Friday, September 05, 2014

Belajar dari Eugene Peterson dan Marva Dawn

Bagi mereka yang cukup teliti mendengarkan khotbah saya, pasti tahu akan kekaguman saya pada
Eugene Peterson dan Marva Dawn. Saya seringkali mengutip kalimat mereka di dalam khotbah maupun di dalam pembicaraan informal.

Saya menyukai pola berpikir Eugene Peterson, kritis, mendalam, dan mengejutkan! Tulisannya kadang tidak mudah untuk dimengerti karena dia sangat ahli menggunakan bahasa untuk membangkitkan imajinasi. Maka waktu membaca, sering saya harus berhenti dan merenung dulu baru melanjutkan. Bahkan kadang setelah lewat beberapa waktu baru semua terlihat ‘nyambung’ bagi saya.

Saya juga menyukai analisa yang tajam sekaligus pastoral dari Marva Dawn. Marva tidak
menggembalakan gereja manapun tetapi selain pelayanan menulis, mengajar dan berkhotbah, dia terlibat pelayanan secara aktif dalam gereja. Dia pernah melatih paduan suara, mengajar sekolah minggu, dan membina anak-anak remaja dan pemuda. Maka apa yang dia bicarakan dan contoh yang dia berikan sangatlah ‘membumi’.

Beberapa tahun yang lalu saya mulai menyadari bahwa sangatlah banyak (atau bahkan hampir semua) konsep-konsep penting yang saya pegang tentang pelayanan, penggembalaan, bahkan spiritualitas, ternyata berasal dari mereka. Saya tidak pernah belajar semua itu secara formal di sekolah teologi. Saya juga tidak punya role model yang cukup kuat untuk saya bisa belajar mengenai semua itu. Saya bahkan kesulitan menemukan teman diskusi yang pas untuk bicara mengenai semua itu. Tetapi, saya belajar pertama-tama justru melalui membaca banyak buku, khususnya buku mereka berdua.

Saya tidak pernah studi formal di bawah mereka. Saya tidak pernah mengenal atau bahkan bertemu dengan mereka. Tetapi, tanpa mereka tahu dan tanpa saya sadari, mereka sudah menjadi "guru" dan "teman diskusi" bagi saya. Kalau bertemu dengan mereka, saya ingin berkata: “Terima kasih” (dengan bahasa Inggris kalau ketemu di dunia atau dengan bahasa sorgawi kalau ketemu di sorga).

Belum semua buku mereka saya baca. Di bawah ini adalah daftar buku mereka yang, seingat saya, sudah saya baca habis atau paling tidak sebagian besarnya:

Eugene Peterson dan Marva Dawn
The Unnecessary Pastor: Rediscovering the Call

Eugene Peterson
The Contemplative Pastor: Returning to the Art of Spiritual Direction
Reversed Thunder: The Revelation of John and the Praying Imagination
Subversive Spirituality
A Long Obedience in the Same Direction: Discipleship in an Instant Society
Eat This Book: A Conversation in the Art of Spiritual Reading
Leap Over the Wall: Earthy Spirituality for Everyday Christians
Run With the Horses: The Quest for Life at Its Best
Working the Angles: The Shape of Pastoral Integrity
Where Your Treasure Is: Psalms that Summon You from Self to Community
The Pastor: A Memoir

Marva Dawn
I’m Lonely Lord – How Long?: Meditations on the Psalms
Truly the Community: Romans 12 and How to be the Church
Sexual Character: Beyond Technique to Intimacy
The Sense of the Call: A Sabbath Way of Life for Those Who Serve God, the Church and the World
Keeping the Sabbath Wholly: Ceasing, Resting, Embracing, Feasting
Reaching Out Without Dumbing Down: A Theology of Worship for This Urgent Time
Powers, Weaknesses and the Tabernacling of God

Sebetulnya belajar hanya dari membaca buku tidaklah terlalu ideal karena buku berbeda dengan teman diskusi yang hidup. Tetapi, paling tidak, setelah kita membaca buku, merenungkannya, mencoba menjalankannya, kemudian ditambah dengan menemukan di sana-sini "guru" dan "teman diskusi" yang jauh dari sempurna, we will still learn a lot of things!

NB: Btw, saya baru sadar sangat sedikit dari daftar buku-buku di atas yang sudah saya review di blog ini.

3 comments:

Anonymous said...

Apakah buku-buku tsb ada terjemahan dalam bahasa indonesia ? Thanks.

Jeffrey Siauw said...

Buku Truly the Community sudah diterjemahkan dgn judul Menjadi Gereja Sejati Menurut Roma 12, diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia. Buku2 yang lain saya kurang tahu.

Anonymous said...

Trimakasih atas comment balasannya.