tiga masalah disini:

1. Isi khotbah
Masalahnya bukanlah khotbah yang terlalu dalam. Tetapi, justru, seringkali terlalu dangkal. Khotbah seperti itu tidak berasal dari pemikiran dan pergumulan yang mendalam tetapi kutip sana sini dan dibumbui dengan kallimat-kalimat yang terkesan wah.

2. Relevansi khotbah
Banyak jemaat berkata: “Saya nggak perlu khotbah doktrinal, saya nggak suka khotbah yang susah. Itu pergumulan teolog tapi bukan pergumulan saya.” Masalahnya, lagi-lagi, bukanlah khotbahnya terlalu dalam tetapi tidak jelas “what is the message”. Kita percaya bahwa Alkitab selalu relevan. Kebenaran-kebenarannya selalu menghidupkan. Maka khotbah dari bagian Alkitab manapun, topik apapun, harusnya relevan dan menghidupkan. Tetapi pengkhotbah yang kadang membuatnya tidak relevan dan mati. (Mungkin kadang saya juga bersalah dalam hal ini. May the Lord have mercy!)

3. Cara penyampaian khotbah
Penyampaian itu mencakup cara menyusun khotbah, pemilihan kata, intonasi, emosi, dan lain-lain. Kadangkala isi khotbahnya baik dan relevan, tetapi susunan khotbahnya tidak menarik, intonasinya monoton dan penguraiannya membosankan. Seorang pengkhotbah haruslah juga seorang “master of words” (kalau saya tidak salah istilah ini dari Eugene Peterson). Dia harus tahu bagaimana memilih kata-kata dan menggunakannya dengan tepat. Hal yang sama jika diucapkan dengan kalimat yang berbeda akan menimbulkan reaksi yang berbeda.

Kalau khotbah yang mendalam itu hanya kesannya saja mendalam, atau tidak relevan, atau membosankan penyampaiannya, tidak heran jemaat lebih suka yang ringan, praktis, dan lucu. Karena paling tidak dia masih mengerti apa yang dibicarakan. Paling tidak masih ada aplikasi praktis yang dia langsung bisa tangkap. Atau paling tidak dia bisa tertawa dan tidak mengantuk.

Maka menyebarlah meme itu... dan wabah pun berlanjut.

(Tulisan ini pun akan berlanjut)

Thursday, May 12, 2016

Hamba Tuhan: Role Model Dalam Ibadah

Ada satu peran hamba Tuhan di dalam ibadah yang jarang disadari: Menjadi role model.

Di banyak gereja, pada waktu ibadah, gembala dan juga hamba Tuhan lainnya biasanya akan duduk di barisan paling depan (di beberapa gereja, mereka bahkan duduk di mimbar menghadap jemaat). Satu hal yang sering tidak disadari, baik oleh hamba Tuhan maupun jemaat sendiri, selama ibadah berlangsung ada banyak mata yang akan berulang kali memperhatikan hamba Tuhan di depan itu. Bukan hanya pada waktu dia berdiri di mimbar memimpin pujian atau doa, bukan hanya ketika dia duduk menghadap jemaat, tetapi bahkan juga pada waktu dia duduk membelakangi jemaat.

Jemaat sendiri mungkin tidak terlalu sadar. Tetapi kalau saja dilakukan survei berapa banyak dan berapa sering jemaat "melirik" hamba Tuhan yang ada di depan membelakangi mereka, hasilnya bisa mengejutkan. 

Maka apa yang dilakukan hamba Tuhan di dalam ibadah akan mempengaruhi jemaat. Tentu pengaruhnya tidak akan langsung terasa, tetapi bertahap dan menyebar. Setelah berbulan-bulan atau mungkin beberapa tahun, pengaruhnya akan terlihat. 

Kalau hamba Tuhan tidak serius beribadah, sering keluar di tengah ibadah, menerima telpon, main handphone, ngobrol, maka jemaat sangat mungkin juga akan tidak serius beribadah. Mungkin banyak yang akan bolak-balik keluar, bercanda, bisik-bisik di tengah ibadah, dst. Kalau hamba Tuhan sikapnya dari belakang terlihat tidak serius menyanyi, misalnya tengok kiri kanan, melipat tangan, menengok ke belakang, atau apa lah yang ketahuan sama jemaat, maka jemaat sangat mungkin juga tidak akan serius menyanyi. 

Tentu sikap hamba Tuhan bukan satu-satunya faktor yang menentukan keseriusan jemaat dalam beribadah. Tetapi, sulit dipungkiri, itu faktor yang ikut menentukan.

Saya pernah beberapa kali melayani di gereja yang sangat jelas hamba Tuhan nya tidak serius beribadah. Suasana ibadah di situ sangat terasa berantakan. Ketika gereja itu kemudian berganti gembala, dan beberapa waktu kemudian saya kembali melayani di sana, saya terkejut melihat perubahannya. Jemaat menyanyi dengan sungguh dan mendengar khotbah dengan serius. Dari sekian banyak penyebab yang mungkin, tidak bisa dipungkiri salah satunya adalah faktor teladan hamba Tuhan nya. Sepanjang ibadah, dia duduk di depan, menyanyi dengan sungguh, dan serius mendengarkan khotbah.

Saya ingat Prof. Bruce Leafblad pernah berkata, "Jangan tanya apakah hamba Tuhan menjadi role model atau tidak di dalam ibadah. Jawabannya: Pasti!" Pertanyaannya apakah dia role model yang baik atau buruk.

Maka caveat pastor!

Monday, May 25, 2015

Here I Am, Lord; Is it I, Lord? - Sebuah Refleksi

Sudah lebih dari 20 tahun berlalu sejak pertama kali saya mendengar Tuhan memanggil untuk
menjadi hamba Tuhan penuh waktu. Setelah sekitar 2 tahun bergumul, akhirnya saya mengatakan “ya” kepada panggilan itu. Saya ingat ada 2 gambaran sangat kuat yang dipakai Tuhan untuk memanggil saya:

Pertama, gambaran “lilin yang terbakar”. Saya membayangkan hidup saya seperti lilin yang terbakar untuk Tuhan. Seperti lilin yang dibakar, cair, habis, memberikan dirinya untuk menerangi sekitarnya. Maka selama masih ada umur, masih ada waktu, masih ada tenaga, saya ingin hidup dipakai sepenuhnya bagi Tuhan. Saya berjanji waktu itu untuk memberikan hidup saya dibakar seperti lilin itu bagi pekerjaan Tuhan, bagi jemaat Tuhan, bagi kemuliaan Tuhan.

Kedua, gambaran “jemaat yang ditaruh di dalam hati saya”. Sekian lama lagu “Here I Am” menjadi favorit saya. Syairnya sangat menyentuh hati saya:

I, the Lord of sea and sky. 
I have heard my people cry. All who dwell in dark and sin, My hand will save. 

I who made the stars of night, 
I will make their darkness bright. Who will bear my light to them? Whom shall I send?

Here I am Lord, Is it I, Lord?
I have heard You calling in the night.
I will go Lord, if You lead me.
I will hold Your people in my heart.


Berulang-ulang saya nyanyikan lagu itu, tidak jarang sambil menangis. Berulang-ulang lagu itu menguatkan dan meyakinkan saya untuk melangkah menjadi hamba Tuhan penuh waktu. Janji di dalam syair lagu itu “I will hold Your people in my heart” menjadi janji saya. And so the journey began.

Ketika ditahbis menjadi pendeta lebih dari 3 tahun lalu, saya mengingat lagi janji itu. Maka sekali lagi janji itu saya ulangi di depan umum di dalam khotbah sulung sebagai pendeta. Mewakili para pendeta yang ditahbis waktu itu, saya berkata: “kami berjanji untuk menaruh jemaat Tuhan di dalam hati kami”.

Dua gambaran ini dipakai Tuhan untuk memanggil saya. Dua gambaran ini menjadi janji saya kepada Tuhan. Maka, walaupun saya juga sering lupa akan apa yang saya janjikan, tetapi saya merasa tahu dan mengerti apa artinya menjadi “lilin yang dibakar” dan “menaruh jemaat Tuhan di dalam hati”. Sampai beberapa waktu yang lalu, tiba-tiba saya tertegun.

Saya tertegun ketika menyadari: Mungkinkah sebetulnya selama ini saya tidak terlalu sadar apa yang saya janjikan? Mungkinkah sebetulnya saya tidak terlalu mengerti apa yang saya janjikan? Saya tidak berbohong kepada Tuhan, tetapi naif.

Beberapa waktu ini saya mengalami kelelahan luar biasa, secara fisik maupun emosi. Saya memeras otak, saya kurang tidur, saya tertekan dengan begitu banyak hal, lebih dari yang pernah saya alami selama ini. Saya melihat bagaimana dosa mencengkeram kehidupan manusia. Saya juga terluka melihat jemaat yang terluka. Selama beberapa tahun ini, Tuhan seperti membuka mata saya sedikit demi sedikit tentang dukacita-Nya, dan sampai di titik ini saya sudah hampir tidak tahan. Saya terlalu berduka. Saya mempertanyakan ulang seluruh pelayanan yang dilakukan saya dan gereja. Saya menangis, berteriak, kadang sambil putus asa tangan saya menggapai-gapai ke atas memohon pertolongan Tuhan (Mazmur 77:3).

Saya tidak mengalami seperti Paulus. Saya tidak mengalami apa yang dialami para misionaris di zaman dulu. Masih terlalu jauh. Saya juga tidak sampai seperti Yeremia yang mempertanyakan panggilannya: “Engkau telah membujuk aku, ya Tuhan, dan aku telah membiarkan diriku dibujuk”. Tetapi saya teringat lagi akan dua gambaran yang dipakai Tuhan memanggil saya dan menjadi janji saya. “Tuhan, inikah artinya menjadi lilin yang terbakar? Tuhan, inikah artinya menaruh jemaat Tuhan di dalam hati saya?”

Saya tidak menyangka akan seberat ini. Saya baru sadar bahwa “lilin yang terbakar” dan “menaruh jemaat Tuhan di dalam hati” ternyata terlalu berat untuk ditanggung oleh siapapun. Padahal semua yang sudah saya alami barulah sepersekian! Maka saya bertanya lagi, “Tuhan, inikah yang dulu Engkau maksudkan ketika memanggil saya? Inikah yang dulu saya janjikan dengan naif di hadapan-Mu?”

Saya makin mengerti bahwa menjadi hamba Tuhan adalah mengalami dukacita-Nya Tuhan dan sukacita-Nya Tuhan - di dalam batas tertentu. Lihat saja kehidupan Hosea yang menikah dengan seorang perempuan sundal dan mengalami dukacita Tuhan karena umat yang dikasihi-Nya bersundal. Atau lihat Yehezkiel yang menyampaikan pesan Tuhan bukan hanya dengan perkataan tapi juga tubuhnya, ia mengerang, ia makan dengan menggigil dan cemas, ia membakar rotinya di atas kotoran manusia, ia tidak boleh menangis ketika istrinya meninggal – karena Tuhan berbagi kemarahan dan dukacita-Nya kepada dia. Sebagai manusia saya memang tidak akan sanggup sepenuhnya mengalami apa yang Tuhan “rasakan”, tetapi Tuhan membagikan sukacita dan dukacita-Nya kepada saya sampai batas tertentu. Saya jadi bertanya sampai berapa jauh Tuhan akan berbagi ini dengan saya? Saya jadi ngeri. Maka saya juga berpikir kalau dulu saya mengerti ini, masih beranikah saya berkata “ya” kepada panggilan Tuhan?

Sejujurnya, saya tidak berani. Tetapi saya mau. Here I am, Lord. Walaupun keraguan dan ketakutan tetap menghantui saya. Is it I, Lord? Saya makin sadar this is not a game.

Maka saya akan tetap berkata “ya” kepada panggilan Tuhan untuk menjadi “lilin yang terbakar” dan “menaruh jemaat Tuhan di dalam hati” – dengan amat sangat gentar. Saya akan berkata “ya” dengan lebih sungguh, lebih mengerti, dan lebih beriman.

Sekarang saya tidak tahu apa lagi yang Tuhan sediakan di depan, yang harus saya jalani, tapi dua hal saya mohon kepada Tuhan: pakai saya dan jangan tinggalkan saya.

Monday, June 09, 2014

Pengkhotbah Keliling dan Gembala

 Salah satu “gambar” yang saya tangkap dengan kuat waktu sekolah teologi dulu adalah gambaran

pengkhotbah keliling. Menjadi hamba Tuhan yang berkhotbah kemana-mana, diundang kemana-mana, mengadakan KKR, seminar, dan berkhotbah dalam kebaktian di banyak gereja, kota dan negara. "Gambar" itu, jujur, membentuk saya.

Saya menikmati ketika diundang berkhotbah ke berbagai gereja, persekutuan, pergi ke berbagai kota di Indonesia dan luar negeri. Saya menikmati melihat berbagai hal yang berbeda di banyak gereja dan kota itu dan belajar banyak hal melaluinya. Saya menikmati berkenalan dengan banyak orang, pemuda, majelis, hamba Tuhan di berbagai tempat itu. Saya menikmati “the feeling”.

Terlepas dari dosa yang mungkin masuk (senang dengan popularitas, “celebrity-like” feeling, dan berbagai kenyamanan lainnya), tapi menjadi pengkhotbah keliling memang banyak nilai positif nya. Saya ingat seorang dosen saya berkata bahwa jika ingin memberikan pengaruh yang besar pada kekristenan di Indonesia, saya harus menjadi pengkhotbah keliling. Makin sering saya berkhotbah, makin banyak tempat yang saya kunjungi, maka saya akan makin terkenal (tentu dengan catatan kalau khotbahnya bagus). Dan keterkenalan itu bukan untuk diri saya sendiri tetapi supaya saya makin bisa memberikan pengaruh positif kepada kekristenan di Indonesia (tentu dengan catatan kalau memang pengaruh yang saya berikan positif). Kalau orang tidak mengenal saya, bagaimana orang akan mendengar ketika saya menyampaikan sesuatu? Kalau dipikir, benar juga!

Maka saya dibesarkan sebagai seorang hamba Tuhan dengan “gambar” seperti itu. Saya tidak pernah dibentuk dengan “gambar” seorang gembala. Seorang hamba Tuhan yang mengajar jemaatnya dengan Firman Tuhan, bukan hanya melalui khotbah tetapi juga melalui percakapan sehari-hari. Seorang hamba Tuhan yang seperti seorang tukang bangunan meletakkan fondasi dan membangun jemaatnya, seperti seorang tukang kebun yang menabur dan menyirami kebun hati jemaatnya. “Gambar” itu tidak pernah diajarkan dan dibicarakan kepada saya. Tapi entah darimana, perlahan-lahan, “gambar” gembala itu yang menjadi lebih kuat bagi saya daripada “gambar” pengkhotbah keliling. Itu berarti, ada yang harus saya tinggalkan.

Maka saya ingat waktu itu, setelah beberapa tahun saya berkhotbah keliling ke berbagai tempat, perlahan-lahan saya mulai menguranginya. Bukan hanya saya lelah, tapi saya merasa mengabaikan jemaat yang Tuhan percayakan kepada saya. Ada banyak hal, terlalu banyak hal, yang harus saya lakukan kepada dan bersama dengan mereka. Hati saya jauh lebih rindu melayani sekelompok jemaat dengan Firman Tuhan, dan itu artinya berkhotbah berulang-ulang kepada mereka (membawakan 1 khotbah di banyak tempat, sangat berbeda dengan membawakan khotbah yang terus berbeda di 1 tempat), memberi waktu lebih banyak untuk mereka, mendengar keluhan mereka, mempersiapkan hati mereka supaya Firman Tuhan bisa bertumbuh di dalamnya – daripada menabur terus menerus benih Firman Tuhan di banyak tempat.

Ketika bicara soal pelayanan “penggembalaan” banyak orang hanya berpikir tentang pergi membesuk dan mendoakan. Atau memberikan konseling, menghibur dan menguatkan. Tapi saya kira penggembalaan jauh lebih besar dari itu. Setiap manusia, dengan pengalaman yang berbeda, bentukan keluarga yang berbeda, karakter yang berbeda, punya benteng yang berbeda menghalangi pengenalan akan Tuhan. Penggembalaan adalah usaha mendobrak benteng itu supaya Firman Tuhan bisa menerobos masuk. Penggembalaan adalah menggemburkan tanah yang berbatu dan kering supaya Firman Tuhan bisa bertumbuh di situ. Itu artinya bukan hanya menghibur dan menguatkan, tapi menegur, menasihati, mengarahkan, menunjukkan kesalahan, memberikan pujian, mendoakan, melatih, bercerita tentang pekerjaan Tuhan, memberikan teladan, menyatakan kasih sayang, dst..dst.. Berapa banyaknya waktu, tenaga, usaha, harus dicurahkan untuk itu? Kadang semua dilakukan seperti tanpa hasil, tapi perlahan-lahan, tanah itu mulai gembur dan tanpa kita tahu benih Firman Tuhan itu sudah bertumbuh. Hati saya ada di situ.

Ada orang yang bingung kenapa saya sering menolak undangan khotbah, kenapa saya nggak mau diundang ke negara itu, kenapa saya kurang “terkenal” (padahal ya iya lah... hehehe…). Ada yang menasihati saya supaya berani bermimpi lebih besar dan bukan hanya jadi "jago kandang" - maksudnya hanya dikenal di kalangan terbatas. Saya melatih diri untuk terus bermimpi, and believe it or not, mimpi saya lumayan besar. Hanya saja caranya yang mungkin berbeda dari yang biasa dilakukan orang.

Tetapi saya rindu bisa berkata seperti Paulus, “bahwa aku,…siang malam, dengan tiada berhenti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata” (Kis 20:31). Siang malam, tiada hentinya, menjadikan diri sebagai lilin yang terus terbakar. Siang malam, tiada hentinya, menggembalakan domba Tuhan. Saya masih jauuuuhhhh…. dari Paulus, jauh dari apa yang dia lakukan itu, apalagi dari sempurna… Tapi saya rindu melalui pekerjaan kecil yang saya lakukan ada hal besar yang terjadi. Pernah dengar "Think globally, act locally"? :-)

Sekarang ini saya sedang dalam masa studi, jelas saya berhenti khotbah keliling karena panggilan utama saat ini adalah studi. Tapi saya tidak berhenti berusaha menggembalakan orang-orang di sekitar saya di GKY Singapore dan GKY Green Ville, walaupun pasti dengan sangat terbatas dan penuh kekurangan.

Disclaimer:
(1) Tidak ada yang salah dengan pelayanan pengkhotbah keliling - tiap minggu ke tempat yang berbeda. Betapa banyaknya berkat yang diterima oleh orang Kristen, khususnya di daerah-daerah tertentu, melalui pelayanan pengkhotbah keliling. Diberkatilah mereka yang melakukannya! Saya hanya merasa bukan itu panggilan saya untuk sementara ini. Entah nanti.
(2) Saya yakin saya masih harus terus berkhotbah keliling. Berkhotbah keliling, bukan saja menjadi berkat bagi kelompok orang-orang Kristen lain, tetapi juga akan terus membuka pikiran saya dalam belajar banyak hal. Maka ya, ini tetap pelayanan yang akan saya kerjakan, walaupun dengan frekuensi yang terbatas.

Satu hal yang ingin saya tekankan adalah: Panggilan Tuhan bagi kita sering menjadi tidak jelas karena berbagai tawaran menarik dan juga karena keinginan kita –yang disusupi dosa- untuk hidup semau kita. Kita tidak lagi bertanya apa panggilan Tuhan bagi saya saat ini. Sebaliknya, kita mendengar berbagai tawaran yang menarik, mungkin popularitas, uang, kenyamanan, gengsi, dan kita membiarkan hidup kita disetir dengan itu semua. Pernahkah kita bertanya mengapa saya ingin menjadi ini atau itu? Mengapa saya ingin mengerjakan ini atau itu? Betulkah karena panggilan Tuhan?

Mari gumulkan baik-baik panggilan Tuhan bagi kita masing-masing. Bagian setiap kita adalah mengerjakan panggilan Tuhan yang saat ini. Nanti mungkin lain, tapi saat ini apa panggilan Tuhan? Gumulkan, doakan, kerjakan dengan sungguh-sungguh. Kalau gagal, tidak apa.. siapa sih yang nggak pernah gagal… tapi kembali lagi, coba lagi, sungguh-sungguh lagi. Jangan biarkan hidup kita hanya diatur oleh apa yang “menarik” bagi kita.

NB: Saya juga pernah menulis mengenai pelayanan penggembalaan di sini dengan judul "Pastoring is Not for the Faint-Hearted."

Thursday, March 27, 2014

Pastoring is not for the Faint-hearted

Saya tidak tahu siapa yang pertama kali menuliskan kalimat ini: Parenting is not for the Faint-Hearted (Menjadi orang tua bukanlah untuk orang yang pengecut/lemah). Kalimat itu menggelitik. Semua tahu tugas orang tua itu sangat amat banyak sekali! Dari A sampai Z. Dari atas sampai bawah. Dari berdiri sampai tiarap. Tetapi yang lebih berat, menjadi orang tua juga berarti melibatkan diri secara emosi dalam hidup anaknya.

Menjadi orang tua berarti khawatir – khawatir anak sakit, khawatir kebutuhan anak baik materi maupun kasih sayang, khawatir akan pergaulannya dan masa depannya. Banyak hal di luar kekuasaannya dan banyak hal bisa terjadi kepada anaknya. Maka kadang pikirannya dipenuhi oleh anaknya, “jadi apa anak ini nanti?” Menjadi orang tua juga berarti siap untuk marah - ketika anaknya tidak bisa dibilangin, sengaja melakukan yang dia tidak suka, terus berusaha mendobrak segala batasan yang diberikan. Tapi di saat yang sama dia tidak boleh marah tanpa kendali – dia harus marah dengan kasih sayang, dia harus marah dengan cara supaya anaknya mau mengerti karena itulah tujuannya. Berapa sulitnya itu? Dan terakhir, menjadi orang tua juga berarti siap untuk sakit hati. Ketika anaknya disakiti orang, dia ikut tersakiti. Lebih sakit lagi ketika anaknya menyakitinya. Maka kadang dia harus mengurut dada, menggigit bibir, berdoa dan menangis sendiri karena tidak tahu harus bagaimana lagi. Berapa sakitnya itu? Parenting really is not for the faint-hearted!

Setelah sekian lama menjadi hamba Tuhan, saya makin sadar bahwa menggembalakan itu sedikit banyak mirip dengan menjadi orang tua. “Pastoring is not for the faint-hearted”. Menggembalakan (yang saya maksud bukan jabatan “gembala” tapi fungsi menggembalakan) berarti sibuk dengan segala tugas dan tuntutan yang kadang tidak masuk akal. Menggembalakan sering berarti ditarik kesana kemari, didorong ke kiri kanan, sampai akhirnya kita lupa mau berjalan kemana.
Tetapi lebih dari itu, mirip seperti orang tua, menggembalakan berarti melibatkan diri secara emosi dalam hidup jemaatnya.

Berkali-kali dalam pelayanan saya mengalami arti bersukacita bersama dengan orang yang bersukacita dan menangis bersama dengan orang yang menangis. Saya ingat suatu kali seorang remaja cerita bahwa satu-satunya kemungkinan dia bisa meneruskan kuliah adalah jika diterima di Universitas negeri yang biayanya murah. Saya melihat dia menangis, khawatir, saya ikut berduka, khawatir, dan berdoa untuk dia. Waktu dia memberitahu bahwa dia diterima di Universitas negeri, saya ikut terharu karena senangnya bukan main dan mata saya berkaca-kaca di depan dia! Saya juga ingat ketika suatu kali melayani seorang yang sakit kanker. Ketika saya membaptis dia, saya minta dia duduk saja. Tapi dalam keadaan lemah dia memaksa diri mau berlutut sambil matanya berkaca-kaca. Hati saya sangat terharu. Setelah itu berkali-kali saya membesuk dan berdoa untuk dia. Berkali-kali melihat dia sangat kesakitan dan saya berdoa dengan hati yang ikut sakit. Sampai akhirnya dia meninggal. Saya ingat melihat tubuhnya di dalam peti dan perasaan saya campur aduk.

Berkali-kali dalam pelayanan saya juga khawatir. Saya bukan hanya khawatir dengan masa depan gereja. Tapi saya seringkali khawatir akan kehidupan dan kerohanian remaja, pemuda, jemaat umumnya. Khawatir mereka jauh dari Tuhan. Khawatir mereka mengalami yang jahat. Khawatir jadi apa mereka nantinya? Saya tahu tidak boleh khawatir dan saya mengalami Tuhan memberikan ketenangan.

Berkali-kali dalam pelayanan saya juga sakit di hati. Ketika dianggap sepi dan merasa ditolak. Ketika melihat anak remaja yang dulu pernah saya layani sekarang meninggalkan Tuhan. Ketika tahu anak rohani saya pernikahannya bermasalah. Ketika mengalami susahnya memberikan nasihat – harus tapi susah, harus tapi tidak didengar. Ketika mendengar segudang masalah mengerikan yang dialami oleh jemaat – seperti menjadi tempat penampungan sampah emosi, dan deg-degan setiap kali mendengar perkembangannya. Ketika tahu bahwa “kalau-dia-tetap-begini-pasti-nanti-berantakan” tapi dia tidak mau dengar. Ketika tidak berdaya untuk berbuat apa-apa untuk menolong – sangat mau menolong tapi tidak mampu. Ketika merasa kesepian sekali karena tidak dimengerti. Tapi di sisi yang lain, saya tidak boleh kehilangan pengharapan, tidak boleh marah-marah, dan harus tetap bijak berkata-kata dan bersikap. Siapa yang sanggup?

Dengan segala beban – tugas dan emosi, tidak heran banyak yang mengatakan menggembalakan adalah salah satu pekerjaan terberat di dunia.

Pastoring is not for the faint-hearted. That’s true!
 
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa saya not faint-hearted! Justru sebaliknya! Saya sama sekali tidak sempurna. And don't worry, saya menulis ini bukan dalam keadaan putus harapan dan depresi :-) Just saying to myself. Just reminding myself.

Sunday, September 01, 2013

Shepherding vs Ranching

Beberapa tahun lalu ketika mendengar khotbah dari Dr. Simon Chan, ada satu gambaran yang sangat menarik dan saya ingat terus sampai sekarang. Dia mengatakan banyak hamba Tuhan yang salah mengerti tugasnya, “INSTEAD OF SHEPHERDING, THEY ARE RANCHING!”

Alkitab banyak memberi gambaran tentang SHEPHERDING. Seringkali Allah disebut sebagai SHEPHERD bagi kita, “Like a SHEPHERD Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati (Yes 40:11). Ketika umat Allah kacau, dikatakan penyebabnya adalah “they had no SHEPHERD” (Yeh 34:5). Ketika Yesus sudah bangkit, Dia minta kepada Petrus: “SHEPHERD my sheep” (Yoh 21:16). Terlalu banyak kalimat seperti ini muncul di dalam Alkitab. Gambarannya adalah sebuah hubungan yang sangat dekat: Gembala dan domba. Ada relasi, perawatan, pelatihan, dan semua serba personal.

Kalau SHEPHERDING seperti peternakan kecil dimana semua dikenal dengan nama, sifat, dan keadaannya, maka RANCHING seperti peternakan besar! Semua ada sistemnya, ada hitungannya, semua dikenal bukan dengan nama tapi dengan kategori, grafik, jumlah. Segala sesuatu diatur serba praktis dan efisien. Maka yang terjadi bukan lagi SHEPHERDING yang personal, tetapi RANCHING yang impersonal. 

Saya merenungi gambaran ini. Bagaimana setiap kita kembali menjalankan panggilan dan tugas kita: SHEPHERDING!?

Thursday, May 30, 2013

Mengulang Khotbah

Beberapa jemaat memperhatikan ketika pengkhotbah menyampaikan khotbah yang pernah mereka dengar sebelumnya. Dan berbagai komentar pun bermunculan:
 “Perasaan udah pernah dengar khotbah yang ini!”
“Lho, kok khotbahnya sama seperti yang dulu di gereja itu?”
“Diulang ya khotbahnya?”

Beberapa jemaat berpendapat bahwa pengkhotbah seharusnya tidak mengulang khotbahnya. Seakan-akan itu haram. Kurang persiapan. Tidak orisinil. Hanya comot naskah khotbah. Kesannya gampang. Beberapa pengkhotbah juga merasa gengsi mengulang khotbahnya. Sangat bangga rasanya bisa berkata “saya tidak pernah mengulang khotbah saya!” (*dengan muka bangga*). Rasanya pandai.

Saya tidak setuju! Saya tidak melihat alasan mengapa mengulang khotbah itu tidak baik.

Pertama, sebuah khotbah adalah usaha menjelaskan sebagian Firman Tuhan. Pikiran kita sebagai manusia sangat terbatas. Kretifitas kita terbatas, apalagi ketika usia semakin tua. Menggali Firman Tuhan, merenungkannya, dan kemudian menyusunnya menjadi suatu khotbah adalah sebuah seni. Sangat sulit menuntut si pengkhotbah untuk mengkhotbahkan bagian Alkitab yang sama dengan cara yang terus berbeda-beda. Maka alternatif lainnya adalah bagian Alkitab yang pernah dikhotbahkan tidak boleh dikhotbahkan lagi oleh dia. Tapi mengapa si pengkhotbah tidak boleh menjelaskan bagian Firman Tuhan itu dengan cara yang sama kepada pendengar lain? Mengapa khotbah itu hanya boleh eksklusif didengar oleh jemaat di gereja itu tanggal itu?

Kedua, sebuah khotbah yang baik memerlukan waktu persiapan yang panjang. Perlu usaha yang sangat besar untuk membaca, menggali, dan merenungkan bagian Firman Tuhan yang akan dikhotbahkan. Setelah si pengkhotbah melakukannya, mengapa dia tidak boleh mengkhotbahkannya lebih dari 1X?

Ketiga, berita yang baik yang pernah didengar oleh jemaat di gereja A, sayang sekali jika tidak boleh didengar di gereja B hanya karena “tidak mau mengulang khotbah”.

Saya sendiri sering mengulang khotbah. Tapi saya tidak pernah mengulangnya sama persis. Sederhananya, persiapan khotbah itu ada bagian penggaliannya, ada bagian merenungkan signifikansinya bagi jemaat, dan ada bagian menyusunnya menjadi presentasi khotbah. Saya mungkin tidak mengulang mempersiapkan bagian penggaliannya, tapi saya selalu memikirkan lagi apakah signifikansi/berita yang dulu pernah saya pikir untuk gereja A juga cocok dengan gereja B ini. Dan kadang saya mengubah susunannya atau pengkalimatannya. Maka walaupun diulang, khotbah itu selalu fresh. Karena khotbah bukan mengajar – menyampaikan materi, tapi khotbah itu memberitakan – dengan hati dan kesungguhan. Dan itu tidak mungkin dilakukan dengan hanya mencomot naskah khotbah lama. Khotbah lama itu perlu “dipanaskan” lagi sebelum disajikan.

Menghibur bagi saya ketika menemukan bahkan Jonathan Edwards, pengkhotbah dan teolog besar abad ke-18 itu, juga sering mengulang khotbahnya. Kadang dia mengulang persis. Kadang dia menggabungkan beberapa naskah khotbah menjadi naskah khotbah yang baru.

Sebetulnya masalahnya adalah banyak jemaat yang pindah-pindah gereja atau “mengejar” pengkhotbah. Kadang mungkin ada pengkhotbah yang lupa bahwa dia pernah mengkhotbahkan naskah itu di gereja yang sama. Untuk menghindari hal itu, saya sendiri punya catatan lengkap tentang kapan, dimana, dan naskah khotbah mana yang saya khotbahkan. Tapi bagi jemaat yang pindah-pindah gereja, tidak terhindari dia mungkin akan mendengar khotbah yang sama.

Tetapi kalaupun itu terjadi, kita perlu ingat bahwa mendengar khotbah bukanlah mendengar seminar atau bahan kuliah. Mendengar khotbah adalah momen dimana kita berhadapan dengan kebenaran. Pada waktu mendengar khotbah, kita bukan sekedar berhadapan dengan naskah khotbah dan si pengkhotbah, tetapi dengan Tuhan yang Firman-Nya sedang diuraikan dan diberitakan. Maka khotbah yang sama persis pun bisa dipakai Tuhan bicara lagi kepada kita. Apalagi kita itu pelupa. Ketika mendengar khotbah yang sama dengan yang pernah kita dengar lima tahun lalu, mungkin sedikit pun kita tidak ingat. Lalu mengapa kita tidak boleh diingatkan lagi akan berita itu?

Wednesday, April 24, 2013

Pelayanan Bukan Karir

Tulisan ini terutama adalah untuk rekan-rekan hamba Tuhan.

Marva Dawn mengutip surat dari Friedrich von Bodelschwingh untuk seorang anaknya yang baru mulai melayani di gereja (Dortmund) - gereja yang pertama untuknya (John W. Doberstein, ed., Minister’s Prayer Book: An Order of Prayers and Readings (Philadelphia: Fortress, n.d.), 210, dikutip oleh Marva Dawn dalam The Sense of the Call):

Aku meminta kepadamu, jangan melihat Dortmund sebagai batu loncatan, tetapi sebaliknya berkatalah: Di sini aku akan tinggal selama yang Tuhan mau; jika itu kehendak-Nya, sampai aku mati. Lihatlah pada setiap anak, setiap orang yang di sidi, setiap anggota jemaat seperti engkau harus memberi pertanggung jawaban untuk setiap jiwa pada hari Tuhan Yesus. Setiap hari serahkanlah semua jiwa manusia-manusia ini dari tangan terburuk dan terlemah, yaitu tanganmu, kepada tangan terbaik dan terkuat. Maka engkau akan mampu menjalankan pelayananmu bukan hanya dengan hati-hati tapi juga dengan sukacita yang melimpah dan pengharapan penuh sukacita.

Dawn kemudian berkomentar bahwa, instruksi seperti ini (dari akhir abad ke-19) sangat diperlukan hari ini di tengah pendapat bahwa pemimpin gereja harus pindah ke gereja yang lebih besar (dan seringkali dianggap lebih baik). Pemimpin gereja dianggap harus “naik” karirnya. Bisakah kita belajar betapa bernilainya concentrated commitment pada orang-orang yang sekarang ini sedang kita layani?

Saya sangat tertarik dengan tulisan Bodelschwingh di atas. Tidak berarti seorang hamba Tuhan tidak boleh pindah tempat pelayanan. Saya percaya boleh dan kadang harus! Tidak berarti juga seorang hamba Tuhan tidak boleh pindah ke tempat yang lebih besar atau mengambil tanggung jawab yang lebih besar. Tapi masalahnya adalah ketika kita memandang pelayanan sebagai jenjang karir. Mengapa tidak bertanya kemana yang Tuhan mau, yang sesuai dengan karunia yang Tuhan berikan, dan setia melayani di situ – selama yang Tuhan mau?

Saya tersentuh dengan kalimat dari John Watson (1850-1907) ketika dia menceritakan tentang seorang pendeta dari masa kecilnya. Dia menggambarkan pendeta itu sebagai seorang yang selalu memikirkan jemaatnya, menjaga mereka, mengunjungi mereka, sampai figurnya di jalan seperti menghubungkan masa lalu dan masa kini, sorga dan bumi, dan membuka harta memori yang suci. Pendeta itu adalah orang yang kepadanya secara instink orang datang dalam sukacita maupun kesedihan, dalam krisis kehidupan. Mereka menyerahkan anggota keluarga yang sekarat kepadanya. Dia menjadi keluarga bagi mereka yang tidak memiliki keluarga dan menjadi sahabat bagi semua jiwa yang lemah. Sepuluh mil dari tempatnya melayani, orang tidak mengenal namanya, tapi bagi jemaatnya tidak ada yang lebih dihormati daripada dia, dan Tuhan sangat tahu itu.

Saya tahu itu konteksnya adalah 150 tahun lalu. Sekali lagi, tidak berarti seorang hamba Tuhan tidak boleh terkenal atau tidak boleh melayani lebih luas, tetapi masalahnya adalah ketika kita mengejar itu.

Kita bisa pindah kemana saja, kapan saja, ke tempat seperti apa saja. Tapi ketika berada di sebuah tempat, kita perlu belajar fully present (kontras dengan “orangnya di situ tapi hatinya dimana”) dan memusatkan komitmen kita untuk jemaat di situ.

Merenungkan kisah di atas menolong kita melawan kecenderungan kita untuk suka pada popularitas, karir, dan “kesuksesan”.

Wednesday, March 14, 2012

Biarkan Pendeta Belajar Firman Tuhan

Saya tertarik membaca cuplikan khotbah dari Dr. Robert Solomon (Bishop dari Methodist Church 36th Session of Emmanuel Tamil Annual Conference:
Singapore) pada acara penutupan dan pentahbisan pendeta dalam
What we need today are pastors well versed in Scripture. A pastor has to spend time digging deep into God's Word so that when he stands on the pulpit, people will know that this is a man who knows God's Word.
Yang kita perlukan hari ini adalah pendeta-pendeta yang sangat mengerti Alkitab. Seorang pendeta harus memakai waktu untuk menggali Firman Tuhan dengan dalam sehingga pada waktu dia berdiri di atas mimbar, orang akan tahu bahwa inilah orang yang mengenal Firman Tuhan.
Dan dengan berani dia berkata:
The Lord is saying, "Let my pastors study the Word", "let my pastors grow", "let my pastors go, don't imprison them with unnecesary programmes and activities".
Tuhan berkata, "Biarkan pendeta-pendeta Ku belajar Firman", "Biarkan pendeta-pendeta Ku bertumbuh", "Biarkan pendeta-pendeta Ku pergi, jangan penjarakan mereka dengan program-program dan kegiatan-kegiatan yang tidak perlu".
Dari kalimat-kalimatnya saya bisa merasakan pergumulan dia sendiri dalam hal ini, dalam menemukan waktu untuk belajar Firman, dalam mendidik jemaat untuk mengerti tugas utama seorang hamba Tuhan.

Saya langsung berpikir berapa banyak pengkhotbah yang ketika berdiri di atas mimbar, dari isi khotbahnya, kita bisa dengan hormat berkata: dia sungguh belajar Firman Tuhan dan mengenal Firman Tuhan???

Walaupun kondisi ini sebagian disebabkan kesalahan dia sendiri, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian lagi adalah karena kesalahan jemaat. Saya menemukan bahwa jemaat sulit sekali mengerti seperti apa seharusnya beratnya dan sulitnya persiapan khotbah. Mereka sering berpikir bahwa pendeta sudah sekolah teologi, dia pasti tahu lah tentang Alkitab... dan khotbah gampang lah tinggal kasih renungan dikit...

Saya ingin sebutkan tiga saja culture di dalam gereja yang kelihatan jelas tidak mendorong hamba Tuhan untuk belajar, atau lebih tepatnya mendorong hamba Tuhan untuk tidak belajar!

Coba perhatikan di dalam gereja, seorang hamba Tuhan akan ditegur kalau dia tidak pergi membesuk, menghadiri rapat atau kalau dia tidak belajar? Kita tahu jawabannya. Penekanan pada tugas hamba Tuhan di dalam gereja bukanlah pada belajar. Dan percakapan antar para hamba Tuhan juga jarang atau hampir tidak pernah tentang teologi, tapi selalu tentang pelayanan dan masalahnya. Bisa ditebak dengan culture seperti itu, betapa sulitnya untuk hamba Tuhan belajar.  Berbagai kegiatan terus ditumpuk kepada para hamba Tuhan, akhirnya belajar Firman Tuhan makin dikesampingkan.

Gereja menuntut supaya para hamba Tuhan ada 'jam kantor'. Alasannya? "Jemaat aja pergi kerja ngantor, masak hamba Tuhan lebih malas?" Dan ruangan hamba Tuhan di-desain seperti kantor. Meja berdekatan satu sama lain, telpon disediakan di tiap meja, dan seterusnya. Pertanyaan saya: "Adakah orang yang bisa belajar dengan suasana seperti itu?" Ruang hamba Tuhan disebut sebagai "kantor" dan bukan "ruang belajar" saja sudah menunjukkan culture yang ada. Hamba Tuhan akhirnya menghabiskan banyak waktu untuk telpon, main internet, ngobrol, apa saja yang tidak membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi selama jam kantor. Bagaimana mungkin ada yang bisa konsentrasi penuh membaca buku yang dalam, menggali Alkitab dengan membaca buku tafsiran, melihat bahasa asli, ditambah lagi merenungkan maknanya bagi kehidupan, dalam suasana "kantor"? Saya setuju ada 'jam kantor' untuk waktu interaksi dengan sesama hamba Tuhan, dengan karyawan gereja, dan untuk mengerjakan beberapa paper work. Tapi 'jam kantor' harus sangat dibatasi. Sisanya terserah hamba Tuhan itu untuk mencari tempat belajar. Alternatif lain, sediakan "ruang belajar" dan bukan "kantor". Itupun tidak menjamin total karena bagi saya mempersiapkan khotbah adalah seni, dan inspirasi untuk seni sulit dibatasi harus di tempat tertentu.

Ketika gereja memilih hamba Tuhan sebagai gembala, seringkali kriteria utama bukanlah 'khotbah'nya, tapi 'penggembalaan'nya. Dan yang dimaksud dengan 'penggembalaan' adalah kemampuannya memperhatikan jemaat, kesigapannya untuk membesuk, karena jemaat yang sakit, orang tua jemaat, saudara jemaat, teman jemaat memerlukan sesuatu, sampai karena hewan peliharaan jemaat hilang! Khotbah, walaupun dianggap penting, dikesampingkan karena kita menganggap dengan mudah bisa mengundang pengkhotbah tamu. Maka banyak gereja (khususnya di Indonesia) yang sangat bergantung pada pengkhotbah tamu. Dan sudah dianggap wajar, "pengkhotbah harus ganti-ganti supaya variatif". Maka 'pengkhotbah dalam' yang sudah tertekan dengan kegiatan gereja, mengesampingkan tugas belajar, sekarang merasa aman karena tokh ada 'pengkhotbah tamu'. Padahal bukankah tugas gembala adalah memberi makan jemaat dengan Firman Tuhan?

Maka kapankah kita memiliki lagi pendeta-pendeta yang sangat mengerti Alkitab dan berkhotbah dengan baik? Jalannya masih panjaaang...  Apa yang saya tuliskan di atas hanya bersifat deskriptif, menggambarkan apa yang terjadi. Solusinya? Panjaaaang...

Wednesday, January 11, 2012

Pendeta vs Penginjil


Foto waktu saya ditahbiskan menjadi Penatua Khusus SInode GKY - Juni 2009

Seringkali saya ditanya, “apa sih bedanya pendeta dengan penginjil?” Pertanyaan sederhana tapi serius karena menunjukkan betapa banyaknya orang Kristen yang tidak mengerti tentang gereja – yang dia datangi tiap minggu.

Saya belum pernah mendengar ada yang memberi penjelasan tentang itu. Maka pertanyaan itu akhirnya menggantung di pikiran jemaat (dan mungkin juga hamba Tuhan?). Satu-satunya jawaban yang tersedia adalah dari fenomena yang terlihat: ‘Pendeta boleh membaptis, memimpin perjamuan kudus, memimpin pemberkatan nikah’ sementara penginjil tidak boleh. ‘Penginjil ditahbis menjadi pendeta’ sementara pendeta tidak ditahbis menjadi penginjil. Itu fenomenanya. Dan karena dunia mengajarkan bahwa yang lebih pastilah lebih tinggi. Kesimpulannya pendeta lebih tinggi dari penginjil dan pentahbisan berarti kenaikan jabatan. Benarkah begitu? Ada beberapa masalah disini:

Pertama, saya perlu luruskan dulu masalah istilah. Istilah ‘penginjil’ yang umumnya dikenal di gereja sekarang, sebetulnya tidak sama dengan pengertian di Alkitab. Di Alkitab tidak ada indikasi bahwa ‘penginjil’ (atau pemberita Injil di dalam Alkitab) lebih rendah daripada ‘pendeta’ (atau ‘gembala’ di dalam Alkitab). Keduanya adalah fungsi atau panggilan dari Tuhan, karunia yang Allah berikan untuk gerejaNya. Sulit membedakan dengan saklek. Mungkin sederhananya: Mereka yang melayani di gereja disebut ‘pendeta’ dan mereka yang pelayanannya mengabarkan Injil di luar gereja disebut ‘penginjil’.

Kesalahannya di gereja sekarang adalah: Pokoknya mereka yang belum ditahbis menjadi ‘pendeta’ disebut ‘penginjil’. Maka istilah ‘penginjil’ bukan lagi menunjuk pada panggilan dan karunia Tuhan, tapi pada keadaan sebelum ditahbis!! Ini salah kaprah yang sudah sangat meluas.

Kedua, tidak ada sedikitpun indikasi di dalam Alkitab ada orang Kristen yang lebih tinggi atau lebih rendah. Yang ada hanyalah fungsi. Lalu apa itu pendeta? Pendeta adalah orang2 yang Tuhan panggil untuk melayani umat Tuhan, menggembalakan, mengajar Firman Tuhan. Panggilan mereka adalah dari Tuhan. Tapi tidak bisa setiap orang yang mengaku menerima panggilan Tuhan lalu menjadi pendeta. Panggilan itu harus dikonfirmasi oleh jemaat Tuhan.

Jemaat perlu waktu untuk melihat dan yakin bahwa orang itu sungguh dipanggil Tuhan untuk melayani Firman Tuhan full time di gereja itu. Setelah yakin, maka gereja mengkonfirmasi panggilan dia dalam pentahbisan. Jadi pentahbisan bukan kenaikan jabatan, tapi konfirmasi. Pendeta bukan lebih tinggi, tapi sudah dikonfirmasi.

Pertanyaannya mereka yang belum dikonfirmasi disebut apa? Di gereja2 Tionghoa di Indonesia, mereka biasa disebut ‘Penginjil’ atau ‘Guru Injil’. Dan inilah sumber salah kaprahnya.

Maka yang disebut ‘penginjil’ atau ‘guru Injil’ di dalam gereja saat ini adalah orang2 yang merasa dipanggil Tuhan untuk melayani Firman Tuhan full time di gereja, tapi belum ditahbiskan karena gereja masih perlu waktu untuk melihat dan mengkonfirmasi pelayanan mereka.

Pertanyaan terakhir, lalu bagaimana dengan mereka yang lamaaaaaa… melayani di gereja tapi tidak ditahbis? Terus-terusan menjadi ‘penginjil’ selama puluhan tahun?

Setiap gereja seharusnya punya kriteria untuk mengenali panggilan menjadi pendeta di dalam diri seseorang. Standar kriterianya bisa berbeda untuk setiap gereja. Tetapi jelas tidak cukup dan tidak boleh kriterianya hanya masalah waktu pelayanan (sudah pelayanan sekian tahun maka harus ditahbis) dan kebutuhan gereja (kalau jumlah pendeta kurang maka dilakukan penahbisan). Mungkin ada orang yang terpanggil untuk mengerjakan jenis pelayanan tertentu di gereja tetapi tidak tidak terpanggil khusus untuk pelayanan Firman Tuhan dan sakramen (sebagai pendeta) atau mungkin dianggap tidak mampu untuk kepemimpinan sebagai pendeta di gereja itu. Tetapi kriterianya harus jelas dulu.

Saya tahu masalahnya tidak sesederhana itu. Tapi yang saya mau adalah konsepnya dulu yang dipikirkan, praktisnya dan teknisnya belakangan. Jangan sekedar berpikir praktis: Hamba Tuhan masuk – pelayanan – kalau ‘bagus’ dan ‘diperlukan’ ya jadi pendeta, kalau nggak ya sudah terus saja jadi penginjil.

Friday, January 06, 2012

My Ordination 1 Jan 2012 - Part 2



Photo credit: Willy Siauw (www.willysiauw.com)

Di dalam kebaktian pentahbisan pendeta sinode GKY, biasanya salah satu orang yang ditahbiskan diminta untuk menyampaikan khotbah sulung mewakili rekan2 yang lain. Beberapa hari sebelum pentahbisan, saya diberitahu bahwa saya yang diminta untuk menyampaikan khotbah sulung tersebut. Saya diberi waktu maksimal 10 menit, maka saya mencoba untuk menyampaikan apa yang menurut saya paling esensial dan penting untuk disampaikan. Di bawah ini adalah khotbah singkat yang saya sampaikan waktu itu:

Saya punya waktu 10 menit untuk menyampaikan pikiran, janji dan tekad saya. Pada waktu saya diminta untuk menyampaikan khotbah sulung mewakili rekan2 yang lain, saya mencoba untuk flash back ke belakang dan mengingat2.

Salah satu pergumulan yang saya alami pada waktu masih di sekolah teologi adalah, saya bertanya2, apa artinya menjadi hamba Tuhan? Semua orang melayani Tuhan, tapi apa yang membedakan pelayanan semua orang Kristen dengan sekelompok orang Kristen yang disebut hamba Tuhan? Saya tahu istilah ini kurang tepat karena sebetulnya semua orang adalah hamba Tuhan. Tapi kita terlanjur menggunakan istilah ini.

Saya bergumul cukup lama untuk memikirkan dan menemukan apa sebetulnya panggilan kami, tugas kami, yang Tuhan bebankan, sehingga kami dipisahkan dan disebut sebagai hamba Tuhan?

1 bagian Alkitab di dalam Kis 6:1-6 memberikan petunjuk yang sangat penting apa yang dipikirkan oleh para rasul tentang tugas utama mereka, fokus utama mereka sebagai hamba Tuhan.

Pada waktu itu orang Kristen baru berkumpul bersama sebagai gereja. Gereja PB baru dimulai, dan siapa yang melayani? Para rasul melayani segala hal di dalam jemaat. Saya bisa membayangkan bahwa segala urusan, apapun juga di dalam gereja, ditangani oleh mereka. Dan bagian ini memberitahu kita bahwa para rasul akhirnya sadar mereka bukanlah superman. Mereka kewalahan. Sementara jemaat bersungut-sungut karena ketidakberesan dalam pengaturan pembagian makanan bagi janda2 miskin. Atau boleh kita sebut jemaat complain dengan kurang rapihnya administrasi, kurangnya perhatian kepada jemaat, kurangnya pelayanan sosial.

Maka para rasul mengambil keputusan untuk menceritakan pergumulan mereka kepada jemaat. Dan menarik, para rasul berkata bahwa yang paling mereka khawatirkan adalah mereka tidak memuaskan Tuhan karena “kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja”. Karena itu mereka meminta supaya jemaat memilih 7 orang untuk mengerjakan tugas pelayanan meja, pelayanan diakonia, pelayanan administrasi, pelayanan pemerhati itu sementara mereka “dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman”. Dan ini berlanjut dalam sejarah gereja. Orang yang memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman. Itulah yang disebut hamba Tuhan!
 
Pelayanan Firman bisa dikerjakan oleh semua orang Kristen. Tetapi seriusnya pelayanan itu menuntut adanya orang-orang yang mengkhususkan waktu untuk mempelajari Firman Tuhan dan mengajarkannya dengan setia. Dan karena pelayanan mereka menuntut kepekaan mengenal kehendak Tuhan, kebutuhan manusia, dan memohon anugrah Allah, maka doa adalah bagian yang tak terpisahkan dari pelayanan Firman.

Maka saya percaya menjadi hamba Tuhan berarti selalu mengingatkan diri akan hal ini. Dia bukan seorang event organizer, mengatur berbagai acara yang wah. Dia bukan seorang CEO gereja, yang bisa mengatur strategi bagaimana gereja bertumbuh. Dia bukan seorang administrator ulung, yang kerjanya menangani administrasi. Dia adalah seorang pelayan Firman. Dengan belajar, menyampaikan Firman, berdoa dan memimpin sakramen. Sekalipun dia melakukan berbagai kegiatan, tapi tugas utamanya adalah belajar Firman dan mengajarkan Firman. Berdoa dan mengajak jemaat berdoa. Itu hamba Tuhan.

Hari ini banyak orang Kristen mengharapkan hamba Tuhan mengerjakan semua urusan gereja karena berpikir bahwa tugas hamba Tuhan adalah menjalankan gereja (running the church). Selama kegiatan terorganisir, ada program yang inovatif, maka dia hamba Tuhan yang baik. Hari ini banyak orang Kristen mengharapkan hamba Tuhan pokoknya banyak membesuk, banyak memperhatikan. Tidak peduli apa yang dia lakukan, apa yang dia bicarakan, sudut pandang apa yang dia sampaikan, pokoknya asal dia datang, membesuk, berdoa, dia hamba Tuhan yang baik. Hari ini banyak orang Kristen mengharapkan hamba Tuhan pokoknya khotbah, apapun khotbahnya, berapapun sedikitnya dia persiapan dan merenungkan Firman, pokoknya dia khotbah. Saya kira Alkitab tidak ajarkan itu. Dan banyak hamba Tuhan lupa panggilannya yang utama, mereka sibuk lakukan banyak hal yang mengalihkan perhatian mereka dari doa dan pelayanan Firman.

Kalau sdr perhatikan jubah pendeta Protestan hampir selalu berwarna hitam. Jubah ini sangat mirip seperti toga yang dipakai pada waktu seseorang diwisuda. Dan memang itulah artinya.

Gereja di abad pertengahan menekankan pelayanan sakramen untuk tiap orang yang ditahbis menjadi pastur. Tapi para reformator mengubah itu, jubah pendeta Protestan adalah jubah akademis. Jubah ini melambangkan orang yang belajar dan diangkat oleh gereja untuk menjadi pengajar Firman.

Maka hari ini, di hadapan Tuhan dan di hadapan saudara, jemaat Tuhan, saya mewakili rekan2 yang lain berjanji untuk seumur hidup menjadi pelayan Firman: Belajar Firman Tuhan sedalam mungkin dan berusaha mengajarkannya sebaik mungkin. Berdoa dengan sungguh2, mengalami Tuhan dalam doa dan mengajak jemaat berdoa. Dan terakhir, untuk melakukan semuanya tidak demi keuntungan pribadi, tidak demi apapun, tapi demi kasih kepada Tuhan dan kepada saudara, jemaat Tuhan. Dan kami berjanji untuk menaruh jemaat Tuhan di dalam hati kami.

Demi nama Tuhan, saya minta, ingatkanlah kami para hamba Tuhan untuk menjadi pelayan Firman. Tegurlah kami ketika kami sibuk mengerjakan segala sesuatu yang lain tapi mengabaikan pelayanan Firman Allah. Mintalah untuk kami belajar dan mengajarkan Firman. Dan doakanlah kami agar urapan Tuhan dan kuasa Tuhan sungguh dicurahkan untuk kami. Dan kiranya berkat Tuhan dicurahkan untuk gerejaNya. Amin.

Thursday, January 05, 2012

My Ordination 1 Jan 2012 - Part 1


  Photo Credit: Willy Siauw (www.willysiauw.com)

Di awal tahun ini saya ditahbiskan menjadi pendeta sinode Gereja Kristus Yesus, tepat setelah 7 tahun 3 bulan saya melayani full time di GKY. Ada beberapa hal yang ingin saya sharingkan dari pentahbisan tersebut dan saya akan menuliskannya dalam beberapa bagian.

Berkaitan dengan itu, masing-masing kami yang ditahbiskan diminta untuk menuliskan kesaksian pelayanan kami untuk dimuat dalam buku acara pentahbisan. Di bawah ini adalah tulisan saya:

Saya percaya bahwa menjadi Pendeta adalah panggilan Tuhan. Itu bukan panggilan dari manusia atau dari gereja, tapi dari Tuhan. Dan panggilan itu saya dengar bukan hari ini, tapi lebih dari lima belas tahun yang lalu. Dan panggilan itu sudah saya jawab “ya” lebih dari lima belas tahun yang lalu. 
 
Ketika itu saya masih kuliah di Universitas Trisakti. Melalui berbagai peristiwa dan beberapa hamba Tuhan, saya yakin Tuhan memanggil dan menunggu jawaban saya. Maka waktu itu saya menjawab “ya” untuk melayani Tuhan sepenuh waktu seumur hidup saya. Saya menjawab “ya” untuk belajar Firman Tuhan dan memberitakannya. Saya menjawab “ya” untuk menaruh umat Tuhan di dalam hati saya. 
 
Kemudian tahun 1998 saya masuk ke Institut Reformed untuk dipersiapkan disana. Sekian tahun masa persiapan di sekolah teologi dan kemudian sekian tahun pelayanan membuat saya makin jelas melihat kemana Tuhan membawa saya. Ada kerinduan-kerinduan khusus yang Tuhan tanamkan dalam hati saya. Saya rindu melihat gereja yang belajar Firman Tuhan, orang-orang Kristen mau berpikir tentang imannya, mau mengerti kebenaran dengan mendalam. Saya rindu melihat gereja yang anggotanya saling mengasihi, begitu rupa sehingga berani untuk berkorban dan menderita untuk kebaikan saudaranya. Saya rindu melihat gereja yang beribadah kepada Tuhan dengan segenap hati, menikmati relasi dengan Tuhan dan berusaha hidup menyenangkan Tuhan. Saya rindu melihat gereja yang bersaksi, setiap orang Kristen sesuai dengan karunianya masing-masing, mengambil bagian untuk membawa orang percaya kepada Tuhan. Saya berharap itulah yang akan terus menjadi kerinduan saya.
 
Selama lebih dari lima belas tahun ini, tidak pernah sekalipun saya meragukan panggilan Tuhan ataupun menyesali jawaban saya. Saya hanya menyesali kekurangan saya, dalam segala hal, dalam melayani Dia. Saya menjalani panggilan itu kadang dengan tegap, kadang dengan terseok-seok, kadang hampir terjerembab. Tapi anugrah Tuhan selalu menopang saya sehingga tidak pernah tergeletak dan Tuhan sangat bermurah hati untuk terus memakai saya. 
 
Saya bersyukur untuk hak istimewa bisa melayani di GKY Green Ville dan GKY Singapore. Saya bisa melayani mereka karena mereka mengasihi, mendoakan, dan melayani saya. Melalui bersama dengan mereka, saya makin mengerti arti panggilan Tuhan yang saya jawab “ya” lebih dari lima belas tahun yang lalu itu. Untuk mereka, saya tidak henti-hentinya bersyukur.
 
Secara khusus, saya berterima kasih kepada beberapa hamba Tuhan yang secara istimewa Tuhan pakai untuk membentuk pola pikir, arah pelayanan, dan terutama kerohanian saya: Pdt. Yung Tik Yuk, Pdt. Dr. Stephen Tong, Pdt. Dr. Hendra G. Mulia, dan Pdt. Yohan Candawasa. Melalui mereka, Tuhan sudah sangat memberkati saya.
 
Dan terakhir, saya sangat berterima kasih kepada istri saya yang menyetujui jawaban “ya” saya sejak kami belum menikah. Sampai hari ini dia selalu siap menjadi penghibur, pengkritik dengan kasih, dan pendoa yang paling setia bagi saya.
 
Maka bagi saya hari ini, tidak lain tidak bukan, adalah peneguhan dari mereka dan dari gereja dimana Tuhan tempatkan saya untuk melayani, bahwa betul lima belas tahun yang lalu saya dipanggil Tuhan dan saya sudah, masih, dan akan terus menjawab “ya” kepada Tuhan.

Monday, October 24, 2011

Pelayan Milik Siapa?

Waktu saya masih kuliah melayani di persekutuan mahasiswa, saya ingat saya pernah berdebat dengan seorang teman. Masalahnya sederhana, saya mendekati seorang rekan mahasiswa lain dan menawarkan kepadanya untuk terlibat dalam sebuah pelayanan. Apa masalahnya? Teman saya mencoba meyakinkan saya bahwa tindakan itu tidak benar. Orang yang saya dekati itu adalah anggota sebuah persekutuan, dimana ada ketua dan pengurusnya. Maka teman saya berkata seharusnya saya bicara dulu dengan ketua dan pengurus persekutuan tempat orang itu berada sebelum menawarkan pelayanan kepada dia. Alasannya? Supaya mereka bisa memutuskan apakah mereka mengizinkan orang itu untuk terlibat dalam pelayanan yang saya tawarkan atau tidak (karena jangan-jangan mereka merencanakan supaya orang tersebut melayani di bidang lain).

Saya sangat tidak setuju dengan teman saya. Dengan darah anak muda waktu itu, saya berargumen dengan sangat keras. “Kalau saya bicara dengan si ketua persekutuan, lalu tidak diizinkan, apakah saya tidak boleh menawarkan pelayanan kepada orang itu? Bagaimana kalau sebenarnya orang itu mau pelayanan di bidang yang saya tawarkan, tidak bolehkah? Siapa yang memberi hak kepada si ketua untuk mengatur hidup dan pelayanan orang itu? Dia bukan Tuhan! Apakah dengan menjadi anggota sebuah persekutuan, maka hidup dan pelayanan orang itu diserahkan kepada pengurus persekutuan? Milik siapa sebetulnya dia itu?” – Ya, saya sekeras itu dulu, sekarang lebih lumayan lah  :-)

Sampai hari ini, saya yakin argumen saya benar. Dan saya kaget menemukan bahwa hari ini di gerejapun terjadi hal yang sama seperti di persekutuan mahasiswa itu.

Ada sebagian orang berpendapat: “Tidak etis kalau kita menawarkan seorang hamba Tuhan untuk pindah tempat pelayanan sementara dia masih baik-baik disitu. Tunggu sampai dia mau keluar, baru tawarkan, maka jelas bukan salah kita”. Pendapat ini diterima, dijalankan, bahkan oleh para pendeta dan institusi terkenal di Indonesia. Sepertinya takut kalau dianggap mengiming-imingi orang itu atau dianggap ‘membajak’ orang itu. Saya sangaaattt heraaann… dan saya sangat tidak setuju! (Saya yakin alasannya adalah cari aman, supaya institusi yang bersangkutan tidak marah).

Ada juga gembala yang marah ketika tahu hamba Tuhan di bawahnya ada yang ditawari/didekati untuk melayani di tempat lain. Dia yakin adalah haknya untuk diberi tahu terlebih dahulu. Harus bicara dulu dengan dia (baca: minta izin) baru boleh dekati. Saya sangat tidak setuju!

Saya tidak perlu mengulang lagi, argumen saya masih sama seperti di atas. Bahkan dengan menjadi hamba Tuhan di sebuah gereja, tidak pernah berarti orang itu menyerahkan hidupnya untuk diatur oleh gereja tersebut. Dia boleh diatur dalam rangka tugas, dipindahkan, ditugasi kemana, dst. Tapi dia tidak menyerahkan hidupnya seumur hidup untuk diatur kemana dia boleh melayani. Selama dia melayani disitu dia boleh diatur, tapi dia tidak bisa diatur untuk selamanya melayani disitu.

Tiap orang dan institusi berhak mendekati, sharing beban, menawarkan pelayanan kepada tiap orang, siapa saja, apakah dia terikat atau tidak terikat dengan institusi lain, apakah dia ‘baik-baik’ atau ‘kurang baik’ di institusinya. Selama bukan uang dan kuasa yang ditawarkan, maka itu bukanlah iming-iming. Yang ditawarkan adalah kemungkinan pelayanan! Maka biarkanlah tiap orang bergumul sesuai dengan panggilan Tuhan untuk dirinya. Kalau dia yakin Tuhan panggil dia untuk tetap di tempatnya yang sekarang, dia akan tetap disitu. Tapi kalau Tuhan memang pimpin dia untuk pindah, dia akan pindah.Tapi kalau tidak ditawari, maka bagaimana dia melihat kemungkinan itu? Lewat mimpikah???

Kita harus ingat kembali, tiap pelayan milik siapa? Kita ini milik siapa? Pelayanan kita milik siapa? Gereja kita milik siapa? Institusi kita milik siapa? Milik Tuhan!!!

Sunday, July 03, 2011

Persiapan Khotbah

Beberapa jemaat dan rekan hamba Tuhan pernah bertanya kepada saya, “Bagaimana sih cara persiapan khotbahnya?”

Saya percaya persiapan khotbah, seperti juga menggali Alkitab, adalah art (seni) maka tiap orang akan melakukan dengan cara yang berbeda dan bahkan tiap khotbah bisa dipersiapkan dengan cara yang berbeda. Ditambah lagi dengan adanya berbagai macam bentuk sastra di dalam Alkitab, maka bentuk sastra yang berbeda tentu menuntut cara persiapan yang juga berbeda.

Saya sendiri sudah beberapa kali merubah cara saya mempersiapkan khotbah. Berikut ini adalah sedikit sharing bagaimana saya mempersiapkan khotbah dari surat 1 Korintus (khotbah eksposisi berseri yang sedang saya sampaikan di GKY Singapore):

1. Berdoa minta Tuhan berkati persiapan khotbah, berikan message yang harus disampaikan.

2. Saya menentukan batas perikop atau bagian yang ingin dikhotbahkan, harus mulai dari ayat mana dan berhenti di ayat mana. Biasanya saya tidak terlalu pusing dengan ini. Cukup melihat 1 atau 2 buku tafsiran. Kalau 2 tafsiran sama, maka saya setuju saja. Kalau mereka tidak sama, maka saya mulai berpikir lebih keras.

3. Saya melihat buku: Bruce M. Metzger, A Textual Commentary on the Greek New Testament, untuk melihat apakah ada masalah tekstual yang perlu saya perhatikan. Misalnya apakah ada manuskrip kuno (textual variant) yang patut diperhitungkan, yang mempunyai teks yang berbeda dengan yang sekarang ini diterima. Kalau ada, maka itu akan menjadi perhatian saya. Kalau tidak ada yang signifikan, maka dengan lega saya mengabaikan bagian ini.

4. Saya membuat syntactical outline (urutan logis kalimat-kalimat) dari bagian yang ingin dikhotbahkan. Untuk keperluan ini saya biasa menggunakan 2 buku untuk membantu: Philip W.Comfort, The New Greek-English Interlinear dan Zerwick-Grosvenor, A Grammatical Analysis of the Greek New Testament. Saya mencoba mengerti kalimat demi kalimat dalam bahasa Yunani secara singkat dengan bantuan 2 buku itu. Biasanya saya hanya membuatnya dengan sederhana, hanya untuk membantu saya melihat urutan logisnya saja. Tapi bagian ini memakan waktu cukup lama, bisa sekitar 2 jam lebih saya habiskan disini (tergantung panjang pendeknya perikop yang akan dikhotbahkan). Bagi yang belum pernah melihat seperti apa, kurang lebih yang saya buat seperti di bawah ini:



5. Sambil membuat syntactical outline, saya memberi tanda pada kata-kata yang menurut saya mungkin perlu penelitian lebih lanjut.

6. Kata-kata tersebut saya cari maknanya di dalam: BDAG, Greek-English Lexicon of the NT and Other Early Christian Literature, Spicq, Theological Lexicon of the New Testament atau Verlyn Verbrugge, New International Dictionary of New Testament Theology Abridged. Tidak setiap kata saya cari dan tidak setiap buku di atas saya buka, tergantung bagaimana pikiran saya waktu itu.

7. Setelah 'belanja bahan dasar' ini selesai, sekarang bisa mulai 'memasak'. Pertama adalah memikirkan outline khotbah berdasarkan hasil observasi di atas. Tapi outline ini biasanya masih tentative, artinya seringkali akan berubah nanti.

8. Mulai menulis naskah khotbah. Biasanya saya langsung menulis saja, apa saja asal mulai menulis, karena saya menulis sambil berpikir dan berpikir sambil menulis. Sambil menulis maka ide pun keluar dan perlahan-lahan jadi.

9. Sambil menulis naskah khotbah saya sambil terus mempelajari dan memikirkan bagian itu lebih detil. Untuk ini saya dibantu dengan buku tafsiran. Biasanya untuk 1 Korintus, ada 3 tafsiran yang saya pakai: Gordon Fee, (dalam seri) New International Commentary on the New Testament, David Garland, (dalam seri) Baker Exegetical Commentary on the New Testament dan Craig Blomberg, (dalam seri) NIV Application Commentary.

10. Mencari buku-buku yang relevan dengan tema yang saya soroti. Membaca buku-buku tersebut bisa menimbulkan ide bagi saya, kadang memberikan bahan yang penting, kadang memberikan ilustrasi yang tepat.

11. Sambil menulis ada perenungan2 yang muncul atau ada ilustrasi yang terpikir. Kadang saya tuliskan saja semuanya di bagian bawah dan nanti tinggal copy paste untuk menyusunnya.

12. Terakhir adalah tahap 'penyajian masakan'. Tidak semua yang sudah saya dapatkan dan tuliskan akhirnya harus saya sampaikan. Seringkali terlalu banyak bahan justru mengganggu fokus khotbah. Maka saya harus memilih lagi mana yang akan disampaikan, dengan urutan seperti apa, mana duluan dan mana belakangan.

13. Seringkali sampai selesai menuliskan naskah khotbah, saya tetap tidak puas. Biasanya saya bilang ke istri saya: “Tulangnya sudah, tapi kurang berdaging”. Maka saya perlu diam, merenung lagi, memikirkan maknanya lagi, dan memikirkan bagaimana cara menyampaikannya kepada jemaat. Naskah yang sudah jadi itu saya baca ulang sambil membayangkan bagaimana menyampaikannya. Sambil membayangkan setting khotbah maka saya akan menemukan ada bagian yang tidak enak untuk disampaikan secara lisan, ada kalimat yang terlalu kaku, ada bagian yang tidak jelas, dst. Kadang bahkan saya bisa mengubah total susunan khotbah! Maka saya merevisi lagi naskah khotbah itu. Kalau ada ilustrasi atau cerita yang ingin saya sampaikan, saya mencoba dulu bagaimana menceritakannya dengan efisien (tidak bertele-tele) dan ‘masuk’ ke pendengar.

14. Naskah saya print. Kalau masih ada waktu, saya baca ulang lagi seluruh naskah sambil memberikan catatan-catatan tambahan kalau perlu atau coretan-coretan pada bagian yang tidak perlu. Seringkali catatan dan coretan last minute ini sangaaaatttt berguna.

15. Berdoa sungguh-sungguh minta Tuhan berkati penyampaian Firman Tuhan.

Walaupun persiapan saya tidak selalu persis seperti di atas, tapi kira-kira seperti itu. Dan kalau ditanya berapa jam yang saya pakai untuk mempersiapkan khotbah sekitar 40 menit itu? Maka jawabannya sulit. Mungkin sekitar 15 jam, kadang kurang sedikit dari itu, tapi tidak jarang lebih.
Semoga pembukaan 'rahasia dapur' saya ini berguna.

Friday, May 20, 2011

Sibuk?

Di zaman sekarang, siapa yang tidak sibuk? Khususnya bagi yang hidup dan bekerja di Singapore, kota yang modern, transportasi yang mudah, koneksi internet yang cepat, membuat kehidupan seringkali justru lebih sibuk.

Uniknya kesibukan tidak hanya menjadi symptom, tetapi menjadi simbol status bahkan kebanggaan. Di satu sisi kita tidak senang sibuk, tetapi di sisi lain kita tidak suka disebut ‘tidak sibuk’, atau ‘kurang kerjaan’. Di satu sisi kita mengeluh ketika sibuk, tetapi di sisi lain kita bangga bahwa kita orang sibuk. Sebagian orang perlahan-lahan mulai menikmati kesibukannya. Baginya hidup adalah sibuk dan dia tidak suka hidupnya tidak ada sesuatu yang dikerjakan.

Bagaimana hamba Tuhan harus hidup di tengah jemaat yang kebanyakan sibuk dan suka untuk sibuk ini? Apakah juga harus menjadi “busy pastor”? Sepertinya itu yang diharapkan sebagian jemaat dan itu yang juga ‘dipamerkan’ oleh sebagian hamba Tuhan. Kalau tidak sibuk, malu rasanya, jemaat semua sibuk kok hamba Tuhan nganggur?

Kalimat Eugene Peterson di dalam bukunya “The Contemplative Pastor” sangat mengejutkan:

I’m not arguing the accuracy of the adjective [busy]; I am, though, contesting the way it’s used to flatter and express sympathy… But the word busy is the symptom not of commitment but of betrayal. It is not devotion but defection. the adjective busy set as a modifier to pastor should sound to our ears like adulterous to characterize a wife or embezzling to describe a banker.

Terjemahan bebasnya:

Saya tidak mempermasalahkan ketepatan kata sifat sibuk itu; tetapi saya mempertanyakan cara kata itu digunakan untuk memuji atau menyatakan simpati… Tetapi kata sibuk bukanlah tanda komitmen tapi pengkhianatan. Itu bukan pengabdian tapi ketidaksetiaan. Kata sifat sibuk yang dikenakan kepada hamba Tuhan di telinga kita harus berbunyi seperti berzinah dikenakan kepada istri atau korupsi dikenakan kepada bankir.

Saya kira sibuk adalah musuh setiap orang, bukan hanya hamba Tuhan. Kalau saya boleh definisikan ulang: sibuk berarti mengerjakan banyak hal tapi mengabaikan yang esensial dalam hidup dan panggilan kita. Dan bagi setiap orang ‘yang esensial’ ini berbeda.

Bagi saya, ‘yang esensial’ itu berarti membaca Alkitab, lebih banyak berdoa, membaca buku, mempersiapkan khotbah dengan baik,punya waktu untuk ngobrol dengan sebanyak mungkin jemaat, bisa merenung dan memikirkan strategi pelayanan dengan lebih baik, punya waktu ngobrol dan jalan-jalan dengan istri, bisa belajar banyak hal dengan banyak cara (belajar keindahan manusia, keindahan alam, belajar penderitaan manusia, dsb), berolah raga, bisa pulang teratur menengok orang tua dan mertua saya, kira2 seperti itu. Kalau saya sibuk (baca: tidak mengerjakan ‘yang esensial’ itu) maka saya sedang mengkhianati hidup dan panggilan saya.

Bagi anda apa ‘yang esensial’ itu? Sebagai orang Kristen, qpakah anda punya waktu untuk berdoa, membaca Alkitab, membaca buku rohani? Sebagai anggota keluarga, apakah anda punya waktu yang berkualitas untuk keluarga? Sebagai anggota gereja, apa yang anda lakukan? Dan sebagai manusia dengan karunia dan panggilan dari Tuhan, apa yang esensial? Apakah hanya bekerja? Apakah hanya pergi dan meeting ke sana sini? Kalau ‘yang esensial’ itu yang tidak dikerjakan, maka sangat mungkin itu berarti anda sibuk, dan itu sama sekali tidak membanggakan.

Dengan malu saya harus mengaku bahwa saya pun seringkali sibuk! Tapi saya berjuang – dan akan terus berjuang - untuk tidak sibuk. Saya tidak mau disebut busy pastor! Dan jangan mau disebut sebagai suami sibuk, istri sibuk, orang tua sibuk, orang Kristen sibuk, anak sibuk, dan yang lain2nya. Sekali lagi, karena ketika orang mengatakan kita sibuk, itu mungkin karena ada ‘yang esensial’ yang kita abaikan. Mari sama2 berjuang untuk tidak sibuk.

Friday, July 02, 2010

Undangan Khotbah - 2

Maafkan saya kalau apa yang saya tuliskan di bawah ini tidak enak untuk dibaca, tetapi saya ingin sekali mengungkapkan ini khususnya bagi rekan-rekan hamba Tuhan. Pengalaman sekian tahun melayani sebagai pengkhotbah mengajar saya untuk tidak lagi merasa bangga ketika diundang berkhotbah. Ketika suatu tempat mengundang kita untuk berkhotbah, ada beberapa macam alasan yang mungkin ada:

1. Kita diundang berkhotbah karena "politik".
Maksud saya, mungkin karena kita punya posisi dan orang tidak enak jika tidak mengundang kita (saya banyak mendengar kasus seperti ini, yang mengundang sebenarnya terpaksa mengundang atau yang mengundang hanya ingin supaya hubungan baik terjaga). Mungkin juga karena posisi kita maka kalau kita diundang, akan ada kerja sama dan pengertian yang lebih baik antara dua pihak: gereja kita dan gereja dia. Mungkin juga karena kalau kita diundang, si pengundang berharap kita juga akan balik mengundang dia (serius!). Atau alasan-alasan lainnya (tidak mungkin saya sebutkan semuanya), yang pada intinya adalah kita diundang bukan karena mereka mengenali karunia berkhotbah dalam diri kita tetapi karena keuntungan yang didapat dengan mengundang kita.

2. Kita diundang berkhotbah justru karena khotbah kita jelek (atau minimal tidak terlalu bagus)!
Maafkan saya kalau terlalu keras. Saya tahu ada hamba Tuhan yang sengaja mengundang pengkhotbah tamu yang memang tidak terlalu bagus khotbahnya supaya dirinya tidak terlihat terlalu jelek kalau nanti dibanding-bandingkan oleh jemaat. Ada yang mengundang pengkhotbah yang bagus dari luar kota, tapi tidak mau mengundang pengkhotbah yang bagus dari kota yang sama. Ada yang mengundang pengkhotbah yang bagus dari sinode gereja lain, tapi tidak mau mengundang pengkhotbah yang bagus dari sinode gereja yang sama. Macam-macam variasinya tapi semua intinya sama: insecurity.

3. Kita diundang berkhotbah karena relasi.
Maksudnya kita diundang berkhotbah hanya karena si pengundang kenal dengan kita. Lagi-lagi, karena dia tidak enak jika tidak mengundang kita dan ingin menjaga relasi dengan kita. Dia tidak akan mengundang kita kalau dia tidak kenal.

4. Kita diundang berkhotbah karena "selera" yang salah.
Saya seringkali tidak habis pikir bagaimana mungkin orang suka dengan khotbah tertentu, yang objectively sangat buruk. Ada orang yang hanya melihat kharisma, ada yang melihat masa lalu (dulu dia bagus, tapi ingat itu "DULU"), ada yang melihat humor, dan ada juga yang melihat gaya tertentu sebagai khotbah yang "dalam" dan bagus tanpa mengerti isinya. Banyak orang tidak bisa menilai khotbah (kiranya Tuhan mengampuni kesalahan kami yang kurang mengajar dengan baik).

5. Kita diundang berkhotbah karena anda memang diberi Tuhan karunia berkhotbah.
Point saya adalah, apa sih yang dibanggakan ketika diundang untuk berkhotbah? Nothing! Kalaupun kita diundang karena kita memang punya karunia berkhotbah, lalu apa yang dibanggakan? Itu dari Tuhan! Ide khotbah, kemampuan bicara, dan kuasa yang menyertai, semua dari Tuhan! Apalagi kalau kita diundang berkhotbah karena alasan-alasan yang salah, apa yang kita banggakan? Kebanggaan membuat kita tidak pernah memperbaiki diri.

Bagi para pengundang pengkhotbah, mari ingat kembali tanggung jawab kita kepada Tuhan. Jangan permainkan mimbar dan jemaat yang Tuhan percayakan kepada kita. Jangan pakai hak mengundang pengkhotbah untuk kepentingan diri kita. Bagi para pengkhotbah, kita memang tidak pernah tahu motivasi si pengundang dan juga tidak perlu terlalu peduli, tapi kalau kita menerima undangan khotbah, tidak perlu bangga tapi mari berkhotbah sebaik-baiknya kepada jemaat Tuhan dan untuk Tuhan.

Sekali lagi maaf kalau saya terlalu keras. Saya hanya ingin kita aware dengan masalah ini.

Wednesday, June 30, 2010

Undangan Khotbah - 1

(Saya pernah menulis tentang khotbah di dalam 2 tulisan - Mengajarkan Firman Tuhan - 1 dan Mengajarkan Firman Tuhan - 2. Kali ini saya ingin menulis lagi tentang khotbah di dalam dua seri tulisan dengan judul Undangan Khotbah, dan sebagian besar isinya saya tujukan untuk para rekan hamba Tuhan)
 
Pada waktu mulai menjadi hamba Tuhan, salah satu hal yang mengejutkan bagi saya adalah ketika menerima undangan khotbah. Saya biasa menjadi pengurus, menyambut dan menemani pengkhotbah, tapi saya belum pernah disambut dan ditemani sebagai pengkhotbah! Tiba-tiba saya mengalami loncatan status dan itu mengejutkan (sekaligus mengerikan).

Bagi banyak mahasiswa teologi dan juga mereka yang baru lulus dari sekolah teologi - adalah kebanggaan jika diundang untuk berkhotbah. Kita diundang, dikirimi surat, kita datang dan kemudian disambut sebagai pengkhotbah. Dan ketika makin lama makin banyak tempat yang mengundang, makin lama makin besar event yang mengundang, kita merasa makin bangga. Saya tahu perasaan seperti itu! Dan tanpa disadari, kerendahan hati waktu menyambut panggilan Tuhan berubah menjadi ketinggian hati.

Perasaan itu mungkin muncul karena banyak dari kita yang memberikan diri masuk ke sekolah teologi karena menyambuti panggilan Tuhan melalui seorang hamba Tuhan. Mungkin kita pernah berada dalam sebuah kebaktian besar, dihadiri banyak orang, dan di situ kita menyambuti panggilan Tuhan. Pada waktu kita masuk sekolah teologi, kita mulai membayangkan diri kita akan menjadi seperti hamba Tuhan itu, berkhotbah dengan penuh kuasa di dalam kebaktian seperti demikian. We want to be like them! 

Atau perasaan seperti itu muncul karena melihat dosen-dosen kita. Mereka mungkin pengkhotbah 'besar', mereka terkenal, diundang kemana-mana, dan kita yang sedang belajar di bawah mereka membayangkan bahwa suatu kali kita akan seperti mereka. Kita merasa bahwa sangat besar 'gengsi' menjadi pengkhotbah. Kita sering kagum dengan orang-orang yang memiliki talenta berkhotbah dan kita juga mendengar nada kekaguman itu dari orang-orang di sekitar kita. Pengkhotbah, dalam batas tertentu, seperti selebriti (maaf kalau saya berlebihan). Dan kita juga ingin dikagumi.

Tanpa sadar kita membangun khayalan dalam diri kita bahwa saya bisa seperti itu, atau saya harus seperti itu, atau saya sudah seperti itu (padahal tidak). Saya ingat ada mahasiswa sekolah teologi yang bangga sekali diundang berkhotbah dalam sebuah event yang cukup besar sehingga dia khusus mengajak adik kelasnya untuk mengambil foto saat dia berkhotbah, mengajukan tantangan dan banyak orang maju ke depan. Saya juga pernah diajak seorang rekan untuk menemani dia pergi berkhotbah supaya saya bisa melihat pelayanannya yang besar dan 'belajar dari dia' (it made me feel uncomfortable!). Saya juga pernah mendengar mahasiswa sekolah teologi yang iri karena rekannya dikirim berkhotbah ke tempat pelayanan yang 'bergengsi'.

Tidak perlu panjang lebar, saya kira kita tahu bahwa di balik semua itu ada dosa. Dosa ingin membanggakan diri, dosa ingin mencari signifikansi diri dengan 'prestasi', dosa mengukur diri dengan ukuran dunia, dan dosa memakai mimbar untuk memuliakan diri.

Khotbah memang pelayanan yang mulia. Kita boleh menginginkan pelayanan yang mulia, kita boleh ingin dipakai Tuhan, kita boleh bahkan harus berusaha memperbaiki diri dalam berkhotbah, tapi semua itu tujuannya haruslah untuk Tuhan, for the greater glory of God. "Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil" (Yoh 3:30) Coba lihat ulang hati kita masing-masing!

Thursday, November 12, 2009

Mengajarkan Firman Tuhan - 2

Tema khotbah apapun juga, silakan sebut tema apapun juga, pasti ada buku yang sudah membahasnya. Bagian Alkitab mana saja, pasti ada buku tafsiran atau perenungan yang mengupasnya. Di zaman sekarang, tumpukan hasil penelitian dan karya tulis begitu banyak teolog di dunia membuat apapun juga yang ingin disampaikan di dalam khotbah, pasti ada buku yang mendukung persiapannya.

Maka saya yakin, kalau seorang hamba Tuhan berkhotbah "tanpa isi" pasti adalah karena malas persiapan. Saya tahu tidak semua orang punya talenta untuk bicara di muka umum dan menguraikan sesuatu dengan jelas. Tetapi yang saya tekankan adalah "isi" nya.

Saya tidak percaya dengan pelagiarisme dalam berkhotbah. Bagi saya, sekalipun kita mengambil kalimat atau alur atau ide dari buku tertentu, asalkan kita mengerti-merenungkannya-memikirkan cara menyampaikannya, itu bukan pelagiarisme. Sekalipun kita berkhotbah sangat persis seperti yang tertulis di buku itu, itupun bukan pelagiarisme. Mengapa? Kita sudah menjadikan kalimat atau alur atau ide itu sebagai "milik" kita dengan menjadikannya fresh kembali karena melewati jalur mengerti-merenungkan-menyampaikan.

Satu-satunya pelagiarisme di dalam berkhotbah adalah kalau kita mengambil mentah-mentah khotbah orang lain, dan mengkhotbahkannya begitu saja tanpa mengerti-merenungkan-memikirkan cara menyampaikannya kepada pendengar yang spesifik (saya pernah mendengar khotbah seperti ini, disampaikan dengan buruk tetapi rasanya kok ada isinya, ternyata dia sedang mengkhotbahkan naskah khotbah seorang pengkhotbah terkenal). Ini adalah pelagiarisme karena sebenarnya dia bukan berkhotbah. 

Maka khotbah yang baik tidak mungkin dipersiapkan hanya dalam waktu 1-2 jam (kecuali khotbah singkat yang muncul dari perenungan, persiapannya adalah hasil membaca buku dan pergumulan di masa lalu). Butuh berjam-jam untuk mempersiapkan 1 naskah khotbah. Tetapi di tengah begitu banyak buku yang mendukung persiapan khotbah, satu-satunya alasan untuk berkhotbah "tanpa isi" adalah kemalasan.

Saturday, October 31, 2009

Mengajarkan Firman Tuhan - 1

Tugas hamba Tuhan adalah mengajarkan Firman Tuhan. Pada waktu berkhotbah, dia harus menguraikan dan menjelaskan Firman Tuhan dengan setia. Dia harus menggali Firman Tuhan, mengerti artinya dan merenungkannya, kemudian memikirkan cara bagaimana supaya dia bisa menyampaikannya dengan sebaik mungkin. Maka urutan logisnya adalah mengerti-merenungkan-menyampaikan.

Tanpa mengerti dan merenungkan, apa yang disampaikan? Tapi inilah kelemahan besar di dalam gereja. Coba lihat bagaimana orang Kristen menilai suatu khotbah. Ada yang merasa yang penting khotbahnya lucu, humornya segar. Sebaliknya ada yang sangat tidak senang dengan khotbah yang banyak humor karena khotbah menurut dia harus serius. Tapi yang diperhatikan hanyalah cara penyampaiannya! Lalu bagaimana isinya? Apa isinya? Apakah bagian yang akan dikhotbahkan itu sungguh dia baca, dia pikirkan, dia mengerti dan renungkan, sebelum dia sampaikan?

Khotbah yang main-main, bukanlah khotbah yang banyak humor tetapi khotbah yang tidak dipersiapkan dengan baik. Khotbah yang serius, bukanlah khotbah yang disampaikan dengan muka serius dan suara berteriak tetapi khotbah yang dipersiapkan dengan baik. Prosesnya? Mengerti-merenungkan-menyampaikan.

Mengerti - Semua orang bisa merasa mengerti padahal tidak. Firman Tuhan bisa dimengerti dalam berbagai lapisan makna, bisa sangat sederhana dan bisa sangat dalam. Sayangnya banyak yang berhenti di makna yang sederhana saja dan tidak menggali lebih dalam. Coba tanya kepada pengkhotbah yang saudara kenal, waktu yang dia pakai untuk mempersiapkan 1 khotbah? Coba tanya juga, kapan terakhir dia membaca buku teologi atau tafsiran yang baik? Buku rohani apa yang dia baca? Berapa banyak yang dia baca? Saudara mungkin akan kaget mendengar jawabannya (kalau saudara tidak kaget, mungkin karena saudara juga tidak mengerti seberat apa seharusnya tugas seorang pengkhotbah). Di sisi yang lebih ekstrim, banyak orang bahkan salah mengerti Firman, seperti para pekabar Injil kemakmuran, tetapi celakanya mereka justru sangat populer. Mereka bisa pintar bicara, contoh yang mengena, ilustrasi yang menyentuh, kutipan Firman Tuhan yang terasa tepat, maka jemaat pun mengalir datang. Tetapi mengerti Firman bukan tugas mudah.

Merenungkan - Firman Tuhan harus direnungkan oleh si pengkhotbah. Seorang pengkhotbah harus menyampaikan apa yang dia percaya adalah kebenaran dan dia gumuli di hadapan Tuhan dengan kesungguhan. Maka dia harus merenungkannya dulu.

Menyampaikan - Kalau dua hal di atas sudah baik, sangat sayang kalau di bagian ini dia kurang baik. Dia harus berpikir bagaimana pendengarnya mengerti apa yang sudah dia mengerti dan renungkan.

Ini tugas hamba Tuhan dan saya sangat sedih dengan banyaknya hamba Tuhan yang tidak lagi menjalankan tugas ini dengan baik. Saya tidak katakan saya sudah baik karena saya juga masih terus bergumul untuk tugas ini. Setiap jemaat harus mendukung hamba Tuhan, orang yang mereka pisahkan khusus untuk melayani Firman Tuhan, untuk mengajarkan Firman Tuhan dengan baik. Sayangnya, jemaat hanya puas dengan penyampaiannya atau pembawaannya yang berkharisma, atau dengan pelayanannya yang penuh perhatian, atau mungkin manajemennya yang luar biasa. Dan hamba Tuhan pun lupa tugas utamanya, mengajarkan Firman. Dan lingkaran ini akan masih terus berputar seperti ini.

Tuhan, kasihani kami!