Wednesday, December 20, 2017

Persiapan Melayani Dalam Natal

Ini adalah renungan singkat yang saya sampaikan kepada para pelayan kebaktian Natal tanggal 24 Desember 2017 di GKY Green Ville di dalam gladi kotor kemarin.

Natal sudah sangat dekat. Saya yakin kita yang akan melayani di dalam kebaktian tanggal 24 Desember sudah sekian lama melakukan persiapan. Banyak waktu yang sudah dipakai, tenaga dan pikiran dicurahkan, bahkan mungkin dana dikeluarkan. Semua jerih payah selama ini akan menemui puncaknya dalam beberapa hari lagi.

Sebagian dari kita mungkin mulai lelah dengan latihan. Sebagian mungkin mulai tegang (atau mungkin PD). Tetapi, satu hal yang paling penting adalah apa yang ada di pikiran dan hati kita tentang pelayanan ini? Apakah kita merasa “ah sudah biasa begini, tinggal tampil, ya sudah.” Atau kita merasa “aduh ini stress banget, cape banget, pengen cepet selesai semuanya. .. lalu liburan.” Apa sebetulnya kerinduan kita melalui pelayanan ini?

Kita berlatih. Itu pasti penting. Kita persiapan, curahkan waktu dan tenaga. Itu juga pasti penting. Tetapi, apa yang ada di pikiran dan hati kita mengenai pelayanan ini, itu jauh lebih penting. Karena apa yang akan kita lakukan bersama tanggal 24 Desember nanti bukanlah pertunjukan dan bukanlah hiburan. Apa sebenarnya yang kita lakukan? Kita berusaha supaya setiap orang yang belum percaya, pada waktu datang, mendengar orang Kristen memuji Tuhan melalui lagu, musik dan melihat drama, hatinya bergetar. Lalu pada waktu dia mendengar Firman, Roh Kudus bekerja membuka hatinya sehingga dia diterangi dan pindah dari kegelapan kepada terang. Kita juga berusaha supaya setiap orang yang sudah percaya, pada waktu datang, mendengar lagu pujian, melihat drama, mendengar khotbah, dia dikuatkan dan dikobarkan lagi imannya.

Ini pekerjaan yang wow. Pada dasarnya yang kita lakukan adalah berusaha mematahkan kuasa kegelapan yang berkuasa di dalam hati orang yang belum percaya dan yang sedang mengintai dan berusaha menjatuhkan orang percaya. Supaya pada akhirnya terang Tuhan bercahaya dan nama Tuhan ditinggikan.

Masalahnya waktu kita menginginkan itu, mengusahakan itu, mengerjakan itu, satu hal yang pasti adalah: Setan tidak akan tinggal diam. Maka jelas pelayanan kita adalah peperangan rohani. Tetapi siapa kita sehingga sanggup mengerjakan pelayanan seperti ini? Siapa kita sehingga sanggup mematahkan kuasa kegelapan dalam hati orang yang belum percaya dan menguatkan serta memulihkan orang yang percaya. Siapa kita?

Pada waktu memikirkan ini, saya kembali mengingat cara kerja Tuhan yang sangat mirip pada waktu Natal yang pertama.

Kalau kita mau anggap peristiwa itu sebagai pelayanan, maka Natal pertama adalah pelayanan yang sangat besar: Menghadirkan Anak Allah ke dalam dunia dan tinggal di tengah manusia.

Halangannya juga bukan main besarnya. Kalau dilihat dari kacamata manusia, maksud Tuhan hampir gagal waktu itu. Peperangannya sangat mengerikan: Setan melakukan apa saja untuk menghalangi hal itu terjadi, termasuk mendalangi pembunuhan semua bayi berusia 2 tahun ke bawah di Bethlehem. Maria sendiri waktu itu bisa menolak jadi “bintang utamanya.” Yusuf bahkan hampir menolak jadi “ketua panitia” karena mau memutuskan pertunangan dengan Maria. Ada resiko orang-orang setempat mengamuk dan seluruh “artis dan panitia” bisa dibunuh dengan ditimpuki batu. Belum lagi ejekan, gosip, caci maki yang terus diterima oleh Yusuf dan Maria. Tidak main-main.

Maka kalau bicara besarnya skala pelayanan, Natal pertama adalah pelayanan terbesar sepanjang sejarah manusia. Nasib seluruh dunia dan seluruh manusia bergantung pada event itu. Kalau bicara ngerinya dan dahsyatnya pelayanan, Natal pertama adalah pelayanan terngeri dan terdahsyat di seluruh sejarah manusia.

Tetapi, anehnya, panitia dan pelayan yang dipilih untuk event sebesar itu adalah Yusuf dan Maria. Dua orang super sederhana, bukan siapa-siapa, dari tempat super kecil, bukan tempat apa-apa. Tetapi di pundak merekalah diletakkan tanggung jawab untuk mengerjakan pelayanan terbesar, terngeri dan terdahsyat di seluruh sejarah manusia.

C. S. Lewis menulis tentang rencana Allah ini: Seluruh rencana besar Allah untuk menyelamatkan dunia, menyempit, dan menyempit, terus sampai akhirnya menjadi satu titik kecil, sangat kecil, yaitu seorang gadis Yahudi yang berdoa. Melalui dia, Allah menghadirkan Yesus ke dalam dunia. Philip Yancey berkata pada waktu dia membaca lagi cerita di Alkitab mengenai kelahiran Yesus, dia gemetar sambil memikirkan bahwa nasib seluruh dunia, nasib seluruh manusia, bergantung hanya pada dua orang anak muda desa tanpa pendidikan, bukan siapa-siapa, dari tempat yang bukan apa-apa.

Tapi tokh akhirnya ketika dua orang yang bukan siapa-siapa itu taat, rencana Tuhan tergenapi.
Saya mencoba membandingkan ini dengan pelayanan kita tanggal 24 Desember nanti. Walaupun pelayanan yang kita lakukan tidak sebesar, sengeri dan sedahsyat Natal yang pertama, tapi esensinya sama.

Pada waktu kita melayani dalam Natal, ingatlah bahwa kita bukan sedang menampilkan pertunjukan, bukan sedang menghibur, bahkan bukan sedang sekedar membuat ibadah indah dan wow. Tetapi, kita sedang melakukan yang sama seperti pelayan Natal yang pertama, Yusuf dan Maria, untuk berdoa, berharap, berusaha, membuka jalan untuk Sang Terang itu hadir di dalam hati manusia yang gelap. Kita berdoa, berharap, berusaha, supaya sang Terang itu menyalakan lagi terangNya yang mungkin hampir padam, di dalam hati anak2-anakNya.

Untuk hal sebesar itu, kita juga sama seperti pelayan Natal yang pertama: Kita bukan siapa-siapa. Tetapi ketika Tuhan memilih kita untuk melayani dan kita berespon dengan ketaatan dan penyerahan diri, Tuhan bisa memakai kita jauh melampaui apa yang mampu untuk kita lakukan.

Maka kembali kepada apa yang saya katakan di awal. Kita latihan, itu pasti penting. Kita persiapan, curahkan waktu dan tenaga, itu juga pasti penting. Tapi apa yang kita pikirkan tentang pelayanan ini? Apa kerinduan kita melalui pelayanan ini? Apakah kita berdoa dengan sungguh-sungguh supaya Tuhan bekerja dengan kuasaNya? Supaya melalui apa yang kita lakukan, yang sebetulnya tidak akan cukup untuk melakukan pekerjaan besar ini, maksud Tuhan tercapai? Apakah kita berharap supaya Terang Tuhan dinyatakan dan menerangi hati setiap orang yang datang? Apakah kita sadar bahwa kita harus bergantung sepenuhnya kepada Tuhan karena ini adalah peperangan rohani melawan kuasa kegelapan?

Apa yang ada di dalam pikiran dan hati kita mengenai pelayanan ini sangatlah penting. Berdoalah dan siapkanlah hati untuk dipakai oleh Tuhan.

Tuesday, November 21, 2017

Baptisan 191117

Salah satu sukacita besar yang saya alami dengan menjadi seorang pendeta adalah ketika melakukan baptisan. Hati saya selalu sangat bersyukur dan terharu melihat orang-orang yang memberi diri untuk dibaptis.

Saya tahu hidup Kristen tidak akan mudah. Mereka yang dibaptis tidak akan luput dari ujian dan pencobaan. Bahkan mereka pasti akan mengalami banyak jatuh bangun. Hidup sebagai anak Tuhan di tengah dunia yang membenci Tuhan pastilah tidak mudah. Hidup sebagai anak Tuhan di tengah dunia dimana kuasa kegelapan mengintai pastilah sulit. Memulai hidup baru setelah sekian lama berada di hidup yang lama pastilah berat.

Tetapi, baptisan adalah peristiwa sukacita. Bagi Martin Luther, itu seperti mengenakan “cincin kawin.” Baptisan adalah saat dimana kita menyatakan “sumpah setia” kita kepada Tuhan, di hadapan Tuhan dan semua orang. Itulah juga saat dimana kita dimeteraikan oleh Tuhan sebagai milik Kristus. Oh, how wonderful event it is!

Bulan Juli sampai November tahun ini saya ikut membimbing kelas katekisasi dewasa di GKY Green Ville. Hari minggu lalu, ada 58 orang yang menerima baptisan dewasa/sidi (27 di antaranya dari kelas katekisasi remaja) dan 8 orang yang atestasi (pindah keanggotaan gereja) ke GKY Green Ville.

Walaupun kali ini bukan saya yang melayani baptisan/sidi, tapi selama 4 bulan beberapa kali mengajar mereka, Retreat bersama mereka, sering chat dan rapat mengenai mereka, membuat saya merasa took a small part in their journey. I'm happy for them.

With some of them :-)

Saya juga bersukacita melihat keluarga iman yang terbentuk di gereja. Bukan hanya keluarga dari mereka yang menerima baptisan/sidi yang datang dan bersukacita. Para mentor kelompok di kelas katekisasi dewasa juga sengaja datang, ikut mendoakan, dan memberikan selamat. Para pembimbing remaja dan anak-anak remaja juga ikut datang menyambut teman-temannya yang menerima baptisan/sidi. I really thank God for that.

Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.  Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. (Kolose 2:6-7)

Friday, November 10, 2017

NOT "One Bag At a Time"

Sudah cukup lama blog ini terabaikan. Saya sendiri geregetan tapi apa boleh buat. Sebelum pulang ke Jakarta, saya sudah tahu bahwa saya akan sibuk. Saya juga sudah terbiasa sibuk dari dulu. Tetapi selama beberapa bulan ini, saya betul-betul-betul-betul sibuk.

Di satu sisi, disertasi masih harus dikerjakan. Di sisi lain, berbagai pelayanan khotbah, rapat, pertemuan dengan banyak orang, mempersiapkan program tahun depan, dll, seperti tidak ada habisnya mengalir. Satu berhasil diselesaikan, maka tiga lagi yang datang #eh

Saya ingat sebuah cerita tentang Bill Hybels yang ditulis oleh Gary L. McIntosh dan Samuel D. Rima dalam buku mereka Overcoming the Dark Side of Leadership. Di bawah ini saya ceritakan dengan kata-kata saya sendiri.

Pada waktu kecil, Bill Hybels biasa membantu ayahnya menurunkan kentang busuk dari truk. Setelah berjam-jam bekerja, satu karung demi satu karung diturunkan, Bill mengeluh ke ayahnya berapa banyak lagi karung kentang yang masih harus diturunkan. Ayahnya akan menjawab: “Jangan kuatir Billy, kamu hanya perlu menurunkan karung itu satu persatu saja (one bag at a time).” Bertahun-tahun kemudian, itu menjadi etika kerja dia: “one bag at a time.” Tidak peduli berapa pun besarnya tugas yang dihadapi, dia tidak pernah mundur sampai tugas itu selesai. Tetapi, ketika dia memimpin gereja dengan jemaat 14.000 orang, tidak akan pernah mungkin dia bisa menyelesaikan tugasnya. Solusinya? Kerja lebih keras. Teruskan, one bag at a time, sampai tugas itu selesai. Tetapi, setiap kali dia berhasil menurunkan satu karung kentang busuk, maka ada tiga lagi yang menunggu. Kebutuhan psikologis dia untuk menyelesaikan tugas mengosongkan truk penuh kentang busuk itu membuat dia menjadi workaholic. Setiap menit hidupnya dikuasai oleh pekerjaan. Sampai suatu kali, beberapa menit sebelum dia harus memimpin pemberkatan nikah dan beberapa jam sebelum dia harus berkhotbah di kebaktian, dia menyandarkan kepalanya di meja dan menangis sejadi-jadinya. Dia betul-betul kehabisan kekuatan fisik, emosi, dan rohani.

Sejujurnya, saya mulai merasa seperti Bill Hybels yang sedang menurunkan kentang busuk dari truk penuh muatan itu. Tidak habis-habis. One bag at a time. Kerja lebih keras lagi. Bagaimanapun juga, tetap tidak pernah selesai! Hanya saja saya belum sampai breakdown seperti dia.

Beberapa bulan super sibuk ini mengajar saya banyak hal. Salah satunya adalah saya tidak mau menurunkan kentang busuk terus menerus. Dan saya tidak mau bekerja sekedar dengan konsep one bag at a time. Lalu solusinya? Jangan tanya saya sekarang hehe.. Saya belum bisa merumuskannya dengan baik. Saya hanya tahu bahwa something wrong dalam hidup seperti itu dan akan betul menjadi super wrong kalau diteruskan. Ada beberapa rencana yang terpikir oleh saya. Masih akan trial and error. Yang pasti, apa yang saya alami selama beberapa bulan ini, dan kisah Bill Hybels, menjadi rambu peringatan besar bagi saya.

Sedikit update tentang studi saya: Saya baru saja menyelesaikan revisi disertasi saya. Hanya tinggal dipercantik sedikiiittt lagi, lalu saya harus menyelesaikan introduksi (tinggal sedikit lagi) dan konklusi. Terakhir bibliografi. Menurut perhitungan, saya perlu sekitar 8 hari kerja lagi untuk menyelesaikannya. Masalahnya tidak mudah menemukan waktu 8 hari kerja itu di Jakarta :-( Setelah itu selesai? Belum juga. Kalau pembimbing saya meminta untuk revisi lagi, saya masih harus berkata “here I am.” Tapi paling tidak sekarang saya lebih optimis bisa selesai.

Setelah studi ini selesai, itulah saatnya rencana saya untuk tidak sekedar menurunkan kentang, NOT one bag at a time, bisa mulai dijalankan. Saat ini, apa boleh buat, bring it on… but have mercy on me, o God. 


Dapat karangan bunga lagi hehehe... #darianakgokil #virtual #lebay #hasileditan #penghiburan

Monday, September 18, 2017

A Pure Heart

A pure heart that's what I long for
A heart that follows hard after Thee

A heart that hides Your word
so that sin will not come in

A heart that's undivided 
but one You rule and reign

A heart that beats compassion
that pleases You, my Lord

A sweet aroma of worship
that rises to Your throne

Beberapa hari ini saya berulang-ulang menyanyikan lagu ini. Saya menemukan lagu ini bukan saja indah tetapi menyelidiki hati.

Apakah hati saya mengikut Tuhan dengan mati-matian?
Apakah hati saya menyimpan Firman begitu rupa sehingga dosa tidak bisa masuk?
Apakah hati saya tidak terbagi tetapi hanya, dan hanya, diperintah oleh Tuhan?
Apakah hati saya penuh belas kasihan sehingga menyenangkan Tuhan?

Alangkah indahnya hati seperti itu!Bagaikan aroma penyembahan yang manis yang naik ke takhta Tuhan!

Saya belum memiliki such a pure heart. Tetapi saya merindukannya.

Monday, July 10, 2017

Nostalgia yang Menguatkan

Saya sudah memulai kembali masa pelayanan di GKY Green Ville tanggal 1 Juli lalu (tepat 8 tahun 3 hari setelah pindah ke Singapore).

Kondisi saya saat ini sebetulnya bukan kondisi yang ideal untuk memulai pelayanan kembali. Saya sedang sangat sibuk. Saya merasa tidak pernah sesibuk ini dalam jangka waktu sepanjang ini dan tingkat stress setinggi ini seumur hidup saya. Di satu sisi, disertasi saya sedang berada di tahap penyelesaian. Tahap penyelesaian bukan berarti santai tapi sebaliknya membutuhkan energi otak yang sangat besar. Di sisi lain, ada sangat banyak (and I mean a lot) pelayanan yang harus dikerjakan. Maka saya hampir tidak punya waktu untuk apapun selain bekerja, berpikir, dan rapat, dari pagi sampai malam sekali, tujuh hari dalam seminggu. Sementara itu, istri saya juga sedang sangat sibuk dengan masalah keluarga. Maka kami berdua hampir exhausted secara fisik dan mental. Kondisi ini sudah berjalan beberapa bulan dan saya sadar bahwa ini masih akan berjalan cukup lama bahkan entah sampai kapan.

Kondisi seperti ini membuat cadangan emosi saya menipis. Saya lebih gampang terganggu dengan berbagai (and I mean a lot) masalah yang muncul. Saya lebih gampang marah ketika ada tuntutan baru yang muncul. Sejujurnya, saya merasa jadi sering tidak bijak dalam sikap dan perkataan karena kelelahan, kekecewaan, frustasi, kemarahan, dll.

Sekitar 2 minggu lalu saya sempat membuka-buka file lama dan melihat video rekaman yang diberikan beberapa teman yang waktu itu masih pemuda. Ada rekaman ucapan terima kasih dan wishes dari beberapa orang. Lalu ada rekaman paduan suara Zion yang menyanyikan sebuah lagu. Lalu saya juga melihat-lihat beberapa foto perpisahan dengan mereka yang waktu itu masih pemuda dan remaja.

Saya jadi mengingat-ingat kembali apa sebetulnya yang sudah saya dan istri lakukan selama 5 tahun pelayanan kami dulu di GKY Green Ville. Sejujurnya, kami merasa, kalau diukur secara prestasi atau hal yang ‘wah’, maka tidak banyak yang kami lakukan. Malah kami banyak melakukan kesalahan dan kebodohan. Tetapi, mungkin yang membuat kami dekat dengan mereka adalah karena kami mengasihi mereka, peduli kepada pergumulan mereka, senang melihat mereka bertumbuh dan berhasil, dan berusaha berbuat semampu kami dalam pelayanan.

Maka saya sadar bahwa saya tidak ingin menjadi seperti sekarang ini. Selama 8 tahun tentu saya berubah dalam banyak hal – tetapi seharusnya menjadi lebih baik dan bukan sebaliknya. Berkali-kali di dalam doa saya berseru kepada Tuhan “saya cape… cape banget” – sampai malu ngomong begitu ke Tuhan saking seringnya. Tetapi Tuhan selalu beri kekuatan lewat firman-Nya, lewat teman-teman, lewat kebaikan hati orang-orang di sekitar, dan lewat berbagai (and I mean a lot) cara. So, yes, this, too, shall pass. Tapi yang terpenting adalah bagaimana saya melaluinya.

Ketika melihat video rekaman dari paduan suara Zion, saya sangat terharu karena Tuhan, dan saya, tahu bahwa saya masih sangaaaatttt jauh dari layak disebut “hamba Tuhan yang baik dan setia.” Atas kehendak Tuhan, di dalam Kebaktian Umum 1 dan 2 kemarin, Paduan Suara Zion (generasi sekarang, tentunya) menyanyikan lagu yang sama (!!!) di dalam bahasa Inggris sementara saya menyampaikan khotbah :-) What a blessing! Nostalgia yang menguatkan!

Saya seperti diingatkan kembali untuk mengarahkan pandangan ke depan seperti Paulus yang berkata:
Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus (Filipi 3:13-14).
May the Lord who has called me keep me firm to the end!


NB: Video wishes di bawah adalah versi yang ditayangkan di Persekutuan Doa Rabu (I have the complete version :-P) Lalu di bawah adalah sebagian foto-foto yang saya punya - perpisahan dengan KP 1 dan perpisahan di airport. Saya nggak punya foto-foto perpisahan lainnya :-/ Silakan cari wajah masing-masing - versi masih pada imut :-) Sorry kualitas videonya otomatis dikurangi sama blogspot dan entah mengapa tidak bisa diputar di android tapi bisa di laptop.









Saturday, April 29, 2017

Kembali ke Jakarta

We’re officially back in Jakarta.

Banyak yang bertanya apa itu berarti studi saya sudah selesai? Beluuuummmm…!! Studi saya belum selesai dan selama dua bulan ke depan saya masih akan sering pergi ke Singapore. Bahkan sekarang pun ada di Singapore :-) Tetapi sekarang saya “pergi” dan bukan “pulang” ke Singapore. Maka satu bab lagi dalam kehidupan sudah berlalu.

Waktu pindah ke Singapore tahun 2009, saya tidak pernah membayangkan akan tinggal di Singapore sampai hampir delapan tahun. Singapore sudah menjadi negara kedua terlama yang pernah kami tinggali – setelah Indonesia tentunya. Maka pasti ada banyak kenangan.

Sejak awal April saya dan istri sok sibuk farewell. Hampir setiap hari ada farewell lunch/dinner (yang paling cetar adalah hari Minggu setelah kebaktian Paskah). Bagi kami, setiap farewell yang kami lalui adalah tanda kasih dan kesempatan bagi kami untuk mengingat apa saja yang sudah kami alami bersama. Terlalu banyak.

Selama delapan tahun di Singapore, ada dua hal yang mengambil porsi terbesar dari hidup saya: kehidupan studi akademis di Trinity Theological College dan kehidupan keluarga iman di GKY Singapore. Yang pertama banyak menimbulkan kenangan yang kurang enak – (1) lelah, (2) bosan, (3) stress, ulang lagi dari (1). Tapi yang kedua banyak menimbulkan kenangan manis. Ah.. sudahlah jangan diteruskan yang ini, bikin mellow.

Tetapi, bukan hanya kenangan yang saya dapatkan di Singapore. Saya belajar banyak – sangat banyak, baik secara akademis, pelayanan, relasi, maupun kehidupan. Bertambahnya usia delapan tahun dan berkurangnya rambut memberi kesempatan saya bertumbuh secara emosi. Secara rohani, saya juga makin menyadari kelemahan, kegagalan, kebodohan, dan kelambanan saya, dan di atas semuanya, kesabaran Tuhan.

Sekarang saatnya bersyukur. Kami bersyukur untuk teman-teman dan anak-anak rohani yang kami dapatkan selama di Singapore. They are God’s good gift for us. Kami bersyukur untuk setiap pelayanan yang boleh kami lakukan di Singapore. Kami melayani tapi sebenarnya kami menerima jauh lebih banyak berkat melaluinya. Kami juga bersyukur untuk kesempatan saya studi di Singapore – yang hampir-tapi-belum selesai. Tuhan juga sudah mencukupkan segala keperluan selama di Singapore. Could never be grateful enough.

Sekarang saatnya menatap ke depan. Saya bergabung dengan GKY Green Ville tahun 2004, lima tahun melayani di sana dan delapan tahun meninggalkannya. Maka waktu sekarang kembali kesana, walaupun banyak hal dan orang yang familiar, saya dan istri perlu penyesuaian lagi. Delapan tahun sama sekali tidak sebentar di dunia yang terus berubah ini. Banyak hal sudah berubah di gereja. Cara pelayanan pun harus berubah. Beberapa jemaat yang kami kenal sudah meninggal dunia. Beberapa remaja yang dulu kami layani sudah menikah dan punya anak. Bahkan kami juga perlu penyesuaian lagi untuk tinggal di Jakarta. Tetapi, hati kami penuh kerinduan untuk mulai melakukan sesuatu.

Saya ingat pada waktu kami akan berangkat ke Singapore, ada seorang jemaat yang bertanya apakah saya akan kembali ke Jakarta. Dengan nada setengah ragu dan setengah yakin dia berkata bahwa saya mungkin tidak akan mau kembali setelah merasakan tinggal di Singapore. Saya menjawab dia: “Saya tidak tahu. Tetapi, yang pasti, saya tidak akan memilih sekedar mana yang lebih nyaman untuk saya.” Selama di Singapore, berkali-kali saya juga ditanya “lebih enak mana tinggal di Singapore atau Jakarta?” Saya selalu menjawab “sama aja, masing-masing ada enaknya.” Saya tidak berbohong. Masing-masing memang ada enaknya. Saya juga tidak berbohong kepada jemaat itu bahwa saya betul tidak memilih sekedar mana yang lebih nyaman untuk saya.

Saya pasti akan kangen Singapore dengan segala kelebihannya – praktis, cepat, aman, modern, bersih. Tetapi, saya melihat bahwa saya bisa lebih berguna untuk Kerajaan Tuhan jika saya melayani di Indonesia. So, Indonesia, here I am.

Tantangan pelayanan dan kehidupan di depan ditambah dengan kesadaran akan kelemahan kami membuat kami gentar. Kami lemah, sungguh! Kalau Tuhan tidak menguatkan, memperlengkapi dengan kuasa, berbelas kasihan, dan terus sabaaaarrr…. tak mungkin kami bisa melakukan apapun. Kami juga tidak bisa melihat jauh ke depan dan tidak tahu persis apa yang akan terjadi nanti, tapi kami memohon supaya Tuhan memimpin. So have mercy on us, o God! And be with us!

Ini sebagian foto farewell yang sempat terkumpul. Sorry nggak sempet edit, apalagi yang dari HP. Sayangnya kadang kami sibuk makan dan lupa foto! Juga nggak semua foto ada di kamera saya. Once again, thank you and thanks be to God!



















Saturday, March 11, 2017

"Pelayanan" yang Kurang Pas Disebut Pelayanan

Kalau kita bertanya ke beberapa orang Kristen “apa sih pelayanan?” , saya yakin kita akan mendapat jawaban yang beragam.

Jawaban yang paling umum adalah “sesuatu yang dilakukan buat Tuhan.” Kalau kita gali jawaban itu lebih jauh, kita akan menemukan bahwa seringkali yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dalam nuansa Kristen dan tidak dibayar (bukan berarti ini benar lho..). Ini artinya super luas!

Tetapi, kadang saya bertanya betulkah semua yang disebut “pelayanan” itu benar-benar pelayanan?

Kita tahu bahwa pelayanan bisa dikritisi dari berbagai macam sisi. Kita bisa melihat motivasinya. Kita bisa melihat caranya. Apakah motivasi dan caranya memuliakan Tuhan? Tetapi, satu sisi dari pelayanan yang jarang kita perhatikan adalah efektivitasnya. Apakah betul yang dilakukan menghasilkan sesuatu yang baik untuk kerajaan Tuhan?

Saya berikan beberapa contoh.

Contoh 1:
Sebuah gereja membentuk suatu tim yang bertanggung jawab untuk mengawasi pelayanan di kota lain. Tim itu menerima laporan dari mereka yang melayani di kota itu, lalu memberi masukan, kritikan, bahkan mengambil keputusan. Tetapi, mereka tidak sepenuhnya mengerti pelayanan di kota itu. Mereka juga bukan orang yang memiliki konsep teologis dan strategis yang kuat untuk itu. Seluruh anggota tim merasa sedang "melayani". Tetapi, bagi orang-orang yang berada di garis depan pelayanan di kota itu, apa yang dilakukan tim itu sama sekali tidak menolong malah sebaliknya menghambat. Maka betulkah anggota tim itu sedang mengerjakan pelayanan?

Contoh 2:
Seorang ibu yang suaranya tidak enak didengar ingin "melayani" dengan menyanyi solo di dalam kebaktian. Orang-orang berkata “mau pelayanan kok dilarang?” Tetapi, kalau kebaktian adalah waktu dimana gereja mengajak semua yang hadir menyembah Tuhan dengan lebih baik, apakah dengan menyanyi solo dia membuat jemaat menyembah Tuhan dengan lebih sungguh? Maka betulkah dia sedang mengerjakan pelayanan?

Contoh 3:
Sebuah kelompok musik tanjidor ingin "melayani" dengan mengiringi pujian di dalam kebaktian. Tetapi ketika mereka mengiringi pujian di dalam kebaktian, jemaat sulit untuk menyanyi dengan baik. Jemaat sulit untuk berkonsentrasi menyembah Tuhan dengan diiringi orkestra Betawi itu. Tetapi, seluruh anggota kelompok musik tanjidor itu merasa mereka melayani Tuhan dengan talenta mereka. Betulkah mereka sedang mengerjakan pelayanan?

Saya bisa berikan banyak contoh lain. Tetapi saya kira contoh-contoh di atas cukup menjelaskan maksud saya.

Bisakah kegiatan-kegiatan di atas disebut pelayanan? Karena saya tidak ingin menghakimi, anggaplah kegiatan-kegiatan di atas sebagai "pelayanan" yang kurang pas disebut pelayanan.

Di mana sebetulnya kesalahan “pelayanan” dalam contoh-contoh yang saya sebutkan di atas? Pada contoh 1, kesalahannya mungkin adalah pengaturan struktur organisasi. Pada contoh 2, kesalahannya adalah talenta yang tidak cocok. Pada contoh 3, kesalahannya adalah tidak sesuai dengan kebutuhan.

Tetapi, kesamaannya adalah apa yang mereka lakukan tidak menghasilkan sesuatu yang baik untuk kerajaan Tuhan. Mereka mungkin tulus, betul-betul mengerjakannya untuk Tuhan. Mereka mungkin juga memberi yang terbaik yang mereka bisa. Tetapi, apa yang mereka lakukan tidak efektif.

Saya tidak bermaksud mengatakan pelayanan selalu harus menghasilkan sesuatu yang jelas, kelihatan, dan terukur. Tidak. Banyak hal yang kita lakukan dalam Kerajaan Tuhan sifatnya menanam dan tidak langsung terlihat hasilnya. Maka kalau kita menanam dan tidak melihat hasilnya sampai puluhan tahun sekalipun, tidak apa! (Asalkan motivasi dan caranya benar, benihnya benar, dan kita yakin Tuhan mau kita lakukan itu). Tetapi pertanyaannya betulkah kita menanam? Jangan-jangan yang kita lakukan justru sedang menghambat atau, lebih parah lagi, merusak. Pelayanan tidak harus efisien (tidak memboroskan waktu, usaha, dan uang) tetapi harus efektif (mencapai hasil yang diinginkan - sekalipun lama sekali)!

Maka jangan asalkan tidak dibayar dan dalam nuansa Kristen, lalu berkata "saya ini kan pelayanan". Coba tanyakan kepada diri sendiri: “Betulkah yang saya lakukan ini menghasilkan kebaikan bagi Kerajaan Tuhan? Dengan cara bagaimana?”

Pertanyaan lebih jauh adalah: “Apakah ini adalah yang terbaik yang bisa saya lakukan untuk Kerajaan Tuhan? Atau saya bisa melakukan yang lain, yang lebih efektif, yang lebih berguna untuk Kerajaan Tuhan, yang tidak saya lakukan karena ngotot dengan yang ini?”

NB: Saya tahu tulisan ini menyederhanakan banyak hal. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Saya hanya berharap tulisan ini mengajak kita lebih kritis dalam mengerjakan pelayanan.