Saturday, September 24, 2016

Simple Church - Thom S. Rainer & Eric Geiger

Thom S. Rainer dan Eric Geiger mengklaim buku ini tidak memberikan model baru atau mengusulkan program baru untuk pertumbuhan gereja. Tetapi, buku ini menolong untuk merancang proses sederhana (“simple” – kata kuncinya) pemuridan di gereja. Maka bukannya menambah, sebaliknya, buku ini mengajak kita mengurangi banyak hal.

Ada empat kata kunci yang menjadi pembahasan dalam buku ini: Clarity. Movement. Alignment. Focus.

Clarity. Ini adalah tahap merancang proses pemuridan. Baca Alkitab, pikirkan, doakan, diskusikan, menggumuli proses pemuridan seperti apa yang Tuhan inginkan di gereja kita. Temukan beberapa aspek kunci untuk pemuridan di gereja kita. Kemudian diskusikan proses bagaimana orang bergerak maju di dalam aspek-aspek pemuridan yang kita pikirkan itu. Proses itu harus bergerak dari tingkat komitmen yang rendah ke yang lebih tinggi. Ada fase pertama ketika orang mengambil komitmen pertama, dan ada fase berikutnya dengan komitmen tambahan, demikian seterusnya. Tujuan tahap ini adalah kejelasan, maka segala sesuatu harus jelas dan sederhana.

Movement. Untuk setiap fase di dalam proses yang kita buat, pikirkan satu saja program di gereja kita yang paling tepat untuk fase itu. Program itu mungkin perlu dirubah fokus dan arahnya. Intinya, pastikan bahwa setiap program itu sungguh sesuai dengan fase dalam proses pemuridan yang kita buat. Kita ingin mendorong orang untuk masuk mulai dari fase pertama (dengan program pertama), lalu bergerak ke fase kedua (dengan program kedua) dan seterusnya.

Alignment. Setelah tahap pertama dan kedua maka kita sudah memiliki proses pemuridan sederhana dengan program masing-masing yang strategis. Sekarang kita harus membuat seluruh pelayanan di gereja mensejajarkan diri dengan proses itu. Artinya proses ini harus menjadi panduan semua pelayanan di gereja termasuk di dalam persekutuan sesuai usia (komisi). Setiap pelayanan harus dievaluasi: Program ini mendukung fase yang mana dari proses itu? Apakah betul diperlukan atau tidak? Tujuannya adalah supaya energi setiap orang dimaksimalkan untuk proses pemuridan itu saja dan tidak untuk yang lain.

Focus. Langkah ini adalah yang paling sulit karena tentangan akan sangat besar. Fokus artinya kita harus menghilangkan semua program yang tidak terlalu mendukung jalannya proses pemuridan yang kita inginkan. Ada sangat banyak program yang baik tetapi tidak perlu dan tidak boleh banyak program untuk tiap fase pemuridan. Semakin banyak program hanya membuat energi dan perhatian terbagi. Akibatnya proses inti dari pemuridan harus berkompetisi dengan banyak program yang lain. Maka yang harus dilakukan adalah mengeliminasi program-program yang tidak terlalu diperlukan. Langkah ini juga sulit karena seiring berjalannya waktu, pemimpin harus konsisten untuk selalu berkata “tidak” pada semua program/kegiatan yang tidak terlalu diperlukan atau yang akan berkompetisi dengan program inti gereja.

Buku ini dibuat berdasarkan survei dan analisa data statistik dari ratusan gereja di Amerika. Mereka mencoba menemukan perbedaan antara gereja yang bertumbuh dan tidak. Jawaban yang mereka temukan adalah gereja yang bertumbuh hampir selalu adalah “simple church.” Walaupun konteks kebudayaan Amerika dan Indonesia berbeda, saya kira hasil penelitian mereka dalam hal ini bisa diterapkan di Indonesia.

Setelah membaca buku ini, saya segera menyadari betapa tidak mudahnya untuk menjalankannya. Pertama, karena kesulitan-kesulitan yang sudah mereka sebutkan di dalam buku ini. Tetapi, kedua, karena tidak semua orang bisa melihat program mana yang paling dibutuhkan untuk setiap fase dalam proses pemuridan. Bisa muncul ketidaksepakatan apakah suatu program betul-betul diperlukan atau tidak. Seringkali yang terjadi adalah “dicocok-cocokkin”, “diperlu-perluin”, “dibuat-buat alasannya.” Juga tidak semua orang sadar bahwa program-program di gerejanya bertabrakan satu sama lain (apa kriterianya?). Kalau saja mereka memberi lebih banyak contoh (apalagi kalau contohnya dalam konteks gereja di Indonesia hehe..) akan lebih menolong. Tetapi, saya kira kesulitan kedua ini bisa diatasi kalau pemimpin gereja mau betul-betul serius memikirkan dan terbuka untuk berdiskusi dengan banyak orang dengan mendalam dan tidak terburu-buru.

Wednesday, September 21, 2016

My Dissertation Writing - 5

Saya baru saja menyerahkan Bab 4 dari disertasi saya. Saya lelah sekali, atau lebih tepatnya kehabisan tenaga. Kalau bisa mungkin kepala saya sudah mengeluarkan asap. 

Saya makin menyadari bahwa saya bukan mesin dan hidup saya tidak steril dari masalah. Segala sesuatu bisa direncanakan (dan menurut rencana harusnya sekarang saya sudah di ujung Bab 6). Secara perhitungan, seharusnya saya bisa menyelesaikan sampai sekian dalam waktu sekian. Kenyataannya tidak pernah begitu. Ada masanya otak ini buntu, badan sakit, mood hilang, ide terbang. Ada masanya juga masalah demi masalah menghantam dan saya tidak mampu bekerja. Apa boleh buat, saya bukan mesin.

Ditambah lagi saya makin menyadari sesuatu yang dari dulu sebenarnya saya sudah sadar: Saya ini lambat berpikir. Kadang saya bisa cepat, kalau yang sifatnya sederhana. Tapi begitu menyangkut sesuatu yang mendalam, saya lambat sekali. Saya perlu waktu membaca, berpikir, buuaanyak trial and error, terus begitu… dan itu lama.

Dalam segala kelemahan ini saya makin melihat kasih karunia Tuhan. Walaupun lambat, saya tidak mungkin bisa sampai di tahap ini kalau bukan karena Tuhan. Maka, sekali lagi, saya hanya bisa memohon pertolongan Tuhan.

Beberapa bulan lalu, dalam percakapan dengan beberapa orang, saya berkata bahwa saya sudah mau menyerah. Pikiran itu sempat agak “matang”! Saya sudah mulai memikirkan alasan-alasan untuk tidak menyelesaikan studi – dari yang mulia sampai yang kurang mulia. Tetapi, akhirnya, saya sampai pada satu kesimpulan: Selama masih ada waktu dan kesempatan, saya harus dan akan berjuang. Maka, selama ada waktu dan kesempatan, selamat tinggal dulu semua alasan untuk tidak menyelesaikan studi.

Saya sangaaattt berharap tidak ada perbaikan besar untuk Bab 4 yang sudah dikumpulkan. Besok, saya siap menyambut Bab 5 – tidak tahu akan berapa sulit dan berapa lama saya mengerjakannya. Tapi, mudah-mudahan, saya bisa menyelesaikannya dalam 4 bulan.

Err... I want to stay alive...

Monday, September 05, 2016

A Symbol


I am deeply moved, somehow, everytime I meditate on this symbol. The cross high lifted up over all men (chinese character: 人). This is the symbol of Trinity Theological College. And I pray that my life and ministry would be a reflection of the same hope.

Friday, September 02, 2016

The Trellis and The Vine & The Vine Project - Colin Marshall & Tony Payne

Saya baru saja menyelesaikan membaca dua buku ini yang ditulis oleh Colin Marshall dan TonyPayne.

Buku pertama, The Trellis and the Vine, terbit pada tahun 2009 dan menjadi populer. Mengambil perumpamaan dari pohon anggur, mereka mengajak kita melihat bahwa pelayanan kita seharusnya fokus pada vine (anggur) dan bukan pada trellis (terali). Terali perlu ada untuk menunjang pertumbuhan anggur tetapi seringkali kita menghabiskan waktu, tenaga, perhatian, hanya untuk membangun terali dan bukan menumbuhkan anggur.

Bab 1-2 buku itu adalah bab yang sangat penting karena disitulah mereka menguraikan “ministry mind-shift” yang mereka maksudkan. Dalam bab 3-5 mereka menguraikan dasar Alkitab dari konsep mereka. Tidak seluruhnya menarik, menurut saya, tetapi cukup bagus untuk bahan pemikiran lebih mendalam.

Dalam bab 6-8, mereka mulai menyodorkan konsep pelatihan di dalam gereja. Lalu empat bab terakhir buku itu (Bab 9-12) bersifat praktis: Bagaimana melatih co-workers, orang seperti apa yang dipilih, program magang pelayanan, dan bagaimana memulai semuanya.

Buku itu menggugah kesadaran banyak pemimpin gereja bahwa seharusnya mereka fokus mengerjakan vine dan bukan trellis. Tetapi, tidak semudah itu mengerjakan perubahan di dalam gereja. Maka banyak pembaca buku itu bertanya: "Apa yang harus kami lakukan? Jikalau pemuridan hanya dijalankan secara sporadis atau sebagai salah satu “program gereja” maka hasilnya tidak akan terlalu menjanjikan. Tetapi, bagaimana kami bisa membentuk seluruh kultur gereja menjadi disciple-making?"

Maka buku yang kedua, The Vine Project, terbit pada tahun 2016, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Mereka menyadari banyaknya kesulitan yang dihadapi ketika pemimpin gereja ingin menjalankan proyek itu. Maka, seperti yang ditulis oleh mereka di bagian pendahuluan, buku ini bukanlah sekedar untuk dibaca tetapi merupakan sebuah proyek. Mereka menyarankan (mendesak) setiap gereja untuk membentuk tim The Vine Project dan menggunakan buku ini sebagai panduan menjalankan proyek yang besar, sulit, tetapi sangat penting itu.

Mereka membagi proyek ini dalam lima tahap.

Tahap pertama adalah mempertajam keyakinan akan apa yang Tuhan mau kita lakukan. Kita mencoba memperjelas keyakinan kita akan tujuan dan nilai-nilai yang seharusnya ada di dalam pelayanan kita. Tahap ini penting supaya kita memikirkan dengan jelas kaitan antara praktek yang akan kita lakukan dengan teologi.

Tahap kedua adalah mereformasi kultur pribadi kita. Tahap ini sangat menarik dan penting. Banyak orang ingin cepat melakukan sesuatu, membuat program, menyusun kurikulum, menyebarkan brosur, lalu menggerakkan tim untuk mengerjakannya. Tetapi, dengan cara demikian, mereka akan terjebak lagi membangun trellis. Kelemahan utama pendekatan seperti itu adalah mereka (pemimpin gereja) belum pernah melakukan sendiri program yang akan mereka buat. Maka mereka sulit mengerti kesulitan dan halangan yang akan terjadi. Demikian pula, apa yang dikatakan dan dilakukan oleh pemimpin, keputusan-keputusan, prioritas-prioritas, atau kultur pribadinya, akan menjadi titik tolak yang sangat penting bagi sebuah gerakan seperti ini.

Tahap ketiga adalah mulai mengevaluasi gereja. Sama seperti tahap pertama dan kedua, mereka memberikan panduan apa saja yang harus dievaluasi dan bagaimana melakukannya.

Baru di tahap keempat kita masuk kepada tahap inovasi dan implementasi. Beberapa wilayah yang mereka ajak kita fokuskan adalah: Kebaktian Minggu (ini sangat penting), Merancang jalan untuk membawa orang (dari posisi manapun: belum bertobat, baru bertobat, ataupun sudah bertumbuh) makin bertumbuh, Merencanakan apa yang harus dilakukan ketika pertumbuhan terjadi (kualitas dan kuantitas), dan terakhir, Menciptakan bahasa baru yaitu mengkomunikasikan dengan jelas apa yang ingin dilakukan oleh gereja, sedemikian rupa, sehingga ditangkap oleh seluruh jemaat.

Tahap kelima adalah mempertahankan momentum. Proyek ini sama sekali tidak mudah dan tidak cepat. Di dalam prosesnya, bukan saja perhatian, tenaga, waktu, sumber daya, akan banyak terkuras, tekanan juga akan sangat besar dirasakan. Maka sangat penting memikirkan bagaimana menjaga konsistensi dalam menjalankannya.

Hampir untuk setiap bagian yang dibicarakan, buku ini memberikan referensi kepada resources yang bisa dipakai. Akan sangat menolong jika kita juga bisa melihat resources itu dan mempertimbangkan untuk menggunakannya. Buku ini juga didukung oleh situs http://thevineproject.com dimana bisa ditemukan banyak kisah nyata dan wawancara dengan para pemimpin gereja yang menjalankan ini dan juga berbagai resources lainnya.

Kelemahan buku ini adalah ketika dibaca akan terasa too wordy. Tetapi hal ini bisa dipahami karena mereka memang tidak memaksudkannya untuk “dibaca” tetapi “dipergunakan” sebagai panduan dan bahan diskusi.

Saran saya, bacalah dulu buku yang pertama. Hanya jika anda yakin ingin menjalankan perubahan di dalam gereja anda, baru bacalah (dan belilah) buku yang kedua. Saya yakin buku itu akan sangat menolong.

It's time to change, but do it carefully and prayerfully!

Monday, August 22, 2016

"Virus of the Mind" Mengenai Khotbah - 2

Menyambung tulisan sebelumnya di sini, ada meme atau virus of the mind lain mengenai khotbah yang juga populer sekaligus berbahaya. Meme itu berbunyi begini: “Apapun yang disampaikan pengkhotbah di mimbar dalam kebaktian, tentu ditambah dengan membacakan Alkitab, adalah ‘Firman Tuhan’.”

Beberapa waktu yang lalu saya sudah pernah menulis “What is a Sermon?” Apa yang saya tulis di sana tidak perlu saya ulangi lagi. Ada satu definisi yang saya pergunakan di sana yang saya yakin kebanyakan kita akan setuju: “Khotbah adalah penguraian Firman Tuhan (Alkitab).” 

Mari sekarang kita melihatnya dengan sedikit lebih luas.

Kebaktian itu selalu di dalam konteks penyembahan dialogis dan komunal. Komunal artinya umat Tuhan berkumpul bersama, menyembah Tuhan di dalam persekutuan – artinya bukan menyembah Tuhan sendiri-sendiri, tapi bersama-sama, sebagai kumpulan orang yang sudah ditebus Tuhan. Dialogis, artinya kebaktian bukanlah satu arah, seakan-akan di dalam kebaktian arahnya hanya dari kita ke Tuhan. Kebaktian itu dua arah karena Allah yang kita sembah adalah Allah yang hidup. Dia mendengar doa kita. Dia memberkati kita. Dan Dia berkata-kata kepada kita, khususnya dan terutama, melalui Firman yang tertulis. Maka kebaktian selalu dari kita (bukan saya) ke Tuhan dan dari Tuhan ke kita – komunal dan dialogis.

Kalau begitu, dimana posisi khotbah dalam skema dialogis ini? Tuhan ke kita! Lalu dimana posisi pengkhotbah? Di satu sisi dia adalah bagian dari jemaat yang menyembah Tuhan dan harus mendengar suara Tuhan. Di sisi yang lain dia dipakai Tuhan untuk menyampaikan suara Tuhan melalui penguraian Firman yang tertulis. 

Jikalau khotbah adalah menguraikan Firman Tuhan (Tuhan ke kita), maka khotbah harus betul-betul menjadi waktu dimana Firman Tuhan dibacakan dan dijelaskan, sedemikian rupa sehingga suara Tuhan itu diperdengarkan. Tugas pengkhotbah adalah memastikan bahwa itulah yang sedang dia lakukan. Lalu apa tugas jemaat? Mereka harus mendengar dengan aktif, berpikir dengan kritis, menguji kebenarannya, dan membuka hati untuk berubah.

Pengkhotbah tidak boleh berpikir bahwa khotbah adalah sekedar cari ayat Alkitab untuk dibacakan, lalu cari bahan pembicaraan yang isinya motivasi, nasihat kehidupan, konsep “menarik” yang dia baca di buku, dan diusahakan supaya lebih menarik dengan bumbu humor, klip video, atau cerita yang menyentuh. Pertanyaannya apakah dia menjelaskan bagian Alkitab yang dibacakan? Apakah dia memperdengarkan suara Tuhan sesuai dengan bagian Alkitab yang dibacakan?

Dan di dalam khotbah, jemaat seharusnya menuntut untuk mendengar, belajar, dan mengerti Firman Tuhan. Jangan sekedar mencari khotbah yang “kena” (walaupun itu penting), karena “kena” itu mungkin karena apa yang dibicarakan pas sesuai dengan pergumulan atau kelemahan kita, walaupun tidak menjelaskan bagian Alkitab yang dibacakan. Jangan sekedar mencari yang menarik dan tidak mengantuk (walaupun itu juga penting). Carilah, ini harus berulang kali diingatkan, yang setia menguraikan Firman Tuhan!

Virus of the mind yang satu ini merusak pertumbuhan gereja. Pengkhotbah berpikir, dengan berdiri di mimbar, bicara, mengkaitkannya dengan Firman Tuhan, apalagi kalau berhasil membuatnya menarik, pokoknya dia sudah menyampaikan “Firman Tuhan.” Jemaat berpikir, pokoknya yang disampaikan pengkhotbah adalah “Firman Tuhan”, maka mereka harus rendah hati dan menerima, apalagi kalau memang ada hal-hal yang “kena”.

Hasilnya? Pengkhotbah tidak merasa perlu berubah dan jemaat tidak bisa berubah. Virus pun mewabah.

Monday, July 25, 2016

"Virus of the Mind" Mengenai Khotbah - 1

Siapa yang tidak tahu meme? Foto/gambar yang dibubuhi kalimat random menjadi sangat populer beberapa tahun belakangan ini. Tetapi, awalnya meme bukanlah itu.

Istilah meme pertama kali saya dengar waktu membaca buku “Virus of the Mind” dari Richard Brodie lebih dari sepuluh tahun lalu (istilah meme sendiri dimunculkan oleh Richard Dawkins). Meme adalah ide atau pemikiran atau pola tingkah laku yang menyebar seperti virus dari orang yang satu ke orang yang lain. Lalu orang yang terjangkit virus of the mind itu, perlahan-lahan tidak lagi mempertanyakannya tetapi menerimanya sebagai kebenaran. Karena penyebarannya yang luar biasa, akhirnya seakan-akan dia adalah kebenaran umum yang semua-orang-juga-tahu.

Saya ingin bicara soal meme yang seperti itu mengenai khotbah. Meme ini populer sekali. Penyebarannya sangat luar biasa di antara orang Kristen di Indonesia. Kalau dia adalah virus, maka artinya sudah mewabah. Meme itu berbunyi: “Jemaat tidak suka khotbah yang dalam tetapi lebih suka yang ringan, praktis, dan lucu.

Mungkin ada yang protes, “Tapi itu betul kok... jemaat memang gitu… swear!” Bahkan banyak orang Kristen akan langsung berkata “Betul, saya nggak tahan dengar khotbah kayak gitu, bosen, nggak relevan.” Maka bukankah artinya confirmed!? Tunggu dulu. Jangan-jangan kita juga sudah terjangkiti virus of the mind yang sama :-)

Betulkah jemaat tidak suka khotbah yang dalam? Saya memang belum pernah melakukan survei formal. Tetapi dari percakapan dengan banyak jemaat dan dari apa yang saya amati sejauh ini, saya kira itu salah. Ada banyak, sangat banyak bahkan, orang Kristen yang suka belajar Firman Tuhan dengan mendalam. Mereka suka untuk mengerti apa yang mereka percayai. Mereka suka menemukan jawaban atas banyak pertanyaan iman mereka. Maka masalahnya bukan di jemaat, tetapi di pengkhotbah.

Sebagian pengkhotbah, yang dulu pernah sekolah teologi, tidak lagi belajar Alkitab dan teologi dengan baik (serius!). Maka ketika berkhotbah tematik atau doktrinal yang kesannya “dalam”, apa yang disampaikan? Sebagian akan mengutip buku sistematik teologi yang dulu pernah dipelajari waktu dia di sekolah teologi. Atau menggunakan kalimat-kalimat jargon yang semua-orang-sudah-sering-dengar. Atau menggunakan bahasa formal yang disisipi istilah-istilah teologis atau filsafat. Misalnya: “Manusia hari ini tidak percaya kepada Allah-yang-berada melalui argumen ontologis Kant, tetapi melalui pengalaman eksistensialis yang otentik.” Wuuuzzz… wajar kalau jemaat merasa kering ketika mendengar khotbah seperti itu.

Demikian pula waktu berkhotbah secara ekspositori. Sebagian pengkhotbah berkhotbah hanya seperti ekspositori, dengan menyebut kata-kata dalam bahasa Ibrani atau Yunani lengkap dengan artinya, seperti studi kata, yang dengan mudah bisa didapat dari berbagai buku atau secara online. Kalau khotbah diumpamakan seperti masakan jadi, maka yang disajikan bukanlah masakan tapi bahan mentah.

Ditambah lagi, khotbah yang kesannya “dalam” seringkali tidak relevan. Artinya pengkhotbah tidak memikirkan pertanyaan yang sangat penting di dalam khotbah: “What is the message?” Khotbah apapun, selalu harus berpikir, “what is the message” buat jemaat. Saya pernah mendengar khotbah, tentang natur kemanusiaan dan keilahian Yesus bahwa Yesus 100% manusia dan 100% Allah, yang sangat kering. Seorang teman bercerita di gerejanya diadakan seri khotbah doktrin Roh Kudus yang juga sangat kering. Dimana masalahnya? Bukan di topiknya. Kita boleh, bahkan kadang harus, berkhotbah doktrinal. Tetapi khotbah itu menjadi tidak relevan jika tidak memikirkan pertanyaan: “What is the message?” Apa berita dari kebenaran itu bagi pendengar hari ini?

Ada orang yang pernah berkata (saya tidak tahu siapa yang pertama kali): “Jesus is the answer! But what is the question?” Adalah tugas pengkhotbah, sebagai orang yang menguraikan Firman Tuhan, untuk memahami“what is the question” – apa yang ditanyakan jemaat, apa yang dihadapi jemaat, apa yang diperlukan jemaat. Karena hanya dengan demikian dia bisa menjawab dengan relevan (dan powerful): “Jesus is the answer!

Adalah tugas pengkhotbah untuk menguraikan Firman Tuhan yang kekal untuk memberi jawaban bagi pergumulan manusia yang terus berubah sepanjang zaman. Di dalam tulisan sebelumnya, saya meminjam format dari The NIV Application Commentary Series (NIVAC), untuk menjelaskan tugas pengkhotbah. Untuk setiap bagian Alkitab, NIVAC membagi menjadi tiga bagian: “Original Meaning” – arti bagian itu di dalam konteks aslinya; “Bridging Contexts” – menjembatani konteks asli dengan konteks zaman sekarang; dan terakhir “Contemporary Significance” – memberikan contoh bagaimana bagian itu berbicara dan diterapkan di zaman ini. Sederhananya: “Original Meaning” tidak berubah tetapi “Bridging Contexts” dan “Contemporary Significance” akan selalu berganti.

Maka, saya ringkaskan, ada tiga masalah disini:

1. Isi khotbah
Masalahnya bukanlah khotbah yang terlalu dalam. Tetapi, justru, seringkali terlalu dangkal. Khotbah seperti itu tidak berasal dari pemikiran dan pergumulan yang mendalam tetapi kutip sana sini dan dibumbui dengan kallimat-kalimat yang terkesan wah.

2. Relevansi khotbah
Banyak jemaat berkata: “Saya nggak perlu khotbah doktrinal, saya nggak suka khotbah yang susah. Itu pergumulan teolog tapi bukan pergumulan saya.” Masalahnya, lagi-lagi, bukanlah khotbahnya terlalu dalam tetapi tidak jelas “what is the message”. Kita percaya bahwa Alkitab selalu relevan. Kebenaran-kebenarannya selalu menghidupkan. Maka khotbah dari bagian Alkitab manapun, topik apapun, harusnya relevan dan menghidupkan. Tetapi pengkhotbah yang kadang membuatnya tidak relevan dan mati. (Mungkin kadang saya juga bersalah dalam hal ini. May the Lord have mercy!)

3. Cara penyampaian khotbah
Penyampaian itu mencakup cara menyusun khotbah, pemilihan kata, intonasi, emosi, dan lain-lain. Kadangkala isi khotbahnya baik dan relevan, tetapi susunan khotbahnya tidak menarik, intonasinya monoton dan penguraiannya membosankan. Seorang pengkhotbah haruslah juga seorang “master of words” (kalau saya tidak salah istilah ini dari Eugene Peterson). Dia harus tahu bagaimana memilih kata-kata dan menggunakannya dengan tepat. Hal yang sama jika diucapkan dengan kalimat yang berbeda akan menimbulkan reaksi yang berbeda.

Kalau khotbah yang mendalam itu hanya kesannya saja mendalam, atau tidak relevan, atau membosankan penyampaiannya, tidak heran jemaat lebih suka yang ringan, praktis, dan lucu. Karena paling tidak dia masih mengerti apa yang dibicarakan. Paling tidak masih ada aplikasi praktis yang dia langsung bisa tangkap. Atau paling tidak dia bisa tertawa dan tidak mengantuk.

Maka menyebarlah meme itu... dan wabah pun berlanjut.

(Tulisan ini pun akan berlanjut)

Wednesday, June 29, 2016

What is a sermon?

Setelah sekian lama jadi orang Kristen dan pengkhotbah, saya semakin tergelitik untuk bertanya: What is a sermon? Apa itu khotbah?

Sebetulnya saya kira semua orang bisa menerima definisi-super-sederhana bahwa “khotbah” adalah “penguraian Firman Tuhan”. Itu sebabnya “khotbah” kadang disebut langsung “Firman Tuhan” (ngeri juga sih…). Masalahnya justru karena definisi-super-sederhana itu terlalu gampang diterima, akibatnya seringkali kita tidak berpikir lagi betulkah yang saya dengar (atau saya sampaikan) ini adalah “khotbah”? Pertanyaan ini penting untuk saya pribadi karena jangan sampai ketika berdiri di mimbar, saya pun tidak berkhotbah!

Paulus menjelaskan pelayanan pemberitaan Injil yang dia lakukan sebagai berikut:

Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. (2 Korintus 4:7)

“Harta” yang dimaksud Paulus adalah berita Injil. Berita itu adalah harta yang sangat berharga. Tetapi harta itu diberitakan, disampaikan, dinyatakan, lewat “bungkus” yang sangat tidak bernilai – dirinya sendiri. Kontras – “harta” di dalam “bejana tanah liat”. Yang mulia, berkuasa, dan bercahaya, adalah “harta”nya dan bukan “bejana tanah liat”nya.

Demikian pula sebuah khotbah hari ini. Khotbah bukanlah sebuah cerita tentang si “bejana tanah liat” yang membuat dia terlihat hebat. Khotbah juga bukan hanya nasehat moral yang bisa dibaca di banyak buku self-help. Khotbah bukanlah kata-kata motivasi yang dibungkus dengan istilah-istilah rohani, seperti yang banyak diberikan para motivator. Khotbah bukan berisi berbagai cerita ilustrasi atau pemutaran video dari youtube yang menggerakkan. Khotbah seperti membuka “harta” itu, menunjukkannya, membuat cahayanya terlihat oleh pendengar, mempesona mereka, dan membiarkan Roh Kudus bekerja mengubah hidup mereka.

Di dalam usaha menguraikan Firman Tuhan, tentu seorang pengkhotbah boleh menggunakan ilustrasi, memutar video dari youtube, humor, mengutip kata-kata bijak, atau apapun, selama semua itu relevan dan memang menolong pendengar mengerti berita Firman Tuhan. Tetapi, pertanyaannya tetaplah sama, betulkah fokusnya adalah menguraikan Firman Tuhan?

The NIV Application Commentary Series (NIVAC), sebuah seri tafsiran Alkitab yang tidak bersifat teknis, sedikit banyak mirip seperti khotbah. Untuk setiap bagian Alkitab, NIVAC membagi menjadi tiga bagian: “Original Meaning” – arti bagian itu di dalam konteks aslinya; “Bridging Contexts” – menjembatani konteks asli dengan konteks zaman sekarang karena berita Alkitab relevan bagi setiap zaman; dan terakhir “Contemporary Significance” – memberikan contoh bagaimana bagian itu berbicara dan diterapkan di zaman ini. Saya kira tugas pengkhotbah, kurang lebih, seperti itu. Ada berbagai bentuk khotbah: ekspositori, narasi, tematik. Bagi saya, bentuk apapun, sah untuk dipakai, asalkan tugasnya jangan dilupakan. 

Beberapa pengkhotbah, uniknya, selalu bicara hal yang mirip sekalipun ayat Alkitab yang diuraikan berbeda. Ayat apapun, kira-kira ujungnya ya itu. Walaupun kalau dinilai isi khotbahnya "tidak salah", tetapi dia salah menguraikan bagian Alkitab itu.

Beberapa pengkhotbah memang memiliki karunia fasih lidah. Tetapi, sama seperti semua karunia, itu bisa digunakan menjadi kebaikan atau keburukan. Dia bisa menggunakannya untuk semakin baik menguraikan Firman Tuhan atau semakin mudah bicara ngalor ngidul yang ditempel ayat Alkitab.

Beberapa pengkhotbah hanya “menggunakan” ayat Alkitab. Apa yang dia sampaikan tidak jelas hubungannya dengan ayat yang dibacakan. Ada hubungannya sih kalau dihubung-hubungkan.. tapi kejauhan… atau tidak sesuai dengan maksud asli si penulis bagian itu.

Beberapa pengkhotbah hanya tertarik menguraikan pelajaran moral dari Alkitab. Padahal, walaupun tidak salah dan pelajaran moral yang diambil adalah benar, seringkali penulis Alkitab menuliskan bagian itu dengan maksud yang lebih besar.

Beberapa pengkhotbah menjadikan waktu khotbah sebagai seminar tentang manajemen, psikologi, atau bahkan kesehatan (seriously!). Tentu, selalu dikait-kaitkan juga dengan ayat Alkitab.

Maka saya ingin mengajak kita menilai sebuah khotbah dengan lebih objektif. Jangan hanya karena khotbahnya menarik, lucu, tidak bikin ngantuk, atau inspiratif, lalu kita bilang bagus. Jangan juga hanya karena khotbahnya “kena” lalu kita bilang bagus, karena “kena” itu mungkin karena pas dengan pergumulan kita saat itu. Jangan juga menilai bagus sekedar karena materinya bagus, dalam, atau apapun istilahnya.

Menilai dengan objektif adalah bertanya apakah khotbah ini menolong saya mengerti Firman Tuhan dengan lebih baik dan menolong saya memahami beritanya bagi hidup saya? Kalau kita sudah cukup banyak belajar, kita bisa bertanya lebih jauh, apakah khotbah itu setia menjelaskan bagian Alkitab itu atau sebetulnya sudah lari kemana-mana? Kadang ada pengkhotbah yang bisa berkhotbah beberapa kali hanya dari satu ayat. Bagi saya jauh lebih sering sebetulnya itu bukan “dalam” tapi “lari kemana-mana”. Khotbah memang bisa bersifat tematik, jadi tidak fokus menjelaskan satu bagian Alkitab saja, tetapi tetap tidak boleh ayat Alkitab dicomot keluar dari konteksnya.

Bagi rekan-rekan pengkhotbah, saya ingin mengajak kita belajar terus dan selalu bertanya sebelum meyampaikan khotbah: Apakah khotbah saya menguraikan Alkitab (bagian tertentu ataupun tema tertentu)? Apakah khotbah saya menolong jemaat berhadapan langsung dengan Firman Tuhan – bukan dengan kebijakan dan kepintaran saya? Apakah khotbah saya menolong jemaat memahami beritanya bagi hidup mereka? Apakah khotbah saya setia terhadap Alkitab – bukan hanya pelajaran moral dan bukan lari kemana-mana? Pertanyaan-pertanyaan itu juga berlaku untuk saya pribadi.