Wednesday, August 05, 2015

Terus “Tune Up” Dengan Allah

Salah satu sifat yang sangat menonjol dari iblis adalah “oportunis” – pandai mengambil keuntungan dari situasi yang ada.

“…jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau,…” (Kej 4:7)

Pada saat kita melakukan kesalahan, “tidak berbuat baik”, dosa sudah mengintip di depan pintu dan sangat menggoda! Iblis menantikan saat kita lemah, saat kita berbuat bodoh, saat kita melakukan yang tidak terpuji. Saat itulah… tinggal tunggu waktu dosa akan menguasai kita karena dia sudah mengintip di depan pintu. Istilah “ia sangat menggoda engkau” mungkin lebih baik diterjemahkan “ia sangat bernafsu untuk memiliki engkau”.

“Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik.” (Luk 4:13)

Ayat ini muncul tepat di akhir kisah Yesus dicobai Iblis di padang gurun. Tiga kali Iblis mencobai Yesus dan tiga kali pula Yesus melawan dan akhirnya mengusir dia. Yesus menang! Horeee…! Tapi kalimat berikutnya sangat mengerikan: Iblis mundur dari pada Yesus dan menunggu waktu yang baik! Iblis kalah saat itu, tapi dia tidak menyerah. Dia akan datang lagi dan mencobai lagi “pada waktu yang baik.” Kapan itu? Oh, dia sangat tahu kapan waktu yang baik itu.

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Pet 5:8)

Petrus menggambarkan Iblis seperti singa – menunjukkan keganasannya. Singa itu mengaum-aum – tanda kebuasan dan kelaparan. Tapi yang sangat mengerikan adalah: Singa yang mengaum-aum itu berjalan keliling dan mencari orang yang dapat ditelannya! Dia tidak tinggal diam. Dia berjalan keliling dan mencari mangsa… siapa saja yang dapat ditelannya.

Waktu kita mulai marah-marah.. dia berkata “Aha!” Waktu hati kita penuh kepahitan… dia berkata lagi “Aha!” Waktu kita kesepian, waktu kita tidak puas dengan hidup kita, waktu kita entertain dosa dalam pikiran kita, dia berkata “Wow.. aha..aha..aha!!!” Apapun keadaan kita, dalam kelemahan kita sebagai manusia, dia akan masuk dan memanfaatkannya untuk menjatuhkan kita.

Kalau Iblis begitu oportunis, apa yang harus kita lakukan?

Satu-satunya yang bisa menjaga kita dari kejatuhan adalah kalau hati kita terus menerus “tune up” dengan Allah. Seperti mobil ketika terus dipakai bisa menjadi tidak pas lagi, mesin mulai kotor, baut mulai kendor, karet mulai aus, maka ia perlu di tune up lagi supaya kembali sesuai dengan standar yang seharusnya. Demikian pula hidup kita.

Ada banyak sekali hal yang membuat kita lelah dan letih. Ada banyak sekali godaan di sekitar kita. Ada banyak sekali hal yang membuat kita menginginkan yang tidak benar. Kita perlu di “tune up” lagi supaya kembali sesuai dengan standar yang seharusnya – Tuhan sendiri.

Tapi berapa sering kita perlu “tune up”? Sesering mungkin!

Tidak seperti mesin mobil yang bisa bertahan lama tanpa tune up, kita tidak bisa! Dengan sangat mudah dan cepat, keadaan hati kita menjadi berantakan dan siap untuk diterkam oleh iblis. Pagi hari kita bisa membaca Alkitab dan berdoa, bahkan berjanji untuk hidup bagi Tuhan, tapi siang harinya kita bisa lupa semuanya. Maka sesering mungkin, terus menerus, continuously, kita perlu “tune up” hati kita dengan Allah.

Mungkin itu berarti setiap kali muncul pikiran yang tidak baik, kita berhenti sejenak dan berdoa mengingat akan kekudusan Tuhan. Mungkin itu berarti setiap kali kita kuatir, takut, kita berhenti sejenak dan mengingat kebesaran Tuhan. Mungkin itu berarti dalam keadaan “baik” pun kita sering berhenti sejenak untuk menyadari kehadiran-Nya, mengingat janji-Nya dan perintah-Nya.

Orang-orang yang disebut giants dalam kerohanian berdoa. Kita juga berdoa. Tapi perbedaan mereka dengan kita adalah: Mereka berdoa continuously. Bukan berarti mereka tidak bekerja… tapi mereka terus menerus hidup bersama Tuhan. Mereka terus “tune up” dengan Allah.

Hanya dengan demikianlah, kita menutup kesempatan bagi Iblis - si raja oportunis  itu, untuk menerkam kita.

2 comments:

Timmy Gunawan said...

Sangat bagus sekali Pak Jeffrey.
Iblis sebagai singa yang mengaum dan siap menerkam siapa saja setiap saat kita bisa jatuh dalam dosa.

Marah/benci/dendam saja misalnya karena membaca posting provokasi di sosmed bagi orang Kristen sudah dianggap membunuh. Tergoda pikiran akan hawa nafsu karena tidak sengaja (atau sengaja) melihat pop up windows porn ads saat browsing di laptop lalu imajinasi terpengaruhi sudah dianggap berzinah. Dan bagi saya jika itu terjadi, that's the end of the day. Sisa hari berlalu dengan rasa seperti orang munafik, bagaimana bisa melanjutkan menjadi terang dan garam. Apalagi dalam pelayanan saya sudah terlibat menjadi pemerhati. Sampai saya membereskan semuanya dengan Tuhan pada malam hari.

Mengenai tuning up with God, sekalipun telah memiliki kebiasaan alone with God setiap hari, kadang saya tetap saja merasa vulnerable.
Akhirnya, terkadang saya end up dengan pemikiran: "Ya sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan, tidak usah terlalu fundamentalis lah... yang praktis-praktis saja lah...". Saya tahu ini pemikiran yang berbahaya, karena jika dibiarkan maka akan menyeret kehidupan kita menjauh dari intimacy with God.

Lalu bagaimana sebenarnya tune up yang benar bagi orang Kristen.

Saya mengutip tweet John Piper minggu lalu:
“I am astonished at people who say they believe in God but live as if happiness is found by giving him 2% of their attention.”



Jeffrey Siauw said...

Thanks pak Timmy untuk sharingnya.

Kita semua memang sangat lemah. Hal pertama adalah kita perlu mengakui itu, bahwa kita memang lemah dan butuh pertolongan Tuhan.

Maksud saya "tune up" adalah menjaga supaya pikiran dan hati kita selalu sesuai dengan Tuhan. Pagi hari kita bisa berdoa mendekat ke Tuhan. Tapi sepanjang hari akan ada banyak hal yang terjadi, membuat kita lupa. Kita bisa memikirkan dan merasakan hal2 yang tidak baik. Maka kita perlu terus ingatkan diri kita akan Tuhan. Kita tarik pikiran yang sudah menyeleweng kembali ke Tuhan. Kita tarik hati yang sudah kemana2 untuk kembali ke Tuhan. Dan itu sesering mungkin.
Mungkin itu berarti dengan waktu2 berdoa khusus. Mungkin dengan berhenti dan ambil waktu mengevaluasi diri. Tapi mungkin sesederhana dengan berhenti 1 menit saja untuk mengingatkan kita akan Tuhan. Dan itu bisa kita lakukan berkali2 sepanjang hari.