Wednesday, July 11, 2018

The Conviction to Lead–Albert Mohler

Albert Mohler, The Conviction to Lead: 25 Principles for TheConvictionToLeadMohlerLeadership that Matters (Minneapolis: Bethany House, 2012), 220 pages.


Saya tertarik membaca buku ini karena dua hal.

Pertama, karena saya sadar bahwa menjadi gembala GKY Green Ville is no joke. Saya perlu mencari pertolongan dari orang lain untuk mengajari saya bagaimana memimpin. Tetapi, saya memilih untuk belajar dari orang yang saya percaya kualitas dan keyakinannya. Albert Mohler memenuhi kriteria itu.

Kedua, karena kisah dramatis di awal kepemimpinan Albert Mohler. Dia dipercaya untuk menjadi presiden dari Southern Baptist Theological Seminary pada usia 33 tahun di tahun 1993. Saat itu SBTS sudah berusia 144 tahun! Mohler sendiri baru empat tahun sebelumnya lulus dengan PhD dari sekolah itu. Dia diminta untuk membalikkan total arah dari seminari itu kembali kepada keyakinan iman semula dan dia harus menghadapi tentangan luar biasa dari mahasiswa dan hampir semua dosen yang ada. Sejak hari pertama dia memimpin, mahasiswa sudah berkumpul untuk demonstrasi dan setiap saat ada wartawan di depan kantornya. Hampir semua dosen kemudian mengundurkan diri. Tetapi, Mohler kemudian berhasil menjadikan SBTS kembali menjadi sekolah yang besar.

Buku ini berisi 25 bab pendek, masing-masing hanya sekitar 6-8 halaman. Setiap bab bisa dibaca dalam waktu singkat. Bahkan saya merasa buku ini sebaiknya dibaca sedikit demi sedikit daripada sekaligus. Tentu tidak semua bab itu bisa diterapkan di dalam semua konteks. Tetapi, banyak di antaranya yang memberikan inspirasi.

Hal paling penting yang menjadi dasar dari semua bab di dalam buku ini adalah seorang pemimpin harus memimpin berdasarkan keyakinan. Kepemipinan dimulai dengan tujuan dan bukan rencana. Keyakinan dan tujuan itulah yang harus terlihat dari seorang pemimpin dan menginspirasi orang yang dipimpinnya.

Kemudian dia membahas banyak hal mengenai tantangan, kesempatan, dan sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Berikut adalah beberapa judul bab dalam buku ini untuk memberikan gambaran:

Leaders Understand Worldviews

Leaders Are Thinkers

Leaders Are Teachers

The Leader and Power

Leaders Are Managers

The Leader as Writer

The Digital Leader

Sejujurnya dia meletakkan standar yang sangat tinggi – yang membuat saya ngeri. Tetapi, dia bukan menulis dari menara gading. Jelas bahwa apa yang dia tulis sudah dan sedang dia jalankan. He walks the talk.

Saya merasa perlu waktu lebih lama untuk membuat merenungkan apa yang dia tulis.

Recommended!

Friday, July 06, 2018

Penggambaran Sikap Doa

Dari sekian banyak penggambaran sikap orang ketika berdoa, saya tidak tahu mengapa dua gambaran di bawah ini paling menggerakkan hati saya.

Pertama, orang yang berlutut berdoa sambil menengadahkan tangannya.


Kedua, orang yang berdoa sambil mengulurkan tangannya ke atas.


Seringkali ketika melihat penggambaran seperti itu saya merasakan ada koneksi dengan hati saya.

Mungkin karena menengadahkan tangan sebagai sikap berdoa menunjukkan sikap seseorang yang membutuhkan Tuhan dan memohon supaya Tuhan memberikan kekuatan di tengah pergumulan hidupnya. Seakan-akan dia sedang memohon, berulang kali, “Tuhan, berkatilah aku… berkatilah aku!”

Mungkin juga karena mengulurkan tangan ke atas sebagai sikap berdoa menunjukkan sikap seseorang yang dalam keadaan tertekan dan berusaha menggapai ke Tuhan. Saya ingat Mazmur 77:3 “Pada hari kesusahanku aku mencari Tuhan; malam-malam tanganku terulur dan tidak menjadi lesu…” Istilah terulur berarti menggapai ke atas. Pemazmur bercerita bahwa di dalam usahanya mencari Tuhan pada hari kesusahannya, tangannya terulur tanpa lelah! Seakan-akan dia memohon, berulang kali, Tuhan, kasihanilah aku.... kasihanilah aku!

Saya tidak bisa sepenuhnya menjelaskan mengapa dua penggambaran di atas lebih menggerakkan saya dibanding yang lainnya. Pergumulan hidup dan kesusahan yang saya alami sangatlah tidak berarti dibanding banyak orang kudus lain. Tetapi sebagai orang yang penuh dengan kelemahan, semakin lama semakin saya merasakan kebutuhan akan belas kasihan Tuhan dan berkat Tuhan. Saya membutuhkan Tuhan!

Beberapa waktu lalu saya menemukan gambar di bawah ini dari Logos dan saya jadikan sebagai wallpaper di laptop saya.


Saya tahu bahwa di dalam anugrahNya, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan saya dan jauh dari saya. Tetapi, pertolongan Tuhan diberikan kepada mereka yang menantikannya dengan rendah hati. So I want to pray like that!

Wednesday, May 30, 2018

The End of A Very Long Chapter

Note: Sudah lama saya mengabaikan blog ini. Alasannya apa lagi kalau bukan kesibukan. Sesungguhnya sulit bagi saya untuk mulai menulis lagi. Tetapi saya masih merasa blog ini adalah media pelayanan yang efektif. So here I come again :-) Tapi sebelum saya mulai menulis artikel lagi, saya ingin menutup sebuah "bab" yang sangat panjang dalam hidup saya dengan tulisan di blog ini. Peringatan: Tulisan ini panjang!

Pada bulan April 2017, saya kembali ke Jakarta dalam kondisi disertasi yang belum selesai. Saya berjuang untuk menyelesaikannya. Tetapi, saya hampir tidak punya waktu untuk menulis apapun ketika berada di Jakarta. Maka setiap kali memungkinkan, saya kembali ke Singapore untuk meneruskan penulisan disertasi itu. Jangan tanya bagaimana saya bisa menyelesaikan disertasi dengan cara seperti itu. Saya juga tidak tahu.

Tanggal 6-13 Februari 2018 saya ke Singapore lagi dengan harapan bahwa itu adalah yang terakhir kalinya untuk menyelesaikan penulisan disertasi. Kalaupun tidak bisa selesai, saya bertekad untuk menyelesaikan semuanya di Jakarta. Tetapi, Tuhan sangat baik. Pada waktu di Singapore, begitu banyak "untung" dan "kebetulan" yang membuat saya berhasil menyelesaikan penulisan dan supervisor saya menyetujui disertasi saya untuk diserahkan ke penguji. Jangan tanya bagaimana lelahnya saya waktu itu. Tapi, yang pasti legaaaa... sekali rasanya.

Langkah berikutnya adalah menunggu jadwal sidang. Biasanya perlu waktu minimal tiga bulan sejak disertasi diserahkan sampai sidang dilakukan. Tetapi, wisuda akan dilakukan tanggal 12 Mei dan itu berarti tidak akan keburu dan saya mungkin harus menunda wisuda ke tahun 2019. Walaupun bagi saya, asalkan-selesai-ya-sudah-lah, tetap rasanya akan ada sesuatu yang mengganjal. Ajaibnya, keburu!

Saya ke Singapore lagi untuk sidang tanggal 4 April. Penguji saya adalah Prof. G. Walter Hansen dari Fuller Theological Seminary dan Dr. Leonard Wee sebagai internal examiner. Sebetulnya saya sangat tidak siap untuk sidang karena kesibukan yang luar biasa di Jakarta. Saya tidak bisa membayangkan pertanyaan yang akan diberikan oleh penguji dan saya lebih tidak bisa membayangkan lagi bagaimana menjawabnya. Jangan tanya bagaimana tegangnya. Level tertinggi. Jangan tanya juga bagaimana saya bisa lulus. Mukjizat.

Prof. G. Walter Hansen adalah seorang accomplished scholar dalam Perjanjian Baru dan juga ahli dalam surat Galatia. Maka beberapa komentar dari dia di bawah ini membuat saya sangat bersyukur. Bukan karena merasa hebat, tetapi karena saya ingat bagaimana Tuhan memimpin saya menulis bab demi bab:

From the good survey of references to the Spirit in Jewish literature to the in-depth analysis of metaphors of the Spirit, this thesis admirably exemplifies the kind of breadth and depth we look for in a doctoral thesis.

Rather than wondering what central point this thesis wants to make, we know from the beginning to the end that it argues for one central point: living in conformity to the ethics of the Spirit, not the ethics of the Torah, leads to final justification.


He has done an admirable work in producing such a major thesis. So much of his work contributes to our understanding of Galatians.


Dengan murah hati, dia kemudian menulis email kepada saya secara pribadi:


Congratulations, Jeffrey!

I pray that you will be "led by the Spirit," not only as you complete your work on this good thesis, but also as  you carry on your ministry to proclaim the “truth of the gospel.”

The Lord bless you and keep you!

Walter Hansen

Tuhan tahu bahwa hari dimana saya sidang adalah hari besar bagi saya - akhir perjalanan studi selama lima tahun, bahkan sembilan tahun kalau dihitung sejak studi M.Th, ditentukan hari itu - dan saya sepenuhnya bergantung kepada Tuhan. Saya bukan hanya berlutut. Saya tiarap. Maka, hari itu, Tuhan menggerakkan sangat banyak orang berdoa untuk saya. Saya tidak cerita ke banyak orang bahwa hari itu saya sidang disertasi tapi berita itu menyebar. Sejak pagi hari itu saya menerima banyak sekali ucapan dukungan. Istri saya berkata, "banyak sekali orang berdoa untuk kamu" - dan dia benar. Selesai sidang, saya menangis karena terharu. Saya hanya bisa bersyukur kepada Tuhan. 

Di bawah ini adalah ucapan terima kasih yang saya tuliskan di dalam disertasi saya:

All who have undergone the task of writing a dissertation would agree that without the presence of so many people who had supported them, even sacrificed for them, they would never have been able to complete it. I am grateful for the presence of many such people around me during my study at Trinity Theological College. To them, I am much indebted.

My first and special thanks go to my wise Doktorvater, Dr. Tan Kim Huat, for his insightful comments and patience. He had also supervised me in writing my thesis for Master of Theology degree, which was also done at Trinity Theological College. It is a great privilege for me that I can study with him for about eight years and I hope that the result does not disappoint him too much. Thank you Dr. Tan! My examiners, Prof. G. Walter Hansen and Dr. Leonard Wee, have offered helpful corrections and advice. Whatever deficiencies remain in the present work is my sole responsibility.

I owe a warm word of thanks to the leaders and members of my church in Jakarta, Gereja Kristus Yesus Green Ville. They have patiently waited for me to finish my study and to be back in the ministry while also graciously providing financial support throughout the years. All for the greater glory of God! To the leaders and members of Gereja Kristus Yesus Singapore, thanks for the fellowship and all the support given to me and my wife since the first day we moved to Singapore. Thanks, too, to the Brash Trust, who has provided substantial amount of scholarship during my study in Singapore. 

My thanks and affection also go to my family for their love and support. They have always been a precious part of my life. I am indebted, too, to my close friends and “spiritual children” in Singapore and in Jakarta. They have played a vital role in keeping me both sane and motivated.

And to my wife, Yudith, what else can I say about her? She is such a great blessing and constant encouragement for me. To her, many thanks are given, beyond what words can express. I devote this work to my Savior God, Jesus Christ, and to her. 

To God be the glory!


Thanks all! It's been a long journey!

With my supervisor, Prof. Tan Kim Huat.

Thanks a bunch GKYers Singapore!



 With Dr. Edmund Fong. We were in the same batch during our M.Th study in TTC.

 With Dr. Michael Mukunthan. TTC's librarian.

 With Duy - D.Th candidate from Vietnam. My neighbor in the library :-)


Some important people in the background :-)

With Anthony and his family - a Malaysian friend.

Mandatory pose in a mandatory spot!

 
Thanks for many durian treats during the past 9 years!

Wednesday, December 20, 2017

Persiapan Melayani Dalam Natal

Ini adalah renungan singkat yang saya sampaikan kepada para pelayan kebaktian Natal tanggal 24 Desember 2017 di GKY Green Ville di dalam gladi kotor kemarin.

Natal sudah sangat dekat. Saya yakin kita yang akan melayani di dalam kebaktian tanggal 24 Desember sudah sekian lama melakukan persiapan. Banyak waktu yang sudah dipakai, tenaga dan pikiran dicurahkan, bahkan mungkin dana dikeluarkan. Semua jerih payah selama ini akan menemui puncaknya dalam beberapa hari lagi.

Sebagian dari kita mungkin mulai lelah dengan latihan. Sebagian mungkin mulai tegang (atau mungkin PD). Tetapi, satu hal yang paling penting adalah apa yang ada di pikiran dan hati kita tentang pelayanan ini? Apakah kita merasa “ah sudah biasa begini, tinggal tampil, ya sudah.” Atau kita merasa “aduh ini stress banget, cape banget, pengen cepet selesai semuanya. .. lalu liburan.” Apa sebetulnya kerinduan kita melalui pelayanan ini?

Kita berlatih. Itu pasti penting. Kita persiapan, curahkan waktu dan tenaga. Itu juga pasti penting. Tetapi, apa yang ada di pikiran dan hati kita mengenai pelayanan ini, itu jauh lebih penting. Karena apa yang akan kita lakukan bersama tanggal 24 Desember nanti bukanlah pertunjukan dan bukanlah hiburan. Apa sebenarnya yang kita lakukan? Kita berusaha supaya setiap orang yang belum percaya, pada waktu datang, mendengar orang Kristen memuji Tuhan melalui lagu, musik dan melihat drama, hatinya bergetar. Lalu pada waktu dia mendengar Firman, Roh Kudus bekerja membuka hatinya sehingga dia diterangi dan pindah dari kegelapan kepada terang. Kita juga berusaha supaya setiap orang yang sudah percaya, pada waktu datang, mendengar lagu pujian, melihat drama, mendengar khotbah, dia dikuatkan dan dikobarkan lagi imannya.

Ini pekerjaan yang wow. Pada dasarnya yang kita lakukan adalah berusaha mematahkan kuasa kegelapan yang berkuasa di dalam hati orang yang belum percaya dan yang sedang mengintai dan berusaha menjatuhkan orang percaya. Supaya pada akhirnya terang Tuhan bercahaya dan nama Tuhan ditinggikan.

Masalahnya waktu kita menginginkan itu, mengusahakan itu, mengerjakan itu, satu hal yang pasti adalah: Setan tidak akan tinggal diam. Maka jelas pelayanan kita adalah peperangan rohani. Tetapi siapa kita sehingga sanggup mengerjakan pelayanan seperti ini? Siapa kita sehingga sanggup mematahkan kuasa kegelapan dalam hati orang yang belum percaya dan menguatkan serta memulihkan orang yang percaya. Siapa kita?

Pada waktu memikirkan ini, saya kembali mengingat cara kerja Tuhan yang sangat mirip pada waktu Natal yang pertama.

Kalau kita mau anggap peristiwa itu sebagai pelayanan, maka Natal pertama adalah pelayanan yang sangat besar: Menghadirkan Anak Allah ke dalam dunia dan tinggal di tengah manusia.

Halangannya juga bukan main besarnya. Kalau dilihat dari kacamata manusia, maksud Tuhan hampir gagal waktu itu. Peperangannya sangat mengerikan: Setan melakukan apa saja untuk menghalangi hal itu terjadi, termasuk mendalangi pembunuhan semua bayi berusia 2 tahun ke bawah di Bethlehem. Maria sendiri waktu itu bisa menolak jadi “bintang utamanya.” Yusuf bahkan hampir menolak jadi “ketua panitia” karena mau memutuskan pertunangan dengan Maria. Ada resiko orang-orang setempat mengamuk dan seluruh “artis dan panitia” bisa dibunuh dengan ditimpuki batu. Belum lagi ejekan, gosip, caci maki yang terus diterima oleh Yusuf dan Maria. Tidak main-main.

Maka kalau bicara besarnya skala pelayanan, Natal pertama adalah pelayanan terbesar sepanjang sejarah manusia. Nasib seluruh dunia dan seluruh manusia bergantung pada event itu. Kalau bicara ngerinya dan dahsyatnya pelayanan, Natal pertama adalah pelayanan terngeri dan terdahsyat di seluruh sejarah manusia.

Tetapi, anehnya, panitia dan pelayan yang dipilih untuk event sebesar itu adalah Yusuf dan Maria. Dua orang super sederhana, bukan siapa-siapa, dari tempat super kecil, bukan tempat apa-apa. Tetapi di pundak merekalah diletakkan tanggung jawab untuk mengerjakan pelayanan terbesar, terngeri dan terdahsyat di seluruh sejarah manusia.

C. S. Lewis menulis tentang rencana Allah ini: Seluruh rencana besar Allah untuk menyelamatkan dunia, menyempit, dan menyempit, terus sampai akhirnya menjadi satu titik kecil, sangat kecil, yaitu seorang gadis Yahudi yang berdoa. Melalui dia, Allah menghadirkan Yesus ke dalam dunia. Philip Yancey berkata pada waktu dia membaca lagi cerita di Alkitab mengenai kelahiran Yesus, dia gemetar sambil memikirkan bahwa nasib seluruh dunia, nasib seluruh manusia, bergantung hanya pada dua orang anak muda desa tanpa pendidikan, bukan siapa-siapa, dari tempat yang bukan apa-apa.

Tapi tokh akhirnya ketika dua orang yang bukan siapa-siapa itu taat, rencana Tuhan tergenapi.
Saya mencoba membandingkan ini dengan pelayanan kita tanggal 24 Desember nanti. Walaupun pelayanan yang kita lakukan tidak sebesar, sengeri dan sedahsyat Natal yang pertama, tapi esensinya sama.

Pada waktu kita melayani dalam Natal, ingatlah bahwa kita bukan sedang menampilkan pertunjukan, bukan sedang menghibur, bahkan bukan sedang sekedar membuat ibadah indah dan wow. Tetapi, kita sedang melakukan yang sama seperti pelayan Natal yang pertama, Yusuf dan Maria, untuk berdoa, berharap, berusaha, membuka jalan untuk Sang Terang itu hadir di dalam hati manusia yang gelap. Kita berdoa, berharap, berusaha, supaya sang Terang itu menyalakan lagi terangNya yang mungkin hampir padam, di dalam hati anak2-anakNya.

Untuk hal sebesar itu, kita juga sama seperti pelayan Natal yang pertama: Kita bukan siapa-siapa. Tetapi ketika Tuhan memilih kita untuk melayani dan kita berespon dengan ketaatan dan penyerahan diri, Tuhan bisa memakai kita jauh melampaui apa yang mampu untuk kita lakukan.

Maka kembali kepada apa yang saya katakan di awal. Kita latihan, itu pasti penting. Kita persiapan, curahkan waktu dan tenaga, itu juga pasti penting. Tapi apa yang kita pikirkan tentang pelayanan ini? Apa kerinduan kita melalui pelayanan ini? Apakah kita berdoa dengan sungguh-sungguh supaya Tuhan bekerja dengan kuasaNya? Supaya melalui apa yang kita lakukan, yang sebetulnya tidak akan cukup untuk melakukan pekerjaan besar ini, maksud Tuhan tercapai? Apakah kita berharap supaya Terang Tuhan dinyatakan dan menerangi hati setiap orang yang datang? Apakah kita sadar bahwa kita harus bergantung sepenuhnya kepada Tuhan karena ini adalah peperangan rohani melawan kuasa kegelapan?

Apa yang ada di dalam pikiran dan hati kita mengenai pelayanan ini sangatlah penting. Berdoalah dan siapkanlah hati untuk dipakai oleh Tuhan.

Tuesday, November 21, 2017

Baptisan 191117

Salah satu sukacita besar yang saya alami dengan menjadi seorang pendeta adalah ketika melakukan baptisan. Hati saya selalu sangat bersyukur dan terharu melihat orang-orang yang memberi diri untuk dibaptis.

Saya tahu hidup Kristen tidak akan mudah. Mereka yang dibaptis tidak akan luput dari ujian dan pencobaan. Bahkan mereka pasti akan mengalami banyak jatuh bangun. Hidup sebagai anak Tuhan di tengah dunia yang membenci Tuhan pastilah tidak mudah. Hidup sebagai anak Tuhan di tengah dunia dimana kuasa kegelapan mengintai pastilah sulit. Memulai hidup baru setelah sekian lama berada di hidup yang lama pastilah berat.

Tetapi, baptisan adalah peristiwa sukacita. Bagi Martin Luther, itu seperti mengenakan “cincin kawin.” Baptisan adalah saat dimana kita menyatakan “sumpah setia” kita kepada Tuhan, di hadapan Tuhan dan semua orang. Itulah juga saat dimana kita dimeteraikan oleh Tuhan sebagai milik Kristus. Oh, how wonderful event it is!

Bulan Juli sampai November tahun ini saya ikut membimbing kelas katekisasi dewasa di GKY Green Ville. Hari minggu lalu, ada 58 orang yang menerima baptisan dewasa/sidi (27 di antaranya dari kelas katekisasi remaja) dan 8 orang yang atestasi (pindah keanggotaan gereja) ke GKY Green Ville.

Walaupun kali ini bukan saya yang melayani baptisan/sidi, tapi selama 4 bulan beberapa kali mengajar mereka, Retreat bersama mereka, sering chat dan rapat mengenai mereka, membuat saya merasa took a small part in their journey. I'm happy for them.

With some of them :-)

Saya juga bersukacita melihat keluarga iman yang terbentuk di gereja. Bukan hanya keluarga dari mereka yang menerima baptisan/sidi yang datang dan bersukacita. Para mentor kelompok di kelas katekisasi dewasa juga sengaja datang, ikut mendoakan, dan memberikan selamat. Para pembimbing remaja dan anak-anak remaja juga ikut datang menyambut teman-temannya yang menerima baptisan/sidi. I really thank God for that.

Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.  Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. (Kolose 2:6-7)

Friday, November 10, 2017

NOT "One Bag At a Time"

Sudah cukup lama blog ini terabaikan. Saya sendiri geregetan tapi apa boleh buat. Sebelum pulang ke Jakarta, saya sudah tahu bahwa saya akan sibuk. Saya juga sudah terbiasa sibuk dari dulu. Tetapi selama beberapa bulan ini, saya betul-betul-betul-betul sibuk.

Di satu sisi, disertasi masih harus dikerjakan. Di sisi lain, berbagai pelayanan khotbah, rapat, pertemuan dengan banyak orang, mempersiapkan program tahun depan, dll, seperti tidak ada habisnya mengalir. Satu berhasil diselesaikan, maka tiga lagi yang datang #eh

Saya ingat sebuah cerita tentang Bill Hybels yang ditulis oleh Gary L. McIntosh dan Samuel D. Rima dalam buku mereka Overcoming the Dark Side of Leadership. Di bawah ini saya ceritakan dengan kata-kata saya sendiri.

Pada waktu kecil, Bill Hybels biasa membantu ayahnya menurunkan kentang busuk dari truk. Setelah berjam-jam bekerja, satu karung demi satu karung diturunkan, Bill mengeluh ke ayahnya berapa banyak lagi karung kentang yang masih harus diturunkan. Ayahnya akan menjawab: “Jangan kuatir Billy, kamu hanya perlu menurunkan karung itu satu persatu saja (one bag at a time).” Bertahun-tahun kemudian, itu menjadi etika kerja dia: “one bag at a time.” Tidak peduli berapa pun besarnya tugas yang dihadapi, dia tidak pernah mundur sampai tugas itu selesai. Tetapi, ketika dia memimpin gereja dengan jemaat 14.000 orang, tidak akan pernah mungkin dia bisa menyelesaikan tugasnya. Solusinya? Kerja lebih keras. Teruskan, one bag at a time, sampai tugas itu selesai. Tetapi, setiap kali dia berhasil menurunkan satu karung kentang busuk, maka ada tiga lagi yang menunggu. Kebutuhan psikologis dia untuk menyelesaikan tugas mengosongkan truk penuh kentang busuk itu membuat dia menjadi workaholic. Setiap menit hidupnya dikuasai oleh pekerjaan. Sampai suatu kali, beberapa menit sebelum dia harus memimpin pemberkatan nikah dan beberapa jam sebelum dia harus berkhotbah di kebaktian, dia menyandarkan kepalanya di meja dan menangis sejadi-jadinya. Dia betul-betul kehabisan kekuatan fisik, emosi, dan rohani.

Sejujurnya, saya mulai merasa seperti Bill Hybels yang sedang menurunkan kentang busuk dari truk penuh muatan itu. Tidak habis-habis. One bag at a time. Kerja lebih keras lagi. Bagaimanapun juga, tetap tidak pernah selesai! Hanya saja saya belum sampai breakdown seperti dia.

Beberapa bulan super sibuk ini mengajar saya banyak hal. Salah satunya adalah saya tidak mau menurunkan kentang busuk terus menerus. Dan saya tidak mau bekerja sekedar dengan konsep one bag at a time. Lalu solusinya? Jangan tanya saya sekarang hehe.. Saya belum bisa merumuskannya dengan baik. Saya hanya tahu bahwa something wrong dalam hidup seperti itu dan akan betul menjadi super wrong kalau diteruskan. Ada beberapa rencana yang terpikir oleh saya. Masih akan trial and error. Yang pasti, apa yang saya alami selama beberapa bulan ini, dan kisah Bill Hybels, menjadi rambu peringatan besar bagi saya.

Sedikit update tentang studi saya: Saya baru saja menyelesaikan revisi disertasi saya. Hanya tinggal dipercantik sedikiiittt lagi, lalu saya harus menyelesaikan introduksi (tinggal sedikit lagi) dan konklusi. Terakhir bibliografi. Menurut perhitungan, saya perlu sekitar 8 hari kerja lagi untuk menyelesaikannya. Masalahnya tidak mudah menemukan waktu 8 hari kerja itu di Jakarta :-( Setelah itu selesai? Belum juga. Kalau pembimbing saya meminta untuk revisi lagi, saya masih harus berkata “here I am.” Tapi paling tidak sekarang saya lebih optimis bisa selesai.

Setelah studi ini selesai, itulah saatnya rencana saya untuk tidak sekedar menurunkan kentang, NOT one bag at a time, bisa mulai dijalankan. Saat ini, apa boleh buat, bring it on… but have mercy on me, o God. 


Dapat karangan bunga lagi hehehe... #darianakgokil #virtual #lebay #hasileditan #penghiburan

Monday, September 18, 2017

A Pure Heart

A pure heart that's what I long for
A heart that follows hard after Thee

A heart that hides Your word
so that sin will not come in

A heart that's undivided 
but one You rule and reign

A heart that beats compassion
that pleases You, my Lord

A sweet aroma of worship
that rises to Your throne

Beberapa hari ini saya berulang-ulang menyanyikan lagu ini. Saya menemukan lagu ini bukan saja indah tetapi menyelidiki hati.

Apakah hati saya mengikut Tuhan dengan mati-matian?
Apakah hati saya menyimpan Firman begitu rupa sehingga dosa tidak bisa masuk?
Apakah hati saya tidak terbagi tetapi hanya, dan hanya, diperintah oleh Tuhan?
Apakah hati saya penuh belas kasihan sehingga menyenangkan Tuhan?

Alangkah indahnya hati seperti itu!Bagaikan aroma penyembahan yang manis yang naik ke takhta Tuhan!

Saya belum memiliki such a pure heart. Tetapi saya merindukannya.