Friday, March 21, 2008

Mengenang Apa?

Minggu ini orang Kristen merayakan Jumat Agung dan Paskah, dua hari yang sangat besar, kalau tidak bisa dikatakan terbesar, dalam kalender gereja.

Di dalam kebaktian Jumat Agung atau Paskah di gereja-gereja, dengan berbagai cara kita selalu mengenang kembali kesengsaraan Kristus. Ada pengkhotbah yang menceritakan ulang penderitaan yang ditanggung Yesus. Ada gereja yang menampilkan cuplikan film The Passion of Christ. Ada juga yang menampilkan drama yang melukiskan adegan penyiksaan dan penyaliban Yesus. Dan tidak jarang jemaat, termasuk saya, menangis karenanya.

Jelas tidak salah, bahkan harus, untuk kita mengenang kembali kesengsaraan Kristus. Juga sama sekali tidak salah untuk menangis membayangkan penderitaan yang ditanggung oleh Kristus.
Tetapi jangan sampai kita salah alamat!

Ketika seorang ayah yang penuh kasih memukul anaknya yang bersalah, ia pasti tidak ingin anaknya menangis karena pukulannya saja, lalu titik berhenti di situ. Ia pasti ingin anaknya tahu kesalahannya dan tidak ingin mengulanginya lagi. Ketika seorang ayah memberikan hadiah, ia pasti tidak ingin anaknya bersukacita hanya karena hadiahnya saja, tetapi karena tahu ayahnya mengasihinya.

Ketika kita merayakan Jumat Agung dan Paskah, mengenang kesengsaraan Yesus, menangis karenanya, apa sebenarnya yang kita kenang dan tangisi? Kalau kita hanya mengenang betapa menderitanya Yesus, betapa sakitnya cambukan yang dia terima, betapa perihnya luka ketika paku itu menusuk kaki dan tangannya, kita salah alamat. Kalau kita hanya menangis karena itu, kita salah alamat. Allah tidak ingin kita berhenti di situ.

Mengenang kembali kesengsaraan Kristus seharusnya membawa kita melihat dua hal:

Pertama, betapa besarnya kasih Kristus. Apa yang Dia tanggung bagi kita adalah pernyataan kasihNya kepada kita, kasih yang sudah ada sebelum permulaan zaman dan kasih yang terus dinyatakan kepada kita sampai hari ini bahkan sampai selama-lamanya. Peristiwa kesengsaraan Kristus adalah salah satu, atau lebih tepatnya yang terbesar, dari pernyataan kasih itu. Oh sungguh, “betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus!” (Ef 3:18).

Kedua, seperti yang dikatakan Yesus kepada perempuan-perempuan yang menangisi diriNya: “janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!” (Luk 23:28). Yesus disalib karena menanggung dosa-dosa kita. Tangisilah diri kita yang berdosa ini, tangisilah diri kita yang membutuhkan darahNya yang dicurahkan di atas kayu salib itu, tangisilah diri kita yang sampai hari ini terus berbuat dosa dan terus disucikan oleh darahNya itu!

Betapa lebih gampangnya kita mengenang kesengsaraan Kristus daripada mengingat kasih Allah apalagi keberdosaan kita! Tetapi itulah Jumat Agung dan itulah Paskah.

Selamat merayakan Jumat Agung dan Paskah. Tuhan berkati!

Wednesday, February 06, 2008

Punya Berapa?

Punya sedikit disayang-sayang, punya banyak dibuang-buang. Kalimat itu mungkin melukiskan mentalitas kita.

Ketika listrik padam dan pompa air di rumah saya tidak berfungsi, itu berarti jika air di bak tampung di atas rumah saya sudah habis maka saya harus mulai menimba air dari bak tampung yang ada di depan rumah. Saat itu, otomatis saya menjadi berhati-hati dalam memakai air. Sebisa mungkin saya berhemat, baik dalam mencuci tangan, menyiram toilet, ataupun mandi. Keran dibuka sekecil mungkin dan secepat-cepatnya ditutup lagi. Ini berbeda dengan sikap saya ketika air seperti ‘tidak terbatas’.

Saya yakin banyak dari kita yang punya pengalaman serupa. Entah itu dalam hal air, atau minuman, atau makanan, atau uang, atau apa saja.

Sikap ini sebetulnya sangat salah. Dalam contoh peristiwa di atas, pertanyaan sederhana saja: “Apakah kalau listrik di rumah tidak padam dan air bisa terus mengalir tanpa harus merepotkan saya menimba, maka saya berhak memakai air semau saya?” Jelas tidak! Ini bukan masalah saya mampu membayar tagihan air atau tidak, tetapi masalah tanggung jawab terhadap lingkungan. Ini masalah kepedulian kepada dunia ciptaan Tuhan karena air bersih bukan tidak terbatas. Saya tidak teruskan dulu topik ini.

Saya ingin menyoroti masalah mentalitasnya saja karena ternyata mentalitas yang sama juga berlaku di dalam pelayanan kita.

Dalam gereja yang jumlah jemaatnya sangat sedikit, setiap orang akan dikenal namanya dan diketahui kondisinya. Jika beberapa orang tidak datang, suasana kebaktian akan langsung terasa lebih sepi. Dan dalam suasana seperti itu juga, jika tiba-tiba datang 1 orang yang baru pertama kali datang ke gereja, dia akan disambut dengan sukacita. Saya pernah melayani di suatu persekutuan yang jumlah kehadirannya rata-rata adalah 8-12 orang. Kehadiran setiap orang rasanya begitu penting.

Bandingkan jika kita berada di gereja yang besar. Ketidakhadiran beberapa orang tidak akan terasa, apalagi jika itu adalah orang-orang yang tidak menyenangkan untuk kita. Dan kalau ada di antara mereka yang membutuhkan sesuatu, seringkali kita tidak bersikap melayani tetapi birokratis. Alasannya? Jemaat banyak, sibuk, biar mereka yang berusaha mencari kita. Ini mentalitas ‘punya banyak dibuang-buang’!

Bukankah Firman Tuhan tidak mengajarkan begitu? Baik dalam hal harta milik, dalam hal lingkungan maupun dalam pelayanan kepada jiwa-jiwa, kita harus bertanggung jawab kepada Tuhan. Jumlah berapapun adalah milik Tuhan dan Tuhan minta kita setia atas semuanya itu.

Seharusnya bukan punya sedikit disayang-sayang, punya banyak dibuang-buang. Kalau punya sedikit maka kita sayang-sayang, mungkin itu cuma mentalitas egois. Kalau punya banyak dibuang-buang, jelas kita tidak berhak lakukan itu. Maka seharusnya punya berapapun disayang-sayang dan dipertanggungjwabkan di hadapan Tuhan!

Tuesday, December 04, 2007

Kata-Kata

Kata-kata (words) sangatlah berkuasa (powerful). Tuhan menciptakan dunia dengan Firman (word). Dan Yohanes mengatakan Firman (Word) itu datang ke dalam dunia menjadi sama dengan manusia. Ketika Firman itu di dalam dunia, Ia mengajar dengan perkataan-perkataan (words) yang penuh dengan kuasa. Dengan kata-kata, Ia mengusir setan, Ia menyembuhkan penyakit, Ia menenangkan angin ribut. Dengan kata-kata juga Ia menghibur, menegur, berdoa, dan menyatakan kehendak Allah. Kata-kataNya terus membentuk kehidupan milyaran manusia sampai hari ini.

Sebagai gambar Allah, kata-kata kita juga punya kekuatan yang dahsyat. Kata-kata kita punya daya cipta, kekuatan untuk membuat sesuatu terjadi. Dengan kata-kata kita membangun sesuatu atau menghancurkan sesuatu. Kata-kata membentuk kehidupan kita. Konsep tentang diri kita, orang-orang atau benda-benda di sekitar kita, dibentuk oleh kata-kata yang kita dengar dan kita ucapkan.

Beberapa orang yang menyadari ini membuat buku tentang berpikir dan berkata-kata secara positif. Filosofinya adalah ‘apa yang kita katakan akan membentuk pikiran kita lalu tindakan kita, dan segalanya akan menjadi berbeda’. Walaupun ada beberapa asumsi mereka yang tidak bisa saya terima, tetapi orang-orang itu mengerti kekuatan kata-kata.

Sementara sayangnya kita orang Kristen seringkali meremehkan kekuatan kata-kata. Padahal kita memakai kata-kata di dalam memuji Tuhan, di dalam berkhotbah, di dalam menasihati, di dalam memberikan bimbingan, dan tentu saja, di dalam bercanda dan percakapan sehari-hari. Betapa berbedanya dampak yang akan terjadi kalau kita berhati-hati dalam memakai kata-kata. Kata-kata yang sudah diucapkan tidak bisa ditarik lagi. Ia akan menjalankan tugasnya dengan kekuatan yang ada di dalamnya. Ia akan menciptakan sesuatu, membentuk sesuatu, memberikan dampak tertentu, entah membangun atau merusak.

Saya berikan beberapa contoh yang bisa kita renungkan tentang bagaimana memakai kata-kata:
  • Kalau teman-teman di sekitar kita suka bercanda dengan kata-kata yang kasar dan merendahkan orang lain, coba perhatikan tanpa sadar kita juga akan menjadi terbiasa seperti demikian. Kita akan mulai bercanda dengan cara yang sama. Kita makin tidak peka apakah orang lain tersinggung atau tidak. Bahkan perlahan-lahan, di mata kita, orang yang kita rendahkan itu menjadi lebih rendah dari sebelumnya.
  • Berpikir bahwa si A itu jahat lain dengan mengatakan “si A itu jahat!”. Begitu kita ucapkan, konsep itu bukan saja mempengaruhi orang lain yang mendengarnya, tetapi juga akan makin melekat di benak kita. Kita makin yakin bahwa si A itu jahat. (Anda boleh ganti kalimat itu dengan 'jelek', 'bodoh', 'nyebelin', dan lain sebagainya). Dan bayangkan juga dampak kata-kata tersebut jika terdengar oleh si A.
  • Kalau kita sering mendengar tentang bagaimana mengeksploitasi alam untuk keuntungan pribadi dan tidak pernah mendengar kata-kata tentang memelihara alam, maka kita terpikir untuk ‘memelihara alam’ pun tidak. Dunia kita menjadi berat sebelah karena dibentuk oleh kata-kata yang banyak kita dengar.
  • Satu orang bercanda dengan kata-kata yang kasar, yang satu lagi tersinggung. Yang mengucapkan kata-kata kasar makin terbiasa kasar dan tidak peka dengan perasaan orang yang tersinggung, maka ia makin menjadi-jadi dengan kata-katanya. Yang tersinggung menjadi makin sakit hati dan membalas dengan menjelek-jelekkan orang itu di depan orang lain. Seluruh relasi menjadi rusak dan kerusakan ini makin lama akan makin luas lingkaran pengaruhnya. Berapa banyak kehancuran yang bisa dihindarkan kalau dari awal kata-kata itu tidak diucapkan?
  • Kalau kita seringkali mengatakan kalimat-kalimat seperti “hebat yah si A punya mobil begitu mewah, sukses banget” atau mungkin bercanda “saya juga mau seperti dia, mau apa aja ada, keren” atau “ada nggak anaknya yang belum menikah? boleh juga nih”. Tanpa sadar kita sedang membentuk diri kita dan orang di sekitar kita untuk berpikir bahwa itulah kesuksesan, itulah yang seharusnya diidam-idamkan, itulah enaknya menjadi manusia.
  • Kalau kita suka berstrategi dengan kalimat-kalimat seperti "kita pakai dulu aja dia", "nggak apa, kita biarin dulu, nanti kita sikat lewat cara lain", atau "orang ini nggak ada gunanya buat kita", kita akan terbiasa melihat orang tidak sebagai orang tetapi sebagai benda.
  • Kalau kita menemui kesulitan untuk hidup jujur, lalu kita terus berkata kepada orang lain "memang tidak mungkin", dan orang-orang di sekitar kita juga berkata "betul, memang tidak mungkin", kita akan menjadi orang yang tidak lagi bergumul "mungkinkah? bagaimanakah seharusnya?" Dan celakanya orang-orang yang tidak tahu apa-apa juga mulai berpikir "ah, memang tidak mungkin".
  • Ketidaksungguhan dalam berkata-kata atau mengucapkan kata-kata kosong juga akan menimbulkan dampak yang buruk. Saya pernah datang ke dalam suatu persekutuan keluarga dalam rangka memperingati 100 hari meninggalnya salah satu anggota keluarga. Pemimpin ibadah lalu mengatakan “kita bersyukur kita boleh bertemu lagi setelah 40 hari meninggalnya almarhum”. Tiba-tiba terdengar protes dari salah satu anggota keluarga “100 hari! Bukan 40 hari!”. Apakah si pemimpin ibadah bersungguh-sungguh dengan perkataannya? Dan apakah dia sungguh bersyukur? Tidak. Dia mengucapkan kalimat itu hanya karena ingin mengajak menyanyikan lagu “Kita Bertemu Lagi”.
  • Saya juga pernah mengikuti suatu perjamuan kudus dimana pendeta yang melayani berkata “saya minta rekan-rekan yang bertugas maju ke depan menolong saya membuka tutup meja perjamuan”. Pada saat dia mengucapkan kalimat itu, tahukah anda apa yang sedang terjadi?..... sudah siap? … para petugas sedang membuka tutup meja itu! Jadi apa gunanya dia mengucapkan kalimat itu? Hanya formalitas! Bayangkan pesan apa yang disampaikan lewat penggunaan kata-kata seperti ini? Si pemimpin makin terbiasa untuk menjadikan ibadah sebagai kegiatan ‘berbasa-basi’ dan bukan pelayanan dengan hati. Dan jemaat pun belajar untuk ‘berbasa-basi’ dalam pertemuan ibadah karena ibadah hanyalah suatu formalitas mingguan yang tidak usah kena mengena dengan hati.
Yesus mengatakan apa yang diucapkan mulutnya meluap dari hatinya. Akarnya memang ada di hati. Tetapi hubungannya akan timbal balik. Hati yang tidak benar akan mengeluarkan kata-kata yang tidak benar, sementara kata-kata yang tidak benar akan makin membentuk hati menjadi tidak benar.
Kalau anda perhatikan, contoh-contoh yang saya berikan di atas semuanya adalah contoh negatif, bagaimana kata-kata punya daya merusak. Alangkah besarnya kekuatan kata-kata jika dipakai untuk membangun, menguatkan, dan membawa manusia lebih dekat kepada Tuhan.

Saya tahu bagi siapapun mengendalikan kata-kata adalah hal yang sulit. Yakobus juga berkata “barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya” (Yak 3:2). Dan Yakobus juga mengatakan bahwa lidah kita yang kecil ini bisa memegahkan perkara-perkara yang besar dan juga dapat seperti api yang membakar hutan yang besar.

Ah sulitnya! Paling tidak, mari kita berusaha ingat untuk selalu berpikir dulu sebelum berkata-kata.

Tuesday, July 03, 2007

Keluarga

(Tulisan ini adalah revisi atas tulisan yang saya buat untuk kolom Dynatorial dalam buletin Komisi Pemuda 1 GKY Green Ville – Dynamagz edisi Juni 2007)

Ketika Tuhan menciptakan dunia dan segala isinya, Alkitab mencatat “Allah melihat bahwa semuanya itu baik”. Semuanya baik artinya: tidak ada kejahatan, tidak ada cacat, semua sesuai dengan kekudusan dan keindahan rancangan Tuhan. Itulah dunia yang dijadikan Tuhan.

Dunia hari ini sama sekali berbeda dengan dunia awal yang dijadikan Tuhan karena dosa sudah merusaknya. Dosa merusak segalanya dalam dunia. Dan yang saya maksud segalanya adalah, harfiah, SEGALANYA!

Itu sebabnya Allah menjanjikan langit dan bumi yang baru. Suatu dunia yang baru, suatu dunia yang kembali sesuai dengan kekudusan dan keindahan rancangan Tuhan. Atau boleh kita katakan, suatu dunia surgawi.

Tetapi sebelum sampai ke sana, Allah berulang kali menerobos kehidupan dunia dengan memberikan model kehidupan surgawi. Kemah suci dibangun dengan model yang diperlihatkan Tuhan kepada Musa. Pola ibadah orang Israel dan segala elemennya di perintahkan langsung oleh Allah dengan detil. Melalui kehidupanNya, Yesus datang ke dalam dunia menunjukkan seperti apa model kehidupan surgawi. Dan bahkan Yesus mengajar supaya kerinduan kita adalah “jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga”. Apa yang terjadi di surga kita rindukan, bukan nanti tetapi sekarang, terjadi juga di bumi.

Pola ini bisa diringkas sebagai: Creation (Penciptaan)-Fall (Kejatuhan)-Redemption (Penebusan)-Consummation (Penyempurnaan). Pada waktu Creation segalanya sempurna. Pada waktu Fall segalanya menjadi rusak. Pada waktu Consummation segalanya akan menjadi baru yaitu di surga. Tetapi hari ini kita bukan hanya berada di tengah kondisi Fall tetapi juga ada Redemption dari Tuhan. Maka ada terobosan kehidupan surgawi di tengah dunia yang jatuh ini dan ada pengharapan pembaruan, bukan nanti, tetapi sekarang.

Pola yang sama bisa kita kenakan pada keluarga.

Keluarga adalah bagian dari dunia yang dijadikan Tuhan. Di dalam keluarga, hubungan suami dan istri adalah bentuk hubungan antar manusia yang paling intim dan mencerminkan hubungan Allah Tritunggal. Hubungan antara orang tua dan anak mencerminkan hubungan antara Allah dengan anak-anakNya, yang dididik dan dikasihiNya.

Keluarga juga adalah bagian dari dunia yang dirusak kemudian oleh dosa. Dan itu sebabnya kita melihat banyak kerusakan terjadi dalam keluarga. Untuk menyebut beberapa saja: suami istri saling melukai yang menyebabkan anak juga terluka, orang tua tidak peduli bahkan menyiksa anaknya dengan kata-kata dan tindakannya, mama selalu menuntut dan membandingkan anaknya dengan orang lain, papa tidak memberikan teladan moral, dan seterusnya, dan seterusnya. Keluarga kita dan semua keluarga di dunia sudah dirusak oleh dosa. Kalau tidak ada perubahan, kerusakan itu akan terus berputar menjadi makin besar dari generasi ke generasi.

Tetapi sama seperti elemen dunia yang lain, relasi dalam keluarga juga akan dijadikan baru oleh Tuhan.

Maka hari ini, bukan saja sebagai dorongan, tetapi seharusnya sebagai perintah: “Rindukanlah pembaruan itu!” Dan rindukanlah itu mulai terjadi sekarang juga. Kita memang belum mencapai Consummation, tetapi kita juga bukan hidup dalam kondisi Fall saja. Kita memiliki Redemption!

Kita bisa memulai pembaruan surgawi itu hari ini juga. Paling tidak, kitalah yang mulai menghadirkan pola relasi surgawi itu dalam keluarga kita. Gumulkanlah apa yang Tuhan mau kita kerjakan dalam keluarga kita. Bagaimana harus berkata-kata dan bersikap pada orang tua, suami/istri, anak kita? Bagaimana mendoakan dan mengasihi mereka? Bagaimana terang Tuhan yang ada dalam hati kita bisa bercahaya dalam kegelapan dan kerusakan karena dosa?

Keadaan mungkin tidak akan berubah karena kita belum sampai ke Consummation. Masalah yang kita hadapi dalam keluarga mungkin akan tetap sama atau bahkan bertambah berat. Tetapi doa yang kita panjatkan, kasih dan kebenaran yang memancar dari hidup kita, kuasa Redemption yang kita alami dalam Kristus, tidak akan membuat segalanya persis sama karena mulai ada pola relasi surgawi dalam keluarga kita.

Tuhan memberkati keluargamu!

Wednesday, June 27, 2007

Lukas 9:18-27

(Tulisan di bawah ini saya buat sebagai bahan saat teduh untuk Retreat GKY Green Ville "Invitation to A Journey" 21-23 Juni 2007)

Mengikut Yesus adalah sebuah pilihan hidup. Makin lama mengikut Yesus kita akan makin sadar hal itu.

Dalam percakapan dengan beberapa orang yang sedang bergumul untuk menjadi hamba Tuhan, saya sering mendengar bahwa masalah yang memberatkan mereka adalah "menjadi hamba Tuhan berarti tidak menjadi kaya dalam materi".

Ada dua hal yang sangat mengganjal bagi saya. Pertama, mengapa perlu bergumul berat untuk hal itu? Bukankah aneh mengikut Tuhan harus ditimbang dengan materi? Kedua, mengapa pergumulan ini sepertinya khas pergumulan ‘menjadi hamba Tuhan’? Bukankah Yesus memanggil SETIAP ORANG yang mau mengikut Dia untuk menyangkal diri dan memikul salib? Bukankah Yesus memanggil SETIAP ORANG yang mau mengikut Dia untuk membayar harga mengikut Dia sekalipun sampai kehilangan nyawa? Dan bukankah SETIAP ORANG itu berarti SEMUA!? Lalu mengapa hanya pergumulan menjadi hamba Tuhan yang identik dengan pergumulan untuk hidup sederhana, hidup kudus, menderita, taat kemanapun Tuhan suruh, sementara menjadi pengusaha, karyawan, profesional dan lain-lain tidak harus bergumul seperti demikian?

Tidak heran banyak orang Kristen yang merasa bisa sembarangan mengikut Yesus, kecuali menjadi hamba Tuhan. Dan banyak hamba Tuhan juga merasa bisa sembarangan mengikut Yesus karena sekedar sudah menjadi hamba Tuhan.

Mau tidak mau harus kita akui bahwa kita banyak dibesarkan dengan nilai-nilai dunia. Dan bahkan sampai saat ini, promosi nilai-nilai dunia itu terus membombardir kita:
“Hidup yang baik itu adalah kaya, mapan, terhormat”
“Bangga sekali kalau punya simbol-simbol kesuksesan seperti: mobil mewah, rumah mewah, gaya hidup glamour”

atau bahkan dalam pelayanan sekalipun:
“Dipuji orang, dibutuhkan, punya jabatan, itulah pelayanan yang diberkati”

Darimana kita belajar itu? Dari dunia! Maka sebenarnya bukan Firman Tuhan tetapi nilai-nilai dunia yang membentuk kita. Dan yang sangat menyedihkan, berapapun seringnya kita mendengar Firman Tuhan, nilai-nilai dunia itu terus kita simpan di tempat yang aman dalam hati kita. Kita lindungi itu. Kita tidak membiarkan bagian itu disentuh dan diubah oleh Tuhan. Kita mengatakan bahwa kita percaya kepada Tuhan, mengasihi Tuhan, ingin menyenangkan Tuhan, tapi dalam hati tetap mengatakan:
“Saya mau ini Tuhan”
“Aduh enaknya kalau begitu Tuhan”
“Jangan berikan itu Tuhan!”
“Jangan sampai saya kehilangan ini Tuhan”

Maka kapan sebetulnya kita sungguh mengikut Yesus? Itulah sebabnya banyak orang Kristen hidup tidak ada bedanya dengan orang yang bukan Kristen.

"Memiliki hidup dalam segala kelimpahannya" adalah janji Tuhan Yesus bagi mereka yang mengikuti Dia. Tetapi mengikut Yesus bukan hanya menjadi orang Kristen dan sekedar ‘lumayan’ dan ‘kadang-kadang’ taat. Mengikut Yesus adalah mengarahkan mata kepada Dia dan membutakan diri terhadap yang lain, mengarahkan telinga kepada suaraNya dan menulikan diri terhadap suara lain, dan itu kita lakukan setiap hari. Bukankah Dia adalah Tuhan, Mesias dari Allah, bagi kita?

Saya akan mengakhiri dengan sebuah doa yang saya cuplik dari doa Henry Nouwen:

Pilihan untuk mengikuti jalanMu harus kubuat setiap saat dalam hidupku. Aku harus memilih pikiran yang adalah pikiranMu, kata-kata yang adalah sabdaMu, tindakan-tindakan yang adalah karyaMu. Tidak ada tempat dan waktu tanpa pilihan.

Aku sungguh ingin mengikutiMu, tetapi juga mau mengikuti keinginan-keinginanku sendiri dan senang mendengarkan suara-suara yang berbicara mengenai kedudukan, keberhasilan, kehormatan, kesenangan, kekuasaan dan pengaruh. Bantulah aku, agar aku menjadi tuli terhadap suara-suara seperti itu dan semakin peka mendengarkan suaraMu yang memanggil aku…

Apakah itu juga adalah doa kita? Dengarlah kalimat Yesus: “Setiap orang yang mau mengikut AKu, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya”.

Saturday, June 16, 2007

Lukas 8:4-15


Tulisan di bawah ini saya buat sebagai bahan saat teduh untuk Retreat GKY Green Ville "Invitation to A Journey" 21-23 Juni 2007

Mungkin sudah bertahun-tahun kita menjadi orang Kristen. Entah sudah berapa banyak ayat Alkitab yang kita baca dan entah berapa ratus atau bahkan berapa ribu penjelasannya (khotbah) yang kita dengar. Tetapi seperti perumpamaan yang disampaikan Yesus, semua benih yang ditabur itu akan menjadi percuma kalau tidak jatuh pada tanah yang baik.

Kita sering mendengar orang mengatakan bahwa masalah paling utama bukanlah berapa banyak yang didengar tapi berapa banyak yang dilakukan. Saya setuju! Tetapi cara berpikir seperti ini juga seringkali membuat kita hanya menekankan ‘tindakan melakukan’ Firman Tuhan. Dan ini bisa berdampak serius.

Misalnya ketika kita membaca ‘kasih itu sabar, kasih itu murah hati…’. Kita akan berjuang untuk terlihat sabar sekalipun marah, dan berjuang untuk terlihat murah hati walaupun tidak rela. Lalu kita rasa kita sudah melakukan Firman Tuhan.

Demikian pula kita akan menghitung apakah kita sudah berdoa, ke gereja, pelayanan, memberikan persembahan, dll. Dan kalau kita sudah melakukannya, kita akan merasa puas, merasa sudah bertumbuh. Padahal kita tidak pernah bertumbuh.

Dalam hal ‘tindakan melakukan’, yang paling hebat mungkin adalah orang Farisi. Tetapi jangan lupa, mereka justru ditegur Yesus! Mereka tidak bertumbuh sekalipun melakukan semuanya. Mereka hanya memasang kuk yang tidak enak dan beban yang berat atas pundak mereka dan orang lain.

Seperti berbuah adalah keharusan, melakukan Firman adalah keharusan. Tetapi jangan lupa ada proses dari benih sampai menjadi buah: benih itu harus ‘masuk’ benar ke tanah, berakar perlahan ke bawah dan bertumbuh perlahan ke atas. Demikian pula ada proses dari ‘mendengar’ Firman ke ‘melakukan’ Firman.

Dengan menggunakan analogi yang sama, minimal ada 3 hal yang harus kita perhatikan:

Firman yang didengar itu harus ‘masuk’ benar ke dalam kita. Bagaimana caranya? Mungkin ilustrasi berikut dari Eugene Peterson bisa membantu. Seekor anjing yang mendapat tulang akan menggigitnya, mengunyahnya, menjilatnya dan kadang menggeram dengan puas. Dia menikmatinya dan tidak terburu-buru menghabiskannya. Yes 31:4 memakai gambaran yang sama: “Seperti seekor singa…menggeram untuk mempertahankan mangsanya”. Istilah menggeram di situ menggambarkan singa yang sedang menikmati mangsanya. Dan yang menarik adalah, istilah yang sama dipakai dalam Mzm 1 dan diterjemahkan ‘merenung’. “Berbahagialah orang" yang “kesukaannya ialah Taurat Tuhan dan merenungkannya siang dan malam”.

Bayangkan seperti seekor anjing yang begitu menikmati tulang, menggigit, mengunyah, menjilat, dan kadang menggeram dengan puas, atau seperti singa yang begitu menikmati mangsanya, demikianlah kita menikmati Firman Tuhan! Apakah itu yang kita alami waktu mendengar dan membaca Firman?
Kita harus membersihkan tanah itu dari batu dan semak duri. Ini sama sekali bukan pekerjaan yang gampang. Ada dosa, kekhawatiran, kekerasan hati, kepahitan, semua itu satu-persatu harus kita bawa kepada Tuhan untuk dibersihkan. Kita menyediakan tanah yang subur untuk benih itu bertumbuh.

Dan akhirnya, sabar membiarkan Tuhan bekerja. Tidak ada pertumbuhan yang bisa dipercepat. Satu-satunya yang bisa kita lakukan dengan lebih cepat adalah merusak pertumbuhan itu sendiri. Kita hanya membiarkan Tuhan bekerja dalam diri kita. Dan maksud saya adalah sungguh-sungguh MEMBIARKAN Tuhan bekerja. Jangan halangi dengan dosa, jangan halangi dengan ketidak taatan kita, jangan halangi dengan kemalasan kita!

Kita akan melihat buah itu keluar. Melakukan Firman Tuhan bukan lagi sebagai beban tetapi mengalir keluar dari hidup kita. Sebagaimana pohonnya sudah menjadi pohon yang baik, demikianlah buahnya akan baik.

Itu sebabnya Yesus mengatakan “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah kepadaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan”.

Wednesday, June 13, 2007

Menulis

Menulis bagi saya adalah salah satu disiplin rohani.

Setiap hari ada banyak peristiwa yang kita alami, hal-hal yang kita lihat dan kalimat-kalimat yang kita dengar. Kalau kita menerima semuanya secara biasa saja, maka peristiwa yang kita alami, hal-hal yang kita lihat dan kalimat-kalimat yang kita dengar itu, hanya akan menjadi bagian yang ‘lewat’ begitu saja dalam hidup kita.

Bagi kita yang mengenal Tuhan, gaya hidup seperti ini mungkin adalah gaya hidup yang skizofrenik. Sekalipun Firman Tuhan kita dengar dan pelajari tapi ketika berhadapan dengan berbagai hal dalam kehidupan, pikiran dan perasaan yang seharusnya sudah dipengaruhi Firman Tuhan itu tidak bekerja atau lebih tepatnya tidak diusahakan untuk bekerja.

Cara hidup seperti ini membuat kita tidak bertumbuh. Pikiran kita dan perasaan kita yang seharusnya makin tajam dibentuk oleh Firman, justru kita latih untuk tumpul dan apatis. Dan lebih buruk lagi, karena benteng pikiran dan perasaan kita menjadi tumpul, tanpa kita sadari banyak pengaruh dari luar masuk kepada kita.

Maka selalu bergumul adalah sesuatu yang sangat penting. Ketika kita melihat orang sakit yang bertanya “dimana Tuhan?”, apakah kita secara gampang langsung memberikan jawab “aduh orang ini kurang beriman” atau kita ikut bergumul dengan dia? Ketika kita mengalami peristiwa yang tidak enak dan kita marah, apakah kita hanya merasa “sudah seharusnya saya marah” atau bergumul “mengapa saya marah”? Ketika kita melihat berbagai peristiwa dalam gereja, apakah kita menganggapnya biasa saja, atau mengurut dada saja, atau kita jadi menggumuli kehendak Tuhan? Ketika kita mendengar kalimat-kalimat yang salah atau indah, apakah kita membandingkannya dengan Firman Tuhan?

Saya mencoba bergumul dengan peristiwa yang saya alami, hal-hal yang saya lihat, kalimat-kalimat yang saya dengar. Tidak selalu berhasil karena tidak selalu saya cukup peka dan cukup rajin untuk bergumul. Tetapi saya menemukan bahwa ternyata menulis itu mendorong saya untuk mengingat, mengevaluasi dan merenungkan semua itu dari kacamata Firman Tuhan.

Maka menulis adalah salah satu disiplin rohani untuk melatih pikiran dan perasaan kita bekerja dan bereaksi sesuai dengan Firman Tuhan.

Yuk, latihan menulis! Paling tidak bisa kita lakukan dengan menulis jurnal pribadi, yang isinya bukan hanya catatan kegiatan kita, juga bukan hanya luapan emosi kita, tetapi pergumulan mengerti Firman, pergumulan untuk hidup sesuai dengan Firman Tuhan, dan kesadaran akan anugrah Tuhan yang bekerja dalam hidup kita dan orang-orang di sekitar kita.