Thursday, October 25, 2012

Hakim-hakim 17-21

Saya baru selesai membaca Hakim-hakim 17-21. Apa yang saya baca disana membuat perasaan saya campur aduk.

Di dalam lima pasal itu, kita menemukan betapa besarnya kejahatan manusia dan betapa ngerinya kehidupan umat Tuhan yang sudah menyeleweng. Dan keadaan itu berkali-kali ditekankan oleh penulis Hakim-hakim sebagai: “In those days Israel had no king; everyone did as he saw fit”. 

Pasal 17 bercerita tentang seorang bernama Mikha yang membuat baginya berhala (bukan satu tapi banyak!). Seorang Lewi yang kebetulan lewat di situ diangkat menjadi imam untuk keluarganya. Bayangkan seorang Lewi! Dia mengembara mungkin karena tidak ada lagi pekerjaan dan uang karena Israel tidak mentaati perintah Tuhan. Dan dia mau menjadi imam dari berhala. Dan motivasinya jelas adalah uang, karena ketika ada tawaran lebih baik dia pindah.

Pasal 18 bercerita tentang suku Dan yang juga mengembara mencari tanah. Mereka sudah diberikan tanah oleh Tuhan tapi mereka tidak mampu (atau tidak mau, atau tidak bergantung pada Tuhan) untuk merebutnya. Maka mereka pergi mencari tanah lain, Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan kuil berhala dan orang Lewi yang menjadi imam keluarga Mikha ini. Mereka mengambil semua berhala di situ dan menawarkan pekerjaan kepada orang Lewi itu. Satu suku sepakat menyembah berhala! Dan Mikha sendiri frustasi karena allahnya, yang tidak bisa melindungi diri sendiri itu, diambil dan membuat dia kehilangan perlindungan. Ironis bukan!?

Pasal 19 bercerita tentang seorang Lewi yang menjemput gundiknya. Di tengah perjalanan dia menginap di Gibea, salah satu kota Israel. Malam itu penduduk kota itu menggedor rumah itu dan ingin memperkosa dia. Praktek homoseksual sangat luas dilakukan orang Kanaan dan orang Israel juga melakukannya. Orang ini, dengan sangat kejam, menyeret gundiknya keluar sebagai ganti dirinya untuk diperkosa. Dan semalaman wanita malang itu dipermainkan dan diperkosa oleh mereka. Pagi harinya dia menemukan gundiknya sudah mati. Dan dia memutilasi gundiknya, memotongnya menjadi 12 bagian dan dikirimkan ke daerah Israel sebagai panggilan membangkitkan kemarahan akan betapa jahatnya Gibea (ironis, karena dia sendiri sangat jahat!).

Pasal 20 menceritakan bagaimana seluruh Israel berkumpul untuk menghukum Gibea. Tapi karena Gibea adalah bagian dari suku Benyamin, maka suku Benyamin membelanya. Dan perang saudara terjadi. Puluhan ribu orang mati, dan dari suku Benyamin hanya tersisa 600 orang laki-laki saja. Semua wanita (dan anak-anak?) sudah dibunuh oleh Israel. Betapa kejamnya!

Pasal 21 menceritakan bahwa orang Israel menangis. Mereka menyesal bahwa orang Benyamin hanya sisa 600 orang pria. Dan mereka sudah bersumpah untuk tidak memberikan anak perempuan mereka kepada orang Benyamin. Maka bagaimana Benyamin bisa bertahan? Jalan keluarnya: (1) Orang-orang Yabesh-Gilead (bagian dari Israel) yang tidak ikut berperang dibunuh semuanya, laki-laki atau perempuan, hanya yang masih gadis yang tidak dibunuh. Mereka dibawa untuk dikawinkan dengan orang Benyamin. (2) Ketika ada perayaan di Silo (juga bagian dari Israel), orang-orang Benyamin atas restu suku Israel lain, menculik perempuan-perempuan Silo yang menari-nari dan memaksa mereka menjadi istri.

Saya tertegun membaca rentetan kisah-kisah itu. Betapa mengerikannya! Beginikah hidup umat Tuhan?

Dua hal yang membuat kisah-kisah ini lebih ironis lagi: Pertama, sepanjang lima pasal ini berkali-kali nama Yahweh (LAI: TUHAN) disebut. Mereka tahu TUHAN, mereka tahu Allah, mereka tahu mereka adalah orang Israel yang adalah umat Tuhan. Tapi betapa mereka sudah tidak mengenal Tuhan!

Kedua, orang Lewi yang menjadi imam berhala untuk keluarga Mikha dan kemudian menjadi imam berhala suku Dan, adalah: Yonatan bin Gersom bin Musa (18:30). Dia adalah cucu dari Musa!!! Beberapa ahli Taurat, penyalin Kitab Suci, belakangan mengubah nama Musa menjadi Manasye. Mungkin saking hormatnya kepada Musa, mereka tidak ingin nama Musa menjadi rusak. Tapi jelas salinan yang lebih lama menuliskan “Musa”. Dan sangat besar kemungkinan yang dimaksud adalah MUSA yang itu dan bukan Musa yang lain yang tidak dikenal. Baru sampai generasi cucunya Musa, mereka sudah begitu jauh dari Tuhan.

Tidak ada raja, tidak ada pemimpin, tidak ada gembala, berarti tidak ada aturan sosial, tidak ada yang mengajarkan kebenaran, tidak ada yang berotoritas untuk menegur. Dan hasilnya: “Everyone did as he saw fit”. Betapa mengerikannya hidup tanpa takut akan Tuhan.

Kita punya semuanya hari ini, ada raja, ada pemimpin, ada gembala, ada gereja, ada Alkitab, ada khotbah, dll, dll, tapi apakah kita jauh lebih baik dari mereka? Kita tahu kita orang Kristen, kita tahu Tuhan, kita punya Alkitab di rumah, tapi betulkah kita takut akan Tuhan? Ohh… mohon Tuhan mengasihani kita!

Tuesday, October 16, 2012

Setan = Malaikat Musik?

Sebelum ini saya sudah dua kali menulis tentang Setan di sini dan di sini yang dikaitkan dengan Yesaya 14 dan Yehezkiel 28. Tulisan kali ini, sedikit banyak ada hubungannya dengan dua tulisan tersebut.

Sejak saya kecil, saya mendengar bahwa setan dulunya adalah malaikat musik. Dan karena dia sangat sombong akhirnya dia pun dihukum Tuhan dan menjadi setan.

Pernahkah anda berpikir darimana konsep itu? Konsep ini sangat bergantung pada pengertian bahwa Yesaya 14 dan Yehezkiel 28 bicara tentang iblis. Sebuah tafsiran yang sangat spekulatif. Tapi darimana konsep bahwa dia adalah malaikat musik? Sebetulnya ini lebih spekulatif lagi. Perhatikan Yeh. 28:13 di bawah ini:

Engkau di taman Eden, yaitu taman Allah penuh segala batu permata yang berharga: yaspis merah, krisolit dan yaspis hijau, permata pirus, krisopras dan nefrit, lazurit, batu darah dan malakit. Tempat tatahannya diperbuat dari emas dan disediakan pada hari penciptaanmu. (ITB)

You were in Eden, the garden of God; every precious stone adorned you: carnelian, chrysolite and emerald, topaz, onyx and jasper, lapis lazuli, turquoise and beryl. Your settings and mountings were made of gold; on the day you were created they were prepared. (NIV)

You were in Eden, the garden of God; every precious stone was your covering, carnelian, chrysolite, and moonstone, beryl, onyx, and jasper, sapphire, turquoise, and emerald; and worked in gold were your settings and your engravings. On the day that you were created they were prepared. (NRSV)

Bisa tebak darimana?? Betul, tidak kelihatan! Perhatikan sekarang terjemahan King James Version:

Thou hast been in Eden the garden of God; every precious stone was thy covering, the sardius, topaz, and the diamond, the beryl, the onyx, and the jasper, the sapphire, the emerald, and the carbuncle, and gold: the workmanship of thy tabrets and of thy pipes was prepared in thee in the day that thou wast created. (KJV)

Perhatikan yang di-bold. “Tabrets” adalah tamborin, dan “pipes” adalah alat musik tiup. Dikatakan bahwa dari hari diciptakannya, “tabrets” dan “pipes” itu dipersiapkan di dalam dia.

Leslie C. Allen di dalam WBC mengatakan: “These two nouns are of uncertain meaning. A possibility for the second is metal cavities or setting for jewels… If so, the earlier term has a similar sense”. Dua kata benda itu tidak bisa dipastikan artinya. Kemungkinan kata yang kedua (pipes) adalah tempat tatahan perhiasan. Dan jika demikian, maka kata yang pertama pasti juga punya arti yang serupa.

Itulah sebabnya setahu saya tidak ada terjemahan Alkitab lain yang menterjemahkan seperti King James Version itu (bandingkan dengan terjemahan yang saya kutip di atas: bahasa Indonesia terjemahan baru, NIV dan NRSV). Demikian pula penafsir2 Alkitab juga setuju bahwa terjemahan King James Version tidak tepat.

Alasan kedua adalah dari Yes 14:11:

Ke dunia orang mati sudah diturunkan kemegahanmu dan bunyi gambus-gambusmu; ulat-ulat dibentangkan sebagai lapik tidurmu, dan cacing-cacing sebagai selimutmu."  (ITB)

All your pomp has been brought down to the grave, along with the noise of your harps; maggots are spread out beneath you and worms cover you. (NIV)

Thy pomp is brought down to the grave, and the noise of thy viols: the worm is spread under thee, and the worms cover thee. (KJV)

Argumen yang dikemukakan adalah bahwa Setan ada bunyi gambus-gambus atau “harps” (NIV) atau “viols” (KJV). Dan artinya dia adalah malaikat musik!

Istilah “kemegahan” atau “pomp” menggambarkan sesuatu kemuliaan seperti bagi seorang raja. Dan bunyi2an musik juga adalah gambaran kemuliaan seorang raja. Kemegahan itulah yang diturunkan sampai ke dunia orang mati.

Maka tafsiran bahwa Setan dulunya adalah malaikat musik didasarkan pada asumsi bahwa Yesaya 14 dan Yehezkiel 28 bicara tentang setan. Spekulatif. Tetapi, kalaupun benar bahwa dua bagian itu bicara tentang setan (saya tidak percaya itu), bagaimana mungkin hanya dengan dua ayat itu menafsirkan bahwa setan adalah malaikat musik???

Maka kalau tafsiran bahwa Yesaya 14 dan Yehezkiel 28 bicara tentang setan itu spekulatif, tafsiran bahwa setan adalah malaikat musik itu super spekulatif!

Tuesday, October 09, 2012

Setan = Lucifer? (Bagian 2)

Supaya adil dengan tulisan saya sebelum ini disini, berikut ini adalah pandangan dari Walter Kaiser di dalam Hard Sayings of the Bible, dimana dia membuka kemungkinan untuk menafsirkan Yesaya 14:12 sebagai bagian yang bicara tentang setan.

Saya terjemahkan:

Maka apakah cerita ini menunjuk pada raja Babel dalam istilah-istilah hiperbolis, atau menunjuk pada setan? Secara normal, peraturan penafsiran yang baik menuntut supaya kita hanya menempatkan satu penafsiran untuk setiap bagian; kalau tidak teks itu akan menimbulkan kebingungan. 

Tetapi, dalam situasi ini, sang nabi menggunakan cara yang sering ditemukan dalam teks nubuatan: dia menghubungkan nubuatan dekat dan jauh di bawah satu makna, atau arti, karena keduanya, sekalipun terpisah secara tempat dan waktu, adalah bagian yang saling melengkapi.

Yesaya melihat raja Babel memiliki kesombongan dan kebanggaan sangat besar yang memuakkan. Dalam mengembangkan aspirasi-aspirasi yang melampaui kedudukan dan kemampuannya, Yesaya memparalelkan raja Babel dengan pencapaiannya sendiri yang dilebih-lebihkan dengan Setan.

Sebagaimana ada garis mesianik yang panjang di Perjanjian lama, dan setiap orang yang termasuk dalam garis itu adalah manifestasi dari Yang Akan Datang (tetapi bukan Dia), demikian pula ada garis anti-mesianik dari raja-raja di dalam garis anti Kristus dan Setan. Raja Babel adalah salah satu dari garis panjang raja-raja dunia yang berdiri melawan Allah dan semua ketetapanNya.

Ini menjelaskan bahasa hiperbolis disini, yang walaupun benar dalam arti terbatas untuk raja Babel, tapi terutama menunjuk pada dia yang akan menjadi puncak dari garis kejahatan ini yaitu garis raja-raja yang sombong. 

Dalam arti ini, makna bagian ini adalah tunggal, bukan ganda atau banyak. Karena bagian-bagiannya adalah bagian dari keseluruhan dan memiliki tanda-tanda dari keseluruhannya, maka mereka adalah satu bagian. 

Seperti raja Babel menginginkan kesejajaran dengan Allah, keinginan setan untuk menyaingi otoritas Allah menyebabkan kejatuhannya. Semua ini adalah model dari anti-Kristus, yang akan meniru setan, dan korban penipuan dalam sejarah, raja Babel, dalam kehausan akan kuasa. 

Penghubungan serupa akan jarak yang dekat dan jauh ini muncul di Yehezkiel 28, dimana nubuat mengenai raja Tirus menggunakan bahasa hiperbolis yang sama (Yeh. 28:11-19). Dengan cara yang serupa, nabi Daniel memprediksikan kedatangan Antiochus Epiphanes (Dan. 11:29-35); di tengah-tengah bagian ini, dia meloncat jauh dalam ay.35 untuk menghubungkan Antiochus Epiphanes dengan anti-Kristus di akhir zaman, karena mereka punya banyak keserupaan sebagai anggota garis anti-Mesias. 

Maka cara bernubuat ini didukung di dalam Perjanjian Lama dan tidak seharusnya menimbulkan perhatian khusus kita.

Saya menghormati Walter Kaiser, tapi menurut saya di dalam bagian ini apa yang dia tulis tidak memiliki dasar yang kuat. 

Saya setuju bahwa para nabi suka menghubungkan dekat dan jauh di dalam satu nubuatan. Tapi harus ada dasar yang cukup untuk kita memutuskan bahwa di bagian itu nabi itu menggunakan cara demikian. Kalau tidak ada dasar, paling banyak kita hanya bisa berspekulasi.

Misalnya: Kerajaan Daud dikatakan tidak akan pernah berakhir selama-lamanya (2 Sam. 7:16). Kita tahu ‘yang jauh’ itu menunjuk pada kerajaan Mesias, sesuatu yang masih jauh di depan. Mengapa? Ada dasarnya! Yesaya 9 menubuatkan kelahiran seorang Putera yang disebutkan Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa… dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaanNya… (Yes 9:5-6). Kalimat-kalimat penegasan seperti ini entah berapa sering diulang dalam Perjanjian Lama. Sampai akhirnya di dalam Injil, Yesus disebut Anak Daud.

Tapi dimana dasarnya untuk mengatakan Yesaya 14 dan Yehezkiel 28 bukan saja sedang bicara yang dekat, tentang Raja Babel dan Raja Tirus, tapi juga bicara yang jauh yaitu tentang setan? Lagipula, kalau ini bicara tentang setan, khususnya di Yehezkiel, dia bukan bicara sesuatu yang jauh di depan tapi jauh di belakang tentang penciptaan setan? Prinsip yang dibicarakan oleh Walter Kaiser adalah nabi melihat yang dekat (sekarang) dan mencampurkannya dengan yang jauh (nanti). Tapi di Yesaya 14 dan Yehezkiel 28, yang dekat adalah raja Babel dan raja Tirus, lalu yang jauhnya bukan "nanti" tapi "dulu".

Perhatikan keanehan dalam Yehezkiel. Yang menyebabkan orang berpikir ini bicara tentang setan adalah Yeh 28:12-15, bahwa ia diciptakan dengan sempurna, indah, di taman Eden, tempatnya dekat kerub, dan sebagainya. Tapi perhatikan ay. 16: “Dengan dagangmu yang besar, engkau penuh dengan kekerasan dan engkau berbuat dosa. Maka Ku buangkan engkau…” Kapan setan dibuang? Jelas jauh sekali di belakang (paling tidak di Kej 3 sudah terjadi). Bagaimana Kaiser bisa mengatakan, ini bicara tentang yang dekat (raja Tirus) dan yang jauh di depan (setan)?  Lalu setan jatuh karena dagang yang besar penuh kekerasan? Ini tidak mungkin tidak menunjuk pada raja Tirus dan bukan setan.

Satu lagi, dia mengutip contoh nubuatan Daniel tentang Antiochus Epiphanes (yang dekat) yang kemudian dikaitkan dengan anti-Kristus di akhir zaman (yang jauh). Tapi saya sama sekali tidak menemukan mengapa dia bisa berpikir demikian. Coba saja teliti Dan 11:29-35 dan anda akan mengerti maksud saya.

Saya hanya ingin mengatakan bahwa tidak ada dasar untuk menghubungkan Yesaya 14 dan Yehezkiel 28 dengan setan. Mungkinkah apa yang dikatakan Yesaya dan Yekezkiel tentang raja Babel dan Tirus adalah sama dengan apa yang sudah dan akan terjadi terhadap setan? Mungkin. Tapi bagian ini tidak mengkaitkannya, atau paling tidak, tidak ada bagian lain Alkitab yang mendukung untuk kita mengkonfirmasi bahwa Yesaya dan Yehezkiel bermaksud bicara tentang setan. Dan tidak seharusnya kita, tanpa dasar, mengatakan bagian ini atau itu bicara tentang yang jauh di depan. 

Kembali kepada judul tulisan ini, apakah Lucifer (Bintang Timur) adalah Setan? Sebaiknya, paling banyak kita mengatakan, ini hanya ‘kemungkinan’ atau ‘spekulasi’. Saya mungkin salah, tapi saya pribadi tidak melihat ada dasarnya. 

Wednesday, September 26, 2012

Setan = Lucifer?

Sebutlah: “Lucifer”! Dan orang Kristen akan langsung mengkaitkannya dengan setan. Setan = Lucifer dan Lucifer = Setan.

Tetapi benarkah begitu? Darimana munculnya nama “Lucifer”?

Istilah “Lucifer” berasal dari bahasa Latin untuk menerjemahkan kata Ibrani הֵילֵ֣ל (baca: helel) di dalam Yes. 14:12, yang secara harfiah berarti “a shining one” atau diterjemahkan “Day star” (NRSV) atau “Morning star” (NIV) atau “Bintang Timur” (LAI).

Gereja di daerah Barat yang berbahasa Latin memakai istilah “Lucifer” untuk menyebut “Bintang Timur” ini karena memang itulah terjemahannya dalam bahasa Latin. Dan ketika muncul Vulgate (Alkitab berbahasa Latin dari abad ke-4), disitu istilah helel dalam Yes.14:12 pun diterjemahkan menjadi “Lucifer”.

Maka “Lucifer” awalnya bukanlah nama untuk setan. “Lucifer” artinya adalah “Bintang Timur”. “Lucifer” adalah istilah yang dipakai untuk menterjemahkan helel dalam Yes. 14:12.

Lalu bagaimana “Lucifer” bisa menjadi nama untuk setan?

Kita tidak tahu persisnya siapa yang memulai, tetapi tulisan paling awal yang kita temukan menafsirkan seperti demikian adalah dari Tertullian (c. AD 160-220) dalam Against Marcion 5.11, 17 dan Origen (c. AD 184-254) dalam De Principiis 1.5.5. Origen, khususnya, melihat kaitan Yes. 14:12-15 ini dengan Lukas 10:18 dimana Yesus mengatakan, “Aku melihat iblis jatuh seperti kilat dari langit”.

Tafsiran ini, dan juga karena Vulgate, menjadi populer di abad pertengahan. Tapi para reformator sepakat menolak tafsiran ini. Dan hampir seluruh penafsir modern juga menolak tafsiran itu.

Yes.14:12-15 berada di dalam konteks penghukuman Allah bagi bangsa-bangsa. Yesaya 13 membicarakan bagaimana Allah menghancurkan kesombongan manusia, dan Yesaya 14 menjadikan Babel sebagai contohnya. Babel dan raja babel adalah contoh yang paling tepat menggambarkan kesombongan manusia. Banyak literatur kuno tentang dongeng orang Kanaan memakai bahasa yang mirip, dimana dewa yang satu menantang dewa yang lain di dalam kesombongannya. Tetapi di dalam Yesaya, yang terjadi adalah manusia menantang Allah. Dan dengan kemiripan bahasa ini, Yesaya ingin mengatakan bahwa adalah sangat bodoh menjadikan diri kita sebagai Allah dan menantang Allah! Tapi tidak ada sedikit pun indikasi bahwa ayat ini berbicara tentang setan.

Lalu mengapa tafsiran bahwa “Lucifer” adalah setan dan Yes.14:12-15 membicarakan tentang setan, tetap populer? Saya kira salah satu penyebabnya adalah King James Version. Alkitab King James Version mempertahankan istilah “Lucifer” (bahasa Latin bukan bahasa Inggris!) untuk menterjemahkan helel dalam Yes. 14:12. Dengan kata lain, King James Version mengklaim bahwa “Lucifer” bukan sekedar istilah yang berarti “Bintang Timur” tapi merupakan sebuah nama.
How art thou fallen from heaven, O Lucifer, son of the morning! how art thou cut down to the ground, which didst weaken the nations! (Isa 14:12)
Maka berapapun populernya pendapat bahwa “Lucifer” adalah setan, itu tidak ada dasarnya di dalam Alkitab.

Wednesday, September 19, 2012

My Thesis Writing - 5

Ini mungkin salah satu periode hiatus terpanjang selama saya menulis blog. Sejak Juli saya sudah sedikit mengurus blog ini karena pontang-panting menyelesaikan thesis di tengah kesibukan pelayanan.

Berita baiknya, thesis saya sudah selesai. Saya sangat bersyukur untuk itu. Kemarin sore dan tadi pagi saya menyelesaikan seluruh proses printing (yang tidak diduga jadi suliiiitttt banget gara2 printer dan compatibility). Setelah selesai, saya tidak ingin tunda lagi, cepat2 saya ke tempat photocopy, dan balik lagi ke kampus menyerahkan tiga set thesis untuk diperiksa dan dinilai oleh para penguji.

Tidak ada sidang thesis di TTC. Untuk level M.Th, thesis akan dibaca oleh dua orang, yang satu adalah dosen Perjanjian Baru di TTC, dan yang satu lagi adalah dosen dari luar TTC (entah darimana, saya juga belum diberi tahu). Jika dua-duanya mengatakan lulus, maka saya lulus. Jika dua-duanya mengatakan tidak lulus, saya tidak lulus. Jika yang satu mengatakan lulus dan yang satu lagi tidak, maka akan dicari penguji yang ketiga. Saya berharaaaapppp… yang terjadi adalah yang pertama. Jangan sampai yang ketiga apalagi yang kedua!

Setelah berjuang selama lebih dari 1 tahun, sekarang tidak ada lagi yang bisa saya lakukan selain menunggu pemberitahuan mengenai hasilnya.

Saya belum bisa santai, walaupun sudah sangat kepengen nyantai. Masih harus membuat pre-pre-proposal untuk apply ke program D.Th. Sampai akhir Desember ini, di agenda saya masih ada 12X khotbah, 7X katekisasi, 2X perjamuan kudus, 1X baptisan, 3X khotbah dan pemberkatan nikah, 5X pergi ke luar Singapore, dan banyak rapat serta urusan lainnya. Saya benar-benar perlu istirahat.

Friday, August 31, 2012

Membaca Biografi Kristen

Beberapa kali saya menulis di blog ini tentang buku biografi Kristen yang saya baca. Sudah cukup lama saya tidak membaca buku biografi Kristen lagi. Sampai saya membaca sepotong tulisan dari John Piper dalam buku: Brothers, We Are Not Professionals, terjemahan The Boen Giok (Bandung: Pionir Jaya, 2011):

Teologi yang hidup. Orang-orang suci yang tidak sempurna dan inspiratif. Kisah-kisah anugerah. Inspirasi mendalam. Penghiburan terbaik. Saudaraku, itu layak memperoleh waktu berhargamu. Ingatlah kitab Ibrani pasal ke-11. Dan bacalah biografi Kristen.

Piper benar. Buku-buku biografi Kristen sangat berguna. Mereka membuka mata kita untuk melihat bagaimana Tuhan bekerja dalam hidup berbagai manusia dengan berbagai kondisi. Dan kita baru sadar “wow, Tuhan bisa bekerja begitu”. Mereka membuka wawasan kita bahwa dunia itu luas dan cara Tuhan bekerja itu lebih luas lagi. Mereka menolong kita untuk melihat bahwa kita bukan satu-satunya orang yang mengalami hal seperti itu. Kadang kita merasa pengalaman kita unik, tapi ternyata tidak. Mereka memberikan pelajaran berharga tentang iman, keberanian, dan hikmat dari saudara-saudara seiman. Kita tidak sendirian! Seperti yang dikatakan dalam Ibrani 12:1:

Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita

Maka sekarang saya mulai lagi membaca buku-buku biografi Kristen. Buku biografi adalah buku ‘ringan’ yang bisa dibaca dengan santai. Bagi saya waktu santai itu adalah di waktu pagi. Setiap hari 8-10 halaman cukup memberikan inspirasi kepada saya :)

Wednesday, August 29, 2012

Bilangan 9 – Ketaatan Total

Kitab Bilangan menceritakan bagaimana Tuhan membentuk Israel menjadi tentara Allah. Pemuda yang mampu berperang dari setiap suku dihitung. Urutan lokasi perkemahan diatur. Urutan berbaris diatur. Cara meniup terompet untuk memanggil berkumpul dan bergerak ditetapkan. Teriakan perang juga diserukan setiap kali akan bergerak dan berkemah: “Apabila tabut itu berangkat, berkatalah Musa:

Bangkitlah, TUHAN, supaya musuh-Mu berserak dan orang-orang yang membenci Engkau melarikan diri dari hadapan-Mu." Dan apabila tabut itu berhenti, berkatalah ia: "Kembalilah, TUHAN, kepada umat Israel yang beribu-ribu laksa ini. (Bil 10:35-36).

Dan jelas sekali dari awal, pemimpin tertinggi mereka adalah: TUHAN.

Bilangan 9:17-23 sangat menarik:

Setiap kali awan itu naik dari atas Kemah, maka orang Israelpun berangkatlah, dan di tempat awan itu diam, di sanalah orang Israel berkemah. Atas titah TUHAN orang Israel berangkat dan atas titah TUHAN juga mereka berkemah; selama awan itu diam di atas Kemah Suci, mereka tetap berkemah.

Kelihatannya mudah? Coba lihat lagi kalimat berikutnya:

Apabila awan itu lama tinggal di atas Kemah Suci, maka orang Israel memelihara kewajibannya kepada TUHAN, dan tidaklah mereka berangkat.

Ada kalanya awan itu hanya tinggal beberapa hari di atas Kemah Suci; maka atas titah TUHAN mereka berkemah dan atas titah TUHAN juga mereka berangkat.

Ada kalanya awan itu tinggal dari petang sampai pagi; ketika awan itu naik pada waktu pagi, merekapun berangkatlah; baik pada waktu siang baik pada waktu malam, apabila awan itu naik, merekapun berangkatlah.

Berapa lamapun juga awan itu diam di atas Kemah Suci, baik dua hari, baik sebulan atau lebih lama, maka orang Israel tetap berkemah dan tidak berangkat; tetapi apabila awan itu naik, barulah mereka berangkat.

Atas titah TUHAN mereka berkemah dan atas titah TUHAN juga mereka berangkat; mereka memelihara kewajibannya kepada TUHAN, menurut titah TUHAN dengan perantaraan Musa.

Masih kelihatan mudah? Pasti karena kita tidak mengalaminya!

Bayangkan berapa repotnya memasang tenda. Ini bukan camping! Ini tinggal, lengkap dengan membawa keluarga, anak-anak, orang tua, bahkan ternak. Mereka harus unpacking, membongkar baju, peralatan masak, perlengkapan tidur, dan sebagainya. Dan… tanpa tahu kapan harus packing lagi! Kalau kita tinggal di hotel dan kita tahu hanya akan tinggal tiga hari, maka kita akan memilih apa yang dibawa dari rumah, apa yang dikeluarkan di hotel dan apa yang dibiarkan di koper. Tapi orang Israel tidak tahu itu.

Mereka sampai di suatu tempat, mereka harus unpacking. Dan kapan mereka packing lagi? Tidak tahu. Bisa lama sekali, bisa sebulan, bisa dua hari, bahkan bisa tidak sampai 24 jam!

Tapi Bilangan 9 menceritakan ketaatan yang luar biasa dari orang Israel. Mereka berangkat, mereka berkemah, sesuai titah Tuhan. Mereka berjalan ketika diperintahkan. Mereka tidak berjalan ketika tidak diperintahkan. Mereka tentara Tuhan!

Tuhan tidak bermaksud membuat mereka susah. Tuhan tidak bermaksud membuat hidup mereka tidak tenang. Tapi Tuhan bermaksud mengajar mereka ketaatan total. Mereka tentara Tuhan dan ketaatan mereka kepada Tuhan harus total.

Maukah kita diajar Tuhan seperti itu? Maukah kita ikut pimpinanNya, berjalan atau berkemah? Maukah kita taat total?