Showing posts with label j. Berbagai Topik. Show all posts
Showing posts with label j. Berbagai Topik. Show all posts

Wednesday, February 08, 2017

Pilkada Jakarta 2017 - Sebuah Catatan

Semua yang saya tulis disini saya kira sudah pernah ditulis oleh orang lain dengan lebih baik dan lebih lengkap. Tidak ada yang baru. Saya hanya ingin menuliskan catatan apa yang saya yakini di dalam Pilkada Jakarta kali ini.

Di dalam setiap pemilihan pemimpin, apapun dan dimanapun itu, tidak pernah ada calon yang sempurna. Itu pasti. Kadang calonnya semuanya buruk, maka pilihannya adalah yang terbaik di antara yang buruk (sedih). Kadang mungkin, walaupun tidak sempurna, calonnya semuanya baik sampai sulit sekali memilih yang mana (ruaarrr biasa.. kapan ya itu?). Tapi Pilkada Jakarta kali ini berbeda.

Saya mencoba dengan objektif (walaupun tidak mungkin bisa 100%) untuk menilai pasangan-pasangan calon yang ada.

Pertama, dari konsep pembangunan. Saya tidak menemukan ada pasangan calon penantang yang mempunyai banyak ide yang konkrit dan bagus untuk membangun Jakarta. Perhatikan beberapa istilah itu: “Bagus” artinya ya bagus; “Konkrit” artinya tidak mengawang tapi pasti bisa dilaksanakan dan jelas tahapannya; “Banyak” artinya ya banyak. Ada pasangan calon yang mempunyai ide yang “bagus” tapi kurang “konkrit” dan sama sekali tidak “banyak.” Ada yang sama sekali tidak mempunyai ide yang “bagus.”

Kedua, dari konsep ke-Bhinneka-an. Saya melihat sebetulnya mungkin (cuma mungkin lho ya) kedua pasangan calon penantang tidak punya cita-cita menghancurkan kemajemukan Indonesia atau membiarkan NKRI dijadikan negara berbasis agama. Rasanya mereka tidak ingin sampai ke situ. Tetapi, saya melihat ketidakpedulian ketika kampanye mereka, demi meraih suara, menghancurkan “tenun kebangsaan” Indonesia (saya pinjam istilah yang terkenal ini hehe..). Saya juga melihat kenaifan (atau kemunafikan) mereka dengan mengabaikan kampanye hitam dan berkembang suburnya radikalisme di tengah “pendukung” mereka. Maka saya melihat sifat oportunis negatif (bukan positif) yang bisa menjadi sangat mengerikan kalau mereka memimpin kota Jakarta.

Ketiga, dari keberpihakan pada rakyat. Ini subjektif walaupun masih bisa diukur secara objektif.

Saya tidak tahan mendengar konsep mendayu-dayu dari paslon nomor 1 yang merayu-rayu rakyat dengan menggambarkan petahana sebagai pemimpin yang tidak memikirkan kepentingan rakyat dengan menggusur. Berapa kali pun dijelaskan bahwa pemindahan (bukan penggusuran) tidak akan dilakukan sebelum rusun tersedia, berapa kali pun dijelaskan bahwa fasilitas kesehatan, pendidikan, ekonomi, semua sudah diusahakan, teteeuuppp… ngomongannya sama “apakah tidak memikirkan mereka?”Apakah membiarkan mereka tinggal di tengah tepi sungai dan membiarkan Jakarta banjir itu lebih berpihak pada rakyat? Tidak pernah dijawab.

Saya juga tidak tahan mendengar jargon-jargon paslon nomor 3 yang mengawang. Saya sebutkan satu saja. Di dalam debat waktu itu, kalau tidak salah ketika bicara reformasi birokrasi, paslon nomor 2 mengangkat isu “integritas” yang tandanya adalah kejujuran, lalu dibalas oleh paslon nomor 3: “Integritas bukanlah sekedar kejujuran. Integritas adalah keberpihakan pada nilai.” Silakan cari kamus atau buku yang membenarkan definisi itu. Super mengawang. Lalu mereka berkata “yang terpenting adalah budaya kerja yang baik… pemimpin harus merangkul, bukan memukul.” Selain mengawang lagi, di tengah kondisi banyaknya birokrat yang astaganaga mentalnya, bisa dibayangkan siapa yang akan dirugikan dengan konsep seperti itu.

Tapi ok lah, saya mengerti karena ingin menang maka perlu senjata retorika. Tetapi, saya ingin mendengar kalau begitu konsep apa yang ditawarkan yang berpihak pada rakyat? Lebih lagi, sebetulnya saya ingin melihat hati yang mengasihi rakyat. Jujur, saya tidak bisa melihat itu dari paslon nomor 1 dan nomor 3. Saya yang salah? Mungkin, karena saya subjektif. Tapi, secara objektif?

Saya tidak melihat Pilkada Jakarta kali ini sebagai “memilih yang terbaik dari yang buruk” atau “memilih yang terbaik dari yang baik.” Karena saya melihat ada satu (dan hanya satu) paslon yang memiliki konsep yang “baik, konkrit dan menyeluruh” untuk pembangunan Jakarta. Saya melihat ada satu (dan hanya satu) paslon yang tidak bermain dengan konsep ke-Bhinneka-an NKRI. Saya juga melihat keberpihakan pada rakyat paling nyata pada paslon itu. Betul mereka tidak sempurna tapi mereka terbaik dan sayangnya tanpa saingan. Maka saya akan memilih mereka - Nomor 2.

Saya tidak pro Pak Ahok. Ini bukan soal orangnya apalagi agama dan rasnya. Tidak ada hubungan sama sekali dengan semua itu. Ini soal rakyat. Ini soal keadilan sosial. Ini soal Jakarta dan Indonesia.

Nama sudah diperiksa dan terdaftar. Tiket ke Jakarta sudah dibeli. Kami akan pulang menyumbang 2 suara untuk rakyat.

#padamunegerikamiberbakti

Thursday, April 28, 2016

Eugene Peterson dan Bono - Tentang Mazmur

Saya menemukan video ini, tentang Eugene Peterson dan Bono (U2). What? Who? Yes, Eugene Peterson and Bono! :-)

Eugene Peterson adalah seorang penulis yang sangat saya kagumi. Bono? Saya hanya tahu namanya tapi tidak pernah mendengar albumnya. Sorry, saya memang agak kuper soal dunia entertainment. Bono mengenal Eugene Peterson juga dari buku-bukunya, khususnya The Message (Alkitab terjemahan dengan bahasa sehari-hari) yang sangat terkenal. Sementara Peterson tidak pernah mendengar tentang Bono sebelumnya :-)

Video ini cukup panjang tapi saya menikmati menontonnya sampai habis. Beberapa percakapan yang sangat menarik bagi saya:

Dalam wawancara dengan Dean Nelson (mulai di menit 1.45), Dean bertanya mengapa Peterson menolak ketika Bono mengundangnya untuk hang out with U2. Peterson menjawab bahwa waktu itu dia sedang mengejar deadline menerjemahkan Perjanjian Lama.
Dean: “You may be the only person alive who would turn down the opportunity just to make a deadline. I mean, come on, it’s Bono!”
Eugene: “Dean, he was Isaiah!” 

lol :-)

Bono bicara tentang Mazmur 23 (mulai di menit 10.30) dan dia menyanyikan Mazmur 23.

Percakapan tentang honesty di dalam Mazmur (mulai di menit 12.25).
Bono: “I would love if this conversation would inspire people who are writing these beautiful voices, who are writing these, say, beautiful gospel songs, write a song about their bad marriage, write a song about how, you know, they are pissed off about the government… why I am suspicious of Christians is because of this lack of realism. And I love to see more of that in life, in art, and in music.”

Percakapan tentang violence (16.10). Eugene mengatakan betapa pentingnya imprecatory psalms (mazmur yang berisi permohonan akan penghakiman, malapetaka dan kutukan bagi musuh).
Eugene: “If we have to get some way in context, and the context is our Bible and our whole psalter, some way in context that tell people how mad we are.”
Lalu Bono teringat akan Mazmur 35:1 dimana Eugene menterjemahkannya dengan sangat baik: “Harass these hecklers, God, punch these bullies in the nose.” 

Adakah cara melihat mazmur-mazmur seperti itu melalui kacamata Yesus dan berharap untuk mengerti violence dan non-violence?
Eugene: "Well, yeah, the crucifixion. There’s violence, there got to be some kind of response… I’m glad that we have a cross in every room in this house. But when I look at those, I don’t think decoration, I think this is the world we live in. And it’s a world with a lot of crosses. And I just would like to spend my life doing something about that, through Scripture, through preaching, through friendship. And now my years here are getting shorter and don’t know how many years left but I don’t wanna escape the violence.”

That touched me. 

Video ditutup beautifully dengan doa dari Eugene Peterson di background.

Ada tiga kesan tambahan yang saya dapat:

Pertama, seorang penulis pernah mengatakan suara Eugene Peterson seperti suara orang yang banyak bergumul di dalam dark nights. Suara saya yang sekarang lagi serak-serak basah membuat saya merasa agak mirip dengan dia (lol) – ok ini nggak penting.

Kedua, Eugene menyebut Bono sebagai “companion in the faith”. Bagaimanapun bedanya Eugene dan Bono, tapi mereka sama-sama beriman dan sedang berjalan dalam perjalanan iman, so yes they are “companion in the faith.” Bisakah kita belajar melihat saudara kita sesama orang Kristen, seberapapun bedanya dengan kita, seperti itu?

Ketiga, saya kagum dengan kesederhanaan Eugene. Saya sudah banyak membaca bukunya maka sedikit banyak tahu tentang hidupnya. Tetapi melihat video ini,… saya semakin mengagumi dia. Di dalam kitab Testaments of the Twelve Patriarchs (sebuah kitab kuno orang Yahudi), ada satu istilah yang sering muncul “walk in singleness/simplicity” – bukan hanya di dalam hal materi, tapi juga di dalam hati, fokus, simpel, nggak neko-neko. Saya kira Eugene sangat tepat melukiskan hidup yang seperti itu.

Here is the video:

Thursday, November 12, 2015

Cara Berpikir - Part 4: Don't Focus on the Symptoms, Address the Cause

Ini bagian yang keempat dalam tulisan seri “Cara Berpikir”. Saya pernah menulis di blog ini tentang
cara berpikir:
Cara Berpikir – Part 1: Apa sih Masalahnya? 
Cara Berpikir – Part 2: Benarkah Begitu?
Cara Berpikir - Part 3: Seeing Both the Forest and Tress

Semua masalah selalu ada “penyebab”nya di belakangnya. Kadang “penyebab”nya ada satu , dua, tiga, atau bahkan lebih. Setiap “penyebab” itu juga ada lagi “penyebab” di belakangnya. Demikian seterusnya… Kalau ditarik terus ke belakang…terussss ke belakang…lama-lama penyebabnya adalah dosa Adam. Artinya nariknya udah kejauhan!

Sederhananya begini, ada penyebab yang masih bisa kita rubah, ada penyebab yang tidak bisa kita rubah lagi alias harus diterima. Maka kita perlu mencari ke belakang dan bertanya terus “apa penyebabnya” sejauh ke penyebab yang masih dalam batas kemampuan kita untuk merubah.

Saya menggunakan dua istilah untuk menolong kita berpikir: “Symptoms” dan “Cause.” 

Symptoms” (gejala, keluhan, sesuatu yang muncul dan kelihatan) adalah sesuatu yang muncul ke permukaan yang diakibatkan oleh “cause” (penyebab). Ketika seorang pasien datang ke dokter, seringkali dia tidak tahu apa penyakitnya. Dia hanya akan datang dengan menceritakan symptoms yang dialami dan dokter juga menggali data dari symptoms yang diceritakan. Misalnya kalau dia demam, sudah berapa lama, sampai berapa suhunya. Lalu apakah perutnya sakit ketika ditekan, apakah lidahnya berwarna putih, apakah ada bintik merah di tangan, dst. Yang dilakukan seorang dokter adalah mencari sebanyak mungkin symptoms, lalu menebak apa cause nya. Dia tidak boleh hanya menangani symptoms; demam dikasih pereda panas, sakit perut dikasih panadol, dst. Itu dokter ngaco! Dia harus mencari cause-nya dan menyelesaikan akar masalahnya.

Kesulitannya adalah masalah selalu muncul dalam bentuk symptoms dan kecenderungan kita adalah mencoba menyelesaikan symptoms itu. Praktis. Cepat. Ada masalah ada jawaban. Tapi celakanya, kalau cause nya tidak dibereskan, maka masalah akan terus muncul. Bahkan kadang muncul dalam bentuk symptoms yang lain.

Di dalam pelayanan, berkali-kali saya melihat ini terjadi.

Jemaat mengeluh khotbah membosankan (symptoms). Kalau ditanya apa masalahnya, maka jawabannya adalah terlalu dalam, tidak praktis, terlalu “doktrinal” (analisa symptoms yang salah). Maka dicarilah tema yang lebih praktis, lalu pengkhotbah dipesankan untuk tidak membawakan yang dalam tapi yang ringan-dan-lucu saja. Padahal masalahnya bukan itu! Masalahnya justru mungkin karena pengkhotbah tidak membawakan dengan mendalam dan relevan (cause)! Justru Alkitab perlu diajarkan dengan sangat mendalam (jauh lebih mendalam dari yang kebanyakan hari ini terjadi di banyak gereja), tetapi tetap harus relevan.

Di beberapa gereja diterapkan jam kantor “9 to 5” untuk hamba Tuhan. Seringkali alasannya adalah: Jemaat aja ngantor.. ngapain aja hamba Tuhan kerjanya? Supaya yakin hamba Tuhan juga kerja, maka buat jam kantor (symptoms). Padahal di kebanyakan kasus, cause-nya adalah karena jemaat merasa tidak puas dengan pelayanan hamba Tuhan di gerejanya. Mungkin itu masalah relasi, leadership, khotbah, arah gereja, macam-macam. Kalau symptoms dibereskan dengan dibuatkan jam kantor, apakah masalah beres? Tidak, akan muncul symptoms yang lain.

Demikian pula dengan seruan beberapa orang untuk membuat program ini dan itu, untuk membuat perubahan di sini dan situ, dst. Alasannya? Jemaat perlu! Ini bagus untuk pertumbuhan gereja! Macam-macam sih alasannya. Jangan cepat-cepat! Karena kalau ditelusuri, seringkali bukan itu yang diinginkan dan dibutuhkan. Maka perlu discernment untuk melihat apa sebetulnya yang terjadi, apa penyebabnya, lalu apa yang betul-betul harus dilakukan.

Saya juga melihat ini terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Anak yang selalu menangis, ngambek, ngotot, minta untuk dibelikan mainan (symptoms), belum tentu sebetulnya menginginkan mainan itu. Mungkin yang dia inginkan adalah perhatian orang tuanya (cause). Satu-satunya yang dia bisa adalah menangis dan minta dibelikan mainan karena saat itulah, untuk sesaat, dia merasa diperhatikan. Tapi apakah masalahnya selesai? Tidak. Dia tetap butuh perhatian. Maka dia akan menangis lagi minta dibelikan mainan.

Beberapa anak menunjukkan prestasi yang buruk di sekolah. Sebagian orang tua berpikir sederhana, prestasi buruk, kurang rajin belajar, maka solusinya diberikan les tambahan. Padahal mungkin bukan itu masalahnya. Mungkin dia punya masalah dengan teman-teman atau guru di sekolah? Mungkin dia tidak cocok dengan cara belajar seperti itu? Mungkin dia tidak tertarik dengan pelajarannya?

Demikian pula dalam kehidupan kita. Ketika kita kesepian, kita memikirkan segala cara untuk mengisi kesepian dan kekosongan itu, dari mulai shopping, nonton, jalan-jalan, dugem, apa saja. Tapi ujungnya tetap sepi. What’s wrong? Karena kita fokus hanya di symptoms: kesepian. Kita tidak addressing the cause: hati kita yang membutuhkan Tuhan.

Maka pola pikir ini bisa menolong kita dalam banyak hal. Jangan melihat sesuatu hanya di permukaan. Jangan melihat masalah hanya dari symptoms-nya dan jangan fokus memberekan hanya symptoms karena tidak akan beres. Address the cause!

Tuesday, July 21, 2015

NIV (New International Version) Bible: Sesat? Pro LGBT?

Beberapa waktu ini di berbagai kelompok Kristen di Indonesia ramai dibicarakan tentang NIV Bible. Isu ini menjadi ramai karena NIV Bible adalah Alkitab bahasa Inggris yang paling banyak digunakan (mungkin termasuk di Indonesia).

Ada beberapa isu yang diangkat, tetapi dua yang paling besar adalah: Pertama, "ditemukan" banyak ayat yang hilang di dalam NIV. Pembandingnya adalah KJV (King James Version). Ada banyak ayat yang ada di dalam KJV dan Alkitab bahasa Indonesia, yang ternyata tidak ada di dalam NIV. Kedua, NIV diterbitkan oleh Zondervan yang dimiliki Harper Collins yang juga menerbitkan Satanic Bible dan The Joy of Gay Sex.

Awalnya saya enggan meresponi debat seperti ini karena sebenarnya isu ini, khususnya yang pertama, adalah isu yang kunoooo sekali. Meminjam istilah Larry Hurtado, itu adalah isu Zombie – sudah dibunuh tapi bangun lagi, dibunuh bangun lagi, dibunuh bangun lagi. Cape sekali meladeninya. Saya juga tahu bahwa di belakang munculnya isu ini adalah para “pemuja” KJV yang sangat ngotot. Tetapi, apa boleh buat, karena hebohnya isu ini, saya pikir ada baiknya memberi tanggapan singkat untuk menolong orang-orang Kristen yang jadi bingung karena ini.

Berikut ini adalah sedikit sejarah di balik Perjanjian Baru kita, khususnya KJV (King James Version).

Kita tahu bahwa kitab-kitab di dalam Perjanjian Baru ditulis di dalam bahasa Yunani. Tetapi, tidak ada satupun naskah asli hasil tulisan langsung para penulis pertama (Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Paulus, Petrus, Yakobus, dll) yang masih ada sampai sekarang. Semua mungkin sudah hancur karena pada waktu itu mereka menulis di atas dua macam material: Papirus (kertas yang dibuat dari pohon papirus) dan Perkamen (dari kulit hewan). Maka naskah Perjanjian Baru yang kita miliki adalah hasil salinan.

Orang-orang Kristen mula-mula menyalin hasil tulisan para penulis pertama itu dan menyebarkannya. Naskah itu kemudian disalin lagi dan disebarkan lagi. Demikian seterusnya. Maka kita menemukan banyak sekali naskah Perjanjian Baru tersebar di banyak sekali tempat!

Seiring dengan penyalinan demi penyalinan, sangat wajar terjadi human errors. Ada yang tidak disengaja, misalnya terlompat 1 baris atau terlompat 1 kata. Ada juga yang disengaja, misalnya seorang yang menyalin naskah untuk jemaatnya merasa tulisan sang rasul terlalu sulit untuk dimengerti, maka dia berpikir ada baiknya kalau sedikit dia tambahkan keterangan. Ada beberapa jenis human errors seperti ini yang terjadi. Darimana kita tahu? Dari membandingkannya dengan naskah-naskah lain. Para ahli teks mengerjakan ini (dengan cara yang astaganaga susahnya) dan mempertimbangkan setiap kemungkinan. Satu hal lagi yang perlu diketahui: Hampir semua naskah yang kita miliki tidak lengkap Matius-Wahyu, tetapi terpisah-pisah, ada yang 1 kitab saja, dan ada yang berisi beberapa kitab.

Ketika gereja semakin tersebar, dirasakan perlu adanya terjemahan Alkitab di dalam bahasa-bahasa lain. Salah satu terjemahan yang paling terkenal waktu itu adalah Vulgate (bahasa Latin).

Singkat cerita, pada abad ke 16, setelah penemuan mesin cetak, seorang bernama Erasmus memutuskan untuk menerbitkan Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani (waktu itu naskah yang dipakai secara luas adalah Vulgate - Bahasa latin). Tetapi, dia tidak bisa menemukan naskah kuno yang berisi lengkap seluruh Perjanjian Baru. Ditambah lagi waktu itu dia diburu waktu untuk menyelesaikan proyek penerbitan itu. Maka dia menggunakan dua naskah bahasa Yunani yang adalah salinan dari abad 12 dan tergolong inferior (kurang reliable), satu hanya berisi Injil dan satu lagi hanya berisi Kisah Para Rasul dan surat-surat. Erasmus membandingkan naskah itu dengan 2-3 naskah lain dan mengoreksinya sesuai pendapatnya sendiri. Untuk kitab Wahyu, dia hanya menemukan 1 naskah Yunani saja dari abad 12 yang, celakanya, halaman terakhirnya hilang (berisi 6 ayat). Maka untuk mengisi 6 ayat itu dan juga beberapa ayat lain di Perjanjian Baru yang Erasmus rasa kurang jelas, dia mengambil Vulgate (bahasa Latin) dan menerjemahkannya ulang ke bahasa Yunani! (Bayangkan, dulu orang terjemahkan naskah Yunani ke Latin (Vulgate), sekarang dia terjemahkan ulang dari Latin ke Yunani, seakan-akan ini naskah aslinya). Hasil akhir karya Erasmus adalah Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani yang sangat tidak reliable! Edisi hasil karya Erasmus ini disebut Textus Receptus (Received Text).

Belakangan, ada naskah-naskah lain yang ditemukan lagi oleh Erasmus. Maka dia membuat beberapa perbaikan pada Textus Receptus. Edisi terakhir Textus Receptus versi Erasmus diterbitkan pada tahun 1535. Tetapi, sampai edisi akhir itu, Erasmus hanya menggunakan beberapa naskah saja dan naskah tertua yang dia gunakan berasal dari abad 10 saja. Textus Receptus kemudian direvisi lagi oleh Robertus Stephanus (sampai 4 edisi) dan Theodore Beza (sampai 9 edisi). Setiap revisi berusaha memperbaiki kekurangan yang ada berdasarkan penemuan naskah-naskah lain.

Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani yang disebut Textus Receptus inilah yang digunakan untuk diterjemahkan ke bahasa Inggris menjadi Alkitab KJV. Sekalipun KJV yang sekarang kita miliki tidak diterjemahkan dari Textus Receptus edisi pertama, tetapi KJV pada dasarnya dibuat berdasarkan naskah Yunani yang kurang reliable karena relatif "muda". Harus diakui bahwa KJV adalah terjemahan bahasa Inggris yang sangat indah. Tetapi, dalam banyak ayat, dia tidak reliable. KJV ini juga mengalami beberapa kali revisi.

Kalau ada yang tertarik mempelajari mengenai ini, boleh membaca buku Bruce Metzger, The Text of the New Testament, 4th edition. 

Setelah Textus Receptus, ada ribuan naskah Yunani lain yang ditemukan yang jauh lebih tua dan jauh lebih reliable. Naskah-naskah itu dikumpulkan, diteliti, dibandingkan, dengan berbagai cara yang asataganaga susahnya. Kemudian para ahli merekonstruksi naskah Perjanjian Baru bahasa Yunani yang mendekati aslinya. Seorang ahli Perjanjian Baru berani mengatakan naskah hasil rekonstruksi modern ini bisa dikatakan 99% sama dengan naskah asli tulisan para penulis pertama. Perbedaannya, kalaupun ada, hanya di tempat-tempat yang tidak signifikan dan tidak akan mempengaruhi doktrin apapun. Sekarang ini, teks Perjanjian Baru bahasa Yunani yang standar diterima adalah Nestle-Aland Greek New Testament (sekarang edisi ke-28) atau juga disebut United Bible Societies Greek New Testament. Alkitab bahasa Inggris versi modern, termasuk NIV, diterjemahkan dari naskah hasil rekonstruksi ini.

Tentu setiap versi Alkitab akan menggunakan teks hasil revisi terakhir pada waktu ia diterbitkan. Para penterjemah KJV menggunakan teks Yunani hasil revisi terakhir yang tersedia waktu itu yaitu Textus Receptus. Para penterjemah NIV (dan juga versi Alkitab lainnya) juga menggunakan teks Yunani hasil revisi terakhir di zaman masing-masing. Singkat kata, KJV diterjemahkan dari Textus Receptus yang berisi naskah-naskah Yunani yang ratusan tahun lebih muda dari yang digunakan NIV. Artinya KJV mengumpulkan kesalahan penyalinan yang jauh lebih banyak. Sementara NIV diterjemahkan dari naskah Yunani hasil perbandingan ribuan naskah kuno dan adalah hasil karya ratusan orang selama puluhan tahun.

Sekarang saya bisa mulai menjawab mengenai ayat-ayat yang “hilang” dari NIV, seperti Mat 17:21, 18:11, 23:14, Mark 7:16, 9:44, 9:46, Luk 17:36, Yoh 5:4, dst. Ayat-ayat itu bukan hilang tetapi memang tidak ada di dalam naskah asli! Saya sederhanakan ceritanya menjadi begini: Textus Receptus menggunakan naskah Yunani dari abad ke-10 dan ke-12. Di dalam naskah-naskah itu, ditemukan ayat-ayat itu. Maka KJV yang diterjemahkan dari Textus Receptus memasukkan ayat-ayat itu. Tetapi, kemudian ditemukan naskah-naskah Yunani yang jauh lebih tua dan reliable yang ternyata tidak ada ayat-ayat itu! Maka terjemahan yang lebih modern seperti NIV tidak memasukkannya. Alkitab bahasa Indonesia, karena pertimbangan tertentu, memasukkan ayat-ayat itu tetapi diberi tanda kurung (walaupun tidak semua, karena pertimbangan yang saya tidak tahu). Beberapa versi Alkitab bahasa Inggris menempatkannya di catatan kaki. Apapun cara yang dipakai, maksudnya jelas, ayat-ayat itu ada pada beberapa naskah, tetapi tidak ada pada naskah-naskah Yunani yang lebih tua dan reliable.

Tuduhan lain yang juga disebutkan adalah hilangnya beberapa kata “penting” di dalam NIV. Saya sebutkan dua contoh saja: “only begotten” di Yohanes 1.14,18; 3.16,18 dan “sodomite” di Ulangan 23.17. Khusus untuk kata “sodomite,” dikaitkan dengan Dr. Marten Woudstra yang dulu menjadi ketua komite penerjemahan Perjanjian Lama dari NIV yang dituduh adalah seorang gay.

Frase “only begotten” dari “monogenes” (Yunani) diterjemahkan oleh NIV menjadi “one and only”. Permisi tanya, salahnya dimana?? Setiap terjemahan pasti bergumul bagaimana menerjemahkan dengan setia, artinya tidak merubah arti tapi bisa dimengerti dengan jelas dan tidak disalah mengerti oleh pembaca modern. That is translation! Tidak salah monogenes diterjemahkan "one and only". Istilah “begotten” dalam KJV juga tidak salah (Catatan: istilah ini justru lebih mudah disalah mengerti seakan Yesus dicipta oleh Allah - dan ini yang dipakai oleh Saksi Yehuwa).

Mengenai kata “sodomite” dalam KJV di Ulangan 23.17, untuk jelasnya bisa dibandingkan dengan terjemahan lain:

There shall be no whore of the daughters of Israel, nor a sodomite of the sons of Israel. (KJV)

None of the daughters of Israel shall be a cult prostitute, and none of the sons of Israel shall be a cult prostitute. (ESV)

Di antara anak-anak perempuan Israel janganlah ada pelacur bakti, dan di antara anak-anak lelaki Israel janganlah ada semburit bakti. (LAI)

No Israelite man or woman is to become a shrine prostitute. (NIV)

Di zaman itu di kuil-kuil penyembahan berhala ada pelacur-pelacur, pria dan wanita, yang melayani orang yang datang. Orang-orang itu menyembah berhala melalui berhubungan seks dengan pelacur-pelacur itu. Istilah ini yang muncul di dalam teks bahasa Ibrani. Maka ESV memperjelasnya dengan istilah “cult prostitute” untuk pria dan wanita. Alkitab bahasa Indonesia menggunakan istilah “pelacur bakti” untuk wanita dan “semburit bakti” untuk pria. NIV menggunakan istilah “shrine prostitute” untuk pria dan wanita. Kalau dibandingkan dengan teks bahasa Ibrani, justru KJV yang salah. Terlepas dari benar atau tidaknya tuduhan terhadap Dr. Marten Woudstra, saya tidak melihat hubungannya dengan hilangnya kata “sodomite” di dalam NIV.

Terakhir, mengenai Zondervan yang dimiliki oleh Harper Collins. Karena Harper Collins juga menerbitkan Satanic Bible dan The Joy of Gay Sex, maka NIV dituduh juga mendukung yang sama. Ini logika yang sangat aneh.

Pada tahun 1987, perusahaan News Corporation milik konglomerat Rupert Murdoch membeli Harper & Row (berdiri tahun 1817). Tahun 1990, mereka membeli William Collins & Sons (berdiri tahun 1819). Gabungan dua perusahaan itu membuat nama divisi penerbitan di bawah News Corporation itu menjadi Harper Collins. Zondervan sendiri dibeli pada tahun 1988. Harper Collins adalah raksasa dunia penerbitan dengan banyak sekali “anak perusahaan” - berbagai penerbit yang berada di bawahnya. Salah satu anak perusahaan di bawah Harper Collins adalah Avon yang menerbitkan Satanic Bible. Anak perusahaan lainnya adalah Harper Resource yang menerbitkan The Joy of Gay Sex. Seberapa besar pengaruh CEO Avon dan CEO Harper Resource terhadap CEO Zondervan? Kita tidak tahu. Mereka sama-sama anak perusahaan di bawah Harper Collins. Masing-masing penerbit di bawah Harper Collins mungkin saja mandiri, selama menghasilkan keuntungan, di bawah payung perusahaan konglomerat News Corporation.

Yang pasti, proyek penerjemahan NIV dimulai tahun 1965 dan diterbitkan pertama kali tahun 1978. Versi yang populer digunakan adalah hasil revisi tahun 1984. NIV kemudian direvisi menjadi TNIV yang terbit tahun 2005. Pada tahun 2011, muncul edisi revisi lagi yang menggantikan semua edisi yang terdahulu.

Apakah NIV Bible (tahun 1984) yang sangat populer itu pro LGBT karena Zondervan dimiliki oleh Harper Collins? Padahal Zondervan baru dibeli oleh Harper Collins di tahun 1988!

Apakah NIV edisi 2011 pro LGBT seperti yang dituduhkan? Saya bahkan bingung darimana asalnya tuduhan ini! TNIV (2005) ditolak oleh sebagian kalangan Injili karena mengganti beberapa istilah menjadi gender-inclusive. Misalnya “God created man” menjadi “God created human beings” walaupun istilah Allah sebagai “Father” tetap tidak diganti. Perubahan ini bukan atas dorongan kaum LGBT, tetapi kaum feminis yang mengeluh bahwa terjemahan Alkitab terlalu patriarkis. Maka di ayat-ayat yang artinya memang bukan "pria saja" tetapi "pria dan wanita", NIV merubah terjemahannya. Versi revisi 2011 sudah mempertimbangkan berbagai masukan lagi dan, walaupun tetap mengalami penolakan sebagian orang, dipuji oleh banyak kalangan.

Perlu diketahui bahwa teks NIV bukan dimiliki oleh Zondervan tetapi oleh Biblica (dulu: International Bible Society). Zondervan hanya diberikan lisensi oleh Biblica untuk menjadi distributor NIV Bible di USA. Untuk di UK, Biblica memberikan lisensi kepada Hodder & Stoughton.

Kembali ke tuduhannya, apakah karena Zondervan (distributor NIV di USA) dimiliki oleh Harper Collins yang juga memiliki Avon (yang menerbitkan Satanic Bible) dan Harper Resource (yang menerbitkan The Joy of Gay Sex), maka NIV pro LGBT dan juga satanic? Saya hanya bisa mengelus dada :-( Bukan karena saya ingin membela Zondervan, apalagi Harper Collins, tetapi tuduhan itu tidak berdasar dan tidak masuk akal sama sekali.

Saya juga tidak mengatakan NIV Bible adalah terjemahan yang sempurna! Tidak! Tidak ada terjemahan yang sempurna. Semua pasti ada kekurangan di sana sini. Tetapi, menuduh bahwa NIV sengaja menghilangkan ayat tertentu atau kata tertentu karena sesat, pro LGBT, atau satanic, hanya bisa dimunculkan oleh orang-orang aneh – dalam hal ini para “pemuja” KJV.

Committee on Bible Translation (CBT) yang bertanggung jawab untuk teks NIV Bible berisi orang-orang Injili yang sangat committed kepada Alkitab sebagai Firman Tuhan. Silakan cek nama-nama mereka.


Catatan akhir:

Sekalian membahas isu ini, belakangan ada berita muncul Alkitab kaum LGBT: Queen James Bible. Dari apa yang saya baca, Alkitab ini tidak ada bedanya dengan KJV, hanya ada 8 ayat yang diganti supaya lebih LGBT -friendly. Tidak ada dasar sama sekali untuk penggantian ayat-ayat itu selain untuk mencocokkan dengan agenda si penerbit. Alkitab ini diterbitkan oleh Queen James – tidak jelas siapa. Maka anggap saja ini hasil karya orang iseng atau orang aneh, that’s it.

Friday, November 07, 2014

Melihat Alam Roh

Pernah mendengar cerita tentang/dari orang-orang yang “memiliki kemampuan” untuk melihat alam roh? Mereka bukan hanya tahu jika ada roh tetapi bahkan bisa melihat dan kadang berbicara dengan roh itu.

Sebagian orang menyebut “kemampuan” ini sebagai indra ke-enam atau “the sixth sense”. Sebagian orang lagi menyebutnya dengan istilah “Indigo”. Apapun sebutannya, yang ingin saya bahas adalah “kemampuan” untuk melihat alam roh itu.

Beberapa kali saya pernah bertemu dan mendengar langsung cerita dari orang-orang yang “memiliki kemampuan” ini. Cerita-cerita mereka menolong saya untuk berpikir apa sebenarnya yang terjadi. Maka saya pikir sudah waktunya saya menulis sesuatu yang paling tidak bisa menolong memberikan sedikit guideline.

Berikut ini beberapa cerita yang pernah saya dengar (detil cerita saya samarkan):

1. Pada waktu usia pemuda, A tiba-tiba mulai melihat setan. Dia bisa menggambarkan penampilan setan-setan itu, yang katanya bermacam-macam. Mereka tidak mengganggu dia, hanya lewat saja di dekat dia. Dia juga tidak berbuat apa-apa selain memperhatikan dengan ketakutan. Berkali-kali dia berdoa minta supaya setan-setan itu pergi daripadanya. Dia juga menceritakan soal ini ke teman-temannya dan pendeta, dan mereka juga mendoakan dia. Tetapi kenyataannya dia tetap bisa melihat setan-setan itu. Lama kelamaan bahkan semakin aneh. Ketika pagi hari dia bersaat teduh, dia mendengar anjing melolong di depan rumahnya dengan lolongan yang keras, menyayat hati dan terus menerus, padahal tidak ada anjing di depan rumahnya. Setiap kali dia berdoa lolongan itu terdengar, tetapi setiap kali dia berhenti berdoa lolongan itu pun berhenti. Akhirnya dia berhenti berdoa, saat teduh, dan baca Alkitab. Dia tetap pergi ke gereja tapi semua menjadi hambar. Bertahun-tahun seperti itu. Saya tidak tahu apa yang terjadi kemudian tetapi belakangan saya dengar dia malah berkomunikasi dengan setan-setan itu.

2. Entah sejak kapan B mulai bisa melihat setan. Khususnya waktu di rumah duka atau di kuburan, dia akan melihat banyak sekali di sana. Ketika pulang, apa yang dilihatnya itu akan sangat mengganggu dia. Itu sebabnya sebisa mungkin dia menghindar untuk pergi ke tempat-tempat seperti itu. Dia berdoa dan didoakan, tetapi semua tetap sama saja. Akhirnya dia memilih untuk cuek. Dia belajar untuk tidak mempedulikan setan-setan itu. Dia tidak mau memperhatikan, tidak mau melihat, apalagi bicara dengan setan-setan itu. Dia total membiarkan saja. Lama kelamaan, walaupun dia masih bisa melihat, kehadiran setan-setan itu makin tidak mengganggu bagi dia. Mereka terlihat dari jauh, tidak melihat dia, dan dia juga tidak mau melihat mereka. Hidupnya normal dan relatif tidak terganggu dengan semua itu.

3. Ketika C masuk ke suatu tempat yang katanya ada setan, dia akan sangat merasakan itu dan seperti diterpa oleh sebuah kekuatan. Tiap kali dia merasakan itu, dia tahu ada setan. Dia jarang melihat langsung. Tetapi dia bisa merasakan dengan sangat kuat ada setan, bahkan berapa jumlahnya! Setiap kali merasakan itu, dia merinding ketakutan. Dia tidak pernah menggunakan “kemampuan”nya itu kecuali untuk menilai apakah di suatu tempat ada setan atau tidak.

Ada beberapa cerita lagi yang saya dengar, tapi kira-kira mirip dengan semua kisah di atas.

Apa yang terjadi sebetulnya? Betulkah mereka melihat alam roh? Mengapa mereka bisa melihatnya sementara orang lain tidak? Bagi orang Kristen, apakah itu karunia dari Tuhan? Bagaimana kita, atau mereka, menyikapi "kemampuan" ini? Apa yang harus mereka lakukan?

Saya harus mulai dengan mengatakan bahwa dunia roh selamanya adalah misteri bagi kita yang masih hidup di dunia. Banyak hal tidak bisa kita jelaskan karena Alkitab juga tidak banyak bicara soal ini. Satu hal yang selalu ditekankan Alkitab adalah dunia roh hanya terdiri dari dua macam: Tuhan (dan malaikatnya) dan Iblis (dan pengikutnya) yang selalu di bawah otoritas Tuhan. Tetapi, bukan berarti kita sama sekali blank. Maka berikut ini adalah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas yang saya pikirkan berdasarkan apa yang saya dengar (yang terbatas sekali) dan berdasarkan pengertian saya akan Alkitab:

Pertama, betulkah mereka melihat alam roh?
Kesamaan dalam cerita-cerita di atas adalah roh yang dilihat selalu adalah setan (dengan berbagai rupa yang menakutkan) atau roh orang mati, dan bukan malaikat. Kesamaan lainnya adalah ketiga orang itu adalah orang berpendidikan, normal secara kejiwaan, dan orang Kristen. Saya mengenal mereka cukup lama dan tahu bahwa mereka tidak berbohong dan tidak berhalusinasi. Maka jawabannya adalah “Ya, mereka betul melihat alam roh."

Kedua, mengapa mereka bisa melihatnya sementara orang lain tidak?
Setan adalah roh dan roh tidak terlihat oleh mata fisik kita. Tetapi, mengapa mereka bisa melihatnya? Jawabannya hanya dua macam: Tuhan yang memperlihatkan setan-setan itu kepada mereka atau setan-setan itu yang sengaja memilih untuk memperlihatkan diri kepada mereka. Saya cenderung berpikir jawabannya adalah yang kedua, dan tanpa alasan yang kita mengerti, Tuhan mengizinkan itu terjadi.

Tidak ada yang terlalu istimewa sebetulnya. Setan bisa berusaha menjatuhkan orang-orang tertentu dengan cara yang khusus. Ingat kisah Simon Petrus? Yesus berkata: “Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum” (Luk 22:31). Iblis memilih Simon dan menuntut izin Tuhan untuk menghajar Simon. Tuhan bisa izinkan dan bisa tidak. Tetapi, dengan alasan yang kita tidak mengerti, Tuhan memutuskan untuk mengizinkan. Simon bisa jatuh dan bisa tidak. Yesus memperingatkan Simon Petrus dan Dia izinkan Iblis untuk menghajar Simon, lalu hasilnya Simon jatuh. Apakah kalau begitu Tuhan kalah? Tidak. Yesus sudah tahu bahwa Simon akan jatuh. Tetapi Yesus akan menjaga supaya iman Simon tidak gugur dan Dia akan membawa Simon insaf kembali lalu memakai Simon untuk menguatkan saudara-saudara yang lain.Yesus berkata, “Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu” (Luk 22:32).

Menurut saya, mereka yang melihat alam roh ini adalah orang-orang yang secara khusus ingin dijatuhkan setan dengan cara dia menampakkan diri kepada mereka. Tidak ada yang istimewa juga dengan hal itu. Kita semua pernah dipilih oleh setan untuk menjadi targetnya, dengan berbagai cara. Tetapi orang-orang itu ditargetkan untuk dijatuhkan dengan cara setan memperlihatkan diri kepada mereka. Maka pertanyaannya bukan mengapa tetapi bagaimana supaya mereka tidak jatuh?

Ketiga, apakah itu adalah karunia dari Tuhan?
Karunia adalah sesuatu yang berguna untuk membangun hubungan kita dengan Tuhan, dan bahkan lebih tepatnya untuk pembangunan seluruh tubuh Kristus. Dari semua cerita yang saya dengar, “kemampuan” ini lebih bersifat menipu/mengganggu daripada berguna. Jangankan untuk pembangunan tubuh Kristus, bahkan untuk diri sendiripun "kemampuan" ini merusak. Akhirnya A menjauh dari Tuhan dan sekarang dia bahkan memberikan “nasihat” kepada orang lain sebagai “orang pandai”. B ketakutan dan selalu terganggu perasaannya ketika dia memperhatikan setan-setan itu. C mulai bergantung pada “kemampuan”nya dan cenderung bisa ditipu. Ada satu cerita lagi yang tidak saya dengar langsung, orang itu sering menerima bisikan akan apa yang akan terjadi, sehingga semakin lama semakin bergantung kepada bisikan itu.

Perhatikan polanya. Lama kelamaan mereka akan makin tidak bergantung kepada Tuhan. Waktu tidak bergantung kepada Tuhan, mereka bergantung kepada siapa? Maka saya kira jawabannya adalah “Ini bukan karunia dari Tuhan”.

Keempat, bagaimana sebaiknya mereka menyikapi “kemampuan” ini?
Lagi-lagi, dari cerita yang saya dengar, umumnya mereka tidak diganggu oleh setan-setan itu (kecuali A yang anjing melolong ketika dia bersaat teduh). Setan-setan itu hanya menampakkan diri dan lewat di depan mereka. Mereka juga tidak diajak bicara awalnya. Tetapi semakin mereka memperhatikan setan-setan itu, kesadaran akan kehadiran setan-setan itu semakin kuat. Sebaliknya, seperti B, semakin dia tidak memperhatikan setan-setan itu maka semakin dia tidak terganggu.

Saya kira itulah yang sebaiknya dilakukan: Cuekin! Jangan pernah pakai “kemampuan” itu. Itu bukan kemampuan tapi godaan setan. Jangan pernah bergantung padanya untuk menilai sesuatu. Jangan percaya ketika dibisiki/diperlihatkan apapun juga. Jangan perhatikan, jangan cari, apalagi bicara dengan setan-setan itu. In short: Cuekin!

Apa tujuan setan melakukan itu? Setan tidak kreatif, maka tujuannya selalu bisa ditebak dengan mudah. Kalau itu betul dari setan, maka tujuannya selalu hanya untuk menipu manusia, membuat manusia bergantung kepadanya, dan ujungnya adalah menjauhkan manusia dari Tuhan. That’s it! Maka cuekin aja.

Saya pernah bertemu dengan seorang ibu yang bercerita tentang anaknya yang bisa melihat setan. Anak itu kadang ketakutan karena melihat “tante” atau “nenek”. Kadang dia menunjuk ke atas lemari, kadang dia terlihat seperti mengusir, bahkan kadang dia berbicara sendiri. Pertanyaan ibu itu sederhana, apa yang harus dilakukan? Prinsipnya sama seperti kepada orang dewasa, ajarkan dia untuk cuekin, jangan pedulikan apalagi berkomunikasi dengan roh itu. Sebaliknya, ajarkan terus dia bahwa Tuhan juga adalah roh, bahkan penguasa dari semua alam roh termasuk setan. Ajarkan dia untuk berdoa ketika diganggu. Ajarkan dia untuk tidak takut dan percaya bahwa Tuhan lebih besar dari semuanya. Ajarkan dia bahwa Tuhan tidak mau dia peduli dengan roh itu, sebaliknya Tuhan mau bicara dengan dia melalui Alkitab dan doa. Doakan sungguh-sungguh supaya di dalam anugrah-Nya, Tuhan menjaga anak itu. Tuhan tidak akan tinggal diam, Dia tahu bagaimana menjaga kita sekalipun kita digocoh oleh setan, tetapi kadang kita yang bodoh dan membiarkan diri ditipu oleh setan. Itu masalahnya.

Satu hal lagi, jangan pernah pergi ke "orang pintar". Ingat bahwa tidak ada "black magic" dan "white magic". Yang ada hanyalah kuasa Tuhan dan kuasa setan. Dengan pergi ke "orang pintar", kita jatuh ke dalam dosa dan tujuan setan tercapai.

Saya harap apa yang saya tulis ini bisa sedikit menolong anda yang bergumul dengan masalah-masalah ini. Bagi teman-teman yang kisahnya saya pakai di atas dan kebetulan membaca tulisan ini, saya mengucapkan terima kasih karena rela berbagi cerita dengan saya. Saya berdoa supaya Tuhan terus menguatkan kalian.

Saya ingin menutup dengan mengulang apa yang saya tulis di atas, "Satu hal yang selalu ditekankan Alkitab adalah dunia roh hanya terdiri dari dua macam: Tuhan (dan malaikatnya) dan Iblis (dan pengikutnya) yang selalu ditempatkan di bawah otoritas Tuhan." Itu sebabnya menonton film horor membuat kita ketakutan karena setan dipresentasikan begitu maha kuasa dan tidak terkendali. Perspektifnya salah! Itu bukan ajaran Alkitab! Sebaliknya ketika membaca tentang setan di Alkitab tidak pernah membuat kita merinding ketakutan kepadanya karena disana kita melihat setan dalam perspektif yang sebenarnya: Selalu harus tunduk di bawah kuasa Allah kita yang maha besar.

Monday, October 27, 2014

Cara Berpikir - Part 3: Seeing Both the Forest and Trees

Ini bagian yang ketiga dalam tulisan seri “Cara Berpikir”. Saya pernah menulis di blog ini:
Cara Berpikir - Part 1: Apa sih Masalahnya? 
Cara Berpikir - Part 2: Benarkah Begitu?

Ada ungkapan dalam bahasa Inggris: “Miss the forest for the trees.” Ungkapan yang kalau diterjemahkan harfiah artinya: “Tidak melihat hutan karena melihat pohon-pohon.” Maksudnya kita begitu fokusnya pada hal-hal yang mendetil atau pada keruwetan dan seluk beluk suatu hal sampai akhirnya kehilangan big picture.

Ungkapan kebalikannya adalah: “Miss the trees for the forest” (ini ciptaan saya sih). Artinya mungkin sekali kita hanya melihat big picture tanpa pernah melihat detilnya. Kita hanya punya konsep besar tanpa memikirkan langkah-langkah mencapainya, tanpa melihat berbagai hambatan dan cara menghadapinya, tanpa mempersiapkan sumber daya yang dibutuhkan.

Jelas dua-duanya kurang baik! Maka saya ingin menciptakan ungkapan lain (yang kurang kreatif sebenernya): “Seeing both the forest and trees.” Maksudnya jelas, ketika memikirkan sesuatu, kita selalu harus melihat big picture dan juga detilnya.

Tetapi, kesulitannya adalah kita sulit untuk melihat keduanya sekaligus. Waktu melihat big picture, yang kecil-kecil menjadi kabur, waktu melihat yang kecil-kecil, big picture menjadi kabur. Bagi yang suka fotografi, ini seperti lensa, waktu di-zoom dia melihat yang detil tapi tidak bisa melihat wide, waktu dibuat wide ya semua kelihatan tapi tidak detil. Still following me? :-) Maka saya usul supaya kita belajar berpikir bukan melihat “forest” dan “trees” barengan, tapi bergantian – simultaneously. Proses ini juga bukan satu kali, tapi berulang-ulang. Pakai gambaran lensa tadi, ini seperti di-zoom, lalu dibuat wide, zoom lagi, wide lagi, zoom lagi, wide lagi, dan seterusnya.

Gambaran lain yang mungkin menolong: Bayangkan kalau kita adalah seorang prajurit yang diterjunkan ke medan perang di tengah hutan. Sebelum diterjunkan kita sudah melihat peta, kemana harus pergi, daerah mana yang harus dihindari, dst. Tapi pada waktu di tengah hutan, kita melihat pohon, binatang buas, sungai, kita terluka, lelah, dan kita mulai kehilangan arah kemana harus berjalan dan kehilangan semangat karena tidak tahu berapa lama lagi harus berjalan. Kita ketemu satu orang musuh lalu kita perang mati-matian padahal di dekat situ ada puluhan musuh yang harus diperangi. Alangkah indahnya kalau kita bisa terbang dulu ke angkasa lalu melihat ke bawah, kelihatan semuanya, dimana tempat tujuannya, dimana yang banyak musuh, dst. Tapi kalau kita kelamaan di angkasa, peperangan di bawah tidak akan selesai. Harus turun lagi! Tapi sekarang turun dengan insight hasil melihat dari angkasa tadi. Tidak lama berada di bawah, kocar-kacir karena perang, halusinasi karena kelelahan (sorry agak lebay), membuat kita perlu terbang lagi ke angkasa. Demikian seterusnya. Bolak-balik.. bolak-balik..

Waktu melayani, masih sebagai mahasiswa, saya menemukan benturan dua cara berpikir ini. Seorang teman selalu bicara big picture sementara saya selalu ngotot untuk mengajak melihat yang detil. Dia selalu menjawab: “Jangan bicara itu dulu, itu masalah teknis.” Tapi saya selalu berteriak: “Tapi kalau teknisnya nggak mungkin, buat apa bicara ini.” Saya orang yang cenderung terlalu detil dan ingin micro-managing segala sesuatu. Tetapi, lambat laun saya juga mulai belajar untuk melihat gambar besar. Tiap kali memikirkan sesuatu dengan terlalu detil, saya berusaha untuk menarik diri keluar hutan dan terbang seperti burung melihat semuanya dari atas, baru kemudian kembali lagi, demikian seterusnya bolak-balik. Saya menemukan cara berpikir seperti ini sangatlah berguna.

Tidak jarang ketika mendengar sebuah konsep pelayanan (big picture) yang dengan yakin dipresentasikan sebagai sebuah konsep yang baik, saya langsung melihat kebalikannya: Konsep itu buruk! Kadang konsep itu buruk karena tidak mungkin dijalankan. Kadang buruk karena karena dalam pelaksanaannya justru akan menimbulkan banyak masalah - yang kalau ditimbang lebih merugikan daripada berguna. Kadang buruk karena justru tidak akan mencapai tujuan yang diinginkan. Ironis, sebuah konsep pelayanan dibuat untuk mencapai sebuah tujuan, tapi seringkali kalau itu dijalankan justru tujuannya tidak akan tercapai. Konsep seperti itu hanya melihat “forest” dan bukan “trees.”

Tidak jarang juga ketika melihat orang-orang yang sangat militan dalam pelayanan, berjuang untuk bidang pelayanannya, saya geregetan karena sebetulnya yang dikerjakan mereka salah. Pakai gambaran perang, yang bagian konsumsi mempersiapkan makanan pesta dan bukan makanan prajurit di medan perang, yang bagian pengadaan senjata menyiapkan 200 pistol padahal hanya butuh 25, di tempat yang butuh 1 prajurit dikirim 10 prajurit, sebaliknya di tempat yang butuh 10 prajurit dikirim 1 prajurit, dan seterusnya (nggak perlu diterusin kan?). Militan! Semangat! Setia! They are doing their best! Sayang.. salah alamat. Pakai gambaran lebih nyata, ada banyak bagian di gereja dan tiap bagian mungkin berusaha membuat bagiannya menjadi baik. Mereka yang melayani di pemuda berjuang, yang di remaja juga berjuang, sekolah minggu, wanita, pasutri, misi, literatur, persekutuan doa, semua juga berjuang. Tapi sangat mungkin (dan hampir selalu begitu) mereka melihat “trees” dan bukan “forest.”

Betapa pentingnya kita berusaha melihat keduanya!

Cara berpikir ini juga berlaku dalam kehidupan. Kita bekerja di kantor, mengurus keluarga, sibuk dengan berbagai kegiatan, aktif pelayanan, dan seterusnya. Itu semua “trees.” Pernahkah berhenti dan mencoba melihat “forest”? Dimana saya? Apa yang saya lakukan? Apa yang penting dan mendesak, dan bagaimana saya membedakannya? Kemana saya melangkah? Jalanilah hidup dengan bolak-balik melihat “forest” dan “trees”!

Entah terasa atau tidak, saya kesulitan untuk menjelaskan konsep ini dalam bentuk tulisan :-) Paling gampang adalah silakan langsung berlatih. Saya sendiri masih terus belajar untuk melakukannya. Tidak pernah mudah tapi kalau kita berusaha melakukannya mungkin ada banyak kesalahan yang akan berhasil dihindari. Selamat berpikir bolak-balik!

Friday, August 22, 2014

Cara Berpikir - Part 2: Benarkah Begitu?

Ini bagian yang kedua dalam tulisan seri “Cara Berpikir”. Saya pernah menulis Cara Berpikir – Part 1: Apa sih Masalahnya? di sini.

Percayalah ada banyak masalah yang kita pikir sudah tahu jawabannya dengan sangat jelas dan kinclong ternyata belum terjawab. Ada banyak masalah yang kita pikir sudah yakin dan pasti jawabannya ternyata salah jawabannya. Saya menemukan seringkali kita terlalu cepat menarik kesimpulan “PASTI INI PENYEBABNYA! PASTI INI JAWABANNYA!” – padahal BUKAN! Maka pertanyaan yang sangat penting untuk ditanyakan adalah: “Really? – Benarkah begitu?”

Saya berikan beberapa contoh dari seputar pelayanan:

Ketika saya ingin mengubah sesuatu di dalam pelayanan, kadang jawabannya adalah “Jangan! Banyak yang nggak suka, banyak yang marah, banyak yang akan ribut.” Maka case closed. Tapi alarm saya berbunyi, “Really? - Benarkah begitu?” Tahu darimana banyak yang nggak suka? Berapa yang nggak suka? Apa alasannya nggak suka, apakah karena tidak mau berubah atau hanya karena belum mengerti? Seringkali saya menemukan yang disebut banyak ternyata tidak banyak.

Kadang orang berkata “masalah ini nggak ada jalan keluarnya, semua cara sudah dicoba”. “Really? - Benarkah begitu?” Betulkah S-E-M-U-A sudah dicoba? Mungkinkah kita berpikir terlalu sempit? Mungkinkah kita mencari jalan keluar tapi terus hanya di dalam kotak yang sama dan tidak pernah berpikir di luar kotak itu (thinking outside the box)? Ilustrasi yang sering dipakai untuk melukiskan ini adalah ketika kita diminta untuk menghubungkan sembilan titik (3X3) dengan 4 garis.


Sepertinya tidak mungkin berhasil, padahal bisa kalau saja kita mau berpikir dengan cara lain!

Misalnya saja, banyak gereja punya persekutuan pemuda di hari Sabtu. Semua usaha dicurahkan kesitu. Semua program dibuat disitu. Semua pemuda di gereja diajak kesitu. Ketika semua gagal, kita rasa semua jalan sudah dicoba. Padahal mungkinkah jalan keluarnya adalah bubarkan persekutuan pemuda di hari Sabtu itu dan lakukan bentuk program yang lain? Disclaimer: Saya tidak mengatakan solusi ini pasti baik, tapi ini adalah salah satu kemungkinan solusi.

Kadang orang juga yakin sekali bahwa untuk mencapai sesuatu maka perlu ini dan itu. Misalnya: Supaya jemaat bertumbuh, supaya kebaktian teratur, supaya jemaat belajar secara sistematis, maka perlu ada tema di dalam kebaktian. “Really? - Benarkah begitu?” Salah satu caranya adalah kita bisa melakukan cek secara terbalik. Logikanya: "Supaya jemaat bertumbuh, supaya kebaktian teratur, supaya jemaat belajar secara sistematis, maka perlu ada susunan tema tahunan, bulanan dan mingguan di dalam kebaktan." Ok, coba kita cek betulkah kalau ada tema di dalam kebaktian dampaknya seperti itu? Sebaliknya, bagaimana jika tidak ada tema yang tersusun seperti itu, apakah kacau dan tidak baik? Jangan cepat-cepat memberikan jawaban!

Seringkali saya juga mendengar orang Kristen berkata bahwa mereka tidak suka khotbah yang “berat” maksudnya yang isinya berupa doktrin, teologi, penafsiran Alkitab yang susah, sebaliknya mereka mau yang praktis dan aplikatif. Perhatikan logikanya:

Masalahnya: Jemaat bosan waktu khotbah.
Peyebabnya: Khotbahnya “berat”, teori, doktrinal membosankan.
Jalan keluarnya: Khotbah harus yang gampang, ringan, praktis, just-do-it style!

"Really? - Benarkah begitu?" Kalau kita telusuri ke belakang, benarkah khotbah berupa doktrin, teologi, penafsiran Alkitab itu membosankan? Masalahnya di khotbah atau di pengkhotbah yang tidak bisa menyampaikannya dengan baik? Lebih jauh lagi, betulkah jemaat menginginkan khotbah yang gampang, ringan, praktis? Atau jangan-jangan mereka berpikir begitu karena lelah dengan pengkhotbah yang tidak berkhotbah dengan baik? Jikalau pengkhotbah menyampaikan kebenaran yang mendalam dengan baik, apakah jemaat masih akan berpikir begitu? (Saya berencana menulis lebih jauh tentang ini).

Beberapa orang menginginkan masa pelayanan gembala di sebuah gereja harus dibatasi secara waktu. Alasannya klasik: Supaya jangan jadi raja di situ! Supaya jangan jadi comfort zone bagi dia! Maka solusinya sederhana: Mutasi! "Really? Benarkah begitu?" Bagaimana jika ada sistem yang membuat tempat itu tidak menjadi comfort zone bagi dia dan dia juga tidak menjadi raja di situ? Pernahkah menghitung kerugian memutasi gembala sebuah gereja hanya berdasarkan periode waktu? Bagaimana jika di akhir periode pelayanannya, dia masih sangat baik melayani dan gereja sedang bertumbuh dan bersemangat untuk maju? Bukankah kalau dia dipindahkan, gereja malah akan hancur? Belum lagi kerugian psikologis. Seorang gembala perlu bertahun-tahun membangun kepercayaan dengan jemaatnya, sampai jemaat mau bercerita, sampai jemaat percaya kepada keputusannya, maka berapa capenya jemaat harus kembali membangun kepercayaan dengan gembala yang baru? Jujur, solusi ini terpikirkan karena adanya pengalaman buruk di masa lalu, tapi coba berhenti dulu dan berpikir benarkah itu solusinya? (Saya juga berencana menulis lebih jauh tentang ini).

Pola pikir ini bisa diterapkan di banyak bidang kehidupan, maka bisa banyak sekali contoh yang saya berikan. Tetapi, mungkin beberapa contoh di atas sudah cukup menjelaskan pola berpikir ini: “Really? - Benarkah begitu?” Kita akan dipaksa untuk berpikir lagi, lebih mendalam, lebih luas dari berbagai sisi. Itu sangaaaatttt… berguna!

Saturday, May 10, 2014

Cara Berpikir - Part 1: Apa sih Masalahnya?

Banyak masalah sebenarnya akarnya ada di cara berpikir kita yang "berantakan" dan "geje". Saya bukan ahli berpikir, saya juga sering ngaco.. eh.. bingung. Tapi benar, kalau saja kita selalu berusaha lebih jelas berpikir - dan itu juga berarti lebih disiplin - banyak masalah akan terurai lebih cepat dan banyak energi tidak dihabiskan untuk yang tidak penting. Maka saya ingin berbagi beberapa hal sederhana tentang cara berpikir dalam beberapa tulisan. Ini yang pertama.

Apa sih masalahnya? What is the real problem?
Kadang masalah itu ruweeettt... banget rasanya di kepala. Ada ini yang belum selesai, ada itu yang kacau, ada lagi gini yang bikin pusing, trus ada gitu juga yang nggak tahu harus diapain... #%}*\*=¥&@;?~}

Kadang betul masalah memang banyaknya dan ruwetnya minta ampun. Tapi yang membuat lebih ruwet adalah karena semua menggantung di kepala, melayang-layang di imajinasi kita. 

Coba saja kalau kita mau duduk, berpikir dan mulai menulis: "So.. let me ask myself: WHAT IS THE PROBLEM?"

Lalu kita mulai tuliskan (bukan cuma berpikir, tapi nulis!) masalah yang saya hadapi adalah 1, 2, 3, dst. Seringkali ternyata tidak terlalu banyak. Tapi tidak apa, tulis aja dulu semuanya yang kepikir oleh kita. Semuanyaaa.. sampai habis. 
Setelah itu, mungkin kita bisa kelompokkan dan lihat "Oh..sebenernya masalah 1, 4, 5, ini akarnya cuma 1. Lalu masalah 2 dan 3 akarnya juga 1" dst..dst.. Ini akan menolong kita menyederhanakan masalah dan juga melihat sebetulnya dimana akar masalahnya.
Tapi tidak selalu masalah-masalah itu bisa dikelompokkan. Sebaliknya mungkin kadang perlu kita buat bercabang. Misalnya masalah 1 adalah keluarga. Coba pikir, "Ok.. apanya?" Lalu kita buat point a, b, c. Uraikan dengan jelas apa yang menjadi masalah. Kalau nggak kita hanya kepikiran terus "keluarga" padahal apanya? Masalah 2 studi. Ok.. apanya? dst..dst.. 

Tergantung masalahnya dan cara mana yang lebih kita suka. Grouping them up atau breaking them down. 

Bagaimana kalau masalah kita cuma satu? Sama! Lakukan cara yang sama seperti di atas. Apa sih masalahnya? Misalnya soal pacaran. Coba tuliskan apa yang membuat kita bingung. Misalnya: Dia begini, dia begitu, orang tuanya kenapa, dll, dll... Tulis semuanya, jangan cepat puas dulu karena mungkin ada hal-hal yang belum pernah terpikir padahal juga masalah. Setelah tulis semuanya, baru lihat bigger problem di belakangnya. Di balik semua masalah yang saya sebutkan, apa sih sebetulnya masalah besarnya? Atau kita bisa analisa pattern nya. Misalnya: dia begini, dia begitu, lalu kita mulai sadar "Oh jangan-jangan masalahnya..." Jangan lupa big question nya adalah: "Apa sih masalahnya?"

Cara ini sangat menolong. Otak kita tidak sanggup memikirkan masalah dengan matriks yang sangat ruwet. Maka rasanya di kepala kita penuuhhh... karena kita pikir ini belum selesai lalu kepikiran itu belum selesai lagi kepikiran yang lain. Tapi begitu kita tuliskan, breaking them down atau grouping them up, tiba-tiba kita bisa melihat lebih jelas apa masalahnya.

Waktu semua sudah lebih jelas, lebih mudah bagi kita untuk mulai memikirkan solusinya. Atau kalaupun tidak ada solusi langsung, paling tidak akan jelas apa yang mampu kita lakukan untuk setiap masalah itu. Untuk masalah 1 apa yang bisa saya lakukan? Untuk masalah 2? dst... Ini juga membuat lebih jelas apa sih yang perlu kita doakan. Karena kalau itu ruwet di kepala, mau doa pun kita tidak tahu mau doa apa, "Pokoknya ruwet Tuhan!"

Cara ini juga bisa diterapkan dalam pelayanan dan selalu saya lakukan ketika otak mulai ruwet. Dan selalu 100% ini menolong. Banyak aktivitas, banyak masalah, banyak tuntutan. Stop.. tunggu dulu! Waktu dituliskan saya mulai bisa melihat mana yang kurang penting, penting dan sangat penting. Mana yang lebih mendesak. Mana yang sebenernya harus dan yang cuma tambahan. Tapi ini perlu disiplin. Artinya tidak boleh dengan mudahnya lalu saya berkata ini yang penting dan tidak. Saya harus berpikir keras, kadang membaca, diskusi, dll. Tapi tanpa dimulai ini tidak akan pernah selesai.

Maka terakhir, jangan cepat puas dengan apa yang kita "temukan" waktu menuliskan berbagai masalah itu. Coba pikir dengan lebih mendalam. Coba tanya dan korek hati kita lebih dalam. Coba doa minta Tuhan tunjukkan. 
Berpikir dengan tidak jelas seringkali bukan saja membuat kepala kita ruwet, tapi juga membuat kita tidak melakukan apa-apa. Kita hanya putar-putar tanpa mengoreksi diri, tanpa mengambil langkah, dan bahkan tanpa berdoa! 
Ok, this is part one. Selamat berpikir dengan lebih baik!

Wednesday, February 05, 2014

Never the Same

Salah satu buku yang sangat berkesan bagi saya adalah: Peace Child (Sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia: Anak Perdamaian). Buku itu bercerita tentang misionaris, Don Richardson bersama keluarganya, yang pada tahun 1962 pergi melayani di tengah suku-suku Sawi di Papua. Waktu itu suku Sawi masih hidup sebagai kanibal, perang antar suku terus menerus terjadi, dan mereka sangat menjunjung tinggi pengkhianatan (maka Yudas adalah pahlawan bagi mereka!). Don dan keluarganya dipakai Tuhan untuk membawa suku-suku Sawi kepada Tuhan. Perubahan mereka begitu drastis ketika hati mereka diterangi oleh Injil. Buku ini sangat menggerakkan hati saya. 

Tadi pagi saya menemukan sebuah film pendek (Never the Same) yang mendokumentasikan ketika Don dan tiga anaknya kembali mengunjungi daerah itu pada tahun 2012, tepat 50 tahun setelah kedatangan mereka yang pertama kalinya. Saya terharu sekali melihat film ini. Saya jadi bertanya lagi apa yang saya inginkan dalam hidup ini? Apa yang berharga untuk dilakukan dalam hidup ini? Sungguh, “betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” (Rom 10:15). 

Di bawah ini adalah link dari videonya:


Wednesday, August 28, 2013

Refleksi Dari Surat Pliny ‘the Younger’

Kuliah NT Exegesis beberapa hari lalu mengingatkan saya akan sebuah surat yang dulu pernah saya baca. Surat itu ditulis oleh Pliny ‘the Younger’ untuk kaisar Romawi, Trajan. Pliny ‘the Younger’ (disebut begitu karena dia dibesarkan oleh pamannya yang juga bernama Pliny – Pliny ‘the Elder’) adalah seorang gubernur Romawi di bawah pemerintahan kaisar Trajan (memerintah tahun 98-117M). Suratnya memberikan banyak petunjuk tentang keadaan orang Kristen di awal abad ke-2. Berikut adalah suratnya (warna biru) dan beberapa hal yang penting saya beri komentar di bawahnya (warna hitam):

1. It is my rule, Sir, to refer you in matters where I am uncertain. For who can better direct my hesitation or instruct my ignorance? I was never present at any trial of Christians; therefore I do not know what are the customary penalties or investigations, and what limits are observed.

2. I have hesitated a great deal on the question whether there should be any distinction of ages; whether the weak should have the same treatment as the more robust; whether those who recant should be pardoned, or whether a man who has ever been a Christian should gain nothing by ceasing to be such; whether the name itself, even if innocent of crime, should be punished, or only the crimes attaching to that name. Meanwhile, this is the course that I have adopted in the case of those brought before me as Christians.

Kebingungan Pliny menunjukkan bahwa belum ada hukum Romawi yang melegalisasi penganiayaan pada orang Kristen tetapi penganiayaan sudah dilakukan oleh pemerintah Romawi. Pertanyaan Pliny menarik: Apakah orang Kristen harus dihukum hanya karena nama itu sendiri sekalipun tidak melakukan kejahatan, atau karena melakukan kejahatan dalam kaitan dengan nama itu. Maksudnya nama “Kristen”? Atau nama “Yesus”? Betapa mengerikannya ketika orang Kristen bisa dihukum hanya karena “nama” itu tanpa melakukan kejahatan!

3. I ask them if they are Christians. If they admit it I repeat the question a second and a third time, threatening capital punishment; if they persist I sentence them to death. For I do not doubt that, whatever kind of crime it may be to which they have confessed, their pertinacity and inflexible obstinacy should certainly be punished.

Yang Pliny lakukan adalah bertanya apakah ia orang Kristen, kalau jawabanya “ya”, maka dia akan tanya lagi sampai tiga kali dengan ancaman hukuman mati. Kalau tetap bilang “ya” maka dihukum mati. Alasannya? Apapun kejahatannya, bagi Pliny, orang yang ngotot seperti itu di hadapan hukuman mati pastilah harus dihukum! Hmm…

4. There were others who displayed a like madness and whom I reserved to be sent to Rome, since they were Roman citizens. Thereupon the usual result followed; the very fact of my dealing with the question led to a wider spread of the charge, and a great variety of cases were brought before me.

5. An anonymous pamphlet was issued, containing many names. All who denied that they were or had been Christians I considered should be discharged, because they called upon the gods at my dictation and did reverence, with incense and wine, to your image which I had ordered to be brought forward for this purpose, together with the statues of the deities; and especially because they cursed Christ, a thing which, it is said, genuine Christians cannot be induced to do.

6. Others named by the informer first said that they were Christians and then denied it; declaring that they had been but were so no longer, some having recanted three years or more before and one or two as long ago as twenty years. They all worshipped your image and the statues of the gods and cursed Christ.

Tindakan Pliny menghukum orang Kristen ternyata berdampak luas. Ada banyak orang yang berpikir “oh kalau Kristen itu dihukum,… aku fitnah saja musuh-musuhku sebagai orang Kristen.”  Itu sebabnya banyak beredar “anonymous pamphlet” yang berisi banyak nama orang Kristen. Pliny kebingungan! Akhirnya dia panggil semua, kalau mereka mengatakan bukan orang Kristen, dia akan minta mereka menyebut nama dewa dan mempersembahkan kemenyan dan anggur kepada patung kaisar dan dewa. Lebih menarik lagi, dia akan minta mereka mengutuki Kristus. Karena apa? Bagi Pliny, orang Kristen masih mungkin pura-pura menyebut dewa dan memberikan persembahan kepada dewa tapi satu hal ini tidak mungkin orang Kristen mau lakukan: mengutuki Kristus. Ini sikap orang Kristen dari zaman awal sekali!

7. But they declared that the sum of their guilt or error had amounted only to this, that on an appointed day they had been accustomed to meet before daybreak, and to recite a hymn antiphonally to Christ, as to a god, and to bind themselves by an oath, not for the commission of any crime but to abstain from theft, robbery, adultery and breach of faith, and not to deny a deposit when it was claimed. After the conclusion of this ceremony it was their custom to depart and meet again to take food; but it was ordinary and harmless food, and they had ceased this practice after my edict in which, in accordance with your orders, I had forbidden secret societies.

Paragraf ini memberi petunjuk penting tentang ibadah orang Kristen: Mereka biasa berkumpul di hari tertentu (Minggu?) sebelum fajar (Sunrise service!). Dan mereka menyanyi bersahut-sahutan untuk Kristus, “as to a god” (ini penting, karena mendukung early high Christology). Dan mereka mengikat diri dengan sumpah bukan untuk melakukan kejahatan, tetapi untuk tidak mencuri, merampok, berzinah, menyalahi iman, dan curang dalam bisnis. Lalu setelah pertemuan selesai, mereka berpisah dan –menarik sekali- bertemu kembali untuk makan! Pisah lalu balik lagi untuk makan! (Mau coba?). Dan makanannya adalah makanan biasa, tidak berbahaya (maksudnya orang Kristen bukan kanibal seperti yang dituduhkan oleh sebagian orang).

8. I thought it all the more necessary, therefore, to find out what truth there was in this by applying torture to two maidservants, who were called deaconesses. But I found nothing but a depraved and extravagant superstition, and I therefore postponed my examination and had recourse to you for consultation.

Pliny menangkap dua orang wanita dan menyiksa mereka untuk mengetahui lebih jauh tentang kekristenan. Menariknya, dua orang wanita itu disebut diaken!

9. The matter seemed to me to justify my consulting you, especially on account of the number of those imperilled; for many persons of all ages and classes and of both sexes are being put in peril by accusation, and this will go on. The contagion of this superstition has spread not only to the cities, but in the villages and rural districts as well; yet it seems capable of being checked and set right.

10. There is no shadow of doubt that the temples, which have been almost deserted, are beginning to be frequented once more, that the sacred rites which have been long neglected are being renewed, and that sacrificial victims are for sale everywhere, whereas, till recently, a buyer was rarely to be found. From this it is easy to imagine what a host of men could be set right, were they given a chance of recantation.

Kekristenan sudah begitu menyebar, orang segala usia, kelas sosial, pria dan wanita, di kota dan juga desa. Perhatikan: Dimana-mana banyak orang yang “binasa” karena tuduhan itu. Artinya karena tuduhan maka banyak orang Kristen ditangkap, dan ketika diinterogasi mereka ngotot mengaku orang Kristen sampai akhirnya dihukum mati.

Begitu besarnya pengaruh kekristenan sampai Pliny mengatakan kuil-kuil yang tadinya hampir ditinggalkan sekarang mulai didatangi kembali. Upacara penyembahan tadinya sudah lama diabaikan sekarang diperbarui lagi. Hewan korban tadinya tidak ada yang membeli sekarang mulai laku lagi. Mungkinkah artinya begitu banyak orang yang menjadi Kristen sehingga semua kuil, upacara, dan bisnis hewan korban, menjadi sepi? Dan sekarang karena penganiayaan banyak yang murtad dan kembali lagi menyembah dewa?

Saya terpesona dengan berbagai petunjuk tentang kehidupan dan situasi kekristenan di awal abad kedua ini. Ketakutan, penderitaan, ancaman, kematian, persaudaraan, iman, kesetiaan, pasti campur aduk disana!

Satu refleksi menarik dari dosen saya: Ketika gereja hari ini masuk ke suatu daerah yang mayoritas bukan Kristen, siap-siap untuk memikirkan implikasi ekonomi dari penginjilan. Di situ pasti banyak orang yang bisnisnya terkait dengan agama (menjual alat sembahyang atau hewan korban atau yang lainnya). Kalau banyak penduduk di situ yang bertobat, mereka akan kehilangan mata pencaharian. Atau kalau mereka sendiri yang bertobat, mereka sekarang harus jualan apa? Sekian puluh tahun mereka bisnis itu, lalu bagaimana mereka bisa hidup sekarang?

Pelayanan gereja selalu harus holistik dan tidak pernah habis-habis…

Friday, December 28, 2012

Rumah Doa Bethel

(Revisi 7 Jan 2015)

Saya ingin merekomendasikan Rumah Doa Bethel.

Beberapa tahun lalu, hampir setiap bulan saya mengajak sekitar 15 orang pemuda dari GKY Green Ville untuk retreat di Rumah Doa Bethel. Biasanya kami sampai di sana malam hari, lalu istirahat. Besok paginya masing-masing berdoa pribadi di kamar-kamar doa atau pondok-pondok doa. Ada bahan yang saya sediakan jika mereka merasa membutuhkan bantuan. Setelah sarapan, kami sharing, lalu ada beberapa session bicara tentang doa dan kemudian berdoa lagi. Siang hari istirahat – sesuatu yang jarang di Jakarta. Sore hari duduk-duduk ngobrol di teras dengan suasana yang sejuk dan teduh. Lalu setelah berdoa lagi, malam hari kami ke Kampung Daun (mungkin hanya 100m lebih dari situ). Paginya masing-masing berdoa pribadi lagi, lalu pulang. Retreat seperti itu sangat meneduhkan.

Rumah Doa Bethel tidaklah besar. Kapasitasnya hanya 8 kamar @max. 3 orang. Alamatnya di Bandung di Kompleks Triniti Kav. C1-C3A, satu kompleks dengan Kampung Daun. No. telpon: 022-2784580. Sekarang ini (Januari 2015), biayanya Rp.250.000/kamar (tidak dihitung per orang). Untuk makan boleh mencari sendiri atau minta disiapkan dengan biaya sekali makan Rp.36.000/orang untuk makan siang dan malam dan Rp. 21.000/orang untuk makan pagi. Tinggal telpon untuk reservasi.

Setiap kita membutuhkan waktu untuk tenang, berdoa, dan mencari wajah Tuhan. Kita membutuhkan waktu dan tempat untuk itu. Untuk ke Rumah Doa Bethel, tidak perlu beramai-ramai, bisa pergi sendirian kesana. Baru-baru ini saya kesana, istri saya menemani satu malam lalu saya melanjutkan satu malam lagi sendirian.

Jika anda belum pernah Retreat pribadi atau Retreat kecil, cobalah lakukan (dimanapun, tidak harus di Rumah Doa Bethel). Jika anda sudah pernah, cobalah lakukan lagi. Kita semua perlu itu.

Additional notes (7 Jan 2015):
Saya baru saja kembali dari sana di awal tahun 2015. Ada beberapa hal yang menjadi masukan saya bagi pengelola. Sekarang ini Rumah Doa Bethel dikelola secara lebih "profesional". Saya beri tanda kutip karena profesional mungkin di dalam arti lebih rapih, lebih teratur, lebih ada sistem-nya, tapi bukan berarti lebih nyaman. Saya sendiri merasa ada beberapa hal yang menjadi lebih tidak nyaman sekarang ini, paling tidak adalah hilangnya suasana kekeluargaan.

1. Dulu ketika ke sana saya bisa dengan mudah minta tambah 1 malam atau mengurangi 1 malam. Tergantung suasana hati dan kebutuhan rohani saya. Sekarang sulit, profesionalisme menuntut manajemen seperti hotel, booking harus pasti berapa orang, berapa kamar, tanggal berapa sampai tanggal berapa, pembayaran harus didahului uang muka, dst.

2. Dulu saya tinggal bilang mau pesan makan untuk pagi atau siang atau malam dan berapa porsi. Menu terserah. Belakangan saya harus pilih menu, masih ok. Sekarang bahkan saya harus menghadapi "marketing" seperti mengapa tidak ambil paket saja, mengapa tidak pesan makan malam sekalian, nanti susah keluar lho di sana, dst.

3. Dulu (satu setengah tahun yang lalu) biaya menginap Rp.150.000/kamar (untuk 1-3 orang), sekarang Rp.250.000. Entah salah dimana, tadinya waktu reservasi saya diberitahu bahwa harganya Rp.300.000/malam dan bahkan akan naik lagi! Rumah Doa menjadi berkat bagi orang-orang yang ingin sendirian menenangkan diri di sana tetapi bagi yang dari Jakarta (ada biaya bensin dan tol) jika ke sana sendirian biayanya menjadi cukup mahal. Saya mengerti bahwa biaya operasional Rumah Doa juga besar, tetapi mengelola sebuah tempat untuk melayani dengan sebuah wisma memang berbeda.

Dulu ketika melakukan pembayaran saya selalu disodori amplop persembahan yang bisa diisi jika saya mau. Sekarang saya terkejut dengan kalimat: "Jangan lupa ada amplop persembahan yang HARUS diisi."

4. Sistem penggunaan ruang doa, walaupun maksudnya supaya lebih teratur malah jelas tidak baik. Saya terganggu dengan kebijakan mereka yang tidak mengizinkan kami menggunakan semua ruang doa dengan bebas dengan alasan "reserved" untuk tamu lain yang mungkin tiba-tiba datang. Kami yang sudah datang duluan, menginap di sana, harus selalu mengalah jika ada tamu lain yang tiba-tiba datang... bagi saya itu sangat tidak masuk akal. Ada banyak ruang doa dan pondok doa, mengapa tidak dibiarkan natural saja, ada yang pakai ya sudah, ada yang kosong ya silakan masuk.

5. Saya kaget melihat ada TV di ruang tengah/ruang makan. Ruang itu berada persis di depan kamar dan menjadi ruang yang nyaman tempat sharing dan membaca buku. Bagaimana jika ada tamu yang memutar TV di situ? Sewaktu kami di sana memang tidak ada yang memutar TV, tapi waktu rombongan teman saya ke sana, ada keluarga lain yang berada di situ dan memutar TV. Sangat mengganggu. Rumah Doa tidaklah besar dan suara TV akan sangat mengganggu.

Saya harap ada rekan-rekan yang punya akses ke pengelola untuk menyampaikan masukan-masukan di atas. Di luar keluhan-keluhan di atas, suasana Rumah Doa tetap baik dan menjadi berkat bagi kami. Saya tidak tahu dimana bisa menemukan tempat seperti ini lagi yang tidak terlalu jauh dari Jakarta. Maka saya menulis bukan untuk menjelek-jelekkan tetapi saya ingin tempat ini terus menjadi berkat bagi saya dan banyak orang lain.

 Bangunan utama berisi kamar, ruang makan dan ruang pertemuan. Di depan terlihat teras tempat duduk-duduk waktu pagi atau sore. 

 Di tengah adalah aula, di kiri kanan adalah bangunan berisi kamar-kamar doa, sayang saya tidak punya fotonya.

 Kamar

Pondok doa, ada beberapa yang seperti itu

Tuesday, October 16, 2012

Setan = Malaikat Musik?

Sebelum ini saya sudah dua kali menulis tentang Setan di sini dan di sini yang dikaitkan dengan Yesaya 14 dan Yehezkiel 28. Tulisan kali ini, sedikit banyak ada hubungannya dengan dua tulisan tersebut.

Sejak saya kecil, saya mendengar bahwa setan dulunya adalah malaikat musik. Dan karena dia sangat sombong akhirnya dia pun dihukum Tuhan dan menjadi setan.

Pernahkah anda berpikir darimana konsep itu? Konsep ini sangat bergantung pada pengertian bahwa Yesaya 14 dan Yehezkiel 28 bicara tentang iblis. Sebuah tafsiran yang sangat spekulatif. Tapi darimana konsep bahwa dia adalah malaikat musik? Sebetulnya ini lebih spekulatif lagi. Perhatikan Yeh. 28:13 di bawah ini:

Engkau di taman Eden, yaitu taman Allah penuh segala batu permata yang berharga: yaspis merah, krisolit dan yaspis hijau, permata pirus, krisopras dan nefrit, lazurit, batu darah dan malakit. Tempat tatahannya diperbuat dari emas dan disediakan pada hari penciptaanmu. (ITB)

You were in Eden, the garden of God; every precious stone adorned you: carnelian, chrysolite and emerald, topaz, onyx and jasper, lapis lazuli, turquoise and beryl. Your settings and mountings were made of gold; on the day you were created they were prepared. (NIV)

You were in Eden, the garden of God; every precious stone was your covering, carnelian, chrysolite, and moonstone, beryl, onyx, and jasper, sapphire, turquoise, and emerald; and worked in gold were your settings and your engravings. On the day that you were created they were prepared. (NRSV)

Bisa tebak darimana?? Betul, tidak kelihatan! Perhatikan sekarang terjemahan King James Version:

Thou hast been in Eden the garden of God; every precious stone was thy covering, the sardius, topaz, and the diamond, the beryl, the onyx, and the jasper, the sapphire, the emerald, and the carbuncle, and gold: the workmanship of thy tabrets and of thy pipes was prepared in thee in the day that thou wast created. (KJV)

Perhatikan yang di-bold. “Tabrets” adalah tamborin, dan “pipes” adalah alat musik tiup. Dikatakan bahwa dari hari diciptakannya, “tabrets” dan “pipes” itu dipersiapkan di dalam dia.

Leslie C. Allen di dalam WBC mengatakan: “These two nouns are of uncertain meaning. A possibility for the second is metal cavities or setting for jewels… If so, the earlier term has a similar sense”. Dua kata benda itu tidak bisa dipastikan artinya. Kemungkinan kata yang kedua (pipes) adalah tempat tatahan perhiasan. Dan jika demikian, maka kata yang pertama pasti juga punya arti yang serupa.

Itulah sebabnya setahu saya tidak ada terjemahan Alkitab lain yang menterjemahkan seperti King James Version itu (bandingkan dengan terjemahan yang saya kutip di atas: bahasa Indonesia terjemahan baru, NIV dan NRSV). Demikian pula penafsir2 Alkitab juga setuju bahwa terjemahan King James Version tidak tepat.

Alasan kedua adalah dari Yes 14:11:

Ke dunia orang mati sudah diturunkan kemegahanmu dan bunyi gambus-gambusmu; ulat-ulat dibentangkan sebagai lapik tidurmu, dan cacing-cacing sebagai selimutmu."  (ITB)

All your pomp has been brought down to the grave, along with the noise of your harps; maggots are spread out beneath you and worms cover you. (NIV)

Thy pomp is brought down to the grave, and the noise of thy viols: the worm is spread under thee, and the worms cover thee. (KJV)

Argumen yang dikemukakan adalah bahwa Setan ada bunyi gambus-gambus atau “harps” (NIV) atau “viols” (KJV). Dan artinya dia adalah malaikat musik!

Istilah “kemegahan” atau “pomp” menggambarkan sesuatu kemuliaan seperti bagi seorang raja. Dan bunyi2an musik juga adalah gambaran kemuliaan seorang raja. Kemegahan itulah yang diturunkan sampai ke dunia orang mati.

Maka tafsiran bahwa Setan dulunya adalah malaikat musik didasarkan pada asumsi bahwa Yesaya 14 dan Yehezkiel 28 bicara tentang setan. Spekulatif. Tetapi, kalaupun benar bahwa dua bagian itu bicara tentang setan (saya tidak percaya itu), bagaimana mungkin hanya dengan dua ayat itu menafsirkan bahwa setan adalah malaikat musik???

Maka kalau tafsiran bahwa Yesaya 14 dan Yehezkiel 28 bicara tentang setan itu spekulatif, tafsiran bahwa setan adalah malaikat musik itu super spekulatif!

Tuesday, October 09, 2012

Setan = Lucifer? (Bagian 2)

Supaya adil dengan tulisan saya sebelum ini disini, berikut ini adalah pandangan dari Walter Kaiser di dalam Hard Sayings of the Bible, dimana dia membuka kemungkinan untuk menafsirkan Yesaya 14:12 sebagai bagian yang bicara tentang setan.

Saya terjemahkan:

Maka apakah cerita ini menunjuk pada raja Babel dalam istilah-istilah hiperbolis, atau menunjuk pada setan? Secara normal, peraturan penafsiran yang baik menuntut supaya kita hanya menempatkan satu penafsiran untuk setiap bagian; kalau tidak teks itu akan menimbulkan kebingungan. 

Tetapi, dalam situasi ini, sang nabi menggunakan cara yang sering ditemukan dalam teks nubuatan: dia menghubungkan nubuatan dekat dan jauh di bawah satu makna, atau arti, karena keduanya, sekalipun terpisah secara tempat dan waktu, adalah bagian yang saling melengkapi.

Yesaya melihat raja Babel memiliki kesombongan dan kebanggaan sangat besar yang memuakkan. Dalam mengembangkan aspirasi-aspirasi yang melampaui kedudukan dan kemampuannya, Yesaya memparalelkan raja Babel dengan pencapaiannya sendiri yang dilebih-lebihkan dengan Setan.

Sebagaimana ada garis mesianik yang panjang di Perjanjian lama, dan setiap orang yang termasuk dalam garis itu adalah manifestasi dari Yang Akan Datang (tetapi bukan Dia), demikian pula ada garis anti-mesianik dari raja-raja di dalam garis anti Kristus dan Setan. Raja Babel adalah salah satu dari garis panjang raja-raja dunia yang berdiri melawan Allah dan semua ketetapanNya.

Ini menjelaskan bahasa hiperbolis disini, yang walaupun benar dalam arti terbatas untuk raja Babel, tapi terutama menunjuk pada dia yang akan menjadi puncak dari garis kejahatan ini yaitu garis raja-raja yang sombong. 

Dalam arti ini, makna bagian ini adalah tunggal, bukan ganda atau banyak. Karena bagian-bagiannya adalah bagian dari keseluruhan dan memiliki tanda-tanda dari keseluruhannya, maka mereka adalah satu bagian. 

Seperti raja Babel menginginkan kesejajaran dengan Allah, keinginan setan untuk menyaingi otoritas Allah menyebabkan kejatuhannya. Semua ini adalah model dari anti-Kristus, yang akan meniru setan, dan korban penipuan dalam sejarah, raja Babel, dalam kehausan akan kuasa. 

Penghubungan serupa akan jarak yang dekat dan jauh ini muncul di Yehezkiel 28, dimana nubuat mengenai raja Tirus menggunakan bahasa hiperbolis yang sama (Yeh. 28:11-19). Dengan cara yang serupa, nabi Daniel memprediksikan kedatangan Antiochus Epiphanes (Dan. 11:29-35); di tengah-tengah bagian ini, dia meloncat jauh dalam ay.35 untuk menghubungkan Antiochus Epiphanes dengan anti-Kristus di akhir zaman, karena mereka punya banyak keserupaan sebagai anggota garis anti-Mesias. 

Maka cara bernubuat ini didukung di dalam Perjanjian Lama dan tidak seharusnya menimbulkan perhatian khusus kita.

Saya menghormati Walter Kaiser, tapi menurut saya di dalam bagian ini apa yang dia tulis tidak memiliki dasar yang kuat. 

Saya setuju bahwa para nabi suka menghubungkan dekat dan jauh di dalam satu nubuatan. Tapi harus ada dasar yang cukup untuk kita memutuskan bahwa di bagian itu nabi itu menggunakan cara demikian. Kalau tidak ada dasar, paling banyak kita hanya bisa berspekulasi.

Misalnya: Kerajaan Daud dikatakan tidak akan pernah berakhir selama-lamanya (2 Sam. 7:16). Kita tahu ‘yang jauh’ itu menunjuk pada kerajaan Mesias, sesuatu yang masih jauh di depan. Mengapa? Ada dasarnya! Yesaya 9 menubuatkan kelahiran seorang Putera yang disebutkan Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa… dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaanNya… (Yes 9:5-6). Kalimat-kalimat penegasan seperti ini entah berapa sering diulang dalam Perjanjian Lama. Sampai akhirnya di dalam Injil, Yesus disebut Anak Daud.

Tapi dimana dasarnya untuk mengatakan Yesaya 14 dan Yehezkiel 28 bukan saja sedang bicara yang dekat, tentang Raja Babel dan Raja Tirus, tapi juga bicara yang jauh yaitu tentang setan? Lagipula, kalau ini bicara tentang setan, khususnya di Yehezkiel, dia bukan bicara sesuatu yang jauh di depan tapi jauh di belakang tentang penciptaan setan? Prinsip yang dibicarakan oleh Walter Kaiser adalah nabi melihat yang dekat (sekarang) dan mencampurkannya dengan yang jauh (nanti). Tapi di Yesaya 14 dan Yehezkiel 28, yang dekat adalah raja Babel dan raja Tirus, lalu yang jauhnya bukan "nanti" tapi "dulu".

Perhatikan keanehan dalam Yehezkiel. Yang menyebabkan orang berpikir ini bicara tentang setan adalah Yeh 28:12-15, bahwa ia diciptakan dengan sempurna, indah, di taman Eden, tempatnya dekat kerub, dan sebagainya. Tapi perhatikan ay. 16: “Dengan dagangmu yang besar, engkau penuh dengan kekerasan dan engkau berbuat dosa. Maka Ku buangkan engkau…” Kapan setan dibuang? Jelas jauh sekali di belakang (paling tidak di Kej 3 sudah terjadi). Bagaimana Kaiser bisa mengatakan, ini bicara tentang yang dekat (raja Tirus) dan yang jauh di depan (setan)?  Lalu setan jatuh karena dagang yang besar penuh kekerasan? Ini tidak mungkin tidak menunjuk pada raja Tirus dan bukan setan.

Satu lagi, dia mengutip contoh nubuatan Daniel tentang Antiochus Epiphanes (yang dekat) yang kemudian dikaitkan dengan anti-Kristus di akhir zaman (yang jauh). Tapi saya sama sekali tidak menemukan mengapa dia bisa berpikir demikian. Coba saja teliti Dan 11:29-35 dan anda akan mengerti maksud saya.

Saya hanya ingin mengatakan bahwa tidak ada dasar untuk menghubungkan Yesaya 14 dan Yehezkiel 28 dengan setan. Mungkinkah apa yang dikatakan Yesaya dan Yekezkiel tentang raja Babel dan Tirus adalah sama dengan apa yang sudah dan akan terjadi terhadap setan? Mungkin. Tapi bagian ini tidak mengkaitkannya, atau paling tidak, tidak ada bagian lain Alkitab yang mendukung untuk kita mengkonfirmasi bahwa Yesaya dan Yehezkiel bermaksud bicara tentang setan. Dan tidak seharusnya kita, tanpa dasar, mengatakan bagian ini atau itu bicara tentang yang jauh di depan. 

Kembali kepada judul tulisan ini, apakah Lucifer (Bintang Timur) adalah Setan? Sebaiknya, paling banyak kita mengatakan, ini hanya ‘kemungkinan’ atau ‘spekulasi’. Saya mungkin salah, tapi saya pribadi tidak melihat ada dasarnya.