Friday, September 02, 2016

The Trellis and The Vine & The Vine Project - Colin Marshall & Tony Payne

Saya baru saja menyelesaikan membaca dua buku ini yang ditulis oleh Colin Marshall dan TonyPayne.

Buku pertama, The Trellis and the Vine, terbit pada tahun 2009 dan menjadi populer. Mengambil perumpamaan dari pohon anggur, mereka mengajak kita melihat bahwa pelayanan kita seharusnya fokus pada vine (anggur) dan bukan pada trellis (terali). Terali perlu ada untuk menunjang pertumbuhan anggur tetapi seringkali kita menghabiskan waktu, tenaga, perhatian, hanya untuk membangun terali dan bukan menumbuhkan anggur.

Bab 1-2 buku itu adalah bab yang sangat penting karena disitulah mereka menguraikan “ministry mind-shift” yang mereka maksudkan. Dalam bab 3-5 mereka menguraikan dasar Alkitab dari konsep mereka. Tidak seluruhnya menarik, menurut saya, tetapi cukup bagus untuk bahan pemikiran lebih mendalam.

Dalam bab 6-8, mereka mulai menyodorkan konsep pelatihan di dalam gereja. Lalu empat bab terakhir buku itu (Bab 9-12) bersifat praktis: Bagaimana melatih co-workers, orang seperti apa yang dipilih, program magang pelayanan, dan bagaimana memulai semuanya.

Buku itu menggugah kesadaran banyak pemimpin gereja bahwa seharusnya mereka fokus mengerjakan vine dan bukan trellis. Tetapi, tidak semudah itu mengerjakan perubahan di dalam gereja. Maka banyak pembaca buku itu bertanya: "Apa yang harus kami lakukan? Jikalau pemuridan hanya dijalankan secara sporadis atau sebagai salah satu “program gereja” maka hasilnya tidak akan terlalu menjanjikan. Tetapi, bagaimana kami bisa membentuk seluruh kultur gereja menjadi disciple-making?"

Maka buku yang kedua, The Vine Project, terbit pada tahun 2016, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Mereka menyadari banyaknya kesulitan yang dihadapi ketika pemimpin gereja ingin menjalankan proyek itu. Maka, seperti yang ditulis oleh mereka di bagian pendahuluan, buku ini bukanlah sekedar untuk dibaca tetapi merupakan sebuah proyek. Mereka menyarankan (mendesak) setiap gereja untuk membentuk tim The Vine Project dan menggunakan buku ini sebagai panduan menjalankan proyek yang besar, sulit, tetapi sangat penting itu.

Mereka membagi proyek ini dalam lima tahap.

Tahap pertama adalah mempertajam keyakinan akan apa yang Tuhan mau kita lakukan. Kita mencoba memperjelas keyakinan kita akan tujuan dan nilai-nilai yang seharusnya ada di dalam pelayanan kita. Tahap ini penting supaya kita memikirkan dengan jelas kaitan antara praktek yang akan kita lakukan dengan teologi.

Tahap kedua adalah mereformasi kultur pribadi kita. Tahap ini sangat menarik dan penting. Banyak orang ingin cepat melakukan sesuatu, membuat program, menyusun kurikulum, menyebarkan brosur, lalu menggerakkan tim untuk mengerjakannya. Tetapi, dengan cara demikian, mereka akan terjebak lagi membangun trellis. Kelemahan utama pendekatan seperti itu adalah mereka (pemimpin gereja) belum pernah melakukan sendiri program yang akan mereka buat. Maka mereka sulit mengerti kesulitan dan halangan yang akan terjadi. Demikian pula, apa yang dikatakan dan dilakukan oleh pemimpin, keputusan-keputusan, prioritas-prioritas, atau kultur pribadinya, akan menjadi titik tolak yang sangat penting bagi sebuah gerakan seperti ini.

Tahap ketiga adalah mulai mengevaluasi gereja. Sama seperti tahap pertama dan kedua, mereka memberikan panduan apa saja yang harus dievaluasi dan bagaimana melakukannya.

Baru di tahap keempat kita masuk kepada tahap inovasi dan implementasi. Beberapa wilayah yang mereka ajak kita fokuskan adalah: Kebaktian Minggu (ini sangat penting), Merancang jalan untuk membawa orang (dari posisi manapun: belum bertobat, baru bertobat, ataupun sudah bertumbuh) makin bertumbuh, Merencanakan apa yang harus dilakukan ketika pertumbuhan terjadi (kualitas dan kuantitas), dan terakhir, Menciptakan bahasa baru yaitu mengkomunikasikan dengan jelas apa yang ingin dilakukan oleh gereja, sedemikian rupa, sehingga ditangkap oleh seluruh jemaat.

Tahap kelima adalah mempertahankan momentum. Proyek ini sama sekali tidak mudah dan tidak cepat. Di dalam prosesnya, bukan saja perhatian, tenaga, waktu, sumber daya, akan banyak terkuras, tekanan juga akan sangat besar dirasakan. Maka sangat penting memikirkan bagaimana menjaga konsistensi dalam menjalankannya.

Hampir untuk setiap bagian yang dibicarakan, buku ini memberikan referensi kepada resources yang bisa dipakai. Akan sangat menolong jika kita juga bisa melihat resources itu dan mempertimbangkan untuk menggunakannya. Buku ini juga didukung oleh situs http://thevineproject.com dimana bisa ditemukan banyak kisah nyata dan wawancara dengan para pemimpin gereja yang menjalankan ini dan juga berbagai resources lainnya.

Kelemahan buku ini adalah ketika dibaca akan terasa too wordy. Tetapi hal ini bisa dipahami karena mereka memang tidak memaksudkannya untuk “dibaca” tetapi “dipergunakan” sebagai panduan dan bahan diskusi.

Saran saya, bacalah dulu buku yang pertama. Hanya jika anda yakin ingin menjalankan perubahan di dalam gereja anda, baru bacalah (dan belilah) buku yang kedua. Saya yakin buku itu akan sangat menolong.

It's time to change, but do it carefully and prayerfully!

Monday, August 22, 2016

"Virus of the Mind" Mengenai Khotbah - 2

Menyambung tulisan sebelumnya di sini, ada meme atau virus of the mind lain mengenai khotbah yang juga populer sekaligus berbahaya. Meme itu berbunyi begini: “Apapun yang disampaikan pengkhotbah di mimbar dalam kebaktian, tentu ditambah dengan membacakan Alkitab, adalah ‘Firman Tuhan’.”

Beberapa waktu yang lalu saya sudah pernah menulis “What is a Sermon?” Apa yang saya tulis di sana tidak perlu saya ulangi lagi. Ada satu definisi yang saya pergunakan di sana yang saya yakin kebanyakan kita akan setuju: “Khotbah adalah penguraian Firman Tuhan (Alkitab).” 

Mari sekarang kita melihatnya dengan sedikit lebih luas.

Kebaktian itu selalu di dalam konteks penyembahan dialogis dan komunal. Komunal artinya umat Tuhan berkumpul bersama, menyembah Tuhan di dalam persekutuan – artinya bukan menyembah Tuhan sendiri-sendiri, tapi bersama-sama, sebagai kumpulan orang yang sudah ditebus Tuhan. Dialogis, artinya kebaktian bukanlah satu arah, seakan-akan di dalam kebaktian arahnya hanya dari kita ke Tuhan. Kebaktian itu dua arah karena Allah yang kita sembah adalah Allah yang hidup. Dia mendengar doa kita. Dia memberkati kita. Dan Dia berkata-kata kepada kita, khususnya dan terutama, melalui Firman yang tertulis. Maka kebaktian selalu dari kita (bukan saya) ke Tuhan dan dari Tuhan ke kita – komunal dan dialogis.

Kalau begitu, dimana posisi khotbah dalam skema dialogis ini? Tuhan ke kita! Lalu dimana posisi pengkhotbah? Di satu sisi dia adalah bagian dari jemaat yang menyembah Tuhan dan harus mendengar suara Tuhan. Di sisi yang lain dia dipakai Tuhan untuk menyampaikan suara Tuhan melalui penguraian Firman yang tertulis. 

Jikalau khotbah adalah menguraikan Firman Tuhan (Tuhan ke kita), maka khotbah harus betul-betul menjadi waktu dimana Firman Tuhan dibacakan dan dijelaskan, sedemikian rupa sehingga suara Tuhan itu diperdengarkan. Tugas pengkhotbah adalah memastikan bahwa itulah yang sedang dia lakukan. Lalu apa tugas jemaat? Mereka harus mendengar dengan aktif, berpikir dengan kritis, menguji kebenarannya, dan membuka hati untuk berubah.

Pengkhotbah tidak boleh berpikir bahwa khotbah adalah sekedar cari ayat Alkitab untuk dibacakan, lalu cari bahan pembicaraan yang isinya motivasi, nasihat kehidupan, konsep “menarik” yang dia baca di buku, dan diusahakan supaya lebih menarik dengan bumbu humor, klip video, atau cerita yang menyentuh. Pertanyaannya apakah dia menjelaskan bagian Alkitab yang dibacakan? Apakah dia memperdengarkan suara Tuhan sesuai dengan bagian Alkitab yang dibacakan?

Dan di dalam khotbah, jemaat seharusnya menuntut untuk mendengar, belajar, dan mengerti Firman Tuhan. Jangan sekedar mencari khotbah yang “kena” (walaupun itu penting), karena “kena” itu mungkin karena apa yang dibicarakan pas sesuai dengan pergumulan atau kelemahan kita, walaupun tidak menjelaskan bagian Alkitab yang dibacakan. Jangan sekedar mencari yang menarik dan tidak mengantuk (walaupun itu juga penting). Carilah, ini harus berulang kali diingatkan, yang setia menguraikan Firman Tuhan!

Virus of the mind yang satu ini merusak pertumbuhan gereja. Pengkhotbah berpikir, dengan berdiri di mimbar, bicara, mengkaitkannya dengan Firman Tuhan, apalagi kalau berhasil membuatnya menarik, pokoknya dia sudah menyampaikan “Firman Tuhan.” Jemaat berpikir, pokoknya yang disampaikan pengkhotbah adalah “Firman Tuhan”, maka mereka harus rendah hati dan menerima, apalagi kalau memang ada hal-hal yang “kena”.

Hasilnya? Pengkhotbah tidak merasa perlu berubah dan jemaat tidak bisa berubah. Virus pun mewabah.

Monday, July 25, 2016

"Virus of the Mind" Mengenai Khotbah - 1

Siapa yang tidak tahu meme? Foto/gambar yang dibubuhi kalimat random menjadi sangat populer beberapa tahun belakangan ini. Tetapi, awalnya meme bukanlah itu.

Istilah meme pertama kali saya dengar waktu membaca buku “Virus of the Mind” dari Richard Brodie lebih dari sepuluh tahun lalu (istilah meme sendiri dimunculkan oleh Richard Dawkins). Meme adalah ide atau pemikiran atau pola tingkah laku yang menyebar seperti virus dari orang yang satu ke orang yang lain. Lalu orang yang terjangkit virus of the mind itu, perlahan-lahan tidak lagi mempertanyakannya tetapi menerimanya sebagai kebenaran. Karena penyebarannya yang luar biasa, akhirnya seakan-akan dia adalah kebenaran umum yang semua-orang-juga-tahu.

Saya ingin bicara soal meme yang seperti itu mengenai khotbah. Meme ini populer sekali. Penyebarannya sangat luar biasa di antara orang Kristen di Indonesia. Kalau dia adalah virus, maka artinya sudah mewabah. Meme itu berbunyi: “Jemaat tidak suka khotbah yang dalam tetapi lebih suka yang ringan, praktis, dan lucu.

Mungkin ada yang protes, “Tapi itu betul kok... jemaat memang gitu… swear!” Bahkan banyak orang Kristen akan langsung berkata “Betul, saya nggak tahan dengar khotbah kayak gitu, bosen, nggak relevan.” Maka bukankah artinya confirmed!? Tunggu dulu. Jangan-jangan kita juga sudah terjangkiti virus of the mind yang sama :-)

Betulkah jemaat tidak suka khotbah yang dalam? Saya memang belum pernah melakukan survei formal. Tetapi dari percakapan dengan banyak jemaat dan dari apa yang saya amati sejauh ini, saya kira itu salah. Ada banyak, sangat banyak bahkan, orang Kristen yang suka belajar Firman Tuhan dengan mendalam. Mereka suka untuk mengerti apa yang mereka percayai. Mereka suka menemukan jawaban atas banyak pertanyaan iman mereka. Maka masalahnya bukan di jemaat, tetapi di pengkhotbah.

Sebagian pengkhotbah, yang dulu pernah sekolah teologi, tidak lagi belajar Alkitab dan teologi dengan baik (serius!). Maka ketika berkhotbah tematik atau doktrinal yang kesannya “dalam”, apa yang disampaikan? Sebagian akan mengutip buku sistematik teologi yang dulu pernah dipelajari waktu dia di sekolah teologi. Atau menggunakan kalimat-kalimat jargon yang semua-orang-sudah-sering-dengar. Atau menggunakan bahasa formal yang disisipi istilah-istilah teologis atau filsafat. Misalnya: “Manusia hari ini tidak percaya kepada Allah-yang-berada melalui argumen ontologis Kant, tetapi melalui pengalaman eksistensialis yang otentik.” Wuuuzzz… wajar kalau jemaat merasa kering ketika mendengar khotbah seperti itu.

Demikian pula waktu berkhotbah secara ekspositori. Sebagian pengkhotbah berkhotbah hanya seperti ekspositori, dengan menyebut kata-kata dalam bahasa Ibrani atau Yunani lengkap dengan artinya, seperti studi kata, yang dengan mudah bisa didapat dari berbagai buku atau secara online. Kalau khotbah diumpamakan seperti masakan jadi, maka yang disajikan bukanlah masakan tapi bahan mentah.

Ditambah lagi, khotbah yang kesannya “dalam” seringkali tidak relevan. Artinya pengkhotbah tidak memikirkan pertanyaan yang sangat penting di dalam khotbah: “What is the message?” Khotbah apapun, selalu harus berpikir, “what is the message” buat jemaat. Saya pernah mendengar khotbah, tentang natur kemanusiaan dan keilahian Yesus bahwa Yesus 100% manusia dan 100% Allah, yang sangat kering. Seorang teman bercerita di gerejanya diadakan seri khotbah doktrin Roh Kudus yang juga sangat kering. Dimana masalahnya? Bukan di topiknya. Kita boleh, bahkan kadang harus, berkhotbah doktrinal. Tetapi khotbah itu menjadi tidak relevan jika tidak memikirkan pertanyaan: “What is the message?” Apa berita dari kebenaran itu bagi pendengar hari ini?

Ada orang yang pernah berkata (saya tidak tahu siapa yang pertama kali): “Jesus is the answer! But what is the question?” Adalah tugas pengkhotbah, sebagai orang yang menguraikan Firman Tuhan, untuk memahami“what is the question” – apa yang ditanyakan jemaat, apa yang dihadapi jemaat, apa yang diperlukan jemaat. Karena hanya dengan demikian dia bisa menjawab dengan relevan (dan powerful): “Jesus is the answer!

Adalah tugas pengkhotbah untuk menguraikan Firman Tuhan yang kekal untuk memberi jawaban bagi pergumulan manusia yang terus berubah sepanjang zaman. Di dalam tulisan sebelumnya, saya meminjam format dari The NIV Application Commentary Series (NIVAC), untuk menjelaskan tugas pengkhotbah. Untuk setiap bagian Alkitab, NIVAC membagi menjadi tiga bagian: “Original Meaning” – arti bagian itu di dalam konteks aslinya; “Bridging Contexts” – menjembatani konteks asli dengan konteks zaman sekarang; dan terakhir “Contemporary Significance” – memberikan contoh bagaimana bagian itu berbicara dan diterapkan di zaman ini. Sederhananya: “Original Meaning” tidak berubah tetapi “Bridging Contexts” dan “Contemporary Significance” akan selalu berganti.

Maka, saya ringkaskan, ada tiga masalah disini:

1. Isi khotbah
Masalahnya bukanlah khotbah yang terlalu dalam. Tetapi, justru, seringkali terlalu dangkal. Khotbah seperti itu tidak berasal dari pemikiran dan pergumulan yang mendalam tetapi kutip sana sini dan dibumbui dengan kallimat-kalimat yang terkesan wah.

2. Relevansi khotbah
Banyak jemaat berkata: “Saya nggak perlu khotbah doktrinal, saya nggak suka khotbah yang susah. Itu pergumulan teolog tapi bukan pergumulan saya.” Masalahnya, lagi-lagi, bukanlah khotbahnya terlalu dalam tetapi tidak jelas “what is the message”. Kita percaya bahwa Alkitab selalu relevan. Kebenaran-kebenarannya selalu menghidupkan. Maka khotbah dari bagian Alkitab manapun, topik apapun, harusnya relevan dan menghidupkan. Tetapi pengkhotbah yang kadang membuatnya tidak relevan dan mati. (Mungkin kadang saya juga bersalah dalam hal ini. May the Lord have mercy!)

3. Cara penyampaian khotbah
Penyampaian itu mencakup cara menyusun khotbah, pemilihan kata, intonasi, emosi, dan lain-lain. Kadangkala isi khotbahnya baik dan relevan, tetapi susunan khotbahnya tidak menarik, intonasinya monoton dan penguraiannya membosankan. Seorang pengkhotbah haruslah juga seorang “master of words” (kalau saya tidak salah istilah ini dari Eugene Peterson). Dia harus tahu bagaimana memilih kata-kata dan menggunakannya dengan tepat. Hal yang sama jika diucapkan dengan kalimat yang berbeda akan menimbulkan reaksi yang berbeda.

Kalau khotbah yang mendalam itu hanya kesannya saja mendalam, atau tidak relevan, atau membosankan penyampaiannya, tidak heran jemaat lebih suka yang ringan, praktis, dan lucu. Karena paling tidak dia masih mengerti apa yang dibicarakan. Paling tidak masih ada aplikasi praktis yang dia langsung bisa tangkap. Atau paling tidak dia bisa tertawa dan tidak mengantuk.

Maka menyebarlah meme itu... dan wabah pun berlanjut.

(Tulisan ini pun akan berlanjut)

Sunday, June 19, 2016

The Reformed Pastor - Richard Baxter


Saya sedang membaca buku klasik “The Reformed Pastor” karya Richard Baxter. Malu juga sebenarnya baru baca sekarang. Bertahun-tahun buku ini nangkring di rak buku saya, sempat baca beberapa halaman, lalu dibiarin nangkring lagi tanpa disentuh, sampai sekarang.

Setelah membaca buku ini separuh, saya bisa mengamini apa yang pernah diucapkan seorang hamba Tuhan, “setiap hamba Tuhan wajib membaca buku ini, bukan hanya sekali, tapi berkali-kali.” Buku ini sangat-sangat-sangat diperlukan untuk setiap hamba Tuhan. 

Richard Baxter adalah salah seorang puritan (sekelompok orang Protestan Reformed di Inggris di abad 16-17, yang ingin memurnikan – purifying – gereja Inggris). Orang-orang Puritan terkenal sebagai raksasa-raksasa rohani yang kehidupannya, mind-heart-hand, sangat terintegrasi. Richard Baxter adalah seorang pendeta, penginjil dan juga penulis yang sangat luar biasa di era Puritanisme. Pelayanan dia di gereja Kidderminster (selama hampir 15 tahun) dikatakan mengubah orang-orang kota itu dari yang “bebal, kasar, mencari kesenangan” menjadi komunitas yang saleh dan menyembah Tuhan.

Buku ini adalah tulisan Richard Baxter mengenai bagaimana pelayanan seperti itu bisa dilakukan. Dengan kata lain, ini adalah buku from a pastor to pastors. Walaupun konteks pelayanan dia tentu berbeda jauh dengan hari ini, tetapi prinsip-prinsip yang dia tuliskan sangatlah relevan. Berkali-kali saya harus memeriksa diri dan merenung sambil membaca buku ini.

Bahasanya tidak terlalu mudah karena cenderung archaic, tapi masih bisa dimengerti. Berharap ada penerbit yang mau menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa Indonesia supaya lebih banyak hamba Tuhan di Indonesia yang bisa mendapat berkat melaluinya. Sebagai cicipan, saya mengutip beberapa pokok pembahasan di bagian 2 dari buku ini:

1. Take heed to yourselves, for you have a heaven to win or lose, and souls that must be happy or miserable for ever; and therefore it concerneth you to begin at home, and to take heed to yourselves as well as to others. 

2. Take heed to yourselves, for you have a depraved nature, and sinful inclinations, as well as others.

3. Take heed to yourselves, because the tempter will more ply you with temptations than other men.

4. Take heed to yourselves, because there are many eyes upon you, and there will be many to observe your falls.

5. Take heed to yourselves, for your sins have more heinous aggravations than other men’s.

6. Take heed to yourselves, because such great works as ours require greater grace than other men’s.

7. Take heed to yourselves, for the honour of your Lord and Master, and of his holy truth and ways, doth lie more on you than on other men.

8. Lastly, take heed to yourselves, for the success of all your labours doth very much depend on this.

Fellow pastors, please read this book!

Saturday, May 28, 2016

Tuhan "Caper"

“You know, don’t you, that I’m the One
who emptied your pantries and cleaned out your cupboards,
Who left you hungry and standing in bread lines?
But you never got hungry for me. You continued to ignore me.”
God’s Decree. 
Saya tertegun membaca gambaran yang sangat dramatis ini di Amos 4:6 (versi The Message). You never got hungry for God. 

TUHAN-lah yang menyebabkan mereka tidak punya makanan. Dia tutup semua sumber makanan mereka. Tetapi, sekalipun kelaparan, mereka tidak pernah lapar akan Tuhan. Dengan nada yang sulit diartikan (sedih/marah/kecewa?), Tuhan berkata: “You continued to ignore me.”
 
Lalu Tuhan melanjutkan dengan nada serupa melalui empat gambaran yang sama dramatisnya:

7-8 “Yes, and I’m the One who stopped the rains
three months short of harvest.
I’d make it rain on one village
but not on another.
I’d make it rain on one field
but not on another—and that one would dry up.
People would stagger from village to village
crazed for water and never quenching their thirst.
But you never got thirsty for me.
You ignored me.”
God’s Decree.
Tuhanlah yang menghentikan curah hujan, membuat tanah kekeringan, dan menjadikan mereka kehausan. Tetapi mereka tidak pernah haus akan Tuhan. You never got thirsty for me. You ignored me.

9 “I hit your crops with disease
and withered your orchards and gardens.
Locusts devoured your olive and fig trees,
but you continued to ignore me.”
God’s Decree.
Ladang mereka dihancurkan-Nya. Kebun, taman, panen, semua sudah disapu habis. But you continued to ignore me.

10 “I revisited you with the old Egyptian plagues,
killed your choice young men and prize horses.
The stink of rot in your camps was so strong
that you held your noses—
But you didn’t notice me.
You continued to ignore me.”
God’s Decree.
Tulah yang dulu ditimpakan kepada orang Mesir untuk membebaskan mereka dari perbudakan sekarang ditimpakan kepada mereka. Bau busuk memenuhi hidung mereka karena banyaknya kematian, baik hewan maupun manusia. Tetapi mereka tetap tidak mengalihkan perhatian kepada Tuhan. But you didn't notice me. You continued to ignore me.

11 “I hit you with earthquake and fire,
left you devastated like Sodom and Gomorrah.
You were like a burning stick
snatched from the flames.
But you never looked my way.
You continued to ignore me.”
God’s Decree.
Tuhan menghajar mereka habis-habisan dengan bencana alam sampai mereka menjadi seperti puntung yang diselamatkan dari api. Tetapi mereka tetap tidak melihat kepada Allah. But you never looked my way. You continued to ignore me.

Di satu sisi, Tuhan bertindak seperti hakim yang sedang menjalankan penghakiman melalui berbagai malapetaka yang dialami umat-Nya. Tetapi, di sisi lain, Tuhan seperti orang tua yang sedang berusaha menarik perhatian anak-Nya. Uang jajan distop, mobil ditarik, baju tidak dibelikan lagi, telpon diputus - semua hanya supaya si anak mau datang ke orang tua.

Apakah Tuhan marah? Ya, Dia marah karena anak-Nya berdosa. Tetapi Dia tidak ingin menghancurkan anak-Nya. Satu-satunya yang Dia inginkan adalah supaya anak-Nya datang kepada-Nya.

Amazing bukan? Tuhan "caper"! Dia cari perhatian! Dia berusaha menarik perhatian anak-Nya untuk kembali kepada-Nya. Datang saja kepada-Nya, lihat saja Dia, bicara saja dengan Dia! But they continued to ignore Him.

Maka tidak ada cara lain, Dia akan lebih jelas lagi, lebih nyata lagi, dan kalau perlu lebih keras lagi. Time’s up. Prepare to meet your God!

12 “All this I have done to you, Israel,
and this is why I have done it.
Time’s up, O Israel!
Prepare to meet your God!”
Saya kira, hari ini, Tuhan sangat mungkin melakukan yang kurang lebih sama kepada kita seperti kepada Israel dulu. Caranya mungkin berbeda tapi kerinduan Tuhan sama. Apakah Tuhan juga sedang caper kepadamu? Don't ignore Him.

Thursday, May 12, 2016

Hamba Tuhan: Role Model Dalam Ibadah

Ada satu peran hamba Tuhan di dalam ibadah yang jarang disadari: Menjadi role model.

Di banyak gereja, pada waktu ibadah, gembala dan juga hamba Tuhan lainnya biasanya akan duduk di barisan paling depan (di beberapa gereja, mereka bahkan duduk di mimbar menghadap jemaat). Satu hal yang sering tidak disadari, baik oleh hamba Tuhan maupun jemaat sendiri, selama ibadah berlangsung ada banyak mata yang akan berulang kali memperhatikan hamba Tuhan di depan itu. Bukan hanya pada waktu dia berdiri di mimbar memimpin pujian atau doa, bukan hanya ketika dia duduk menghadap jemaat, tetapi bahkan juga pada waktu dia duduk membelakangi jemaat.

Jemaat sendiri mungkin tidak terlalu sadar. Tetapi kalau saja dilakukan survei berapa banyak dan berapa sering jemaat "melirik" hamba Tuhan yang ada di depan membelakangi mereka, hasilnya bisa mengejutkan. 

Maka apa yang dilakukan hamba Tuhan di dalam ibadah akan mempengaruhi jemaat. Tentu pengaruhnya tidak akan langsung terasa, tetapi bertahap dan menyebar. Setelah berbulan-bulan atau mungkin beberapa tahun, pengaruhnya akan terlihat. 

Kalau hamba Tuhan tidak serius beribadah, sering keluar di tengah ibadah, menerima telpon, main handphone, ngobrol, maka jemaat sangat mungkin juga akan tidak serius beribadah. Mungkin banyak yang akan bolak-balik keluar, bercanda, bisik-bisik di tengah ibadah, dst. Kalau hamba Tuhan sikapnya dari belakang terlihat tidak serius menyanyi, misalnya tengok kiri kanan, melipat tangan, menengok ke belakang, atau apa lah yang ketahuan sama jemaat, maka jemaat sangat mungkin juga tidak akan serius menyanyi. 

Tentu sikap hamba Tuhan bukan satu-satunya faktor yang menentukan keseriusan jemaat dalam beribadah. Tetapi, sulit dipungkiri, itu faktor yang ikut menentukan.

Saya pernah beberapa kali melayani di gereja yang sangat jelas hamba Tuhan nya tidak serius beribadah. Suasana ibadah di situ sangat terasa berantakan. Ketika gereja itu kemudian berganti gembala, dan beberapa waktu kemudian saya kembali melayani di sana, saya terkejut melihat perubahannya. Jemaat menyanyi dengan sungguh dan mendengar khotbah dengan serius. Dari sekian banyak penyebab yang mungkin, tidak bisa dipungkiri salah satunya adalah faktor teladan hamba Tuhan nya. Sepanjang ibadah, dia duduk di depan, menyanyi dengan sungguh, dan serius mendengarkan khotbah.

Saya ingat Prof. Bruce Leafblad pernah berkata, "Jangan tanya apakah hamba Tuhan menjadi role model atau tidak di dalam ibadah. Jawabannya: Pasti!" Pertanyaannya apakah dia role model yang baik atau buruk.

Maka caveat pastor!

Thursday, May 05, 2016

Panggilan

Di dalam bukunya yang terkenal, “The Call”, Os Guinness membedakan dua macam panggilan di dalam hidup orang Kristen.

Panggilan yang pertama dan terutama adalah panggilan untuk mengikut Kristus. Panggilan ini adalah yang menyangkut seluruh keberadaan kita sebagai manusia. Hidup kita, hati kita, jiwa dan raga kita, seluruhnya adalah untuk menyembah Dia. Tidak ada apapun yang boleh menyaingi panggilan yang terutama ini. Oswald Chambers pernah berkata, “Waspadalah atas segala sesuatu yang menyaingi kesetiaan kepada Yesus Kristus” dan “pesaing terbesar kesetiaan kepada Yesus adalah pelayanan bagi Dia”. Bagaimana bisa begitu? Karena, “tujuan panggilan Tuhan adalah kepuasan Tuhan, bukan untuk mengerjakan sesuatu bagi Dia.”

Kalimat Oswald Chambers itu perlu diperdengarkan (kalau perlu diteriakkan) lagi di telinga kita. “Mengikut Yesus-setia pada Yesus-memuaskan Tuhan” sering seperti konsep yang abstrak bagi kita. Jauh lebih mudah untuk membayangkan bentuk konkrit yang harus dilakukan dalam rangka “mengikut Yesus-setia pada Yesus-memuaskan Tuhan”, a.k.a. “pelayanan” (baik di gereja maupun melalui profesi). Tetapi, di dalam prosesnya akhirnya kita mempersamakan keduanya. Maka perlahan-lahan, “pelayanan” menjadi sama dengan “penyembahan”. Kita merasa sudah “mengikut Yesus-setia pada Yesus-memuaskan Tuhan” dengan melakukan “pelayanan”. Bisakah kita melihat masalahnya disini?

“Mengikut Yesus-setia pada Yesus-memuaskan Tuhan” adalah soal hati, arah, tujuan, motivasi, yang mengarahkan apa yang kita lakukan. Sementara “apa yang kita lakukan”, arahnya, tujuannya, motivasinya, bisa untuk memuaskan Tuhan atau membesarkan diri. Ketika kita mempersamakan keduanya, pasti muncul masalah besar. Kita bisa berdalih bahwa “kita tidak mencari untung”, “kita sedang berusaha menggunakan karunia yang Tuhan berikan”, atau “kita ingin memberi yang terbaik untuk Tuhan” melalui apa yang kita lakukan. Tetapi, pertanyaan yang terus menggantung adalah, apakah sungguh di dalam hati kita hanya-dan-hanya ingin mengikut Yesus? Apakah kita hanya-dan-hanya memuaskan Tuhan?

Panggilan yang kedua, menurut Os Guinness, barulah yang lebih konkrit, yaitu “dalam segala hal kita harus berpikir, berbicara, hidup, dan bertindak sepenuhnya bagi Dia”. Mungkin itu berarti pekerjaan, profesi, atau kehidupan sehari-hari, yang kita jalani sebagai respons atas arahan dan panggilan Tuhan. Tetapi, jangan menjadikan panggilan kedua ini sebagai yang pertama dan terutama.

Saya tertempelak membaca kalimat Os Guinness di bawah ini:
Do we enjoy our work, love our work, virtually worship our work so that our devotion to Jesus is off-center? Do we put emphasis on service or usefulness, or being productive in working for God – at his expense? Do we strive to prove our own significance? To make difference in the world? To carve our names in marble in the monuments of time?
Apakah kita menikmati pekerjaan kita, mencintai pekerjaan kita, secara virtual menyembah pekerjaan kita sehingga kesetiaan kita kepada Yesus tergeser? Apakah kita menaruh penekanan pada pelayanan atau kegunaan, atau menjadi produktif dalam bekerja untuk Allah – dengan mengorbankan Dia? Apakah kita berjuang untuk membuktikan signifikansi diri kita? Untuk membuat perbedaan di dalam dunia? Untuk mengukir nama kita pada monumen-monumen waktu?
Siapa sih yang tidak ingin hidupnya berguna dan produktif? Siapa sih yang tidak senang berhasil membuat perbedaan di dalam dunia? Di dalam kelemahan, siapa sih yang tidak bangga membayangkan hidupnya signifikan dan dikenang? Tidak ada yang salah dengan hidup berguna, produktif, membuat perbedaan, signifikan dan dikenang. Tetapi, menjadi masalah dan salah besar ketika kita mengejar semua itu seakan-akan itulah panggilan kita yang pertama dan terutama.

Os Guinnes mengingatkan, panggilan kita yang pertama dan terutama bukanlah to do something tetapi we are called to Someone. Kunci untuk menjawab panggilan itu adalah untuk setia tidak kepada siapapun (termasuk diri kita) dan apapun selain kepada Allah.

Saya perlu mengunyah kebenaran ini lebih lama supaya meresap.