Friday, April 24, 2015

Adoniram Judson - oleh John Piper

Di dalam pesawat di tengah perjalanan panjang setelah pelayanan, saya membaca biografi singkat

tentang Adoniram Judson yang ditulis oleh John Piper. Berikut beberapa hal berkesan yang saya baca.

Adoniram Judson memasuki Burma (sekarang Myanmar) pada bulan Juli 1813, negara yang waktu itu sangat mengerikan. Beberapa bulan sebelum tiba di sana, Adoniram bertemu dengan William Carey di India yang memperingatkan dia untuk tidak pergi ke Burma. Negara itu penuh dengan kekerasan, dalam keadaan perang, resiko penyerbuan, pemberontakan terus menerus, dan tidak ada toleransi agama sama sekali. Semua misionaris yang ke sana sudah pergi meninggalkan Burma atau mati di sana. Tetapi Adoniram yang berusia 24 tahun tetap pergi ke sana dengan istrinya yang berusia 23 tahun dan baru menikah denganya selama 17 bulan. Adoniram akhirnya melayani di Burma selama 38 tahun sampai dia meninggal di usia 61 tahun, dan hanya satu kali pulang ke rumahnya di Amerika.

Harga yang dia bayar sangatlah besar. Piper menggambarkan dia seperti “benih yang jatuh ke tanah dan mati”. Tetapi, buah yang Tuhan berikan sangatlah besar. Adoniram Judson adalah seorang Calvinis dari gereja Baptis. Hari ini diperkirakan ada 3.700 gereja Baptis di sana dengan 617.781 anggota dan 1.900.000 pengunjung – buah dari benih yang mati ini.

Adoniram Judson adalah seorang anak yang sangat cerdas. Ibunya mengajarinya membaca hanya dalam satu minggu pada waktu dia berusia tiga tahun. Pada usia 16 tahun dia masuk Brown University dan tiga tahun kemudian lulus sebagai lulusan terbaik. Selama di universitas dia berteman dengan Jacob Eames yang adalah seorang Deist (kepercayaan bahwa sekalipun ada Tuhan pencipta, Dia sudah meninggalkan dunia berjalan sendiri). Adoniram Judson sangat terpengaruh dengan temannya ini dan akhirnya dia pun meninggalkan iman Kristen. Dia pergi ke New York untuk menjadi penulis teater. Tetapi di sana kehidupannya berantakan. Suatu hari dia pergi mengunjungi pamannya, dan di sana dia bertemu dengan seorang pemuda Kristen yang sangat teguh imannya. Itu membuat dia tertegun. Keesokan harinya dia menginap di sebuah penginapan kecil di sebuah desa. Pemilik penginapan meminta maaf karena orang di sebelah kamarnya sedang sakit parah dan mungkin akan mengganggu tidurnya. Betul, sepanjang malam itu dia mendengar orang di sebelah kamarya merintih dan terengah-engah. Dia sangat terganggu dan dia berpikir bahwa orang itu pasti tidak siap untuk mati. Tetapi kemudian dia berpikir tentang dirinya sendiri dan dia juga takut memikirkan kematiannya. Dia merasa bodoh karena seorang Deist tidak seharusnya takut dengan kematian (sebagian Deist percaya pada kehidupan setelah kematian, sebagian lagi tidak). Keesokan paginya dia bertanya kepada pemilik penginapan tentang orang di sebelah kamarnya. Pemilik penginapan berkata, “Dia sudah mati”. Adoniram tersentak lalu bertanya, “Tahukah siapa dia?” Pemilik penginapan itu berkata nama orang itu adalah Jacob Eames! Shocking! Berjam-jam lamanya Adoniram merenung tentang kematian temannya. Perlahan-lahan Adoniram bertobat dan dia masuk ke sebuah seminari.

Pada tanggal 28 Juni 1810, Adoniram menyerahkan diri menjadi misionaris. Hari yang sama dia bertemu dengan Ann dan jatuh cinta. Mereka menikah dan berangkat ke India 12 hari setelah menikah. Dari India mereka menuju Rangoon dan tiba di sana tanggal 13 Juli 1813. Penderitaan dimulai sebelum tiba di sana, anak mereka yang pertama meninggal dalam perjalanan menuju Burma. Di sana kemudian mereka berjuang melawan kolera, malaria, disentri, dan berbagai penderitaan dan penyakit lainnya. 

Setelah enam tahun di ladang pelayanan, mereka membaptis orang Burma pertama yang bertobat melalui pelayanan mereka. Pada tahun ke delapan, Ann sakit parah dan harus kembali ke Amerika. Dia baru kembali setelah dua tahun empat bulan! Sebelum dia tiba, berita terakhir tentang Ann yang diterima oleh Adoniram adalah sepuluh bulan yang lalu! Anak mereka yang kedua hidup selama 17 bulan dan kemudian juga meninggal.

Dua tahun kemudian mereka pindah dari Rangoon ke Ava, ibukota Burma. Pada tahun itu tentara Inggris mulai menyerang Burma dan semua orang kulit putih dianggap mata-mata oleh pemerintah Burma. Adoniram masuk penjara. Kakinya dibelenggu dan pada malam hari, kaki yang terbelenggu itu digantung pada sebilah bambu panjang sehingga hanya kepala dan bahunya yang menyentuh lantai. Ann sedang mengandung anak mereka yang ketiga waktu itu, tetapi tiap hari dia berjalan 3km ke istana memohon supaya Adoniram dilepaskan. Hampir setahun kemudian, Adoniram dipindahkan ke penjara lain yang lebih jauh. Tubuhnya kurus kering, matanya kosong, pakaiannya compang-camping, timpang karena penyiksaan, dan di sana gigitan nyamuk dari sawah hampir membuat para tahanan menjadi gila. Anaknya sudah lahir waktu itu dan Ann hampir sama sakitnya dan kurusnya seperti Adoniram, tetapi dia masih berusaha merawat bayinya dan juga Adoniram semampunya. Air susunya menjadi kering dan dia harus memohon kepada wanita lain di desa untuk menyusui bayinya.

Pada tanggal 4 November 1825, Adoniram dibebaskan karena pemerintah membutuhkan penerjemah untuk bernegosiasi dengan Inggris. 17 bulan dalam penjara berakhir! Tetapi kesehatan Ann memburuk dan 11 bulan kemudian dia meninggal. Lalu 6 bulan kemudian anak ketiga mereka juga meninggal.

Selama kurang lebih 3 tahun, Adoniram hidup dalam keadaan depresi. Dia membuang gelar kehormatan Doctor of Divinity dari Brown University yang pernah diterimanya. Dia memberikan semua hartanya di Amerika kepada gereja. Dia meminta gajinya dikurangi menjadi seperempat. Dia pergi membangun pondok di hutan dan hidup sendirian. Dia menggali kubur di sebelah pondok dan merenungi tahapan tubuh membusuk ketika menjadi mayat. Dia merasa sangat hancur dan berkata: “Allah bagiku adalah the Great Unknown. Aku percaya kepada-Nya, tetapi aku tidak menemukan-Nya”.

Titik balik bagi Adoniram adalah ketika adiknya meninggal pada tanggal 8 May 1829. Karena adiknya yang dia tinggalkan 17 tahun sebelumnya, dulu tidak percaya Kristus, tetapi meninggal sebagai orang percaya. Adoniram keluar dari kegelapan.

Pada tahun 1831, Adoniram melaporkan kebangunan mulai terjadi. Dia melihat dimana-mana orang ingin tahu tentang kekristenan. Dia dan teman-temannya membagikan hampir 10.000 traktat kepada orang yang meminta. Sebagian orang bahkan berjalan dua atau tiga bulan hanya untuk bertemu dengan dia dan bertanya tentang Injil. Penuaian besar-besaran dimulai.

Tetapi, penderitaannya untuk Injil belum selesai. Adoniram menikah lagi dengan Sarah pada tahun 1834, delapan tahun setelah Ann meninggal. Mereka memperoleh delapan anak dan hanya lima yang hidup sampai dewasa. Sebelas tahun kemudian, Sarah sakit parah dan mereka kembali ke Amerika. Tetapi, di tengah perjalanan Sarah meninggal. Sampai di Amerika, Adoniram meninggalkan tiga orang anaknya yang besar di sana, lalu kembali ke Burma.

Adoniram kemudian menikah lagi pada usia 57 tahun dengan Emily yang berusia 29 tahun. Mereka punya satu orang anak. Dan Tuhan memberi mereka empat tahun yang sangat bahagia dalam hidup mereka. Ketika Adoniram sakit, sementara Emily mengandung anak yang kedua, seorang temannya menemani Adoniram pergi berobat ke Perancis. Tetapi di tengah perjalanan, Adoniram meninggal pada usia 61 tahun.

Sepuluh hari kemudian, Emily melahirkan anak mereka yang kedua yang langsung meninggal saat itu juga. Baru empat bulan kemudian Emily menerima berita bahwa Adoniram sudah meninggal. Dia pun kembali ke Amerika dan meninggal tiga tahun kemudian karena tuberculosis pada usia 37 tahun.

Kisah pelayanan mereka di Burma berakhir. Tetapi pada waktu Adoniram dan Emily meninggal, terjemahan Alkitab sudah selesai, kamus Inggris-Burma sudah selesai dan sudah ada ratusan orang Burma yang menjadi pemimpin gereja. Hari ini, ada sekitar 3700 gereja Baptis di Myanmar yang kalau ditelusuri jejaknya berasal dari pekerjaan kasih satu orang ini.

Saya tersentuh sekali membaca kisah Adoniram Judson, “benih yang jatuh ke tanah dan mati” ini. Beberapa waktu ini, dalam kelelahan, dalam kesulitan, saya mengingat lagi kisahnya dan saya tidak berani mengeluh. Bagaimana saya, di posisi saya, juga bisa menjadi “benih yang jatuh ke tanah dan mati” seperti dia?

Piper menutup buku pendek ini dengan berkata: “Pertanyaannya bagi kita bukanlah apakah kita akan mati, tetapi apakah kita akan mati dengan cara yang menghasilkan banyak buah”.

Buku singkat ini bisa di-download gratis di: http://www.desiringgod.org/books/adoniram-judson

Saturday, March 14, 2015

"Choosing" - Memilih Untuk Menginginkan Allah

Pagi ini saya membaca sebuah renungan dari buku The Strength of a Man tulisan David Roper berjudul “Choosing”. Saya ingin mengecapnya lebih lama dengan meringkas, menerjemahkan dan menuliskan ulang renungan ini dengan kata-kata saya sendiri.


CHOOSING 
-David Roper-

Saya menerima sebuah surat dari seorang teman lama saya di Kenya. Ia adalah seorang pastor bagi para pastor. Surat yang pedih – sebuah permintaan tolong.

“Aku ingin mengenal Tuhan,” tulisnya. “Aku ingin mencintai-Nya. Aku ingin mengenal kehadiran Yesus Kristus melalui perantaraan Roh Kudus. Aku ingin... tetapi mengapa aku seperti tidak terlalu menginginkannya!? Aku seperti orang yang hanya berdiri di pinggiran sambil melihat tanpa menginginkan! Dunia dipenuhi terang kemuliaan Allah, dan hanya mereka yang melihat kemuliaan itu yang akan membuka sepatunya, seperti Musa dulu melihat semak terbakar lalu membuka kasutnya dan menyembah! Tetapi bahkan aku tidak tahu bagaimana membuka sepatuku! Aku tidak tahu bagaimana tergetar dan ingin menyembah! Tolonglah aku, paling tidak untuk membuka tali sepatuku ini saja!”

Reaksi saya awalnya adalah seperti reaksi Yohanes Pembaptis kepada Yesus. Siapa saya ini sehingga boleh mengikat, apalagi membuka, sepatu teman saya? Melihat pelayanannya bagaimana mungkin saya meragukan cintanya kepada Kristus? Tetapi saya tahu apa yang dia rasakan karena saya sendiri bergumul dengan sampah dalam pikiran saya dan kekerasan hati saya.

A.W. Tozer pernah menulis, “Allah adalah pribadi yang bisa dikenal, semakin lama semakin intim, jika kita mempersiapkan hati kita untuk mengagumi keintiman itu.” Itu realita. Allah adalah pribadi yang hidup yang bisa dikenal. Tetapi, ah... tidak semudah itu! Kita merindukan keintiman, tetapi kita sering tidak cukup menginginkannya. Allah berespon ketika kita mendekatkan diri kepada-Nya - sekecil apapun, tetapi kita hanya bisa mendekat kepada Dia sejauh yang kita inginkan.

Allah tidak bermain petak umpet. Dia tidak sulit untuk ditemukan, tetapi Dia tidak akan memaksakan kasih-Nya kepada kita. Seperti yang dijanjikan oleh Musa, “di sana engkau mencari TUHAN, Allahmu, dan menemukan-Nya, asal engkau menanyakan Dia dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu” (Ulangan 4:29). Maka seberapa dekatnya kita dengan Allah bergantung pada seberapa kita menetapkan hati untuk mengenal dan mencintai Dia. Ini masalah pilihan.

Maka, pertama-tama, kita harus sangat menginginkan Tuhan, seperti dikatakan pemazmur:

Satu hal telah kuminta kepada TUHAN,
itulah yang kuingini:
diam di rumah TUHAN seumur hidupku,
menyaksikan kemurahan TUHAN
dan menikmati bait-Nya (Mazmur 27:4)

Selama kita hanya merasa “samar-samar tidak puas” dengan jalan hidup kita sekarang dan juga tidak terlalu menginginkan hal-hal rohani; selama kita hanya seperti itu maka hidup kita hanya akan berhenti menjadi melankolis. Kita sering berkata, “Saya tidak bahagia; saya tidak terlalu sukacita atau penuh damai. Mungkin memang beginilah hidup.” Pikiran seperti itulah yang menghalangi kita untuk BERUSAHA mencari kehidupan dari Allah. Maka tugas pertama kita adalah menghalau perasaan “samar-samar tidak puas” itu dan jujur dengan diri sendiri. Apakah kita menginginkan Allah ATAU tidak?

Kalau kita menginginkan Allah, kita harus tekun mengejar Allah melalui renungan pribadi dan ibadah, teratur membaca Firman Tuhan dan menyiraminya dengan doa, pujian, penyembahan, dan meditasi siang dan malam.

Kalau kita menginginkan Allah, kita juga harus rela untuk menghadapi dosa kita. Dosa yang sekarang, yang terus membandel, menghalangi penglihatan kita akan Allah. Seperti yang dikatakan Yesus, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka [dan hanya mereka] akan melihat Allah” (Matius 5:8). Dosa hanya menggantikan kehausan yang satu dengan kehausan yang lain. Dosa membatasi keintiman kita dengan Allah.

Dan kalau kita menginginkan Allah, kita harus menunggu. Allah akan menyatakan diri kepada kita. Penundaan adalah bagian yang tidak bisa dihindarkan dari proses ini. Paulus mendorong kita untuk tidak jemu-jemu berbuat baik, “karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” Tuaian tidak datang di penghujung hari ini. Ia akan datang nanti.

Allah tidak akan membiarkan kita menunggu hanya untuk terus memeriksa diri, menganalisa hati dan pikiran, lalu menjadi lelah dengan semuanya. Tidak! Janji Tuhan itu baik, "Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu." (Yakobus 4:8).

Ini masalah pilihan!

Wednesday, March 11, 2015

"Boros" dan "Pelit"

Beberapa hari lalu, saya membaca bagian ini dari kitab Ulangan versi parafrase dari The Message:

When you happen on someone who’s in trouble or needs help among your people with whom you live in this land that God, your God, is giving you, don’t look the other way pretending you don’t see him. Don’t keep a tight grip on your purse. No. Look at him, open your purse, lend whatever and as much as he needs. Don’t count the cost. Don’t listen to that selfish voice saying, “It’s almost the seventh year, the year of All-Debts-Are Canceled,” and turn aside and leave your needy neighbor in the lurch, refusing to help him. He’ll call God’s attention to you and your blatant sin. Give freely and spontaneously. Don’t have a stingy heart. The way you handle matters like this triggers God, your God’s, blessing in everything you do, all your work and ventures. There are always going to be poor and needy people among you. So I command you: Always be generous, open purse and hands, give to your neighbors in trouble, your poor and hurting neighbors. (Deuteronomy 15:7-11)

The Message memberi beberapa nuansa yang menarik (walaupun tidak mengubah arti) jika dibandingkan dengan terjemahan bahasa Indonesia:

Jika sekiranya ada di antaramu seorang miskin, salah seorang saudaramu di dalam salah satu tempatmu, di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau menegarkan hati ataupun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin itu, tetapi engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan. Hati-hatilah, supaya jangan timbul di dalam hatimu pikiran dursila, demikian: Sudah dekat tahun ketujuh, tahun penghapusan hutang, dan engkau menjadi kesal terhadap saudaramu yang miskin itu dan engkau tidak memberikan apa-apa kepadanya, maka ia berseru kepada TUHAN tentang engkau, dan hal itu menjadi dosa bagimu. Engkau harus memberi kepadanya dengan limpahnya dan janganlah hatimu berdukacita, apabila engkau memberi kepadanya, sebab oleh karena hal itulah TUHAN, Allahmu, akan memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu dan dalam segala usahamu. Sebab orang-orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu; itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, demikian: Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu." (Ulangan 15:7-11)

Banyak orang “boros” untuk dirinya sendiri. Boros untuk makan di tempat mahal, boros untuk membeli gadget, boros untuk membeli barang mewah, semua untuk dirinya sendiri. Tetapi sebaliknya “pelit” untuk orang lain.

Banyak juga orang yang “boros” untuk orang lain, tetapi untuk orang yang bisa memberi keuntungan kembali bagi dirinya – baik ekonomi atau penghormatan. Banyak juga orang yang “boros” untuk orang lain karena hobi. Aneh? Nggak! Misalnya dia hobi membeli baju, maka dia membeli banyak baju yang mahal hanya untuk dipakai satu atau beberapa kali lalu “disalurkan kepada yang membutuhkan”. Itu bahkan menjadi excuse untuk dia bisa terus beli baju karena tokh disalurkan dan “menjadi berkat”. Atau misalnya dia hobi belanja, maka dia akan belanja apa saja yang dia mau tanpa berpikir banyak tentang kegunaannya. Setelah sekian lama tidak dipakai… baru berpikir mau diberikan kepada siapa.

Ulangan 15:7-11 mengingatkan kita supaya “boros” untuk orang lain. Tetapi bukan karena semua motivasi yang salah tetapi karena “orang itu membutuhkan” dan “Tuhan memerintahkan”. That simple!

Lihat orang yang membutuhkan. Lihat sesamamu yang miskin dan terluka. Jangan pura-pura tidak melihat. Jangan tahan dompetmu. Jangan pelit. Beri apa yang dia butuhkan. Beri pinjaman sekalipun dia tidak mampu membayar. Bagi orang Israel waktu itu, setiap tahun ketujuh, semua hutang kepada sesama orang Israel harus dibebaskan. Perintah Tuhan adalah, sekalipun besok adalah tahun ketujuh dan hutang orang itu besok dihapus, TETAP berikan! That simple!

Orang yang miskin dan membutuhkan akan selalu ada di sekitar kita. Tidak akan pernah habis. Ulangan 15:7-11 tidak mengajarkan supaya kita tidak memakai harta yang Tuhan berikan untuk kepentingan diri sendiri. Tidak. Kita boleh memakainya. Tetapi, alangkah indahnya jika kita terbiasa untuk tidak “boros” bahkan cenderung “pelit” jika itu untuk diri sendiri, sebaliknya “boros” untuk orang yang miskin dan membutuhkan.

Mungkin istilah saya kurang baik. Bukan “boros” tapi “murah hati”. Bukan “pelit” tapi “sederhana”.

Maka saya parafrase lagi:
“Alangkah indahnya jika kita terbiasa hidup lebih “sederhana” supaya kita bisa lebih “murah hati” memberi kepada orang yang miskin dan membutuhkan.”

Di dalam konteks lain, Tuhan Yesus berkata: “Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. (Mat 25:40)

Monday, March 09, 2015

Redefining "Romantic" - Mr.Brown - Sweet Eighteen

Just bumped into this post from Mr.Brown http://www.mrbrown.com/blog/2015/03/18-years.html (for those who have never heard about him: Mr.Brown is known for his commentary of Singapore's socio-political scene and has been given the affectionate title of Singapore's "blogfather", and he is a Christian with a family with three kids). This post is about how he celebrated his 18th anniversary day with his wife.

I think he writes it so well and, in a way, compels us to redefine the meaning of "romantic". Enjoy the reading!

Mr. Brown: Sweet Eighteen



It was our 18th wedding anniversary. Or as we like to call it in our family, Sunday.

We had a most romantic day celebrating our 18 years of marital bliss.

Breakfast was a romantic affair of me grabbing a quick beehoon alone downstairs at the coffee shop while Joy was tasked with buying prata for my wife, as the wife got Faith and the rest of the kids ready for Sunday service.

Then lunch was another romantic meal at the Block 105 Market & Food Centre, the highlight of which was I managed to get my wife her favourite nasi lemak without too much queuing, while she fed Faith with chicken rice that Isaac queued up for (children after 10 years of age are excellent for food buying duties).

Then the wife had the romantic duty of doing the laundry plus keeping an eye on Faith, while I took Isaac with me to the office because I had work to complete. Joy had maths tuition so we had one less kid in the house, for an hour or so, which was a very welcome and romantic feeling.

At the office, I spent my Sunday working while Isaac did the English assessment book that the wife assigned him to do. Then he read a little from his book "The One and Only Ivan", that his younger sister had already completed reading some days ago. He also got to play with some of the toys in my office. This father and son briefly discussed the merits of the Suzuki Swift Bumblebee from the Takara Tomy Transformers: Alternity series of toys.

After two hours at the office with my son, I locked up the office and took him to Funan Mall, where I needed to buy some DDR3 1066 RAM for the used 2009 27-inch iMac I bought for the wife to replace her aging 2006 20-inch iMac.

That 2006 iMac was still working, but I thought she deserved something that could handle HD YouTube videos, that had a bigger screen, and a speaker that didn't go pffffft when there was just a whiff of bass.

Memory is really expensive these days, $75 for one piece of 4GB. I bought a pair (wincing at the $150 bill) so I could bump the memory in the "new" iMac from 4GB to 12GB. The wife would never know the difference but I would.

I picked up the RAM and the basic wired keyboard the wife asked for and as a treat, I let Isaac browse the toy stores at the fifth level of Funan Mall. "See only," I said to my son, "Not buy ah."

He complained a little about it but was content to look at the toys on display.

Then my Mom called and said she needed a ride home from her mahjong session, and I called my wife to let her know I would be picking Mom home then we could all have dinner together when I drove back. My wife romantically managed an "OK", the kind of distracted "OK" that came from having to deal with laundry, still-wet school shoes, and a bottle of ketchup broken by Faith. My autistic firstborn likes ketchup too much, and knows where we keep it in the kitchen.

We then took the kids and my Mom out for a romantic dinner at the kopitiam. We usually have dinner at my wife's parents' place on a Sunday but my in-laws were at some RC dinner so no 夜市人生 to watch and tweet about this time.

Halfway through the romantic family dinner, Faith spilled grape soda on herself, and we had to clean her up. The wife gave a loud "Tsk!"

And then Isaac complained a little about the lack of fries in his Fish and Chips (but ate all of it anyway). As usual, Joy could not finish her meal (it was spaghetti with Irish meatballs), and got a mild chiding from my mom about it.

"Look at you," Mom said, "So skinny and short! You are still wearing your school uniform from Primary One! In Primary Four! How are you going to grow taller without eating enough?"

"Hey, I am not a midget, ok?" Joy replied.

"Hahahahaha!" my Mom laughed heartily.

Mom went for her Sunday Qigong session and we went home after dinner. The wife started preparing the kids' school uniforms because the next day was Monday. Then I watched an older episode of local animated series, Heartland Hubby, with the kids because they are my biggest fans (I voice one of the characters, the arch enemy of the hero).

We tucked the kids into bed, then the wife said she can't seem to find her ezlink card, so I offered to change out of my pajamas, and go downstairs to look for it in the car.

While at the car, I decided to make a late night grocery run to Sheng Siong. I picked up the cereal that Joy likes, plus some toilet rolls, and a 2-litre bottle of Meiji fresh milk (because the one currently in the fridge was already past the due date. How did I know? My stomach told me a few days ago).

I know, very romantic things to buy, right? I also picked up a little something extra for the wife.

When I got home, the wife was already done with the remaining housework and was watching Luke kiss Lorelai at the gazebo in Gilmore Girls.

"I couldn't find your ezlink card in the car, dear. But I did buy some groceries. And your favourite ice-cream."

"Oooh, Magnum!" she said, and got one for herself and one for me, and we continued watch Gilmore Girls together.

Then, just as we finished our TV show and ice-creams, Faith came out of her bedroom.

"She wet herself and her bed, aiyoh," the wife said, with a tired sigh.

"You clean her up and change her pajamas, I will clean her bed and change the bedsheets, and soak the stained sheets in the kitchen toilet," I said.

It was almost midnight, a few minutes before the end of our wedding anniversary.

"That wasn't the most romantic wedding anniversary day hor?" she laughed.

"Who said?" I reply, and gave her a quick peck.

We lay in bed, staring at the ceiling lit by our bedside lamp, the room aglow with faint yellow light.

The wife turned to me and said, "There is a young lizard on the ceiling."

"It won't kachao you lah."

"But what if trips and falls on me? Like wahoohoohoooooo!"

"Don't be silly. Hanging upside down is what lizards do all day."

Then we both laughed.

Married for eighteen years, together for twenty six. This is what it comes down to. Juggling three kids, changing the adult diaper of our fourteen-year-old, and talking about a lizard on the ceiling at night.

Wouldn't trade it for anything in the world.

Friday, February 13, 2015

Membaca: Martin Luther dan John Sung

Saya sering mencoba memanfaatkan waktu untuk membaca buku. Bulan lalu waktu pulang ke Indonesia selama empat hari, saya sempat membaca dua buku biografi. Sekedar sharing apa yang berkesan bagi saya.

Pertama adalah Martin Luther: Lessons From His Life and Labor yang ditulis oleh John Piper.
Buku ini bisa di-download di http://www.desiringgod.org/books/martin-luther

Luther adalah seorang pengkhotbah. Setiap minggu dia berkhotbah beberapa kali, bahkan sering dua atau tiga kali dalam sehari. Itu di luar jadwal dia mengajar, belajar, menulis dan konseling. Di dalam salah satu doanya dia berkata, “Tuhan Allah, aku ingin berkhotbah sehingga engkau dimuliakan. Aku ingin berbicara tentang-Mu, memuji-Mu, memuji nama-Mu. Sekalipun aku mungkin tidak bisa berkhotbah dengan baik, maukah Engkau menjadikannya baik?”

Luther juga adalah seorang family man, dia tahu beratnya masalah keluarga. Dia menikah dan memiliki enam orang anak. Salah satu anaknya meninggal waktu masih kecil. Tetapi di dalam masa dukacita yang besar itu pun, dia tetap berkhotbah. Pada hari minggu sore, seringkali setelah selesai berkhotbah dua kali hari itu (dengan khotbah yang berbeda), ia memimpin lagi ibadah keluarga sepanjang satu jam yang juga dihadiri para tamu.

Luther juga seorang churchman. Dia terlibat dalam hampir semua kontroversi dan pertemuan gereja di masanya. Selain itu dia menulis banyak sekali tulisan untuk gereja, hampir satu tulisan setiap dua hari! Selama bertahun-tahun!

Semua kesibukannya itu tidak menghalangi dia untuk tetap belajar Akitab. Dia sangat memandang tinggi pentingnya belajar dan mengajarkan seluruh Alkitab (bukan hanya sebagian) kepada gereja. Luther berkata sangat bahaya jika para hamba Tuhan berpikir tidak perlu lagi belajar, mereka harus terus belajar “sampai yakin bahwa mereka sudah mengajar sampai mematikan setan dan sudah lebih terpelajar daripada Allah sendiri dan semua orang-orang kudus” – yang artinya tidak akan pernah.

Terakhir, Luther sangat menekankan doa dan bergantung pada anugrah Allah. Pada tanggal 18 Februari 1546, Luther meninggal dan kalimat terakhirnya yang dicatat adalah: “Kita adalah pengemis-pengemis. Ini benar.”

Buku kedua yang saya baca adalah John Sung: My Testimony yang diterjemahkan oleh Ernest Tipson. John Sung boleh dikatakan adalah pengkhotbah yang paling berpengaruh di Asia Tenggara pada abad ke-20. Buku ini sudah lama terlupakan dan diedit kembali oleh Michael Poon dan diterbitkan oleh The Centre for the Study of Christianity in Asia – Trinity Theological College. Saya tidak tahu dimana buku ini bisa dibeli selain di toko buku online TTC. http://books.ttc.edu.sg/products-page-2/csca-publications/csca-historical-reprints-series/john-sung-my-testimony/

Berbeda dari buku biografi John Sung yang lain, buku ini ditulis oleh John Sung sendiri (autobiografi). Menarik karena saya jadi membaca tentang kehidupan John Sung dari sudut pandang dia sendiri – bagaimana masa kecilnya, bagaimana perjuangannya untuk sampai dan kuliah di USA dan menerima gelar doktor dalam bidang Kimia, bagaimana kesulitan demi kesulitan (yang super amat besar!) dia tanggung selama di sana, dan bagaimana akhirnya dia meninggalkan USA untuk kembali menjadi hamba Tuhan di China.

Dua kisah yang sangat menarik:

Pertama adalah bagaimana dia menerima pengalaman rohani yang dia sebut sebagai momen kelahiran baru baginya. Mengenai peristiwa itu, John Sung berkata:

Jiwaku seperti sedang mengikuti Yesus yang tersalib, aku seperti orang berdosa yang juga tersalib, menundukkan kepalaku dan membungkuk, mengikuti dengan perlahan di belakang Tuhan. Di satu sisi mengikuti Tuhan berjalan menuju Golgota, dan di sisi lain tahu bahwa beban yang aku pikul tidak sanggup aku tanggung, ia menghimpitku sampai mati. Yesus sudah tergantung tinggi di kayu salib, kepala-Nya di sisi yang satu, kedua tangan-Nya meneteskan darah, kesusahan-Nya menyebabkanku sangat sedih. Setelah itu aku berlutut di kaki salib dan rebah ke tanah. Aku terus menangis sampai tengah malam. Haleluya! Semua dosaku terlepas. Karena itu tubuhku menjadi segar dan ringan seperti burung yang sedang terbang. AKu menari dan beryanyi memuji Tuhan. Lalu aku mendengar bisikan, berkata: “Anakku, dosamu sudah diampuni.”

Pengalaman itu (walaupun saya tidak setuju itu disebut momen kelahiran barunya) merubah hidupnya menjadi penginjil yang sangat diurapi oleh Tuhan. Dari kecil John Sung sudah mengikut papanya yang adalah seorang pendeta di China. Dari remaja dia juga sering berkhotbah. Dia adalah orang yang sangat pandai – jenius bahkan – sehingga namanya terkenal di USA karena prestasinya di Universitas, padahal dia kuliah sambil bekerja sangat banyak dan sakit-sakitan karena kemiskinannya. Tetapi dia sempat kehilangan imannya dan dia mulai mempelajari berbagai kepercayaan lain. Momen itu mengubah dia menjadi sangat bersemangat hidup bagi Tuhan. Saking semangatnya, pimpinan sekolah teologi tempat dia belajar menuduh dia sudah gila.

Maka kisah kedua yang menarik adalah ketika dia harus dikurung di rumah sakit jiwa karena tuduhan menjadi gila. Di sana, sambil menunggu dibebaskan, dia membaca Alkitab sebanyak 40X bolak-balik. Awalnya dia hanya akan berada di situ 40 hari untuk di-observasi, tetapi akhirnya dia tidak dibebaskan. John Sung hampir putus asa karena tidak ada harapan untuk dibebaskan dari rumah sakit jiwa. Akhirnya melalui berbagai cara, Tuhan menolong dia keluar dari rumah sakit jiwa setelah 193 hari. Bagi John Sung, rumah sakit jiwa itu adalah tempat Tuhan mengajar dia Alkitab dan tempat Tuhan mendidik dia, mengubah temperamennya yang buruk, membuat dia berserah kepada Tuhan.

John Sung berkata: “Sampai hari ini aku menyebut rumah sakit jiwa itu sebagai sekolah teologiku. Di sana aku menerima pengajaran dari Roh Kudus dan mengerti kebenaran-kebenaran yang ajaib dan dalam”

Membaca tentang dua orang besar ini: Martin Luther dan John Sung, rasanya dosis yang cukup bagi saya dalam empat hari (agak kelebihan malah). Itu sebabnya saya menulis ini, sambil mengingat lagi apa yang saya baca. Dua orang ini diberikan karunia berlimpah oleh Tuhan dan mereka menyerahkan semuanya untuk dipakai oleh Tuhan. Dua orang ini mengalami penderitaan begitu banyak tetapi tak pernah mundur melayani Tuhan. Dua orang ini terus dikenang sampai sekarang, bukan karena hartanya, tetapi karena penyerahan dirinya kepada Tuhan.

Friday, January 23, 2015

Siang dan Malam

Pagi ini saya membaca sebuah doa di dalam Book of Common Prayer (buku doa dari gereja Anglikan). Berulang-ulang saya baca dan renungkan doa yang sangat indah ini:

"O God, the King eternal, who divides the day from the night and turns the shadow of death into morning: Drive far from us all wrong desires, incline our hearts to keep Your law, and guide our feet into the way of peace; that, having done Your will with cheerfulness while it was day, we may, when the night come, rejoice to give You thanks; through Jesus Christ our Lord. Amen." (Book of Common Prayer)

"Ya Allah, Raja yang kekal, yang memisahkan siang dari malam dan mengubah bayangan kematian menjadi pagi: Jauhkanlah dari kami keinginan yang salah, condongkanlah hati kami untuk memegang hukum-Mu, dan tuntunlah kaki kami ke jalan kedamaian; supaya, setelah kami melakukan kehendak-Mu dengan gembira selama masih siang, kami dapat, ketika malam datang, bersukacita untuk mempersembahkan syukur kepada-Mu; di dalam Yesus Kristus Tuhan kami. Amin."


Ada siang dan ada malam. Di dalam Alkitab, "siang" seringkali menjadi simbol ada kehidupan dan ada kesempatan, sementara "malam" menjadi simbol kematian dan selesainya segala sesuatu.

Doa ini memohon kepada Tuhan yang memisahkan siang dan malam itu untuk menolong kita, supaya waktu siang kita hidup dengan benar. Waktu siang, kita diajak memohon kepada Tuhan untuk menjauhkan kita dari semua keinginan dan hasrat yang salah - itu berarti kemarahan, keserakahan, kemalasan, pemborosan waktu, pelampiasan hawa nafsu, dan segala macam hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Waktu siang, kita memohon supaya Tuhan mencodongkan hati kita (yang selalu cenderung condong ke arah lain) untuk memegang hukum-Nya. Waktu siang, kita memohon supaya Tuhan menuntun kaki kita, langkah kita, ke jalan kedamaian. Betapa manisnya kata itu: damai.. peace.. Dengan demikianlah kita melakukan kehendak Tuhan sepanjang hari - selama siang - dengan gembira!

Doa ini memohon kepada Tuhan untuk menolong kita selama masih siang, supaya ketika malam datang, dengan sukacita kita bisa mempersembahkan syukur kepada-Nya. Betapa sering kebalikannya yang terjadi. Kita sembarangan hidup pada waktu siang dan hanya merasa gagal pada waktu malam. 

Doa ini juga mengingatkan kita bahwa tidak selamanya hari akan "siang", tidak selamanya kita akan hidup, tetapi akan datang "malam", dimana tidak ada seorang pun yang bisa berbuat apa-apa lagi.

Tuhan, tolong kami di dalam Yesus Kristus Tuhan kami. Amin.

Tuesday, January 06, 2015

Starting 2015

It's been 6 days into 2015 now! Time flies real fast and the life of human being is like a vapor!

Setiap kali memasuki tahun yang baru, selalu muncul harapan yang juga baru. Pernah berpikir apa hubungannya? Aneh bukan? Perasaan manusia sangat dipengaruhi oleh "tonggak penanda waktu". Kita selalu ingin ada penanda dalam perjalanan hidup. Kita selalu ingin merasa ada sesuatu yang sudah selesai dan sekarang memulai lagi yang baru. "Tonggak penanda waktu" itulah yang dirayakan. Kalaupun kita tidak punya "pergantian tahun" atau "pergantian bulan" dan tanggalan terus berjalan mulai dari tanggal 1 terus sampai tanggal 735984 terussss begitu sampai dunia selesai, saya yakin manusia akan membuat "tonggak penanda waktu" sendiri! Mungkin tiap tanggal kelipatan 100 akan dirayakan, lalu kelipatan 500 dirayakan besar-besaran, dst :-) Manusia tidak mungkin bisa hidup tanpa "tonggak penanda waktu."

Itulah sebabnya pergantian tahun selalu dirayakan. Rasanya ada satu periode besar yang sudah dilewati dan sekarang memasuki periode yang baru, yang selalu identik dengan kesempatan baru, lembaran baru, harapan baru.

Selama tahun 2014, berulang kali di berbagai kesempatan, ketika ditanya apa yang ingin didoakan, saya selalu menjawab: "Supaya saya hidup dalam holiness dan humbleness." Sesederhana itu. Tapi juga sesulit itu. Tetapi, somehow, saya betul-betul menyadari anugrah Tuhan yang menopang hidup saya. Saya percaya doa demi doa yang dipanjatkan untuk saya tidaklah sia-sia. Maka saya masih akan minta didoakan hal yang sama di tahun 2015 :-) Saya berharap di akhir tahun 2015 nanti, saya bisa melihat lebih jelas lagi karya Tuhan dalam hidup saya. Itu harapan saya di periode yang baru ini.

Selama tahun 2014, studi saya berjalan tidak buruk-buruk amat walaupun juga tidak bagus-bagus amat. Kadang berharap supaya saya jauh lebih pintar dari sekarang ini. Kadang berandai-andai kalau saja saya memulai studi doktoral ini 10 tahun yang lalu waktu sel-sel otak masih jauh lebih lincah dan banyak. Tapi mungkin yang saya butuh - dan bisa - lakukan adalah lebih konsentrasi dan bekerja lebih keras. Itu juga harapan saya di periode yang baru ini.

Selama tahun 2014 juga ada banyak hal yang Tuhan ajarkan kepada saya. Kadang saya merasa Tuhan mengulang-ulang pelajaran yang sama kepada saya. Di satu sisi saya bersyukur untuk kesabaran Tuhan mengajari saya, di sisi lain sedih juga karena itu berarti saya tidak lulus-lulus dari pelajaran yang sama. Saya ingin naik kelas - dalam banyak hal. Itu juga harapan saya di periode yang baru ini.

Terakhir, selama tahun 2014, kita dikejutkan dengan beberapa peristiwa hilangnya atau jatuhnya pesawat penumpang. Di penghujung tahun 2014, giliran pesawat Air Asia. Doa saya bagi keluarga korban. Peristiwa-peristiwa seperti itu mengingatkan saya betapa fragile-nya manusia. Setiap saat, kapan pun, lewat cara bagaimana pun, nyawanya bisa melayang dan hidupnya di dunia berakhir. Life is like a vapor! Betapa pentingnya bagaimana kita hidup.

Tadi sore, Tuhan memunculkan pelangi-Nya di dekat TTC.


Sekali lagi Tuhan mengingatkan saya akan arti kesempatan baru, lembaran baru, harapan baru, seperti yang pernah diberikan-Nya kepada manusia pada zaman setelah air bah. Pelangi melambangkan relasi yang baru antara manusia dan Pencipta-nya. Pelangi menjadi simbol kemurahan dan damai Allah setelah badai dan air bah menerpa manusia. Pelangi menenangkan kita bahwa Allah baik dan akan melakukan kebaikan bagi kita. Thanks be to God!

Let's start this 2015!