Showing posts with label a. Relasi dengan Tuhan. Show all posts
Showing posts with label a. Relasi dengan Tuhan. Show all posts

Wednesday, June 23, 2021

Selalu Butuh Yesus

"Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi
orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (Markus 2:17)

Suatu kali Yesus sedang duduk makan bersama dengan para pemungut cukai dan "orang-orang berdosa lainnya." Yang dimaksud dengan "orang-orang berdosa" adalah mereka yang oleh para pemimpin agama Yahudi dianggap tidak menjalankan kewajiban agama, atau berhubungan akrab dengan orang-orang non-Yahudi, atau yang pekerjaannya dianggap kotor seperti pelacur atau bahkan penyamak kulit yang selalu berurusan dengan bangkai hewan. Yesus duduk makan bersama dengan kelompok orang-orang yang seperti itu.

Kemudian beberapa pemimpin agama, yaitu ahli Taurat dari golongan Farisi, yang terkenal paling ketat, melihat hal itu dan protes: "Mengapa Yesus makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" Mereka menyalahkan Yesus. Jikalau Dia rabi, guru agama Yahudi, jikalau Dia orang benar, bagaimana mungkin Dia mau duduk makan bersama dengan orang-orang seperti itu?

Yesus yang mendengar itu kemudian berkata: “Bukan orang yang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Apa maksud kalimat itu?

Di satu sisi, kalimat ini berarti Yesus menegaskan bahwa Dia datang justru untuk orang2 yang dikelompokkan sebagai orang berdosa itu. Karena mereka inilah yang sakit, merekalah yang berdosa, maka merekalah yang memerlukan Yesus. Dan Yesus memang datang untuk mereka.

Tetapi, di sisi lain, kita tahu bahwa tidak ada orang yang benar. Karena di hadapan Tuhan sesungguhnya tidak ada orang yang tidak berdosa sehingga tidak memerlukan Yesus. Maka yang ada sebetulnya hanyalah orangorang yang merasa dirinya benar. Mereka merasa mereka mampu hidup tanpa Juruselamat. Mereka merasa sanggup untuk berjalan sendiri. Mereka merasa tidak membutuhkan Yesus. Tapi betulkah mereka tidak membutuhkan Yesus? Karena bukankah sebetulnya mereka juga orang berdosa? 

Disinilah masalahnya. Semua orang membutuhkan Yesus. Tetapi kenyataannya, tidak semua orang mau mengaku dirinya membutuhkan Yesus. 

Dan ayat ini bukan hanya bicara soal keselamatan. Tetapi juga memberikan prinsip untuk kehidupan Kristen.

Ironis sekali! Karena pada waktu kita percaya, bukankah kita sudah mengakui kelemahan kita, keberdosaan kita, maka kita datang kepada Tuhan Yesus dan berseru memohon anugerah-Nya? Kita meletakkan percaya kita pada Yesus. Alangkah bodohnya ketika kita sudah percaya dan tinggal di dalam Yesus, lalu kita mulai meletakan percaya kita pada diri kita. Kita rasa sekarang kita mampu sendiri. Kita rasa kita adalah orang benar dan baik. Kita merasa tidak membutuhkan Yesus lagi.

Sebaliknya, alangkah bodohnya juga ketika kita terus merasa diri berantakan, lemah, berdosa, tanpa mau meletakkan beban itu semuanya di kaki Yesus yang sudah tinggal di dalam kita. Kita lupa bahwa kita dulu memang sudah mengaku bahwa kita orang yang seperti itu, berantakan, lemah, berdosa, tapi bukankah kita sudah datang kepada Yesus dan meletakkan percaya kita pada Yesus? Mengapa tidak percaya lagi?

Kita membutuhkan pertolongan, anugerah, kemurahan Tuhan Yesus, bukan hanya pada waktu kita menerima keselamatan, tetapi juga setiap saat di dalam hidup Kristen kita, sampai kita bertemu dengan Dia dalam kekekalan.

Wednesday, April 10, 2019

Di Bawah Sayap Tuhan

“TUHAN kiranya membalas perbuatanmu itu, dan kepadamu kiranya dikaruniakan upahmu sepenuhnya oleh TUHAN, Allah Israel, yang di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung." (Rut 2:12)

Ayat ini menarik perhatian saya.

Beberapa waktu ini saya banyak memikirkan tentang hidup dan pelayanan. Saya teringat pada banyaknya kesalahan di masa lalu yang saya sesali. Saya juga menyadari ada banyak ketidakpastian di masa depan yang membuat saya gentar. Maka ketika membaca Alkitab, dan sampai pada bagian ini, mata saya terhenti dan hati saya terharu. Ayat ini menjadi sebuah oasis bagi saya hari itu.

Kita tahu kisah Rut. Dia adalah seorang perempuan Moab yang menikah dengan seorang Israel. Naomi, mertua perempuannya, adalah seorang yang dirundung kemalangan. Suaminya meninggal. Lalu dua orang anaknya (salah satunya adalah suami dari Rut) juga meninggal. Maka Naomi hanya tinggal sebatang kara bersama dengan dua orang menantu perempuannya. Tetapi ketika Naomi memutuskan untuk kembali ke Israel, Rut mengambil keputusan untuk mengikuti mertuanya itu kembali ke Israel. Bagaimanapun dibujuk, ia ngotot untuk ikut Naomi ke Israel. Dengan sangat yakin ia berkata kepada mertuanya: “bangsamulah bangsaku dan Allahmulah allahku.” Kalimat yang sama sekali tidak main-main!

Keputusannya untuk mengikuti Naomi membuat Rut menjalani kehidupan yang sangat sulit. Dia pindah ke tempat yang sama sekali asing bagi dia. Dia harus berusaha diterima menjadi bagian dari bangsa Israel. Dia tidak ada prospek untuk menikah kembali – sesuatu yang dianggap sangat buruk di zaman itu. Ditambah lagi, karena mertuanya tidak punya kemampuan ekonomi, dia harus bekerja kasar. Kehidupan menjadi sangat sulit baginya.

Tetapi, dengan tindakannya menemani Naomi, dengan datang ke tanah dan umat milik Allah, dengan berkomitmen “bangsamulah bangsaku dan Allahmulah allahku”, Rut sebetulnya menempatkan diri berlindung di bawah sayap Tuhan. Rut memilih Allah!

Sekalipun itu berarti dia kehilangan banyak hal, mengalami banyak kesulitan, dan seperti tidak punya pengharapan. Tetapi di saat yang sama, justru dengan demikianlah, Rut sedang menempatkan dirinya sepenuhnya di bawah perlindungan sayap Allah. Allah digambarkan seperti induk burung yang menawarkan sayapnya untuk melindungi anak-anaknya yang tidak berdaya dan kepada siapa yang datang untuk berlindung di bawah sayap-Nya, Allah tidak akan pernah mengecewakan!

Saya tidak membayangkan diri saya seperti Rut… tetapi saya membayangkan diri sebagai orang yang berlindung di bawah sayap Tuhan. Di tengah banyaknya kesulitan dan tekanan, tiap hari saya memohon anugrah Tuhan. Saya mau berlindung, berjongkok, mengkerut, tiarap, terlentang, atau apapun, di bawah sayap Tuhan.

Maka doa berkat Boas untuk Rut itu mengharukan saya: “TUHAN kiranya membalas perbuatanmu itu, dan kepadamu kiranya dikaruniakan upahmu sepenuhnya oleh TUHAN, Allah Israel, yang di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung."

Saya tidak mengklaim berbuat apapun yang pantas untuk menerima upah dari Tuhan. Sama sekali tidak. Tuhan menyatakan perlindungan-Nya saja, itu sudah lebih dari cukup bagi saya.

Tapi doa Boas bahwa Tuhan bukan saja akan melindungi melainkan juga akan membalas orang yang datang berlindung di bawah sayapnya, membuat saya terharu akan kemurahan Tuhan.

Under the wings of God, I come to take refuge!

Friday, July 06, 2018

Penggambaran Sikap Doa

Dari sekian banyak penggambaran sikap orang ketika berdoa, saya tidak tahu mengapa dua gambaran di bawah ini paling menggerakkan hati saya.

Pertama, orang yang berlutut berdoa sambil menengadahkan tangannya.


Kedua, orang yang berdoa sambil mengulurkan tangannya ke atas.


Seringkali ketika melihat penggambaran seperti itu saya merasakan ada koneksi dengan hati saya.

Mungkin karena menengadahkan tangan sebagai sikap berdoa menunjukkan sikap seseorang yang membutuhkan Tuhan dan memohon supaya Tuhan memberikan kekuatan di tengah pergumulan hidupnya. Seakan-akan dia sedang memohon, berulang kali, “Tuhan, berkatilah aku… berkatilah aku!”

Mungkin juga karena mengulurkan tangan ke atas sebagai sikap berdoa menunjukkan sikap seseorang yang dalam keadaan tertekan dan berusaha menggapai ke Tuhan. Saya ingat Mazmur 77:3 “Pada hari kesusahanku aku mencari Tuhan; malam-malam tanganku terulur dan tidak menjadi lesu…” Istilah terulur berarti menggapai ke atas. Pemazmur bercerita bahwa di dalam usahanya mencari Tuhan pada hari kesusahannya, tangannya terulur tanpa lelah! Seakan-akan dia memohon, berulang kali, Tuhan, kasihanilah aku.... kasihanilah aku!

Saya tidak bisa sepenuhnya menjelaskan mengapa dua penggambaran di atas lebih menggerakkan saya dibanding yang lainnya. Pergumulan hidup dan kesusahan yang saya alami sangatlah tidak berarti dibanding banyak orang kudus lain. Tetapi sebagai orang yang penuh dengan kelemahan, semakin lama semakin saya merasakan kebutuhan akan belas kasihan Tuhan dan berkat Tuhan. Saya membutuhkan Tuhan!

Beberapa waktu lalu saya menemukan gambar di bawah ini dari Logos dan saya jadikan sebagai wallpaper di laptop saya.


Saya tahu bahwa di dalam anugrahNya, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan saya dan jauh dari saya. Tetapi, pertolongan Tuhan diberikan kepada mereka yang menantikannya dengan rendah hati. So I want to pray like that!

Monday, September 18, 2017

A Pure Heart

A pure heart that's what I long for
A heart that follows hard after Thee

A heart that hides Your word
so that sin will not come in

A heart that's undivided 
but one You rule and reign

A heart that beats compassion
that pleases You, my Lord

A sweet aroma of worship
that rises to Your throne

Beberapa hari ini saya berulang-ulang menyanyikan lagu ini. Saya menemukan lagu ini bukan saja indah tetapi menyelidiki hati.

Apakah hati saya mengikut Tuhan dengan mati-matian?
Apakah hati saya menyimpan Firman begitu rupa sehingga dosa tidak bisa masuk?
Apakah hati saya tidak terbagi tetapi hanya, dan hanya, diperintah oleh Tuhan?
Apakah hati saya penuh belas kasihan sehingga menyenangkan Tuhan?

Alangkah indahnya hati seperti itu!Bagaikan aroma penyembahan yang manis yang naik ke takhta Tuhan!

Saya belum memiliki such a pure heart. Tetapi saya merindukannya.

Friday, February 03, 2017

Lakukanlah Kepadaku Apapun Juga

Saya menaruh buku The Imitation of Christ (Thomas A. Kempis) di atas meja belajar saya. Kadang saya mengambilnya, membaca satu bagian singkat, merenung sebentar, dan disegarkan atau ditantang olehnya. Hari ini saya membaca sebuah bagian berupa doa dari seorang murid Kristus:

Lord, what You say is true. Your care for me is greater than all the care I can take of myself. For he who does not cast all his care upon You stands very unsafely. If only my will remain right and firm towards You, Lord, do with me whatever pleases You. For whatever You shall do with me can only be good. 

If You wish me to be in darkness, I shall bless You. And if You wish me to be in light, again I shall bless You. If You stoop down to comfort me, I shall bless You, and if You wish me to be afflicted, I shall bless You forever.

Saya terjemahkan bebas:

Tuhan, perkataanMu benar adanya. PemeliharaanMu bagiku melebihi apapun yang bisa kulakukan untuk diriku sendiri. Karena barangsiapa yang tidak meletakkan segala kekuatirannya padaMu berdiri dengan sangat tidak aman. Kalau saja kehendakku tetap benar dan teguh terarah kepadaMu, Tuhan, lakukanlah kepadaku apapun yang menyukakanMu. Karena apapun yang akan Kau lakukan kepadaku hanyalah kebaikan semata. 

Jika Engkau menginginkanku berada dalam kegelapan, aku akan memujiMu. Dan jika Engkau menginginkanku untuk berada dalam terang, juga aku akan memujiMu. Jika Engkau membungkuk untuk menghiburku, aku akan memujiMu, dan jika Engkau menginginkanku menderita kemalangan, aku akan memujiMu selamanya. 

Saya membaca doa ini beberapa kali. Ada dua hal yang kemudian terpikir oleh saya: Pertama, saya tahu apa yang dia tuliskan di dalam bentuk doa itu sangatlah tepat. Itulah doa seorang Kristen yang mencintai Tuhannya - doa seorang murid Kristus. Tetapi, yang kedua, saya ngeri untuk mengucapkannya dengan sungguh.

Sangat jarang sebetulnya kita berdoa kepada Tuhan dengan sikap "lakukanlah kepadaku apapun juga." Hampir tidak pernah kita berdoa "Tuhan berikanlah kepadaku apapun juga, kegelapan, terang, penghiburan, penderitaan... apapun juga... dan aku tetap akan memujiMu!" Wow...

Kalau doa ini menyebutkan dua sisi, A dan B, senang dan susah, sehat dan sakit, kaya dan miskin, maka kita selalu minta yang A. Lebih celaka lagi kalau sikap kita: "Berikan aku yang A, karena itu sudah seharusnya. Berikan aku yang B, maka aku marah."

Kalau kita perhatikan, dia berani berdoa seperti di paragraf kedua it karena ada paragraf pertama. Dia berani berdoa minta "apapun juga" karena dia percaya kepada Tuhan. Dia percaya akan kasih dan pemeliharaan Tuhan. Dia percaya Tuhan mampu dan mau memelihara dia bahkan lebih daripada dirinya sendiri. Apapun yang baik yang dia inginkan bagi dirinya, Tuhan lebih ingin! Itu sebabnya dia percaya apapun yang dilakukan Tuhan kepadanya adalah kebaikan semata. Maka "Bring it on, Lord! Lakukanlah kepadaku apapun juga! Aku akan memujiMu!"

Saya jadi berpikir betapa bedanya hidup rohani kita kalau kita sering berdoa seperti ini.

Betapa kita, termasuk saya, perlu terus belajar berdoa. Karena bagaimana kita berdoa - berbincang dengan Tuhan, akan menentukan kerohanian kita.

Saturday, May 28, 2016

Tuhan "Caper"

“You know, don’t you, that I’m the One
who emptied your pantries and cleaned out your cupboards,
Who left you hungry and standing in bread lines?
But you never got hungry for me. You continued to ignore me.”
God’s Decree. 
Saya tertegun membaca gambaran yang sangat dramatis ini di Amos 4:6 (versi The Message). You never got hungry for God. 

TUHAN-lah yang menyebabkan mereka tidak punya makanan. Dia tutup semua sumber makanan mereka. Tetapi, sekalipun kelaparan, mereka tidak pernah lapar akan Tuhan. Dengan nada yang sulit diartikan (sedih/marah/kecewa?), Tuhan berkata: “You continued to ignore me.”
 
Lalu Tuhan melanjutkan dengan nada serupa melalui empat gambaran yang sama dramatisnya:

7-8 “Yes, and I’m the One who stopped the rains
three months short of harvest.
I’d make it rain on one village
but not on another.
I’d make it rain on one field
but not on another—and that one would dry up.
People would stagger from village to village
crazed for water and never quenching their thirst.
But you never got thirsty for me.
You ignored me.”
God’s Decree.
Tuhanlah yang menghentikan curah hujan, membuat tanah kekeringan, dan menjadikan mereka kehausan. Tetapi mereka tidak pernah haus akan Tuhan. You never got thirsty for me. You ignored me.

9 “I hit your crops with disease
and withered your orchards and gardens.
Locusts devoured your olive and fig trees,
but you continued to ignore me.”
God’s Decree.
Ladang mereka dihancurkan-Nya. Kebun, taman, panen, semua sudah disapu habis. But you continued to ignore me.

10 “I revisited you with the old Egyptian plagues,
killed your choice young men and prize horses.
The stink of rot in your camps was so strong
that you held your noses—
But you didn’t notice me.
You continued to ignore me.”
God’s Decree.
Tulah yang dulu ditimpakan kepada orang Mesir untuk membebaskan mereka dari perbudakan sekarang ditimpakan kepada mereka. Bau busuk memenuhi hidung mereka karena banyaknya kematian, baik hewan maupun manusia. Tetapi mereka tetap tidak mengalihkan perhatian kepada Tuhan. But you didn't notice me. You continued to ignore me.

11 “I hit you with earthquake and fire,
left you devastated like Sodom and Gomorrah.
You were like a burning stick
snatched from the flames.
But you never looked my way.
You continued to ignore me.”
God’s Decree.
Tuhan menghajar mereka habis-habisan dengan bencana alam sampai mereka menjadi seperti puntung yang diselamatkan dari api. Tetapi mereka tetap tidak melihat kepada Allah. But you never looked my way. You continued to ignore me.

Di satu sisi, Tuhan bertindak seperti hakim yang sedang menjalankan penghakiman melalui berbagai malapetaka yang dialami umat-Nya. Tetapi, di sisi lain, Tuhan seperti orang tua yang sedang berusaha menarik perhatian anak-Nya. Uang jajan distop, mobil ditarik, baju tidak dibelikan lagi, telpon diputus - semua hanya supaya si anak mau datang ke orang tua.

Apakah Tuhan marah? Ya, Dia marah karena anak-Nya berdosa. Tetapi Dia tidak ingin menghancurkan anak-Nya. Satu-satunya yang Dia inginkan adalah supaya anak-Nya datang kepada-Nya.

Amazing bukan? Tuhan "caper"! Dia cari perhatian! Dia berusaha menarik perhatian anak-Nya untuk kembali kepada-Nya. Datang saja kepada-Nya, lihat saja Dia, bicara saja dengan Dia! But they continued to ignore Him.

Maka tidak ada cara lain, Dia akan lebih jelas lagi, lebih nyata lagi, dan kalau perlu lebih keras lagi. Time’s up. Prepare to meet your God!

12 “All this I have done to you, Israel,
and this is why I have done it.
Time’s up, O Israel!
Prepare to meet your God!”
Saya kira, hari ini, Tuhan sangat mungkin melakukan yang kurang lebih sama kepada kita seperti kepada Israel dulu. Caranya mungkin berbeda tapi kerinduan Tuhan sama. Apakah Tuhan juga sedang caper kepadamu? Don't ignore Him.

Thursday, March 24, 2016

Broken and Spilled Out

Pada kebaktian Jumat Agung di GKY Singapore, empat tahun yang lalu, paduan suara menyanyikan lagu Broken and Spilled Out dari Steve Green. Di malam menjelang peringatan Jumat Agung ini, saya kembali mendengarkan lagu itu dan merenungi lagi kata-katanya.

Steve Green mengambil syair ini dari kisah di dalam Injil. Saya kira dia mengambil syair lagunya dari Matius 26.6-13/Markus 14.3-9/Yohanes 12.1-8 (walaupun kisah yang serupa juga ada di Lukas 7.36-50), yaitu ketika Maria mengurapi Yesus di Betania beberapa hari sebelum Jumat Agung. Yesus sendiri berkata tentang peristiwa itu, "Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan utuk penguburan-Ku" (Mrk 14.8).

Klip video di bawah ini dibuat oleh istri saya beberapa tahun lalu:



One day a plain village woman
Suatu hari ada seorang wanita desa yang sederhana
Driven by love for her Lord 
Digerakkan oleh kasih kepada Tuhan-nya
Recklessly poured out a valuable essence
Dengan sembrono menuangkan minyak wangi yang berharga
Disregarding the scorn
Tanpa mempedulikan cemoohan
And once it was broken and spilled out
Dan begitu (botol) minyak wangi itu dipecahkan dan ditumpahkan
A fragrance filled all the room
Bau wangi memenuhi seluruh ruangan
Like a pris'ner released from his shackles
Seperti tahanan yang dibebaskan dari ikatannya
Like a spirit set free from the tomb
Seperti roh yang dibebaskan dari kuburan

Tiba-tiba di tengah lagu ini, subjek dan objeknya berubah. Bukan lagi tentang "wanita itu" tetapi tentang "saya". Dan di akhir bagian ini, bahkan bukan lagi tentang "minyak wangi yang ditumpahkan" tetapi tentang "saya yang rela ditumpahkan".

Broken and spilled out
Dipecahkan dan ditumpahkan
Just for love of you Jesus
Hanya karena kasih untuk-Mu Yesus
My most precious treasure lavished on Thee
Hartaku yang paling berharga dihamburkan pada-Mu
Broken and spilled out
Dipecahkan dan ditumpahkan
And poured at Your feet
Dan dituangkan pada kaki-Mu
In sweet abandon, let me be spilled out
Dalam penyerahan yang manis, biarkan aku ditumpahkan
And used up for Thee
Dan dipakai habis untuk-Mu

Di bagian akhir lagu ini, sekali lagi subjek dan objeknya berubah. Kali ini, bukan lagi wanita itu dan bukan lagi saya yang menumpahkan minyak wangi, tetapi Allah! Bukan lagi tentang minyak wangi atau saya yang ditumpahkan, tetapi Yesus!

Lord You were God's precious treasure
Tuhan Engkau adalah harta Allah yang berharga
His loved and His own perfect Son
Anak-Nya sendiri yang dikasihi dan sempurna
Sent here to show me the love of the Father
Diutus untuk menunjukkan kepadaku kasih Bapa
Just for love it was done
Untuk kasih itu dilakukan
And though You were perfect and holy
Dan sekalipun Engkau sempurna dan kudus
You gave up Yourself willingly
Engkau memberikan diri-Mu dengan rela
You spared no expense for my pardon
Engkau tidak menyayangkan apapun demi pengampunanku
You were used up and wasted for me
Engkau dipakai habis dan dihamburkan untukku

Broken and spilled out
Dipecahkan dan ditumpahkan
Just for love of me Jesus
Hanya karena kasih untukku Yesus
God's most precious treasure lavished on me
Harta Allah yang paling berharga dihamburkan padaku
You were broken and spilled out
Engkau dipecahkan dan ditumpahkan
And poured at my feet
Dan dituangkan pada kakiku
In sweet abandon Lord
Dalam penyerahan yang manis Tuhan
You were spilled out and used up for me
Engkau ditumpahkan dan dipakai habis untukku

Segalanya menjadi terbalik!. Kita pikir kita yang mengasihi Allah. Kita pikir kita yang memecahkan dan menumpahkan harta kita, diri kita, segala yang berharga bagi kita, untuk Yesus. Tetapi Allah sudah memecahkan dan menumpahkan Yesus untuk kita. Harta Allah yang paling berharga dihamburkan pada kita! Dia dipecahkan, ditumpahkan, dan seperti - saya tidak tega bahkan untuk menuliskan ini - dituangkan pada kaki kita. Oh Tuhan, how can it be! 

Yesus ditumpahkan dan dipakai habis untuk kita. Bisakah kita tidak melakukan yang sama - yang sebenarnya jauh jauh jauh lebih rendah dari yang dilakukan Allah?

Maka dua kalimat ini terngiang-ngiang di telinga saya:

In sweet abandon Lord, You were spilled out and used up for me.
In sweet abandon, let me be spilled out and used up for Thee. 

Selamat Jumat Agung dan Paskah!

Wednesday, August 05, 2015

Terus “Tune Up” Dengan Allah

Salah satu sifat yang sangat menonjol dari iblis adalah “oportunis” – pandai mengambil keuntungan dari situasi yang ada.

“…jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau,…” (Kej 4:7)

Pada saat kita melakukan kesalahan, “tidak berbuat baik”, dosa sudah mengintip di depan pintu dan sangat menggoda! Iblis menantikan saat kita lemah, saat kita berbuat bodoh, saat kita melakukan yang tidak terpuji. Saat itulah… tinggal tunggu waktu dosa akan menguasai kita karena dia sudah mengintip di depan pintu. Istilah “ia sangat menggoda engkau” mungkin lebih baik diterjemahkan “ia sangat bernafsu untuk memiliki engkau”.

“Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik.” (Luk 4:13)

Ayat ini muncul tepat di akhir kisah Yesus dicobai Iblis di padang gurun. Tiga kali Iblis mencobai Yesus dan tiga kali pula Yesus melawan dan akhirnya mengusir dia. Yesus menang! Horeee…! Tapi kalimat berikutnya sangat mengerikan: Iblis mundur dari pada Yesus dan menunggu waktu yang baik! Iblis kalah saat itu, tapi dia tidak menyerah. Dia akan datang lagi dan mencobai lagi “pada waktu yang baik.” Kapan itu? Oh, dia sangat tahu kapan waktu yang baik itu.

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Pet 5:8)

Petrus menggambarkan Iblis seperti singa – menunjukkan keganasannya. Singa itu mengaum-aum – tanda kebuasan dan kelaparan. Tapi yang sangat mengerikan adalah: Singa yang mengaum-aum itu berjalan keliling dan mencari orang yang dapat ditelannya! Dia tidak tinggal diam. Dia berjalan keliling dan mencari mangsa… siapa saja yang dapat ditelannya.

Waktu kita mulai marah-marah.. dia berkata “Aha!” Waktu hati kita penuh kepahitan… dia berkata lagi “Aha!” Waktu kita kesepian, waktu kita tidak puas dengan hidup kita, waktu kita entertain dosa dalam pikiran kita, dia berkata “Wow.. aha..aha..aha!!!” Apapun keadaan kita, dalam kelemahan kita sebagai manusia, dia akan masuk dan memanfaatkannya untuk menjatuhkan kita.

Kalau Iblis begitu oportunis, apa yang harus kita lakukan?

Satu-satunya yang bisa menjaga kita dari kejatuhan adalah kalau hati kita terus menerus “tune up” dengan Allah. Seperti mobil ketika terus dipakai bisa menjadi tidak pas lagi, mesin mulai kotor, baut mulai kendor, karet mulai aus, maka ia perlu di tune up lagi supaya kembali sesuai dengan standar yang seharusnya. Demikian pula hidup kita.

Ada banyak sekali hal yang membuat kita lelah dan letih. Ada banyak sekali godaan di sekitar kita. Ada banyak sekali hal yang membuat kita menginginkan yang tidak benar. Kita perlu di “tune up” lagi supaya kembali sesuai dengan standar yang seharusnya – Tuhan sendiri.

Tapi berapa sering kita perlu “tune up”? Sesering mungkin!

Tidak seperti mesin mobil yang bisa bertahan lama tanpa tune up, kita tidak bisa! Dengan sangat mudah dan cepat, keadaan hati kita menjadi berantakan dan siap untuk diterkam oleh iblis. Pagi hari kita bisa membaca Alkitab dan berdoa, bahkan berjanji untuk hidup bagi Tuhan, tapi siang harinya kita bisa lupa semuanya. Maka sesering mungkin, terus menerus, continuously, kita perlu “tune up” hati kita dengan Allah.

Mungkin itu berarti setiap kali muncul pikiran yang tidak baik, kita berhenti sejenak dan berdoa mengingat akan kekudusan Tuhan. Mungkin itu berarti setiap kali kita kuatir, takut, kita berhenti sejenak dan mengingat kebesaran Tuhan. Mungkin itu berarti dalam keadaan “baik” pun kita sering berhenti sejenak untuk menyadari kehadiran-Nya, mengingat janji-Nya dan perintah-Nya.

Orang-orang yang disebut giants dalam kerohanian berdoa. Kita juga berdoa. Tapi perbedaan mereka dengan kita adalah: Mereka berdoa continuously. Bukan berarti mereka tidak bekerja… tapi mereka terus menerus hidup bersama Tuhan. Mereka terus “tune up” dengan Allah.

Hanya dengan demikianlah, kita menutup kesempatan bagi Iblis - si raja oportunis  itu, untuk menerkam kita.

Saturday, July 11, 2015

Jesus Loves You

Kemarin malam saya teringat sebuah reffrain lagu dalam bahasa Mandarin.  Kata-katanya sangat menyentuh saya:

Yesu ai ni (Yesus mencintaimu)
Yesu teng ni (Yesus menyayangimu)
Yesu neng zao yi ge quan xin de ni (Yesus mampu menciptakan dirimu yang seluruhnya baru)

Setiap kali saya menyanyikan kalimat yang kedua “Yesu teng ni” saya terharu...

Kata “teng” (dibaca: theng – “e” nya seperti dalam “sebab”) dalam bahasa Mandarin punya 2 arti: Pertama adalah “kesakitan” (ache, have a pain). Kedua adalah “sayang” (love dearly, be fond of, dote on), maka bukan sayang biasa tapi sayang banget, suka banget, demen banget.

Tidak bisa tidak, setiap kali mengatakan “Yesu teng ni” saya membayangkan Yesus begitu sayang, begitu suka, begitu demen, banget banget... sampai “kesakitan” saking sayangnya kepada kita. Sayang yang sampai sakit.

Cepat-cepat saya cari di youtube dan mendengarkannya sambil meresapi kata-katanya. Lirik lagunya seperti ini (saya terjemahkan bebas):

Engkau berkata hari mendung mewakili perasaanmu
Hari hujan lebih lagi mencerminkan reaksimu atas kehidupan
Engkau bilang setiap hari kehidupan sama saja datar
Tidak ada sedikitpun keyakinan akan masa depan
Kawan terkasih, pernahkah engkau memperhatikan bintang yang memenuhi langit
Berharap ada seseorang yang mampu mengerti hatimu
Mampu mencintaimu, memperbarui kekuatanmu

Yesus mampu menjadikan semuanya baru
Yesus mampu mengerti perasaanmu
Yesus mampu mengubah (transformasi) masa lalumu
Yesus mencintaimu
Yesus menyayangimu
Yesus mampu menciptakan dirimu yang seluruhnya baru

Coba baca lagi!

Engkau melihat hidup sangat suram, mendung, hujan, datar, tidak ada keyakinan. Engkau merenung, bertanya-tanya "darimanakah akan datang pertolonganku?" (Mazmur 121:1).

Bolehkah saya berkata seperti lagu ini?

Kawan terkasih... Yesus mengerti perasaanmu.
Yesus mampu mengubah semuanya.
Dia mencintaimu.
Dia menyayangimu banget banget... sampai sakit!
Yesus mampu menciptakan dirimu yang baru, bukan tanggung-tanggung tapi SELURUHNYA baru!

Yesu ai ni!
Yesu teng ni!


Ini link lagunya di youtube, coba dengarkan sampai selesai:
https://www.youtube.com/watch?v=lgzsjo-ZML4

Saturday, March 14, 2015

"Choosing" - Memilih Untuk Menginginkan Allah

Pagi ini saya membaca sebuah renungan dari buku The Strength of a Man tulisan David Roper berjudul “Choosing”. Saya ingin mengecapnya lebih lama dengan meringkas, menerjemahkan dan menuliskan ulang renungan ini dengan kata-kata saya sendiri.


CHOOSING 
-David Roper-

Saya menerima sebuah surat dari seorang teman lama saya di Kenya. Ia adalah seorang pastor bagi para pastor. Surat yang pedih – sebuah permintaan tolong.

“Aku ingin mengenal Tuhan,” tulisnya. “Aku ingin mencintai-Nya. Aku ingin mengenal kehadiran Yesus Kristus melalui perantaraan Roh Kudus. Aku ingin... tetapi mengapa aku seperti tidak terlalu menginginkannya!? Aku seperti orang yang hanya berdiri di pinggiran sambil melihat tanpa menginginkan! Dunia dipenuhi terang kemuliaan Allah, dan hanya mereka yang melihat kemuliaan itu yang akan membuka sepatunya, seperti Musa dulu melihat semak terbakar lalu membuka kasutnya dan menyembah! Tetapi bahkan aku tidak tahu bagaimana membuka sepatuku! Aku tidak tahu bagaimana tergetar dan ingin menyembah! Tolonglah aku, paling tidak untuk membuka tali sepatuku ini saja!”

Reaksi saya awalnya adalah seperti reaksi Yohanes Pembaptis kepada Yesus. Siapa saya ini sehingga boleh mengikat, apalagi membuka, sepatu teman saya? Melihat pelayanannya bagaimana mungkin saya meragukan cintanya kepada Kristus? Tetapi saya tahu apa yang dia rasakan karena saya sendiri bergumul dengan sampah dalam pikiran saya dan kekerasan hati saya.

A.W. Tozer pernah menulis, “Allah adalah pribadi yang bisa dikenal, semakin lama semakin intim, jika kita mempersiapkan hati kita untuk mengagumi keintiman itu.” Itu realita. Allah adalah pribadi yang hidup yang bisa dikenal. Tetapi, ah... tidak semudah itu! Kita merindukan keintiman, tetapi kita sering tidak cukup menginginkannya. Allah berespon ketika kita mendekatkan diri kepada-Nya - sekecil apapun, tetapi kita hanya bisa mendekat kepada Dia sejauh yang kita inginkan.

Allah tidak bermain petak umpet. Dia tidak sulit untuk ditemukan, tetapi Dia tidak akan memaksakan kasih-Nya kepada kita. Seperti yang dijanjikan oleh Musa, “di sana engkau mencari TUHAN, Allahmu, dan menemukan-Nya, asal engkau menanyakan Dia dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu” (Ulangan 4:29). Maka seberapa dekatnya kita dengan Allah bergantung pada seberapa kita menetapkan hati untuk mengenal dan mencintai Dia. Ini masalah pilihan.

Maka, pertama-tama, kita harus sangat menginginkan Tuhan, seperti dikatakan pemazmur:

Satu hal telah kuminta kepada TUHAN,
itulah yang kuingini:
diam di rumah TUHAN seumur hidupku,
menyaksikan kemurahan TUHAN
dan menikmati bait-Nya (Mazmur 27:4)

Selama kita hanya merasa “samar-samar tidak puas” dengan jalan hidup kita sekarang dan juga tidak terlalu menginginkan hal-hal rohani; selama kita hanya seperti itu maka hidup kita hanya akan berhenti menjadi melankolis. Kita sering berkata, “Saya tidak bahagia; saya tidak terlalu sukacita atau penuh damai. Mungkin memang beginilah hidup.” Pikiran seperti itulah yang menghalangi kita untuk BERUSAHA mencari kehidupan dari Allah. Maka tugas pertama kita adalah menghalau perasaan “samar-samar tidak puas” itu dan jujur dengan diri sendiri. Apakah kita menginginkan Allah ATAU tidak?

Kalau kita menginginkan Allah, kita harus tekun mengejar Allah melalui renungan pribadi dan ibadah, teratur membaca Firman Tuhan dan menyiraminya dengan doa, pujian, penyembahan, dan meditasi siang dan malam.

Kalau kita menginginkan Allah, kita juga harus rela untuk menghadapi dosa kita. Dosa yang sekarang, yang terus membandel, menghalangi penglihatan kita akan Allah. Seperti yang dikatakan Yesus, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka [dan hanya mereka] akan melihat Allah” (Matius 5:8). Dosa hanya menggantikan kehausan yang satu dengan kehausan yang lain. Dosa membatasi keintiman kita dengan Allah.

Dan kalau kita menginginkan Allah, kita harus menunggu. Allah akan menyatakan diri kepada kita. Penundaan adalah bagian yang tidak bisa dihindarkan dari proses ini. Paulus mendorong kita untuk tidak jemu-jemu berbuat baik, “karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” Tuaian tidak datang di penghujung hari ini. Ia akan datang nanti.

Allah tidak akan membiarkan kita menunggu hanya untuk terus memeriksa diri, menganalisa hati dan pikiran, lalu menjadi lelah dengan semuanya. Tidak! Janji Tuhan itu baik, "Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu." (Yakobus 4:8).

Ini masalah pilihan!

Friday, January 23, 2015

Siang dan Malam

Pagi ini saya membaca sebuah doa di dalam Book of Common Prayer (buku doa dari gereja Anglikan). Berulang-ulang saya baca dan renungkan doa yang sangat indah ini:

"O God, the King eternal, who divides the day from the night and turns the shadow of death into morning: Drive far from us all wrong desires, incline our hearts to keep Your law, and guide our feet into the way of peace; that, having done Your will with cheerfulness while it was day, we may, when the night come, rejoice to give You thanks; through Jesus Christ our Lord. Amen." (Book of Common Prayer)

"Ya Allah, Raja yang kekal, yang memisahkan siang dari malam dan mengubah bayangan kematian menjadi pagi: Jauhkanlah dari kami keinginan yang salah, condongkanlah hati kami untuk memegang hukum-Mu, dan tuntunlah kaki kami ke jalan kedamaian; supaya, setelah kami melakukan kehendak-Mu dengan gembira selama masih siang, kami dapat, ketika malam datang, bersukacita untuk mempersembahkan syukur kepada-Mu; di dalam Yesus Kristus Tuhan kami. Amin."


Ada siang dan ada malam. Di dalam Alkitab, "siang" seringkali menjadi simbol ada kehidupan dan ada kesempatan, sementara "malam" menjadi simbol kematian dan selesainya segala sesuatu.

Doa ini memohon kepada Tuhan yang memisahkan siang dan malam itu untuk menolong kita, supaya waktu siang kita hidup dengan benar. Waktu siang, kita diajak memohon kepada Tuhan untuk menjauhkan kita dari semua keinginan dan hasrat yang salah - itu berarti kemarahan, keserakahan, kemalasan, pemborosan waktu, pelampiasan hawa nafsu, dan segala macam hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Waktu siang, kita memohon supaya Tuhan mencodongkan hati kita (yang selalu cenderung condong ke arah lain) untuk memegang hukum-Nya. Waktu siang, kita memohon supaya Tuhan menuntun kaki kita, langkah kita, ke jalan kedamaian. Betapa manisnya kata itu: damai.. peace.. Dengan demikianlah kita melakukan kehendak Tuhan sepanjang hari - selama siang - dengan gembira!

Doa ini memohon kepada Tuhan untuk menolong kita selama masih siang, supaya ketika malam datang, dengan sukacita kita bisa mempersembahkan syukur kepada-Nya. Betapa sering kebalikannya yang terjadi. Kita sembarangan hidup pada waktu siang dan hanya merasa gagal pada waktu malam. 

Doa ini juga mengingatkan kita bahwa tidak selamanya hari akan "siang", tidak selamanya kita akan hidup, tetapi akan datang "malam", dimana tidak ada seorang pun yang bisa berbuat apa-apa lagi.

Tuhan, tolong kami di dalam Yesus Kristus Tuhan kami. Amin.

Thursday, December 18, 2014

Doa yang Mengerikan

Saya baru saja membaca tulisan Thomas a Kempis dimana dia mengajarkan bahwa Kristus meminta
kita untuk mempercayakan seluruh diri kita dengan pasrah kepada-Nya dan meminta kita untuk berdoa demikian:

Lord, You know what is better for me; let this be done or that be done as You please. Grant what You will, as much as You will, when You will. Do with me as You know best, as will most please You, and will be for Your greater honor. Place me where You will and deal with me freely in all things. I am in Your hand; turn me about whichever way You will. Behold, I am Your servant, ready to obey in all things. Not for myself do I desire to live, but for You – would that I could do this worthily and perfectly!

Berkali-kali saya membaca kalimat-kalimat itu dan memikirkan implikasinya. Betulkah saya berani berdoa seperti itu? Menjatuhkan diri sepenuhnya ke dalam genggaman tangan Tuhan – tanpa memohon yang lain, tanpa ada keinginan lain, tanpa memikirkan yang lain, semua terserah Tuhan! Kalau Tuhan anggap baik untuk membuat saya hancur – untuk kebaikan jiwa saya, silakan. Kalau Tuhan anggap baik untuk mengambil semua yang berharga bagi saya, silakan. Kalau Tuhan membiarkan saya di dalam kegelapan yang sangat gelap, silakan. Kemana pun Tuhan mau saya melangkah, kapan pun semua itu akan terjadi, saya berserah! Bukankah itu doa yang mengerikan?

Oh.. how I wish I could pray that worthily and perfectly! Betapa inginnya saya bisa berdoa seperti itu dengan layak dan sempurna!

Saya sangat tahu bahwa Tuhan bukan Tuhan yang jahat dan senang mempermainkan hidup saya. Dia sangat baik, amat baik, terlalu baik! Tetapi betapa sulitnya untuk betul-betul memasrahkan diri kepada-Nya. Selalu ada keinginan untuk berkata, “Ah Tuhan, tapi jangan yang itu ya…betul lho Tuhan, saya sih pasrah, tapi jangan sampai begitu dong…”

Saya tahu saya tidak akan pernah lulus pelajaran berdoa dan mengikut Tuhan, sampai nanti berjumpa dengan Dia di kekekalan. Tetapi, saya ingin naik kelas… sedikit saja…

Lord, have mercy on me!

-Lamunan sore hari-

Sunday, March 04, 2012

Sekilas Mengintip Hati Allah

Banyak orang akan dengan mudah setuju bahwa doa adalah komunikasi dengan Allah. Tapi
pernahkah berpikir apa artinya itu?

Ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, salah satu yang kita lakukan adalah memberikan informasi. Tapi kita tidak perlu memberikan informasi kepada Allah karena Allah tahu semuanya. Lalu apa yang kita lakukan?

Mungkin lebih tepatnya kita bercerita. Orang tua bisa tahu semua yang dilakukan anaknya yang masih kecil di halaman karena dia mengamati terus waktu anaknya bermain. Tapi dia senang ketika anaknya datang dan bercerita apa yang terjadi. Anak itu bukan memberikan informasi, orang tuanya tidak perlu itu, tapi dia bercerita. Dan itu menyenangkan. Orang tua juga bisa tahu kalau anaknya dihina dan disakiti oleh teman-temannya. Tapi walaupun dia tahu, dia mau anaknya datang dan bercerita apa yang terjadi. Orang tuanya ingin merasakan kepedihan anaknya, dan ingin ikut menghibur anaknya.

Itulah doa! Kita bercerita kepada Allah! Sampai disini sudah luar biasa. Tapi mari kita maju selangkah lagi.

Lalu apa yang Allah sampaikan kepada kita?

Ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, sambil kita mendengar perkataan orang itu. sambil kita melihat gerak-geriknya, mimiknya, matanya. Semua itu adalah jendela untuk lebih mengenal dia, jendela untuk mengintip siapa sebenarnya dia, apa yang dia sedang pikirkan dan rasakan. Maka selesai komunikasi, kita makin mengenal orang itu. Atau bagi orang tua, reaksinya waktu mendengar cerita anaknya, senyumannya, kalimat penghiburannya, pelukannya, membuat anaknya makin mengenal dia. Itulah komunikasi, melalui jendela yang terbuka – perkataan, mimik, gerak-gerik, mata – kita mengintip ke dalam hati orang itu.

Pada waktu kita berkomunikasi dengan Allah, mengejutkan bahwa itulah yang terjadi! Ternyata kita bukan hanya bercerita kepadanya, membuat Dia senang atau sedih mendengar cerita kita. Tetapi Allah berespon! Walaupun tidak dengan suara yang terdengar, tidak dengan pelukan yang bisa dirasakan, tapi dengan caraNya sendiri Dia membuka jendela untuk kita melihat hatiNya, mengintip sekilas akan apa yang Dia inginkan!

Betapa sayangnya banyak orang Kristen tidak mengalami itu di dalam doa. Kita datang dengan agenda sendiri. Kita datang dengan setumpuk keluhan. Kita datang dengan terburu-buru. Kita datang dengan asal-asalan. Kita tidak pernah berkomunikasi dengan Allah!

Berceritalah kepada Allah, Dia mau mendengar. Dan lihatlah bagaimana Dia membuka jendela untuk kita sekilas mengintip hatinya. Kita mungkin kaget, kita mungkin sedih, kita mungkin tertusuk ketika melihat isi hati Allah…. Tapi bagaimanapun reaksi kita, apapun yang kita lihat, kita akan selalu menemukan KASIH di situ.

Selamat berdoa!

Monday, February 06, 2012

Paradoks Doa

Salah satu misteri besar dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen adalah bagaimana kita harus berdoa.

Di satu sisi, kita tahu bahwa kita tidak boleh khawatir karena kita harus percaya pada Allah yang pasti memelihara. Kita juga tidak boleh takut karena kita harus percaya bahwa Allah itu baik. Kita juga harus yakin bahwa apapun yang terjadi tidak pernah lepas dari kontrol Allah. Kita tahu bahwa apapun yang Allah akan berikan, sekalipun awalnya terasa tidak enak bagi kita, bisa menjadi kebaikan bagi kita. Karena itu kita harus belajar mengatakan: “jadilah kehendak-Mu”.

Tetapi, di sisi lain, bukankah Tuhan mengajarkan kita untuk berseru kepada-Nya siang dan malam? Kita harus terus menerus meminta kepada-Nya seperti yang diajarkan dalam perumpamaan tentang hakim yang lalim (Luk 18:1-7). Atau seperti yang juga diajarkan oleh Yesus supaya kita terus meminta, mencari, mengetok pintu, sampai diberikan, ditemukan dan dibukakan pintu (Luk 11:5-10).

Kadang dengan mudah kita bisa berkata “jadilah kehendak-Mu” ketika permohonan doa itu tidak menyangkut diri kita tetapi orang lain, mungkin mereka yang sedang sakit atau kesusahan. Kita berkata “jadilah kehendak-Mu” karena mungkin di dalam hati kita tidak terlalu peduli dengan apapun yang akan terjadi! Tetapi ketika permohonan doa itu sangat menyangkut diri kita atau orang yang kita kasihi, masihkah kita berdoa dengan sikap "terserah Tuhan"?

Kita pasti akan memohon dengan sangat dan ngotot kepada Tuhan. Berkali-kali kita akan minta lagi dan minta lagi. Bahkan mungkin sambil menangis dan berduka. Tetapi di saat seperti itu, seringkali kita diingatkan, bukankah Tuhan tahu yang terbaik dan kehendak Tuhan adalah yang terbaik?

Maka di satu sisi kita ingin ngotot, di sisi lain kita tahu bahwa harusnya kita berserah. Lalu bagaimana seharusnya kita berdoa? Itulah paradoks doa. Seperti Yesus berdoa di taman Getsemani. Dia tahu persis bahwa Dia harus minum cawan itu. Tapi Dia tetap berdoa dengan sungguh-sungguh, bukan 1X tapi 3X! Artinya Dia berdoa terus, meminta, mencari, mengetok, dengan sungguh-sungguh. Tapi, setiap kali, Dia berdoa dengan sikap “jadilah kehendak-Mu”. Paradoks!

Paradoks doa ini yang harusnya kita alami dan lakukan waktu berdoa. Kita meminta dengan sungguh, terus menerus, memohon kepada Tuhan, dan sekaligus berserah kepada kehendak Tuhan. Kita tidak boleh hanya meminta dengan ngotot tanpa percaya bahwa Tuhan tahu yang terbaik dan kehendak Tuhan adalah yang terbaik. Kita juga tidak boleh hanya "berserah" tanpa meminta dengan sungguh-sungguh, karena mungkin itu hanya tanda ketidakpedulian kita. Meminta dengan sungguh-sungguh dan berserah. Sangat sulit!

Saya percaya bahwa kehidupan doa adalah bagian dari perjalanan iman kita. Seperti tidak ada orang yang sempurna imannya, demikian pula tidak ada orang yang sempurna dalam berdoa. Mari terus belajar berdoa, dengan sungguh dan berserah kepada Tuhan.

Friday, January 27, 2012

Remember Me in Your Prayer

“Tolong doain ya”, permintaan itu seringkali kita dengar dari teman atau keluarga kita. Tapi berapa banyak permintaan seperti itu yang sungguh kita responi dengan doa?

Permintaan doa memang sering menjadi basa-basi di lingkungan orang Kristen. Yang minta didoakan juga tidak sungguh2 berharap didoakan, dan yang mendengar juga tidak sungguh2 menanggapinya.

Mungkin ada 2 masalah yang lebih dalam di balik itu. Pertama, kita cenderung egois. Kita berdoa untuk diriku, kebutuhanku, pergumulanku, kesedihanku, dan keinginanku. Kita tidak terlalu peduli dengan kebutuhan, pergumulan, kesedihan orang lain. Maka dengan cepat kita lupa ada orang yang minta didoakan.
Kedua, kita mungkin meragukan kuatnya dosa dan kuasanya doa. Kita beranggapan “ah, nggak didoain juga nggak ada apa2” (kuatnya dosa?) dan “ah, didoain juga nggak ada perbedaan apa2” (kuasanya doa?). Maka orang lain kita kesampingkan dari daftar doa kita.

Kita lupa kuatnya dosa, ngerinya iblis, yang mengintai dan ingin menghancurkan setiap kita. Tidak ada pengecualian, tiap kita berada dalam daftar keinginan iblis. Dia oportunis sejati yang terus mencari waktu yang tepat.

Kita meragukan kuasanya doa, seruan kepada Allah yang berkuasa, kepada Allah yang mendengar, dan kepada Allah yang menjawab doa. Kita ragu bahwa Allah bekerja menjawab doa yang dinaikkan dengan iman kepada Dia.

Kalau kita ingat dan percaya 2 hal di atas, bahwa tiap kita bisa dijatuhkan oleh iblis dan bahwa ada anugrah Allah yang kita minta melalui doa, kita akan berdoa dengan lebih sungguh bagi orang2 di sekitar kita.

Mulailah berdoa, bukan hanya untuk kebutuhan, keinginan, pergumulan kita, tapi doakan kehidupan rohani kita. Doakan kehidupan rohani keluarga kita. Doakan orang2 yang minta didoakan. Bahkan doakan orang2 yang kita ingat. Doakan supaya kita semua dijauhkan dari pencobaan, disertai dalam lembah kekelaman, dikuatkan untuk hidup dekat dengan Tuhan.

Kalau saja kita lebih banyak saling mendoakan, ada banyak pekerjaan setan yang dihancurkan dan pekerjaan Tuhan dinyatakan.

Friday, August 13, 2010

Imamat 26 - Persekutuan Dengan Sang Kudus

(Posted in 26 June 2008)

Tema yang mendasari kitab Imamat adalah fellowship with the Holy (persekutuan dengan Sang Kudus). Kitab Imamat dari depan sampai belakang berbicara soal imam, korban, peraturan kesucian ibadah dan peraturan kesucian hidup. Maka isi kitab Imamat adalah seputar bagaimana hidup dan bersekutu dengan Tuhan yang kudus.

Bersekutu dengan Sang Kudus adalah hal yang mudah karena kita bahkan diundang untuk itu. Tetapi itu juga bukan hal yang mudah karena kita cenderung melawan Dia. Dan ketika kita melawan Dia, kita menghancurkan persekutuan itu.

Imamat 26 dibagi menjadi 2 bagian: bagian berkat jikalau mereka mentaati Tuhan dan bagian kutuk jikalau mereka tidak mentaati Tuhan.

Bagian berkat dimulai dengan syarat (ay.3): kalau kamu “hidup menurut ketetapanKu” (walk in my laws), “berpegang pada perintahKu” (keep my Commandments) dan “melakukannya” (do them). Kalau mereka sungguh seperti demikian, maka Tuhan memberkati mereka.

Bagian kutuk dimulai dengan kalimat: “Tetapi jika kamu tidak mendengarkan Daku…" (ay.14-15). Jikalau mereka lakukan itu, Tuhan akan menghukum mereka.

Rentetan hukuman yang dituliskan terdengar sangat keras, dari mulai penyakit, tanah yang tidak menghasilkan, binatang buas, sampai yang paling mengerikan dikatakan mereka akan memakan anak mereka sendiri. Rentetan hukuman ini seperti: “Kalau tidak bertobat, ini hukumannya, kalau tidak bertobat lagi, ini tambahannya lagi, kalau masih kurang, ini tambahannya lagi…”. Sangat keras sekali!

Tetapi coba kita pikir dari sisi lain. Kalau hukumannya sederhana dan Tuhan hanya berkata “Jika kamu tidak mendengarkan Daku, Aku tinggalkan kamu”. Apa yang terjadi? Jauh lebih hancur, tidak akan ada yang tahan!

Bayangkan jika ada orang tua yang kesal dengan anaknya yang masih berusia dua tahun, lalu ia menghukum anaknya bukan dengan memarahi, bukan dengan memukul, tapi meninggalkannya di rumah sendirian! Anaknya pasti mati. Itu justru hukuman yang sangat kejam!

Maka dalam daftar hukuman bagi umat Tuhan ini, justru kita melihat keindahan kasih Tuhan. Tuhan tidak tinggalkan umatNya tetapi Tuhan pukul supaya mereka kembali taat. Dan yang sangat indah, kalau mereka kembali, Ia masih disana, Ia tidak pernah tinggalkan, Ia sambut mereka lagi.

Di bagian yang terakhir (ay.40-46), setelah kutukan yang begitu panjang, Tuhan sekali lagi mengungkapkan berita anugrah: “Tetapi bila mereka mengakui kesalahan mereka…Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan Yakub,…Ishak… dan Abraham”.

Pola ini terus terulang di dalam PL. Tuhan menyampaikan berkat yang diberikan kalau mereka taat dan Tuhan menyampaikan kutuk yang dijatuhkan kalau mereka tidak taat. Tetapi selalu diakhiri dengan berita anugrah “kalau kamu bertobat…”.

Bahkan Tuhan katakan: “Apabila mereka ada di negeri musuh mereka, Aku tidak akan menolak mereka dan tidak akan muak melihat mereka, sehingga Aku membinasakan mereka dan membatalkan perjanjian-Ku dengan mereka, sebab Akulah Tuhan, Allah mereka”.

Lihat! Tuhan tidak pernah tinggalkan dan buang umatNya. Hati Tuhan masih selalu menunggu. Tuhan hanya mau mereka kembali kepada Dia. Hanya mengakui kesalahan dan dosa mereka, merendahkan diri di hadapanNya dan mohon kemurahanNya, itu yang Tuhan mau. Dan persekutuan dengan Sang Kudus akan dipulihkan.

Saat ini dimana posisi kita? Apakah dalam persekutuan yang baik dengan Sang Kudus? Atau justru sedang melawan Dia? Kalau kita sedang melawan Tuhan, yang Tuhan inginkan adalah kembali mengaku dosa, merendahkan diri lagi dihadapan Tuhan, dan Tuhan akan memulihkan lagi.

Lihat! Tuhan tidak pernah tinggalkan dan buang kita, umatNya. Hati Tuhan masih selalu menunggu!

Thursday, January 29, 2009

Sahabat Yang Aneh

Alkitab memakai banyak istilah melukiskan hubungan kita dengan Tuhan dan salah satu yang sangat personal adalah ‘sahabat’. Suatu kali ketika saya sedang merenungi hubungan saya dengan Tuhan, saya mencoba membayangkan Tuhan sebagai sahabat saya sebagaimana yang Dia janjikan. Seperti apa sebenarnya persahabatan kami?

Sebagai sahabat, saya jelas bukan sahabat yang baik. Saya sangat sering membuat Dia kecewa, bahkan tanpa ragu menyakitiNya. Saya tahu apa yang tidak Dia suka tapi tokh saya lakukan. Saya seringkali memanfaatkan Dia dan tidak memikirkan perasaanNya. Bahkan ketika Dia ingin berkomunikasi, saya seringkali menutup telinga. Sebagai sahabat, saya ini pengkhianat, jahat, malas, keterlaluan.

Lalu saya bertanya apa yang dirasakan Tuhan sebagai sahabat saya? Seorang sahabat tentu akan marah bahkan benci.

“Apakah Engkau marah Tuhan?”

Sangat aneh ketika saya menemukan bahwa Tuhan tidak membenci saya. Tuhan benci kepada kegagalan, dosa, dan kejahatan saya, tapi dia tidak membenci saya.

“Tuhan, bukankah apa yang saya lakukan tidak bisa dipisahkan dari diri saya? Saya sendiri yang melakukan semuanya, dengan sadar dan entah berapa ratus atau ribu kali. Mengapa Engkau tidak membenci saya?”

Saya jadi merasa tidak enak hati dengan Tuhan. Ketika terjadi konflik di antara sahabat maka hubungan akan terasa menjadi kaku dan ada yang mengganjal. Itu yang saya rasakan. Tetapi saya mencoba bertanya,

“Tuhan, apakah Engkau juga rasa ada yang mengganjal?”
 
Tuhan menjawab, “Ya, jelas ada yang mengganjal, ada sesuatu yang merusak relasi kita”
 
“Lalu bagaimana Tuhan?”

Tuhan diam …........... dan Dia ingatkan saya apa yang sudah Dia lakukan.

Saya tidak habis pikir! Benar-benar tidak habis pikir! Saya yang salah, tapi Tuhan malah menyelesaikannya dengan memberikan diriNya untuk saya di kayu salib. Dan sampai hari ini, Dia sabar melihat saya sering melakukan berbagai hal yang merusak relasi kami. Dia tetap tidak membenci malah terus mengulurkan tanganNya untuk berbaikan lagi.

“Tuhan, apakah Engkau rasa ada yang mengganjal?”

“Ya tentu, tapi Aku sudah bereskan. Tinggal giliran kamu yang bereskan. Buka hatimu, bertobat, terima anugrah-Ku.”
 
Engkau sahabat yang aneh Tuhan… terlalu baik… terlalu baik...

Tuesday, July 15, 2008

Pengalaman Bersama Tuhan


Saya mengamati bahwa sebagian besar gereja-gereja dari kalangan Injili di Indonesia, entah
mengapa, menganggap tabu atau paling tidak menghindari pembicaraan mengenai perasaan-perasaan bersama dengan Tuhan atau pengalaman-pengalaman rohani.

Begitu ada orang yang bicara tentang perasaan-perasaan atau pengalaman seperti demikian, banyak orang yang langsung merasa ‘anti’ atau paling tidak waspada. Misalnya jika ada orang berkata:

“Saya merasa Tuhan menyentuh saya”
“Tiba-tiba saya merasa sangat damai dan ada perasaan hangat di dalam hati”
“Saya melihat seperti ada cahaya dan tiba-tiba saya menangis”
“Saya seperti mendengar Tuhan berkata…”

Kalimat-kalimat itu langsung membuat ‘radar teologi’ kita naik ke atas dan kita siap untuk membom jatuh ‘pesawat musuh’. Mungkin radar anda sekarang juga mulai naik ke atas dan anda siap untuk membom saya?

Saya sangat mengerti ‘bahaya’nya kalimat-kalimat seperti di atas, dan saya sangat tahu penyimpangan-penyimpangan yang selama ini dilakukan oleh orang-orang dengan kalimat-kalimat seperti di atas. Tetapi kalau kemudian kita tabu dengan hal tersebut, kita anti dengan pengalaman-pengalaman dan perasaan-perasaan seperti itu, saya kira kita "membuang air dalam baskom sekaligus dengan bayi di dalamnya"!

Iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus adalah pusat dari kehidupan rohani kita. Dan kalau iman kita adalah iman kepada Tuhan yang hidup, maka kita pasti mengalami perasaan dan pengalaman bersama dengan Dia. Kita tidak berhubungan dengan Tuhan yang hanya jauh di sana, tetapi Tuhan yang juga dekat dengan kita. Tiap hari Dia bersama kita, dan tiap saat ada yang Dia lakukan terhadap kehidupan kita. Tidak mungkin tidak ada perasaan dan pengalaman bersama dengan Dia.

Di sisi lain, iblis memang bisa menyamar menjadi malaikat terang. Artinya iblis bisa meniru berbagai hal yang dikerjakan oleh Allah sedemikian rupa sehingga orang mengira itu adalah pekerjaan Allah. Maka Iblis bisa meniru dengan memberikan perasaan dan pengalaman yang mirip seperti yang bisa diberikan Allah kepada kita. Dia bisa memberikan perasaan seperti damai, perasaan seperti adanya kehadiran Tuhan, bahkan pengalaman-pengalaman ‘rohani’ yang sangat personal.

Tetapi karena iblis bisa meniru, apakah kalau begitu kita boleh anti dengan perasaan-perasaan dan pengalaman-pengalaman yang memang diberikan oleh Tuhan? Bukankah Tuhan memang berbicara kepada kita? Bukankah Tuhan memang menjamah hidup kita? Bukankah kehadiranNya memang seringkali bisa dirasakan dengan jelas oleh anak-anakNya? Lalu mengapa kita anti dengan semua itu? Bukankah seharusnya kita bahkan mengingini pengalaman bersama dengan Tuhan? Itu yang diingini oleh Musa (melihat kemuliaan Tuhan), itu juga yang Elisa doakan supaya bujangnya alami (melihat ada tentara malaikat Tuhan), itu juga yang diberikan Yesus kepada para rasul (memperlihatkan kemuliaanNya dengan berubah rupa bersama dengan kehadiran Musa dan Elia), dan itu juga yang dialami oleh orang-orang percaya di sepanjang Alkitab!

Saya tahu sebagian orang akan berkata “kami tidak anti, tetapi kami selalu harus menguji berdasarkan Firman”. Saya 100% setuju dengan kalimat itu. Tetapi mari kita jujur, apakah selama ini kita memang ‘menguji’ atau sebetulnya cenderung takut dan akhirnya tidak peduli apakah kita mengalami Tuhan atau tidak?

Mengapa kita hanya ‘belajar’ tentang Tuhan dan ‘bekerja’ untuk Dia tetapi kita miskin ‘pengalaman’ bersama dengan Dia?