Thursday, May 03, 2007

Puasa

Salah satu disiplin rohani yang saya jalankan, tetapi masih sangat kurang, adalah berpuasa. Puasa tidak banyak dijalankan oleh orang Kristen zaman ini. Allan H. Sager dalam buku Gospel-Centered Spirituality mengutip Richard Foster: “Mengapa memberikan uang, misalnya, tanpa perdebatan diakui sebagai salah satu elemen dari kesalehan Kristen sementara berpuasa begitu diperdebatkan? Kita memiliki sama atau mungkin lebih banyak bukti dalam Alkitab tentang berpuasa daripada memberikan uang. Mungkin dalam masyarakat kita yang makmur ini, berpuasa melibatkan pengorbanan yang jauh lebih besar daripada memberikan uang”. Kalimat ini terngiang-ngiang di telinga saya.

Sebagai salah satu bentuk disiplin rohani dan kesalehan Kristen, saya percaya ketika kita melakukannya, banyak pengalaman rohani yang mungkin kita dapatkan.

Beberapa kali saya menjelaskan kepada jemaat bahwa berpuasa adalah bentuk merendahkan diri. Berpuasa membuat kita sadar bahwa kita cuma manusia yang lemah dan butuh Tuhan. Ketika kita berpuasa kita disadarkan bahwa dalam hal yang sangat sederhana, hanya tidak makan selama beberapa jam saja, kita sudah merasa sakit perut dan lemah. Maka ketika sisi kemanusiaan itu dimunculkan, di situlah kita sadar kita cuma manusia dan bukan Tuhan.

Tetapi ada satu pengalaman rohani baru yang saya dapatkan waktu berpuasa baru-baru ini. Mungkin ada yang tahu pepatah ‘A hungry man is an angry man’? Coba saja jika di dalam acara retreat, sampai pada jam makan dan pembicara masih meminta waktu ditambah, apa yang terjadi? Itulah yang saya alami. Ketika saya berpuasa dan tetap bekerja, saya menjadi tidak nyaman. Rasa lapar bercampur lelah membuat saya sensitif dan mudah tersinggung. Tetapi ketika itulah saya sadar, “Hei, bukankah berpuasa mustinya membuat sadar bahwa kamu manusia yang lemah? Lalu mengapa kamu bersikap seperti tuan, ingin dimengerti dan dihormati, bukan seperti hamba?”

Saya belajar bahwa ‘merasa diri lemah dan butuh Tuhan’ itu satu hal. Tetapi ‘merasa diri lemah dan bersikap sebagai orang lemah’ itu satu hal lagi. Dan saya yakin masih ada banyak aspek lagi tentang kelemahan yang masih harus saya mengerti dan alami.

Monday, April 23, 2007

Kecewa Pada Gereja?

Alkitab dengan jelas sekali menegaskan bahwa kita semua, tanpa terkecuali, adalah orang-orang berdosa. Tidak peduli berapa tinggi atau rendahnya pendidikan kita, tidak peduli berapa kaya atau miskinnya kita, tidak peduli juga apakah kita orang Kristen atau bukan, kita manusia yang sama-sama berdosa. Dan karena orang-orang Kristen yang juga berdosa itu berkumpul di gereja, maka gereja juga bisa disebut sebagai kumpulan orang berdosa.

Itu sebabnya kita banyak menemukan dosa di dalam gereja. Ada ketidakadilan, perebutan kekuasaan, iri hati, ketamakan, keegoisan, dan segala macam dosa lainnya di tengah lingkungan gereja. Maka lucu sekali kalau ada orang yang meninggalkan gereja karena kecewa melihat orang Kristen melakukan dosa. Lha wong memang orang berdosa kok! Gereja bukan kumpulan malaikat, tetapi kumpulan orang berdosa.

Pertama, saya tidak mengatakan kita harus memaklumi dosa. Memaklumi itu beda dengan mengerti. Memaklumi dosa adalah menganggap dosa itu tidak apa-apa, tetapi mengerti adalah tahu dan paham mengapa itu terjadi.

Saya berikan contoh. Ketika di dalam pelayanan gereja ada yang iri melihat orang lain ‘sukses’ dan dipuji orang, kita bisa mengerti bahwa hal itu keluar dari ego dan keinginan dia untuk terlihat signifikan. Kita bisa mengerti bahwa memang sulit bergumul dengan dosa ‘supaya dilihat orang’. Kita bisa mengerti bahwa tidak banyak orang yang bisa dengan sepenuh hati melayani sekalipun tidak dilihat dan dipuji orang. Tetapi kita TIDAK BISA MEMAKLUMINYA! Dosa tetap adalah dosa. Kita tidak memaklumi dosa, tetapi mengerti mengapa ada banyak dosa terjadi di kalangan orang percaya dan di tengah gereja. Dan kita berdukacita untuk itu, kita memohon Tuhan yang terus membentuk anak-anakNya dan menjauhkan dosa dari tengah umatNya.

Kedua, satu hal sangat penting yang harus kita ingat adalah, orang yang percaya kepada Kristus bukanlah orang berdosa biasa. Kristus sudah menyucikan kita dan menebus dosa kita. Kristus sudah membangkitkan kita dan menghidupkan kita dari kematian rohani. Maka gereja memang adalah kumpulan orang berdosa, tetapi kumpulan orang berdosa yang sudah ditebus oleh Kristus. Ini perbedaan besar!

Orang yang percaya kepada Kristus memang masih bisa dan seringkali melakukan dosa, tetapi dosa itu sudah menjadi suatu ‘barang’ yang asing baginya karena dia adalah ciptaan baru. Dia sudah dihidupkan dari kematian rohani, maka dia tidak lagi hidup dalam dosa. Tetapi karena dia pernah hidup dalam dosa dan masih hidup dalam dunia berdosa, tarikan untuk berbuat dosa sangat kuat. Itu sebabnya seringkali kita melihat orang yang sudah percaya kepada Tuhan pun melakukan dosa. Tetapi perbedaan yang sangat besar dengan orang yang tidak percaya adalah, dia sudah dan sedang disucikan terus oleh Tuhan karena Roh Kudus ada di dalam dirinya. Dia adalah bagian dari keluarga Allah yang suatu kali nanti, bersama kita dan semua orang percaya, akan berdiri di hadapan Tuhan.

Ketiga, jangan pernah menjauhkan diri dari gereja karena dosa orang-orang di dalamnya. Ada ungkapan dari orang yang kecewa kepada gereja “makin lihat dapurnya gereja, makin tahu kotornya, maka lebih baik jangan lihat dapurnya”. Ungkapan itu menyatakan “lebih baik tidak banyak terlibat dan kenal banyak orang di gereja, daripada kita kecewa karena menemukan banyak dosa”. Tetapi bukan itu yang Tuhan maksudkan. Yesus mati untuk gerejaNya! Kita dan saudara-saudara kita sesama orang percaya, adalah orang-orang berdosa yang sudah ditebus oleh Kristus. Kita saling membutuhkan untuk mendorong dan menarik satu sama lain makin dekat kepada Kristus. Maka kita tidak bisa dan tidak boleh mengabaikan saudara-saudara kita yang lain, dengan mementingkan rasa nyaman kita dengan tidak mau tahu dosa orang lain.

Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran. Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita daripada segala dosa” (1 Yoh 1:6-7)

Wednesday, April 18, 2007

Yohanes 7

Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil” (Yoh 7:24).

Yohanes 7 mencatat beberapa penghakiman manusia kepada Yesus yang dilatarbelakangi berbagai asumsi yang salah:

1. Ay.3-5. Saudara-saudara Yesus meminta Dia pergi menunjukkan diri pada orang banyak “tampakkanlah diriMu kepada dunia”. Mereka mengatakan itu bukan karena mereka ingin Yesus menjadi terkenal, tetapi sebagai sindiran. Ay.5 mengatakan “Sebab saudara-saudaraNya sendiripun tidak percaya kepadaNya”.

Saya kira salah satu alasan mengapa mereka tidak percaya adalah: 'Mereka merasa kenal Yesus!' Dari kecil tinggal serumah, dibesarkan bersama, kok bisa tiba-tiba Dia menonjolkan diri? Penghakiman mereka kepada Yesus berdasarkan asumsi ‘kita ini sama’.

Tetapi mereka salah. Mereka tidak sama dengan Yesus. Mereka dilahirkan oleh Maria dari Yusuf, sementara Yesus dilahirkan oleh Maria yang dinaungi oleh Roh Kudus. Mungkin mereka tidak tahu itu. Atau mungkin Maria pernah ceritakan kepada mereka tetapi mereka tetap tidak percaya.

2. Ay.12. Di antara orang banyak, ada yang mengatakan “Ia orang baik”, ada yang mengatakan “Ia menyesatkan rakyat”. Darimana penghakiman seperti ini?

Mereka yang mengatakan “Ia orang baik”, mungkin terpesona melihat bagaimana Yesus membuat mukjizat. Mereka yang mengatakan “Ia menyesatkan rakyat”, mungkin melihat ajaran Yesus yang berbeda dengan ajaran para ahli Taurat. Dan asumsinya, kalau berbeda dengan ahli Taurat artinya sesat.

3. Ay.26-27. Sebagian orang semakin bingung apakah benar Yesus adalah Mesias (Kristus)? Tetapi ada ganjalan yang membuat mereka tidak bisa percaya. Bagi mereka ‘Kristus tidak mungkin diketahui darimana asalnya’, maka kalau ada orang yang diketahui asal-usulnya, orang itu pasti bukan Kristus.

Alkitab tidak pernah ajarkan ini, tetapi konsep yang salah itu dijadikan patokan untuk menghakimi Yesus.

4. Ay. 41-43. Di sini terjadi perdebatan. Ada yang mengatakan “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang”, bahkan ada yang mengatakan “Ia ini Mesias”, tetapi ada yang mengatakan “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea”.

Alkitab memang mengatakan Mesias akan datang dari Betlehem bukan dari Galilea. Maka tepat juga pengetahuan Alkitab mereka yang mengatakan “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea”. Tetapi ini sangat ironis. Mereka tahu apa yang diajarkan kitab suci bahwa Mesias berasal dari Betlehem, tapi mereka tidak tahu bahwa Yesus memang berasal dari Betlehem!

Orang-orang tersebut semua menghakimi Yesus dengan tidak adil. Yesus mengatakan “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil” (ay.24).

Bagaimana 'menghakimi dengan adil'? Mari kita lihat dua kelompok orang yang menghakimi Yesus dengan lebih adil:

1. Para penjaga bait Allah. Mereka diperintahkan untuk menangkap Yesus, tetapi mereka tidak berani. Maka ketika mereka kembali, para imam kepala dan orang Farisi bertanya: “Mengapa kamu tidak membawaNya?” (ay.45). Jawaban para penjaga itu luar biasa: “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” (ay.46).

Mereka bukan teolog, mereka hanya takjub mendengar kalimat-kalimat Yesus. Kalau menurut apa yang nampak, mereka pasti berani menangkap Yesus. Tetapi mereka melihat di balik apa yang nampak, ada kuasa yang begitu besar. Begitu menggetarkannya kalimat-kalimat Yesus sampai mereka melihat 'Yesus bukan manusia biasa', dan mereka tidak berani menangkap Yesus.

2. Nikodemus. Dia mencoba membela Yesus di hadapan orang-orang Farisi, “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum Ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuatNya?”. Dan dia dihina “Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea”.

Mengapa Nikodemus berbeda dengan orang Farisi lain? Nikodemus ingin mencari kebenaran dan kehendak Allah. Waktu semua pemimpin melawan Yesus, Nikodemus malah merenung. Itu sebabnya malam-malam dia pernah datang kepada Yesus. Walaupun sangat berbahaya untuk dia, tetapi dia lakukan karena ingin mencari kebenaran. Dan Nikodemus bisa mengenal Yesus.

Betapa seringnya manusia berani menghakimi Yesus dari hati yang tercemar dosa dan tidak peduli kebenaran!

Pada waktu kita menyatakan penilaian kita pada Yesus, bagaimana kita menilai Dia? Siapa Yesus menurut kita? Adilkah kita?

Saturday, March 17, 2007

Dosa Sengaja dan Tidak Sengaja

Beberapa waktu yang lalu, saya mendengar khotbah seorang pendeta yang menegur orang Kristen yang suka mengatakan “Ampunilah dosa yang kami lakukan dengan sengaja maupun tidak sengaja” ketika berdoa minta pengampunan dosa. Pendeta tersebut tidak setuju dengan kalimat itu karena menurut dia “Dosa tidak pernah disengaja”. Alasan yang diberikan adalah “Kalau sengaja, namanya menghujat Roh”. Lalu dia menyambung “Dosa itu keluar dari rel, tergelincir, meleset. Dosa tidak pernah sengaja karena tidak ada orang yang sengaja keluar rel, sengaja tergelincir”.

Saya ingin membahas pandangan pendeta itu karena kalimat itu memang sering diucapkan dan didengar oleh kita. Ada baiknya kalau kita memikirkan kalimat itu sebelum kita mendengar atau mengucapkannya lagi.

Kehendak selalu mendahului tindakan. Untuk melakukan sesuatu, kita harus punya kehendak untuk melakukannya. Kita tidak mungkin tidak punya kehendak apa-apa. Tidak melakukan apa-apa pun adalah karena kita berkehendak untuk tidak melakukan apa-apa.

Berdasarkan itu, kita bisa mengatakan ‘melakukan dosa dengan sengaja’ artinya adalah dengan kehendak atau kemauan sendiri kita melakukan dosa. Ada kehendak dan kemauan, ada pilihan, lalu dengan sadar kita memilih pilihan yang berdosa sesuai kehendak atau kemauan kita itu. Misalnya, contoh klasik, menonton film porno. Ada banyak langkah yang harus diambil untuk menonton film porno dan di setiap langkah kita punya pilihan, seperti mengambil film itu atau tidak, memasukkannya ke player atau tidak, menekan tombol play atau tidak, dan menonton atau tidak. Maka ketika kita sampai menonton film itu, jelas kita ‘melakukan dosa dengan sengaja’.

Kalau begitu apa yang disebut dengan ‘melakukan dosa dengan tidak sengaja’?

Sebenarnya jika dilihat dari kacamata ‘kehendak-mendahului-tindakan’, semua dosa pasti kita lakukan dengan sengaja. Apapun yang kita lakukan pasti ada kehendak dan kemauan untuk melakukannya Kita memilih untuk melakukan sesuatu, berarti kita melakukannya dengan sengaja!
Maka kalimat pendeta di atas justru terbalik. Mustinya ‘tidak ada dosa yang dilakukan dengan tidak sengaja’. Dosa memang bisa digambarkan seperti tergelincir dari rel. Tetapi kita memang sengaja menggelincirkan diri dari rel!

Sebelum kita percaya kepada Tuhan, rasul Paulus katakan keadaan kita adalah mati (Ef 2:1). Keadaan mati rohani ini menyebabkan kita tidak punya kemampuan untuk melakukan apapun juga yang tidak tercemar dosa. Tetapi pada waktu percaya kepada Tuhan, kita dihidupkan kembali dari kematian rohani kita, kita diberikan kemampuan untuk tidak berbuat dosa. Dengan kata lain, kita diberikan kehendak untuk tidak memilih dosa. Tetapi dalam kelemahan kita, dan di tengah-tengah dunia yang penuh dosa dan godaan berdosa ini, seringkali kita memilih lagi untuk berdosa.

Tidak tepat kalau kita katakan itu ‘menghujat Roh’. Kalau itu dikatakan menghujat Roh Kudus, maka semua orang Kristen menghujat Roh Kudus! Arti menghujat Roh Kudus adalah ketika kita dengan sengaja menolak pekerjaan Roh Kudus yang menerangi hati kita, dan kita lakukan itu bukan satu kali, tetapi terus menerus sampai kita mati. Itu disebut sebagai dosa yang tidak bisa diampuni, karena kita sudah menolak Dia sampai akhir dan tidak punya lagi kesempatan untuk diampuni.

Maka kembali ke pertanyaan di atas, apa yang dimaksud dengan ‘melakukan dosa dengan tidak sengaja’?

Mungkin contoh di bawah ini bisa mewakili apa yang sering kita bayangkan sebagai ‘melakukan dosa dengan tidak sengaja’. Misalnya kita menegur seseorang karena melakukan kesalahan. Teguran kita benar dan bahkan kita lakukan dengan kasih, tetapi ternyata ada kalimat kita yang bukan membangun dia melainkan menyakiti dia. Kita tidak pernah punya kehendak atau kemauan untuk menyakiti dia, tetapi itu terjadi. Maka kita ‘melakukan dosa dengan tidak sengaja’.

Tetapi bukankah kita bisa memilih untuk mengucapkan atau tidak mengucapkan kalimat yang menyakiti itu? Kita tetap memilih untuk mengucapkannya berdasarkan kehendak kita. Dan itu berarti sengaja!

Tunggu dulu, saya tahu ada yang langsung tidak setuju dengan saya. Saya tahu bahwa bagaimanapun kita tidak bermaksud menyakiti orang itu, dan kita tidak terpikir bahwa kalimat kita akan berdampak buruk kepada dia. Itu sebabnya saya setuju bahwa perbuatan seperti contoh di atas bisa disebut ‘melakukan dosa dengan tidak sengaja’. Tetapi kita harus mengerti bahwa yang disebut dosa tidak sengaja hanyalah satu ungkapan ‘murah hati’ untuk menyebut ‘melakukan dosa dengan sengaja’ dalam dunia yang berdosa ini.

Kita tetap bertanggung jawab untuk dosa itu, karena kita memilih untuk melakukannya. Di balik pilihan kita mungkin ketidak-pedulian kita mengerti latar belakang orang itu, tetapi sudah ingin cepat memberi nasihat. Atau mungkin kita terbawa emosi kita sehingga tidak memikirkan matang-matang dampak kalimat kita. Apapun alasannya, kita sengaja memilih untuk melakukannya. Tetapi inilah kita! Sulit sekali untuk betul-betul tidak melakukan dosa. Kita lemah sekali, dan kelemahan emosi kita, kelemahan hati nurani kita yang tercemar dosa, kelemahan rasio kita yang terpengaruh dosa, menyebabkan kita sulit sekali untuk memilih tidak melakukan dosa. Itu sebabnya kita mengatakan, dengan murah hati, kita ‘melakukan dosa dengan tidak sengaja’.

Alangkah kita membutuhkan kemurahan Tuhan hari demi hari mengampuni dosa kita, yang kita lakukan dengan sengaja maupun ‘tidak sengaja’!

Wednesday, March 14, 2007

Kejadian 1-11

Kitab Kejadian pasal 1-11 bercerita tentang sejarah awal umat manusia. Di dalamnya kita menemukan kisah bagaimana dunia dan manusia diciptakan, bagaimana manusia jatuh ke dalam dosa, bagaimana dosa itu menyebar, bagaimana air bah diturunkan oleh Tuhan, dan seterusnya.
Kejadian 1-11 sebetulnya bukan satu-satunya literatur yang menceritakan sejarah awal umat manusia. Hampir semua dunia beradab di daerah Timur Dekat kuno (Timur Tengah sekarang) mempunyai literatur yang juga menceritakan sejarah awal umat manusia. Tetapi ketika literatur-literatur itu dibandingkan dengan kitab Kejadian, maka kita menemukan perbedaan yang besar.

Di bawah ini adalah perbandingan beberapa ciri-ciri mereka:

Literatur lain
  1. Ada kisah penciptaan para dewa
  2. Politheisme (ada banyak dewa)
  3. Ada perang kosmik antar dewa dalam peristiwa penciptaan
  4. Manusia dicipta untuk jadi budak dewa
  5. Ketika penciptaan selesai, dunia tidak sempurna, tetapi perlahan-lahan makin baik
Kejadian 1-11
  1. Allah tidak diciptakan
  2. Monotheisme (hanya 1 Allah yaitu Allah yang Esa)
  3. Allah mencipta hanya dengan Firman dan semua jadi
  4. Manusia dicipta dalam gambar dan rupa Allah. Allah malah memberikan mandat kepada manusia untuk berkuasa atas alam semesta. Bahkan ketika manusia diciptakan, bukan manusia yang menyediakan manakan Allah tetapi justru Allah yang menyediakan keperluan manusia
  5. Ketika penciptaan selesai, semuanya sangat baik, tetapi kemudian justru menjadi rusak karena dosa manusia
Salah satu contoh literatur yang mirip dengan Kejadian 1-11 adalah Enuma Elish (dari milenium pertama sebelum Masehi), yang merupakan catatan paling lengkap dari daerah Mesopotamia tentang penciptaan. Di dalamnya dikisahkan bahwa dewa Marduk mengalahkan dewi Tiamat (seorang dewi yang kejam). Lalu dengan menggunakan mayat Tiamat, ia menciptakan langit dan bumi. Lalu ia menciptakan juga manusia untuk melakukan segala pekerjaan di dunia yang dibenci oleh para dewa, seperti menyediakan makanan. Dan para dewa kemudian membuat kota Babel untuk menghormati Marduk.

Contoh lain adalah Gilgamesh Epic (ditulis sekitar 2600 SM). Di dalamnya berisi cerita pengalaman dari seorang bernama Utnapishtim. Dia pernah diberitahu oleh dewa mengenai rencana akan adanya banjir besar yang melanda seluruh bumi. Utnapishtim ini kebetulan menyembah dewa yang tidak setuju dengan rencana air bah itu, maka ia diberitahu oleh dewa itu untuk membuat bahtera dan masuk bersama keluarganya dan pasangan-pasangan binatang. Setelah air bah mulai, ternyata para dewa pun ketakutan karena merasa air bah itu sudah di luar kontrol mereka. Setelah badai berlangsung 7 hari, air mulai surut dan bahtera itu mendarat di puncak gunung. Utnapishtim lalu melepaskan burung merpati, layang-layang, gagak, dan ketika gagak itu tidak kembali dia tahu air sudah surut. Maka ia keluar dan mempersembahkan kurban kepada para dewa dan para dewa langsung mengerumuni kurban itu seperti lalat karena sudah sangat ingin makan daging. Enlil (dewa yang paing kuat) kaget ketika mengetahui Utnapishtim selamat, tetapi ia senang dengan persembahan Utnapishtim. Akhirnya Utnapishtim diubah menjadi dewa, dan dewa berjanji tidak akan memberikan lagi air bah.

Jelas ada kemiripan sekaligus perbedaan antara kisah dalam literatur-literatur ini dengan kisah dalam Kejadian 1-11.

Sekalipun beberapa literatur itu lebih tua dari kitab Kejadian, kemiripan yang ada bukan berarti Musa mencontek literatur-literatur itu. Ini hanya menunjukkan bahwa Kejadian 1-11 menjawab pertanyaan yang sama yang sering dipertanyakan manusia zaman itu. Tetapi jawabannya sangat berbeda karena Kejadian 1-11 adalah wahyu dari Tuhan, cerita yang sesungguhnya, cerita yang asli dari Sang Pencipta.

Kita boleh yakin pada waktu itu ada kisah yang beredar baik dalam bentuk oral maupun tulisan mengenai sejarah awal manusia. Seluruh manusia adalah keturunan Adam dan Hawa, maka kisah-kisah mengenai taman Eden, kejatuhan dalam dosa, dsb, pasti terus disampaikan turun temurun sampai zaman Nuh. Setelah air bah terjadi, semua manusia kemudian adalah keturunan Nuh juga (karena hanya Nuh dan keluarganya yang masih hidup). Maka ketika mereka menyebar (dicatat dalam Kejadian 11), mereka pasti juga membawa kisah mengenai peristiwa-peristiwa sebelum air bah dan kisah air bah itu sendiri dari nenek moyang mereka yaitu Nuh dan keluarganya.

Tetapi ketika kita membaca literatur-literatur kuno tersebut, ternyata kita melihat sudah terjadi distorsi yang besar sekali, cerita sudah menjadi sangat berbeda dengan cerita asli seperti yang diwahyukan Tuhan. Penyebabnya? Selain mungkin disebabkan oleh penyampaian yang tidak akurat, pasti juga disebabkan karena dosa, manusia tidak lagi menyembah Allah yang benar.
Dari kacamata ini, kita melihat Kejadian 1-11 sangat luar biasa. Di tengah-tengah zaman yang menerima, secara mutlak, konsep politheisme dan manusia adalah budak para dewa, tiba-tiba muncul kisah dengan konsep yang total berbeda, totally different world view. Tidak ada konsep seperti itu di zaman itu.

Dan dari kacamata ini juga, kita melihat betapa baiknya Tuhan memberitahu pada kita kebenaran yang sesungguhnya. Allah memberitahu kebenaran supaya manusia kenal Allah yang sejati. Darimanakah kita mengetahui semuanya kalau bukan dari wahyu Tuhan? Sungguh, wahyu Tuhan adalah penyingkapan apa yang tak mungkin manusia ketahui. Kalau begitu, bagaimana mungkin ada manusia yang sok tahu sesuatu yang Allah tidak singkapkan?

Monday, February 05, 2007

Keluaran 23:3 - Memihak

Juga janganlah memihak kepada orang miskin dalam perkaranya” (Kel 23:3)

Di dalam dunia ini, yang kuat menindas yang lemah kita anggap hal biasa. Tetapi yang lemah menindas yang kuat, nah itu baru kita anggap luar biasa. Tetapi apa benar itu terjadi?

Ayat di atas menarik perhatian saya. Biasanya kita mengira Alkitab mengajarkan supaya kita memihak kepada yang lemah: orang miskin, janda, anak yatim, dsb. Tetapi mengapa dalam bagian ini Tuhan justru katakan jangan memihak kepada orang miskin?

Sebetulnya kalau kita teliti, Alkitab tidak pernah mengajarkan supaya kita memihak kepada mereka yang lemah. “Jangan menindas mereka”, “belalah hak mereka”, itulah yang diajarkan Alkitab. Artinya yang Tuhan mau adalah “jangan mentang-mentang mereka lemah, lalu mereka ditindas dan tidak dibela haknya”. Tetapi dengan kalimat yang sama, Tuhan juga bisa mengatakan “jangan mentang-mentang mereka lemah, lalu dibela dan dimenangkan”.

Sebetulnya prinsipnya sederhana: Keadilan! Tuhan benci kalau ada orang menindas yang lemah. Tuhan juga benci kalau ada orang menindas yang kuat.

Ada orang yang berjalan kaki menyeberang jalan secara sembarangan dan menyebabkan pengendara motor kehilangan keseimbangan dan menabraknya sampai mati. Siapa yang disalahkan? Biasanya pengendara motor! Ada pengendara sepeda motor yang ngebut, selap-selip kiri kanan semaunya, lalu menabrak mobil yang sedang berjalan perlahan sampai dia sendiri terpelanting dan luka parah. Siapa yang disalahkan? Biasanya pengendara mobil. Minimal dia akan diminta utk membayar semua biaya pengobatan. Ternyata dalam masyarakat kita juga berlaku ‘memihak si lemah’ ini, walaupun tentunya dengan berbagai latar belakang dan motivasi.

Saya jadi berpikir bagaimana yah di gereja? Apakah sama dengan dunia, bahwa ada hal-hal tertentu dimana yang 'kuat' menindas yang 'lemah', dan ada hal-hal tertentu dimana yang 'lemah' dibela secara tidak adil, walaupun kalau di gereja, mungkin in the name of love.

Ah, sulitnya untuk adil sekaligus kasih!

Tuesday, January 02, 2007

Mazmur 34:9


Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung padaNya! (Mzm 34:9)

Mazmur ini diucapkan Daud "pada waktu ia pura-pura tidak waras pikirannya di depan Abimelekh, sehingga ia diusir, lalu pergi" (Mzm 34:2). Keadaan dia waktu itu sangat berbahaya. Ia sedang melarikan diri dari Israel, karena ingin dibunuh oleh raja Saul. Tetapi kemudian di daerah Filistin, musuh Israel, mereka mengenali dia sebagai seorang pejuang Israel. Maka ia berpura-pura gila, menggores-gores pintu gerbang, membiarkan ludahnya menetes dari janggutnya. Ia begitu merendahkan diri karena takutnya. Dan ia kemudian tidak dibunuh tetapi diusir.

Dalam keadaan itu, dia memuji Tuhan. Daud mengaku dia gentar, dia mengalami kesesakan-kesesakan (bentuk jamak), dia tersiksa dengan keadaannya. Tetapi dia merasakan bagaimana Tuhan melepaskan dia dari kegentarannya itu. Seperti satu perasaan yang sangat bebas, lepas dari tekanan yang berat. Ini sangat indah bagi Daud. Itu sebabnya hatinya penuh pujian kepada Tuhan.

Lalu dia mengatakan “Kecaplah, dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu!”. 

Seakan ia ingin mengatakan, "Cobalah dan rasakan bahwa Tuhan itu sungguh baik. Aku sudah mengalaminya! Silakan datang kepadaNya dan rasakan juga kebaikanNya. Hai orang-orang yang sesak, orang-orang yang gentar, berlindunglah padaNya, lihatlah dan kecaplah kebaikanNya!". Daud tidak hanya katakan ‘lihat’, tetapi ‘kecap’, mirip seperti sesuatu yang bisa dirasakan oleh indra kita, "dilihat" dan "dikecap", begitu nyata.

Mengapa orang percaya perlu didorong untuk mengecap kebaikan Tuhan? Tuhan sudah menyatakan kebaikanNya kepada setiap kita. Tetapi banyak orang Kristen yang tidak menikmatinya. Kita menganggap Tuhan itu jauh, Tuhan itu tidak peduli pada kita, kita curiga pada Tuhan, kita mencari pertolongan kemana-mana tetapi tidak berharap kepada Tuhan.

Daud mengatakan:
Ay. 5: Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku.
Ay. 6: Tujukanlah pandanganmu kepadaNya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu.
Ay. 7: Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkannya dari segala kesesakannya.
Ay. 8: Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka.
Ay. 9: Kecaplah dan lihatlah betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung padaNya.

Kalimat-kalimat itu melukiskan pengalaman Daud. Dia mencari Tuhan, menujukan pandangan kepada Tuhan, berseru kepada Tuhan, takut akan Tuhan, berlindung pada Tuhan. Dan dia mengalami kebaikan Tuhan! Seakan-akan Daud ingin mengatakan ‘mencari TUHAN, menujukan pandangan pada TUHAN, berseru kepada TUHAN, takut kepada TUHAN, berlindung pada TUHAN, semua itu menjadi piring kosong yang disiapkan untuk menerima kebaikan Tuhan... Tuhan berikan itu di atas piring kita dan kemudian bisa kita kecap...cap..cap...

Ahhh.... nikmatnya... TUHAN itu baik!