Monday, August 29, 2011

Courageous Leadership - Bill Hybels

Saya membaca buku ini karena ingin belajar tentang leadership. Dan saya menemukan insights, wisdom, mengenai leadership dalam buku ini. Buku ini memberikan beberapa hal berharga yang bisa membantu saya dalam leadership. Apa yang dia sampaikan perlu saya pikirkan ulang dan renungkan bagaimana diterapkan dalam konteks saya.

Tapi di sisi lain, saya juga kecewa dengan buku ini – atau tepatnya, dengan Bill Hybels. Saya menemukan banyak ayat Alkitab yang dia kutip untuk mendukung posisinya justru tidak tepat. Dia mengutip ayat sekenanya dan memakainya juga sekenanya. Saya kecewa karena buku ini ditulis oleh Bill Hybels! Dia seorang gembala dari sebuah gereja yang sangat besar. Dan buku ini juga dimaksudkan untuk para pemimpin gereja.

Saya beri 1 contoh saja. Ketika dia membahas mengenai “The Leader’s Pathway”, dia mengatakan bahwa ada macam2 jalan untuk kita punya hubungan dekat dengan Tuhan dan tiap orang yang berbeda punya jalan kerohanian yang juga berbeda. Sampai disini saya setuju. Berikutnya dia menyebutkan berbagai “pathways” itu. Sampai sini saya juga setuju. Tapi saya sangat kaget ketika dia membahas tentang “The Intellectual Pathway”, dia menyebut Paulus sebagai salah 1 contoh orang dengan tipe ini. Di bawah saya kutip tulisannya:
I think it is quite possible that the apostle Paul had an intellectual pathway. For him, the transformation of the world depended on the “renewing of our minds” (Romans 12:2). Paul was quick to appeal to the rational side of human nature, apparently convinced that once a person’s mind belonged to God, everything else would follow. Win the intellectual argument, and it would be game, set, match. Victory!
Karena Paulus orang dengan “intellectual pathway” maka tidak heran dia berikan nasihat supaya kita jangan menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubahlah oleh pembaruan budi! Kalau Paulus tipenya lain mungkin dia berikan nasihat lain. Implikasinya, nasihat Paulus bukan sesuatu yang otoritatif bagi orang yang tipenya lain bukan? Dan tiap kali kita baca ayat Alkitab lain, kita akan coba nilai si penulisnya orang seperti apa, lalu apakah cocok dengan tipe saya. Kalau tidak cocok, maka nasihat itu bukan untuk saya bukan? Ini penafsiran yang sangat sembarangan! Kalau anda berargumen, “ah bukan itu maksud dia”, coba baca bab itu dan anda akan mengerti maksud saya. Dan karena bukan hanya di bagian itu dia memakai ayat Alkitab sembarangan, saya kira memang itu polanya dia.

Saya tidak mendiskreditkan buku ini dan menganggapnya tidak berguna. Konsep Bill Hybels tentang 3 Cs (Character, Competence, Chemistry) dalam Chapter Four "Building a Kingdom Dream Team" sangat bijaksana. Dan Chapter Seven "Discovering and Developing Your Own Leadership Style" sangat berguna. Bacalah buku ini dan anda akan mendapatkan apa yang anda cari: wisdom dan insights untuk leadership. Ini buku yang bagus untuk itu. Tapi, seperti juga membaca buku lainnya, bacalah dengan kritis.