Tuesday, May 13, 2014

The Real Story

Setiap hari kita mendengar berita penculikan, kelaparan, perkosaan, percabulan, perang, dan berbagai hal lainnya. Setiap hari kita juga mengalami betapa ngerinya dosa merajalela, bukan saja kita ikut diseret melakukannya tapi juga menderita karenanya. Akhirnya seluruh dunia dan hidup kita seperti hopeless. Kita cape dengan semuanya. Tapi tunggu dulu... that's not the whole story! 

Dalam keadaan yang kacau, Yesaya masuk ke Bait Allah dan disitu dia melihat para serafim berseru-seru di dalam: "Holy, Holy, Holy is the Lord of Hosts, the whole earth is full of His glory!" (Yes 6:3). Allah semesta alam itu kudus, kudus, kudus! Kekudusan Allah melingkupi dan kemuliaan Allah terpancar - bukan hanya di Bait Allah, tapi SELURUH DUNIA. Di dalam suratnya Paulus berkata baik maut maupun hidup, malaikat atau pemerintah, atau kuasa-kuasa di atas atau di bawah, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus. Paulus juga mengatakan betapa lebarnya, panjangnya, tingginya, dalamnya kasih Kristus itu (Ef 3:18). Tak terukur, tak terhingga, tak bisa diketahui batasnya, dan TAK ADA apapun yang kita lakukan yang mampu mengurangi kasih Kristus kepada kita. Inilah realita dimana kita hidup: Kudus, Kudus, Kudus; Mulia, Mulia, Mulia; Kasih, Kasih, Kasih.

Dunia ini milik Allah. Jangan biarkan dunia kita hanya digambarkan oleh wartawan: penculikan, kelaparan, perkosaan, percabulan, perang, dll.

Kita ini umat kepunyaan Allah. Jangan biarkan diri kita hanya digambarkan oleh keadaan: dosa yang menyeret dan membuat kita menderita.

That's not the whole story.

Berikan kesempatan Alkitab bicara menggambarkan dunia ini. Dunia ini penuh kekudusan dan kemuliaan Allah karena Allah masih hadir di dalam dunia di tengah kita.

Berikan kesempatan Alkitab juga bicara menggambarkan siapa kita ini. Kita ini dikasihi begitu rupa dengan kasih Kristus yang tak terukur lebarnya, panjangnya, tingginya dan dalamnya.

And that is the real story!

Saturday, May 10, 2014

Cara Berpikir - Part 1: Apa sih Masalahnya?

Banyak masalah sebenarnya akarnya ada di cara berpikir kita yang "berantakan" dan "geje". Saya bukan ahli berpikir, saya juga sering ngaco.. eh.. bingung. Tapi benar, kalau saja kita selalu berusaha lebih jelas berpikir - dan itu juga berarti lebih disiplin - banyak masalah akan terurai lebih cepat dan banyak energi tidak dihabiskan untuk yang tidak penting. Maka saya ingin berbagi beberapa hal sederhana tentang cara berpikir dalam beberapa tulisan. Ini yang pertama.

Apa sih masalahnya? What is the real problem?
Kadang masalah itu ruweeettt... banget rasanya di kepala. Ada ini yang belum selesai, ada itu yang kacau, ada lagi gini yang bikin pusing, trus ada gitu juga yang nggak tahu harus diapain... #%}*\*=¥&@;?~}

Kadang betul masalah memang banyaknya dan ruwetnya minta ampun. Tapi yang membuat lebih ruwet adalah karena semua menggantung di kepala, melayang-layang di imajinasi kita. 

Coba saja kalau kita mau duduk, berpikir dan mulai menulis: "So.. let me ask myself: WHAT IS THE PROBLEM?"

Lalu kita mulai tuliskan (bukan cuma berpikir, tapi nulis!) masalah yang saya hadapi adalah 1, 2, 3, dst. Seringkali ternyata tidak terlalu banyak. Tapi tidak apa, tulis aja dulu semuanya yang kepikir oleh kita. Semuanyaaa.. sampai habis. 
Setelah itu, mungkin kita bisa kelompokkan dan lihat "Oh..sebenernya masalah 1, 4, 5, ini akarnya cuma 1. Lalu masalah 2 dan 3 akarnya juga 1" dst..dst.. Ini akan menolong kita menyederhanakan masalah dan juga melihat sebetulnya dimana akar masalahnya.
Tapi tidak selalu masalah-masalah itu bisa dikelompokkan. Sebaliknya mungkin kadang perlu kita buat bercabang. Misalnya masalah 1 adalah keluarga. Coba pikir, "Ok.. apanya?" Lalu kita buat point a, b, c. Uraikan dengan jelas apa yang menjadi masalah. Kalau nggak kita hanya kepikiran terus "keluarga" padahal apanya? Masalah 2 studi. Ok.. apanya? dst..dst.. 

Tergantung masalahnya dan cara mana yang lebih kita suka. Grouping them up atau breaking them down. 

Bagaimana kalau masalah kita cuma satu? Sama! Lakukan cara yang sama seperti di atas. Apa sih masalahnya? Misalnya soal pacaran. Coba tuliskan apa yang membuat kita bingung. Misalnya: Dia begini, dia begitu, orang tuanya kenapa, dll, dll... Tulis semuanya, jangan cepat puas dulu karena mungkin ada hal-hal yang belum pernah terpikir padahal juga masalah. Setelah tulis semuanya, baru lihat bigger problem di belakangnya. Di balik semua masalah yang saya sebutkan, apa sih sebetulnya masalah besarnya? Atau kita bisa analisa pattern nya. Misalnya: dia begini, dia begitu, lalu kita mulai sadar "Oh jangan-jangan masalahnya..." Jangan lupa big question nya adalah: "Apa sih masalahnya?"

Cara ini sangat menolong. Otak kita tidak sanggup memikirkan masalah dengan matriks yang sangat ruwet. Maka rasanya di kepala kita penuuhhh... karena kita pikir ini belum selesai lalu kepikiran itu belum selesai lagi kepikiran yang lain. Tapi begitu kita tuliskan, breaking them down atau grouping them up, tiba-tiba kita bisa melihat lebih jelas apa masalahnya.

Waktu semua sudah lebih jelas, lebih mudah bagi kita untuk mulai memikirkan solusinya. Atau kalaupun tidak ada solusi langsung, paling tidak akan jelas apa yang mampu kita lakukan untuk setiap masalah itu. Untuk masalah 1 apa yang bisa saya lakukan? Untuk masalah 2? dst... Ini juga membuat lebih jelas apa sih yang perlu kita doakan. Karena kalau itu ruwet di kepala, mau doa pun kita tidak tahu mau doa apa, "Pokoknya ruwet Tuhan!"

Cara ini juga bisa diterapkan dalam pelayanan dan selalu saya lakukan ketika otak mulai ruwet. Dan selalu 100% ini menolong. Banyak aktivitas, banyak masalah, banyak tuntutan. Stop.. tunggu dulu! Waktu dituliskan saya mulai bisa melihat mana yang kurang penting, penting dan sangat penting. Mana yang lebih mendesak. Mana yang sebenernya harus dan yang cuma tambahan. Tapi ini perlu disiplin. Artinya tidak boleh dengan mudahnya lalu saya berkata ini yang penting dan tidak. Saya harus berpikir keras, kadang membaca, diskusi, dll. Tapi tanpa dimulai ini tidak akan pernah selesai.

Maka terakhir, jangan cepat puas dengan apa yang kita "temukan" waktu menuliskan berbagai masalah itu. Coba pikir dengan lebih mendalam. Coba tanya dan korek hati kita lebih dalam. Coba doa minta Tuhan tunjukkan. 
Berpikir dengan tidak jelas seringkali bukan saja membuat kepala kita ruwet, tapi juga membuat kita tidak melakukan apa-apa. Kita hanya putar-putar tanpa mengoreksi diri, tanpa mengambil langkah, dan bahkan tanpa berdoa! 
Ok, this is part one. Selamat berpikir dengan lebih baik!

Tuesday, April 22, 2014

Biblical View of Relationship

Another talk di Young Adult Fellowship GKY Singapore dalam seri tema "Relationship".



Finding Your Right Half

Mau share talk yang saya sampaikan di Young
Adult Fellowship GKY Singapore. Saya banyak belajar dari Pdt. Paul
Gunadi untuk materi yang saya sampaikan disini.




Thursday, March 27, 2014

Pastoring is not for the Faint-hearted

Saya tidak tahu siapa yang pertama kali menuliskan kalimat ini: Parenting is not for the Faint-Hearted (Menjadi orang tua bukanlah untuk orang yang pengecut/lemah). Kalimat itu menggelitik. Semua tahu tugas orang tua itu sangat amat banyak sekali! Dari A sampai Z. Dari atas sampai bawah. Dari berdiri sampai tiarap. Tetapi yang lebih berat, menjadi orang tua juga berarti melibatkan diri secara emosi dalam hidup anaknya.

Menjadi orang tua berarti khawatir – khawatir anak sakit, khawatir kebutuhan anak baik materi maupun kasih sayang, khawatir akan pergaulannya dan masa depannya. Banyak hal di luar kekuasaannya dan banyak hal bisa terjadi kepada anaknya. Maka kadang pikirannya dipenuhi oleh anaknya, “jadi apa anak ini nanti?” Menjadi orang tua juga berarti siap untuk marah - ketika anaknya tidak bisa dibilangin, sengaja melakukan yang dia tidak suka, terus berusaha mendobrak segala batasan yang diberikan. Tapi di saat yang sama dia tidak boleh marah tanpa kendali – dia harus marah dengan kasih sayang, dia harus marah dengan cara supaya anaknya mau mengerti karena itulah tujuannya. Berapa sulitnya itu? Dan terakhir, menjadi orang tua juga berarti siap untuk sakit hati. Ketika anaknya disakiti orang, dia ikut tersakiti. Lebih sakit lagi ketika anaknya menyakitinya. Maka kadang dia harus mengurut dada, menggigit bibir, berdoa dan menangis sendiri karena tidak tahu harus bagaimana lagi. Berapa sakitnya itu? Parenting really is not for the faint-hearted!

Setelah sekian lama menjadi hamba Tuhan, saya makin sadar bahwa menggembalakan itu sedikit banyak mirip dengan menjadi orang tua. “Pastoring is not for the faint-hearted”. Menggembalakan (yang saya maksud bukan jabatan “gembala” tapi fungsi menggembalakan) berarti sibuk dengan segala tugas dan tuntutan yang kadang tidak masuk akal. Menggembalakan sering berarti ditarik kesana kemari, didorong ke kiri kanan, sampai akhirnya kita lupa mau berjalan kemana.
Tetapi lebih dari itu, mirip seperti orang tua, menggembalakan berarti melibatkan diri secara emosi dalam hidup jemaatnya.

Berkali-kali dalam pelayanan saya mengalami arti bersukacita bersama dengan orang yang bersukacita dan menangis bersama dengan orang yang menangis. Saya ingat suatu kali seorang remaja cerita bahwa satu-satunya kemungkinan dia bisa meneruskan kuliah adalah jika diterima di Universitas negeri yang biayanya murah. Saya melihat dia menangis, khawatir, saya ikut berduka, khawatir, dan berdoa untuk dia. Waktu dia memberitahu bahwa dia diterima di Universitas negeri, saya ikut terharu karena senangnya bukan main dan mata saya berkaca-kaca di depan dia! Saya juga ingat ketika suatu kali melayani seorang yang sakit kanker. Ketika saya membaptis dia, saya minta dia duduk saja. Tapi dalam keadaan lemah dia memaksa diri mau berlutut sambil matanya berkaca-kaca. Hati saya sangat terharu. Setelah itu berkali-kali saya membesuk dan berdoa untuk dia. Berkali-kali melihat dia sangat kesakitan dan saya berdoa dengan hati yang ikut sakit. Sampai akhirnya dia meninggal. Saya ingat melihat tubuhnya di dalam peti dan perasaan saya campur aduk.

Berkali-kali dalam pelayanan saya juga khawatir. Saya bukan hanya khawatir dengan masa depan gereja. Tapi saya seringkali khawatir akan kehidupan dan kerohanian remaja, pemuda, jemaat umumnya. Khawatir mereka jauh dari Tuhan. Khawatir mereka mengalami yang jahat. Khawatir jadi apa mereka nantinya? Saya tahu tidak boleh khawatir dan saya mengalami Tuhan memberikan ketenangan.

Berkali-kali dalam pelayanan saya juga sakit di hati. Ketika dianggap sepi dan merasa ditolak. Ketika melihat anak remaja yang dulu pernah saya layani sekarang meninggalkan Tuhan. Ketika tahu anak rohani saya pernikahannya bermasalah. Ketika mengalami susahnya memberikan nasihat – harus tapi susah, harus tapi tidak didengar. Ketika mendengar segudang masalah mengerikan yang dialami oleh jemaat – seperti menjadi tempat penampungan sampah emosi, dan deg-degan setiap kali mendengar perkembangannya. Ketika tahu bahwa “kalau-dia-tetap-begini-pasti-nanti-berantakan” tapi dia tidak mau dengar. Ketika tidak berdaya untuk berbuat apa-apa untuk menolong – sangat mau menolong tapi tidak mampu. Ketika merasa kesepian sekali karena tidak dimengerti. Tapi di sisi yang lain, saya tidak boleh kehilangan pengharapan, tidak boleh marah-marah, dan harus tetap bijak berkata-kata dan bersikap. Siapa yang sanggup?

Dengan segala beban – tugas dan emosi, tidak heran banyak yang mengatakan menggembalakan adalah salah satu pekerjaan terberat di dunia.

Pastoring is not for the faint-hearted. That’s true!
 
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa saya not faint-hearted! Justru sebaliknya! Saya sama sekali tidak sempurna. And don't worry, saya menulis ini bukan dalam keadaan putus harapan dan depresi :-) Just saying to myself. Just reminding myself.

Friday, February 21, 2014

Si “Sombong”

“Sombong” jelas adalah sesuatu yang tidak disukai baik oleh Tuhan maupun oleh manusia. Cari saja
kata “sombong” di dalam Alkitab, kita akan menemukan betapa dibencinya sifat ini. Tetapi manusia umumnya punya kesombongan ini di dalam hatinya.

Mungkin jarang dari kita yang sombong terang-terangan seperti di sinetron. Si sombong itu seringkali tersembunyi. Begitu baiknya dia bersembunyi di dalam hati kita sehingga kita merasa tidak sombong. Maka hati ini perlu dikorek, penutupnya dibuka, supaya si sombong itu bisa ditarik keluar dan diusir.

Caranya sederhana, coba lihat bagaimana perasaan kita ketika dipuji oleh orang lain. Sebelum melakukan sesuatu yang besar, kita berdoa, mohon Tuhan yang pimpin, kita berjanji “segala kemuliaan bagi Tuhan,” tetapi begitu selesai dan pujian berdatangan? Kalau ada sesuatu yang merayap dalam hati kita dan berkata: “Wow, hebat juga gua!” Gotcha! Kita menemukan si sombong itu ada di hati kita.

Cara kedua, coba lihat apakah kita sering bermain permainan “lihat aku”. Waktu kecil kita suka melakukan sesuatu yang dilihat oleh orang tua kita, “Pa..ma.. lihat nih..” Waktu dewasa kita memang tidak mengucapkan itu lagi, malu dong… Tapi mungkinkah sebetulnya kita masih memainkan permainan yang sama? Kita ingin orang tahu ketika kita berbuat baik. Kita ingin orang tahu ketika kita memberi dalam jumlah yang besar. Mungkin itulah sebabnya ada orang yang tidak mau memberi persembahan dalam jumlah yang kecil dan rutin, tetapi lebih suka memberi jumlah besar dalam proyek besar! Kita ingin orang tahu ketika kita berkorban. Demikian seterusnya. Gotcha! Kita menemukan lagi si sombong itu dalam hati kita.

Masih banyak cara lainnya. Tapi saya ingin memberi satu lagi saja. Ini jenis pengujian yang lain. Kalau dua yang di atas memeriksa adanya si sombong dengan melihat apakah saya sombong, maka yang satu ini memeriksa adanya si sombong dengan melihat reaksi saya ketika “disombongin”. “Disombongin” bukan dalam arti dibangga-banggain oleh orang lain tetapi ketika kita diperlakukan dengan sombong oleh orang lain. Orang itu membesarkan diri, congkak, angkuh, sombong di hadapan kita dan memperlakukan kita jauh di bawahnya. Dengan kata lain kita “disombongin”.
Ketika kita “disombongin” oleh orang lain, apa reaksi kita? apa perasaan kita? Apakah kita ingiiiinnn sekali berkata, “Astagaaa… ini orang nggak tahu diri banget! Baru gitu aja sombongnya minta ampun! Emangnya gua musti bilang wow gitu? Dia pikir dia hebat begitu? Huh.. amit-amit!” Dan sebenarnya ada satu kalimat yang mungkin tidak terucapkan, “Kalau aja dia tahu siapa gua…” atau “Dia pikir gua butuh dia? Dia pikir gua nggak bisa?” Gotcha! Kita menemukan lagi si sombong itu di dalam hati kita.

Maka jelas melatih diri untuk tidak sombong tidaklah mudah. Dia akan bersembunyi dan membuat kita merasa sudah bebas darinya padahal dia terus akan muncul lagi dan muncul lagi. Maka sama seperti terhadap semua dosa lainnya, ini bukan pembersihan satu kali tetapi terus menerus. Kita perlu terus mengingat siapa kita ini dan siapa Tuhan. Kita perlu terus mengingat segala anugrah Tuhan bagi kita. Kita perlu terus membuka hati untuk Roh Tuhan bekerja, membersihkan hati ini, membawanya sesuai dengan Firman, mengangkatnya untuk mengagumi Tuhan, dan menggerusnya dari kebiasaan dosa.

Sulit? Ya, pasti! Kita tidak akan bisa melakukannya sendirian. Kita perlu anugrah Tuhan untuk mengenali kesombongan di dalam hati kita dan mengusirnya keluar.

Monday, February 10, 2014

A Grief Observed - C.S. Lewis

Saya tidak punya harapan apapun ketika mulai membaca buku ini. Saya membacanya hanya karena
ini adalah tulisan C.S. Lewis. Titik. Tapi begitu membaca kata pengantar yang ditulis oleh anak tirinya, saya mulai terpikat. 
Buku ini ditulis Lewis setelah kematian istrinya, Helen, dan merupakan catatan pergumulannya untuk menerima dan mengatasi duka yang menghancurkan hidupnya. Seperti dikatakan anak tirinya, yang membuat buku ini lebih luar biasa adalah karena penulisnya adalah orang luar biasa, dan wanita yang diratapinya adalah wanita luar biasa.

Lewis adalah cendekiawan yang sangat luar biasa, kemampuannya berpikir, menghafal, dan berdebat, membuat dia terisolasi dari kebanyakan orang. Helen mungkin adalah satu-satunya wanita yang pernah dia temukan yang kemampuan intelektualnya menyaingi dia. Helen pernah menikah dengan seorang novelis dan memiliki dua orang putra sebelum bercerai. Ketika menulis sebuah buku, Helen berkenalan dengan Lewis dan mereka menjadi akrab. Awalnya Lewis tidak ingin memperdalam hubungan mereka. Tetapi kenyataan bahwa dia akan segera kehilangan Helen karena penyakit kanker memaksa Lewis mengakui perasaannya. Mereka pun menikah. Anak tirinya berkomentar, "hampir terlihat seperti kejam bahwa kematian [Helen] tertunda cukup lama untuk [Lewis] bertumbuh mencintai dia sepenuhnya sehingga dia memenuhi dunia [Lewis] sebagai karunia terbesar yang Tuhan berikan kepadanya, dan kemudian dia mati dan meninggalkan [Lewis] sendirian di tempat yang diciptakan oleh kehadirannya dalam hidup [Lewis."

Tidak heran, Lewis mengalami kehilangan dan duka yang sangat besar dan bahkan keraguan akan Tuhan. Menarik bagaimana dia melukiskan itu (saya terjemahkan):

Sementara itu, dimana Allah? Ini adalah salah satu kenyataan yang menggoncangkan. Ketika engkau bahagia, begitu bahagia sehingga engkau tidak merasa membutuhkan Dia, begitu bahagia sehingga engkau tergoda untuk merasa klaim-klaim-Nya atasmu sebagai interupsi, jika engkau ingat dirimu dan berbalik kepada-Nya dengan syukur dan pujian, engkau akan -atau rasanya seperti- disambut dengan tangan terbuka. Tetapi pergilah kepada-Nya ketika kebutuhanmu sangat mendesak, ketika semua pertolongan sia- sia, dan apa yang kau temukan? Pintu yang dibanting di hadapanmu, dan suara pintu dipalang dua kali dari dalam. Setelah itu, sunyi. Engkau boleh berbalik pergi. Makin lama engkau menunggu, makin tegas kesunyian itu. Tidak ada cahaya pada jendela-jendela. Mungkin itu rumah kosong. Pernahkah rumah itu dihuni? Kelihatannya pernah. Dan kelihatannya itu sama kuatnya seperti kenyataannya. Apa artinya? Mengapa Dia begitu hadir sebagai pemegang kendali pada saat kemakmuran dan begitu tidak hadir sebagai pertolongan pada saat kesesakan?

Buku ini membuka wawasan saya akan kedukaan, kesepian, cinta, dan keraguan. Ada banyak hal menarik yang diungkapkan oleh dia. Lewis tidak pernah punya jawaban untuk semua pertanyaannya, tetapi akhirnya dia mendapatkan kekuatan untuk mengatasi dukanya dan percaya kepada Tuhan.

Buku ini sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh penerbit Pionir Jaya dengan judul: Mengupas Duka. Saya belum pernah melihat versi terjemahannya walaupun ada beberapa teman yang berkomentar bahwa terjemahannya tidak enak dibaca. Saran saya baca dulu beberapa halaman sebelum membeli, atau jika bisa, bacalah yang versi bahasa Inggris.