Monday, October 19, 2015

Bocoran: Di Sekolah Teologi Belajar Apa sih?

Hampir semua jemaat di gereja Injili tahu ada yang namanya seminari/sekolah teologi. Hampir semua juga tahu bahwa pendetanya itu lulusan seminari/sekolah teologi. Tapi ternyata hampir semua sangat banyak jemaat yang tidak pernah kebayang tahu apa sih yang dipelajari di sana?

Beberapa kali saya pernah bertemu jemaat yang berpikir bahwa di sekolah teologi kami hanya belajar Alkitab berurutan dari Kejadian sampai Wahyu. Maka saya pernah ditanya, “udah sampai kitab apa?” Ada juga yang berpikir bahwa di sekolah teologi kami belajar membuat yang mudah menjadi sulit. Maka pesannya, “jangan belajar ketinggian, nanti jemaat nggak ngerti.”

Saya sangat concern dengan ini.

Pendidikan teologi seharusnya adalah untuk semua orang Kristen; dilakukan di gereja untuk semua jemaat! Semua orang Kristen seharusnya belajar tentang imannya, tentang dunia tempat dia hidup, dan bagaimana melayani di dunia ini.

Tetapi, seriusnya pendidikan teologi membuat mereka mereka yang terpanggil menjadi pelayan Firman, sakramen dan doa di gereja (hamba Tuhan) harus belajar dengan sangat intens. Itulah sebabnya muncul “pelatnas” yaitu sekolah teologi.

Tidak ada yang salah dengan itu. Tetapi sayangnya, akhirnya pendidikan teologi dipisahkan dari kehidupan jemaat, dan orang Kristen yang seharusnya belajar teologi jadi tidak belajar dan bahkan tidak mengerti apa sih yang dipelajari di “pelatnas”.


Ok, cukup keluh kesahnya. Saya ingin kasih “bocoran” sedikit apa sih yang dipelajari di sekolah teologi di program dasar seperti Sarjana Theologi (S.Th) atau Magister Divinitas (M.Div). Setiap seminari/sekolah teologi tentu punya kurikulum yang berbeda, tapi kurikulum utamanya sebenarnya mirip. Program S.Th dan M.Div adalah first degree dalam sekolah teologi, maka sifatnya menyeluruh. Bahasa kerennya rounded – artinya mempelajari berbagai aspek dan hal yang perlu sebagai persiapan menjadi hamba Tuhan. Pada waktu studi postgraduate barulah studinya spesifik.

Pada umumnya mata kuliah yang dipelajari di seminari/sekolah teologi di Indonesia adalah:

Studi Perjanjian Lama dan Studi Perjanjian Baru (ya betul, kami belajar Alkitab). Mempelajari dunia Alkitab (dunia sosial, politik, ekonomi, di zaman itu) dan mengenal 66 kitab di dalam Alkitab (penulisannya, latar belakangnya, dan tema-tema di dalamnya). Totalnya bisa 6 kuliah atau lebih untuk Studi PL dan juga PB.

Saya beri contoh. Mata kuliah Studi PB tentang Injil akan membahas: Latar belakang PB, survey mengenai sejarah orang Yahudi dari masa pemberontakan Makabe (167 SM) sampai hancurnya negara Yahudi (135 M), membahas juga mengenai perkembangan agama Yahudi di zaman itu, bait Allah, pemimpin agama, kitab suci, lalu literatur kuno di zaman itu. Kemudian juga teologi dari Injil –unik untuk setiap Injil- akan dibahas. Kemudian studi kritis terhadap Injil, yaitu berbagai teori yang dikeluarkan para ahli tentang Injil, juga diperkenalkan. Terakhir, beberapa bagian dari Injil akan dipelajari secara mendalam.

Doktrin (atau biasa dikenal sebagai Teologi Sistematika). Mempelajari berbagai macam doktrin: Alkitab, Manusia dan Dosa, Keselamatan, Gereja, Akhir Zaman, Allah, Kristus, Roh Kudus. Totalnya bisa 4 kuliah atau lebih.

Bahasa Yunani dan Bahasa Ibrani – Totalnya masing-masing biasanya 2 kuliah (jadi 4 kuliah).

Hermeneutika – Belajar tentang prinsip penafsiran Alkitab. Mengerti kesulitannya dan berbagai teori di baliknya.

Eksegese Perjanjian Lama
dan Eksegese Perjanjian Baru – Belajar bagaimana menggali Alkitab, setiap genre (jenis sastra) membutuhkan cara yang berbeda. Belajar bagaimana menganalisa struktur kalimat, analisa grammar, analisa kata, dst. Lalu mengenal teks Alkitab (misalnya perbedaan manuskrip yang dipakai) dan bagaimana menggunakan tools yang ada (lexicon, dictionary, grammatical analysis, dll). Masing-masing biasanya 1 kuliah.

Teologi Perjanjian Lama dan Teologi Perjanjian Baru (Teologi Biblika) – Belajar tema-tema teologis yang bukan dilihat per kitab tapi dari keseluruhan Alkitab, misalnya apa yang diajarkan Alkitab tentang Mesias, Anak Allah, Penebusan, Keadilan Allah, dst. Masing-masing biasanya 1 kuliah.


Sejarah Gereja – Dari mulai gereja mula-mula, penyebarannya, faktor-faktor di sekitarnya (politik, ekonomi, dll), sampai ke zaman gereja modern. Total biasanya 2 kuliah.

Homiletika – Belajar bagaimana berkhotbah.

Etika – Sederhananya adalah belajar prinsip membedakan right and wrong dan bagaimana mengambil keputusan, ditinjau dari sisi filsafat dan juga dari Alkitab. Bisa 1 atau 2 kuliah.

Lalu tiap seminari/sekolah teologi juga akan memasukkan mata kuliah lain seperti: Sejarah Teologi (bagaimana perkembangan pemikiran teologi di sepanjang zaman), Formasi pertumbuhan rohani (konsep pertumbuhan dan bagaimana seseorang bertumbuh), Kepemimpinan dan Manajemen gereja, Konseling pastoral, Misiologi (teori tentang misi), Perbandingan agama, Pendidikan Kristen, Musik gerejawi, Apologetika, Filsafat, dll. Masih banyak macam! Lagi-lagi, setiap seminari/sekolah teologi akan memasukkan mata kuliah yang berbeda.

Kira-kira seperti itu.

Maka bisa dibayangkan pendidikan teologi undergraduate, “pelatnas”nya hamba Tuhan, memang berusaha untuk rounded. Dari mulai yang fondasi seperti Alkitab dan doktrin, lalu ilmu lain yang berkaitan seperti sejarah, etika, dan filsafat, kemudian ketrampilan pelayanan seperti berkhotbah, pastoral konseling, kepemimpinan, dll.

Tidak semua mata kuliah bisa dijejelin karena ada batasan kredit (SKS). Tapi dengan apa yang dipelajari, dia tahu cukup banyak dari berbagai sisi, diperlengkapi dengan ketrampilan yang perlu, dan diharapkan punya modal untuk masuk ke dalam pelayanan dan mengembangkan pemikiran teologinya dalam pelayanan.

Mudah2an sedikit memperjelas :-)

Tuesday, October 06, 2015

TTC Cultural Night - 2015

Setiap tahun TTC mengadakan Cultural Night. Mahasiswa didorong memakai pakaian khas negaranya. Lalu mahasiswa dari setiap negara diminta menampilkan satu acara yang berkaitan dengan kebudayaannya dan diminta menyediakan makanan khas negaranya - and this is the best part.

Saya terlalu sibuk makan dan sedang agak malas foto sehingga tidak banyak foto yang diambil. Kali ini Indonesia menampilkan tari kecak dan menyediakan nasi tumpeng :-) 

















Saturday, October 03, 2015

A Shepherd Looks at Psalm 23 – W. Phillip Keller

Belasan tahun yang lalu (lama banget!) saya membaca buku ini, sangat diberkati olehnya, bahkan beberapa kali menggunakannya untuk bahan khotbah.

Buku ini sangat unik karena latar belakang penulisnya yang unik. W. Phillip Keller pernah tinggal lama di Afrika Timur, di lingkungan para gembala yang kebudayaannya sangat mirip dengan mereka yang di Timur Tengah. Dia sendiri bahkan pernah menjadi gembala selama 8 tahun. Dia tahu seperti apa kesulitan, pergumulan, perasaan, berhubungan dengan domba sebagai gembala. Kemudian, dia juga menjadi “gembala” dari sebuah gereja dan dia mengalami arti menjadi “gembala” bagi umat Tuhan.

Buku ini ditulis dengan bahasa yang sederhana tetapi sangat menarik. Keller tidak mencoba merohanikan relasi gembala dan domba. Di satu sisi, dia mencoba menafsirkan Mazmur 23 dari sudut pandang gembala/domba sungguhan. Tapi, di sisi lain, dia tidak kebablasan dan membuat Mazmur 23 kehilangan maksud aslinya.

Susunan buku ini sederhana, dibagi dalam 12 bab, yang masing-masing menjelaskan arti 1 kalimat dari Mazmur 23. Ini bukan buku tafsiran – jauh dari itu. Ini juga bukan buku eksposisi. Ini buku devotional – mengajak kita merenung, menguatkan iman kita, dan membawa kita berlutut. Untuk tujuan itu, Keller sangat berhasil. Dia membawa kita melihat betapa terlibatnya Allah dalam hidup kita sebagai gembala dan betapa tidak berdayanya kita sebagai domba.

Saya mencoba mencari paragraf yang bisa saya cuplik dan cantumkan disini untuk memberi gambaran tentang bagaimana gaya tulisan Keller. Tidak berhasil - kecuali cuplikannya panjang. Dia menulis dengan sangat mengalir dan mencuplik sepotong tulisannya justru bisa membuat kita salah mengerti tentang dia. Di bawah adalah cuplikan penjelasannya tentang kalimat "I shall not want..." Mudah-mudahan cukup menggambarkan.

When all is said and done, the welfare of any flock is entirely dependent upon the management afforded them by their owner.

The tenant sheepman on the farm next to my first ranch was the most indifferent manager I had ever met. He was not concerned about the condition of his sheep. His land was neglected. He gave little or no time to his flock, letting them pretty well forage for themselves as best they could, both summer and winter. They fell prey to dogs, cougars, and rustlers.

Every year these poor creatures were forced to gnaw away at bare brown fields and impoverished pastures. Every winter there was a shortage of nourishing hay and wholesome grain to feed the hungry ewes. Shelter to safeguard and protect the suffering sheep from storms and blizzards was scanty and inadequate.

They had only polluted, muddy water to drink. There had been a lack of salt and other trace minerals needed to offset their sickly pastures. In their thin, weak, and diseased condition these poor sheep were a pathetic sight.

In my mind’s eye I can still see them standing at the fence, huddled sadly in little knots, staring wistfully through the wires at the rich pastures on the other side.

To all their distress, the heartless, selfish owner seemed utterly callous and indifferent. He simply did not care. What if his sheep did want green grass, fresh water, shade, safety, or shelter from the storms? What if they did want relief from wounds, bruises, disease, and parasites?

He ignored their needs — he couldn’t care less. Why should he — they were just sheep — fit only for the slaughterhouse.

I never looked at those poor sheep without an acute awareness that this was a precise picture of those wretched old taskmasters, Sin and Satan, on their derelict ranch — scoffing at the plight of those within their power.

As I have moved among men and women from all strata of society as both a lay pastor and as a scientist, I have become increasinglyaware of one thing. It is the boss — the manager — the
Master in people’s lives who makes the difference in their destiny.

I have known some of the wealthiest men on this continent intimately — also some of the leading scientists and professional people.

Despite their dazzling outward show of success, despite their affluence and their prestige, they remained poor in spirit, shriveled in soul, and unhappy in life. They were joyless people held in the iron grip and heartless ownership of the wrong master.

By way of contrast, I have numerous friends among relatively poor people — people who have known hardship, disaster, and the struggle to stay afloat financially. But because they belong to Christ and have recognized Him as Lord and Master of their lives, their owner and manager, they are permeated by a deep, quiet, settled peace that is beautiful to behold.

It is indeed a delight to visit some of these humble homes where men and women are rich in spirit, generous in heart, and large of soul. They radiate a serene confidence and quiet joy that surmounts all the tragedies of their time.

They are under God’s care and they know it. They have entrusted themselves to Christ’s control and found contentment. Contentment should be the hallmark of the man or woman who has put his or her affairs in the hands of God. This especially applies in our affluent age. But the outstanding paradox is the intense fever of discontent among people who are ever speaking of security.

Despite an unparalleled wealth in material assets, we are outstandingly insecure and unsure of ourselves and well nigh bankrupt in spiritual values.

Always men are searching for safety beyond themselves. They are restless, unsettled, covetous, greedy for more — wanting this and that, yet never really satisfied in spirit.

By contrast the simple Christian, the humble person, the Shepherd’s sheep, can stand up proudly and boast. “The Lord is my shepherd — I shall not be in want.”

Gambar sampul di atas berasal dari cetakan tahun 2007 dan waktu itu buku ini sudah terjual lebih dari 2 juta eksemplar. Seingat saya buku ini juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Highly recommended!

Tuesday, September 22, 2015

Sacred Dating - GKY Singapore 19 September 2015

Ini adalah rekaman seminar "Sacred Dating" di Youth Fellowship dan Young Adult Fellowship GKY Singapore, Sabtu 19 September 2015. 

Warning: Sangat panjang! :-) Apalagi ditambah Q&A di belakang.

Sesi 1: At least, dengarkan sampai 1.12.40. 
Sesi 2: At least, dengarkan sampai 1.15.10.


Sacred Dating Part 1 of 2




Sacred Dating Part 2 of 2


Friday, August 21, 2015

My Dissertation Writing - 4

Sudah hampir 2 tahun 2 bulan saya studi di program D.Th ini.

Penulisan disertasi berjalan sangat lambat, jauh lebih lambat dari yang saya harapkan. Sistem studi mandiri seperti ini (tanpa kelas, tanpa target resmi dari sekolah, tanpa dikejar supervisor) menuntut disiplin pribadi yang sangat kuat – dan sayangnya saya sangat tidak kuat :-(

Saya menetapkan sendiri target kapan harus selesai sampai mana; dan menurut target itu saya sudah ketinggalan sekitar 3-4 bulan. #tariknapaspanjang

Hari ini saya baru bertemu dengan supervisor saya mendiskusikan Bab 3 dari disertasi saya. Di dalam Bab 3 ini saya membahas argumentasi Paulus dalam surat Galatia dan bagaimana konsep ethics of Spirit berfungsi di dalamnya. Seperti biasa, setelah bertemu supervisor, semangat saya kembali tinggi. Dia selalu encouraging dan bisa menemukan yang baik dari tulisan saya yang kurang baik.

Cukup banyak revisi yang harus saya lakukan. Saya berharap bisa menyelesaikan revisi Bab 3 ini dan kembali menyerahkannya kepada dia sekitar 3-4 minggu lagi.

Berita baiknya adalah disertasi saya makin jelas arahnya. Saya makin melihat “titik terang di ujung lorong gelap.” Tetapi, perjalanan ke sana masih sangat panjang. Butuh tenaga ekstra dan konsentrasi supeerrr ekstra. Mungkin di waktu ke depan saya harus lebih “mengisolasi” diri dibanding sebelumnya.

Di tengah seringnya muncul rasa frustasi, saya mengingatkan diri bahwa saya studi karena Tuhan dan untuk Tuhan. So help me God.


Monday, August 10, 2015

Fotografer Dalam Ibadah

Sangat sering di dalam ibadah (apalagi yang sifatnya “khusus” seperti Natal, Paskah, HUT gereja, dll), atau di dalam session waktu Retreat, ada fotografer.

Saya tahu bahwa kadang kita ingin ada dokumentasi. Kita ingin mengabadikan suasana events yang khusus. Foto-foto itu kita pikir mungkin akan berguna di masa depan, untuk mengenang apa yang terjadi di gereja kita, seperti apa suasananya dulu, siapa saja yang datang, siapa yang pernah terlibat, dan lain sebagainya.

Tetapi jarang sekali kita berpikir kerugian adanya fotografer di dalam ibadah. Juga hampir tidak pernah kita menimbang seberapa penting foto-foto itu dibanding dengan kerugian yang ditimbulkan.

Mari kita pikirkan ulang beberapa hal:

1. Apakah keberadaan fotografer mengganggu jemaat yang beribadah?
Biasanya fotografer akan berjalan kesana kemari, baik di depan mimbar, kadang bahkan di belakang mimbar menghadap jemaat (!), kadang di baris samping. Kalaupun dia tidak berjalan-jalan, atau bahkan sekalipun dia hanya menggunakan handphone, tangannya yang terangkat jelas mengganggu jemaat di samping dan belakangnya. Bagaimanapun akan sangat mencolok bahwa dia adalah satu-satunya orang di situ yang aktivitasnya beda dengan jemaat lain. Sementara yang lain menyanyi dan mendengar khotbah, dia memegang kamera, mengarahkan kamera, dan memeriksa hasil foto di kamera. Lalu jemaat juga akan mendengar bunyi langkah dia (apalagi waktu berdoa) dan melihat lampu kilat yang menyala berkali-kali. Sulit untuk berkata dia tidak mengganggu.

2. Masih terkait dengan point di atas, sebagian orang menjadi tidak tenang ketika sadar bahwa dia bisa difoto kapan saja. Bagaimana dia bisa sepenuh hati memuji Tuhan ketika dia sadar kamera sedang diarahkan kepadanya (apalagi kalau dia tipe yang sangat sadar kamera). Ditambah lagi ketika dia sedang berdoa, dia mendengar bunyi shutter kamera sangat dekat di depannya. Lalu sambil mengintip dia melihat sang fotografer baru saja berjalan meninggalkan dia! Wah… saya difoto! Bagaimana ya tadi ekspresi saya? :-( 
 
3. Mungkin ini yang terpenting, pernahkah kita berpikir tentang si fotografer sendiri?
Hampir selalu fotografer itu adalah salah satu anggota jemaat. Di saat yang lain memuji Tuhan dengan suara dan alat musik, dia sibuk mencari "the perfect shots". Di saat yang lain mendengar Firman Tuhan, dia sibuk memeriksa hasil foto di kamera. Di saat yang lain mencari wajah Tuhan, dia sibuk mencari wajah yang pas untuk difoto. Apa yang dia dapat dari semuanya? Hanya kepuasan seorang fotografer dan bukan kepuasan seorang anak Tuhan yang berjumpa dengan Bapa sorgawi.

Bisakah kita memperhitungkan semua hal di atas dan memikirkan alternatif yang lebih baik? Kita perlu mencari keseimbangan antara kebutuhan dokumentasi dan meminimalisasi potensi kerugian yang ada.

Mari kita pikirkan dulu betulkah kita membutuhkan dokumentasi? Di zaman sekarang, orang cenderung ingin mendokumentasikan virtually anything and any moment. Tapi pikirkan dulu betulkah di acara itu kita membutuhkan dokumentasi? Pikirkan dulu apa kegunaannya. Banyak foto dokumentasi yang tidak pernah dilihat lagi sama sekali.

Kalau memang jawabannya adalah "ya, kita membutuhkan foto-foto itu", maka coba tanya lagi foto apa dan di bagian mana yang kita butuhkan? Kalau memang kita hanya butuh dokumentasi suasana ibadah, beberapa foto jemaat, lalu pelayan ibadah, maka batasi itu saja yang diambil. Tidak setiap momen dan bagian perlu difoto. Kadang di dalam Retreat, fotografer sibuk mengambil foto di setiap session padahal suasananya selalu sama saja. Dan berapa banyak foto yang kita butuhkan (bukan inginkan!)? Fotografer cenderung restless, terus ingin mengambil foto, menunggu perfect moments dan mendapatkan the perfect shots. Padahal sikap seperti itulah yang mengganggu ibadah. Prinsipnya adalah fotografer harus mengambil foto sesedikit mungkin dan bukan sebanyak mungkin!

Alangkah baiknya kalau ada perencanaan yang sangat baik sebelum ibadah:

- Foto momen apa yang sangat dibutuhkan? Ingat, bukan yang sangat diinginkan.
- Seperti apa acaranya dan dari posisi mana dia harus mengambil foto (yang tidak mengganggu jemaat).
- Uji coba dulu sebelum acara dimulai. Seringkali banyaknya foto yang diambil adalah karena keamatiran si fotografer yang salah setting pencahayaan di kamera.
- Lalu karena fotografer tidak boleh berjalan-jalan pada waktu ibadah, maka berapa fotografer yang dibutuhkan untuk duduk di sudut yang berbeda? Lalu bagi tugas siapa yang mengambil foto untuk momen apa. Bukan semua fotografer sama-sama mengambil foto untuk momen yang sama dengan dalih dari sudut yang berbeda.

Sekali lagi, ingat prinsipnya adalah fotografer harus mengambil foto sesedikit mungkin dan bukan sebanyak mungkin! Saya tahu ini berlawanan dengan keinginan kita yang selalu mau foto sebanyak-banyaknya. Tapi terakhir, mari pikikan berapa keuntungannya dibanding kerugiannya.

Apa keuntungan dari banyaknya foto yang didapat? Apa keuntungan mendapatkan banyaknya perfect moments yang terekam – ekspresi orang yang berdoa dengan khusuk, ekepresi satu keluarga yang bergandengan tangan waktu menyanyi, suasana sukacita jemaat, dst? Foto-foto itu akan jarang dilihat. Hanya akan dipajang sebentar di depan gereja. Atau mungkin akan dipilih untuk dimasukkan ke dalam buku kenang-kenangan nanti. Seberapa keuntungan gereja dengan adanya foto-foto itu? Saya tidak berkata tidak ada gunanya sama sekali, tapi untuk kegunaan itu berapa banyak sih foto yang dibutuhkan?

Sementara itu, apa kerugiannya? Sebagian jemaat akan merasa terganggu. Ada sesuatu yang hilang di dalam momen ibadah bagi mereka. Dan yang paling penting, pikirkan fotografernya! Waktu untuk si fotografer beribadah menjadi hilang. Kalau itu di Retreat, waktu dia untuk retreat – tenang, mundur, menikmati Tuhan, menjadi hilang karena konsentrasi pada foto. Nilai kerugian seperti ini tidak pernah bisa diukur. Kita tidak merasakan kerugian itu. Fotografer itu juga tidak merasa rugi karena kerugian rohani selalu tidak bisa diukur. Tapi kerugian itu jelas ada.

Saya tidak bilang kita sama sekali tidak boleh ada fotografer dalam ibadah, tapi pertimbangkan juga kerugiannya. Carilah keseimbangan antara kebutuhan dokumentasi (ingat lagi: bukan keinginan!) dan meminimalisasi potensi kerugian yang ada.

Wednesday, August 05, 2015

Terus “Tune Up” Dengan Allah

Salah satu sifat yang sangat menonjol dari iblis adalah “oportunis” – pandai mengambil keuntungan dari situasi yang ada.

“…jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau,…” (Kej 4:7)

Pada saat kita melakukan kesalahan, “tidak berbuat baik”, dosa sudah mengintip di depan pintu dan sangat menggoda! Iblis menantikan saat kita lemah, saat kita berbuat bodoh, saat kita melakukan yang tidak terpuji. Saat itulah… tinggal tunggu waktu dosa akan menguasai kita karena dia sudah mengintip di depan pintu. Istilah “ia sangat menggoda engkau” mungkin lebih baik diterjemahkan “ia sangat bernafsu untuk memiliki engkau”.

“Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik.” (Luk 4:13)

Ayat ini muncul tepat di akhir kisah Yesus dicobai Iblis di padang gurun. Tiga kali Iblis mencobai Yesus dan tiga kali pula Yesus melawan dan akhirnya mengusir dia. Yesus menang! Horeee…! Tapi kalimat berikutnya sangat mengerikan: Iblis mundur dari pada Yesus dan menunggu waktu yang baik! Iblis kalah saat itu, tapi dia tidak menyerah. Dia akan datang lagi dan mencobai lagi “pada waktu yang baik.” Kapan itu? Oh, dia sangat tahu kapan waktu yang baik itu.

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Pet 5:8)

Petrus menggambarkan Iblis seperti singa – menunjukkan keganasannya. Singa itu mengaum-aum – tanda kebuasan dan kelaparan. Tapi yang sangat mengerikan adalah: Singa yang mengaum-aum itu berjalan keliling dan mencari orang yang dapat ditelannya! Dia tidak tinggal diam. Dia berjalan keliling dan mencari mangsa… siapa saja yang dapat ditelannya.

Waktu kita mulai marah-marah.. dia berkata “Aha!” Waktu hati kita penuh kepahitan… dia berkata lagi “Aha!” Waktu kita kesepian, waktu kita tidak puas dengan hidup kita, waktu kita entertain dosa dalam pikiran kita, dia berkata “Wow.. aha..aha..aha!!!” Apapun keadaan kita, dalam kelemahan kita sebagai manusia, dia akan masuk dan memanfaatkannya untuk menjatuhkan kita.

Kalau Iblis begitu oportunis, apa yang harus kita lakukan?

Satu-satunya yang bisa menjaga kita dari kejatuhan adalah kalau hati kita terus menerus “tune up” dengan Allah. Seperti mobil ketika terus dipakai bisa menjadi tidak pas lagi, mesin mulai kotor, baut mulai kendor, karet mulai aus, maka ia perlu di tune up lagi supaya kembali sesuai dengan standar yang seharusnya. Demikian pula hidup kita.

Ada banyak sekali hal yang membuat kita lelah dan letih. Ada banyak sekali godaan di sekitar kita. Ada banyak sekali hal yang membuat kita menginginkan yang tidak benar. Kita perlu di “tune up” lagi supaya kembali sesuai dengan standar yang seharusnya – Tuhan sendiri.

Tapi berapa sering kita perlu “tune up”? Sesering mungkin!

Tidak seperti mesin mobil yang bisa bertahan lama tanpa tune up, kita tidak bisa! Dengan sangat mudah dan cepat, keadaan hati kita menjadi berantakan dan siap untuk diterkam oleh iblis. Pagi hari kita bisa membaca Alkitab dan berdoa, bahkan berjanji untuk hidup bagi Tuhan, tapi siang harinya kita bisa lupa semuanya. Maka sesering mungkin, terus menerus, continuously, kita perlu “tune up” hati kita dengan Allah.

Mungkin itu berarti setiap kali muncul pikiran yang tidak baik, kita berhenti sejenak dan berdoa mengingat akan kekudusan Tuhan. Mungkin itu berarti setiap kali kita kuatir, takut, kita berhenti sejenak dan mengingat kebesaran Tuhan. Mungkin itu berarti dalam keadaan “baik” pun kita sering berhenti sejenak untuk menyadari kehadiran-Nya, mengingat janji-Nya dan perintah-Nya.

Orang-orang yang disebut giants dalam kerohanian berdoa. Kita juga berdoa. Tapi perbedaan mereka dengan kita adalah: Mereka berdoa continuously. Bukan berarti mereka tidak bekerja… tapi mereka terus menerus hidup bersama Tuhan. Mereka terus “tune up” dengan Allah.

Hanya dengan demikianlah, kita menutup kesempatan bagi Iblis - si raja oportunis  itu, untuk menerkam kita.