Tuesday, May 15, 2012

Brother Juniper

Banyak dari kita yang tidak pernah mendengar nama Brother Juniper. Dia adalah salah satu pengikut
awal dari Francis Assisi. Dia diterima di dalam ordo Fransiskan (Minor Friars) pada tahun 1210 dan meninggal tahun 1258.

Dengan cepat Francis Assisi mengagumi dia sebagai orang yang ‘keterlaluan’ dalam kemurahan hati, khususnya kepada orang miskin. Brother Juniper terkenal sangat mudah memberikan barang miliknya dan kemudian dengan kepolosannya dia menawan hati orang untuk memaafkannya.

Ada banyak kisah tentang dia yang menggambarkan betapa uniknya dia.

Satu kali, dia diperintahkan oleh seniornya untuk tidak lagi memberikan jubah luarnya kepada pengemis. Tapi tidak lama kemudian dia bertemu dengan seseorang yang meminta pakaian kepadanya. Dia berkata: “Seniorku memberi tahu aku untuk tidak memberikan pakaianku lagi kepada siapapun. Tapi jika engkau menariknya dari belakang, aku pasti tidak akan melarangmu.” Lama kelamaan para biarawan lain tidak berani meninggalkan apa-apa di sekitar Juniper karena takut akan diberikan oleh Juniper kepada orang miskin.

Ketika ia mengunjungi seorang yang sakit, Juniper bertanya apa yang bisa dia lakukan. Orang itu meminta kepada Juniper disediakan makanan kaki babi. Dengan gembira Juniper berlari untuk mencari kaki babi. Dia menangkap seekor babi di halaman tetangga, dia potong kakinya dan dia masak untuk saudara yang sakit itu. Ketika pemilik babi itu tahu, dia datang dengan marah kepada St. Francis dan pengikut-pengikutnya, menyebut mereka pencuri dan menolak ganti rugi.

St. Francis memarahi Juniper dan memerintahkan dia untuk meminta maaf kepada pemilik babi itu. Juniper tidak mengerti mengapa pemilik babi itu marah karena tindakan charity seperti itu. Dia pergi ke pemilik babi itu dan dengan riang menceritakan bagaimana orang sakit itu meminta masakan kaki babi dan dia menyediakannya. Dia menceritakannya seakan-akan dia menolong pemilik kaki babi itu berbuat baik. Waktu orang itu marah, Juniper berpikir dia tidak mengerti, maka dia ulangi lagi ceritanya dengan semangat, memeluk orang itu, dan memohon orang itu untuk memberikan sisa daging babi itu untuk charity. Melihat itu, hati pemilik babi itu berubah dan dia memberikan seluruh sisa daging babi itu untuk disembelih seperti yang diminta Juniper.

Satu kali Brother Juniper sedang bermeditasi di depan altar sebuah gereja yang sangat bagus dan penuh hiasan. Penjaga gereja itu meminta dia menjaganya sementara dia makan. Kemudian datanglah seorang wanita miskin meminta derma demi kasih kepada Allah. Juniper menjawab: “Tunggu sebentar, dan aku akan melihat apakah ada sesuatu yang bisa kutemukan di altar yang mewah ini”. Di sana ada kain emas yang sangat mahal dan ada bel perak yang mahal bergantungan. Juniper berkata: “Bel-bel ini berlebihan:, maka dia mengambil pisau dan memotong bel itu dan memberikannya kepada wanita itu karena belas kasihan. Waktu penjaga gereja itu tahu, dia sangat marah. Tapi Juniper berkata: “Jangan marah karena bel-bel itu, aku memberikannya kepada wanita miskin yang sangat memerlukannya dan disini bel-bel itu tidak ada gunanya selain untuk memamerkan kemewahan yang fana”. Penjaga itu melaporkan kepada pimpinannya di kota itu. Pimpinan itu menyalahkan si penjaga: “Engkau yang bodoh, engkau harusnya tahu seperti apa Juniper, aku malah kaget dia tidak memberikan sekalian semua kain emas itu”.

Pimpinan itu kemudian memanggil Juniper dan menegurnya dengan keras. Juniper tidak memperhatikan teguran itu, dia suka dimarahi, dipermalukan karena Kristus! Yang dia perhatikan adalah suara pimpinan itu serak. Maka ketika pulang, dia membuat puding untuknya. Dan tengah malam Juniper pergi ke rumah sang pimpinan membawa puding itu. Awalnya sang pimpinan marah karena tengah malam dibangunkan dan dipaksa makan puding. Tapi akhirnya dia melihat ketulusan Juniper, mereka makan bersama. 

Kisah-kisah di atas memberi gambaran kepada kita seperti apa Brother Juniper ini. Tidak heran dia dikenal sebagai ‘fool for Christ’ (orang bodoh bagi Kristus).

Betul, dia mungkin bodoh. Tapi dia hidup bagi Kristus. Sementara kita? Kepintaran kita mungkin membuat kita makin hitung-hitungan dalam memberi dan membuat kita bahkan kehilangan kepolosan dan ketulusan.

Francis Assisi pernah berkata bahwa betapa dia berharap ada satu hutan penuh orang-orang seperti Juniper! Dimana orang-orang seperti itu sekarang? Tidak perlu ikut ‘bodoh’nya, tapi mari ikut sedikit saja kepolosannya dan kemurahan hatinya! Ah… saya juga perlu belajar banyak.