Wednesday, May 07, 2008

Bercanda

Bercanda menjadi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sosial kita. Ketika berkumpul bersama teman-teman, kita semua suka bercanda. Caranya macam-macam. Ada yang dengan menceritakan kisah lucu, menggoda dengan gerakan, mimik muka dan bahasa tubuh yang lucu, atau dengan menggunakan sindiran atau anekdot baik tentang orang lain maupun tentang diri sendiri. Semua itu kita sebut bercanda.

Jarang kita sadari bahwa bercanda sedikit banyak ada kaitannya dengan apa yang sesungguhnya kita pikirkan. Misalnya ketika kita berkata “wah perutmu kayak semar”, biasanya kita tidak katakan itu kepada orang yang super kurus tapi justru kepada orang yang memang dalam pikiran kita perutnya besar. Atau ketika kita bilang “rambutmu bagus ya kayak bihun”, biasanya kita tidak katakan itu kepada orang yang dalam pikiran kita rambutnya sangat halus, tetapi justru kepada yang menurut kita rambutnya kasar. Kalau tidak seperti demikian, maka candaan kita pasti tidak lucu karena orang tidak melihat kaitannya.

Walaupun ketika mengucapkan kata-kata canda itu kita jarang menyadari ada kaitan antara bercandanya kita dan apa yang kita pikirkan, tetapi lain ceritanya ketika kita yang dijadikan sasaran bercanda. Orang yang dijadikan sasaran bercanda akan lebih peka bahwa ada kesamaan antara dirinya (artinya kenyataan sesungguhnya) dengan kalimat candaan yang ditujukan kepada dirinya. Dampaknya? Bisa dia ikut tertawa karena memang lucu dan baru sadar bahwa dirinya bisa dianalogikan seperti itu atau bisa sangat tersinggung karena kalimat itu mencungkil sesuatu yang sensitif bagi dia.

Apa yang menyebabkan reaksi orang itu berbeda? Jawabannya juga bisa macam-macam. Tetapi salah satunya adalah relasi dia dengan orang yang mengucapkannya. Kalau dia kenal baik dengan orang yang mencandainya, kecil kemungkinan dia tersinggung. Biasanya dia akan tertawa dan mungkin balas mengucapkan candaan tentang orang itu. Tetapi kalau dia tidak terlalu mengenal orang itu, cerita menjadi berbeda.

Bukankah kita memang harus hati-hati dalam berkata-kata, termasuk kata-kata yang kita kategorikan bercanda? Jangan salah mengerti, saya tidak mengatakan kita tidak boleh bercanda. Betapa sepinya dan membosankannya dunia tanpa kalimat-kalimat candaan (termasuk yang bernada saling ‘menghina’, oops!). Tapi cobalah berhati-hati.

Jika candaan itu memang ada kaitannya dengan apa yang sesungguhnya kita pikirkan, mari ingat jangan sampai candaan itu keluar dari pikiran yang jahat. Kita boleh melihat kekurangan orang (baik karakter, kesalahan ataupun fisik) lalu mengucapkannya dalam bentuk candaan, asalkan di dalam kasih. Kalau itu kita lakukan di dalam kasih, tidak ada yang salah walaupun sekali lagi, hati-hati! Tetapi menjadi berbeda jika kita bukan saja melihat tetapi sungguh menghina orang itu dalam pikiran kita lalu mengeluarkannya dalam bentuk candaan. Orang itu mungkin tidak tersinggung karena dia tidak tahu bahwa kita sedang menghina. Tapi itu tetap berdosa. Pikiran yang jahat dikeluarkan dalam kalimat manis, kalimat candaan, yang palsu. Orang tertawa dan kita puas. Tetapi tidak ada yang menyangka bahwa kalimat itu sebetulnya keluar untuk memuaskan kejahatan hati kita.

Bayangkan betapa sakitnya orang itu jika dia bisa merasakan bahwa ‘candaan’ itu sebetulnya bukan masuk dalam kategori bercanda tetapi penghinaan.