Thursday, March 27, 2014

Pastoring is not for the Faint-hearted

Saya tidak tahu siapa yang pertama kali menuliskan kalimat ini: Parenting is not for the Faint-Hearted (Menjadi orang tua bukanlah untuk orang yang pengecut/lemah). Kalimat itu menggelitik. Semua tahu tugas orang tua itu sangat amat banyak sekali! Dari A sampai Z. Dari atas sampai bawah. Dari berdiri sampai tiarap. Tetapi yang lebih berat, menjadi orang tua juga berarti melibatkan diri secara emosi dalam hidup anaknya.

Menjadi orang tua berarti khawatir – khawatir anak sakit, khawatir kebutuhan anak baik materi maupun kasih sayang, khawatir akan pergaulannya dan masa depannya. Banyak hal di luar kekuasaannya dan banyak hal bisa terjadi kepada anaknya. Maka kadang pikirannya dipenuhi oleh anaknya, “jadi apa anak ini nanti?” Menjadi orang tua juga berarti siap untuk marah - ketika anaknya tidak bisa dibilangin, sengaja melakukan yang dia tidak suka, terus berusaha mendobrak segala batasan yang diberikan. Tapi di saat yang sama dia tidak boleh marah tanpa kendali – dia harus marah dengan kasih sayang, dia harus marah dengan cara supaya anaknya mau mengerti karena itulah tujuannya. Berapa sulitnya itu? Dan terakhir, menjadi orang tua juga berarti siap untuk sakit hati. Ketika anaknya disakiti orang, dia ikut tersakiti. Lebih sakit lagi ketika anaknya menyakitinya. Maka kadang dia harus mengurut dada, menggigit bibir, berdoa dan menangis sendiri karena tidak tahu harus bagaimana lagi. Berapa sakitnya itu? Parenting really is not for the faint-hearted!

Setelah sekian lama menjadi hamba Tuhan, saya makin sadar bahwa menggembalakan itu sedikit banyak mirip dengan menjadi orang tua. “Pastoring is not for the faint-hearted”. Menggembalakan (yang saya maksud bukan jabatan “gembala” tapi fungsi menggembalakan) berarti sibuk dengan segala tugas dan tuntutan yang kadang tidak masuk akal. Menggembalakan sering berarti ditarik kesana kemari, didorong ke kiri kanan, sampai akhirnya kita lupa mau berjalan kemana.
Tetapi lebih dari itu, mirip seperti orang tua, menggembalakan berarti melibatkan diri secara emosi dalam hidup jemaatnya.

Berkali-kali dalam pelayanan saya mengalami arti bersukacita bersama dengan orang yang bersukacita dan menangis bersama dengan orang yang menangis. Saya ingat suatu kali seorang remaja cerita bahwa satu-satunya kemungkinan dia bisa meneruskan kuliah adalah jika diterima di Universitas negeri yang biayanya murah. Saya melihat dia menangis, khawatir, saya ikut berduka, khawatir, dan berdoa untuk dia. Waktu dia memberitahu bahwa dia diterima di Universitas negeri, saya ikut terharu karena senangnya bukan main dan mata saya berkaca-kaca di depan dia! Saya juga ingat ketika suatu kali melayani seorang yang sakit kanker. Ketika saya membaptis dia, saya minta dia duduk saja. Tapi dalam keadaan lemah dia memaksa diri mau berlutut sambil matanya berkaca-kaca. Hati saya sangat terharu. Setelah itu berkali-kali saya membesuk dan berdoa untuk dia. Berkali-kali melihat dia sangat kesakitan dan saya berdoa dengan hati yang ikut sakit. Sampai akhirnya dia meninggal. Saya ingat melihat tubuhnya di dalam peti dan perasaan saya campur aduk.

Berkali-kali dalam pelayanan saya juga khawatir. Saya bukan hanya khawatir dengan masa depan gereja. Tapi saya seringkali khawatir akan kehidupan dan kerohanian remaja, pemuda, jemaat umumnya. Khawatir mereka jauh dari Tuhan. Khawatir mereka mengalami yang jahat. Khawatir jadi apa mereka nantinya? Saya tahu tidak boleh khawatir dan saya mengalami Tuhan memberikan ketenangan.

Berkali-kali dalam pelayanan saya juga sakit di hati. Ketika dianggap sepi dan merasa ditolak. Ketika melihat anak remaja yang dulu pernah saya layani sekarang meninggalkan Tuhan. Ketika tahu anak rohani saya pernikahannya bermasalah. Ketika mengalami susahnya memberikan nasihat – harus tapi susah, harus tapi tidak didengar. Ketika mendengar segudang masalah mengerikan yang dialami oleh jemaat – seperti menjadi tempat penampungan sampah emosi, dan deg-degan setiap kali mendengar perkembangannya. Ketika tahu bahwa “kalau-dia-tetap-begini-pasti-nanti-berantakan” tapi dia tidak mau dengar. Ketika tidak berdaya untuk berbuat apa-apa untuk menolong – sangat mau menolong tapi tidak mampu. Ketika merasa kesepian sekali karena tidak dimengerti. Tapi di sisi yang lain, saya tidak boleh kehilangan pengharapan, tidak boleh marah-marah, dan harus tetap bijak berkata-kata dan bersikap. Siapa yang sanggup?

Dengan segala beban – tugas dan emosi, tidak heran banyak yang mengatakan menggembalakan adalah salah satu pekerjaan terberat di dunia.

Pastoring is not for the faint-hearted. That’s true!
 
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa saya not faint-hearted! Justru sebaliknya! Saya sama sekali tidak sempurna. And don't worry, saya menulis ini bukan dalam keadaan putus harapan dan depresi :-) Just saying to myself. Just reminding myself.

Friday, February 21, 2014

Si “Sombong”

“Sombong” jelas adalah sesuatu yang tidak disukai baik oleh Tuhan maupun oleh manusia. Cari saja
kata “sombong” di dalam Alkitab, kita akan menemukan betapa dibencinya sifat ini. Tetapi manusia umumnya punya kesombongan ini di dalam hatinya.

Mungkin jarang dari kita yang sombong terang-terangan seperti di sinetron. Si sombong itu seringkali tersembunyi. Begitu baiknya dia bersembunyi di dalam hati kita sehingga kita merasa tidak sombong. Maka hati ini perlu dikorek, penutupnya dibuka, supaya si sombong itu bisa ditarik keluar dan diusir.

Caranya sederhana, coba lihat bagaimana perasaan kita ketika dipuji oleh orang lain. Sebelum melakukan sesuatu yang besar, kita berdoa, mohon Tuhan yang pimpin, kita berjanji “segala kemuliaan bagi Tuhan,” tetapi begitu selesai dan pujian berdatangan? Kalau ada sesuatu yang merayap dalam hati kita dan berkata: “Wow, hebat juga gua!” Gotcha! Kita menemukan si sombong itu ada di hati kita.

Cara kedua, coba lihat apakah kita sering bermain permainan “lihat aku”. Waktu kecil kita suka melakukan sesuatu yang dilihat oleh orang tua kita, “Pa..ma.. lihat nih..” Waktu dewasa kita memang tidak mengucapkan itu lagi, malu dong… Tapi mungkinkah sebetulnya kita masih memainkan permainan yang sama? Kita ingin orang tahu ketika kita berbuat baik. Kita ingin orang tahu ketika kita memberi dalam jumlah yang besar. Mungkin itulah sebabnya ada orang yang tidak mau memberi persembahan dalam jumlah yang kecil dan rutin, tetapi lebih suka memberi jumlah besar dalam proyek besar! Kita ingin orang tahu ketika kita berkorban. Demikian seterusnya. Gotcha! Kita menemukan lagi si sombong itu dalam hati kita.

Masih banyak cara lainnya. Tapi saya ingin memberi satu lagi saja. Ini jenis pengujian yang lain. Kalau dua yang di atas memeriksa adanya si sombong dengan melihat apakah saya sombong, maka yang satu ini memeriksa adanya si sombong dengan melihat reaksi saya ketika “disombongin”. “Disombongin” bukan dalam arti dibangga-banggain oleh orang lain tetapi ketika kita diperlakukan dengan sombong oleh orang lain. Orang itu membesarkan diri, congkak, angkuh, sombong di hadapan kita dan memperlakukan kita jauh di bawahnya. Dengan kata lain kita “disombongin”.
Ketika kita “disombongin” oleh orang lain, apa reaksi kita? apa perasaan kita? Apakah kita ingiiiinnn sekali berkata, “Astagaaa… ini orang nggak tahu diri banget! Baru gitu aja sombongnya minta ampun! Emangnya gua musti bilang wow gitu? Dia pikir dia hebat begitu? Huh.. amit-amit!” Dan sebenarnya ada satu kalimat yang mungkin tidak terucapkan, “Kalau aja dia tahu siapa gua…” atau “Dia pikir gua butuh dia? Dia pikir gua nggak bisa?” Gotcha! Kita menemukan lagi si sombong itu di dalam hati kita.

Maka jelas melatih diri untuk tidak sombong tidaklah mudah. Dia akan bersembunyi dan membuat kita merasa sudah bebas darinya padahal dia terus akan muncul lagi dan muncul lagi. Maka sama seperti terhadap semua dosa lainnya, ini bukan pembersihan satu kali tetapi terus menerus. Kita perlu terus mengingat siapa kita ini dan siapa Tuhan. Kita perlu terus mengingat segala anugrah Tuhan bagi kita. Kita perlu terus membuka hati untuk Roh Tuhan bekerja, membersihkan hati ini, membawanya sesuai dengan Firman, mengangkatnya untuk mengagumi Tuhan, dan menggerusnya dari kebiasaan dosa.

Sulit? Ya, pasti! Kita tidak akan bisa melakukannya sendirian. Kita perlu anugrah Tuhan untuk mengenali kesombongan di dalam hati kita dan mengusirnya keluar.

Monday, February 10, 2014

A Grief Observed - C.S. Lewis

Saya tidak punya harapan apapun ketika mulai membaca buku ini. Saya membacanya hanya karena
ini adalah tulisan C.S. Lewis. Titik. Tapi begitu membaca kata pengantar yang ditulis oleh anak tirinya, saya mulai terpikat. 
Buku ini ditulis Lewis setelah kematian istrinya, Helen, dan merupakan catatan pergumulannya untuk menerima dan mengatasi duka yang menghancurkan hidupnya. Seperti dikatakan anak tirinya, yang membuat buku ini lebih luar biasa adalah karena penulisnya adalah orang luar biasa, dan wanita yang diratapinya adalah wanita luar biasa.

Lewis adalah cendekiawan yang sangat luar biasa, kemampuannya berpikir, menghafal, dan berdebat, membuat dia terisolasi dari kebanyakan orang. Helen mungkin adalah satu-satunya wanita yang pernah dia temukan yang kemampuan intelektualnya menyaingi dia. Helen pernah menikah dengan seorang novelis dan memiliki dua orang putra sebelum bercerai. Ketika menulis sebuah buku, Helen berkenalan dengan Lewis dan mereka menjadi akrab. Awalnya Lewis tidak ingin memperdalam hubungan mereka. Tetapi kenyataan bahwa dia akan segera kehilangan Helen karena penyakit kanker memaksa Lewis mengakui perasaannya. Mereka pun menikah. Anak tirinya berkomentar, "hampir terlihat seperti kejam bahwa kematian [Helen] tertunda cukup lama untuk [Lewis] bertumbuh mencintai dia sepenuhnya sehingga dia memenuhi dunia [Lewis] sebagai karunia terbesar yang Tuhan berikan kepadanya, dan kemudian dia mati dan meninggalkan [Lewis] sendirian di tempat yang diciptakan oleh kehadirannya dalam hidup [Lewis."

Tidak heran, Lewis mengalami kehilangan dan duka yang sangat besar dan bahkan keraguan akan Tuhan. Menarik bagaimana dia melukiskan itu (saya terjemahkan):

Sementara itu, dimana Allah? Ini adalah salah satu kenyataan yang menggoncangkan. Ketika engkau bahagia, begitu bahagia sehingga engkau tidak merasa membutuhkan Dia, begitu bahagia sehingga engkau tergoda untuk merasa klaim-klaim-Nya atasmu sebagai interupsi, jika engkau ingat dirimu dan berbalik kepada-Nya dengan syukur dan pujian, engkau akan -atau rasanya seperti- disambut dengan tangan terbuka. Tetapi pergilah kepada-Nya ketika kebutuhanmu sangat mendesak, ketika semua pertolongan sia- sia, dan apa yang kau temukan? Pintu yang dibanting di hadapanmu, dan suara pintu dipalang dua kali dari dalam. Setelah itu, sunyi. Engkau boleh berbalik pergi. Makin lama engkau menunggu, makin tegas kesunyian itu. Tidak ada cahaya pada jendela-jendela. Mungkin itu rumah kosong. Pernahkah rumah itu dihuni? Kelihatannya pernah. Dan kelihatannya itu sama kuatnya seperti kenyataannya. Apa artinya? Mengapa Dia begitu hadir sebagai pemegang kendali pada saat kemakmuran dan begitu tidak hadir sebagai pertolongan pada saat kesesakan?

Buku ini membuka wawasan saya akan kedukaan, kesepian, cinta, dan keraguan. Ada banyak hal menarik yang diungkapkan oleh dia. Lewis tidak pernah punya jawaban untuk semua pertanyaannya, tetapi akhirnya dia mendapatkan kekuatan untuk mengatasi dukanya dan percaya kepada Tuhan.

Buku ini sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh penerbit Pionir Jaya dengan judul: Mengupas Duka. Saya belum pernah melihat versi terjemahannya walaupun ada beberapa teman yang berkomentar bahwa terjemahannya tidak enak dibaca. Saran saya baca dulu beberapa halaman sebelum membeli, atau jika bisa, bacalah yang versi bahasa Inggris.

Wednesday, February 05, 2014

Never the Same

Salah satu buku yang sangat berkesan bagi saya adalah: Peace Child (Sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia: Anak Perdamaian). Buku itu bercerita tentang misionaris, Don Richardson bersama keluarganya, yang pada tahun 1962 pergi melayani di tengah suku-suku Sawi di Papua. Waktu itu suku Sawi masih hidup sebagai kanibal, perang antar suku terus menerus terjadi, dan mereka sangat menjunjung tinggi pengkhianatan (maka Yudas adalah pahlawan bagi mereka!). Don dan keluarganya dipakai Tuhan untuk membawa suku-suku Sawi kepada Tuhan. Perubahan mereka begitu drastis ketika hati mereka diterangi oleh Injil. Buku ini sangat menggerakkan hati saya. 

Tadi pagi saya menemukan sebuah film pendek (Never the Same) yang mendokumentasikan ketika Don dan tiga anaknya kembali mengunjungi daerah itu pada tahun 2012, tepat 50 tahun setelah kedatangan mereka yang pertama kalinya. Saya terharu sekali melihat film ini. Saya jadi bertanya lagi apa yang saya inginkan dalam hidup ini? Apa yang berharga untuk dilakukan dalam hidup ini? Sungguh, “betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” (Rom 10:15). 

Di bawah ini adalah link dari videonya:


Tuesday, January 14, 2014

“Main Mata” Dengan Pelayanan

Selama masa studi ini, saya bertekad untuk sebisa mungkin full-time. Tentu bukan berarti mengurung
diri dan tidak melakukan apa-apa selain belajar. Saya masih berkhotbah (walaupun jauh lebih jarang daripada dulu), memimpin KTB, menulis blog, bertemu dengan banyak orang, menjalankan hobi fotografi dan tentunya juga jalan-jalan :-) Tetapi semuanya serba dikurangi. Fokus utama, kegiatan utama, porsi terbesar waktu saya, adalah untuk studi.

Kadang saya diminta untuk lebih banyak melakukan ini dan itu atau memberikan waktu lagi untuk ini dan itu. Sebisa mungkin selalu saya tolak. Tapi sedikit buka rahasia, sebetulnya saya sering tergoda untuk mau! Tanpa diminta pun, seringkali saya tergoda. Melihat kebutuhan, ingin rasanya turun tangan. Mendengar masalah, ingin rasanya terlibat menangani. Kadang bahkan saya merasa studi jadi penghalang. Saya jadi curiga dengan diri sendiri. Kenapa saya merasa begitu?

Melayani adalah mengikuti pimpinan Tuhan. Ada masanya Tuhan perintahkan untuk kerjakan ini dan itu, ada masanya Tuhan perintahkan untuk istirahat, ada masanya Tuhan perintahkan untuk persiapan – studi. Seperti Musa, 40 tahun di istana Firaun belajar, 40 tahun di padang gurun juga belajar dengan cara lain, dan 40 tahun mati-matian mengerjakan pelayanan. Sekarang ini, Tuhan perintahkan saya untuk studi.

Kalau begitu, mengapa saya ingin terlibat lebih banyak pelayanan sekarang ini? Mengapa saya “main mata” dengan pelayanan? Kalaupun motivasi saya murni, itu berarti saya tidak sabar menunggu waktu Tuhan! Jangan-jangan saya punya savior-syndrome – “hanya saya yang bisa menolong”. Jangan-jangan saya merasa diri mampu – “orang lain tidak ada yang bisa”. Jangan-jangan saya hanya sok pintar dan sok tahu – “ah.. tidak ada yang mengerti”. Jangan-jangan saya ingin terlihat hebat – “biar orang lihat betapa luar biasa saya ini”. Jangan-jangan saya tidak sabar, tidak tekun, ingin yang instan, sementara studi itu harus lamaaaa… sekali menunggu memetik hasilnya. Jangan-jangan saya ingin terlihat produktif – karena kelihatannya studi itu tidak produktif. Bagaimanapun “betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu” (Yeremia 17:9).

Akhirnya saya memantapkan hati lagi bahwa saat ini perintah Tuhan untuk saya adalah studi. Bagian saya adalah taat. Fokus dan prioritas saya sekarang ini haruslah studi dan bukan “main mata” dengan pelayanan.

Thursday, January 02, 2014

Penuntun Saat Teduh: For the Love of God

Di awal tahun 2014, banyak dari kita yang membuat resolusi. Saya usul, bagaimana kalau salah satunya adalah membaca Alkitab dengan lebih baik, teratur, dan mendalam?

Buku penuntun saat teduh ada yang berseri (bulanan, dua bulanan, atau tiga bulanan) dan ada yang langsung lengkap selama setahun. Dari sekian banyak buku penuntun saat teduh tahunan (tentunya yang saya tahu), saya kira buku "For the Love of God" adalah yang terbaik. Tidak seperti buku lain yang seringkali hanya mengajak kita membaca satu ayat setiap hari, buku ini mengajak kita membaca satu pasal dan bahkan lebih! Penulisnya adalah D.A. Carson, salah seorang ahli Perjanjian Baru yang terkemuka. Renungan yang diberikan sangat baik dan mendalam.

Buku ini dibuat berdasarkan daftar bacaan Alkitab yang disusun oleh seorang bernama Robert Murray M'Cheyne yang lahir tahun 1813. Dia menyusun jadwal bacaan Alkitab untuk satu tahun - dan itu berarti membaca seluruh Perjanjian Lama satu kali dan seluruh Perjanjian Baru + Mazmur dua kali! Dia membuat empat kolom seperti di bawah ini: dua kolom adalah untuk dibaca pribadi dan dua kolom lagi untuk dibaca bersama keluarga (tidak masalah jika semua dibaca pribadi).


D.A. Carson, penulis "For the Love of God", tahu bahwa ini terlalu banyak. Maka dia mengusulkan supaya di satu tahun pertama, setiap hari kita hanya membaca dua bagian Alkitab, yang di kolom pertama dan kedua saja. Renungan yang dia tulis untuk hari itu akan diambil dari salah satu bagian saja. Di tahun kedua, barulah kita membaca bagian Alkitab di kolom ketiga dan keempat. Dan dia juga akan membuat renungannya hanya dari salah satu bagian saja. Itu sebabnya dia membuat buku For the Love of God dalam dua volume, masing-masing untuk satu tahun.

Misalnya, seperti di bawah ini: Di bagian atas dia menuliskan empat bacaan Alkitab sesuai yang dibuat M'Cheyne. Maka bacaan yang perlu dibaca adalah dua kolom pertama: Genesis 1 dan Matthew 1. Dia sendiri membahas hari itu dari Genesis 1 (diberi italic).


Anda bisa membaca dua bagian Alkitab itu sekaligus, lalu merenungkan salah satunya (yang dibahas oleh D.A. Carson). Atau anda bisa membaca satu bagian Alkitab saja di pagi hari (yang dibahas oleh D.A. Carson) dan membaca satu bagian lagi di malam hari. Untuk 1 January berarti Genesis 1 di pagi hari dan membaca renungan dari D.A. Carson, lalu Matthew 1 di malam hari. Dengan cara demikian, dalam dua tahun, anda sudah membaca dua kali Perjanjian Baru dan Mazmur, dan satu kali seluruh kitab Perjanjian Lama lainnya. Kalau anda ingin membaca Perjanjian Baru dan Mazmur satu kali saja, maka tinggal diatur jadwal membacanya.

Berita baiknya adalah, D.A. Carson membagikan buku For the Love of God ini secara gratis dalam bentuk PDF. Di bawah ini adalah link-nya:

For the Love of God, Volume 1:
http://s3.amazonaws.com/tgc-documents/carson/1998_for_the_love_of_God.pdf

For the Love of God, Volume 2:
http://s3.amazonaws.com/tgc-documents/carson/1999_for_the_love_of_God.pdf


Selamat bersaat teduh!

Wednesday, January 01, 2014

2014

Kalau “waktu” itu seperti garis lurus yang sangat panjang, maka di situ kita pasti menemukan banyak
sekali tonggak-tonggak pemberi tanda. Beberapa tonggak itu sifatnya umum, seperti: Tahun baru, Natal, Paskah, dll. Beberapa sifatnya sangat pribadi (dan biasanya ini banyak sekali) seperti: Ulang tahun, lulus sekolah, mulai bekerja, pembukaan bisnis, ulang tahun pernikahan, dst, dst. Manusia selalu tertarik dengan tonggak-tonggak itu.

Tonggak-tonggak itu ibarat pos perhentian di dalam perjalanan hidup. Ketika sampai di sebuah tonggak, kita merasa sudah menyelesaikan satu babak. Maka kita cenderung berhenti, mengingat apa yang di belakang, mengevaluasi, lalu mengambil tekad, menarik nafas panjang…. dan mulai berjalan lagi ke tonggak berikutnya.

Tonggak-tonggak itu ibarat “Bab” dalam buku. Mereka menjadi penanda untuk memudahkan kita mengingat apa yang terjadi di antara tonggak yang satu dengan yang lain. Bayangkan sulitnya membaca buku yang tanpa pembagian Bab, langsung bersambung dari halaman 1 sampai 300!

Tonggak-tonggak itu ibarat bendera warna-warni di tengah hamparan pasir coklat. Mereka membuat hidup menjadi tidak monoton. Tiap kali mencapai tonggak yang baru, seperti ada semangat yang baru, harapan yang baru, senyum yang baru.

Tetapi tonggak demi tonggak yang kita lalui bukan hanya mendorong kita untuk maju... terus... tanpa arah... tanpa ada ujungnya...! Tonggak demi tonggak yang kita lalui bukan hanya menjadi penanda sudah berapa jauh kita berjalan tetapi juga memberikan tanda sudah berapa dekat kita pada ujung jalan. Maka tonggak-tonggak itu ada, diberikan Tuhan, untuk menolong kita hidup lebih bijaksana.

Hari ini sudah 1 Januari 2014. Maka, selamat tahun baru! Kita sudah sampai di satu tonggak lagi!

Saatnya berhenti, 
menoleh ke belakang, 
mengevaluasi, 
menemukan kekuatan baru dari Tuhan,
lalu memandang ke depan, 
mengambil tekad, 
menarik nafas panjang…. 
dan mulai berjalan lagi ke tonggak berikutnya dengan lebih bijaksana. 

Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun. Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah. Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: "Kembalilah, hai anak-anak manusia!"… Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap. Siapakah yang mengenal kekuatan murka-Mu dan takut kepada gemas-Mu? Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
-Mazmur 90-