Monday, April 07, 2008

Perubahan


Akhir-akhir ini di dalam beberapa kesempatan, saya bertemu beberapa orang teman lama, teman-teman semasa SMA dulu. Surprise memang, ada yang masih saya kenal, ada yang hanya saya ingat wajahnya tapi lupa namanya, ada juga yang setelah kenalan baru saya tahu ternyata itu teman SMA! Biasanya yang terakhir itu adalah mereka yang memang waktu masa SMA dulu hanya tahu-sama-tahu dengan saya.

Masing-masing sudah berubah, saya berubah dan mereka juga berubah. Perubahan kami bukan sekedar pada fisik, yang biasanya terlihat dengan tubuh yang makin ‘besar’, rambut yang makin jarang, dan wajah yang makin tua, tetapi juga pada kehidupan.

Dulu semua sama-sama ‘anak SMA’, seragam kami sama, putih abu-abu dan dan sepatu hitam, pergumulan hidup kami juga mirip yaitu PR, ulangan, ujian, les dan masalah dengan guru.

Sekarang semua punya kehidupan yang berbeda. Ada yang sudah berkeluarga dan ada juga yang belum. Ada yang bekerja sebagai karyawan, dosen atau guru, ada yang wirausaha dan ada juga yang menjadi profesional seperti dokter. Ada yang ekonominya maju dan serba berkecukupan dan ada juga yang biasa-biasa saja. Daftar ini masih bisa ditambah terus.

Yang menarik adalah tidak semua kondisi-kondisi di atas sudah bisa diprediksi sejak dulu. Banyak juga yang ‘dulunya sama sekali tidak terbayang dia bisa jadi begitu’. Saya kira teman-teman SMA saya juga dulu tidak ada yang menduga kalau akhirnya sekarang saya menjadi hamba Tuhan penuh waktu di gereja. Jangankan mereka, sayapun tidak menduga!

Dan saya juga menemukan beberapa hal yang menarik, walaupun kebanyakan perubahan-perubahan itu hanya sekedar status pernikahan, pekerjaan, kondisi ekonomi, atau segala 'embel-embel' lain di permukaan, tetapi ada juga perubahan yang terjadi pada ‘orang’nya. Ada yang dulunya seperti apa tetapi sekarang seperti apa. Ada yang dulunya sangat aktif pelayanan, sekarang sekedar ke gereja. Ada juga yang dulunya tidak percaya Tuhan sekarang jadi orang yang sangat bertumbuh. Ada yang dulu ‘agak aneh’, sekarang berubah walaupun ada juga yang berubahnya menjadi makin parah.
Saya jadi merenung lagi tentang kehidupan saya. Saya yang sekarang juga sudah berbeda dengan saya yang dulu. Mengenai 'embel-embel', pasti banyak perubahan. Tapi mengenai 'orang'nya, mungkin dalam beberapa hal saya tidak berubah (ini menyedihkan saya), dalam beberapa hal lain mungkin saya menjadi makin buruk (walaupun saya harap tidak seperti itu), dan dalam beberapa hal lain mungkin saya makin baik. Tetapi yang membuat saya bersyukur adalah, dengan segala kekurangan yang ada, saya bisa mengatakan saya bertumbuh. Ini membuat saya sangat bersyukur. Walaupun lambat dan cacat di sana-sini, saya bertumbuh!

Dan saya berpikir apa yang menyebabkan saya menjadi seperti sekarang ini? Jawaban saya bisa bermacam-macam: karena orang tua, karena lingkungan, karena teman-teman, atau karena keputusan-keputusan tertentu dalam hidup saya. Tetapi saya sadar di atas semua itu adalah: karena kasih karunia Tuhan dan respon saya atas kasih karunia itu. Tuhan, dengan terus menerus, tidak bosan-bosan, pantang menyerah, berusaha menggarap hidup saya untuk mengubah saya, dan saya berubah juga walaupun respon saya sering lamban dan bebal (Ah, andaikata saya tidak begini bebal dan lamban!).

Ada perubahan-perubahan dalam hidup saya yang waktu SMA dulu, atau bahkan waktu kuliah dulu, sama sekali tidak terpikir oleh saya. Saya tidak terbayang akan menjadi seperti apa adanya sekarang ini. Saya tahu saya masih sangat super jauh dari baik. Tapi saya bisa menyaksikan bagaimana kasih karunia Tuhan itu beroperasi dalam hidup saya dan bagaimana respon saya yang bebal dan lamban itu, walaupun seperti membuka pintu dengan pelit kepada Tuhan, ternyata sudah membuat anugrahNya menerobos masuk. Maka sekarang ini, kalau melihat ke belakang, saya bisa berkata “Oh, betapa manisnya perubahan itu, betapa manisnya karya Tuhan dalam hidup saya!”.

Lalu saya lihat lagi keadaan diri saya sekarang ini. Jujur saya tidak puas, bahkan sangat tidak puas, dengan diri saya yang sekarang. Bukan saya tidak puas dengan anugrah Tuhan. Saya tidak puas karena saya tahu Tuhan ingin saya lebih dari sekarang tapi saya masih terlalu pelit membuka pintu itu. Dan saya memandang ke depan untuk perubahan lagi.

Suatu kali, ketika saya sedang sangat kesal, saya berkata kepada teman saya “saya sudah tidak bisa berubah lagi, sudah mentok!”. Teman saya kemudian memberikan nasihat bijak yang terus saya ingat “jangan batasi perubahan yang ingin dikerjakan Tuhan!”.

Hidup saya hari ini belum tentu menunjukkan besok akan seperti apa. Sekali lagi maksud saya bukan sekedar kondisi ekonomi, jenis pekerjaan atau segala embel-embel lain tetapi diri saya sendiri. Dan sampai berapa jauh saya bisa berubah? Alkitab memberitahu: Sampai seperti Kristus! Sampai hidup dalam kemuliaan bersama Tuhan dan malaikat-malaikatNya di surga! (2 Kor 3:18, Kol 3:4).

Menanti saat itu membuat saya terharu dan tidak sabar. Saya ingin ada disana dan bisa menoleh ke belakang dan dengan lebih berani lagi berkata “Oh, betapa manisnya perubahan itu, betapa manisnya karya Tuhan dalam hidup saya”. Saat itu pasti akan tiba!