Friday, December 04, 2009

Mendoakan Firman Tuhan

(Posted in October 2007)

Pada tanggal 4 Mei 2007, saya pernah mem-posting artikel Doa Ku Dari Doa Bapa Kami. Seharusnya saya langsung memberikan penjelasan mengapa saya menulis doa secara demikian, tetapi akhirnya tertunda sampai sekarang.

Cara berdoa seperti itu disebut ‘mendoakan Firman Tuhan’. Maksudnya adalah kita menggunakan Firman Tuhan, kalimat demi kalimat, sebagai kerangka doa kita. Cara berdoa seperti itu bukanlah cara baru. Saya memang belum pernah menyelidiki sejak kapan cara berdoa seperti ini digunakan di dalam gereja. Tetapi paling tidak, Martin Luther di abad ke 16 sudah mengajarkan hal itu (dalam bukunya A Simple Way To Pray).

Dan ini bukan hanya bisa dilakukan dengan Doa Bapa Kami, tetapi juga doa-doa lain dalam Alkitab, khususnya kitab Mazmur. Bahkan sebenarnya bukan cuma bagian Alkitab yang berupa doa yang bisa kita doakan. Martin Luther bahkan mengajarkan kita untuk mendoakan 10 Perintah Tuhan! Dia mengajar kita untuk mengerti dulu setiap perintah itu, lalu bersyukur, meminta ampun dosa dan berdoa supaya kita bisa menghidupinya.

Paling tidak ada 2 alasan mengapa kita perlu belajar ‘mendoakan Firman Tuhan’:

Pertama, doa-doa dari tokoh-tokoh iman yang tercatat di dalam Alkitab adalah doa-doa yang diinspirasikan. Di dalamnya mereka bergumul dan mengalami kelegaan di dalam Tuhan. Seringkali keagungan doa itu tidak terperhatikan oleh kita. Kita membacanya tanpa pernah mengerti pergumulan si pendoa, beratnya beban yang menekan jiwanya dan kelegaan yang dialaminya lewat doa. Ketika kita mendoakannya, kita berusaha mengerti isi doanya dan pergumulannya, lalu kita pun belajar berdoa seperti dia.

Dalam hal Doa Bapa Kami, doa itu diajarkan Yesus ketika murid-muridNya meminta untuk diajar berdoa. Hari ini sebagian besar orang Kristen hafal Doa Bapa Kami, dan itu baik, tetapi saya yakin ketika Yesus mengajarkan doa tersebut Dia tidak bermaksud supaya kita bisa menghafalnya saja. Karena jikalau demikian, kita akan sama seperti orang munafik yang mengucapkan banyak kata-kata dan bertele-tele. Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami sebagai sebuah pola doa. “Janganlah berdoa seperti orang munafik...supaya dilihat orang,… janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga,…” Atau dengan kata lain, Yesus ingin mengatakan “kalau berdoa contohnya seperti begini yah: Bapa kami di sorga..." Maka setiap hari kita bisa berdoa dengan kerangka Doa Bapa Kami tapi dengan kalimat yang terus berbeda. Lama kelamaan kita diajar untuk berdoa mengikuti pola doa yang agung itu.

Kedua, seringkali kita tidak tahu apa yang harus didoakan. Doa kita lebih banyak hanya seputar masalah kita dan keinginan kita. Bertahun-tahun menjadi orang Kristen, bertahun-tahun berdoa, seringkali kita tidak bertumbuh dalam doa.

Firman Tuhan dan doa adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan karena Firman Tuhan dan doa adalah ‘sarana’ komunikasi kita dengan Allah. Maka kalau doa kita tidak bertumbuh, Firman Tuhan akan mengajar dan melatih kita bagaimana berdoa.

Mari kita belajar berdoa!

Monday, November 30, 2009

Do Your Best!

(Posted in September 26, 2007)

Banyak orang berpikir bagaimana untuk bisa sukses dan menjadi yang terbaik. Sukses dan menjadi yang terbaik menjadi tujuan. Padahal cara hidup seperti ini sangat mengerikan. Kita akan menetapkan standar sukses menurut ukuran orang lain. Kalau orang lain punya ini dan itu, saya juga harus punya. Kalau orang lain bisa menjadi ini dan itu, saya juga harus bisa. Kita akan terus tertekan untuk mencapainya dan kita akan selalu mengukur diri kita berdasarkan standar tersebut.

Kita harus belajar melihat bahwa hasil adalah konsekuensi dari usaha. Maka yang harus kita lakukan adalah berusaha bukan menetapkan hasil.

Misalnya saja seorang murid yang belajar di sekolah. Kalau dia memang mampu dan dia sungguh belajar baik-baik, maka ijazah dan nilai baik pasti akan dia dapatkan. Ijazah dan nilai yang baik adalah konsekuensi dari usaha dia untuk belajar. Tapi akan menjadi sangat runyam kalau dia menjadikan ijazah dan nilai baik sebagai tujuan. Dia mungkin akan mencontek, menyuap, mengancam atau apa saja demi tujuannya tercapai.

Dalam kehidupan Kristen, Alkitab juga lebih menekankan usaha dan bukan hasil. Seperti hamba di dalam perumpamaan tentang talenta (Mat 25:14-30), tuannya memberikan kepada masing-masing jumlah talenta yang berbeda. Maka hasil, secara jumlah, bukan sepenuhnya tanggung jawab mereka. Hamba yang diberikan 2 talenta tidak mungkin dituntut menghasilkan 5 talenta. Tetapi apakah dia maksimal berusaha menggunakan apa yang sudah diberikan oleh tuannya (digambarkan dengan 5 talenta menghasilkan 5 talenta dan 2 talenta menghasilkan 2 talenta), itu tanggung jawab dia.

Mungkin kita pernah mendengar slogan “Be The Best”. Tapi secara logika pun kita semua tahu bahwa slogan itu salah. Bagaimana mungkin semua orang punya slogan “Be the Best” sementara "the best" selalu hanya 1 orang? Maka slogan yang jauh lebih baik adalah “Do Your Best”.

Tuhan mau kita berusaha hidup sebaik-baiknya dan bekerja semaksimal mungkin. Hasil yang terbaik adalah hasil yang keluar dari usaha yang terbaik. Terlebih lagi, biarkan Tuhan menentukan hasilnya!

Wednesday, November 25, 2009

Advent & Natal GKY Singapore


Perayaan Natal sudah hampir tiba. Selama 4 minggu berturut-turut adalah minggu advent, minggu-minggu penantian mempersiapkan kita merayakan kelahiran Yesus ke dalam dunia. Kita boleh melupakan hari-hari 'penting' yang berkaitan dengan kehidupan kita, tapi jangan melupakan hari-hari penting yang berkaitan dengan kehidupan Yesus di dalam dunia. Dia datang ke dalam dunia, Dia mati di kayu salib, Dia bangkit pada hari yang ketiga, Dia naik ke surga dan Dia mengutus Roh Kudus untuk menggenapi janjiNya - menyertai kita sampai akhir zaman. He is indeed Emmanuel - God with us! Kiranya momen Natal ini sungguh membawa kita mengalami "God with us!"

- GKY Singapore -

Seminar Redemptive Spirituality - 28 Nov 2009


Spiritualitas Kristen adalah spiritualitas berdasarkan penebusan Kristus. Penebusan Kristus menjadikan kita manusia baru yang terus bertumbuh makin serupa dengan Dia.

Dengan tema besar Redemptive Spirituality Series, banyak tema kecil yang bisa dibahas di bawah tema ini. Pada tahun 2006 seminar ini diadakan di Jakarta. Pada tahun 2008 seminar ini diadakan di Jakarta, Bandung, Medan Surabaya dan Sydney.

Kali ini seminar ini diadakan di GKY Singapore dengan 2 tema kecil: Relation Between Theology and Spirituality dan Spirituality: Finding Your Way in Everydayness.

Kiranya Tuhan berkenan memberkati!

Saturday, November 14, 2009

Thank You Lord For This Semester

Hari ini kebaktian penutupan semester di Trinity Theological College, dan hati saya dipenuhi rasa syukur. Ketika prosesi, salib di depan, di belakangnya ada beberapa orang pelayan mimbar, kemudian Alkitab yang dijunjung tinggi dan di belakangnya adalah pengkhotbah. Sambil mata saya mengikuti salib itu dibawa dari belakang menuju ke mimbar, saya sulit menyanyi karena hampir menangis. Tanpa terasa 1 semester sudah berlalu. Entah bagaimana caranya saya berhasil melewati semester ini. Pelayanan di tempat yang baru sebagai gembala ditambah beban kuliah yang berat (lebih berat lagi karena bahasa Inggris saya yang pas-pasan), kadang membuat saya ingin mengerang. Maka ketika hari ini kebaktian penutupan semester dan saya menyerahkan paper saya, sungguh saya sadar, sampai di sini Tuhan sudah menolong.

Perjalanan saya masih panjang. Semester depan ada 2 mata kuliah utama dan 1 mata kuliah tambahan sebagai pendengar yang akan saya ambil. Setelah itu barulah masuk ke pembuatan thesis. Saya tidak tahu apa lagi yang akan saya alami, apa lagi yang akan saya pelajari, proses perubahan apa yang akan terjadi dalam pikiran saya. Tapi saya antusias menantikannya. Saya antusias untuk belajar. Saya antusias menantikan pengalaman berikutnya.

Saya berharap semester depan bisa lebih ketat mengatur waktu untuk belajar dan pelayanan. Sangat sayang kalau akhirnya saya hanya belajar apa adanya di tengah begitu banyak fasilitas belajar yang bisa saya nikmati (kadang saya merasa seperti semut di dalam lumbung gula yang tidak berdaya untuk menikmati gula). Sampai di sini Tuhan sudah menolong, dan kiranya Tuhan terus menolong.

Thursday, November 12, 2009

Mengajarkan Firman Tuhan - 2

Tema khotbah apapun juga, silakan sebut tema apapun juga, pasti ada buku yang sudah membahasnya. Bagian Alkitab mana saja, pasti ada buku tafsiran atau perenungan yang mengupasnya. Di zaman sekarang, tumpukan hasil penelitian dan karya tulis begitu banyak teolog di dunia membuat apapun juga yang ingin disampaikan di dalam khotbah, pasti ada buku yang mendukung persiapannya.

Maka saya yakin, kalau seorang hamba Tuhan berkhotbah "tanpa isi" pasti adalah karena malas persiapan. Saya tahu tidak semua orang punya talenta untuk bicara di muka umum dan menguraikan sesuatu dengan jelas. Tetapi yang saya tekankan adalah "isi" nya.

Saya tidak percaya dengan pelagiarisme dalam berkhotbah. Bagi saya, sekalipun kita mengambil kalimat atau alur atau ide dari buku tertentu, asalkan kita mengerti-merenungkannya-memikirkan cara menyampaikannya, itu bukan pelagiarisme. Sekalipun kita berkhotbah sangat persis seperti yang tertulis di buku itu, itupun bukan pelagiarisme. Mengapa? Kita sudah menjadikan kalimat atau alur atau ide itu sebagai "milik" kita dengan menjadikannya fresh kembali karena melewati jalur mengerti-merenungkan-menyampaikan.

Satu-satunya pelagiarisme di dalam berkhotbah adalah kalau kita mengambil mentah-mentah khotbah orang lain, dan mengkhotbahkannya begitu saja tanpa mengerti-merenungkan-memikirkan cara menyampaikannya kepada pendengar yang spesifik (saya pernah mendengar khotbah seperti ini, disampaikan dengan buruk tetapi rasanya kok ada isinya, ternyata dia sedang mengkhotbahkan naskah khotbah seorang pengkhotbah terkenal). Ini adalah pelagiarisme karena sebenarnya dia bukan berkhotbah. 

Maka khotbah yang baik tidak mungkin dipersiapkan hanya dalam waktu 1-2 jam (kecuali khotbah singkat yang muncul dari perenungan, persiapannya adalah hasil membaca buku dan pergumulan di masa lalu). Butuh berjam-jam untuk mempersiapkan 1 naskah khotbah. Tetapi di tengah begitu banyak buku yang mendukung persiapan khotbah, satu-satunya alasan untuk berkhotbah "tanpa isi" adalah kemalasan.

Saturday, November 07, 2009

Penderitaan

(Posted in August 29, 2007)

Banyak orang berkata hidup ini perlu penderitaan karena tanpa penderitaan kita tidak akan bertumbuh. Alam juga mengajar kita bahwa ‘penderitaan’ akan membuat sesuatu menjadi lebih kuat. ‘Penderitaan’ kupu-kupu untuk keluar dari kepompongnya menjadikan sayapnya kuat dan siap untuk terbang. ‘Penderitaan’ pohon menahan terpaan angin selama sekian tahun membuat ia berakar lebih dalam. Demikian pula tubuh manusia. Dengan memikul beban yang berat, maka otot-otot kita akan semakin kuat. Pada waktu orang berolah raga mengangkat beban (fitness), beban yang berat itu akan membuat ada bagian-bagian otot yang mengalami kerusakan. Tetapi ketika pulih, justru otot-otot itu akan menjadi lebih kuat. Maka saya setuju kalau dikatakan tanpa penderitaan kita tidak akan bertumbuh.

Tetapi ada beberapa hal yang mengganggu saya berkaitan dengan hal ini.

Ada orang-orang yang sengaja ‘menciptakan’ penderitaan bagi orang lain dengan alasan penderitaan adalah sesuatu yang baik. Kalau itu dilakukan dengan tujuan yang jelas maka saya setuju, misalnya seorang atlit pasti harus diberikan jadwal latihan yang ketat untuk kebaikan dirinya, atau seorang tentara pasti harus menjalani disiplin dan latihan yang berat untuk mempersiapkan dirinya bertempur. Mereka tahu bahwa tanpa semua itu mereka akan hancur. Keberatan saya adalah kalau penderitaan itu sesuatu yang tidak perlu, berlebihan, atau muncul dari motivasi yang tidak baik. Misalnya dalam hal atlit: “sekalian saja, atlit juga perlu belajar kurang makan” atau dalam hal tentara: “tentara harus belajar kuat, pukulin saja setiap hari”. Dalam konteks pelayanan, saya pernah mengenal pendeta yang harus tinggal di rumah yang super kecil dengan keluarganya, bukan karena gerejanya tidak mampu (kalau gerejanya memang tidak mampu dan ia terpanggil melayani disitu, saya yakin ia harus hidup seperti itu memikul salib dari Tuhan), tetapi karena dianggap hamba Tuhan harus belajar menderita. Itu sebabnya suka muncul banyolan “ini mah bukan salib dari Tuhan, tapi salib bikinan si A atau si B”.

Keberatan saya yang utama adalah alasan ‘penderitaan adalah sesuatu yang baik’ sering dipakai oleh orang-orang yang sebenarnya tidak punya maksud baik. Saya percaya penderitaan itu perlu, tetapi siapa yang berhak menciptakan penderitaan bagi orang lain? Dengan motivasi apa kita menciptakannya? Apakah dengan motivasi sangat baik, seperti si pelatih atlit atau si pelatih tentara yang tahu persis tanpa itu mereka akan hancur, atau malah keluar dari hati yang memang tidak dipenuhi rasa kasih dan keadilan?

Hal kedua yang ingin saya soroti berkaitan dengan nilai penderitaan. Saya tidak percaya bahwa penderitaan an sich (pada dirinya) adalah sesuatu yang baik. Banyak orang yang menderita justru tidak menjadi baik tetapi malah menjadi semakin keras, sombong, atau bahkan jahat. Misalnya anda mungkin pernah mendengar orang yang membanggakan penderitaannya, lalu mengejek orang lain yang dia anggap kurang menderita? “Saya bersyukur pernah mengalami ini dan itu, orang lain baru segitu aja payah sudah nggak tahan”. Atau ada orang yang terkena penyakit parah, kanker misalnya, lalu mengatakan “saya bertahan dalam penderitaan, saya tetap mati-matian bekerja, kamu yang sehat semua malas-malasan baru sakit sedikit sudah begitu”. Sebaliknya juga ada orang-orang yang justru menjadi makin lembut, rendah hati dan sangat mengasihi orang lain karena dia pernah menderita. Tidak ada nada sombong, membanggakan penderitaannya atau mengejek orang lain yang ‘kurang’ menderita. Apa yang membuat mereka berbeda? Responnya! Mereka mungkin sama-sama menderita, tetapi respon terhadap penderitaan itu yang berbeda. Dan dampak terhadap otot-otot rohani mereka pun berbeda.

Kalau boleh pakai analogi fitness tadi, setelah memikul beban ternyata otot bukan menjadi makin kuat tetapi makin lemah karena salah cara memikulnya. Besi-besi yang menjadi beban itu bukan sesuatu yang baik an sich, tetapi kalau kita memikul beban itu dengan cara yang benar tubuh akan makin kuat.

Dalam kehidupan sebagai manusia di bumi ini dan juga dalam ketaatan menjalankan kehendak Tuhan, kadang-kadang memang ada penderitaan yang harus kita alami. Mungkin kita mengalami sakit, kesulitan ekonomi, penderitaan mental. Kalau memang itu bagian kita, kita tidak boleh lari, kita harus tetap taat dan menjalani penderitaan itu dengan hati yang bergantung kepada Tuhan. Penderitaan yang diizinkan Tuhan dan kita pikul dengan hati yang benar di hadapan Tuhan itu, akan membuat otot-otot rohani kita semakin kuat.

Tuesday, November 03, 2009

Keluarga

(Posted in July 2007) 

(Tulisan ini adalah revisi atas tulisan yang saya buat untuk kolom Dynatorial dalam buletin Komisi Pemuda 1 GKY Green Ville – Dynamagz edisi Juni 2007)

Ketika Tuhan menciptakan dunia dan segala isinya, Alkitab mencatat “Allah melihat bahwa semuanya itu baik”. Semuanya baik artinya: tidak ada kejahatan, tidak ada cacat, semua sesuai dengan kekudusan dan keindahan rancangan Tuhan. Itulah dunia yang dijadikan Tuhan.

Dunia hari ini sama sekali berbeda dengan dunia awal yang dijadikan Tuhan karena dosa sudah merusaknya. Dosa merusak segalanya dalam dunia. Dan yang saya maksud segalanya adalah, harfiah, SEGALANYA!

Itu sebabnya Allah menjanjikan langit dan bumi yang baru. Suatu dunia yang baru, suatu dunia yang kembali sesuai dengan kekudusan dan keindahan rancangan Tuhan. Atau boleh kita katakan, suatu dunia surgawi.

Tetapi sebelum sampai ke sana, Allah berulang kali menerobos kehidupan dunia dengan memberikan model kehidupan surgawi. Kemah suci dibangun dengan model yang diperlihatkan Tuhan kepada Musa. Pola ibadah orang Israel dan segala elemennya di perintahkan langsung oleh Allah dengan detil. Melalui kehidupanNya, Yesus datang ke dalam dunia menunjukkan seperti apa model kehidupan surgawi. Dan bahkan Yesus mengajar supaya kerinduan kita adalah “jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga”. Apa yang terjadi di surga kita rindukan, bukan nanti tetapi sekarang, terjadi juga di bumi.

Pola ini bisa diringkas sebagai: Creation (Penciptaan)-Fall (Kejatuhan)-Redemption (Penebusan)-Consummation (Penyempurnaan). Pada waktu Creation segalanya sempurna. Pada waktu Fall segalanya menjadi rusak. Pada waktu Consummation segalanya akan menjadi baru yaitu di surga. Tetapi hari ini kita bukan hanya berada di tengah kondisi Fall tetapi juga ada Redemption dari Tuhan. Maka ada terobosan kehidupan surgawi di tengah dunia yang jatuh ini dan ada pengharapan pembaruan, bukan nanti, tetapi sekarang.

Pola yang sama bisa kita kenakan pada keluarga.

Keluarga adalah bagian dari dunia yang dijadikan Tuhan. Di dalam keluarga, hubungan suami dan istri adalah bentuk hubungan antar manusia yang paling intim dan mencerminkan hubungan Allah Tritunggal. Hubungan antara orang tua dan anak mencerminkan hubungan antara Allah dengan anak-anakNya, yang dididik dan dikasihiNya.

Keluarga juga adalah bagian dari dunia yang dirusak kemudian oleh dosa. Dan itu sebabnya kita melihat banyak kerusakan terjadi dalam keluarga. Untuk menyebut beberapa saja: suami istri saling melukai yang menyebabkan anak juga terluka, orang tua tidak peduli bahkan menyiksa anaknya dengan kata-kata dan tindakannya, mama selalu menuntut dan membandingkan anaknya dengan orang lain, papa tidak memberikan teladan moral, dan seterusnya, dan seterusnya. Keluarga kita dan semua keluarga di dunia sudah dirusak oleh dosa. Kalau tidak ada perubahan, kerusakan itu akan terus berputar menjadi makin besar dari generasi ke generasi.

Tetapi sama seperti elemen dunia yang lain, relasi dalam keluarga juga akan dijadikan baru oleh Tuhan.

Maka hari ini, bukan saja sebagai dorongan, tetapi seharusnya sebagai perintah: “Rindukanlah pembaruan itu!” Dan rindukanlah itu mulai terjadi sekarang juga. Kita memang belum mencapai Consummation, tetapi kita juga bukan hidup dalam kondisi Fall saja. Kita memiliki Redemption! Kita bisa memulai pembaruan surgawi itu hari ini juga. Paling tidak, kitalah yang mulai menghadirkan pola relasi surgawi itu dalam keluarga kita. Gumulkanlah apa yang Tuhan mau kita kerjakan dalam keluarga kita. Bagaimana harus berkata-kata dan bersikap pada orang tua? Bagaimana mendoakan dan mengasihi mereka? Bagaimana terang Tuhan yang ada dalam hati kita bisa bercahaya dalam kegelapan dan kerusakan karena dosa?

Keadaan mungkin tidak akan berubah karena kita belum sampai ke Consummation. Masalah yang kita hadapi dalam keluarga mungkin akan tetap sama atau bahkan bertambah berat. Tetapi doa yang kita panjatkan, kasih dan kebenaran yang memancar dari hidup kita, kuasa Redemption yang kita alami dalam Kristus, tidak akan membuat segalanya persis sama karena mulai ada pola relasi surgawi dalam keluarga kita.

Tuhan memberkati keluargamu!


Free Blogger Templates by Isnaini Dot Com and Mercedes-Benz Car Pictures. Powered by Blogger