Saturday, August 27, 2011

Kisah Para Rasul 9:10-18

(Tulisan ini adalah bahan saat teduh untuk Retreat Young Adult Fellowship GKY Sg 7-9 Aug 2011. Sebagian bahan diambil dari artikel dalam www.intouch.org)

 

Anda sedang berjalan di tengah sebuah kota kecil di bawah terik matahari sore. Rasanya anda tidak ingin masuk ke rumah itu, rumah yang pernah anda lihat tapi belum pernah anda masuki. Lutut mulai terasa panas, tenggorokan tercekat, sambil anda memikirkan apa yang menanti anda dalam rumah itu.

Sambil pintu itu terbuka, anda makin tegang, sementara tuan rumah kemudian berkata, “Silakan masuk”. Pada mulanya, semua terlihat seperti bayangan sambil mata anda menyesuaikan diri dengan gelapnya ruangan itu. Perlahan-lahan, ketika mata anda mulai terbiasa, anda melihat seorang pria duduk di situ, seorang dengan pakaian yang bagus dan jenggot yang tipis, dia tidak melihat kepada anda, kepada siapapun atau kemanapun. Matanya tidak melihat apa-apa. Untuk orang inilah anda datang, orang yang telah membunuh teman-teman anda. Inilah orang yang telah datang untuk mengambil nyawa anda.

Cerita imajinasi di atas mungkin bukanlah gambaran yang sebenarnya dari apa yang terjadi dalam Kis 9. Tapi mungkin itu membantu kita mengerti apa yang dialami oleh Ananias. Dia diutus oleh Kristus untuk berdoa bagi seorang musuh gereja terbesar waktu itu: Saulus dari Tarsus, atau seperti yang sekarang kita kenal sebagai rasul Paulus.

Kis 8 memberitahu kita bahwa di Yerusalem, Saulus sudah berusaha membinasakan jemaat, masuk ke rumah demi rumah, menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara (8:3). Ketika penganiayaan itu meluas, banyak jemaat melarikan diri ke kota-kota lain untuk menyelamatkan diri. Tapi Saulus tidak puas dan ia mengejar mereka untuk membinasakan mereka. Di tengah perjalanan itulah, ia bertemu dengan Yesus, sang Terang itu membutakan mata orang yang hatinya buta ini. Tuhan kemudian menyuruh dia menunggu di kota itu untuk instruksi selanjutnya.

Siapa Ananias? Alkitab tidak bercerita banyak tentang dia. Tapi yang pasti Ananias tahu siapa Saulus dan untuk apa dia datang. Perintah Tuhan sederhana: “pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas, seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sekarang berdoa, dan dalam suatu penglihatan ia melihat, bahwa seorang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangan atasnya, supaya ia dapat melihat lagi” (9:11). Siapa yang bisa menyalahkan Ananias kalau dia ketakutan? Dia menjawab, “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya…” Tapi Yesus berkata: “Pergi” dan dia pergi.

Ananias taat kepada Yesus sekalipun sangat besar resikonya. Dan dia tidak hanya melakukan (dengan terpaksa), tapi dia melakukannya dari hati. Pada waktu masuk ke rumah itu, dia memanggil Saulus dengan “saudaraku”, sebutan yang biasa dia pakai untuk sesama orang Kristen. Betapa dia belajar mengasihi orang itu! Ananias kemudian menumpangkan tangan atas Saulus dan menyembuhkannya. Bahkan dia membaptis Saulus, orang itu yang beberapa hari lalu ingin membunuh dia!

Ananias dengan rendah hati membiarkan Tuhan bekerja melalui dia, dan hasilnya Saulus menjadi misionaris terbesar dalam sejarah Kristen. Cerita seperti ini bukan 1 kali terjadi. Coba lihat di Alkitab: Yusuf terus taat walaupun resikonya dipenjara, dan hasilnya adalah Tuhan memakai dia luar biasa. Ester mengambil resiko dengan datang kepada raja untuk bangsanya, dan hasilnya seluruh bangsa Israel selamat. Petrus dan kawan-kawan meninggalkan pekerjaan mereka mengikut Yesus dan hasilnya adalah kekristenan berkembang. Cerita seperti ini terus kita temukan sepanjang sejarah kekristenan.

Kita tidak pernah tahu ketaatan kita akan menghasilkan apa dalam kerajaan Tuhan. Tapi ketaatan walaupun besar resikonya, kemauan untuk ikut perintah Tuhan walaupun tidak mengerti apa yang akan terjadi, kegelisahan dengan hidup yang tidak melakukan apa-apa, dan kesetiaan mengerjakannya dengan rendah hati, akan dipakai Tuhan seperti gelombang yang terus bergulung sampai kekekalan. Pertanyaannya, ketika Yesus berkata “Pergi”, maukah kita pergi?

Fanny Crosby menciptakan sebuah lagu yang sangat indah. Renungkanlah kata-katanya:

Master, Thou callest, I gladly obey;
Only direct me, and I'll find Thy way.
Teach me the mission appointed for me,
What is my labor, and where it shall be?

Master, Thou callest, and this I reply,
"Ready and willing,
Lord, here am I."