Sunday, December 18, 2011

Melayani Tuhan: Sumber Kebebasan

William H. Willion di dalam bukunya: Pastor: TheTheology and Practice of Ordained Ministry mengatakan:

To believe that we are in ministry as God’s idea, rather than our own sense of occupational advancement; this is the submission, the yoking that is the source of true freedom (2 Cor. 3:17). Time and again, the main thing that keeps our ministry specifically Christian is to be able to assert with conviction, “We must obey God rather than any human authority” (Acts 5:29).

Saya menemukan bahwa itu sangat..sangat.. benar! Percaya bahwa kita berada dalam pelayanan sebagai idenya Tuhan dan bukan kemauan kita, bukan karir, bukan profesi, berarti tunduk kepada Tuhan, memikul kuk yang justru menjadi sumber kebebasan.

Sejak lulus sekolah teologi, saya ingin studi lanjut, tapi kesempatan sepertinya belum terbuka. Beberapa tahun lalu saya mengingatkan diri sendiri: Untuk apa sih saya studi? Untuk saya atau Tuhan? Kalau untuk Tuhan, dan untuk melayani di ladang Tuhan, maka bukankah terserah Tuhan? Kalau menurut Tuhan baik, maka jalan akan terbuka. Kalau menurut Tuhan tidak baik, maka tidak studi adalah yang terbaik. Sebagai manusia, menurut saya, studi adalah hal yang baik tapi belum tentu menurut Tuhan. Maka saya sangat tenang dan tidak ‘ngotot’, tidak panik, tidak kenapa-napa. Tapi begitu saya yakin Tuhan bilang “ya”, maka saya mulai ngotot. Dan kesadaran seperti itu sangat membebaskan!

Banyak orang juga ngotot, ingin ini dan itu. Dalam pelayanan, ingin jabatan, ingin hormat, ingin posisi, ingin lokasi, dst. Dengan cara itu kita justru memikul kuk yang sangat berat, yang tidak seharusnya kita pikul. Pelayanan adalah idenya Tuhan! Maka sangat menolong jika kita sering-sering mundur sedikit, lalu melihat semuanya dari sudut pandang yang lebih luas, sudut pandangnya Tuhan. Sangat membebaskan!

Willimon berkata, hal utama yang nenjaga pelayanan kita tetap menjadi pelayanan Kristen adalah untuk mampu menegaskan dengan yakin bahwa : Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Kadang sangat sulit untuk lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Kita punya keinginan, ada tekanan dan masalah dari orang di sekitar kita, ada suara-suara yang menuntun kita ke arah lain, ada pujian yang terus diberikan untuk kita jangan kesana, atau cemoohan yang menghalangi kita untuk tetap disini. Saat itu, dengan yakin kita harus berkata, saya ikut Tuhan dan bukan manusia.

Keyakinan bahwa pelayanan kita adalah dari Tuhan, untuk Tuhan dan bagi kemuliaan Tuhan (terbalik dengan dari kita, untuk kita dan bagi kemuliaan kita), membuat kita bebas melangkah. Dan kuk itu sungguh ringan. Tidak mudah, tidak asal-asalan, tidak senang-senang, tapi ringan dibanding kuk yang kita buat sendiri.

Willimon kemudian melanjutkan:

We fear loss of control. We have anxiety over what life is like to be accountable to someone rather than ourselves. It is somewhat frightening to construe our lives in such a theonomous cast, to have our lives lived in constant reference to the purposes of God. But it is also invigorating to receive the freedom and the dissonance of living the called life in a world where too many people are answerable to nothing more than their own ill-formed desires.

Kita selalu ingin pegang kendali. Kita takut berserah kepada Tuhan, takut selalu ikut maunya Tuhan. Cukup lah ikut 1X, tapi jangan terus2an! Tapi justru ketika semua orang hanya mengikuti keinginannya sendiri yang ngaco, mengikuti panggilan Tuhan memberikan kebebasan bagi kita. Kebebasan yang sejati - karena jiwa yang dijepit oleh nafsu dibebaskan dengan mengikut Penciptanya.

Tuesday, December 13, 2011

Hidupku Adalah Pelayanan BagiMu?

Kalau kita mau coba definisikan, apa sih pelayanan? Kalau kita definisikan pelayanan sebagai sibuk2 dekor, rapat, paduan suara, liturgis, maka kita salah. Semua itu hanyalah aktifitas dalam rangka pelayanan. Maka PELAYANAN itu sendiri pasti lebih besar dari semua itu. 

Ada memang yang mendefinisikan dengan sangat besar, bahwa pelayanan adalah hidup kita. Tema yang banyak dipakai: “Hidupku Adalah Pelayanan BagiMu”. Betul sekali, tapi makna pelayanan jadi buram. Apa artinya “hidupku adalah pelayanan bagiMu”? Semua orang punya hidup. Apakah kalau dalam hidup itu kita melayani dalam aktifitas gereja, hidup jujur dalam pekerjaan, mungkin kadang mengajak orang ke gereja, lalu pasti “hidupku adalah pelayanan bagi Tuhan”?

Mungkin lebih baik kita melihat ‘big picture’ nya dulu.

Allah punya kehendak, maksud, tujuan di dunia ini. Allah punya hati, apa yang Dia senang dan tidak senang. Allah harus ditinggikan, dimuliakan oleh ciptaanNya. Maka melayani Tuhan berarti menjalankan kehendak, maksud, tujuan Allah. Pelayanan berarti melakukan apa yang Allah senang. Pelayanan berarti meninggikan Allah, memuliakan Allah dan menjadikan dunia juga meninggikan Allah, memuliakan Allah.

Dengan cara apa? Allah tidak kenal yang namanya part time. Allah tidak kenal yang namanya ‘kalau sempat’. Allah mau seluruh hidup. Seperti yang Yesus ajarkan: Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, segenap jiwamu, akal budimu, kekuatanmu.

Mungkin gambaran prajurit akan menolong kita. Paulus bilang, seorang prajurit hanya berpikir bagaimana menyenangkan komandannya. Dunia dan hidup seorang prajurit adalah berperang. Dia hanya punya satu arah, satu tujuan, satu hati, melayani perintah komandannya dalam berperang. 

Bagi prajurit ‘big picture’ nya adalah: perang. Tapi prajurit hidupnya tidak cuma perang. Dia juga harus urus makan, dia harus bersihkan senjata, dia harus cuci baju, dll. Tapi dalam pikirannya harus tetap dia adalah prajurit. Dia masak, makan, cuci baju, bersihkan senjata, karena dia prajurit yang baik. Walaupun yang dia lakukan banyak macamnya, tapi pikirannya hanya satu: saya adalah prajurit. Ada big picture.

Dan apalagi waktu harus perang sungguhan, dia harus pergi perang. Itulah hidupnya. Walaupun dalam hidupnya dia tidak hanya perang, karena ada banyak yang terkait yang harus dia lakukan: makan, cuci baju, dll. Tapi sambil lakukan apapun juga, pikirannya tetap: saya adalah prajurit. Hidupnya adalah perang.

Sama. Bagi kita ada big picture: Maksud Tuhan, hati Tuhan. Ingin supaya dunia meninggikan Allah, memuliakan Allah. Ini perangnya.

Memang kita juga harus makan, harus urus ini dan itu, harus lakukan banyak hal. Kita punya macam2 tanggung jawab sosial di masyarakat, dengan keluarga, teman, dengan lingkungan kita, dsb. Tapi big picture itu tidak boleh hilang. Kita harus ingat bahwa kita lakukan itu semua dalam rangka hidup bagi Tuhan, menjalankan maksud Tuhan, kehendak Tuhan, menyenangkan Tuhan dan ingin orang meninggikan Allah.

Pada waktu ada panggilan untuk ikut perang yang lebih real, mungkin bersaksi kepada teman, mungkin lakukan aktifitas pelayanan di gereja, mungkin pergi ke ladang misi, atau apapun itu, kita harus ikut. Tapi kita ikut bukan karena kita sempet, “ya bantu dikit2”, “ya saya suka sih seru”. Ini perang! Kita sedang menjalankan maksud Tuhan, supaya orang meninggikan Tuhan, memuliakan Tuhan.

Maka kita perlu evaluasi hidup kita dengan cara ini.

Apakah kita sedang mengerjakan maksud Tuhan? Apakah kita sedang perang untuk Tuhan?

Hidupku adalah pelayanan bagiMu. Betul. Tapi bagaimana menjadikan hidup pelayanan bagi Tuhan? Semua pekerjaan asal kita lakukan baik2, berarti pelayanan? Punya waktu bantu2 dikit di gereja, berarti pelayanan? Tidak.

Kita harus tanya apa yang Tuhan mau? Kemana, atau pakai gambaran perang tadi, di front mana Tuhan mau kita berperang? Kita harus taat dan berperang di situ. Kalau ada hal-hal terkait lain yang kita perlu lakukan, bekerja, ikut ini itu, tanggung jawab ini itu, semua tetap kita lakukan dalam rangka berperang. Big picture tidak hilang!

Banyak orang bekerja, ikut kelompok hobby ini itu, ikut aktifitas sosial ini itu, tanpa pernah berpikir semua dalam rangka perang bagi Tuhan, semua dalam rangka melayani Tuhan. Maka dia memisahkan hidupnya menjadi dua: pelayanan dan bukan pelayanan.

Dan ironisnya banyak orang yang melakukan aktifitas pelayanan, sibuk ini dan itu, juga tanpa pernah berpikir bahwa itu adalah perang bagi Tuhan. Tidak pernah pikir apa yang Tuhan mau, suka, inginkan. Tidak pernah pikir bahwa dia harus sekuat tenaga, segenap jiwa, hati dan akal budi, mengasihi Allah. Maka mungkin dia melakukan aktifitas pelayanan yang bukan PELAYANAN.

Satu pemikiran terakhir. Kita perlu proporsi. Tidak mungkin kita prajurit tapi kerjanya hanya cuci baju terus. Apa betul Tuhan tidak panggil untuk perang lebih real? Berapa proporsi antara waktu yang kita pakai untuk bekerja, ikut kegiatan ini dan itu, dengan perang yang lebih real? Tanya Tuhan!

Kadang saya kecewa melihat orang yang mau habiskan waktu banyak sekali untuk pekerjaan. Tidak apa kalau itu bagian yang harus dia lakukan. Tapi di luar pekerjaan, dia ambil lagi kegiatan lain yang adalah hobby. Ok kalau memang harus. Lalu dia ambil lagi kegiatan lain, aktif disini dan disana karena suka. Dan akhirnya pelayanan yang langsung, perang yang lebih real, sedikit saja. Alasannya? Bukankah “Hidupku adalah pelayanan bagi Tuhan”? Benarkah? Coba pikir lagi!

Saya tidak mengatakan bahwa yang pelayanan full time pasti lebih baik karena dia berperang real terus. Hidup kita adalah mengikuti panggilan Tuhan, apapun itu. Maka apapun panggilan Tuhan, itu medan perang kita. Tapi saya mau kita bertanya, benarkah kita berpikir begitu? Benarkah yang sekarang saya lakukan adalah panggilan Tuhan? Benarkah hati saya terbakar untuk lebih lagi meninggikan Tuhan, memuliakan Tuhan dan mengajak orang lain juga meninggikan Tuhan dan memuliakan Tuhan?

Wednesday, December 07, 2011

Bless the Lord, my soul

Bless the LORD, O my soul, and do not forget all his benefits-- (Psalms 103:2)
Bless the LORD, O my soul. O LORD my God, you are very great. You are clothed with honor and majesty, (Psalms 104:1)
I will bless the LORD at all times; his praise shall continually be in my mouth. (Psa 34:1)

Ayat-ayat di atas diambil dari New Revised Standard Version. Di dalam terjemahan Indonesia, istilah ‘bless’ diterjemahkan menjadi ‘pujilah’. ‘Pujilah’ tentu lebih akrab bagi kita dan lebih mudah diterima.
Kesulitannya adalah ketika kita menjumpai istilah ‘bless the Lord’ di dalam lagu2 bahasa Inggris. Banyak orang Kristen yang tidak mengerti apa artinya ‘bless the Lord’, bagaimana mungkin kita memberkati Tuhan? Tulisan singkat di bawah ini dari John Piper mungkin bisa menolong (saya terjemahkan ke bahasa Indonesia, artikel aslinya bisa dilihat disini).
Pendapat saya adalah di dalam Alkitab ketika Allah “memberkati” manusia maka mereka tertolong dan dikuatkan dan menjadi lebih baik dari sebelumnya, tetapi ketika manusia “memberkati” Allah, Dia tidak terotolong atau dikuatkan atau menjadi lebih baik. Tetapi manusia memberkati Allah adalah “ekspresi dari memuji bersyukur”, ketika PL menyebut “memberkati Allah” ia tidak “menunjuk pada proses yang bertujuan meningkatkan kekuatan Allah”. Tetapi ia berarti “pernyataan syukur dan kekaguman”.  
Ini sama sekali bukan fenomena semantik yang aneh. Jika Allah adalah “pemberi berkat” yang paling pertama dan sumber yang tidak pernah habis, maka dia haruslah melampaui semuanya dalam keadaan “terberkati” – kepenuhan dan sumber segala “berkat”. Dan jika demikian, maka letupan pujian yang paling natural adalah “Engkau diberkati!” Bahwa pengakuan dan pernyataan sukacita tentang terberkatinya Allah  kemudian digambarkan dengan “memberkati Allah” bukanlah sesuatu yang tidak biasa. Analogi lain, sekalipun tidak persis, adalah ekspresi kita seperti: “Aku membesarkan Tuhan” atau “Mari kita meninggikan namaNya”. Kedua eksresi ini dengan tepat mengakui dan memberikan ekspresi sukacita kepada status Allah yang besar dan tinggi. Kalimat itu tidak bermaksud menjadikan Allah lebih besar atau lebih tinggi. Maka memberkati Allah berarti mengakui betapa besar kekayaanNya, kekuatanNya, dan kemurahanNya dan untuk mengekspresikan rasa syukur dan sukacita kita ketika melihat dan mengalaminya.
Di bawah ini adalah salah satu lagu dari Taize yang saya suka:

Bless the Lord, my soul, and bless God’s holy name. Bless the Lord, my soul, who leads me into life.