Monday, August 22, 2016

"Virus of the Mind" Mengenai Khotbah - 2

Menyambung tulisan sebelumnya di sini, ada meme atau virus of the mind lain mengenai khotbah yang juga populer sekaligus berbahaya. Meme itu berbunyi begini: “Apapun yang disampaikan pengkhotbah di mimbar dalam kebaktian, tentu ditambah dengan membacakan Alkitab, adalah ‘Firman Tuhan’.”

Beberapa waktu yang lalu saya sudah pernah menulis “What is a Sermon?” Apa yang saya tulis di sana tidak perlu saya ulangi lagi. Ada satu definisi yang saya pergunakan di sana yang saya yakin kebanyakan kita akan setuju: “Khotbah adalah penguraian Firman Tuhan (Alkitab).” 

Mari sekarang kita melihatnya dengan sedikit lebih luas.

Kebaktian itu selalu di dalam konteks penyembahan dialogis dan komunal. Komunal artinya umat Tuhan berkumpul bersama, menyembah Tuhan di dalam persekutuan – artinya bukan menyembah Tuhan sendiri-sendiri, tapi bersama-sama, sebagai kumpulan orang yang sudah ditebus Tuhan. Dialogis, artinya kebaktian bukanlah satu arah, seakan-akan di dalam kebaktian arahnya hanya dari kita ke Tuhan. Kebaktian itu dua arah karena Allah yang kita sembah adalah Allah yang hidup. Dia mendengar doa kita. Dia memberkati kita. Dan Dia berkata-kata kepada kita, khususnya dan terutama, melalui Firman yang tertulis. Maka kebaktian selalu dari kita (bukan saya) ke Tuhan dan dari Tuhan ke kita – komunal dan dialogis.

Kalau begitu, dimana posisi khotbah dalam skema dialogis ini? Tuhan ke kita! Lalu dimana posisi pengkhotbah? Di satu sisi dia adalah bagian dari jemaat yang menyembah Tuhan dan harus mendengar suara Tuhan. Di sisi yang lain dia dipakai Tuhan untuk menyampaikan suara Tuhan melalui penguraian Firman yang tertulis. 

Jikalau khotbah adalah menguraikan Firman Tuhan (Tuhan ke kita), maka khotbah harus betul-betul menjadi waktu dimana Firman Tuhan dibacakan dan dijelaskan, sedemikian rupa sehingga suara Tuhan itu diperdengarkan. Tugas pengkhotbah adalah memastikan bahwa itulah yang sedang dia lakukan. Lalu apa tugas jemaat? Mereka harus mendengar dengan aktif, berpikir dengan kritis, menguji kebenarannya, dan membuka hati untuk berubah.

Pengkhotbah tidak boleh berpikir bahwa khotbah adalah sekedar cari ayat Alkitab untuk dibacakan, lalu cari bahan pembicaraan yang isinya motivasi, nasihat kehidupan, konsep “menarik” yang dia baca di buku, dan diusahakan supaya lebih menarik dengan bumbu humor, klip video, atau cerita yang menyentuh. Pertanyaannya apakah dia menjelaskan bagian Alkitab yang dibacakan? Apakah dia memperdengarkan suara Tuhan sesuai dengan bagian Alkitab yang dibacakan?

Dan di dalam khotbah, jemaat seharusnya menuntut untuk mendengar, belajar, dan mengerti Firman Tuhan. Jangan sekedar mencari khotbah yang “kena” (walaupun itu penting), karena “kena” itu mungkin karena apa yang dibicarakan pas sesuai dengan pergumulan atau kelemahan kita, walaupun tidak menjelaskan bagian Alkitab yang dibacakan. Jangan sekedar mencari yang menarik dan tidak mengantuk (walaupun itu juga penting). Carilah, ini harus berulang kali diingatkan, yang setia menguraikan Firman Tuhan!

Virus of the mind yang satu ini merusak pertumbuhan gereja. Pengkhotbah berpikir, dengan berdiri di mimbar, bicara, mengkaitkannya dengan Firman Tuhan, apalagi kalau berhasil membuatnya menarik, pokoknya dia sudah menyampaikan “Firman Tuhan.” Jemaat berpikir, pokoknya yang disampaikan pengkhotbah adalah “Firman Tuhan”, maka mereka harus rendah hati dan menerima, apalagi kalau memang ada hal-hal yang “kena”.

Hasilnya? Pengkhotbah tidak merasa perlu berubah dan jemaat tidak bisa berubah. Virus pun mewabah.

Monday, July 25, 2016

"Virus of the Mind" Mengenai Khotbah - 1

Siapa yang tidak tahu meme? Foto/gambar yang dibubuhi kalimat random menjadi sangat populer beberapa tahun belakangan ini. Tetapi, awalnya meme bukanlah itu.

Istilah meme pertama kali saya dengar waktu membaca buku “Virus of the Mind” dari Richard Brodie lebih dari sepuluh tahun lalu (istilah meme sendiri dimunculkan oleh Richard Dawkins). Meme adalah ide atau pemikiran atau pola tingkah laku yang menyebar seperti virus dari orang yang satu ke orang yang lain. Lalu orang yang terjangkit virus of the mind itu, perlahan-lahan tidak lagi mempertanyakannya tetapi menerimanya sebagai kebenaran. Karena penyebarannya yang luar biasa, akhirnya seakan-akan dia adalah kebenaran umum yang semua-orang-juga-tahu.

Saya ingin bicara soal meme yang seperti itu mengenai khotbah. Meme ini populer sekali. Penyebarannya sangat luar biasa di antara orang Kristen di Indonesia. Kalau dia adalah virus, maka artinya sudah mewabah. Meme itu berbunyi: “Jemaat tidak suka khotbah yang dalam tetapi lebih suka yang ringan, praktis, dan lucu.

Mungkin ada yang protes, “Tapi itu betul kok... jemaat memang gitu… swear!” Bahkan banyak orang Kristen akan langsung berkata “Betul, saya nggak tahan dengar khotbah kayak gitu, bosen, nggak relevan.” Maka bukankah artinya confirmed!? Tunggu dulu. Jangan-jangan kita juga sudah terjangkiti virus of the mind yang sama :-)

Betulkah jemaat tidak suka khotbah yang dalam? Saya memang belum pernah melakukan survei formal. Tetapi dari percakapan dengan banyak jemaat dan dari apa yang saya amati sejauh ini, saya kira itu salah. Ada banyak, sangat banyak bahkan, orang Kristen yang suka belajar Firman Tuhan dengan mendalam. Mereka suka untuk mengerti apa yang mereka percayai. Mereka suka menemukan jawaban atas banyak pertanyaan iman mereka. Maka masalahnya bukan di jemaat, tetapi di pengkhotbah.

Sebagian pengkhotbah, yang dulu pernah sekolah teologi, tidak lagi belajar Alkitab dan teologi dengan baik (serius!). Maka ketika berkhotbah tematik atau doktrinal yang kesannya “dalam”, apa yang disampaikan? Sebagian akan mengutip buku sistematik teologi yang dulu pernah dipelajari waktu dia di sekolah teologi. Atau menggunakan kalimat-kalimat jargon yang semua-orang-sudah-sering-dengar. Atau menggunakan bahasa formal yang disisipi istilah-istilah teologis atau filsafat. Misalnya: “Manusia hari ini tidak percaya kepada Allah-yang-berada melalui argumen ontologis Kant, tetapi melalui pengalaman eksistensialis yang otentik.” Wuuuzzz… wajar kalau jemaat merasa kering ketika mendengar khotbah seperti itu.

Demikian pula waktu berkhotbah secara ekspositori. Sebagian pengkhotbah berkhotbah hanya seperti ekspositori, dengan menyebut kata-kata dalam bahasa Ibrani atau Yunani lengkap dengan artinya, seperti studi kata, yang dengan mudah bisa didapat dari berbagai buku atau secara online. Kalau khotbah diumpamakan seperti masakan jadi, maka yang disajikan bukanlah masakan tapi bahan mentah.

Ditambah lagi, khotbah yang kesannya “dalam” seringkali tidak relevan. Artinya pengkhotbah tidak memikirkan pertanyaan yang sangat penting di dalam khotbah: “What is the message?” Khotbah apapun, selalu harus berpikir, “what is the message” buat jemaat. Saya pernah mendengar khotbah, tentang natur kemanusiaan dan keilahian Yesus bahwa Yesus 100% manusia dan 100% Allah, yang sangat kering. Seorang teman bercerita di gerejanya diadakan seri khotbah doktrin Roh Kudus yang juga sangat kering. Dimana masalahnya? Bukan di topiknya. Kita boleh, bahkan kadang harus, berkhotbah doktrinal. Tetapi khotbah itu menjadi tidak relevan jika tidak memikirkan pertanyaan: “What is the message?” Apa berita dari kebenaran itu bagi pendengar hari ini?

Ada orang yang pernah berkata (saya tidak tahu siapa yang pertama kali): “Jesus is the answer! But what is the question?” Adalah tugas pengkhotbah, sebagai orang yang menguraikan Firman Tuhan, untuk memahami“what is the question” – apa yang ditanyakan jemaat, apa yang dihadapi jemaat, apa yang diperlukan jemaat. Karena hanya dengan demikian dia bisa menjawab dengan relevan (dan powerful): “Jesus is the answer!

Adalah tugas pengkhotbah untuk menguraikan Firman Tuhan yang kekal untuk memberi jawaban bagi pergumulan manusia yang terus berubah sepanjang zaman. Di dalam tulisan sebelumnya, saya meminjam format dari The NIV Application Commentary Series (NIVAC), untuk menjelaskan tugas pengkhotbah. Untuk setiap bagian Alkitab, NIVAC membagi menjadi tiga bagian: “Original Meaning” – arti bagian itu di dalam konteks aslinya; “Bridging Contexts” – menjembatani konteks asli dengan konteks zaman sekarang; dan terakhir “Contemporary Significance” – memberikan contoh bagaimana bagian itu berbicara dan diterapkan di zaman ini. Sederhananya: “Original Meaning” tidak berubah tetapi “Bridging Contexts” dan “Contemporary Significance” akan selalu berganti.

Maka, saya ringkaskan, ada tiga masalah disini:

1. Isi khotbah
Masalahnya bukanlah khotbah yang terlalu dalam. Tetapi, justru, seringkali terlalu dangkal. Khotbah seperti itu tidak berasal dari pemikiran dan pergumulan yang mendalam tetapi kutip sana sini dan dibumbui dengan kallimat-kalimat yang terkesan wah.

2. Relevansi khotbah
Banyak jemaat berkata: “Saya nggak perlu khotbah doktrinal, saya nggak suka khotbah yang susah. Itu pergumulan teolog tapi bukan pergumulan saya.” Masalahnya, lagi-lagi, bukanlah khotbahnya terlalu dalam tetapi tidak jelas “what is the message”. Kita percaya bahwa Alkitab selalu relevan. Kebenaran-kebenarannya selalu menghidupkan. Maka khotbah dari bagian Alkitab manapun, topik apapun, harusnya relevan dan menghidupkan. Tetapi pengkhotbah yang kadang membuatnya tidak relevan dan mati. (Mungkin kadang saya juga bersalah dalam hal ini. May the Lord have mercy!)

3. Cara penyampaian khotbah
Penyampaian itu mencakup cara menyusun khotbah, pemilihan kata, intonasi, emosi, dan lain-lain. Kadangkala isi khotbahnya baik dan relevan, tetapi susunan khotbahnya tidak menarik, intonasinya monoton dan penguraiannya membosankan. Seorang pengkhotbah haruslah juga seorang “master of words” (kalau saya tidak salah istilah ini dari Eugene Peterson). Dia harus tahu bagaimana memilih kata-kata dan menggunakannya dengan tepat. Hal yang sama jika diucapkan dengan kalimat yang berbeda akan menimbulkan reaksi yang berbeda.

Kalau khotbah yang mendalam itu hanya kesannya saja mendalam, atau tidak relevan, atau membosankan penyampaiannya, tidak heran jemaat lebih suka yang ringan, praktis, dan lucu. Karena paling tidak dia masih mengerti apa yang dibicarakan. Paling tidak masih ada aplikasi praktis yang dia langsung bisa tangkap. Atau paling tidak dia bisa tertawa dan tidak mengantuk.

Maka menyebarlah meme itu... dan wabah pun berlanjut.

(Tulisan ini pun akan berlanjut)

Wednesday, June 29, 2016

What is a sermon?

Setelah sekian lama jadi orang Kristen dan pengkhotbah, saya semakin tergelitik untuk bertanya: What is a sermon? Apa itu khotbah?

Sebetulnya saya kira semua orang bisa menerima definisi-super-sederhana bahwa “khotbah” adalah “penguraian Firman Tuhan”. Itu sebabnya “khotbah” kadang disebut langsung “Firman Tuhan” (ngeri juga sih…). Masalahnya justru karena definisi-super-sederhana itu terlalu gampang diterima, akibatnya seringkali kita tidak berpikir lagi betulkah yang saya dengar (atau saya sampaikan) ini adalah “khotbah”? Pertanyaan ini penting untuk saya pribadi karena jangan sampai ketika berdiri di mimbar, saya pun tidak berkhotbah!

Paulus menjelaskan pelayanan pemberitaan Injil yang dia lakukan sebagai berikut:

Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. (2 Korintus 4:7)

“Harta” yang dimaksud Paulus adalah berita Injil. Berita itu adalah harta yang sangat berharga. Tetapi harta itu diberitakan, disampaikan, dinyatakan, lewat “bungkus” yang sangat tidak bernilai – dirinya sendiri. Kontras – “harta” di dalam “bejana tanah liat”. Yang mulia, berkuasa, dan bercahaya, adalah “harta”nya dan bukan “bejana tanah liat”nya.

Demikian pula sebuah khotbah hari ini. Khotbah bukanlah sebuah cerita tentang si “bejana tanah liat” yang membuat dia terlihat hebat. Khotbah juga bukan hanya nasehat moral yang bisa dibaca di banyak buku self-help. Khotbah bukanlah kata-kata motivasi yang dibungkus dengan istilah-istilah rohani, seperti yang banyak diberikan para motivator. Khotbah bukan berisi berbagai cerita ilustrasi atau pemutaran video dari youtube yang menggerakkan. Khotbah seperti membuka “harta” itu, menunjukkannya, membuat cahayanya terlihat oleh pendengar, mempesona mereka, dan membiarkan Roh Kudus bekerja mengubah hidup mereka.

Di dalam usaha menguraikan Firman Tuhan, tentu seorang pengkhotbah boleh menggunakan ilustrasi, memutar video dari youtube, humor, mengutip kata-kata bijak, atau apapun, selama semua itu relevan dan memang menolong pendengar mengerti berita Firman Tuhan. Tetapi, pertanyaannya tetaplah sama, betulkah fokusnya adalah menguraikan Firman Tuhan?

The NIV Application Commentary Series (NIVAC), sebuah seri tafsiran Alkitab yang tidak bersifat teknis, sedikit banyak mirip seperti khotbah. Untuk setiap bagian Alkitab, NIVAC membagi menjadi tiga bagian: “Original Meaning” – arti bagian itu di dalam konteks aslinya; “Bridging Contexts” – menjembatani konteks asli dengan konteks zaman sekarang karena berita Alkitab relevan bagi setiap zaman; dan terakhir “Contemporary Significance” – memberikan contoh bagaimana bagian itu berbicara dan diterapkan di zaman ini. Saya kira tugas pengkhotbah, kurang lebih, seperti itu. Ada berbagai bentuk khotbah: ekspositori, narasi, tematik. Bagi saya, bentuk apapun, sah untuk dipakai, asalkan tugasnya jangan dilupakan. 

Beberapa pengkhotbah, uniknya, selalu bicara hal yang mirip sekalipun ayat Alkitab yang diuraikan berbeda. Ayat apapun, kira-kira ujungnya ya itu. Walaupun kalau dinilai isi khotbahnya "tidak salah", tetapi dia salah menguraikan bagian Alkitab itu.

Beberapa pengkhotbah memang memiliki karunia fasih lidah. Tetapi, sama seperti semua karunia, itu bisa digunakan menjadi kebaikan atau keburukan. Dia bisa menggunakannya untuk semakin baik menguraikan Firman Tuhan atau semakin mudah bicara ngalor ngidul yang ditempel ayat Alkitab.

Beberapa pengkhotbah hanya “menggunakan” ayat Alkitab. Apa yang dia sampaikan tidak jelas hubungannya dengan ayat yang dibacakan. Ada hubungannya sih kalau dihubung-hubungkan.. tapi kejauhan… atau tidak sesuai dengan maksud asli si penulis bagian itu.

Beberapa pengkhotbah hanya tertarik menguraikan pelajaran moral dari Alkitab. Padahal, walaupun tidak salah dan pelajaran moral yang diambil adalah benar, seringkali penulis Alkitab menuliskan bagian itu dengan maksud yang lebih besar.

Beberapa pengkhotbah menjadikan waktu khotbah sebagai seminar tentang manajemen, psikologi, atau bahkan kesehatan (seriously!). Tentu, selalu dikait-kaitkan juga dengan ayat Alkitab.

Maka saya ingin mengajak kita menilai sebuah khotbah dengan lebih objektif. Jangan hanya karena khotbahnya menarik, lucu, tidak bikin ngantuk, atau inspiratif, lalu kita bilang bagus. Jangan juga hanya karena khotbahnya “kena” lalu kita bilang bagus, karena “kena” itu mungkin karena pas dengan pergumulan kita saat itu. Jangan juga menilai bagus sekedar karena materinya bagus, dalam, atau apapun istilahnya.

Menilai dengan objektif adalah bertanya apakah khotbah ini menolong saya mengerti Firman Tuhan dengan lebih baik dan menolong saya memahami beritanya bagi hidup saya? Kalau kita sudah cukup banyak belajar, kita bisa bertanya lebih jauh, apakah khotbah itu setia menjelaskan bagian Alkitab itu atau sebetulnya sudah lari kemana-mana? Kadang ada pengkhotbah yang bisa berkhotbah beberapa kali hanya dari satu ayat. Bagi saya jauh lebih sering sebetulnya itu bukan “dalam” tapi “lari kemana-mana”. Khotbah memang bisa bersifat tematik, jadi tidak fokus menjelaskan satu bagian Alkitab saja, tetapi tetap tidak boleh ayat Alkitab dicomot keluar dari konteksnya.

Bagi rekan-rekan pengkhotbah, saya ingin mengajak kita belajar terus dan selalu bertanya sebelum meyampaikan khotbah: Apakah khotbah saya menguraikan Alkitab (bagian tertentu ataupun tema tertentu)? Apakah khotbah saya menolong jemaat berhadapan langsung dengan Firman Tuhan – bukan dengan kebijakan dan kepintaran saya? Apakah khotbah saya menolong jemaat memahami beritanya bagi hidup mereka? Apakah khotbah saya setia terhadap Alkitab – bukan hanya pelajaran moral dan bukan lari kemana-mana? Pertanyaan-pertanyaan itu juga berlaku untuk saya pribadi.

Sunday, June 19, 2016

The Reformed Pastor - Richard Baxter


Saya sedang membaca buku klasik “The Reformed Pastor” karya Richard Baxter. Malu juga sebenarnya baru baca sekarang. Bertahun-tahun buku ini nangkring di rak buku saya, sempat baca beberapa halaman, lalu dibiarin nangkring lagi tanpa disentuh, sampai sekarang.

Setelah membaca buku ini separuh, saya bisa mengamini apa yang pernah diucapkan seorang hamba Tuhan, “setiap hamba Tuhan wajib membaca buku ini, bukan hanya sekali, tapi berkali-kali.” Buku ini sangat-sangat-sangat diperlukan untuk setiap hamba Tuhan. 

Richard Baxter adalah salah seorang puritan (sekelompok orang Protestan Reformed di Inggris di abad 16-17, yang ingin memurnikan – purifying – gereja Inggris). Orang-orang Puritan terkenal sebagai raksasa-raksasa rohani yang kehidupannya, mind-heart-hand, sangat terintegrasi. Richard Baxter adalah seorang pendeta, penginjil dan juga penulis yang sangat luar biasa di era Puritanisme. Pelayanan dia di gereja Kidderminster (selama hampir 15 tahun) dikatakan mengubah orang-orang kota itu dari yang “bebal, kasar, mencari kesenangan” menjadi komunitas yang saleh dan menyembah Tuhan.

Buku ini adalah tulisan Richard Baxter mengenai bagaimana pelayanan seperti itu bisa dilakukan. Dengan kata lain, ini adalah buku from a pastor to pastors. Walaupun konteks pelayanan dia tentu berbeda jauh dengan hari ini, tetapi prinsip-prinsip yang dia tuliskan sangatlah relevan. Berkali-kali saya harus memeriksa diri dan merenung sambil membaca buku ini.

Bahasanya tidak terlalu mudah karena cenderung archaic, tapi masih bisa dimengerti. Berharap ada penerbit yang mau menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa Indonesia supaya lebih banyak hamba Tuhan di Indonesia yang bisa mendapat berkat melaluinya. Sebagai cicipan, saya mengutip beberapa pokok pembahasan di bagian 2 dari buku ini:

1. Take heed to yourselves, for you have a heaven to win or lose, and souls that must be happy or miserable for ever; and therefore it concerneth you to begin at home, and to take heed to yourselves as well as to others. 

2. Take heed to yourselves, for you have a depraved nature, and sinful inclinations, as well as others.

3. Take heed to yourselves, because the tempter will more ply you with temptations than other men.

4. Take heed to yourselves, because there are many eyes upon you, and there will be many to observe your falls.

5. Take heed to yourselves, for your sins have more heinous aggravations than other men’s.

6. Take heed to yourselves, because such great works as ours require greater grace than other men’s.

7. Take heed to yourselves, for the honour of your Lord and Master, and of his holy truth and ways, doth lie more on you than on other men.

8. Lastly, take heed to yourselves, for the success of all your labours doth very much depend on this.

Fellow pastors, please read this book!

Monday, June 13, 2016

"Gelap" di tengah "Terang"


Satu "terang" di tengah kumpulan "gelap" atau satu "gelap" di tengah kumpulan "terang" tidak banyak bedanya. Bagi dunia tentu ada bedanya, tapi tidak bagi si "gelap" itu sendiri. Semakin banyak terang hanya membuat semakin terlihat bahwa si "gelap" itu gelap adanya. Tetapi, dia akan tetap gelap selama dia tidak mau menerima terang itu sendiri.

Dimanapun kita berada, di kumpulan "gelap" atau kumpulan "terang", yang paling penting adalah apakah kita sendiri sudah terang atau masih gelap.

Saturday, May 28, 2016

Tuhan "Caper"

“You know, don’t you, that I’m the One
who emptied your pantries and cleaned out your cupboards,
Who left you hungry and standing in bread lines?
But you never got hungry for me. You continued to ignore me.”
God’s Decree. 
Saya tertegun membaca gambaran yang sangat dramatis ini di Amos 4:6 (versi The Message). You never got hungry for God. 

TUHAN-lah yang menyebabkan mereka tidak punya makanan. Dia tutup semua sumber makanan mereka. Tetapi, sekalipun kelaparan, mereka tidak pernah lapar akan Tuhan. Dengan nada yang sulit diartikan (sedih/marah/kecewa?), Tuhan berkata: “You continued to ignore me.”
 
Lalu Tuhan melanjutkan dengan nada serupa melalui empat gambaran yang sama dramatisnya:

7-8 “Yes, and I’m the One who stopped the rains
three months short of harvest.
I’d make it rain on one village
but not on another.
I’d make it rain on one field
but not on another—and that one would dry up.
People would stagger from village to village
crazed for water and never quenching their thirst.
But you never got thirsty for me.
You ignored me.”
God’s Decree.
Tuhanlah yang menghentikan curah hujan, membuat tanah kekeringan, dan menjadikan mereka kehausan. Tetapi mereka tidak pernah haus akan Tuhan. You never got thirsty for me. You ignored me.

9 “I hit your crops with disease
and withered your orchards and gardens.
Locusts devoured your olive and fig trees,
but you continued to ignore me.”
God’s Decree.
Ladang mereka dihancurkan-Nya. Kebun, taman, panen, semua sudah disapu habis. But you continued to ignore me.

10 “I revisited you with the old Egyptian plagues,
killed your choice young men and prize horses.
The stink of rot in your camps was so strong
that you held your noses—
But you didn’t notice me.
You continued to ignore me.”
God’s Decree.
Tulah yang dulu ditimpakan kepada orang Mesir untuk membebaskan mereka dari perbudakan sekarang ditimpakan kepada mereka. Bau busuk memenuhi hidung mereka karena banyaknya kematian, baik hewan maupun manusia. Tetapi mereka tetap tidak mengalihkan perhatian kepada Tuhan. But you didn't notice me. You continued to ignore me.

11 “I hit you with earthquake and fire,
left you devastated like Sodom and Gomorrah.
You were like a burning stick
snatched from the flames.
But you never looked my way.
You continued to ignore me.”
God’s Decree.
Tuhan menghajar mereka habis-habisan dengan bencana alam sampai mereka menjadi seperti puntung yang diselamatkan dari api. Tetapi mereka tetap tidak melihat kepada Allah. But you never looked my way. You continued to ignore me.

Di satu sisi, Tuhan bertindak seperti hakim yang sedang menjalankan penghakiman melalui berbagai malapetaka yang dialami umat-Nya. Tetapi, di sisi lain, Tuhan seperti orang tua yang sedang berusaha menarik perhatian anak-Nya. Uang jajan distop, mobil ditarik, baju tidak dibelikan lagi, telpon diputus - semua hanya supaya si anak mau datang ke orang tua.

Apakah Tuhan marah? Ya, Dia marah karena anak-Nya berdosa. Tetapi Dia tidak ingin menghancurkan anak-Nya. Satu-satunya yang Dia inginkan adalah supaya anak-Nya datang kepada-Nya.

Amazing bukan? Tuhan "caper"! Dia cari perhatian! Dia berusaha menarik perhatian anak-Nya untuk kembali kepada-Nya. Datang saja kepada-Nya, lihat saja Dia, bicara saja dengan Dia! But they continued to ignore Him.

Maka tidak ada cara lain, Dia akan lebih jelas lagi, lebih nyata lagi, dan kalau perlu lebih keras lagi. Time’s up. Prepare to meet your God!

12 “All this I have done to you, Israel,
and this is why I have done it.
Time’s up, O Israel!
Prepare to meet your God!”
Saya kira, hari ini, Tuhan sangat mungkin melakukan yang kurang lebih sama kepada kita seperti kepada Israel dulu. Caranya mungkin berbeda tapi kerinduan Tuhan sama. Apakah Tuhan juga sedang caper kepadamu? Don't ignore Him.

Monday, May 16, 2016

Intrinsic Beauty


If it’s beautiful then it’s beautiful anywhere. This tulip is beautiful whether it is planted outside on the field or inside the modern building like this one. Its intrinsic beauty does not depend on its environment.

Do we have an intrinsic beauty?