Saturday, April 29, 2017

Kembali ke Jakarta

We’re officially back in Jakarta.

Banyak yang bertanya apa itu berarti studi saya sudah selesai? Beluuuummmm…!! Studi saya belum selesai dan selama dua bulan ke depan saya masih akan sering pergi ke Singapore. Bahkan sekarang pun ada di Singapore :-) Tetapi sekarang saya “pergi” dan bukan “pulang” ke Singapore. Maka satu bab lagi dalam kehidupan sudah berlalu.

Waktu pindah ke Singapore tahun 2009, saya tidak pernah membayangkan akan tinggal di Singapore sampai hampir delapan tahun. Singapore sudah menjadi negara kedua terlama yang pernah kami tinggali – setelah Indonesia tentunya. Maka pasti ada banyak kenangan.

Sejak awal April saya dan istri sok sibuk farewell. Hampir setiap hari ada farewell lunch/dinner (yang paling cetar adalah hari Minggu setelah kebaktian Paskah). Bagi kami, setiap farewell yang kami lalui adalah tanda kasih dan kesempatan bagi kami untuk mengingat apa saja yang sudah kami alami bersama. Terlalu banyak.

Selama delapan tahun di Singapore, ada dua hal yang mengambil porsi terbesar dari hidup saya: kehidupan studi akademis di Trinity Theological College dan kehidupan keluarga iman di GKY Singapore. Yang pertama banyak menimbulkan kenangan yang kurang enak – (1) lelah, (2) bosan, (3) stress, ulang lagi dari (1). Tapi yang kedua banyak menimbulkan kenangan manis. Ah.. sudahlah jangan diteruskan yang ini, bikin mellow.

Tetapi, bukan hanya kenangan yang saya dapatkan di Singapore. Saya belajar banyak – sangat banyak, baik secara akademis, pelayanan, relasi, maupun kehidupan. Bertambahnya usia delapan tahun dan berkurangnya rambut memberi kesempatan saya bertumbuh secara emosi. Secara rohani, saya juga makin menyadari kelemahan, kegagalan, kebodohan, dan kelambanan saya, dan di atas semuanya, kesabaran Tuhan.

Sekarang saatnya bersyukur. Kami bersyukur untuk teman-teman dan anak-anak rohani yang kami dapatkan selama di Singapore. They are God’s good gift for us. Kami bersyukur untuk setiap pelayanan yang boleh kami lakukan di Singapore. Kami melayani tapi sebenarnya kami menerima jauh lebih banyak berkat melaluinya. Kami juga bersyukur untuk kesempatan saya studi di Singapore – yang hampir-tapi-belum selesai. Tuhan juga sudah mencukupkan segala keperluan selama di Singapore. Could never be grateful enough.

Sekarang saatnya menatap ke depan. Saya bergabung dengan GKY Green Ville tahun 2004, lima tahun melayani di sana dan delapan tahun meninggalkannya. Maka waktu sekarang kembali kesana, walaupun banyak hal dan orang yang familiar, saya dan istri perlu penyesuaian lagi. Delapan tahun sama sekali tidak sebentar di dunia yang terus berubah ini. Banyak hal sudah berubah di gereja. Cara pelayanan pun harus berubah. Beberapa jemaat yang kami kenal sudah meninggal dunia. Beberapa remaja yang dulu kami layani sudah menikah dan punya anak. Bahkan kami juga perlu penyesuaian lagi untuk tinggal di Jakarta. Tetapi, hati kami penuh kerinduan untuk mulai melakukan sesuatu.

Saya ingat pada waktu kami akan berangkat ke Singapore, ada seorang jemaat yang bertanya apakah saya akan kembali ke Jakarta. Dengan nada setengah ragu dan setengah yakin dia berkata bahwa saya mungkin tidak akan mau kembali setelah merasakan tinggal di Singapore. Saya menjawab dia: “Saya tidak tahu. Tetapi, yang pasti, saya tidak akan memilih sekedar mana yang lebih nyaman untuk saya.” Selama di Singapore, berkali-kali saya juga ditanya “lebih enak mana tinggal di Singapore atau Jakarta?” Saya selalu menjawab “sama aja, masing-masing ada enaknya.” Saya tidak berbohong. Masing-masing memang ada enaknya. Saya juga tidak berbohong kepada jemaat itu bahwa saya betul tidak memilih sekedar mana yang lebih nyaman untuk saya.

Saya pasti akan kangen Singapore dengan segala kelebihannya – praktis, cepat, aman, modern, bersih. Tetapi, saya melihat bahwa saya bisa lebih berguna untuk Kerajaan Tuhan jika saya melayani di Indonesia. So, Indonesia, here I am.

Tantangan pelayanan dan kehidupan di depan ditambah dengan kesadaran akan kelemahan kami membuat kami gentar. Kami lemah, sungguh! Kalau Tuhan tidak menguatkan, memperlengkapi dengan kuasa, berbelas kasihan, dan terus sabaaaarrr…. tak mungkin kami bisa melakukan apapun. Kami juga tidak bisa melihat jauh ke depan dan tidak tahu persis apa yang akan terjadi nanti, tapi kami memohon supaya Tuhan memimpin. So have mercy on us, o God! And be with us!

Ini sebagian foto farewell yang sempat terkumpul. Sorry nggak sempet edit, apalagi yang dari HP. Sayangnya kadang kami sibuk makan dan lupa foto! Juga nggak semua foto ada di kamera saya. Once again, thank you and thanks be to God!



















Saturday, March 11, 2017

"Pelayanan" yang Kurang Pas Disebut Pelayanan

Kalau kita bertanya ke beberapa orang Kristen “apa sih pelayanan?” , saya yakin kita akan mendapat jawaban yang beragam.

Jawaban yang paling umum adalah “sesuatu yang dilakukan buat Tuhan.” Kalau kita gali jawaban itu lebih jauh, kita akan menemukan bahwa seringkali yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dalam nuansa Kristen dan tidak dibayar (bukan berarti ini benar lho..). Ini artinya super luas!

Tetapi, kadang saya bertanya betulkah semua yang disebut “pelayanan” itu benar-benar pelayanan?

Kita tahu bahwa pelayanan bisa dikritisi dari berbagai macam sisi. Kita bisa melihat motivasinya. Kita bisa melihat caranya. Apakah motivasi dan caranya memuliakan Tuhan? Tetapi, satu sisi dari pelayanan yang jarang kita perhatikan adalah efektivitasnya. Apakah betul yang dilakukan menghasilkan sesuatu yang baik untuk kerajaan Tuhan?

Saya berikan beberapa contoh.

Contoh 1:
Sebuah gereja membentuk suatu tim yang bertanggung jawab untuk mengawasi pelayanan di kota lain. Tim itu menerima laporan dari mereka yang melayani di kota itu, lalu memberi masukan, kritikan, bahkan mengambil keputusan. Tetapi, mereka tidak sepenuhnya mengerti pelayanan di kota itu. Mereka juga bukan orang yang memiliki konsep teologis dan strategis yang kuat untuk itu. Seluruh anggota tim merasa sedang "melayani". Tetapi, bagi orang-orang yang berada di garis depan pelayanan di kota itu, apa yang dilakukan tim itu sama sekali tidak menolong malah sebaliknya menghambat. Maka betulkah anggota tim itu sedang mengerjakan pelayanan?

Contoh 2:
Seorang ibu yang suaranya tidak enak didengar ingin "melayani" dengan menyanyi solo di dalam kebaktian. Orang-orang berkata “mau pelayanan kok dilarang?” Tetapi, kalau kebaktian adalah waktu dimana gereja mengajak semua yang hadir menyembah Tuhan dengan lebih baik, apakah dengan menyanyi solo dia membuat jemaat menyembah Tuhan dengan lebih sungguh? Maka betulkah dia sedang mengerjakan pelayanan?

Contoh 3:
Sebuah kelompok musik tanjidor ingin "melayani" dengan mengiringi pujian di dalam kebaktian. Tetapi ketika mereka mengiringi pujian di dalam kebaktian, jemaat sulit untuk menyanyi dengan baik. Jemaat sulit untuk berkonsentrasi menyembah Tuhan dengan diiringi orkestra Betawi itu. Tetapi, seluruh anggota kelompok musik tanjidor itu merasa mereka melayani Tuhan dengan talenta mereka. Betulkah mereka sedang mengerjakan pelayanan?

Saya bisa berikan banyak contoh lain. Tetapi saya kira contoh-contoh di atas cukup menjelaskan maksud saya.

Bisakah kegiatan-kegiatan di atas disebut pelayanan? Karena saya tidak ingin menghakimi, anggaplah kegiatan-kegiatan di atas sebagai "pelayanan" yang kurang pas disebut pelayanan.

Di mana sebetulnya kesalahan “pelayanan” dalam contoh-contoh yang saya sebutkan di atas? Pada contoh 1, kesalahannya mungkin adalah pengaturan struktur organisasi. Pada contoh 2, kesalahannya adalah talenta yang tidak cocok. Pada contoh 3, kesalahannya adalah tidak sesuai dengan kebutuhan.

Tetapi, kesamaannya adalah apa yang mereka lakukan tidak menghasilkan sesuatu yang baik untuk kerajaan Tuhan. Mereka mungkin tulus, betul-betul mengerjakannya untuk Tuhan. Mereka mungkin juga memberi yang terbaik yang mereka bisa. Tetapi, apa yang mereka lakukan tidak efektif.

Saya tidak bermaksud mengatakan pelayanan selalu harus menghasilkan sesuatu yang jelas, kelihatan, dan terukur. Tidak. Banyak hal yang kita lakukan dalam Kerajaan Tuhan sifatnya menanam dan tidak langsung terlihat hasilnya. Maka kalau kita menanam dan tidak melihat hasilnya sampai puluhan tahun sekalipun, tidak apa! (Asalkan motivasi dan caranya benar, benihnya benar, dan kita yakin Tuhan mau kita lakukan itu). Tetapi pertanyaannya betulkah kita menanam? Jangan-jangan yang kita lakukan justru sedang menghambat atau, lebih parah lagi, merusak. Pelayanan tidak harus efisien (tidak memboroskan waktu, usaha, dan uang) tetapi harus efektif (mencapai hasil yang diinginkan - sekalipun lama sekali)!

Maka jangan asalkan tidak dibayar dan dalam nuansa Kristen, lalu berkata "saya ini kan pelayanan". Coba tanyakan kepada diri sendiri: “Betulkah yang saya lakukan ini menghasilkan kebaikan bagi Kerajaan Tuhan? Dengan cara bagaimana?”

Pertanyaan lebih jauh adalah: “Apakah ini adalah yang terbaik yang bisa saya lakukan untuk Kerajaan Tuhan? Atau saya bisa melakukan yang lain, yang lebih efektif, yang lebih berguna untuk Kerajaan Tuhan, yang tidak saya lakukan karena ngotot dengan yang ini?”

NB: Saya tahu tulisan ini menyederhanakan banyak hal. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Saya hanya berharap tulisan ini mengajak kita lebih kritis dalam mengerjakan pelayanan.

Wednesday, March 08, 2017

My Dissertation Writing - 6

Saya baru menyerahkan Bab 5. Seperti biasa, mundur dari rencana awal. *sigh* Recananya paling lambat di akhir Januari tapi akhirnya molor sampai awal Maret. *sigh*

Saya masih perlu menulis Bab 6, memperbaiki Bab 1 (Introduksi), dan menulis kesimpulan. Kemudian merevisi lagi semuanya sesuai permintaan pembimbing nanti.

TTC memberi standard 90.000 kata untuk disertasi (artinya bisa kurang sedikit tapi tidak boleh lebih). Untuk Bab 1 – 5, saya sudah menulis hampir 80.000 kata. Maka untuk Bab 6, saya hanya boleh menulis maksimal 8.000 kata supaya masih ada ruang jika nanti perlu tambahan di sana sini. Mudah-mudahan berarti bisa cepat.

Saya kepengen (pake banget) bisa ngomong “it is finished”. Tapi belum bisa. It’s ok, karena nanti setelah selesai mungkin saya akan merindukan masa-masa ini. Dilematis.

Waktu untuk pulang ke Jakarta juga semakin mendekat. Status visa saya di Singapore sudah berubah dari “student” menjadi “social” a.k.a. “turis”. Setelah sekian lama selalu lewat autogate di imigrasi Singapore, sekarang harus kembali antri di jalur biasa :-)

Kapan selesai semuanya? Saya tidak tahu. Kapan sidang disertasi? Saya juga tidak tahu. Yang saya tahu adalah sebelum pulang ke Jakarta saya harus berusaha sebisanya menyelesaikan Bab 6. Setelah itu, saya akan menyelesaikan penulisan disertasi dengan cara bolak balik Jakarta-Singapore. Banyak yang meragukan apa mungkin disertasi bisa selesai dikerjakan dengan cara seperti itu. Saya yakin bisa. Tapi tidak tahu berapa lama hehe..

Selagi menulis post ini, saya menerima email dari sekolah yang mengingatkan bahwa paling lambat saya harus selesai tanggal 30 Juni. Kalau sampai tidak.. berarti bayar uang sekolah lagi hehe.. (yang ini tersirat bukan tersurat). Ok, noted.


Wednesday, February 08, 2017

Pilkada Jakarta 2017 - Sebuah Catatan

Semua yang saya tulis disini saya kira sudah pernah ditulis oleh orang lain dengan lebih baik dan lebih lengkap. Tidak ada yang baru. Saya hanya ingin menuliskan catatan apa yang saya yakini di dalam Pilkada Jakarta kali ini.

Di dalam setiap pemilihan pemimpin, apapun dan dimanapun itu, tidak pernah ada calon yang sempurna. Itu pasti. Kadang calonnya semuanya buruk, maka pilihannya adalah yang terbaik di antara yang buruk (sedih). Kadang mungkin, walaupun tidak sempurna, calonnya semuanya baik sampai sulit sekali memilih yang mana (ruaarrr biasa.. kapan ya itu?). Tapi Pilkada Jakarta kali ini berbeda.

Saya mencoba dengan objektif (walaupun tidak mungkin bisa 100%) untuk menilai pasangan-pasangan calon yang ada.

Pertama, dari konsep pembangunan. Saya tidak menemukan ada pasangan calon penantang yang mempunyai banyak ide yang konkrit dan bagus untuk membangun Jakarta. Perhatikan beberapa istilah itu: “Bagus” artinya ya bagus; “Konkrit” artinya tidak mengawang tapi pasti bisa dilaksanakan dan jelas tahapannya; “Banyak” artinya ya banyak. Ada pasangan calon yang mempunyai ide yang “bagus” tapi kurang “konkrit” dan sama sekali tidak “banyak.” Ada yang sama sekali tidak mempunyai ide yang “bagus.”

Kedua, dari konsep ke-Bhinneka-an. Saya melihat sebetulnya mungkin (cuma mungkin lho ya) kedua pasangan calon penantang tidak punya cita-cita menghancurkan kemajemukan Indonesia atau membiarkan NKRI dijadikan negara berbasis agama. Rasanya mereka tidak ingin sampai ke situ. Tetapi, saya melihat ketidakpedulian ketika kampanye mereka, demi meraih suara, menghancurkan “tenun kebangsaan” Indonesia (saya pinjam istilah yang terkenal ini hehe..). Saya juga melihat kenaifan (atau kemunafikan) mereka dengan mengabaikan kampanye hitam dan berkembang suburnya radikalisme di tengah “pendukung” mereka. Maka saya melihat sifat oportunis negatif (bukan positif) yang bisa menjadi sangat mengerikan kalau mereka memimpin kota Jakarta.

Ketiga, dari keberpihakan pada rakyat. Ini subjektif walaupun masih bisa diukur secara objektif.

Saya tidak tahan mendengar konsep mendayu-dayu dari paslon nomor 1 yang merayu-rayu rakyat dengan menggambarkan petahana sebagai pemimpin yang tidak memikirkan kepentingan rakyat dengan menggusur. Berapa kali pun dijelaskan bahwa pemindahan (bukan penggusuran) tidak akan dilakukan sebelum rusun tersedia, berapa kali pun dijelaskan bahwa fasilitas kesehatan, pendidikan, ekonomi, semua sudah diusahakan, teteeuuppp… ngomongannya sama “apakah tidak memikirkan mereka?”Apakah membiarkan mereka tinggal di tengah tepi sungai dan membiarkan Jakarta banjir itu lebih berpihak pada rakyat? Tidak pernah dijawab.

Saya juga tidak tahan mendengar jargon-jargon paslon nomor 3 yang mengawang. Saya sebutkan satu saja. Di dalam debat waktu itu, kalau tidak salah ketika bicara reformasi birokrasi, paslon nomor 2 mengangkat isu “integritas” yang tandanya adalah kejujuran, lalu dibalas oleh paslon nomor 3: “Integritas bukanlah sekedar kejujuran. Integritas adalah keberpihakan pada nilai.” Silakan cari kamus atau buku yang membenarkan definisi itu. Super mengawang. Lalu mereka berkata “yang terpenting adalah budaya kerja yang baik… pemimpin harus merangkul, bukan memukul.” Selain mengawang lagi, di tengah kondisi banyaknya birokrat yang astaganaga mentalnya, bisa dibayangkan siapa yang akan dirugikan dengan konsep seperti itu.

Tapi ok lah, saya mengerti karena ingin menang maka perlu senjata retorika. Tetapi, saya ingin mendengar kalau begitu konsep apa yang ditawarkan yang berpihak pada rakyat? Lebih lagi, sebetulnya saya ingin melihat hati yang mengasihi rakyat. Jujur, saya tidak bisa melihat itu dari paslon nomor 1 dan nomor 3. Saya yang salah? Mungkin, karena saya subjektif. Tapi, secara objektif?

Saya tidak melihat Pilkada Jakarta kali ini sebagai “memilih yang terbaik dari yang buruk” atau “memilih yang terbaik dari yang baik.” Karena saya melihat ada satu (dan hanya satu) paslon yang memiliki konsep yang “baik, konkrit dan menyeluruh” untuk pembangunan Jakarta. Saya melihat ada satu (dan hanya satu) paslon yang tidak bermain dengan konsep ke-Bhinneka-an NKRI. Saya juga melihat keberpihakan pada rakyat paling nyata pada paslon itu. Betul mereka tidak sempurna tapi mereka terbaik dan sayangnya tanpa saingan. Maka saya akan memilih mereka - Nomor 2.

Saya tidak pro Pak Ahok. Ini bukan soal orangnya apalagi agama dan rasnya. Tidak ada hubungan sama sekali dengan semua itu. Ini soal rakyat. Ini soal keadilan sosial. Ini soal Jakarta dan Indonesia.

Nama sudah diperiksa dan terdaftar. Tiket ke Jakarta sudah dibeli. Kami akan pulang menyumbang 2 suara untuk rakyat.

#padamunegerikamiberbakti

Saturday, February 04, 2017

Snapshot: Wish


If you abide in Me, and My words abide in you, ask for whatever you wish, and it will be done for you. (John 15:7).

Take note, though, it will only be so IF "you abide in the Lord and His words abide in you."

Because, then, what you wish would be according to His will and pleasing to Him. It will surely be done for you.

Friday, February 03, 2017

Lakukanlah Kepadaku Apapun Juga

Saya menaruh buku The Imitation of Christ (Thomas A. Kempis) di atas meja belajar saya. Kadang saya mengambilnya, membaca satu bagian singkat, merenung sebentar, dan disegarkan atau ditantang olehnya. Hari ini saya membaca sebuah bagian berupa doa dari seorang murid Kristus:

Lord, what You say is true. Your care for me is greater than all the care I can take of myself. For he who does not cast all his care upon You stands very unsafely. If only my will remain right and firm towards You, Lord, do with me whatever pleases You. For whatever You shall do with me can only be good. 

If You wish me to be in darkness, I shall bless You. And if You wish me to be in light, again I shall bless You. If You stoop down to comfort me, I shall bless You, and if You wish me to be afflicted, I shall bless You forever.

Saya terjemahkan bebas:

Tuhan, perkataanMu benar adanya. PemeliharaanMu bagiku melebihi apapun yang bisa kulakukan untuk diriku sendiri. Karena barangsiapa yang tidak meletakkan segala kekuatirannya padaMu berdiri dengan sangat tidak aman. Kalau saja kehendakku tetap benar dan teguh terarah kepadaMu, Tuhan, lakukanlah kepadaku apapun yang menyukakanMu. Karena apapun yang akan Kau lakukan kepadaku hanyalah kebaikan semata. 

Jika Engkau menginginkanku berada dalam kegelapan, aku akan memujiMu. Dan jika Engkau menginginkanku untuk berada dalam terang, juga aku akan memujiMu. Jika Engkau membungkuk untuk menghiburku, aku akan memujiMu, dan jika Engkau menginginkanku menderita kemalangan, aku akan memujiMu selamanya. 

Saya membaca doa ini beberapa kali. Ada dua hal yang kemudian terpikir oleh saya: Pertama, saya tahu apa yang dia tuliskan di dalam bentuk doa itu sangatlah tepat. Itulah doa seorang Kristen yang mencintai Tuhannya - doa seorang murid Kristus. Tetapi, yang kedua, saya ngeri untuk mengucapkannya dengan sungguh.

Sangat jarang sebetulnya kita berdoa kepada Tuhan dengan sikap "lakukanlah kepadaku apapun juga." Hampir tidak pernah kita berdoa "Tuhan berikanlah kepadaku apapun juga, kegelapan, terang, penghiburan, penderitaan... apapun juga... dan aku tetap akan memujiMu!" Wow...

Kalau doa ini menyebutkan dua sisi, A dan B, senang dan susah, sehat dan sakit, kaya dan miskin, maka kita selalu minta yang A. Lebih celaka lagi kalau sikap kita: "Berikan aku yang A, karena itu sudah seharusnya. Berikan aku yang B, maka aku marah."

Kalau kita perhatikan, dia berani berdoa seperti di paragraf kedua it karena ada paragraf pertama. Dia berani berdoa minta "apapun juga" karena dia percaya kepada Tuhan. Dia percaya akan kasih dan pemeliharaan Tuhan. Dia percaya Tuhan mampu dan mau memelihara dia bahkan lebih daripada dirinya sendiri. Apapun yang baik yang dia inginkan bagi dirinya, Tuhan lebih ingin! Itu sebabnya dia percaya apapun yang dilakukan Tuhan kepadanya adalah kebaikan semata. Maka "Bring it on, Lord! Lakukanlah kepadaku apapun juga! Aku akan memujiMu!"

Saya jadi berpikir betapa bedanya hidup rohani kita kalau kita sering berdoa seperti ini.

Betapa kita, termasuk saya, perlu terus belajar berdoa. Karena bagaimana kita berdoa - berbincang dengan Tuhan, akan menentukan kerohanian kita.

Monday, December 26, 2016

Belum Baca Buku!?

Selama tahun ini waktu dan pikiran saya dipenuhi oleh penulisan disertasi. Maka, tahun ini, sangat sedikit jumlah artikel yang saya tulis di blog ini. Sangat sedikit juga buku yang saya baca di luar untuk keperluan penulisan disertasi. Paling tidak saya berusaha :-)

Di bawah ini adalah daftar buku yang berhasil saya selesaikan selama tahun 2016. Ini bukan lagi bangga tapi lagi malu karena sebetulnya ini sedikiiiittt sekali...


Selama sekitar 7 bulan ke depan sepertinya saya masih akan disibukkan dengan disertasi. Setelah itu barulah secara bertahap saya bisa lebih banyak membaca buku dengan topik yang lebih luas. Dengan kondisi seperti itu, saya berencana ingin membaca 26 buku di tahun 2017. Muluk? Sebetulnya tidak juga.

Banyak orang merasa kesulitan untuk membaca buku. Sebetulnya yang dibutuhkan adalah niat dan komitmen (Catatan: niat aja nggak cukup!). Jika setiap hari kita membaca dua lembar saja (4 halaman) dan konsisten melakukannya maka dalam satu bulan kita sudah membaca 120 halaman. Banyak buku yang tebalnya berkisar antara 150-300 halaman. Artinya, jika kita konsisten dua lembar setiap hari, setiap tahun kita bisa membaca sekitar 6-7 buku sampai habis. Bayangkan! Dua lembar saja! Kalau setiap hari kita membaca tiga lembar (6 halaman) maka setiap tahun mungkin 9-10 buku!

Saya ingin menambahkan tantangan ini. Tentukan buku yang ingin dibaca untuk tahun 2017. Kalau anda tipe yang tidak pernah membaca buku dengan tekun, maka tidak usah muluk-muluk, tentukan enam saja dulu! Kalau ternyata nanti anda bisa lebih cepat, tambahkan lagi daftarnya. Kalau anda selama ini sudah lumayan terbiasa membaca buku, coba tantang diri sendiri untuk lebih lagi. Setelah penulisan disertasi selesai, saya sendiri berencana membaca minimal 40 buku setiap tahunnya.

Kalau anda bingung harus mulai dari mana. Di bawah ini ada beberapa tautan ke blog Tim Challies yang mungkin bisa membantu:

The 2017 Christian Reading Challenge. Tujuan tantangan ini adalah supaya kita membaca buku dengan topik yang lebih luas.

The Collected Best Christian Books of 2016. Banyak situs yang membuat daftar “Best Books” selama tahun 2016. Tim Challies mengumpulkan daftar-daftar itu di satu laman di blognya. Semua daftar itu tentu ada unsur subyektifitasnya. Maka silakan dilihat untuk memberi ide buku apa yang ingin dibaca.

Book Recommendations. Tim Challies sendiri membuat banyak sekali Book Reviews dan dia memberikan rekomendasi buku-buku yang menurut dia terbaik untuk topik tertentu. Saya menyarankan paling tidak baca dulu tinjauan yang dia buat supaya tahu apakah buku itu cocok dengan yang kita inginkan.

Selamat membaca!