Friday, July 16, 2021
Don't Waste Your Suffering
Thursday, July 08, 2021
Covid dan Iman
berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.
Tuesday, February 18, 2020
Kerendahan Hati
Semakin lama saya semakin mengerti apa yang dikatakan
oleh Bernard of Clairvaux:"The three most important virtues are: Humility, humility, and humility."
(Tiga kebajikan/sifat kebaikan yang terpenting adalah: Kerendahan hati, kerendahan hati, dan kerendahan hati).
Tanpa kerendahan hati, di dalam pelayanan kita tidak akan mau belajar dan membuka wawasan lagi. Padahal berapapun banyaknya yang sudah kita tahu, ada jauh lebih banyak yang kita tidak tahu. Celakanya, kita yakin diri kita pasti benar.
Tanpa kerendahan hati, kita juga tidak akan bisa melayani orang lain dengan baik. Kita akan memandang orang sebagai objek yang bisa dimanfaatkan untuk sebuah tujuan, atau sebagai saingan yang perlu kita kalahkan, atau sebagai beban yang menyusahkan. Tetapi, kita tidak memandang mereka sebagai orang yang perlu dikasihi.
Tanpa kerendahan hati, kita akan selalu memandang diri sendiri lebih baik, lebih hebat, lebih tinggi, dari yang sebenarnya. Pandangan kita tentang diri sendiri selalu lebih baik daripada pandangan orang tentang kita karena kita cenderung mengecilkan kekurangan dan membesar-besarkan kelebihan kita sendiri.
Tanpa kerendahan hati, kita akan selalu memikirkan kepentingan diri sendiri. Apa yang saya dapatkan? Apakah saya diuntungkan atau dirugikan? Apakah saya dihormati? Apakah orang melihat betapa hebatnya saya? Apakah orang tahu apa yang sudah saya lakukan?
Tanpa kerendahan hati, kita tidak bisa menghargai orang lain. Bahwa orang lain punya kesulitannya sendiri. Bahwa orang lain perlu didengar. Bahwa orang lain perlu ditolong dan dilayani. Kita selalu merasa tahu yang terbaik dan kita ingin “pokoknya… dengar saya”.
Kerendahan hati tidak bisa dipisahkan dari kesadaran kita tentang relasi kita dengan Allah. Siapa kita di hadapan Allah? Seperti apa kita di mata Allah? Darimana asalnya semua yang kita bisa dan kita punya kalau bukan dari Allah? Apa yang bisa kita banggakan di hadapan Allah? Kesadaran tentang relasi kita dengan Allah inilah yang menjadi dasar kerendahan hati.
Tetapi, betapa sulitnya ini karena kita seringkali lupa siapa kita di hadapan Allah. Itu sebabnya, di dalam hidup kita, seringkali yang muncul bukanlah kerendahan hati tapi kesombongan. Kita merasa diri hebat. Kita merasa diri layak. Kita merasa diri bisa. Kita merasa diri lebih dari orang lain. Kita merasa sudah tahu semuanya, sehingga tidak perlu mendengar dan mengerti orang lain dan tidak perlu belajar lagi.
Maka, tanpa kerendahan hati, sesungguhnya kita tidak bisa menjadi hamba yang baik dari Tuhan.
Tuesday, January 07, 2020
Jangan "Hakuna Matata"

“Hakuna Matata” adalah frase dari bahasa Swahili dari Tanzania yang secara literal berarti “no problem” (saya nyontek ini dari Wikipedia). Frase ini menjadi judul lagu yang dinyanyikan oleh Simba dan kawan-kawannya. Perhatikan lirik lagunya:
Hakuna matata…
It means no worries, for the rest of our days
It’s our problem-free philosophy
Hakuna matata…
Artinya tidak ada kuatir, sepanjang hidup kita
Itu adalah filosofi bebas-masalah
Saya perlu cerita sedikit alur film ini untuk menyampaikan maksud saya, apalagi untuk yang belum menonton.
Kalau ini adalah kisah nyata (dan Simba bukan anak singa tapi anak manusia) saya bisa membayangkan betapa hancurnya orang yang berada dalam situasi Simba. Waktu itu Simba baru saja lari dari pengalaman yang mengerikan. Dia mengira bahwa dialah yang bertanggung jawab atas kematian ayahnya, the Lion King. Pamannya yang jahat, yang menginginkan takhta, membuat dia lari meninggalkan segalanya. Maka Simba meninggalkan posisinya sebagai the new Lion King, mengabaikan keluarganya, rakyatnya, dan tanahnya.
Dalam keadaan seperti itulah dia bertemu dengan kawan-kawan baru yang kemudian mengajarkan filosofi “hakuna matata” kepadanya. Simba menerima filosofi itu dan hidup bersenang-senang di tempat yang baru, bersama lingkungan yang baru, tanpa terpikir untuk kembali.
Sampai akhirnya dia bertemu dengan Rafiki (monyet Mandrill) yang menuntunnya bertemu dengan roh ayahnya. Di situlah ayahnya menegur dia: “Simba, you must remember who you are!” Siapa Simba? Dia adalah anak raja. Simba harus kembali ke tanahnya dan menjadi raja di sana untuk kesejahteraan keluarga serta rakyatnya. Sekalipun ada banyak tantangan dan kesulitan, dan lebih nyaman berada di lingkungan barunya, dia harus ingat siapa dirinya. Tempatnya bukan di situ tetapi di tanahnya dan ada panggilan hidup yang harus dia jalani. Remember who you are!
Ok, cukup cerita The Lion King. Sekarang mari kita pikirkan mana dari dua kalimat itu yang lebih cocok untuk menjadi filosofi kita?
Alkitab memang mengajarkan kita untuk tidak kuatir akan apapun. Tetapi ketidakkuatiran itu adalah karena kita percaya Tuhan memelihara hidup kita sekalipun ada banyak masalah. “Hakuna matata”, sebaliknya, mengajarkan kita untuk lari dari realita. Oleh karena kehidupan yang benar itu mengerikan, maka lupakan, jangan pikirkan, tidak perlu kuatir, bersikaplah seperti tidak ada masalah. Oleh karena kehidupan yang seharusnya dijalani itu sulit, maka tidak perlu dijalani.
Tetapi kita harus ingat siapa kita. Siapa kita? Anak Tuhan yang sudah ditebus dan terus menerus diberikan anugerah! Siapa kita? Orang yang sedang diubahkan menjadi serupa Kristus! Siapa kita? Orang yang diberikan misi oleh Tuhan!
Apa tantangan hidup kita? Banyak! Ada godaan untuk berdosa. Ada karakter, kebiasaan, kecenderungan, yang masih dipengaruhi oleh kelemahan dan keberdosaan kita. Lalu juga ada ketakutan, kemalasan, dan keinginan untuk menyenangkan diri dan bukan Tuhan. Maka “hakuna matata” sangatlah menghibur. Tapi ingatlah siapa kita! Tuhan dengan anugerah-Nya mengampuni dan terus mengubahkan kita. Jangan menyerah! Jangan kemudian hidup seperti bukan anak Tuhan! Tuhan juga terus memanggil kita untuk mengerjakan pekerjaan baik bagi kemuliaan-Nya. Jangan abaikan itu! Jangan hidup untuk kesenangan diri! Remember who you are!
Saya sadar tahun 2020 bukan tahun yang mudah untuk kita. Tapi bukankah tidak pernah ada tahun dimana Tuhan tidak sanggup untuk mengampuni, mengubahkan, dan memakai kita?
Remember who you are!
Wednesday, January 02, 2019
Jangan Membuat Resolusi
Ada sangat banyak orang yang hampir selalu membuat resolusi di awal tahun yang baru. Saya salah satunya. Tapi tahun ini tidak. Mengapa sangat banyak orang yang membuat resolusi di tahun baru? Saya kira ada 2 alasan besar.
Pertama, pergantian tahun adalah “tonggak waktu” yang Tuhan berikan untuk menandai hidup kita. Bahwa “satu bab” sudah berlalu dan kita membuka “bab yang baru”. Maka pergantian tahun mendorong kita untuk mengingat “bab yang lalu”, mengevaluasinya, dan mengharapkan “bab yang baru.”
Kedua, kita sangat sadar bahwa hidup kita belum cukup baik di tahun yang lalu. Kita tahu segala kelemahan dan kegagalan kita. Berat badan yang tidak ideal. Kehidupan keluarga yang kurang harmonis. Pembagian waktu yang berantakan. Gaya hidup yang kurang baik. Maka kita ingin berubah.
Maka tahun baru, resolusi baru. Kita berharap segalanya lebih baik. Kita bertekad menjadi lebih baik.
Tetapi, resolusi cenderung fokus pada hasil (tidak selalu, tapi biasanya begitu). Kita ingin menjadi orang yang lebih ramah. Kita ingin turun 8kg. Kita ingin sehat. Kita ingin berhasil dalam pekerjaan. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Tetapi, tidak ada hasil tanpa proses! Kita sering membuat resolusi tanpa memikirkan bagaimana mencapainya. Maka tidak heran pada bulan Februari banyak orang yang meninggalkan resolusi yang dibuat pada bulan Januari!
Resolusi juga cenderung fokus pada kesimpulan tanpa memberikan detil apa yang dimaksudkan. Misalnya "saya mau lebih banyak menolong orang" tidak akan berhasil tanpa diperjelas apa sebetulnya yang ingin kita lakukan. Untuk bisa lebih banyak menolong orang, perlu ada kebiasaan baru yang kita bentuk. Kebiasaaan apa? Kapan? Apa komitmennya? Tanpa semua itu, resolusi akan percuma.
Maka menjelang akhir 2018, saya mencoba membuat aturan bagaimana saya mau hidup di tahun 2019. Aturan itu seperti proses. Saya tidak tahu bagaimana hasilnya nanti, walaupun seharusnya kalau prosesnya benar maka hasilnya pasti baik. Saya tidak ingin fokus dan hanya memimpikan hasil, tetapi saya ingin fokus mengerjakan proses.
Di akhir tahun 2018 dan di awal tahun 2019, saya membaca dua artikel tentang resolusi yang sangat baik dan menegaskan apa yang ingin saya lakukan:
https://www.thegospelcoalition.org/article/skip-resolutions-make-rule-life/
https://www.thegospelcoalition.org/article/make-habits-not-resolutions/
Di dalam artikel yang pertama, penulis menyarankan untuk kita membuat aturan hidup yang mencakup lima wilayah kehidupan kita: (1) Relasi dengan Tuhan, (2) Kehidupan/kesehatan pribadi, (3) Relasi dengan orang di sekitar, (4) Gereja, (5) Pekerjaan.
Misalnya kita bisa membuat aturan hidup:
1. Setiap hari Senin-Jumat: Saya akan bangun jam 05.15, olah raga selama 45 menit. Setelah sarapan, saya akan saat teduh selama 30 menit. Kemudian berangkat kerja.
2. Saya akan tidur paling lambat jam 22.30.
3. Setiap hari Minggu saya akan mengevaluasi kehidupan selama 1 minggu dan merencanakan minggu yang akan datang (jam 14.00-15.00).
4. Setiap hari senin malam, saya akan membaca buku rohani selama 1.5 jam.
5. Setiap hari Minggu malam saya akan mengajak orang tua makan bersama.
6. Setiap akhir bulan saya akan mengevaluasi kondisi keuangan saya dan mendiskusikannya dengan suami/istri.
7. Selain perpuluhan yang saya berikan, saya akan menyisihkan 2% lagi dari pendapatan saya untuk menolong orang yang membutuhkan.
8. Dst…
Mulailah dengan berdoa bagian mana dalam hidup kita yang harus berubah. Pikirkan baik-baik apa yang ingin kita capai di tahun 2019. Kemudian pikirkan bagaimana kita bisa mencapainya. Kebiasaan apa yang harus kita mulai? Komitmen apa yang harus kita jalani untuk membentuk kebiasaan itu?
Komitmen akan membentuk kebiasaan dan kebiasaan pasti akan mengubah. The power of commitment. The power of habits.
Selamat membuat aturan hidup dan membentuk kebiasaan yang baru.
Friday, October 05, 2018
Sudahkah Mendengar Berita Injil - hari ini?
“Kita bukan saja harus memberitakan Injil kepada orang lain. Kita juga harus mendengar dan menerima berita Injil, bukan hanya satu kali waktu percaya, tetapi terus menerus. Kita harus mengkhotbahkan Injil terus menerus kepada diri kita sendiri.”Sudah lama saya mendengar pernyataan itu. Saya mengamininya. Tetapi berita Injil seperti apa yang harus kita khotbahkan?
Injil pertama-tama adalah tentang keselamatan. Berita Injil adalah tentang Yesus yang “telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini” (Galatia 1:4). Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan kita.
Tetapi Injil juga memiliki dimensi yang lain.
Injil juga adalah berita bahwa Tuhan sudah merobohkan tembok pemisah (Efesus 2:11-18). Tidak ada lagi pemisahan suku, yang jauh dan yang dekat dengan Allah. Suku bangsa dan bahasa tidak boleh lagi menjadi pemisah di antara umat Allah. Kita semua dijadikan manusia baru yang diperdamaikan dengan Allah oleh salib. Maka setiap orang yang percaya kepada Allah diterima sebagai kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota keluarga Allah.
Satu catatan yang penting: Tidak berarti ini adalah keluarga yang tanpa aturan – semua, asalkan percaya, tidak peduli bagaimana “percaya”nya dan “kelakuan”nya, harus diterima tanpa ada teguran dan koreksi. Paulus berkata keluarga ini “dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru” (Efesus 2:20) dan menjadi sebuah bangunan “bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan… tempat kediaman Allah, di dalam Roh” (Efesus 2:21-22). Jelas ada pekerjaan rumah yang besar untuk keluarga ini. Tetapi, bagaimanapun, suku bangsa dan bahasa tidak boleh menjadi pemisah atau pembeda di dalam Kristus.
Apakah kita mengkhotbahkan Injil ini terus menerus kepada diri kita sendiri?
Injil adalah berita bahwa Tuhan peduli kepada setiap orang, khususnya mereka yang lemah dan tertindas (Lukas 4:18-19). Berita Injil adalah berita bahwa Tuhan sedang bekerja menjadikan dunia baru, yang penuh keadilan, belas kasihan, dan kebenaran. Tuhan tidak akan tinggal diam dan membiarkan segala ketidakbenaran di dalam dunia terus berjalan. Hari ini, gereja, harus memberitakan ini kepada dunia dan mengerjakannya.
Apakah kita mengkhotbahkan Injil ini terus menerus kepada diri kita sendiri?
Injil juga adalah berita bahwa Tuhan menerima kita apa adanya, tanpa syarat (Roma 5:10). Tuhan mengasihi kita bukan pada waktu kita baik tapi pada waktu kita masih seteru. Bagaimana mungkin hari ini, ketika kita sudah menjadi anak-anakNya, Dia tidak mengasihi kita ketika kita melakukan kesalahan? Sebesar apapun kesalahan kita, tidak akan membuat Dia membatalkan kasihNya bagi kita. Sebesar apapun kebaikan kita, tidak akan membuat Dia lebih mengasihi kita.
Sebuah kalimat di dalam film The Greatest Showman sangatlah baik: “You don’t need everyone to love you, just a few good people.” Engkau tidak perlu dikasihi semua orang, cukup beberapa orang yang baik saja. Bukankah yang terbesar di antara “beberapa yang baik” itu adalah Yesus? Jika Yesus mengasihi kita, itu sudah lebih dari cukup. Bonusnya adalah beberapa orang di sekitar kita yang melaluinya Tuhan berbisik: Aku mengasihimu.
Apakah kita mengkhotbahkan Injil ini terus menerus kepada diri kita sendiri?
Kalau Injil adalah Tuhan menerima kita apa adanya, maka Injil juga adalah Tuhan menerima dan mengasihi saudara-saudara seiman kita apa adanya. Mereka mungkin punya banyak kelemahan yang mengganggu kita. Mereka mungkin tidak cocok dengan kita. Bahkan mereka mungkin menyakiti kita. Tetapi, kalau Tuhan mengasihi mereka, bukankah kita harus mengasihi mereka juga? Kalau Tuhan mengampuni mereka, bukankah kita harus mengampuni mereka juga?
Injil juga adalah pengharapan bahwa hidup kita sedang menuju kepada sebuah keadaan dimana Tuhan akan menghapuskan segala yang jahat di dunia ini dan menyempurnakan segala yang masih menunggu (Wahyu 20:1-5). Bukan hanya sakit dan penderitaan yang akan dihapuskan, tetapi kasih yang sulit di tengah keluarga yang tidak sempurna, relasi yang berantakan karena kesalahan, dan pelayanan yang seperti tidak ada hasilnya, akan menemui kesempurnaannya.
Sejujurnya, saya sering tidak mengkhotbahkan Injil itu kepada diri sendiri. Di tengah tekanan kehidupan, saya sering berjuang sendiri dan gagal sendiri. Akhirnya saya tidak mengingat dengan kuat siapa Tuhan, siapa saya, siapa orang lain, dan untuk apa saya hidup. Maka betapa saya perlu lagi dan lagi datang kepada salib Kristus, dan mendengar berita InjilNya. Hanya dengan itu saya punya kekuatan untuk hidup dan melayani.
Sudahkah mendengar berita Injil, hari ini?
Friday, September 30, 2016
Rasul Paulus: Kitab dan Pedang di Tangan
Saya masih menyukai rasul Yohanes. Itu sebabnya dulu pada waktu studi program M.Th, saya ingin membuat thesis dari tulisan rasul Yohanes. Tetapi jalan saya akhirnya berbeda. Saya menulis thesis M.Th mengenai konsep misi dari rasul Paulus dan sekarang saya menulis disertasi D.Th tentang surat Galatia. Setelah bertahun-tahun saya duduk di bawah kaki rasul Paulus, mempelajari tulisannya, argumennya, dan lebih mengenal dia, saya semakin menyukai dan mengagumi dia.
Entah anda pernah memperhatikan atau tidak, seringkali rasul Paulus dilukiskan sedang memegang sebuah kitab dan sebuah pedang.
Saya menyukai dua lukisan di atas. Keduanya menggambarkan kelembutan raut wajah dari rasul Paulus, walaupun yang di atas juga menampilkan sedikit sisi kegarangannya.
Kitab atau buku yang dibawanya melambangkan berita Injil yang disampaikannya. Orang yang serius mempelajari tulisan rasul Paulus tidak akan ragu bahwa dia sangat berkomitmen untuk berita Injil. Hidupnya sepenuhnya dia curahkan untuk memberitakan Injil. Hatinya dan air matanya tercurah untuk jemaat yang dikasihinya. Berbagai penderitaan fisik, yang tidak bisa kita bayangkan, dia tanggung. Bukan hanya itu. Saya berkali-kali tertegun melihat rasul yang luar biasa ini mengalami ditolak, ditinggalkan, diragukan motivasinya, tidak dipercaya ajarannya, oleh jemaat yang dia dirikan sendiri! Hanya Tuhan yang tahu berapa besarnya penderitaan emosi yang dia pikul. Semua hanya untuk Injil.
Pedang di tangannya melambangkan kematian yang akan ditempuhnya. Menurut tradisi, khususnya dari tulisan Eusebius (abad ke-3-4), rasul Paulus mati dipenggal kepalanya pada pemerintahan kaisar Nero. Lukisan ini menggambarkan, seakan-akan, rasul Paulus menjalani kehidupannya dengan kesadaran akan kematiannya bagi Kristus yang di depan mata. "Sebab kami, yang masih hidup ini, terus menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu." (2 Kor 4.11-12).
Rasul Paulus menjadi inspirasi yang tidak habis-habisnya bagi saya. What's not to love about him? Kitab dan pedang di tangan.
Relakah saya menjalani hidup seperti itu? Rasul Paulus mengingatkan saya akan arti jalan salib.
Thursday, May 05, 2016
Panggilan
Di dalam bukunya yang terkenal, “The Call”, Os Guinness membedakan dua macam
panggilan di dalam hidup orang Kristen.Panggilan yang pertama dan terutama adalah panggilan untuk mengikut Kristus. Panggilan ini adalah yang menyangkut seluruh keberadaan kita sebagai manusia. Hidup kita, hati kita, jiwa dan raga kita, seluruhnya adalah untuk menyembah Dia. Tidak ada apapun yang boleh menyaingi panggilan yang terutama ini. Oswald Chambers pernah berkata, “Waspadalah atas segala sesuatu yang menyaingi kesetiaan kepada Yesus Kristus” dan “pesaing terbesar kesetiaan kepada Yesus adalah pelayanan bagi Dia”. Bagaimana bisa begitu? Karena, “tujuan panggilan Tuhan adalah kepuasan Tuhan, bukan untuk mengerjakan sesuatu bagi Dia.”
Kalimat Oswald Chambers itu perlu diperdengarkan (kalau perlu diteriakkan) lagi di telinga kita. “Mengikut Yesus-setia pada Yesus-memuaskan Tuhan” sering seperti konsep yang abstrak bagi kita. Jauh lebih mudah untuk membayangkan bentuk konkrit yang harus dilakukan dalam rangka “mengikut Yesus-setia pada Yesus-memuaskan Tuhan”, a.k.a. “pelayanan” (baik di gereja maupun melalui profesi). Tetapi, di dalam prosesnya akhirnya kita mempersamakan keduanya. Maka perlahan-lahan, “pelayanan” menjadi sama dengan “penyembahan”. Kita merasa sudah “mengikut Yesus-setia pada Yesus-memuaskan Tuhan” dengan melakukan “pelayanan”. Bisakah kita melihat masalahnya disini?
“Mengikut Yesus-setia pada Yesus-memuaskan Tuhan” adalah soal hati, arah, tujuan, motivasi, yang mengarahkan apa yang kita lakukan. Sementara “apa yang kita lakukan”, arahnya, tujuannya, motivasinya, bisa untuk memuaskan Tuhan atau membesarkan diri. Ketika kita mempersamakan keduanya, pasti muncul masalah besar. Kita bisa berdalih bahwa “kita tidak mencari untung”, “kita sedang berusaha menggunakan karunia yang Tuhan berikan”, atau “kita ingin memberi yang terbaik untuk Tuhan” melalui apa yang kita lakukan. Tetapi, pertanyaan yang terus menggantung adalah, apakah sungguh di dalam hati kita hanya-dan-hanya ingin mengikut Yesus? Apakah kita hanya-dan-hanya memuaskan Tuhan?
Panggilan yang kedua, menurut Os Guinness, barulah yang lebih konkrit, yaitu “dalam segala hal kita harus berpikir, berbicara, hidup, dan bertindak sepenuhnya bagi Dia”. Mungkin itu berarti pekerjaan, profesi, atau kehidupan sehari-hari, yang kita jalani sebagai respons atas arahan dan panggilan Tuhan. Tetapi, jangan menjadikan panggilan kedua ini sebagai yang pertama dan terutama.
Saya tertempelak membaca kalimat Os Guinness di bawah ini:
Do we enjoy our work, love our work, virtually worship our work so that our devotion to Jesus is off-center? Do we put emphasis on service or usefulness, or being productive in working for God – at his expense? Do we strive to prove our own significance? To make difference in the world? To carve our names in marble in the monuments of time?
Apakah kita menikmati pekerjaan kita, mencintai pekerjaan kita, secara virtual menyembah pekerjaan kita sehingga kesetiaan kita kepada Yesus tergeser? Apakah kita menaruh penekanan pada pelayanan atau kegunaan, atau menjadi produktif dalam bekerja untuk Allah – dengan mengorbankan Dia? Apakah kita berjuang untuk membuktikan signifikansi diri kita? Untuk membuat perbedaan di dalam dunia? Untuk mengukir nama kita pada monumen-monumen waktu?Siapa sih yang tidak ingin hidupnya berguna dan produktif? Siapa sih yang tidak senang berhasil membuat perbedaan di dalam dunia? Di dalam kelemahan, siapa sih yang tidak bangga membayangkan hidupnya signifikan dan dikenang? Tidak ada yang salah dengan hidup berguna, produktif, membuat perbedaan, signifikan dan dikenang. Tetapi, menjadi masalah dan salah besar ketika kita mengejar semua itu seakan-akan itulah panggilan kita yang pertama dan terutama.
Os Guinnes mengingatkan, panggilan kita yang pertama dan terutama bukanlah to do something tetapi we are called to Someone. Kunci untuk menjawab panggilan itu adalah untuk setia tidak kepada siapapun (termasuk diri kita) dan apapun selain kepada Allah.
Saya perlu mengunyah kebenaran ini lebih lama supaya meresap.
Monday, November 23, 2015
Sampai Masa Tuaku
Tuesday, November 10, 2015
Slow Down a Bit...
Wednesday, August 05, 2015
Terus “Tune Up” Dengan Allah
Salah satu sifat yang sangat menonjol dari iblis adalah “oportunis” – pandai
mengambil keuntungan dari situasi yang ada.“…jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau,…” (Kej 4:7)
Pada saat kita melakukan kesalahan, “tidak berbuat baik”, dosa sudah mengintip di depan pintu dan sangat menggoda! Iblis menantikan saat kita lemah, saat kita berbuat bodoh, saat kita melakukan yang tidak terpuji. Saat itulah… tinggal tunggu waktu dosa akan menguasai kita karena dia sudah mengintip di depan pintu. Istilah “ia sangat menggoda engkau” mungkin lebih baik diterjemahkan “ia sangat bernafsu untuk memiliki engkau”.
“Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik.” (Luk 4:13)
Ayat ini muncul tepat di akhir kisah Yesus dicobai Iblis di padang gurun. Tiga kali Iblis mencobai Yesus dan tiga kali pula Yesus melawan dan akhirnya mengusir dia. Yesus menang! Horeee…! Tapi kalimat berikutnya sangat mengerikan: Iblis mundur dari pada Yesus dan menunggu waktu yang baik! Iblis kalah saat itu, tapi dia tidak menyerah. Dia akan datang lagi dan mencobai lagi “pada waktu yang baik.” Kapan itu? Oh, dia sangat tahu kapan waktu yang baik itu.
“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Pet 5:8)
Petrus menggambarkan Iblis seperti singa – menunjukkan keganasannya. Singa itu mengaum-aum – tanda kebuasan dan kelaparan. Tapi yang sangat mengerikan adalah: Singa yang mengaum-aum itu berjalan keliling dan mencari orang yang dapat ditelannya! Dia tidak tinggal diam. Dia berjalan keliling dan mencari mangsa… siapa saja yang dapat ditelannya.
Waktu kita mulai marah-marah.. dia berkata “Aha!” Waktu hati kita penuh kepahitan… dia berkata lagi “Aha!” Waktu kita kesepian, waktu kita tidak puas dengan hidup kita, waktu kita entertain dosa dalam pikiran kita, dia berkata “Wow.. aha..aha..aha!!!” Apapun keadaan kita, dalam kelemahan kita sebagai manusia, dia akan masuk dan memanfaatkannya untuk menjatuhkan kita.
Kalau Iblis begitu oportunis, apa yang harus kita lakukan?
Satu-satunya yang bisa menjaga kita dari kejatuhan adalah kalau hati kita terus menerus “tune up” dengan Allah. Seperti mobil ketika terus dipakai bisa menjadi tidak pas lagi, mesin mulai kotor, baut mulai kendor, karet mulai aus, maka ia perlu di tune up lagi supaya kembali sesuai dengan standar yang seharusnya. Demikian pula hidup kita.
Ada banyak sekali hal yang membuat kita lelah dan letih. Ada banyak sekali godaan di sekitar kita. Ada banyak sekali hal yang membuat kita menginginkan yang tidak benar. Kita perlu di “tune up” lagi supaya kembali sesuai dengan standar yang seharusnya – Tuhan sendiri.
Tapi berapa sering kita perlu “tune up”? Sesering mungkin!
Tidak seperti mesin mobil yang bisa bertahan lama tanpa tune up, kita tidak bisa! Dengan sangat mudah dan cepat, keadaan hati kita menjadi berantakan dan siap untuk diterkam oleh iblis. Pagi hari kita bisa membaca Alkitab dan berdoa, bahkan berjanji untuk hidup bagi Tuhan, tapi siang harinya kita bisa lupa semuanya. Maka sesering mungkin, terus menerus, continuously, kita perlu “tune up” hati kita dengan Allah.
Mungkin itu berarti setiap kali muncul pikiran yang tidak baik, kita berhenti sejenak dan berdoa mengingat akan kekudusan Tuhan. Mungkin itu berarti setiap kali kita kuatir, takut, kita berhenti sejenak dan mengingat kebesaran Tuhan. Mungkin itu berarti dalam keadaan “baik” pun kita sering berhenti sejenak untuk menyadari kehadiran-Nya, mengingat janji-Nya dan perintah-Nya.
Orang-orang yang disebut giants dalam kerohanian berdoa. Kita juga berdoa. Tapi perbedaan mereka dengan kita adalah: Mereka berdoa continuously. Bukan berarti mereka tidak bekerja… tapi mereka terus menerus hidup bersama Tuhan. Mereka terus “tune up” dengan Allah.
Hanya dengan demikianlah, kita menutup kesempatan bagi Iblis - si raja oportunis itu, untuk menerkam kita.
Thursday, June 11, 2015
Bangga Akan Dosa
Dulu saya ini orang yang sangat jahat sampai akhirnya suatu hari saya dengar khotbah dan jadi Kristen. Puji Tuhan, saya bertobat dan kenal Tuhan. Sekarang saya melayani di gereja. Dulu itu saya bukan cuma suka mabuk-mabukan, judi. mencuri, tapi saya bahkan juga berani merampok dan membunuh. Tidak ada orang yang berani dengan saya. Wah.. kalau pas minum, saya ini kuat sekali, minum berbotol-botol brandy juga tidak mabuk. Kalau pas judi, saya hampir selalu menang. Uang saya banyak dari hasil judi. Kalau diterusin, bisa kaya sekali saya ini. Terus kalau berkelahi, lawan 5 orang sekaligus juga saya tidak takut. Orang mau tusuk saya, nggak mempan, saya terlalu jago, dia yang saya tusuk duluan. Kalau saya merampok, saya punya ilmu yang bikin orang ketakutan dan cepet sekali serahkan semua barang. Kalau saya nggak jadi orang Kristen, mungkin sekarang saya sudah terkenal banget di dunia kejahatan…
Ok, mungkin cerita imajiner di atas agak ekstrim. Tapi pernahkah mendengar kesaksian
yang kira-kira nadanya mirip seperti di atas?
Sebuah kesaksian mengenai pertobatan dan anugrah keselamatan yang Tuhan berikan, tetapi yang isinya jauh lebih banyak tentang betapa “hebat”nya dia di dalam berbuat dosa. Tidak ada penyesalan di wajahnya ketika menceritakan dosanya. Sebaliknya dia cenderung bangga akan apa yang pernah dia perbuat.
Mendengar kesaksian seperti demikian membuat saya jadi bertanya-tanya: Apakah dia sungguh bersyukur untuk keselamatannya? Apakah dia sungguh menangis, memukul diri dan menyesali dosa-dosanya? Apakah dia tersentuh oleh kasih Yesus yang menderita karena dosa-dosanya? Apakah dia bangga akan salib Yesus? Jika “ya”, lalu mengapa dia begitu bangga akan dosa?
Di dalam percakapan sehari-hari, saya sering menjumpai “kesaksian” yang serupa – tentu tidak se-ekstrim di atas. Tapi sungguhan, ada banyak orang “Kristen” (apakah benar dia orang Kristen, saya tidak tahu) yang bangga akan dosanya di masa lalu. Dia bangga bahwa dulu dia berangasan, kasar, galak, sadis. Dia bangga bahwa dulu dia jagoan berantem. Dia bangga bahwa dulu dia pemabuk. Dia bangga bahwa dulu dia sudah “mencicipi” berbagai dosa seksual yang menjijikkan – pornografi, free sex, pelacuran, dan sebagainya.
Yang selalu paling jelas adalah mimik wajahnya waktu menceritakan semua itu sama sekali tidak menunjukkan penyesalan, malu, “memukul diri,” tetapi seakan berkata: “Semua itu gua udah pernah… apa sih yang gua nggak tau… orang mau sombong pernah gini gitu? alaahh… gua juga pernah… kalo dulu ya, gua nih…”
Maka saya bertanya-tanya: Apakah sikap seperti itu adalah sikap Kristen? Atau lebih jauh lagi, mungkinkah orang Kristen bersikap seperti itu?
Mungkinkah sikap seperti itu sebenarnya berakar pada dosa “kesombongan” – pride? Dia ingin membanggakan DIRI-nya. Seperti anak kecil yang ingin tampil hebat dan dilihat orang. Dia tidak bisa membanggakan kerendahan hati dan tidak mungkin membanggakan penyesalan! Maka apa yang mau dibanggakan? Dosa.
Atau mungkinkah sikap seperti ini menunjukkan dosa yang mulai mencengkeram lagi hatinya? Seperti seorang pelacur yang sudah ditebus, dikeluarkan dari perbudakan, dilimpahi dengan kasih sayang yang suci, tetapi sekarang mulai main mata lagi dengan pelacuran! Dia mengingat-ingat kembali betapa enaknya hidup melacur. Dia mulai tidak bangga dengan penebusan, pembebasan dan kasih sayang suci yang dinikmatinya. Dia tidak berpikir betapa memalukan dan menjijikkan “pelacuran” yang dia banggakan itu di mata Tuhan. Dosa sudah mengintai, mengajaknya bermain mata dan dia mulai tertarik lagi.
Atau mungkinkah lebih serius lagi, dia memang tidak mengenal Allah!? Dia tidak mengenal Allah dengan segala keindahan-Nya, kesucian-Nya, dan kecemburuan-Nya. Oh, dia mungkin ke gereja, pelayanan, tetapi dia tidak mengenal Allah. Itu sebabnya dia tidak menganggap dosa sebagai sampah yang memalukan, tetapi malah menganggapnya sebagai permata yang bisa dibanggakan. Apa yang dibenci Allah, disukai oleh dia. Bukankah itu tanda dia tidak mengenal Allah?
Saya tidak tahu yang mana.
Tetapi, setiap kali seseorang mulai membanggakan dosa, mari kita tidak kagum tapi waspada. Mari kita melihatnya sebagai tanda yang sangat jelas bahwa dosa sedang bekerja di dalam diri orang itu. Dan mari kita bertanya: Apakah dia mengenal Allah?
Kalau kita sendiri lah yang suka membanggakan dosa… setiap kali kita sadar, bertobatlah! Karena “dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau” (Kej 4:7).
Thursday, October 16, 2014
Few Love the Cross of Jesus
Jesus has always many who love His heavenly kingdom, but few who bear His cross. He has many who desire consolation, but few who care for trial. He finds many to share His table, but few to take part in His fasting. All desire to be happy with Him; few wish to suffer anything for Him. Many follow Him to the breaking of bread, but few to the drinking of the chalice of His passion. Many revere His miracles, few approach the shame of the Cross.
Many love Him as long as they encounter no hardship; many praise and bless Him as long as they receive some comfort from Him. But if Jesus hides Himself and leaves them for a while, they fall either into complaints or into deep dejection.
Those, on the contrary, who love Him for His own sake and not for any comfort of their own, bless Him in all trial and anguish of heart as well as in the bliss of consolation. Even if He should never give them consolation, yet they would continue to praise Him and wish always to give Him thanks. What power there is in pure love for Jesus – love that is free from all self-interest and self-love!
(Thomas a Kempis)
Jangan buru-buru membaca tulisan di atas. Bacalah lagi!
Orang Kristen seperti apakah kita?
Apakah kita HANYA mencintai Kerajaan-Nya, menginginkan penghiburan, berbagian di meja Tuhan, ATAU JUGA mau memikul salib-Nya, menerima ujian, berbagian dalam puasa-Nya?
Apakah kita HANYA menginginkan kebahagiaan bersama-Nya, ikut sampai Dia memecahkan roti, dan mengagumi mukjizat-Nya, ATAU JUGA mau menderita apapun untuk Dia, ikut sampai minum cawan penderitaan-Nya, dan mau datang pada kehinaan salib?
Apakah kita mengasihi Dia hanya selama tidak ada kesulitan? Apakah kita memuji Dia hanya selama masih menerima kenyamanan dari-Nya?
Mereka yang mengasihi Dia hanya karena Dia, dan bukan karena kenyamanan apapun untuk diri sendiri, akan memuji Dia baik dalam ujian dan kesedihan hati maupun dalam kebahagiaan penghiburan. Bahkan jika Dia tidak memberikan penghiburan, mereka akan terus memuji Dia dan bersyukur kepada-Nya.
Betapa besar kuasa di dalam kasih yang murni bagi Yesus – kasih yang bebas dari semua kepentingan diri dan mengasihi diri!
Kalau ada yang tahu lagu "Pikul Salib" (PPK 216), saya kira mungkin syairnya diinspirasikan oleh tulisan Thomas a Kempis di atas:
Banyak yang mau masuk surga tak mau salibNya.
Banyak yang rindu pahala serta dunia.
Tak hiraukan tak hiraukan, hanya mau berkat.
Tak hiraukan tak hiraukan, hanya mau berkat.
Banyak yang mau kemuliaan tak mau yang hina.
Bila Tuhan berkati dia puji NamaNya.
Bila Tuhan minta dia, ia menolaknya.
Bila Tuhan minta dia, ia menolaknya.
Bagi yang mengasihi Dia tiada 'kan tanya.
Bahkan jiwa yang berharga korban pun rela.
B'rilah daku tekad hati, pikul salibNya.
B'rikan daku tekad hati, setia padaNya.
Wednesday, June 25, 2014
The Only Thing
Tozer kemudian melanjutkan bahwa anak Tuhan yang sejati bisa bertumbuh dalam keadaan apa saja bahkan yang paling buruk sekalipun. Tuhan mengatur begitu rupa sehingga anak-anakNya bisa bertumbuh sama baiknya di tengah padang pasir ataupun di tanah yang subur. Anugrah Tuhan bekerja tanpa pertolongan dari keadaan di dunia. Maka satu-satunya yang menghalangi seorang Kristen untuk maju adalah DIRINYA SENDIRI!
Saya sangat setuju dengan Tozer!
Kita yang malas untuk melakukan disiplin rohani. Kita yang tidak sungguh-sungguh mencari wajah Tuhan. Kita yang tidak mau disiplin menggunakan waktu. Kita yang tidak berdoa. Kita yang diatur keadaan: sibuk, cape, panas, nggak mood. Kita yang menginginkan yang salah: orang yang salah, benda yang salah, status yang salah. Kita yang ditekan oleh kesepian dan lupa punya Tuhan. Kita yang melakukan dosa!!!
Kita yang menghalangi diri kita sendiri untuk maju. Kita yang menghalangi diri kita sendiri untuk bertumbuh. Oh Tuhan…ampunilah kami!
Friday, June 13, 2014
A Resting Place - Retreat
Tulisan ini adalah cuplikan khotbah saya di Persekutuan Doa GKY Green Ville tahun 2013 untuk persiapan Retreat ALife.
Henri Nouwen menggambarkan kehidupan orang modern dengan dua kata:1. Filled (penuh).
Hidup kita penuuhhh… dengan kesibukan: bertemu orang, menyelesaikan proyek, menulis email, menelpon, rapat, kuliah, kerja, masalah, stress, dan seterusnya. Ironisnya bagaimanapun sibuknya, kita merasa selalu ada yang belum dikerjakan, janji yang belum dipenuhi, komitmen yang batal, hal-hal yang harus diingat, orang yang harus ditemui, dan seterusnya. Maka sebetulnya kita bukan lagi sibuk, tapi panik. Terlalu banyak yang harus kita lakukan. Kita penuh, kita panik.
Dampak sampingnya adalah kita menjadi penuh kekhawatiran. Kita selalu berpikir ‘bagaimana kalau’. Bagaimana kalau nanti ada masalah, bagaimana kalau dia begini dan begitu, bagaimana kalau terjadi sesuatu, dan seterusnya.
Dan di tengah zaman yang sangat mementingkan pandangan orang lain, kita selalu berpikir apa yang orang lain lihat tentang kita. Bagaimana penampilan saya, apa yang orang katakan, bagaimana prestasi saya, bagaimana pekerjaan saya, status saya. Kita khawatir bagaimana orang melihat kita.
Di tengah hidup seperti ini, bagaimana kita bisa mendengar suara Tuhan? Bagaimana kita bisa menemukan apa yang Tuhan mau? Kita hanya terus terseret dengan berbagai hal… dan tidak ada lagi waktu untuk mendengar suara Tuhan. Itu hidup kita.
2. Unfulfilled (tidak puas atau hampa)
Di dalam kesibukan begitu rupa, banyak orang bertanya untuk apa semua yang dia lakukan. Walaupun hidupnya seperti baik-baik saja, ada pekerjaan, ada uang, ada status, ada keluarga, semua ada, tapi dia kehilangan arti dari semuanya. Hidup kita seperti roda yang berputar terus dengan cepat. Hari ini kerja, besok harus kerja lagi. Hari ini urus masalah, besok juga urus masalah lagi. Putaran terus berjalan, dan kita harus ikut terus, seringkali tanpa kita tahu buat apa semuanya. Makin ikut, makin lama makin merasa kosong.
Dampaknya banyak orang hari ini hidup kesepian. Kesepian bukan karena tidak ada orang. Tapi kesepian karena makin renggangnya hubungan antar manusia. Antara suami dan istri, orang tua dan anak, rekan2 kerja, teman2 gereja. Masing2 kita hidup dalam dunia sendiri, sibuk sendiri, banyak orang di sekitar kita, tapi kita kesepian. Kita mungkin hang out, jalan2, pergi persekutuan, pelayanan, tapi tetap kita kesepian. Hidup seperti ini sangat terasa kosong. Ada kegelisahan dalam diri kita, merasa ini tidak benar, merasa ada sesuatu yang lain yang kita inginkan, tapi tidak tahu apa dan bagaimana. Hidup kita restless.
3. Saya tambahkan ciri yang ke-3 dari hidup orang modern: hidup kita penuh dengan luka.
Kita makhluk yang selalu bereaksi. Ketika ditekan, kita bereaksi. Mungkin dengan marah - kita melawan dan membalas. Atau mungkin hanya dengan memendam kemarahan, atau dengan menangis, atau dengan ketakutan. Reaksi apapun yang kita lakukan, hasilnya adalah kita terluka.
Ketika kita merasa hidup kita kosong, kesepian, kita akan bereaksi. Mungkin dengan mencari kenikmatan apa saja, cari teman2 hang out sampai larut malam, pergi ke pesta demi pesta. Atau mungkin kita beli barang lebih banyak, makan lebih banyak, apa saja yang kita pikir bisa membuat kita puas.
Lebih parahnya, salah satu pelarian kita adalah dosa. Setan tahu sekali bagaimana menggunakan kelemahan kita. Waktu kita terlalu penuh dengan kesibukan, kepanikan, khawatir, tidak bisa mendengar suara Tuhan, di situ dia bersuara. Ketika kita rasa tidak puas, hampa, kosong, di situ dia tawarkan sesuatu yang terlihat bermakna, memberi kepuasan. Ketika kita sedang banyak luka, di situ dia tawarkan obat membalut luka kita dengan racun yang lebih menyakitkan. Maka kita jatuh dalam dosa. Dan makin kita berdosa, makin kita rasa kosong. Makin rasa kosong, makin mudah kita jatuh lagi dalam dosa. Putarannya terus seperti itu.
Apa yang harus kita lakukan dengan hidup seperti ini? Maka salah satu disiplin rohani untuk menolong diri kita adalah Retreat.
Retreat artinya mundur. Kita keluar dulu dari putaran hidup yang cepat ini, Keluar dulu dari hidup yang terlalu penuh. Keluar dulu dari hidup yang terasa kosong. Keluar dulu membawa luka2 kita. Maka saya kira gambaran yang tepat untuk Retreat adalah “A Resting Place” - tempat istirahat.
Hidup kita sehari2 adalah medan perang, dimana kita tegang, panik, dihajar kiri kanan, ditembaki terus. Maka ketika kita sudah sangat lelah, butek, tidak tahu lagi harus berbuat apa, tidak tahu bahkan harus menembak kemana, sementara tubuh sudah lemah dan penuh dengan luka, di saat itulah yang perlu kita lakukan adalah kembali ke markas. Di situ kita mengalami ketenangan. Kita diobati dulu lukanya. Kita diajak memikirkan ulang strategi, diajak melihat dari perspektif yang benar bagaimana berperang. That’s a resting place, tempat istirahat.
Atau pakai gambaran lain. Hidup kita sehari2 adalah padang gurun. Kita seperti seorang musafir yang berjalan melewati padang gurun itu, di situ kita kepanasan, kelelahan, kurang minum dan makan, kita bertemu dengan binatang buas, kita mengalami luka2. Sekarang kita sampai di sebuah tempat yang indah, di pinggir sungai yang tenang. Di situ kita mandi, makan, diobati lukanya, tidur di tempat yang tenang, ranjang yang empuk, cuaca yang sejuk. That’s a resting place, tempat istirahat.
Harusnya kita merindukan tempat istirahat itu. Kita orang yang kelelahan, kita orang yang penuh luka, dan merindukan tempat istirahat. Dan Retreat, tempat istirahat itu, bukan sekedar seperti markas tentara, bukan sekedar tempat penginapan yang enak bagi musafir, tapi tempat istirahat itu adalah di pelukan Yesus.
Seorang penulis mengatakan begini: Tuhan bisa merawat kita atau Dia bukan Tuhan sama sekali. Apakah Tuhan hanya Tuhan pada waktu yang baik dan bukan Tuhan di lembah kekelaman? Apakah Dia hanya menjadi Tuhan ketika kita merasa semuanya baik, penuh anugrah, ada tongkatnya nyata, dan kalau kita perang langsung menang dan ada pesta di medan perang? Kita hanya percaya Tuhan yang adalah Tukang Sulap agung (Great Magician) dan bukan Tabib yang Agung (Great Physician).
Hidup kita mengikut Tuhan tidak lepas dari masalah. Kita tidak bisa harapkan, ikut Tuhan semua beres. Ini dunia berdosa dan kita lemah. Maka kita bisa kelelahan, hilang arah, luka. Kita bisa marah, kita bisa berdosa, kita bisa menyerah. Tapi Tuhan mau merawat kita, menolong kita, menyembuhkan kita, di pelukanNya.
Tetapi seringkali kita, orang yang sudah sangat cape dan penuh luka ini, hanya datang ke Tuhan untuk cepat2 ambil air cuci muka, lalu balik lagi. Kita baca cepat2 Alkitab, doa cepat2, dengar Tuhan bicara cepat2, semua serba cepat seperti itu. Tuhan tidak sempat mengobati kita, menyembuhkan kita, merawat kita. Kapan kita biarkan Dia merawat kita?
Itu sebabnya waktu di Indonesia, saya dan istri mendisiplin diri untuk setiap bulan 1X pergi Retreat pribadi (biasanya hanya 1 malam saja). Kami pergi ke rumah doa di Lembang (Saya pernah menulis review tentang rumah doa di Lembang itu di sini).
Kami hanya lakukan beberapa hal di sana: Pertama, baca buku. Kami membawa 1 buku sebagai bahan perenungan (saya suka membaca buku A.W. Tozer atau Marva Dawn atau Eugene Peterson), lalu kami baca dengan perlahan sambil direnungkan. Tidak harus baca habis, hanya baca lalu renungkan, sambil bercermin, sambil berdoa bertanya apa yang Tuhan katakan.
Kedua, kami masuk ke kamar doa dan berdoa. Kadang sambil membaca Alkitab, mendengar suara Tuhan, kadang sambil menyanyi, atau kadang sambil menulis saya mengevaluasi hidup dan berdoa minta Tuhan tunjukkan dimana yang salah, lalu kemana saya harus melangkah, dsb.
Ketiga, ngobrol tentang berbagai hal dalam kehidupan rohani. Kami duduk ngobrol sambil minum kopi di tengah udara yang sejuk. Kadang kami ngobrol sambil jalan2 keluar, sambil perhatikan alam, perhatikan yang kecil2, lihat keindahan, sambil bersyukur kepada Tuhan.
Ketika kami rasa cukup, mulai lagi baca lagi, doa lagi, lalu ngobrol lagi.
Terus seperti demikian. Waktu2 seperti itu sangat meneduhkan dan memberi kekuatan. Itulah Retreat. Itulah a resting place, di pelukan Yesus.
Beberapa saran saya:
1. Disipinkan diri untuk Retreat pribadi. Alangkah baiknya jika ada tempat retreat yang cukup dekat. Tetap pergi walaupun sedang tidak ingin pergi. Tetap pergi waktu kita merasa semua baik-baik saja.
2. Kalau kita tidak punya kesempatan atau tidak ada tempat retreat yang cukup dekat, pakai waktu seminggu sekali atau sebulan sekali khusus untuk ambil waktu yang panjang - sediakan waktu misalnya 4-5 jam supaya tidak terburu-buru. Bisa di rumah, bisa di taman, bisa di café, tapi sediakan waktu tenang yang cukup panjang. Waktu itu diisi dengan membaca Alkitab, membaca buku perenungan, berdoa, menulis jurnal, dan mengevaluasi kehidupan.
Kita semua butuh itu. Biarkan Tuhan merawat kita di resting place, di pelukan-Nya.
Tuesday, May 13, 2014
The Real Story
Dalam keadaan yang kacau, Yesaya masuk ke Bait Allah dan disitu dia melihat para serafim berseru-seru di dalam: "Holy, Holy, Holy is the Lord of Hosts, the whole earth is full of His glory!" (Yes 6:3). Allah semesta alam itu kudus, kudus, kudus! Kekudusan Allah melingkupi dan kemuliaan Allah terpancar - bukan hanya di Bait Allah, tapi SELURUH DUNIA. Di dalam suratnya Paulus berkata baik maut maupun hidup, malaikat atau pemerintah, atau kuasa-kuasa di atas atau di bawah, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus. Paulus juga mengatakan betapa lebarnya, panjangnya, tingginya, dalamnya kasih Kristus itu (Ef 3:18). Tak terukur, tak terhingga, tak bisa diketahui batasnya, dan TAK ADA apapun yang kita lakukan yang mampu mengurangi kasih Kristus kepada kita. Inilah realita dimana kita hidup: Kudus, Kudus, Kudus; Mulia, Mulia, Mulia; Kasih, Kasih, Kasih.
Dunia ini milik Allah. Jangan biarkan dunia kita hanya digambarkan oleh wartawan: penculikan, kelaparan, perkosaan, percabulan, perang, dll.
Kita ini umat kepunyaan Allah. Jangan biarkan diri kita hanya digambarkan oleh keadaan: dosa yang menyeret dan membuat kita menderita.
That's not the whole story.
Berikan kesempatan Alkitab bicara menggambarkan dunia ini. Dunia ini penuh kekudusan dan kemuliaan Allah karena Allah masih hadir di dalam dunia di tengah kita.
Berikan kesempatan Alkitab juga bicara menggambarkan siapa kita ini. Kita ini dikasihi begitu rupa dengan kasih Kristus yang tak terukur lebarnya, panjangnya, tingginya dan dalamnya.
And that is the real story!
Wednesday, January 01, 2014
2014
Kalau “waktu” itu seperti garis lurus yang sangat panjang,
maka di situ kita pasti menemukan banyak sekali tonggak-tonggak pemberi tanda. Beberapa tonggak itu sifatnya umum, seperti: Tahun baru, Natal, Paskah, dll. Beberapa sifatnya sangat pribadi (dan biasanya ini banyak sekali) seperti: Ulang tahun, lulus sekolah, mulai bekerja, pembukaan bisnis, ulang tahun pernikahan, dst, dst. Manusia selalu tertarik dengan tonggak-tonggak itu.
Monday, October 21, 2013
Hidup oleh Roh, Dipimpin oleh Roh, Menabur dalam Roh
Saya sedang membaca surat Paulus kepada jemaat di Galatia dan saya terkagum-kagum dengan apa yang Paulus katakan:
- Tuhan Yesus Kristus telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini (1.3-4)
- Kamu telah menerima Roh karena percaya kepada pemberitaan Injil (3.3)
- Kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Kristus Yesus (3.26)
- Kamu telah mengenakan Kristus (3.27)
- Kamu adalah milik Kristus dan berhak menerima janji Allah (3.29)
- Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!” (4.6)
- Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita (5.1)
- Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya (5.24)
Luar biasa anugrah yang Tuhan berikan!
Tetapi di surat yang sama itu, Paulus juga begitu lelah berhadapan dengan jemaat Galatia yang, seperti kita, sulit untuk bertumbuh, hidup kudus, dan sepenuhnya taat kepada Tuhan. Maka dengan penuh perasaan, Paulus berkata: “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu” (4.12). Betapa inginnya Paulus melihat “anak-anaknya” lahir, muncul, nongol, dengan rupa Kristus!
Nasihat Paulus sederhana – tapi sulit – hanya dalam beberapa kalimat:
“Hiduplah oleh Roh” (5.16) dan “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh” (5.25). Maka terakhir “barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu” (6.5).
Tuhan, apa artinya itu? begitu sulit kah rupa Kristus menjadi nyata di dalam kami? Berapa lama penantian itu? Bimbing kami ya Tuhan, ajar kami bagaimana hidup oleh Roh, dipimpin oleh Roh dan menabur dalam Roh! Tolonglah kami!
Tuesday, June 11, 2013
Sickness and Spirituality
Blaise Pascal berdoa supaya Tuhan menggunakan dengan baik penyakitnya di tahun-tahun terakhir dan tergelap dalam hidupnya:
Lord, whose spirit is so good and so sweet in all things, and who are so merciful that not only the blessings but also the misfortunes that come upon your elect are the fruit of your mercy, grant me the grace not to question as a heathen might the state to which your justice has reduced me. You gave me health so that I might serve you, and I made a wholly profane use of it. Now you send me sickness in order to correct me; do not allow me to use this as an excuse to irritate you by my impatience. I have used my health badly, and you have justly disciplined me for it; do not allow that I use badly now your instructions. And since the corruption of my nature is so profound that it spoils even your favors, see to it, oh my God, that your all-powerful grace makes your chastisements salutary to me; and that, having lived undisturbed, in the bitterness of my sins, I taste the heavenly sweetness of your grace during the beneficial illnesses with which you have afflicted me.
Tuhan, yang Roh-Nya begitu baik dan manis dalam segala sesuatu, dan begitu murah hati sehingga bukan hanya berkat-berkat tetapi juga kemalangan-kemalangan yang dialami orang pilihan-Mu adalah buah dari kemurahan-Mu, karuniakanlah anugrah kepadaku untuk tidak mempertanyakan keadaanku yang disebabkan keadilan-Mu ini, seperti yang mungkin dilakukan orang kafir. Engkau memberi aku kesehatan supaya aku bisa melayani-Mu, dan aku menggunakannya dengan penuh kecemaran. Sekarang engkau mengirim penyakit kepadaku untuk meluruskanku; jangan biarkan aku menggunakan ini sebagai alasan untuk membuat-Mu jengkel dengan ketidaksabaranku. Dan karena kerusakan naturku begitu dalam sehingga bahkan merusak kebaikan-Mu, jagalah, oh Tuhanku, sehingga anugrah-Mu yang mahakuasa menjadikan penyucian-Mu ini bermanfaat bagiku; dan supaya, setelah sekian lama aku hidup dalam kepahitan dosa-dosaku tanpa gangguan, sekarang aku merasakan manisnya anugrah-Mu selama sakit yang bermanfaat ini yang kau timpakan kepadaku.
Saya sama sekali tidak yakin apakah saya bisa mengucapkan doa yang sama seperti Pascal. Kita cenderung menjauh dari penyakit dan melihatnya sebagai musuh. Ketika mengalaminya, dalam bentuk ekstrim kita marah kepada Tuhan dan bertanya kenapa, dalam bentuk lebih normal kita berdoa supaya cepat sembuh. Pendek kata, penyakit itu hanyalah sebuah gangguan dan kejahatan yang harus segera dilenyapkan.
Benar bahwa Allah menciptakan dunia bebas penyakit. Tapi sejak kejatuhan dalam dosa, penyakit tidak terhindarkan. Dan Tuhan kemudian memakainya juga untuk maksud-maksud-Nya.
Maka Pascal tidak melihat penyakit hanya sebagai gangguan atau musuh, tetapi sebagai alat anugrah Tuhan. Penyakit bisa dipakai Tuhan untuk meluruskan dia. Penyakit bisa menjadi alat menyucikan dia. Penyakit bisa dipakai Tuhan untuk membuat dia mengalami manisnya anugrah Tuhan.
Satu hal penting untuk diingat: Tuhan tidak bekerja dengan sistem ‘pembalasan’ - dosamu apa maka hukumannya apa. Kadang kita memang harus menanggung konsekuensi dari perbuatan kita yang dulu. Mis: dulu kita makan sembarangan lalu kena kolestrol tinggi. Tetapi Tuhan tidak memberi kolestrol dengan tujuan menghukum kita! Itu adalah konsekuensi. Kalau kita percaya bahwa segala hukuman dosa kita sudah ditanggung oleh Kristus, maka kita harus percaya bahwa Tuhan tidak bekerja dengan sistem ‘pembalasan’ seperti itu.
Lebih jauh lagi, kalau kita terus menerus menyesali kesalahan kita di masa lampau, kita hanya akan berputar-putar di penyesalan. Maka Pascal, sebaliknya, mengajak kita fokus pada bagaimana Tuhan bekerja melalui apa yang kita alami – apapun itu (dalam hal ini penyakit yang dialami).
Sikap seperti ini akan membuat siapapun yang mengalami penyakit atau kelamahan atau cacat, atau keadaan lain yang tidak menyenangkan, ketika pulih, disegarkan oleh anugrah Tuhan. Dan ketika tidak pulih pun, dikuatkan untuk menerima batasan yang baru dan bekerja lagi.
Sekali lagi saya tidak yakin bisa seperti itu! Ah.. kiranya Tuhan beranugrah.
Monday, April 08, 2013
Phebe Bartlet – Kisah Pertobatan
Di dalam buku A Faithful Narrative of the Surprising Work of God in the Conversion of Many Hundred Souls in Northampton, and the Neighboring Towns and Villages of Hampshire in New England yang terbit tahun 1737, Jonathan Edwards mengisahkan tentang pertobatan seorang gadis kecil bernama Phebe Bartlet. Saya terjemahkan bebas:
Phebe lahir pada bulan Maret, tahun 1731. Pada akhir bulan April, atau awal Mei, 1735, dia sangat tergerak karena pembicaraan kakaknya (yang mungkin telah bertobat tidak lama sebelumnya, pada usia sekitar sebelas tahun) dan yang kemudian berbicara kepadanya dengan serius mengenai hal-hal yang agung dari Kekristenan. Waktu itu orang tuanya tidak tahu dan biasanya ketika memberikan nasihat kepada anak-anaknya, mereka tidak khusus bicara kepada Phebe, dengan alasan dia masih sangat muda dan mereka pikir tidak mampu untuk mengerti: tetapi setelah kakaknya bicara kepadanya, mereka mengamati bahwa Phebe mendengar dengan sungguh-sungguh ketika mereka menasihati anak-anak yang lain; dan mereka perhatikan Phebe terus menerus, beberapa kali dalam sehari, mencari tempat tenang untuk berdoa diam-diam…
Pada hari kamis, hari terakhir bulan Juli, sekitar tengah hari, ketika Phebe berada dalam ruang tempat dia biasa berdoa, ibunya mendengar dia bicara dengan keras, sesuatu yang tidak biasa dan tidak pernah didengar ibunya. Dan suaranya seperti orang yang sangat mendesak; tetapi ibunya hanya bisa mendengar beberapa kata ini (dengan gaya seorang anak kecil, tetapi diucapkan dengan kesungguhan, dan dari jiwa yang tertekan): “Berdoa, Tuhan yang terpuji, beri aku keselamatan! Aku berdoa, memohon, ampuni semua dosaku!” Ketika ia selesai berdoa, ia keluar dari ruangan, dan duduk dengan ibunya, dan menangis keras… dia terus menangis dengan sungguh-sungguh selama beberapa waktu, sampai akhirnya tiba-tiba dia berhenti menangis dan mulai tersenyum, dan berkata dengan tersenyum, “Ibu, kerajaan sorga datang kepadaku!”
Ibunya terkejut dengan perubahan yang tiba-tiba dan dengan ucapan itu; dan tidak tahu harus berbuat apa, maka dia tidak berkata apa-apa. Dan Phebe berkata lagi, “Ada lagi yang datang padaku, dan ada lagi, ada tiga”. Dan ketika ditanya apa maksudnya, dia menjawab, “Satu adalah Jadilah kehendakMu; dan ada lagi yang lain Menikmati Dia selamanya”. Tampaknya yang dia maksud adalah tiga bagian dari buku katekisasi yang muncul di pikirannya.
Setelah anak itu berkata demikian, ia kembali ke ruangan untuk berdoa. Dan ibunya pergi ke rumah kakaknya di sebelah rumah, dan ketika ia kembali, anak itu keluar dari ruangan dan berkata kepada ibunya, “Aku bisa menemukan Tuhan sekarang!” karena sebelumnya dia pernah mengeluh bahwa dia tidak bisa menemukan Tuhan. Lalu anak itu berkata lagi, “Aku mencintai Tuhan!” Ibunya bertanya berapa besar dia mengasihi Tuhan, apakah lebih dari mengasihi ayah ibunya, ia berkata “Ya”. Lalu ibunya bertanya apakah ia mengasihi Tuhan lebih dari adik kecilnya Rachel. Dia menjawab, “Ya, lebih dari apapun!”
Kemudian, karena Phebe berkata dia bisa menemukan Tuhan, kakaknya bertanya dimana dia bisa menemukan Tuhan. Dia menjawab, “Di sorga”. Kakaknya bertanya, “Mengapa? Apa kamu pernah ke sorga?” “Tidak” jawabnya. Dengan jawaban itu tampaknya ketika berkata dia bisa menemukan Tuhan sekarang, Phebe tidak sedang berimajinasi membayangkan sesuatu yang kelihatan sebagai Tuhan. Ibunya bertanya apakah ia takut ke neraka, dan itu membuat dia menangis. Dia menjawab, “Ya dulu aku takut, tapi sekarang aku tidak boleh takut”. Ibunya bertanya apakah Phebe berpikir bahwa Tuhan sudah memberikan dia keselamatan. Dia menjawab, “Ya”. Ibunya bertanya, kapan. Dia menjawab, “Hari ini”.
Malam itu ketika berbaring di ranjang, Phebe memanggil salah seorang sepupunya yang masih kecil dan berkata kepadanya bahwa sorga lebih baik dari bumi. Keesokan harinya, hari Jumat, ibunya menanyakan dia berdasarkan buku katekisasi, untuk apa Tuhan menciptakan dia. Dia menjawab “Untuk melayani Dia”, dan menambahkan “setiap orang harus melayani Tuhan, dan mendapat keuntungan dalam Kristus”.
Edwards kemudian menceritakan satu cerita lagi yang menunjukkan kepekaan Phebe akan dosa dan dampaknya dalam hidupnya:
Suatu kali di bulan Agustus, tahun lalu, Phebe pergi dengan beberapa anak yang lebih besar untuk memetik buah prem (plum) di halaman tetangga, tanpa sadar apa yang dia lakukan itu salah.Tetapi ketika sampai di rumah dengan membawa buah prem itu, ibunya dengan lembut menegur dia dan memberitahu bahwa dia tidak boleh mengambil buah prem itu tanpa izin karena itu berdosa: Allah sudah memerintahkan untuk tidak mencuri. Phebe terkejut sekali, dan menangis dan berseru, “Aku tidak mau buah prem ini!” dan berbalik ke kakaknya Eunice, dengan sungguh-sungguh berkata kepadanya, “Mengapa kamu mengajak aku pergi ke pohon prem itu? Aku harusnya tidak pergi kalau kamu tidak mengajak”.
Anak-anak lain sepertinya tidak terlalu peduli; tetapi tidak ada yang bisa menenangkan Phebe. Ibunya berkata bahwa dia bisa pergi dan minta izin sekarang, dan itu bukan lagi dosa untuk memakannya. Lalu ibunya mengirim salah seorang anak untuk pergi ke rumah pemilik pohon itu dan ketika dia kembali, ibunya memberitahu Phebe bahwa pemiliknya sudah memberi izin, dan sekarang Phebe boleh memakannya dan itu bukan mencuri. Itu membuat Phebe diam sebentar, tetapi kemudian dia menangis lagi dengan keras. Ibunya bertanya apa yang membuat dia menangis lagi, kenapa dia menangis padahal mereka sudah minta izin. Apa yang mengganggu pikirannya sekarang? Berkali-kali ibunya bertanya, sebelum akhirnya dia menjawab – karena itu dosa!
Phebe masih menangis cukup lama, dan dia berkata dia tidak akan pergi lagi kesana walaupun Eunice memintanya seratus kali pun. Dan dia lama tidak mau makan buah prem, karena masih ingat dosanya yang lalu itu.
Kisah Phebe membuat saya termenung. Phebe kecil ini menunjukkan ciri orang yang berpindah dari mati kepada hidup, dari gelap kepada terang. Itulah pertobatan! Itulah keselamatan! Saya yakin dalam kelemahannya, Phebe masih akan berbuat dosa ketika dia besar. Tapi hidup suci bukan berarti tidak berbuat dosa lagi, tapi peka dengan dosa (Phebe menangis terus karena dosanya - yang bagi banyak orang hanya sepele), menganggap serius dosa (Phebe bahkan sampai lama tidak mau makan buah prem lagi karena dosa itu begitu jelas bagi dia), bertekad tidak berdosa lagi (Phebe berkata walaupun seratus kali diajak, dia tidak akan mau lagi). Bagaimana dengan kita?





