Wednesday, June 10, 2020

Seri Renungan Galatia - 6:11-18

11 Lihatlah, bagaimana besarnya huruf-huruf yang kutulis kepadamu dengan tanganku sendiri. 12 Mereka yang secara lahiriah suka menonjolkan diri, merekalah yang berusaha memaksa kamu untuk bersunat, hanya dengan maksud, supaya mereka tidak dianiaya karena salib Kristus. 13 Sebab mereka yang menyunatkan dirinyapun, tidak memelihara hukum Taurat. Tetapi mereka menghendaki, supaya kamu menyunatkan diri, agar mereka dapat bermegah atas keadaanmu yang lahiriah. 14 Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia. 15 Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya. 16 Dan semua orang, yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah. 17 Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus. 18 Kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus menyertai roh kamu, saudara-saudara! Amin.

Bagian penutup sebuah surat sangat penting untuk memberikan kesan mendalam tentang apa yang sudah dituliskan. Rasul Paulus menuliskan bagian ini dengan huruf-huruf yang besar. Sebagian orang menduga bahwa dia melakukan hal itu karena ada masalah penglihatan. Tetapi, jauh lebih mungkin bahwa dia melakukan hal itu untuk menekankan betapa pentingnya apa yang dia tuliskan. 

Ada dua hal yang dia bandingkan: 

Pertama, di ayat 12-13, Rasul Paulus menunjukkan bahwa cara hidup kelompok pengacau di Galatia adalah contoh kehidupan berdasarkan “daging”. Motivasi mereka memaksa jemaat Galatia untuk disunat bukan supaya jemaat Galatia memiliki kehidupan rohani yang baik, melainkan agar mereka bisa menonjolkan diri sebagai orang yang bersunat dan berhasil memaksa orang lain untuk bersunat. Kebanggaan mereka adalah pada hal lahiriah semata. Rasul Paulus lalu menuduh bahwa mereka sesungguhnya hanya berusaha menghindari penganiayaan karena salib Kristus. 

Kedua, di ayat 14-15, Rasul Paulus menunjukkan kontras dengan mereka, yaitu ia hidup sesuai dengan salib Kristus. Bagi rasul Paulus, satu-satunya alasan untuk bermegah adalah salib Kristus. Percaya kepada salib bukan saja berarti percaya bahwa Kristus mati bagi kita, tetapi juga sadar bahwa kita harus menganggap diri kita mati bersama dengan Kristus. Bila kita mati bersama dengan Kristus, cara hidup dunia tidak lagi berkuasa atas hidup kita. Manusia lama kita yang mengikuti cara hidup dunia sudah mati. Kita menjadi “ciptaan baru” (6:15) dan itulah satu-satunya yang berarti. 

Rasul Paulus menutup surat ini dengan ucapan berkat (6:16, 18) serta peringatan bahwa dia memiliki otoritas sebagai rasul yang mende­rita bagi Kristus (6:17). Perhatikan bahwa dia menujukan berkatnya bagi “semua orang, yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini” (6:16). Hidup Kristen dimulai dengan iman kepada Kristus yang membebaskan kita dari perbudakan dosa serta kewajiban mengikuti hukum Taurat. Tetapi, hidup Kristen bukanlah hidup tanpa patokan. Ada standar atau hukum yang baru yang harus kita jalani, yang berbeda dengan hukum Taurat. Hukum yang baru itu adalah hukum Kristus, yaitu mengasihi satu sama lain dan hidup benar di hadapan Allah. Standar yang baru itu adalah standar Roh Kudus, yaitu mengikuti pimpinan-Nya dan membiarkan kuasa-Nya bekerja menghasilkan buah dalam hidup kita. Itulah hidup Kristen. Sudahkah Anda hidup seperti itu? 

Tuesday, June 09, 2020

Seri Renungan Galatia - 6:1-10

1 Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan. 2 Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. 3 Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri. 4 Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain. 5 Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri. 6 Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu. 7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. 8 Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. 9 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. 10 Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Setelah rasul Paulus meyakinkan jemaat Galatia bahwa hidup Kristen mereka diawali dengan iman dan menerima Roh Kudus, dan karena itu harus dilanjutkan dengan mengikuti pimpinan Roh Kudus, mereka mungkin bertanya: “Kalau begitu, apa yang harus kami lakukan?”

Surat Galatia mengindikasikan bahwa ada banyak masalah relasi yang terjadi di tengah jemaat. Dalam bacaan Alkitab hari ini, Rasul Paulus memberi berbagai contoh praktis tentang bagaimana memakai kemerdekaan dalam Kristus, bukan sebagai kesempatan berdosa, tetapi untuk saling melayani dalam kasih (lihat 5:13-14). Sekarang, mereka yang hidup dipimpin oleh Roh harus membawa pemulihan di tengah kehidup­an jemaat. Rasul Paulus menyebutkan tanggung jawab mereka kepada satu sama lain: “Memimpin orang ke jalan yang benar”, “bertolong-tolongan menanggung beban”, “membagi segala yang ada dengan orang yang mengajar”, “berbuat baik kepada semua orang, terutama kawan seiman”. Cara hidup seperti demikian adalah cara hidup yang “memenuhi hukum Kristus” (6:2). 

Kemerdekaan di dalam Kristus bukan berarti bebas untuk berdosa, tetapi bebas untuk mengikuti kehendak Kristus. Selain menyebutkan tanggung jawab mereka kepada satu sama lain, Rasul Paulus juga menyebutkan tanggung jawab mereka kepada Tuhan, yaitu “menjaga diri sendiri”, ”tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri... memikul tanggungannya sendiri”, “jangan sesat ... apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya”. Kepedulian kita kepada satu sama lain harus diimbangi dengan integritas kita berjalan secara pribadi di hadapan Allah.

Kalimat kuncinya adalah: “Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari  dagingnya, tetapi barang­siapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu” (6:8). Di dalam surat Galatia, kalimat ini berarti barangsiapa ber­gantung pada kekuatannya sendiri untuk keselamatan dan membiarkan “daging”—yaitu dirinya yang lemah—menguasai keinginannya, ia akan menuai kebinasaan. Sebaliknya, barangsiapa memulai hidup oleh Roh dan terus menjalani hidup dengan mengikuti pimpinan Roh, ia pasti akan menerima hasilnya pada akhirnya, yaitu hidup yang kekal. Tetapi, kita harus selalu membuat pilihan—menabur dalam daging atau dalam Roh. Keputusan untuk memilih Kristus dan mengikuti pimpinan Roh tidak dibuat satu kali, tetapi setiap hari! 

Saturday, June 06, 2020

Seri Renungan Galatia - 5:16-26

16 Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. 17 Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya bertentangan sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. 18 Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat. 19 Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, 20 penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, 21 kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu seperti yang telah kubuat dahulu bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. 22 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, 23 kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. 24 Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. 25 Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, 26 dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.

Surat Galatia ditujukan kepada orang-orang percaya yang sudah menerima Roh Kudus. Akan tetapi, Rasul Paulus tahu bahwa sangat mudah bagi mereka untuk kembali hidup seperti sebelum percaya yaitu bergantung pada kekuatan sendiri dan hidup seperti tanpa Roh Kudus. 

Bagi Rasul Paulus, “daging” (5:16,17,19,24) adalah keberadaan kita sebagai manusia dengan segala kelemahan dan kecenderungan untuk berdosa. “Daging” memiliki keinginan yang sudah dirusak oleh dosa. Dengan bersandar kepada hukum Taurat, jemaat Galatia sebetulnya sedang bersandar kepada “daging” yaitu kemampuan mereka sendiri. Jika mereka berpikir bahwa melakukan hukum Taurat akan membuat mereka dibenarkan di Kerajaan Allah, Rasul Paulus justru menunjukkan bahwa “daging” yang lemah dan berdosa itu akan menuntun mereka kepada berbagai perbuatan jahat yang tidak diterima di Kerajaan Allah (5:19-21). 

Sebaliknya, Rasul Paulus mengingatkan bahwa mereka sudah menerima Roh Kudus saat percaya kepada Kristus. Maka, “jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh” (5:25). Mereka sudah memulai hidup rohani mereka dengan Roh Kudus, maka seharusnya mereka melanjutkan hidup rohani mereka dengan dipimpin oleh Roh Kudus. Jika mereka memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus, mereka tidak akan menuruti keinginan daging. “Daging” mereka yang lemah akan mengingini yang jahat, tetapi Roh Kudus akan menggantinya dengan keinginan Roh. Dengan demikian, Roh Kudus akan bekerja dan menghasilkan buah Roh di dalam kehidupan mereka (5:22-23). 

Kehadiran Roh Kudus di dalam orang percaya bukanlah sekadar kehadiran kuasa supra natural, walaupun itu benar. Kehadiran Roh Ku­dus juga bukan sekadar memampukan kita untuk hidup sesuai kehendak Allah, walaupun itu juga benar. Tetapi, kehadiran Roh Kudus juga meng­atur cara hidup kita. Kemerdekaan kita di dalam Kristus tidak berarti kebebasan mengikuti keinginan daging. Orang percaya harus “hidup oleh Roh” (5:16; terjemahan lama: “berjalan dengan Roh”), “dipimpin oleh Roh” (5:18, 25) dan karenanya menghasilkan “buah Roh” (5:22-23). Pertanyaannya: Apakah Anda menyerahkan diri Anda dipimpin oleh Roh (dengan taat kepada firman-Nya, mengikuti pimpinan-Nya, dan mengalami buah Roh dihasilkan di dalam hidup Anda)? Atau, apakah Anda masih bergantung kepada “daging” untuk hidup rohani Anda dengan mengandalkan kekuatan sendiri? 

Thursday, June 04, 2020

Seri Renungan Galatia - 5:1-15

1 Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. 2 Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. 3 Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat. 4 Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia. 5 Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan. 6 Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih. 7 Dahulu kamu berlomba dengan baik. Siapakah yang menghalang-halangi kamu, sehingga kamu tidak menuruti kebenaran lagi? 8 Ajakan untuk tidak menurutinya lagi bukan datang dari Dia, yang memanggil kamu. 9 Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan. 10 Dalam Tuhan aku yakin tentang kamu, bahwa kamu tidak mempunyai pendirian lain dari pada pendirian ini. Tetapi barangsiapa yang mengacaukan kamu, ia akan menanggung hukumannya, siapapun juga dia. 11 Dan lagi aku ini, saudara-saudara, jikalau aku masih memberitakan sunat, mengapakah aku masih dianiaya juga? Sebab kalau demikian, salib bukan batu sandungan lagi. 12 Baiklah mereka yang menghasut kamu itu mengebirikan saja dirinya! 13 Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. 14 Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!" 15 Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan. 

Apa salahnya jika kita percaya pada Kristus sambil melakukan hukum Taurat? Pemikiran itu sepintas lalu terlihat tidak salah. Hidup Kristen memang bukan hanya so­al menerima keselamatan, tetapi juga mengerjakan keselamatan (bandingkan dengan Filipi 2:12). Akan tetapi, salah besar bila kita ragu bahwa kasih karunia Kristus cukup bagi kita, sehingga kita perlu melakukan sesu­atu sebagai tambahan. Bagi Rasul Paulus, pilihannya adalah Kristus atau Taurat, kasih karunia atau kekuatan sendiri, tidak ada pilihan tengah. “Jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu.... Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.” (5:2-4). Kelompok pengacau di Galatia membuat jemaat tidak lagi menuruti kebenaran Injil dengan mengajarkan bahwa mereka belum benar-benar menjadi anak-anak Abraham dan pewaris janji Allah jika mereka tidak hidup mengikuti hukum Taurat. Ajaran itu mengacaukan seluruh jemaat Galatia. “Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan” (5:9). 

Menunjukkan kesalahan dan kepalsuan ajaran dari sekelompok orang di dalam gereja tidak pernah menyenangkan. Akan tetapi, hal itu harus dilakukan. Masalah hari ini di dalam gereja tentu bukanlah soal sunat atau hukum Taurat. Masalahnya mungkin fokus kepada Kristus diganti dengan kebutuhan dan perasaan sesama manusia. Atau mungkin pula masalahnya justru adalah kebebasan yang tanpa batas—semua orang berhak melakukan apa pun yang dia suka. Fokus kita haruslah selalu kepada Kristus, yaitu iman kepada Kristus yang menyelamatkan kita, dan bukan yang lain. Bagi kita yang berada di dalam Kristus, Roh Kudus akan mengarahkan kita untuk mengharapkan kebenaran hanya karena iman. Akan tetapi, Rasul Paulus menambahkan bahwa iman yang benar bukanlah iman yang diam, melainkan iman yang nyata lewat kasih (5:6). Semua ajaran yang bertentangan dengan itu harus ditentang. 

Satu-satunya yang penting adalah “iman yang bekerja oleh kasih” (5:6). Jangan terlalu berfokus pada “kasih”, kemudian atas nama “kasih kepada sesama” melawan Tuhan. Jangan pula berfokus pada “iman” yang tidak menghasilkan perbuatan. Keduanya harus ada dengan urutan yang tepat: Mulailah dengan iman dan kasih kepada Kristus, lalu hasilkanlah hidup yang mengasihi sesama! 

Wednesday, June 03, 2020

Seri Renungan Galatia - 4:21-31

21 Katakanlah kepadaku, hai kamu yang mau hidup di bawah hukum Taurat, tidakkah kamu mendengarkan hukum Taurat? 22 Bukankah ada tertulis, bahwa Abraham mempunyai dua anak, seorang dari perempuan yang menjadi hambanya dan seorang dari perempuan yang merdeka? 23 Tetapi anak dari perempuan yang menjadi hambanya itu diperanakkan menurut daging dan anak dari perempuan yang merdeka itu oleh karena janji. 24 Ini adalah suatu kiasan. Sebab kedua perempuan itu adalah dua ketentuan Allah: yang satu berasal dari gunung Sinai dan melahirkan anak-anak perhambaan, itulah Hagar 25 Hagar ialah gunung Sinai di tanah Arab dan ia sama dengan Yerusalem yang sekarang, karena ia hidup dalam perhambaan dengan anak-anaknya. 26 Tetapi Yerusalem sorgawi adalah perempuan yang merdeka, dan ialah ibu kita. 27 Karena ada tertulis: "Bersukacitalah, hai si mandul yang tidak pernah melahirkan! Bergembira dan bersorak-sorailah, hai engkau yang tidak pernah menderita sakit bersalin! Sebab yang ditinggalkan suaminya akan mempunyai lebih banyak anak dari pada yang bersuami." 28 Dan kamu, saudara-saudara, kamu sama seperti Ishak adalah anak-anak janji. 29 Tetapi seperti dahulu, dia, yang diperanakkan menurut daging, menganiaya yang diperanakkan menurut Roh, demikian juga sekarang ini. 30 Tetapi apa kata nas Kitab Suci? "Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba perempuan itu tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anak perempuan merdeka itu." 31 Karena itu, saudara-saudara, kita bukanlah anak-anak hamba perempuan, melainkan anak-anak perempuan merdeka.

Ketika terjadi pertempuran antara dua buah perahu, strategi yang terbaik bukanlah mengalahkan penumpang di perahu lain tetapi menenggelamkan perahunya. Seperti itulah yang dilakukan Rasul Paulus di sini. Karena kelompok pengacau di Galatia berargumen dengan memakai Taurat, ia berkata, “Betulkah hukum Taurat mengajarkan apa yang dikatakan para pengacau itu, atau membenarkan apa yang kuberitakan bahwa hidupmu tidak berada di bawah Taurat? 

Rasul Paulus lalu memakai kiasan dengan membandingkan Sara dan Hagar. Hagar dikaitkan dengan gunung Sinai tempat hukum Taurat diberikan dan perhambaan (4:25), sedangkan Sara dikaitkan dengan Yerusalem sorgawi dan kemerdekaan (4:26) yang menerima anak mela­lui janji (4:27). Rasul Paulus berkata tentang Sara, “ialah ibu kita” (4:26) dan “kamu sama seperti Ishak adalah anak-anak janji” (4:28). Maksud­nya jelas. Ada dua macam “anak Abraham”. Yang satu adalah yang diperanakkan menurut daging (4:29), diikat dengan hukum Taurat, dan sesungguhnya bukanlah anak melainkan hamba. Yang satu lagi adalah “anak Abraham” yang sesungguhnya, yaitu yang diperanakkan menurut Roh (4:29) dan merupakan orang merdeka. Jemaat Galatia menjadi “anak Abraham” menurut janji, sama seperti Ishak yang diperanakkan menurut Roh dan merupakan orang merdeka. Rasul Paulus menegaskan bahwa inilah yang dikatakan oleh Taurat. Maka, bagaimana mungkin mereka—berdasarkan Taurat—justru memilih menjadi anak Hagar? Lalu, apa yang dikatakan Kitab Suci untuk situasi yang dialami jemaat Galatia? Jawabannya adalah, “Usirlah hamba perempuan itu ....” (4:30). Bukan saja mereka harus menolak ajaran kelompok pengacau di Gala­tia, tetapi mereka juga diminta untuk mengusir orang-orang itu.

Rasul Paulus kembali mengingatkan siapakah jemaat Galatia yang sesungguhnya: Mereka adalah “anak-anak perempuan merdeka” (4:31). Maka mereka tidak boleh kembali kepada perhambaan. Sebaliknya, mereka harus belajar hidup sebagai orang merdeka dengan berjalan di dalam Roh. Identitas yang jelas sebagai “anak Abraham”, pewaris janji hidup yang kekal, dan orang merdeka yang mengikuti Roh Kudus, akan menentukan bagaimana mereka hidup.

Apakah identitas Anda yang jelas sebagai anak-anak Allah, orang-orang tebusan Kristus, juga telah mengubah kehidupan Anda? Siapa diri Anda dan bagaimana Anda seharusnya hidup?

Tuesday, June 02, 2020

Seri Renungan Galatia - 4:12-20

12 Aku minta kepadamu, saudara-saudara, jadilah sama seperti aku, sebab akupun telah menjadi sama seperti kamu. Belum pernah kualami sesuatu yang tidak baik dari padamu. 13 Kamu tahu, bahwa aku pertama kali telah memberitakan Injil kepadamu oleh karena aku sakit pada tubuhku. 14 Sungguhpun demikian keadaan tubuhku itu, yang merupakan pencobaan bagi kamu, namun kamu tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang hina dan yang menjijikkan, tetapi kamu telah menyambut aku, sama seperti menyambut seorang malaikat Allah, malahan sama seperti menyambut Kristus Yesus sendiri. 15 Betapa bahagianya kamu pada waktu itu! Dan sekarang, di manakah bahagiamu itu? Karena aku dapat bersaksi tentang kamu, bahwa jika mungkin, kamu telah mencungkil matamu dan memberikannya kepadaku. 16 Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu? 17 Mereka dengan giat berusaha untuk menarik kamu, tetapi tidak dengan tulus hati, karena mereka mau mengucilkan kamu, supaya kamu dengan giat mengikuti mereka. 18 Memang baik kalau orang dengan giat berusaha menarik orang lain dalam perkara-perkara yang baik, asal pada setiap waktu dan bukan hanya bila aku ada di antaramu. 19 Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu. 20 Betapa rinduku untuk berada di antara kamu pada saat ini dan dapat berbicara dengan suara yang lain, karena aku telah habis akal menghadapi kamu.

Menegur kesalahan orang, apalagi supaya teguran itu bisa efektif, adalah hal yang sulit. Kesulitan itu juga dialami oleh Rasul Paulus. Dia tahu bahwa tidak cukup menegur jemaat Galatia dengan menunjukkan kesalahan mereka atau menjelaskan apa yang dia inginkan dari mereka. Maka di dalam bagian ini, Rasul Paulus mengingatkan jemaat Galatia akan hubungannya dengan mereka yang mesra dan betapa dia mengasihi mereka. 

Permohonan Rasul Paulus adalah “jadilah sama seperti aku” (4:12). Dia memanggil jemaat Galatia untuk meniru dia dalam kesetiaan kepa­da berita Injil (2:5, 14). Dia menantang mereka untuk mati oleh hukum Taurat supaya hidup untuk Allah (2:19-20). Dia memohon agar mereka menjaga kemerdekaan mereka dan menikmati semua berkat yang terse­dia bagi mereka karena iman kepada Kristus (3:6-4:7). Permohonan ini didasarkan pada beberapa hal: Pertama, dia mengingatkan bahwa dia telah menjadi sama seperti mereka (4:12). Ketika memberitakan Injil kepada mereka, Rasul Paulus hidup seperti mereka. Dia tidak membuat jarak sama sekali antara dirinya dengan mereka. Dia menunjukkan bah­wa yang terpenting adalah iman kepada Kristus dan bukan hidup seperti orang Yahudi atau seperti orang Yunani. Kedua, dia mengingatkan mereka akan kasih mereka kepadanya (4:12-16). Waktu itu, mereka menyambut dia seperti menyambut Kristus Yesus dan mereka begitu bersukacita karena Injil yang dia beritakan kepada mereka, sehingga mereka rela mengorbankan apa saja untuk dia. Ketiga, dia menunjukkan bahwa kelompok pengacau di Galatia memiliki motivasi yang buruk—kontras dengan dia yang mengasihi mereka. Dia mengasihi mereka bukan saja dulu ketika memberitakan Injil kepada mereka, tetapi juga sekarang ketika mereka mengikuti Injil lain. Ia seperti seorang ibu yang sakit bersalin karena mereka (4:19). 

Ada dua hal yang kita pelajari dari rasul Paulus di sini. Pertama, kasihnya yang luar biasa. Ia sangat menguatirkan jemaat Galatia. Ia tidak tahan memikirkan apa yang akan terjadi bila mereka terus mengikuti Injil yang lain. Rasul Paulus tidak bisa tinggal diam karena dia mengasihi mereka seperti seorang ibu mengasihi anaknya. Apakah kita juga sangat mengasihi orang-orang yang kita layani? Kedua, dia menunjukkan kasih itu dengan tidak malu. Ini sangat penting. Seringkali kita perlu menunjukkan dengan lebih jelas kasih sayang di balik teguran kita, apa lagi bila masalahnya berkaitan dengan Injil. Pikirkanlah bagaimana Anda akan menunjukkan kasih ketika menegur seseorang. 

Sunday, May 31, 2020

Seri Renungan Galatia - 4:1-11

1 Yang dimaksud ialah: selama seorang ahli waris belum akil balig, sedikitpun ia tidak berbeda dengan seorang hamba, sungguhpun ia adalah tuan dari segala sesuatu; 2 tetapi ia berada di bawah perwalian dan pengawasan sampai pada saat yang telah ditentukan oleh bapanya. 3 Demikian pula kita: selama kita belum akil balig, kita takluk juga kepada roh-roh dunia. 4 Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. 5 Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. 6 Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!" 7 Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah. 8 Dahulu, ketika kamu tidak mengenal Allah, kamu memperhambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah. 9 Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya? 10 Kamu dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun. 11 Aku kuatir kalau-kalau susah payahku untuk kamu telah sia-sia.

Ada seorang kaya yang meninggalkan sejumlah besar warisan untuk anaknya. Ia berpesan kepada orang kepercayaannya untuk mendidik anaknya dan menjaga warisan itu sampai anaknya dewasa. Artinya, sebelum anak itu dewasa, ia harus hidup sama seperti hamba yang lain. Waktu pun berlalu dan tibalah saatnya anak itu menerima warisan ayahnya. Tetapi, ternyata dia lebih suka hidup sebagai hamba! Sangat bodoh! Itulah ilustrasi yang dipakai rasul Paulus di sini untuk jemaat Galatia.

Sejujurnya, ilustrasi ini tidak sempurna menjelaskan maksud sesungguhnya. Tetapi, sampai batas tertentu, ilustrasi ini cukup untuk membuat kita mengerti. Dulu orang Yahudi takluk kepada hukum Taurat dan orang Yunani takluk kepada ilah-ilah lain. Ketika waktunya sudah genap, Allah mengutus Kristus untuk menjadikan mereka sebagai anak. Sekarang, mereka sudah menjadi anak. Artinya, mereka sudah me­nerima warisan yang dijanjikan, yaitu hidup kekal! Bagaimana mungkin mereka lebih suka untuk hidup seperti saat belum mengenal Kristus? 

Hukum Taurat diperlukan dulu untuk menjaga mereka. Tetapi ketika Kristus sudah menebus mereka, keinginan untuk kembali berada di bawah hukum Taurat merupakan sebuah kebodohan. Bagi Rasul Paulus, berada di bawah hukum Taurat itu berarti berbalik dan memperhamba­kan diri kepada “roh-roh dunia yang lemah dan miskin” (4:9). Status kita sebagai anak dikonfirmasi oleh Bapa dengan mengutus Roh Kudus ke dalam hati kita. Roh itu yang meyakinkan kita untuk berseru: “ya Abba, ya Bapa!” - sebuah sebutan yang sangat intim dari seorang anak kepada ayahnya. Keyakinan ini bukan karena hasil studi atau keberhasilan moral kita, melainkan merupakan hasil pekerjaan Roh Kudus. “Bagaimana mungkin kamu mau diperhamba lagi?” - Rasul Paulus berseru kepada jemaat Galatia! 

Apakah kita sama berdukanya seperti Rasul Paulus ketika ada yang mengajarkan hidup Kristen sebagai ketaatan kepada “hukum”? Apakah kita terganggu ketika orang Kristen lebih menekankan menjaga tradisi tertentu daripada menjaga relasi dengan Bapa melalui Kristus dengan kuasa Roh Kudus? Apakah kita memperhatikan bagaimana kasih kita kepada Allah atau hanya sekadar memikirkan bagaimana kita hidup? Mungkin kita ingin memperbaiki kelakuan kita. Tetapi yang perlu kita lakukan adalah mulai dengan mengasihi Allah. Hidup yang kudus dan taat kepada Kristus adalah hasil yang pasti dari hidup yang dekat dengan Allah.

Saturday, May 30, 2020

Seri Renungan Galatia - 3:15-29

15 Saudara-saudara, baiklah kupergunakan suatu contoh dari hidup sehari-hari. Suatu wasiat yang telah disahkan, sekalipun ia dari manusia, tidak dapat dibatalkan atau ditambahi oleh seorangpun. 16 Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan "kepada keturunan-keturunannya" seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: "dan kepada keturunanmu", yaitu Kristus. 17 Maksudku ialah: Janji yang sebelumnya telah disahkan Allah, tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian, sehingga janji itu hilang kekuatannya. 18 Sebab, jikalau apa yang ditentukan Allah berasal dari hukum Taurat, ia tidak berasal dari janji; tetapi justru oleh janjilah Allah telah menganugerahkan kasih karunia-Nya kepada Abraham. 19 Kalau demikian, apakah maksudnya hukum Taurat? Ia ditambahkan oleh karena pelanggaran-pelanggaran sampai datang keturunan yang dimaksud oleh janji itu dan ia disampaikan dengan perantaraan malaikat-malaikat ke dalam tangan seorang pengantara. 20 Seorang pengantara bukan hanya mewakili satu orang saja, sedangkan Allah adalah satu. 21 Kalau demikian, bertentangankah hukum Taurat dengan janji-janji Allah? Sekali-kali tidak. Sebab andaikata hukum Taurat diberikan sebagai sesuatu yang dapat menghidupkan, maka memang kebenaran berasal dari hukum Taurat. 22 Tetapi Kitab Suci telah mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya. 23 Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. 24 Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. 25 Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun. 26 Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. 27 Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. 28 Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. 29 Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah. 

Mengapa “iman” dan bukan “hukum Taurat” yang membuat seseorang dibenarkan? Rasul Paulus menggunakan “surat wasiat” sebagai ilustrasi untuk menjelaskan hal ini dari tiga aspek, yaitu penerimanya (3:16), waktu pemberian suratnya (3:17), dan syarat pemberian warisan itu (3:18).

Rasul Paulus menegaskan bahwa perjanjian Allah dengan Abra­ham, yang berdasarkan iman Abraham, ditujukan kepada “keturunan Abraham”—hanya satu orang, yaitu Kristus. Karena janji itu diberikan kepada Kristus, maka hanya mereka yang berada di dalam Kristus-lah yang ikut menjadi penerima janji itu. Perjanjian itu sudah disahkan jauh sebelum hukum Taurat diberikan, maka perjanjian itu tak bisa dibatalkan oleh hukum Taurat.

Pertanyaan selanjutnya adalah, “Kalau begitu, apa gunanya hukum Taurat?” Rasul Paulus menjawab, “Hukum Taurat ditambahkan oleh karena pelanggaran-pelanggaran—sampai datang keturunan yang dimaksud oleh janji itu” (3:19). Dengan kata lain, hukum Taurat menjaga supaya orang-orang tetap berpegang kepada janji itu sampai tiba ahli waris yang sejati. Oleh karena itu, ketika Kristus—Sang Pewaris Janji—sudah datang, hukum Taurat tidak lagi diperlukan, dan sekarang kita bisa ikut memiliki janji itu melalui iman kepada Kristus. Janji itu tidak diberikan karena hukum Taurat. Artinya, tidak ada usaha manusia sama sekali. Allah memberikannya semata-mata karena kasih karunia. Abraham percaya dan Allah memperhitungkannya sebagai kebenaran. Dengan cara yang sama, sekarang Allah memberikan kasih karunia kepada setiap orang yang percaya kepada Kristus. Ketika kita percaya, Allah memperhitungkannya sebagai kebenaran.

Ada orang yang berkata: “Bagaimana mungkin semudah itu masuk sorga: Hanya percaya lalu selesai?” Jawabannya adalah “benar” dan “tidak”. “Benar” karena memang betul semudah itu. Semua usaha manusia tidak akan ada artinya, bahkan seperti kain kotor di hadapan Allah. Allah hanya memperhitungkan iman kita kepada Kristus dan itu cukup untuk membuat kita dibenarkan. Tetapi jawabannya juga “Tidak”. Siapa bilang mudah? Bukankah pewaris janji itu—Kristus Yesus—harus mati di kayu salib supaya kasih karunia itu mengalir kepada semua orang yang percaya kepada-Nya. Yang mati di kayu salib adalah Anak Allah! Kasih karunia itu gratis, tetapi tidak mudah, apalagi murahan.