Showing posts with label g. Studi Teologi. Show all posts
Showing posts with label g. Studi Teologi. Show all posts

Monday, October 19, 2015

Bocoran: Di Sekolah Teologi Belajar Apa sih?

Hampir semua jemaat di gereja Injili tahu ada yang namanya seminari/sekolah teologi. Hampir semua juga tahu bahwa pendetanya itu lulusan seminari/sekolah teologi. Tapi ternyata hampir semua sangat banyak jemaat yang tidak pernah kebayang tahu apa sih yang dipelajari di sana?

Beberapa kali saya pernah bertemu jemaat yang berpikir bahwa di sekolah teologi kami hanya belajar Alkitab berurutan dari Kejadian sampai Wahyu. Maka saya pernah ditanya, “udah sampai kitab apa?” Ada juga yang berpikir bahwa di sekolah teologi kami belajar membuat yang mudah menjadi sulit. Maka pesannya, “jangan belajar ketinggian, nanti jemaat nggak ngerti.”

Saya sangat concern dengan ini.

Pendidikan teologi seharusnya adalah untuk semua orang Kristen; dilakukan di gereja untuk semua jemaat! Semua orang Kristen seharusnya belajar tentang imannya, tentang dunia tempat dia hidup, dan bagaimana melayani di dunia ini.

Tetapi, seriusnya pendidikan teologi membuat mereka mereka yang terpanggil menjadi pelayan Firman, sakramen dan doa di gereja (hamba Tuhan) harus belajar dengan sangat intens. Itulah sebabnya muncul “pelatnas” yaitu sekolah teologi.

Tidak ada yang salah dengan itu. Tetapi sayangnya, akhirnya pendidikan teologi dipisahkan dari kehidupan jemaat, dan orang Kristen yang seharusnya belajar teologi jadi tidak belajar dan bahkan tidak mengerti apa sih yang dipelajari di “pelatnas”.


Ok, cukup keluh kesahnya. Saya ingin kasih “bocoran” sedikit apa sih yang dipelajari di sekolah teologi di program dasar seperti Sarjana Theologi (S.Th) atau Magister Divinitas (M.Div). Setiap seminari/sekolah teologi tentu punya kurikulum yang berbeda, tapi kurikulum utamanya sebenarnya mirip. Program S.Th dan M.Div adalah first degree dalam sekolah teologi, maka sifatnya menyeluruh. Bahasa kerennya rounded – artinya mempelajari berbagai aspek dan hal yang perlu sebagai persiapan menjadi hamba Tuhan. Pada waktu studi postgraduate barulah studinya spesifik.

Pada umumnya mata kuliah yang dipelajari di seminari/sekolah teologi di Indonesia adalah:

Studi Perjanjian Lama dan Studi Perjanjian Baru (ya betul, kami belajar Alkitab). Mempelajari dunia Alkitab (dunia sosial, politik, ekonomi, di zaman itu) dan mengenal 66 kitab di dalam Alkitab (penulisannya, latar belakangnya, dan tema-tema di dalamnya). Totalnya bisa 6 kuliah atau lebih untuk Studi PL dan juga PB.

Saya beri contoh. Mata kuliah Studi PB tentang Injil akan membahas: Latar belakang PB, survey mengenai sejarah orang Yahudi dari masa pemberontakan Makabe (167 SM) sampai hancurnya negara Yahudi (135 M), membahas juga mengenai perkembangan agama Yahudi di zaman itu, bait Allah, pemimpin agama, kitab suci, lalu literatur kuno di zaman itu. Kemudian juga teologi dari Injil –unik untuk setiap Injil- akan dibahas. Kemudian studi kritis terhadap Injil, yaitu berbagai teori yang dikeluarkan para ahli tentang Injil, juga diperkenalkan. Terakhir, beberapa bagian dari Injil akan dipelajari secara mendalam.

Doktrin (atau biasa dikenal sebagai Teologi Sistematika). Mempelajari berbagai macam doktrin: Alkitab, Manusia dan Dosa, Keselamatan, Gereja, Akhir Zaman, Allah, Kristus, Roh Kudus. Totalnya bisa 4 kuliah atau lebih.

Bahasa Yunani dan Bahasa Ibrani – Totalnya masing-masing biasanya 2 kuliah (jadi 4 kuliah).

Hermeneutika – Belajar tentang prinsip penafsiran Alkitab. Mengerti kesulitannya dan berbagai teori di baliknya.

Eksegese Perjanjian Lama
dan Eksegese Perjanjian Baru – Belajar bagaimana menggali Alkitab, setiap genre (jenis sastra) membutuhkan cara yang berbeda. Belajar bagaimana menganalisa struktur kalimat, analisa grammar, analisa kata, dst. Lalu mengenal teks Alkitab (misalnya perbedaan manuskrip yang dipakai) dan bagaimana menggunakan tools yang ada (lexicon, dictionary, grammatical analysis, dll). Masing-masing biasanya 1 kuliah.

Teologi Perjanjian Lama dan Teologi Perjanjian Baru (Teologi Biblika) – Belajar tema-tema teologis yang bukan dilihat per kitab tapi dari keseluruhan Alkitab, misalnya apa yang diajarkan Alkitab tentang Mesias, Anak Allah, Penebusan, Keadilan Allah, dst. Masing-masing biasanya 1 kuliah.


Sejarah Gereja – Dari mulai gereja mula-mula, penyebarannya, faktor-faktor di sekitarnya (politik, ekonomi, dll), sampai ke zaman gereja modern. Total biasanya 2 kuliah.

Homiletika – Belajar bagaimana berkhotbah.

Etika – Sederhananya adalah belajar prinsip membedakan right and wrong dan bagaimana mengambil keputusan, ditinjau dari sisi filsafat dan juga dari Alkitab. Bisa 1 atau 2 kuliah.

Lalu tiap seminari/sekolah teologi juga akan memasukkan mata kuliah lain seperti: Sejarah Teologi (bagaimana perkembangan pemikiran teologi di sepanjang zaman), Formasi pertumbuhan rohani (konsep pertumbuhan dan bagaimana seseorang bertumbuh), Kepemimpinan dan Manajemen gereja, Konseling pastoral, Misiologi (teori tentang misi), Perbandingan agama, Pendidikan Kristen, Musik gerejawi, Apologetika, Filsafat, dll. Masih banyak macam! Lagi-lagi, setiap seminari/sekolah teologi akan memasukkan mata kuliah yang berbeda.

Kira-kira seperti itu.

Maka bisa dibayangkan pendidikan teologi undergraduate, “pelatnas”nya hamba Tuhan, memang berusaha untuk rounded. Dari mulai yang fondasi seperti Alkitab dan doktrin, lalu ilmu lain yang berkaitan seperti sejarah, etika, dan filsafat, kemudian ketrampilan pelayanan seperti berkhotbah, pastoral konseling, kepemimpinan, dll.

Tidak semua mata kuliah bisa dijejelin karena ada batasan kredit (SKS). Tapi dengan apa yang dipelajari, dia tahu cukup banyak dari berbagai sisi, diperlengkapi dengan ketrampilan yang perlu, dan diharapkan punya modal untuk masuk ke dalam pelayanan dan mengembangkan pemikiran teologinya dalam pelayanan.

Mudah2an sedikit memperjelas :-)

Thursday, November 21, 2013

Biblika: Majoring in “not-so-minor”

Ketika akan berangkat studi tahun 2009, tidak terlalu sulit untuk memutuskan bahwa saya ingin menekuni studi biblika – Perjanjian Baru. Alasannya waktu itu sederhana. Saya sedang tertarik dengan spiritualitas dan karena di TTC tidak ada jurusan spiritualitas maka saya harus memilih apakah mendalami Perjanjian Baru atau bidang Teologi. Saya memilih Perjanjian Baru. Salah satu alasannya adalah saya tidak merasa tertarik “mengutak-atik” teologi, pemikiran para teolog, filsafat di baliknya, dst. Sementara, saya selalu tertarik “mengutak-atik” Alkitab.

Di awal studi dalam program M.Th, saya makin menyadari perbedaan studi Biblika dan Teologi. Studi biblika memang berarti “mengutak-atik” Alkitab. Itu berarti saya berhadapan dengan data berupa tulisan kuno yang disebut Alkitab dan berbagai tulisan kuno lain di sekitarnya. Saya harus mempelajari retorikanya, budayanya, bahasanya, dst, untuk bisa merekonstruksi ulang situasi dan maksud dari tulisan itu. Pusing? Saya sangat pusing!

Waktu pusing itulah, saya mulai “iri” dengan teman-teman di bidang Teologi. Mereka mendalami tema-tema besar yang berkaitan langsung dengan berbagai pertanyaan orang Kristen. Mereka makin mampu berdialog dalam banyak isu. Buku-buku yang dibaca pun topiknya luas, menarik, dan intelektual (menurut saya). Sementara saya “hanya” mendalami hal-hal yang “kecil-kecil”.

Misalnya saja ketika bicara tentang hidup Kristen dan dosa, orang Teologi mungkin akan bicara tentang konsep evil, pemikiran para teolog tentang spiritual warfare, bagaimana dosa bekerja dalam hubungan dengan ordo salutis, dll. Sementara orang Biblika cenderung akan bicara tentang apa data yang diberikan Alkitab – khususnya kitab tertentu – mengenai hidup Kristen, apa yang dikatakan Petrus atau Paulus atau Yohanes tentang dosa, dan apa situasi di balik semua argumen mereka?

Studi Biblika adalah tentang data: apa yang ada di dalam Alkitab. Data itu dicari, dikeluarkan, direkonstruksi. Studi Teologi adalah merangkum data yang ditemukan oleh studi Biblika menjadi tema-tema besar. Orang Biblika akan bertanya apa yang dikatakan Paulus dalam surat Korintus tentang Allah? Apa yang dikatakan oleh Injil Yohanes tentang Allah? Orang Teologi akan bertanya siapa Allah? Bagaimana menjelaskan tentang Allah kepada orang zaman ini? Kira-kira, kasarnya, begitu lah. Mudah-mudahan contoh di atas cukup memberi gambaran.

Maka tidak salah juga kalau ada orang yang mengejek bahwa studi Biblika adalah majoring in minor. Studi kami adalah pada yang kecil-kecil. Dan harus diakui kadang sangaaattt kecil sampai seperti tidak ada artinya.

Tetapi sekian tahun sekarang saya mendalami studi Biblika, saya makin melihat keindahannya. Berkali-kali saya mengerutkan dahi mendengar kalimat-kalimat orang Teologi yang menurut saya salah mengerti data Alkitab. Berkali-kali saya harus tidak setuju, dan agak sebal, membaca buku-buku spiritualitas karena menurut saya salah menggunakan data Alkitab. Seringkali akibatnya sama sekali tidak sederhana!

Seharusnya studi teologi terintegrasi. Orang Biblika harusnya merangkum data penemuannya dan mulai membangunnya menjadi Teologi. Itu berarti perlu waktu untuk mengerti pertanyaan orang zaman ini dan refleksi (day dreaming, if you like) bagaimana menjawabnya. Orang Teologi harusnya memakai penemuan orang Biblika sebelum memulai refleksi teologis mereka. Tapi kenyataannya karena bidang masing-masing sudah sangaaaattt besar dan rumit, maka orang Biblika sering berhenti di data sementara orang Teologi agak “asal-asalan” memakai data Alkitab dan cepat-cepat lompat berpikir secara teologis. Saya kira ini harus menjadi “alarm” bagi kita semua yang belajar teologi.

Saya tidak mengklaim tahu segalanya tentang Alkitab! Siapa lah saya!?? Saya baru belajar sepotong kecil saja dari Alkitab. Tapi saya makin sensitif dengan cara orang merangkum data Alkitab, khususnya bagian yang pernah saya pelajari dengan mendetil. Makin lama… saya makin mengerti bahwa studi Biblika ternyata not-so-minor!

Tuesday, October 08, 2013

Michael Bird: Books to Read Before You Start Seminary/Divinity College

Saya menemukan tulisan di bawah ini dalam blog Michael Bird dan Joel Willits di sini. Artikel ini ditulis oleh Michael Bird tgl. 4 September 2012 dan sampai sekarang menjadi one of the most popular posts di blog itu.

Saya bisa menebak maksud Bird ketika menuliskan daftar buku di bawah ini: No.1 – mempersiapkan mahasiswa untuk memulai studi teologi yang menantang, mengasyikkan, sekaligus bisa melemahkan. No. 2 – bagaimana menafsirkan Alkitab. No. 3 – misi dari sudut pandang biblical theology. No. 4 – Injil dan Yesus sejarah. No. 5 – pengenalan dasar semua kitab dalam Alkitab. No. 6 – sejarah kekristenan. No. 7 – sejarah perkembangan doktrin kekristenan. No. 8 – ringkasan doktrin dasar. No. 9 -  mengenai pelayanan, kepemimpinan, dst. Lengkap!!

Andai saja dulu saya tahu ini… :-) Bagi yang ingin mempersiapkan diri masuk ke sekolah teologi, silakan mulai membaca. Atau bagi yang ingin sekedar belajar dari dasar, buku-buku ini akan sangat berguna. Di bawah ini adalah tulisannya:

I wish students were a bit more literate before they started theological education. So my top books – mostly short books designed for lay folks – to read before starting seminary or divinity college are:

Andrew Cameron and Brian S. Rosner (eds.), The Trials of Theology: Becoming a “Proven Worker” in a Dangerous Business (Fearn, Ross Shire: Christian Focus, 2010).

Gordon D. Fee and Douglas K. Stuart, How To Read the Bible For All Its Worth (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2003).

Christopher Wright, The Mission of God: Unlocking the Bible’s Grand Narrative (Downers Grove, IL: IVP, 2006).

N.T. Wright, The Challenge of Jesus (London: SPCK, 2000).

Philip S. Johnston (ed.), The IVP Introduction to the Bible (Downers Grove, IL: IVP, 2006).

Mark A. Noll, Turning Points: Decisive Moments in the History of Christianity (Grand Rapids, MI: Baker, 1997).

Tony Lone, The Lion Concise Book of Christian Thought (Oxford: Lion, 1996).

J.I. Packer, Concise Theology: A Guide to Historic Christian Beliefs (Wheaton, IL: Tyndale House, 1993).

John Stott, Basic Christian Leadership: Biblical Models of Church, Gospel, and Ministry (Downers Grove, IL: IVP, 2002).

That is nine books, what should number ten be?

Thursday, October 03, 2013

Specialist or Generalist?

Dulu orang belajar teologi sebagai kesatuan, belajar Alkitab dengan bahasa asli, belajar teologi, filsafat, dan penerapannya dalam kehidupan dan pelayanan. Komplit! Tentu bukan berarti setiap orang sama ahlinya dalam setiap hal. Masing-masing pasti punya keahlian sendiri. Tetapi kaitan antara bidang-bidang dalam teologi itu masih sangat besar.

Sekarang ini, bidang-bidang di dalam teologi sudah berkembang begitu rupa sehingga akhirnya setiap orang benar-benar harus memilih konsentrasinya (itupun sebetulnya masih dibagi lagi menjadi konsentrasi yang lebih kecil-kecil). Dia bisa menghabiskan puluhan tahun hanya untuk belajar bidangnya sendiri, dan itu pun tidak selesai. Bidang-bidang dalam teologi menjadi sangat terpisah sehingga seorang yang ahli dalam bidang yang satu bisa tidak mengerti (atau hanya mengerti sedikit sekali) bidang yang lain. Masing-masing specialist dalam bidangnya.

Salah satu privilege sebagai doctoral student di TTC adalah diundang untuk mengikuti Faculty Colloquium. Para dosen TTC secara bergiliran (atau kadang profesor tamu yang sedang diundang) akan mempresentasikan sebuah paper. Semua yang hadir diharapkan sudah membaca paper tersebut, maka presenter hanya akan menjelaskan ringkasan paper-nya, lalu salah satu dosen lain akan memberikan tanggapan yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Baru kemudian sesi tanya jawab bebas.

Saya sudah dua kali mengikuti Faculty Colloquium tersebut dan selalu tertarik dengan paper yang disampaikan. Tapi yang juga menarik bagi saya adalah ketika memperhatikan sesi tanya jawab.

Para dosen TTC adalah para teolog dari berbagai bidang yang berbeda – teologi sistematika, liturgika, etika, dan biblika (PL dan PB). Bisa ditebak apa yang terjadi? Kadang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh mereka membuat saya terkejut, karena apa yang diasumsikan biasa dalam sebuah bidang bisa menjadi sesuatu yang “aneh” bagi bidang lain. Mereka ahli dalam bidangnya tapi bisa sedikit sekali mengerti bidang lain.

Studi dalam program D.Th in New Testament berarti saya sedang studi menjadi specialist dalam Perjanjian Baru – bahkan lebih tepatnya hanya dalam tulisan Paulus – lebih tepatnya lagi surat Galatia. Bayangkan betapa kecilnya yang saya pelajari! Persis seperti dalam kedokteran, pertama menjadi dokter umum – artinya belajar semuanya secara umum. Lalu menjadi specialist, misalnya bagian penyakit dalam. Kalau mau diteruskan, dia akan menjadi sub-specialist, misalnya hanya ginjal saja (maaf kalau saya salah).

Saya berharap melalui studi ini saya bisa mendalami satu bidang ini semampu saya. Tapi saya tidak ingin berhenti disitu dan menjadi specialist.

Saya tidak ingin menjadi scholar, yang artinya harus sangat specialist dan terus-terusan berkutat di bidang itu dan menjadi ahli di situ. Saya adalah pastor, dan menjadi pastor haruslah generalist. Seorang pastor harus tahu banyak hal. Dia harus mengerti soal ibadah, konseling, manajemen gereja, pastoral, pemuridan, teologi, homiletik, dll.. dll.. dan terutama dia harus belajar Alkitab – Perjanjian Lama, Perjanjian Baru. Maka setelah studi ini selesai, saya ingin kembali menjadi generalist, walaupun mudah-mudahan, dengan pola pikir specialist.

Thursday, July 19, 2012

Doctoral Study: Pro dan Kontra

Tulisan ini menyambung tulisan saya di post sebelumnya disini. Berikut ini adalah beberapa hal yang membuat saya berpikir bolak-balik, apakah saya harus mengambil studi D.Th?

Kontra: Senada seperti peringatan dari Piper, beberapa orang memperingatkan saya bahwa studi D.Th/Ph.D tidak ada gunanya untuk penggembalaan. Beberapa orang yang mendengar rencana saya untuk studi D.Th langsung bertanya apakah saya yakin ingin menjadi dosen di sekolah teologi? Pertimbangannya, kalau tidak maka untuk apa?

Pro: Sebagian orang mendorong saya untuk go ahead karena berbagai hal. Ada yang melihat ‘kesukaan’ saya belajar (padahal rasanya saya nggak suka2 amat dibanding orang lain). Ada yang melihat ‘kemampuan’ saya (ini apalagi, dari dulu saya bahkan yakin saya tidak mampu kuliah doktoral karena saya bukan scholar type). Ada juga yang melihat kebutuhan pelayanan di masa depan dan berpikir bahwa M.Th tidak akan cukup, maka kalau bisa, sekali lagi kalau bisa, teruskan sampai D.Th.

Ada dua kalimat dari dua orang dosen berbeda di TTC yang menambah ‘ramai’ pergumulan saya:

Ketika saya bertanya perlukah saya studi D.Th jika hanya melayani di gereja dan bukan seminari? Dia menjawab: “Kamu tidak akan pernah too qualified for the church of God. Kalau memang bisa, teruskan sampai di ujung (sampai D.Th).” Kalimat itu terngiang2 di telinga, GR banget berpikir kalau D.Th over qualified untuk ‘sekedar’ di gereja!

Dalam percakapan santai, seorang dosen lain berkata (tanpa ditanya): “Kalau kamu suka belajar walaupun sudah di ladang pelayanan. Kalau kamu suka untuk memikirkan hal2 yang akademis. Jangan tanya saya apakah studi lanjut adalah kehendak Tuhan, karena itu pasti kehendak Tuhan! Dari sekian banyak hamba Tuhan, tidak banyak yang suka untuk terus belajar dan memikirkan hal2 yang akademis, apalagi setelah sekian tahun melayani. Kalau kamu seperti itu, pergi studi”

Saya tetap optimis bahwa apa yang akan saya pelajari dalam studi D.Th berguna untuk pelayanan baik di sekolah teologi maupun gereja. Dan saya berpikir kalaupun andaikata jikalau… apa yang saya pelajari dalam studi D.Th itu tidak terlalu relevan dengan kehidupan penggembalaan, maka pola berpikir kritis, teologis, akademis, yang terbentuk karena studi itu pasti akan berguna.

Kontra: Tapi kemudian dosen yang sama bercerita tentang seorang Ph.D yang dia kenal. Menurut dia orang itu sama sekali tidak kelihatan ‘Ph.D’ nya. Cara berpikirnya, cara berkhotbahnya, semua tidak menunjukkan dia pernah kuliah Ph.D. Maka orang itu, menurut dia, hanya kuliah demi selembar kertas. Artinya adalah mungkin untuk kuliah Ph.D tanpa guna!

Dan kemudian saya mendengar cerita serupa dari seorang dosen sebuah seminari di Indonesia. Ada orang dengan Ph.D dari universitas terkemuka, tidak kelihatan sama sekali sisa2 ‘Ph.D’nya! Lalu apa gunanya dulu dia kuliah Ph.D? Confirmed, ternyata mungkin untuk kuliah Ph.D tanpa guna.

Pro: Saya berpikir, “tapi itu kan mereka”. Saya sudah merasakan manfaatnya kuliah M.Th, bukan soal pengetahuan tapi cara berpikir. Maka saya pikir saya tidak akan kuliah D.Th tanpa guna dan rasanya bisa.

Kontra: Mengapa tidak ambil D.Min saja? M.Th sudah memberi bekal pola akademis, maka sekarang cukup D.Min sebagai refleksi ulang seluruh pelayanan dan konsep teologi. M.Th + D.Min adalah kombinasi yang baik, bahkan berguna karena lebih ‘siap pakai’ untuk pelayanan. Waktu studi tidak terlalu panjang, beban tidak terlalu berat, dan saya bisa terus self-study dalam hal yang akademis.

Pro: Mungkinkah terbalik? Saya seharusnya studi yang akademis, lalu self-study mengenai bagaimana penerapannya.

Sudah selesai pikir bolak-baliknya? Belum!

Kontra: Beberapa kali dalam waktu dekat ini saya bertemu atau mendengar tentang orang2 yang meninggal pada usia yang cukup muda. Pengalaman itu membuat saya bertanya2, kalau saya tahu waktu saya tinggal sebentar lagi apakah saya masih mau studi? Saya yakin tidak. Dalam hati, saya lebih ingin meninggal di tengah pelayanan dan bukan di tengah studi. Banyak cerita tentang orang yang selesai studi Ph.D tidak lama kemudian meninggal. Maka ada yang berkata Ph.D = Permanent Head Damage. Dan Th.D = Thoroughly Dumb :-)

Pro: Tapi saya pikir balik lagi, saya bukan Tuhan. Saya tidak tahu umur saya. Maka dalam ketidaktahuan ini, yang harus saya lakukan adalah memilih yang terbaik yang saya tahu. Kalau saya tahu umur tidak panjang lagi, maka yang terbaik adalah tidak perlu studi. Untuk apa studi? Tapi karena saya tidak tahu, MUNGKIN yang terbaik adalah studi untuk mempersiapkan diri bagi pelayanan masa depan.

Masih banyak pikiran lain: Saya mulai lelah dengan proses studi, mampukah saya untuk meneruskannya? Saya ingin cepat bisa kembali ke Indonesia. Saya juga memikirkan keluarga. Tapi saya juga melihat bahwa betul kebutuhan pelayanan akan makin besar, dan mungkin saya perlu studi D.Th. Lagipula kesempatan studi ini now or never untuk saya. Tapi bagaimana kalau saya tidak mampu? Atau mungkin saya mampu tapi sudah lelah? Atau jangan2 lelah karena sekarang ini studi sambil pelayanan dan akan beda kalau hanya studi saja. Dan seterusnya… dan seterusnya…

Pergumulan belum selesai dan kisah saya juga belum selesai :-) Saya kira setiap kita akan bergumul pro dan kontra untuk setiap keputusan besar yang akan kita jalani. Dan rekan-rekan yang memutuskan untuk mengambil atau tidak mengambil D.Th/Ph.D mungkin bergumul yang sama seperti saya. Ada masukan lagi untuk menambah ramai pergumulan saya? Adakah yang belum saya pikirkan?

Sunday, July 15, 2012

Berbagai Gelar Teologi

(4th Revision - With minor addition)

Dunia pendidikan teologi bagi jemaat kebanyakan sangat rumit, bukan hanya soal apa yang dipelajari disana (ada yang berpikir sekolah teologi mengajar urutan Kejadian-Wahyu, maka pertanyaannya “udah sampai kitab apa?”), tapi juga soal gelarnya. Banyak jemaat hanya tahu pokoknya depannya ‘S’, ‘M’ atau ‘D’.  Banyak hamba Tuhan pun tidak terlalu jelas soal ini. Lebih rumit lagi karena negara yang berbeda, bahkan sekolah yang berbeda, bisa memberikan arti yang berbeda untuk gelar yang diberikan.

Berikut ini saya coba menyederhanakan penjelasan untuk gelar-gelar teologi yang umum dikenal di Indonesia:

Undergraduate Degree
Bagi mereka yang belum punya gelar S1 umum, maka pilihannya hanyalah mengambil program: Sarjana Theologi (S.Th) atau jika di luar negeri disebut Bachelor of Theology (B.Th), atau Bachelor of Arts in Theology atau Divinity, atau Bachelor of Divinity (B.D.).
Note: Di beberapa tempat, B.D memiliki pengertian yang berbeda. Misalnya di Moore (Australia), B.D hanya boleh diambil oleh mereka yang sudah memiliki gelar S1 - mungkin setara dengan Master of Divinity (M.Div), sementara di Cambridge University (UK), B.D bahkan setara dengan Ph.D.

Undergraduate or Postgraduate Degree?
Bagi mereka yang sudah punya S1 umum, maka pilihannya lebih luas:
1. Master of Theological Studies (MTS)/Master of Christian Studies (MCS). Biasanya ini program untuk mereka yang hanya mau belajar teologi tapi tidak bertujuan menjadi hamba Tuhan full time. Programnya umumnya 2 tahun.
2. Master of Art (MA) - dalam berbagai bidang. Sejajar dengan program MTS/MCS. Programnya umumnya juga 2 tahun. Perbedaannya adalah bidang studi dalam Master of Arts biasanya lebih spesifik.
3. Master of Divinity (M.Div). Biasanya M.Div dianggap lebih tinggi dari MTS/MCS/MA karena jumlah SKS yang lebih banyak. Programnya umumnya 3 tahun. Mata kuliah dalam program M.Div mencakup banyak bidang sehingga menjadi program studi teologi yang bersifat komprehensif. Di Amerika (dan mungkin banyak negara lain), gelar M.Div adalah untuk mereka yang mau melayani full time di gereja atau ditahbis menjadi pendeta. Bahkan di banyak gereja, seseorang tidak akan ditahbis menjadi pendeta tanpa gelar M.Div.
4. Master of Ministry (M.Min). Program ini di beberapa tempat hanya untuk mereka yang sudah punya gelar teologi sebelumnya (S.Th/BD/B.Th, MTS/MCS, MA, M.Div). Maka in that sense, ini program post-graduate. Tapi ini bukan program riset akademis, hanya berupa refleksi lebih jauh akan pelayanan. Saya anggap ini sebagai program ‘refreshing’ untuk para hamba Tuhan. Tapi di beberapa tempat program ini juga bisa diambil oleh mereka yang tidak punya gelar teologi (asal punya S1 umum). Maka in that sense, program ini juga seperti program MTS/MCS/MA. Tetapi dalam kasus yang terakhir ini, M.Min akan dipandang lebih rendah daripada MTS/MCS/MA karena jumlah kreditnya lebih sedikit. Programnya sekitar 1-2 tahun.

Berbagai Master di atas sebetulnya ambigu. Disebut Master karena sudah punya S1. Tapi di dalam bidang teologi, mereka adalah undergraduate (kecuali M.Min di beberapa tempat) karena sebetulnya semua itu adalah gelar tahap pertama dalam bidang teologi. Sebagai contoh: Di TTC, mahasiswa Bachelor of Divinity dan Master of Divinity kuliah bersama dan seluruh mata kuliah dan tuntutan sama. Tapi ketika lulus, yang sudah punya S1 umum diberikan M.Div dan yang belum punya S1 diberikan BD. Sesederhana itu! Tetapi berbagai program Master di atas juga memang Master betulan karena dari situ, asalkan mampu (tentu dengan tuntutan yang besar), mereka bisa langsung meneruskan ke jenjang Ph.D (kecuali M.Min). Sementara mereka yang hanya memiliki gelar Sarjana Theologi (S.Th)/Bachelor of Theology (B.Th)/Bachelor of Divinity (B.D) tidak bisa langsung ke Ph.D. (Kecuali Bachelor of Divinity di beberapa tempat, lihat keterangan di atas).

Postgraduate Degree (Master)
Master of Theology (M.Th). Di dalam bidang teologi, M.Th adalah Master ‘yang sebenarnya’ karena program ini hanya boleh diambil oleh mereka yang punya gelar teologi sebelumnya. Dan berbeda dengan semua program Master yang undergraduate di atas, program ini bersifat riset akademis. Kadang orang bingung kenapa sudah punya Master (M.Div) kok ambil Master (M.Th) lagi? Jelas beda sekali!

Sekarang ini di Indonesia karena peraturan pemerintah, muncul kebingungan mengenai gelar Master of Divinity (M.Div) dan Master of Theology (M.Th). Pemerintah hanya mengenal jenjang S1, S2 dan S3. Dalam skema itu, kemana M.Div harus dikategorikan? Banyak sekolah teologi mengambil kebijakan mengubah program M.Div nya menjadi M.Th. Tetapi yang saya sesalkan adalah tidak adanya kesepakatan antara sekolah-sekolah teologi di Indonesia mengenai cara pengubahannya. Ada yang menambahkan tuntutan, misalnya menambahkan mata kuliah atau menambahkan tuntutan menulis thesis. Ada yang mengubahnya menjadi M.Th Praktika yang tanpa penulisan thesis (dibedakan dengan M.Th Teologi yang harus menulis thesis). Maka sekarang pengertian apa itu M.Th menjadi sangat berbeda di antara sekolah-sekolah teologi.

Tambahan: Saya dengar sekarang di Indonesia, pemerintah mengkategorikan M.Div dan D.Min sebagai gelar profesi dan bukan gelar akademis (mungkin saya salah). Artinya tidak dianggap sebagai gelar S2 dan S3 di dalam konteks akademis. Sementara itu, gelar seperti MA justru dianggap S2 (saya tidak tahu bagaimana mengenai gelar MTS/MCS). Ini memang membingungkan karena di luar negeri mereka yang memiliki gelar M.Div sebenarnya bisa langsung mengambil D.Th/Ph.D.

Postgraduate Degree (Doctor) - Profesi
Doctor of Ministry (D.Min) adalah program untuk mereka yang punya gelar teologi (biasanya M.Div) dan sudah sekian tahun melayani sebagai hamba Tuhan. Program ini mengajak untuk menata kembali kaitan antara teologi dengan pelayanan mereka. Programnya berupa refleksi teologis kadang dicampur dengan riset lapangan. Penekanannya adalah bagaimana menerapkan teologi dan kemampuan berpikir kritis dalam pelayanan. Seringkali ini disebut sebagai Doctor dalam profesi, beda banget dengan Doctor dalam riset akademis. Programnya biasanya dirancang 3-5 tahun part time, untuk para hamba Tuhan yang tidak bisa meninggalkan pelayanan untuk studi. Sebagai pembanding, jika D.Min bisa diselesaikan dalam 3-5 tahun secara part time, D.Th/Ph.D memerlukan 3-7 tahun full time.

Postgraduate Degree (Doctor) - Riset
Dalam bidang teologi, Doctor yang bersifat riset akademis hanyalah Doctor of Theology (D.Th/D.Theol)/Theological Doctor (Th.D) dan Philosophical Doctor (Ph.D)/Doctor of Philosophy (D.Phil). 

Sebagian orang berpikir Ph.D lebih tinggi dari D.Th. Sebetulnya tidak begitu (kalau tidak percaya silakan research di google atau bandingkan di berbagai sekolah). Boston University dan Duke University misalnya memberikan kedua gelar itu, dan jelas di dalam katalog mereka bahwa keduanya sejajar, tuntutannya sama, lama kuliahnya sama, semua sama. Perbedaannya adalah Ph.D biasanya diberikan oleh University dan bersifat inter-disciplinary (dikaitkan dengan berbagai ilmu yang lebih luas), sementara D.Th biasanya diberikan oleh Seminari/Divinity School dari University. Maka Ph.D bisa mengajar di Universitas atau Seminari sementara biasanya D.Th hanya mengajar di Seminari. Ditambah lagi, Ph.D adalah gelar yang lebih umum dan 'terkenal' dibanding D.Th. Mungkin itu yang menyebabkan orang berpikir Ph.D lebih tinggi dari D.Th. Andy Rowell, di dalam blognya (http://www.andyrowell.net/andy_rowell/2009/03/advice-about-duke-thd-and-phd-programs-in-theology.html) memberikan perbandingan program Th.D dan Ph.D di Duke University.

Program D.Th/Ph.D di UK, Singapore, Australia (dan saya tidak tahu negara mana lagi) dirancang untuk minimal 3 tahun full time. Dari hari pertama masuk sampai lulus hanya mengerjakan disertasi, tanpa ada kuliah wajib. Program D.Th/Ph.D di USA dirancang untuk minimal 4 (atau 5 tahun) full time. Selama 2 tahun (atau 3 tahun) pertama mengikuti kuliah, 1 tahun persiapan dan ujian komprehensif, lalu 1 tahun mengerjakan disertasi. Larry Hurtado, di dalam blognya (http://larryhurtado.wordpress.com/2014/09/18/phd-studies-in-the-uk-and-edinburgh-in-particular/) memberikan sedikit gambaran perbandingan program Ph.D di UK dan US.

Apa yang saya sebutkan di atas hanya sebagian dari berbagai gelar dalam bidang teologi. Dengan berbagai variasi yang ada, sebetulnya tidak mudah mengenali nilai gelar seseorang. Maka jangan hanya melihat huruf depannya: “S”, “B”, “M” atau “D”. Jangan hanya melihat gelarnya apa atau lulusan dari negara mana, tapi kita perlu tahu dulu dari universitas/seminari mana. Setelah itu baru bisa mencari tahu seperti apa universitas/seminari itu dan seperti apa program itu di situ. Sejujurnya banyak gelar teologi "abal-abal". Sekalipun gelar sungguhan dan berasal dari sekolah sungguhan tapi mutunya bisa sangat dipertanyakan.

Sebenarnya sama seperti waktu kita mendengar orang punya Sarjana Teknik dari universitas A di kota A atau dari universitas B di kota B, maka kita langsung bisa membayangkan bedanya. Demikian pula gelar teologi. Saat ini, di Indonesia, dengan berbagai pengertian yang berbeda akan program M.Div dan M.Th, juga menuntut kita untuk tahu persis apa gelarnya, darimana gelar itu, dan seperti apa programnya, baru bisa menentukan "nilai" gelar itu.

Bagi pembaca yang bukan hamba Tuhan, saya harap tulisan ini menolong memperjelas dan bukan memperbingung. Bagi pembaca yang hamba Tuhan, jika tahu ada informasi di atas yang salah, silakan berikan comment dan kita bisa diskusikan.

Friday, July 06, 2012

Doctoral Study: Pandangan John Piper

Tulisan di bawah ini adalah wawancara dengan John Piper yang dimuat disini. Ini adalah salah satu artikel yang membuat saya bergumul apakah saya akan mengambil program D.Th/Ph.D. Di bawah ini adalah terjemahan bebas dari saya:

Sebagai orang yang sudah melewati studi Ph.D, apakah anda akan merekomendasikan hamba Tuhan lain untuk mengambil pendidikan di jalur itu juga?
 
Maksud anda, hamba Tuhan yang sudah menggembalakan di gereja atau yang masih berencana untuk menggembalakan? Saya akan menjawab untuk keduanya.

Jika anda sudah menjadi gembala, saya tidak menyarankan untuk mengambil Ph.D. Anda harus bekerja sangat keras untuk itu dan hasilnya sangat kecil. Sangat kecil.

Ketika saya mengatakan sangat kecil, saya tidak berarti mempelajari Alkitab akan kecil hasilnya. Tetapi karena anda harus membaca begitu banyak sampah untuk mendapatkan Ph.D. Anda harus menjadi ahli dalam apa yang dikatakan oleh orang lain, yang kebanyakan adalah salah.

Kebanyakan yang ditulis di dunia ini tidak benar. Dan seorang Ph.D harus menjadi seorang ahli. Maka anda harus membaca banyak sekali materi yang sama sekali tidak menolong.

Saya pikir harus ada orang yang melakukan itu. Saya senang ada seorang Don Carson yang seperti sudah membaca segala sesuatu di bawah matahari, maka punya kapasitas untuk berespon dengan baik.

Saya sangat setuju ada kebutuhan lapisan akademis yang sadar apa yang terjadi di luar sana dan bisa mengajar dan menulis. Maka, ya dan amin.

Tetapi penggembalan bukanlah itu. Penggembalaan terutama bukanlah tempat dimana anda harus tahu semua hal salah yang pernah dikatakan orang tentang sepotong kecil biblical theology. Penggembalaan adalah menggembalakan orang dari Firman.

Sekarang kembali ke hal yang positif: Jika program Ph.D disusun -dan ada beberapa yang seperti itu!- untuk membuat anda mempelajari Alkitab selama tiga atau empat tahun dan mengerti implikasinya yang lebih besar untuk kehidupan dan realitas, maka, dalam perjalanan anda menuju ke penggembalaan, itu bisa sangat bernilai.

Tapi program Ph.D saya tidak disusun seperti itu. Dan ketika saya selesai dengan tiga tahun itu, saya hanya mendapat selembar kertas, bahasa Jerman, dan apresiasi kepada teologi yang akademis; tetapi saya tidak bertumbuh banyak, kecuali yang saya bisa peroleh sendiri.

Maka adalah mungkin untuk mengambil Ph.D yang bodoh untuk selembar kertas. Saya jauh lebih suka anda mengambil Ph.D yang bijaksana – yaitu, pergi ke tempat dimana mereka mengizinkan anda terutama mempelajari Alkitab. Ya, anda akan harus membaca materi lain. Tetapi anda ingin keluar setelah tiga tahun dengan pengertian yang besar, dalam, kuat, mantap, akan Allah dan jalan-jalanNya di dalam dunia, bukan hanya sepotong kecil apa yang ribuan orang ngaco katakan tentang sepotong kecil ayat di dalam Alkitab. Itu adalah cara menggunakan tiga tahun yang sangat menyedihkan.

Dan jika anda sudah menggembalakan, tetapkan diri untuk mempelajari Alkitab dan mengambil kelas-kelas. Tapi jangan kuatir dengan gelar.

Saya bahkan tidak pernah membuka tabung tempat ijazah saya sejak 1974! Saya belum membukanya! Ada di laci. Tidak ada orang yang tanya tentang itu. Itu tidak ada artinya lagi. (Mungkin itu berlebihan).

Tuesday, May 24, 2011

Memilih Sekolah Teologi/Seminari

Bagi yang ingin melayani full time, seminari atau sekolah teologi adalah tempat persiapan sebelum
terjun ke ladang. Yang dituju adalah ladangnya, arena pertandingannya, bukan sekolah teologi-nya. Tapi sebagai tempat persiapan, sekolah teologi tentu sangat penting. Apa yang akan kita pelajari disitu? Bagaimana kita akan dilatih disitu? Persiapan macam apa yang akan kita dapatkan disitu?

Saya ingin membagikan beberapa hal yang bisa menjadi pertimbangan bagi kita memilih sekolah teologi untuk pertama kalinya (seperti S.Th, M.Div):

1. Dimana nanti kita akan melayani?
Kalau kita akan melayani di Indonesia, ada baiknya mempertimbangkan untuk sekolah teologi di Indonesia. Beberapa keuntungannya adalah: (1) Kita akan mengerti lebih baik konteks pelayanan kita. Kita akan banyak bicara dengan rekan2 sesama mahasiswa dari berbagai gereja di Indonesia, kita akan melayani di beberapa gereja di Indonesia pada waktu praktek pelayanan, dan seterusnya. (2) Bagi mereka yang bahasa Inggrisnya pas2an, kesulitan belajar di luar negeri adalah kita jadi kurang mengasah ketajaman berpikir kita dengan diskusi. Sulit mengajukan pertanyaan, sulit berdebat, sulit untuk macam2, akhirnya banyak pikiran kita yang ‘mentok’ disitu saja. (3) Kesempatan mengasah kemampuan berkhotbah akan lebih banyak di Indonesia. Di luar negeri biasanya jarang sekali kesempatan berkhotbah. ‘Latihan’ khotbah di sekolah teologi pun dilakukan dalam bahasa Inggris yang membuat kita sangat terbatas. Tidak berarti mereka yang sekolah di Indonesia pasti lebih baik, hanya kesempatannya yang lebih banyak.

2. Akademis
Ada 2 komponen penting dalam persiapan secara akademis: dosen dan perpustakaan. Perhatikan jajaran dosen di sekolah tersebut. Jangan masuk ke sekolah teologi yang dosennya menganut teologi liberal. Sekolah seperti itu akan mematikan iman. Jangan terlalu kagum dengan jajaran dosen yang gelarnya hebat karena seringkali ada 2-3 orang dosen saja yang mampu merangsang pikiran kita, itu sudah cukup. Sebagai mahasiswa yang baru mulai belajar, ‘wadah’ kita biasanya tidak akan sanggup menampung terlalu banyak. Tapi struktur pikiran harus dibentuk. Maka saya lebih memilih dosen yang pandai mengajar serta bisa membukakan pikiran daripada dosen yang hebat gelar akademis-nya. Tentu lebih baik kalau dua2nya ada. Tapi sungguh, dosen yang tinggi secara akademis belum tentu bisa mengajar! Jangan juga terlalu kagum dengan jajaran dosen tamu dari luar negeri yang sering dicantumkan namanya karena sebetulnya mereka jarang datang dan setting kuliah intensif biasanya tidak terlalu bermanfaat dibanding kuliah reguler. Lebih baik perhatikan jajaran dosen tetapnya. Kurangnya dosen yang baik bisa ditutupi dengan perpustakaan yang baik.

Faktor lain yang juga penting adalah teman2. Kalau teman2 di sekolah teologi kurang semangat belajar, kurang semangat mengejar pengertian, maka itu akan mempengaruhi kita. Demikian pula kalau sebaliknya. Faktor teman2 ini seringkali jauh lebih besar pengaruhnya dari yang kita perkirakan. Misalnya: Ada dosen yang khotbah berapi-api. Lalu mereka yang mencontoh (namanya juga belajar), diejek sebagai peniru. Maka semua akan cenderung khotbah lemes daripada dibilang meniru! Atau waktu kita malas, tapi kita lihat yang lain belajar terus, lalu diskusi dengan mereka membuat kita sadar bahwa kita banyak tidak tahu dibanding mereka, kita pasti akan terpacu. Bayangkan kalau semua tenang, santai, banyak habiskan waktu untuk facebook, jadi apa kita!?

3. Api pelayanan
Semangat yang berkobar untuk melayani, kuasa dalam menyampaikan firman Tuhan, pengorbanan di dalam pelayanan, pengalaman yang luas, adalah hal-hal yang menular dari dosen ke mahasiswa. Suasana akademis saja hanya akan mempersiapkan mahasiswa untuk akademis saja dan bukan untuk pelayanan. Maka perhatikan siapa dosennya, bagaimana pelayanan mereka, bagaimana khotbah mereka, dan seterusnya.

Menurut saya, tiga hal di atas adalah yang paling penting dan paling bisa kita lihat pada waktu memilih. Di luar itu, seperti faktor disiplin atau yang sering disebut faktor ‘pembentukan’, menurut saya tidak terlalu penting. Saya percaya kita perlu belajar disiplin di sekolah teologi, perlu ada aturan hidup bersama, perlu ada disiplin rohani, tapi tidak seperti anak2. Kadang hal-hal seperti itu melemahkan bukan memperkuat persiapan menjadi hamba Tuhan yang baik.

Sebetulnya kalau kita bisa tahu ‘dalam’nya sekolah teologi itu, faktor lain yang menurut saya sangat penting adalah:

4. Relasi Dosen dan Mahasiswa
Bagaimana dosen berelasi dengan mahasiswa? Apakah ada dosen2 yang care kepada mahasiswa? Apakah ada ‘katup’ penyaluran emosi dan masalah yang mau meledak? Banyak tekanan akan dirasakan oleh mereka yang sekolah teologi dan tanpa ada dosen yang berfungsi sebagai katup penyaluran emosi itu, beberapa mungkin meledak. Apakah mahasiswa diperlakukan sebagai anak, adik, yang dibimbing, diajar, diperlengkapi dengan kasih atau sebagai murid saja? Suasana belajar dan persiapan kita sangat dipengaruhi oleh ini. Dan sayangnya banyak sekolah teologi di Indonesia terlalu sedikit memperhatikan ini.

Pertimbangan2 di atas adalah untuk mereka yang baru akan masuk sekolah teologi. Lain kasusnya bagi mereka yang ingin studi lanjutan (post graduate degree) yang sifatnya lebih mandiri, karena saat itu yang lebih penting adalah sisi akademis dan theological stand dari dosen2 di sekolah tersebut.
Sebenarnya ada pertimbangan2 lain yang juga penting (seperti apakah dosennya punya pengalaman pastoral yang cukup), tapi saya pikir pertimbangan2 di atas cukup untuk memilih sekolah teologi – khususnya di Indonesia. Daftar di atas bukan gambaran sekolah teologi yang ideal, tapi hanya point2 pertimbangan. Tidak ada yang sempurna.

Oh ya, sebelum lupa, sekolah teologi selalu berubah, yang 5 tahun lalu kita dengar baik belum tentu hari ini masih sama baiknya. Perhatikan kondisinya saat sebelum anda masuk bukan kondisinya 5 atau 10 tahun lalu.

Selamat memilih tempat persiapan sebelum terjun ke ladang!

Tuesday, May 11, 2010

Budaya Membaca Bagi Hamba Tuhan

Beberapa waktu lalu seorang jemaat berkata kepada saya, "Kenapa ya hamba Tuhan di Singapore kalau diminta khotbah 40 menit, bisa selesai dalam 40 menit dan ada isinya, tapi hamba Tuhan di Indonesia ngomong ngalor ngidul panjang tapi sedikit isinya?"

Saya tidak sepenuhnya setuju dengan kalimat itu. Tetapi dia insist bahwa itulah yang dia temui selama ini. Mungkin pernyataan dia ada benarnya, walaupun tidak 100%. Dalam percakapan kami kemudian ada 1 point yang muncul dalam pikiran saya: Budaya Membaca (Saya pernah menulis tentang Budaya Membaca dan kali ini saya teringat lagi).

Budaya membaca orang Indonesia memang masih sangat jauh dari orang Singapore. Salah satu contoh yang jelas terlihat adalah di public libraries. Saya terkagum-kagum dengan public libraries di Singapore (bukan hanya 1 tapi banyak), fasilitas yang baik, koleksi buku yang banyak, sistem yang canggih dan terutama ketertarikan banyak orang untuk nongkrong di situ dari anak usia sekolah sampai mereka yang lanjut usia (ya lah.. saya tahu sebagian hanya baca koran sambil menikmati AC gratis, tapi tidak semua begitu). Ingin membandingkan dengan suasana perpustakaan umum di Indonesia? Keinginan membaca bagi anak usia sekolah? Atau orang tua? Lebih baik jangan.

Saya juga cukup sering ke toko buku rohani di Singapore dan beberapa kali berbincang sedikit dengan pengunjung lain. Mereka adalah hamba Tuhan di gereja, tetapi yang menarik bagi saya adalah buku-buku yang mereka baca adalah buku-buku yang termasuk kategori 'berat'. Artinya selepas dari sekolah teologi, mereka tidak berhenti membaca buku-buku kategori 'berat' (saya tahu, pasti tidak semua seperti itu, tetapi cukup banyak yang seperti itu). Bandingkan dengan para hamba Tuhan di Indonesia (lebih baik saya persempit kepada hamba Tuhan di gereja Injili berlatar belakang Chinese karena saya lebih tahu kondisinya dibandingkan dengan di gereja lain). Saya pernah menulis tentang keprihatinan saya tentang ini. Berapa banyak hamba Tuhan di Indonesia yang masih membaca buku-buku teologi, 1 saja dalam 1 tahun? You will be surprised!

Di Trinity Theological College, siapa saja boleh masuk dan menggunakan perpustakaan dengan membayar $5 (kira-kira Rp.33.000)/hari tanpa fasilitas peminjaman. Dan sangat sering saya melihat tamu-tamu seperti itu. Bandingkan lagi dengan di Indonesia. Waktu saya di Jakarta, ada 1 sekolah teologi yang memberikan fasilitas kepada kami untuk menjadi anggota. Dengan hanya membayar Rp.100.000/tahun kami bisa bebas datang kapan saja dan bahkan meminjam 5 buku setiap kalinya. Berapa banyak hamba Tuhan yang memanfaatkan fasilitas ini? Better not ask!

Bagaimana mungkin hamba Tuhan yang tugasnya adalah belajar dan mengajar Firman Tuhan, begitu tidak tertarik untuk belajar? Mengapa? Bagaimana membangkitkan semangat belajar di antara para hamba Tuhan? Paling tidak, itu harus mulai dari sekolah teologi. Tapi saya yakin gereja juga harus berperan mendukung dan mendorong hamba Tuhan untuk terus belajar. Jangan hanya lihat kepandaiannya bersosialisasi, menajemennya, kerajinannya membesuk, keahliannya melakukan ini dan itu. Berikan waktu, berikan kesempatan, berikan penghargaan kepada hamba Tuhan yang mau belajar. Dan mungkin salah satu yang penting, yang akan menimbulkan kerusuhan kalau dilakukan di Indonesia, jangan biarkan mereka yang tidak mau belajar terus menjadi pengajar jemaat! Wow.. pasti rusuh!

Monday, March 23, 2009

Gelisah?

Beberapa kali saya ditanya, “Apa sih sebenarnya yang dipelajari di sekolah teologi hingga perlu waktu bertahun-tahun untuk lulus?” Ada lagi yang bertanya, “Apa di sekolah teologi belajarnya urutan dari Kejadian sampai Wahyu?” Saya suka tersenyum karena pertanyaan-pertanyaan itu lucu bagi saya. Biasanya kemudian saya menjawab dengan menyebutkan beberapa pelajaran di sekolah teologi (walaupun mungkin bagi dia apa yang saya sebutkan seperti bla..bla..bla..), paling tidak memberikan sedikit gambaran bahwa kami tidak belajar berurutan dari Kejadian sampai Wahyu.

Saya menyadari bahwa pertanyaan seperti itu hanya salah satu cerminan dari masalah kebutaan orang Kristen terhadap teologi. Kalau saja mereka belajar teologi, dengan sendirinya pertanyaan seperti itu tidak akan muncul. 

Salah satu kesan yang saya alami ketika baru masuk ke sekolah teologi, mengikuti berbagai kuliah dan melihat perpustakaan dengan buku yang begitu banyak, saya merasa dunia teologi seperti samudra luas. Begitu banyak yang harus dipelajari, begitu banyak bidang, semua berkaitan, semua saling menunjang, dan uniknya langsung atau tidak langsung semua berpusat pada satu buku kecil yang dimiliki oleh hampir semua orang Kristen (apalagi di Indonesia) yaitu Alkitab. 

Sejak lulus dari sekolah teologi, sebenarnya saya tidak pernah berhenti membaca buku. Masa praktek pelayanan 1 tahun saya lewati dengan mengajar 2 mata kuliah di sekolah teologi (dan itu memaksa saya untuk membaca buku) dan sangat banyak berkhotbah. Setelah itu selama 1 tahun saya menggembalakan sebuah jemaat di Beijing dan praktis setiap minggu saya berkhotbah (itupun membuat saya membaca buku). Setelah itu, selama 1 tahun berikutnya saya mengajar 7 mata kuliah di sebuah sekolah teologi di China (dan itu sangat.. sangat.. memaksa saya untuk membaca buku!). Setelah pulang ke Indonesia dan melayani di gereja, saya juga tidak berhenti membaca buku (walaupun hampir selalu sebagai persiapan untuk berkhotbah).

Tetapi belakangan ini saya gelisah karena menemukan bahwa saya masih sangat kurang pengetahuan. Terlalu banyak hal yang saya tidak tahu! Saya tidak berharap untuk tahu segalanya. Tetapi setelah sekian tahun belajar teologi dan menjadi murid Alkitab yang, menurut saya, cukup serius, saya terkejut ketika menyadari bahwa terlalu banyak yang saya tidak tahu. Saya terkejut ketika melihat ada masalah atau fenomena tertentu dan tidak tahu bagaimana menjawabnya. Saya terkejut ketika menyadari ketidakpekaan teologis saya pada isu-isu tertentu. Dan saya sangat terkejut saat saya membaca ulang Injil, banyak pertanyaan yang muncul dalam pikiran saya sendiri dan tidak bisa saya jawab. Sekali lagi, saya tidak berharap bahwa saya bisa menjawab semua pertanyaan, tetapi paling tidak jangan sebanyak itu yang tidak bisa saya jawab!

Beberapa tahun yang lalu saya sangat gelisah melihat banyak orang Kristen hampir tidak tahu apa-apa tentang teologi. Tetapi sekarang saya menjadi lebih gelisah lagi karena menyadari saya pun kurang belajar. Saya mulai sadar bahwa saya memang tidak pernah berhenti membaca buku, tetapi ternyata jumlahnya sangat sedikit dibanding dengan yang seharusnya saya baca sebagai murid Alkitab apalagi sebagai orang yang mengajarkan Alkitab. Maka akhir-akhir ini saya memaksa diri untuk lebih banyak membaca buku, baik itu mengenai biblical theology, pastoral, worship, spiritualitas, etika, kebudayaan, apa saja. 

Kegelisahan ini menyebabkan saya mau belajar. Tetapi kegelisahan saya menjadi-jadi ketika sadar bahwa banyak orang Kristen tidak gelisah! Bahkan banyak hamba Tuhan tidak gelisah, bertahun-tahun melayani dan setiap tahun hanya membaca beberapa halaman buku teologi! Bagaimana kita bisa menjadi serupa dengan Kristus sementara kita tidak mengenal Dia dengan baik? Bagaimana kita bisa bertahan bahkan bercahaya di dalam dunia ini sementara kita tidak mengenal kebenaran Tuhan? Dan, bagaimana kita mengajarkan Firman Tuhan?

Belajar teologi dengan dalam memang bukan segala-galanya. Tetapi belajar teologi adalah salah satu disiplin rohani (yang banyak diabaikan oleh orang Kristen). Belajar teologi adalah bagian dari mencintai Tuhan. Belajar teologi adalah bagian dari kegelisahan melihat dunia yang perlu dilayani. Saya ingin kegelisahan ini dirasakan oleh para hamba Tuhan dan orang Kristen. Maukah ikut gelisah bersama saya?