Wednesday, January 20, 2010

The Story of the Codex Sinaiticus

This semester I am taking a course on Textual Criticism and Canon. One of the book that I am reading is The Text of the New Testament by Bruce M. Metzger.

I just came across a story about the fourth-century codex (ancient form of book, made from leathers) of the Greek Bible known as Codex Sinaiticus. It is the only known complete copy of the Greek New Testament in uncial (capital letter) script. As Metzger puts it, "The story of its discovery makes a fascinating tale". Here are some excerpts of the story quoted from Metzger's book:

In 1844, a man name Tischendorf travelled through the Near East in search of Biblical manuscripts. While visiting the monastery of St. Catharine at Mount Sinai, he chanced to see some leaves of parchment (leather that was used as paper) in a waste basket full of papers that would be thrown to the oven of the monastery. He found them to be part of a copy of the Septuagint version of the Old Testament (Greek translation of the Old Testament, already circulated widely in the time of Jesus). The monk there casually remarked that two baskets of similar things had already burned up! Tischendord was then allowed to take them to Europe and published their contents in 1846.

In 1853 Tischendorf revisited the monastery of St. Catharine, hoping to find other portions of the manuscript, but he found nothing because the monks did not want to tell him anything more.

In 1859, under the patronage of Czar of Russia, he travelled back to the monastery. The day before he wanted to leave, he showed to the steward of the monastery a copy of the edition which he had published. The steward said that he also had a copy of the Septuagint and he showed it to Tischendorf. That is the treasure that Tischendorf had been longing to see! Hiding his excitement, he asked permission to look at it further that evening. Permission was granted, and Tischendorf spent the whole night studying it.

The next morning he tried to buy it but with no success. He asked to be allowed to take it to Cairo to study, but he was not allowed to do so either. Yet later in Cairo, he happened to meet the abbot of the monastery of St. Catharine who was then agreed to send the the codex to Cairo, part by part. Tischendorf and his two friends then carefully transcribed the manuscript.

At that time the highest place of authority among the monks of Sinai was vaccant. Tischendorf suggested that it would be to their advantage if they would make a gift to the Czar of Russia. They need the influence of the Czar of Russia, who stood as protector of the Greek Church. And what could be more appropriate as a gift than this ancient Greek manuscript! And finally it was delivered to Russia. In return for the codex, the Czar presented to the monastery a silver shrine for St. Catharine, a gift of money for the library at Sinai and for the monks in Cairo and conferred several Russion decorations (similar to honorary degrees) on the authorities of the monastery. In 1862, on the one-thousandth anniversary of the founding of the Russian empire, the text of the manuscript was published.

After the revolution in Russia, the USSR, not being interested in the Bible and being in need of money, negotiated with the Trustees of the British Museum for the sale of the codex for more than $500,000. The British government guaranteed one-half of the sum, while the other half was raised by contributions by interested Americans as well as individuals and congregations throughout Britain. Just before Christmas day, 1933, the codex was carried into the British Museum.

This story surprised me. The codex was discovered at the monastery of St. Catharine on Mount Sinai. I was there last year and I even delivered a sermon there to my Indonesian group. I still remember that it was the day of Pentecost, so I preached about the works of the Holy Spirit.

I was totally ignorant that it is such an important place (some other ancient manuscripts were also found there). I sometimes said that Indonesian tourists are bad tourists because they go to a place without knowing anything about it. In this case, 'bad tourist' also applies to me. I hope someday I can go there again and appreciate the monastery even more for its historical treasure that had contributed to the translation of our modern Bible. The discovery itself was also the work of the Holy Spirit!



One of the corner of the room that we used for worship that day.


These stones date back to the fourth century!

Friday, November 13, 2009

Thank You Lord For This Semester

Hari ini kebaktian penutupan semester di Trinity Theological College, dan hati saya dipenuhi rasa syukur. Ketika prosesi, salib di depan, di belakangnya ada beberapa orang pelayan mimbar, kemudian Alkitab yang dijunjung tinggi dan di belakangnya adalah pengkhotbah. Sambil mata saya mengikuti salib itu dibawa dari belakang menuju ke mimbar, saya sulit menyanyi karena hampir menangis. Tanpa terasa 1 semester sudah berlalu. Entah bagaimana caranya saya berhasil melewati semester ini. Pelayanan di tempat yang baru sebagai gembala ditambah beban kuliah yang berat (lebih berat lagi karena bahasa Inggris saya yang pas-pasan), kadang membuat saya ingin mengerang. Maka ketika hari ini kebaktian penutupan semester dan saya menyerahkan paper saya, sungguh saya sadar, sampai di sini Tuhan sudah menolong.

Perjalanan saya masih panjang. Semester depan ada 2 mata kuliah utama dan 1 mata kuliah tambahan sebagai pendengar yang akan saya ambil. Setelah itu barulah masuk ke pembuatan thesis. Saya tidak tahu apa lagi yang akan saya alami, apa lagi yang akan saya pelajari, proses perubahan apa yang akan terjadi dalam pikiran saya. Tapi saya antusias menantikannya. Saya antusias untuk belajar. Saya antusias menantikan pengalaman berikutnya.

Saya berharap semester depan bisa lebih ketat mengatur waktu untuk belajar dan pelayanan. Sangat sayang kalau akhirnya saya hanya belajar apa adanya di tengah begitu banyak fasilitas belajar yang bisa saya nikmati (kadang saya merasa seperti semut di dalam lumbung gula yang tidak berdaya untuk menikmati gula). Sampai di sini Tuhan sudah menolong, dan kiranya Tuhan terus menolong.

Thursday, November 12, 2009

Mengajarkan Firman Tuhan - 2

Tema khotbah apapun juga, silakan sebut tema apapun juga, pasti ada buku yang sudah membahasnya. Bagian Alkitab mana saja, pasti ada buku tafsiran atau perenungan yang mengupasnya. Di zaman sekarang, tumpukan hasil penelitian dan karya tulis begitu banyak teolog di dunia membuat apapun juga yang ingin disampaikan di dalam khotbah, pasti ada buku yang mendukung persiapannya.

Maka saya yakin, kalau seorang hamba Tuhan berkhotbah "tanpa isi" pasti adalah karena malas persiapan. Saya tahu tidak semua orang punya talenta untuk bicara di muka umum dan menguraikan sesuatu dengan jelas. Tetapi yang saya tekankan adalah "isi" nya.

Saya tidak percaya dengan pelagiarisme dalam berkhotbah. Bagi saya, sekalipun kita mengambil kalimat atau alur atau ide dari buku tertentu, asalkan kita mengerti-merenungkannya-memikirkan cara menyampaikannya, itu bukan pelagiarisme. Sekalipun kita berkhotbah sangat persis seperti yang tertulis di buku itu, itupun bukan pelagiarisme. Mengapa? Kita sudah menjadikan kalimat atau alur atau ide itu sebagai "milik" kita dengan menjadikannya fresh kembali karena melewati jalur mengerti-merenungkan-menyampaikan.

Satu-satunya pelagiarisme di dalam berkhotbah adalah kalau kita mengambil mentah-mentah khotbah orang lain, dan mengkhotbahkannya begitu saja tanpa mengerti-merenungkan-memikirkan cara menyampaikannya kepada pendengar yang spesifik (saya pernah mendengar khotbah seperti ini, disampaikan dengan buruk tetapi rasanya kok ada isinya, ternyata dia sedang mengkhotbahkan naskah khotbah seorang pengkhotbah terkenal). Ini adalah pelagiarisme karena sebenarnya dia bukan berkhotbah. 

Maka khotbah yang baik tidak mungkin dipersiapkan hanya dalam waktu 1-2 jam (kecuali khotbah singkat yang muncul dari perenungan, persiapannya adalah hasil membaca buku dan pergumulan di masa lalu). Butuh berjam-jam untuk mempersiapkan 1 naskah khotbah. Tetapi di tengah begitu banyak buku yang mendukung persiapan khotbah, satu-satunya alasan untuk berkhotbah "tanpa isi" adalah kemalasan.

Saturday, October 31, 2009

Mengajarkan Firman Tuhan - 1

Tugas hamba Tuhan adalah mengajarkan Firman Tuhan. Pada waktu berkhotbah, dia harus menguraikan dan menjelaskan Firman Tuhan dengan setia. Dia harus menggali Firman Tuhan, mengerti artinya dan merenungkannya, kemudian memikirkan cara bagaimana supaya dia bisa menyampaikannya dengan sebaik mungkin. Maka urutan logisnya adalah mengerti-merenungkan-menyampaikan.

Tanpa mengerti dan merenungkan, apa yang disampaikan? Tapi inilah kelemahan besar di dalam gereja. Coba lihat bagaimana orang Kristen menilai suatu khotbah. Ada yang merasa yang penting khotbahnya lucu, humornya segar. Sebaliknya ada yang sangat tidak senang dengan khotbah yang banyak humor karena khotbah menurut dia harus serius. Tapi yang diperhatikan hanyalah cara penyampaiannya! Lalu bagaimana isinya? Apa isinya? Apakah bagian yang akan dikhotbahkan itu sungguh dia baca, dia pikirkan, dia mengerti dan renungkan, sebelum dia sampaikan?

Khotbah yang main-main, bukanlah khotbah yang banyak humor tetapi khotbah yang tidak dipersiapkan dengan baik. Khotbah yang serius, bukanlah khotbah yang disampaikan dengan muka serius dan suara berteriak tetapi khotbah yang dipersiapkan dengan baik. Prosesnya? Mengerti-merenungkan-menyampaikan.

Mengerti - Semua orang bisa merasa mengerti padahal tidak. Firman Tuhan bisa dimengerti dalam berbagai lapisan makna, bisa sangat sederhana dan bisa sangat dalam. Sayangnya banyak yang berhenti di makna yang sederhana saja dan tidak menggali lebih dalam. Coba tanya kepada pengkhotbah yang saudara kenal, waktu yang dia pakai untuk mempersiapkan 1 khotbah? Coba tanya juga, kapan terakhir dia membaca buku teologi atau tafsiran yang baik? Buku rohani apa yang dia baca? Berapa banyak yang dia baca? Saudara mungkin akan kaget mendengar jawabannya (kalau saudara tidak kaget, mungkin karena saudara juga tidak mengerti seberat apa seharusnya tugas seorang pengkhotbah). Di sisi yang lebih ekstrim, banyak orang bahkan salah mengerti Firman, seperti para pekabar Injil kemakmuran, tetapi celakanya mereka justru sangat populer. Mereka bisa pintar bicara, contoh yang mengena, ilustrasi yang menyentuh, kutipan Firman Tuhan yang terasa tepat, maka jemaat pun mengalir datang. Tetapi mengerti Firman bukan tugas mudah.

Merenungkan - Firman Tuhan harus direnungkan oleh si pengkhotbah. Seorang pengkhotbah harus menyampaikan apa yang dia percaya adalah kebenaran dan dia gumuli di hadapan Tuhan dengan kesungguhan. Maka dia harus merenungkannya dulu.

Menyampaikan - Kalau dua hal di atas sudah baik, sangat sayang kalau di bagian ini dia kurang baik. Dia harus berpikir bagaimana pendengarnya mengerti apa yang sudah dia mengerti dan renungkan.

Ini tugas hamba Tuhan dan saya sangat sedih dengan banyaknya hamba Tuhan yang tidak lagi menjalankan tugas ini dengan baik. Saya tidak katakan saya sudah baik karena saya juga masih terus bergumul untuk tugas ini. Setiap jemaat harus mendukung hamba Tuhan, orang yang mereka pisahkan khusus untuk melayani Firman Tuhan, untuk mengajarkan Firman Tuhan dengan baik. Sayangnya, jemaat hanya puas dengan penyampaiannya atau pembawaannya yang berkharisma, atau dengan pelayanannya yang penuh perhatian, atau mungkin manajemennya yang luar biasa. Dan hamba Tuhan pun lupa tugas utamanya, mengajarkan Firman. Dan lingkaran ini akan masih terus berputar seperti ini.

Tuhan, kasihani kami!

Thursday, October 08, 2009

Tent-Maker?

Sekitar 15 tahun yang lalu, saya pertama kali mendengar istilah "tent-maker". Saya tidak tahu apa artinya, tetapi keren kedengarannya. Setelah dijelaskan, saya baru tahu bahwa istilah itu mengacu kepada Paulus yang pernah menjadi tukang kemah:

"...Mereka bekerja bersama-sama, karena mereka sama-sama tukang kemah" (Kis 18:3).

Apa artinya? Paulus adalah seorang rasul, dia pergi memberitakan Injil dan mengajarkan Firman Tuhan di banyak tempat. Tetapi di saat yang sama, dia juga adalah seorang businessman, memproduksi dan menjual kemah. Maka istilah "tent-maker" yang saya dengar itu maksudnya adalah seorang hamba Tuhan (dalam arti dia berkhotbah, melakukan penginjilan, terlibat dalam lembaga pelayanan atau bahkan menggembalakan gereja) tetapi di saat yang sama juga adalah seorang businessman.

Konsep "tent-maker" ini sempat menarik hati saya. Saya mulai sadar bahwa Tuhan memanggil saya untuk melayani Dia sepenuh waktu. Tetapi itu langkah yang terlalu besar bagi saya, maka saya mulai membayangkan alangkah indahnya konsep ini: saya bisa bekerja, bisnis, lalu tetap melayani, ok lah kalau harus berkhotbah dan bepergian selama 2 bulan setiap tahun. Tetapi itu lebih baik bagi saya!... Akhirnya Tuhan tunjukkan bukan itu yang Dia mau.

Dalam beberapa tahun ini, saya masih suka mendengar istilah ini dipakai. Dan saya makin melihat kesalahannya. Bukan Paulus yang salah menjadi tent-maker tetapi kita yang salah meniru Paulus.

Paulus melayani sebagai rasul di antara orang-orang Yunani. Dia datang ke suatu tempat, dia mulai menginjili dan kemudian mengajar mereka bagaimana menjadi murid Yesus. Ia tidak ingin orang-orang yang baru mengenal Tuhan itu menganggap dirinya sebagai pencari upah, dan dengan demikian pekerjaan Tuhan terintangi (band. 1 Kor 9:10-15). Itu sebabnya ia menjadi tukang kemah untuk menghidupi dirinya sendiri.

Di dalam 1 Korintus, Paulus berulang kali katakan bahwa dia berhak untuk terima upah, Tuhan sudah tetapkan bahwa imam yang melayani di tempat kudus mendapat penghidupannya dari situ dan Tuhan juga menetapkan bahwa mereka yang memberitakan Injil harus hidup dari pemberitaan Injil itu. Paulus tidak pakai semua hak itu karena kondisi pelayanannya yang berbeda, kalau boleh saya simpulkan: jemaat Korintus sangat bermasalah.

Sebetulnya Paulus tidak sepenuhnya hidup dari pekerjaannya sendiri (bagaimanapun mana mungkin bisnisnya bisa sukses sementara ia terus berpindah-pindah tempat), ia juga menerima tunjangan dari jemaat. Perhatikan ayat ini:

 "Jemaat-jemaat lain telah kurampok dengan menerima tunjangan dari mereka, supaya aku dapat melayani kamu!" (2 Kor 11:8).

Artinya Paulus menerima tunjangan dari jemaat lain. Tetapi ia tidak mau terima dari jemaat Korintus, walaupun dia berhak, karena kondisi jemaat Korintus. Mungkin karena ketidakdewasaan mereka atau mungkin karena berbagai masalah dalam jemaat, mengakibatkan pekerjaan Injil akan terhambat kalau Paulus menerima upah dari mereka (Itu sebabnya dia tulis soal ini kepada mereka cukup panjang dalam 1 Kor 9:10-15).

Pendek kata, saya simpulkan, Paulus menjadi "tent-maker" karena dia dipanggil menjadi rasul. Dia rela lakukan apa saja untuk panggilannya. Ketika panggilannya itu akan terhambat karena masalah uang (mungkin tidak ada yang kasih sehingga tidak ada uang atau mungkin seperti di Korintus ada yang ngomel kalau Paulus hidupnya dibiayai sehingga akhirnya Injil ditolak), maka dia akan bekerja menjadi "tent-maker". Dia lakukan itu dalam rangka menggenapi panggilannya.

Sekarang perhatikan bagaimana orang-orang Kristen hari ini menggunakan istilah "tent-maker":

1. Istilah ini dipakai ketika ada orang yang banyak melayani Tuhan (membawakan seminar, berkhotbah atau berkutat dalam pekerjaan misi) sambil tetap dalam profesi atau bisnisnya. Saya tidak bilang mereka salah, tetapi istilah ini tidak tepat. Kalau Tuhan memang tidak panggil dia untuk melayani penuh waktu, maka profesi dan bisnis adalah panggilannya. Jelas dia bukan "tent-maker", dalam arti seperti Paulus.

2. Istilah ini dipakai ketika ada orang yang mau melayani secara penuh waktu tetapi tidak rela meninggalkan profesi atau bisnisnya. Alasannya? Macam-macam. Bisa jadi karena lebih menghasilkan banyak uang (banyak pendeta di gereja besar, punya bisnis yang juga besar), bisa juga supaya tidak bergantung oleh gereja atau lembaga pelayanan (the power is in my hand, I can leave anytime).

Siapa sebenarnya "tent-maker" seperti Paulus hari ini?  Saya kira orang-orang yang melayani di pedalaman, memulai jemaat dari nol, tanpa ada lembaga misi yang mendukung, dan mereka harus berkebun sambil melayani, merekalah "tent-maker" seperti Paulus. Atau mereka adalah orang-orang yang terpaksa, karena alasan tertentu, tidak bisa meninggalkan pekerjaan mereka dan melayani penuh waktu padahal mereka rindu untuk itu. 

Paulus tidak bermaksud supaya dia ditiru, karena dulu dia menjadi tent-maker dalam keadaan 'darurat'. Itu bukan kebanggaan. Bukankah ketika seorang hamba Tuhan menjadi "tent-maker" seringkali itu menunjukkan ketidakdewasaan jemaat dan kurangnya kasih dan hormat kepada Tuhan dalam jemaat? 

Para hamba Tuhan yang menyebut diri "tent-maker" juga harus mempertanyakan motivasi mereka. Jujur istilah itu dulu menarik bagi saya bukan karena itu panggilan Tuhan tetapi karena "the power is still in my hand". Saya tidak perlu bergantung pada gereja, saya tidak bisa diatur-atur, saya bisa menjadi pengkhotbah keliling. Tetapi ketika Tuhan panggil kita menjadi hamba Tuhan, Tuhan mau kita menjadi "hamba". Bagi mereka yang melayani di pedalaman dan harus menjadi "tent-maker", juga harus ingat bahwa itu hanyalah keadaan darurat bukan seterusnya. Ketika keadaan berubah, mereka harus mengajar jemaat untuk menghidupi mereka. 

"Tent-maker" adalah istilah yang dulu memprihatinkan tetapi sekarang dianggap keren.

Monday, September 14, 2009

Tobit

Tobit adalah seorang yang sangat saleh, berasal dari suku Naftali. Pada waktu seluruh suku Naftali menyembah Baal, ia sendiri tetap setia menyembah di bait Allah di Yerusalem. Ia tidak pernah lupa untuk beribadah di sana pada hari raya, dan membawa persembahan sulung bagi Tuhan dan 30% dari penghasilannya untuk dibagikan kepada orang Lewi dan saudara-saudaranya. Ketika ia dan seluruh Israel dibawa ke pembuangan ke Niniwe, ia tidak meninggalkan kesalehannya. Ia tetap menjaga makanannya sesuai dengan apa yang difirmankan Tuhan dan tetap menolong saudara-saudaranya sesama orang Israel. Ia memberikan makan kepada yang lapar, pakaian kepada yang telanjang dan jika ia melihat salah seorang saudaranya mati, ia akan menguburkannya.

Di masa pemerintahan raja Salmaneser, Tuhan mengaruniakannya posisi yang baik di hadapan raja. Ia ditugaskan membeli barang-barang keperluan raja, maka ia sering bepergian ke Media. Di sana kemudian dia menitipkan 10 talenta perak kepada seorang temannya.

Pada masa pemerintahan Sanherib, keadaan berubah. Tobit tetap melanjutkan kesalehannya. Ketika raja membunuh orang Israel dan melemparkan mayatnya ke luar tembok kota Niniwe, Tobit akan mengambil mayat itu dan menguburkannya. Perbuatan ini membuat raja marah. Ia dicari untuk dibunuh dan seluruh hartanya disita.

Tidak lama setelah itu, Sanherib mati dan digantikan oleh anaknya. Ahikar, sepupunya yang mendapat posisi yang baik di kerajaan, membantunya untuk kembali ke Niniwe.

Pengalaman yang buruk itu tidak menghentikan Tobit untuk berbuat saleh. Ketika ia mendengar ada orang Israel yang mati di pasar, ia kembali mengurus penguburannya sementara orang lain mencela dia karena tidak kapok-kapok melakukan itu. Dalam keadaan najis karena menyentuh mayat, Tobit harus tidur di pekarangan. Dan malam itu, kotoran burung jatuh ke matanya dan membuat dia menjadi buta.

Sejak itu, istrinya harus bekerja menghidupi keluarga. Masalah di dalam keluarga memuncak sampai akhirnya istrinya pun memarahi dia “Dimana perbuatanmu yang baik dan persembahan dan dermamu selama ini?”

Dalam kesedihan, Tobit pun menangis dan berdoa kepada Tuhan, “lebih baik aku mati daripada hidup, ... jangan palingkan wajahMu daripadaku.”

Sementara itu di tempat lain, di Ekbatana di Media, seorang perempuan bernama Sarah anak dari Raguel, juga sedang dihina oleh pembantunya. Sarah sudah menikah 7X dan setiap kali sebelum malam pengantin, suaminya dibunuh oleh setan Asmodeus. Kata-kata pembantunya begitu menyakiti dia. Dalam kesedihannya, ia juga minta kepada Tuhan untuk mati.

Doa kedua orang ini didengar oleh Tuhan. Maka Tuhan mengutus Rafael, salah seorang penghulu malaikat untuk menolong mereka.

Tobit merasa waktu kematiannya sudah dekat karena dia sudah berdoa untuk segera mati. Dia memanggil Tobias anaknya dan memberikan pesan-pesan terakhir. Ia minta Tobias untuk memelihara ibunya, mengingat Tuhan, tetap melakukan kesalehan, mencari istri dari suku yang sama, dan mengambil uang yang pernah dia titipkan di Media. Tobit menyuruh Tobias mencari orang untuk menemaninya pergi ke Media, dan Tobias menemukan Rafael yang menyamar sebagai manusia.

Setelah setuju dengan pembayarannya, Tobias pun berangkat dengan Rafael. Di tepi sungai, mereka diserang oleh seekor ikan besar. Rafael menasihati Tobias untuk menangkap ikan itu, mengambil hati, jantung serta empedunya. Dia memberitahu Tobias bahwa ketika hati dan jantung ikan itu dibakar, asapnya akan mengusir setan, sementara empedunya bisa menjadi obat untuk menyembuhkan kebutaan ayahnya.

Dalam perjalanan, Rafael menyarankan Tobias supaya bermalam di tempat Raguel dan meminta dia untuk menikahi Sarah. Tobias pada awalnya menolak karena dia sudah mendengar cerita tentang Sarah yang 7 calon suaminya selalu mati pada malam pernikahan. Tetapi Rafael menenangkan Tobias dengan mengingatkan dia akan hati dan jantung ikan yang sudah mereka bawa yang bisa mengusir setan.

Setelah tiba di tempat Raguel dan menyampaikan maksud mereka, maka seluruh keluarga setuju. Di malam pernikahan mereka, sebelum tidur Tobias mengajak Sarah untuk berdoa kepada Tuhan, membakar hati dan jantung ikan seperti yang disarankan oleh Rafael. Asap itu mengusir setan Asmodeus dan malaikat membelenggunya.

Sementara itu Raguel begitu pesimis sehingga pagi-pagi dia bangun dan menggali kubur untuk Tobias! Dia sangat bersukacita ketika tahu bahwa Tobias hidup. Dia memuji Tuhan dan melangsungkan pesta besar untuk Tobias dan Sarah.

Sambil pesta berlangsung, Tobias meminta Rafael untuk mengambil uang di Media seperti yang dipesankan oleh Tobit, ayahnya. Tobias tahu bahwa orang tuanya pasti sudah sangat sedih. Maka ia ingin bergegas kembali ke rumah orang tuanya setelah hari-hari pesta berakhir.

Sementara itu, Tobit dan istrinya sangat sedih karena mengira Tobias tidak akan kembali lagi. Betapa sukacitanya ketika mereka dari jauh melihat Tobias datang. Ibunya memeluk dia erat-erat dan mereka bertangis-tangisan. Dan ketika Tobias melihat Tobit ayahnya, ia berlari memeluk ayahnya dan mengoleskan ayahnya dengan obat dari empedu ikan itu. Saat itu juga, Tobit bisa melihat kembali.

Tobit dan Tobias merasa sangat berterima kasih kepada Rafael dan mereka bertekad untuk memberikan upah yang besar kepadanya. Tetapi ketika mereka memanggil dia, Rafael memberitahu mereka siapa dia sebenarnya, dia memuji kesalehan Tobit dan menegaskan bahwa Tuhan mendengar doanya maka dia diutus untuk menolong mereka. Rafael kemudian menghilang dari hadapan mereka.

Tobit hidup sampai berusia 185 tahun. Sebelum meninggal ia berpesan supaya Tobias meninggalkan Niniwe karena kota yang jahat itu akan hancur. Tobit berpesan supaya Tobias tetap berbuat kesalehan, memberikan persembahan dan derma seumur hidupnya. Dia percaya bahwa suatu kali Tuhan akan memulihkan umatNya Israel kembali ke Yerusalem.

Tobias mematuhi pesan ayahnya, ia tinggal bersama dengan mertuanya di Media. Ia hidup sampai berusia 175 tahun dan sebelum meninggal dia mendengar tentang kehancuran Niniwe dan dia bersukacita karenanya.

(Tobit adalah salah satu kitab Apokrifa yang dimasukkan dalam Deuterokanonika oleh gereja Roma Katolik. Mungkin ini adalah kitab yang paling terkenal di antara kitab Apokrifa. Kitab Tobit adalah novel yang ditulis sekitar abad ke-2 SM. Nilai-nilai Yahudi dari kitab ini sangat kentara. Selama ini kalau membuat drama tentang penderitaan, referensi kita adalah kitab Ayub. Mungkin kitab ini bisa menjadi alternatif. It's a very interesting story indeed.)

Sunday, August 30, 2009

White Christmas

(Posted in Dec 16, 2006)

 

I'm dreaming of a white Christmas

Just like the ones I used to know

Where the treetops glisten, and children listen

To hear sleigh bells in the snow

I'm dreaming of a white Christmas

With every Christmas card I write

May your days be merry and bright

And may all your Christmases be white

Lagu yang sangat terkenal ini ditulis pada tahun 1942. Dan sekarang ini, dimana-mana, baik di hotel-hotel maupun di gereja-gereja, lagu ini dinyanyikan.

Tanpa ada maksud menjadi tukang kritik, saya ingin mengkritisi lagu ini.

Kalau kita perhatikan teksnya, maka dengan jelas terlihat bahwa lagu ini sama sekali bukan lagu Natal, dalam arti yang sesungguhnya. Lagu ini hanya menggambarkan perasaan emosional dan kehangatan memori pada waktu Natal, suatu perasaan yang bisa dimiliki oleh siapa saja yang dibesarkan di dalam lingkungan atau keluarga yang biasa merayakan Natal.

Jangan salah mengerti, saya sama sekali tidak menentang lagu ini dinyanyikan. Tetapi kalau lagu ini dinyanyikan dalam gereja, apalagi dalam konteks ibadah, maka itu sudah salah kaprah.

Kalau lagu ini dinyanyikan sebagai suatu lagu memori, nah itu baru benar. Tetapi mari kita kritisi sedikit lagi. Lagu ini menyatakan dengan tepat sekali perasaan orang-orang yang biasa tinggal di negara Barat, yang karena suatu alasan kemudian harus pergi jauh ke tempat lain dimana tidak ada salju pada waktu Natal. Memori dan kerinduan mereka akan kampung halaman menjadi bangkit ketika memasuki suasana Natal. Tetapi saya kira tidak ada orang yang sejak kecil hidup di Indonesia, akan memiliki memori seperti yang dituliskan dalam lagu ini. ‘White Christmas’ adalah Natal dalam konteks musim salju, yang memang tidak ada di Indonesia, kecuali mungkin di puncak beberapa pegunungan saja. Ditambah lagi kalimat ‘I’m dreaming of a white Christmas with every Christmas card I write’, makin tidak kontekstual bagi kita yang sekarang lebih banyak memakai email dan sms untuk mengucapkan selamat Natal. Maka perasaan dreaming seperti itu juga tidak kita rasakan.

Mari kita menyanyi, lagu apa saja, dengan pikiran dan perasaan (maksud saya jangan mematikan pikiran dan perasaan dengan menyanyikan lagu yang tidak kita pikirkan dan rasakan, apalagi dalam ibadah).