(Posted in October 2007)
Pada tanggal 4 Mei 2007, saya pernah mem-posting artikel Doa Ku Dari Doa Bapa Kami. Seharusnya saya langsung memberikan penjelasan mengapa saya menulis doa secara demikian, tetapi akhirnya tertunda sampai sekarang.
Cara berdoa seperti itu disebut ‘mendoakan Firman Tuhan’. Maksudnya adalah kita menggunakan Firman Tuhan, kalimat demi kalimat, sebagai kerangka doa kita. Cara berdoa seperti itu bukanlah cara baru. Saya memang belum pernah menyelidiki sejak kapan cara berdoa seperti ini digunakan di dalam gereja. Tetapi paling tidak, Martin Luther di abad ke 16 sudah mengajarkan hal itu (dalam bukunya A Simple Way To Pray).
Dan ini bukan hanya bisa dilakukan dengan Doa Bapa Kami, tetapi juga doa-doa lain dalam Alkitab, khususnya kitab Mazmur. Bahkan sebenarnya bukan cuma bagian Alkitab yang berupa doa yang bisa kita doakan. Martin Luther bahkan mengajarkan kita untuk mendoakan 10 Perintah Tuhan! Dia mengajar kita untuk mengerti dulu setiap perintah itu, lalu bersyukur, meminta ampun dosa dan berdoa supaya kita bisa menghidupinya.
Paling tidak ada 2 alasan mengapa kita perlu belajar ‘mendoakan Firman Tuhan’:
Pertama, doa-doa dari tokoh-tokoh iman yang tercatat di dalam Alkitab adalah doa-doa yang diinspirasikan. Di dalamnya mereka bergumul dan mengalami kelegaan di dalam Tuhan. Seringkali keagungan doa itu tidak terperhatikan oleh kita. Kita membacanya tanpa pernah mengerti pergumulan si pendoa, beratnya beban yang menekan jiwanya dan kelegaan yang dialaminya lewat doa. Ketika kita mendoakannya, kita berusaha mengerti isi doanya dan pergumulannya, lalu kita pun belajar berdoa seperti dia.
Dalam hal Doa Bapa Kami, doa itu diajarkan Yesus ketika murid-muridNya meminta untuk diajar berdoa. Hari ini sebagian besar orang Kristen hafal Doa Bapa Kami, dan itu baik, tetapi saya yakin ketika Yesus mengajarkan doa tersebut Dia tidak bermaksud supaya kita bisa menghafalnya saja. Karena jikalau demikian, kita akan sama seperti orang munafik yang mengucapkan banyak kata-kata dan bertele-tele. Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami sebagai sebuah pola doa. “Janganlah berdoa seperti orang munafik...supaya dilihat orang,… janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga,…” Atau dengan kata lain, Yesus ingin mengatakan “kalau berdoa contohnya seperti begini yah: Bapa kami di sorga..." Maka setiap hari kita bisa berdoa dengan kerangka Doa Bapa Kami tapi dengan kalimat yang terus berbeda. Lama kelamaan kita diajar untuk berdoa mengikuti pola doa yang agung itu.
Kedua, seringkali kita tidak tahu apa yang harus didoakan. Doa kita lebih banyak hanya seputar masalah kita dan keinginan kita. Bertahun-tahun menjadi orang Kristen, bertahun-tahun berdoa, seringkali kita tidak bertumbuh dalam doa.
Firman Tuhan dan doa adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan karena Firman Tuhan dan doa adalah ‘sarana’ komunikasi kita dengan Allah. Maka kalau doa kita tidak bertumbuh, Firman Tuhan akan mengajar dan melatih kita bagaimana berdoa.
Mari kita belajar berdoa!

