Tuesday, January 07, 2020

Jangan "Hakuna Matata"

Semua yang menonton film The Lion King pasti tahu “hakuna matata”. 

“Hakuna Matata” adalah frase dari bahasa Swahili dari Tanzania yang secara literal berarti “no problem” (saya nyontek ini dari Wikipedia). Frase ini menjadi judul lagu yang dinyanyikan oleh Simba dan kawan-kawannya. Perhatikan lirik lagunya:

Hakuna matata…
It means no worries, for the rest of our days
It’s our problem-free philosophy

Hakuna matata…
Artinya tidak ada kuatir, sepanjang hidup kita
Itu adalah filosofi bebas-masalah

Saya perlu cerita sedikit alur film ini untuk menyampaikan maksud saya, apalagi untuk yang belum menonton.

Kalau ini adalah kisah nyata (dan Simba bukan anak singa tapi anak manusia) saya bisa membayangkan betapa hancurnya orang yang berada dalam situasi Simba. Waktu itu Simba baru saja lari dari pengalaman yang mengerikan. Dia mengira bahwa dialah yang bertanggung jawab atas kematian ayahnya, the Lion King. Pamannya yang jahat, yang menginginkan takhta, membuat dia lari meninggalkan segalanya. Maka Simba meninggalkan posisinya sebagai the new Lion King, mengabaikan keluarganya, rakyatnya, dan tanahnya.

Dalam keadaan seperti itulah dia bertemu dengan kawan-kawan baru yang kemudian mengajarkan filosofi “hakuna matata” kepadanya. Simba menerima filosofi itu dan hidup bersenang-senang di tempat yang baru, bersama lingkungan yang baru, tanpa terpikir untuk kembali.

Sampai akhirnya dia bertemu dengan Rafiki (monyet Mandrill) yang menuntunnya bertemu dengan roh ayahnya.  Di situlah ayahnya menegur dia: “Simba, you must remember who you are!” Siapa Simba? Dia adalah anak raja. Simba harus kembali ke tanahnya dan menjadi raja di sana untuk kesejahteraan keluarga serta rakyatnya. Sekalipun ada banyak tantangan dan kesulitan, dan lebih nyaman berada di lingkungan barunya, dia harus ingat siapa dirinya. Tempatnya bukan di situ tetapi di tanahnya dan ada panggilan hidup yang harus dia jalani. Remember who you are!

Ok, cukup cerita The Lion King. Sekarang mari kita pikirkan mana dari dua kalimat itu yang lebih cocok untuk menjadi filosofi kita?

Alkitab memang mengajarkan kita untuk tidak kuatir akan apapun. Tetapi ketidakkuatiran itu adalah karena kita percaya Tuhan memelihara hidup kita sekalipun ada banyak masalah. “Hakuna matata”, sebaliknya, mengajarkan kita untuk lari dari realita. Oleh karena kehidupan yang benar itu mengerikan, maka lupakan, jangan pikirkan, tidak perlu kuatir, bersikaplah seperti tidak ada masalah. Oleh karena kehidupan yang seharusnya dijalani itu sulit, maka tidak perlu dijalani.

Tetapi kita harus ingat siapa kita. Siapa kita? Anak Tuhan yang sudah ditebus dan terus menerus diberikan anugerah! Siapa kita? Orang yang sedang diubahkan menjadi serupa Kristus! Siapa kita? Orang yang diberikan misi oleh Tuhan!

Apa tantangan hidup kita? Banyak! Ada godaan untuk berdosa. Ada karakter, kebiasaan, kecenderungan, yang masih dipengaruhi oleh kelemahan dan keberdosaan kita. Lalu juga ada ketakutan, kemalasan, dan keinginan untuk menyenangkan diri dan bukan Tuhan. Maka “hakuna matata” sangatlah menghibur. Tapi ingatlah siapa kita! Tuhan dengan anugerah-Nya mengampuni dan terus mengubahkan kita. Jangan menyerah! Jangan kemudian hidup seperti bukan anak Tuhan! Tuhan juga terus memanggil kita untuk mengerjakan pekerjaan baik bagi kemuliaan-Nya. Jangan abaikan itu! Jangan hidup untuk kesenangan diri! Remember who you are!

Saya sadar tahun 2020 bukan tahun yang mudah untuk kita. Tapi bukankah tidak pernah ada tahun dimana Tuhan tidak sanggup untuk mengampuni, mengubahkan, dan memakai kita?

Remember who you are!

Wednesday, April 10, 2019

Di Bawah Sayap Tuhan

“TUHAN kiranya membalas perbuatanmu itu, dan kepadamu kiranya dikaruniakan upahmu sepenuhnya oleh TUHAN, Allah Israel, yang di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung." (Rut 2:12)

Ayat ini menarik perhatian saya.

Beberapa waktu ini saya banyak memikirkan tentang hidup dan pelayanan. Saya teringat pada banyaknya kesalahan di masa lalu yang saya sesali. Saya juga menyadari ada banyak ketidakpastian di masa depan yang membuat saya gentar. Maka ketika membaca Alkitab, dan sampai pada bagian ini, mata saya terhenti dan hati saya terharu. Ayat ini menjadi sebuah oasis bagi saya hari itu.

Kita tahu kisah Rut. Dia adalah seorang perempuan Moab yang menikah dengan seorang Israel. Naomi, mertua perempuannya, adalah seorang yang dirundung kemalangan. Suaminya meninggal. Lalu dua orang anaknya (salah satunya adalah suami dari Rut) juga meninggal. Maka Naomi hanya tinggal sebatang kara bersama dengan dua orang menantu perempuannya. Tetapi ketika Naomi memutuskan untuk kembali ke Israel, Rut mengambil keputusan untuk mengikuti mertuanya itu kembali ke Israel. Bagaimanapun dibujuk, ia ngotot untuk ikut Naomi ke Israel. Dengan sangat yakin ia berkata kepada mertuanya: “bangsamulah bangsaku dan Allahmulah allahku.” Kalimat yang sama sekali tidak main-main!

Keputusannya untuk mengikuti Naomi membuat Rut menjalani kehidupan yang sangat sulit. Dia pindah ke tempat yang sama sekali asing bagi dia. Dia harus berusaha diterima menjadi bagian dari bangsa Israel. Dia tidak ada prospek untuk menikah kembali – sesuatu yang dianggap sangat buruk di zaman itu. Ditambah lagi, karena mertuanya tidak punya kemampuan ekonomi, dia harus bekerja kasar. Kehidupan menjadi sangat sulit baginya.

Tetapi, dengan tindakannya menemani Naomi, dengan datang ke tanah dan umat milik Allah, dengan berkomitmen “bangsamulah bangsaku dan Allahmulah allahku”, Rut sebetulnya menempatkan diri berlindung di bawah sayap Tuhan. Rut memilih Allah!

Sekalipun itu berarti dia kehilangan banyak hal, mengalami banyak kesulitan, dan seperti tidak punya pengharapan. Tetapi di saat yang sama, justru dengan demikianlah, Rut sedang menempatkan dirinya sepenuhnya di bawah perlindungan sayap Allah. Allah digambarkan seperti induk burung yang menawarkan sayapnya untuk melindungi anak-anaknya yang tidak berdaya dan kepada siapa yang datang untuk berlindung di bawah sayap-Nya, Allah tidak akan pernah mengecewakan!

Saya tidak membayangkan diri saya seperti Rut… tetapi saya membayangkan diri sebagai orang yang berlindung di bawah sayap Tuhan. Di tengah banyaknya kesulitan dan tekanan, tiap hari saya memohon anugrah Tuhan. Saya mau berlindung, berjongkok, mengkerut, tiarap, terlentang, atau apapun, di bawah sayap Tuhan.

Maka doa berkat Boas untuk Rut itu mengharukan saya: “TUHAN kiranya membalas perbuatanmu itu, dan kepadamu kiranya dikaruniakan upahmu sepenuhnya oleh TUHAN, Allah Israel, yang di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung."

Saya tidak mengklaim berbuat apapun yang pantas untuk menerima upah dari Tuhan. Sama sekali tidak. Tuhan menyatakan perlindungan-Nya saja, itu sudah lebih dari cukup bagi saya.

Tapi doa Boas bahwa Tuhan bukan saja akan melindungi melainkan juga akan membalas orang yang datang berlindung di bawah sayapnya, membuat saya terharu akan kemurahan Tuhan.

Under the wings of God, I come to take refuge!

Wednesday, January 02, 2019

Jangan Membuat Resolusi

Ada sangat banyak orang yang hampir selalu membuat resolusi di awal tahun yang baru. Saya salah satunya. Tapi tahun ini tidak.

Mengapa sangat banyak orang yang membuat resolusi di tahun baru? Saya kira ada 2 alasan besar.

Pertama, pergantian tahun adalah “tonggak waktu” yang Tuhan berikan untuk menandai hidup kita. Bahwa “satu bab” sudah berlalu dan kita membuka “bab yang baru”. Maka pergantian tahun mendorong kita untuk mengingat “bab yang lalu”, mengevaluasinya, dan mengharapkan “bab yang baru.”

Kedua, kita sangat sadar bahwa hidup kita belum cukup baik di tahun yang lalu. Kita tahu segala kelemahan dan kegagalan kita. Berat badan yang tidak ideal. Kehidupan keluarga yang kurang harmonis. Pembagian waktu yang berantakan. Gaya hidup yang kurang baik. Maka kita ingin berubah.

Maka tahun baru, resolusi baru. Kita berharap segalanya lebih baik. Kita bertekad menjadi lebih baik.

Tetapi, resolusi cenderung fokus pada hasil (tidak selalu, tapi biasanya begitu). Kita ingin menjadi orang yang lebih ramah. Kita ingin turun 8kg. Kita ingin sehat. Kita ingin berhasil dalam pekerjaan. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Tetapi, tidak ada hasil tanpa proses! Kita sering membuat resolusi tanpa memikirkan bagaimana mencapainya. Maka tidak heran pada bulan Februari banyak orang yang meninggalkan resolusi yang dibuat pada bulan Januari!

Resolusi juga cenderung fokus pada kesimpulan tanpa memberikan detil apa yang dimaksudkan. Misalnya "saya mau lebih banyak menolong orang" tidak akan berhasil tanpa diperjelas apa sebetulnya yang ingin kita lakukan. Untuk bisa lebih banyak menolong orang, perlu ada kebiasaan baru yang kita bentuk. Kebiasaaan apa? Kapan? Apa komitmennya? Tanpa semua itu, resolusi akan percuma.

Maka menjelang akhir 2018, saya mencoba membuat aturan bagaimana saya mau hidup di tahun 2019. Aturan itu seperti proses. Saya tidak tahu bagaimana hasilnya nanti, walaupun seharusnya kalau prosesnya benar maka hasilnya pasti baik. Saya tidak ingin fokus dan hanya memimpikan hasil, tetapi saya ingin fokus mengerjakan proses.

Di akhir tahun 2018 dan di awal tahun 2019, saya membaca dua artikel tentang resolusi yang sangat baik dan menegaskan apa yang ingin saya lakukan:
https://www.thegospelcoalition.org/article/skip-resolutions-make-rule-life/
https://www.thegospelcoalition.org/article/make-habits-not-resolutions/

Di dalam artikel yang pertama, penulis menyarankan untuk kita membuat aturan hidup yang mencakup lima wilayah kehidupan kita: (1) Relasi dengan Tuhan, (2) Kehidupan/kesehatan pribadi, (3) Relasi dengan orang di sekitar, (4) Gereja, (5) Pekerjaan.

Misalnya kita bisa membuat aturan hidup:

1. Setiap hari Senin-Jumat: Saya akan bangun jam 05.15, olah raga selama 45 menit. Setelah sarapan, saya akan saat teduh selama 30 menit. Kemudian berangkat kerja.
2. Saya akan tidur paling lambat jam 22.30.
3. Setiap hari Minggu saya akan mengevaluasi kehidupan selama 1 minggu dan merencanakan minggu yang akan datang (jam 14.00-15.00).
4. Setiap hari senin malam, saya akan membaca buku rohani selama 1.5 jam.
5. Setiap hari Minggu malam saya akan mengajak orang tua makan bersama.
6. Setiap akhir bulan saya akan mengevaluasi kondisi keuangan saya dan mendiskusikannya dengan suami/istri.
7. Selain perpuluhan yang saya berikan, saya akan menyisihkan 2% lagi dari pendapatan saya untuk menolong orang yang membutuhkan.
8. Dst…


Mulailah dengan berdoa bagian mana dalam hidup kita yang harus berubah. Pikirkan baik-baik apa yang ingin kita capai di tahun 2019. Kemudian pikirkan bagaimana kita bisa mencapainya. Kebiasaan apa yang harus kita mulai? Komitmen apa yang harus kita jalani untuk membentuk kebiasaan itu?

Komitmen akan membentuk kebiasaan dan kebiasaan pasti akan mengubah. The power of commitment. The power of habits. 

Selamat membuat aturan hidup dan membentuk kebiasaan yang baru.

Friday, October 05, 2018

Sudahkah Mendengar Berita Injil - hari ini?

“Kita bukan saja harus memberitakan Injil kepada orang lain. Kita juga harus mendengar dan menerima berita Injil, bukan hanya satu kali waktu percaya, tetapi terus menerus. Kita harus mengkhotbahkan Injil terus menerus kepada diri kita sendiri.”

Sudah lama saya mendengar pernyataan itu. Saya mengamininya. Tetapi berita Injil seperti apa yang harus kita khotbahkan?

Injil pertama-tama adalah tentang keselamatan. Berita Injil adalah tentang Yesus yang “telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini” (Galatia 1:4). Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan kita.

Tetapi Injil juga memiliki dimensi yang lain.

Injil juga adalah berita bahwa Tuhan sudah merobohkan tembok pemisah (Efesus 2:11-18). Tidak ada lagi pemisahan suku, yang jauh dan yang dekat dengan Allah. Suku bangsa dan bahasa tidak boleh lagi menjadi pemisah di antara umat Allah. Kita semua dijadikan manusia baru yang diperdamaikan dengan Allah oleh salib. Maka setiap orang yang percaya kepada Allah diterima sebagai kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota keluarga Allah.

Satu catatan yang penting: Tidak berarti ini adalah keluarga yang tanpa aturan – semua, asalkan percaya, tidak peduli bagaimana “percaya”nya dan “kelakuan”nya, harus diterima tanpa ada teguran dan koreksi. Paulus berkata keluarga ini “dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru” (Efesus 2:20) dan menjadi sebuah bangunan “bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan… tempat kediaman Allah, di dalam Roh” (Efesus 2:21-22). Jelas ada pekerjaan rumah yang besar untuk keluarga ini. Tetapi, bagaimanapun, suku bangsa dan bahasa tidak boleh menjadi pemisah atau pembeda di dalam Kristus.

Apakah kita mengkhotbahkan Injil ini terus menerus kepada diri kita sendiri?

Injil adalah berita bahwa Tuhan peduli kepada setiap orang, khususnya mereka yang lemah dan tertindas (Lukas 4:18-19). Berita Injil adalah berita bahwa Tuhan sedang bekerja menjadikan dunia baru, yang penuh keadilan, belas kasihan, dan kebenaran. Tuhan tidak akan tinggal diam dan membiarkan segala ketidakbenaran di dalam dunia terus berjalan. Hari ini, gereja, harus memberitakan ini kepada dunia dan mengerjakannya.

Apakah kita mengkhotbahkan Injil ini terus menerus kepada diri kita sendiri?

Injil juga adalah berita bahwa Tuhan menerima kita apa adanya, tanpa syarat (Roma 5:10). Tuhan mengasihi kita bukan pada waktu kita baik tapi pada waktu kita masih seteru. Bagaimana mungkin hari ini, ketika kita sudah menjadi anak-anakNya, Dia tidak mengasihi kita ketika kita melakukan kesalahan? Sebesar apapun kesalahan kita, tidak akan membuat Dia membatalkan kasihNya bagi kita. Sebesar apapun kebaikan kita, tidak akan membuat Dia lebih mengasihi kita.

Sebuah kalimat di dalam film The Greatest Showman sangatlah baik: “You don’t need everyone to love you, just a few good people.” Engkau tidak perlu dikasihi semua orang, cukup beberapa orang yang baik saja. Bukankah yang terbesar di antara “beberapa yang baik” itu adalah Yesus? Jika Yesus mengasihi kita, itu sudah lebih dari cukup. Bonusnya adalah beberapa orang di sekitar kita yang melaluinya Tuhan berbisik: Aku mengasihimu.

Apakah kita mengkhotbahkan Injil ini terus menerus kepada diri kita sendiri?

Kalau Injil adalah Tuhan menerima kita apa adanya, maka Injil juga adalah Tuhan menerima dan mengasihi saudara-saudara seiman kita apa adanya. Mereka mungkin punya banyak kelemahan yang mengganggu kita. Mereka mungkin tidak cocok dengan kita. Bahkan mereka mungkin menyakiti kita. Tetapi, kalau Tuhan mengasihi mereka, bukankah kita harus mengasihi mereka juga? Kalau Tuhan mengampuni mereka, bukankah kita harus mengampuni mereka juga?

Injil juga adalah pengharapan bahwa hidup kita sedang menuju kepada sebuah keadaan dimana Tuhan akan menghapuskan segala yang jahat di dunia ini dan menyempurnakan segala yang masih menunggu (Wahyu 20:1-5). Bukan hanya sakit dan penderitaan yang akan dihapuskan, tetapi kasih yang sulit di tengah keluarga yang tidak sempurna, relasi yang berantakan karena kesalahan, dan pelayanan yang seperti tidak ada hasilnya, akan menemui kesempurnaannya.

Sejujurnya, saya sering tidak mengkhotbahkan Injil itu kepada diri sendiri. Di tengah tekanan kehidupan, saya sering berjuang sendiri dan gagal sendiri. Akhirnya saya tidak mengingat dengan kuat siapa Tuhan, siapa saya, siapa orang lain, dan untuk apa saya hidup. Maka betapa saya perlu lagi dan lagi datang kepada salib Kristus, dan mendengar berita InjilNya. Hanya dengan itu saya punya kekuatan untuk hidup dan melayani.

Sudahkah mendengar berita Injil, hari ini?

Wednesday, July 11, 2018

The Conviction to Lead–Albert Mohler

Albert Mohler, The Conviction to Lead: 25 Principles for TheConvictionToLeadMohlerLeadership that Matters (Minneapolis: Bethany House, 2012), 220 pages.

Saya tertarik membaca buku ini karena dua hal.

Pertama, karena saya sadar bahwa menjadi gembala GKY Green Ville is no joke. Saya perlu mencari pertolongan dari orang lain untuk mengajari saya bagaimana memimpin. Tetapi, saya memilih untuk belajar dari orang yang saya percaya kualitas dan keyakinannya. Albert Mohler memenuhi kriteria itu.

Kedua, karena kisah dramatis di awal kepemimpinan Albert Mohler. Dia dipercaya untuk menjadi presiden dari Southern Baptist Theological Seminary pada usia 33 tahun di tahun 1993. Saat itu SBTS sudah berusia 144 tahun! Mohler sendiri baru empat tahun sebelumnya lulus dengan PhD dari sekolah itu. Dia diminta untuk membalikkan total arah dari seminari itu kembali kepada keyakinan iman semula dan dia harus menghadapi tentangan luar biasa dari mahasiswa dan hampir semua dosen yang ada. Sejak hari pertama dia memimpin, mahasiswa sudah berkumpul untuk demonstrasi dan setiap saat ada wartawan di depan kantornya. Hampir semua dosen kemudian mengundurkan diri. Tetapi, Mohler kemudian berhasil menjadikan SBTS kembali menjadi sekolah yang besar.

Buku ini berisi 25 bab pendek, masing-masing hanya sekitar 6-8 halaman. Setiap bab bisa dibaca dalam waktu singkat. Bahkan saya merasa buku ini sebaiknya dibaca sedikit demi sedikit daripada sekaligus. Tentu tidak semua bab itu bisa diterapkan di dalam semua konteks. Tetapi, banyak di antaranya yang memberikan inspirasi.

Hal paling penting yang menjadi dasar dari semua bab di dalam buku ini adalah seorang pemimpin harus memimpin berdasarkan keyakinan. Kepemipinan dimulai dengan tujuan dan bukan rencana. Keyakinan dan tujuan itulah yang harus terlihat dari seorang pemimpin dan menginspirasi orang yang dipimpinnya. Kemudian dia membahas banyak hal mengenai tantangan, kesempatan, dan sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

Berikut adalah beberapa judul bab dalam buku ini untuk memberikan gambaran:
Leaders Understand Worldviews
Leaders Are Thinkers
Leaders Are Teachers
The Leader and Power
Leaders Are Managers
The Leader as Writer
The Digital Leader

Sejujurnya dia meletakkan standar yang sangat tinggi – yang membuat saya ngeri. Tetapi, dia bukan menulis dari menara gading. Jelas bahwa apa yang dia tulis sudah dan sedang dia jalankan. He walks the talk.

Saya merasa perlu waktu lebih lama untuk membuat merenungkan apa yang dia tulis.

Recommended!

Friday, July 06, 2018

Penggambaran Sikap Doa

Dari sekian banyak penggambaran sikap orang ketika berdoa, saya tidak tahu mengapa dua gambaran di bawah ini paling menggerakkan hati saya.

Pertama, orang yang berlutut berdoa sambil menengadahkan tangannya.


Kedua, orang yang berdoa sambil mengulurkan tangannya ke atas.


Seringkali ketika melihat penggambaran seperti itu saya merasakan ada koneksi dengan hati saya.

Mungkin karena menengadahkan tangan sebagai sikap berdoa menunjukkan sikap seseorang yang membutuhkan Tuhan dan memohon supaya Tuhan memberikan kekuatan di tengah pergumulan hidupnya. Seakan-akan dia sedang memohon, berulang kali, “Tuhan, berkatilah aku… berkatilah aku!”

Mungkin juga karena mengulurkan tangan ke atas sebagai sikap berdoa menunjukkan sikap seseorang yang dalam keadaan tertekan dan berusaha menggapai ke Tuhan. Saya ingat Mazmur 77:3 “Pada hari kesusahanku aku mencari Tuhan; malam-malam tanganku terulur dan tidak menjadi lesu…” Istilah terulur berarti menggapai ke atas. Pemazmur bercerita bahwa di dalam usahanya mencari Tuhan pada hari kesusahannya, tangannya terulur tanpa lelah! Seakan-akan dia memohon, berulang kali, Tuhan, kasihanilah aku.... kasihanilah aku!

Saya tidak bisa sepenuhnya menjelaskan mengapa dua penggambaran di atas lebih menggerakkan saya dibanding yang lainnya. Pergumulan hidup dan kesusahan yang saya alami sangatlah tidak berarti dibanding banyak orang kudus lain. Tetapi sebagai orang yang penuh dengan kelemahan, semakin lama semakin saya merasakan kebutuhan akan belas kasihan Tuhan dan berkat Tuhan. Saya membutuhkan Tuhan!

Beberapa waktu lalu saya menemukan gambar di bawah ini dari Logos dan saya jadikan sebagai wallpaper di laptop saya.


Saya tahu bahwa di dalam anugrahNya, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan saya dan jauh dari saya. Tetapi, pertolongan Tuhan diberikan kepada mereka yang menantikannya dengan rendah hati. So I want to pray like that!

Tuesday, May 29, 2018

The End of A Very Long Chapter

Note: Sudah lama saya mengabaikan blog ini. Alasannya apa lagi kalau bukan kesibukan. Sesungguhnya sulit bagi saya untuk mulai menulis lagi. Tetapi saya masih merasa blog ini adalah media pelayanan yang efektif. So here I come again :-) Tapi sebelum saya mulai menulis artikel lagi, saya ingin menutup sebuah "bab" yang sangat panjang dalam hidup saya dengan tulisan di blog ini. Peringatan: Tulisan ini panjang!

Pada bulan April 2017, saya kembali ke Jakarta dalam kondisi disertasi yang belum selesai. Saya berjuang untuk menyelesaikannya. Tetapi, saya hampir tidak punya waktu untuk menulis apapun ketika berada di Jakarta. Maka setiap kali memungkinkan, saya kembali ke Singapore untuk meneruskan penulisan disertasi itu. Jangan tanya bagaimana saya bisa menyelesaikan disertasi dengan cara seperti itu. Saya juga tidak tahu.

Tanggal 6-13 Februari 2018 saya ke Singapore lagi dengan harapan bahwa itu adalah yang terakhir kalinya untuk menyelesaikan penulisan disertasi. Kalaupun tidak bisa selesai, saya bertekad untuk menyelesaikan semuanya di Jakarta. Tetapi, Tuhan sangat baik. Pada waktu di Singapore, begitu banyak "untung" dan "kebetulan" yang membuat saya berhasil menyelesaikan penulisan dan supervisor saya menyetujui disertasi saya untuk diserahkan ke penguji. Jangan tanya bagaimana lelahnya saya waktu itu. Tapi, yang pasti legaaaa... sekali rasanya.

Langkah berikutnya adalah menunggu jadwal sidang. Biasanya perlu waktu minimal tiga bulan sejak disertasi diserahkan sampai sidang dilakukan. Tetapi, wisuda akan dilakukan tanggal 12 Mei dan itu berarti tidak akan keburu dan saya mungkin harus menunda wisuda ke tahun 2019. Walaupun bagi saya, asalkan-selesai-ya-sudah-lah, tetap rasanya akan ada sesuatu yang mengganjal. Ajaibnya, keburu!

Saya ke Singapore lagi untuk sidang tanggal 4 April. Penguji saya adalah Prof. G. Walter Hansen dari Fuller Theological Seminary dan Dr. Leonard Wee sebagai internal examiner. Sebetulnya saya sangat tidak siap untuk sidang karena kesibukan yang luar biasa di Jakarta. Saya tidak bisa membayangkan pertanyaan yang akan diberikan oleh penguji dan saya lebih tidak bisa membayangkan lagi bagaimana menjawabnya. Jangan tanya bagaimana tegangnya. Level tertinggi. Jangan tanya juga bagaimana saya bisa lulus. Mukjizat.

Prof. G. Walter Hansen adalah seorang accomplished scholar dalam Perjanjian Baru dan juga ahli dalam surat Galatia. Maka beberapa komentar dari dia di bawah ini membuat saya sangat bersyukur. Bukan karena merasa hebat, tetapi karena saya ingat bagaimana Tuhan memimpin saya menulis bab demi bab:

From the good survey of references to the Spirit in Jewish literature to the in-depth analysis of metaphors of the Spirit, this thesis admirably exemplifies the kind of breadth and depth we look for in a doctoral thesis.

Rather than wondering what central point this thesis wants to make, we know from the beginning to the end that it argues for one central point: living in conformity to the ethics of the Spirit, not the ethics of the Torah, leads to final justification.


He has done an admirable work in producing such a major thesis. So much of his work contributes to our understanding of Galatians.


Dengan murah hati, dia kemudian menulis email kepada saya secara pribadi:


Congratulations, Jeffrey!

I pray that you will be "led by the Spirit," not only as you complete your work on this good thesis, but also as  you carry on your ministry to proclaim the “truth of the gospel.”

The Lord bless you and keep you!

Walter Hansen

Tuhan tahu bahwa hari dimana saya sidang adalah hari besar bagi saya - akhir perjalanan studi selama lima tahun, bahkan sembilan tahun kalau dihitung sejak studi M.Th, ditentukan hari itu - dan saya sepenuhnya bergantung kepada Tuhan. Saya bukan hanya berlutut. Saya tiarap. Maka, hari itu, Tuhan menggerakkan sangat banyak orang berdoa untuk saya. Saya tidak cerita ke banyak orang bahwa hari itu saya sidang disertasi tapi berita itu menyebar. Sejak pagi hari itu saya menerima banyak sekali ucapan dukungan. Istri saya berkata, "banyak sekali orang berdoa untuk kamu" - dan dia benar. Selesai sidang, saya menangis karena terharu. Saya hanya bisa bersyukur kepada Tuhan. 

Di bawah ini adalah ucapan terima kasih yang saya tuliskan di dalam disertasi saya:

All who have undergone the task of writing a dissertation would agree that without the presence of so many people who had supported them, even sacrificed for them, they would never have been able to complete it. I am grateful for the presence of many such people around me during my study at Trinity Theological College. To them, I am much indebted.

My first and special thanks go to my wise Doktorvater, Dr. Tan Kim Huat, for his insightful comments and patience. He had also supervised me in writing my thesis for Master of Theology degree, which was also done at Trinity Theological College. It is a great privilege for me that I can study with him for about eight years and I hope that the result does not disappoint him too much. Thank you Dr. Tan! My examiners, Prof. G. Walter Hansen and Dr. Leonard Wee, have offered helpful corrections and advice. Whatever deficiencies remain in the present work is my sole responsibility.

I owe a warm word of thanks to the leaders and members of my church in Jakarta, Gereja Kristus Yesus Green Ville. They have patiently waited for me to finish my study and to be back in the ministry while also graciously providing financial support throughout the years. All for the greater glory of God! To the leaders and members of Gereja Kristus Yesus Singapore, thanks for the fellowship and all the support given to me and my wife since the first day we moved to Singapore. Thanks, too, to the Brash Trust, who has provided substantial amount of scholarship during my study in Singapore. 

My thanks and affection also go to my family for their love and support. They have always been a precious part of my life. I am indebted, too, to my close friends and “spiritual children” in Singapore and in Jakarta. They have played a vital role in keeping me both sane and motivated.

And to my wife, Yudith, what else can I say about her? She is such a great blessing and constant encouragement for me. To her, many thanks are given, beyond what words can express. I devote this work to my Savior God, Jesus Christ, and to her. 

To God be the glory!


Thanks all! It's been a long journey!

With my supervisor, Prof. Tan Kim Huat.

Thanks a bunch GKYers Singapore!



 With Dr. Edmund Fong. We were in the same batch during our M.Th study in TTC.

 With Dr. Michael Mukunthan. TTC's librarian.

 With Duy - D.Th candidate from Vietnam. My neighbor in the library :-)


Some important people in the background :-)

With Anthony and his family - a Malaysian friend.

Mandatory pose in a mandatory spot!

 
Thanks for many durian treats during the past 9 years!