Tuesday, November 21, 2017

Baptisan 191117

Salah satu sukacita besar yang saya alami dengan menjadi seorang pendeta adalah ketika melakukan baptisan. Hati saya selalu sangat bersyukur dan terharu melihat orang-orang yang memberi diri untuk dibaptis.

Saya tahu hidup Kristen tidak akan mudah. Mereka yang dibaptis tidak akan luput dari ujian dan pencobaan. Bahkan mereka pasti akan mengalami banyak jatuh bangun. Hidup sebagai anak Tuhan di tengah dunia yang membenci Tuhan pastilah tidak mudah. Hidup sebagai anak Tuhan di tengah dunia dimana kuasa kegelapan mengintai pastilah sulit. Memulai hidup baru setelah sekian lama berada di hidup yang lama pastilah berat.

Tetapi, baptisan adalah peristiwa sukacita. Bagi Martin Luther, itu seperti mengenakan “cincin kawin.” Baptisan adalah saat dimana kita menyatakan “sumpah setia” kita kepada Tuhan, di hadapan Tuhan dan semua orang. Itulah juga saat dimana kita dimeteraikan oleh Tuhan sebagai milik Kristus. Oh, how wonderful event it is!

Bulan Juli sampai November tahun ini saya ikut membimbing kelas katekisasi dewasa di GKY Green Ville. Hari minggu lalu, ada 58 orang yang menerima baptisan dewasa/sidi (27 di antaranya dari kelas katekisasi remaja) dan 8 orang yang atestasi (pindah keanggotaan gereja) ke GKY Green Ville.

Walaupun kali ini bukan saya yang melayani baptisan/sidi, tapi selama 4 bulan beberapa kali mengajar mereka, Retreat bersama mereka, sering chat dan rapat mengenai mereka, membuat saya merasa took a small part in their journey. I'm happy for them.

With some of them :-)

Saya juga bersukacita melihat keluarga iman yang terbentuk di gereja. Bukan hanya keluarga dari mereka yang menerima baptisan/sidi yang datang dan bersukacita. Para mentor kelompok di kelas katekisasi dewasa juga sengaja datang, ikut mendoakan, dan memberikan selamat. Para pembimbing remaja dan anak-anak remaja juga ikut datang menyambut teman-temannya yang menerima baptisan/sidi. I really thank God for that.

Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.  Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. (Kolose 2:6-7)

Friday, November 10, 2017

NOT "One Bag At a Time"

Sudah cukup lama blog ini terabaikan. Saya sendiri geregetan tapi apa boleh buat. Sebelum pulang ke Jakarta, saya sudah tahu bahwa saya akan sibuk. Saya juga sudah terbiasa sibuk dari dulu. Tetapi selama beberapa bulan ini, saya betul-betul-betul-betul sibuk.

Di satu sisi, disertasi masih harus dikerjakan. Di sisi lain, berbagai pelayanan khotbah, rapat, pertemuan dengan banyak orang, mempersiapkan program tahun depan, dll, seperti tidak ada habisnya mengalir. Satu berhasil diselesaikan, maka tiga lagi yang datang #eh

Saya ingat sebuah cerita tentang Bill Hybels yang ditulis oleh Gary L. McIntosh dan Samuel D. Rima dalam buku mereka Overcoming the Dark Side of Leadership. Di bawah ini saya ceritakan dengan kata-kata saya sendiri.

Pada waktu kecil, Bill Hybels biasa membantu ayahnya menurunkan kentang busuk dari truk. Setelah berjam-jam bekerja, satu karung demi satu karung diturunkan, Bill mengeluh ke ayahnya berapa banyak lagi karung kentang yang masih harus diturunkan. Ayahnya akan menjawab: “Jangan kuatir Billy, kamu hanya perlu menurunkan karung itu satu persatu saja (one bag at a time).” Bertahun-tahun kemudian, itu menjadi etika kerja dia: “one bag at a time.” Tidak peduli berapa pun besarnya tugas yang dihadapi, dia tidak pernah mundur sampai tugas itu selesai. Tetapi, ketika dia memimpin gereja dengan jemaat 14.000 orang, tidak akan pernah mungkin dia bisa menyelesaikan tugasnya. Solusinya? Kerja lebih keras. Teruskan, one bag at a time, sampai tugas itu selesai. Tetapi, setiap kali dia berhasil menurunkan satu karung kentang busuk, maka ada tiga lagi yang menunggu. Kebutuhan psikologis dia untuk menyelesaikan tugas mengosongkan truk penuh kentang busuk itu membuat dia menjadi workaholic. Setiap menit hidupnya dikuasai oleh pekerjaan. Sampai suatu kali, beberapa menit sebelum dia harus memimpin pemberkatan nikah dan beberapa jam sebelum dia harus berkhotbah di kebaktian, dia menyandarkan kepalanya di meja dan menangis sejadi-jadinya. Dia betul-betul kehabisan kekuatan fisik, emosi, dan rohani.

Sejujurnya, saya mulai merasa seperti Bill Hybels yang sedang menurunkan kentang busuk dari truk penuh muatan itu. Tidak habis-habis. One bag at a time. Kerja lebih keras lagi. Bagaimanapun juga, tetap tidak pernah selesai! Hanya saja saya belum sampai breakdown seperti dia.

Beberapa bulan super sibuk ini mengajar saya banyak hal. Salah satunya adalah saya tidak mau menurunkan kentang busuk terus menerus. Dan saya tidak mau bekerja sekedar dengan konsep one bag at a time. Lalu solusinya? Jangan tanya saya sekarang hehe.. Saya belum bisa merumuskannya dengan baik. Saya hanya tahu bahwa something wrong dalam hidup seperti itu dan akan betul menjadi super wrong kalau diteruskan. Ada beberapa rencana yang terpikir oleh saya. Masih akan trial and error. Yang pasti, apa yang saya alami selama beberapa bulan ini, dan kisah Bill Hybels, menjadi rambu peringatan besar bagi saya.

Sedikit update tentang studi saya: Saya baru saja menyelesaikan revisi disertasi saya. Hanya tinggal dipercantik sedikiiittt lagi, lalu saya harus menyelesaikan introduksi (tinggal sedikit lagi) dan konklusi. Terakhir bibliografi. Menurut perhitungan, saya perlu sekitar 8 hari kerja lagi untuk menyelesaikannya. Masalahnya tidak mudah menemukan waktu 8 hari kerja itu di Jakarta :-( Setelah itu selesai? Belum juga. Kalau pembimbing saya meminta untuk revisi lagi, saya masih harus berkata “here I am.” Tapi paling tidak sekarang saya lebih optimis bisa selesai.

Setelah studi ini selesai, itulah saatnya rencana saya untuk tidak sekedar menurunkan kentang, NOT one bag at a time, bisa mulai dijalankan. Saat ini, apa boleh buat, bring it on… but have mercy on me, o God. 


Dapat karangan bunga lagi hehehe... #darianakgokil #virtual #lebay #hasileditan #penghiburan

Monday, September 18, 2017

A Pure Heart

A pure heart that's what I long for
A heart that follows hard after Thee

A heart that hides Your word
so that sin will not come in

A heart that's undivided 
but one You rule and reign

A heart that beats compassion
that pleases You, my Lord

A sweet aroma of worship
that rises to Your throne

Beberapa hari ini saya berulang-ulang menyanyikan lagu ini. Saya menemukan lagu ini bukan saja indah tetapi menyelidiki hati.

Apakah hati saya mengikut Tuhan dengan mati-matian?
Apakah hati saya menyimpan Firman begitu rupa sehingga dosa tidak bisa masuk?
Apakah hati saya tidak terbagi tetapi hanya, dan hanya, diperintah oleh Tuhan?
Apakah hati saya penuh belas kasihan sehingga menyenangkan Tuhan?

Alangkah indahnya hati seperti itu!Bagaikan aroma penyembahan yang manis yang naik ke takhta Tuhan!

Saya belum memiliki such a pure heart. Tetapi saya merindukannya.

Monday, July 10, 2017

Nostalgia yang Menguatkan

Saya sudah memulai kembali masa pelayanan di GKY Green Ville tanggal 1 Juli lalu (tepat 8 tahun 3 hari setelah pindah ke Singapore).

Kondisi saya saat ini sebetulnya bukan kondisi yang ideal untuk memulai pelayanan kembali. Saya sedang sangat sibuk. Saya merasa tidak pernah sesibuk ini dalam jangka waktu sepanjang ini dan tingkat stress setinggi ini seumur hidup saya. Di satu sisi, disertasi saya sedang berada di tahap penyelesaian. Tahap penyelesaian bukan berarti santai tapi sebaliknya membutuhkan energi otak yang sangat besar. Di sisi lain, ada sangat banyak (and I mean a lot) pelayanan yang harus dikerjakan. Maka saya hampir tidak punya waktu untuk apapun selain bekerja, berpikir, dan rapat, dari pagi sampai malam sekali, tujuh hari dalam seminggu. Sementara itu, istri saya juga sedang sangat sibuk dengan masalah keluarga. Maka kami berdua hampir exhausted secara fisik dan mental. Kondisi ini sudah berjalan beberapa bulan dan saya sadar bahwa ini masih akan berjalan cukup lama bahkan entah sampai kapan.

Kondisi seperti ini membuat cadangan emosi saya menipis. Saya lebih gampang terganggu dengan berbagai (and I mean a lot) masalah yang muncul. Saya lebih gampang marah ketika ada tuntutan baru yang muncul. Sejujurnya, saya merasa jadi sering tidak bijak dalam sikap dan perkataan karena kelelahan, kekecewaan, frustasi, kemarahan, dll.

Sekitar 2 minggu lalu saya sempat membuka-buka file lama dan melihat video rekaman yang diberikan beberapa teman yang waktu itu masih pemuda. Ada rekaman ucapan terima kasih dan wishes dari beberapa orang. Lalu ada rekaman paduan suara Zion yang menyanyikan sebuah lagu. Lalu saya juga melihat-lihat beberapa foto perpisahan dengan mereka yang waktu itu masih pemuda dan remaja.

Saya jadi mengingat-ingat kembali apa sebetulnya yang sudah saya dan istri lakukan selama 5 tahun pelayanan kami dulu di GKY Green Ville. Sejujurnya, kami merasa, kalau diukur secara prestasi atau hal yang ‘wah’, maka tidak banyak yang kami lakukan. Malah kami banyak melakukan kesalahan dan kebodohan. Tetapi, mungkin yang membuat kami dekat dengan mereka adalah karena kami mengasihi mereka, peduli kepada pergumulan mereka, senang melihat mereka bertumbuh dan berhasil, dan berusaha berbuat semampu kami dalam pelayanan.

Maka saya sadar bahwa saya tidak ingin menjadi seperti sekarang ini. Selama 8 tahun tentu saya berubah dalam banyak hal – tetapi seharusnya menjadi lebih baik dan bukan sebaliknya. Berkali-kali di dalam doa saya berseru kepada Tuhan “saya cape… cape banget” – sampai malu ngomong begitu ke Tuhan saking seringnya. Tetapi Tuhan selalu beri kekuatan lewat firman-Nya, lewat teman-teman, lewat kebaikan hati orang-orang di sekitar, dan lewat berbagai (and I mean a lot) cara. So, yes, this, too, shall pass. Tapi yang terpenting adalah bagaimana saya melaluinya.

Ketika melihat video rekaman dari paduan suara Zion, saya sangat terharu karena Tuhan, dan saya, tahu bahwa saya masih sangaaaatttt jauh dari layak disebut “hamba Tuhan yang baik dan setia.” Atas kehendak Tuhan, di dalam Kebaktian Umum 1 dan 2 kemarin, Paduan Suara Zion (generasi sekarang, tentunya) menyanyikan lagu yang sama (!!!) di dalam bahasa Inggris sementara saya menyampaikan khotbah :-) What a blessing! Nostalgia yang menguatkan!

Saya seperti diingatkan kembali untuk mengarahkan pandangan ke depan seperti Paulus yang berkata:
Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus (Filipi 3:13-14).
May the Lord who has called me keep me firm to the end!


NB: Video wishes di bawah adalah versi yang ditayangkan di Persekutuan Doa Rabu (I have the complete version :-P) Lalu di bawah adalah sebagian foto-foto yang saya punya - perpisahan dengan KP 1 dan perpisahan di airport. Saya nggak punya foto-foto perpisahan lainnya :-/ Silakan cari wajah masing-masing - versi masih pada imut :-) Sorry kualitas videonya otomatis dikurangi sama blogspot dan entah mengapa tidak bisa diputar di android tapi bisa di laptop.









Saturday, April 29, 2017

Kembali ke Jakarta

We’re officially back in Jakarta.

Banyak yang bertanya apa itu berarti studi saya sudah selesai? Beluuuummmm…!! Studi saya belum selesai dan selama dua bulan ke depan saya masih akan sering pergi ke Singapore. Bahkan sekarang pun ada di Singapore :-) Tetapi sekarang saya “pergi” dan bukan “pulang” ke Singapore. Maka satu bab lagi dalam kehidupan sudah berlalu.

Waktu pindah ke Singapore tahun 2009, saya tidak pernah membayangkan akan tinggal di Singapore sampai hampir delapan tahun. Singapore sudah menjadi negara kedua terlama yang pernah kami tinggali – setelah Indonesia tentunya. Maka pasti ada banyak kenangan.

Sejak awal April saya dan istri sok sibuk farewell. Hampir setiap hari ada farewell lunch/dinner (yang paling cetar adalah hari Minggu setelah kebaktian Paskah). Bagi kami, setiap farewell yang kami lalui adalah tanda kasih dan kesempatan bagi kami untuk mengingat apa saja yang sudah kami alami bersama. Terlalu banyak.

Selama delapan tahun di Singapore, ada dua hal yang mengambil porsi terbesar dari hidup saya: kehidupan studi akademis di Trinity Theological College dan kehidupan keluarga iman di GKY Singapore. Yang pertama banyak menimbulkan kenangan yang kurang enak – (1) lelah, (2) bosan, (3) stress, ulang lagi dari (1). Tapi yang kedua banyak menimbulkan kenangan manis. Ah.. sudahlah jangan diteruskan yang ini, bikin mellow.

Tetapi, bukan hanya kenangan yang saya dapatkan di Singapore. Saya belajar banyak – sangat banyak, baik secara akademis, pelayanan, relasi, maupun kehidupan. Bertambahnya usia delapan tahun dan berkurangnya rambut memberi kesempatan saya bertumbuh secara emosi. Secara rohani, saya juga makin menyadari kelemahan, kegagalan, kebodohan, dan kelambanan saya, dan di atas semuanya, kesabaran Tuhan.

Sekarang saatnya bersyukur. Kami bersyukur untuk teman-teman dan anak-anak rohani yang kami dapatkan selama di Singapore. They are God’s good gift for us. Kami bersyukur untuk setiap pelayanan yang boleh kami lakukan di Singapore. Kami melayani tapi sebenarnya kami menerima jauh lebih banyak berkat melaluinya. Kami juga bersyukur untuk kesempatan saya studi di Singapore – yang hampir-tapi-belum selesai. Tuhan juga sudah mencukupkan segala keperluan selama di Singapore. Could never be grateful enough.

Sekarang saatnya menatap ke depan. Saya bergabung dengan GKY Green Ville tahun 2004, lima tahun melayani di sana dan delapan tahun meninggalkannya. Maka waktu sekarang kembali kesana, walaupun banyak hal dan orang yang familiar, saya dan istri perlu penyesuaian lagi. Delapan tahun sama sekali tidak sebentar di dunia yang terus berubah ini. Banyak hal sudah berubah di gereja. Cara pelayanan pun harus berubah. Beberapa jemaat yang kami kenal sudah meninggal dunia. Beberapa remaja yang dulu kami layani sudah menikah dan punya anak. Bahkan kami juga perlu penyesuaian lagi untuk tinggal di Jakarta. Tetapi, hati kami penuh kerinduan untuk mulai melakukan sesuatu.

Saya ingat pada waktu kami akan berangkat ke Singapore, ada seorang jemaat yang bertanya apakah saya akan kembali ke Jakarta. Dengan nada setengah ragu dan setengah yakin dia berkata bahwa saya mungkin tidak akan mau kembali setelah merasakan tinggal di Singapore. Saya menjawab dia: “Saya tidak tahu. Tetapi, yang pasti, saya tidak akan memilih sekedar mana yang lebih nyaman untuk saya.” Selama di Singapore, berkali-kali saya juga ditanya “lebih enak mana tinggal di Singapore atau Jakarta?” Saya selalu menjawab “sama aja, masing-masing ada enaknya.” Saya tidak berbohong. Masing-masing memang ada enaknya. Saya juga tidak berbohong kepada jemaat itu bahwa saya betul tidak memilih sekedar mana yang lebih nyaman untuk saya.

Saya pasti akan kangen Singapore dengan segala kelebihannya – praktis, cepat, aman, modern, bersih. Tetapi, saya melihat bahwa saya bisa lebih berguna untuk Kerajaan Tuhan jika saya melayani di Indonesia. So, Indonesia, here I am.

Tantangan pelayanan dan kehidupan di depan ditambah dengan kesadaran akan kelemahan kami membuat kami gentar. Kami lemah, sungguh! Kalau Tuhan tidak menguatkan, memperlengkapi dengan kuasa, berbelas kasihan, dan terus sabaaaarrr…. tak mungkin kami bisa melakukan apapun. Kami juga tidak bisa melihat jauh ke depan dan tidak tahu persis apa yang akan terjadi nanti, tapi kami memohon supaya Tuhan memimpin. So have mercy on us, o God! And be with us!

Ini sebagian foto farewell yang sempat terkumpul. Sorry nggak sempet edit, apalagi yang dari HP. Sayangnya kadang kami sibuk makan dan lupa foto! Juga nggak semua foto ada di kamera saya. Once again, thank you and thanks be to God!



















Saturday, March 11, 2017

"Pelayanan" yang Kurang Pas Disebut Pelayanan

Kalau kita bertanya ke beberapa orang Kristen “apa sih pelayanan?” , saya yakin kita akan mendapat jawaban yang beragam.

Jawaban yang paling umum adalah “sesuatu yang dilakukan buat Tuhan.” Kalau kita gali jawaban itu lebih jauh, kita akan menemukan bahwa seringkali yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dalam nuansa Kristen dan tidak dibayar (bukan berarti ini benar lho..). Ini artinya super luas!

Tetapi, kadang saya bertanya betulkah semua yang disebut “pelayanan” itu benar-benar pelayanan?

Kita tahu bahwa pelayanan bisa dikritisi dari berbagai macam sisi. Kita bisa melihat motivasinya. Kita bisa melihat caranya. Apakah motivasi dan caranya memuliakan Tuhan? Tetapi, satu sisi dari pelayanan yang jarang kita perhatikan adalah efektivitasnya. Apakah betul yang dilakukan menghasilkan sesuatu yang baik untuk kerajaan Tuhan?

Saya berikan beberapa contoh.

Contoh 1:
Sebuah gereja membentuk suatu tim yang bertanggung jawab untuk mengawasi pelayanan di kota lain. Tim itu menerima laporan dari mereka yang melayani di kota itu, lalu memberi masukan, kritikan, bahkan mengambil keputusan. Tetapi, mereka tidak sepenuhnya mengerti pelayanan di kota itu. Mereka juga bukan orang yang memiliki konsep teologis dan strategis yang kuat untuk itu. Seluruh anggota tim merasa sedang "melayani". Tetapi, bagi orang-orang yang berada di garis depan pelayanan di kota itu, apa yang dilakukan tim itu sama sekali tidak menolong malah sebaliknya menghambat. Maka betulkah anggota tim itu sedang mengerjakan pelayanan?

Contoh 2:
Seorang ibu yang suaranya tidak enak didengar ingin "melayani" dengan menyanyi solo di dalam kebaktian. Orang-orang berkata “mau pelayanan kok dilarang?” Tetapi, kalau kebaktian adalah waktu dimana gereja mengajak semua yang hadir menyembah Tuhan dengan lebih baik, apakah dengan menyanyi solo dia membuat jemaat menyembah Tuhan dengan lebih sungguh? Maka betulkah dia sedang mengerjakan pelayanan?

Contoh 3:
Sebuah kelompok musik tanjidor ingin "melayani" dengan mengiringi pujian di dalam kebaktian. Tetapi ketika mereka mengiringi pujian di dalam kebaktian, jemaat sulit untuk menyanyi dengan baik. Jemaat sulit untuk berkonsentrasi menyembah Tuhan dengan diiringi orkestra Betawi itu. Tetapi, seluruh anggota kelompok musik tanjidor itu merasa mereka melayani Tuhan dengan talenta mereka. Betulkah mereka sedang mengerjakan pelayanan?

Saya bisa berikan banyak contoh lain. Tetapi saya kira contoh-contoh di atas cukup menjelaskan maksud saya.

Bisakah kegiatan-kegiatan di atas disebut pelayanan? Karena saya tidak ingin menghakimi, anggaplah kegiatan-kegiatan di atas sebagai "pelayanan" yang kurang pas disebut pelayanan.

Di mana sebetulnya kesalahan “pelayanan” dalam contoh-contoh yang saya sebutkan di atas? Pada contoh 1, kesalahannya mungkin adalah pengaturan struktur organisasi. Pada contoh 2, kesalahannya adalah talenta yang tidak cocok. Pada contoh 3, kesalahannya adalah tidak sesuai dengan kebutuhan.

Tetapi, kesamaannya adalah apa yang mereka lakukan tidak menghasilkan sesuatu yang baik untuk kerajaan Tuhan. Mereka mungkin tulus, betul-betul mengerjakannya untuk Tuhan. Mereka mungkin juga memberi yang terbaik yang mereka bisa. Tetapi, apa yang mereka lakukan tidak efektif.

Saya tidak bermaksud mengatakan pelayanan selalu harus menghasilkan sesuatu yang jelas, kelihatan, dan terukur. Tidak. Banyak hal yang kita lakukan dalam Kerajaan Tuhan sifatnya menanam dan tidak langsung terlihat hasilnya. Maka kalau kita menanam dan tidak melihat hasilnya sampai puluhan tahun sekalipun, tidak apa! (Asalkan motivasi dan caranya benar, benihnya benar, dan kita yakin Tuhan mau kita lakukan itu). Tetapi pertanyaannya betulkah kita menanam? Jangan-jangan yang kita lakukan justru sedang menghambat atau, lebih parah lagi, merusak. Pelayanan tidak harus efisien (tidak memboroskan waktu, usaha, dan uang) tetapi harus efektif (mencapai hasil yang diinginkan - sekalipun lama sekali)!

Maka jangan asalkan tidak dibayar dan dalam nuansa Kristen, lalu berkata "saya ini kan pelayanan". Coba tanyakan kepada diri sendiri: “Betulkah yang saya lakukan ini menghasilkan kebaikan bagi Kerajaan Tuhan? Dengan cara bagaimana?”

Pertanyaan lebih jauh adalah: “Apakah ini adalah yang terbaik yang bisa saya lakukan untuk Kerajaan Tuhan? Atau saya bisa melakukan yang lain, yang lebih efektif, yang lebih berguna untuk Kerajaan Tuhan, yang tidak saya lakukan karena ngotot dengan yang ini?”

NB: Saya tahu tulisan ini menyederhanakan banyak hal. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Saya hanya berharap tulisan ini mengajak kita lebih kritis dalam mengerjakan pelayanan.

Wednesday, March 08, 2017

My Dissertation Writing - 6

Saya baru menyerahkan Bab 5. Seperti biasa, mundur dari rencana awal. *sigh* Recananya paling lambat di akhir Januari tapi akhirnya molor sampai awal Maret. *sigh*

Saya masih perlu menulis Bab 6, memperbaiki Bab 1 (Introduksi), dan menulis kesimpulan. Kemudian merevisi lagi semuanya sesuai permintaan pembimbing nanti.

TTC memberi standard 90.000 kata untuk disertasi (artinya bisa kurang sedikit tapi tidak boleh lebih). Untuk Bab 1 – 5, saya sudah menulis hampir 80.000 kata. Maka untuk Bab 6, saya hanya boleh menulis maksimal 8.000 kata supaya masih ada ruang jika nanti perlu tambahan di sana sini. Mudah-mudahan berarti bisa cepat.

Saya kepengen (pake banget) bisa ngomong “it is finished”. Tapi belum bisa. It’s ok, karena nanti setelah selesai mungkin saya akan merindukan masa-masa ini. Dilematis.

Waktu untuk pulang ke Jakarta juga semakin mendekat. Status visa saya di Singapore sudah berubah dari “student” menjadi “social” a.k.a. “turis”. Setelah sekian lama selalu lewat autogate di imigrasi Singapore, sekarang harus kembali antri di jalur biasa :-)

Kapan selesai semuanya? Saya tidak tahu. Kapan sidang disertasi? Saya juga tidak tahu. Yang saya tahu adalah sebelum pulang ke Jakarta saya harus berusaha sebisanya menyelesaikan Bab 6. Setelah itu, saya akan menyelesaikan penulisan disertasi dengan cara bolak balik Jakarta-Singapore. Banyak yang meragukan apa mungkin disertasi bisa selesai dikerjakan dengan cara seperti itu. Saya yakin bisa. Tapi tidak tahu berapa lama hehe..

Selagi menulis post ini, saya menerima email dari sekolah yang mengingatkan bahwa paling lambat saya harus selesai tanggal 30 Juni. Kalau sampai tidak.. berarti bayar uang sekolah lagi hehe.. (yang ini tersirat bukan tersurat). Ok, noted.