Tuesday, July 21, 2015

NIV (New International Version) Bible: Sesat? Pro LGBT?

Beberapa waktu ini di berbagai kelompok Kristen di Indonesia ramai dibicarakan tentang NIV Bible. Isu ini menjadi ramai karena NIV Bible adalah Alkitab bahasa Inggris yang paling banyak digunakan (mungkin termasuk di Indonesia).

Ada beberapa isu yang diangkat, tetapi dua yang paling besar adalah: Pertama, "ditemukan" banyak ayat yang hilang di dalam NIV. Pembandingnya adalah KJV (King James Version). Ada banyak ayat yang ada di dalam KJV dan Alkitab bahasa Indonesia, yang ternyata tidak ada di dalam NIV. Kedua, NIV diterbitkan oleh Zondervan yang dimiliki Harper Collins yang juga menerbitkan Satanic Bible dan The Joy of Gay Sex.

Awalnya saya enggan meresponi debat seperti ini karena sebenarnya isu ini, khususnya yang pertama, adalah isu yang kunoooo sekali. Meminjam istilah Larry Hurtado, itu adalah isu Zombie – sudah dibunuh tapi bangun lagi, dibunuh bangun lagi, dibunuh bangun lagi. Cape sekali meladeninya. Saya juga tahu bahwa di belakang munculnya isu ini adalah para “pemuja” KJV yang sangat ngotot. Tetapi, apa boleh buat, karena hebohnya isu ini, saya pikir ada baiknya memberi tanggapan singkat untuk menolong orang-orang Kristen yang jadi bingung karena ini.

Berikut ini adalah sedikit sejarah di balik Perjanjian Baru kita, khususnya KJV (King James Version).

Kita tahu bahwa kitab-kitab di dalam Perjanjian Baru ditulis di dalam bahasa Yunani. Tetapi, tidak ada satupun naskah asli hasil tulisan langsung para penulis pertama (Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Paulus, Petrus, Yakobus, dll) yang masih ada sampai sekarang. Semua mungkin sudah hancur karena pada waktu itu mereka menulis di atas dua macam material: Papirus (kertas yang dibuat dari pohon papirus) dan Perkamen (dari kulit hewan). Maka naskah Perjanjian Baru yang kita miliki adalah hasil salinan.

Orang-orang Kristen mula-mula menyalin hasil tulisan para penulis pertama itu dan menyebarkannya. Naskah itu kemudian disalin lagi dan disebarkan lagi. Demikian seterusnya. Maka kita menemukan banyak sekali naskah Perjanjian Baru tersebar di banyak sekali tempat!

Seiring dengan penyalinan demi penyalinan, sangat wajar terjadi human errors. Ada yang tidak disengaja, misalnya terlompat 1 baris atau terlompat 1 kata. Ada juga yang disengaja, misalnya seorang yang menyalin naskah untuk jemaatnya merasa tulisan sang rasul terlalu sulit untuk dimengerti, maka dia berpikir ada baiknya kalau sedikit dia tambahkan keterangan. Ada beberapa jenis human errors seperti ini yang terjadi. Darimana kita tahu? Dari membandingkannya dengan naskah-naskah lain. Para ahli teks mengerjakan ini (dengan cara yang astaganaga susahnya) dan mempertimbangkan setiap kemungkinan. Satu hal lagi yang perlu diketahui: Hampir semua naskah yang kita miliki tidak lengkap Matius-Wahyu, tetapi terpisah-pisah, ada yang 1 kitab saja, dan ada yang berisi beberapa kitab.

Ketika gereja semakin tersebar, dirasakan perlu adanya terjemahan Alkitab di dalam bahasa-bahasa lain. Salah satu terjemahan yang paling terkenal waktu itu adalah Vulgate (bahasa Latin).

Singkat cerita, pada abad ke 16, setelah penemuan mesin cetak, seorang bernama Erasmus memutuskan untuk menerbitkan Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani (waktu itu naskah yang dipakai secara luas adalah Vulgate - Bahasa latin). Tetapi, dia tidak bisa menemukan naskah kuno yang berisi lengkap seluruh Perjanjian Baru. Ditambah lagi waktu itu dia diburu waktu untuk menyelesaikan proyek penerbitan itu. Maka dia menggunakan dua naskah bahasa Yunani yang adalah salinan dari abad 12 dan tergolong inferior (kurang reliable), satu hanya berisi Injil dan satu lagi hanya berisi Kisah Para Rasul dan surat-surat. Erasmus membandingkan naskah itu dengan 2-3 naskah lain dan mengoreksinya sesuai pendapatnya sendiri. Untuk kitab Wahyu, dia hanya menemukan 1 naskah Yunani saja dari abad 12 yang, celakanya, halaman terakhirnya hilang (berisi 6 ayat). Maka untuk mengisi 6 ayat itu dan juga beberapa ayat lain di Perjanjian Baru yang Erasmus rasa kurang jelas, dia mengambil Vulgate (bahasa Latin) dan menerjemahkannya ulang ke bahasa Yunani! (Bayangkan, dulu orang terjemahkan naskah Yunani ke Latin (Vulgate), sekarang dia terjemahkan ulang dari Latin ke Yunani, seakan-akan ini naskah aslinya). Hasil akhir karya Erasmus adalah Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani yang sangat tidak reliable! Edisi hasil karya Erasmus ini disebut Textus Receptus (Received Text).

Belakangan, ada naskah-naskah lain yang ditemukan lagi oleh Erasmus. Maka dia membuat beberapa perbaikan pada Textus Receptus. Edisi terakhir Textus Receptus versi Erasmus diterbitkan pada tahun 1535. Tetapi, sampai edisi akhir itu, Erasmus hanya menggunakan beberapa naskah saja dan naskah tertua yang dia gunakan berasal dari abad 10 saja. Textus Receptus kemudian direvisi lagi oleh Robertus Stephanus (sampai 4 edisi) dan Theodore Beza (sampai 9 edisi). Setiap revisi berusaha memperbaiki kekurangan yang ada berdasarkan penemuan naskah-naskah lain.

Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani yang disebut Textus Receptus inilah yang digunakan untuk diterjemahkan ke bahasa Inggris menjadi Alkitab KJV. Sekalipun KJV yang sekarang kita miliki tidak diterjemahkan dari Textus Receptus edisi pertama, tetapi KJV pada dasarnya dibuat berdasarkan naskah Yunani yang kurang reliable karena relatif "muda". Harus diakui bahwa KJV adalah terjemahan bahasa Inggris yang sangat indah. Tetapi, dalam banyak ayat, dia tidak reliable. KJV ini juga mengalami beberapa kali revisi.

Kalau ada yang tertarik mempelajari mengenai ini, boleh membaca buku Bruce Metzger, The Text of the New Testament, 4th edition. 

Setelah Textus Receptus, ada ribuan naskah Yunani lain yang ditemukan yang jauh lebih tua dan jauh lebih reliable. Naskah-naskah itu dikumpulkan, diteliti, dibandingkan, dengan berbagai cara yang asataganaga susahnya. Kemudian para ahli merekonstruksi naskah Perjanjian Baru bahasa Yunani yang mendekati aslinya. Seorang ahli Perjanjian Baru berani mengatakan naskah hasil rekonstruksi modern ini bisa dikatakan 99% sama dengan naskah asli tulisan para penulis pertama. Perbedaannya, kalaupun ada, hanya di tempat-tempat yang tidak signifikan dan tidak akan mempengaruhi doktrin apapun. Sekarang ini, teks Perjanjian Baru bahasa Yunani yang standar diterima adalah Nestle-Aland Greek New Testament (sekarang edisi ke-28) atau juga disebut United Bible Societies Greek New Testament. Alkitab bahasa Inggris versi modern, termasuk NIV, diterjemahkan dari naskah hasil rekonstruksi ini.

Tentu setiap versi Alkitab akan menggunakan teks hasil revisi terakhir pada waktu ia diterbitkan. Para penterjemah KJV menggunakan teks Yunani hasil revisi terakhir yang tersedia waktu itu yaitu Textus Receptus. Para penterjemah NIV (dan juga versi Alkitab lainnya) juga menggunakan teks Yunani hasil revisi terakhir di zaman masing-masing. Singkat kata, KJV diterjemahkan dari Textus Receptus yang berisi naskah-naskah Yunani yang ratusan tahun lebih muda dari yang digunakan NIV. Artinya KJV mengumpulkan kesalahan penyalinan yang jauh lebih banyak. Sementara NIV diterjemahkan dari naskah Yunani hasil perbandingan ribuan naskah kuno dan adalah hasil karya ratusan orang selama puluhan tahun.

Sekarang saya bisa mulai menjawab mengenai ayat-ayat yang “hilang” dari NIV, seperti Mat 17:21, 18:11, 23:14, Mark 7:16, 9:44, 9:46, Luk 17:36, Yoh 5:4, dst. Ayat-ayat itu bukan hilang tetapi memang tidak ada di dalam naskah asli! Saya sederhanakan ceritanya menjadi begini: Textus Receptus menggunakan naskah Yunani dari abad ke-10 dan ke-12. Di dalam naskah-naskah itu, ditemukan ayat-ayat itu. Maka KJV yang diterjemahkan dari Textus Receptus memasukkan ayat-ayat itu. Tetapi, kemudian ditemukan naskah-naskah Yunani yang jauh lebih tua dan reliable yang ternyata tidak ada ayat-ayat itu! Maka terjemahan yang lebih modern seperti NIV tidak memasukkannya. Alkitab bahasa Indonesia, karena pertimbangan tertentu, memasukkan ayat-ayat itu tetapi diberi tanda kurung (walaupun tidak semua, karena pertimbangan yang saya tidak tahu). Beberapa versi Alkitab bahasa Inggris menempatkannya di catatan kaki. Apapun cara yang dipakai, maksudnya jelas, ayat-ayat itu ada pada beberapa naskah, tetapi tidak ada pada naskah-naskah Yunani yang lebih tua dan reliable.

Tuduhan lain yang juga disebutkan adalah hilangnya beberapa kata “penting” di dalam NIV. Saya sebutkan dua contoh saja: “only begotten” di Yohanes 1.14,18; 3.16,18 dan “sodomite” di Ulangan 23.17. Khusus untuk kata “sodomite,” dikaitkan dengan Dr. Marten Woudstra yang dulu menjadi ketua komite penerjemahan Perjanjian Lama dari NIV yang dituduh adalah seorang gay.

Frase “only begotten” dari “monogenes” (Yunani) diterjemahkan oleh NIV menjadi “one and only”. Permisi tanya, salahnya dimana?? Setiap terjemahan pasti bergumul bagaimana menerjemahkan dengan setia, artinya tidak merubah arti tapi bisa dimengerti dengan jelas dan tidak disalah mengerti oleh pembaca modern. That is translation! Tidak salah monogenes diterjemahkan "one and only". Istilah “begotten” dalam KJV juga tidak salah (Catatan: istilah ini justru lebih mudah disalah mengerti seakan Yesus dicipta oleh Allah - dan ini yang dipakai oleh Saksi Yehuwa).

Mengenai kata “sodomite” dalam KJV di Ulangan 23.17, untuk jelasnya bisa dibandingkan dengan terjemahan lain:

There shall be no whore of the daughters of Israel, nor a sodomite of the sons of Israel. (KJV)

None of the daughters of Israel shall be a cult prostitute, and none of the sons of Israel shall be a cult prostitute. (ESV)

Di antara anak-anak perempuan Israel janganlah ada pelacur bakti, dan di antara anak-anak lelaki Israel janganlah ada semburit bakti. (LAI)

No Israelite man or woman is to become a shrine prostitute. (NIV)

Di zaman itu di kuil-kuil penyembahan berhala ada pelacur-pelacur, pria dan wanita, yang melayani orang yang datang. Orang-orang itu menyembah berhala melalui berhubungan seks dengan pelacur-pelacur itu. Istilah ini yang muncul di dalam teks bahasa Ibrani. Maka ESV memperjelasnya dengan istilah “cult prostitute” untuk pria dan wanita. Alkitab bahasa Indonesia menggunakan istilah “pelacur bakti” untuk wanita dan “semburit bakti” untuk pria. NIV menggunakan istilah “shrine prostitute” untuk pria dan wanita. Kalau dibandingkan dengan teks bahasa Ibrani, justru KJV yang salah. Terlepas dari benar atau tidaknya tuduhan terhadap Dr. Marten Woudstra, saya tidak melihat hubungannya dengan hilangnya kata “sodomite” di dalam NIV.

Terakhir, mengenai Zondervan yang dimiliki oleh Harper Collins. Karena Harper Collins juga menerbitkan Satanic Bible dan The Joy of Gay Sex, maka NIV dituduh juga mendukung yang sama. Ini logika yang sangat aneh.

Pada tahun 1987, perusahaan News Corporation milik konglomerat Rupert Murdoch membeli Harper & Row (berdiri tahun 1817). Tahun 1990, mereka membeli William Collins & Sons (berdiri tahun 1819). Gabungan dua perusahaan itu membuat nama divisi penerbitan di bawah News Corporation itu menjadi Harper Collins. Zondervan sendiri dibeli pada tahun 1988. Harper Collins adalah raksasa dunia penerbitan dengan banyak sekali “anak perusahaan” - berbagai penerbit yang berada di bawahnya. Salah satu anak perusahaan di bawah Harper Collins adalah Avon yang menerbitkan Satanic Bible. Anak perusahaan lainnya adalah Harper Resource yang menerbitkan The Joy of Gay Sex. Seberapa besar pengaruh CEO Avon dan CEO Harper Resource terhadap CEO Zondervan? Kita tidak tahu. Mereka sama-sama anak perusahaan di bawah Harper Collins. Masing-masing penerbit di bawah Harper Collins mungkin saja mandiri, selama menghasilkan keuntungan, di bawah payung perusahaan konglomerat News Corporation.

Yang pasti, proyek penerjemahan NIV dimulai tahun 1965 dan diterbitkan pertama kali tahun 1978. Versi yang populer digunakan adalah hasil revisi tahun 1984. NIV kemudian direvisi menjadi TNIV yang terbit tahun 2005. Pada tahun 2011, muncul edisi revisi lagi yang menggantikan semua edisi yang terdahulu.

Apakah NIV Bible (tahun 1984) yang sangat populer itu pro LGBT karena Zondervan dimiliki oleh Harper Collins? Padahal Zondervan baru dibeli oleh Harper Collins di tahun 1988!

Apakah NIV edisi 2011 pro LGBT seperti yang dituduhkan? Saya bahkan bingung darimana asalnya tuduhan ini! TNIV (2005) ditolak oleh sebagian kalangan Injili karena mengganti beberapa istilah menjadi gender-inclusive. Misalnya “God created man” menjadi “God created human beings” walaupun istilah Allah sebagai “Father” tetap tidak diganti. Perubahan ini bukan atas dorongan kaum LGBT, tetapi kaum feminis yang mengeluh bahwa terjemahan Alkitab terlalu patriarkis. Maka di ayat-ayat yang artinya memang bukan "pria saja" tetapi "pria dan wanita", NIV merubah terjemahannya. Versi revisi 2011 sudah mempertimbangkan berbagai masukan lagi dan, walaupun tetap mengalami penolakan sebagian orang, dipuji oleh banyak kalangan.

Perlu diketahui bahwa teks NIV bukan dimiliki oleh Zondervan tetapi oleh Biblica (dulu: International Bible Society). Zondervan hanya diberikan lisensi oleh Biblica untuk menjadi distributor NIV Bible di USA. Untuk di UK, Biblica memberikan lisensi kepada Hodder & Stoughton.

Kembali ke tuduhannya, apakah karena Zondervan (distributor NIV di USA) dimiliki oleh Harper Collins yang juga memiliki Avon (yang menerbitkan Satanic Bible) dan Harper Resource (yang menerbitkan The Joy of Gay Sex), maka NIV pro LGBT dan juga satanic? Saya hanya bisa mengelus dada :-( Bukan karena saya ingin membela Zondervan, apalagi Harper Collins, tetapi tuduhan itu tidak berdasar dan tidak masuk akal sama sekali.

Saya juga tidak mengatakan NIV Bible adalah terjemahan yang sempurna! Tidak! Tidak ada terjemahan yang sempurna. Semua pasti ada kekurangan di sana sini. Tetapi, menuduh bahwa NIV sengaja menghilangkan ayat tertentu atau kata tertentu karena sesat, pro LGBT, atau satanic, hanya bisa dimunculkan oleh orang-orang aneh – dalam hal ini para “pemuja” KJV.

Committee on Bible Translation (CBT) yang bertanggung jawab untuk teks NIV Bible berisi orang-orang Injili yang sangat committed kepada Alkitab sebagai Firman Tuhan. Silakan cek nama-nama mereka.


Catatan akhir:

Sekalian membahas isu ini, belakangan ada berita muncul Alkitab kaum LGBT: Queen James Bible. Dari apa yang saya baca, Alkitab ini tidak ada bedanya dengan KJV, hanya ada 8 ayat yang diganti supaya lebih LGBT -friendly. Tidak ada dasar sama sekali untuk penggantian ayat-ayat itu selain untuk mencocokkan dengan agenda si penerbit. Alkitab ini diterbitkan oleh Queen James – tidak jelas siapa. Maka anggap saja ini hasil karya orang iseng atau orang aneh, that’s it.

Saturday, July 11, 2015

Jesus Loves You

Kemarin malam saya teringat sebuah reffrain lagu dalam bahasa Mandarin.  Kata-katanya sangat menyentuh saya:

Yesu ai ni (Yesus mencintaimu)
Yesu teng ni (Yesus menyayangimu)
Yesu neng zao yi ge quan xin de ni (Yesus mampu menciptakan dirimu yang seluruhnya baru)

Setiap kali saya menyanyikan kalimat yang kedua “Yesu teng ni” saya terharu...

Kata “teng” (dibaca: theng – “e” nya seperti dalam “sebab”) dalam bahasa Mandarin punya 2 arti: Pertama adalah “kesakitan” (ache, have a pain). Kedua adalah “sayang” (love dearly, be fond of, dote on), maka bukan sayang biasa tapi sayang banget, suka banget, demen banget.

Tidak bisa tidak, setiap kali mengatakan “Yesu teng ni” saya membayangkan Yesus begitu sayang, begitu suka, begitu demen, banget banget... sampai “kesakitan” saking sayangnya kepada kita. Sayang yang sampai sakit.

Cepat-cepat saya cari di youtube dan mendengarkannya sambil meresapi kata-katanya. Lirik lagunya seperti ini (saya terjemahkan bebas):

Engkau berkata hari mendung mewakili perasaanmu
Hari hujan lebih lagi mencerminkan reaksimu atas kehidupan
Engkau bilang setiap hari kehidupan sama saja datar
Tidak ada sedikitpun keyakinan akan masa depan
Kawan terkasih, pernahkah engkau memperhatikan bintang yang memenuhi langit
Berharap ada seseorang yang mampu mengerti hatimu
Mampu mencintaimu, memperbarui kekuatanmu

Yesus mampu menjadikan semuanya baru
Yesus mampu mengerti perasaanmu
Yesus mampu mengubah (transformasi) masa lalumu
Yesus mencintaimu
Yesus menyayangimu
Yesus mampu menciptakan dirimu yang seluruhnya baru

Coba baca lagi!

Engkau melihat hidup sangat suram, mendung, hujan, datar, tidak ada keyakinan. Engkau merenung, bertanya-tanya "darimanakah akan datang pertolonganku?" (Mazmur 121:1).

Bolehkah saya berkata seperti lagu ini?

Kawan terkasih... Yesus mengerti perasaanmu.
Yesus mampu mengubah semuanya.
Dia mencintaimu.
Dia menyayangimu banget banget... sampai sakit!
Yesus mampu menciptakan dirimu yang baru, bukan tanggung-tanggung tapi SELURUHNYA baru!

Yesu ai ni!
Yesu teng ni!


Ini link lagunya di youtube, coba dengarkan sampai selesai:
https://www.youtube.com/watch?v=lgzsjo-ZML4

Thursday, July 02, 2015

Memasuki "Second-Half" Tahun 2015

Saya ingat di akhir tahun 2014, saya berkhotbah di GKY Green Ville dari kisah Daud dan Goliat.
Waktu itu saya mengajak jemaat menatap ke depan, ke tahun 2015, bersama dengan seluruh Goliat-nya di sana. Menatapnya, menghadapinya dan memenangkannya bersama dengan Tuhan.

Sekarang setengah tahun 2015 sudah berlalu. Saya merenungkan apa yang saya pribadi alami dan saya sadar bahwa selama setengah tahun ini saya sendiri sudah bertemu dengan  Goliat, bukan 1, bukan 2, tetapi banyak. Saya pun ngos-ngosan dibuatnya. Maka saya merenungkan kembali kisah Daud dan Goliat dan Firman Tuhan kembali berbicara kepada saya.

Saya yakin selama setengah tahun ini, bukan hanya saya tetapi banyak dari kita yang sudah kelabakan menghadapi Goliat demi Goliat. Itu sebabnya, minggu ini di dalam kebaktian GKY Singapore, di minggu pertama di paruhan kedua tahun 2015, saya akan kembali berkhotbah dari kisah Daud dan Goliat. Saya berdoa supaya Tuhan sekali lagi mengajar saya dan juga jemaat.

Pagi ini di dalam saat teduh pribadi, saya begitu ingin mendapat kekuatan dari Tuhan, saya ingin merasakan Tuhan menopang saya, dan tiba-tiba saya ingin menyanyi. Saat itulah saya teringat akan lagu ini:

Tuhan, hanya kepadaMu,
ku dapat s’lalu berharap
Kau takkan pernah membiarkan
ku bergumul sendirian

Di dalam kelemahanku,
kuasaMu jadi sempurna
Kau takkan pernah tinggal diam
untuk memberi pertolongan

Reff:
Tuhanku berkuasa untuk melakukan perkara yang besar

Dia ajaib bagiku
Tuhanku berkuasa untuk memberikan kemenangan besar
di dalam hidupku

Maka saya pun berkata: "Amin!"

Wednesday, June 17, 2015

"Orang Dalam" - For My Wife



Salah satu sindrom yang sangat manusiawi di dalam relasi keluarga adalah sindrom “orang dalam”.

Kita bisa sungkan untuk marah kepada teman tetapi tidak sungkan marah kepada orang tua kita. Kita bisa sungkan untuk minta tolong kepada teman tetapi dengan seenaknya menyuruh suami atau istri kita. Kenapa bisa begitu? Karena mereka “orang dalam”! Kita bisa seenaknya, sebebas-bebasnya, boleh marah, boleh tidak senang, boleh nyuruh, tanpa merasa tidak enak, karena mereka “orang dalam”.

Di satu sisi, kita butuh perasaan adanya “orang dalam”. Itu menenangkan buat kita, nyaman, dan membuat kita diterima apa adanya. Di sisi lain, perasaan “orang dalam” ini kadang kebablasan dan itu membuat kita tidak lagi menghargai mereka sebagaimana seharusnya bahkan tidak lagi bersyukur untuk keberadaan mereka. Kebablasan seperti ini bukan saja merusak relasi tetapi juga kerohanian kita. Seriously!
 
Saya sudah menikah dengan Yudith lebih dari 14 tahun. Sejujurnya, saya pun mengalami sindrom “orang dalam” itu terhadap dia. Betapapun saya sering mengucapkan “terima kasih” kepadanya karena memasak, mencuci piring, menyeterika, menemani saya pergi, merawat saya ketika sakit, dan berbagai hal lainnya, tetap saja banyak hal sebetulnya saya “take it for granted” karena dia adalah “orang dalam” bagi saya. Padahal kalau saya menghitung apa yang dia lakukan untuk saya dan bagaimana Tuhan memakai dia untuk saya, sungguh terlalu banyak.

Saya menikah dengan Yudith tepat ketika akan memasuki masa praktek pelayanan. Artinya sepanjang usia pernikahan kami, dia sudah mendampingi saya menjadi hamba Tuhan penuh waktu.

Dia mendampingi saya melayani sebagai mahasiswa praktek di sebuah gereja di Jakarta. Waktu itu kami masih sama-sama polos dan bingung, hanya belajar setia saja melayani. Kemudian dia ikut dengan saya melayani di Beijing. Selama di sana kami bersama-sama menanggung banyak kesulitan, ketakutan, dan kesepian. Setelah itu dia ikut bersama saya kembali lagi melayani di Jakarta, kali ini menjadi pembimbing pemuda dan remaja. Kami bertumbuh dan mensyukuri begitu banyak berkat Tuhan di sana. Walaupun sebagai hamba Tuhan, kelihatannya saya yang “tampil”, tapi banyak pelayanan yang sebetulnya tidak mampu saya kerjakan tanpa dia. Lalu dia ikut saya lagi pergi ke Singapore mengerjakan an impossible task – studi M.Th sambil menjadi gembala. Maka kali itu dia harus mengerjakan begitu banyak tugas pelayanan (bahkan lebih banyak dari saya) sementara suaminya sibuk studi. Dan sekarang, di tengah begitu banyak tekanan yang saya hadapi, dia terus mendampingi saya.

Saya bahkan makin sadar bahwa saya dikenal sebagaimana adanya saya sekarang oleh orang-orang adalah karena dia. Kami bergaul dengan jemaat bersama. Kami mengundang orang makan di rumah bersama. Kami punya anak rohani bersama. Tanpa dia, orang akan mengenal saya sebagai orang yang berbeda dari hari ini. Maka Jeffrey yang sekarang adalah “Jeffrey-karena-Yudith” dan “Jeffrey-dan-Yudith”.

Saya juga mencoba mengingat ke belakang bagaimana Tuhan membentuk saya. Tuhan lah yang membentuk hidup saya, bukan siapapun, ya dan amin. Tapi Tuhan banyak mengerjakan itu melalui pernikahan kami. Gesekan demi gesekan mengasah kami. Di dalam melalui berbagai pergumulan dan kesulitan, kami saling menguatkan. Di dalam kelemahan, kami saling mengingatkan akan Tuhan. Kami juga saling berbagi apa yang Tuhan ajarkan kepada kami masing-masing. Waktu-waktu makan bersama sering menjadi waktu kami bersyukur kepada Tuhan dan berbagi beban dan berkat Tuhan. Kami berdoa dan menangis bersama juga tertawa dan sukacita bersama. Saya kehabisan kata-kata untuk menceritakan semuanya.

Maka apa yang bisa saya katakan sekarang?

Beberapa waktu lalu di internet beredar sebuah video, tentang pasangan muda (Travis dan Kristie) yang didandani oleh make-up artists dengan membayangkan seperti apa penampilan mereka ketika berusia 50an, 70an dan 90an. Pada waktu mereka saling memandang dengan wajah “usia 90an,” mereka menjadi emosional… wajah dan penampilan mereka sudah sangat tua. Lalu mereka ditanya, apa kira-kira kata terakhir yang akan kalian ucapkan kepada satu sama lain? Kristie menjawab: “I would want to make sure he knew how much I loved him and how important he has been to me.” Dan Travis kemudian berkata kepada Kristie, “You made me a better person. There are so many things I couldn’t be without you and will never be without you.” 
 
Video itu mendorong saya untuk memikirkan juga mengenai pernikahan saya dengan Yudith. Waktu video itu dibuat, Travis dan Kristie belum menikah dan mereka mengucapkan kalimat itu sambil membayangkan ketika mereka sudah berusia 90an dan sedang mengucapkan kata-kata terakhir mereka. Saya dan Yudith berbeda dengan mereka. Sekarang, kami sudah saling mengenal selama 23 tahun dan lebih dari 14 tahun di antaranya sebagai suami istri.

Maka setelah semua yang saya lalui bersama Yudith, setelah semua yang Tuhan kerjakan di dalam dan melalui pernikahan kami, saya tidak perlu tunggu “kata terakhir yang akan saya ucapkan,” saya in a far better position untuk bisa berkata kepada Yudith dengan tulus, “You made me a better person. There are so many things I couldn’t be without you and will never be without you.” I know that. Thank you!

Happy birthday my wife! :-)

Monday, June 15, 2015

Chosen by God - R.C. Sproul


R.C. Sproul adalah salah satu teolog yang sangat membentuk pemikiran saya, khususnya mengenai Calvinisme, waktu saya masih mahasiswa di Trisakti. Dua buku teologi pertama yang saya baca habis, cover to cover, keduanya adalah tulisan dia. Buku ini adalah salah satunya. Waktu itu saya membaca versi terjemahan bahasa Indonesia-nya: Kaum Pilihan Allah (terbitan SAAT- Malang).
 
Saya menemukan review singkat tentang buku ini dari Tim Challies di sini, yang saya kira sangat tepat mewakili apa yang juga ingin saya katakan. Maka daripada menulis lagi, saya cuplik dan terjemahkan sebagian dari review yang dia tulis :-)
Sejak diterbitkan pada tahun 1986, Chosen by God (Kaum Pilihan Allah) sudah menjadi buku klasik pengantar kepada Calvinisme. Buku ini jelas adalah salah satu pengantar terbaik tentang Calvinisme yang tersedia saat ini. R.C. Sproul, adalah seorang teolog dengan karunia membuat hal yang kompleks menjadi sederhana. Dia memulai dengan introduksi kepada kedaulatan Allah dan kemudian menjelaskan kehendak bebas (free will) sebelum kemudian membahas mengenai 5 Pokok Calvinisme (5 points of Calvinism) yang sering disingkat sebagai TULIP. Dia mengubah beberapa istilahnya sehingga singkatannya menjadi RULEP, dan dia memberikan alasan yang baik untuk itu. Sproul juga membahas mengenai double predestination (Info: Tuhan menetapkan sebagian orang untuk diselamatkan dan juga menetapkan sebagian orang untuk binasa – double) dan jaminan keselamatan. Buku ini ditutup dengan bagian “Pertanyaan dan Keberatan” yang menjawab berbagai keberatan yang umum terhadap Calvinisme, seperti “Apakah predestinasi berarti fatalisme?” dan “Apa kaitan predestinasi dengan tugas penginjilan?”
Buku ini sangat enak dibaca, mudah dicerna, karena keahlian Sproul menyederhanakan topik yang sulit. Tetapi buku ini juga mendalam. Dia mengajak kita berpikir, bolak-balik, menantang kita dengan berbagai argumen yang sangat kuat dari sudut pandang Calvinisme. Seingat saya, waktu itu, paling sedikit 3X saya membaca buku ini!

Sebagai gambaran, berikut adalah daftar Bab dalam buku ini:

1. The Struggle
2. Predestination and the Sovereignty of God
3. Predestination and Free Will
4. Adam’s Fall and Mine
5. Spiritual Death and Spiritual Life: Rebirth and Faith
6. Foreknowledge and Predestination
7. Double, Double, Toil and Trouble: Is Predestination Double?
8. Can We Know That We Are Saved?
9. Questions and Objections Concerning Predestination

Kalau anda ingin mengerti tentang keselamatan, tentang pemilihan Allah (predestinasi), tentang kedaulatan Allah dan kehendak bebas manusia, saya sangat merekomendasikan buku ini.

Kalau anda tidak ingin mengerti semua itu, saya juga sangat merekomendasikan buku ini. Karena kalau anda tidak tertarik dengan semua itu, dengan sesuatu yang sangat penting bagi iman Kristen, justru anda lebih perlu lagi membaca buku ini.

Highly recommended!

Thursday, June 11, 2015

Bangga Akan Dosa

Dulu saya ini orang yang sangat jahat sampai akhirnya suatu hari saya dengar khotbah dan jadi Kristen. Puji Tuhan, saya bertobat dan kenal Tuhan. Sekarang saya melayani di gereja. Dulu itu saya bukan cuma suka mabuk-mabukan, judi. mencuri, tapi saya bahkan juga berani merampok dan membunuh. Tidak ada orang yang berani dengan saya. Wah.. kalau pas minum, saya ini kuat sekali, minum berbotol-botol brandy juga tidak mabuk. Kalau pas judi, saya hampir selalu menang. Uang saya banyak dari hasil judi. Kalau diterusin, bisa kaya sekali saya ini. Terus kalau berkelahi, lawan 5 orang sekaligus juga saya tidak takut. Orang mau tusuk saya, nggak mempan, saya terlalu jago, dia yang saya tusuk duluan. Kalau saya merampok, saya punya ilmu yang bikin orang ketakutan dan cepet sekali serahkan semua barang. Kalau saya nggak jadi orang Kristen, mungkin sekarang saya sudah terkenal banget di dunia kejahatan…
Ok, mungkin cerita imajiner di atas agak ekstrim. Tapi pernahkah mendengar kesaksian yang kira-
kira nadanya mirip seperti di atas?

Sebuah kesaksian mengenai pertobatan dan anugrah keselamatan yang Tuhan berikan, tetapi yang isinya jauh lebih banyak tentang betapa “hebat”nya dia di dalam berbuat dosa. Tidak ada penyesalan di wajahnya ketika menceritakan dosanya. Sebaliknya dia cenderung bangga akan apa yang pernah dia perbuat.

Mendengar kesaksian seperti demikian membuat saya jadi bertanya-tanya: Apakah dia sungguh bersyukur untuk keselamatannya? Apakah dia sungguh menangis, memukul diri dan menyesali dosa-dosanya? Apakah dia tersentuh oleh kasih Yesus yang menderita karena dosa-dosanya? Apakah dia bangga akan salib Yesus? Jika “ya”, lalu mengapa dia begitu bangga akan dosa?

Di dalam percakapan sehari-hari, saya sering menjumpai “kesaksian” yang serupa – tentu tidak se-ekstrim di atas. Tapi sungguhan, ada banyak orang “Kristen” (apakah benar dia orang Kristen, saya tidak tahu) yang bangga akan dosanya di masa lalu. Dia bangga bahwa dulu dia berangasan, kasar, galak, sadis. Dia bangga bahwa dulu dia jagoan berantem. Dia bangga bahwa dulu dia pemabuk. Dia bangga bahwa dulu dia sudah “mencicipi” berbagai dosa seksual yang menjijikkan – pornografi, free sex, pelacuran, dan sebagainya.

Yang selalu paling jelas adalah mimik wajahnya waktu menceritakan semua itu sama sekali tidak menunjukkan penyesalan, malu, “memukul diri,” tetapi seakan berkata: “Semua itu gua udah pernah… apa sih yang gua nggak tau… orang mau sombong pernah gini gitu? alaahh… gua juga pernah… kalo dulu ya, gua nih…”

Maka saya bertanya-tanya: Apakah sikap seperti itu adalah sikap Kristen? Atau lebih jauh lagi, mungkinkah orang Kristen bersikap seperti itu?

Mungkinkah sikap seperti itu sebenarnya berakar pada dosa “kesombongan” – pride? Dia ingin membanggakan DIRI-nya. Seperti anak kecil yang ingin tampil hebat dan dilihat orang. Dia tidak bisa membanggakan kerendahan hati dan tidak mungkin membanggakan penyesalan! Maka apa yang mau dibanggakan? Dosa.

Atau mungkinkah sikap seperti ini menunjukkan dosa yang mulai mencengkeram lagi hatinya? Seperti seorang pelacur yang sudah ditebus, dikeluarkan dari perbudakan, dilimpahi dengan kasih sayang yang suci, tetapi sekarang mulai main mata lagi dengan pelacuran! Dia mengingat-ingat kembali betapa enaknya hidup melacur. Dia mulai tidak bangga dengan penebusan, pembebasan dan kasih sayang suci yang dinikmatinya. Dia tidak berpikir betapa memalukan dan menjijikkan “pelacuran” yang dia banggakan itu di mata Tuhan. Dosa sudah mengintai, mengajaknya bermain mata dan dia mulai tertarik lagi.

Atau mungkinkah lebih serius lagi, dia memang tidak mengenal Allah!? Dia tidak mengenal Allah dengan segala keindahan-Nya, kesucian-Nya, dan kecemburuan-Nya. Oh, dia mungkin ke gereja, pelayanan, tetapi dia tidak mengenal Allah. Itu sebabnya dia tidak menganggap dosa sebagai sampah yang memalukan, tetapi malah menganggapnya sebagai permata yang bisa dibanggakan. Apa yang dibenci Allah, disukai oleh dia. Bukankah itu tanda dia tidak mengenal Allah?

Saya tidak tahu yang mana.

Tetapi, setiap kali seseorang mulai membanggakan dosa, mari kita tidak kagum tapi waspada. Mari kita melihatnya sebagai tanda yang sangat jelas bahwa dosa sedang bekerja di dalam diri orang itu. Dan mari kita bertanya: Apakah dia mengenal Allah?

Kalau kita sendiri lah yang suka membanggakan dosa… setiap kali kita sadar, bertobatlah! Karena “dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau” (Kej 4:7).

Tuesday, June 02, 2015

Pemudi Kekasih Yesus

(Dipersembahkan bagi para pemudi Kristen)

Aku pernah mendengar sebuah khotbah yang terngiang-ngiang di telingaku sampai sekarang:
“Pemudi Kristen adalah pemudi kekasih Yesus!”

Sebagai seorang pemudi Kristen, aku pun tersentak. Betapa benarnya itu! Betapa bahagianya para pemudi Kristen karena dikasihi oleh Yesus! Tetapi, berkali-kali aku tertunduk sedih, sakit hati dan marah, ketika menyadari bahwa seringkali kami sendiri, para kekasih Yesus, yang membiarkan diri dirusak.

Aku dulu bertemu dengan dia di gereja. Seorang pemuda yang baik, rajin ke gereja dan terlibat pelayanan. Awalnya biasa saja bagiku, tetapi perhatiannya, kelembutannya, humornya, makin lama makin memikat hatiku. Akhirnya aku berkata "ya" menyambut cintanya. Awalnya pacaran kami sangat sehat. Kami bahkan banyak bicara tentang pelayanan. Tetapi kadang kami pergi berdua dan di saat sepi dia suka membelaiku. Jujur aku sangat menikmatinya. Lama kelamaan sentuhan, belaian, ciuman, menjadi semakin agresif. Hubungan kami makin lama makin jauh dan kami pun jatuh dalam dosa seksual yang paling dalam. Aku menangis dan dia pun meminta maaf. Kami berdoa dan meminta ampun ke Tuhan. Perasaanku tidak karuan setiap kali mengingat hal itu. Tapi entah mengapa, kami mengulanginya lagi.. dan lagi… Aku benar-benar ingin berhenti. Aku jijik dengan diriku. Aku marah dengan dia. Tapi aku tidak berani memutuskan hubungan itu. Hubungan kami dengan Tuhan pun semakin menjauh. Di hadapan banyak orang, kami adalah pasangan yang baik. Tetapi, itu justru membuatku semakin tertekan karena aku tahu, kami sangat munafik.

Sekian tahun aku bersama dengannya dan akhirnya… kami pun menikah. Tidak ada yang tahu kepedihan yang kurasakan pada waktu mengenakan cadar tanda kesucian, mendengar dia mengucapkan janji nikah yang sulit untuk kupercaya, dan menerima berkat dalam pernikahan kudus. Seperti apa hidupku nanti?

Itu sebabnya sangat sakit hatiku ketika baru-baru ini aku mendengar seorang pemudi kekasih Yesus bercerita:
“Dia diperkenalkan kepadaku oleh seorang teman. Dia terlihat dewasa dan bertanggung jawab. Dari perkenalan, lalu mulai sering chatting, pergi bersama teman, dan akhirnya kami pacaran. Sama seperti semua hubungan lainnya, setelah beberapa lama berpacaran, masalah di antara kami mulai muncul. Sebenarnya hampir semua hanyalah masalah kecil, kesalahpahaman, dan yah… seputar itu lah. Tapi yang membuatku terkejut adalah ketika marah, dia sering mengucapkan kata-kata kasar kepadaku. Waktu aku menegurnya, kadang dia meminta maaf, tetapi lebih sering dia membela diri. Aku tidak bisa mengerti emosinya yang meledak-ledak dan mudah marah. Belakangan ini, ternyata bukan saja mulut tapi tangan juga ikut berbicara. Sakit hatiku lebih sakit dari bekas tamparannya. Tetapi dia meminta maaf, dengan bersujud dia mohon ampun kepadaku dan berjanji tidak akan mengulanginya. Aku percaya kepadanya, apalagi kemudian dia berubah menjadi sangat baik kepadaku. Tapi ternyata peristiwa itu bukan yang pertama kali, bahkan bukan yang kedua kali… Tapi aku masih percaya dia akan berubah nanti walaupun entah kapan.”
Oh.. ingin aku berteriak kepadanya untuk memutuskan hubungan itu dan tidak membiarkan dirinya diperlakukan seperti itu.

Seakan masih belum cukup, aku mendengar juga seorang pemudi kekasih Yesus lainnya bercerita:
“Aku baru baru saja putus dengan pacarku. Sakit hati, kesedihan, membuat kesepian makin menjadi. Lalu datanglah seorang pemuda ke hidupku. Dia terlihat percaya diri, pandai bicara, dan menarik. Awalnya hanya chatting, lama kelamaan… dia makin terlihat menarik. Ah, perasaan ini melambung setiap kali dia memberi perhatian. Kesepianku tidak lagi terasa. Maka tanpa pikir panjang, dengan senang hati kuterima cintanya. Beberapa minggu berpacaran, aku terkejut ketika dia mencium bibirku. Rasanya aneh, terlalu cepat, dan ah… tidak benar. Tapi dia terlihat tenang dan yakin. Aku pun membiarkannya. Tetapi, aku lebih kaget lagi ketika tangannya semakin berani menggerayangi tubuhku. Aku tahu itu salah, tapi aku tidak berani menolak. Kami memang tidak meneruskannya lebih jauh tetapi hampir setiap kali berduaan dia akan melakukannya. Aku merasa direndahkan dan dilecehkan. Aku ingin dia berhenti melakukannya tapi aku juga menikmatinya dan itu makin membuatku merasa bersalah. Di sisi lain, aku takut dia marah lalu memutuskan hubungan ini dan aku akan merasa kesepian lagi. Apa yang harus aku lakukan?”
Cerita-cerita seperti ini yang dituturkan beberapa pemudi kekasih Yesus, dan juga dialami olehku, ya… cerita-cerita seperti inilah yang membuat aku Yesus sedih dan marah. Ingin rasanya aku berteriak kepada mereka “Jangan bodoh! Jangan hancurkan hidupmu!”

Aku ingat lagi kalimat-kalimat di dalam khotbah pendeta itu:
Wahai pemudi kekasih Yesus, tidakkah kamu mengerti betapa Yesus mengasihimu? Mengapa kamu biarkan seorang pria menghinamu, merusakmu, mengambil keuntungan darimu?
Tidak pernahkah kamu baca di Alkitab, perintah Tuhan kepada para suami adalah: “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.” (Efesus 5:25-27)
Yesus begitu mengasihimu, sehingga DIA MATI BAGIMU, demi untuk MENGUDUSKANMU dan menjadikanmu TIDAK BERCELA! Maka demikianlah Ia memerintahkan para suami untuk memperlakukanmu dan demikianlah juga kamu harus memilih dan menilai pria yang pantas untuk menjadi pasanganmu!
Wahai pemudi kekasih Yesus, tidak tahukah kamu bahwa dengan membiarkan dirimu menjadi tidak kudus dan bercela, itu mendukakan Yesus yang mengasihimu?
Wahai pemudi kekasih Yesus, tidak tahukah kamu bahwa tidak ada alasan untuk kamu mencari kasih yang palsu, bobrok dan bukan-kasih hanya karena kamu kesepian?
Yesus mengasihimu dan itu lebih dari cukup. Yesus menginginkan yang terbaik bagimu. Yesus menginginkan kamu hidup KUDUS dan TAK BERCELA, dengan atau tanpa pendamping seorang pria! DIA MATI BAGIMU untuk itu!
Izinkan aku memberikan nasihat kepadamu pemudi-pemudi kekasih Yesus. Waktu akan berlalu. Relasimu dengan dia mungkin tidak berlanjut ke jenjang pernikahan. Tetapi, luka yang ditimbulkannya kepadamu akan membekas.

Ya, waktu akan berlalu. Sekalipun relasimu dengan dia berlanjut ke pernikahan, seperti yang kualami, luka itu tetap akan membekas.  Luka itu akan terasa waktu kamu mengingat semuanya. Luka itu akan terasa waktu kamu bertemu dengan pemudi lain yang mengalami hal serupa sepertimu. Luka itu akan terasa waktu kamu sulit percaya kepada pasanganmu. Luka itu akan terasa waktu dia kasar dan tidak mempedulikan perasaanmu, apalagi waktu dia memukulimu. Luka itu akan terasa waktu dia meninggalkanmu mengejar wanita lain. Luka itu akan terasa waktu kamu menyadari bahwa dia terikat dengan pornografi, dan itulah yang membuat dia dulu begitu agresif kepadamu. Luka itu akan terasa waktu kamu harus mendidik anakmu sendiri untuk hidup dalam kekudusan.  Luka itu akan sangat terasa, waktu dia memperlakukanmu dengan tidak hormat karena kamu dulu begitu mudah dilecehkan.

Oh, aku bersyukur… Walaupun sekian lama aku juga harus menanggung bekas luka itu, Yesus sungguh mengampuni dan memulihkan aku dan suamiku. Anugrah-Nya begitu besar. Tetapi tidak semua pemudi mengalami itu.

Aku sangat mengerti bahwa kasih Tuhan tidaklah bisa dibandingkan dengan kasih manusia. Kasih Tuhan itu sempurna dan kasih manusia itu cacat. Maka tak mungkin kita menemukan kasih yang sempurna dari sesama manusia. Tetapi mengapa kita memilih kasih yang bukan sekedar cacat, tetapi rusak, bobrok, najis, bahkan sama sekali bukan-kasih!? Mengapa kita biarkan itu?

Oh, pemudi kekasih Yesus, aku berdoa supaya kamu hidup kudus dan tak bercela. Sekalipun kamu tidak menemukan pasangan di dunia ini, ingatlah bahwa kamu terikat dengan kekasihmu yang sejati di sorga. Dan jikalau kamu menemukan pasangan di dunia ini, dia haruslah orang yang MENGINGINKAN kamu hidup kudus dan tak bercela bahkan RELA MENGORBANKAN DIRI untuk menjagamu kudus dan tak bercela.

Seperti Yesus, ya… seperti Yesus.

Wahai pemudi kekasih Yesus, demi kebaikanmu sendiri, demi kasih Allah, janganlah kecewakan Yesus yang mengasihimu. Engkau adalah pemudi kekasih Yesus, carilah pasangan yang mengasihimu… seperti Yesus mengasihimu.