Monday, October 25, 2010

Hosana

Seruan "Hosana" di dalam Perjanjian Baru hanya muncul di dalam cerita Yesus memasuki kota Yerusalem. Orang banyak menyambut Yesus sambil berseru-seru: "Hosana! Hosana!"

Hosana berasal dari bahasa Ibrani - yang jika dituliskan menjadi - "hoshi'ah na". Di dalam bahasa Yunani dituliskan menjadi "hosanna".

Di dalam Perjanjian Lama, istilah ini muncul beberapa kali di dalam Mazmur (di dalam Alkitab bahasa Indonesia, di Perjanjian Lama tidak ada kata ini karena ia diterjemahkan dan tidak dituliskan langsung). "Hoshi'ah na" adalah seruan kepada Tuhan yang menyatakan doa supaya Tuhan menolong dan memberikan kemenangan. Maka di dalam Alkitab bahasa Indonesia, "hoshi'ah na" itu diterjemahkan menjadi "selamatkanlah", "berikanlah keselamatan", atau "berilah kiranya keselamatan". Lama kelamaan orang Yahudi mengubah seruan minta tolong ini menjadi seruan perayaan, seruan pembebasan. Dan orang Yahudi bahkan kemudian menafsirkan seruan ini sebagai seruan pengharapan mereka akan Mesias.

Itulah sebabnya pada waktu Yesus masuk ke Yerusalem dengan menunggangi keledai muda, orang banyak yang sedang berkobar-kobar mengharapkan Mesias, bersama-sama berseru "Hosana! Hosana!". Perhatikan perkataan mereka "diberkatilah kerajaan yang akan datang, kerajaan bapak kita Daud.." (Markus 11:9). Harapan mereka saat itu sedang sangat tinggi. Dan seruan mereka "Hosana!" adalah seruan "berikanlah keselamatan" atau mungkin seruan pembebasan "inilah pertolongan dari Tuhan, inilah keselamatan dari Tuhan, Tuhan menolong kita, Hosana!"

Hari ini, pada waktu kita juga berseru "Hosana!" atau "Hosiana!", biar kita ingat bahwa seruan kita "selamatkanlah kami" atau "Tuhan menolong kita" sudah digenapi di dalam Yesus. Jadikan ini seruan pembebasan. Tuhan sungguh sudah menolong kita! Hosana!

Wednesday, October 20, 2010

Kecintaan Pada Firman Tuhan

Hari ini kuliah terakhir New Testament Exegesis (kuliah yang saya ikuti sebagai pendengar).

Sepanjang kuliah selama 1 semester ini, kami sudah dibuat terkagum2 dengan keahlian Prof. Tan Kim Huat dalam mengeksegesis. Kadang-kadang saya pikir kapan ya bisa seperti itu? Walaupun dia sangat baik dalam memberikan penjelasan tetapi saya dan juga banyak murid lain yang terintimidasi, khususnya karena masalah bahasa Yunani.

Hari ini di akhir dari kuliahnya Prof. Tan menyampaikan final speech yang sangat berkesan bagi kami. Dia menceritakan kerinduannya melihat munculnya orang-orang yang serius mempelajari bahasa untuk menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa masing-masing dan dia menceritakan keinginannya supaya setiap kami terus melakukan eksegesis. Dia tahu bahwa sangat mungkin kami semua dengan cepat melupakan morfologi bahasa Yunani, yang menurut dia tidak terlalu masalah dengan banyaknya tools yang ada sekarang ini, tapi dia tekankan jangan lupakan grammar! Baca Alkitab dalam bahasa Yunani, ingat grammar-nya, pikirkan, eksegesis!

Prof. Tan kemudian juga bercerita tentang Karl Barth. Ketika murid2 Karl Barth bertanya bahwa setelah semua eksegesis, penelitiannya dan kerja kerasnya, apa yang bisa dia simpulkan? Dan Barth berkata: JESUS LOVES ME! Sampai di kalimat itu, kami bisa mendengar suara Prof. Tan bergetar dan kami melihat matanya berkaca-kaca. Semua langsung terdiam.

Karl Barth adalah teolog besar yang berprinsip selalu mulai dulu dari Alkitab. Dia mulai dengan Alkitab, baru belajar teologi dan hal-hal lain yang lebih luas. Tapi selalu kembali ke Alkitab dulu.

Prof. Tan kemudian juga bercerita tentang seorang ahli Perjanjian Lama yang dari muda sudah menetapkan hati untuk mempelajari Perjanjian Lama karena melihat begitu banyak orang mengkritisi Perjanjian Lama dan tidak percaya lagi dengan Tuhan. Orang itu berpikir bahwa dia akan hidup selama 75 tahun, maka dia membagi hidupnya menjadi 3 bagian: 25 tahun pertama hidupnya dia pakai untuk belajar berbagai bahasa yang terkait dengan Perjanjian Lama: Ibrani, Aramaik, Akadian, dan lain-lain. 25 tahun kedua hidupnya dipakai untuk studi dan research mempelajari berbagai macam hal terkait dengan Perjanjian Lama dan seluruh Alkitab. 25 tahun terakhir hidupnya dipakai untuk menulis dan mengajar. Dan dia lakukan itu karena dia mencintai Tuhan. Masih adakah orang-orang seperti ini yang muncul?

Prof. Tan menceritakan bebannya supaya ada orang-orang yang mau belajar keras, mati-matian seperti ahli Perjanjian Lama itu. Dan seharusnya ada orang-orang kaya yang tidak menghabiskan uang untuk kemewahan seperti membeli mobil mewah, tapi memakai uangnya untuk mendukung orang-orang seperti itu belajar.

Sepanjang final speech itu berkali-kali kami mendengar suaranya bergetar lagi dan matanya memerah. Dia katakan bahwa walaupun kami tidak menjadi teolog atau scholar besar, tapi pada waktu kami menggembalakan dan berkhotbah, bukankah seharusnya kami komitmen untuk mempelajari Alkitab sebaik-baiknya? Dan dia ulangi lagi kalimat yang sama: JESUS LOVES ME! Itulah kesimpulan yang didapat pada waktu kita sungguh-sungguh mempelajari Alkitab. Semua orang bisa mengatakan yang sama tapi dengan kedalaman yang berbeda.

Saya sangat tergerak dengan apa yang dia sampaikan. Saya bersyukur untuk orang-orang seperti Prof. Tan yang sangat mencintai Firman Tuhan dan Tuhan pakai untuk menjadi scholar. Saya tahu saya tidak akan menjadi scholar seperti dia, terlambat. Serius! Tapi saya juga punya tugas mengajar dan menggembalakan domba-domba Tuhan dengan Firman Tuhan dan saya masih bisa belajar.

Belajar Alkitab tidak pernah mudah, saya tahu itu. Saya bersyukur diingatkan untuk kembali serius belajar semampu saya supaya saya bisa terus mengkhotbahkan Firman Tuhan. Itu panggilan saya.
Saya sendiri sangat.. sangat.. merindukan ada orang-orang muda yang punya talenta untuk belajar teologi dan punya talenta untuk berkhotbah (dua hal yang jarang), mau mendedikasikan hidupnya untuk belajar dan mengajar Firman Tuhan. Dari semuda mungkin, ketika daya pikir dan daya ingat masih sangat baik, mereka mau mulai. Dan saya juga sedih degan kenyataan bahwa orang-orang muda seperti itu sangat.. sangat.. jarang!

Tuhan, kasihani gereja-Mu! Bagaimana umat-Mu bisa mencintai Firman-Mu kalau tidak ada yang mau belajar dan mengajarkan Firman-Mu dengan penuh cinta?

Tuesday, October 19, 2010

Haleluya

"Haleluya" adalah kata yang sangat akrab bagi orang Kristen. Begitu seringnya kata ini diucapkan

sehingga bahkan banyak orang bukan Kristen pun tahu bahwa yang menyebut "Haleluya" pasti adalah orang Kristen. Tapi apa arti "Haleluya"? Saya yakin banyak orang Kristen yang tidak tahu artinya.

"Haleluya" adalah kata dari bahasa Ibrani (yang jika ditransliterasi seharusnya menjadi "haleluyah", ada tambahan huruf 'h' di belakangnya). "Haleluyah" akar katanya adalah "halal" (he was praised) dan "yah" (singkatan dari Yahweh) ditambahkan pronoun "u" di tengah-tengah maka terjemahannya adalah "Praise (you) Yahweh", atau terjemahan bebasnya: Kamu semua pujilah TUHAN (Yahweh)!

Kata ini adalah ajakan bagi jemaat untuk memuji Tuhan dan mengharapkan respons. Pemimpin akan berseru: "Kamu semua pujilah TUHAN!" dan jemaat berespon dengan memuji Tuhan.

Lama kelamaan kata ini dipakai secara independen sebagai ungkapan pujian bagi Tuhan. Maka ketika orang ingin memuji Tuhan, dia bisa langsung mengatakan "Haleluya!" (bukan lagi sebagai ajakan). Maka mungkin terjemahannya menjadi: "Puji Tuhan!"

Di dalam Perjanjian Lama, kata "Haleluya" hanya muncul di Mazmur (23X). Tapi kata ini juga muncul di kitab-kitab lain di luar Alkitab yang ditulis sebelum Perjanjian Baru ditulis, menandakan bahwa orang Yahudi terus memakai kata ini dalam ibadah mereka. Di dalam Perjanjian Baru, kata "Haleluya" muncul di Wahyu (4X) dan ini menandakan bahwa kata ini juga biasa dipakai oleh orang Kristen dalam ibadah mereka.

Di kitab Wahyu, semua kata "Haleluya" munculnya adalah di Wahyu 19, berulang-ulang seperti refrain lagu. Dan Wahyu 19 adalah bagian penutup dari kitab Wahyu: nyanyian kemenangan bagi Anak Domba Allah, Yesus Kristus. Saat itu, seluruh dunia akan berseru bersama-sama "Haleluya! Pujilah Yahweh!"

Mari kita ingat, pada waktu kita mendengar kata ini diucapkan "Haleluya!", kita juga bisa berkata "Puji Tuhan! Puji Allah kita! Haleluya!"

Monday, September 06, 2010

Talking In a Different Level

Saya sedang mengalami krisis, sebut saja krisis pengetahuan komprehensif (nggak tahu apakah istilah ini tepat). Maksudnya begini, dulu waktu masih mahasiswa di Trisakti, saya pernah ikut sekolah teologi malam, ikut kelas PA dan memimpin kelompok PA, dan juga membaca buku-buku teologi. Dengan pengetahuan yang saya dapat dari semua itu, saya cukup 'mampu' menjawab berbagai pertanyaan teologis. Saya bahkan berani membuka sesi tanya jawab di depan remaja-remaja yang saya layani.

Pada waktu saya masuk ke sekolah teologi full time, makin banyak belajar, dan kemudian makin banyak melayani, saya merasa makin 'mampu' lagi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan teologis. Saya ingat seorang dosen saya bertanya "siapa yang berani membuka sesi tanya jawab pada waktu berkhotbah?", dan dia yakin tidak ada dari kami yang berani karena sesi tanya jawab berarti siap menjawab pertanyaan apapun yang mungkin muncul. Tapi -dalam hati- saya tidak mengerti kenapa tidak berani karena saya bahkan sudah melakukannya sebelum masuk sekolah teologi. Mungkin saya sombong waktu itu :-(

Tapi setelah sekian tahun melayani, akhirnya saya mulai mengerti. Saya mulai tidak berani dan kadang saya agak bingung "kok dulu saya berani banget ya???" Saya masih berani membuka sesi tanya jawab, tapi ada hal-hal yang saya rasa lain dengan dulu. Saya tidak seberani dan seyakin dulu di dalam beberapa hal. Apa yang terjadi?

Sekarang saya sedang studi di program M.Th. Ada banyak pengetahuan yang masuk di kepala saya. Ada banyak pikiran-pikiran saya yang dipoles dan ditantang. Dan saya menemukan bahwa saya makin tidak berani lagi. Di dalam menjawab, di dalam mengungkapkan sesuatu, saya cenderung sangat berhati-hati karena saya tahu 'lubang-lubang'nya. Saya tahu tidak bisa ngomong begitu, tidak terlalu tepat dirumuskan begini, ada kemungkinan bukan begitu, dst. Apa yang terjadi?

Seorang profesor saya mengatakan, pada waktu kita makin belajar, dari yang 'tahu' bisa menjadi 'tidak tahu'. Sebetulnya bukannya kita jadi tidak tahu, tapi kita berbicara dalam level yang berbeda. We are talking in a different level. Apa yang dulu kita tahu mungkin tidak salah, tapi karena sekarang kita masuk ke dalam level pembicaraan yang berbeda, baru kita temukan bahwa apa yang dulu kita pikir kita tahu ternyata masih banyak kurangnya. Itu sebabnya kita jadi merasa tidak tahu.

Kalau boleh pakai perumpamaan (yang pasti tidak 100% pas): Seperti suatu bangunan. Ide, konsep, berbagai pengetahuan teologis adalah rangka besinya, tapi untuk membuatnya menjadi bangunan yang kuat, kita perlu pasir dan semen yang mengisi ruang di antaranya. Dulu bangunan teologis saya itu sudah jadi, tapi kemudian saya belajar lagi, rangka besi ditambah lagi, ada yang direnovasi lagi, maka in a different level, bangunan itu bolong lagi dan harus kembali diisi dengan pasir dan semen.

Studi teologi memerlukan waktu yang sangat panjang. Kita harus belajar dulu berbagai pengetahuan, lalu meresapinya, memikirkan implikasinya, kaitannya dengan berbagai hal lain, barulah itu menjadi bangunan. Dan ketika kita terus belajar, akan ada lagi rangka besi lain yang ditambahkan dan perlu direnovasi, maka sekali lagi in a different level bangunan itu bolong lagi dan harus kembali diisi dengan pasir dan semen. Demikian seterusnya.

Saya berharap krisis ini tidak berkepanjangan. Saya harap bisa menemukan cara dan kesempatan untuk kembali menata rangka-rangka besi baru ini menjadi struktur yang kuat dan kembali mengisinya menjadi bangunan lagi.

Satu hal terakhir, saya jadi terpikir, alangkah bahayanya kalau kita sudah terlalu lama merasa fine dengan bangunan teologis kita. Karena mungkin itu berarti kita sudah lama berhenti belajar. Tidak ada lagi sesuatu yang ditambahkan dan dibangun disitu. Dan celakanya, bangunan teologis yang berhenti dibangun, bukan berarti tidak akan berubah tingginya tapi justru akan makin rendah.

Monday, August 23, 2010

Customer Service

Beberapa bulan lalu ada diskusi di koran-koran Singapore tentang penerapan service charge di restoran. Service charge biasanya dikenakan kepada setiap konsumen untuk kemudian dibagikan kepada para karyawan. Sebagian berpendapat ini baik supaya karyawan bekerja tanpa mengharapkan tip dan memilih-milih konsumen. Sebagian  lagi berpendapat cara seperti ini sering di-abuse oleh pihak manajemen yang tidak pernah membagikannya kepada para karyawan. Maka lebih baik mengizinkan pemberian tip sukarela karena akan memacu karyawan untuk memberikan pelayanan yang baik dan juga sebagai evaluasi bagi diri mereka.

Perdebatannya sebetulnya hanyalah seputar sistem mana yang terbaik untuk menghasilkan pelayanan yang baik di industri jasa itu. Satu prinsip dasar yang ada di balik semua itu adalah, mereka akan memberikan pelayanan yang baik kalau itu menguntungkan bagi mereka. Senyum, muka ramah, sikap sopan, pelayanan yang cepat, semua bukan karena mereka senang dan ingin melakukannya tetapi karena itu menguntungkan. Si pemberi jasa berada di posisi yang 'lebih rendah', ia diharapkan untuk melayani, ia diharapkan untuk berbuat seperti yang diinginkan oleh konsumen. Dan kalau konsumen puas, maka dia juga menerima keuntungan. Sekalipun tanpa tip atau service charge, paling tidak si karyawan akan tetap memberi pelayanan yang baik karena takut kepada supervisor yang mengawasi.

Sekarang bayangkan kalau si pemberi jasa berada di posisi yang 'lebih tinggi' dan dia tidak menerima keuntungan apa-apa dari puas atau tidaknya si konsumen. Dia menerima keuntungan kalau atasannya senang bukan kalau anda senang, Misalnya: dosen, administrasi di sekolah dan pegawai kantor pemerintah. Mereka adalah pemberi jasa tapi dalam pengertian tertentu berada di atas yang diberikan jasa. Dosen memberikan nilai. Sekolah bisa menghentikan proses belajar. Administrasi bisa mempermudah/mempersulit. Kantor pemerintah bisa menahan, menghukum atau menolak izin tertentu. Saat itu, kondisi terbalik. Anda marah, anda yang sulit! Apakah pelayanan yang diberikan tetap baik? Apa betul si 'karyawan' berusaha dengan sopan, ramah, dan murah hati, melayani?

Tentu bukan maksud saya bahwa murid itu raja atau rakyat itu bebas berbuat apa saja dan dosen atau pegawai pemerintah harus memenuhi semua permintaan. Tapi mari pikir ulang apa itu service? Apa itu pelayanan? Dalam dunia yang sangat mementingkan diri, sebetulnya tidak ada yang pernah mengerti apa itu pelayanan. Masing-masing melayani hanya kalau menguntungkan dan kalau saya berada di posisi 'lebih rendah'.

Saya jadi membandingkannya lagi dengan gereja dan sekolah teologi. Bagaimana sikap para hamba Tuhan senior terhadap yang yunior? Bagaimana sikap para dosen yang bisa menentukan 'hidup/mati'nya murid dengan nilai dan kebijakan? Bagaimana sikap para karyawan di tata usaha gereja atau administrasi sekolah teologi? Apakah mereka melayani dengan baik? Memperlakukan yang dilayani dengan baik? Merendahkan diri untuk melayani?

Alangkah ironisnya kalau kita sebagai orang kristen juga ikut aturan main dunia - cari apa yang menguntungkan, bermain tinggi rendah posisi, memberikan profesionalitas tanpa pelayanan - dan bukan aturan main Tuhan. Kita tidak pernah boleh lupa apa yang Firman Tuhan ajarkan:

"Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih" (Gal 5:13)

"dan rendahkanlah dirimu seorang akan yang lain di dalam takut akan Kristus" (Ef 5:21)

Apakah kita lakukan itu? Dimana contoh keteladanan pelayanan hari ini? Mengapa makin jarang?

Thursday, August 19, 2010

Filemon 5

Di dalam kuliah dengan Prof. Tan Kim Huat, muncul 1 ayat yang membuat saya kaget, Filemon 5. Di dalam bahasa Yunani, ayat itu bisa diterjemahkan begini (perhatikan urutannya):

"Because I hear about your love and your faith which you have toward the Lord Jesus and to all the saints"

Di dalam bahasa Inggris tidak ada masalah yang jelas terlihat (walaupun sebenarnya ada). Tetapi di dalam bahasa Yunani masalahnya segera terlihat. Kata yang diterjemahkan sebagai "which" di dalam bahasa Yunani berbentuk singular. Padahal Paulus mengatakan "your love" dan "your faith", ada dua. Artinya hanya satu yang ditujukan "toward the Lord Jesus and to all the saints" yaitu "faith". Paulus mendengar tentang kasih Filemon dan tentang iman Filemon kepada Tuhan Yesus dan semua orang kudus.

Ini sulit diterima oleh banyak orang karena bagaimana kita beriman kepada Yesus dan semua orang kudus? Beriman kepada Yesus ok, tapi kepada semua orang kudus? Ini mengganggu doktrin kita.
Menarik sekali bahwa kebingungan ini bukan hanya dialami oleh kita tapi bahkan oleh orang-orang Kristen di masa lalu. Di dalam Codex Bezae (dari abad V) dan beberapa naskah salinan Alkitab yang belakangan, urutan kalimatnya dibalik menjadi: "I hear about your faith and your love which you have toward the Lord Jesus and to all the saints" Perfect! Dengan urutan begini maka tidak ada masalah. Paulus mendengar tentang iman Filemon dan tentang kasihnya (bukan imannya) kepada Yesus dan kepada semua orang kudus. Tapi naskah-naskah yang lebih kuno, bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa itu salah.

Yang mengejutkan saya adalah NIV sebagai versi Alkitab yang paling banyak dipakai di kalangan Injili (termasuk di Indonesia) memberikan solusi yang lebih kreatif. Mereka menuliskannya begini: "I hear about your faith in the Lord Jesus and your love for all the saints". Brilian! Mereka pisahkan: "iman kepada Yesus" dan "kasih kepada semua orang kudus". Secara doktrin tepat, iman ya kepada Yesus, kepada orang kudus bukan iman tapi kasih.

Tapi yang menyedihkan saya adalah terjemahan itu tidak setia dengan Alkitab! Naskah Yunani mana yang mereka pakai sehingga mereka berani menterjemahkannya begitu?

Dan saya membuka Alkitab bahasa Indonesia (LAI), ternyata.... terjemahannya sama seperti NIV (hanya dibalik lagi): "aku mendengar tentang kasihmu kepada semua orang kudus dan tentang imanmu kepada Tuhan Yesus".

Mungkin sebagian ada yang merasa "ah, hal kecil begini kok diperdebatkan". Betul, ini hal kecil dalam arti tidak akan mengubah apapun tentang kebenaran Kristen. Tapi bagi saya ini hal besar dalam arti ada prinsip yang sangat penting di balik ini: kesetiaan kepada Firman Tuhan.

Argumen dari Douglas Moo dalam PNTC: The Letters to the Colossians and to Philemon bahwa karena Paulus biasanya bicara tentang "iman kepada Yesus" dan "kasih kepada orang kudus" (Kol 1:4, Ef 1:15) maka disini Paulus juga bermaksud seperti itu, tidak bisa diterima. Paulus bisa berbicara dengan maksud dan kalimat yang lain di setiap suratnya. Demikian pula dengan usaha Douglas Moo untuk membuat ayat ini berbentuk kiastik A-B-B'-A' terlalu dipaksakan. Pertanyaannya tetaplah: apa yang dikatakan oleh Alkitab?

Bagaimanapun sulitnya mengerti kalimat Paulus, tapi pertama, terima dulu apa yang dikatakan oleh Alkitab. Istilah "iman" (pistis) bisa berarti faithfulness, kesetiaan. Maka ayat ini bisa berarti Paulus mendengar tentang kasih Filemon dan tentang iman (pistis) Filemon kepada Yesus dan kesetiaan (pistis) Filemon kepada semua orang kudus (orang percaya). Mungkin ada tafsiran lain yang lebih baik. Tapi pada intinya, terima dulu kesaksian Alkitab baru kita renungkan maksudnya.

Kesedihan saya adalah mengapa orang Kristen, orang Injili yang seringkali menyatakan diri setia kepada Firman Tuhan, ternyata lebih setia pada doktrinnya daripada kesaksian Alkitab sendiri?

Monday, August 16, 2010

Pembasuhan Kaki

Selama Retreat GKY Singapore 8-10 Agustus 2010 di Johor Bahru, ada banyak sukacita,
pengalaman, keindahan sentuhan Tuhan yang kami rasakan. Dalam banyak kesempatan, Retreat itu masih menjadi topik pembicaraan di antara para peserta. Salah satu momen yang sangat berkesan bagi mereka adalah ketika saya membasuh kaki empat orang jemaat. Hampir semua orang menangis pada waktu itu.

Menarik mendengarkan bagaimana momen itu menyentuh mereka. Ada yang menangis karena melihat peristiwa itu mengingatkan bahwa mereka harus melayani lebih sungguh. Ada yang menangis karena melihat saya sebagai gembala membasuh kaki. Ada yang bahkan tidak tahu kenapa menangis!

Beberapa orang ada yang bertanya apa yang saya rasakan pada waktu itu. Ada yang mengira bahwa momen itu berbicara dengan kuat kepada mereka yang dibasuh kakinya dan bukan kepada saya yang membasuh. Tidak ada yang tahu, saya juga menangis waktu itu. Pada waktu saya berjalan ke depan dengan handuk di tangan, saya menangis. Momen itu berbicara dengan sangat kuat juga kepada saya.

Yohanes adalah satu-satunya penulis Injil yang mengganti peristiwa perjamuan makan terakhir dengan pembasuhan kaki. Semua penulis Injil bercerita bahwa di malam terakhir itu, Yesus mengadakan perjamuan makan terakhir dengan murid-muridNya. Tapi Yohanes sama sekali tidak menyebut itu dan dia menggantinya dengan peristiwa pembasuhan kaki. Mungkinkah Yohanes sengaja menceritakan ini karena waktu itu orang-orang Kristen sudah mulai berebut kedudukan, mulai berebut menjadi yang terbesar, mulai melupakan kasih dan pelayanan? Bahwa di malam terakhir sebelum Yesus disalib, Dia membasuh kaki murid-muridNya dan meminta mereka saling membasuh kaki satu sama lain.

Kalau kita membaca Yoh 13, gambaran yang diberikan sangat kuat: Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-muridNya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya (13:1), Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia (13:2), Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubahNya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggangNya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-muridNya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggangNya itu (13:4-5), dan setelah Yesus memerintahkan mereka saling membasuh kaki (13:14), Ia sangat terharu, lalu bersaksi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku" (13:21).

Perhatikan suasananya. Yesus tahu Ia akan mati dan akan kembali kepada Bapa. Yesus tahu salah seorang muridNya akan menyerahkan Dia. Yesus bahkan tahu ada yang sedang berpikir untuk menjadi yang terbesar dan semua akan meninggalkan Dia. Semua suara-suara dari hati manusia itu seperti bergema di telinga Yesus. Tapi seperti Dia selalu mengasihi murid-muridNya, demikianlah Dia mengasihi mereka sampai kesudahannya! Dan dia bangun, tanggalkan jubah, ambil kain dan air, lalu membasuh kaki murid-muridNya.

Penderitaan di depan mata sementara murid-muridNya tidak tahu. Sebentar lagi Dia akan tinggalkan mereka sementara mereka masih berdebat siapa yang terbesar. Dalam kesedihanNya melihat murid-muridNya satu persatu, hati Yesus dipenuhi dengan kasih kepada mereka dan Dia membasuh kaki mereka, 1X di ruangan itu dan 1X lagi di atas kayu salib. Dia membasuh kaki mereka, melayani mereka, dengan memberikan nyawaNya.

Saya menangis ketika akan membasuh kaki karena di dalam hati saya, berulang-ulang muncul "Tuhan membasuh kakiku. Tuhan mati bagiku. Tuhan lebih dulu melayani kepadaku."

"Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu" (Yoh 13:14)