Tuesday, July 21, 2015

NIV (New International Version) Bible: Sesat? Pro LGBT?

Beberapa waktu ini di berbagai kelompok Kristen di Indonesia ramai dibicarakan tentang NIV Bible. Isu ini menjadi ramai karena NIV Bible adalah Alkitab bahasa Inggris yang paling banyak digunakan (mungkin termasuk di Indonesia).

Ada beberapa isu yang diangkat, tetapi dua yang paling besar adalah: Pertama, "ditemukan" banyak ayat yang hilang di dalam NIV. Pembandingnya adalah KJV (King James Version). Ada banyak ayat yang ada di dalam KJV dan Alkitab bahasa Indonesia, yang ternyata tidak ada di dalam NIV. Kedua, NIV diterbitkan oleh Zondervan yang dimiliki Harper Collins yang juga menerbitkan Satanic Bible dan The Joy of Gay Sex.

Awalnya saya enggan meresponi debat seperti ini karena sebenarnya isu ini, khususnya yang pertama, adalah isu yang kunoooo sekali. Meminjam istilah Larry Hurtado, itu adalah isu Zombie – sudah dibunuh tapi bangun lagi, dibunuh bangun lagi, dibunuh bangun lagi. Cape sekali meladeninya. Saya juga tahu bahwa di belakang munculnya isu ini adalah para “pemuja” KJV yang sangat ngotot. Tetapi, apa boleh buat, karena hebohnya isu ini, saya pikir ada baiknya memberi tanggapan singkat untuk menolong orang-orang Kristen yang jadi bingung karena ini.

Berikut ini adalah sedikit sejarah di balik Perjanjian Baru kita, khususnya KJV (King James Version).

Kita tahu bahwa kitab-kitab di dalam Perjanjian Baru ditulis di dalam bahasa Yunani. Tetapi, tidak ada satupun naskah asli hasil tulisan langsung para penulis pertama (Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Paulus, Petrus, Yakobus, dll) yang masih ada sampai sekarang. Semua mungkin sudah hancur karena pada waktu itu mereka menulis di atas dua macam material: Papirus (kertas yang dibuat dari pohon papirus) dan Perkamen (dari kulit hewan). Maka naskah Perjanjian Baru yang kita miliki adalah hasil salinan.

Orang-orang Kristen mula-mula menyalin hasil tulisan para penulis pertama itu dan menyebarkannya. Naskah itu kemudian disalin lagi dan disebarkan lagi. Demikian seterusnya. Maka kita menemukan banyak sekali naskah Perjanjian Baru tersebar di banyak sekali tempat!

Seiring dengan penyalinan demi penyalinan, sangat wajar terjadi human errors. Ada yang tidak disengaja, misalnya terlompat 1 baris atau terlompat 1 kata. Ada juga yang disengaja, misalnya seorang yang menyalin naskah untuk jemaatnya merasa tulisan sang rasul terlalu sulit untuk dimengerti, maka dia berpikir ada baiknya kalau sedikit dia tambahkan keterangan. Ada beberapa jenis human errors seperti ini yang terjadi. Darimana kita tahu? Dari membandingkannya dengan naskah-naskah lain. Para ahli teks mengerjakan ini (dengan cara yang astaganaga susahnya) dan mempertimbangkan setiap kemungkinan. Satu hal lagi yang perlu diketahui: Hampir semua naskah yang kita miliki tidak lengkap Matius-Wahyu, tetapi terpisah-pisah, ada yang 1 kitab saja, dan ada yang berisi beberapa kitab.

Ketika gereja semakin tersebar, dirasakan perlu adanya terjemahan Alkitab di dalam bahasa-bahasa lain. Salah satu terjemahan yang paling terkenal waktu itu adalah Vulgate (bahasa Latin).

Singkat cerita, pada abad ke 16, setelah penemuan mesin cetak, seorang bernama Erasmus memutuskan untuk menerbitkan Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani (waktu itu naskah yang dipakai secara luas adalah Vulgate - Bahasa latin). Tetapi, dia tidak bisa menemukan naskah kuno yang berisi lengkap seluruh Perjanjian Baru. Ditambah lagi waktu itu dia diburu waktu untuk menyelesaikan proyek penerbitan itu. Maka dia menggunakan dua naskah bahasa Yunani yang adalah salinan dari abad 12 dan tergolong inferior (kurang reliable), satu hanya berisi Injil dan satu lagi hanya berisi Kisah Para Rasul dan surat-surat. Erasmus membandingkan naskah itu dengan 2-3 naskah lain dan mengoreksinya sesuai pendapatnya sendiri. Untuk kitab Wahyu, dia hanya menemukan 1 naskah Yunani saja dari abad 12 yang, celakanya, halaman terakhirnya hilang (berisi 6 ayat). Maka untuk mengisi 6 ayat itu dan juga beberapa ayat lain di Perjanjian Baru yang Erasmus rasa kurang jelas, dia mengambil Vulgate (bahasa Latin) dan menerjemahkannya ulang ke bahasa Yunani! (Bayangkan, dulu orang terjemahkan naskah Yunani ke Latin (Vulgate), sekarang dia terjemahkan ulang dari Latin ke Yunani, seakan-akan ini naskah aslinya). Hasil akhir karya Erasmus adalah Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani yang sangat tidak reliable! Edisi hasil karya Erasmus ini disebut Textus Receptus (Received Text).

Belakangan, ada naskah-naskah lain yang ditemukan lagi oleh Erasmus. Maka dia membuat beberapa perbaikan pada Textus Receptus. Edisi terakhir Textus Receptus versi Erasmus diterbitkan pada tahun 1535. Tetapi, sampai edisi akhir itu, Erasmus hanya menggunakan beberapa naskah saja dan naskah tertua yang dia gunakan berasal dari abad 10 saja. Textus Receptus kemudian direvisi lagi oleh Robertus Stephanus (sampai 4 edisi) dan Theodore Beza (sampai 9 edisi).

Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani yang disebut Textus Receptus inilah yang digunakan untuk diterjemahkan ke bahasa Inggris menjadi Alkitab KJV. Maka KJV dibuat berdasarkan naskah Yunani yang sangat tidak reliable. Harus diakui bahwa KJV adalah terjemahan bahasa Inggris yang sangat indah. Tetapi, dalam banyak ayat, dia tidak reliable.

Kalau ada yang tertarik mempelajari mengenai ini, boleh membaca buku Bruce Metzger, The Text of the New Testament, 4th edition. 

Setelah Textus Receptus, ada ribuan naskah Yunani lain yang ditemukan yang jauh lebih tua dan jauh lebih reliable. Naskah-naskah itu dikumpulkan, diteliti, dibandingkan, dengan berbagai cara yang asataganaga susahnya. Kemudian para ahli merekonstruksi naskah Perjanjian Baru bahasa Yunani yang mendekati aslinya. Seorang ahli Perjanjian Baru berani mengatakan naskah hasil rekonstruksi modern ini bisa dikatakan 99% sama dengan naskah asli tulisan para penulis pertama. Perbedaannya, kalaupun ada, hanya di tempat-tempat yang tidak signifikan dan tidak akan mempengaruhi doktrin apapun. Sekarang ini, teks Perjanjian Baru bahasa Yunani yang standar diterima adalah Nestle-Aland Greek New Testament (sekarang edisi ke-28) atau juga disebut United Bible Societies Greek New Testament. Alkitab bahasa Inggris versi modern, termasuk NIV, diterjemahkan dari naskah hasil rekonstruksi ini.

Tentu setiap versi Alkitab akan menggunakan teks hasil revisi terakhir pada waktu ia diterbitkan. Para penterjemah KJV menggunakan teks Yunani hasil revisi terakhir yang tersedia waktu itu yaitu Textus Receptus. Para penterjemah NIV (dan juga versi Alkitab lainnya) juga menggunakan teks Yunani hasil revisi terakhir di zaman masing-masing. Singkat kata, KJV diterjemahkan dari Textus Receptus yang berisi naskah-naskah Yunani yang ratusan tahun lebih muda dari yang digunakan NIV. Artinya KJV mengumpulkan kesalahan penyalinan yang jauh lebih banyak. Sementara NIV diterjemahkan dari naskah Yunani hasil perbandingan ribuan naskah kuno dan adalah hasil karya ratusan orang selama puluhan tahun.

Sekarang saya bisa mulai menjawab mengenai ayat-ayat yang “hilang” dari NIV, seperti Mat 17:21, 18:11, 23:14, Mark 7:16, 9:44, 9:46, Luk 17:36, Yoh 5:4, dst. Ayat-ayat itu bukan hilang tetapi memang tidak ada di dalam naskah asli! Saya sederhanakan ceritanya menjadi begini: Textus Receptus menggunakan naskah Yunani dari abad ke-10 dan ke-12. Di dalam naskah-naskah itu, ditemukan ayat-ayat itu. Maka KJV yang diterjemahkan dari Textus Receptus memasukkan ayat-ayat itu. Tetapi, kemudian ditemukan naskah-naskah Yunani yang jauh lebih tua dan reliable yang ternyata tidak ada ayat-ayat itu! Maka terjemahan yang lebih modern seperti NIV tidak memasukkannya. Alkitab bahasa Indonesia, karena pertimbangan tertentu, memasukkan ayat-ayat itu tetapi diberi tanda kurung (walaupun tidak semua, karena pertimbangan yang saya tidak tahu). Beberapa versi Alkitab bahasa Inggris menempatkannya di catatan kaki. Apapun cara yang dipakai, maksudnya jelas, ayat-ayat itu ada pada beberapa naskah, tetapi tidak ada pada naskah-naskah Yunani yang lebih tua dan reliable.

Tuduhan lain yang juga disebutkan adalah hilangnya beberapa kata “penting” di dalam NIV. Saya sebutkan dua contoh saja: “only begotten” di Yohanes 1.14,18; 3.16,18 dan “sodomite” di Ulangan 23.17. Khusus untuk kata “sodomite,” dikaitkan dengan Dr. Marten Woudstra yang dulu menjadi ketua komite penerjemahan Perjanjian Lama dari NIV yang dituduh adalah seorang gay.

Frase “only begotten” dari “monogenes” (Yunani) diterjemahkan oleh NIV menjadi “one and only”. Permisi tanya, salahnya dimana?? Setiap terjemahan pasti bergumul bagaimana menerjemahkan dengan setia, artinya tidak merubah arti tapi bisa dimengerti dengan jelas dan tidak disalah mengerti oleh pembaca modern. That is translation! Tidak salah monogenes diterjemahkan "one and only". Istilah “begotten” dalam KJV juga tidak salah (Catatan: istilah ini justru lebih mudah disalah mengerti seakan Yesus dicipta oleh Allah - dan ini yang dipakai oleh Saksi Yehuwa).

Mengenai kata “sodomite” dalam KJV di Ulangan 23.17, untuk jelasnya bisa dibandingkan dengan terjemahan lain:

There shall be no whore of the daughters of Israel, nor a sodomite of the sons of Israel. (KJV)

None of the daughters of Israel shall be a cult prostitute, and none of the sons of Israel shall be a cult prostitute. (ESV)

Di antara anak-anak perempuan Israel janganlah ada pelacur bakti, dan di antara anak-anak lelaki Israel janganlah ada semburit bakti. (LAI)

No Israelite man or woman is to become a shrine prostitute. (NIV)

Di zaman itu di kuil-kuil penyembahan berhala ada pelacur-pelacur, pria dan wanita, yang melayani orang yang datang. Orang-orang itu menyembah berhala melalui berhubungan seks dengan pelacur-pelacur itu. Istilah ini yang muncul di dalam teks bahasa Ibrani. Maka ESV memperjelasnya dengan istilah “cult prostitute” untuk pria dan wanita. Alkitab bahasa Indonesia menggunakan istilah “pelacur bakti” untuk wanita dan “semburit bakti” untuk pria. NIV menggunakan istilah “shrine prostitute” untuk pria dan wanita. Kalau dibandingkan dengan teks bahasa Ibrani, justru KJV yang salah. Terlepas dari benar atau tidaknya tuduhan terhadap Dr. Marten Woudstra, saya tidak melihat hubungannya dengan hilangnya kata “sodomite” di dalam NIV.

Terakhir, mengenai Zondervan yang dimiliki oleh Harper Collins. Karena Harper Collins juga menerbitkan Satanic Bible dan The Joy of Gay Sex, maka NIV dituduh juga mendukung yang sama. Ini logika yang sangat aneh.

Pada tahun 1987, perusahaan News Corporation milik konglomerat Rupert Murdoch membeli Harper & Row (berdiri tahun 1817). Tahun 1990, mereka membeli William Collins & Sons (berdiri tahun 1819). Gabungan dua perusahaan itu membuat nama divisi penerbitan di bawah News Corporation itu menjadi Harper Collins. Zondervan sendiri dibeli pada tahun 1988. Harper Collins adalah raksasa dunia penerbitan dengan banyak sekali “anak perusahaan” - berbagai penerbit yang berada di bawahnya. Salah satu anak perusahaan di bawah Harper Collins adalah Avon yang menerbitkan Satanic Bible. Anak perusahaan lainnya adalah Harper Resource yang menerbitkan The Joy of Gay Sex. Seberapa besar pengaruh CEO Avon dan CEO Harper Resource terhadap CEO Zondervan? Kita tidak tahu. Mereka sama-sama anak perusahaan di bawah Harper Collins. Masing-masing penerbit di bawah Harper Collins mungkin saja mandiri, selama menghasilkan keuntungan, di bawah payung perusahaan konglomerat News Corporation.

Yang pasti, proyek penerjemahan NIV dimulai tahun 1965 dan diterbitkan pertama kali tahun 1978. Versi yang populer digunakan adalah hasil revisi tahun 1984. NIV kemudian direvisi menjadi TNIV yang terbit tahun 2005. Pada tahun 2011, muncul edisi revisi lagi yang menggantikan semua edisi yang terdahulu.

Apakah NIV Bible (tahun 1984) yang sangat populer itu pro LGBT karena Zondervan dimiliki oleh Harper Collins? Padahal Zondervan baru dibeli oleh Harper Collins di tahun 1988!

Apakah NIV edisi 2011 pro LGBT seperti yang dituduhkan? Saya bahkan bingung darimana asalnya tuduhan ini! TNIV (2005) ditolak oleh sebagian kalangan Injili karena mengganti beberapa istilah menjadi gender-inclusive. Misalnya “God created man” menjadi “God created human beings” walaupun istilah Allah sebagai “Father” tetap tidak diganti. Perubahan ini bukan atas dorongan kaum LGBT, tetapi kaum feminis yang mengeluh bahwa terjemahan Alkitab terlalu patriarkis. Maka di ayat-ayat yang artinya memang bukan "pria saja" tetapi "pria dan wanita", NIV merubah terjemahannya. Versi revisi 2011 sudah mempertimbangkan berbagai masukan lagi dan, walaupun tetap mengalami penolakan sebagian orang, dipuji oleh banyak kalangan.

Perlu diketahui bahwa teks NIV bukan dimiliki oleh Zondervan tetapi oleh Biblica (dulu: International Bible Society). Zondervan hanya diberikan lisensi oleh Biblica untuk menjadi distributor NIV Bible di USA. Untuk di UK, Biblica memberikan lisensi kepada Hodder & Stoughton.

Kembali ke tuduhannya, apakah karena Zondervan (distributor NIV di USA) dimiliki oleh Harper Collins yang juga memiliki Avon (yang menerbitkan Satanic Bible) dan Harper Resource (yang menerbitkan The Joy of Gay Sex), maka NIV pro LGBT dan juga satanic? Saya hanya bisa mengelus dada :-( Bukan karena saya ingin membela Zondervan, apalagi Harper Collins, tetapi tuduhan itu tidak berdasar dan tidak masuk akal sama sekali.

Saya juga tidak mengatakan NIV Bible adalah terjemahan yang sempurna! Tidak! Tidak ada terjemahan yang sempurna. Semua pasti ada kekurangan di sana sini. Tetapi, menuduh bahwa NIV sengaja menghilangkan ayat tertentu atau kata tertentu karena sesat, pro LGBT, atau satanic, hanya bisa dimunculkan oleh orang-orang aneh – dalam hal ini para “pemuja” KJV.

Committee on Bible Translation (CBT) yang bertanggung jawab untuk teks NIV Bible berisi orang-orang Injili yang sangat committed kepada Alkitab sebagai Firman Tuhan. Silakan cek nama-nama mereka.


Catatan akhir:

Sekalian membahas isu ini, belakangan ada berita muncul Alkitab kaum LGBT: Queen James Bible. Dari apa yang saya baca, Alkitab ini tidak ada bedanya dengan KJV, hanya ada 8 ayat yang diganti supaya lebih LGBT -friendly. Tidak ada dasar sama sekali untuk penggantian ayat-ayat itu selain untuk mencocokkan dengan agenda si penerbit. Alkitab ini diterbitkan oleh Queen James – tidak jelas siapa. Maka anggap saja ini hasil karya orang iseng atau orang aneh, that’s it.

30 comments:

Geneveive said...

tx koh hungfu untuk penjelasannya.

Anonymous said...

Wow so you are saying that KJV yg sesat jadinya??

Jeffrey Siauw said...

Sama2 "Geneveive" :-)

Anonymous, I didn't say that. Tapi setiap versi terjemahan pasti memilih mau menterjemahkan dari mana. Dalam hal ini, KJV yang pertama kali diterbitkan tahun 1611 has no choice but to use a poor Greek text. Ini saya copy paste dari tulisan Metzger, the Bible in Translation:

But the work of the king’s translators had also its basic weaknesses, several of them a part of its inheritance. There was no standard edition of the Hebrew Masoretic text of the Old Testament. In the New Testament, the late and corrupt Greek text of Erasmus as popularized and slightly modified by Stephanus and Beza was necessarily used, since nothing better was available. Codex Alexandrinus, the very existence of which was unsuspected by the
translators, was not to arrive in England for a score of years; Codex Vaticanus, though reported in the Vatican catalog of 1481, would for several centuries remain inaccessible to Protestant scholars; and Codex Sinaiticus, its value unrecognized, lay undisturbed at St. Catharine’s monastery awaiting rescue from flames and oblivion by Tischendorf in the middle of the nineteenth century.

Berabad-abad setelah KJV diterbitkan, naskah-nasakah Yunani yang jauh lebih tua dari yang dipakai oleh para penterjemah KJV sudah ditemukan dan dipelajari. Maka para penterjemah NIV memanfaatkan naskah2 itu.

I didn't use the word "sesat" for KJV tapi ya KJV memakai naskah Yunani yang "banyak salah"nya.

Anton Triyanto said...

i thought kjv was translated from stephanus 1550?

Jeffrey Siauw said...

Stephanus (dan juga Beza) merevisi Textus Receptus buatan Erasmus. Istilah TR sendiri baru muncul 1633 (stl KJV terbit). Tp yg dimaksud sama. That's why Stephanus 1550 juga disebut TR Stephanus 1550 :-)

Dwicheung said...

Terima kasih ko Hung Fu untuk penjelasannya yang cermat dan runtut. Terus terang orang Kristen suka juga dengan yang sensasional begini dan serta merta menyebarluaskannya daripada mencari tahu dan belajar kebenarannya. Seringkali sudah tahu yang benar pun justru malah enggan meneruskannya, tapi malah diam saja.
Btw, aku alumni Trisakti yang pernah menikmati pelayanan Ko HungFu dulu :)

Desmond T said...

Sumber referensi buku yg anda jadikan sumber referensi menurut saya memiliki masalah pada sosok pengarangnya (Bart Ehrman) krn dia dikenal sbg orang yg selalu memberikan kesan kepada kaum awam bahwa Alkitab PB itu cenderung corrupt dan kita tdk tau apakah yg kita punya sekarang adalah akurat atau tidak. (sbg contoh bukunya "misquoted Jesus") Ketika anda menjelaskan ttg KJV, kesan yg anda bangun adalah KJV tdk akurat. Saya pikir sumber informasi yg anda pakai perlu dicross check dg source lain supaya lbh berimbang. Textus Receptus adalah hasil 5000 copy hasil salinan yg kecocokannya sangat tinggi satu dg lainya. (dari tempat yg berbeda, identikal satu dg lain kecuali ada beda dlm spelling dan nama) Yg menunjukkan bagaimana Allah memelihara firmanNya dg supranatural.

Desmond T said...
This comment has been removed by the author.
Desmond T said...

Anda tidak memberikan info lebih dalam ttg sumber terjemahan NIV. Supaya berimbang, sumber NIV berasal dari turunan teks dari Alexandria yg merupakan hasil dari ajaran cult (mirip saksi Jehova sekarang) yg muncul pada tahun 240 AD yg membuat versi Alkitabnya sendiri. (yg berbeda sebanyak kurang lebih sebanyak 6000 dari yg jalur Textus Receptus) Kemudian versi Alexandrian ini di Jumlah manuskripnya juga hanya sekitar 45 yg banyak saling berbeda satu dg lainnya.
Sumber dari Alexandria ini kemudian dicopy lagi menjadi sumber yg disebut Latin Vulgate. (yg anda sebut naskah Yunani, lebih tua memang tapi tdk lebih baik krn sumbernya sgt bermasalah) Saya pikir org yg menerjemahkan punya motivasi yg tulus tapi sumber nya yg jadi masalah. Kita blm membahas masalah ayat2 yg ada di dalam NIV dan KJV bagaimana masing2 menuliskan nya.

Jeffrey Siauw said...

Thanks Desmond untuk comment-nya.
Saya tidak suka dengan sosok Bart Ehrman, tapi bukan berarti semua karya dia pasti salah. Buku ini ditulis terutama oleh Metzger yang adalah tokoh Textual Criticism yang sangat dihormati, yang berada di balik naskah Nestle Aland dan United Bible Societies. Ada ratusan ahli Alkitab di balik naskah itu.

Saya sudah check apa yang saya tulis :-) Kalau anda pernah membaca buku "How to Read the Bible For All Its Worth" tulisan Goordon Fee dan Douglas Stuart, mereka juga mengungkapkan yang sama tentang KJV. Kalau anda pernah membaca buku "The King James Version Debate" tulisan DA Carson, anda juga akan menemukan yang serupa.
Kalau anda sebaliknya membangun kesan KJV sangat akurat, dan menganggap semua ahli yang mengatakan itu pasti punya maksud buruk, maka justru pertanyaan saya adalah darimana sumbernya?

Saya tidak menulis artikel ini sebagai tulisan ilmiah, maka saya tidak mengutip banyak sumber. Saya menulis ini hanya sebagai tuntunan sederhana.

Saya juga tidak menuliskan sumber terjemahan NIV karena sangat jelas tertulis di dalam Alkitab NIV. Saya salin sedikit: The Greek text used in translating the New Testament... based on the latest edition of the Nestle Aland/United Bible Societies Greek New Testament.

Naskah yang dipakai untuk menyusun NA/UBS GNT bukan hanya versi Alexandrian. Dan jelas sama sekali bukan hanya 45 naskah! Btw darimana anda dapat info itu? Serius, anda salah besar. Kalau anda melihat sekilas saja NA/UBS GNT anda akan mengerti apa yang saya maksudkan.

Kalau anda baca baik2 tulisan saya, saya menyebutkan bahwa memang sudah ada terjemahan bahasa Latin yang disebut Vulgate. Lalu ketika Erasmus membuat Textus Receptus, masalahnya adalah di beberapa bagian, Erasmus malah mengambil naskah Latin Vulgate dan menerjemahkan ulang ke bahasa Yunani menjadi Textus Receptus.

Satu2nya kekurangan naskah yang dipakai untuk menerjemahkan KJV adalah karena waktu itu banyak naskah lain yang belum ditemukan. Itu saja.

Erasmus sendiri sadar akan hal itu, dan itu sebabnya setelah dia menerbitkan Akitab PB dalam bahasa Yunani(yang kemudian disebut Textus Receptus), lalu ketika dia menemukan lagi naskah lain, dia menerbitkan lagi edisi revisi. Stephanus kemudian juga begitu, dia terus merevisi naskah Textus Receptus berkali2. Lalu pada tahun 1611 diterbitkanlah KJV berdasarkan naskah Yunani yang tersedia waktu itu.

Tapi setelah KJV diterbitkan, penemuan naskah Yunani belum berhenti. Maka Alkitab PB dalam bahasa Yunani juga terus direvisi. NIV, ESV, NET, NRSV, dan semua terjemahan lain memakai teks Alkitab PB dalam bahasa Yunani hasil revisi terakhir ketika Alkitab mereka diterbitkan. Sama seperti KJV dulu juga memakai Alkitab PB bahasa Yunani hasil revisi terakhir ketika dia diterbitkan.

Saya kira semua penterjemah yang bertanggung jawab akan mencoba memakai naskah Yunani hasil revisi terakhir dari para scholars. Itulah yang dilakukan oleh para penterjemah KJV dulu tahun 1611 dan juga penterjemah NIV tahun 1984 dan 2011.

Anonymous said...

Para pemuja kjv itu siapa? Dan apa untungnya memuja kjv or niv ?

Dwicheung said...

http://danielbwallace.com/2012/10/08/fifteen-myths-about-bible-translation/

bene sie said...

Article yg bagus terutama untuk yg sempat bingung.
Thanks Pak Jeffry atas penjelasan dan klarifikasinya.
GBU

SokoNagari said...

Keren Pak Jeffrey, Tuhan terus memakai Bapak menginspirasi semua orang untuk mencintai FT. Gbu.

T. Gunawan said...

Pagi Pak Jeffrey,
Kalau boleh, tolong ulasannya mengenai sejarah kanonisasi alkitab mulai dari konsili kartago saat kanonisasi kitab-kitab, lalu mengenai ada berapa jenis codex yang pernah ada berikut perbandingan antar codex tersebut.
Saya juga pernah dengar tentang Westcott-Hort sebagai versi Greek selain Textus Receptus, apa lagi itu ya Pak?

Lalu apakah kita bisa berkesimpulan bahwa kesulitan utama dari penerjemahan/penyalinan Alkitab itu terutama terletak di PB (karena naskah-naskah PB yang baru ditemukan kemudian seperti ulasan Bapak di sini), karena PL dan kanonisasinya sudah dikerjakan final oleh orang Yahudi.

Thanks dan mohon pencerahannya.

Jeffrey Siauw said...

Halo Dwi :-) thank you buat referensi ke artikelnya Daniel Wallace!

Tq comment nya Ben and "SokoNagari" :-) God bless!

Jeffrey Siauw said...

Pak Gunawan, sorry saya belum sempet respons agak panjang. Saya respons yg soal PL dulu aja. Sebenernya bukan tdk ada masalah soal PL, tapi fokus tulisan saya sebetulnya hanya utk menolong jemaat yg "goncang" gara2 tuduhan NIV sesat krn menghilangkan banyak ayat khususnya di PB (dibanding KJV) dan juga pro LGBT. Jadi fokusnya hanya itu. Saya jg tdk menulis utk kalangan akademis jd memang sifatnya sederhana sekali. Sementara itu dulu ya pak. Thanks a lot comment nya.

bted81 said...

Terima kasih tulisannya. Sangat informatif. Menurut saya, saya tidak against terjemahan manapun selama konteks isinya tidak bertentangan dengan ajaran yang saya imani dan sampai sekarang di antara terjemahan-terjemahan populer seperti KJV, NIV, NLT, ESV, Amplified, Good News, The Message, NKJV, belum menemukan konteks yang bener-bener "sesat" terutama versi-versi tersebut dimuat dalam Bible Gateway dan YouVersion.

Saya justru bersyukur dengan adanya beberapa versi yang dapat saya pakai sebagai cross reference ketika salah satu versinya menimbulkan "doubt". Untuk quotation pun mungkin ada versi yang lebih cocok satu daripada yang lain. Karena saya percaya bahwa yang tertulis di Alkitab itu adalah "Living Word of God" yang sebenarnya hanya dapat kita "comprehend" dengan pimpinan Roh Kudus.

Oleh karena itu saya cenderung akan menggunakan perbandingan versi, bukan untuk menyalahkan salah satu versinya, namun untuk mencari suatu "arti" yang terbaik bagi saya. Saya akan bertanya, sebenarnya apa yang Roh Kudus ingin katakan pada saya dalam konteks bacaan itu.

Voon Yuen Woh said...

Pak, ada terjemahan artikel Pak kepada Bahasa Inggeris kah? Terima Kasih.

Wisdom Meimen said...

Tulisan yg mencerahkan. Tulisan dari seorang yg peduli terhadap pergumulan iman Kristen dalam dunia yg membingungkan. Analisa dan pembalajaraannya sungguh mencerdaskan. Terimakasih, teruslah berkarya bagi Tuhan Yesus dalam via tulisan dan kehidupan.

Jeffrey Siauw said...

"bted81" thanks untuk comment-nya. Saya juga tidak bilang terjemahan tertentu sesat :-) It's good untuk compare berbagai terjemahan yang ada. And it's better kalau kita tahu the story behind it kenapa terjemahannya beda. God bless!

Pak Voon Yuen Woh, belum ada terjemahannya. Tapi ada orang menulis artikel yang serupa di dalam bahasa Inggris. Ini yang saya dapat dari teman: http://www.readengageapply.com/2015/07/did-niv-delete-64575-words.html

Thanks "Wisdom Meimen"!

Voon Yuen Woh said...

Terima kasih, Pak.

Voon Yuen Woh said...

Also, Pak, serangan pada NIV abai menyebutkan bahwa NKJV diterbitkan oleh Thomas Nelson, anak perusahaan lain HarperCollins.

Jeffrey Siauw said...

Betul Pak Voon Yuen Woh. NKJV juga menggunakan Textus Receptus untuk naskah PB. Thanks comment-nya!

denny lim said...

http://av1611.com/kjbp/charts/themagicmarker.html

denny lim said...

tolong dicek lagi sumbernya pak.
sy tidak bisa menemukan dimana sumber yg mengatakan TR itu terjemahan.

semua sumber yg sy dapatkan TR adalah SALINAN dari pecahan2 manuscript, terutama dari byzantine text
http://www.1611kingjamesbible.com/textus_receptus.html/

Jeffrey Siauw said...

Denny, thanks comment-nya.

Saya mohon supaya baca lagi tulisan saya dengan teliti dan juga jawaban2 saya atas comment2 di atas. Kalau tidak saya khawatir akhirnya kita hanya putar2 dan saya harus mengulang2 apa yang sudah saya tulis.

Pertama, tulisan ini fokus utamanya adalah menjawab tuduhan bahwa NIV sesat dan pro LGBT. Tujuan utama saya bukan membahas KJV, walaupun mau tidak mau saya harus membahasnya karena tuduhan terhadap NIV saya tebak berasal dari kubu pro KJV.

Kedua, saya tidak pernah mengatakan TR itu terjemahan. Saya mengatakan bahwa Erasmus hanya menggunakan sedikit sekali manuskrip Yunani yang tersedia waktu itu. Lalu ada bagian2 yang tidak ada di manuskrip (6 ayat terakhir di Wahyu dan juga beberapa bagian lain yang dia anggap tdk jelas di manuskrip2 yang dia punya), maka dia terjemahkan itu dari Vulgate menjadi Yunani. Itu adalah edisi pertamanya.
Lalu dia revisi lagi berkali2. Lalu Stephanus merevisinya. Lalu Beza juga merevisinya. Tetapi semua revisi2 itu tidak major. Naskah Yunani versi mereka inilah yang kemudian disebut Textus Receptus dan kemudian dipakai oleh KJV.

Teks yang dipakai memang adalah dari family Byzantine Text. Tapi sebetulnya Textus Receptus tidak mencerminkan sepenuhnya Byzantine Text karena dari semua revisi yang dilakukan, total manuskrip yang dipakai tidak sampai 100. Padahal ada ribuan manuskrip dari Byzantine text, dan ada cukup banyak perbedaannya. Mana yang dipilih?
Maka argumen bahwa TR itu paling tepat karena berasal dari Byzantine Text sangat salah. Erasmus dkk MEMILIH dari manuskrip2 yang berbeda2 itu. Apakah pilihan mereka tidak mungkin salah, inerrant? Erasmus sendiri mengaku dia "salah", itu sebabnya dia merevisi berkali2. Stephanus juga merevisi lagi berkali2. Beza juga begitu. Lalu mana hasil revisi mereka yang diambil para penterjemah KJV? Campuran! Para penterjemah KJV juga MEMILIH lagi.
Maka teori bahwa TR sesuai dengan Verbal Inspiration sangat ngaco.

Ketiga, saya sudah cek sumber saya :-) Justru saya bingung kalau anda tidak bisa menemukan sumber yang berbeda dengan apa yang anda berikan. Kalau anda cari di internet saja, akan ketemu dengan sangat mudah beberapa, misalnya saja di wikipedia (saya tahu wikipedia kadang tidak reliable, tapi sama dengan sumber2 lain di internet seperti yang anda berikan yang sama2 tidak jelas siapa penulisnya), atau di http://www.bible-researcher.com/kutilek1.html#note5 atau di http://www.gotquestions.org/Textus-Receptus.html
Kalau ingin mencari akan ketemu sangat banyak di internet.

Saya kira lebih baik membaca buku, melihat berbagai argumen yang diberikan oleh mereka yang pro Textus Receptus dan yang tidak. Lalu menimbang sendiri dengan logis dan bertanggung jawab.

Satu buku yang saya pikir baik untuk menolong kita melihat tentang perdebatan ini adalah D.A. Carson, The King James Version Debate: A Plea for Realism. Dari situ mungkin bisa menelusuri lebih dalam ke referensi2 yang dia berikan.

Thanks!

Jeffrey Siauw said...

Anonymous said...

Para pemuja kjv itu siapa? Dan apa untungnya memuja kjv or niv ?


Dear "anonymous" sorry saya kelupaan reply yang ini.
Mungkin saya berlebihan menggunakan istilah "pemuja". Maksud saya adalah ada sebagian orang yang sangat ngotot bahwa satu2nya terjemahan Alkitab yang paling tepat, akurat, bahkan diinspirasikan oleh Tuhan adalah KJV. Sementara semua terjemahan modern lain itu salah, dibuat oleh orang2 yang tidak menghormati Firman Tuhan.
Biasanya pandangan ini didasari dengan keyakinan bahwa naskah Yunani di balik KJV yaitu Textus Receptus (Received Text) adalah yang paling tepat. Semua manuskrip lain yang berbeda dengan Textus Receptus yang ditemukan kemudian, sekalipun lebih kuno, pasti corrupt, ada unsur kesesatan, dsb. Maka semua scholars yang melakukan Textual Cristicism, yang berusaha merekonstruksi naskah Yunani yang asli berdasarkan berbagai manuskrip yang ada, adalah orang2 "modernist" yang ngaco.

Kira2 begitu kalau boleh saya karikaturkan pandangan sebagian orang. Merekalah yang saya sebut "pemuja" KJV (sorry kalau kurang tepat).

Tidak ada untungnya memuja KJV atau NIV atau terjemahan manapun.

Kita percaya Alkitab adalah Firman Tuhan, tidak mengandung kesalahan sama sekali di dalam naskah asli. Maka dengan berbagai riset yang bisa dipertanggung jawabkan, para ahli mencoba merekonstruksi naskah asli itu.

KJV, NIV, atau terjemahan lain, hanyalah usaha menterjemahkan Alkitab bahasa Yunani (hasil revisi terakhir yang ada pada zaman masing2) ke bahasa Inggris.

Jeffrey Siauw said...

T. Gunawan said...

Pagi Pak Jeffrey,
Kalau boleh, tolong ulasannya mengenai sejarah kanonisasi alkitab mulai dari konsili kartago saat kanonisasi kitab-kitab, lalu mengenai ada berapa jenis codex yang pernah ada berikut perbandingan antar codex tersebut.
Saya juga pernah dengar tentang Westcott-Hort sebagai versi Greek selain Textus Receptus, apa lagi itu ya Pak?


Pak Gunawan, saya menyambung jawaban saya di atas.
Saya belum bisa mengulas sejarah kanonisasi pak. Panjang sekali dan saya belum sempat meringkasnya. Codex ada sangat banyak, tidak mungkin bisa berikan perbandingannya di sini.

Saya jawab sedikit mengenai Wescott-Hort saja.
Wescott dan Hort menerbitkan Alkitab bahasa Yunani hasil usaha rekonstruksi mereka tahun 1881. Mereka mengelompokkan manuskrip kuno ke dalam beberapa "family" (diurutkan seperti "silsilah"). Mereka menganggap Textus Receptus adalah latest form dari Syrian family. Mereka sendiri prefer menggunakan Codex Vaticanus dan Codex Sinaiticus sebagai dasar naskah Yunani mereka, dan pada beberapa bagian mengikuti manuskrip lain.

Wescott-Hort menjadi sangat "dimusuhi" oleh mereka yang percaya Textus Receptus adalah yang terbaik.

Jeffrey Siauw said...

Saya rasa saya sudah cukup menyampaikan apa yang ingin saya sampaikan baik melalui post ini maupun jawaban untuk comment2 di atas. Maka khusus comment untuk post ini saya tutup. Thanks.