Showing posts with label h. Seputar Ibadah. Show all posts
Showing posts with label h. Seputar Ibadah. Show all posts

Thursday, May 12, 2016

Hamba Tuhan: Role Model Dalam Ibadah

Ada satu peran hamba Tuhan di dalam ibadah yang jarang disadari: Menjadi role model.

Di banyak gereja, pada waktu ibadah, gembala dan juga hamba Tuhan lainnya biasanya akan duduk di barisan paling depan (di beberapa gereja, mereka bahkan duduk di mimbar menghadap jemaat). Satu hal yang sering tidak disadari, baik oleh hamba Tuhan maupun jemaat sendiri, selama ibadah berlangsung ada banyak mata yang akan berulang kali memperhatikan hamba Tuhan di depan itu. Bukan hanya pada waktu dia berdiri di mimbar memimpin pujian atau doa, bukan hanya ketika dia duduk menghadap jemaat, tetapi bahkan juga pada waktu dia duduk membelakangi jemaat.

Jemaat sendiri mungkin tidak terlalu sadar. Tetapi kalau saja dilakukan survei berapa banyak dan berapa sering jemaat "melirik" hamba Tuhan yang ada di depan membelakangi mereka, hasilnya bisa mengejutkan. 

Maka apa yang dilakukan hamba Tuhan di dalam ibadah akan mempengaruhi jemaat. Tentu pengaruhnya tidak akan langsung terasa, tetapi bertahap dan menyebar. Setelah berbulan-bulan atau mungkin beberapa tahun, pengaruhnya akan terlihat. 

Kalau hamba Tuhan tidak serius beribadah, sering keluar di tengah ibadah, menerima telpon, main handphone, ngobrol, maka jemaat sangat mungkin juga akan tidak serius beribadah. Mungkin banyak yang akan bolak-balik keluar, bercanda, bisik-bisik di tengah ibadah, dst. Kalau hamba Tuhan sikapnya dari belakang terlihat tidak serius menyanyi, misalnya tengok kiri kanan, melipat tangan, menengok ke belakang, atau apa lah yang ketahuan sama jemaat, maka jemaat sangat mungkin juga tidak akan serius menyanyi. 

Tentu sikap hamba Tuhan bukan satu-satunya faktor yang menentukan keseriusan jemaat dalam beribadah. Tetapi, sulit dipungkiri, itu faktor yang ikut menentukan.

Saya pernah beberapa kali melayani di gereja yang sangat jelas hamba Tuhan nya tidak serius beribadah. Suasana ibadah di situ sangat terasa berantakan. Ketika gereja itu kemudian berganti gembala, dan beberapa waktu kemudian saya kembali melayani di sana, saya terkejut melihat perubahannya. Jemaat menyanyi dengan sungguh dan mendengar khotbah dengan serius. Dari sekian banyak penyebab yang mungkin, tidak bisa dipungkiri salah satunya adalah faktor teladan hamba Tuhan nya. Sepanjang ibadah, dia duduk di depan, menyanyi dengan sungguh, dan serius mendengarkan khotbah.

Saya ingat Prof. Bruce Leafblad pernah berkata, "Jangan tanya apakah hamba Tuhan menjadi role model atau tidak di dalam ibadah. Jawabannya: Pasti!" Pertanyaannya apakah dia role model yang baik atau buruk.

Maka caveat pastor!

Thursday, March 24, 2016

Broken and Spilled Out

Pada kebaktian Jumat Agung di GKY Singapore, empat tahun yang lalu, paduan suara menyanyikan lagu Broken and Spilled Out dari Steve Green. Di malam menjelang peringatan Jumat Agung ini, saya kembali mendengarkan lagu itu dan merenungi lagi kata-katanya.

Steve Green mengambil syair ini dari kisah di dalam Injil. Saya kira dia mengambil syair lagunya dari Matius 26.6-13/Markus 14.3-9/Yohanes 12.1-8 (walaupun kisah yang serupa juga ada di Lukas 7.36-50), yaitu ketika Maria mengurapi Yesus di Betania beberapa hari sebelum Jumat Agung. Yesus sendiri berkata tentang peristiwa itu, "Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan utuk penguburan-Ku" (Mrk 14.8).

Klip video di bawah ini dibuat oleh istri saya beberapa tahun lalu:



One day a plain village woman
Suatu hari ada seorang wanita desa yang sederhana
Driven by love for her Lord 
Digerakkan oleh kasih kepada Tuhan-nya
Recklessly poured out a valuable essence
Dengan sembrono menuangkan minyak wangi yang berharga
Disregarding the scorn
Tanpa mempedulikan cemoohan
And once it was broken and spilled out
Dan begitu (botol) minyak wangi itu dipecahkan dan ditumpahkan
A fragrance filled all the room
Bau wangi memenuhi seluruh ruangan
Like a pris'ner released from his shackles
Seperti tahanan yang dibebaskan dari ikatannya
Like a spirit set free from the tomb
Seperti roh yang dibebaskan dari kuburan

Tiba-tiba di tengah lagu ini, subjek dan objeknya berubah. Bukan lagi tentang "wanita itu" tetapi tentang "saya". Dan di akhir bagian ini, bahkan bukan lagi tentang "minyak wangi yang ditumpahkan" tetapi tentang "saya yang rela ditumpahkan".

Broken and spilled out
Dipecahkan dan ditumpahkan
Just for love of you Jesus
Hanya karena kasih untuk-Mu Yesus
My most precious treasure lavished on Thee
Hartaku yang paling berharga dihamburkan pada-Mu
Broken and spilled out
Dipecahkan dan ditumpahkan
And poured at Your feet
Dan dituangkan pada kaki-Mu
In sweet abandon, let me be spilled out
Dalam penyerahan yang manis, biarkan aku ditumpahkan
And used up for Thee
Dan dipakai habis untuk-Mu

Di bagian akhir lagu ini, sekali lagi subjek dan objeknya berubah. Kali ini, bukan lagi wanita itu dan bukan lagi saya yang menumpahkan minyak wangi, tetapi Allah! Bukan lagi tentang minyak wangi atau saya yang ditumpahkan, tetapi Yesus!

Lord You were God's precious treasure
Tuhan Engkau adalah harta Allah yang berharga
His loved and His own perfect Son
Anak-Nya sendiri yang dikasihi dan sempurna
Sent here to show me the love of the Father
Diutus untuk menunjukkan kepadaku kasih Bapa
Just for love it was done
Untuk kasih itu dilakukan
And though You were perfect and holy
Dan sekalipun Engkau sempurna dan kudus
You gave up Yourself willingly
Engkau memberikan diri-Mu dengan rela
You spared no expense for my pardon
Engkau tidak menyayangkan apapun demi pengampunanku
You were used up and wasted for me
Engkau dipakai habis dan dihamburkan untukku

Broken and spilled out
Dipecahkan dan ditumpahkan
Just for love of me Jesus
Hanya karena kasih untukku Yesus
God's most precious treasure lavished on me
Harta Allah yang paling berharga dihamburkan padaku
You were broken and spilled out
Engkau dipecahkan dan ditumpahkan
And poured at my feet
Dan dituangkan pada kakiku
In sweet abandon Lord
Dalam penyerahan yang manis Tuhan
You were spilled out and used up for me
Engkau ditumpahkan dan dipakai habis untukku

Segalanya menjadi terbalik!. Kita pikir kita yang mengasihi Allah. Kita pikir kita yang memecahkan dan menumpahkan harta kita, diri kita, segala yang berharga bagi kita, untuk Yesus. Tetapi Allah sudah memecahkan dan menumpahkan Yesus untuk kita. Harta Allah yang paling berharga dihamburkan pada kita! Dia dipecahkan, ditumpahkan, dan seperti - saya tidak tega bahkan untuk menuliskan ini - dituangkan pada kaki kita. Oh Tuhan, how can it be! 

Yesus ditumpahkan dan dipakai habis untuk kita. Bisakah kita tidak melakukan yang sama - yang sebenarnya jauh jauh jauh lebih rendah dari yang dilakukan Allah?

Maka dua kalimat ini terngiang-ngiang di telinga saya:

In sweet abandon Lord, You were spilled out and used up for me.
In sweet abandon, let me be spilled out and used up for Thee. 

Selamat Jumat Agung dan Paskah!

Monday, August 10, 2015

Fotografer Dalam Ibadah

Sangat sering di dalam ibadah (apalagi yang sifatnya “khusus” seperti Natal, Paskah, HUT gereja, dll), atau di dalam session waktu Retreat, ada fotografer.

Saya tahu bahwa kadang kita ingin ada dokumentasi. Kita ingin mengabadikan suasana events yang khusus. Foto-foto itu kita pikir mungkin akan berguna di masa depan, untuk mengenang apa yang terjadi di gereja kita, seperti apa suasananya dulu, siapa saja yang datang, siapa yang pernah terlibat, dan lain sebagainya.

Tetapi jarang sekali kita berpikir kerugian adanya fotografer di dalam ibadah. Juga hampir tidak pernah kita menimbang seberapa penting foto-foto itu dibanding dengan kerugian yang ditimbulkan.

Mari kita pikirkan ulang beberapa hal:

1. Apakah keberadaan fotografer mengganggu jemaat yang beribadah?
Biasanya fotografer akan berjalan kesana kemari, baik di depan mimbar, kadang bahkan di belakang mimbar menghadap jemaat (!), kadang di baris samping. Kalaupun dia tidak berjalan-jalan, atau bahkan sekalipun dia hanya menggunakan handphone, tangannya yang terangkat jelas mengganggu jemaat di samping dan belakangnya. Bagaimanapun akan sangat mencolok bahwa dia adalah satu-satunya orang di situ yang aktivitasnya beda dengan jemaat lain. Sementara yang lain menyanyi dan mendengar khotbah, dia memegang kamera, mengarahkan kamera, dan memeriksa hasil foto di kamera. Lalu jemaat juga akan mendengar bunyi langkah dia (apalagi waktu berdoa) dan melihat lampu kilat yang menyala berkali-kali. Sulit untuk berkata dia tidak mengganggu.

2. Masih terkait dengan point di atas, sebagian orang menjadi tidak tenang ketika sadar bahwa dia bisa difoto kapan saja. Bagaimana dia bisa sepenuh hati memuji Tuhan ketika dia sadar kamera sedang diarahkan kepadanya (apalagi kalau dia tipe yang sangat sadar kamera). Ditambah lagi ketika dia sedang berdoa, dia mendengar bunyi shutter kamera sangat dekat di depannya. Lalu sambil mengintip dia melihat sang fotografer baru saja berjalan meninggalkan dia! Wah… saya difoto! Bagaimana ya tadi ekspresi saya? :-( 
 
3. Mungkin ini yang terpenting, pernahkah kita berpikir tentang si fotografer sendiri?
Hampir selalu fotografer itu adalah salah satu anggota jemaat. Di saat yang lain memuji Tuhan dengan suara dan alat musik, dia sibuk mencari "the perfect shots". Di saat yang lain mendengar Firman Tuhan, dia sibuk memeriksa hasil foto di kamera. Di saat yang lain mencari wajah Tuhan, dia sibuk mencari wajah yang pas untuk difoto. Apa yang dia dapat dari semuanya? Hanya kepuasan seorang fotografer dan bukan kepuasan seorang anak Tuhan yang berjumpa dengan Bapa sorgawi.

Bisakah kita memperhitungkan semua hal di atas dan memikirkan alternatif yang lebih baik? Kita perlu mencari keseimbangan antara kebutuhan dokumentasi dan meminimalisasi potensi kerugian yang ada.

Mari kita pikirkan dulu betulkah kita membutuhkan dokumentasi? Di zaman sekarang, orang cenderung ingin mendokumentasikan virtually anything and any moment. Tapi pikirkan dulu betulkah di acara itu kita membutuhkan dokumentasi? Pikirkan dulu apa kegunaannya. Banyak foto dokumentasi yang tidak pernah dilihat lagi sama sekali.

Kalau memang jawabannya adalah "ya, kita membutuhkan foto-foto itu", maka coba tanya lagi foto apa dan di bagian mana yang kita butuhkan? Kalau memang kita hanya butuh dokumentasi suasana ibadah, beberapa foto jemaat, lalu pelayan ibadah, maka batasi itu saja yang diambil. Tidak setiap momen dan bagian perlu difoto. Kadang di dalam Retreat, fotografer sibuk mengambil foto di setiap session padahal suasananya selalu sama saja. Dan berapa banyak foto yang kita butuhkan (bukan inginkan!)? Fotografer cenderung restless, terus ingin mengambil foto, menunggu perfect moments dan mendapatkan the perfect shots. Padahal sikap seperti itulah yang mengganggu ibadah. Prinsipnya adalah fotografer harus mengambil foto sesedikit mungkin dan bukan sebanyak mungkin!

Alangkah baiknya kalau ada perencanaan yang sangat baik sebelum ibadah:

- Foto momen apa yang sangat dibutuhkan? Ingat, bukan yang sangat diinginkan.
- Seperti apa acaranya dan dari posisi mana dia harus mengambil foto (yang tidak mengganggu jemaat).
- Uji coba dulu sebelum acara dimulai. Seringkali banyaknya foto yang diambil adalah karena keamatiran si fotografer yang salah setting pencahayaan di kamera.
- Lalu karena fotografer tidak boleh berjalan-jalan pada waktu ibadah, maka berapa fotografer yang dibutuhkan untuk duduk di sudut yang berbeda? Lalu bagi tugas siapa yang mengambil foto untuk momen apa. Bukan semua fotografer sama-sama mengambil foto untuk momen yang sama dengan dalih dari sudut yang berbeda.

Sekali lagi, ingat prinsipnya adalah fotografer harus mengambil foto sesedikit mungkin dan bukan sebanyak mungkin! Saya tahu ini berlawanan dengan keinginan kita yang selalu mau foto sebanyak-banyaknya. Tapi terakhir, mari pikikan berapa keuntungannya dibanding kerugiannya.

Apa keuntungan dari banyaknya foto yang didapat? Apa keuntungan mendapatkan banyaknya perfect moments yang terekam – ekspresi orang yang berdoa dengan khusuk, ekepresi satu keluarga yang bergandengan tangan waktu menyanyi, suasana sukacita jemaat, dst? Foto-foto itu akan jarang dilihat. Hanya akan dipajang sebentar di depan gereja. Atau mungkin akan dipilih untuk dimasukkan ke dalam buku kenang-kenangan nanti. Seberapa keuntungan gereja dengan adanya foto-foto itu? Saya tidak berkata tidak ada gunanya sama sekali, tapi untuk kegunaan itu berapa banyak sih foto yang dibutuhkan?

Sementara itu, apa kerugiannya? Sebagian jemaat akan merasa terganggu. Ada sesuatu yang hilang di dalam momen ibadah bagi mereka. Dan yang paling penting, pikirkan fotografernya! Waktu untuk si fotografer beribadah menjadi hilang. Kalau itu di Retreat, waktu dia untuk retreat – tenang, mundur, menikmati Tuhan, menjadi hilang karena konsentrasi pada foto. Nilai kerugian seperti ini tidak pernah bisa diukur. Kita tidak merasakan kerugian itu. Fotografer itu juga tidak merasa rugi karena kerugian rohani selalu tidak bisa diukur. Tapi kerugian itu jelas ada.

Saya tidak bilang kita sama sekali tidak boleh ada fotografer dalam ibadah, tapi pertimbangkan juga kerugiannya. Carilah keseimbangan antara kebutuhan dokumentasi (ingat lagi: bukan keinginan!) dan meminimalisasi potensi kerugian yang ada.

Monday, October 06, 2014

Menyusun (Tema) Khotbah Dalam Kebaktian

(Tulisan yang cukup panjang ini terutama adalah untuk rekan-rekan yang bertanggung jawab menyusun tema khotbah “apa yang akan dikhotbahkan” dalam kebaktian di gereja. Berharap ini bisa menjadi bahan diskusi yang membangun.)

Salah satu elemen di dalam kebaktian yang dianggap sangat penting oleh gereja-gereja Protestan adalah khotbah atau penyampaian Firman Tuhan. Maka bagaimana menentukan “apa yang akan dikhotbahkan” menjadi sangat penting.

Ada beberapa cara yang biasa dipergunakan oleh gereja-gereja dalam menentukan “apa yang akan dikhotbahkan”. Tetapi, cara yang paling populer dilakukan oleh gereja-gereja Protestan di Indonesia adalah “menyusun tema khotbah”. Saya ingin mengevaluasi cara ini lalu memberikan beberapa cara alternatif dalam menyusun “apa yang akan dikhotbahkan”.

Menyusun tema khotbah” - biasanya tema akan disusun sekaligus untuk 1 tahun. Cara penyusunannya bermacam-macam. Ada beberapa gereja yang memiliki “tema tahunan” lalu dibagi menjadi “tema bulanan” dan lalu “tema mingguan. Ada juga yang tidak sedetil itu pembagiannya.

Penyusunan tema dimaksudkan supaya seluruh kebaktian fokus pada tema itu. Baik lagu pujian, pembacaan Alkitab, kalimat liturgis, sampai khotbah semua harus sesuai dengan tema yang ditentukan. Tujuan kedua adalah untuk mencegah terjadinya pengulangan topik khotbah – minggu ini khotbah tentang A lalu minggu depan sama tentang A lagi. Diharapkan juga tema yang berbeda akan mendorong pengkhotbah untuk berkhotbah dari ayat Alkitab yang berbeda. Tujuan ketiga adalah supaya ada arah yang jelas apa yang akan dipelajari oleh jemaat dalam 1 tahun. Tema-tema itu seperti kurikulum pelajaran melalui khotbah.

Sayangnya banyak yang tidak pernah memikirkan kelemahan cara ini. Kelemahan dari cara ini adalah sebenarnya sangat sangat sangat (superlatif) sulit menyusun tema dengan baik.

Selama lebih dari 15 tahun saya memperhatikan, ketika diundang berkhotbah, banyak tema yang sangat buruk. Kadang saya tidak mengerti maksudnya, bukan karena tidak dijelaskan tetapi karena tidak masuk akal bagi saya. Kadang saya diberikan tema minggu itu disertai informasi tema-tema minggu sebelum dan sesudahnya, dan saya menemukan temanya sangat “kecil-kecil”, “beda-beda tipis” sampai tidak mungkin saya khotbahkan. Kadang bahkan temanya betul-betul tidak bisa dikhotbahkan! (Saya pernah mendapat tema “Eksposisi Eric Liddell”!)

Seringkali “Menyusun tema khotbah” justru membuat jemaat mendapat makanan yang sangat sempit! Setiap kita terbatas, buku yang kita baca terbatas, pemikiran kita terbatas. Waktu menyusun tema, kita akan menyusun apa yang kita tahu dan kita pikir baik. Padahal ada begitu banyak tema yang baik yang kita tidak tahu… yang tidak akan pernah dikhotbahkan kepada jemaat karena tidak pernah terpikir oleh kita! Sangat sayang! Penyusunan tema yang ketat (misalnya sesuai tema tahunan) juga menyebabkan selama setahun itu jemaat hanya akan mendengar khotbah seputar itu saja.

Keterbatasan kita juga menyebabkan tema yang kita pilih sebetulnya hanya itu-itu saja. Sekarang ini ketika diberikan tema untuk berkhotbah, hampir selalu saya sudah pernah mengkhotbahkan yang mirip! Tema-tema khotbah di gereja-gereja hanya itu-itu saja dan ada banyak tema yang tidak pernah disentuh. Izinkan saya bertanya, siapa yang pernah pernah mendengar khotbah tentang “singleness” (hidup tidak menikah), tentang perceraian dan menikah kembali, tentang menghadapi kematian, tentang panggilan dalam pekerjaan? Kapan pernah mendengarnya?

Yang parah, penyusunan tema seringkali seperti usaha yang sia-sia. Ketika ada tema tahunan yang diuraikan menjadi tema mingguan (apalagi ada tema bulanan juga), jujur, sebetulnya sangat dipaksakan. Hampir semua tema, apapun, bisa dipas-pasin ke dalam tema tahunan apapun! Silakan coba kalau tidak percaya. Ditambah lagi, tidak jarang saya mengamati pengkhotbah berkhotbah tidak sesuai dengan tema dan penyusunan tema menjadi percuma. Saya sendiri pernah menyusun tema khotbah untuk kebaktian, dan saya memperhatikan pengkhotbah yang berkhotbah sesuai dengan tema dan tujuan yang diinginkan tidak sampai 25%!

Selain itu, sebuah kebaktian yang berfokus kepada satu tema bisa menjadi baik tetapi juga bisa menjadi buruk. Kondisi setiap jemaat yang datang ke kebaktian berbeda-beda, pergumulan dan kebutuhan mereka berbeda. Misalnya saja hari itu ada jemaat yang sedang bergumul dengan penyakit kanker dan dia baru tahu jika usianya tidak akan lama lagi. Jika hari itu temanya adalah tentang bermisi, lalu seluruh lagu, ayat Alkitab, kalimat liturgis, dan khotbah semua mendorong untuk bermisi, bahkan pengakuan dosa pun tentang mengaku dosa karena kurang bermisi, apa yang dia rasakan? Saya tahu Tuhan bisa berbicara lewat apa saja. Tetapi alangkah berbedanya jika dalam kebaktian, elemen-elemen kebaktian menyampaikan hal yang berbeda-beda (tentu bukan kacau), misalnya ada lagu yang mengajak memuliakan Tuhan, ada yang bicara tentang penghiburan, kalimat liturgis mendorong untuk percaya kepada Tuhan, lalu khotbah tentang misi. Kebaktian akan seperti jaring yang “menangkap” dan “mengena” kepada banyak orang yang datang.

Kelemahan terakhir adalah masalah konsep. Cara “menyusun tema khotbah” ini menjadikan kebaktian seperti “class room” dengan kurikulum yang kita pikir terarah. Tetapi kebaktian bukanlah “classroom” – it’s a time to worship! Khotbah bukanlah untuk menggerakkan jemaat ke arah tertentu, tetapi menguraikan Firman Tuhan yang sangat kaya dan limpah yang berbicara di dalam kompleksnya kehidupan kita. It’s a time to worship!

Beberapa usulan saya jika ingin menggunakan cara ini:

1. Susun tema hanya untuk “pengkhotbah dalam”. Para pengkhotbah di dalam gereja itu bisa berkumpul dan mendiskusikan tema-tema yang ingin mereka masing-masing khotbahkan. Kadang saya diberikan tema yang saya sama sekali tidak mampu atau yang saya sama sekali tidak punya hati/beban untuk mengkhotbahkannya. Kesulitan-kesulitan ini muncul karena sebagai pengkhotbah tamu, saya tidak tahu dan tidak berbagian dalam pergumulan dan beban di balik penyusunan tema itu (sekalipun sudah dijelaskan!). Tetapi, akan berbeda jika yang menyusun tema adalah juga yang berkhotbah. Untuk pengkhotbah luar, bebaskan saja. Mungkin ada hal-hal yang mereka pikirkan yang kita tidak pernah pikirkan. Mungkin dia sedang sangat terbeban kepada sesuatu, dan kalau dia dibebaskan, dia akan menyampaikan tema itu dengan sangat baik. Saya sendiri merasa ketika mendapat kebebasan menentukan tema khotbah sendiri, hampir selalu saya berkhotbah lebih baik daripada ketika tema sudah ditentukan. Atau paling tidak, beri tahu dia tema tahunan kita, lalu apa saja yang sudah dikhotbahkan, dan minta dia mengusulkan tema yang dia rasa cocok.

2. Jangan terlalu kaku dengan “tema tahunan” apalagi “tema bulanan”. Boleh saja jika ingin ada tema tahunan tapi percayalah hampir semua tema bisa masuk di bawah payung tema tahunan itu – kadang hanya perlu sedikit twist saja! Pikirkan seluas-luasnya apa yang jemaat perlukan. Jangan juga berpikir hanya tematik karena khotbah bukanlah seminar tetapi penguraian Firman Tuhan. Selingi khotbah tematik dengan memikirkan bagian Alkitab mana yang akan dikhotbahkan dan dari bagian Alkitab itu baru munculkan temanya.

3. Mungkin bisa dicoba untuk tidak menyusun tema terlalu jauh ke depan. Craig Groeschel (penulis buku Christian Atheist) bercerita bahwa dia hanya bisa menyusun khotbah (kalau tidak salah) 2 bulan ke depan. Alasannya adalah kondisi jemaat akan berubah, dia tidak tahu apa yang akan terjadi 6 bulan lagi! Lagipula kondisi dia pun akan berubah, ada pergumulan yang baru, ada buku atau artikel yang baru dia baca, maka topik yang “hot” bagi dia akan berubah sesuai waktu. Kalau tema khotbah sudah disusun 1 tahun ke depan, maka kebebasan itu menjadi hilang.

4. Selalu ingat bahwa kebaktian kita bukanlah “classroom” dan bukan alat untuk menggerakkan orang. Kebaktian adalah kebaktian – a worship time where the people of God meet their God!

Alternatif cara lain untuk menentukan “apa yang akan dikhotbahkan”:

1. Menggunakan “Revised Common Lectionary” (RCL). Tidak terlalu banyak gereja di Indonesia yang menggunakannya tetapi ini dipergunakan oleh berbagai gereja di dunia termasuk Lutheran, Anglikan, Methodist, dan Presbyterian. RCL memberikan 4 bagian Alkitab setiap minggunya, masing-masing dari Mazmur, Perjanjian Lama lainnya, Injil dan Perjanjian Baru lainnya. Keempat bagian itu bisa dikhotbahkan sekaligus – karena berkaitan satu sama lain, tetapi juga bisa dipilih hanya 1 bagian saja. Bagian-bagian Alkitab itu disusun dengan memperhatikan 2 periode besar dalam kalender gereja yaitu Natal (dengan Advent sebagai persiapannya) dan Jumat Agung/Paskah (dengan Lent sebagai persiapannya dan Pentakosta sebagai penutupnya). Minggu-minggu di luar kedua periode itu, disebut sebagai “ordinary weeks”. Siklus RCL adalah 3 tahun, artinya setelah 3 tahun akan mengulang lagi. Tetapi, walaupun mengulang lagi belum tentu khotbahnya dari bagian yang sama karena jangan lupa setiap minggu ada 4 bagian Alkitab yang bisa dikhotbahkan. Selama 3 tahun itu juga, bagian-bagian Alkitab yang dimasukkan sudah mencakup hampir seluruh Alkitab. Akan terlalu panjang jika diuraikan detil cara penggunaannya di sini, tetapi kira-kira seperti itu.

Kelebihan dari penggunaan RCL adalah: 

Pertama, kalender gereja sangat diperhatikan. Kehidupan kita sebagai orang Kristen berpusat pada kehidupan Kristus: Natal, Jumat Agung, Paskah, Kenaikan, dan Pentakosta – Yesus mengutus Roh Kudus. Tahun demi tahun, kalender liturgi gereja membawa kita tenggelam lagi dan tenggelam lagi dalam makna kehidupan Kristen. Kalender gereja mengajar kita arti mengikut Yesus. Gereja Protestan di Indonesia cenderung hanya merayakan Natal, Jumat Agung, Paskah, lalu Kenaikan dan Pentakosta. Sebelum dan sesudah hari-hari raya itu tidak ada apa-apa, business as usual. Tidak banyak yang mempersiapkan Natal dengan Advent apalagi mempersiapkan Jumat Agung/Paskah dengan Lent. Berbagai peristiwa dalam kalender gereja seperti Rabu Abu dan Minggu Palem dicap sebagai “Katolik”. Bagi yang berpikir seperti itu, saya mohon, pelajari dulu!

Kedua, Alkitab dikhotbahkan dengan merata. Seorang pengkhotbah pernah berkata, “Alkitab orang Kristen lebih tipis dari Alkitab” karena seumur hidup mungkin hanya sedikit bagian Alkitab yang pernah kita dengar dikhotbahkan. Sisanya tidak pernah disentuh oleh pengkhotbah. Tetapi mengikuti RCL memaksa untuk pengkhotbah mengkhotbahkan hampir seluruh bagian Alkitab.

2. Cara lain adalah mengkhotbahkan satu atau beberapa bagian dari setiap kitab dalam Alkitab. Cara ini membuat jemaat mendengar, membaca dan menangkap pesan, paling tidak sebagian dari setiap kitab dalam Alkitab. Tujuannya juga supaya orang Kristen melihat benang merah sejarah keselamatan di dalam Alkitab. (Saya mendapat usulan cara ini dari D.A. Carson).

3. Eksposisi per kitab. Cara ini menolong jemaat mendengar pesan keseluruhan kitab itu dan melihat keseluruhan ayat di dalam konteksnya – bukan sekedar comot ayat. Variasinya adalah dengan membahas seri tema-tema Alkitab (Biblical themes). Keduanya bisa dilakukan bergantian. Pembahasan per kitab menolong jemaat mengerti satu kitab sebagai satu kitab yang utuh, pembahasan tema Alkitab menolong jemaat melihat benang merah antar kitab.

Cara no.1-3 di atas memperhatikan supaya Alkitab dikhotbahkan dengan lebih utuh. Begitu banyak liku-liku hati manusia yang sangat kompleks yang hanya bisa ditelusuri dan ditembusi dengan membiarkan Alkitab yang kompleks dikhotbahkan dengan utuh. Sebaliknya khotbah tematik secara terus menerus akan mendiskon banyak sekali berita Alkitab.

4. Membebaskan setiap pengkhotbah untuk memilih tema khotbahnya sendiri. Salah satu alasan menggunakan cara ini adalah karena khotbah di dalam ibadah bersifat inspiratif – berupa pergumulan, kerinduan dan pesan yang Tuhan tanamkan dalam diri pengkhotbah. Syaratnya hanya satu: Undanglah pengkhotbah yang terus belajar dan mempersiapkan khotbah dengan baik.

Saya sendiri pernah mengalami selama bertahun-tahun berada di gereja yang tidak menyusun tema sama sekali, kecuali untuk hari-hari raya dalam kalender gereja dan hari-hari khusus seperti HUT, Mother’s Day, Father’s Day. Saya berani meyakinkan bahwa hampir tidak pernah ada pengkhotbah yang “bentrok” – minggu ini khotbahnya sama dengan minggu lalu (seingat saya hanya pernah 1X terjadi selama lebih dari 8 tahun dan itupun hanya bagian Alkitabnya yang sama tapi khotbahnya beda). Juga tidak pernah terasa ketidakcocokan antara lagu dan khotbah. Bahkan seringkali kaget menemukan bagaimana pembacaan Alkitab, kata-kata liturgis, lagu pujian, dan khotbah bisa saling melengkapi dengan unik!

5. Mencampur cara-cara di atas :-)

Tidak semua orang akan setuju dengan apa yang saya tuliskan di atas. It’s ok! :-) Mungkin ada hal-hal yang saya salah atau kurang tepat. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa menentukan “apa yang akan dikhotbahkan” tidak sesederhana “menyusun tema khotbah”. Saya juga tidak bermaksud meremehkan gereja-gereja yang “menyusun tema khotbah” – mungkin anda berhasil menyusunnya dengan baik. Saya hanya berharap tulisan ini menolong kita untuk berdiskusi dan berpikir dengan lebih kritis. May the Lord help us all!

Tuesday, September 23, 2014

Natal Sebelum/Sesudah 25 Desember?

Natal masih tiga bulan lagi. Tapi justru karena itulah saya menulis ini. Mudah-mudahan belum
terlambat untuk menjadi bahan pertimbangan.

Banyak gereja dan persekutuan yang mengadakan kebaktian dan perayaan Natal jauh sebelum atau jauh sesudah tanggal 25 Desember. Mungkin di awal Desember atau bahkan di akhir November, mungkin di Januari atau bahkan di Februari! Alasannya? Sangat praktis.

Ada yang beralasan biasanya tanggal 25 Desember banyak jemaat yang tidak berada di tempat. Bagi gereja di luar negeri, mungkin banyak jemaatnya yang pulang ke Indonesia. Bagi gereja di dalam negeri, mungkin banyak jemaatnya yang pergi liburan. Maka untuk menghindari sepinya kebaktian dan perayaan Natal, solusinya adalah mengadakannya jauh lebih awal. Ada juga yang beralasan (biasanya berbagai persekutuan – persekutuan keluarga besar, daerah, suku, kantor, dsb) bahwa periode sekitar Natal semua anggotanya sedang sibuk dengan kegiatan di gereja masing-masing. Maka supaya mereka mau hadir dan tidak mengganggu kegiatan gereja, solusinya adalah mengadakannya jauh sesudah periode Natal.

Di dalam gereja sendiri, berbagai persekutuan rumah tangga dan komisi, masing-masing juga merayakan Natal. Maka di waktu-waktu sekitar Natal, kadang kita bisa bercanda: “Udah berapa kali Natal?” atau “Ini Natal yang ke berapa nih?”

Kita memang tidak tahu pasti kapan tanggal Yesus dilahirkan di bumi (dan kemungkinan besar memang bukan 25 Desember!). Yesus juga tidak pernah minta dirayakan ulang tahunnya. Lagipula, mengenang akan inkarnasi Yesus untuk menyelamatkan kita dan merenungkan kehadiran Yesus yang menjadi terang dunia, adalah sesuatu yang cocok untuk dilakukan oleh kita setiap saat. Maka tidak ada yang salah dengan merayakan Natal di bulan November, Februari atau Juli sekalipun! Tidak ada yang salah juga dengan merayakan Natal berkali-kali!

Tetapi, secara kesatuan orang percaya, saya kira ada baiknya jika semua orang Kristen fokus merayakan Natal di tanggal 25 Desember. Ada dua alasan:

Pertama, sekalipun 25 Desember bukanlah “hari ulang tahun” Yesus, tetapi sejak sekitar abad ke-4, mayoritas gereja di seluruh dunia sudah membaptis tanggal itu menjadi waktu mengingat dan merayakan kelahiran Yesus ke dalam dunia. Alangkah indahnya berbagi sukacita dengan orang-orang percaya di seluruh dunia ketika kita merayakan kelahiran Yesus pada waktu yang hampir bersamaan (hanya masalah perbedaan zona waktu).

Kedua, kalau semua gereja merayakan Natal di tanggal 25 Desember, di belahan dunia manapun seorang Kristen berada pada tanggal 25 Desember, dia akan bisa ikut merayakan Natal di situ bersama dengan orang-orang Kristen lainnya. Bayangkan kasihannya, misalnya ada seorang Kristen dari Jakarta yang harus bepergian ke Singapore pada tanggal 25 Desember. Di sana dia mencari gereja Indonesia untuk merayakan Natal dan ternyata gereja itu sudah merayakan Natal tiga minggu sebelumnya! Bayangkan juga anehnya, misalnya ada seorang Kristen dari Indonesia yang tinggal di Singapore. Gerejanya di Singapore merayakan Natal pada minggu pertama Desember. Setelah perayaan Natal disitu, dia pulang ke Jakarta dan menemukan bahwa minggu berikutnya di gerejanya di Jakarta masih minggu Advent – mempersiapkan dia menyambut Natal! Kalau dia sangat menghayati perayaan Natal di gerejanya di Singapore, maka dia akan merasa aneh sekali karena setelah merayakan Natal sekarang Advent lagi. Kalau dia tidak merasa ada yang aneh maka mungkin dia memang tidak peduli dengan semuanya. Merayakan Natal bersama di tanggal 25 Desember mencerminkan kesatuan gereja.

Bagi berbagai persekutuan yang merayakan Natal, baik sebelum atau sesudah 25 Desember, sekalipun secara teologis tidak salah, tetapi sebetulnya agak aneh. Bukankah anggota persekutuan itu akan atau sudah merayakan Natal di gereja masing-masing? Mengapa mereka harus sekali lagi mengulang semuanya – biasanya lagi-lagi lengkap dengan lagu Natal, drama Natal, candle light, dsb? Apa maknanya?

Demikian pula dengan berbagai komisi di dalam gereja yang merayakan Natal – biasanya sebelum 25 Desember. Masing-masing juga merayakannya lengkap dengan semua atribut kebaktian Natal. Lalu apa lagi maknanya perayaan Natal bersama sebagai gereja di kebaktian Natal gereja? Tidak masalah jikalau ingin menggunakan momen itu sebagai KKR atau acara khusus untuk mengundang orang belum percaya, tapi mengapa disebut sebagai kebaktian Natal dan semua atribut acaranya persis dengan perayaan Natal di gereja (umum)?

Saya mengerti kesulitan gereja-gereja di luar negeri yang banyak jemaatnya pulang liburan pada waktu Natal tetapi ingin punya waktu merayakan Natal bersama sebagai gereja. Saya usul supaya tetap menyebutnya sebagai minggu Advent saja. Silakan ada drama, liturgi khusus, berbentuk KKR, atau apa saja, tetapi tetap pertahankan itu sebagai minggu Advent. Tetap persiapkan jemaat untuk merayakan Natal di gereja manapun nanti mereka akan berada dan tetap rayakan Natal pada tanggal 25 Desember bagi jemaat yang masih tinggal di tempat dan bagi semua tamu yang datang.

Saya juga mengerti keinginan komisi di dalam gereja dan berbagai persekutuan lain untuk memanfaatkan momen Natal sebagai waktu yang khusus. Saya usul untuk menyebutnya sebagai “Persekutuan Khusus Menjelang Natal” (atau ada usulan lain yang lebih kreatif?).
Maka setiap jemaat, dipersiapkan, mengharapkan, menujukan pandangan ke tanggal 25 Desember, dimana bersama-sama sebagai gereja kita merayakan Natal.
Bagi persekutuan yang mengadakan Natal di bulan Januari atau Februari, saya usul sebaiknya tidak usah. Lebih baik adakan saja “Persekutuan Tahun Baru”.

Apa yang saya tuliskan di atas bukan “hukum mutlak” dan saya tidak anti dengan perayaan Natal sebelum/sesudah 25 Desember. Saya juga tidak anti dengan 10X merayakan Natal. Tetapi, paling tidak saya mohon supaya tulisan ini bisa dipertimbangkan di dalam konteks masing-masing. Selamat mempersiapkan Natal!

Thursday, February 14, 2013

Lent

Hidup kita terbentuk oleh pergantian tahun. Ada tahun-tahun dimana kita masih kecil, remaja, pemuda, dewasa, setengah baya dan menjadi tua. Kalender dipakai untuk menandai peristiwa-peristiwa itu, dimulai pada 1 Januari dan diakhiri pada 31 Desember. Setiap tahun hidup kita berjalan dalam kalender itu.

Kalender liturgi gereja (liturgical year) tidaklah sama dengan kalender biasa. Kalender liturgi gereja berpusat pada misteri hubungan Allah dan manusia. Waktu ditandai bukan dengan tanggal tapi dengan peristiwa-peristiwa penting bagi iman kita. Maka kalender liturgi gereja tidak dimulai pada 1 Januari, tapi pada minggu pertama Advent, mempersiapkan kita menyambut Natal. Tonggak berikutnya adalah masa Lent, mempersiapkan kita memasuki Jumat Agung dan Paskah. Berikutnya adalah Kenaikan Yesus, Pentakosta, dan akhirnya kembali ke masa Advent.

Tahun demi tahun, kalender liturgi gereja membawa kita tenggelam lagi dan tenggelam lagi dalam makna kehidupan Kristen. Kita bukan hanya mengingat: Yesus lahir, mati dan bangkit untuk kita, tapi kita dibawa untuk mencocokkan diri kembali dengan apa yang Allah kerjakan bagi kita. Tahun ini kita merenungkan Natal, lalu minta ampun dosa waktu Jumat Agung dan Paskah, tahun depan kita kembali melakukan yang sama. Tapi tiap tahun, kita diajak untuk melihat apakah kita makin mengikuti Yesus? Apakah kita bertumbuh makin mencintai Yesus? Kalender liturgi gereja mengajar kita arti mengikut Yesus.

Dua bulan lagi kita akan merayakan Jumat Agung dan Paskah. Sebelum itu, ada masa Lent. Masa ini adalah masa merendahkan diri di hadapan Tuhan. Masa ini mengajak kita sadar bahwa kita adalah manusia yang berdosa dan hina. Tanpa kasih Tuhan, kita semua pasti binasa! Maka selama masa ini, kita banyak berdoa, berpuasa, dan memohon ampun dosa. Secara khusus kita mendekatkan diri kepada Tuhan dan menjauhkan diri dari berbagai hal yang mengalihkan perhatian kita dari Tuhan. Seperti masa Advent mempersiapkan kita menyambut Natal, demikianlah masa Lent mempersiapkan kita menyambut Jumat Agung dan Paskah.

Masa Lent diawali pada hari Rabu yang sering disebut sebagai Rabu Abu (Ash Wednesday). Di banyak gereja, biasanya waktu itu jemaat akan diberikan tanda salib di dahinya dengan abu. Di dalam Alkitab, abu di kepala adalah tanda berkabung. Tapi abu juga adalah simbol dari kefanaan kita, bahwa kita dicipta dari debu dan akan kembali menjadi debu.

Makna dari seluruh upacara tersebut adalah merendahkan diri, berduka atas dosa, dan mengingat bahwa kita adalah manusia yang fana. Kita hanya manusia, diciptakan dari debu dan akan kembali menjadi debu! Dan setelah itu bertanggung jawab kepada Tuhan.

Banyak orang Kristen di Indonesia yang berpikir bahwa Rabu Abu - dan juga Lent - adalah ‘milik’ gereja Katolik. Tetapi ini bukan tradisi milik gereja Katolik. Gereja mula-mula mulai memasukkan Lent di dalam kalender gereja mungkin sejak abad ke-2 atau ke-3, sekitar 1800 tahun yang lalu (sebelum ada pembedaan Katolik dan Protestan). Dan sekarang ini berbagai gereja di dunia dari Katolik, Lutheran, Presbiterian, Reformed, Methodis, Anglikan, dan Baptis, melakukannya.

Tahun ini, GKY Green Ville akan ikut menjalankan tradisi ini. Sesuai kalender gereja seluruh dunia, masa Lent akan dimulai pada hari Rabu tanggal 13 Februari. Maka di dalam Persekutuan Doa hari Rabu itu, kita akan bersama memulai masa Lent dengan Rabu Abu. Kita akan merenungkan kehidupan kita yang fana dan membutuhkan Tuhan. Setelah itu minggu demi minggu menjadi masa kita mempersiapkan diri memasuki Jumat Agung dan Paskah.

Tepat satu minggu sebelum Paskah nanti adalah Minggu Palem - Minggu memperingati Yesus masuk ke Yerusalem dan kemudian mati disalibkan di sana. Minggu Palem mengajak kita menyadari betapa bedanya menyembah Yesus “di mulut” dan “di hati”, seperti orang banyak yang bersorak “Hosana” dan “salibkan Dia”.

Minggu itu juga disebut sebagai Minggu Sengsara karena di situ Yesus bergumul dengan berat menjelang naik ke kayu salib. Di minggu itu, seluruh kuasa kegelapan bersatu melawan Allah. Dia pasti mati! Tapi bukan kematian biasa karena Yesus sendiri yang memilih untuk sengsara dan mati bagi kita. Selama minggu sengsara itu kita akan berpuasa dan berdoa lebih lagi, sampai akhirnya tiba Jumat Agung dan Paskah.

Mari siapkan diri kita untuk memasuki masa Lent ini. Jumat Agung dan Paskah sudah dekat!

Friday, January 04, 2013

Ibadah dan Misi

Sebagian orang Kristen melebih-lebihkan hubungan gereja dengan misi. Mereka mengatakan “Gereja ada untuk misi” atau “Gereja kalau tidak bermisi bukan gereja”, dst. Kalimat-kalimat seperti itu salah! Gereja ada bukan untuk misi! Gereja ada untuk menyembah Allah!

Maka kalimat Piper di dalam bukunya sangat tepat: Mission begins and ends in worship. Orang-orang yang menyembah Allah akan bermisi di dalam dunia seperti Allah. Dan tujuan dari semua misi adalah supaya ada lebih banyak lagi penyembahan kepada Allah. Maka benar: Mission begins and ends in worship!

Ketika gereja tidak bermisi, mungkinkah kesalahannya adalah pada ibadah kita? Ibadah seperti apa yang selama ini kita lakukan, yang tidak menyebabkan jemaat rindu melakukan sesuatu di dunia untuk Tuhan? Ibadah seperti apa yang selama ini kita lakukan, yang hanya membuat orang Kristen nyaman?

Jangan cepat mengambil kesimpulan dulu. Tidak berarti gereja yang bermisi pasti dimulai dari ibadah yang baik. Banyak gereja dan orang Kristen menjalankan misi tanpa mengerti ibadah yang sesungguhnya dan tanpa penyembahan yang mendalam kepada Allah. Maka mereka melakukan misi mulai dari starting point yang salah dan juga untuk tujuan yang salah.

Banyak orang melakukan misi tanpa kedekatan dengan Allah, tidak dimulai dari ibadah tapi hanya dari kesukaan akan aktifitas misi atau dari kewajiban. Dan misi seperti inilah yang nantinya menghasilkan kedangkalan iman Kristen di ladang misi.

Mari bangun ibadah yang benar, yang akan mendorong orang bermisi sesuai kehendak Tuhan, dengan tujuan lebih banyak lagi orang beribadah kepada Allah yang hidup.

Wednesday, May 16, 2012

Kebaktian Kenaikan Tuhan Yesus

Bukan rahasia lagi, kenaikan Tuhan Yesus ke sorga adalah hari raya dalam kalender gereja yang paling tidak dipedulikan oleh orang Kristen. Sangat beda dengan Natal, Jumat Agung, dan Paskah, kenaikan Tuhan Yesus diingat pun tidak, ditanya kapan tanggalnya pun tidak, setelah tahu lalu berniat untuk pergi pun tetap tidak.

Banyak orang mungkin merasa apalah salahnya tidak merayakan kenaikan Tuhan Yesus. Seperti juga banyak orang merasa apalah salahnya tidak merayakan Natal, Jumat Agung atau Paskah. Atau bahkan seperti sebagian orang merasa apalah salahnya tidak kebaktian di gereja. Yang penting bukan ke gereja, tapi tindakan nyata, aplikasi Firman Tuhan, kesaksian hidup.

Benarkah begitu?

Bagaimana kita menjelaskan ibadah dalam Perjanjian Lama, dimana Tuhan meminta semua orang Israel datang ke Bait Allah pada waktu perayaan-perayaan khusus? Mereka tinggal terpencar di banyak kota dan mereka diperbolehkan beribadah di tempat masing-masing, tidak perlu ke Yerusalem. Hari Sabat mereka khususkan untuk berkumpul beribadah bersama dan tidak bekerja. Tapi hari-hari khusus, semua harus datang ke Yerusalem. Dan orang Yahudi yang saleh, yang memperhatikan perintah Tuhan, taat datang ke Yerusalem. Mengapa? Bukankah Tuhan ada di kota mereka masing-masing? Bukankah biasanya mereka boleh menyembah Tuhan dengan komunitas masing-masing tanpa harus ke Yerusalem? Karena hidup kita dibangun atas dasar apa yang Tuhan kerjakan di masa lalu. Mereka harus menjadikan hari-hari tertentu spesial sebagai hari mengingat apa yang Tuhan kerjakan, dan menjadikan hari-hari itu khusus untuk beribadah bersama kepada Tuhan.

Dan bukankah itu adalah natur kita manusia, mengingat hari-hari yang penting? Kita hidup di dalam waktu, maka tidak bisa tidak, selalu ada tonggak, kairos, hari yang kita anggap istimewa dan kita peringati dengan istimewa. Bagaimana kita menjadi manusia tanpa ada hari-hari yang penting itu? Sebagian orang mengatakan, “tiap saat saya merayakan Yesus mati dan bangkit, maka tidak merayakan Jumat Agung dan Paskah juga tidak apa”. Tapi kita tidak bisa mengatakan, “tiap hari saya merayakan cinta kasih dengan suami/istri saya, maka anniversary tidak perlu dirayakan” bukan?

Bagi kita orang Kristen, kehidupan kita tidak bisa dipisahkan dari apa yang Yesus perbuat bagi kita. Tapi apakah kehidupan Yesus, apa yang Yesus perbuat, itu penting bagi kita? Apakah yang Dia lakukan berharga untuk kita ingat dan rayakan secara istimewa? Maka saya ingat seorang pendeta pernah berkata, “kita boleh lupakan hari-hari yang penting bagi kita, hari ulang tahun kita, hari ulang tahun pernikahan kita, dan hari-hari lain, tapi jangan lupakan hari-hari yang berkaitan dengan kehidupan Yesus”.

Indonesia mungkin adalah satu-satunya negara di dunia yang menjadikan hari kenaikan Yesus sebagai hari libur. Dan saya curiga mungkinkah karena itulah orang Kristen di Indonesia banyak merayakan kenaikan Tuhan Yesus? Seperti juga kita mengingat dan merayakan Natal, Jumat Agung dan Paskah. Bukan karena menganggap itu penting, bukan karena menandainya, tapi karena itu hari libur!?

Di Singapore, hari kenaikan Tuhan Yesus bukan hari libur. Dan saya kira hampir semua gereja di Singapore tidak merayakannya (sebagian merayakannya di hari Minggu – dengan alasan praktis). Dan terbukti, banyak orang Kristen Indonesia yang tinggal di Singapore, kemudian lupa, mengisinya dengan acara lain, tidak ingin kebaktian, bahkan berdoa sendiri pun pada hari itu mengingat kenaikan Tuhan Yesus, bersyukur, berharap, menujukan pandangan kepadaNya, semuanya tidak! It’s just another day- business as usual!

Saya sangat menyesali sikap orang Kristen kepada pertemuan ibadah: kalau dirasa membangun, kalau dirasa cocok, kalau dirasa bermanfaat (untuk?), kalau waktunya cocok, kalau pas tidak ada acara, kalau tidak ada kerjaan kantor, kalau tidak ada keluarga ajak jalan-jalan, baru pergi. Intinya: Pertemuan ibadah – kalau saya suka dan ada waktu luang. Beginikah cara kita mencintai Tuhan kita dan menyembah Dia?

Hidup kita polanya adalah: Ibadah – lalu diutus pergi. Duduk diam di kaki Tuhan – lalu melayani. Atau pola Amanat Agung: Tunggu dulu dipenuhi Roh Kudus – lalu pergi menjadikan segala bangsa murid Tuhan. Itu bukan peristiwa 1X ibadah, 1X duduk diam, 1X tunggu dulu dipenuhi Roh Kudus, lalu selama-lamanya terus melayani. Polanya adalah seperti gelombang gempa, ibadah adalah pusat gempa dan gelombangnya memancar ke luar. Ibadah harus terus ada supaya pancaran terus ada dan benar. Ibadah harian, ibadah pribadi adalah usaha to focusing our life daily to God, memperkuat pancaran itu. Tapi Ibadah bersama adalah mengalami lagi pusat gempa itu. Ibadah hari Minggu adalah peristiwa spesial, bahkan sepanjang hari itu pun spesial, dikhususkan untuk kita dan Tuhan. Bagaimana mungkin di hari spesial itu, seolah belum cukup, kita masih bekerja, kita lakukan banyak aktifitas lain, dan ibadah berada di pinggir.

Hari-hari raya khusus dalam kekristenan lebih khusus lagi. Karena hari-hari itulah kita ada sebagaimana adanya hari ini. Dan hari-hari itu membentuk kehidupan kita. Bagaimana mungkin hari-hari seperti itu kita lupakan, acuhkan dan pinggirkan?

Besok adalah hari yang dirayakan oleh seluruh gereja di seluruh dunia selama hampir 2000 tahun sebagai hari kenaikan Tuhan Yesus. Ada gereja yang merayakannya di hari Minggu karena alasan tidak libur. Ok, tapi rayakanlah itu! GKY Singapore merayakannya tepat hari kamis. Berusahalah untuk datang, rayakan, dan sembah Dia. Kalau betul-betul tidak bisa, bolehkah saya berikan saran? Mintalah ampun kepada Tuhan karena anda lupa, karena anda anggap tidak penting, atau karena anda betul-betul dengan menyesal tidak bisa datang ke pertemuan ibadah. Dan pakailah waktu khusus besok untuk mengingat dan bersyukur kepada Tuhan untuk karyaNya dan harapkanlah kedatanganNya kembali.

Wednesday, March 28, 2012

Kalender Gereja: Minggu Palem

(Artikel ini dimuat dalam kolom “Suara Gembala” di Warta GKY Singapore 25 Maret 2012)

Hidup kita terbentuk oleh pergantian tahun. Ada tahun-tahun dimana kita masih kecil, kita remaja, pemuda, dewasa, setengah baya dan menjadi tua. Kalender dipakai untuk menandai peristiwa-peristiwa itu, dimulai pada 1 Januari dan diakhiri pada 31 Desember. Setiap tahun hidup kita berjalan dalam kalender itu.

Kalender gereja tidaklah sama dengan kalender biasa. Kalender gereja menandai waktu dengan peristiwa-peristiwa penting bagi iman kita. Kalender gereja berpusat pada misteri hubungan Allah dan manusia. Kalender gereja membawa kita terus menyesuaikan hidup kita dengan kehidupan Yesus. Maka kalender gereja tidak dimulai pada 1 Januari, tapi pada minggu pertama Advent, mempersiapkan kita menyambut Natal. Disambung dengan masa persiapan Jumat Agung dan Paskah, Kenaikan Yesus, Pentakosta, terus sampai kembali masa Advent.

Tahun demi tahun, kalender gereja membawa kita tenggelam lagi dan tenggelam lagi dalam makna kehidupan Kristen. Kita bukan hanya mengingat: Yesus lahir untuk kita, Yesus mati karena kita, Yesus bangkit bagi kita, Yesus naik ke surga dan akan datang kembali, Roh Kudus dicurahkan memenuhi kita. Tapi kita dibawa untuk mencocokkan diri kembali dengan apa yang Allah kerjakan bagi kita. Tahun ini kita merenungkan Natal, minta ampun dosa waktu Jumat Agung dan Paskah, tahun depan kita kembali melakukan yang sama. Tapi tiap tahun, kita diajak untuk melihat apakah kita makin mengikuti Yesus? Apakah kita makin mengerti isi hati Allah? Apakah kita bertumbuh? Kalender gereja mengajar kita arti mengikut Yesus.

Tidak sampai dua minggu lagi, kita akan merayakan Jumat Agung dan kemudian Paskah. Maka minggu depan, tepat 1 minggu sebelum Paskah, adalah Minggu Palem - Minggu memperingati Yesus masuk ke Yerusalem dan kemudian mati disalibkan. Minggu itu penuh dengan makna, seluruh komponen dalam kehidupan Yesus ada disana: orang banyak, imam-imam kepala dan kekerasan hati mereka, tentara-tentara Roma dengan politiknya, murid-murid yang ketakutan dan belum bisa mengerti Yesus, pengkhianatan, dan akhinya penangkapan dan penyaliban Yesus. Semua dalam 1 minggu! Minggu itu adalah minggu yang gelap. Maka Minggu Palem juga disebut sebagai Minggu Sengsara.

Di minggu itu, seluruh kuasa kegelapan bersatu melawan Allah. Yesus dijepit dengan tekanan popularitas,agenda politik dan agenda pemimpin agama. Dia pasti mati! Tapi bahkan lebih dari kematian biasa, Yesus memilih untuk sengsara bagi kita. Minggu Palem memaksa kita untuk melihat betapa jauhnya “kesuksesan” dengan “mengikut Allah”, Yesus tidak pilih “sukses” tapi Dia pilih “mengikut Allah”. Minggu Palem mengajak kita menyadari betapa bedanya menyembah Yesus “di mulut” dan “di hati”, seperti orang banyak yang bersorak “Hosana” dan “salibkan Dia”.

Mari siapkan diri kita untuk Minggu Palem, memasuki Minggu Sengsara. Jumat Agung dan Paskah sudah dekat.

Thursday, February 02, 2012

Reveal Yourself and Let Me Find You in Love



God, teach me to seek You, and reveal Yourself to me when I seek You,
For I cannot seek You unless You first teach me, nor find You unless You first reveal Yourself to me.

Let me seek You in longing, and long for You in seeking.

Let me find You in love, and love You in finding.

Ambrose of Milan, 339-397

Puisi dari Ambrose di atas mengingatkan kita dua hal penting di dalam worship: Allah yang menyatakan Diri kepada manusia dan Manusia yang rindu mencari Allah.

Tidaklah mungkin untuk kita menemukan Allah kalau Allah tidak berkenan untuk ditemui. Tapi Alkitab berulang kali bicara tentang Allah yang berkenan ditemui, Dia mau ditemui, Dia berjanji untuk ditemui. Tapi di sisi yang lain, Allah menginginkan manusia mencari Dia, mencari dengan segenap kehausan seperti ‘rusa merindukan air’.

Di beberapa gereja, worship sangat menekankan Allah yang menyatakan diri. Liturgi, pembacaan Alkitab, lagu, pemberitaan Firman, semua menyatakan itu. Tapi tidak ada kerinduan mencari Dia.
Sebaliknya di beberapa gereja lain, worship sangat menekankan kehausan mencari Dia. Doa yang sungguh, sikap waktu menyanyi, harapan dalam hati, sangat luar biasa menyatakan kehausan mencari Dia. Tapi tanpa menekankan dengan kuat Allah yang menyatakan Diri, Allah yang mengajar, Allah yang ingin dikenal dengan benar lewat FirmanNya, maka kehausan mencari Dia bisa berubah menjadi mencari kepuasan diri.

Betapa inilah yang harus kita lakukan di dalam worship kita, bahkan seluruh hidup kita. Kita mencari Dia dengan kehausan, dengan kerinduan yang sangat. Kita merendahkan hati mencari wajahNya, mencari tanganNya, memohon anugrahNya... dan Allah yang berkenan ditemui itu akan menyatakan Diri-Nya.

Dan pada waktu kita bertemu denganNya, yang kita temui adalah kasih… kita menemukan Allah yang mengasihi kita dengan tangan yang terbuka siap merangkul kita. Maka tidak bisa tidak, kita makin mengasihi Dia.

Wednesday, December 07, 2011

Bless the Lord, my soul

Bless the LORD, O my soul, and do not forget all his benefits-- (Psalms 103:2)
Bless the LORD, O my soul. O LORD my God, you are very great. You are clothed with honor and majesty, (Psalms 104:1)
I will bless the LORD at all times; his praise shall continually be in my mouth. (Psa 34:1)

Ayat-ayat di atas diambil dari New Revised Standard Version. Di dalam terjemahan Indonesia, istilah ‘bless’ diterjemahkan menjadi ‘pujilah’. ‘Pujilah’ tentu lebih akrab bagi kita dan lebih mudah diterima.
Kesulitannya adalah ketika kita menjumpai istilah ‘bless the Lord’ di dalam lagu2 bahasa Inggris. Banyak orang Kristen yang tidak mengerti apa artinya ‘bless the Lord’, bagaimana mungkin kita memberkati Tuhan? Tulisan singkat di bawah ini dari John Piper mungkin bisa menolong (saya terjemahkan ke bahasa Indonesia, artikel aslinya bisa dilihat disini).
Pendapat saya adalah di dalam Alkitab ketika Allah “memberkati” manusia maka mereka tertolong dan dikuatkan dan menjadi lebih baik dari sebelumnya, tetapi ketika manusia “memberkati” Allah, Dia tidak terotolong atau dikuatkan atau menjadi lebih baik. Tetapi manusia memberkati Allah adalah “ekspresi dari memuji bersyukur”, ketika PL menyebut “memberkati Allah” ia tidak “menunjuk pada proses yang bertujuan meningkatkan kekuatan Allah”. Tetapi ia berarti “pernyataan syukur dan kekaguman”.  
Ini sama sekali bukan fenomena semantik yang aneh. Jika Allah adalah “pemberi berkat” yang paling pertama dan sumber yang tidak pernah habis, maka dia haruslah melampaui semuanya dalam keadaan “terberkati” – kepenuhan dan sumber segala “berkat”. Dan jika demikian, maka letupan pujian yang paling natural adalah “Engkau diberkati!” Bahwa pengakuan dan pernyataan sukacita tentang terberkatinya Allah  kemudian digambarkan dengan “memberkati Allah” bukanlah sesuatu yang tidak biasa. Analogi lain, sekalipun tidak persis, adalah ekspresi kita seperti: “Aku membesarkan Tuhan” atau “Mari kita meninggikan namaNya”. Kedua eksresi ini dengan tepat mengakui dan memberikan ekspresi sukacita kepada status Allah yang besar dan tinggi. Kalimat itu tidak bermaksud menjadikan Allah lebih besar atau lebih tinggi. Maka memberkati Allah berarti mengakui betapa besar kekayaanNya, kekuatanNya, dan kemurahanNya dan untuk mengekspresikan rasa syukur dan sukacita kita ketika melihat dan mengalaminya.
Di bawah ini adalah salah satu lagu dari Taize yang saya suka:

Bless the Lord, my soul, and bless God’s holy name. Bless the Lord, my soul, who leads me into life.








Saturday, May 14, 2011

Mengapa ada 'Singer'?

Di dalam ibadah di beberapa gereja kita suka menemukan ada beberapa orang yang berdiri di depan, ikut menyanyi dengan microphone. Mereka disebut 'Singer'.

Beberapa gereja mungkin tidak pernah memikirkan apa fungsi 'singer'. Alasan praktis yang biasanya dikemukakan: Untuk menolong worship leader menyanyi (apalagi kalau worship leader-nya kurang PD) dan supaya ada kesan meriah dengan adanya beberapa orang yang berdiri di depan.

Paling tidak ada 2 hal yang seharusnya dipertimbangkan untuk menempatkan singer di dalam sebuah ibadah:

1. Suara

Singer ada untuk menolong worship leader dan jemaat dalam menyanyi. Maka suara sangat penting. Dengan kata lain, jangan sampai singer justru menyanyi dengan tidak baik atau lebih parah lagi false.

2. Ekspresi/Sikap

Jemaat bukan hanya mendengar suara singer tapi juga melihat ekspresi mereka. Ekspresi mereka bisa menolong jemaat menyanyikan pujian itu dari hati atau bisa merusak semuanya.

Beberapa waktu yang lalu saya menyaksikan sebuah konser musik, berupa paduan lagu kontemporer dan tarian. Ada worship leader, ada paduan suara dan juga ada tim penari. Musik dan lagu yang dinyanyikan sangat baik dan theologically sound. Tarian juga dilakukan dengan energik, yang wanita melakukan gerakan seperti tarian balet dan yang pria membawa bendera.

Jelas tarian dilakukan supaya 'memperkuat' lagu yang dinyanyikan, membuatnya lebih berkesan, lebih 'masuk' bagi kita dengan memberikan tarian yang menggambarkan semangat dan pesan lagu-lagu yang dinyanyikan. Lagu-lagunya banyak mengenai kebesaran Allah, kekuatan Allah, keindahan Allah. Dan tarian mereka - seharusnya - dimaksudkan untuk menggambarkan itu.

Tapi ternyata hasilnya tidak seperti itu bagi saya. Tarian mereka bukan memperkuat lagu yang dinyanyikan tapi malah agak mengganggu. Saya coba menganalisa mengapa saya terganggu:

Pertama, koreografinya agak monoton (hampir serupa untuk semua lagu) sehingga saya tidak lagi merasakan penekanan yang jelas untuk lagu berbeda. Malahan koreografi yang monoton itu mengaburkan keunikan pesan setiap lagu.

Kedua, ekspresi wajah mereka yang kadang senyum-senyum saling 'memberi kode' di antara mereka, atau kadang tidak tersenyum (ketika harusnya tersenyum), atau terlalu serius (ketika saya kira harusnya tersenyum), juga sangat mengganggu. Saya tidak menghakimi bahwa mereka tidak punya jiwa memuji Tuhan karena saya pasti tidak bisa melihat hati mereka. Tetapi bukankah mereka tampil untuk 'memperkuat' lagu yang dinyanyikan? Saya jadi berpikir buat apa ada tarian? Bukankah tarian itu untuk memperkuat pesan, tapi mengapa malah memperlemah?

Demikian pula dengan adanya singer di dalam ibadah. Seringkali saya menemukan mereka tidak memperkuat tapi memperlemah ibadah dengan suara dan ekspresi/sikap mereka. Sayangnya banyak yang tidak mempedulikan ini karena “yang penting ada singer” atau “dari dulu selalu ada singer”. Saya tidak bermaksud mengatakan kita tidak perlu singer. Bukan! Tapi kita harus pikirkan bagaimana ibadah diperkuat! Salah satunya dengan mempertimbangkan apakah perlu singer atau tidak, bagaimana penempatan posisi singer, bagaimana melatih singer, dan bagaimana memilih singer.

Friday, May 06, 2011

Church Usher

Saya menemukan 1 buku yang menarik perhatian saya: A Guide for the Church Usher oleh Thomas L. Clark. Mungkin ada beberapa hal yang nanti bisa saya bagikan. Tapi ini sekilas dulu (saya terjemahkan):

Yang masih saya ingat ketika awal sekali saya pergi ke gereja adalah orang-orang dewasa yang berbicara kepada orang tua saya, memberi mereka beberapa helai kertas, berjalan dengan mereka masuk ke dalam ruang kebaktian, dan bermain dengan saya. Tidak lama saya mengenal mereka sebagai teman-teman dan saya menantikan untuk bertemu mereka setiap minggu di gereja. Sebagai seorang anak kecil, saya mulai tahu orang-orang yang ceria ini adalah usher gereja.

Waktu remaja, saya diizinkan untuk melayani sebagai usher pada waktu minggu-minggu khusus di gereja. Saya tidak sepenuhnya mengerti peran atau fungsi usher, tapi saya senang dan punya banyak kenangan indah di waktu-waktu itu.

Sebagai mahasiswa sekolah teologi, waktu itu saya menjadi anggota gereja yang memiliki usher yang baik. Saya memperhatikan sukacita para usher dan merasakan kehangatan dan perhatian mereka. Mereka tahu nama saya dan selalu punya kalimat yang ramah untuk diucapkan.

Setelah ditahbis ke dalam pelayanan dan melayani di gereja pertama saya, usher menjadi sangat terkait dengan pelayanan saya. Saya terus belajar peran dan fungsi mereka. Saya bergantung pada pertolongan mereka. Mereka berespon dengan sangat baik kepada permintaan saya dan memperkaya hidup saya.

Saya sudah dilayani oleh usher di gereja besar maupun kecil, dengan berbagai latar belakang etnik – pria dan wanita, tua dan muda – semua menjadi bagian dari pengalaman saya.

Kalau anda melayani sebagai usher gereja, apa yang anda pikir ketika membaca tulisan Thomas Clark di atas? Kadang sangat sulit memberitahu para usher betapa pentingnya pelayanan mereka. Usher bukan sekedar penting karena membawa persembahan, membagikan warta, dsb. Tapi usher penting karena kesan pertama orang terhadap gereja adalah ketika melihat usher. Dan ini bukan hanya bagi mereka yang pertama kali ke gereja, tapi bahkan orang yang sudah sering ke gereja pun akan merasakan pentingnya pelayan usher (dalam istilah Thomas Clark: “memperhatikan sukacita, merasakan kehangatan dan perhatian mereka”).

Sama seperti setiap peran yang penting, selalu punya 2 sisi terbalik: menguatkan atau melemahkan. Usher bisa memperkuat pelayanan gereja dengan sikap dan kata-kata mereka, atau sebaliknya memperlemah pelayanan gereja juga dengan sikap dan kata-kata mereka.

Mungkin kita sudah terlalu lama melayani sebagai usher, mungkin kita sudah terlalu biasa ke gereja, mungkin kita sudah terlalu lama jadi orang Kristen, maka mungkin sudah terlalu sulit bagi kita untuk membayangkan pentingnya pelayanan usher. Ada baiknya kita membayangkan, dulu ketika kita pertama ke gereja, usher macam apa yang kita temui? Ada kesan yang baik? Buruk? Atau tidak ada kesan? Bayangkan bedanya kesan kita dulu kepada gereja itu kalau usher yang kita temui bersikap berbeda.

Thursday, April 21, 2011

Jumat Agung dan Paskah - lagi?

Minggu berganti minggu, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun... Waktu terus berlalu dengan sangat cepat. Kalender gereja juga terus berjalan. Setelah hari kenaikan Yesus tahun lalu, Pentakosta, Natal... dan sekarang... Jumat Agung dan Paskah - lagi!

Beberapa orang mungkin merasa cepat sekali waktu berlalu, rasanya belum lama kita kebaktian Jumat Agung dan Paskah! Sekarang... sudah Jumat Agung lagi? Ya.. besok kita akan merayakan Jumat Agung lagi dan hari minggu nanti, Paskah lagi.

Kata 'lagi' seakan membuat kita merasa ada rutinitas. Tidak ada yang salah dengan rutinitas. Manusia hidup dalam rutinitas waktu. Selama masih hidup di dunia, kita tidak bisa lepas dari rutinitas, ada makan, ada mandi, ada tidur, tiap hari ada rutinitas. Yang menjadi masalah adalah kalau kita lupa makna yang lebih besar dari rutinitas itu, dan hanya melihat makan, mandi, dan tidur itu. Yang menjadi masalah adalah kalau kita tidak bisa melihat untuk apa rutinitas itu, buat apa makan, mandi dan tidur itu.

Jumat Agung dan Paskah, sama seperti semua perayaan yang diperintahkan Tuhan dulu kepada orang Israel, adalah rutinitas. Sesuatu yang harus terus dilakukan, diingat, diadakan, tiap tahun, rutinitas. Tapi apakah kita kehilangan maknanya? Itu yang menjadi masalah.

Kata 'lagi' juga membuat kita merasa bahwa ini kurang penting. Karena 'lagi' berarti dulu ada dan masih akan ada lagi. Tapi kita lupa rutinitas tidak berarti selalu ada. Sekarang kita bisa makan, tapi nanti malam? Sekarang kita bisa mandi, tapi besok pagi? Tahun ini kita bisa memperingati Jumat Agung dan Paskah lagi, tapi tahun depan? Tidak ada yang tahu.

Seperti tiap peristiwa dalam hidup kita, bahkan yang rutin seperti makan, mandi, tidur, selalu ada maksud Tuhan, selalu ada makna lebih besar di baliknya, dan selalu ada kesukaan dan karunia Tuhan di dalamnya, demikian pula Jumat Agung dan Paskah. Atau lebih tepatnya, apalagi Jumat Agung dan Paskah!

Kalau Tuhan berikan kita tahun ini kesempatan merayakan lagi Jumat Agung dan Paskah, mari temukan maksud Tuhan, temukan maknanya yang lebih besar bagi hidup kita daripada sekedar ke gereja, temukan kesukaan dan karunia Tuhan di dalamnya!

Selamat merayakan Jumat Agung dan Paskah!

Monday, March 21, 2011

Panca Indra Untuk Ibadah

Kita manusia sangat terikat dengan materi, apa yang kita lihat, dengar, cium, raba dan rasa. Maka panca indra kita adalah pintu masuk yang sangat penting untuk kita belajar, mengerti, menangkap kesan, dan akhirnya menyentuh hati.

Untuk setiap hal ada indra yang relevan. Apa yang kita anggap baik adalah apa yang memberi kesan baik melalui setiap indra yang relevan dengan itu. Itu sebabnya makanan bukan hanya rasanya yang penting tapi juga penyajiannya (lihat) dan harumnya (cium). Jika kita masuk kamar hotel, yang akan membuat kita suka bukan hanya design-nya yang enak dilihat, tapi juga bau kamar itu (cium) dan kehalusan seprainya (raba). Waktu kita menonton teater, yang dimanjakan terutama adalah mata kita dan telinga kita, tapi kalau ruangannya bau sampah pasti juga tidak nikmat untuk kita.

Demikian pula untuk ibadah. Bukankah kelima indra kita bisa berfungsi di dalam ibadah!?
Melalui indra pendengaran, kita mendengar musik, suara pujian, pembacaan Alkitab dan juga khotbah. Betapa pentingnya suara di dalam ibadah, saya rasa kita semua tahu.

Melalui indra penglihatan, kita melihat dekorasi ruang ibadah, pakaian pemimpin ibadah, ekspresi para pemimpin ibadah dan sebagainya. Banyak orang menekankan ibadah yang minimalis (tidak usah pakai apa-apa yang penting hati), tapi saya kurang setuju karena di dalam Perjanjian Lama jelas ibadah bukan minimalis tapi maksimalis (coba lihat bagaimana Tuhan menyuruh Musa merancang tempat ibadah, pakaian imam, dsb)! Perhatikan juga ritual, tindakan, sikap para imam di dalam Perjanjian Lama ketika melakukan ibadah. Sangat mengesankan!

Melalui indra penciuman, kita merasakan suasana. Perhatikan betapa bedanya suasana hati kita jika ruangannya bau obat atau bau dupa atau bau lainnya. Apa yang kita cium mungkin berkesan pada kita lebih dalam dari apa yang kita dengar. Mungkinkah itu juga sebabnya di bait Allah dulu ada bau kemenyan yang khusus dibakar di bait Allah? Sehingga setiap kali masuk, jemaat terbiasa merasakan, "ini bait Allah".

Melalui indra perasa, kita mencicipi roti dan anggur. Tuhan dulu meminta orang Israel makan sayur pahit waktu Paskah, mengingatkan mereka akan pahitnya perbudakan mereka di Mesir. Kita sekarang makan roti dan anggur sebagai lambang tubuh dan darah Kristus, ingat akan kasih-Nya dan menerima berkat-Nya.

Melalui indra peraba, kita bisa merasakan banyak hal. Tahun lalu di dalam kebaktian Jumat Agung GKY Singapore, kami membagikan paku kepada setiap jemaat sebelum mengajak untuk berdoa. Melihat dan meraba paku membuat perbedaan.

Pengalaman ibadah seperti ini disebut multi sensory worship. Dan dasarnya adalah karena indra kita diciptakan Tuhan sebagai pintu masuk menuju pikiran dan hati kita. Kita semua perlu benar-benar memikirkan terus ibadah kita di gereja masing-masing.

Sunday, March 06, 2011

God's Own Fool

Buat teman-teman yang tadi datang ke kebaktian GKY Singapore, ini klip yang tadi ditampilkan di dalam khotbah saya. Judulnya "God's Own Fool" dari Michael Card. Istri saya menemukan klip lagu "God's Own Fool" di youtube. Setelah di-download, istri saya kemudian mengedit, mengganti gambar2nya dan menambahkan teks bahasa Indonesia. Dan ini hasilnya yang tadi ditampilkan.

May God bless you all through this!

Thursday, December 23, 2010

Ssstt... Natal Tinggal Dua Hari Lagi

Ssstt... Natal tinggal dua hari lagi...

Kita tahu bahwa hari Natal yang dirayakan tiap tahun tidaklah berbeda dengan hari-hari lain. Tiap Minggu kita juga beribadah di gereja menyembah Tuhan yang sudah lahir, mati dan bangkit. Tiap Minggu kita juga mengingat akan kebesaran dan kasih Tuhan. Lalu apa bedanya Natal dengan minggu-minggu lain?

Kita manusia terikat oleh waktu. Kita hidup di dalam waktu. Itu sebabnya kita selalu belajar dari mengikuti ritme waktu. Hari-hari yang berharga kita peringati, seperti hari ulang tahun kita, hari pernikahan kita, atau hari baptisan kita. Untuk apa? Untuk mengajar kita beroleh hati yang bijaksana. Juga ada hari-hari yang kita pakai untuk mengingatkan kita akan sesuatu yang baik, seperti hari kasih sayang, hari guru, hari papa, hari mama, dan seterusnya. Kita perlu semua itu karena kita ini makhluk pelupa! Kita perlu semua itu untuk terus 'men-tune' ritme hidup kita yang gampang terombang-ambing ini.

Maka Tuhan juga mengajar kita melalui ritme waktu: hari Sabat menjadi hari perhentian, ada hari ibadah untuk datang kepada Tuhan dan ada hari-hari raya untuk mengingat karya Tuhan. Walaupun tiap hari kita bisa berhenti kerja, beribadah dan mengingat karya Tuhan, tapi kita perlu ada hari-hari khusus lagi untuk semua itu. Hari-hari seperti itu akan membentuk ritme hidup kita dan memberi kita kekuatan untuk hidup dengan bijaksana.

Saya kira itulah Natal. Kebaktian Natal memang tidak beda esensinya dengan kebaktian yang kita lakukan minggu demi minggu. Tapi karena ritme waktu, setiap tahun ada satu hari yang khusus kita pakai untuk mengingatkan kita akan kasih Tuhan yang Dia nyatakan pada waktu Natal. Tiap tahun, hari itu kita khususkan untuk mengingat hadiah yang Allah berikan bagi kita: Allah jadi manusia!

Natal tinggal dua hari lagi. Khususkanlah hari itu! Biarkan Roh Kudus sekali lagi menyegarkan hatimu, dengar Dia berbisik: Ssstt... Allah mengasihimu!

Selamat Natal!

Monday, August 16, 2010

Pembasuhan Kaki

Selama Retreat GKY Singapore 8-10 Agustus 2010 di Johor Bahru, ada banyak sukacita,
pengalaman, keindahan sentuhan Tuhan yang kami rasakan. Dalam banyak kesempatan, Retreat itu masih menjadi topik pembicaraan di antara para peserta. Salah satu momen yang sangat berkesan bagi mereka adalah ketika saya membasuh kaki empat orang jemaat. Hampir semua orang menangis pada waktu itu.

Menarik mendengarkan bagaimana momen itu menyentuh mereka. Ada yang menangis karena melihat peristiwa itu mengingatkan bahwa mereka harus melayani lebih sungguh. Ada yang menangis karena melihat saya sebagai gembala membasuh kaki. Ada yang bahkan tidak tahu kenapa menangis!

Beberapa orang ada yang bertanya apa yang saya rasakan pada waktu itu. Ada yang mengira bahwa momen itu berbicara dengan kuat kepada mereka yang dibasuh kakinya dan bukan kepada saya yang membasuh. Tidak ada yang tahu, saya juga menangis waktu itu. Pada waktu saya berjalan ke depan dengan handuk di tangan, saya menangis. Momen itu berbicara dengan sangat kuat juga kepada saya.

Yohanes adalah satu-satunya penulis Injil yang mengganti peristiwa perjamuan makan terakhir dengan pembasuhan kaki. Semua penulis Injil bercerita bahwa di malam terakhir itu, Yesus mengadakan perjamuan makan terakhir dengan murid-muridNya. Tapi Yohanes sama sekali tidak menyebut itu dan dia menggantinya dengan peristiwa pembasuhan kaki. Mungkinkah Yohanes sengaja menceritakan ini karena waktu itu orang-orang Kristen sudah mulai berebut kedudukan, mulai berebut menjadi yang terbesar, mulai melupakan kasih dan pelayanan? Bahwa di malam terakhir sebelum Yesus disalib, Dia membasuh kaki murid-muridNya dan meminta mereka saling membasuh kaki satu sama lain.

Kalau kita membaca Yoh 13, gambaran yang diberikan sangat kuat: Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-muridNya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya (13:1), Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia (13:2), Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubahNya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggangNya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-muridNya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggangNya itu (13:4-5), dan setelah Yesus memerintahkan mereka saling membasuh kaki (13:14), Ia sangat terharu, lalu bersaksi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku" (13:21).

Perhatikan suasananya. Yesus tahu Ia akan mati dan akan kembali kepada Bapa. Yesus tahu salah seorang muridNya akan menyerahkan Dia. Yesus bahkan tahu ada yang sedang berpikir untuk menjadi yang terbesar dan semua akan meninggalkan Dia. Semua suara-suara dari hati manusia itu seperti bergema di telinga Yesus. Tapi seperti Dia selalu mengasihi murid-muridNya, demikianlah Dia mengasihi mereka sampai kesudahannya! Dan dia bangun, tanggalkan jubah, ambil kain dan air, lalu membasuh kaki murid-muridNya.

Penderitaan di depan mata sementara murid-muridNya tidak tahu. Sebentar lagi Dia akan tinggalkan mereka sementara mereka masih berdebat siapa yang terbesar. Dalam kesedihanNya melihat murid-muridNya satu persatu, hati Yesus dipenuhi dengan kasih kepada mereka dan Dia membasuh kaki mereka, 1X di ruangan itu dan 1X lagi di atas kayu salib. Dia membasuh kaki mereka, melayani mereka, dengan memberikan nyawaNya.

Saya menangis ketika akan membasuh kaki karena di dalam hati saya, berulang-ulang muncul "Tuhan membasuh kakiku. Tuhan mati bagiku. Tuhan lebih dulu melayani kepadaku."

"Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu" (Yoh 13:14)

Monday, May 24, 2010

Ascension Day and Pentecost Day in Singapore

One intensely strange phenomena that I recently observed in Singapore is that many (maybe all?) Christian churches do not celebrate Jesus' Ascension Day and the Pentecost Day. I don't know why. What's the reason? Is it practical or theological? But this issue quite bothers me.

Our Christian faith based on history, the salvation history. The Christmas Day, Good Friday, Easter, Ascension Day and then summed up with the Pentecost Day are events that simply cannot be forgotten. They shape up our faith, they explain our faith. Churches can just ignore and forget Mother's Day, Father's Day or any other day, although those events are worthy to celebrate, but we just cannot ignore and forget the events that shape our faith. Those events are tightly connected. We can't imagine Christmas Day without Good Friday since that is the purpose of His coming. We can't imagine Good Friday without Easter otherwise Jesus would not be our Savior. We can't imagine Easter without Ascension since Jesus said "I came from the Father and have come into the world; again, I am leaving the world and am going to the Father," it was round trip. And we can't imagine Ascension without Pentecost since Jesus said that it was one of His purpose to go back to heaven.

So why do the Christian churches in Singapore only celebrate Christmas, Good Friday and Easter? Can anybody explain what is the reason?

Sunday, August 30, 2009

White Christmas

(Posted in Dec 16, 2006)

 

I'm dreaming of a white Christmas

Just like the ones I used to know

Where the treetops glisten, and children listen

To hear sleigh bells in the snow

I'm dreaming of a white Christmas

With every Christmas card I write

May your days be merry and bright

And may all your Christmases be white

Lagu yang sangat terkenal ini ditulis pada tahun 1942. Dan sekarang ini, dimana-mana, baik di hotel-hotel maupun di gereja-gereja, lagu ini dinyanyikan.

Tanpa ada maksud menjadi tukang kritik, saya ingin mengkritisi lagu ini.

Kalau kita perhatikan teksnya, maka dengan jelas terlihat bahwa lagu ini sama sekali bukan lagu Natal, dalam arti yang sesungguhnya. Lagu ini hanya menggambarkan perasaan emosional dan kehangatan memori pada waktu Natal, suatu perasaan yang bisa dimiliki oleh siapa saja yang dibesarkan di dalam lingkungan atau keluarga yang biasa merayakan Natal.

Jangan salah mengerti, saya sama sekali tidak menentang lagu ini dinyanyikan. Tetapi kalau lagu ini dinyanyikan dalam gereja, apalagi dalam konteks ibadah, maka itu sudah salah kaprah.

Kalau lagu ini dinyanyikan sebagai suatu lagu memori, nah itu baru benar. Tetapi mari kita kritisi sedikit lagi. Lagu ini menyatakan dengan tepat sekali perasaan orang-orang yang biasa tinggal di negara Barat, yang karena suatu alasan kemudian harus pergi jauh ke tempat lain dimana tidak ada salju pada waktu Natal. Memori dan kerinduan mereka akan kampung halaman menjadi bangkit ketika memasuki suasana Natal. Tetapi saya kira tidak ada orang yang sejak kecil hidup di Indonesia, akan memiliki memori seperti yang dituliskan dalam lagu ini. ‘White Christmas’ adalah Natal dalam konteks musim salju, yang memang tidak ada di Indonesia, kecuali mungkin di puncak beberapa pegunungan saja. Ditambah lagi kalimat ‘I’m dreaming of a white Christmas with every Christmas card I write’, makin tidak kontekstual bagi kita yang sekarang lebih banyak memakai email dan sms untuk mengucapkan selamat Natal. Maka perasaan dreaming seperti itu juga tidak kita rasakan.

Mari kita menyanyi, lagu apa saja, dengan pikiran dan perasaan (maksud saya jangan mematikan pikiran dan perasaan dengan menyanyikan lagu yang tidak kita pikirkan dan rasakan, apalagi dalam ibadah).