(Tulisan ini adalah revisi atas tulisan yang saya buat untuk kolom Dynatorial dalam buletin Komisi Pemuda 1 GKY Green Ville – Dynamagz edisi Juni 2007)
Ketika Tuhan menciptakan dunia dan segala isinya, Alkitab mencatat “Allah melihat bahwa semuanya itu baik”. Semuanya baik artinya: tidak ada kejahatan, tidak ada cacat, semua sesuai dengan kekudusan dan keindahan rancangan Tuhan. Itulah dunia yang dijadikan Tuhan.
Dunia hari ini sama sekali berbeda dengan dunia awal yang dijadikan Tuhan karena dosa sudah merusaknya. Dosa merusak segalanya dalam dunia. Dan yang saya maksud segalanya adalah, harfiah, SEGALANYA!
Itu sebabnya Allah menjanjikan langit dan bumi yang baru. Suatu dunia yang baru, suatu dunia yang kembali sesuai dengan kekudusan dan keindahan rancangan Tuhan. Atau boleh kita katakan, suatu dunia surgawi.
Tetapi sebelum sampai ke sana, Allah berulang kali menerobos kehidupan dunia dengan memberikan model kehidupan surgawi. Kemah suci dibangun dengan model yang diperlihatkan Tuhan kepada Musa. Pola ibadah orang Israel dan segala elemennya di perintahkan langsung oleh Allah dengan detil. Melalui kehidupanNya, Yesus datang ke dalam dunia menunjukkan seperti apa model kehidupan surgawi. Dan bahkan Yesus mengajar supaya kerinduan kita adalah “jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga”. Apa yang terjadi di surga kita rindukan, bukan nanti tetapi sekarang, terjadi juga di bumi.
Pola ini bisa diringkas sebagai: Creation (Penciptaan)-Fall (Kejatuhan)-Redemption (Penebusan)-Consummation (Penyempurnaan). Pada waktu Creation segalanya sempurna. Pada waktu Fall segalanya menjadi rusak. Pada waktu Consummation segalanya akan menjadi baru yaitu di surga. Tetapi hari ini kita bukan hanya berada di tengah kondisi Fall tetapi juga ada Redemption dari Tuhan. Maka ada terobosan kehidupan surgawi di tengah dunia yang jatuh ini dan ada pengharapan pembaruan, bukan nanti, tetapi sekarang.
Pola yang sama bisa kita kenakan pada keluarga.
Keluarga adalah bagian dari dunia yang dijadikan Tuhan. Di dalam keluarga, hubungan suami dan istri adalah bentuk hubungan antar manusia yang paling intim dan mencerminkan hubungan Allah Tritunggal. Hubungan antara orang tua dan anak mencerminkan hubungan antara Allah dengan anak-anakNya, yang dididik dan dikasihiNya.
Keluarga juga adalah bagian dari dunia yang dirusak kemudian oleh dosa. Dan itu sebabnya kita melihat banyak kerusakan terjadi dalam keluarga. Untuk menyebut beberapa saja: suami istri saling melukai yang menyebabkan anak juga terluka, orang tua tidak peduli bahkan menyiksa anaknya dengan kata-kata dan tindakannya, mama selalu menuntut dan membandingkan anaknya dengan orang lain, papa tidak memberikan teladan moral, dan seterusnya, dan seterusnya. Keluarga kita dan semua keluarga di dunia sudah dirusak oleh dosa. Kalau tidak ada perubahan, kerusakan itu akan terus berputar menjadi makin besar dari generasi ke generasi.
Tetapi sama seperti elemen dunia yang lain, relasi dalam keluarga juga akan dijadikan baru oleh Tuhan.
Maka hari ini, bukan saja sebagai dorongan, tetapi seharusnya sebagai perintah: “Rindukanlah pembaruan itu!” Dan rindukanlah itu mulai terjadi sekarang juga. Kita memang belum mencapai Consummation, tetapi kita juga bukan hidup dalam kondisi Fall saja. Kita memiliki Redemption!
Kita bisa memulai pembaruan surgawi itu hari ini juga. Paling tidak, kitalah yang mulai menghadirkan pola relasi surgawi itu dalam keluarga kita. Gumulkanlah apa yang Tuhan mau kita kerjakan dalam keluarga kita. Bagaimana harus berkata-kata dan bersikap pada orang tua, suami/istri, anak kita? Bagaimana mendoakan dan mengasihi mereka? Bagaimana terang Tuhan yang ada dalam hati kita bisa bercahaya dalam kegelapan dan kerusakan karena dosa?
Keadaan mungkin tidak akan berubah karena kita belum sampai ke Consummation. Masalah yang kita hadapi dalam keluarga mungkin akan tetap sama atau bahkan bertambah berat. Tetapi doa yang kita panjatkan, kasih dan kebenaran yang memancar dari hidup kita, kuasa Redemption yang kita alami dalam Kristus, tidak akan membuat segalanya persis sama karena mulai ada pola relasi surgawi dalam keluarga kita.
Tuhan memberkati keluargamu!
Tuesday, July 03, 2007
Wednesday, June 27, 2007
Lukas 9:18-27
(Tulisan di bawah ini saya buat sebagai bahan saat teduh untuk Retreat GKY Green Ville "Invitation to A Journey" 21-23 Juni 2007)
Mengikut Yesus adalah sebuah pilihan hidup. Makin lama mengikut Yesus kita akan makin sadar hal itu.
Dalam percakapan dengan beberapa orang yang sedang bergumul untuk menjadi hamba Tuhan, saya sering mendengar bahwa masalah yang memberatkan mereka adalah "menjadi hamba Tuhan berarti tidak menjadi kaya dalam materi".
Ada dua hal yang sangat mengganjal bagi saya. Pertama, mengapa perlu bergumul berat untuk hal itu? Bukankah aneh mengikut Tuhan harus ditimbang dengan materi? Kedua, mengapa pergumulan ini sepertinya khas pergumulan ‘menjadi hamba Tuhan’? Bukankah Yesus memanggil SETIAP ORANG yang mau mengikut Dia untuk menyangkal diri dan memikul salib? Bukankah Yesus memanggil SETIAP ORANG yang mau mengikut Dia untuk membayar harga mengikut Dia sekalipun sampai kehilangan nyawa? Dan bukankah SETIAP ORANG itu berarti SEMUA!? Lalu mengapa hanya pergumulan menjadi hamba Tuhan yang identik dengan pergumulan untuk hidup sederhana, hidup kudus, menderita, taat kemanapun Tuhan suruh, sementara menjadi pengusaha, karyawan, profesional dan lain-lain tidak harus bergumul seperti demikian?
Tidak heran banyak orang Kristen yang merasa bisa sembarangan mengikut Yesus, kecuali menjadi hamba Tuhan. Dan banyak hamba Tuhan juga merasa bisa sembarangan mengikut Yesus karena sekedar sudah menjadi hamba Tuhan.
Mau tidak mau harus kita akui bahwa kita banyak dibesarkan dengan nilai-nilai dunia. Dan bahkan sampai saat ini, promosi nilai-nilai dunia itu terus membombardir kita:
“Hidup yang baik itu adalah kaya, mapan, terhormat”
“Bangga sekali kalau punya simbol-simbol kesuksesan seperti: mobil mewah, rumah mewah, gaya hidup glamour”
atau bahkan dalam pelayanan sekalipun:
“Dipuji orang, dibutuhkan, punya jabatan, itulah pelayanan yang diberkati”
Darimana kita belajar itu? Dari dunia! Maka sebenarnya bukan Firman Tuhan tetapi nilai-nilai dunia yang membentuk kita. Dan yang sangat menyedihkan, berapapun seringnya kita mendengar Firman Tuhan, nilai-nilai dunia itu terus kita simpan di tempat yang aman dalam hati kita. Kita lindungi itu. Kita tidak membiarkan bagian itu disentuh dan diubah oleh Tuhan. Kita mengatakan bahwa kita percaya kepada Tuhan, mengasihi Tuhan, ingin menyenangkan Tuhan, tapi dalam hati tetap mengatakan:
“Saya mau ini Tuhan”
“Aduh enaknya kalau begitu Tuhan”
“Jangan berikan itu Tuhan!”
“Jangan sampai saya kehilangan ini Tuhan”
Maka kapan sebetulnya kita sungguh mengikut Yesus? Itulah sebabnya banyak orang Kristen hidup tidak ada bedanya dengan orang yang bukan Kristen.
"Memiliki hidup dalam segala kelimpahannya" adalah janji Tuhan Yesus bagi mereka yang mengikuti Dia. Tetapi mengikut Yesus bukan hanya menjadi orang Kristen dan sekedar ‘lumayan’ dan ‘kadang-kadang’ taat. Mengikut Yesus adalah mengarahkan mata kepada Dia dan membutakan diri terhadap yang lain, mengarahkan telinga kepada suaraNya dan menulikan diri terhadap suara lain, dan itu kita lakukan setiap hari. Bukankah Dia adalah Tuhan, Mesias dari Allah, bagi kita?
Saya akan mengakhiri dengan sebuah doa yang saya cuplik dari doa Henry Nouwen:
Pilihan untuk mengikuti jalanMu harus kubuat setiap saat dalam hidupku. Aku harus memilih pikiran yang adalah pikiranMu, kata-kata yang adalah sabdaMu, tindakan-tindakan yang adalah karyaMu. Tidak ada tempat dan waktu tanpa pilihan.
Aku sungguh ingin mengikutiMu, tetapi juga mau mengikuti keinginan-keinginanku sendiri dan senang mendengarkan suara-suara yang berbicara mengenai kedudukan, keberhasilan, kehormatan, kesenangan, kekuasaan dan pengaruh. Bantulah aku, agar aku menjadi tuli terhadap suara-suara seperti itu dan semakin peka mendengarkan suaraMu yang memanggil aku…
Apakah itu juga adalah doa kita? Dengarlah kalimat Yesus: “Setiap orang yang mau mengikut AKu, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya”.
Mengikut Yesus adalah sebuah pilihan hidup. Makin lama mengikut Yesus kita akan makin sadar hal itu.
Dalam percakapan dengan beberapa orang yang sedang bergumul untuk menjadi hamba Tuhan, saya sering mendengar bahwa masalah yang memberatkan mereka adalah "menjadi hamba Tuhan berarti tidak menjadi kaya dalam materi".
Ada dua hal yang sangat mengganjal bagi saya. Pertama, mengapa perlu bergumul berat untuk hal itu? Bukankah aneh mengikut Tuhan harus ditimbang dengan materi? Kedua, mengapa pergumulan ini sepertinya khas pergumulan ‘menjadi hamba Tuhan’? Bukankah Yesus memanggil SETIAP ORANG yang mau mengikut Dia untuk menyangkal diri dan memikul salib? Bukankah Yesus memanggil SETIAP ORANG yang mau mengikut Dia untuk membayar harga mengikut Dia sekalipun sampai kehilangan nyawa? Dan bukankah SETIAP ORANG itu berarti SEMUA!? Lalu mengapa hanya pergumulan menjadi hamba Tuhan yang identik dengan pergumulan untuk hidup sederhana, hidup kudus, menderita, taat kemanapun Tuhan suruh, sementara menjadi pengusaha, karyawan, profesional dan lain-lain tidak harus bergumul seperti demikian?
Tidak heran banyak orang Kristen yang merasa bisa sembarangan mengikut Yesus, kecuali menjadi hamba Tuhan. Dan banyak hamba Tuhan juga merasa bisa sembarangan mengikut Yesus karena sekedar sudah menjadi hamba Tuhan.
Mau tidak mau harus kita akui bahwa kita banyak dibesarkan dengan nilai-nilai dunia. Dan bahkan sampai saat ini, promosi nilai-nilai dunia itu terus membombardir kita:
“Hidup yang baik itu adalah kaya, mapan, terhormat”
“Bangga sekali kalau punya simbol-simbol kesuksesan seperti: mobil mewah, rumah mewah, gaya hidup glamour”
atau bahkan dalam pelayanan sekalipun:
“Dipuji orang, dibutuhkan, punya jabatan, itulah pelayanan yang diberkati”
Darimana kita belajar itu? Dari dunia! Maka sebenarnya bukan Firman Tuhan tetapi nilai-nilai dunia yang membentuk kita. Dan yang sangat menyedihkan, berapapun seringnya kita mendengar Firman Tuhan, nilai-nilai dunia itu terus kita simpan di tempat yang aman dalam hati kita. Kita lindungi itu. Kita tidak membiarkan bagian itu disentuh dan diubah oleh Tuhan. Kita mengatakan bahwa kita percaya kepada Tuhan, mengasihi Tuhan, ingin menyenangkan Tuhan, tapi dalam hati tetap mengatakan:
“Saya mau ini Tuhan”
“Aduh enaknya kalau begitu Tuhan”
“Jangan berikan itu Tuhan!”
“Jangan sampai saya kehilangan ini Tuhan”
Maka kapan sebetulnya kita sungguh mengikut Yesus? Itulah sebabnya banyak orang Kristen hidup tidak ada bedanya dengan orang yang bukan Kristen.
"Memiliki hidup dalam segala kelimpahannya" adalah janji Tuhan Yesus bagi mereka yang mengikuti Dia. Tetapi mengikut Yesus bukan hanya menjadi orang Kristen dan sekedar ‘lumayan’ dan ‘kadang-kadang’ taat. Mengikut Yesus adalah mengarahkan mata kepada Dia dan membutakan diri terhadap yang lain, mengarahkan telinga kepada suaraNya dan menulikan diri terhadap suara lain, dan itu kita lakukan setiap hari. Bukankah Dia adalah Tuhan, Mesias dari Allah, bagi kita?
Saya akan mengakhiri dengan sebuah doa yang saya cuplik dari doa Henry Nouwen:
Pilihan untuk mengikuti jalanMu harus kubuat setiap saat dalam hidupku. Aku harus memilih pikiran yang adalah pikiranMu, kata-kata yang adalah sabdaMu, tindakan-tindakan yang adalah karyaMu. Tidak ada tempat dan waktu tanpa pilihan.
Aku sungguh ingin mengikutiMu, tetapi juga mau mengikuti keinginan-keinginanku sendiri dan senang mendengarkan suara-suara yang berbicara mengenai kedudukan, keberhasilan, kehormatan, kesenangan, kekuasaan dan pengaruh. Bantulah aku, agar aku menjadi tuli terhadap suara-suara seperti itu dan semakin peka mendengarkan suaraMu yang memanggil aku…
Apakah itu juga adalah doa kita? Dengarlah kalimat Yesus: “Setiap orang yang mau mengikut AKu, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya”.
Saturday, June 16, 2007
Lukas 8:4-15

Tulisan di bawah ini saya buat sebagai bahan saat teduh untuk Retreat GKY Green Ville "Invitation to A Journey" 21-23 Juni 2007
Mungkin sudah bertahun-tahun kita menjadi orang Kristen. Entah sudah berapa banyak ayat Alkitab yang kita baca dan entah berapa ratus atau bahkan berapa ribu penjelasannya (khotbah) yang kita dengar. Tetapi seperti perumpamaan yang disampaikan Yesus, semua benih yang ditabur itu akan menjadi percuma kalau tidak jatuh pada tanah yang baik.
Kita sering mendengar orang mengatakan bahwa masalah paling utama bukanlah berapa banyak yang didengar tapi berapa banyak yang dilakukan. Saya setuju! Tetapi cara berpikir seperti ini juga seringkali membuat kita hanya menekankan ‘tindakan melakukan’ Firman Tuhan. Dan ini bisa berdampak serius.
Misalnya ketika kita membaca ‘kasih itu sabar, kasih itu murah hati…’. Kita akan berjuang untuk terlihat sabar sekalipun marah, dan berjuang untuk terlihat murah hati walaupun tidak rela. Lalu kita rasa kita sudah melakukan Firman Tuhan.
Demikian pula kita akan menghitung apakah kita sudah berdoa, ke gereja, pelayanan, memberikan persembahan, dll. Dan kalau kita sudah melakukannya, kita akan merasa puas, merasa sudah bertumbuh. Padahal kita tidak pernah bertumbuh.
Dalam hal ‘tindakan melakukan’, yang paling hebat mungkin adalah orang Farisi. Tetapi jangan lupa, mereka justru ditegur Yesus! Mereka tidak bertumbuh sekalipun melakukan semuanya. Mereka hanya memasang kuk yang tidak enak dan beban yang berat atas pundak mereka dan orang lain.
Seperti berbuah adalah keharusan, melakukan Firman adalah keharusan. Tetapi jangan lupa ada proses dari benih sampai menjadi buah: benih itu harus ‘masuk’ benar ke tanah, berakar perlahan ke bawah dan bertumbuh perlahan ke atas. Demikian pula ada proses dari ‘mendengar’ Firman ke ‘melakukan’ Firman.
Dengan menggunakan analogi yang sama, minimal ada 3 hal yang harus kita perhatikan:
Firman yang didengar itu harus ‘masuk’ benar ke dalam kita. Bagaimana caranya? Mungkin ilustrasi berikut dari Eugene Peterson bisa membantu. Seekor anjing yang mendapat tulang akan menggigitnya, mengunyahnya, menjilatnya dan kadang menggeram dengan puas. Dia menikmatinya dan tidak terburu-buru menghabiskannya. Yes 31:4 memakai gambaran yang sama: “Seperti seekor singa…menggeram untuk mempertahankan mangsanya”. Istilah menggeram di situ menggambarkan singa yang sedang menikmati mangsanya. Dan yang menarik adalah, istilah yang sama dipakai dalam Mzm 1 dan diterjemahkan ‘merenung’. “Berbahagialah orang" yang “kesukaannya ialah Taurat Tuhan dan merenungkannya siang dan malam”.
Bayangkan seperti seekor anjing yang begitu menikmati tulang, menggigit, mengunyah, menjilat, dan kadang menggeram dengan puas, atau seperti singa yang begitu menikmati mangsanya, demikianlah kita menikmati Firman Tuhan! Apakah itu yang kita alami waktu mendengar dan membaca Firman?
Kita harus membersihkan tanah itu dari batu dan semak duri. Ini sama sekali bukan pekerjaan yang gampang. Ada dosa, kekhawatiran, kekerasan hati, kepahitan, semua itu satu-persatu harus kita bawa kepada Tuhan untuk dibersihkan. Kita menyediakan tanah yang subur untuk benih itu bertumbuh.
Dan akhirnya, sabar membiarkan Tuhan bekerja. Tidak ada pertumbuhan yang bisa dipercepat. Satu-satunya yang bisa kita lakukan dengan lebih cepat adalah merusak pertumbuhan itu sendiri. Kita hanya membiarkan Tuhan bekerja dalam diri kita. Dan maksud saya adalah sungguh-sungguh MEMBIARKAN Tuhan bekerja. Jangan halangi dengan dosa, jangan halangi dengan ketidak taatan kita, jangan halangi dengan kemalasan kita!
Kita akan melihat buah itu keluar. Melakukan Firman Tuhan bukan lagi sebagai beban tetapi mengalir keluar dari hidup kita. Sebagaimana pohonnya sudah menjadi pohon yang baik, demikianlah buahnya akan baik.
Itu sebabnya Yesus mengatakan “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah kepadaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan”.
Wednesday, June 13, 2007
Menulis
Menulis bagi saya adalah salah satu disiplin rohani.
Setiap hari ada banyak peristiwa yang kita alami, hal-hal yang kita lihat dan kalimat-kalimat yang kita dengar. Kalau kita menerima semuanya secara biasa saja, maka peristiwa yang kita alami, hal-hal yang kita lihat dan kalimat-kalimat yang kita dengar itu, hanya akan menjadi bagian yang ‘lewat’ begitu saja dalam hidup kita.
Bagi kita yang mengenal Tuhan, gaya hidup seperti ini mungkin adalah gaya hidup yang skizofrenik. Sekalipun Firman Tuhan kita dengar dan pelajari tapi ketika berhadapan dengan berbagai hal dalam kehidupan, pikiran dan perasaan yang seharusnya sudah dipengaruhi Firman Tuhan itu tidak bekerja atau lebih tepatnya tidak diusahakan untuk bekerja.
Cara hidup seperti ini membuat kita tidak bertumbuh. Pikiran kita dan perasaan kita yang seharusnya makin tajam dibentuk oleh Firman, justru kita latih untuk tumpul dan apatis. Dan lebih buruk lagi, karena benteng pikiran dan perasaan kita menjadi tumpul, tanpa kita sadari banyak pengaruh dari luar masuk kepada kita.
Maka selalu bergumul adalah sesuatu yang sangat penting. Ketika kita melihat orang sakit yang bertanya “dimana Tuhan?”, apakah kita secara gampang langsung memberikan jawab “aduh orang ini kurang beriman” atau kita ikut bergumul dengan dia? Ketika kita mengalami peristiwa yang tidak enak dan kita marah, apakah kita hanya merasa “sudah seharusnya saya marah” atau bergumul “mengapa saya marah”? Ketika kita melihat berbagai peristiwa dalam gereja, apakah kita menganggapnya biasa saja, atau mengurut dada saja, atau kita jadi menggumuli kehendak Tuhan? Ketika kita mendengar kalimat-kalimat yang salah atau indah, apakah kita membandingkannya dengan Firman Tuhan?
Saya mencoba bergumul dengan peristiwa yang saya alami, hal-hal yang saya lihat, kalimat-kalimat yang saya dengar. Tidak selalu berhasil karena tidak selalu saya cukup peka dan cukup rajin untuk bergumul. Tetapi saya menemukan bahwa ternyata menulis itu mendorong saya untuk mengingat, mengevaluasi dan merenungkan semua itu dari kacamata Firman Tuhan.
Maka menulis adalah salah satu disiplin rohani untuk melatih pikiran dan perasaan kita bekerja dan bereaksi sesuai dengan Firman Tuhan.
Yuk, latihan menulis! Paling tidak bisa kita lakukan dengan menulis jurnal pribadi, yang isinya bukan hanya catatan kegiatan kita, juga bukan hanya luapan emosi kita, tetapi pergumulan mengerti Firman, pergumulan untuk hidup sesuai dengan Firman Tuhan, dan kesadaran akan anugrah Tuhan yang bekerja dalam hidup kita dan orang-orang di sekitar kita.
Setiap hari ada banyak peristiwa yang kita alami, hal-hal yang kita lihat dan kalimat-kalimat yang kita dengar. Kalau kita menerima semuanya secara biasa saja, maka peristiwa yang kita alami, hal-hal yang kita lihat dan kalimat-kalimat yang kita dengar itu, hanya akan menjadi bagian yang ‘lewat’ begitu saja dalam hidup kita.
Bagi kita yang mengenal Tuhan, gaya hidup seperti ini mungkin adalah gaya hidup yang skizofrenik. Sekalipun Firman Tuhan kita dengar dan pelajari tapi ketika berhadapan dengan berbagai hal dalam kehidupan, pikiran dan perasaan yang seharusnya sudah dipengaruhi Firman Tuhan itu tidak bekerja atau lebih tepatnya tidak diusahakan untuk bekerja.
Cara hidup seperti ini membuat kita tidak bertumbuh. Pikiran kita dan perasaan kita yang seharusnya makin tajam dibentuk oleh Firman, justru kita latih untuk tumpul dan apatis. Dan lebih buruk lagi, karena benteng pikiran dan perasaan kita menjadi tumpul, tanpa kita sadari banyak pengaruh dari luar masuk kepada kita.
Maka selalu bergumul adalah sesuatu yang sangat penting. Ketika kita melihat orang sakit yang bertanya “dimana Tuhan?”, apakah kita secara gampang langsung memberikan jawab “aduh orang ini kurang beriman” atau kita ikut bergumul dengan dia? Ketika kita mengalami peristiwa yang tidak enak dan kita marah, apakah kita hanya merasa “sudah seharusnya saya marah” atau bergumul “mengapa saya marah”? Ketika kita melihat berbagai peristiwa dalam gereja, apakah kita menganggapnya biasa saja, atau mengurut dada saja, atau kita jadi menggumuli kehendak Tuhan? Ketika kita mendengar kalimat-kalimat yang salah atau indah, apakah kita membandingkannya dengan Firman Tuhan?
Saya mencoba bergumul dengan peristiwa yang saya alami, hal-hal yang saya lihat, kalimat-kalimat yang saya dengar. Tidak selalu berhasil karena tidak selalu saya cukup peka dan cukup rajin untuk bergumul. Tetapi saya menemukan bahwa ternyata menulis itu mendorong saya untuk mengingat, mengevaluasi dan merenungkan semua itu dari kacamata Firman Tuhan.
Maka menulis adalah salah satu disiplin rohani untuk melatih pikiran dan perasaan kita bekerja dan bereaksi sesuai dengan Firman Tuhan.
Yuk, latihan menulis! Paling tidak bisa kita lakukan dengan menulis jurnal pribadi, yang isinya bukan hanya catatan kegiatan kita, juga bukan hanya luapan emosi kita, tetapi pergumulan mengerti Firman, pergumulan untuk hidup sesuai dengan Firman Tuhan, dan kesadaran akan anugrah Tuhan yang bekerja dalam hidup kita dan orang-orang di sekitar kita.
Tuesday, May 29, 2007
Doa Ku Dari Doa Bapa Kami
Bapa kami yang di sorga
Tuhan yang di sorga, terima kasih aku boleh memanggilmu Bapa. Dan terima kasih karena aku tahu aku tidak sendirian dalam perjalanan rohaniku di dunia ini. Aku punya keluarga iman, orang-orang yang di dalam iman bersama-sama berseru menyebutMu: Bapa kami!
Dikuduskanlah namaMu
Bapa, ampuni kalau seringkali aku tidak menghormati kekudusanMu. Ajar aku untuk merindukan namaMu ditinggikan dan dihormati. Jangan biarkan ada orang yang menista Engkau, ya Bapa. Kalau hari ini aku melihat orang melakukannya, biarlah hatiku berkobar karena cinta akan Engkau. Kalau Engkau masih mengizinkan orang-orang menista namaMu, jangan biarkan aku, anakMu ini, ikut melakukannya. Nyatakan kekudusanMu di dalam dunia ini supaya semua orang takut akan Engkau!
Datanglah kerajaanMu
Tuhan pakailah aku dan pakailah gerejaMu untuk memperluas kerajaanMu. Biar lewat hidup kami, terpancar kasih, keadilan, kebenaran dan rasa hormat akan Engkau. Biar kerajaanMu dan kuasa pemerintahanMu makin nyata. Kami rindu, ya Bapa, semua lutut bertelut dan semua lidah mengaku: Engkaulah Tuhan!
Jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga
Betapa berbedanya, ya Bapa, bumi dengan sorga. Di sorga, semua tahu siapa yang memerintah, semua malaikat melayani Engkau, semua mengasihiMu. Selama di bumi, aku akan terus melihat manusia berjuang saling menguasai, melayani diri, berebut uang dan kehormatan. Karena itulah hatiku merindukan sorga.... Tetapi aku rindu bukan cuma di sorga, tetapi saat ini juga di bumi ini, kehendak Bapa terjadi. Dan karena aku anakMu ini lemah, mulailah dari aku hari ini, ya Bapa.
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
Dua hal aku minta: penuhi hatiku dengan rasa syukur untuk semua yang Kau berikan termasuk sepiring nasi yang berasal dari padaMu dan puaskan hatiku dengan apa yang Kau berikan. Jangan aku tidak bersyukur, dan jangan aku meminta lebih dari yang aku perlukan. Berikanlah ya Bapa berkatMu yang cukup bagiku untuk menjalankan tugasku di dunia. Dan beri aku kerelaan untuk membagikan kepada orang lain kelebihan yang Engkau berikan.
Dan ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami
Ampunilah aku ya Bapa untuk kesalahan dan dosaku. Ajar aku juga mengampuni orang lain. Jangan biarkan aku memandang remeh dosaku dan memandang berat dosa orang lain, apalagi saudara-saudaraku yang Engkau tempatkan di sekitarku untuk kukasihi.
Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat
Bapa, kadang-kadang kejahatan terasa mengurung aku dan aku tidak tahan. Kadang-kadang situasi terasa begitu menekan dan menggodaku untuk melakukan kejahatan baik lewat mulutku maupun tindakanku. Lepaskanlah aku ya Bapa daripada yang jahat supaya aku jangan jatuh ke dalam pencobaan. Bapa, janganlah murka kepada kelemahanku, ingatlah akan kasih sayangMu. Apapun yang terjadi, jangan biarkan aku sendirian dalam dunia yang jahat ini dan pencobaan menggulungku sampai habis.
Aku memanjatkan doaku dengan iman dan dengan berani karena Engkaulah yang empunya kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya! Terpujilah Engkau Bapaku, terpujilah Engkau Bapa kami, Bapa dari orang-orang yang Engkau kasihi!
Amin!
Tuhan yang di sorga, terima kasih aku boleh memanggilmu Bapa. Dan terima kasih karena aku tahu aku tidak sendirian dalam perjalanan rohaniku di dunia ini. Aku punya keluarga iman, orang-orang yang di dalam iman bersama-sama berseru menyebutMu: Bapa kami!
Dikuduskanlah namaMu
Bapa, ampuni kalau seringkali aku tidak menghormati kekudusanMu. Ajar aku untuk merindukan namaMu ditinggikan dan dihormati. Jangan biarkan ada orang yang menista Engkau, ya Bapa. Kalau hari ini aku melihat orang melakukannya, biarlah hatiku berkobar karena cinta akan Engkau. Kalau Engkau masih mengizinkan orang-orang menista namaMu, jangan biarkan aku, anakMu ini, ikut melakukannya. Nyatakan kekudusanMu di dalam dunia ini supaya semua orang takut akan Engkau!
Datanglah kerajaanMu
Tuhan pakailah aku dan pakailah gerejaMu untuk memperluas kerajaanMu. Biar lewat hidup kami, terpancar kasih, keadilan, kebenaran dan rasa hormat akan Engkau. Biar kerajaanMu dan kuasa pemerintahanMu makin nyata. Kami rindu, ya Bapa, semua lutut bertelut dan semua lidah mengaku: Engkaulah Tuhan!
Jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga
Betapa berbedanya, ya Bapa, bumi dengan sorga. Di sorga, semua tahu siapa yang memerintah, semua malaikat melayani Engkau, semua mengasihiMu. Selama di bumi, aku akan terus melihat manusia berjuang saling menguasai, melayani diri, berebut uang dan kehormatan. Karena itulah hatiku merindukan sorga.... Tetapi aku rindu bukan cuma di sorga, tetapi saat ini juga di bumi ini, kehendak Bapa terjadi. Dan karena aku anakMu ini lemah, mulailah dari aku hari ini, ya Bapa.
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
Dua hal aku minta: penuhi hatiku dengan rasa syukur untuk semua yang Kau berikan termasuk sepiring nasi yang berasal dari padaMu dan puaskan hatiku dengan apa yang Kau berikan. Jangan aku tidak bersyukur, dan jangan aku meminta lebih dari yang aku perlukan. Berikanlah ya Bapa berkatMu yang cukup bagiku untuk menjalankan tugasku di dunia. Dan beri aku kerelaan untuk membagikan kepada orang lain kelebihan yang Engkau berikan.
Dan ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami
Ampunilah aku ya Bapa untuk kesalahan dan dosaku. Ajar aku juga mengampuni orang lain. Jangan biarkan aku memandang remeh dosaku dan memandang berat dosa orang lain, apalagi saudara-saudaraku yang Engkau tempatkan di sekitarku untuk kukasihi.
Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat
Bapa, kadang-kadang kejahatan terasa mengurung aku dan aku tidak tahan. Kadang-kadang situasi terasa begitu menekan dan menggodaku untuk melakukan kejahatan baik lewat mulutku maupun tindakanku. Lepaskanlah aku ya Bapa daripada yang jahat supaya aku jangan jatuh ke dalam pencobaan. Bapa, janganlah murka kepada kelemahanku, ingatlah akan kasih sayangMu. Apapun yang terjadi, jangan biarkan aku sendirian dalam dunia yang jahat ini dan pencobaan menggulungku sampai habis.
Aku memanjatkan doaku dengan iman dan dengan berani karena Engkaulah yang empunya kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya! Terpujilah Engkau Bapaku, terpujilah Engkau Bapa kami, Bapa dari orang-orang yang Engkau kasihi!
Amin!
Sunday, May 06, 2007
Firman Tuhan = Khotbah?
Dalam pertemuan-pertemuan ibadah, sebelum pembicara berdiri di depan, biasanya liturgis atau worship leader akan mengatakan “Kita akan mendengarkan Firman Tuhan”.
Memang pembicara biasanya kemudian membacakan satu atau beberapa bagian Firman Tuhan. Tetapi saya kira yang dimaksud liturgis atau worship leader dengan “Kita akan mendengarkan Firman Tuhan” adalah “Kita akan mendengarkan khotbah”.
Khotbah bukanlah Firman Tuhan. Saya kira tidak ada pengkhotbah waras yang berani mengangkat naskah khotbahnya tinggi-tinggi sambil berseru “Ini adalah Firman Tuhan!”.
Kita bisa mendefinisikan khotbah sebagai:
“Penjelasan akan Firman Tuhan supaya pendengar mengerti Firman Tuhan”
“Usaha mengekspos pendengar kepada Firman Tuhan sehingga mereka berhadapan langsung dengan Tuhan yang berfirman”
Atau hal-hal yang serupa dengan itu, tetapi jelas khotbah bukanlah Firman Tuhan itu sendiri.
Saya tidak bermaksud menyalahkan liturgis atau worship leader yang mengatakan “Kita akan mendengarkan Firman Tuhan”. Kalimat itu sah saja karena memang dalam ibadah, Firman Tuhan akan diperdengarkan dan juga dijelaskan.
Tetapi 2 hal yang ingin saya ajak kita cermati:
Pertama, kalimat itu sudah menjadi kalimat yang terlalu biasa diucapkan sehingga liturgis atau worship leader, jemaat atau bahkan si pembicara sendiri, tidak terlalu menganggapnya serius. Pokoknya apa saja yang akan dibicarakan oleh si pembicara langsung disebut “Firman Tuhan”. Saya pernah datang dalam suatu persekutuan. Acaranya adalah pemutaran film dan sebelum film diputar, si pembicara pertama-tama akan memberikan pengantar film tersebut sebelum akhirnya nanti mengajak jemaat mengkritisi film itu berdasarkan konsep Firman Tuhan. Jelas si pembicara tidak akan mengajak membuka Alkitab, tidak membacakan Firman Tuhan dan tidak menjelaskan arti Firman Tuhan. Tetapi worship leader sudah terlalu biasa mengucapkan kalimat itu, maka ketika tiba waktunya si pembicara akan naik dan memberikan pengantar film tersebut, dia langsung mengatakan “Kita akan mendengarkan Firman Tuhan”. Kalau sampai sejauh itu, saya rasa kita sudah salah kaprah.
Kedua, tidak jarang setelah khotbah, jemaat mengatakan kalimat-kalimat seperti demikian:
“Wah Firmannya bagus sekali Pak!”
“Firman Tuhan hari ini sangat keras, tetapi kita harus belajar menerimanya”
Kalau memang yang dimaksud adalah Firman Tuhan sesungguhnya (Alkitab), kalimat-kalimat di atas tidak salah. Kalau yang dimaksud adalah penjelasan Firman Tuhan (khotbah) menolong dia mengerti betapa indahnya rencana Tuhan yang tertulis dalam Alkitab, atau karena khotbah itu dia mengerti teguran dari Firman Tuhan bahwa ada dosa-dosa dimana dia harus bertobat, maka kalimat-kalimat di atas juga tidak salah. Tetapi seringkali yang dimaksud adalah ‘khotbah’nya dan bukan ‘Firman Tuhan’nya.
Mengapa saya mempermasalahkan ini? Pertama ini berkaitan dengan definisi dan keseriusan kita memandang Firman Tuhan. Kedua, saya tidak rela kalau ada pengkhotbah yang khotbahnya tidak tepat, walaupun diuraikan dengan bagus atau ‘keras’, lalu orang bilang “Firmannya bagus atau Firmannya sangat menegur”. Itu bukan Firman Tuhan! Bahkan itu salah sama sekali karena tidak sesuai dengan Firman Tuhan!
Tugas pengkhotbah adalah menjelaskan Firman Tuhan, membawa pendengar untuk mengerti Firman Tuhan dan berespon kepada Firman Tuhan. Dia mungkin melakukannya dengan memakai ilustrasi, menjelaskan latar belakang bagian-bagian Firman Tuhan, memakai kalimat-kalimat dari teolog-teolog atau filsuf-filsuf, atau menceritakan kesaksian hidupnya. Tetapi lewat semua itu, tujuan utama adalah supaya pendengarnya mengerti dan mengamini Firman Tuhan.
Maka tidak semua yang dikatakan di atas mimbar harus kita anggap Firman Tuhan. Setiap pengkhotbah harus berpikir apakah melalui kalimat-kalimatnya, dia membawa jemaat mengerti Firman Tuhan? Dan setiap jemaat, seperti yang pernah dikatakan Paulus “menanggapi (menguji) apa yang mereka katakan”. Kalau khotbah itu memang membawa kita mengerti Firman Tuhan dengan benar, mari kita bersyukur untuk bagian Firman Tuhan itu dan kita bersyukur untuk khotbah yang disampaikan yang menolong kita mengerti, dan akhirnya kita harus berespon kepada Firman Tuhan itu sendiri. Bagaimanapun, kita harus taat kepada Firman Tuhan dan bukan kepada khotbah.
Memang pembicara biasanya kemudian membacakan satu atau beberapa bagian Firman Tuhan. Tetapi saya kira yang dimaksud liturgis atau worship leader dengan “Kita akan mendengarkan Firman Tuhan” adalah “Kita akan mendengarkan khotbah”.
Khotbah bukanlah Firman Tuhan. Saya kira tidak ada pengkhotbah waras yang berani mengangkat naskah khotbahnya tinggi-tinggi sambil berseru “Ini adalah Firman Tuhan!”.
Kita bisa mendefinisikan khotbah sebagai:
“Penjelasan akan Firman Tuhan supaya pendengar mengerti Firman Tuhan”
“Usaha mengekspos pendengar kepada Firman Tuhan sehingga mereka berhadapan langsung dengan Tuhan yang berfirman”
Atau hal-hal yang serupa dengan itu, tetapi jelas khotbah bukanlah Firman Tuhan itu sendiri.
Saya tidak bermaksud menyalahkan liturgis atau worship leader yang mengatakan “Kita akan mendengarkan Firman Tuhan”. Kalimat itu sah saja karena memang dalam ibadah, Firman Tuhan akan diperdengarkan dan juga dijelaskan.
Tetapi 2 hal yang ingin saya ajak kita cermati:
Pertama, kalimat itu sudah menjadi kalimat yang terlalu biasa diucapkan sehingga liturgis atau worship leader, jemaat atau bahkan si pembicara sendiri, tidak terlalu menganggapnya serius. Pokoknya apa saja yang akan dibicarakan oleh si pembicara langsung disebut “Firman Tuhan”. Saya pernah datang dalam suatu persekutuan. Acaranya adalah pemutaran film dan sebelum film diputar, si pembicara pertama-tama akan memberikan pengantar film tersebut sebelum akhirnya nanti mengajak jemaat mengkritisi film itu berdasarkan konsep Firman Tuhan. Jelas si pembicara tidak akan mengajak membuka Alkitab, tidak membacakan Firman Tuhan dan tidak menjelaskan arti Firman Tuhan. Tetapi worship leader sudah terlalu biasa mengucapkan kalimat itu, maka ketika tiba waktunya si pembicara akan naik dan memberikan pengantar film tersebut, dia langsung mengatakan “Kita akan mendengarkan Firman Tuhan”. Kalau sampai sejauh itu, saya rasa kita sudah salah kaprah.
Kedua, tidak jarang setelah khotbah, jemaat mengatakan kalimat-kalimat seperti demikian:
“Wah Firmannya bagus sekali Pak!”
“Firman Tuhan hari ini sangat keras, tetapi kita harus belajar menerimanya”
Kalau memang yang dimaksud adalah Firman Tuhan sesungguhnya (Alkitab), kalimat-kalimat di atas tidak salah. Kalau yang dimaksud adalah penjelasan Firman Tuhan (khotbah) menolong dia mengerti betapa indahnya rencana Tuhan yang tertulis dalam Alkitab, atau karena khotbah itu dia mengerti teguran dari Firman Tuhan bahwa ada dosa-dosa dimana dia harus bertobat, maka kalimat-kalimat di atas juga tidak salah. Tetapi seringkali yang dimaksud adalah ‘khotbah’nya dan bukan ‘Firman Tuhan’nya.
Mengapa saya mempermasalahkan ini? Pertama ini berkaitan dengan definisi dan keseriusan kita memandang Firman Tuhan. Kedua, saya tidak rela kalau ada pengkhotbah yang khotbahnya tidak tepat, walaupun diuraikan dengan bagus atau ‘keras’, lalu orang bilang “Firmannya bagus atau Firmannya sangat menegur”. Itu bukan Firman Tuhan! Bahkan itu salah sama sekali karena tidak sesuai dengan Firman Tuhan!
Tugas pengkhotbah adalah menjelaskan Firman Tuhan, membawa pendengar untuk mengerti Firman Tuhan dan berespon kepada Firman Tuhan. Dia mungkin melakukannya dengan memakai ilustrasi, menjelaskan latar belakang bagian-bagian Firman Tuhan, memakai kalimat-kalimat dari teolog-teolog atau filsuf-filsuf, atau menceritakan kesaksian hidupnya. Tetapi lewat semua itu, tujuan utama adalah supaya pendengarnya mengerti dan mengamini Firman Tuhan.
Maka tidak semua yang dikatakan di atas mimbar harus kita anggap Firman Tuhan. Setiap pengkhotbah harus berpikir apakah melalui kalimat-kalimatnya, dia membawa jemaat mengerti Firman Tuhan? Dan setiap jemaat, seperti yang pernah dikatakan Paulus “menanggapi (menguji) apa yang mereka katakan”. Kalau khotbah itu memang membawa kita mengerti Firman Tuhan dengan benar, mari kita bersyukur untuk bagian Firman Tuhan itu dan kita bersyukur untuk khotbah yang disampaikan yang menolong kita mengerti, dan akhirnya kita harus berespon kepada Firman Tuhan itu sendiri. Bagaimanapun, kita harus taat kepada Firman Tuhan dan bukan kepada khotbah.
Thursday, May 03, 2007
Puasa
Salah satu disiplin rohani yang saya jalankan, tetapi masih sangat kurang, adalah berpuasa. Puasa tidak banyak dijalankan oleh orang Kristen zaman ini. Allan H. Sager dalam buku Gospel-Centered Spirituality mengutip Richard Foster: “Mengapa memberikan uang, misalnya, tanpa perdebatan diakui sebagai salah satu elemen dari kesalehan Kristen sementara berpuasa begitu diperdebatkan? Kita memiliki sama atau mungkin lebih banyak bukti dalam Alkitab tentang berpuasa daripada memberikan uang. Mungkin dalam masyarakat kita yang makmur ini, berpuasa melibatkan pengorbanan yang jauh lebih besar daripada memberikan uang”. Kalimat ini terngiang-ngiang di telinga saya.
Sebagai salah satu bentuk disiplin rohani dan kesalehan Kristen, saya percaya ketika kita melakukannya, banyak pengalaman rohani yang mungkin kita dapatkan.
Beberapa kali saya menjelaskan kepada jemaat bahwa berpuasa adalah bentuk merendahkan diri. Berpuasa membuat kita sadar bahwa kita cuma manusia yang lemah dan butuh Tuhan. Ketika kita berpuasa kita disadarkan bahwa dalam hal yang sangat sederhana, hanya tidak makan selama beberapa jam saja, kita sudah merasa sakit perut dan lemah. Maka ketika sisi kemanusiaan itu dimunculkan, di situlah kita sadar kita cuma manusia dan bukan Tuhan.
Tetapi ada satu pengalaman rohani baru yang saya dapatkan waktu berpuasa baru-baru ini. Mungkin ada yang tahu pepatah ‘A hungry man is an angry man’? Coba saja jika di dalam acara retreat, sampai pada jam makan dan pembicara masih meminta waktu ditambah, apa yang terjadi? Itulah yang saya alami. Ketika saya berpuasa dan tetap bekerja, saya menjadi tidak nyaman. Rasa lapar bercampur lelah membuat saya sensitif dan mudah tersinggung. Tetapi ketika itulah saya sadar, “Hei, bukankah berpuasa mustinya membuat sadar bahwa kamu manusia yang lemah? Lalu mengapa kamu bersikap seperti tuan, ingin dimengerti dan dihormati, bukan seperti hamba?”
Saya belajar bahwa ‘merasa diri lemah dan butuh Tuhan’ itu satu hal. Tetapi ‘merasa diri lemah dan bersikap sebagai orang lemah’ itu satu hal lagi. Dan saya yakin masih ada banyak aspek lagi tentang kelemahan yang masih harus saya mengerti dan alami.
Sebagai salah satu bentuk disiplin rohani dan kesalehan Kristen, saya percaya ketika kita melakukannya, banyak pengalaman rohani yang mungkin kita dapatkan.
Beberapa kali saya menjelaskan kepada jemaat bahwa berpuasa adalah bentuk merendahkan diri. Berpuasa membuat kita sadar bahwa kita cuma manusia yang lemah dan butuh Tuhan. Ketika kita berpuasa kita disadarkan bahwa dalam hal yang sangat sederhana, hanya tidak makan selama beberapa jam saja, kita sudah merasa sakit perut dan lemah. Maka ketika sisi kemanusiaan itu dimunculkan, di situlah kita sadar kita cuma manusia dan bukan Tuhan.
Tetapi ada satu pengalaman rohani baru yang saya dapatkan waktu berpuasa baru-baru ini. Mungkin ada yang tahu pepatah ‘A hungry man is an angry man’? Coba saja jika di dalam acara retreat, sampai pada jam makan dan pembicara masih meminta waktu ditambah, apa yang terjadi? Itulah yang saya alami. Ketika saya berpuasa dan tetap bekerja, saya menjadi tidak nyaman. Rasa lapar bercampur lelah membuat saya sensitif dan mudah tersinggung. Tetapi ketika itulah saya sadar, “Hei, bukankah berpuasa mustinya membuat sadar bahwa kamu manusia yang lemah? Lalu mengapa kamu bersikap seperti tuan, ingin dimengerti dan dihormati, bukan seperti hamba?”
Saya belajar bahwa ‘merasa diri lemah dan butuh Tuhan’ itu satu hal. Tetapi ‘merasa diri lemah dan bersikap sebagai orang lemah’ itu satu hal lagi. Dan saya yakin masih ada banyak aspek lagi tentang kelemahan yang masih harus saya mengerti dan alami.
Subscribe to:
Posts (Atom)